JURNAL INTRA Vol. 2, No. 2, (2014)

dokumen-dokumen yang mirip
MAKASSAR merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang. meningkatkan jumlah pengunjung/wisatawan

Perancangan Interior Magnum Kafe di Surabaya

Perancangan Interior Perpustakaan Umum di Surabaya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Desain Interior Restoran 1914 Surabaya dengan konsep Kolonial Luxury

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pengaruh Interior Toko Oen Malang terhadap Perilaku Pengunjung

BAB I PENDAHULUAN DESAIN INTERIOR RESTORAN ALAS DAUN DI HOTEL CROWN, JAKARTA SELATAN/RANI AGUSTINA R

Penerapan Gaya Desain Modern Natural pada Perancangan Interior Museum Teh di Surabaya

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Mereka pun sering mewakili Indonesia sebagai duta negara ke mancanegara untuk memamerkan karya dan keahlian seni pahat mereka. 1 Dalam membuat suatu M

KONSEP DESAIN. WARNA Warna yang digunakan adalah warna khas budaya Toraja yang terdapat pada elemen arsitektural dan motif ornamen.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang belum terlalu terpublikasi. dari potensi wisata alamnya, Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Desain Interior Restoran pada Rest Area di Kabupaten Probolinggo Berkonsep Jawa Rustik dengan Sentuhan Ikon Khas Probolinggo

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perancangan Interior Galeri Batik Semar di Surabaya

BAB IV TINJAUAN KHUSUS

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

Desain Interior Rumah Cupcakes & BBQ dengan Konsep Open Kitchen bernuansa Modern Chic

Perancangan Small Private Space pada Ruang Interior Perpustakaan Universitas Kristen Petra

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

METODE DESAIN. 3.1 Metode Pengumpulan Data

BAB III KAJIAN LAPANGAN

DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN LEMBAR PENGESAHAN PRAKATA ABSTRACT ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB I PENDAHULUAN 1

Perancangan Interior Arts Center dengan Pendekatan Ruang Fleksibel

KONSEP RANCANGAN. Latar Belakang. Konteks. Tema Rancangan Surabaya Youth Center

BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN

Re-Desain Gereja Katolik Santo Paulus Di Surabaya Berdasarkan Ajaran Allah Tritunggal

LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN TUGAS AKHIR KATA PENGANTAR

PERANCANGAN DESAIN INTERIOR MUSEUM KOPI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN


1. ASPEK PENAMPAKAN SIMBOL KULTURAL

1.Kelengkapan data dan sumber 2.Ketepatan jawaban 3.Keruntutan alur pikir. Ceramah Observasi

BAB II. KAJIAN LITERATUR

GALERI SENI UKIR BATU PUTIH. BAB I.

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

Fasilitas Wisata Kuliner Solo di Solo Baru

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Taman

ANYER BEACH RESORT BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB IV. KONSEP PERANCANGAN

Desain Interior Hotel Alila dengan Langgam Modern Luxury Nuansa Budaya Jawa

Hotel Resor di Labuan Bajo

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

PERANCANGAN INTERIOR ART SHOP YANA ART GALLERY DI GIANYAR, BALI

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat memiliki aktivitas yang tinggi. Sehingga membutuhkan fasilitasfasilitas

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Redesign Perpustakaan Daerah Di Ambon

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

Re-Design Interior Gereja Katolik Santo Paulus Di Surabaya Berdasarkan Ajaran Allah Tritunggal

BAB V. Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan analisis yang telah. dikemukakan pada bab bab terdahulu mengenai hubungan rancangan suasana toko

BAB I PENDAHULUAN. dalam ataupun luar negeri datang untuk menikmati objek-objek wisata tersebut.

PERANCANGAN INTERIOR SANGGAR SENI TARI TRADISIONAL INDONESIA WORKING PAPER

BAB 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB V KONSEP PERANCANGAN DAN HASIL DESAIN

BAB V PENUTUP. Dari tinjauan dan analisa pada bab sebelumnya, maka diperoleh beberapa

Fasilitas Sinema Terpadu di Surabaya

Fasilitas Pernikahan Aquatic di Surabaya

Konsep BAB V KONSEP. 5.1 Kerangka Konsep. 5.2 Konsep Young Dynamic

BAB 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

diarahkan untuk memenuhi tujuan tersebut.


