PERTUMBUHAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula Miq) DALAM SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM JALUR (Studi Kasus di Areal IUPHHK-HA PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah) JUNIAR PRAYOGI DEPARTEMEN SIVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010
PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pertumbuhan Meranti Merah (Shorea leprosula Miq) dalam Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (Studi Kasus di Areal IUPHHK-HA PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah) adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Juli 2010 Juniar Prayogi NRP E44053192
ABSTRACT Juniar Prayogi. E44053192. The Growth of Red Meranti (Shorea leprosula Miq) with Selective Cutting and Line Planting of Silvicultural System (Case Study at The Forest Concessionaire (IUPHHK-HA) Location of PT. Sari Bumi Kusuma, Center Kalimantan). Monitored by Dr. Ir. Prijanto Pamoengkas, M.Sc.F Contribution of forest for development of this nation can not be regarded as small, so that the forests must be managed and used optimally and well preserved. As an effort to preserve and enhance timber production, PT. Sari Bumi Kusuma (PT. SBK) as one of the holders of Forest Concessionaire (IUPHHK- HA), have been applied Selective Cutting and Line Planting (TPTJ) silvicultural system in it s management of natural forest production since 1999. Red Meranti (Shorea leprosula) is one of the flagship species which are selected in TPTJ because it better growth than other Meranti species. However, the growth of S. leprosula in line planting excessively unknown yet. This research aimed to know the diameter growth of S. leprosula 5-9 in TPTJ silvicultural system. Research conducted in Mei 2009 in PT. SBK s areas. Data of diameter growth collected through observation of the 100 m x 100 m sampling plots (1 ha). Plot samples were taken in each age planting which are purposively selected based on the age of 5 to 9 years old of planting, where in each of the plot samples there are five lines of planting. Analysis of research data including diameter stand structure, data normality test, Mean Annual Increment (MAI), and curve of diameter growth. Diameter growth of of S. leprosula which planted in line generally spreading normally, where the most frequency of individual tree is in the diameter class that represents the mean (average) of the stand diameter, and show sigmoid shape curve of the diameter growth. The average increment (MAI) of S. leprosula were highest at the age of seven year plantation i.e to 2.31 cm / year and the lowest at the age of five year plantation i.e 1.45 cm / year. The largest diameter found at the age of nine years after planting i.e 28.5 cm (average 19.7 cm). Key words: diameter, growth, increment, production of natural forest, TPTJ silvicultural system, S. leprosula.
ABSTRAK Juniar Prayogi. E44053192. Pertumbuhan Meranti Merah (Shorea leprosula Miq) dengan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (Studi Kasus di Areal IUPHHK-HA PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah). Dibimbing oleh: Dr. Ir. Prijanto Pamoengkas, M.Sc.F Kontribusi hutan bagi pembangunan bangsa ini tidak bisa dikatakan kecil, sehingga hutan harus dikelola dan dimanfaatkan secara optimal serta dijaga kelestariannya. Dalam upaya menjaga kelestarian dan meningkatkan produksinya, PT. Sari Bumi Kusuma (PT. SBK) sebagai salah satu pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA), menerapkan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dalam pengelolaan hutan alam produksinya sejak tahun 1999 yang kemudian berkembang menjadi Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) pada tahun 2004.Meranti merah (Shorea leprosula) adalah salah satu jenis unggulan yang dibudidayakan dengan sistem TPTJ karena memiliki kecepatan tumbuh yang lebih dibanding jenis meranti lain. Namun demikian pertumbuhan meranti dalam jalur belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan diameter tanaman S. leprosula berumur 5-9 tahun yang dibudidayakan pada lahan hutan alam produksi melalui sistem silvikultur TPTJ. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2009 di areal PT. SBK. Pengambilan data diameter tanaman S. leprosula dilakukan dengan melakukan pengamatan dan pengukuran pada plot contoh yang berukuran 100 m x 100 m (1 ha). Plot contoh tersebut dibuat dalam masing-masing petak penanaman yang dipilih secara purposif berdasarkan umur tanam yaitu 5 hinggga 9 tahun, dimana dalam plot contoh tersebut terdapat 5 jalur tanam. Analisis data penelitian berupa struktur tegakan, uji normalitas data, riap rata-rata (MAI), dan kurva pertumbuhan diameter. Secara umum pertumbuhan diameter tanaman S. leprosula yang ditanam dalam jalur dengan sistem TPTJ memiliki sebaran pertumbuhan diameter normal, dimana jumlah (frekuensi) individu (tanaman) banyak terdapat pada kelas yang mewakili nilai tengah (rata-rata) dari diameter tegakan, serta menunjukkan kurva pertumbuhan diameter berbentuk sigmoid. Riap rata-rata (MAI) tertinggi S. leprosula dalam jalur terdapat pada umur tanam 7 tahun yaitu sebesar 2,31 cm/ tahun dan terendah pada umur tanam 5 tahun yaitu 1,45 cm/ tahun. Diameter terbesar terdapat pada umur tanam 9 tahun yaitu 28,5 cm (rata-rata 19,7 cm). Kata kunci: diameter, hutan alam produksi, pertumbuhan, riap, sistem silvikultur TPTJ, S. leprosula.
PERTUMBUHAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula Miq) DALAM SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM JALUR (Studi Kasus di Areal IUPHHK-HA PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah) JUNIAR PRAYOGI Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010
Judul Skripsi Nama Mahasiswa NIM : Pertumbuhan Meranti Merah (Shorea leprosula Miq) dalam Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (Studi Kasus di Areal IUPHHK-HA PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah) : Juniar Prayogi : E44053192 Menyetujui : Dosen Pembimbing Dr. Ir. Prijanto Pamoengkas, M.Sc.F NIP. 19631206 198903 1 004 Mengetahui : Ketua Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr NIP. 19641110 199002 1 001 Tanggal Lulus :
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim, Ya ALLAH, Mahabesar Kekuasaan-Mu, Mahaadil Keputusan-Mu, Maha Pemberi atas Karunia-Mu, Maha Pemaaf atas Kasih-Mu. Ilmu-Mu Mahaluas, aku menyampaikan rasa syukurku pada-mu Ya ALLAH, dengan mengucapkan kalam- Mu: Segala puji hanya milik ALLAH yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan kegelapan dan cahaya.. Karena dengan limpahan rahmat dan karunia serta izin-mu Penulis dapat menyelesaikan penelitian serta penulisan skripsi ini dengan baik. Terima kasih dan sholawat Penulis sampaikan kepada Baginda Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw, yang telah menunjuki Penulis kepada jalan kebenaran dengan cahaya petunjuk-mu, Ya ALLAH. Penyusunan skripsi ini merupakan pemenuhan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan IPB. Penelitian yang berjudul Pertumbuhan Meranti Merah (Shorea leprosula Miq) dalam Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (Studi Kasus di Areal PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah) ini mengkaji mengenai pertumbuhan diameter tanaman Shorea leprosula, yang dibudidayakan di jalur tanam dengan sistem TPTJ dalam areal pengelolaan hutan alam produksi PT. SBK. Penelitian berlangsung pada bulan Mei - Juni tahun 2009. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna oleh sebab itu Penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan skripsi ini. Penulis berharap semoga karya kecil ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Bogor, Juli 2010 Penulis
UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mempersembahkan karya kecil ini untuk keluarga, sahabat, teman, dan rekan-rekan rimbawan. Penulis sangat bersyukur telah dikelilingi orang-orang terbaik di dunia ini, yang memiliki semangat juang tinggi dan pantang menyerah, orang-orang yang sangat mengilhami Penulis. Dengan kerendahan hati Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Kedua Orang Tua Penulis (Heri Poernomo dan Titik Dwijayanti), kakak (Lois Tania), dan segenap keluarga (Mas Dillah-Hari-Toni-Andi-Zulham- Dodi, Mbak Windi dan pasangannya, Gradyanto, Nila, Hendra, Yudhis, Revi, Rafli, Adhisty-Adinda) yang mengilhami Penulis untuk senantiasa bersabar dan terus berjuang dalam keadaan seperti apapun. 2. Mr. Neil O Reilly yang menunjukkan pada Penulis bahwa kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan. 3. Dr. Ir. Prijanto Pamoengkas, M.Sc.F sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, pengarahan dan saran selama penelitian hingga penyelesaian karya ilmiah ini. 4. Ibu Sri Handayani dan keluarga. 5. Para dosen dan staff Departemen Silvikultur Fahutan IPB, Ibu Aliyah, Pak Ismail, dan Mbak Putri atas kesabarannya dalam memberikan bimbingan dan arahan dalam kegiatan perkuliahan. 6. Prof. Dr. Ir. Wasrin Syafii, M.Agr; Ir. Edi Sandra, M.Si; Dr. Ir. Hadjib. MS, selaku dosen penguji atas kritik dan saran yang diberikan agar penulisan karya ilmiah ini dapat lebih baik. 7. PT. SBK dan segenap karyawan (Pak Yudi Hendro, Pak Purnomo, Pak Saminto, Pak Supriyanto, Mas Mulyadi, Mas Priyo, Mbah Suko, Pak Senyon dan kru, Mas Yopi-Mbak Novi) atas izin dan bantuannya dalam proses pengambilan data. 8. Rekan-rekan Silvikultur 42, the Cunname Community, terimakasih atas segalanya, semoga kita masih diberi banyak kesempatan untuk meluangkan waktu bersama-sama lagi. Kepada M. Rifai, Farah Amanda, dan Doddy July Irawan, dimana Penulis selalu berutang semangat, kearifan, dan saran bijaksana dalam masalah akademis serta kehidupan. Dayat-Bowo-PM, rekan
