37 PENGARUH TEKNIK PENEBANGAN, SIKAP TUBUH PENEBANG, DAN KELERENGAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN KAYU MANGIUM (Acacia mangium Wild) (THE EFFECT OF FELLING TECHNIQUE, FELLER POSTURES, AND SLOPE TO TIMBER UTILIZATION EFFICIENCY OF Acacia mangium Wild) Sona Suhartana dan Yuniawati Pusat Litbang Hasil Hutan-Badan Litbang Kehutanan-Departemen Kehutanan Jl. Gunung Batu No. 5, PO. BOX. 8 BOGOR 600 Telp. 05-633378; Fax: 05-63343 Abstract Productivity and timber utilization efficiency (TUE) could increase and production cost could decrease by implementing the appropriate felling technique and feller postures.the study was carried out at PT. Finnantara Intiga, West Kalimantan on August 007. The aim of the study was to find out the effects of slopes (5% and > 5%), feller postures (squatted, bowed, and stand), and felling techniques (conventional/clt and lowest possible felling techniques/lpft) to increasing TUE of mangium. To recommend a better technique, the two felling techniques have been compared based on productivity, efficiency and production cost by using split plot factorial xx3.the results showed: ()The highest productivity and TUE,, the lowest cost production and stump height were reached by implementing LPFT on slope of 5% with bowed, which each of 8,99 m 3 /hour; 99,4%; Rp.69,/m 3 ; and 9,4 cm respectively; and () Implementing LPFT on slopes of 5% with bowed can increase TUE about 8,5% equal to benefit of Rp 0.097.58.30/year. This is a chance for a forest company to apply the LPFT. Keywords: Timber utility efficiency, productivity, production cost, feller posture Abstrak Produktivitas, efisiensi pemanfaatan kayu dapat meningkat dan biaya produksi dapat menurun dengan menerapkan teknik penebangan dan sikap tubuh yang tepat pada kondisi kelerengan tertentu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 007 di PT Finnantara Intiga Kalimantan Barat dengan tujuan untuk mengetahui produktivitas, efisiensi pemanfaatan kayu dan biaya produksi dengan menerapkan teknik penebangan (konvensional, serendah mungkin), sikap tubuh (jongkok, membungkuk, dan berdiri) dan kelerengan ( 5%, > 5%). Untuk menetapkan teknik yang disarankan dilakukan analisis dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial Petak Terbagi (split plot) xx3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: () Produktivitas penebangan tertinggi, biaya produksi terendah dan efisiensi pemanfaatan kayu tertinggi serta tinggi tunggak terendah dicapai oleh teknik penebangan serendah mungkin dengan sikap tubuh membungkuk pada kelerengan 5%, yaitu masing-masing 8,99, Rp.69,/m 3, 99,4%, dan 9,4 cm; () Dengan menerapkan teknik penebangan serendah mungkin pada kelerengan 5% dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu sebesar 8,% yang setara dengan tambahan keuntungan Rp 0.097.58.30/tahun. Dengan demikian terbuka peluang bagi perusahaan untuk menerapkan teknik penebangan serendah mungkin. Kata kunci: Efisiensi pemanfaatan kayu, produktivitas, biaya produksi, sikap tubuh PENDAHULUAN Kegiatan penebangan pohon merupakan langkah awal dari serangkaian kegiatan pemanenan kayu. Hal tersebut dapat memberikan nilai ekonomi dan perubahan kondisi areal bekas tebangan. Salah satu tujuan penebangan pohon adalah untuk memperoleh bahan baku bagi industri perkayuan. Dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu: () teknik penebangan; () sikap tubuh penebang; (3) kondisi kemiringan lapangan; dan (4) peralatan yang digunakan (Suhartana, et al., 007). Selama ini kegiatan penebangan lebih sering menggunakan teknik penebangan