BAB I PENDAHULUAN. agama dan lain lain. Bila hal tersebut dikaji lebih jauh, akan mengandung ajaran dan

Perancangan Interior Hotel Bandung Permai di Jember

Perancangan Interior Galeri dan Diorama Soerabaja-Tempo Doeloe

BAB IV SINTESA PEMBAHASAN. yang diusung dalam sebuah konsep desain Hotel Mulia adalah luxurious

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

Perancangan Interior Museum Jakarta Fashion Week

Redesain Rumah Makan Warung Apung Rahmawati dengan Konsep Jawa Modern

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

REDESAIN INTERIOR PYRAMID RESTORAN DAN KARAOKE DI YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. tinggal, seperti ruang tidur, ruang makan, dan kamar mandi. Karena bersifat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Observasi Profil Perusahaan

PENERAPAN MATERIAL FINISHING INTERIOR KAFÉ DI TEMBALANG, SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. Makanan modern yang beredar tersebut menarik minat para generasi muda

Perancangan Interior Pub dan Bar Di Semarang

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil Perancangan Galeri Seni Dwi Matra di Batu merupakan aplikasi dari

KLINIK ULTRAMODERN Penulis : Imelda Anwar Fotografer : M. Ifran Nurdin

BAB I PENDAHULUAN. merilekskan pikiran dan tubuh dari kesibukan mereka sehari-hari seperti tempat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

LATAR BELAKANG MASALAH

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Gaya dari perancangan interior Museum permainan tradisional Jakarta ini mengarah pada gaya

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Hotel Resor dan Wisata Budidaya Trumbu Karang di Pantai Pasir Putih Situbondo

BAB V PENUTUP. Gambar V.1 Aplikasi Ide (Sumber : Penulis) commit to user

Perancangan Interior Pusat Rekreasi Indoor Green Park di Surabaya

Transkripsi:

