BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Instansi Pemerintah dalam rangka mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi sesuai ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Perda Kabupaten Bogor No. 11 tahun 2008 tentang Pembentukan Dinas Daerah, dimana Dinas Kesehatan wajib menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja tahunan. Laporan ini memuat hasil pengukuran sasaran strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan program/kegiatan melalui indikator kinerja (parameter) yang telah ditetapkan sesuai tugas pokok dan fungsinya. Adapun sumber dana Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor untuk program dan kegiatan yang dilaksanakan tahun 2015 berasal dari APBD Kabupaten Bogor, DAK, APBD Propinsi dan APBN tahun anggaran 2015. Indikator kinerja Sasaran merupakan parameter untuk mengukur keberhasilan pelayanan yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam rangka mendukung keberhasilan pencapaian sasaran tingkat Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 2015. Indikator kinerja Sasaran menggunakan indikator kinerja utama yang dipilih dari beberapa output dan atau outcome dari kegiatan. Indikator kinerja kegiatan meliputi indikator masukan (input) yang mengutamakan penggunaan dana APBD Kabupaten Bogor/APBD Propinsi/APBN, indikator keluaran (output) dan indikator hasil (outcome) sesuai Daftar Pengesahan Anggaran (DPA) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015. Gambaran pengukuran kinerja Dinas Kesehatan tahun 2015 dalam pencapaian pengukuran kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 2015, disajikan dalam diagram 1.1. 1
Sasaran Strategis Kab. Bogor 2015 Sasaran Dinas Kesehatan Indikator Kinerja Program Pengukuran Kinerja LK Dinas Kesehatan TAHUN 2015 Kegiatan IK : Input,Output/ Outcome Diagram 1.1. Alur Pikir Pengukuran Kinerja Metode penyusunan secara umum mengacu pada Surat Keputusan Kepala LAN Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Tehnis penjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Dalam pengukuran kinerja Sasaran Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015 ini menggambarkan indikator kinerja output (grand output) atau outcome pada program/kegiatan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor selama tahun 2015 sesuai dengan penetapan indikator kinerja yang ditetapkan pada dokumen Perjanjian Kinerja (Jankin) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015. 1.2. TUGAS POKOK DAN FUNGSI SERTA SUSUNAN ORGANISASI 1.2.1. Tugas Pokok Berdasarkan Perda Kabupaten Bogor No. 11 tahun 2008 tentang Pembentukan Dinas Daerah. Tugas Pokok Dinas Kesehatan adalah membantu Bupati dalam melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi di bidang kesehatan dan tugas pembantuan. 1.2.2. Fungsi Dalam melaksanakan tugas pokok Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan 2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang kesehatan 3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang kesehatan dan 2
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya 1.2.3. Susunan Organisasi Susunan dan tugas unsur organisasi Dinas Kesehatan, berdasarkan Perda Kabupaten Bogor No. 11 tahun 2008 tentang Pembentukan Dinas Daerah, Organisasi Dinas Kesehatan, terdiri atas : 1. Kepala Dinas (dr.hj.camalia W Sumaryana, MKM) 2. Sekretariat (Ir. Hj. Ati Iravati Dewi, MM), membawahi : a. Sub Bagian Program dan Pelaporan (Dini Priyantini, SKM) b. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian (H. Mardani, SPd, MM) c. Sub Bagian Keuangan (Heri Heryana, SKM, MARS) 3. Bidang Promosi dan Sumber Daya Kesehatan (Ir. Sri Basuki Dwi Lestari, MKM), membawahi : a. Seksi Pengembangan Sumber Daya Kesehatan (M. Lintang, SKM, MKes) b. Seksi Promosi Kesehatan (dr Dion Rivardin Iskandar) c. Seksi Data dan Informasi Kesehatan (Adang Mulyana, SKM, M.Epid) 4. Bidang Pelayanan Kesehatan (dr Agus Fauzi), membawahi : a. Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan (dr Trisna Dewi Bangun) b. Seksi Farmasi dan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) (Runny R. P, S.Si, Apt) c. Seksi Pelayanan Upaya Kesehatan (dr Dedi Syarif) 5. Bidang Pembinaan Kesehatan Masyarakat, (Drg Rosnila Davy Siregar) membawahi : a. Seksi Gizi (Dewi Dwinurwati, SKM, MKM) b. Seksi Kesehatan Ibu, Anak & Keluarga Berencan (dr Dede Agung Priatna) c. Seksi Kesehatan Remaja dan Lanjut Usia (Wayan Sri Agustina, S.Sit M.Kes) 6. Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (dr Kusnadi), membawahi : a. Seksi Penyehatan Lingkungan (Didik Supriyono, SKM. MKes) b. Seksi Pemberantasan Penyakit (dr. Intan Widiyati) c. Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi (dr Yesi Desputri) 3
7. UPT ; dan 8. Kelompok Jabatan Fungsional Secara lengkap susunan organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor digambarkan dalam diagram 1.2. Diagram 1.2. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (Sesuai Perda Nomor 11 Tahun 2008) Kepala Dinas dr.hj. Camalia W Sumaryana, MKM Sekretaris Ir. Hj. Ati Iravati Dewi, MM Kelompak Jabatan Fungsional Wayan Sri Agustini, M.kes Sub. Bag. Program Pelaproan Dini Priyantini, SKM Sub. Bag. Umum & Kepegawaian H. Mardani, SPd, MM Sub. Bag. Keuangan Heri Heryana,SKM. MARS Bidang Promkes & SDK Bidang Pelayanan Kesehatan Bidang Binkesmas Bidang P2PKL Ir. Sri Basuli Dwi Lestari, MKM Dr. Agus Fauzi, M.Kes Drg Rosnila Davy S Dr.Kusnadi Sie.Promkes Sie Yandasruj Sie.Gizi Sie. SEPIM Dr Dion Rivardin Iskandar Dr. Trisna Dewi Bangun Dewi Dwi N, SKM.M.Kes Dr. Yesi Desputri Sie PSDK M.Lintang,SKM, MKes Sie PUK Dr Dedi Syarif Sie Kes.Remaja&Lansia Wayan Sri A, S.Sit MKes Sie P2M Dr Intan Widiyati Sie Data & SIK Sie Farmasi&POM Sie KIA & KB Sie Peny. Lingkungan Adang Mulyana, SKM, M.Epid Runny.R.P, S.Si, Apt UPT Dr Dede Agung Priyatna Didik. Supriyono, SKM,MKes 1.3. ASPEK STRATEGIS YANG BERPENGARUH Permasalahan utama yang perlu direspon berkaitan dengan peran dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun anggaran 2015 terutama : 1.3.1. Derajat Kesehatan 4
Derajat kesehatan merupakan hasil dari berbagai keadaan sosial ekonomi antara lain pendidikan, daya beli dan lingkungan yang tidak sepenuhnya dapat diintervensi oleh sektor kesehatan. Indikator yang digunakan untuk dapat menggambarkan derajat kesehatan adalah : Tabel 1 Indikator Derajat Kesehatan di Kabupaten Bogor NO Indikator Derajat Kesehatan Angka 1 Angka Kematian Ibu ( AKI ) 359/100.000 KH (SDKI 2012 ) 2 3 Angka Kematian Bayi ( AKB ) Angka Harapan Hidup ( AHH ) 41,82/1000 KH ( BPS Kab Bogor dari 2009-2014 ) 70,35 ( BPS 2010-2014 ) 1) Angka Kematian Bayi Infant Mortality Rate (IMR) atau Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. AKB merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, kondisi AKB meskipun lambat menunjukkan kecenderungan menurun. Untuk mengurangi AKB yang masih tinggi di Kabupaten Bogor dan untuk mencapai target MDGs tahun 2015 sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup, maka pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya perlu ditingkatkan karena hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Selain itu perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit. Angka kematian neonatal berdasarkan SDKI 2007 yaitu sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan target nasional (2014) : 15 per 1.000 kelahiran hidup (RPJMD 2010-2014). Bila dilihat dari jumlah data kematian neonatal, bayi dan balita di Kabupaten Bogor berdasarkan pencatatan dari Data Dasar Kesehatan Anak yang dilaporkan oleh fasilitas kesehatan/puskesmas yang ada pada tahun 2015 sebanyak 2205 kasus, neonatal (0-6 hari) sebanyak 144 kasus, neonatal (7 28 hari) sebanyak 25 kasus. Data laporan puskesmas jumlah kematian bayi umur (29 hari 11 bulan) sebanyak 30 kasus yang terdiri dari 9 kasus akibat Pneumonia, 3 kasus akibat Diare dan 18 kasus akibat penyakit lainnya. Selain itu jumlah kematian balita (12 59 bulan) sebanyak 6 kasus terdiri dari penyakit lain-lainnya sebanyak 6 5
kasus. Jumlah kematian bayi neonatal umur 0-<1 tahun dari Rumah Sakit pada tahun 2015 sebanyak 516 bayi dan umur 1-4 tahun sebanyak 183 bayi. Penyebab kematian bayi neonatal umur 0 28 hari berdasarkan laporan puskesmas sebagian besar disebabkan oleh Asphyxia sebanyak 44 bayi, BBLR sebanyak 83 bayi, Infeksi sebanyak 1 bayi, kelainan congenital sebanyak 25 bayi, Tetanus Neonatorum sebanyak 1 bayi, Ikterus sebanyak 1 bayi dan kematian disebabkan hal lainnya sebanyak 14 bayi. Oleh karena itu kematian bayi dengan berbagai penyebabnya masih menjadi suatu masalah serius yang masih tetap harus menjadi perhatian utama. 2) Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) menunjukkan jumlah kematian ibu karena kehamilan, persalinan dan masa nifas pada 100.000 kelahiran hidup dalam satu wilayah pada kurun waktu tertentu. Angka ini berguna untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama pada saat ibu hamil, melahirkan dan pada saat nifas. AKI khusus untuk Kabupaten Bogor sampai saat ini belum ada, karena untuk menghitung AKI ini diperlukan denominator 100.000 kelahiran hidup (KH). Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, 36 % ibu hamil / bersalin mengalami komplikasi sewaktu hamil, bersalin atau nifas dan 22 % komplikasi paling sering timbul pada waktu bersalin. Hasil survey BPS Jawa Barat tahun 2003 menunjukan bahwa umumnya kematian ibu terjadi pada saat melahirkan yaitu sebanyak 60,87 % sedangkan yang meninggal waktu nifas sebesar 30,43 % dan meninggal waktu hamil adalah 8,70 % ( Profil Kesehaatan Jawa Barat, Tahun 2005 ). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI untuk periode 5 tahun sebelumnya survei (2003-2007) sevesar 228/100.000 kelahiran hidup. Penyebab tidak langsung yang berperan dalam tingginya AKI ini antara lain faktor pendidikan ibu yang rendah, status gizi ibu yang kurang serta usia ibu saat hamil masih terlalu dini. Kasus Kematian Ibu yang dilaporkan berdasarkan laporan puskesmas (SP3) pada tahun 2015 sebanyak 69 terdiri dari kematian ibu hamil sebanyak 21 orang, kematian ibu bersalin sebanyak 17 orang dan kematian ibu nifas sebanyak 31 orang. Pada penanganan kasus sering ditemukan Trias Tiga Terlambat yang akan memperbesar angka kematian ibu diantaranya : 1. Terlambat memutuskan untuk mencari pertolongan bagi kasus kegawat daruratan obstetri. 2. Terlambat mencari tempat rujukan yang disebabkan oleh keadaan geografis dan masalah transportasi. 6
3. Terlambat memperoleh penanganan yang adekuat ditempat rujukan karena kurangnya sumber daya dan fasilitas kesehatan di pusat rujukan. Melihat data-data di atas, permasalahan kematian ibu menjadi sangat kompleks karena selain faktor dari penanganan langsung pada saat ibu melahirkan kematian ibu disebabkan pula oleh faktor sosial ekonomi bahkan budaya masyarakat sehingga dalam mengatasinya tidak hanya dibutuhkan peran sektor kesehatan saja namun juga keterlibatan pihak-pihak lain yang terkait. 3) Status Gizi Status gizi merupakan salah satu indikator yang menggambarkan derajat kesehatan. Penilaian ini dilakukan dengan melihat kondisi status gizi penduduk golongan rawan gizi yaitu anak-anak berumur dibawah lima tahun (balita), ibu hamil dan ibu menyusui. Hasil kegiatan pemantauan status gizi melalui Bulan Penimbangan Balita (BPB) tahun 2015 menunjukan ada sebesar 0,68 % balita termasuk dalam gizi dengan BB sangat kurang, 5,06 % balita dengan BB kurang, 92,96 % balita dengan BB normal dan 1,30 % balita dengan BB lebih. Prevalensi balita dengan Kurang Energi Protein (KEP) yang diperoleh dari penjumlahan balita dengan BB sangat kurang dan balita dengan BB kurang adalah sebesar 5,74 %. Bila dibandingkan dengan hasil Bulan Penimbangan Balita (BPB) tahun 2014, balita dengan BB sangat kurang (0,69 %) mengalami peningkatan sebesar 0.01 %, Balita dengan BB kurang (5,87 %) mengalami peningkatan sebesar 0,81 % dan BB normal (91,79 %) sehingga mengalami peningkatan sebesar 1,17 % dan BB lebih mengalami penurunan sebesar 0,35 %. Dimana pada tahun 2015 untuk balita dengan BB sangat kurang masih dalam keadaan kondisi tidak jauh berbeda dengan tahun 2014 (0,69 %) sehingga permasalahan gizi pada balita masih menjadi masalah utama yang harus tetap di ditangani. 4) Angka Kesakitan Angka kesakitan di peroleh melalui survei rumah dan untuk tahun terkini belum diperbaharui sehingga masih mengacu pada hasil surveu kesehatan rmah tangga (SKRT) Tahun 1980 dan Tahun 1986 yang menunjukan bahwa angka kesakitan nasional masingmasing adalah 11,5 % dan 8,3 % sementara menurut SDKI 2003 angka kesakitan nasional sebesar 19,03 %. Angka Kesakitan Bayi sedikit meningkat dari 15,7 % (Tahun 1980) menjadi 23,9 % (Tahun 1986) sedangkan angka kesakitan pada kelompok nak balita (1-4 Tahun) menurun dari 19,4 % menjadi 18,3 %. Berdasarkan dari hasil laporan puskesmas di Kabupaten Bogor 2015 pola penyakit terbanyak di Puskesmas pada bayi (0 - <1 Tahun) urutan satu sampai tiga masih berkisar pada Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut (ISPA) sebanyak 79.004 kasus (49,29 %), Penyakit Diare & Gastroenteritis sebanyak 16.291 kasus (10,16 %) dan Penyakit kulit & 7