38 Pengaruh Teknik Penebangan, Sikap Tubuh Penebang konvensional. Penebangan konvensional menghasilkan efisiensi pemanfaatan kayu yang rendah, sedangkan jika diterapkan teknik penebangan serendah mungkin dapat menghasilkan pemanfaatan kayu yang tinggi [Suhartana dan Yuniawati, (006; 005); Suhartana, et al., 005]. Hasil penelitian Suhartana et al. (007) di Kalimantan Selatan menyimpulkan bahwa dilihat dari aspek efisiensi pemanfaatan kayu mangium, teknik penebangan serendah mungkin dengan sikap tubuh membungkuk dan jongkok pada kelerengan 5% dan > 5% dapat meningkatkan efisiensi sebesar 4,5% yang setara dengan Rp 5.40.64.080/tahun. Hal ini merupakan tambahan keuntungan bagi perusahaan apabila menerapkan teknik tersebut. Dalam pelaksanaan penebangan sering melupakan sikap tubuh penebang yang tepat. Sikap tubuh sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kemiringan lapangan tempat penebangan. Sikap tubuh penebang yang salah dapat menimbulkan kecelakaan kerja sehingga produktivitas menurun, dan kerusakan kayu karena adanya beban kerja yang berlebihan sehingga penebang mudah lelah yang pada akhirnya hasil tebangan menjadi tidak efisien (Suhartana, et al., 005). Acacia mangium (Leguminosae) sebagian berupa pohon atau perdu dengan tegakannya bisa mencapai tinggi 30 m dan diameter 90 cm dengan batang bebas cabang antara 0-5 m. Tanaman ini tumbuh baik pada tanah yang telah mengalami erosi, bekas perladangan, pada tanah yang lapisan mineralnya tipis dan tanah miskin hara. Mutu kayu mangium cukup tinggi sebagai papan kayu, kayu lapis, kayu bakar, perabotan rumah tangga, pulp dan kertas (Bastoni, 00). Kondisi areal hutan di Indonesia memiliki kemiringan yang berbeda, sehingga dapat mempengaruhi kualitas kayu yang ditebang. Penebangan di areal dengan kemiringan curam berisiko terhadap terjadinya kerusakan kayu yang lebih besar seperti kayu pecah, kayu belah dan jatuh ke dalam jurang. Penebangan pada kemiringan datar dan curam menggunakan teknik yang berbeda sehingga risiko kerusakan kayu dapat berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik penebangan, sikap tubuh dan kelerengan terhadap produktivitas, biaya produksi dan efisiensi pemanfaatan kayu mangium. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 007 di areal kerja HPHTI PT. Finnantara Intiga, Kabupaten Sanggau, Propinsi Kalimantan Barat. Dalam RKT tahun 007, perusahaan memungut kayu dari areal seluas 9.849 ha dengan target produksi kayu..03 m 3 terdiri dari jenis kayu mangium. AAC maksimum sebesar.933.575 m 3. Sedangkan rata-rata produksi kayu per tahun adalah.08.80 m 3. Harga kayu ini di pasaran lokal adalah Rp 80.000/m 3 (Anonim, 007). Bahan yang digunakan adalah cat, kuas, tambang plastik, pita phi, meteran, pengukur waktu (stopwatch). Sedangkan alat yang digunakan adalah alat tulis, komputer dan chainsaw Stihl tipe MS 70 (alat yang dioperasikan di lapangan). Prosedur Penelitian Penelitian dilaksanakan melalui tahap kegiatan sebagai berikut:. Menetapkan secara purposif satu petak tebang yang segara akan dilakukan penebangan.. Melaksanakan penebangan dengan teknik penebangan serendah mungkin (5 cm di atas permukaan tanah) dan pemanfaatan batang sampai Ø 5 cm serta penebangan dengan penebangan konvensional (sesuai kebiasaan setempat) dengan menerapkan tiga sikap tubuh penebang (jongkok, bungkuk, dan berdiri) pada kondisi kemiringan lapangan 5% dan >5% dengan jumlah ulangan 60 pohon. 3. Pengukuran produktivitas, biaya produksi dan efisiensi pemanfaatan kayu adalah sebagai berikut: a). Produktivitas penebangan dihitung dengan cara mencatat waktu tebang dengan metode nul-stop dan volume kayu yang ditebang. b). Biaya produksi penebangan dengan cara mencatat semua pengeluaran seperti pemakaian bahan bakar, oli/pelumas, upah, produktivitas, biaya penyusutan, biaya pemeliharaan/perbaikan, bunga, asuransi dan pajak serta biaya upah. c). Efisiensi pemanfaatan kayu dengan mencatat diameter pangkal, diameter ujung, tinggi pohon, panjang batang dan tinggi tunggak serta data yang menunjang. 4. Mencatat data umum sebagai berikut: keadaan umum lapangan, keadaan umum perusahaan, dan data penunjang lainnya yang dikutip dari perusahaan dan wawancara dengan karyawan.