penulis selama berjuang di Kalimantan. Agha, Chandra-Ajeng, Maz um, Kemal, Tofan, Tomi, Sambang, Asep, Fifi, Ghina, dan Kiki yang masih sering berada di kampus dan sangat membantu Penulis saat mengurus administrasi. 9. Rima Triani Okta Ningrum yang memberi Penulis semangat pantang menyerah, kemandirian, dan pentingnya mencintai keluarga dan kehidupan. 10. Keluarga besar LAWALATA IPB, Om Anas, Embang, Ntip, Cunguk dan angkatan Karimun Jawa. 11. Syampadzy Nurroh, Feri Herdiman, dan Iwan Kurniawan atas persahabatan tulus di tahun-tahun awal berakademis maupun berorganisasi di IPB. Kepada Maryani dan Hafidzh Ahsan atas bimbingannya dalam pengolahan data. Yudo dan Aswin yang kehadirannya di saat-saat akhir sangat inspiratif dan menguatkan Penulis dalam menghadapi sidang komprehensif. Uda Roni, Bang Harun, Bobi Riharno, Dedi Wahyudi, Ridho, Marthen, dan saudara-saudaraku di pondok AA. Terimakasih, Penulis sangat menikmati saat berkumpul bersama kalian semua. 12. Sahabat-sahabatku di Malang (Atip, sebeng, Nino dan para HIU, Bqchod Community, Vodkid, Kadal Ireng, Etesz, Willy, Risna, Ema, Ragil, dan Basuki) atas dukungan dan kebersamaan selama ini. 13. Rekan-rekan yang telah bersama-sama menimba ilmu di IPB, khususnya Rimbawan 42 serta adik-adik Penulis di SVK 43, 44, dan 45. 14. Dwita Noviani, atas dukungan, kesabaran dan pengertiannya. 15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu dan telah membantu dalam penyelesaian karya ilmiah ini.
RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Malang pada tanggal 03 Juni 1987, merupakan putra kedua dari pasangan Bapak Heri Poernomo dan Ibu Titik Dwijayanti. Penulis lulus dari SMU Negeri 3 Malang pada tahun 2005, kemudian pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor setelah lulus Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan diterima pada Program Studi Silvikultur, Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan. Selama menuntut ilmu di Fahutan IPB, Penulis aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan seperti Organisasi Pecinta alam LAWALATA IPB periode (2006-2009) setelah sebelumnya mengikuti Masa Pembinaan Calon Anggota Lawalata (MPCA) pada periode 2005-2006, Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) Malang, dan Himpunan Profesi Silvikultur: Tree Grower Community (TGC) periode (2007-2008). Memasuki semester 6 (tahun 2008) Penulis memilih bidang peminatan khusus Kelompok Ilmu/Laboratorium Silvikultur untuk kajian penyusunan tugas akhir. Pada tahun 2009, Penulis berkesempatan melakukan Praktek Kerja Profesi (PKP) di IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma Kalimantan Tengah. Dalam rangka menyelesaikan studi di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Penulis melakukan penelitian dan menyelesaikan skripsi dengan judul Pertumbuhan Meranti Merah (Shorea leprosula Miq) dalam Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (Studi Kasus di Areal IUPHHK-HA PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah), di bawah bimbingan Dr. Ir. Prijanto Pamoengkas, M.Sc.F.
DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... xii DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN... xiv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan... 2 1.3 Manfaat... 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pertumbuhan Tanaman... 3 2.2 Tegakan dan Struktur Hutan... 4 2.3 Pertumbuhan dan Hasil tegakan... 6 2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan... 7 2.5 Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur... 9 2.6 Meranti Merah (S. Leprosula Miq)... 10 BAB III KEADAAN UMUM LOKASI 3.1 Letak Geografis dan Luas Areal... 12 3.2 Jenis Tanah, Geologi, dan Topografi... 13 3.3 Iklim... 14 3.4 Keadaan Hutan... 14 3.5 Keadaan Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat... 15 3.6 Ketenagakerjaan... 16 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Tempat dan Waktu Penelitian... 17 4.2 Bahan dan Alat... 17 4.3 Metode Pengumpulan Data... 17 4.3.1 Pemilihan lokasi petak... 17 4.3.2 Pembuatan plot contoh... 18 4.3.3 Pengukuran diameter... 18 4.4 Analisa Data... 19 4.4.1 Pembuatan tabel dan grafik histogram distribusi frekuensi dengan kurva normal... 20 4.4.2 Uji Normalitas data... 20 4.4.3 Perhitungan riap diameter... 20 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian... 21 5.1.1 Pertumbuhan diameter S. Leprosula umur tanam 5-9 tahun... 21 5.1.2 Uji normalitas data... 23
5.1.3 Distribusi frekuensi (sebaran) diameter... 24 5.1.3.1 Umur 5 Tahun... 24 5.1.3.2 Umur 6 Tahun... 25 5.1.3.3 Umur 7 Tahun... 26 5.1.3.4 Umur 8 Tahun... 27 5.1.3.5 Umur 9 Tahun... 28 5.2 Pembahasan... 29 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan... 34 6.2. Saran... 34 DAFTAR PUSTAKA... 35 LAMPIRAN... 37
DAFTAR TABEL Halaman 1. Batas Areal dan Administrasi Pemerintahan PT SBK... 13 2. Gambaran kemiringan areal konsensi hutan IUPHHK PT SBK... 14 3. Data kependudukan masyarakat sekitar PT. SBK... 16 4. Daftar tenaga teknis kehutanan yang digunakan oleh PT. SBK... 16 5. Lokasi petak pengukuran tanaman di lapangan... 18 6. Pertumbuhan diameter S. Leprosula umur tanam 5-9 tahun... 21 7. Hasil uji normalitas data... 23 8. Distribusi frekuensi diameter tanaman umur 5 tahun... 24 9. Distribusi frekuensi diameter tanaman umur 6 Tahun... 25 10. Distribusi frekuensi diameter tanaman umur 7 Tahun... 26 11. Distribusi frekuensi diameter tanaman umur 8 Tahun... 27 12. Distribusi frekuensi diameter tanaman umur 9 Tahun... 28
DAFTAR GAMBAR Halaman 13. Kurva pertumbuhan (a) MAI dan CAI (b) (Loetsch & Haller 1973; Avery & Burkhart 1994)... 7 14. Skema interaksi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan (Kramer & Kozlowski 1960)... 8 15. Skema pelaksanaan TPTJ PT. SBK... 10 16. Areal kerja PT. SBK Kalimantan Tengah dan petak pengambilan sampel... 12 17. Bentuk dan ukuran plot contoh dalam penelitian... 19 18. Riap diameter rata-rata tahun berjalan (MAI) S. leprosula umur tanam 5 hingga 9 tahun... 22 19. Kurva pertumbuhan S.leprosula hasil pengamatan umur 1-9 tahun.. 22 20. Grafik histogram sebaran diameter dan kurva normal umur tanam 5 Tahun... 24 21. Grafik histogram sebaran diameter dan kurva normal umur tanam 6 Tahun... 25 22. Grafik histogram sebaran diameter dan kurva normal umur tanam 7 Tahun... 26 23. Grafik histogram sebaran diameter dan kurva normal umur tanam 8 Tahun... 27 24. Grafik histogram sebaran diameter dan kurva normal umur tanam 9 Tahun... 28
DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Hasil perhitungan riap diameter S. leprosula umur 5-9 tahun 38 2. Perhitungan distribusi Frekuensi diameter. 44 3. Hasil Uji Normalitas Data.. 47 4. Hasil Anova Laju Pertumbuhan (Riap) Diameter S. leprosula 47 5. Dokumentasi Penelitian.. 48
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Hutan merupakan salah satu bentuk kekayaan alam yang mampu memberi berbagai manfaat bagi manusia, antara lain sebagai sumber pendapatan dengan berbagai bentuk produksi hasil hutan, sebagai perlindungan tata air, sumber plasma nutfah, jasa lingkungan dan estetika, serta sebagai salah satu sumber penyerap karbon. Kontribusi hutan bagi pembangunan bangsa ini tidak bisa dikatakan kecil, oleh karena itu hutan wajib dikelola dan dimanfaatkan secara optimal serta dijaga kelestariannya. Dalam perkembangannya, dinamika hutan dan kehutanan di Indonesia menuju pengelolaan hutan lestari masih jauh dari harapan. Deforestasi akibat alih guna lahan menjadi perkebunan secara besar-besaran dan pengelolaan HPH yang tidak bertanggung jawab mengakibatkan penurunan luasan hutan alam di negara ini secara signifikan. Departemen kehutanan (2009) menyatakan bahwa laju deforestasi di Indonesia periode tahun 2003-2006 adalah sebesar 1,17 juta ha/tahun. Hutan dikhawatirkan tidak mampu lagi memberikan multi fungsinya kepada manusia, sementara itu permintaan akan hasil hutan kayu tetap berlangsung. Kondisi ini menyebabkan sektor kehutanan dituntut untuk tetap mempertahankan bahkan meningkatkan produktivitasnya sembari menerapkan prinsip-prinsip kelestarian. PT. Sari Bumi Kusuma (PT. SBK) sebagai salah satu pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA), menerapkan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dalam pengelolaan hutan alam produksinya sejak tahun 1999. TPTJ adalah sistem silvikultur yang meliputi cara tebang pilih dengan batas diameter 40 cm diikuti dengan permudaan buatan dalam jalur. Dalam sistem ini, setelah dilakukan tebang pilih, dibuat jalur tanam selebar 3 m, dan 22 m untuk jalur antara berupa hutan alam yang dibuat secara berselangseling. Dalam jalur-jalur tanam tersebut ditanami berbagai jenis anakan meranti (Shorea sp.), dengan jenis yang diutamakan adalah Shorea leprosula, Shorea parvifolia, shorea johorensis, dan Shorea platyclados. Konsep pengelolaan hutan berkelanjutan mengacu pada prinsip Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari
(PHAPL) menitik beratkan pada suatu bentuk pengelolaan hutan yang menjamin kelestarian fungsi produksi, fungsi ekologi, dan fungsi sosial. S. leprosula adalah salah satu jenis kayu komersial terpenting di Asia Tenggara (Soerianegara I dan RHMJ Lemmens 2002), dan jumlah populasinya terus mengalami penurunan akibat penebangan. Menurut daftar IUCN, S. leprosula tergolong langka. Dalam upaya mewujudkan kelestarian fungsi produksi, maka keberhasilan penanaman dalam jalur merupakan salah satu faktor penting untuk dievaluasi dengan cara pengukuran pertumbuhan tanaman atau produktivitas tanaman. Produktivitas tanaman dapat diukur salah satunya adalah melalui pertumbuhan diameter, disamping karena mudah pelaksanaannya juga memiliki keakuratan dan konsistensi cukup tinggi. Oleh karena itu pertumbuhan diameter dapat digunakan untuk menjelaskan produktivitas tanaman (pohon) (Pamoengkas 2006). 1.2 Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan diameter tanaman S. leprosula berumur 5-9 tahun yang dibudidayakan pada lahan hutan produksi alam melalui sistem silvkultur TPTJ. 1.3 Manfaat Manfaat dari penelitian ini adalah diketahuinya tren pertumbuhan berupa riap diameter S. leprosula serta sebaran diameternya pada lokasi penelitian untuk dievaluasi tingkat pertumbuhannya berkaitan dengan berbagai faktor pertumbuhan dan perlakuan silvikultur. Informasi pertumbuhan baik sebaran diameter maupun laju pertumbuhannya (riap) diharapkan nantinya dapat digunakan untuk memberikan prediksi pertumbuhan selanjutnya serta hasil akhir sebagai dasar dalam pengambilan keputusan manajemen pengelolahan hutan secara lestari.
2.1 Pertumbuhan Tanaman BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan adalah proses dalam kehidupan tanaman yang mengakibatkan perubahan ukuran tanaman semakin besar dan juga yang menentukan hasil tanaman (Sitompul 1995). Menurut Tjionger (2002), pertumbuhan tanaman dapat didefinisikan sebagai proses bertambahnya ukuran dan jumlah sel-sel tanaman yang diikuti adanya pertumbuhan berat kering tanaman, sedangkan perkembangan tanaman dapat diartikan sebagai suatu proses menuju tercapainya kedewasaan. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman terbagi menjadi dua fase yaitu fase pertumbuhan vegetatif dan fase pertumbuhan generatif. Fase vegetatif berhubungan dengan tiga proses yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel, dan tahap pertama diferensiasi. Pembelahan sel memerlukan karbohidrat dalam jumlah besar, karena dinding sel terbentuk dari selulosa dan protoplasmanya dari gula. Sedangkan fase generatif terjadi pada pembentukan dan perkembangan kuncup bunga, buah dan biji atau pada pembesaran dan pendewasaan struktur penyimpan makanan. Fase generatif memerlukan suplai karbohidrat, sehingga karbohidrat yang digunakan untuk perkembangan akar, batang, dan daun sebagian disisakan untuk perkembangan bunga, buah dan biji serta alat penyimpan. Riap adalah pertambahan ukuran pohon atau tegakan dalam jangka waktu tertentu. Pertumbuhan maupun riap pohon atau tegakan dapat diketahui dengan mengukur penambahan dalam diameter, tinggi atau volumenya (Mukhmadun 1994 diacu dalam Arim 1995). Kedua istilah ini mempunyai hubungan yang erat dengan faktor umur dan memegang peranan penting dalam penentuan kebijaksanaan operasional di bidang kehutanan, terutama dalam hal pemeliharaaan atau penjarangan, dan pemungutan hasil, khususnya bagi hutan tanaman. Berdasarkan jangka hidup atau daurnya, Lambers et al. (1998) membedakan jenis-jenis tumbuhan atau pohon ke dalam jenis cepat tumbuh (fast growing species) dan jenis lambat tumbuh (slow growing species). Selanjutnya Meijer dalam Mindawati dan Tiryana (2002) mengklasifikasikan kecepatan tumbuh suatu jenis pohon ke dalam lima kelas berdasarkan riap diameter batang. Kelima kelas
tersebut adalah sangat cepat (riap > 1,4 cm/tahun), cepat (riap = 1,19 1,4 cm/tahun), normal (riap = 0,79 1,19 cm/tahun), agak lambat (riap = 0,36 0,79 cm/tahun), dan lambat (riap < 0,36 cm/tahun). Sifat kecepatan tumbuh ini penting diketahui terutama pada tahap pemilihan jenis yang disesuaikan dengan tujuan pengelolaan. Jenis cepat tumbuh dengan rotasi pendek merupakan jenis yang tepat untuk digunakan dalam membangun hutan tanaman yang berbeda secara mendasar dalam hal struktur, fungsi dan tujuannya dengan hutan alam. Hutan tanaman daur pendek dikelola secara monokultur atau campuran secara intensif dengan tujuan utama untuk menghasilkan kayu atau kadang-kadang hasil hutan non kayu dengan daur yang pendek atau periode produksi yang berkisar antara 15-25 tahun (Bruenig 1996). 2.2 Tegakan dan Struktur Hutan Hutan adalah suatu lapangan yang bertumbuhkan pohon-pohon yang merupakan suatu kesatuan hidup alam hayati bersama alam lingkungannya sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Pokok Kehutanan (UUPK) No. 5 Tahun 1967. Selanjutnya dalam Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, definisi hutan yaitu suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan dan kesatuan dalam hutan dapat dibagi menjadi kelompok-kelompok menurut banyak cara, beberapa diantaranya adalah tegakan dan struktur hutan. Tegakan merupakan gabungan dari pohon-pohon atau tumbuhan lain yang terdapat dalam suatu daerah tertentu dan cukup seragam dalam komposisi jenisnya, susunan umur, dan keadaannya yang dapat dibedakan dengan tumbuhan lain yang terdapat di sekitarnya (Davis 1966 dalam Suhendang 1990). Daniel et al. (1987) mendefinisikan tegakan sebagai unit yang agak homogen yang dapat dibedakan dengan jelas dari tegakan di sekitarnya oleh umur, komposisi, struktur, tempat tumbuh, atau geografi. Suhendang (1990) menyatakan bahwa wujud dari tegakan di lapangan adalah berupa anak petak (sub-compartment) yang dibentuk atas dasar kepentingan silvikultur yang diperlukan dalam areal tersebut, sehingga
pada seluruh areal dalam anak petak ini diterapkan perlakuan silvikultur yang sama. Tidak ada areal yang tepat yang dapat disebut tegakan, dan ukuran bisa berubah menurut intensitas pengelolaan. Disamping itu, kondisi khusus tegakan mungkin terulang banyak sekali dalam suatu hutan atau rotasi kerja. Sedangkan struktur hutan biasanya menunjukkan sebaran/ distribusi umur, kelas diameter, atau kelas tajuk (Daniel et al. 1987) Tegakan juga diklasifikasikan berdasarkan komposisi kelas umur. Secara tegas tegakan seumur didefinisikan sebagai tegakan yang semua pohonnya ditanam pada tahun yang sama, atau ditanam pada tahun yang bersamaan. Sebaliknya, tegakan tidak seumur secara teoritis berisi pohon-pohon setiap umur, dari semai yang belum setahun sampai pohon lewat masak tebang. Tegakan seumur ditandai dengan tajuk yang seragam. Jumlah terbesar pohon berada pada kelas diameter yang diwakili oleh rata-rata tegakan, pohonpohon lebih sedikit pada kelas yang di atas atau di bawah rata-rata ini. Bentuk sebaran ini akan menyerupai lonceng telungkup, yaitu mendekati sebaran normal yang dapat miring ke arah diameter yang lebih kecil untuk jenis toleran dan diameter yang besar untuk jenis intoleran. Sebaliknya tegakan tidak seumur menunjukkan tajuk terputus dan tidak seragam, jumlah pohon terbesar berada pada kelas diameter terkecil, dan jumlahnya menurun kurang lebih sebanding dengan bertambahnya ukuran, sehingga akhirnya hanya tersebar sedikit pohonpohon yang berukuran paling besar. Pada tegakan tidak seumur, distribusi frekuensi jumlah pohon menurut kelas diameter membentuk kurva J terbalik (Daniel et al. 1987). Pola sebaran diameter pada hutan tanaman cenderung menyebar normal atau sedikit menceng yaitu mayoritas jumlah pohon mengumpul disekitar nilai tengah dan menurun pada diameter yang lebih besar dan lebih kecil. Distribusi/ sebaran normal, disebut pula distribusi Gauss, adalah distribusi probabilitas yang paling banyak digunakan dalam berbagai analisis statistika. Distribusi ini juga dijuluki kurva lonceng (bell curve) karena grafik fungsi kepekatan probabilitasnya mirip dengan bentuk lonceng.
