ANGIN BINTANG & HORIZONTAL BRANCH

dokumen-dokumen yang mirip
Bab II Dasar Teori Evolusi Bintang

CATACLYSMIC VARIABLE

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

EVOLUSI BINTANG. Adalah proses panjang yang dialami sejak kelahiran sampai dengan kematian. bintang

7. EVOLUSI BINTANG 7.1 EVOLUSI BINTANG PRA DERET UTAMA

Low Mass X-ray Binary

Bab VI Perbandingan Model Simulasi menggunakan Metode Monte Carlo dan Metode Functional Statistics Algorithm (FSA)

indahbersamakimia.blogspot.com Soal Olimpiade Astronomi Tingkat Provinsi 2011, Waktu : 150 menit

Bab V MetodeFunctional Statistics Algorithm (FSA) dalam Sintesis Populasi

Riwayat Bintang. Alexandre Costa, Beatriz García, Ricardo Moreno, Rosa M Ros

Bab 4. Pembentukan Planet Raksasa. 4.1 Inti Planet Raksasa

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDRAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH UMUM

STAR FORMATION RATE (SFR) PADA GALAKSI YANG BERINTERAKSI

SIFAT BINTANG. Astronomi. Ilmu paling tua. Zodiac of Denderah

1. Jika FB QPO diabaikan, Power Spectral Density antara FB dan Banana. 2. Jika HB QPO diabaikan, Power Spectral Densityantara HB dan Island

Ide Dasar: Matahari dan bintang-bintang menggunakan reaksi nuklir fusi untuk mengubah materi menjadi energi. Bintang padam Ketika bahan bakar

Bintang Ganda DND-2006

Lampiran 1. Perhitungan kebutuhan panas

REKONSTRUKSI STRUKTUR KIMIA DAN EVOLUSI BINTANG BERMASSA MENENGAH 2.5M ʘ

Fisika Panas 2 SKS. Adhi Harmoko S

HUBUNGAN GAMMA-RAY BURST DAN SUPERNOVA

SOAL PILIHAN GANDA ASTRONOMI 2008/2009 Bobot nilai masing-masing soal : 1

BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB IV HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS

KIMIA TERAPAN STOIKIOMETRI DAN HUKUM-HUKUM KIMIA Haris Puspito Buwono

Soal dan jawaban tentang Kimia Unsur

BAB I PENDAHULUAN. Seluruh muatan (beban) dari bangunan, termasuk beban-beban yang bekerja pada

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Geometri Aqueous Homogeneous Reactor (AHR) Geometri AHR dibuat dengan menggunakan software Visual Editor (vised).

BAB III PENJELASAN SIMULATOR. Bab ini akan menjelaskan tentang cara pemakaian simulator robot pencari kebocoran gas yang dibuat oleh Wulung.

3. ASTROFISIKA 1. Dimana besar c dalam ruang vakum ialah = km/s, atau mendekati 3x10 8 m/s.

2. Konfigurasi elektron dua buah unsur tidak sebenarnya:

Analisis Neutronik pada Gas Cooled Fast Reactor (GCFR) dengan Variasi Bahan Pendingin (He, CO 2, N 2 )

SOAL UJIAN SELEKSI CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2016 TINGKAT PROVINSI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Radio Aktivitas dan Reaksi Inti

Bab 4. Analisis Hasil Simulasi

Bab 3 Metodologi Penelitian

SOAL SELEKSI PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL BIDANG ASTRONOMI

Bab 6. Migrasi Tipe I dan Tipe II. 6.1 Migrasi Tipe I

BAB I PENDAHULUAN. Satu hal yang menarik ketika kita mengamati bintang-bintang dengan mata

ATMOSFER I. A. Pengertian, Kandungan Gas, Fungsi, dan Manfaat Penyelidikan Atmosfer 1. Pengertian Atmosfer. Tabel Kandungan Gas dalam Atmosfer

Bab 2 Metode Pendeteksian Planet Luar-surya

Komponen Materi. Kimia Dasar 1 Sukisman Purtadi

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan Alat Bahan 3.3 Prosedur Penelitian

PERMASALAHAN. Cara kerja evaporator mesin pendingin absorpsi difusi amonia-air

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Studi kapasitas..., Prolessara Prasodjo, FT UI, 2010.