JURNAL INTRA Vol. 2, No. 2, (2014) 494-498 494 Perancangan Interior Lobby, Art & Craft Café di Hotel Allson City Makassar Christina dan Sriti Mayang Sari Program Studi Desain Interior, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya E-mail: Chandra.christina@rocketmail.com ; Sriti@peter.petra.ac.id Abstrak Perkembangan parwisata, bisnis retail kerajinan tangan dan kafe di Indonesia semakin pesat. Hal ini meningkatkan permintaan kafe, retail dan hotel. Namun, di kota Makassar belum terdapat hotel, kafe dan retail yang tergabung menjadi satu tempat. Oleh karena itu, hal ini menjadi ide dalam perancangan lobby, art & craft café Hotel Allson City di Makassar. Tujuan perancangan adalah memberikan informasi mengenai budaya setempat pada masyarakat lokal maupun turis mancanegara dengan pengaplikasian konten lokal pada perancangan ini. Perancangan ini berkonsep Live in Art, yaitu berada dalam karya seni. Pemilihan konsep menggunakan gaya postmodern yang mengadopsi konten lokal menjadi lebih modern tanpa meninggalkan ciri khasnya. Penerapan ciri khas seperti simbol, stilasi bentukan tongkonan, penggunaan warna dominan merah, kuning, putih dan hitam diadopsi dari budaya Toraja. Pengaplikasian konten lokal tersebut pada perancangan ini, mencakup area lobby yang merupakan wajah hotel, kafe sebagai area bersantai pada hotel, serta retail art & craft yang menjadi area penjualan karya seni budaya setempat. Dengan adanya penerapan konten lokal yang dikemas lebih modern pada perancangan ini, diharapkan dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung, dan melestarikan budaya lokal. Kata Kunci Interior Lobby Hotel, Kafe, Budaya Toraja. Abstract The expansion of tourism district, art and craft business and café in Indonesia are moving vastly. This increase the demand of café, retail and commercial hospitality. However, Makassar has not develop hotel, café, and retail in a joined venture. Thus, it become the idea into design proposal of Art & Craft Café and Lobby of Allson City Hotel in Makassar. The aim of the design is to inform local and international visitors regarding the local culture by applying local content into the space. The proposal is themed Live in Art, which translated literally as living into the art. The chosen concept is using postmodernism style which adopt the local art content into a contemporary design without leaving its character. The usage of local characteristics are including symbols and ornament of tongkonan, dominance of red, yellow, black and white which were adapted from Toraja culture. The application of local content into the proposal is including lobby area, which is the icon of the hotel, café, as the lounge for visitors, and art and craft retail to support local arts. By applying local content that is modified with contemporary touch, designer aim to give its appeal for visitors whilst to prolong the local culture. Keyword Interior Hotel Lobby, Café, Toraja Culture. D I. PENDAHULUAN EWASA ini, perkembangan pariwisata, bisnis retail kerajinan tangan dan kafe di Indonesia semakin pesat. Hal ini meningkatkan permintaan terhadap kafe, retail dan hotel. Pada awalnya kafe hanya berfungsi sebagai kedai kopi, namun seiring dengan perkembangan zaman, kafe telah diaplikasikan dengan banyak konsep, diantaranya sebagai tempat menikmati hidangan, berkumpul, hingga meeting. Kafe cenderung mengutamakan hiburan yang disajikan dan kenyamanan pelanggan dalam menikmati hidangan dan variasi menu yang diutamakan. Lobby merupakan bagian utama yang menjadi wajah dari hotel. Sebuah lobby sebaiknya dirancang dengan lapang yang dapat terhubung secara visual dan fisik ke area rekreatif. Ketika seorang tamu memasuki area lobby, sebuah desain harus jelas dan menegaskan organisasi dengan fungsi yang berbeda di sana. Desain yang harus diperhatikan pada lobby adalah pada bagian akustik, pencahayaan, tempat duduk dan dekorasi. Indonesia saat ini merupakan sasaran pariwisata oleh turis, baik lokal mau pun mancanegara yang gemar mengoleksi art & craft dari setiap tempat yang di kunjungi sebagai cinderamata. Tingginya permintaan pasar akan pariwisata tiap daerah, meningkatkan jumlah permintaan terhadap bendabenda art & craft dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Art & craft shop merupakan tempat untuk memamerkan dan menjual hasil-hasil karya seni daerah dan juga bahan serta alat untuk membuat karya seni. Banyak pengunjung biasanya tertarik untuk datang dan melihat lalu membeli pernak-pernik sehingga art shop ini pun dapat menjadi satu bagian yang bisa memberikan daya tarik bagi pengunjung. Kekayaan unsur-unsur kebudayaan di Indonesia, meliputi berbagai macam bahasa, suku bangsa, agama atau kepercayaan, adat istiadat dan kesenian tradisional yang menjadikan Indonesia disebut sebagai negara multi kultural. Salah satunya adalah daerah Sulawesi Selatan yang didiami oleh empat kelompok etnis sebagai penduduk asli, yaitu: Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Toraja terkenal dengan ritual adat, rumah adat Tongkonan yang berarti duduk, serta hiasan ukiran kayu yang mengambil beberapa warna dominan merah, kuning dan hitam. Toraja sangat terkenal dengan hasil tani berupa biji kopi.