Jaringan Subkutan sebanyak 12.086 kasus (7,54 %) dari seluruh penderita sebanyak 160.289 kasus. Penyakit-penyakit tersebut masih berkaitan erat dengan kondisi lingkungan yang buruk, hal ini termasuk juga dengan pola asuh ibu terhadap anaknya. Pola penyakit terbanyak yang diamati di puskesmas juga menurut kelompok umur 1-4 tahun yaitu Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut (ISPA) sebanyak 165.998 kasus (51,28 %), Penyakit Diare & Gastroenteritis sebanyak 35.595 kasus (11,00 %) dan Penyakit kulit & Jaringan Subkutan sebanyak 34.190 (10,56 %) dari seluruh penderita sebanyak 323.679 kasus. Demikian pula pada golongan umur 5-15 tahun dan 15-44 tahun rangking pertama Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut (ISPA), sedangkan umur 45-75 tahun yaitu penyakit Hipertensi sebanyak 99.260 kasus (14,18 %) sedangkan pola penyakit pada semua golongan umur rangking pertama adalah mendominasi lagi pada penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut (ISPA) sebanyak 734.711 Kasus (31,12 % ) dari 2.361.053 kasus. Frekuensi Kejadian Luar Biasa (KLB) sebanyak 14 kali terdiri dari 4 jenis KLB (Keracunan Makanan sebanyak 9 kali, suspect flu burung sebanyak 2 kali, suspect Difteri sebanyak 1 kali dan Hepatitis A sebanyak 2 kali ) yang menyerang 14 desa tersebar di 12 Kecamatan yaitu Kecamatan Parung Panjang, Dramaga, Rumpin, Cisarua, Caringin, Sukaraja, Parung, Tenjo, Sukamakmur, Cibinong, Leuwiliang dan Cibungbulang. Sedangkan lainnya yang secara bergantian muncul/sporadis (peningkatan kasus potensi) adalah KLB DBD, Diare, Chikungunya dan Hepatitis. Berdasarkan data dan kejadian luar biasa di atas pola penyakit masih didominasi oleh penyakit infeksi yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan, kasus penyakit seperti TB Paru mulai menunjukkan peningkatan kembali (re-emerging disease) sedangkan penyakit baru (new emerging disease) seperti HIV-AIDS perlu pula mendapatkan perhatian yang utama. Penyakit degeneratif dan penyakit tidak menular meskipun berada pada urutan bawah namun perlu peningkatan penanganannya seperti penyakit-penyakit pada gigi, penyakitpenyakit kulit khususnya pada masyarakat di daerah industri, dan penyakit kebutaan karena katarak.. 1.4. Dasar Hukum Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 2014 mengacu kepada : 1. Undang-undang nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas dari Korupsi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 8
2. Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah; 3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 4. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. 5. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 11 tahun 2008 tentang Pembentukan Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. 6. Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2011 tentang Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2013 2018. BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. RENCANA STRATEGIS TAHUN 2013-2018 2.1.1. Visi Visi merupakan pandangan jauh ke depan, kemana dan bagaimana suatu organisasi harus dibawa berkarya agar tetap konsisten dan dapat eksis, antisipatif, inovatif dan produktif. Visi dapat membantu organisasi untuk mendefinisikan kemana organisasi akan dibawa dan membantu mendefinisikan bagaimana pelayanan harus dilaksanakan. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 7 Tahun 2009, sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2011 tentang Perubahan Rencana 9
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018, Visi Kabupaten Bogor adalah KABUPATEN BOGOR MENJADI KABUPATEN TERMAJU DI INDONESIA Dalam rangka mendukung Visi Kabupaten Bogor tersebut dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta masukan-masukan dari stakeholders, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menetapkan Visi : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bogor yang mandiri untuk hidup sehat Visi ini dimaksudkan bahwa setiap penduduk mampu berpikir, bersikap dan bertindak secara kreatif dan inovatif dalam mengatasi masalah kesehatan atas kehendak dan dorongan diri sendiri bahkan diharapkan mampu mempengaruhi lingkungannya untuk bersikap dan berperilaku hidup sehat. Berdasarkan Visi dan Misi Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 dan Visi Dinas Kesehatan, tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan serta masukan-masukan dari pihak yang berkepentingan (stakeholders), maka ditetapkan Misi Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (2013 2018). 2.1.2. Misi Berdasarkan Visi dan Misi Kabupaten Bogor tahun 2013-2018 dan Visi Dinas Kesehatan, tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan serta masukan-masukan dari pihak yang berkepentingan (stakeholders), maka ditetapkan Misi Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (2013-2018) sebagai berikut : Misi Pertama : Meningkatkan Kemandirian dalam Jaminan Kesehatan Nasional Misi ini mengandung makna bahwa setiap penduduk dituntut kemandiriannya di dalam mendapatkan Jaminan Kesehatan Nasional demi memperoleh pelayanan kesehatan yang akuntabel. Misi Kedua : Meningkatkan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas Misi ini mengandung makna bahwa setiap penduduk dapat terjangkau oleh pelayanan kesehatan yang berkualitas dan mempunyai hak serta kesempatan yang sama untuk mengembangkan hidup sehat. Misi Ketiga : Meningkatkan daya Dukung Pelayanan Kesehatan 10
Misi ini mengandung makna bahwa dalam mendukung pencapaian misi pertama dan pencapaian visi dibutuhkan ketersediaan sumber daya kesehatan dan manajemen kesehatan yang akuntabel. 2.1.3. TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENEGAH Tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 (satu) sampai 5 (lima) tahun mendatang. Tujuan Strategis ditetapkan dengan mengacu kepada pernyataan visi dan misi serta didasarkan pada isu-isu dan analisis lingkungan strategis, Sehingga dapat mengarahkan perumusan strategi, kebijakan, program, dan kegiatan dalam rangka merealisasikan Misi dan Visi. Berdasarkan tujuan yang akan ditetapkan, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor akan dapat mengetahui hal-hal yang harus dicapai dalam kurun waktu satu sampai lima tahun ke depan dengan mempertimbangkan sumber daya dan kemampuan yang dimiliki, serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Sasaran merupakan penjabaran dari tujuan, yaitu sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan oleh lembaga dalam jangka waktu tertentu. Sasaran adalah salah satu dasar dalam penilaian dan pemantauan kinerja sehingga merupakan alat pemicu bagi organisasi terhadap sesuatu yang harus dicapai, sejalan dengan Tujuan dan sasaran RPJMD Kabupaten Bogor telah dirumuskan dalam adalah : A. Tujuan Misi ; 1) Terwujudnya pelayanan kesehatan yang mudah, murah, merata dan berkualitas bagi semua orang. 2) Meningkatnya Jaminan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat dalam Bentuk Jampesehat. 3) Meningkatnya kualitas sumberdaya kesehatan B. Sasaran : 1) Meningkatnya cakupan pelaynaan kesehatan bagi masyarakat 2) Meningkatnya cakupan pelayanan gizi bagi masyarakat 3) Meningkatnya kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat 4) Terselenggaranya pelayanan kseshatan melalui Jampesehat 5) Terpenuhinya kebutuhan tenaga medis dan paramedik 6) Meningkatnya sarana dan prasarana kesehatan baik layanan dasar maupun rujukan. Selanjutnya perumusan tujuan dan sasaran dalam RPJMD dijabarkan kembali dalam Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2013-2018 adalah sebagai berikut: Nasional MISI PERTAMA : Tujuan : Meningkatkan Cakupan Kepesertaan Masyarakat dalam Jaminan kesehatan 11
Sasaran : 1). Sarana dan prasarana yankes dasar dan rujukan 2) Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin. 3) Jumlah dan kualitas tenaga kesehatan 4) Status gizi balita dan ibu hamil 5) Persalinan oleh tenaga kesehatan 6) Cakupan Imunisasi dasar lengkap 7) Upaya penanggulangan penyakit menular 8) Lingkungan Bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan. 9) Kemandirian masyarakat dan partisipasi swasta dalam pelayanan kesehatan 10) Tata kelola Pelayanan kesehatan yang akuntabel. MISI KEDUA : Tujuan : 1) Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan dan gizi masyarakat serta PHBS 2) Meningkatkan Puskesmas Terakreditasi dan Mempersiapkan puskesmas BLUD. Sasaran : 1) Sarana dan prasarana yankes dasar dan rujukan 2) Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin. 3) Jumlah dan kualitas tenaga kesehatan 4) Status gizi balita dan ibu hamil 5) Persalinan oleh tenaga kesehatan 6) Cakupan Imunisasi dasar lengkap 7) Upaya penanggulangan penyakit menular 8) Lingkungan Bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan. 9) Kemandirian masyarakat dan partisipasi swasta dalam pelayanan kesehatan 10) Tata kelola Pelayanan kesehatan yang akuntabel. aparatur. MISI KETIGA : Tujuan : 1) Meningkatkan kapasitas sumber daya sarana dan prasarana kerja serta kualitas 2) Meningkatkan fungsi koordinasi, regulasi dan fasilitasi pelayanan kesehatan pemerintah, swasta dan lintas sektor. 3) Meningkatkan jejaring pelayanan kesehatan Sasaran : 12
1) Sarana dan prasarana yankes dasar dan rujukan 2) Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin. 3) Jumlah dan kualitas tenaga kesehatan 4) Status gizi balita dan ibu hamil 5) Persalinan oleh tenaga kesehatan 6) Cakupan Imunisasi dasar lengkap 7) Upaya penanggulangan penyakit menular 8) Lingkungan Bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan. 9) Kemandirian masyarakat dan partisipasi swasta dalam pelayanan kesehatan 10) Tata kelola Pelayanan kesehatan yang akuntabel. 2.1.3. SASARAN STRATEGIS Sasaran menggambarkan hal yang ingin dicapai melalui tindakan-tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Sasaran memberikan fokus pada penyusunan kegiatan sehingga bersifat spesifik, terinci, dapat dicapai, dan diupayakan dalam bentuk kuantitatif sehingga dapat diukur. Sasaran-sasaran Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor adalah sesuatu dasar di dalam penilaian dan pemantauan kinerja sehingga merupakan alat pemicu bagi organisasi akan sesuatu yang harus dicapai, dan untuk itulah Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah merumuskan sasaran-sasaran berikut indikator keberhasilannya yang dituangkan dalam dokumen Indikator Kinerja Utama (IKU). Merujuk pada tujuan dan sasaran tersebut diatas maka rumusan strategi pada Dinas Kesehatan adalah sebagai berikut : a) Strategi 1. Mengoptimalkan kewenangan untuk pengembangan pelayanan kesehatan b) Strategi 2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan dengan kompetensi yang dibutuhkan. c) Strategi 3. Menyusun Sistem kesehatan Daerah (SKD) Kabupaten Bogor d) Strategi 4. Meningkatkan dan memasyarakatkan perilaku hidup bersih dan sehat. e) Strategi 5. Mengoptimalkan sarana kesehatan yang ada dan standar operasional prosedur untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan f) Strategi 6. Memanfaatkan sistem informasi untuk mendeteksi penularan penyakit akibat mobilisasi penduduk yg tinggi g) Strategi 7. Meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan di masyarakat. 13
2.2. RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TAHUN 2015 Sebagai penjabaran dari Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menyusun dan menetapkan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. RKT Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor semula disusun dengan berpedoman pada Surat Keputusan Kepala LAN Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, namun dengan adanya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi Republik Indobesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, maka RKT Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dilakukan perubahan sesuai dengan pedoman yang baru yang memuat sasaran strategis berikut indikator kinerja dan targetnya. Secara lengkap RKT Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015 disajikan dalam Lampiran 1. 2.3. PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 Menindaklanjuti Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah menyusun Perjanjian Kinerja (Jankin) Tahun 2015 sesuai dengan kedudukan, tugas pokok, dan fungsinya yang ditandatangani oleh Bupati Bogor. Jankin Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015 disusun berdasarkan Surat Edaran Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor SE/31/M.PAN/12/2004 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja. Jankin ini merupakan tolok ukur evaluasi akuntabilitas kinerja pada akhir tahun 2015. Jankin Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 2015 disusun sesuai DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor 2015 dan dilakukan perubahan sesuai DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor 2015 perubahan. Jankin Dinas Kesehatan memuat program yang dilaksanakan, sasaran strategis yang akan dicapai, indikator outcome berikut target kinerjanya, indikator output berikut target kinerjanya, serta anggaran yang tersedia sesuai dengan DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015. Sesuai dengan DPA perubahan tahun 2015, dana yang digunakan untuk membiayai program dan kegiatan dalam rangka mencapai sasaran strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015, tercantum dalam belanja langsung (belanja program/kegiatan) dengan jumlah sebesar Rp. 402.726.197.000,- 14