Pengaruh Teknik Penebangan, Sikap Tubuh Penebang 39 Pengolahan Data Data lapangan berupa produktivitas penebangan dan efisiensi pemanfaatan kayu diolah ke dalam bentuk tabulasi.. Produktivitas penebangan dihitung dengan menggunakan rumus berikut: Pt = (Vt/Wt) di mana: Pt = produktivitas penebangan (); Wt = waktu tebang yang efektif (jam); Vt = volume kayu yang ditebang diperoleh dari: Vt = 0,5 π D L di mana: π = bilangan bernilai 3,46; L = panjang batang (m); D = diameter rata-rata (m) diperoleh dari: D = 0,5 (Dp+Du) di mana Dp = diameter pangkal dan Du = diameter ujung.. Efisiensi pemanfaatan kayu dihitung dengan menggunakan rumus berikut: Ef = (Vp/Vm) x 00% di mana: Ef = efisiensi pemanfaatan (%); Vp = volume kayu yang dipungut ; Vm = volume kayu yang seharusnya dapat dimanfaatkan. 3. Biaya penebangan, penyaradan, muatbongkar dan pengangkutan dihitung dengan menggunakan rumus dari FAO (Anonim, 99) sebagai berikut: BT = (BP + BA + BB + Pj + BBB + BO + BPr + UP)/Pt; BP = (H x 0,9)/UPA; BA = (H x 0,6 x 3%)/JT; BB = (H x 0,6 x 8%)/JT; Pj = (H x 0,6 x %)/JT; BBB =0,0 x HP x 0,54 x HBB; BPr =,0 x BP; BO = 0, x BBB di mana: BT = Biaya penebangan (Rp/m 3 ); BO = Biaya oli/pelumas (Rp/jam); H = Harga alat (Rp); Bp = Biaya penyusutan (Rp/jam); PT = produktivitas penebangan (); BA = Biaya asuransi (Rp/jam); Up = Upah pekerja (Rp/jam); BB = Biaya bunga (Rp/jam); Pj = Biaya pajak (Rp/jam); BBB = Biaya bahan bakar (Rp/jam); Bpr = Biaya pemeliharaan (Rp/jam); HBB = Harga bahan bakar (Rp/liter); UPA = Umur pakai alat (jam); JT = Jam kerja alat per tahun (jam); BBB =Biaya bahan bakar; HP = Besar daya. Analisis Data Kedua teknik penebangan dibandingkan, dengan mempertimbangkan aspek produktivitas dan efisiensi pemanfaatan kayu serta biaya dilakukan dengan RAL Faktorial Petak Terbagi x x 3 (Steel dan Torrie, 980). C A A B B B B C C C C C C C C C C 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Di mana: A = teknik penebangan, A = serendah mungkin, A = konvensional, B = kelerengan, B = 5%, B = > 5%, C = sikap tubuh, C = jongkok, C = membungkuk dan C 3 = berdiri; Ulangan masing-masing 5 pohon; Jumlah pohon contoh = x x 3 x 5 = 60 pohon HASIL DAN PEMBAHASAN Produktivitas Penebangan Produktivitas penebangan konvensional pada kelerengan 5% dan >5% dengan sikap tubuh jongkok, membungkuk, dan berdiri dapat dilihat pada Tabel dan. Tabel dan menunjukkan bahwa produktivitas penebangan pada kelerengan 5% dan > 5% dengan penebangan konvensional sangat beragam. 3 C 3 Aspek Tabel. Rata-rata produktivitas dan efisiensi penebangan konvensional pada kelerengan 5% V8 cm Waktu tebang (Jam) Produktivitas, Efisiensi (%) Tinggi tunggak (cm) ΔV8-V5cm I. Jongkok (N = 5) Kisaran 0,65-0,43 0,08-0,03,83-7,83 7,8-86,9 8,0-0, 0,049-0,093 Rata-rata 0,35 0,04 4,678 8,3 9, 0,073 II. Membungkuk (N = 5) Kisaran 0,49-0,44 0,0-0,05 4,69-8,95 8,8-84, 9,-, 0,04-0,075 Rata-rata 0,347 0,0 6,53 83, 0, 0,065 III. Berdiri (N = 5) Kisaran 0,83-0,44 0,0-0,03,438-4,786 78,9-90,0 8,-, 0,045-0,069 Rata-rata 0,35 0,06 3,34 85, 0, 0,06 Keterangan: V 8 cm = Volume kayu sampai batas diameter 8 cm; ΔV8-V5 cm = Selisih volume antara volume panjang batang diameter 8 cm dengan 5 cm; N = Banyak ulangan; Sebaran diameter=4,6-,3