JURNAL INTRA Vol. 2, No. 2, (2014) 494-498 495 Sulawesi Selatan juga memiliki beberapa adat istiadat dan budaya lain selain Toraja. Realitanya, saat ini memang terdapat berbagai macam hotel, kafe dan tempat menjual kerajinan khas Sulawesi Selatan di daerah Makassar yang merupakan ibukota Sulawesi Selatan. Namun, kesan tradisional tidak didapatkan pada tempat tersebut, karena telah dibangun dengan desain modern. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman dan kehidupan serba modern. Walaupun di era modern, harus diupayakan adanya penerapan konten lokal dalam desain. Beberapa fakta yang telah dipaparkan di atas, seharusnya Indonesia khususnya Makassar memiliki tempat yang menyuguhkan penginapan, tempat penjualan barang kerajinan dan kafe yang masih memiliki nuansa daerah untuk menjawab kebutuhan pasar saat ini. Jarangnya ditemukan tempat yang menjual barang kerajinan daerah yang tergabung dalam kafe dan hotel, perancangan interior Lobby, Café Art & Craft di Hotel Allson City tentunya akan menjadi solusi dari permasalahan para pencinta dan penikmat budaya Indonesia, khususnya di kota Makassar. Rumusan masalah perancangan ini adalah bagaimana merancang interior lobby, kafe dan retail art & craft dengan memadukan konten lokal yang dikemas lebih modern dalam hotel allson city di Makassar? Tujuan perancangan interior lobby, art & craft café di hotel allson city Makassar adalah memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat dan turis lokal maupun mancanegara. II. METODE PERANCANGAN A. Survey Lokasi dan Data Lapangan Peninjauan lokasi perancangan dan mengumpulkan data-data mengenai bangunan tersebut, seperti data-data nonfisik maupun data fisik. Data-data yang diperlukan adalah layout bangunan, tampak potongan bangunan, kepemilikan bangunan, analisa tapak luar bangunan dan sebagainya. Pemilihan lokasi harus pada area strategis dan berada di kota Makassar. Lokasi strategis yang dimaksudkan adalah berada pada pusat kota yang dapat di akses dengan mudah. Luas site perancangan adalah lebih dari 1.000m². B. Pengumpulan Data Tipologi Setelah pengumpulan data literatur dan peninjauan lokasi perancangan, maka akan dibutuhkan data tipologi. Data tipologi adalah pengumpulan data-data dari objek sejenis yang dapat dijadikan pembanding dalam merancang sesuatu. Data tipologi yang dipakai adalah café bistropolis, bangi kopitiam, dan toko serba oleh-oleh. Tempat-tempat yang dijadikan pembanding memiliki kekurangan dan kelebihan masingmasing, sehingga dari data tipologi ini akan dimanfaatkan untuk menciptakann perancangan yang lebih baik. C. Analisis Data Data-data yang diperoleh dikelompokkan, serta akan dilakukan pengolahan pada data-data tersebut sehingga akan tampak masalah-masalah yang akan terjadi pada perancangan. Dari pengolahan data maka dapat menghasilkan solusi-solusi dari masalah yang ada dan apa saja yang dibutuhkan dalam perancangan, seperti: karakteristik ruang, hubungan antar ruang, sirkulasi, besaran ruang dan zoning grouping. Semua ini akan termasuk dalam programming, yang merupakan tahap awal dalam perancangan ini. D. Penentuan Konsep Desain Perancangan akan mulai menentukan konsep yang ingin diterapkan pada perancangan ini setelah terkumpulnya data dan pemecahan masalah. Konsep merupakan sebuah ide dasar dalam pemecahan masalah desain yang akan digunakan sebagai acuan dalam mendesain. Konsep akan menghasilkan pembatasan desain, penentuan bentukan, suasana, perilaku pengguna dan sirkulasi ruang dalam desain. Dalam perancangan lobby, art & craft café di hotel allson city Makassar, konsep yang akan diangkat adalah live in art yang berarti berada dalam karya seni. E. Skematik Desain Skematik desain merupakan tahapan awal pada proses perancangan yang akan menghasilkan ide-ide dasar perancangan. Skematik desain berupa sketsa-sketsa awal, meliputi sketsa perabot hingga sketsa ruang. Sketsa yang tercipta merupakan solusi awal pemecahan masalah terhadap hubungan pengguna dengan ruang dan kebutuhan ruang. Sketsa awal dapat berupa sketsa layout, sketsa perabot, pola lantai, pola plafon, main entrance,dan perspektif ruang yang akan menunjukkan suasana ruang. F. Gambar Kerja Desain Akhir Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam perancangan. Ide dan desain dalam skematik akan dikembangkan dan diaplikasikan ke dalam gambar kerja desain akhir. Gambar kerja desain akhir dikerjakan lebih detail dengan pemberian keterangan, ukuran, hingga material finishing. Gambar kerja disajikan secara menarik dengan ukuran yang proporsional sehingga mampu dimengerti oleh kontraktor yang akan menangani pembangunan. III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Konsep dan Perancangan Konsep desain perancangan interior Lobby, Art & Craft Café di Hotel Allson City Makassar adalah Live in Art yang berarti berada dalam desain. Live in Art merupakan konsep yang berdasar pada budaya daerah setempat yang kemudian dikemas secara modern. Dalam perancangan ini, perancang ingin memaksimalkan fungsi suatu hotel agar dapat mengangkat kebudayaan setempat dengan menggabungkan café dan art & craft shop. Dimana diketahui bahwa hotel merupakan tempat persinggahan para turis lokal maupun mancanegara sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya daerah setempat. Kemampuan untuk mewadahi hasil karya kerajinan budaya pengrajin setempat agar dapat memasarkan karyanya pada art & craft shop yang berada didalam hotel tentunya akan menjadi daya tarik bagi turis.

