ACTIVE LEARNING & SOFT SKILLS Neila Ramdhani

dokumen-dokumen yang mirip
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA MELALUI METODE DISKUSI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA DIAGRAM DI SMA NEGERI 5 KOTA TANGERANG SELATAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Effective Teaching Plan. Corporate Learning Directorate

PEMBELAJARAN BERBASIS PBL UNTUK PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA KULIAH PENGETAHUAN ALAT PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN MAKANAN MAHASISWA PRODI TATA BOGA

I. PENDAHULUAN. Bagian ini akan dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan latar belakang

KONSEP PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN MODELLING THE WAY UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia tersebut. Upaya peningkatan kualitas manusia harus

PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGASI PADA MATERI GEOMETRI

MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION

ACTIVE LEARNING. Harsono Bagian Pendidikan Kedokteran / Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Gadjah Mada

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SD

UPAYA PENINGKATAN AKTIFITAS BELAJAR SISWA SMA KELAS XI MELALUI METODE PROBLEM POSSING. Abstrak

II. TINJAUAN PUSTAKA. Huda (2014) mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap

* Keperluan korespondensi, tel/fax : ,

2015 PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE (TTW) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ANALISIS PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI

I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan proses aktualisasi peserta didik melalui berbagai

BAB I PENDAHULUAN. manusia dengan yang lainnya. Keterampilan berbahasa yang dimiliki manusia

BAB I PENDAHULUAN. Tekonologi informasi dan komunikasi (TIK) mengalami perkembangan yang

PEMBELAJARAN AKTIF (ACTIVE LEARNING): SUATU UPAYA PENGAKTIFAN SISWA DALAM BELAJAR MATEMATIKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting untuk menentukan

RAGAM METODE PEMBELAJARAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Hamalik (2001, 37) belajar adalah memperoleh. pengetahuan melalui alat indra yang disampaikan dalam bentuk perangsang

Rubrik untuk Menilai Soft Skills

TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu model

Evolusi Sistem Informasi Pendidikan: Pembuatan Template e- Learning untuk Pendidikan Tinggi

INTEGRASI PPR DALAM KURIKULUM 2013

I. PENDAHULUAN. Sistem pendidikan nasional di era globalisasi seperti saat ini menghadapi

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan PMIPA, FKIP, UNS, Surakarta

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA

*Keperluan korespondensi, tel/fax : ,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Dikti (2007), materi pembelajaran pendidikan tinggi di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Berbicara tentang pendidikan, berarti membicarakan tentang hidup dan kehidupan

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang

Joyful Learning Journal

Oleh ; Ria Fajrin Rizqy Ana Dosen STKIP PGRI Tulungagung

PENGARUH METODE KOOPERATIF TIPE CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) DAN TTW (THINK-TALK-WRITE) DALAM PEMBELAJARAN

STRATEGI PEMBELAJARAN PENDEKATAN SCL

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN METODE THINKING ALOUD PAIR PROBLEM SOLVING

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan sasarannya. Sutikno (2005: 29) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif

Unnes Physics Education Journal

PEMBELAJARAN AKTIF DALAM TUTORIAL

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH DALAM PEMBELAJARAN IPA

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan orang-orang

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE LEARNING TOGETHER

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

b. Siswa tidak hanya mendengarkan kuliah secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi kuliah, c. Penekanan pada eksplorasi

KURIKULUM 2013 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2015

BAB I PENDAHULUAN. serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur

Desain Perkuliahan Geometri dalam Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Matematika Mahasiswa Calon Guru

Keberhasilan suatu proses pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa komponen. Dalam prosesnya, siswa dituntut untuk meningkatkan kompetensinya dengan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan transformasi pengetahuan,

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENDESKRIPSIKAN NKRI MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN MODEL THINK-PAIR-SHARE. Erly Pujianingsih

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING

BAB I PENDAHULUAN. partisipasi dalam proses pembelajaran. Dengan berpartisipasi dalam proses

TINJAUAN PUSTAKA. pembelajaran matematika. Dengan pemahaman, siswa dapat lebih mengerti akan

II. TINJAUAN PUSTAKA. hidup manusia sebagai makhluk sosial. Pembelajaran kooperatif merupakan. semua mencapai hasil belajar yang tinggi.