2.3 Pertumbuhan dan Hasil Tegakan Pertumbuhan tegakan dapat dinyatakan dalam laju pertumbuhan atau level pertumbuhan. Laju pertumbuhan didefinisikan sebagai peningkatan dimensi tegakan pada periode waktu tertentu, sedangkan level pertumbuhan didefinisikan sebagai jumlah dimensi yang dapat diperoleh pada akhir periode tertentu. Informasi pertumbuhan tegakan mempunyai peranan penting dalam pengambilan keputusan manajemen, karena informasi ini memberikan gambaran mengenai pola dan titik-titik optimum pertumbuhan yang berkaitan dengan keputusan perlakuan silvikultur yang akan diterapkan, penentuan daur, dan prediksi hasil (Avery & Burkhart 1994). Pertumbuhan tegakan dapat digambarkan dalam bentuk kurva pertumbuhan. Kurva pertumbuhan adalah kurva yang menghubungkan antara ukuran suatu organisme seperti volume, berat, diameter, atau tinggi dengan umurnya. Bentuk kurva pertumbuhan organisme yang ideal akan menyerupai huruf S atau berbentuk kurva sigmoid. Kurva ini menunjukkan akumulasi ukuran pada setiap tingkat umur, sehingga kurva ini disebut sebagi kurva pertumbuhan kumulatif (Gambar 1a). Walaupun bentuk pasti kurva hasil akan berubah jika dimensi pohon diganti, namun kurva ini tetap mempunyai karakteristik yang sama pada setiap dimensi tersebut. Kurva ini dapat diturunkan untuk mengetahui laju pertumbuhan atau dikenal dengan riap (Husch 1963). Selanjutnya Prodan (1968) dalam Latifah (2004) membedakan riap ke dalam riap tahunan berjalan (Current Annual Increament (CAI)) dan riap rata-rata tahunan (Mean Annual Increament, (MAI)). CAI adalah riap dalam satu tahun berjalan sedangkan MAI adalah riap rata-rata (per tahun) yang terjadi sampai periode waktu tertentu. Daur optimal suatu tegakan diperoleh pada saat terjadi perpotongan antara kurva CAI dan MAI, yaitu pada saat MAI mencapai titik maksimum (Gambar 1b).
Gambar 1 Kurva pertumbuhan (a) MAI dan CAI (b) (Loetsch & Haller 1973; Avery & Burkhart 1994). 2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Nyakpa et al. (1998) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dibagi dua, yaitu: 1. Faktor Genetik Salah satu peranan penting dari faktor genetik adalah kemampuan tanaman untuk berproduksi tinggi. 2. Faktor Lingkungan. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah suhu, ketersediaan air, energi surya, mutu atmosfer, struktur dan komposisi udara tanah, reaksi tanah dan organisme tanah. Tanaman dan lingkungannya merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan tanaman. Untuk dapat berkembang dengan baik dan menyelesaikan siklus hidupnya secara lengkap, tanaman membutuhkan keadaan lingkungan tertentu yaitu keadaan lingkungan yang optimum untuk mengekspresikan program genetiknya secara penuh. Kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang optimum dapat berbeda antara jenis tanaman, tergantung pada keragaman susunan genetiknya (Sitompul 1995). Tanaman umumnya mampu tumbuh sempurna dengan intensitas cahaya tanpa penyinaran matahari seharian penuh. Pertumbuhan tanaman kebanyakan sangat tergantung kepada jumlah air yang tersedia di dalam tanah. Air dibutuhkan tanaman untuk membuat karbohidrat di daun, untuk menjaga hidrasi protoplasma
dan sebagai pengangkut dan mentranslokasikan makanan-makanan dan unsurunsur mineral (Nyakpa et al. 1998). Aspek lahan yang perlu dipahami dalam upaya pengembangan tanaman di suatu daerah mencakup aerasi tanah, kapasitas pertukaran kation, kebutuhan dan toleransi terhadap nitrogen, kebutuhan fosfor, kebutuhan kalium, kedalaman tanah, Ph tanah, kemiringan dan tekstur. Bertambahnya hara dalam tanah akibat proses pelapukan serasah dan dari input curah hujan, sedangkan input hara yang berasal dari pelapukan batuan dianggap sangat kecil. Berkurangnya hara didalam tanah karena dua faktor yaitu kehilangan hara akibat erosi dan kehilangan hara akibat adanya uptake atau penyerapan hara oleh tanaman (Indrawan 2003). Sementara menurut Kramer dan Kozlowski (1960), pertumbuhan pohon dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan pohon adalah zat pertumbuhan, keseimbangan air, dan interaksi antara berbagai organ pohon. Selanjutnya faktor eksternal adalah cahaya, suhu, kelembaban tanah, dan praktek silvikultur yang diterapkan. Faktorfaktor tersebut kemudian berinteraksi dan menentukan proses fisiologis internal untuk menghasilkan pertumbuhan pohon (Gambar 2). Gambar 2 Skema interaksi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pohon (Kramer & Kozlowski 1960). Selanjutnya Daniel et al. (1987) mengatakan bahwa faktor-faktor tersebut saling berinteraksi sehingga prinsip-prinsip pertumbuhan tegakan biasanya harus dikembangkan dengan mengamati interaksi faktor-faktor tersebut.