15
PERJANJIAN KINERJA PERUBAHAN TAHUN 2015 DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOGOR NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PENCIRI TERMAJU PRIORITAS DAN FOKUS PEMBANGUNAN A. UTAMA 1 Meningkatkan Cakupan 1 Cakupan Pelayanan 67 % 1 Program Upaya Kesehatan 163,185,513,000 Kepesertaan Masyarakat dalam Kesehatan Masyarakat Masyarakat JKN 1 Biaya Penunjang Pelayanan 2,968,108,000 Puskesmas 17 6.4 Jasinga Puskesmas Jasinga 2 Biaya Penunjang Pelayanan 1,018,709,000 Puskesmas 17 6.4 Bagoang Puskesmas Bagoang 3 Biaya Penunjang Pelayanan 1,517,550,000 Puskesmas 17 6.4 Curug Puskesmas Curug 4 Biaya Penunjang Pelayanan 2,389,051,000 Puskesmas 17 6.4 Cigudeg Puskesmas Cigudeg 5 Biaya Penunjang Pelayanan 1,794,151,000 Puskesmas 17 6.4 Lebakwangi Puskesmas Lebakwangi 6 Biaya Penunjang Pelayanan 795,128,000 Puskesmas 17 6.4 Bunar Puskesmas Bunar 7 Biaya Penunjang Pelayanan 2,138,823,000 Puskesmas 17 6.4 Sukajaya Puskesmas Sukajaya 8 Biaya Penunjang Pelayanan 1,531,754,000 Puskesmas 17 6.4 Kiarapandak Puskesmas Kiarapandak 9 Biaya Penunjang Pelayanan 2,994,022,000 Puskesmas 17 6.4 Parung Panjang Puskesmas Parung Panjang 10 Biaya Penunjang Pelayanan 1,341,003,000 Puskesmas 17 6.4 Dago Puskesmas Dago 11 Biaya Penunjang Pelayanan 2,284,211,000 Puskesmas 17 6.4 Tenjo Puskesmas Tenjo 12 Biaya Penunjang Pelayanan 1,539,268,000 Puskesmas 17 6.4 Pasar Rebo Puskesmas Pasar Rebo 13 Biaya Penunjang Pelayanan 2,909,041,000 Puskesmas 17 6.4 Nanggung Puskesmas Nanggung 14 Biaya Penunjang Pelayanan 1,375,818,000 Puskesmas 17 6.4 Curugbitung Puskesmas Curugbitung 15 Biaya Penunjang Pelayanan 4,517,640,000 Puskesmas 17 6.4 Leuwiliang Puskesmas Leuwiliang 16
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 16 Biaya Penunjang Pelayanan 2,381,932,000 Puskesmas 17 6.4 Puraseda Puskesmas Puraseda 17 Biaya Penunjang Pelayanan 1,309,406,000 Puskesmas 17 6.4 Leuwisadeng Puskesmas Leuwisadeng 18 Biaya Penunjang Pelayanan 1,753,496,000 Puskesmas 17 6.4 Sadeng Pasar Puskesmas Sadeng Pasar 19 Biaya Penunjang Pelayanan 1,734,295,000 Puskesmas 17 6.4 Rumpin Puskesmas Rumpin 20 Biaya Penunjang Pelayanan 1,554,996,000 Puskesmas 17 6.4 Gobang Puskesmas Gobang 21 Biaya Penunjang Pelayanan 1,730,466,000 Puskesmas 17 6.4 Cicangkal Puskesmas Cicangkal 22 Biaya Penunjang Pelayanan 2,312,202,000 Puskesmas 17 6.4 Cibungbulang Puskesmas Cibungbulang 23 Biaya Penunjang Pelayanan 1,002,199,000 Puskesmas 17 6.4 Cijujung Puskesmas Cijujung 24 Biaya Penunjang Pelayanan 1,730,185,000 Puskesmas 17 6.4 Situ Udik Puskesmas Situ Udik 25 Biaya Penunjang Pelayanan 1,947,380,000 Puskesmas 17 6.4 Pamijahan Puskesmas Pamijahan 26 Biaya Penunjang Pelayanan 1,159,115,000 Puskesmas 17 6.4 Kesehatan Ciasmara Nasional FKTP Puskesmas Ciasmara 27 Biaya Penunjang Pelayanan 1,741,171,000 Puskesmas 17 6.4 Kesehatan Cibening Nasional FKTP Puskesmas Cibening 28 Biaya Penunjang Pelayanan 2,191,703,000 Puskesmas 17 6.4 Kesehatan Ciampea Nasional FKTP Puskesmas Ciampea 29 Biaya Penunjang Pelayanan 1,272,710,000 Puskesmas 17 6.4 Ciampea Udik Puskesmas Ciampea Udik 30 Biaya Penunjang Pelayanan 765,596,000 Puskesmas 17 6.4 Kesehatan Pasir Nasional FKTP Pusk Pasir 17
KETERANGAN NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 31 Biaya Penunjang Pelayanan 694,594,000 Puskesmas 17 6.4 Cihideung Udik Puskesmas Cihideung Udik 32 Biaya Penunjang Pelayanan 3,300,710,000 Puskesmas 17 6.4 Tenjolaya Puskesmas Tenjolaya 33 Biaya Penunjang Pelayanan 2,277,077,000 Puskesmas 17 6.4 Ciomas Puskesmas Ciomas 34 Biaya Penunjang Pelayanan 630,911,000 Puskesmas 17 6.4 Laladon Puskesmas Laladon 35 Biaya Penunjang Pelayanan 803,800,000 Puskesmas 17 6.4 Ciapus Puskesmas Ciapus 36 Biaya Penunjang Pelayanan 1,059,999,000 Puskesmas 17 6.4 Kota Batu Puskesmas Kota Batu 37 Biaya Penunjang Pelayanan 1,643,491,000 Puskesmas 17 6.4 Sirnagalih Puskesmas Sirnagalih 38 Biaya Penunjang Pelayanan 784,681,000 Puskesmas 17 6.4 Tamansari Puskesmas Tamansari 39 Biaya Penunjang Pelayanan 611,780,000 Puskesmas 17 6.4 Sukaresmi Puskesmas Sukaresmi 40 Biaya Penunjang Pelayanan 1,185,459,000 Puskesmas 17 6.4 Darmaga Puskesmas Darmaga 41 Biaya Penunjang Pelayanan 1,073,672,000 Puskesmas 17 6.4 Kampung Manggis Puskesmas Kampung Manggis 42 Biaya Penunjang Pelayanan 874,958,000 Puskesmas 17 6.4 Purwasari Puskesmas Purwasari 43 Biaya Penunjang Pelayanan 470,693,000 Puskesmas 17 6.4 Cangkurawok Puskesmas Cangkurawok 44 Biaya Penunjang Pelayanan 1,921,183,000 Puskesmas 17 6.4 Cisarua Puskesmas Cisarua 45 Biaya Penunjang Pelayanan 1,627,510,000 Puskesmas 17 6.4 Cibulan Puskesmas Cibulan 18
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 46 Biaya Penunjang Pelayanan 1,676,154,000 Puskesmas 17 6.4 Megamendung Puskesmas Megamendung 47 Biaya Penunjang Pelayanan 1,248,842,000 Puskesmas 17 6.4 Sukamanah Puskesmas Sukamanah 48 Biaya Penunjang Pelayanan 1,920,934,000 Puskesmas 17 6.4 Ciawi Puskesmas Ciawi 49 Biaya Penunjang Pelayanan 1,620,668,000 Puskesmas 17 6.4 Banjarsari Puskesmas Banjarsari 50 Biaya Penunjang Pelayanan 844,546,000 Puskesmas 17 6.4 Citapen Puskesmas Citapen 51 Biaya Penunjang Pelayanan 2,706,689,000 Puskesmas 17 6.4 Caringin Puskesmas Caringin 52 Biaya Penunjang Pelayanan 2,276,702,000 Puskesmas 17 6.4 Ciderum Puskesmas Ciderum 53 Biaya Penunjang Pelayanan 1,094,554,000 Puskesmas 17 6.4 Cinagara Puskesmas Cinagara 54 Biaya Penunjang Pelayanan 2,033,639,000 Puskesmas 17 6.4 Cigombong Puskesmas Cigombong 55 Biaya Penunjang Pelayanan 1,156,434,000 Puskesmas 17 6.4 Ciburayut Puskesmas Ciburayut 56 Biaya Penunjang Pelayanan 3,659,117,000 Puskesmas 17 6.4 Cijeruk Puskesmas Cijeruk 57 Biaya Penunjang Pelayanan 565,094,000 Puskesmas 17 6.4 Sukaharja Puskesmas Sukaharja 58 Biaya Penunjang Pelayanan 2,250,628,000 Puskesmas 17 6.4 Kemang Puskesmas Kemang 59 Biaya Penunjang Pelayanan 1,043,706,000 Puskesmas 17 6.4 Jampang Puskesmas Jampang 60 Biaya Penunjang Pelayanan 2,270,782,000 Puskesmas 17 6.4 Bantar Jaya Puskesmas Bantar Jaya 19
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 61 Biaya Penunjang Pelayanan 932,938,000 Puskesmas 17 6.4 Rancabungur Puskesmas Rancabungur 62 Biaya Penunjang Pelayanan 2,884,852,000 Puskesmas 17 6.4 Parung Puskesmas Parung 63 Biaya Penunjang Pelayanan 975,717,000 Puskesmas 17 6.4 Cogreg Puskesmas Cogreg 64 Biaya Penunjang Pelayanan 3,001,747,000 Puskesmas 17 6.4 Ciseeng Puskesmas Ciseeng 65 Biaya Penunjang Pelayanan 1,197,712,000 Puskesmas 17 6.4 Cibeuteung Udik Puskesmas Cibeuteung Udik 66 Biaya Penunjang Pelayanan 1,918,641,000 Puskesmas 17 6.4 Gunung Sindur Puskesmas Gunung Sindur 67 Biaya Penunjang Pelayanan 1,148,947,000 Puskesmas 17 6.4 Suliwer Puskesmas Suliwer 68 Biaya Penunjang Pelayanan 3,515,678,000 Puskesmas 17 6.4 Bojong Gede Puskesmas Bojong Gede 69 Biaya Penunjang Pelayanan 1,513,186,000 Puskesmas 17 6.4 Kemuning Puskesmas Kemuning 70 Biaya Penunjang Pelayanan 782,771,000 Puskesmas 17 6.4 Ragajaya Puskesmas Ragajaya 71 Biaya Penunjang Pelayanan 2,872,391,000 Puskesmas 17 6.4 Tajurhalang Puskesmas Tajurhalang 72 Biaya Penunjang Pelayanan 1,365,516,000 Puskesmas 17 6.4 Cirimekar Puskesmas Cirimekar 73 Biaya Penunjang Pelayanan 2,270,002,000 Puskesmas 17 6.4 Cibinong Puskesmas Cibinong 74 Biaya Penunjang Pelayanan 2,277,093,000 Puskesmas 17 6.4 Pabuaran Indah Puskesmas Pabuaran Indah 75 Biaya Penunjang Pelayanan 1,697,392,000 Puskesmas 17 6.4 Karadenan Puskesmas Karadenan 20
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 76 Biaya Penunjang Pelayanan 2,455,778,000 Puskesmas 17 6.4 Cimandala Puskesmas Cimandala 77 Biaya Penunjang Pelayanan 1,965,062,000 Puskesmas 17 6.4 Sukaraja Puskesmas Sukaraja 78 Biaya Penunjang Pelayanan 1,310,662,000 Puskesmas 17 6.4 Cilebut Puskesmas Cilebut 79 Biaya Penunjang Pelayanan 1,858,894,000 Puskesmas 17 6.4 Citeureup Puskesmas Citeureup 80 Biaya Penunjang Pelayanan 1,140,548,000 Puskesmas 17 6.4 Leuwinutug Puskesmas Leuwinutug 81 Biaya Penunjang Pelayanan 1,119,138,000 Puskesmas 17 6.4 Tajur Puskesmas Tajur 82 Biaya Penunjang Pelayanan 539,364,000 Puskesmas 17 6.4 Sentul Puskesmas Sentul 83 Biaya Penunjang Pelayanan 829,590,000 Puskesmas 17 6.4 Babakan Madang Puskesmas Babakan Madang 84 Biaya Penunjang Pelayanan 659,971,000 Puskesmas 17 6.4 Cijayanti Puskesmas Cijayanti 85 Biaya Penunjang Pelayanan 964,819,000 Puskesmas 17 6.4 Gunung Putri Puskesmas Gunung Putri 86 Biaya Penunjang Pelayanan 499,714,000 Puskesmas 17 6.4 Bojong Nangka Puskesmas Bojong Nangka 87 Biaya Penunjang Pelayanan 435,135,000 Puskesmas 17 6.4 Ciangsana Puskesmas Ciangsana 88 Biaya Penunjang Pelayanan 420,944,000 Puskesmas 17 6.4 Karanggan Puskesmas Karanggan 89 Biaya Penunjang Pelayanan 1,791,502,000 Puskesmas 17 6.4 Cileungsi Puskesmas Cileungsi 90 Biaya Penunjang Pelayanan 690,533,000 Puskesmas 17 6.4 Pasir Angin Puskesmas Pasir Angin 21
KETERANGAN NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 91 Biaya Penunjang Pelayanan 694,363,000 Puskesmas 17 6.4 Gandoang Puskesmas Gandoang 92 Biaya Penunjang Pelayanan 1,420,850,000 Puskesmas 17 6.4 Klapanunggal Puskesmas Klapanunggal 93 Biaya Penunjang Pelayanan 1,205,284,000 Puskesmas 17 6.4 Bojong Puskesmas Bojong 94 Biaya Penunjang Pelayanan 3,253,733,000 Puskesmas 17 6.4 Jonggol Puskesmas Jonggol 95 Biaya Penunjang Pelayanan 814,389,000 Puskesmas 17 6.4 Sukanegara Puskesmas Sukanegara 96 Biaya Penunjang Pelayanan 637,629,000 Puskesmas 17 6.4 Balekambang Puskesmas Balekambang 97 Biaya Penunjang Pelayanan 3,085,971,000 Puskesmas 17 6.4 Sukamakmur Puskesmas Sukamakmur 98 Biaya Penunjang Pelayanan 1,414,645,000 Puskesmas 17 6.4 Sukadamai Puskesmas Sukadamai 99 Biaya Penunjang Pelayanan 1,240,005,000 Puskesmas 17 6.4 Cariu Puskesmas Cariu 100 Biaya Penunjang Pelayanan 224,095,000 Puskesmas 17 6.4 Karyamekar Puskesmas Karyamekar 101 Biaya Penunjang Pelayanan 1,453,958,000 Puskesmas 17 6.4 Tanjungsari Puskesmas Tanjungsari 102 Biaya Penunjang Pelayanan 1,674,218,000 BKTK 17 6.4 BKTK 2 Cakupan Pelayanan 100 % 2 Program Pelayanan 112,467,187,000 Kesehatan rujukan Kesehatan Penduduk Miskin pasien masyarakat miskin 1 Pelayanan Operasi Katarak 387,632,000 Seksi Yandasruj 17 6.6 2 Jaminan Pelayanan Kesehatan 90,058,547,000 Seksi PSDK 17 6.6 Daerah 3 Jaminan Kesehatan Bagi 22,021,008,000 Seksi PSDK 17 6.6 Penerima Bantuan Iuran (PBI) Propinsi Jawa Barat (Banprop 2015) 22
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 2 Meningkatkan Cakupan 3 Persentase pengadaan 100 % 3 Program Obat dan Perbekalan 24,777,230,000 Pelayanan Kesehatan dan obat essensial Kesehatan Gizi Masyarakat serta PHBS 1 Pengadaan Obat Pelayanan 9,298,466,000 Seksi Farmasi dan 18 6.6 Kesehatan Dasar (DAK) POM 2 Pengadaan Bahan Habis 4,614,970,000 Seksi Farmasi dan 18 6.6 Pakai Laboratorium POM Puskesmas 3 Pengadaan Alat Kedokteran 5,021,273,000 Seksi Farmasi dan 18 6.6 Pakai Habis POM 4 Pengadaan Perlengkapan 926,739,000 Seksi Farmasi dan 18 6.6 Medis Pakai Habis POM 5 Pengadaan Bahan Pendukung 1,043,522,000 Seksi Farmasi dan 18 6.6 Obat dan Perbekalan POM Kesehatan 6 Rapat Kerja Program Obat 37,045,000 Seksi Farmasi dan 18 6.6 dan Perbekalan Kesehatan POM 7 Pembangunan/ Perluasan 1,572,682,000 Seksi Farmasi dan 18 6.4 Gudang Obat Dinas POM Kesehatan 8 Pengadaan Bahan Habis 2,262,533,000 Seksi Farmasi dan 18 6.6 Pakai Laboratorium POM Puskesmas (Kapitasi JKN 2014) 4 Program Promosi Kesehatan dan 1,812,134,000 Pemberdayaan Masyarakat 4 Cakupan Desa Siaga 80 % 1 Penyediaan Media 589,209,000 Seksi Promkes 18 6.5.6 Aktif Penyuluhan Kesehatan 5 Rasio Posyandu 11.67 % per Satuan Balita 2 Penyuluhan Kesehatan 532,363,000 Seksi Promkes 18 6.5 dan 6.6 3 Peningkatan UKBM dan 243,710,000 Seksi Promkes 18 6.5 Pembinaan Kesehatan Lintas Sektor 4 Penunjang Kegiatan Tim 226,482,000 Seksi Promkes 18 6.5 Pembina Kabupaten Sehat 5 Rapat Kerja Bidang Promosi 50,000,000 Seksi PSDK 3 6.5 dan SDK 6 Peringatan Hari Kesehatan 170,370,000 Seksi Promkes 3 6.5 Nasional (HKN) 6 Cakupan Balita Gizi 100 % 5 Program Perbaikan Gizi 5,015,688,000 Buruk mendapat Masyarakat perawatan 7 Persentase balita gizi 0.019 % 1 Pengadaan Makanan 4,872,875,000 Seksi Gizi 18 6.6 buruk Tambahan dan Vitamin 2 Rapat Kerja Program 38,513,000 Seksi Gizi 3 6.5.6 Perbaikan Gizi Masyarakat 3 Penanggulangan Balita Gizi 104,300,000 Seksi Gizi 18 Buruk dan Kurang 8 Cakupan Rumah 95 % 6 Program Pengembangan 728,451,000 dengan bebas jentik Lingkungan Sehat 9 Persentase TTU yg 78.22 % memenuhi syarat 1 Pengawasan Hygiene dan 71,395,000 Seksi Kesling 18 6.6 10 Persentase TPM yg 90.21 % Sanitasi Tempat-Tempat memenuhi syarat Umum 11 Cakupan JAGA 71.13 % 2 Sanitasi Total Berbasis 404,100,000 Seksi Kesling 18 6.6 memenuhi syarat Masyarakat ( STBM ) 12 Cakupan SAB 71.07 % 3 Pengawasan Hygiene dan 146,325,000 Seksi Kesling 18 6.6 memenuhi syarat Sanitasi Tempat Pengelolaan Makanan 23