JURNAL INTRA Vol. 2, No. 2, (2014) 494-498 496 Material elemen interior yang digunakan dalam perancangan, antara lain: 1) Lantai kayu dikagumi karena berkesan hangat, tampak alami, dan menyatu dengan daya tarik kenyamanan, kelenturan dan durabilitasnya, lantai kayu juga mudah perawatannya dan jika rusak, dapat diperbaiki kembali atau diganti [2]. 2) Keramik sangat berkembang saat ini, biasanya digunakan sebagai material dinding, lantai maupun plafon. Penggunaan keramik dominan sebagai lantai kamar mandi dan dapur. Kelebihan dari bahan keramik adalah sangat mudah dibersihkan dari debu dan cairan, serta lebih tahan pada benturan. Sedangkan kekurangan dari bahan keramik adalah mudah memantulkan bunyi, licin, dan sulit untuk diperbaiki. Keramik terbagi atas beberapa jenis diantaranya keramik berbahan dasar tanah liat, kaca, porselen, batu, dan granit [2]. 3) Dinding berwarna terang memantulkan cahaya secara efektif dan dapat dipakai sebagai latar belakang untuk elemenelemen yang ada di depannya. Warna-warna terang dan hangat pada dinding menimbulkan kesan hangat, sedangkan warnawarna terang dan dingin meningkatkan kesan besarnya ruang. Sedangkan dinding berwarna gelap menyerap cahaya, membuat ruang lebih sulit diterangi, dan menimbulkan kesan tertutup, intim [2]. C. Layout Pola Lantai Lobby, Art & Craft Café di Hotel Allson City Makassar Gambar 2.Lzyout Lobby, Art & Craft Café di Hotel Allson City Gambar 3.Pola Lantai Lobby, Art & Craft Café di Hotel Allson City Perancangan ini menggunakan pola sirkulasi linear bercabang dengan satu pintu masuk dan keluar. Setelah melewati pintu masuk, maka alur sirkulasi akan menyebar sesuai dengan tujuan pengunjung. Area ruangan dikelompokkan dengan menyesuaikan alur pengguna, sehingga seluruh ruang dapat diakses oleh pengguna ruang. Gambar 1.Konsep Desain Pengaplikasian konsep dalam perancangan adalah dalam bentukan perabot dan elemen interior serta penerapan warna khas budaya daerah setempat. D. Perspektif Lobby, Art & Craft Café di Hotel Allson City Makassar B. Batasan Perancangan Beberapa hal yang menjadi batasan perancangan, adalah sebagai berikut: 1) Lobby hotel yang merupakan ruang utama dalam hotel. 2) Art & Craft Café yang merupakan area resto dan area penjualan hasil karya seni kebudayaan setempat. 3) Kitchen dan Office yang merupakan area dimana para karyawan hotel maupun café bekerja sehari-hari. Gambar 4.Perspektif Lobby di Hotel Allson City Lobby merupakan bagian utama yang menjadi wajah hotel tersebut. Sebuah lobby sebaiknya dirancang dengan lapang yang dapat terhubung secara visual dan fisik ke area rekreatif. Perancangan sebuah lobby tidak hanya