1. PENDAHULUAN. Pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembangunan suatu bangsa karena sasaran dari

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA SDN KEBUN BUNGA 6 BANJARMASIN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nurul Qomar, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di

PERBANDINGAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIK SISWA SMP ANTARA YANG PEMBELAJARANNYA MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN SETTING

PERANAN GURU DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PBL DAN TPS DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA

I. PENDAHULUAN. Besar. Proses pembelajaran yang dilakukan selama ini masih monoton dan

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

II. TINJAUAN PUSTAKA. Guna memahami apa itu kemampuan pemecahan masalah matematis dan pembelajaran

PEMBELAJARAN KREATIF DAN KOLABORATIF PADA ABAD 21 TINJAUAN KURIKULUM Dr. H. Ahmad Zaki Mubarak, M.Si.

I. PENDAHULUAN. kehidupan sehingga diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal.

PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR DAN PEMAHAMAN KONSEP DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE

PEMBELAJARAN KOOPERATIF

HASIL BELAJAR KIMIA SISWA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN METODE THINK-PAIR-SHARE DAN METODE EKSPOSITORI

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan, sebab tanpa pendidikan manusia akan

PENINGKATAN KECAKAPAN BERPIKIR MELALUI IMPLEMENTASI PROBLEM BASED LEARNING PADA PEMBELAJARAN IPA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu model

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Dwi Ambarwati 1. PENDAHULUAN

Akhlakul Karimah dan Irni Cahyani STKIP PGRI Banjarmasin

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SMK

KAJIAN PUSTAKA. Dalam kegiatan belajar mengajar siswa melakukan aktivitas. Pengajaran yang

STRATEGI PEMBELAJARAN RICHE CYNTHIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Secara nasional, pendidikan merupakan sarana yang dapat mempersatukan setiap warga negara menjadi suatu

RIDA BAKTI PRATIWI K

Transkripsi:

ACTIVE LEARNING & SOFT SKILLS Neila Ramdhani Tell me and I will forget Show me and I may remember Involve me and I will understand. Confucius, 450 BC A. Apakah Soft Skills itu? Sering juga disebut keterampilan lunak adalah keterampilan yang digunakan dalam berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain. Secara garis besar keterampilan ini dapat dikelompokkan ke dalam: 1. Process Skills 2. Social Skills 3. Generic Skills Contoh lain dari keterampilan-keterampilan yang dimasukkan dalam kategori soft skills adalah etika/profesional, kepemimpinan, kreativitas, kerjasama, inisiatif, facilitating kelompok maupun masyarakat, komunikasi, berpikir kritis, dan problem solving. Keterampilan-keterampilan tersebut umumnya berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Fakta-fakta yang ada di dalam kehidupan saat ini: 1. Terjadi perubahan kehidupan bermasyarakat sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan lingkungan sosial telah mempersempit kesempatan mengembangkan keterampilan sosial. 2. Penyesuaian diri terhadap persaingan hidup (baik kehidupan pribadi maupun dunia kerja) menuntut dikuasainya keterampilan (hard maupun soft). 3. Pembelajaran tradisional yang lebih banyak dilakukan dengan satu arah, kurang memfasilitasi berkembangnya soft skills ini. B. Pembelajaran Aktif? Pembelajaran aktif (active learning) adalah proses belajar dimana mahasiswa mendapat kesempatan untuk lebih banyak melakukan aktivitas belajar, berupa hubungan interaktif dengan materi pelajaran sehingga terdorong untuk menyimpulkan pemahaman daripada hanya sekedar menerima pelajaran yang diberikan. Meyer & Jones (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran aktif terjadi aktivitas berbicara dan mendengar, menulis, membaca, dan refleksi yang menggiring ke arah pemaknaan mengenai isi pelajaran, ide-ide, dan berbagai hal yang berkaitan dengan satu topik yang sedang dipelajari. Dalam pembelajaran aktif, dosen lebih berperan sebagai fasilitator bukan pemberi ilmu.

