Kecakapan Antarpersonal

dokumen-dokumen yang mirip
Kecakapan Antar Personal. Mia Fitriawati, S.Kom, M.Kom

BAB VI KESIMPULAN. berasal dari dana mereka masing-masing. Di samping itu bantuan finansial dalam

BAB I PENDAHULUAN. Peran Berita Politik Dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat Terhadap Pengetahuan Politik Mahasiswa Ilmu Sosial se-kota Bandung

BAB I PENDAHULUAN. Seluruh kegiatan politik berlangsung dalam suatu sistem. Politik, salah

SOAL-SOAL KOMUNIKASI BISNIS

Lobi dan Negosiasi dalam Komunikasi Bisnis

TEKNIK LOBBY, NEGOSIASI DAN DIPLOMASI. Lobby dan dimensi komunikasi. Public Relations. Drs. Dwi Prijono Soesanto M.Ikom., MPM.

02FIKOM. Tehnik Lobby, Negosiasi dan Diplomasi. Lobby dan dimensi komunikasi. Radityo Muhamad, SH., MA. Modul ke: Fakultas

BAB II DASAR PEMIKIRAN

MEMBINA RELASI UNTUK MENANG DALAM DUNIA POLITIK

LEMBARAN NEGARA PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. (berkomunikasi) sudah dianggap sebagai suatu kepentingan bagi public relations. Dalam

Angket 1 No Pernyataan SS S TS STS

Kecakapan Antarpersonal. Mia Fitriawati, S.Kom, M.Kom

1. Lobi politik (political lobiying)

BAB I PENDAHULUAN. perlu diragukan lagi. Bahasa tidak hanya dipergunakan dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dengan manusia

Public Speaking. Berbicara di depan umum. Sujanti, M.Ikom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Program Studi Hubungan MAsyarakat

PENDAHULUAN Latar Belakang

Interpersonal Communication Skill

Kecakapan Antar Personal. Mia Fitriawati, S. Kom, M.Kom

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Smile Indonesia LOBI LO DAN NEGO DAN SIASI NEGO

Peluang Asal Protein yang Ada di Dalam Inti Sel

UNDANG-UNDANG BADAN PERWAKILAN MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR : 001/UU/BPMFEUI/VI/2012

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERSONAL GROOMING. 1. Kesan Pertama 2. Etiket dan Etika 3. Penampilan Menarik

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

OPTIMALISASI PERAN HUMAS PERGURUAN TINGGI. Oleh: Lena Satlita. Salah satu agenda yang ramai dibicarakan dalam Rapat Koordinasi Nasional

BAB I PENDAHULUAN. merumuskan dan menyalurkan kepentingan masyarakat.partai politik juga

BAB V POLA KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA PARTISIPAN INDONESIA DALAM PERSEKUTUAN DOA SOLAFIDE

BAB I PENDAHULUAN. praktek politik masa lalu yang kotor. Terlepas dari trauma masa lalu itu, praktek

2016, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Kepala Badan ini yang dimaksud dengan: 1. Intelijen Negara adalah penyelenggara Intelijen

ETIKA BERKOMUNIKASI. ALREFI, M.Pd UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2016

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2007 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BAB V PENUTUP I. KESIMPULAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. masyarakat sehari-hari. Masyarakat menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi

IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

BAB IV PENUTUP. bab sebelumnya, selanjutnya pada bab ini terdapat beberapa poin

ETIKA BISNIS, TEKNIK LOBBY DAN NEGOSIASI

BAB I PENDAHULUAN. dengan kelompok maupun suatu kelompok dengan kelompok lainnya.

