Bab IV Hasil dan Pembahasan

dokumen-dokumen yang mirip
4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan

Bab III Metodologi Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4 Hasil dan Pembahasan

Metode Pengukuran Spektrofotometri (Bergmeyer et al. 1974) Pembuatan Media Heterotrof Media Heterotrof Padat. Pengaruh ph, Suhu, Konsentrasi dan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Enzim α-amilase dari Bacillus Subtilis ITBCCB148 diperoleh dengan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2012 sampai bulan Desember 2012 di

TESIS. TUNJUNG MAHATMANTO NIM: Program Studi Kimia

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

3 Metode Penelitian Alat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Hasil pengukuran Nilai OD pada Media NB. Tabel 1. Pengukuran Nilai OD pada Media NB. Waktu OD (Optical Density)

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2012 sampai dengan bulan Juni 2012 di

Ekstraksi dan Pengujian Aktivitas Enzim Amilase (Hidrolisis Pati secara Enzimatis)

KINETIKA REAKSI ENZIMATIS

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juli sampai September 2012,

HASIL DAN PEMBAHASAN. pertumbuhan dan kurva produksi yang menunjukkan waktu optimum produksi xilitol.

3 Percobaan. 3.1 Tempat dan Bahan Penelitian. 3.2 Peralatan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Pertumbuhan dan Peremajaan Isolat Pengamatan Morfologi Isolat B. thuringiensis

BAB III METODE PENELITIAN. dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol

4 Hasil dan Pembahasan

UJI KUALITATIF ETANOL YANG DIPRODUKSI SECARA ENZAMATIS MENGGUNAKAN Z. MOBILIS PERMEABEL

ABSTRAK. Kata Kunci : Amilase, Zea mays L., Amonium sulfat, Fraksinasi, DNS.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-November 2012 di

Asam laktat (%)= V1 N BE FP 100% V2 1000

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim Protease dari Penicillium sp.

dimana a = bobot sampel awal (g); dan b = bobot abu (g)

Lampiran 1 Prosedur uji aktivitas protease (Walter 1984, modifikasi)

Pertumbuhan Total Bakteri Anaerob

dari reaksi kimia. d. Sumber Aseptor Elektron

Air Panas. Isolat Murni Bakteri. Isolat Bakteri Selulolitik. Isolat Terpilih Bakteri Selulolitik. Kuantitatif

I. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juli 2012 di Laboratorium. Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. selulosa dan lignin yang terdapat pada dinding sel tumbuhan. Oleh karena

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia dan Laboratorium Instrumentasi

METODE PENELITIAN. Penelitian ini di laksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

4. PENGARUH FAKTOR FISIKOKIMIA TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI DAN ATAU PEMBENTUKAN PIGMEN

Lampiran 1. Analisis Kadar Pati Dengan Metode Luff Schroll (AOAC, 1995)

III. BAHAN DAN METODE

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-November 2013 di Laboratorium

Sampel air panas. Pengenceran 10-1

Effect of ammonium concentration on alcoholic fermentation kinetics by wine yeasts for high sugar content

Protein ENZIM Mempercepat reaksi dengan jalan menurunkan tenaga aktivasi Tidak mengubah kesetimbangan reaksi Sangat spesifik

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kurva Kalibrasi Larutan Standar Bovine Serum Albumine (BSA) Absorbansi BSA pada berbagai konsentrasi untuk menentukan kurva standar protein yaitu:

BAB III METODE PENELITIAN. yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Enzim adalah produk protein sel hidup yang berperan sebagai biokatalisator

III. METODE PENELITIAN. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Februari Oktober. penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia Universitas Lampung.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Isolat Lumpur Aktif Penghasil Bioflokulan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pemotongan hewan Pacar Keling, Surabaya. dengan waktu pengamatan setiap 4 jam

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

Lampiran 1. Prosedur Analisis Karakteristik Pati Sagu. Kadar Abu (%) = (C A) x 100 % B

PRODUKSI ENZIM AMILASE

BAB V. PEMBAHASAN. 5.1 Amobilisasi Sel Lactobacillus acidophilus FNCC116. Amobilisasi sel..., Ofa Suzanti Betha, FMIPA UI, 2009

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2014 Mei 2015 di. Laboratorium Mikrobiologi FMIPA Universitas Lampung.