2. 5 Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) adalah sistem silvikultur yang digulirkan sebagai alternatif pembangunan hutan tanaman industri (HTI). HTI menggunakan sistem tebang habis sementara TPTJ menyisakan hutan alam diantara jalur-jalur tanam. Penerapan sistem silvikultur TPTJ dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas hutan dengan cara membangun hutan tanaman yang produktif. Kegiatan pembinaan hutan dalam sistem TPTJ meliputi pengadaan bibit, penanaman, pemeliharaan dan perlindungan yang dilakukan secara berkesinambungan (Suparna & Purnomo 2004). Selanjutnya Suparna dan Purnomo (2004) menyatakan bahwa melalui penerapan sistem TPTJ ada beberapa hal penting yang dapat dicapai, antara lain: 1. Peningkatan produktivitas dalam pengertian bahwa dengan penurunan batas diameter tebang 40 cm maka produksi kayu per hektar yang akan diperoleh menjadi lebih besar. Melalui sistem TPTJ, areal bekas tebangan TPTI dapat dibudidayakan tanpa harus menunggu selama 35 tahun dan untuk tebangan berikutnya produksi kayu dapat diperoleh baik dari hasil tanaman dalam jalur tanam maupun dari jalur antara. 2. Penurunan limit diameter tebangan menghasilkan ruang tumbuh yang memungkinkan bagi penanaman jenis meranti di dalam jalur. 3. Melalui penanaman dalam jalur, kegiatan pemeriksaan tanaman di lapangan akan lebih efisien, murah, dan mudah. 4. Meningkatnya penerapan tenaga kerja sekitar hutan melalui program penanaman dan pemeliharaan yang dilakukan secara intensif. 5. Pengamanan areal hutan alam bekas tebangan dari perladangan berpindah dan perambahan karena secara umum adat ada penghormatan terhadap areal yang sudah ada kegiatan penanamannya. 6. Menggunakan bibit dari jenis terpilih sehingga produktivitasnya meningkat. 7. Keanekaragaman hayati tetap terjaga dengan adanya jalur antara. Sistem silvikultur TPTJ didefinisikan sebagai sistem silvikultur hutan alam yang mengharuskan adanya penanaman pada hutan pasca penebangan secara jalur, yaitu 25 meter antar jalur dan jarak tanam 5 meter dalam jalur serta jalur
tanam dibuat selebar 3 meter yang merupakan jalur bebas naungan dan harus bersih dari pohon-pohon yang menaungi dan pada jalur tanam tidak boleh dilewati alat berat, kecuali pada pinggir jalur sebelum ada tanaman, sedangkan jalur antara selebar 22 meter yang merupakan tegakan alam. Tanpa memperhatikan cukup tidaknya anakan alam yang tersedia dalam tegakan tinggal, sebanyak 80 anakan meranti per hektar harus ditanam untuk menjamin kelestarian produksi pada rotasi berikutnya. Pada sistem silvikultur TPTJ pohon-pohon yang ditebang adalah pohon-pohon komersil yang berdiameter 40 cm ke atas (Suparna & Purnomo 2004). Tegakan Alam Jalur bersih Dan Bebas Naungan Jalur bersih Dan Bebas Naungan Tegakan Alam a b 22 m c d a b 3 m 3 m 5 m Δ Δ Gambar 3 Skema pelaksanaan TPTJ PT. SBK. Tegakan Alam Keterangan : Δ = titik tanaman, jarak tanaman dalam jalur 5 m dan jarak antar jalur 25 m. a b = jalur bersih dan bebas naungan dengan lebar 3 m. c d = jalur antara dengan lebar 22 m. 2.6 Meranti Merah (Shorea leprosula Miq) Meranti Merah (S. leprosula Miq) termasuk ke dalam famili Dipterocarpaceae. Sinonim Hopea maranti Miq, Shorea maranti Burck, Shorea astroctricta Scort. ex Foxw. Genus shorea ada 375 jenis. Jenis ini merupakan penghasil kayu penting di Asia tropis (Joker 2002). S. leprosula mempunyai nama lokal meranti tembaga (Indonesia), Kontoi bayor, lempong kumbang, abang, awang, engkabang (Kalimantan), meranti merah, meranti, banio, ketuko, markuyung, sirantih (Sumatra), kayu bapa, sehu (Maluku).
Penyebaran alami S. leprosula mulai semenanjung Thailand dan Malaysia, Sumatra sampai Kalimantan bagian utara. Biasanya dijumpai di hutan dipterokarpa dataran rendah dibawah 700 m menempati ruang terbuka di hutan yang mengalami gangguan. Tumbuh pada berbagai jenis tanah tetapi tidak toleran terhadap genangan. Curah hujan 1500-3500 mm pertahun, dan musim kemarau pendek perlu untuk pertumbuhan dan regenerasi. Jarang ditemukan di punggung bukit, dari percobaan penanaman menunjukkan pertumbuhan di kaki bukit lebih baik dibanding puncak bukit. Merupakan meranti merah tercepat pertumbuhannya sampai umur 20 tahun tetapi selanjutnya terkejar oleh meranti lain. Jenis ini mengalami penurunan populasi yang disebabkan penebangan dan menurut daftar IUCN jenis ini tergolong langka. S. leprosula dapat tumbuh pada tanah latosol, podsolik merah kuning, dan podsolik kuning dengan tipe iklim A dan B (Joker 2002). Bunga berbentuk malai, berbulu dan berwarna coklat muda, terdapat pada ujung ranting atau ketiak daun. Buah S. leprosula berbentuk bulat telur (Sastrapradja 1977), berukuran 12-14 x 7-9 mm, berbulu, bersayap lima, tiga sayapnya besar berukuran 5-6,7 x 1-1,4 cm dan dua sayap lainnya kecil berukuran 1,9-2,5 cm x 0,15-0,25 cm (Rudjiman & Adriyanti 2002). Buah masak S. leprosula mulai berkecambah 2 3 hari setelah jatuh ke lantai hutan (Appanah 1993). Persen jadi kecambah buah S. leprosula lebih dari 90% (bila buah masak sempurna). Kayu S. leprosula mempunyai kerapatan 300-865 kg/m3 pada kadar kelembaban 15% (Lemmens & Soerianegara 1994). Termasuk kelas awet III-V dan kelas kuat II-IV, mudah dikerjakan, tidak mudah pecah atau mengkerut. Kayunya terutama dipakai untuk vinir dan kayu lapis, disamping itu dapat juga dipakai untuk bangunan perumahan dan dapat juga dipakai sebagai kayu perkapalan, peti pengepak, peti mati dan alat musik (Martawijaya et al. 1981). Resinnya yang sering disebut damar daging dihasilkan di antara akar-akarnya digunakan sebagai bahan obat, kulitnya dipakai untuk bahan pewarna (Sutarno & Riswan 1997).
BAB III KONDISI UMUM LOKASI 3.1 Letak Geografis dan Luas Areal Berdasarkan letak geografis, areal PT. SBK blok Sungai Delang terletak pada posisi 01 24-01 59 Lintang Selatan dan 114 42-111 18 Bujur Timur, sedangkan blok Sungai Seruyan terletak antara 00 36-01 10 Lintang Selatan dan 111 39-112 25 Bujur Timur. Berdasarkan dokumen RKUPHHK tahun 2004, Luas areal PT. SBK keseluruhan adalah seluas 209.996 ha, yang terbagi menjadi dua blok yaitu blok Sungai Seruyan seluas 151.021 ha dan blok Sungai Delang seluas 58.975 ha. Gambar 4 Administrasi dan areal kerja PT. SBK Kalimantan Tengah tahun 1998 dan petak pengambilan sampel.
Batas areal PT. SBK dapat dilihat pada Tabel 1: Tabel 1 Batas Areal dan Administrasi Pemerintahan PT. SBK No. Deskripsi Hutan Sei Jelai Sei Delang Hutan Sei Seruyan Hulu 1 Batas Areal Kerja a Sebelah Utara IUPHHK PT Suka Jaya Makmur Batas Prop. Kalteng-Kalbar dan Hutan Lindung b Sebelah Timur IUPHHK PT Karya Trader, dan IUPHHK PT First Lamandau Ind. TN Bukit Baka-Bukit Raya, dan IUPHHK PT Meranti Mustika c Sebelah Selatan IUPHHK PT Kayu Pesaguan IUPHHK PT Erna Djuliawati dan IUPHHK PT Meranti Mustika d Sebelah Barat IUPHHK PT Kayu Pesaguan dan IUPHHK PT Suka Jaya Makmur 2 Administrasi Pemerintahan 3 Adm. Pemangkuan Hutan Prop. Kalimantan Tengah Kab. Kotawaringain Barat Dinas Kehut. Prop. Kalteng IUPHHK PT Erna Djuliawati Prop Kalimantan Tengah Kab. Kotawaringin Timur Dinas Kehut Prop. Kalteng 4 Kelompok Hutan Cabang Dinas Kehutanan Seruyan Cabang Dinas Kehutanan Seruyan 5 DAS / Sub Das Sei Jelai-Sei Delang Sei Seruyan Hulu 1) Sei Delang : 175 ha 1) Sei Katingan : 180 ha 2) Sei Seruyan : 140 ha 3) Sei Darap : 400 ha 4) Sei Kabahau : 750 ha 5) Sei Senamang : 225 ha 6 Ketinggian 100 m 1180 m dpl 100 m 1551 m dpl 3.2 Jenis Tanah, Geologi, dan Topografi Berdasarkan Peta Tanah Pulau Kalimantan skala 1: 1.000.000 yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPPP) Bogor tahun 1993, areal kerja PT. SBK pada blok Sungai Seruyan didominasi oleh jenis tanah Kambisol Distrik, Podsolik Kandlik dan Oksisol Haplik (44,74%), sedangkan untuk areal kerja blok Sungai Delang didominasi oleh jenis tanah Kambisol Distrik, Podsolik Kandlik dan Oksisol Haplik (68,23%). Berdasarkan klasifikasi menurut SK Mentan. No. 837 tahun 1980 seluruh areal kerja PT. SBK termasuk Podsolik. Berdasarkan Peta Geologi Indonesia lembar Kalimantan Tengah skala 1: 1.000.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung tahun 1993, formasi geologi yang mendominasi areal kerja PT. SBK blok Sungai Seruyan adalah lonalit, granodiolit, granit, sedikit diorit kuarsa, diorit dan garbo (76,54%).