SIMULASI PROSES EVAPORASI BLACK LIQUOR DALAM FALLING FILM EVAPORATOR DENGAN ADANYA ALIRAN UDARA

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

METODE PENELITIAN Sumber Data

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Bab III INTERAKSI GALAKSI

PROSES ADIABATIK PADA REAKSI PEMBAKARAN MOTOR ROKET PROPELAN

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Ikhlasul-pgsd-fip-uny/iad. Raja Kerajaan Tata Surya

Apakah bintang itu? Jika malam datang dan langit sedang cerah, pergilah ke halaman rumah lalu

III. METODE PENELITIAN. Gambar 3.1 Peta Lokasi Jalur Hijau Jalan Gerilya Kota Purwokerto. bio.unsoed.ac.id

Maka persamaan energi,

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

3.2 TAHAP PENYUSUNAN TUGAS AKHIR

BAB 13 STRUKTUR BUMI DAN STRUKTUR MATAHARI

BAB V VALIDASI DAN ANALISIS HASIL SIMULASI MODEL SEL BAHAN BAKAR MEMBRAN PERTUKARAN PROTON

Analisa Unjuk Kerja Heat Recovery Steam Generator (HRSG) dengan Menggunakan Pendekatan Porous Media di PLTGU Jawa Timur

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II PERCOBAAN I KESETIMBANGAN KIMIA DI DALAM LARUTAN PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

Analisis Termal Hidrolik Gas Cooled Fast Reactor (GCFR)

Populasi Bintang. Ferry M. Simatupang

SIMULASI ALGORITMA REROUTING DAN PROSEDUR CONTENTION CONTROLLER PADA SISTEM PENYAMBUNGAN ATM

ANALISA PERFORMANSI HEAT EXCHANGER PADA SISTEM PENDINGIN MAIN ENGINE FIREBOAT WISNU I (Studi Kasus untuk Putaran Main Engine rpm)

Bentuk-bentuk Molekul

PENGARUH VARIASI RASIO UDARA-BAHAN BAKAR (AIR FUEL RATIO) TERHADAP GASIFIKASI BIOMASSA BRIKET SEKAM PADI PADA REAKTOR DOWNDRAFT SISTEM BATCH

Modul Praktikum Analisis Numerik

STOIKIOMETRI I. HUKUM DASAR ILMU KIMIA

Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O 2

BAB II LANDASAN TEORI

Xpedia Fisika DP SNMPTN 05

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

Teori Kinetik & Interpretasi molekular dari Suhu. FI-1101: Teori Kinetik Gas, Hal 1

Xpedia Fisika. Soal Zat dan Kalor

Uji Eksperimental Pertamina DEX dan Pertamina DEX + Zat Aditif pada Engine Diesel Putaran Konstan KAMA KM178FS

Sistem Magnitudo Terang suatu bintang dalam astronomi dinyatakan dalam satuan magnitudo Hipparchus (abad ke-2 SM) membagi terang bintang

Kesetimbangan Kimia. Bab 4

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Soal Soal Kesetimbangan Kimia. Proses Haber-Bosch merupakan proses pembentukan atau produksi ammonia berdasarkan reaksi:

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia saat ini, dimana hampir semua aktivitas manusia berhubungan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

II. Persamaan Keadaan

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1)

Transkripsi:

Bab V ANGIN BINTANG & HORIZONTAL BRANCH Angin bintang adalah sebuah parameter yang mutlak digunakan agar model evolusi yang dibuat lebih realistis, karena sekecil apa pun suatu bintang pastilah memiliki angin bintang tertentu. Parameter inilah yang akan ditelaah pengaruhnya terhadap sintesis populasi sistem CV pada tahap post-ce. Hasil akhir dari sintesis populasi dengan masing-masing angin bintang akan dibandingkan dengan hasil observasi Sloan Digital Sky Survey (SDSS) untuk sistem bintang post-ce (PCEB) oleh Rebassa-Mansergas et al. (2007). Selain itu evolusi horizontal branch juga akan ditambahkan untuk melanjutkan evolusi yang terhenti akibat He-flash. Berbagai studi sintesis populasi CV (Politano 2007; Ginanjar 2006; Willems dan Kolb 2004; Howell, Nelson, Rappaport 2001; Politano 1996) belum menggunakan evolusi horizontal branch. Tidak adanya lanjutan evolusi pada cabang horizontal akan mengurangi jumlah sistem yang mungkin mengalami CE sehingga akan mempengaruhi hasil sintesis populasi. V.1 Angin Bintang Proses evolusi suatu bintang dipengaruhi oleh berbagai parameter dimana salah satu parameter penting nya adalah angin bintang. Proses evolusi yang konservatif menganggap seluruh massa yang hilang dari bintang primer akan berpindah ke bintang sekunder melalui titik Lagrange pertama. Tetapi pada kenyataannya tidak seluruh materi ditransfer ke bintang sekunder, sebagian materi akan hilang ke lingkungan melalui titik Lagrange kedua, ketiga, dan seterusnya. Oleh sebab itu parameter angin bintang harus digunakan untuk membuat model evolusi yang realistik dan mendekati kondisi sebenarnya. Hingga saat ini belum ada nilai pasti besar angin bintang dan penghitungan angin bintang diaproksimasi dengan berbagai model antara lain Reimers (1975) dan de Jager (1988). Masing-masing model melakukan pendekatan dengan cara yang berbeda. Pada pengajuan proposal tesis model angin bintang yang 22

akan digunakan adalah model dari de Jager, Nieuwenhuijzen, dan van der Hucht (1988) yang menghitung besar angin bintang pada suatu keadaan secara sederhana, hanya bergantung pada temperatur efektif dan luminositas dari bintang tersebut. log( Ṁ) = 1.769 log(l/l ) 1.676 log(t eff ) 8.158 (V.1) Selama dilakukan pengujian syarat batas untuk sintesis populasi ternyata model angin bintang ini menimbulkan kondisi berbeda jika digunakan untuk sistem bintang ganda dan bintang tunggal. Selama proses evolusinya bintang primer akan mengalami penambahan massa dimana seharusnya massa bintang berkurang akibat transfer massa. Karena hal ini tidak terjadi pada bintang tunggal maka hal ini tidak diketahui sebelum dimulainya sintesis populasi. Dianggap ini terjadi karena adanya bug pada Program STAR. Oleh sebab itu akhirnya digunakan model angin yang lain, yaitu model dari Reimers (1975). Perbedaan antara kedua model angin dapat dilihat pada gambar V.1 yang menunjukkan plot diagram HR dan plot perubahan massa terhadap usia untuk sistem bintang dengan massa primer 1.25 M dan massa pasangan 0.43 M serta periode orbital 4047 hari. Selanjutnya sintesis populasi dilakukan dengan menggunakan model angin Reimers yang menghitung besar kehilangan massa dengan persamaan berikut Ṁ = 4 10 13 η R L gr (M yr 1 ) (V.2) Pada persamaan V.2 Ṁ menyatakan kehilangan massa akibat angin bintang, η R adalah parameter angin bintang yang didefinisikan, sedangkan L, g, R adalah luminositas, gravitasi permukaan dan radius bintang. Nilai L, g, R dihitung dari solusi persamaan struktur bintang sedangkan besar parameter angin bintang yang dipakai adalah η R = 0.0, 0.3 dan 0.5. Jadi ada tiga buah sintesis populasi dengan parameter angin berbeda. Dengan demikian dapat diketahui 23

pengaruh angin bintang terhadap sintesis populasi. Ketiga nilai η R dipilih berdasarkan nilai yang digunakan Serenelli & Weiss (2005). Gambar V.1: Jejak evolusi bintang dengan massa 1.25 M dengan model angin bintang Reimers (atas kiri) dan model de Jager (atas kanan). Massa bintang berkurang untuk model Reimers (bawah kiri), sebaliknya terlihat adanya kenaikan massa untuk model de Jager (bawah kanan) V.2 Evolusi Horizontal Branch Bintang bermassa kecil akan menjalani evolusinya dengan meninggalkan deret utama menuju cabang raksasa merah. Selama itu bintang melakukan reaksi nuklir mengubah hidrogen menjadi helium sehingga terbentuk inti helium di pusat bintang. Temperatur dan tekanan di pusat bintang semakin tinggi hingga menyebabkan terjadinya kondisi terdegenerasi di pusat bintang. Pada saat itu temperatur terus naik tanpa diikuti kenaikan tekanan dan helium di pusat terbakar tanpa adanya perubahan struktur yang signifikan. Ketika 24