40 Pengaruh Teknik Penebangan, Sikap Tubuh Penebang Pada kelerengan 5% dengan sikap produktivitas yang lebih tinggi daripada dua sikap tubuh lainnya yaitu 6,53 sedangkan pada kelerengan >5% dengan sikap produktivitas 5,363. Produktivitas yang tinggi terjadi karena pada teknik penebangan konvensional pada umumnya operator tidak memperhatikan tinggi tunggak minimal tapi disesuaikan dengan kebiasaan tinggi tunggak yang mereka hasilkan atau ditetapkan perusahaan, sikap tubuh membungkuk dapat menghasilkan tinggi tunggak yang mereka inginkan dan kondisi kelerengan yang sedang memungkinkan menggunakan sikap tubuh membungkuk bagi operator chainsaw. Operator merasa nyaman dan aman bekerja dengan sikap tersebut sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan waktu yang cepat yaitu rata-rata 0,0 jam per pohon. Jika dilihat dari penggunaan sikap tubuh jongkok dan berdiri maka waktu yang dapat diselesaikan dengan sikap membungkuk paling cepat. Pada kelerengan > 5% dengan sikap produktivitas yang lebih tinggi daripada menggunakan sikap tubuh jongkok dan berdiri yaitu 5,363. Padahal kelerengan > 5% merupakan topografi agak curam. Tetapi nilai rata-rata tersebut lebih rendah daripada nilai rata-rata pada kelerengan 5%. Dapat dikatakan bahwa terjadi penurunan produktivitas penebangan. Hal ini disebabkan volume kayu yang dapat ditebang lebih rendah yaitu rata-rata 0,34 m 3 dibanding 0,347 m 3. Walaupun operator chainsaw merasa nyaman dan aman dengan sikap tubuh membungkuk tetapi dengan kondisi kelerengan > 5% (agak curam) menjadi kesulitan tersendiri bagi operator sehingga volume kayu yang dapat ditebang lebih rendah daripada penebangan pada kelerengan 5%. Dilihat dari rata-rata produktivitas penebangan teknik penebangan konvensional pada kelerengan 5% dan > 5% dengan sikap tubuh membungkuk maka dapat dikatakan bahwa kegiatan penebangan pada kelerengan > 5% memiliki kesulitan yang berarti bagi operator chainsaw karena semakin tinggi kelerengan maka tingkat kesulitan yang dihadapi akan semakin besar. Hal ini dapat dipahami karena energi yang dikeluarkan semakin besar sehingga ada rasa tidak nyaman dan kurang aman akibatnya bekerja dengan kondisi penuh kekhawatiran sehingga produktivitas menurun. Hasil pengukuran produktivitas kerja dan efisiensi pemanfaatan kayu dengan teknik penebangan serendah mungkin pada kelerengan 5% dan > 5% dengan sikap tubuh jongkok, membungkuk dan berdiri disajikan pada Tabel 3 dan 4. Namun pada kelerengan 5% dengan teknik penebangan serendah mungkin sangat beragam. Pada kelerengan 5% dengan sikap produktivitas yang lebih tinggi daripada dua sikap tubuh lainnya yaitu 8,99 sedangkan pada kelerengan >5% dengan sikap produktivitas 8,0. Penebangan pada kelerengan 5% dihasilkan rata-rata produktivitas dengan sikap tubuh membungkuk lebih tinggi, hal ini dikarenakan kondisi kelerengan yang sedang, yang memungkinkan menggunakan sikap tubuh membungkuk bagi operator chainsaw. Operator merasa nyaman dan aman bekerja dengan sikap tersebut sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan waktu yang cepat yaitu rata-rata 0,03 jam per pohon. Aspek Tabel. Rata-rata produktivitas dan efisiensi