Areal kerja blok Sungai Delang didominasi oleh granit menzolit kuarsa, granit telsparalkali, jorang granodiorit, tonalit monzolit, diorit dan gabro (82,21%). Keadaan topografi pada kelompok hutan Sungai Seruyan hulu bergelombang sampai agak berat atau sedang. Sebagian besar terdiri dari tanah pegunungan bergelombang dengan ketinggian daerah sampai 500 mdpl. Gambaran umum mengenai kemiringan lapangan areal konsensi hutan IUPHHK-HA PT. SBK dapat dilihat pada Tabel 2: Tabel 2 Gambaran kemiringan areal konsensi hutan IUPHHK PT. SBK Kondisi Lapangan Kelerengan (%) Luas efektif(ha) Persentase (%) Datar 0-8 56.015 1,92 Landai 8-15 55.054 29,43 Agak curam 15-25 53.061 46,99 Curam 25-40 33.063 21,12 Sangat curam > 40 11.107 0,54 Sumber: Peta Garis Bentuk PT. SBK Skala 1 : 25.000 3.3 Iklim Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson, areal PT. SBK tergolong beriklim tipe A. Pada blok Sungai Delang curah hujan ± 226,5 mm/bln dan ratarata hari hujan ± 12,39 hari, sedangkan pada blok sungai Seruyan curah hujan rata-rata ± 282,33 mm/bln dan rata-rata hari hujan ± 13,8 hari. Suhu rata-rata bulanan masing-masing berkisar antara 22 C-28ºC pada malam hari dan 30ºC - 33ºC pada siang hari. Bulan-bulan yang relatif kering adalah bulan Juni- September. Kelembaban nisbi di areal kerja IUPHHK berkisar antara 85-95%. Kelembaban nisbi terkecil terjadi pada bulan September dan terbesar terjadi pada bulan Juli dan Desember. Kecepatan arah angin di wilayah kerja IUPHHK berkisar antara 7-9 knots dengan kecepatan angin terbesar terjadi pada bulan Agustus dan Desember. 3.4 Keadaan Hutan Berdasarkan dokumen RKUPHHK tahun 2004, areal PT. SBK blok Sungai Seruyan seluas 151.021 Ha terdiri dari Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 137.120 Ha dan Hutan Produksi Konversi (HPK) seluas 13.900 ha. Sedangkan blok Sungai Delang seluas 58.975 Ha terdiri dari Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 54.129 Ha dan Hutan Produksi Konversi (HPK) seluas 4.846 ha.
Luas areal berhutan efektif (virgin forest dan bekas tebangan) yang diusahakan setelah dikurangi untuk kawasan lindung adalah seluas 126.466 ha (blok Sungai Seruyan seluas 96.245 ha dan blok Sungai Delang seluas 30.221 ha). Hutan di areal IUPHHK PT. SBK termasuk tipe hutan alam tropika basah yang sebagai lazimnya banyak ditemukan jenis vegetasinya. Dari tipe hutan tersebut, sebaran jenisnya untuk jenis komersialnya didominasi oleh Kelompok Kayu Meranti (Dipterocarpaceae) yang terdiri dari: Meranti (Shorea spp), Kapur (Dryobalanops spp), Marsawa (Anisoptera spp), Nyatoh (Palaquium spp), Durian Burung (Durio spp), Geronggang (Cratoxilon celebius), Jelutung (Dyera spp), dan Resak (Vatica spp). Kelompok kayu rimba campuran yang terdiri dari Keruing (Dipterocarpus spp), Bintangor (Calophylum spp), Medang (Litsea tirma Hook.F), Benuang (Octomeles sumatrana Miq), Ubar (Eugenia spp), Kulim (Scorodocarpus), dan Kempas (Kompassia spp). Kelompok kayu indah terdiri dari Ulin (Eusidroxylon zwageri), Sindur (Sindora spp), dan Rengas (Gluta renghas), disamping itu juga terdapat berbagai jenis lain yang belum teridentifikasi dan belum komersil. 3.5 Keadaan Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Penduduk desa di dalam maupun di luar areal kerja PT. SBK terdiri dari penduduk Suku Melayu dan Suku Dayak serta pendatang. Sebagian besar penduduk beragama Hindu Kaharingan (18.351 jiwa / 54%), beragama Islam (11.882 jiwa / 35 %), beragama Kristen Protestan (3.265 jiwa / 10%), dan beragama Katolik (162 jiwa / 1%). Mata pencaharian mayoritas penduduknya adalah dibidang pertanian 56%, selebihnya adalah dibidang swasta (karyawan) 19%, berdagang 15%, dan lain-lain 10%. Potensi yang dimiliki yaitu dibidang pertanian dan perkebunan. Masyarakat pada umumnya sudah banyak yang tamat Sekolah Dasar (SD). Tetapi jumlah penduduk yang belum tamat SD dan tamat SD sederajat pun masih banyak. Areal IUPHHK PT. SBK termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lamandau dan Kabupaten Katingan. Jumlah penduduk yang berada dalam atau di sekitar areal kerja IUPHHK PT. SBK dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Data kependudukan masyarakat sekitar PT. SBK Wilayah Kec. Delang Kec. Lamandau Kec. Seruyan Hulu Kec. Katingan Hulu Laki-laki (jiwa) 3.569 4.282 4.491 4.772 Perempuan (jiwa) 3.295 4.198 4.359 4.694 Jumlah (jiwa) 6.864 8.480 8.850 9.466 Sex Ratio 1,08 1,02 1,05 1,02 2.6 Ketenagakerjaan Penduduk di desa-desa dalam dan sekitar areal PT. SBK mempunyai kesempatan untuk menjadi karyawan PT. SBK, baik sebagai operasional di lapangan maupun tenaga administrasi sesuai dengan spesifikasi dan kriteria yang diinginkan pihak perusahaan dan sejauh kemampuan dari penduduk tersebut bisa memenuhi persyaratan yang diminta. Dalam pengelolaan hutan, PT. SBK telah banyak menggunakan tenaga teknis kehutanan. Data teknis kehutanan yang bekerja di IUPHHK PT.SBK dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Daftar tenaga teknis kehutanan yang digunakan oleh PT. SBK No Pendidikan / Tingkat Keahlian Jumlah Tenaga (orang) Standard Realisasi A Tenaga Teknis Kehutanan 1 Sarjana Kehutanan 6 13 2 Sarjana Muda Kehutanan 10 11 3 SKMA/ KKMA/ D-1 Kehutanan 10 2 4 Pembibitan dan Persemaian 10 23 5 Permudaan dan Penghutanan 16 26 6 Pengukuran dan Perpetaan 8 3 7 Cruiser 8 30 8 Scaler/ Log Grader 16 60 9 Pengenal Jenis Pohon 12 10 B Bidang Sosial dan Ekonomi 4 42 C Dampak Lingkungan 2 6
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di areal IUPHHK-HA PT. SBK, Kabupaten Seruyan-Kalimantan Tengah pada bulan Mei sampai dengan Juni 2009. 4.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa tanaman meranti (S. leprosula) yang ditanam dengan sistem TPTJ pada kondisi 5, 6, 7, 8, dan 9 tahun penanaman di PT. SBK. Alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu pita ukur atau phi band dan caliper untuk mengukur diameter; kompas, patok, tali tambang 20 m, dan cat merah untuk pembuatan batas-batas plot contoh; tally sheet; serta seperangkat komputer yang dilengkapi dengan aplikasi Microsoft Excel 2007, Minitab 14, dan SPSS 15 untuk pengolahan data. 4.3 Metode Pengumpulan Data 4.3.1 Pemilihan lokasi petak Penelitian ini dilaksanakan pada areal hutan (blok RKT) yang diterapkan sistem silvikultur TPTJ. Satu Blok RKT terdiri dari beberapa petak seluas kurang lebih 100 Ha yang memiliki tanaman dalam jalur yang berumur kurang lebih sama. Pemilihan petak dilakukan secara purposive dengan memperhatikan umur tanaman dan aksesibilitas (tingkat keterjangkauan petak). Petak-petak yang terpilih dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Lokasi petak pengukuran tanaman di lapangan No Petak Penanaman Umur Tanaman (Tahun) Ketinggian tempat (mdpl) 1 5V 5 204 2 4M 6 209 3 1 Q 7 112 4 1P 8 234 5 1Q 9 112 Koordinat Plot contoh X: 00 48 37,4 Y:112 20 19,6 X: 00 51 31,5 Y:112 20 32,6 X:00 59 3,1 Y:112 21 38,1 X :00 56 31,0 Y:112 21 40,7 X:00 59 3,1 Y:112 21 38,1 4.3.2 Pembuatan plot contoh Dari petak-petak tersebut (tiap umur tanam) dibuat masing-masing satu buah plot contoh berukuran 100 m x 100 m (1 ha) yang terdiri dari 5 jalur tanam dan berjarak rata-rata 20 m dari tepi jalan dengan pertimbangan plot tersebut tidak terpotong jalan angkutan baik jalan utama maupun jalan sarad. Batas-batas plot contoh ditandai dengan cat berwarna merah yang ditorehkan pada tetumbuhan yang dilalui oleh garis batas. 4.3.3 Pengukuran diameter Pengukuran diameter dilakukan pada tanaman jenis S. leprosula yang terdapat dalam jalur-jalur yang berada dalam plot contoh. Metode yang digunakan untuk mengukur diameter tanaman dalam jalur adalah transek jalur tanam. Pengukuran diameter dilakukan dengan menggunakan phi band pada ketinggian ± 1,3 m (setinggi dada) di atas permukaan tanah untuk tingkat pohon, sedangkan untuk tingkat dibawahnya diukur pada pangkal batang.