KETERANGAN NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 4 Rapat Kerja Program 14,168,000 Seksi Kesling 18 6.5 Pengembangan Lingkungan Sehat 5 Pengawasan Kualitas 92,463,000 Seksi Kesling 18 6.6 Lingkungan Pemukiman 13 Cakupan Penemuan dan 82 % 7 Program Pencegahan dan 6,396,180,000 penanganan penderita Penanggulangan Penyakit penyakit TBC BTA Menular 14 Cakupan Penemuan dan 100 % 1 Penyemprotan/Fogging 494,949,000 Seksi 18 6.6 penanganan Penderita Sarang Nyamuk Pemberantasan penyakit DBD Penyakit 15 Cakupan Desa/Keluraha 100 % 2 Peningkatan surveillance 98,932,000 Seksi Surveilans 18 6.6 Universal Child epideminologi dan Epid dan Immunization (UCI) penanggulangan wabah Imunisasi 3 Pemeriksaan Calon Jemaah 359,572,000 Seksi Surveilans 18 6.6 Haji Epid dan Imunisasi 4 Penunjang Pelaksanaan 110,010,000 Seksi 18 6.6 Kegiatan Program P2 TB Pemberantasan Penyakit 5 Penunjang Pelaksanaan 23,430,000 Seksi 18 6.6 Kegiatan Program P2 Diare Pemberantasan ISPA Penyakit 6 Penunjang Pelaksanaan 33,800,000 Seksi 18 6.6 Kegiatan Program P2 Kusta Pemberantasan Penyakit 7 Pencegahan dan 47,930,000 Seksi 18 6.6 Penanggulangan Penyakit Pemberantasan Menular Seksual (HIV/Aids) Penyakit 8 Surveilans Acute Flaccid 98,615,000 Seksi Surveilans 18 6.6 Paralisys (AFP) Epid dan Imunisasi 9 Penunjang Program Imunisasi 82,680,000 Seksi Surveilans 18 6.6 dan BIAS (Bulan Imunisasi Epid dan Imunisasi Anak Sekolah) 10 Rapat Kerja Program 125,470,000 Seksi Surveilans 18 6.6 Pencegahan dan Epid dan Pemberantasan Penyakit serta Imunisasi Surveilans Epidemiologi 11 Pemberian Obat Masal 4,920,792,000 Seksi 18 6.6 Pencegahan (POMP) Filariasis Pemberantasan Penyakit 16 Cakupan komplikasi 80 % 8 Program Peningkatan 684,647,000 kebidanan yang Keselamatan Ibu Melahirkan dan ditangani Anak 17 Cakupan pertolongan 90 % 1 Peningkatan Kemitraan 569,140,000 Seksi KIA dan 18 6.6 persalinan oleh tenaga Puskesmas PONED Dengan KB kesehatan yang memiliki Rumah Sakit kompetensi kebidanan 18 Cakupan kunjungan 95 % 2 Rapat Kerja Program 115,507,000 Seksi KIA dan 3 6.6 bayi Peningkatan Pelayanan KB 19 Angka kelangsungan BPS % Kesehatan Ibu, Anak dan hidup bayi Remaja 20 Angka Usia Harapan 70.9 tahu 9 Program Peningkatan Pelayanan 24,050,000 Hidup Kesehatan Lansia 1 Rapat Kerja Program 24,050,000 Seksi Remaja 3 6.6 Peningkatan Pelayanan dan Lansia Kesehatan Lansia 24
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 10 Program Peningkatan Pelayanan 25,325,000 Kesehatan Remaja 1 Rapat Kerja Program 12,525,000 Seksi Remaja 3 6.6 Peningkatan Pelayanan dan Lansia Kesehatan Remaja 2 Peningkatan Kemampuan 12,800,000 Seksi Remaja 3 6.6 KKR / Peer Konselor dan Lansia 21 Cakupan pengawasan 100 % 11 Program Pengawasan dan 121,099,000 terhadap obat, makanan Pengendalian Kesehatan dan bahan berbahaya Makanan 1 Pengawasan dan 72,470,000 Seksi PUK 18 6.5 Pengendalian Kesehatan Makanan Hasil Produksi Rumah Tangga 2 Penyuluhan Keamanan 48,629,000 Seksi PUK 18 6.5 Pangan dalam rangka Sertifikasi Produk Pangan (SPPIRT) 3 Meningkatkan Puskesmas 12 Program Upaya Kesehatan 11,692,524,000 Terakreditasi dan Masyarakat Mempersiapkan Puskesmas BLUD 1 Biaya Penunjang Pelayanan 366,179,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Cibinong Puskesmas Cibinong dan 2 Biaya Penunjang Pelayanan 235,636,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Babakan Madang Puskesmas Babakan Madang dan 3 Biaya Penunjang Pelayanan 398,930,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Kesehatan Masyarakat UPT Gunung Putri Puskesmas Gunung Putri dan 4 Biaya Penunjang Pelayanan 426,424,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Sukaraja Puskesmas Sukaraja dan 5 Biaya Penunjang Pelayanan 297,372,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Citeureup Puskesmas Citeureup dan 6 Biaya Penunjang Pelayanan 318,989,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Cileungsi Puskesmas Cileungsi dan 7 Biaya Penunjang Pelayanan 565,414,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Jonggol Puskesmas Jonggol dan 8 Biaya Penunjang Pelayanan 263,514,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Cariu Puskesmas Cariu dan 9 Biaya Penunjang Pelayanan 255,548,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Sukamakmur Puskesmas Sukamakmur dan 10 Biaya Penunjang Pelayanan 206,907,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Klapanunggal Puskesmas Klapanunggal dan 25
KETERANGAN NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 11 Biaya Penunjang Pelayanan 359,268,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Ciomas Puskesmas Ciomas dan 12 Biaya Penunjang Pelayanan 302,512,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Dramaga Puskesmas Dramaga dan 13 Biaya Penunjang Pelayanan 378,128,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Ciampea Puskesmas Ciampea dan 14 Biaya Penunjang Pelayanan 226,161,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Pamijahan Puskesmas Pamijahan dan 15 Biaya Penunjang Pelayanan 358,422,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Cibungbulang Puskesmas Cibungbulang dan 16 Biaya Penunjang Pelayanan 362,931,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Rumpin Puskesmas Rumpin dan 17 Biaya Penunjang Pelayanan 159,379,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Leuwiliang Puskesmas Leuwiliang dan 18 Biaya Penunjang Pelayanan 364,396,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Cigudeg Puskesmas Cigudeg dan 19 Biaya Penunjang Pelayanan 366,619,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Parung Puskesmas Parung Panjang dan 20 Biaya Penunjang Pelayanan 281,904,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Tenjo Puskesmas Tenjo dan 21 Biaya Penunjang Pelayanan 376,270,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Jasinga Puskesmas Jasinga dan 22 Biaya Penunjang Pelayanan 221,827,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Sukajaya Puskesmas Sukajaya dan 23 Biaya Penunjang Pelayanan 238,259,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Nanggung Puskesmas Nanggung dan 24 Biaya Penunjang Pelayanan 149,824,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Kemang Puskesmas Kemang dan 25 Biaya Penunjang Pelayanan 297,500,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Bojonggede Puskesmas Bojonggede dan 26
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 26 Biaya Penunjang Pelayanan 294,083,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Parung Puskesmas Parung dan 27 Biaya Penunjang Pelayanan 197,270,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Rancabungur Puskesmas Rancabungur dan 28 Biaya Penunjang Pelayanan 248,782,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Gunung Sindur Puskesmas Gunung Sindur dan 29 Biaya Penunjang Pelayanan 199,247,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Ciseeng Puskesmas Ciseeng dan 30 Biaya Penunjang Pelayanan 235,319,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Ciawi Puskesmas Ciawi dan 31 Biaya Penunjang Pelayanan 216,966,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Cijeruk Puskesmas Cijeruk dan 32 Biaya Penunjang Pelayanan 235,151,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Megamendung Puskesmas Megamendung dan 33 Biaya Penunjang Pelayanan 138,594,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Cisarua Puskesmas Cisarua dan 34 Biaya Penunjang Pelayanan 194,412,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Caringin Puskesmas Caringin dan 35 Biaya Penunjang Pelayanan 222,562,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Tamansari Puskesmas Tamansari dan 36 Biaya Penunjang Pelayanan 338,481,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Cigombong Puskesmas Cigombong dan 37 Biaya Penunjang Pelayanan 93,551,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Tenjolaya Puskesmas Tenjolaya dan 38 Biaya Penunjang Pelayanan 209,955,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Tajurhalang Puskesmas Tajurhalang dan 39 Biaya Penunjang Pelayanan 201,564,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Tanjungsari Puskesmas Tanjungsari dan 40 Biaya Penunjang Pelayanan 140,480,000 UPT Puskesmas 16 6.6 Leuwisadeng Puskesmas Leuwisadeng dan 27
KETERANGAN NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 41 Biaya Penunjang Pelayanan 135,999,000 UPT 18 6.6 Kesehatan Kerja UPT Pusyankesja Kesehatan Kerja 42 Biaya Penunjang Pelayanan 326,656,000 UPT Laboratorium 18 6.6 Laboratorium Kesehatan Kesehatan Daerah Daerah 43 Rapat Kerja Program Upaya 92,369,000 Sub Bagian Program 1&3 6.6 Kesehatan Masyarakat dan Pelaporan 44 Pelayanan Kesehatan dalam 192,770,000 Seksi Yandasruj 6.6 rangka P3K 22 Rasio puskesmas, 1 : 9,394 rasio13 Program Pengadaan, 38,284,600,000 poliklinik, pustu per Peningkatan dan Perbaikan satuan penduduk Sarana dan Prasarana 23 Cakupan Puskesmas 252.5 % Puskesmas/Puskesmas 24 Cakupan Pembantu 31.11 % Pembantu dan Puskesmas 1 Pengadaaan Puskesmas 3,605,915,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Keliling 2 Pengadaan Perlengkapan 566,056,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Kantor Puskesmas 3 Pengadaan Mebeulair 651,545,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Puskesmas 4 Pengadaan Alat-alat 4,351,102,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Kedokteran Puskesmas 5 Pengadaan Peralatan Program 94,700,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 KIA di Puskesmas 6 Pengadaan Alat-alat 2,661,416,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Laboratorium Puskesmas 7 Pembangunan Puskesmas 3,643,064,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Leuwisadeng menjadi DTP 8 Pengadaan Lemari Es Vaksin 241,130,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Puskesmas 9 Rehabilitasi Puskesmas 694,362,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Gunung Putri 10 Pengadaan UKS Kit di 141,275,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Puskesmas 11 Pengadaan Lansia Kit di 148,547,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Puskesmas 12 Pembangunan Puskesmas 4,564,760,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 DTP dan PONED Cibungbulang (Relokasi) 13 Pembangunan Puskesmas 75,611,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 DTP dan PONED Ciawi 14 Pembangunan Puskesmas 2,328,145,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 DTP dan PONED Caringin 15 Revitalisasi Puskesmas DTP 1,810,910,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 dan PONED Parung 16 Pembangunan Puskesmas 2,552,007,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 DTP Jampang (Relokasi) 17 Revitalisasi Puskesmas 1,740,505,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Ciomas 18 Revitalisasi Puskesmas 1,231,632,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Babakan Madang 19 Rehabilitasi Puskesmas DTP 626,474,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Citeureup 28
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 20 Rehabilitasi Puskesmas Tajur 934,429,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 21 Rehabilitasi Puskesmas Curug 787,009,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 22 Rehabilitasi Puskesmas 683,100,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Bojong Nangka 23 Pemagaran Puskesmas 167,700,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Ciapus 24 Penataan Area Parkir 54,975,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Puskesmas Ciapus 25 Pemagaran Puskesmas 290,007,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Tamansari 26 Pembangunan Turap 861,129,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Puskesmas Sukaraja 27 Rehabilitasi Pustu Malasari 393,089,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 28 Rehabilitasi Pustu Cilember 375,223,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 29 Rehabilitasi Pustu Cimande 502,448,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 30 Rehabilitasi Pustu Tarikolot 419,319,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 31 Rehabilitasi Pustu Kuripan 394,921,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 32 Pengadaan PPTM Kit di 138,195,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Puskesmas 33 Pengurusan Surat Ijin 97,900,000 Seksi Yandasruj 16 6.6 Operasional Puskesmas 34 Pengadaan Ambulance 456,000,000 Seksi Yandasruj 16 6.4 Kesiapsiagaan Dan Rujukan Bidang Kesehatan Kabupaten Bogor (Banprop 2015) 25 Rasio dokter per 1 : 3,835 rasio14 Program Pengadaan Standarisasi 16,087,072,000 satuan penduduk Pelayanan Kesehatan 26 Rasio tenaga medis 1 : 2,606 rasio 1 Monitoring, Evaluasi dan 239,191,000 Sub Bag. Program 6.6 per satuan penduduk Pelaporan dan Pelaporan 2 Penyusunan dan 264,609,000 Seksi Data dan 1 6.5 Pengembangan Data Infokes Kesehatan 3 Pembinaan Sarana / Institusi 71,745,000 Seksi PUK 18 6.6 Swasta 4 Jasa Pelayanan Kesehatan 13,803,340,000 Sub Bag Umum - 6.6 dan Kepegawaian 5 Akreditasi Puskesmas 1,397,575,000 Seksi PSDK 16 6.5 dan 6.6 6 Persiapan Penerapan Pola 310,612,000 Sub Bagian Program 3 6.5 dan 6.6 Pengelolaan Keuangan Badan dan Pelaporan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) 1. Meningkatkan Kapasitas 1 Terpenuhinya kebutuhan 15 kegi 1 Program Pelayanan Administrasi 15,415,747,000 Sumber Daya Sarana dan pelayanan administrasi Perkantoran Prasarana Kerja serta Kualitas perkantoran Aparatur 1 Penyediaan jasa komunikasi, 624,000,000 Sub Bag. Umum sumber daya air dan listrik dan Kepegawaian 2 Penyediaan Jasa 12,890,000 Sub Bag. Umum Pemeliharaan dan Perizinan dan Kepegawaian Kendaraan Dinas/Operasional 3 Penyediaan Jasa Kebersihan 326,952,000 Sub Bag. Umum Kantor dan Kepegawaian 4 Penyediaan Alat Tulis Kantor 187,156,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 29