penebangan konvensional pada kelerengan > 5% V8 cm Waktu tebang (Jam) Produktivitas, Efisiensi (%) Tinggi tunggak (Cm) ΔV8-V5cm (m) I. Jongkok (N = 5) Kisaran 0,338-0,449 0,06-0,03,59-4,50 83,-87,3 8,-, 0,045-0,069 Rata-rata 0,38 0,08 3,58 85, 0, 0,06 II. Membungkuk (N = 5) Kisaran 0,96-0,377 0,09-0,05 4,7-6,579 8,0-87, 9,4-,3 0,040-0,064 Rata-rata 0,33 0,0 5,363 85,0, 0,053 III. Berdiri (N = 5) Kisaran 0,33-0,38 0,0-0,09,074-4,7 8,5-85,8 9,-33, 0,05-0,068 Rata-rata 0,34 0,06 3,4 83,3 3, 0,060 Keterangan: V 8 cm = Volume kayu sampai batas diameter 8 cm; ΔV8-V5cm = Selisih volume antara volume panjang batang diiameter 8 cm dengan 5 cm; N = Banyak ulangan; Sebaran diameter = 5,9-0,0 cm
Pengaruh Teknik Penebangan, Sikap Tubuh Penebang 4 Jika dilihat dari penggunaan sikap tubuh jongkok dan berdiri maka waktu yang dapat diselesaikan dengan sikap membungkuk paling cepat. Pada kelerengan > 5% dengan sikap produktivitas yang lebih tinggi daripada menggunakan sikap tubuh jongkok dan berdiri yaitu 8,0. Padahal kelerengan > 5% merupakan topografi agak curam. Tetapi nilai tersebut lebih rendah daripada nilai pada kelerengan 5%. Walaupun operator chainsaw merasa nyaman dan aman dengan sikap tubuh membungkuk tetapi dengan kondisi kelerengan > 5% menjadi kesulitan tersendiri bagi operator sehingga waktu tebang lebih lama daripada penebangan pada kelerengan 5%. Kesulitan yang terjadi disebabkan operator chainsaw belum terbiasa untuk melakukan penebangan. Hal ini dapat memicu kondisi emosi pekerja menjadi meningkat. Kondisi ini dapat mempengaruhi laju denyut jantung berdetak lebih cepat. Akibatnya energi yang dikeluarkan pekerja bertambah besar. Sistem kerja jantung mempengaruhi emosi manusia. Kondisi emosi yang meningkat menyebabkan energi yang dikeluarkan semakin bertambah besar. Dilihat dari rata-rata produktivitas teknik penebangan serendah mungkin pada kelerengan 5% dan > 5% dengan sikap tubuh membungkuk maka dapat dikatakan bahwa kegiatan penebangan pada kelerengan > 5% membuat operator chainsaw merasa tidak nyaman dan kurang aman sehingga bekerja dengan kondisi penuh kekhawatiran dan kecemasan yang memungkinkan produktivitas menjadi menurun. Hasil uji rancang acak lengkap faktorial dengan pola petak terbagi yang membandingkan produktivitas penebangan pada kelerengan 5% dan > 5% dengan sikap tubuh jongkok, membungkuk dan berdiri serta penebangan konvensional dan teknik penebangan serendah mungkin disajikan pada Tabel 5 di mana F hitung (,67) atau P (0,000) artinya bahwa pada kelerengan 5% dan > 5%, teknik penebangan serendah mungkin sikap tubuh membungkuk berpengaruh sangat nyata terhadap produktivitas penebangan. Produktivitas tertinggi dalam penelitian ini dicapai oleh teknik penebangan serendah mungkin pada kelerengan 5% dan sikap tubuh membungkuk yaitu 8,99. Tabel 3. Rata-rata produktivitas dan efisiensi teknik penebangan serendah mungkin pada kelerengan 5% Aspek V5 cm Waktu tebang (Jam) Produktivitas, Efisiensi (%) Tinggi tunggak (cm) I. Jongkok (N = 5) Kisaran 0,360-0,475 0,03-0,03 6,839-8,93 99,-99,4 9,-,0 Rata-rata 0,45 0,08 7,659 99,3 0,5 II. Membungkuk (N = 5) Kisaran 0,36-0,408 0,0-0,05 8,60-9,773 99,3-99,6 8,4-,0 Rata-rata 0,38 