im Gambar 1. Perbedaan Belajar Aktif dan Belajar Pasif (Fink, 2003) Beberapa aktivitas pembelajaran khas yang terjadi di dalam pembelajaran aktif di antaranya adalah sbb: 1. Pengamatan terhadap beberapa model atau contoh yang memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk melihat dan mengetahui. 2. Refleksi yang dilakukan dengan cara mengungkapkan pengalaman kepada teman dan dosen potensial mengundang dialog di dalam kelas sehingga memungkinkan muncul pengalaman atau pengetahuan baru (Fink, 2003). 3. Pemecahan masalah yang disajikan memungkinkan mahasiswa berada di dalam kondisi higher-order thinking (Bonwell & Eison, 1991). 4. Diskusi melatih mahasiswa untuk menganalisis, menilai, membandingkan, dan memecahkan masalah adalah metode belajar ko-operatif dan interaktif (Haller, 2000). 5. Self explanation adalah suatu proses menjelaskan mengenai pemahaman mahasiswa, baik kepada temannya maupun dosen memungkinkan terjadinya pemahaman yang lebih kuat. 6. Vicarious learning yang diperoleh pada saat mahasiswa menyaksikan perdebatan mengenai topik tertentu (Cox, 2004). C. Mengapa Pembelajaran Aktif? Sekolah yang dilaksanakan di dalam kelas sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun. Hasil dari proses belajar ini bukan tidak ada. Beribu karya monumental sudah dihasilkan sehingga dapat membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Hanya saja, meningkatnya kompleksitas kehidupan manusia telah banyak menyita waktu sehingga seringkali proses belajar cenderung dilakukan secara terlalu mekanis dosen mengajar di depan kelas, mahasiswa mendengar dan mencatat. Di samping itu, bertambahnya stimulus di lingkungan mahasiswa pun menjadi salah satu distraktor bagi tercapainya efektivitas pembelajaran. Banyak riset yang menunjukkan bahwa dibandingkan dengan pembelajaran tradisional (kuliah satu arah), pembelajaran aktif ini memberikan peluang bagi mahasiswa untuk dapat menyerap lebih banyak materi pelajaran, mengingat dan memahami lebih lama, dan yang terpenting adalah menyukai aktivitas belajar itu sendiri. Fink, (2003) menyarankan bahwa mahasiswa harus melakukan hal yang lebih daripada sekedar mendengarkan. Dalam pembelajaran aktif, mahasiswa

tidak belajar sendiri tetapi mereka dapat belajar dengan pendampingan guru selaku instruktur atau teman sekelasnya. D. Penerapan Metode Pembelajaran Aktif di dalam Kelas Satu hal yang sangat penting dalam upaya menerapkan pembelajaran aktif di dalam kelas adalah merubah paradigma Peran Dosen: o Mengajar (to teach) ----- memfasilitasi (to help students learn) o FOKUS (teacher centered) ----- FASILITATOR (students centered). Mahasiswa mengambil alih tanggung jawab dalam proses pembelajaran. Guru-Dosen mengontrol berbagai aktivitas sehingga tidak hanya mengenai apa yang dipelajari (maha)siswa tetapi lebih ke bagaimana mereka mempelajari topik tersebut. Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran aktif adalah sebagai berikut: 1. Think-pair-share (Felder & Brent, 2003) dapat dilakukan dengan cara yang amat sederhana, yaitu beri waktu secukupnya pada (maha)siswa untuk berpikir mengenai sub-topik yang sedang akan dibahas, kemudian minta mereka mendiskusikan dengan teman di sebelahnya. Setelah itu, jangan lupa minta mereka mengungkapkan hasil diskusi kepada seluruh kelas. 2. Minute Papers adalah teknik yang dapat memberi kesempatan pada (maha)siswa untuk mengungkapkan hasil pemahamannya (synthesize) dan mengemukakan hal-hal yang belum dipahami. Caranya adalah dengan memberikan waktu di akhir perkuliahan kepada mahasiswa untuk menjawab pertanyaan berikut secara tertulis: a. Apa yang sudah anda pelajari hari ini? b. Hal apa saja yang masih belum anda pahami? Jangan lupa beri feedback terhadap kedua hal tersebut, karena hal ini sangat berguna untuk meningkatkan proses belajar mahasiswa 3. Writing activities untuk memberi kesempatan pada mahasiswa untuk berpikir mengenai proses pembelajaran yang baru saja selesai. Contoh, dosen mengemukakan pertanyaan kemudian minta mahasiswa untuk mengemukakan atau menuliskan jawabannya. Again, feedback sangat dibutuhkan untuk memperkuat keyakinan mahasiswa terdapat kemampuannya dalam memberi penjelasan.