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN

IV. Hasil dan Pembahasan

I. PENDAHULUAN. Ubi jalar (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu hasil pertanian yang

Pembiakan dan Pertumbuhan Bakteri

pembentukan vanilin. Sedangkan produksi glukosa tertinggi dihasilkan dengan penambahan pektinase komersial. Hal ini kemungkinan besar disebabkan

II. METODOLOGI C. BAHAN DAN ALAT

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-November Penelitian ini

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. pengepresan (Abbas et al., 1985). Onggok yang dihasilkan dari proses pembuatan

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-Mei 2015 di Laboratorium

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TEKNIK FERMENTASI (FER)

TINJAUAN PUSTAKA. memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif seperti hewan. Inti

IV PEMBAHASAN. 4.1 Kandungan Protein Produk Limbah Udang Hasil Fermentasi Bacillus licheniformis Dilanjutkan oleh Saccharomyces cereviseae

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. AKTIVITAS KUALITATIF ENZIM KITINOLITIK (INDEKS KITINOLITIK)

DEPARTEMEN BIOLOGI FMIPA USU LAMPIRAN

LAPORAN PRAKTIKUM PERSIAPAN MEDIA DAN STERILISASI OLEH : : RITA ANGGREANI WIDIASTUTI NIM : D1C KELOMPOK : IV KELAS : TPG-A 2014

4 Hasil dan Pembahasan

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

FAKULTAS BIOLOGI LABORATORIUM GENETIKA & PEMULIAAN INSTRUKSI KERJA UJI

BAB III METODE PENELITIAN. adalah Bacillus subtilis dan Bacillus cereus yang diperoleh di Laboratorium

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

ISOLASI DAN PENGUJIAN AKTIVITAS ENZIM α AMILASE DARI Aspergillus niger DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA CAMPURAN ONGGOK DAN DEDAK

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

TINJAUAN PUSTAKA. Fitoplankton adalah alga yang berfungsi sebagai produsen primer, selama

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS. A.1. Pengujian Daya Serap Air (Water Absorption Index) (Ganjyal et al., 2006; Shimelis el al., 2006)

Dari uji kompetisi, persentase penghambatan dengan rasio inokulum 1:1 sudah cukup bagi Bacillus sp. Lts 40 untuk menghambat pertumbuhan V.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2013 di

Isolasi dan Perbaikan. Kultur. Rancang Media. Rancang Media 3/3/2016. Nur Hidayat Materi Kuliah Mikrobiologi Industri

PEMANFAATAN TETES TEBU (MOLASES) DAN UREA SEBAGAI SUMBER KARBON DAN NITROGEN DALAM PRODUKSI ALGINAT YANG DIHASILKAN OLEH BAKTERI

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitianini dilaksanakandaribulanagustus - Desember 2015 di

LAMPIRAN. Lampiran 1. Foto Lokasi Pengambilan Sampel Air Panas Pacet Mojokerto

1 ml enzim + 1 ml larutan pati 1% (dalam bufer) Diinkubasi (suhu optimum, 15 menit) + 2 ml DNS. Dididihkan 5 menit. Didinginkan 5 menit

Pokok Bahasan III PERTUMBUHAN MIKROBIA DALAM BIOREAKTOR

II. TINJAUAN PUSTAKA. : Volvocales. : Tetraselmis. Tetraselmis sp. merupakan alga bersel tunggal, berbentuk oval elips dan memiliki

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4 Isolat-isolat yang diisolasi dari lumpur aktif.

3 Metodologi Percobaan

III. METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari - April 2015 di Laboratorium

Analisis Nitrit Analisis Chemical Oxygen Demand (COD) HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi dan Identifikasi Bakteri

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. enzim selulase dari campuran kapang Trichoderma sp., Gliocladium sp. dan Botrytis

Karakteristik Biologis Tanah

BAB IV Pemilihan Jamur untuk Produksi Lakase

Transkripsi:

22 Bab IV Hasil dan Pembahasan α-amilase (E.C 3.2.1.1) merupakan salah satu enzim hidrolitik yang memegang peranan penting di dalam industri. Hidrolisis langsung dari pati mentah secara enzimatis dibawah suhu gelatinisasi sangat diperlukan untuk menekan konsumsi energi di dalam industri yang berbasis pati. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan ini adalah mencari α-amilase baru yang memiliki kemampuan dalam mendegradasi pati mentah. Studi terhadap α-amilase dari bakteri laut Vibrio sp. SFNB 3 mengindikasikan bahwa enzim ini mampu menghidrolisis pati mentah jagung. IV.1 Kurva Pertumbuhan dan Aktivitas α-amilase Vibrio sp. SFNB 3 Kultur Vibrio sp. SFNB 3 diremajakan di dalam media agar Marine Broth (MB) dengan komposisi 0,25% (w/v) pepton, 0,05% (w/v) ekstrak ragi, 1,5% (w/v) bakto agar, 0,1% (w/v) pati dan air laut. Pepton dan ekstrak ragi merupakan sumber nitrogen organik yang berfungsi sebagai makronutrien penting untuk pertumbuhan sel. Selain itu, sumber nitrogen organik seperti pepton dan ekstrak ragi telah banyak dilaporkan meningkatkan produksi α-amilase. Pati, selain sebagai makronutrien yang penting untuk pertumbuhan sel, juga berperan sebagai sumber karbon penginduksi α-amilase (Brock et al., 1994; Gupta et al., 2003). Air laut merupakan sumber dari berbagai ion garam penting, terutama Na + yang vital diperlukan untuk pertumbuhan Vibrio sp. (Farmer and Brenner, 2006). Selain itu, keberadaan ion garam seperti Na +, Ca 2+, dan Mg 2+ di dalam media pertumbuhan telah dilaporkan dapat meningkatkan produksi α-amilase (Gupta et al., 2003: Sivaramakrishnan et al., 2006). Inokulum dibuat dari kultur Vibrio sp. SFNB 3 yang telah diremajakan. Sebanyak satu ose kultur diinokulasikan secara aseptik ke dalam erlenmeyer yang berisi MB cair (MB tanpa bakto agar) steril dan diinkubasi pada 30 o C, 150 rpm selama 16 jam. Kondisi inkubasi mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan sel. Vibrio sp. diketahui dapat tumbuh dengan baik pada suhu 30 o C (Farmer and

23 Brenner, 2006). Intensitas agitasi mempengaruhi pencampuran dan laju transfer oksigen di dalam media. Pada umumnya, intensitas agitasi dibawah 300 rpm dipergunakan untuk produksi α-amilase seperti telah banyak dilaporkan (Gupta et al., 2003). Setelah inkubasi selama 16 jam, 1% (v/v) inokulum dipindahkan secara aseptik ke dalam labu erlenmeyer yang berisi MB cair steril dan diinkubasi pada kondisi yang sama selama 24 jam. Sebanyak 3 ml sampel diambil secara aseptik pada jam ke-0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, dan 24. OD sampel diukur pada λ 600 nm dengan menggunakan spektrofotometer. Pengukuran OD sampel pada λ tertentu merupakan salah satu cara mempelajari fenomena pertumbuhan sel. Pendekatan eksperimental ini merupakan studi pertumbuhan pada tingkat populasi. Peningkatan jumlah individu atau ukuran populasi digunakan sebagai ukuran pertumbuhan sel. Untuk uji aktivitas α-amilase, tiap sampel pada interval waktu diatas disentrifuga 12.500 rpm selama 10 menit pada 4 o C. Supernatan dipisahkan dari pelet sel dan aktivitas α-amilase ditentukan dengan menggunakan metode DNS. Metode DNS didasarkan pada reaksi reduksi gugus nitro pada posisi 3 dari asam 3,5- dinitrosalisilat dan oksidasi gugus aldehida dari gula pereduksi. Produk dari reaksi ini adalah asam 3-amino-5-nitrosalisilat yang memberi serapan maksimum pada λ 500 nm. Nilai absorbansi yang didapatkan berbanding lurus dengan jumlah gula pereduksi yang terdapat di dalam sampel. Kurva pertumbuhan dan aktivitas α-amilase yang dihasilkan dari Vibrio sp. SFNB 3 diberikan dalam Gambar IV.1. Seperti tampak dalam Gambar IV.1, kurva pertumbuhan Vibrio sp. SFNB 3 mengikuti empat fase yang jelas, berturut-turut yaitu fase lag, log, stasioner, dan kematian. Fase lag terjadi pada jam ke-0 hingga jam ke-2 dan berlangsung segera setelah inokulum diinokulasikan ke dalam media segar. Fase lag merupakan periode adaptasi, saat inokulum mengenali konstituen mikromolekul maupun makromolekul dari lingkungan yang ditempatinya dan mungkin melakukan sintesis enzim, protein atau komponen-komponen struktural sel. Saat fase lag, massa atau volume sel dapat berubah tanpa terjadi perubahan jumlah sel (Judoamidjojo dkk., 1990). Rentang waktu fase lag dipengaruhi oleh

