PERANCANGAN MEKANISME PENGONTROL CONTROLLABLE PITCH PROPELLER

dokumen-dokumen yang mirip
PERANCANGAN MESIN UJI TRIBOLOGI PIN-ON-DISC

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

RANCANG BANGUN MESIN PENCETAK PAVING BLOCK DENGAN KAPASITAS 7 BUAH PAVING BLOCK TIAP PENGEPRESAN

Ring II mm. Ukuran standar Batas ukuran Hasil pengukuran Diameter journal

BAB II DASAR TEORI. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai

Perancangan Peralatan Bantu Pembuatan Roda Gigi Lurus dan Roda Gigi Payung Guna Meningkatkan Fungsi Mesin Bubut


PENERAPAN KONSEP FLUIDA PADA MESIN PERKAKAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ALTERNATIF DESAIN MEKANISME PENGENDALI

Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan

III. METODE PENELITIAN

BAB VI Mesin Shaping I

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagai motor penggerak utama Forklift ini digunakan mesin diesel 115

Dalam menentukan ukuran utama mesin skrap ini, hal yang berpengaruh antara lain:

Mesin sekrap disebut pula mesin ketam atau serut. Mesin inidigunakan untuk mengerjakan bidang-bidang yang rata, cembung, cekung,beralur, dan

ANALISIS KEANDALAN SISTEM MEKANIK CONTROLLABLE PITCH PROPELLER DENGAN PENDEKATAN KEGAGALAN KEAUSAN

IV. PENDEKATAN DESAIN

KAJI EKSPERIMENTAL KINERJA TURBIN CROSSFLOW BERBASIS KONSTRUKSI SILINDER (DRUM) POROS VERTIKAL UNTUK POTENSI ARUS SUNGAI

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI

MODUL I PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI

BAB II LANDASAN TEORI

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Penggunaan Kepala Pembagi

2. Mesin Frais/Milling

BAB IV MESIN BUBUT. Gambar 2. Pembubut mesin tugas berat.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 PRINSIP KERJA SISTEM HIDROULIK PADA FORKLIFT

PENGARUH ARAH SERAT GELAS DAN BAHAN MATRIKS TERHADAP KEKUATAN KOMPOSIT AIRFOIL PROFILE FAN BLADES

BAB III METODOLOGI. Pembongkaran mesin dilakukan untuk melakukan pengukuran dan. Selain itu juga kita dapat menentukan komponen komponen mana yang

EKSPERIMENTAL PEMBUATAN SPIRAL DATAR DENGAN MENGGUNAKAN MESIN FREIS UNTUK PENGEMBANGAN PROGRAM PRAKTIKUM LABORATORIUM PEMESINAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. PS, dengan putaran mesin 1500 rpm dan putaran dari mesin inilah yang

BAB II LANDASAN TEORI

DESAIN MODEL TURBIN ANGIN EMPAT SUDU BERBASIS SILINDER SEBAGAI PENGGERAK POMPA AIR

BAB III PROSES PEMBUATAN STEAM JOINT STAND FOR BENDED TR

IV. ANALISA PERANCANGAN

4 PENDEKATAN RANCANGAN. Rancangan Fungsional

Proses Kerja Hidrolik Pada Mast Toyota Forklift Series 8

PERENCANAAN ALAT BANTU PENGANGKAT DAN PEMINDAH KERTAS GULUNG

RANCANG BANGUN MESIN POLES POROS ENGKOL PROYEK AKHIR

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH SUDUT PITCH TERHADAP PERFORMA TURBIN ANGIN DARRIEUS-H SUMBU VERTIKAL NACA 0012

A. Dasar-dasar Pemilihan Bahan

KAJI EKSPERIMEN TURBIN ANGIN POROS HORIZONTAL TIPE KERUCUT TERPANCUNG DENGAN VARIASI SUDUT SUDU UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN

MODUL POMPA AIR IRIGASI (Irrigation Pump)

BAB I PENDAHULUAN. bahan baku untuk menciptakan suatu produk. Derivasi dari kata. manufaktur mencerminkan arti asli: membuat dengan tangan.