4. Brainstorming adalah teknik sederhana yang dapat melibatkan seluruh mahasiswa di dalam kelas. Sebelum dimulai, berikan pengantar dan penjelasan singkat mengenai topik yang akan dibahas, kemudian minta mahasiswa mengemukakan pendapat mereka. Sebelum memulai teknik ini, dosen perlu mempersiapkan dan memberikan bahan terlebih dahulu kepada mahasiswa untuk dibaca di rumah. Catat semua pendapat mahasiswa di papan tulis atau flip chart sehingga dapat terjadi proses belajar yang lebih baik. 5. Games yang didesain khusus berkaitan dengan topik sangat baik untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap materi. Proses permainan ini juga memberi kesempatan pada mahasiswa untuk secara aktif berpartisipasi, baik secara kognitif, afektif, dan konatif di dalam kelas. Berbagai permainan yang dapat dilakukan, misalnya matching, mysteries, group competitions, solving puzzles, pictionary, etc. 6. Debates yang diawali dengan presentasi di depan kelas, kemudian diikuti dengan debat sangat efektif untuk mendorong mahasiswa berpikir mengenai berbagai sisi yang berkaitan dengan topik, sehingga dapat mengasah pemahaman yang lebih kuat. Dalam debat akan terjadi beberapa proses penting di antaranya self explanation dan students tutoring to each other. 7. Group work memungkinkan bagi semua mahasiswa mendapat kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya, berbagi pengalaman yang berkaitan dengan topik, dan mengembangkan keterampilan kerjasama. Kerjasama harus dilakukan oleh semua anggota kelompok untuk menyelesaikan tugas. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara membagi mahasiswa di kelas ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 2-5 mahasiswa. Hal-hal yang perlu disiapkan untuk aktivitas ini adalah sbb.: a. Artikel yang berkaitan dengan topik bahasan b. Beberapa pertanyaan yang harus dijawab dan didiskusikan dalam kelompok c. Materi pelajaran yang harus dibaca d. Petunjuk atau cara melaksanakan kegiatan. Pada aktivitas seperti ini, mahasiswa diminta untuk membaca artikel, menjawab pertanyaan, menyusun presentasi yang harus disampaikan kepada teman-teman dari kelompok lain, dan teori atau inti materi pembelajaran yang harus disampaikan kepada temanteman dari kelompok lain.

8. Case studies yang disusun berdasarkan kasus nyata yang memberikan gambaran mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan pokok kasus tersebut. Mahasiswa diminta membahas kasus tersebut mengintegrasikan dengan teori yang sesuai dengan situasi, aktivitas, dan berbagai konsekuensinya. E. Bacaan Bonwell CC & Eison JA. 1991. Active Learning: Creating Excitement in the Classroom. Washington, DC : George Washington University Fink, L.D. 2003. Creating Significant Learning Experiences; An Integrated Approach to Designing College Courses. San Fransisco: Jossey Bass, A Wiley Imprint Haller, C.R, Gallagher, V.J, Weldon, T.L, Felder, R.M. 2000. Dynamics of Peer Education in Cooperative Learning Workgroups. Journal of Engineering Education. Vol. 89 No.3. 285 293. Pauw, K.; Oosthuizen, M. and van der Westhuizen, C, 2006, Graduate Unemployment in the Face of Skills Shortages: A Labour Market Paradox, Development Policy Research Unit (DPRU) Working Paper 06/114, University of Cape Town, Rondebosch, November 2006.