24 beberapa faktor seperti volume inokulum, waktu yang diperlukan untuk pulih dari kerusakan fisik atau goncangan saat transfer inokulum, dan waktu untuk sintesis koenzim-koenzim esensial atau faktor-faktor pembelahan atau enzim-enzim yang vital dalam proses metabolisme. 3,0 70 OD Sel 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 0,0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 24 60 50 40 30 20 10 0 Aktivitas Amilase (U/mL) Jam ke- OD Sel Aktivitas Amilase Gambar IV.1. Kurva pertumbuhan dan aktivitas α-amilase Vibrio sp. SFNB 3 Fase pertumbuhan eksponensial atau fase log ditandai dengan peningkatan massa sel secara cepat. Fase log dari Vibrio sp. SFNB 3 dimulai pada jam ke-2 dan berlangsung selama 4 jam. Fase log merupakan periode pertumbuhan seimbang atau status mantap dengan laju pertumbuhan spesifik yang konstan. Konsumsi nutrien dan produksi zat-zat metabolik selama fermentasi akan menyebabkan perubahan komposisi kimiawi media fermentasi. Sebagai akibatnya, lingkungan sel akan berada pada suatu status yang mantap (Judoamidjojo dkk., 1990). Pada akhir fase log, laju pertumbuhan akan menurun karena berkurangnya nutrien esensial dan adanya hambatan oleh peningkatan produk metabolit. Fase stasioner terjadi bila semua sel berhenti membelah diri. Meskipun pertumbuhan bersih telah terhenti, proses metabolisme di dalam sel dan penimbunan produk di dalam cairan fermentasi mungkin masih berlangsung (Judoamidjojo dkk., 1990). Fase stasioner dari Vibrio sp. SFNB 3 berlangsung sangat singkat dari jam ke-6 hingga jam ke-8 dan langsung diikuti dengan fase kematian.

25 IV.2 Produksi dan Isolasi α-amilase Dari Gambar IV.1 tampak bahwa produksi α-amilase Vibrio sp. SFNB 3 berlangsung seiring dengan pertumbuhan selnya. Sintesis enzim yang mengikuti pertumbuhan sel merupakan tipe sintesis growth associated. Setelah jam ke-12, α- amilase masih memiliki aktivitas yang tinggi dan relatif stabil hingga jam ke-24. Produksi α-amilase dilakukan dengan cara seperti telah dijelaskan di dalam sub bab III.3.3. Sebanyak 500 ml MB cair digunakan untuk produksi α-amilase dari Vibrio sp. SFNB 3. Panen produksi α-amilase dilakukan pada jam ke-24. Ekstrak kasar α-amilase yang didapat dari panen produksi berjumlah 450 ml dan memiliki aktivitas spesifik 11 U/µg. Satu unit aktivitas enzim didefinisikan sebagai jumlah enzim yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 µmol glukosa tiap menit di bawah kondisi uji. Isolasi α-amilase dari ekstrak kasar dilakukan menggunakan pati mentah jagung. Metode isolasi ini mengikuti metode yang dilaporkan Najafi and Kembhavi (2005) dengan sedikit modifikasi seperti telah dijelaskan di dalam sub bab III.3.4. Isolasi α-amilase menggunakan pati mentah jagung memberi yield sebesar 30%. Dari 450 ml ekstrak kasar diperoleh 50 ml α-amilase dengan tingkat kemurnian 2 kali lipat. Aktivitas spesifik α-amilase hasil isolasi adalah 21 U/µg. Ringkasan hasil isolasi α-amilase dari Vibrio sp. SFNB 3 diberikan dalam Tabel IV.1. Tabel IV.1. Ringkasan hasil isolasi α-amilase dari Vibrio sp. SFNB 3 Tahap Isolasi Aktivitas Total (U) Total Protein (µg) Aktivitas Spesifik (U/µg) Yield (%) Tingkat Kemurnian (kali lipat) Supernatan 17575 1668 11 Afinitas Pati 5275 253 21 30 2 Profil α-amilase pada tiap tahap isolasi dipelajari dengan elektroforesis gel poliakrilamid yang diikuti dengan pewarnaan menggunakan iodin seperti telah dijelaskan di dalam sub bab III.3.15. Pewarnaan iodin merupakan salah satu metode untuk mendeteksi aktivitas α-amilase. Pati akan membentuk kompleks berwarna biru pekat dengan iodin. Reaksi iodin-pati disebabkan oleh adanya