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN. orang lain, yang mengakibatkan adanya hubungan timbal balik. Dalam interaksi

2016 REPRESENTASI SENSUALITAS PEREMPUAN DALAM IKLAN

BAB V PENUTUP. upaya pemerintah dalam meningkatkan transportasi penerbangan untuk kawasan Jawa

VARIASI POLA KALIMAT DAN ISI PESAN PADA SPANDUK KAMPANYE CALON LEGISLATIF DALAM PEMILU TAHUN 2009 DI KOTA SURAKARTA

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Konteks Penelitian. Dalam kehidupan sehari- hari kita tidak dapat terlepas untuk berinteraksi

BAB I PENDAHULUAN. Bila sakitnya ringan, cukup membeli obat di warung, bisa sembuh kembali. 1

KOMUNIKASI EFEKTIF. Mata Kuliah ETIK UMB. Panti Rahayu, SH, MH. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan, mereka adalah komunitas, konsumen, pemerintah dan pers.

UNDANG-UNDANG BADAN PERWAKILAN MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR : 001/UU/BPMFEBUI/II/2015

2011, No Peraturan Presiden Nomor 90 Tahun 2007 tentang Badan Koordinasi Penanaman Modal; 4. Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Moda

ETIKA DALAM BERKOMONIKASI

MEMAHAMI KOMUNIKASI DALAM PELAYANAN JASA MEMILIH CARA BERKOMUNIKASI DENGAN KOLEGA DAN PELANGGAN

Kecakapan Antar Personal. Mia Fitriawati, S.Kom, M.Kom

KODE ETIK ANGGOTA KOMISI PARIPURNA DAN ANGGOTA BADAN PEKERJA KOMISI NASIONAL ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

dipersyaratkan untuk terselenggaranya tata kelola pemerintahan secara efektif dan efisien serta mampu mendorong terciptanya daya saing daerah pada tin

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah setelah runtuhnya Orde Baru, di era reformasi saat ini, media dengan

BAB I PENDAHULUAN. massa terutama televisi, telah menjadi media penyebaran nilai-nilai dan sangat

PERSONAL SELLING KOMUNIKASI PEMASARAN PT. MAKASSAR RAYA MOTOR KENDARI DALAM PENJUALAN MOBIL DAIHATSU

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi memegang peran penting menurut porsinya masing-masing.

BAB I PENDAHULUAN. untuk saling membantu dan mengadakan interaksi. berbagai sarana komunikasi salah satunya adalah Blackberry.

KERANGKA ACUAN KERJA (K.A.K.), PENGADAAN BARANG/JASA PUBLIKASI MEDIA CETAK DAN ONLINE DIREKTORAT PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH 1430 H / 2009 M

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB V POLA KOMUNIKASI ANTARA FORUM JURNALIS SALATIGA DENGAN PEMERINTAH KOTA SALATIGA Pola Komunikasi FJS dan Pemerintah Kota Salatiga

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN DELI SERDANG

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2 2. Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1607); MEMUTU

PIAGAM AUDIT INTERNAL

3. Emosi subyek ketika menjawab pertanyaan interview. 4. Bagaimana kebudayaan etnis Cina dalam keluarga subyek?

ali muqoddas, S.Sn, M.Kom Teknik Presentasi

BAB I PENDAHULUAN. menyuguhkan berbagai macam produknya kepada masyarakat. Berkembangnya industri

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Dengan sendirinya perkembangan usaha penerbitan pers mulai

KPU Kabupaten Magelang. Laporan Tahunan Pelayanan Informasi Publik

BAB V PENUTUP 1. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN. Hotel adalah suatu badan usaha yang bergerak di bidang jasa akomodasi yang

BAB I PENDAHULUAN. Era persaingan usaha yang ketat sekarang ini, bidang Hubungan

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. tidak dapat secara mudah jika hanya dilihat dengan hal-hal terkait yang

KETETAPAN BADAN LEGISLATIF MAHASISWA

Modul ke: Public Speaking. Output / Hasil dari Pidato. Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Sujanti, M.Ikom. Program Studi Hubungan Masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. mendunia dan tidak berbatas atau tak mengenal batas wilayah. Globalisasi adalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang

Kecakapan Antar Personal. Mia Fitriawati, S. Kom, M.Kom

Presentasi. Komunikasi&Kepemimpinan. Mas Eka Setiawan

PANITIA PEMILIHAN RAYA IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. dapat dipandang sebagai faktor yang menentukan proses-proses perubahan.