0,03 8,99 99,4 9,4 III. Berdiri (N = 5) Kisaran 0,36-0,47 0,04-0,03 5,69-8,333 98,9-99, 3,-6, Rata-rata 0,38 0,07 6,85 99, 4,5 Keterangan: V 5 cm = Volume kayu sampai batas diameter 5 cm; N = Banyak ulangan; Sebaran diameter = 7,0-,4 cm. Tabel 4. Rata-rata produktivitas dan efisiensi teknik penebangan serendah mungkin pada kelerengan > 5% Aspek V5 cm Waktu tebang (Jam) Produktivitas, Efisiensi (%) Tinggi tunggak (cm) I. Jongkok (N = 5) Kisaran 0,397-0,45 0,07-0,030 5,063-7,48 99,0-99,4 0,-5, Rata-rata 0,407 0,09 6,489 99,,6 II. Membungkuk (N = 5) Kisaran 0,384-0,40 0,05-0,08 7,79-9,69 99,0-99,,3-4,0 Rata-rata 0,40 0,06 8,0 99,,5 III. Berdiri (N = 5) Kisaran 0,397-0,454 0,07-0,030 5,807-7,333 99,0-99, 0,0-3, Rata-rata 0,45 0,09 6,896 99,,5 Keterangan: V 5 cm = Volume kayu sampai batas diameter 5 cm; N = Banyak ulangan; Sebaran diameter= 9,-, cm
4 Pengaruh Teknik Penebangan, Sikap Tubuh Penebang Tabel 5. Analisis keragaman terhadap produktivitas penebangan, biaya, dan efisiensi pemanfaatan kayu Sumber keragaman db Rincian Produktivitas tebang Biaya produksi Efisiensi pemanfaatan kayu F hit P F hit P F hit P Petak utama Teknik tebang, A 9,67 0,000 30,36 0,000 849,48 0,000 Sisa-I 40 Petak sekunder Kelerengan, B Interaksi/, AxB 6,97 0,05 0,07 0,869 98,60 4,93 0,000 0,3,39,84 0,45 0,87 Sisa-II 8 Petak sekunder Sikap tubuh, C Interaksi, AxBxC Sisa-III 8 0,3 0,0 0,000 0,9840 7,64 0,00 0,000 0,9973 0,7,80 0,765 0,079 Rata-rata - Satuan - CV - D 0,05 5,95 7,045,858 3.6,495 Rp/m 3 7,89,858 9,498 %,37,858 Total 59 Keterangan: P = Peluang; D 0,05 = Nilai kritis uji jarak beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%; CV = Koefisien keragaman Sedangkan pada penelitian Suhartana & Yuniawati (006) di Kalimantan Timur produktivitas tertinggi dicapai oleh pemanenan konvensional dengan sikap tubuh membungkuk yaitu 4,75. Hal ini dapat terjadi karena dalam penelitian ini operatornya cepat tanggap dalam menerapkan teknik penebangan serendah mungkin. Dengan demikian hasil penelitian ini ternyata lebih baik. Biaya Produksi Penebangan Biaya penebangan per m 3 dapat dihitung melalui biaya kepemilikan dan pengoperasian alat sebagai berikut: () Harga alat = Rp 5.500.000/unit; () umur pakai alat = tahun =.000 jam; (3) Asuransi = 3%/tahun; (4) Bunga bank = 8%/tahun; (5) Pajak = %/tahun; (6) Harga bensin = Rp 7.000/liter; (7) Upah operator dan pembantu = Rp 300.000//hari; (8) Jam kerja/hari = 8 jam; (9) Besar daya 3,5 HP. Dari data biaya tersebut kemudian dapat dihitung komponen biaya yang disajikan pada Tabel 6. Besarnya masing-masing biaya produksi penebangan dengan cara membagi total biaya usaha dengan produktivitas masing-masing dan disajikan pada Tabel 7. Tabel 6. Komponen biaya penebangan (Rp/jam) Komponen biaya Jumlah (Rp/jam) Biaya penyusutan 4.950 Biaya asuransi 99 Biaya bunga 594 Biaya pajak 66 Biaya bahan bakar.646 Biaya Oli/pelumas 64 Biaya perbaikan/pemeliharaan 4.950 Biaya upah 37.500 Total biaya usaha 5.069 Tabel 7. Biaya penebangan kayu Sikap tubuh Produktivitas, I. Kelerengan 5% Penebangan konvensional Jongkok 4,678 Membungkuk 6,53 Berdiri 3,34 Biaya tebang (Rp/m 3 ) 3.53, 3.6,8 3.849,6 II. Kelerengan 5% Teknik penebangan serendah mungkin Jongkok Membungkuk Berdiri 7,659 8,99 6,85 III. Kelerengan > 5% Penebangan konvensional Jongkok 3,58 Membungkuk 5,363 Berdiri 3,4.898,3.69, 3.043, 3.790,5 3.33,4 3.90,4 IV. Kelerengan > 5% Teknik penebangan serendah mungkin Jongkok Membungkuk Berdiri 6,489 8,0 6,896 3.06,3.839,0 3.09,4