MATERI KULIAH PROSES PEMESINAN KERJA BUBUT KOMPLEKS Ulir, Tirus, Eksentrik dan Benda Panjang

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR

BAB II DASAR TEORI 2.1. Sistem Transmisi Motor Listrik

DIAL TEKAN (DIAL GAUGE/DIAL INDICATOR)

PERENCANAAN POWER PACK MESIN PRESS HIDROLIK

Toleransi& Implementasinya

IV. ANALISIS STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL

PENGARUH PROFIL POROS PENGGERAK TERHADAP GERAKAN SABUK DALAM SUATU SISTEM BAN BERJALAN. Ishak Nandika G., Adri Maldi S.

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB IV MESIN SEKRAP. Laporan Akhir Proses Produksi ATA 2010/2011. Pengertian Mesin Sekrap

PENGARUH PARAMETER POTONG TERHADAP DIAMETER PITS ULIR METRIK

Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan (RPKPM).

KARAKTERISASI DAYA TURBIN PELTON MIKRO SUDU SETENGAH SILINDER DENGAN VARIASI BENTUK PENAMPANG NOSEL

PT ASTRA INTERNATIONAL Tbk

1 BAB II LANDASAN TEORI

4 RANCANGAN SIMULATOR GETARAN DENGAN OUTPUT ARAH GETARAN DOMINAN VERTIKAL DAN HORIZONTAL

STEERING. Komponen Sistem Kemudi/ Steering

PERANCANGAN KOMPRESOR TORAK UNTUK SISTEM PNEUMATIK PADA GUN BURNER

BAB III TEORI PERHITUNGAN. Data data ini diambil dari eskalator Line ( lampiran ) Adapun data data eskalator tersebut adalah sebagai berikut :

BEKERJA DENGAN MESIN BUBUT

MAKALAH PNEUMATIK HIDROLIK ( PH ) Forklift

MESIN BOR. Gambar Chamfer

PROSES BUBUT (Membubut Tirus, Ulir dan Alur)

BAB II DASAR TEORI 2.1. Prinsip kerja Mesin Penghancur Kedelai 2.2. Gerenda Penghancur Dan Alur

BAB li TEORI DASAR. 2.1 Konsep Dasar Perancangan

BAB III PEMBAHASAN, PERHITUNGAN DAN ANALISA

MODUL PROSES PEMESINAN I SEKSI MESIN BUBUT. Oleh : Purgiyanto

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Observasi terhadap sistem kerja CVT, dan troubeshooting serta mencari

Pemodelan Dinamik dan Simulasi dari Motor Induksi Tiga Fasa Berdaya Kecil

RANCANG BANGUN ALAT PRAKTIKUM TURBIN AIR DENGAN PENGUJIAN BENTUK SUDU TERHADAP TORSI DAN DAYA TURBIN YANG DIHASILKAN

UNJUK KERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS DUA TINGKAT EMPAT SUDU LENGKUNG L

SISTEM MEKANIK MESIN SORTASI MANGGIS

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

KERJA PRAKTEK BAB III PEMBAHASAN. 3. Sistem Kerja Dan Pemeliharaan Governor Pada Pesawat Dakota

BAB II PEMBAHASAN MATERI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

RENCANA IMPLEMENTASI MEMBUBUT DI LABORATORIUM PRODUKSI JURUSAN MESIN. Oleh: Nama : Dwi Pujo L NIM : Prodi : PTMSI

OPTIMASI DAYA TURBIN ANGIN SAVONIUS DENGAN VARIASI CELAH DAN PERUBAHAN JUMLAH SUDU

BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. guna. Alat/mesin pengerol pipa adalah alat/mesin yang digunakan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. buah kabin operator yang tempat dan fungsinya adalah masing-masing. 1) Kabin operator Truck Crane

PENGEREMAN DINAMIK PADA MOTOR INDUKSI TIGA FASA

BEKERJA DENGAN MESIN BUBUT

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Perancangan Mesin Pengangkut Produk Bertenaga Listrik (Electric Low Loader) PT. Bakrie Building Industries BAB III

PENGARUH PANJANG CEROBONG DAN SUDUT BLADE TERHADAP DAYA THRUST PADA HOVERCRAFT ABSTRAK

BAB II LANDASAN TEORI

TUJUAN PEMBELAJARAN. 3. Setelah melalui penjelasan dan diskusi. mahasiswa dapat mendefinisikan pasak dengan benar