JURNAL INTRA Vol. 2, No. 2, (2014) 494-498 497 memperhatikan segi standar umum hotel dan pola aktivitas pengunjung, namun juga segi fasilitas. Pada area lobby perancangan ini, penggunaan materialmaterial seperti kayu, stainless, dan warna-warna yang mencerminkan ciri khas budaya Toraja yaitu hitam, merah, kuning dan putih. Mengaplikasikan ukiran khas budaya Toraja yang dikemas dengan stainless sehingga terlihat lebih modern. Gambar 5.Perspektif Area Receptionist di Hotel Allson City Area resepsionis. Lokasi resepsionis harus dapat dilihat oleh tamu yang masuk dan staf resepsionis harus mampu melihat dan mengontrol arah masuknya pengunjung. Pengaplikasian warna kayu yang hangat, serta warna hitam dan merah sebagai aksen pada ruang resepsionis memberikan kesan nyaman dan hangat bagi pengunjung. Gambar 6.Perspektif Area Shop di Hotel Allson City Art shop merupakan tempat untuk memamerkan dan menjual hasil-hasil karya seni dan juga bahan dan alat untuk membuat karya seni. Banyak pengunjung biasanya tertarik untuk datang dan melihat lalu membeli pernak-pernik sehingga art shop ini pun dapat menjadi satu bagian yang bisa memberikan daya tarik bagi pengunjung. Pada perancangan ini, penggunaan warna kayu dengan finishing hpl serta aksen stainless dalam ruangan memberikan kesan modern dan hangat dalam ruang. Kesederhanaan warna perabot dapat membuat karya kerajinan menjadi aksen dalam ruang.

JURNAL INTRA Vol. 2, No. 2, (2014) 494-498 498 Gambar 7.Perspektif Area Café di Hotel Allson City Secara umum kafe merupakan suatu tempat yang menyediakan makanan dan minuman yang menyerupai restoran dalam sistem pelayanan pengunjung, yang dapat digunakan sebagai tempat santai dan ngobrol sampai dihibur oleh alunan music. Kafe cenderung mengutamakan hiburan yang disajikan dan kenyamanan pelanggan dalam menikmati hidangan maupun rasa dan variasi menu yang diutamakan [4]. Restoran kecil yang melayani atau menjual makanan ringan dan minuman, kafe biasanya digunakan orang untuk rileks [1]. Restoran murah yang menyediakan makanan yang mudah dimasak atau dihidangkan kembali [3]. Pada perancangan kafe ini, pengaplikasian bentukan menyerupai tongkonan serta penggunaan warna-warna dominan khas budaya Toraja seperti merah, hitam dan kuning yang dipadukan dengan aksen stainless membuat desain menjadi lebih modern. Penggunaan material parket dan warna hangat pada dinding memberi kesan hangat dan nyaman dalam ruangan. IV. KESIMPULAN Perancangan Lobby, Art & Craft Café di Hotel Allson City Makassar ini memiliki rumusan masalah yang ingin menciptakan interior yang dapat menggabungkan budaya, kepariwisataan lokal daerah setempat yang dikemas menjadi lebih modern. Rumusan masalah ini dapat diselesaikan melalui pengaplikasian bentukan dan warna dalam elemen interior dan mebel. Dalam perancangan ini, perancang ingin memaksimalkan fungsi suatu hotel agar dapat mengangkat kebudayaan setempat dengan menggabungkan café dan art & craft shop. Dimana diketahui bahwa hotel merupakan tempat persinggahan para turis lokal maupun mancanegara sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya daerah setempat. Kemampuan untuk mewadahi hasil karya kerajinan budaya pengrajin setempat agar dapat memasarkan karyanya pada art & craft shop yang berada didalam hotel tentunya akan menjadi daya tarik bagi masyarakat setempat, turis lokal maupun mancanegara. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis Christina mengucapkan terima kasih kepada Dra. Sriti Mayang Sari, M.Sn., selaku pembimbing I dan Dodi Wondo, Dipl.Ing., selaku pembimbing II atas bimbingannya dalam penyelesaian jurnal ilmiah ini. DAFTAR PUSTAKA [1] Advanced American Dictionary. England: Longman, 2003. [2] Ching, Francis D.K. Arsitektur: Bentuk, Ruang dan Tatanan. Trans Hanggan Situmorang. Jakarta: Erlangga, 2008 [3] Hanks, Patrick. New Oxford Thesaurus of English. New York: Oxford University, 2000. [4] Neufret, Ernst. Data Arsitek Jilid 2. Jakarta: Erlangga, 2002. [5] Sugono, Dendy. Kamus Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2004.