Berikut adalah gambar plot contoh dalam penelitian. 100 m 100 m Jalur antara Jalur antara Jalur antara Jalur antara 22m 3 m (Jalur tanam) Gambar 5 Bentuk dan ukuran plot contoh dalam penelitian. Keterangan : = titik tanaman, jarak tanaman dalam jalur 5 m dan jarak antar jalur 25 m. = batas plot Lebar jalur tanam = 3 meter Lebar jalur antara = 22 meter 4. 4 Analisis Data Analisis data mengenai pertumbuhan tanaman S. leprosula dilakukan dengan mengelompokkan data masing-masing umur menjadi beberapa kelas diameter untuk mengetahui sebarannya (distribusi frekuensi) kemudian
melakukan uji normalitas data pada masing-masing umur tanaman. Selanjutnya, dihitung riap rata-rata pertahun (Mean Annual Increment (MAI)) dan dianalisis dengan menggunakan ANOVA (Analysis of Vaiance) untuk membandingkan nilai tengah (rata-rata) dari parameter pertumbuhan (riap diameter) pada tiap-tiap plot penelitian, yang dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf nyata 5%. 4.4.1 Pembuatan tabel dan grafik histogram distribusi frekuensi dengan kurva normal Pembuatan tabel distribusi frekuensi dilakukan secara manual (terlampir) dengan alat bantu microsoft excel sedangkan pembuatan grafik (histogram) distribusi frekuensi dilakukan dengan menggunakan software minitab 14. 4.4.2 Pengujian Normalitas data Model analisis yang digunakan adalah tes Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk, dengan taraf signifikansi = 0.05. Normal tidaknya data dilihat dari nilai signifikansi dari masing-masing tes tersebut. Jika signifikan (p < 0.05) maka data tersebut tidak normal distribusinya, sedangkan jika tidak signifikan (p > 0.05) maka data tersebut normal distribusinya. Analisis data uji normalitas dilakukan dengan software SPSS 15. 4.4.3 Perhitungan riap diameter Perhitungan riap diameter ini didasarkan pada rumus riap diameter ratarata tahun berjalan (MAI), yaitu : I d i d t i i (cm/thn) dimana : I = Riap diameter rata-rata tahunan dalam plot contoh ke-i (cm/thn). d i d i = Rata rata diameter tanaman dalam plot contoh ke-i(cm) t i = Umur tanaman dalam plot contoh ke-i ( thn).
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Pertumbuhan diameter S. Leprosula umur tanam 5-9 tahun Hasil pengamatan dan pengukuran pada 5 plot contoh yang memiliki luas 1 ha (100 m x 100 m) dapat dilihat pada Tabel 6: Tabel 6 Pertumbuhan diameter S. Leprosula umur tanam 5-9 tahun No. Umur Petak Max Min Ratarata Diameter (cm) Riap (MAI) (cm/ tahun) Simpangan baku sampel 1 5 5V 11,1 1,8 7,23 1,45 a 2,34 31 2 6 4M 17,5 4,3 12,31 2,05 b 3,85 31 3 7 1Q 23,2 9,9 16.18 2,31 b 3,43 60 4 8 1P 24,4 13,2 18,26 2,28 b 3,64 20 5 9 1Q 28,5 8,2 19,70 2,19 b 4,43 63 Ket. : angka yang diikuti dengan huruf yang sama menyatakan bahwa tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata diameter mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yaitu dari umur tanam 5 tahun hingga 9 tahun adalah 7,23; 12,31; 16,21; 18,26; dan 19,70. Pertumbuhan riap diameter rata-rata (MAI), terjadi fluktuasi MAI dari tahun ke tahun (Gambar 6) dimana pada umur tanam 5 tahun sebesar 1,45 cm/ tahun kemudian meningkat menjadi 2,05 cm/ tahun dan 2,31 cm/ tahun pada umur tanam 6 tahun dan 7 tahun, kemudian menurun menjadi 2,28 cm/ tahun dan 2,19 cm/ tahun pada umur tanam 8 dan 9 tahun. Jumlah sampel dalam masing-masing plot contoh bervariasi karena penanaman dalam petak-petak kerja areal kerja PT. SBK dilakukan secara acak sesuai ketersediaan bibit yang siap tanam. Grafik pertumbuhan (riap) dari umur tanam 5 hingga 9 tahun dapat dilihat pada Gambar 6:
MAI (cm/ tahun) 2.5 2 1.5 1 0.5 1.45 2.05 2.31 2.28 2.19 0 5 6 7 8 9 Umur tanam (tahun) Gambar 6 Riap diameter rata-rata tahun berjalan (MAI) S. leprosula umur tanam 5 hingga 9 tahun. Bila digabungkan dengan hasil penelitian Pamoengkas (2006) yang meneliti pertumbuhan diameter S. leprosula umur tanam 1-4 tahun, akan tampak kurva pertumbuhan diameter yang berbentuk sigmoid (Gambar 7). Hal ini menjelaskan bahwa pertumbuhan diameter tegakan S. leprosula yang dikelola dengan sistem TPTJ sesuai dengan pertumbuhan organisme yang ideal dimana kurva pertumbuhannya menyerupai huruf S atau berbentuk kurva sigmoid. diameter rata-rata (cm) 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Umur tanam (tahun) Gambar 7 Kurva pertumbuhan S.leprosula hasil pengamatan umur 1-9 tahun.
5.1.2 Uji normalitas data Uji normalitas data pada dasarnya adalah melakukan perbandingan data hasil pengamatan (data empirik) dengan data yang berdistribusi normal (data teoritik) yang memiliki rata-rata dan standar deviasi yang sama dengan data empirik. Pengujian dilakukan dengan menggunakan statistik uji Kolmogorov- Smirnov dan Shapiro-Wilk (taraf signifikansi (α) = 0.05),dengan pasangan hipotesis sebagai berikut : H 0 : Distribusi diameter empirik (hasil pengukuran) = Distribusi teoritik (normal) H 1 : Distribusi diameter empirik (hasil pengukuran) Distribusi teoritik (normal) Kaidah keputusan atau kriteria pengujian disusun sebagai berikut : Jika signifikan (p 0.05), maka tolak H 0 Jika tidak signifikan (p> 0.05), maka terima H 0 Hasil uji normalitas data dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Hasil uji normalitas data Umur tanaman p (K-S) p (S-W) Hasil uji 5 0.200 362 terima H 0 (p> 0.05) 6 0.200 154 terima H 0 (p> 0.05) 7 0.200 800 terima H 0 (p> 0.05) 8 0.200 110 terima H 0 (p> 0.05) 9 0.200 166 terima H 0 (p> 0.05) Ket : P (K-S) = nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov Ket : P (S-W) = nilai signifikansi Shapiro-Wilk Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa semua data hasil pengamatan pada masingmasing umur memiliki distribusi normal karena memenuhi kriteria uji H 0 yaitu memiliki nilai signifikansi masing-masing uji signifikansi (0.05). yang lebih besar dari taraf
Frekuensi 5.1.3 Distribusi frekuensi (sebaran) diameter Penyajian data berupa distribusi frekuensi adalah dengan cara menyajikan data dalam beberapa kelompok, seperti kelas diameter. Meski dari uji normalitas data sudah diketahui bahwa data diameter hasil pengamatan memiliki sebaran normal, pembuatan grafik histogram frekuensi tetap dibuat sehingga dapat mempermudah pengamatan terhadap sebaran data. Berikut adalah distribusi frekuensi diameter untuk masing-masing kelas umur: 5.1.3.1 Umur 5 Tahun Distribusi frekuensi diameter kelas umur 5 tahun disajikan pada Tabel 8: Tabel 8 Distribusi frekuensi diameter tanaman umur 5 tahun Selang kelas (cm) Titik Kelas batas batas tengah diameter atas bawah (cm) Frekuensi 1 1.8 3.3 2.55 2 2 3.4 4.9 4.15 3 3 5.0 6.5 5.75 6 4 6.6 8.1 7.35 9 5 8.2 9.7 8.95 7 6 9.8 11.3 10.55 4 Dari Tabel 8 di atas dapat dilihat bahwa sebaran diameter terbesar terletak pada kelas diameter 4 yaitu sebanyak 9 tanaman dengan titik tengah 7,35 cm. Uji normalitas data dengan metode K-S dan S-W (Tabel 7) menunjukkan bahwa data ini memiliki sebaran normal, terlihat pada Gambar 5 bahwa sebaran diameter banyak tersebar di sekitar nilai tengah data yaitu 7,23 cm (Tabel 6). 9 8 9 Mean 7.195 StDev 2.238 N 31 7 7 6 6 5 4 4 3 3 2 2 1 0 2.55 4.15 5.75 7.35 Diameter (cm) 8.95 10.55 Gambar 8 Grafik histogram sebaran diameter dan kurva normal umur tanam 5 Tahun.