KETERANGAN NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 5 Penyediaan barang cetakan 1,121,530,000 Sub Bag. Umum dan penggandaan dan Kepegawaian 6 Penyediaan komponen 17,725,000 Sub Bag. Umum instalasi listrik/penerangan dan Kepegawaian bangunan kantor 7 Penyediaan bahan bacaan 19,200,000 Sub Bag. Umum dan peraturan dan Kepegawaian perundang-undangan 8 Penyediaan bahan logistik 75,000,000 Sub Bag. Umum kantor dan Kepegawaian 9 Penyediaan makanan dan 109,080,000 Sub Bag. Umum minuman dan Kepegawaian 10 Rapat-rapat koordinasi dan 464,724,000 Sub Bag. Program konsultasi ke Dalam dan Luar dan Pelaporan Daerah 11 Penyediaan jasa tenaga 12,153,061,000 Sub Bag Umum pendukung administrasi/teknis dan Kepegawaian perkantoran 12 Pelayanan Dokumentasi dan 20,950,000 Sub Bag. Umum Arsip SKPD dan Kepegawaian 13 Penyediaan Pelayanan 42,134,000 Sub Bag. Umum Administrasi Kepegawaian dan Kepegawaian 14 Penyediaan Pelayanan 12,710,000 Sub Bag. Umum Administrasi Barang dan Kepegawaian 15 Penyediaan Pelayanan 228,635,000 Sub Bag. Umum Keamanan Kantor dan Kepegawaian 2 Terpenuhinya Kebutuhan 9 keg 2 Program Peningkatan Sarana 1,991,546,000 Sarana dan Prasarana dan Prasarana Aparatur Aparatur 1 Pengadaan Mebeleur 290,509,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 2 Pengadaan Peralatan Kantor 335,056,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 3 Pemeliharaan Rutin/Berkala 124,816,000 Sub Bag. Umum Gedung Kantor dan Kepegawaian 4 Pemeliharaan Rutin/Berkala 146,275,000 Sub Bag. Umum Kendaraan Dinas/Operasional dan Kepegawaian 5 Pemeliharaan Rutin/Berkala 228,021,000 Sub Bag. Umum Perlengkapan Gedung Kantor dan Kepegawaian 6 Revitalisasi Rumah Dinas 393,797,000 Seksi Yandasruj Puskesmas Cirimekar 7 Rehabilitasi Rumah Dinas 281,397,000 Seksi Yandasruj Puskesmas Karadenan 8 Pemasangan Partisi dan 191,675,000 Seksi Yandasruj Penataan Interior Kantor 3 Terwujudnya Sumber 14 keg 3 Program Peningkatan Kapasitas 2,254,491,000 Daya Aparatur yang Sumber Daya Aparatur Berkualitas 1 Pembinaan Mental dan Rohani 58,510,000 Sub Bag. Umum bagi Aparatur dan Kepegawaian 2 Penilaian Angka Kredit 120,040,000 Sub Bag. Umum Tenaga Fungsional Kesehatan dan Kepegawaian 3 Pengiriman Peserta Bimtek 195,000,000 Seksi KIA dan Asuhan Persalinan Normal KB (APN) 30
NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB KETERANGAN PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 4 Pengiriman Peserta Bimtek 118,500,000 Seksi KIA dan Penatalaksanaan Asfixia Bayi KB Baru Lahir 5 Pengiriman Peserta Bimtek 186,000,000 Seksi KIA dan Pertolongan Pertama Gawat KB Darurat Obstetri & Neonatal (PPGDON) 6 Pengiriman Peserta Bimtek 256,500,000 Seksi KIA dan Pelayanan Obstetric dan KB Neonatus Emergency Dasar (PONED) 7 Pengiriman Peserta Bimtek 258,050,000 Seksi Yandasruj Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD) 8 Pengiriman Peserta 138,000,000 Seksi KIA dan Bimbingan Teknis Simulasi KB Deteksi Dini Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK) 9 Pengiriman Peserta 120,000,000 Seksi Gizi Bimbingan Teknis Konselor Menyusui 10 Pengiriman Peserta Bimtek 115,000,000 Seksi KIA dan Manajemen Terpadu Balita KB Sakit / Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBS/MTBM) 11 Beasiswa Tugas Belajar 48,628,000 Seksi PSDK Jenjang Pendidikan S1 Keperawatan dan NERS (Ban Prop tahun 2014) 12 Pengiriman Peserta Bimtek 195,000,000 Seksi Remaja dan Geriatri Lansia 13 Pengiriman Peserta Bimtek 113,600,000 Seksi Gizi Tatalaksana Gizi Buruk 14 Bimbingan Teknis 118,800,000 Seksi Surveilans Pengendalian Penyakit Tidak Epid dan Menular bagi Petugas Imunisasi Puskesmas 15 Pengiriman Peserta Bimtek 118,800,000 Seksi Surveilans Manajemen Program Epid dan Imunisasi Imunisasi 16 Pengiriman Peserta Bimtek 72,450,000 Seksi Microcopis Malaria Pemberantasan Penyakit 17 Bantuan Tugas Belajar Jenjang 21,613,000 Seksi PSDK Pendidikan S1 Keperawatan dan NERS (Banprop 2015) 2 Meningkatkan Fungsi 4 Terwujudnya pertanggun 8 keg 4 Program Peningkatan 860,681,000 Koordinasi, Regulasi dan jawaban kinerja dan Pengembangan Sistem Fasilitasi Pelayanan Kesehatan keuangan SKPD Pelaporan Capaian Kinerja Pemerintah, Swasta dan dan Keuangan Lintas Sektor 1 Penyusunan laporan capaian 40,000,000 Sub Bag. Program kinerja dan ikhtisar realisasi dan Pelaporan kinerja SKPD 2 Penyusunan pelaporan 40,000,000 Sub Bag. Keuangan keuangan semesteran 3 Penyusunan pelaporan 106,000,000 Sub Bag. Keuangan keuangan akhir tahun 31
KETERANGAN NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN UNIT PENANGGUNG JAWAB PRIORITAS DAN PENCIRI FOKUS TERMAJU PEMBANGUNAN 4 Penyusunan perencanaan 175,000,000 Sub Bag. Program anggaran dan Pelaporan 5 Penatausahaan Keuangan 384,681,000 Sub Bag. Keuangan SKPD 6 Publikasi Kinerja SKPD 100,000,000 Seksi Promkes 7 Penyusunan Renja SKPD 15,000,000 Sub Bag. Program dan Pelaporan 5 Program Promosi Kesehatan dan 225,000,000 Pemberdayaan Masyarakat 1 Penyusunan Naskah Akademik 225,000,000 Seksi Promkes Kawasan Tanpa Rokok (KTR) 6 Program Pengadaan Standarisasi 76,052,000 Pelayanan Kesehatan 1 Rapat Koordinasi, Evaluasi 76,052,000 Sub Bagian Program dan Perencanaan Program dan Pelaporan 7 Program Peningkatan 189,850,000 Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak 1 Penyusunan Naskah tentang 189,850,000 Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir dan Anak Balita (KIBBLA) 3 Meningkatkan Jejaring 8 Program Peningkatan 411,130,000 Pelayanan Kesehatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak 1 Belanja Operasional Call 411,130,000 Seksi KIA dan Center / SMS Gateway KB Program EMAS JUMLAH ANGGARAN : 402,726,197,000 PROGRAM : 17 1 UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT : Rp. 174,878,037,000 2 PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT : Rp. 2,037,134,000 3 PELAYANAN KESEHATAN PENDUDUK MISKIN : Rp. 112,467,187,000 4 OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN : Rp. 24,777,230,000 5 PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT : Rp 5,015,688,000 6 PENGEMBANGAN LINGKUNGAN SEHAT : Rp 728,451,000 7 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR : Rp 6,396,180,000 8 PENINGKATAN KESELAMATAN IBU MELAHIRKAN DAN ANAK : Rp 1,285,627,000 9 PENINGKATAN PELAYANAN KESEHATAN LANSIA : Rp 24,050,000 10 PENINGKATAN PELAYANAN KESEHATAN REMAJA : Rp 25,325,000 11 PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN KESEHATAN MAKANAN : Rp 121,099,000 12 PENGADAAN, PENINGKATAN DAN PERBAIKAN SARANA DAN PRASARANA : Rp 38,284,600,000 PUSKESMAS/PUSKESMAS PEMBANTU DAN JARINGANNYA 13 PENGADAAN STANDARISASI PELAYANAN KESEHATAN : Rp 16,163,124,000 14 PELAYANAN ADMINISTRASI PERKANTORAN : Rp 15,415,747,000 15 PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA APARATUR : Rp 1,991,546,000 16 PENINGKATAN KAPASITAS SUMBER DAYA APARATUR : Rp 2,254,491,000 17 PENINGKATAN PENGEMBANGAN SISTEM PELAPORAN CAPAIAN KINERJA DAN : Rp 860,681,000 KEUANGAN 32
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 3.1. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI Pengukuran kinerja mencakup Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis dan Pengukuran Kinerja Kegiatan. Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015 dilakukan dengan menggunakan formulir Pengukuran Kinerja Sasaran sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Pengukuran Kinerja Kegiatan dilakukan dengan menggunakan formulir Pengukuran Kinerja Kegiatan sesuai dengan Surat Keputusan Kepala LAN Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Setelah pengukuran kinerja kemudian dilakukan evaluasi kinerja, selanjutnya dilakukan analisis efisiensi dan efektivitas. Analisis efisiensi dilakukan dengan membandingkan antara output dengan input baik untuk rencana maupun realisasi. Analisis ini menggambarkan tingkat efisiensi yang dilakukan dengan memberikan data nilai output per unit yang dihasilkan oleh suatu input tertentu. Efisiensi terjadi karena : dengan realisasi masukan yang lebih kecil dari target, realisasi keluaran tetap diperoleh sesuai dengan targetnya, ataupun realisasi masukan yang sesuai dengan targetnya, diperoleh realisasi keluaran yang lebih besar dari targetnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa realisasi melampaui target. Analisis efektivitas yang menggambarkan tingkat kesesuaian antara sasaran dan tujuan dengan hasil (outcome). Selain itu, analisis juga dilakukan terhadap setiap perbedaan kinerja (performance gap) yang terjadi, baik terhadap penyebab terjadinya gap maupun strategi pemecahan masalah yang telah dan akan dilaksanakan. Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015 disajikan dalam Lampiran 2, dan Pengukuran Kinerja Kegiatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015 disajikan dalam Lampiran 3. 3.2. EVALUASI DAN ANALISIS KINERJA Kebijaksanaan Sektor Kesehatan, sebagaimana telah ditetapkan dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) merupakan kelompok prioritas pembangunan ke dua yaitu peningkatan Kualitas dan Pemerataan Pendidikan dan Kesehatan dengan fokus kebijakannya adalah sebagai berikut : 1. Peningkatan akses masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan 2. Peningkatan status gizi masyarakat 33
3. Peningkatan kualitas ibu, anak, remaja dan lansia 4. Peningkatan kemandirian masyarakat dalam pembangunan kesehatan 5. Pemenuhan dan peningkatan kualitas sumber daya kesehatan Berdasarkan hasil pengukuran kinerja sasaran strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, maka evaluasi dan analisis masing-masing sasaran dapat disimpulkan sebagai berikut ; Misi-1 1. Meningkatkan Kemandirian dalam Jaminan Kesehatan Nasional ; Misi-2 1. Meningkatkan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas, yaitu : No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Capaian UTAMA : Prosentase pengadaan obat % 100 100 100,0 1. Meningkatkan essensial cakupan Kepesertaan Cakupan pelayanan % 100 100 100,0 Masyarakat kesehatan rujukan pasien dalam JKN. masyarakat miskin Cakupan pelayanan % 90,00 87,90 97,67 persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan komplikasi % 80,00 78,10 97,63 kebidanan yang ditangani Cakupan kunjungan bayi % 95,00 96,10 101,16 Cakupan puskesmas % 252,50 252,50 100,0 Cakupan pembantu % 31,11 30,18 97,01 puskesmas Cakupan pelayanan % 67,00 58,11 86,73 kesehatan masyarakat 34
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Cakupan pengawasan Satuan Target Realisasi % 100,0 100,0 % Capaian 100,0 terhadap obat dan makanan berbahaya 2. Meningkatkan Cakupan desa siaga aktif % 80,00 63,36 79,20 Cakupan pelayanan Presentase Balita gizi buruk % 0,019 0,019 100,0 Kesehatan dan Gizi Cakupan Balita gizi buruk % 100,0 100,0 100,0 Masyarakat mendapat perawatan serta PHBS Rasio Posyandu per Satuan % 11,67 8,91 76,35 Balita Cakupan Rumah dengan % 95,00 96,07 101,13 bebas jentik Persentase TTU yang % 78,22 78,26 100,05 memenuhi syarat Persentase TPM yang % 90,21 90,40 100,21 memenuhi syarat Cakupan JAGA yang % 71,13 71,26 100,18 memenuhi syarat Cakupan SAB yang % 71,07 72,61 102,17 memenuhi syarat Cakupan Penemuan dan % 82,00 83,61 101,96 penanganan penderita penyakit TBC BTA Cakupan penemuan dan % 100,0 100,0 100,0 penanganan pendrita penyakit DBD 35
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Cakupan Desa/kelurahan Satuan Target Realisasi % 100,0 92,40 % Capaian 92,40 Universal Child Immunisation (UCI) 3. Meningkatkan Rasio puskesmas, poliklinik, Rasio 1 : 1 : 52,60 Puskesmas pustu per satuan penduduk 9.394 13.847 Terakreditasi dan Rasio rumah sakit per satuan Rasio 1 : 1 : 104,13 mempersiap penduduk 205.948 197.450 kan Rasio dokter per satuan puskesmas penduduk Rasio 1 : 3.835 1 : 4.760 75,88 BLUD Rasio tenaga medis per satuan penduduk Rasio 1 : 2.606 1 : 4.063 44,09 Rata rata 92,42 Untuk mendukung pencapaian Misi ke-satu dan ke-tiga telah ditetapkan 3 (tiga) sasaran, 12 program dan 244 kegiatan, dengan realisasi pencapaian sasaran sebesar 92,42 % Rincian pencapaian dari 2 (dua) sasaran sebagai berikut : 1. Sasaran pertama, yaitu Meningkatkan Cakupan Kepesertaan Masyarakat dalam JKN dengan indikator kinerjanya adalah : a. Terpenuhinya kebutuhan obat masyarakat dengan indikator kinerja prosentase pengadaan obat esensial dari target 100 % realisasi pencapaiannya 100 %, sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100 %, hal ini menunjukkan bahwa pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Dibandingkan dengan capaian pada tahun 2014 yang juga mencapai 100 % menunjukkan bahwa adanya konsistensi dalam pemenuhan kebutuhan obat esensial dalam rangka pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan standar yang ditentukan. Indikator prosentase pengadaan obat essensial ditunjang oleh Program obat dan perbekalan kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten dan DAK + pendamping APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 24.766.748.000,- dengan realisasi Rp. 21.254.916.886,- (85,82 %) pada program ini ada efisiensi anggaran dan kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 2.262.533.000,- dari kegiatan pengadaan 36