Proses Gerinda. Paryanto, M.Pd. Jur. PT. Mesin FT UNY

commit to user BAB II DASAR TEORI

Pembakaran. Dibutuhkan 3 unsur atau kompoenen agar terjadi proses pembakaran pada tipe motor pembakaran didalam yaitu:

Transkripsi:

D.3. Perancangan mekanisme pengontrol controllable pitch propeller (Lorentius Y. Sutadi, dkk.) PERANCANGAN MEKANISME PENGONTROL CONTROLLABLE PITCH PROPELLER Lorentius Yosef Sutadi 1), Susilo Adi Widyanto 2), Ismoyo Haryanto 2) 1) Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof.H. Sudarto, SH, Tembalang, Kotak Pos 6199/SMS, Semarang 50275 2) Program Studi Magister Teknik Mesin, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang Jl. Prof. H. Sudarto, SH, Tembalang, Semarang 50061 Email: lysutadi@gmail.com Abstrak Propeller adalah salah satu bagian mesin yang berfungsi sebagai alat penggerak mekanik, misalnya pada pesawat terbang, kapal laut, hovercraft dan lain-lain. Propeller dibedakan menjadi dua jenis yaitu Fixed Pitch Propeller (FPP) dan Controllable Pitch Propeller (CPP). Propeller jenis CPP dirancang agar besar sudut pitch dari propeller dapat diatur walaupun propeller dalam keadaan berputar. Tujuan penelitian ini merancang mekanisme pengontrol CPP yaitu mesin yang digunakan untuk mengatur serempak yang sama besar sudut pitch dari 3 propeller blade agar menghasilkan gaya dorong (thrust) yang bervariasi ketika propeller blade dalam keadaan berputar konstan yang diputarkan oleh motor penggerak listrik arus bolak-balik melalui transmisi sabuk dan puli. Propeller blade yang digunakan pada mekanisme ini adalah tipe airfoil ukuran medium seri TR11W untuk penggerak hovercraft. Rentang pengaturan sudut pitch antara 45 s.d. 45. Berbagai perancangan mekanisme pengontrol CPP menggunakan gabungan sistem mekanik dengan komponen utama pasangan pin-slot eksentrik dan hidrolik, gabungan sistem mekanik dengan komponen utama pasangan roda gigi dan hidrolik serta sistem mekanik saja dengan penggerak manual. Pada perancangan ini menggunakan sistem mekanik dengan komponen utama pasangan pin engkol silindris dan piringan beralur (crank pin in slot disc) dengan penggerak manual. Kata kunci: perancangan, mekanisme pengontrol CPP, pena engkol, piringan beralur, manual 1. PENDAHULUAN Propeller adalah salah satu bagian mesin yang berfungsi sebagai alat penggerak mekanik, misalnya pada pesawat terbang, kapal laut, hovercraft dan lain-lain. Propeller dibedakan menjadi dua jenis yaitu Fixed Pitch Propeller (FPP) dan Controllable Pitch Propeller (CPP). Propeller dengan pitch tetap (FPP) dicetak dalam satu blok yang tetap sehingga sudut pitch propeller tidak dapat diatur namun dirancang agar berfungsi optimum, sedangkan propeller jenis CPP dirancang agar sudut pitch dari propeller dapat diatur walaupun propeller dalam keadaan berputar. Jumlah propeller blade biasanya lebih dari satu yang terpasang pada hub poros pemutar propeller tersebut. Tujuan pengaturan pitch propeller untuk mendapatkan gaya dorong (thrust) yang besarnya bervariasi dari minimum hingga maksimum pada kecepatan putar poros propeller konstan. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Definisi dan Istilah Dasar Propeller Propeller berbentuk baling-baling yang mentransmisikan daya dengan cara mengkonversi gerak putar menjadi gaya dorong. Istilah-istilah dasar yang umum pada propeller yaitu: a. Sudut blade (blade angle) adalah sudut antara bidang putar (plane of rotation) propeller dan garis chord pada propeller airfoil. Istilah airfoil adalah luas penampang melintang blade b. Stasiun blade (blade station) adalah posisi referensi pada blade yang memiliki jarak tertentu terhadap pusat hub. c. Pitch adalah jarak maju yang dapat dicapai (dalam satuan inci atau mm) suatu bagian propeller dalam satu putaran penuh. d. Sudut serang (angle of attack) adalah sudut lancip antara garis chord pada propeller dan garis relative wind (relative airflow). D.12 ISBN 978-602-99334-1-3