26 heliks amilosa dan iodin dalam bentuk I 3- yang mengisi inti heliks. Hidrolisis pati secara progresif oleh α-amilase akan menyebabkan kompleks pati-iodin terurai sehingga tidak terbentuk warna (Gupta et al., 2003; Koolman and Roehm, 2005). Hasil native PAGE-zymogram dari supernatan yang dikumpulkan pada tiap tahap isolasi diberikan dalam Gambar IV.2A. Gambar IV.2. Native PAGE-zymogram (A) dan SDS PAGE-silver staining (B) dari sampel dalam tiap langkah isolasi. Ekstrak kasar α-amilase (lajur A1 dan B2), supernatan α-amilase yang tidak terikat pati mentah jagung (lajur A2 dan B3), supernatan hasil pencucian 0,5 M NaCl selama 5 menit (lajur A3), supernatan α-amilase yang terikat pati mentah jagung setelah aktivasi pada suhu 50 o C, 75 rpm selama 30 menit (lajur A4 dan B4), Promega Broad Range Protein Molecular Weight Marker (lajur A1). Seperti tampak dalam Gambar IV.2A, terdapat lebih dari satu pita pada lajur A1 untuk sampel ekstrak kasar α-amilase. Hal ini mengindikasikan bahwa Vibrio sp. SFNB 3 menghasilkan lebih dari satu macam α-amilase. Isolasi menggunakan pati mentah jagung berhasil memisahkan satu α-amilase dari yang lain. Massa molekul dari α-amilase hasil isolasi ditentukan dengan SDS PAGE seperti telah dijelaskan di dalam sub bab III.3.17. Teknik native PAGE tidak dapat digunakan untuk menentukan massa molekul dari protein karena mobilitas protein

27 di dalam gel dipengaruhi oleh muatan dan ukuran. Jika protein diperlakukan sehingga memiliki muatan yang seragam, maka mobilitas elektroforetik utamanya akan bergantung pada ukuran protein. Ketika molekul protein diberi deterjen SDS, struktur protein akan terbuka dan menghasilkan rantai polipeptida lurus yang diselubungi oleh molekul SDS yang bermuatan negatif (Boyer, 2000). α-amilase hasil isolasi dilarutkan di dalam buffer sampel yang tidak mengandung merkaptoetanol agar ikatan disulfida yang membentuk struktur α-amilase hasil isolasi tidak terputus sehingga dapat direnaturasi. Pada SDS PAGE, gel diwarnai dengan metode silver staining. Pewarnaan dengan perak didasarkan pada reduksi ion perak yang terikat pada rantai samping asam amino (Sambrook and Russel, 2001). Dari hasil SDS PAGE-silver staining (Gambar IV.2B) diketahui bahwa massa molekul α-amilase hasil isolasi adalah sekitar 51 kda. Jika dibandingkan dengan massa molekul α-amilase mikrobial yang lain, massa molekul α-amilase hasil isolasi dari Vibrio sp. SFNB 3 termasuk ke dalam rata-rata massa molekul kebanyakan α-amilase mikrobial, yaitu antara 50-60 kda (Gupta et al., 2003). IV.3 Suhu Optimum α-amilase Hasil Isolasi Suhu optimum untuk aktivitas α-amilase terkait dengan pertumbuhan mikroba sumber penghasil α-amilase tersebut (Gupta et al., 2003). Studi pengaruh suhu terhadap aktivitas α-amilase hasil isolasi dilakukan dengan cara seperti telah dijelaskan di dalam sub bab III.3.8. Profil suhu-aktivitas dari α-amilase hasil isolasi diberikan dalam Gambar IV.3. Seperti diperlihatkan dalam Gambar IV.3, suhu optimum untuk aktivitas α-amilase hasil isolasi dari Vibrio sp. SFNB 3 adalah 50 o C, berbeda halnya dengan α-amilase dari Vibrio sp. yang memiliki suhu optimum 60 o C seperti dilaporkan oleh Najafi and Kembhavi (2005).