Pengaruh Teknik Penebangan, Sikap Tubuh Penebang 43 Tabel 7 menunjukkan bahwa teknik penebangan serendah mungkin pada kelerengan 5% dan >5% dengan sikap tubuh membungkuk menghasilkan biaya produksi terendah, yaitu sebesar masing-masing Rp.69,/m 3 dan Rp.839,0/m 3. Rendahnya biaya produksi penebangan teknik penebangan serendah mungkin pada dua kelerengan tersebut karena tingginya produktivitas yang dihasilkan masing-masing yaitu 8,99 dan 8,0. Produktivitas yang tinggi dapat menekan pengeluaran biaya produksi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemilihan teknik penebangan dan sikap tubuh yang tepat disesuaikan dengan kondisi kelerengan dapat menekan biaya produksi penebangan. Hal tersebut dikarenakan produksi yang dihasilkan tinggi terutama waktu penebangan yang dibutuhkan cepat dan volume kayu yang ditebang tinggi. Hasil uji rancangan acak lengkap faktorial dengan pola petak terbagi pada Tabel 5 menunjukkan bahwa F hitung (7,64) atau P (0,000) yang diartikan bahwa kelerengan 5% dan > 5%, teknik penebangan serendah mungkin serta sikap tubuh membungkuk memberikan pengaruh sangat nyata terhadap biaya produksi tebang. Efisiensi Pemanfaatan Kayu Rata-rata efisiensi pemanfaatan kayu pada kelerengan 5% dengan penebangan konvensional dan teknik penebangan serendah mungkin masing-masing adalah 8,3% (jongkok) dan 99,4% (bungkuk) selisih 8,%. Sedang pada kelerengan >5% dengan penebangan konvensional dan teknik penebangan serendah mungkin masing-masing sebesar 83,3% (berdiri) dan 99,% (jongkok) dengan selisih 5,9%. Adanya perbedaan tersebut berasal dari volume panjang batang yang dimanfaatkan serta tinggi tunggak yang ditinggalkan, yaitu pada kelerengan 5% berasal dari selisih panjang batang yang dimanfaatkan 0,073 m 3 (7,4%) dan 9,8 cm (0,003 m 3 = 0,7%) berasal dari selisih tinggi tunggak. Sedangkan pada kelerengan >5% besaran tersebut masing-masing adalah 0,06 m 3 (4,5%) dari panjang batang dan 8,6 cm (0,006 m 3 =,4%) berasal dari tunggak. Dengan menerapkan teknik penebangan serendah mungkin pada kelerengan 5% dan sikap tubuh bungkuk dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu sebasar 8,% dan pada kelerengan >5% dengan sikap tubuh jongkok peningkatan tersebut sebesar 5,9%. Dengan demikian dari aspek efisiensi pemanfaatan kayu ternyata teknik penebangan serendah mungkin lebih baik daripada penebangan konvensional. Hal ini diperkuat dari hasil perhitungan analisis uji rancangan acak lengkap faktorial dengan pola petak terbagi yang menghasilkan F hitung (849,48) atau P (0,000) merupakan perbedaan yang sangat nyata. Dari hasil perhitungan efisiensi pemanfaatan kayu di atas dapat dikatakan bahwa dengan teknik penebangan serendah mungkin pada kelerengan 5% dengan sikap tubuh membungkuk dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu sebesar 8,%. Berdasarkan data lapangan dan kutipan dari kantor perusahaan, rata-rata