akhirnya prinsip gas ideal kembali berlaku maka tekanan naik secara ekstrim, membuat struktur bagian dalam bintang berubah secara tiba-tiba. Inilah yang menyebabkan evolusi bintang bermassa kecil sulit untuk diikuti selama terjadinya He-flash untuk sebagian besar program evolusi bintang, termasuk STAR evolution code yang digunakan dalam tesis ini. Pekerjaan sebelumnya oleh Ginanjar (2006) tidak meninjau lebih lanjut sistem yang terhenti oleh He-flash. Padahal jika evolusi bisa dilanjutkan masih ada kemungkinan sistem tersebut akan mengalami fase CE. Dengan mempertimbangkan kemungkinan tersebut pada tesis ini evolusi akan dilanjutkan hingga horizontal branch untuk memperkecil kehilangan data karena He-flash. Evolusi untuk sistem-sistem yang mengalami He-flash dilanjutkan dengan membuat model ZAHB menurut metode Pols et al. (1998). Untuk membuat model ZAHB Pols et al.(1998) mengambil massa paling rendah yang mungkin membakar helium dalam kondisi tidak terdegenerasi, yaitu 2M dengan parameter overshooting δ ov = 0.12 (Irawati 2006). Bintang 2M ini dievolusikan hingga helium di pusat bintang baru saja terbakar tanpa adanya pengubahan helium menjadi karbon. Dalam tesis ini model dinyatakan telah memulai pembakaran helium jika pusat bintang seluruhnya berisi helium dan energi termal di pusat bintang > 0. Menurut Pols et al.(1998) model seperti ini memiliki inti helium yang homogen sebesar 0.33M. Dengan demikian sudah tersedia model awal yang sudah memiliki pembakaran helium di pusat. Selanjutnya massa total bintang harus disesuaikan dengan cara menurunkan massa bintang hingga mencapai massa yang diinginkan. Proses ini dilakukan tanpa mengubah struktur bagian dalam bintang, yaitu evolusi tanpa mengubah H dan He tetapi diberikan mass loss sebesar 1.0 10 07 agar bintang berkurang massanya. Setelah model memiliki massa total yang sesuai, tahap terakhir yang harus dilakukan adalah menyesuaikan m core bintang agar sama seperti pada kondisi sebelum terjadi He-flash. Penambahan m core dilakukan dengan mengevolusikan model dengan pembakaran H agar He di pusat bertambah tetapi tanpa pembakaran He menjadi C. Model ini dievolusikan hingga 25

mencapai m core yang sesuai. Model terakhir yang telah memiliki massa total dan massa inti sama inilah yang digunakan sebagai model ZAHB. Kekurangan dari model ZAHB pada tesis ini yaitu belum dilakukannya penyesuaian komposisi selubung antara model awal dengan model He-flash. Walaupun demikian model ZAHB yang dibuat masih dapat mewakili evolusi horizontal branch dengan cukup baik seperti yang terlihat pada gambar V.2. Gambar V.2: Jejak evolusi untuk bintang dengan berbagai massa pada diagram HR, sejak ZAMS hingga horizontal branch: merah untuk 1.1 M, hijau untuk 1.3 M, biru terang untuk 1.6 M, merah muda untuk 1.9 M Dalam tesis ini proses pembuatan model ZAHB dan evolusi HB dilakukan secara otomatis dengan program berbasiskan perl. Program ini akan memeriksa hasil evolusi program STAR dan langsung membuatkan model ZAHB yang sesuai jika diketahui evolusi berhenti akibat He-flash. Evolusi akan dilanjutkan ke horizontal branch hanya jika massa progenitor bintang primer kurang dari 2M. Batasan ini diberikan karena asumsi bahwa bintang dengan M > 2M dapat melakukan pembakaran helium dalam kondisi tidak terdegenerasi sehingga tidak mengalami He-flash. 26

Sebenarnya limitasi pemrograman dengan STAR juga terjadi jika sistem mengalami carbon flash untuk bintang-bintang dengan massa besar. Tetapi sistem dengan C-flash tidak akan ditinjau lebih lanjut. Kondisi ini pasti akan memengaruhi statistik hasil sintesis populasi tetapi diharapkan data yang hilang tidak signifikan karena simulasi random number memberikan distribusi m 1 yang terkonstrasi pada massa kecil, sesuai dengan IMF dari Miller & Scalo (1979). 27