BAB I PENDAHULUAN. warga tertentu. Strategi komunikasi politik juga merupakan

BAB I PENDAHULUAN. perlu diragukan lagi. Bahasa tidak hanya dipergunakan dalam kehidupan

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 116, Tambaha

5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

Transkripsi:

Kecakapan Antarpersonal Mia Fitriawati, S.Kom, M.Kom Komunikasi dalam Lobi 1

Kata Melobi terdapat dalam kamus bahasa Indonesia dengan pengertian: melakukan pendekatan secara tidak resmi/ informal. Page 3 Pengertian Lobi Menurut Anwar (1997) definisi yang lebih luas adalah suatu upaya informal dan persuasif yang dilakukan oleh satu pihak (perorangan, kelompok, Swasta, pemerintah) yang memiliki kepentingan tertentu untuk menarik dukungan dari pihak pihak yang dianggap memiliki pengaruh atau wewenang, sehingga target yang diinginkan dapat tercapai. Menurut Pramono (1997) lobi merupakan suatu pressure group yang mempraktekkan kiat-kiat untuk mempengaruhi orang-orang dan berupaya mendapatkan relasi yang bermanfaat. Maschab (1997) lebih menekankan bahwa lobbying adalah segala bentuk upaya yang dilakukan oleh suatu pihak untuk menarik atau memperoleh dukungan pihak lain. Page 4 2

Teknik Lobi Cara atau teknik lobi ada berbagai macam tergantung pada TARGET yang ingin dicapai. Ada lobi dengan target menang, sehingga bisa jadi bohong atau bahkan licik, lobi dengan target winwin solution. Atau bisa juga dengan target agar tidak terlalu memalukan ketika akhirnya kalah. Masing-masing cara/gaya melobi tergantung pada kondisi obyektif di lapangan serta tergantung pada pihak lain yang kita lobi. Page 5 Mengapa harus melakukan lobi? Lobi sangat penting dalam kehidupan berorganisasi artinya dapat kita gunakan untuk mengukur tingkat kekuatan internal kita, citra yang ditangkap publik serta kredibilitas, dan akuntabilitas di hadapan pihak lain. Lobi juga diperlukan untuk memuluskan berbagai proses yang sedang dilakukan. Hal ini penting untuk memperluas pencapaian target dan tujuan kita dalam organisasi yang hendak dicapai, semakin bagus lobi yang kita lakukan, maka semakin cepat target dan tujuan bisa di raih. Page 6 3

Bagaimana cara melakukan lobi? Lobi dilakukan bisa dengan berbagai cara, tergantung pada siapa dan dalam waktu seperti apa. Lobi bisa di mulai dengan teknik mengambil hati sampai dengan teknik menutup urat nadi orang lain/ organisasi lain. Page 7 Karakteristik Lobi Bersifat tidak resmi/ Informal. Bentuk dapat beragam. Waktu dan tempat dapat kapan dan dimana saja. Pelaku /aktor atau pihak yang melakukan lobbying dapat beragam dan siapa saja. Bila dibutuhkan dapat melibatkan pihak ketiga untuk perantara. Arah pendekatan dapat bersifat satu arah pihak yang melobi harus aktif mendekati pihak yang dilobi. Page 8 4