produksi kayu per tahun adalah.08.80 m 3 dengan luas petak tebang 9.849 ha. Atas dasar teknik penebangan yang biasa dilakukan perusahaan dengan sikap tubuh membungkuk dan jongkok dan adanya peningkatan pemanfaaatan kayu 8,% maka pihak perusahaan akan mendapatkan keuntungan tambahan berupa kenaikan produksi per tahun sebesar 8,% x.08.80 m 3 = 95.987, m 3 /tahun dengan harga kayu Rp 80.000/m 3. Apabila keuntungan yang layak bagi perusahaan 0% (Rp 56.000/m 3 ), maka perusahaan akan mendapatkan tambahan keuntungan sebesar 95.987, m 3 /tahun x Rp 56.000/m 3 = Rp 0.097.58.30/tahun. Melihat keuntungan yang akan diperoleh pihak perusahaan jika menggunakan teknik penebangan serendah mungkin dengan sikap tubuh membungkuk maka terbuka peluang bagi perusahaan untuk menerapkan teknik tersebut. Apabila dibandingkan dengan hasil penelitian Suhartana & Yuniawati (006) yang menunjukkan bahwa dengan menerapkan teknik penebangan serendah mungkin, sikap tubuh jongkok dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu sebesar 5,%, maka hasil penelitian ini ternyata lebih baik. KESIMPULAN. Produktivitas penebangan tertinggi, biaya produksi terendah dan efisiensi pemanfaatan kayu tertinggi serta tunggak terendah dicapai oleh teknik penebangan serendah mungkin dengan sikap tubuh membungkuk pada kelerengan 5%, yaitu masing-masing 8,99, Rp.69,/m 3, 99,4%, dan 9,4 cm.. Dengan menerapkan teknik penebangan serendah mungkin pada kelerengan 5% dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu sebesar 8,% yang setara dengan tambahan keuntungan Rp 0.097.58.30/tahun.
44 Pengaruh Teknik Penebangan, Sikap Tubuh Penebang DAFTAR PUSTAKA Anonim, 99. Cost Control in Forest Harvesting and Road Construction. FAO Forestry Paper No. 99, FAO of the UN. Rome., 007. Rencana Kerja Tahunan tahun 007. PT Finnantara Intiga. Pontianak. Bastoni, B. 00. Ketebalan dan Tingkat Dekomposisi Alami Serasah Daun Acacia Mangium. PT Pradya Muda. Jakarta. Steel, R.G.D and J.H. Torrie. 980. Principles and Procedures of Statistics. McGraw-Hill Book Co., Inc. New York. 633 pp. Suhartana, S., Yuniawati & D. Tinambunan. 005. Peningkatan Pemanfaatan Kayu Rasamala dengan Perbaikan Teknik Penebangan dan Sikap Tubuh Penebang: Studi Kasus di KPH Cianjur, Perhutani Unit III, Jawa Barat. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 3(5):349-36, Oktober 005. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor. Suhartana, S dan Yuniawati. 005. Meningkatkan Produksi Kayu Pinus Melalui Penebangan Serendah Mungkin: Studi Kasus di KPH Sumedang, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Info Hasil Hutan ():87-96. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor. Bogor. Suhartana, S dan Yuniawati. 006. Pengaruh Teknik Penebangan dan Sikap Tubuh Penebang terhadap Peningkatan Pemanfaatan Kayu Gmelina Arborea: Studi Kasus di HPHTI PT Surya Hutani Jaya Kalimantan Timur. Rimba Kalimantan ():99-04. Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman. Samarinda. Suhartana, S., Sukanda, Yuniawati & Dulsalam. 007. Peningkatan Produksi Penebangan dan Kajian Peralatan Pemanenan pada hutan Tanaman. Laporan Hasil Penelitian tahun 007. Pusat Penelitian dan Pengambangan Hasil Hutan. Bogor.