28 100 Aktivitas Relatif (%) 80 60 40 20 0 0 20 40 60 80 100 120 Suhu ( o C) Gambar IV.3. Pengaruh suhu terhadap aktivitas α-amilase hasil isolasi dari Vibrio sp. SFNB 3 Hal yang menarik dari profil suhu-aktivitas untuk α-amilase hasil isolasi ini adalah rentang suhunya yang cukup lebar. Pada suhu 30, 40, dan 60 o C, α-amilase hasil isolasi mempunyai aktivitas relatif yang tinggi, yaitu sebesar 91, 98, dan 88%, berturut-turut. Selain itu, α-amilase hasil isolasi mampu mempertahankan lebih dari 50% aktivitasnya pada suhu 90 o C. IV.4 Kestabilan α-amilase Hasil Isolasi pada Suhu Optimum Studi kestabilan α-amilase hasil isolasi dari Vibrio sp. SFNB 3 dilakukan dengan cara seperti telah dijelaskan di dalam sub bab III.3.9. Dari Gambar IV.4 tampak bahwa hingga menit ke-30 α-amilase hasil isolasi mampu mempertahankan lebih dari 96% aktivitasnya. Setelah 1 jam inkubasi pada suhu optimumnya, aktivitas relatif α-amilase hasil isolasi turun menjadi 86%. Pada jam ke-2, α-amilase hasil isolasi masih mempertahankan 68% aktivitasnya, namun setelah 4 jam inkubasi α- amilase hasil isolasi kehilangan lebih dari 50% aktivitasnya. T 1 / 2 α-amilase hasil isolasi pada 50 o C adalah 194 menit.

29 100 Aktivitas Relatif (%) 80 60 40 20 0 0 30 60 90 120 150 180 210 240 Menit ke- Gambar IV.4. Stabilitas α-amilase hasil isolasi dari Vibrio sp. SFNB 3 pada 50 o C. IV.5 ph Optimum α-amilase Hasil Isolasi Penentuan ph optimum α-amilase hasil isolasi dari Vibrio sp. SFNB 3 dilakukan dengan cara seperti telah dijelaskan di dalam sub bab III.3.10. Profil ph-aktivitas α-amilase hasil isolasi diberikan dalam Gambar IV.5. 100 Aktivitas Relatif (%) 80 60 40 20 1 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 ph Gambar IV.5. Pengaruh ph terhadap aktivitas α-amilase hasil isolasi dari Vibrio sp. SFNB 3. Dari Gambar IV.5 tampak bahwa ph optimum untuk aktivitas α-amilase hasil isolasi adalah 8. Pada ph 5, 6, dan 7, α-amilase hasil isolasi memiliki aktivitas relatif sebesar 92, 87, dan 85%, berturut-turut. Pada ph 9, α-amilase hasil isolasi masih mempertahankan 50% aktivitasnya, namun pada ph 2, 3, 4, dan 10, α-

30 amilase hasil isolasi kehilangan lebih dari 50% aktivitasnya. Profil ph-aktivitas dari α-amilase hasil isolasi ini menarik, karena memiliki rentang ph yang cukup lebar dan puncak yang relatif datar. Profil ph-aktivitas dengan puncak yang datar tidak dapat dijelaskan dengan menggunakan asumsi bahwa katalisis α-amilase ditentukan oleh protonasi gugus nukleofil pada ph yang rendah dan oleh deprotonasi gugus pendonor hidrogen pada ph yang tinggi. Tahap penentu laju pada ph intermediet belum diketahui, namun diduga kuat ditentukan oleh pengikatan substrat dan pelepasan produk pada nilai ph tersebut (Nielsen et al., 2001). IV.6 Hidrolisis Pati Mentah Jagung Studi hidrolisis pati mentah jagung oleh α-amilase hasil isolasi dilakukan dengan cara seperti telah dijelaskan di dalam sub bab III.3.11. Profil hidrolisis pati mentah jagung oleh α-amilase hasil isolasi diberikan dalam Gambar IV.6. Jumlah gula pereduksi yang dihasilkan dari hidrolisis pati mentah jagung 5% (w/v) oleh α- amilase hasil isolasi pada 37 o C, 150 rpm, jam ke-24, 48, dan 72 adalah 10, 12 dan 22 mikromol, berturut-turut. Pemindaian mikroskop elektron dari permukaan pati mentah jagung yang dihidrolisis oleh α-amilase hasil isolasi setelah inkubasi pada 37 o C, 150 rpm selama 72 jam diberikan dalam Gambar IV.7. Seperti tampak dalam Gambar IV.7, permukaan granula pati mentah jagung tanpa penambahan α-amilase hasil isolasi rata tak berlubang, sedangkan permukaan granula pati mentah jagung yang diberi α-amilase hasil isolasi berlubang-lubang. Hal ini mengkonfirmasi terjadinya hidrolisis enzimatik dari pati mentah jagung oleh α-amilase hasil isolasi.