bahan habis pakai laboratorium puskesmas (Kapitasi JKN 2014) tidak diserap oleh karena gagal lelang sehingga tidak cukup waktu untuk dilaksanakan, program ini terdiri dari 8 kegiatan yaitu : pengadaan obat pelayanan kesehatan dasar (DAK), pengadaan bahan habis pakai laboratorium puskesmas, pengadaan alat kedokteran pakai habis, pengadaan perlengkapan medis pakai habis, pengadaan bahan pendukung obat dan perbekalan kesehatan, rapat kerja program obat dan perbekalan kesehatan, pembangunan perluasan gudang obat dinas kesehatan dan pengadaan bahan habis pakai laboratorium puskesmas (Kapitasi JKN 2014). b. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin dari target 100 % realisasi pencapaiannya 100 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 2014 yang juga mencapai 100 % hal ini dikarenakan sudah adanya anggaran khusus untuk program pelayanan kesehatan penduduk miskin sehingga rujukan bagi pasien masyarakat miskin terlayani. Indikator cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin ditunjang oleh Program pelayanan kesehatan penduduk miskin. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 112.467.187.000,- dengan realisasi Rp. 67.600.236.989,- ( 60,11 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 44.866.950.011,- diantaranya dari kegiatan Pelayanan operasi katarak Rp. 113.415.000,- Kegiatan Jaminan kesehatan pelayanan daerah Rp. 40.747.736.211,- dan Kegiatan Jaminan Kesehatan bagi penerima bantuan iuran (Banprop 2015) Rp. 4.105.798.800,- program ini terdiri dari 3 kegiatan yaitu : pelayanan operasi katarak, jaminan pelayanan kesehatan daerah (Jamkesda) dan jaminan kesehatan bagi penerima bantuan iuran (Banprop 2015). c. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan dari target 90,00 % realisasi pencapaiannya sebesar 87,90 % sehingga capaian kinerjanya sebesar 97,67 % meskipun belum mencapai 100 % namun berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian pada tahun 2014 sebesar 97,33 % maka terdapat peningkatan sebesar 0,34 %. Belum tercapainya target cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan disebabkan oleh karena masih tingginya persalinan oleh paraji yang dirasakan lebih dekat secara kekeluargaan, dan masih banyak anggapan masyarakat apabila kehamilan tidak berisiko maka pemeriksaan kehamilan dan persalinan tidak perlu tenaga kesehatan. Tingginya minat masyarakat terhadap paraji ini juga ditunjukkan dengan melihat cakupan pemeriksaan ibu pada saat kehamilan dimana cakupannya cukup tinggi yaitu sebesar 99,5 % namun pada saat persalinan, 37
ibu hamil dan keluarganya lebih memilih ditolong oleh paraji, sehingga cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menurun ke angka 87,90 %. Salah satu upaya yang akan terus dikembangkan adalah kemitraan bidan dengan paraji, dimana paraji tetap membantu dalam tahapan pasca persalinan dan lebih difungsikan pada perawatan ibu dan bayi setelah persalinan, meningkatkan koordinasi dan kemitraan dengan organisasi profesi, pembentukan kelas ibu dan optimalisasi pelaksanaan kelas ibu hamil di desa dan pemberdayaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan keluarganya melalui program perencanaan persalinan daan pencegahan komplikasi (P4K). d. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dari target 80,00 % realisasi pencapaiannya sebesar 78,10 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 97,63 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Pencapaian cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani kurang dari 100 % hal ini karena belum seluruhnya ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan keluarganya mengetahui tentang tanda bahaya atau komplikasi dan segera mendapatkan tindakan/tatalaksana kegawatdaruratan oleh petugas kesehatan, salah satu upaya yang akan dilakukan yaitu pemberdayaan ibu hamil, ibu nifas dan ibu bersalin dan keluarganya melalui program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K). Bila dibandingkan dengan capaian tahun 2014 yang mencapai 97,38 % maka terjadi peningkatan yaitu sebesar 0,25 %. e. Cakupan kunjungan bayi dengan target 95,00 % realisasi pencapaiannya 96,10 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 101,16 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Keberhasilan capaian kinerja cakupan kunjungan bayi sebesar 101,16 % oleh karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan bayi sudah mengalami peningkatan. Disamping itu petugas kesehatan yang aktif melakukan kunjungan rumah atau melalui kegiatan posyandu. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 2014 yang sebesar 101,07 % maka terjadi peningkatan sebesar 0,09 %, menunjukan adanya kesadaran para ibu yang mempunyai bayi untuk membawa anaknya ke pelayanan kesehatan. Indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dan cakupan kunjungan bayi ditunjang oleh Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 2.005.700.000,- dengan realisasi Rp. 1.886.145.991,- (94,03 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 119.554.009,- Program ini terdiri dari 13 kegiatan 38
yaitu : pengiriman peserta bimtek asuhan persalinan normal (APN), pengiriman peserta bimtek penatalaksanaan asfixia bayi baru lahir, pengiriman bimtek peserta bimbingan teknis PPGDON, pengiriman peserta bimtek PONED, pengiriman peserta bimtek PPGD, pengiriman peserta bimtek Simulasi Deteksi Dini Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK), pengiriman peserta bimtek konselor menyusui, pengiriman bimtek Manajemen Terpadu Balita Sakit/Manajemen Terpadu Bayi Muda MTBS/M, pengiriman bimtek Geriatri, pengiriman bimtek Tatalaksana Gizi Buruk, pengiriman bimtek Pengendalian Penyakit Tidak Menular Bagi Petugas Puskesmas, pengiriman Bimtek Manajemen Program Imunisasi dan pengiriman bimtek Microcopis Malaria. Program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 1.285.627.000,- dengan realisasi Rp. 1.124.799.270,- (87,49 %) pada program ini ada efisiensi sebesar Rp. 160.827.730,- Program ini terdiri dari 4 kegiatan yaitu : peningkatan kemitraan puskesmas PONED dengan Rumah Sakit, belanja operasional call center/sms Gatway program EMAS, rapat kerja program peningkatan pelayanan kesehatan ibu, anak dan remaja dan penyusunan naskah tentang kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak balita (KIBBLA), Program Peningkatan Kesehatan Lansia. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten Bogor sebesar Rp. 24.050.000,- dengan realisasi sebesar Rp. 24.050.000,- (100 %), program ini terdiri dari 1 kegiatan : Rapat kerja program peningkatan pelayanan kesewhatan, Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Remaja. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten Bogor sebesar Rp. 25.325.000,- dengan realisasi sebesar Rp. 25.325.000,- (100 %). Program ini terdiri dari 2 kegiatan : rapat kerja program peningkatan pelayanan kesehatan remaja dan peningkatan kemampuan KKR/Peer Konselor. f. Cakupan puskesmas dengan target 252,50 % realisasi pencapaiannya 252,50 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Keberhasilan capaian kinerja cakupan puskesmas sebesar 100 % bila dibandingkan dengan capaian pada tahun 2014 yang juga mencapai 100 % menandakan tidak adanya penambahan jumlah baik jumlah puksesmas maupun kecamatan. g. Cakupan pembantu puskesmas dengan target 31,11 % realisasi pencapaiannya 30,18 % sehingga realisasi pencapaian kinerjanya sebesar 97,01 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Capaian kinerja cakupan puskesmas pembantu dibawah 100 % yaitu sebesar 97,01 %, bila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014 yang sebesar 98,47 % maka terjadi penurunan sebesar 1,46 %. Hal ini disebabkan tahun 2015 pemerintah Kabupaten 39
Bogor tidak menambah jumlah pustu yang sudah ada sehingga tidak dapat mencapai target yang sudah ditetapkan upaya yang akan dilakukan yaitu meningkatkan pelayanan kesehatan dengan mengoptimalkan kegiatan puskesmas keliling (pusling) ke daerah-daerah yang sulit dijangkau/sulit pemenuhan pelayanan kesehatan. h. Cakupan pelayanan kesehatan masyarakat dari target 67,00 % dengan realisasi 58,11 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 86,73 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Cakupan pelayanan kesehatan masyarakat dengan capaian kinerja sebesar 86,60 % hal ini disebabkan karena masyarakat tidak hanya mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan pemerintah (puskesmas) akan tetapi ke sarana dasar lainnya seperti balai pengobatan dan kilink swasta. Sehingga bila dibandingkan dengan capaian tahun 2014 yang sebesar 89,17 % maka terjadi penurunan yaitu sebesar 2,44 %. Salah satu upaya yang akan dilakukan meningkatkan promosi kesehatan di puskesmas dan masyarakat. Diharapkan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan mengerti dan paham sehingga datang ke pelayanan kesehatan (puskesmas). Indikator cakupan pelayanan kesehatan kesehatan ditunjang oleh Program upaya kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 174.878.037.000,- dengan realisasi sebesar Rp. 107.111.570.108.000,- (61,25 %) pada prgram ini ada efisiensi atau kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 67.766.466.892,- diantaranya dari kegiatan biaya penunjang pelayanan kesehatan jaminan kesehatan nasional FKTP di 101 puskesmas dimana sebagian besar pengadaan obat tidak dapat direalisasikan karena tidak mempunyai tenaga Apoteker sedangkan untuk merekrut tenaga tersebut belum ada payung hukum yang mendukung. Program ini terdiri dari 146 kegiatan yaitu : Operasional di UPT Puskesmas dan jaringannya sebanyak 40 UPT Puskesmas, Operasional UPT Kesja dan jaringannya (BKKM), Operasional UPT Labkesda, Rapat kerja program upaya kesehatan masyarakat, pelayanan kesehatan dalam rangka P3K dan biaya penunjang pelayanan kesehatan jaminan kesehatan nasional FKTP di 101 puskesmas. Cakupan pengawasan terhadap obat dan makanan berbahaya dari target 100 % dengan realisasi 100,0 % maka pencapaian kinerjanya sebesar 100,0 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan tahun 2014 maka ada penurunan yaitu sebesar 2,00 % oleh karena adanya pengadministrasian Apotik, IRTP dan Toko Obat sudah mulai tertib maka pembinaan yang dilaksanakan sesuai dengan target yang telah ditentukan sehingga capaian kinerja tidak melebihi dari target. 40
Indikator cakupan pengawasan obat dan makanan berbahaya ditunjang oleh Program pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 121.099.000,- dengan realisasi Rp. 120.689.000,- (99,66 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 410.000,- kegiatan ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu : kegiatan pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan hasil produksi rumah tangga dan penyuluhan keamanan pangan dalam rangka produk pangan (SPPIRT). 2. Sasaran kedua, yaitu : Meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta PHBS dengan indikator kinerjanya adalah : a. Prosentase balita gizi buruk dari target 0,019 % terealisasi 0,019 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100,0 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan tahun 2014, dimana prosentase pencapaian balita gizi buruk baru mencapai 0,0202 % dengan capaian kinerja 99,00 % maka telah terjadi penurunan kasus sebesar 0,0012 %. Bila dilihat dari target maka dikarenakan adanya kenaikan target dari 0.020 % menjadi 0,019 %. Akan tetapi hal ini dimungkinkan bila melihat cakupan keluarga yang telah sadar gizi (Kadarzi) dimana hal tersebut menunjukan adanya peningkatan kesadaran keluarga dalam memenuhi kebutuhan makanan bergizi terutama untuk balitanya. Disamping itu dengan adanya program dan kegiatan pemberian PMT bagi balita gizi buruk sehingga kasus balita gizi buruk mengalami penurunan. b. Prosentase balita gizi buruk mendapat perawatan dari target 100 % terealisasi 100 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan tahun 2014, yang juga mencapai 100 %. Hal ini menunjukan adanya penanganan balita gizi buruk secara komprehensip melalui pengembangan pelayanan rujukan ke klinik gizi di puskesmas maupun Litbang gizi serta ke Rumah Sakit disamping pelaksanaan pemantauan secara terus menerus baik dalam proses penanganan kasus maupun pasca penanganan dan adanya program pemberian PMT bagi balita. c. Rasio posyandu per satuan balita dari target 11,67 % terealisasi 8,91 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 76,36 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori cukup. Capaian kinerja rasio posyandu per satuan balita belum mencapai 100 % hal ini disebabkan karena jumlah posyandu yang sedikit sehingga tidak sebanding dengan pertambahan jumlah balita di Kabupaten Bogor. Bila dibandingkan dengan tahun 2014 maka terjadi penurunan capaian sebesar 0,78 %. Salah satu upaya yang akan dilakukan menggerakan 41