Gambar 2. 1 Controllable Pitch Propeller 2. 2. Mekanisme CPP Prinsip kerja mekanisme pengontrol CPP yaitu mengatur/mengubah sudut pitch propeller dari posisi sudut pitch mula-mula ke posisi sudut pitch yang dikehendaki dengan cara memutar serentak seluruh propeller blade pada sumbu putar tiap-tiap propeller blade tetapi poros propeller dalam keadaan berputar sehingga menghasilkan perubahan gaya dorong yang dikehendaki. Apabila sudut pitch dapat diatur pada sudut negatif, CPP dapat menghasilkan gaya dorong mundur untuk pengereman atau bergerak mundur (Wikipedia, diakses 2010). 3. PERANCANGAN Mekanisme pengontrol CPP adalah suatu peralatan yang digunakan untuk mengatur atau menentukan seluruh sudut pitch propeller serentak yang besarnya sama terhadap datum ketika poros propeller dalam keadaan berputar dengan kecepatan konstan. Kecepatan putar poros propeller diperoleh dari sebuah motor listrik AC melalui transmisi sabuk dan puli. Pengontrol gerak sudut pitch propeller biasanya menggunakan sistem hidrolik atau manual. 3. 1. Tujuan Perancangan a. Merancang mekanisme pengontrol CPP sehingga dapat menghasilkan sudut pitch propeller pada masing-masing propeller blade yang sama besar diukur dari satu referensi ketika poros propeller dalam keadaan berputar. b. Merancang mekanisme pengontrol CPP sehingga dapat mengukur sudut pitch propeller yang diinginkan dimana besar maksimum sudut pitch propeller dibuat 45 o dan 45 o. c. Merancang mekanisme pengontrol CPP yang mampu keterulangannya baik, kuat, sederhana tetapi memenuhi keperluan rancang bangun, biaya terjangkau dan semua komponen tidak standar dapat diproses pemesinan (dibuat) di bengkel mesin Politeknik Negeri Semarang serta memperhitungkan keselamatan/keamanan ketika mekanisme pengontrol CPP beroperasi. 3. 2. Kriteria Perancangan Kriteria perancangan yang diharapkan dapat terpenuhi sesuai tujuan perancangan, secara umum dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (Dieter, 1991) a. Kriteria musts, yaitu kriteria yang harus dipenuhi dalam perancangan, meliputi: Mekanisme dapat menghasilkan sudut pitch propeller pada masing-masing propeller blade yang sama besar diukur dari satu referensi ketika poros propeller dalam keadaan berputar. Mekanisme dapat mengukur sudut pitch propeller yang diinginkan dimana besar maksimum sudut pitch propeller dibuat 45 o dan 45 o. Mekanisme pengontrol CPP yang mampu keterulangannya baik. Aman bagi operator dan lingkungan kerja b. Kriteria wants, yaitu kriteria yang diharapkan dipenuhi dalam perancangan, meliputi: Mudah dalam pengoperasian Mudah dalam perakitan Mudah dalam perawatan dan perbaikan Prosiding SNST ke-3 Tahun 2012 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang D.13