31 25 Total Gula Pereduksi (mikromol) 20 15 10 5 0 24 Jam ke- 48 72 Gambar IV.6 Profil hidrolisis pati mentah jagung 5% (w/v) oleh α-amilase hasil isolasi dari Vibrio sp. SFNB 3. Uji dilakukan pada 37 o C, 150 rpm selama 24, 48, dan 72 jam. IV.7 Mode Aksi α-amilase Hasil Isolasi Mode aksi α-amilase hasil isolasi dipelajari dengan cara seperti telah dijelaskan di dalam sub bab III.3.12. Pola produk hidrolisis pati oleh α-amilase hasil isolasi diberikan dalam Gambar IV.8. Seperti tampak dalam Gambar IV.8, α-amilase hasil isolasi menghidrolisis pati secara acak. Produk hidrolisis pada awal inkubasi didominasi oleh beberapa macam oligosakarida, yaitu maltotriosa (G3), maltoheksaosa (G6), dan maltoheptaosa (G7). Seiring berjalannya waktu inkubasi terjadi peningkatan produk maltosa (G2) dan glukosa (G1). Ini mengindikasikan bahwa α-amilase hasil isolasi merupakan amilase bertipe endo. Intensitas produk glukosa hingga maltoheptaosa (G1 G7) dari hidrolisis pati terlarut semakin meningkat setelah 48 jam inkubasi pada 50 o C. Rentang produk hidrolisis dari pati mentah jagung oleh α-amilase hasil isolasi pada 37 o C, 150 rpm adalah maltosa hingga maltoheptaosa (G2 G7). Variasi produk hidrolisis pati oleh α-amilase ditentukan oleh struktur sisi pengikatan substrat, jumlah subsisi di dalam sisi aktif, dan posisi substrat di dalam sisi aktif. Tiap subsisi di dalam sisi aktif berinteraksi dengan satu unit monomer dari substrat sehingga posisi substrat di dalam sisi aktif akan menentukan jenis produk yang dihasilkan serta frekuensi dihasilkannya produk tersebut (Kandra, 2003).

32 Gambar IV.7 SEM permukaan pati mentah jagung. Inkubasi dilakukan pada 37 o C, 150 rpm, 72 jam tanpa penambahan α-amilase hasil isolasi (A) dan dengan penambahan α-amilase hasil isolasi (B). Skala perbesaran diindikasikan di dalam tiap gambar.

33 Gambar IV.8. Kromatogram produk hidrolisis oleh α-amilase hasil isolasi dari Vibrio sp. SFNB 3. G1, G2, G3, G4, G5, G6, G7 berturut-turut: glukosa, maltosa, maltotriosa, maltotetraosa, maltopentaosa, maltoheksaosa, maltoheptaosa. 1: marker, 2, 3, 4, 5, 6, 7 berturut-turut: produk hidrolisis pati terlarut menit ke-30, jam ke-1, 2, 4, 24, 48. 8, 9, 10 berturut-turut: produk hidrolisis pati mentah jagung jam ke- 24, 48, 72. IV.8 Km, Vmax dan kcat α-amilase Hasil Isolasi Studi kinetika α-amilase hasil isolasi dilakukan dengan cara seperti telah dijelaskan di dalam sub bab III.3.13. Hasil studi kinetika menunjukkan bahwa enzim ini mengikuti kinetika Michealis-Menten di bawah kondisi reaksi uji. Dari plot Lineweaver-Burk (Gambar IV.9) diketahui α-amilase hasil isolasi memiliki Km 10,70 mg/ml, Vmax 303 U/mL dan kcat 5 x 10 4 s -1.

34 0,25 0,20 1/Vo 0,15 0,10 y = 0,7774x + 0,0735 R 2 = 0,9969 0,05 0,00-0,20-0,10 0,00 0,10 0,20 0,30 1/[S] Gambar IV.9. Plot Lineweaver-Burk α-amilase hasil isolasi dari Vibrio sp. SFNB 3. Plot ini menunjukkan tipe kinetika Michealis-Menten di bawah kondisi reaksi uji.