Cara-cara Melobi 1. Tidak langsung : Tidak harus satu pihak atau satu orang yang berkepentingan. Pihak lain. Kepercayaan atau kredibilitas pihak ketiga yang dijadikan perantara atau penghubung tersebut. Kendala lain jangan sampai gara-gara lobi yang dilakukan dengan menggunakan jasa pihak lain (pihak ketiga) justru merusak hubungan yang sudah ada, karena kesalahan atau ulah pihak ketiga tersebut. Kendala lain dalam menggunakan cara tidak langsung adalah pihak ketiga atau perantara tersebut tidak selalu menguasai atau mengerti permasalahan atau obyek yang jadi sasaran. Page 9 Cara-cara Melobi #2 2. Langsung Pihak yang berkepentingan harus bisa bertemu atau berkomunikasi secara langsung dengan pihak yang dilobi, jelas lebih baik dari pada cara tidak langsung tetapi kendalanya adalah bahwa : a. Pihak pihak yang terlibat tidak selalu saling mengenal b. Tidak semua orang mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan baik. c. Kesan terhadap pribadi tidak selalu sama dengan kesan terhadap lembaga. Page 10 5

Cara-cara Melobi #3 3. Terbuka Lobi yang dilakukan tanpa ketakutan untuk diketahui orang lain, lobi yang dilakukan secara terbuka memang tidak harus berarti dengan sengaja diekspose atau diberitahukan kepada khalayak, tetapi kalaupun diketahui masyarakat bukan merupakan masalah. Biasanya dilakukan oleh dan diantara kelompok misalnya pendekatan yang dilakukan oleh partai politik tertentu pada salah satu Organisasi Massa atau sebaliknya, dan antara suatu Ormas pada Ormas yang lain. Page 11 Cara-cara Melobi #4 4. Tertutup Lobi yang dilakukan secara diam-diam agar tidak diketahui oleh pihak lain apalagi masyarakat. Biasanya bersifat perorangan yaitu yang dilakukan secara pribadi atau oleh seseorang pada orang tertentu lobiing cara ini dilakukan karena apabila sampai diketahui oleh pihak lain maka bisa berakibat negatif atau merugikan pihak yang melakukan lobi tersebut maupun pihak yang dilobi. Page 12 6

Cara Melobi yang Baik Agar lobi yang kita lakukan berhasil dengan baik maka perlu kiranya diperhatikan beberapa petunjuk teknis sebagai berikut: Perlu mengenal/mengindentifikasi target lobi dengan baik. Perfomance /Penampilan diri yang baik. Memperhatikan situasi dan kondisi. Mengemas pesan. Jangan takut gagal Page 13 Persiapan melakukan Lobi 1. Menguasai masalah yang dibicarakan 2. Mulai berbicara bila situasi telah memungkinkan 3. Mengarahkan dengan tepat agar dapat memancing perhatian. 4. Cara berbicara harus jelas dan jangan terlalu cepat, mengatur volume suara dan mempersiapkan kata kata dengan baik. 5. Memperhatikan sikap, pandangan mata, gerak gerik yang membantu. 6. Sopan, saling menghormati, dan menyiratkan rasa persaudaraan. Page 14 7

Persiapan Sebelum melakukan Lobi Pihak pelobi harus menyiapkan orang yang punya visi part of solution, bukan orang yang jadi part of problem. Pihak pelobi harus punya tujuan yang jelas, akurat dan ditopang dengan kekuatan yang memadai. Pihak pelobi harus memperhitungkan kondisi obyektif dan sudut pandang lawan. Pihak pelobi harus bersedia berkompromi dengan berbagai tingkatan target yang akan di raih. Page 15 Apa yang Harus Kita Perhitungkan Saat Melobi? Yang harus diperhitungkan oleh seorang pelobi yang baik adalah : Pelobi harus menetapkan tujuan/ target berdasarkan kekuatan yang sungguhnya; Pelobi harus dapat menilai tujuan/target berdasarkan kekuatan lawan dengan cermat; Pelobi harus menetapkan seberapa jauh tujuan yang berbeda itu bisa di cari titik komprominya ; Pelobi harus menggunakan sarana yang tepat untuk mencapai tujuan. Page 16 8

17 9