D.3. Perancangan mekanisme pengontrol controllable pitch propeller (Lorentius Y. Sutadi, dkk.) 3. 3. Perancangan Konsep Produk (Harsokoesoemo, 2004) Adalah suatu kegiatan mengumpulkan ide sebanyak-banyaknya yang dituangkan dalam bentuk konsep mekanisme pengontrol CPP yang berfungsi untuk mengatur serempak 3 pitch propeller blade ketika poros propeller dalam keadaan berputar. Selanjutnya hasil konsep perancangan mekanisme-mekanisme tersebut dibandingkan satu dengan yang lain untuk menentukan hasil perancangan yang terbaik. Di bawah ini diuraikan beberapa konsep perancangan atau alternatif perancangan yang dapat dibandingkan setelah sebelumnya melalui penyaringan yang tidak diuraikan disini sehingga diperoleh 4 alternatif bentuk konsep perancangan yang akan dievaluasi untuk menentukan alternatif terbaik. A. Alternatif Mekanisme I Cara kerja sistem pengontrol CPP (Gambar 3.1) ini digunakan pada kapal laut yaitu dengan memutar spindel 54, plat 57 bergeser ke kiri sehingga pegas 53 tertekan dan menggerakkan bagian 51 ke kiri. Hal ini dapat terjadi karena media penekan yang disuplai melalui pipa 61 oleh pompa penekan media atau melalui beberapa sumber pipa-pipa kecil 62 menuju sistem transmisi 49. Peningkatan tekanan dalam sistem transmisi 49 menggerakkan bagian 51 ke kanan lagi pada posisi akhir kemudian tekanan yang cukup tinggi menyeimbangkan peningkatan tekanan melawan pegas 53. Akibat tekanan yang lebih tinggi pada sistem 49, permukaan 48 menerima tekanan yang besar dan bagian kontrol 45 bergerak arah kiri. Media penekan dari pipa 46 melalui celah 63 pada collar 47 dan melewati 64, 65 dan 66 ke dalam silinder 15 dan menggerakkan torak motorservo ke kiri. Poros berputar searah anak panah dan mengatur sudut pitch propeller blade 7 (Atteslander, 1948). Gambar 3. 1 Alternatif Mekanisme Pengontrol CPP I B. Alternatif Mekanisme II Sistem pengontrol pitch propeller (Gambar 3.2) menjadi satu kesatuan dalam mesin yang dihubungan ke kotak roda gigi (gearbox) yang ada pada pesawat terbang. Sebatang tuas yang dihubungkan ke kokpit dengan kabel digunakan untuk memutarkan sebuah piringan. Piringan tersebut bergerak pada permukaan yang miring sehingga dapat mengubah gerak putar menjadi gerak lurus yang bertujuan menekan batang pengatur pitch pada kedudukan yang diinginkan.(operation and Installation Manual (E 309) of Mechanical Variable Pitch Propeller MTV-24-( ), Gerd R. Muhlbauer, President of MT-Propeller Entwicklung GmbH, Revision 11: February 09, 2010) D.14 ISBN 978-602-99334-1-3

Gambar 3. 2 Alternatif Mekanisme Pengontrol CPP II C. Alternatif Mekanisme III Skematik mekanisme pengontrol CPP yang ditunjukkan pada Gambar 3.3 digunakan pada kapal laut. Sudut pitch propeller diatur menggunakan sebuah silinder hidrolik yang berada di dalam hub. Akibat salah satu katup terbuka, oli mengalir ke dalam salah satu ruangan oli dan ke luar melalui ruangan oli yang lainnya. Tekanan meningkat hingga terjadi perbedaan tekanan pada silinder torak yang cukup besar untuk melawan beban dan gaya gesek. Selanjutnya aliran oli akan mengakibatkan perpindahan gerak translasi torak yang dikonversi menjadi gerak rotasi semua propeller blade dengan menggunakan mekanisme pin-slot eksentrik. (Dullens, 2009) Gambar 3.3 Alternatif Mekanisme Pengontrol CPP III D. Alternatif Mekanisme IV Pengaturan semua pitch propeller blade pada sudut yang sama besar dapat dilakukan dengan memutarkan secara manual batang silindris berulir dalam (sebagai mur) yang berputar dalam rumahnya, mengakibatkan poros berulir luar pasangannya (sebagai baut) dapat bergerak translasi. Hal ini dapat terjadi karena pada poros berulir luar diberi alur memanjang untuk tempat masuk batang pengarah. Di dekat ujung poros berulir terdapat sebuah piringan yang beralur pada bidang keliling (slot yang melingkar) dimana alur tersebut sebagai jalan atau lintasan dan pemutar ke-3 pin engkol silindris (crankpin). Pemegang blade dihubungkan dengan pin engkol oleh baut sehingga gerak maju atau mundur piringan yang beralur mengakibatkan gerak rotasi ke-3 propeller Prosiding SNST ke-3 Tahun 2012 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang D.15