masyarakat untuk dapat berperan aktif dalam Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang ada di desanya, seperti ikut serta dalam kegiatan posyandu. Indikator prosentase balita gizi buruk, cakupan balita gizi buruk yang mendapat perawatan dan Rasio posyandu per satuan balita ditunjang oleh Program perbaikan gizi masyarakat, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten dan Bantuan Keuangan Propinsi Jawa Barat tahun 2015 sebesar Rp. 5.015.688.000,- dengan realisasi Rp. 4.808.397.000,- (95,87 %) pada program ini ada efisiensi anggaran dan kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 202.291.000,- Kegiatan yang tidak diserap yaitu penaggulangan balita gizi buruk dan balita kurang gizi oleh karena dana Banprop baru turun bulan Nopember 2015 sehingga tidak cukup waktu untuk pelaksanaan pemberian PMT, program ini terdiri dari 3 kegiatan yaitu : kegiatan pengadaan makanan tambahan dan vitamin, rapat kerja program perbaikan gizi masyarakat dan penanggulangan balita gizi buruk dan balita kurang gizi (Banprop 2015). d. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA dari target 82,00 % dengan realisasi 83,61 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 101,96 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori cukup. Target penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA nasional adalah masih sebesar 80,0 %, bila dibandingkan dengan target tersebut pencapaian Kabupaten Bogor telah melampaui target nasional sedangkan bila dibandingkan dengan capaian tahun 2014 yang sebesar 111,73 % maka capaian tahun 2015 mengalami penurunan yaitu sebesar 9,77 %. Hal ini disebabkan belum semua sarana kesehatan terutama Rumah Sakit Swasta, Balai Pengobatan/Klinik Swasta, dokter praktek ikut dalam pelaksanaan program P2TB dengan menggunakan strategi DOTS, maka pasien yg berobat tidak tercatat seluruhnya dan sistem pencacatan dan pelaporan program TB berubah dari sistem manual menjadi komputerais sehingga untuk puskesmas yang petugasnya belum mengusai komputer menjadi hambatan dalam pelaporan. e. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD dari target 100 % realisasi capaiannya 100 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Keberhasilan pencapaian kinerja 100 % ini oleh karena DBD merupakan salah satu penyakit yang diamati dan dapat menimbulkan wabah sehingga sistem kewaspadaan dini (SKD) telah dilakukan dengan baik, selain itu penaganan kasus DBD sudah memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas sehingga bila ditemukan kasus secara langsung dapat ditangani mulai dari pelacakan kasus, 42
pengamatan, penyemprotan titik dimana kasus ditemukan sampai dengan rujukan ke Rumah Sakit, sehingga semua kasus dapat ditangani. f. Peningkatan cakupan universal child imunization (UCI) desa/kelurahan dari target 100 % dengan realisasi 92,40 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 92,40 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2014 dimana pencapaiannya sebesar 95,16 % maka ada penurunan sebesar 2,76 %. Capaian UCI belum mencapai 100 % hal ini disebabkan oleh karena masih adanya orangtua/sekelompok masyarakat yang menolak dengan alasan kehalalan vaksin, disamping itu juga dengan ditemukannya kasus KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) diwilayah Kabupaten Bogor, masyarakat menjadi resah dan enggan untuk mendapatkan imunisasi lengkap. Namun bila dibandingkan dengan target cakupan UCI Nasional maupun Propinsi sebenarnya hanya 80,00 % sehingga capaian kita telah melebihi target Nasional dan Propinsi. Salah satu upaya yang akan dilakukan yaitu meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi dan dampak ikutan dari kasus imunisasi sehingga masyarakat lebih tenang untuk mendapatkan imunisasi lengkap. Indikator cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA, cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD, cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) ditunjang oleh Program Pencengahan dan Penanggulangan Penyakit Menular, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 6.396.168.000,- dengan realisasi Rp. 6.041.033.800,- (94,45 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 382.134.200,- Program ini terdiri dari 11 kegiatan yaitu : penyemprotan/fogging sarang nyamuk, peningkatan survailance epidemiologi dan penanggulangan wabah, pemeriksaan calon jemaah haji, fasilitasi pelaksanaan kegiatan program P2TB, fasilitasi pelaksanaan kegiatan program P2 Diare ISPA, fasilitasi pelaksanaan kegiatan program P2 Kusta, pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seksual (HIV/AIDS), survailans acut flaccid paralisys (AFP), Penunjang program imunisasi BIAS ( Bulan Imunisasi Anak Sekolh), rapat kerja program pencegahan pem,berantasan penyakit menular dan Pemberian obat masal pencegahan (POMP) Filariasis. g. Rumah dengan bebas jentik di daerah endemis, dari target 95,00 % realisasi pencapaiannya 96,07 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 101,13 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 2014 yaitu sebesar 101,25 % maka capaian kinerja tahun 2015 mengalami penurunan sebesar 0,12 %, dikarenakan 43
jumlah prosentase rumah yang diperiksa pada tahun 2015 lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun 2014 sehingga prosentase pencapaian menurun dibanding dengan target yang sama. h. Cakupan TTU yang memenuhi syarat dari target 78,22 % dengan realisasi 78,26 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100,05 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2015 sebesar 101,67 % maka capaian kinerja tahun 2015 mengalami penurunan sebesar 1,62 % karena adanya penurunan Tempat Tempat Umum (TTU) yang diperiksa dari tahun 2014 sebanyak 2.655 dibandingkan dengan tahun 2015 sebanyak 2.665 sehingga pencapaian menurun dengan target yang sama, jumlah TTU yang memenuhi syarat menurun berkaitan dengan adanya kesadaran PHBS pelaku usaha TTU yang rendah. i. Cakupan TPM yang memenuhi syarat dari target 90,21 % dengan realisasi 90,40% sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100,21 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2014 sebesar 100,27 % maka capaian kinerja mengalami penurunan sebesar 0,06 %, menurunnya cakupan TPM yang memenuhi syarat dikarenakan adanya tingkat kesadaran PHBS yang rendah. Sedangkan cakupan TPM yang diperiksa menurun karena jumlah TPM yang ada semakin meningkat dibandingkan dengan tahun 2014 dengan target yang sama sehingga capaian menurun. j. Cakupan Inspeksi Sanitasi untuk peningkatan sarana air bersih (SAB) yang memenuhi syarat kesehatan dari target 71,07 % dengan realisasi 72,61 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 102,17 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian realisasi pada tahun 2014 yaitu sebesar 70,68 % maka capaian realisasi tahun 2015 ada peningkatan yaitu sebesar 1,93 %. k. Cakupan Inspeksi Sanitasi untuk peningkatan Jamban Keluarga (JAGA) dari target 71,13 % dengan realisasi 71,26 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 100,18 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian realisasi pada tahun 2014 yaitu sebesar 71,07 % maka capaian tahun 2015 mengalami peningkatan yaitu sebesar 0,19 %. Cakupan Inspeksi Sanitasi Jamban Keluarga (JAGA) dengan capaian kinerja lebih dari 100 %, dikarenakan keberhasilan petugas dalam pembinaan kepada masyarakat akan pentingnya penyediaan sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Selain itu adanya koordinasi dengan SKPD yang terkait dalam pembangunan rumah 44
sehat / layak huni yang juga meningkatkan jumlah sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Indikator cakupan rumah dengan bebas jentik, prosentase TTU yang memenuhi syarat, prosentase TPM yang memenuhi syarat, cakupan JAGA yang memenuhi syarat dan cakupan SAB yang memenuhi syarat ditunjang oleh Program pengembangan lingkungan sehat, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 728.451.000,- dengan realisasi Rp. 677.584.750,- (93,02 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 50.866.250,- program ini terdidiri dari 5 kegiatan yaitu : pengawasan hygiene sanitasi tempat-tempet umum, sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), pengawasan hygiene dan sanitasi tempat pengelolaan makanan, rapat kerja program pengembangan lingkungan dan pengawasan kualitas lingkungan pemukiman. Peningkatan cakupan desa siaga aktif, dari target yang ditetapkan yaitu 80 % terealisasi 63,36 % (275 desa siaga) sehingga capaiannya 79,20 %. Bila dibandingkan dengan tahun 2014 dimana capaiannya 100,23 % dari target 2014 desa siaga terealisasi 216 desa dan pada tahun 2015 meningkat lagi sebanyak 59 desa sehingga jumlah desa siaga di Kabupaten Bogor sebanyak 275 dega siaga. Penetapan target desa siaga memang dilakukan secara bertahap mengingat proses pelaksanaannya tidak hanya dari Dinas Kesehatan saja namun melibatkan sektor lain dan peran serta aktif masyarakat sendiri. Pencapaian cakupan yang mencapai 79,20 % menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah tetap berkomitmen dengan adanya kebijakan Kementrian Kesehatan bahwa seluruh desa harus melaksanakan program desa siaga meskipun secara bertahap dan untuk Kabupaten Bogor menjadi salah satu indikator kinerja yang tertuang di dalam RPJMD. Indikator cakupan desa siaga aktif ditunjang oleh Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 2.037.134.000,- dengan realisasi Rp. 1.845.825.141,- (90,61 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 191.308.859,-program ini terdiri dari 7 kegiatan yaitu : penyediaan media penyuluhan kesehatan, penyuluhan kesehatan, fasilitasi UKBM dan pembinaan kesehatan, fasilitasi tim Pembina kabupaten sehat, rapat kerja bidang promosi dan SDK, peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) dan penyusunan naskah Akademik Kawasan Tanpa Rokok (KTR). 3. Sasaran ketiga, yaitu : Meningkatkan Puskesmas Terakreditasi dan mempersiap kan puskesmas BLUD dengan indikator kinerjanya adalah : 45
a. Rasio rumah sakit per satuan penduduk target 1 : 205.948 realisasi pencapaiannya 1 : 197.450 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 104,13 %, maka pencapaiannnya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan target tahun 2014 Rasio rumah sakit per satuan penduduk 1 : 218.066 maka target Rasio rumah sakit per satuan penduduk mengalami peningkatan artinya bila pada tahun 2014, satu rumah sakit dapat melayani penduduk sebanyak 218.066 jiwa maka pada tahun 2015 satu rumah sakit melayani 197.450 jiwa. Hal ini dapat terjadi karena sesuai dengan kebijakan pembangunan tahun 2015 ada penambahan jumlah rumah sakit, oleh karena itu Rasio rumah sakit per satuan penduduk menjadi lebih kecil. b. Rasio dokter per satuan penduduk dari target 1 :3.835 dengan realisasi 1 : 4.760 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 75,88 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori cukup. Pencapaian kurang dari 100 % oleh karena tidak sebandingnya jumlah dokter di Kabupaten Bogor dengan pertambahan jumlah penduduk yang meningkat setiap tahunnya, salah satu upaya yang akan dilakukan dengan menambah jumlah tenaga dokter di puskesmas. c. Rasio tenaga medis per satuan penduduk dari target 1 : 2.606 dengan realisasi 1 : 4.063 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 44,09 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori sangat kurang. Pencapaian kurang dari 100 % oleh karena tidak sebandingnya jumlah tenaga medis di Kabupaten Bogor dengan pertambahan jumlah penduduk yang meningkat setiap tahunnya, salah satu upaya yang akan dikalukan dengan menambah jumlah tenaga medis di puskesmas. Indikator Rasio dokter per satuan penduduk dan Rasio tenaga medis per satuan penduduk ditunjang oleh Program pelayanan administrasi perkantoran yang terdiri dari 1 kegiatan yaitu : penyediaan jasa tenaga pendukung administrasi/teknis perkantoran dan Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 248.791.000,- dengan realisasi Rp. 241.688.680,- ( 97,14 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 7.102.320,- Program ini terdiri dari 4 kegiatan yaitu : pembinaan mental dan rohani bagi aparatur, penilaian angka kredit tenaga fungsional, bantuan tugas belajar jenjang pendidikan S1 Keperawatan dan Ners (Banprop 2014) dan bantuan tugas belajar jenjang pendidikan S1 Keperawatan Ners (Banprop 2015). d. Rasio puskesmas, poliklinik, puskesmas pembantu per satuan penduduk dari target 1 : 9.394 dengan realisasi 1 : 13.847 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 52,60 46
%. Berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori sangat kurang. Bila dibandingkan tahun 2014 ada peningkatan dari target dari 1 : 9.550 menjadi 1 : 9.394, akan tetapi pencapaian mengalami penurunan sebesar 49,15 % jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2014 yaitu sebesar 101,75 %. Oleh karena Balai Pengobatan yang masa berlakunya sampai dengan tahun 2015 belum memperpanjang menjadi ijin Klinik yang harus berdasarkan Permenkes Nomor 9 Tahun 2014 sehingga capaian menjadi turun, upaya yang kan dilakukan yaitu monitoring dan evaluasi ke klinik-klinik yang belum memperpanjang masa berlakunya. Indikator cakupan puskesmas, cakupan puskesmas pembantu dan rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk ditunjang oleh program pengadaan peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 38.295.082.000,- dengan realisasi Rp. 31.964.948.457,- ( 83,47 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran tidak diserap sebesar Rp. 6.330.133.543,- diantaranya dari kegiatan pengadaan puskesmas keliling, pengadaan alat-alat laboratorium puskesmas, surat ijin operasional puskesmas dan pembangunan puskesmas DTP Ciawi tidak direalisasikan oleh karena gagal lelang sehingga harus lelang ulang ( tidak sesuai dengan pekerjaan/wan prestasi). Program ini terdiri dari 34 kegiatan yaitu : pengadaan puskesmas keliling, pengadaan perlengkapan kantor puskesmas, pengadaan meubelair puskesmas, pengadaan alatalat kedokteran puskesmas, pengadaan peralatan program KIA, pengadaan alat-alat laboratorium puskesmas, pembangunan puskesmas Leuwisadeng menjadi DTP, pengadaan lemari Es Vaksin puskesmas, rehabilityasi puskesmas Gunung Putri, pengadaan UKS KIT di puskesmas, penfadaan lansia Kit di puskesmas, pembangunan puskesmas DTP dan PONED Cibungbulang, pembangunan puskesmas DTP dan PONED Ciawi, pembangunan puskesmas DTP dan PONED Caringin, pembangunan puskesmas DTP dan PONED Parung, pembangunan puskesmas DTP Jampang (relokasi), revitalisasi puskesmas Ciomas & Babakan Madang, rehabilitasi puskesmas DTP Citeureup, Tajur, Curug & Bojong Nangka, penataan area parkir puskesmas Ciapus, pemagaran puskesmas Tamansari, pembangunan turap puskesmas Sukaraja, rehabilitasi Pustu Malasari, Cilember, Cimande, Tarikolot & Kuripan, pengadaan PTM Kit di puskesmas, pengurusan surat ijin operasional puskesmas dan pengadaan Ambulance puskesmas (Banprop 2015). 47
Misi-3 1. Meningkatnya daya dukung pelayanan kesehatan. No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Capaian PENUNJANG 1. Meningkatkan Terwujudnya % 100,0 100,0 100,0 kapasitas kelancaran sumber daya pelayanan sarana dan administrasi prasarana kerja perkantoran serta kualitas aparatur Terwujudnya % 100,0 100,0 100,0 kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur 2. Meningkatkan Terwujudnya % 100,0 100,0 100,0 fungsi peningkatan koordinasi, kapasitas dan regulasi dan kinerja sumber fasilitas daya aparatur pelayanan kesehatan pemerintah, swasta daan lintas sektor 3. Meningkatkan Tersusunnya % 100,0 100,0 100,0 jejaring perencanaan pelayanan dan laporan kesehatan yang akuntabel 100,0 48
Untuk mendukung Misi 2 telah ditetapkan 3 (tiga) sasaran, 5 program dan 37 kegiatan, dengan realisasi pencapaian sasaran sebesar 100,0 %. Rincian pencapaian dari 3 (tiga) sasaran sebagai berikut : 1) Sasaran pertama, meningkatnya kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masing-masing dengan indikator kinerja terwujudnya kelancaran pelayanan administrasi perkantoran dengan target 100 % tercapai 100 % dan terwujudnya kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur dengan target 100 % tercapai 100 %, berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan penunjang adminsitrasi perkantoran telah dilaksanakan sesuai dengan rencana. Indikator terwujudnya kelancaran pelayanan administrasi perkantoran ditunjang oleh Program pelayanan administrasi perkantoran. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 15.415.747.000,- dengan realisasi Rp. 12.722.095.966,- ( 82,53 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran sebesar Rp. 2.693.651.034,- diantaranya dari kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan oleh karena hasil penawaran harga lelang, program ini terdiri dari 14 kegiatan yaitu, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa pemeliharaan dan perijinan kendaraan dinas/operasional, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangan-undangan, penyediaan bahan logistik kantor, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke dalam dan luar daerah, pelayanan dokumentasi dan arsip SKPD, pelayanan administrasi kepegawaian, pelayanan administrasi barang, pelayanan keamanan kantor. Indikator terwujudnya kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur ditunjang oleh Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 1.991.546.000,- dengan realisasi Rp. 1.627.123.853,- ( 81,70 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran sebesar Rp. 2.693.651.034,- diantaranya dari kegiatan rehabilitasi rumah dinas puskesmas Cirimekar oleh karena efisiensi dari harga lelang, program kegitan ini terdiri dari 8 kegiatan yaitu : pengadaan meubelair, pengadaan peralatan kantor, pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasinal, pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor, reitalisasi rumah dinas Puskesmas Cirimekar, rehabilitasi rumah dinas Puskesmas Karadenan dan pemasangan partisi dan penataan interior kantor. 49
2) Sasaran kedua, meningkatnya jumlah dan kualitas sumber daya kesehatan dengan indikator kinerjanya terwujudnya peningkatan kapasitas dan kinerja sumber daya aparatur dengan target 100 % pencapaiannya 100 %. Pencapaian tersebut dikontribusikan dengan adanya penambahan sarana mobilitas darat, sarana kerja dan pemeliharaan sarana kerja. Indikator terwujudnya peningkatan kapasitas dan kinerja sumber daya aparatur ditunjang oleh Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur. Program ini terdidiri dari 13 kegiatan yaitu : pengiriman peserta bimtek asuhan persalinan normal (APN), pengiriman peserta bimtek penatalaksanaan asfixia bayi baru lahir, pengiriman bimtek peserta bimbingan teknis PPGDON, pengiriman peserta bimtek PONED, pengiriman peserta bimtek PPGD, pengiriman peserta bimtek Simulasi Deteksi Dini Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK), pengiriman peserta bimtek konselor menyusui, pengiriman bimtek Manajemen Terpadu Balita Sakit/Manajemen Terpadu Bayi Muda MTBS/M, pengiriman bimtek Geriatri, pengiriman bimtek Tatalaksana Gizi Buruk, pengiriman bimtek Pengendalian Penyakit Tidak Menular Bagi Petugas Puskesmas, pengiriman Bimtek Manajemen Program Imunisasi dan pengiriman bimtek Microcopis Malaria. 3). Sasaran ketiga, terwujudnya pertanggungjawaban kinerja dan keuangan SKPD dengan indikator kinerjanya tersusunnya perencanaan dan laporan yang akuntabel dengan target kinerja 100 % dan pencapaian 100 %, berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Indikakator tersusunya perencanaan dan laporan yang akuntabel ditunjang oleh Program peningkatan pengembangan sistem capaian kinerja dan keuangan, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 860.681.000,- dengan realisasi Rp. 815.629.425,- ( 94,77 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 45.051.575,- program kegiatan ini terdiri dari 7 kegiatan yaitu : penyusunan laporan capaian kinerja dan ihktisar realisasi kinerja SKPD, penyusunan laporan keuangan semesteran, penyusunan laporan keuangan akhir tahun, penyusunan perencanaan anggaran, penatausahaan keauangan SKPD, publikasi kinerja dan penyusunan renja SKPD. Program pengadaan standarisasi pelayanan kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 2015 sebesar Rp. 16.163.124.000,- dengan realisasi Rp. 15.115.549.713,- ( 93,52 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 1.047.574.287,- diantaranya dari kegiatan akreditasi puskesmas dan persiapan penerapan pola pengelolaan keuangan Badan layanan Umum Daerah (PPK-BLUD), program ini terdiri dari 7 kegiatan yaitu : monitoring, evaluasi dan pelaporan, penyusunan dan pengembangan data kesehatan, pembinaan sarana institusi swasta, jasa pelayanan kesehatan, rapat koordinasi evaluasi dan perencanaan program, akreditasi puskesmas 50
dan persiapan penerapan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). 3.3. AKUNTABILITAS KEUANGAN Dalam tahun 2015 Pendapatan Dinas Kesehatan ditargetkan sebesar Rp. 132.272.108.000,- terealisasi sebesar Rp. 141.814.850.000,- atau tercapai 107,21 %. Belanja Dinas Kesehatan tahun 2015 dialokasikan sebesar Rp. 498.717.781.000,- terealisasi sebesar Rp. 369.495.936.347,- atau terserap 74,09 %. Secara garis besar realisasi anggaran Dinas Kesehatan tahun 2015 sebagai berikut : No Uraian Anggaran (Rp.) Realisasi (Rp.) % Realisasi A. PENDAPATAN B. Retribusi pelayanan kesehatan BELANJA 1. BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai 132.272.108.000,- 141.814.850.000,- 107,21 95.991.584.000,- 94.437.128.058,- 98,38 95.991.584.000,- 94.437.128.058,- 98,38 2. BELANJA LANGSUNG (BELANJA PROGRAM/ KEGIATAN) - Belanja Pegawai - Belanja barang dan Jasa - Belanja Modal 402.726.197.000,- 20.917.218.000,- 313.339.930.000,- 68.469.049.000,- 275.058.808.289,- 18.075.884.500,- 218.076.018.867,- 38.906.904.922,- 68,29 86,42 69,60 56,82 JUMLAH BELANJA 498.717.781.000,- 369.495.936.347,- 74,09 C. SURPLUS / (DEFISIT) (366.445.673.000,-) (227.681.086.347,-) 62,13 Anggaran belanja langsung yang digunakan untuk membiayai program dan kegiatan dalam rangka mencapai sasaran strategis Dinas Kesehatan tahun 2015 sebesar Rp. 402.726.197.000,- terealisasi sebesar Rp.275.058.808.289,- atau terserap 68,30 %. Tidak terserapnya dana belanja langsung tersebut disebabkan karena adanya efisiensi anggaran dari selisih penawaran pihak ketiga, tidak dilelangkan (karena waktu yang tidak cukup), pemutusan kontrak, efisiensi dari kegiatan-kegiatan yang sudah terintegrasi 51
dengan sumber dana lain dan adanya beberapa kegiatan yang memang tidak direalisasikan oleh karena disesuaikan dengan kondisi sesungguhnya di lapangan seperti kejadian luar biasa yang memang sesuai dengan kejadian yang terjadi serta kegiatan Biaya Penunjang Pelayanan puskesmas dimana sebagian besar pengadaan obat tidak dapat direalisasikan karena tidak mempunyai tenaga Apoteker sedangkan untuk merekrut tenaga tersebut belum ada payung hukum yang mendukung. Rincian anggaran dan realisasi APBD (LRA) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2015 disajikan dalam Lampiran : 4. 52
IV P E N U T U P Laporan Kinerja (LK) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor ini, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai capaian kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam rangka pencapaian tahapan Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan Pemerintah Kabupaten Bogor pada umumnya. Laporan ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Sangat disadari bahwa laporan ini belum secara sempurna menyajikan prinsip transparansi akuntabilitas seperti yang diharapkan, namun setidaknya masyarakat dan berbagai pihak yang berkepentingan dapat memperoleh gambaran tentang tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan hasil-hasilnya. Berbagai hambatan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor selama tahun 2015, sehingga beberapa program / kegiatan belum dapat dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Dalam upaya meningkatkan kinerja pada tahun berikutnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor perlu melakukan langkah-langkah untuk mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi tahun 2015, antara lain : Kendala pencapaian kinerja sasaran : a. Masih adanya daerah-daerah yang cukup sulit dijangkau oleh petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan secara rutin karena kondisi geografis dan keterbatasan sarana serta tenaga di puskesmas setempat sehingga beberapa cakupan program kesehatan belum memenuhi target atau harapan. b. Belum tercakupnya seluruh pelaporan dari pelayanan kesehatan swasta menyebabkan pencapaian indikator sasaran belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya, seperti cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, c. Penetapan target khususnya yang berkaitan dengan angka pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan realisasi jumlah penduduk yang ada sehingga pada pencapaian hasilnya terjadi kesenjangan yang cukup besar. Kendala pencapaian kinerja kegiatan : a. Beberapa kegiatan yang tidak terealisasi oleh karena belum terpenuhinya persyaratan/kejelasan tentang kondisi yang mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. 53
Upaya pemecahan masalah : a. Meningkatkan pembinaan teknis ke pelayanan kesehatan swasta untuk pelaporan dan mengupayakan adanya surat intruksi dari penentu kebijakan untuk mekanisme sistem pelaporan di sarana pelayanan kesehatan swasta yang dikaitkan dengan insentif kemudahan maupun sanksi bagi pelayanan kesehatan swasta. b. Meningkatkan koordinasi lintas program dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam rangka keterpaduan program c. Mereview target dengan perhitungan proyeksi yang lebih tepat diselaraskan dengan pertumbuhan penduduk sehingga memperkecil kesenjangan pencapaian d. Meningkatkan pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan. Semoga Laporan Kinerja ini dapat memberi masukan yang berarti dalam penyusunan Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 2015 secara tepat waktu. 54