D.3. Perancangan mekanisme pengontrol controllable pitch propeller (Lorentius Y. Sutadi, dkk.) blade yang dicekam oleh pemegang blade karena sumbu putar pin engkol silindris satu sumbu dengan pemegang blade. Alternatif mekanisme IV ditunjukkan pada Gambar (3.4). Pemegang blade 2 Pin engkol silindris 2 Batang silindris berulir dalam Drum batang silindris berulir dalam Pin engkol silindris 3 Poros berulir luar Pemegang blade 3 Pin engkol silindris 1 Pemegang blade 1 Hub Piringan beralur Gambar 3.4 Alternatif Mekanisme Pengontrol CPP IV 3. 4. Pemilihan Alternatif Kriteria mekanisme-mekanisme pengontrol CPP yang disajikan tersebut di atas dievaluasi berdasarkan matrik pengambilan keputusan (Harsokoesoemo, 2004). Pada tahap evaluasi ini setiap kriteria mekanisme pengontrol CPP dibandingkan satu dengan yang lain secara berpasangan dalam hal kemampuan memenuhi kebutuhan pengguna selanjutnya diberi skor. Konsep mekanisme produk yang memperoleh skor paling tinggi adalah yang terbaik sehingga konsep tersebut yang harus dibuat. Tabel 3.1 Matriks evaluasi dalam menentukan Mekanisme Pengontrol CPP Kriteria Alternatif Mekanisme I II III IV Mudah dalam pengoperasian + + + Murah dalam pengoperasian S S S Mudah dalam perakitan D Murah dalam perakitan A T Mudah dalam perawatan + U Murah dalam perawatan M Mudah dalam perbaikan Murah dalam perbaikan 3 1 6 4 6 1 S 1 1 1 Apabila terjadi keraguan untuk menilai suatu alternatif lebih baik atau lebih buruk daripada alternatif mekanisme I, maka digunakan skor S yang berarti sama dengan alternatif mekanisme I. (Pugh, 1991) 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil matriks evaluasi alternatif produk mekanisme pengontrol CPP di atas, ternyata alternatif mekanisme IV memiliki skor yang paling tinggi yaitu 6 dan skor paling rendah yaitu 1 serta skor S sama sehingga dapat ditentukan konsep perancangan alternatif IV yang dipilih, selanjutnya akan dibuat. Sintesis mekanisme pengontrol CPP terpilih, menggunakan persamaan Gruebler untuk mengetahui derajat kebebasan, yaitu M = 3 (L 1) 2J dimana M = derajat kebebasan (DoF) atau mobilitas (mobility); L = jumlah link; J = jumlah joint. D.16 ISBN 978-602-99334-1-3

Gambar 4.1 Penghitungan derajat kebebasan Pada Gambar 4.1 hasil perancangan mekanisme pengontrol CPP terpilih yang akan dibuat memiliki jumlah link, L = 6 dan jumlah joint, J = 6,5 maka M = 3(6 1) 2(6,5) = 2. Hal ini menunjukkan suatu gerak pasti, yaitu gerak tertentu terjadi bila suatu titik pada mekanisme digerakkan dengan masukan tertentu, maka semua bagian yang lain akan bergerak tertentu pula sehingga disebut mekanisme karena DoF adalah positif (Norton, 1999). 5. KESIMPULAN Dari hasil perancangan dapat disimpulkan bahwa mekanisme pengontrol CPP dapat dirancang berbeda bentuk dari mekanisme yang sudah ada sebelumnya tetapi memiliki fungsi yang sama sehingga perancangan mekanisme pengontrol CPP alternatif IV memenuhi syarat untuk pembuatan produks. DAFTAR PUSTAKA Atteslander, E., 1948, Device For Adjusting The Blades Of Ship s Propellers : United States Patent Office. Dieter, G.E., 1991, Engineering Design : A Materials and Processing Approach, 2 nd Edition, McGraw-Hill, Inc. Dullens, F.P.M., 2009, Modeling and Control of a Controllable Pitch Propeller, Thesis for Master of Science Degree in Mechanical Engineering at the Eindhoven University of Technology. Harsokoesoemo, H.D, 2004, Pengantar Perancangan Teknik (Perancangan Produk), Edisi Kedua, Penerbit ITB, Bandung. Norton, Robert L, 1999, Design of Machinery : An Introduction to the Synthesis and Analysis of Mechanisms and Machines, 2 nd Edition, McGraw-Hill Inc., U.S.A. Operation And Installation Manual (E 309), 2010, Mechanical Variable Pitch Propeller MTV 24 ( ), Propeller Entwicklung GmbH. Pugh, Stuart, 1990, Total Design, Addison-Wesley Publising Company. http://en.wikipedia.org/wiki/controllable_pitch_propeller Prosiding SNST ke-3 Tahun 2012 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang D.17