Frekuensi 5.1.3.2 Umur 6 Tahun Distribusi frekuensi diameter kelas umur 6 tahun disajikan pada Tabel 9: Tabel 9 Distribusi frekuensi diameter tanaman umur 6 Tahun Selang kelas (cm) Titik Kelas tengah diameter batas batas Frekuensi atas bawah (cm) 1 4.3 6.4 5.35 3 2 6.5 8.6 7.55 2 3 8.7 10.8 9.75 5 4 10.9 13.0 11.95 8 5 13.1 15.2 14.15 5 6 15.3 17.4 16.35 4 7 17.5 19.6 18.55 4 Dari Tabel 9 di atas dapat dilihat bahwa sebaran diameter terbesar terletak pada kelas diameter 4 yaitu sebanyak 8 tanaman dengan titik tengah 11,95 cm. Uji normalitas data dengan metode K-S dan S-W (Tabel 7) menunjukkan bahwa data ini memiliki sebaran normal. Terlihat pada Gambar 6 bahwa sebaran diameter banyak terkumpul di sekitar nilai tengah data yaitu 12,3 cm, meski tampak condong ke sebelah kanan (> nilai tengah), ini berarti individu dengan diameter yang lebih besar dari rata-rata lebih banyak daripada individu berdiameter kecil. 8 Mean 12.45 StDev 3.924 N 31 5 5 4 4 3 2 5.35 7.55 9.75 11.95 14.15 Diameter (cm) 16.35 18.55 Gambar 9 Grafik histogram sebaran diameter dan kurva normal umur tanam 6 Tahun.
Frequency 5.1.3.3 Umur 7 Tahun Distribusi frekuensi diameter kelas umur 7 tahun disajikan pada Tabel 10: Tabel 10 Distribusi frekuensi diameter tanaman umur 7 Tahun Kelas diameter Selang kelas (cm) batas atas batas bawah Titik tengah (cm) Frekuensi 1 7.01 9.31 8.16 1 2 9.41 11.71 10.56 6 3 11.81 14.11 12.96 6 4 14.21 16.51 15.36 20 5 16.61 18.91 17.76 16 6 19.01 21.31 20.16 6 7 21.41 23.71 22.56 5 Dari Tabel 10 di atas dapat dilihat bahwa sebaran diameter terbesar terletak pada kelas diameter 4 yaitu sebanyak 20 tanaman dengan titik tengah 16,51 cm. Uji normalitas data dengan metode K-S dan S-W (Tabel 7) menunjukkan bahwa data ini memiliki sebaran normal. Terlihat pada Gambar 7 bahwa sebaran diameter banyak terkumpul di sekitar nilai tengah data yaitu 16,18 cm (Tabel 6). Sebaran diameter pada umur 7 tahun ini juga tampak condong ke sebelah kanan yang berarti tanaman berdiameter besar (> nilai tengah) lebih banyak. 20 Mean 16.24 StDev 3.364 N 60 16 6 6 6 5 1 8.16 10.56 12.96 15.36 17.76 Diameter (cm) 20.16 22.56 Gambar 10 Grafik histogram sebaran diameter dan kurva normal umur tanam 7 Tahun.
Frekuensi 5.1.3.4 Umur 8 Tahun Distribusi frekuensi diameter kelas umur 8 tahun disajikan pada Tabel 11: Tabel 11 Distribusi frekuensi diameter tanaman umur 8 Tahun Kelas diameter Selang kelas (cm) batas atas batas bawah Titik tengah (cm) Frekuensi 1 13.2 15.0 14.1 4 2 15.1 16.9 16.0 5 3 17.0 18.8 17.9 2 4 18.9 20.7 19.8 2 5 20.8 22.6 21.7 5 6 22.7 24.5 23.6 2 Dari Tabel 11 di atas dapat dilihat bahwa sebaran diameter terbesar terletak pada 2 kelas diameter yaitu kelas diameter 2 dan 5 dimana masing-masing memiliki angggota sebanyak 5 tanaman dengan titik tengah 16 cm dan 21,7 cm. Uji normalitas data dengan metode K-S dan S-W (Tabel 7) menunjukkan bahwa data ini memiliki sebaran normal, meski terlihat pada Gambar 8 di bawah ini bahwa sebaran diameter banyak terkumpul di samping kanan dan kiri nilai tengah data yaitu 18,26 cm (Tabel 6) dengan proporsi yang hampir sama besar. 5 5 Mean 18.37 StDev 3.369 N 20 4 2 2 2 14.1 16.0 17.9 19.8 Diameter (cm) 21.7 23.6 Gambar 11 Grafik histogram sebaran diameter dan kurva normal umur tanam 8 Tahun.
Frekuensi 5.1.3.5 Umur 9 Tahun Distribusi frekuensi diameter kelas umur 9 tahun disajikan pada Tabel 12: Tabel 12. Distribusi frekuensi diameter tanaman umur 9 Tahun Kelas diameter Selang kelas (cm) batas atas batas bawah Titik tengah (cm) Frekuensi 1 8,2 11,0 9,6 1 2 11,1 13,9 12,5 5 3 14,0 16,8 15,4 13 4 16,9 19,7 18,3 8 5 19,8 22,6 21,2 17 6 22,7 25,5 24,1 15 7 25,6 28,4 27,0 3 8 28,5 31,3 29,9 1 Dari Tabel 12 di atas dapat dilihat bahwa sebaran diameter terbesar terletak pada kelas diameter 5 yaitu sebanyak 17 tanaman dengan titik tengah 21,2 cm, dimana pada kelas diameter 5 ini terdapat nilai rata-rata tegakan (19,7 cm). Uji normalitas data dengan metode K-S dan S-W (Tabel 7) menunjukkan bahwa data ini memiliki sebaran normal, meskipun grafik histogram lebih condong ke sebelah kanan dari nilai tengah. 17 15 Mean 19.87 StDev 4.414 N 63 13 8 5 3 1 1 9.6 12.5 15.4 18.3 21.2 Diameter (cm) 24.1 27.0 29.9 Gambar 12 Grafik histogram sebaran diameter dan kurva normal umur tanam 9 Tahun.
5.2 Pembahasan Pertumbuhan didefinisikan sebagai suatu perkembangan yang menunjukkan pertambahan ukuran suatu sistem organik selama hidupnya, sedangkan riap adalah pertambahan ukuran pohon atau tegakan dalam jangka waktu tertentu. Pertumbuhan maupun riap pohon atau tegakan dapat diketahui dengan mengukur pertambahannya dalam diameter, tinggi atau volumenya (Mukhmadun 1994 diacu dalam Arim 1995). Pertumbuhan S. leprosula hasil pengamatan pada tanaman umur 5-9 tahun yang dikelola dengan sistem silvikultur TPTJ menunjukkan tren perkembangan diameter yang cepat diawal masa pertumbuhannya, yaitu dengan rata-rata riap sebesar 2,05 cm/tahun dimana nilai ini termasuk sangat cepat (riap> 1,4 cm/tahun) dalam klasifikasi kecepatan tumbuh oleh Meijer dalam Mindawati dan Tiryana (2002). Hal ini dikarenakan tanaman yang masih muda sedang dalam tahap pertumbuhan (fase) vegetatif, dimana hasil fotosintesis masih difokuskan pada pembelahan sel, perpanjangan sel, dan tahap pertama diferensiasi untuk pembentukan organ-organ vegetatif (akar, batang, daun). Fase ini sangat diperlukan tanaman pada awal pertumbuhan agar dapat bersaing dengan tanaman lain disekitarnya dalam perolehan air, mineral, maupun cahaya matahari. Lebih jauh dikatakan bahwa S. Leprosula yang berumur sampai dengan 9 tahun masih dalam periode juvenile yang dicirikan oleh pertumbuhan riap yang pesat. Berdasarkan tabel 6 terlihat bahwa tanaman S. leprosula yang ditanam dengan sistem TPTJ menunjukkan perkembangan yang bisa dikatakan pesat. Rata-rata diameter tanaman yang berumur 9 tahun sudah mencapai hampir 20 cm (19,70 cm) dan riap (MAI) sekitar 2,19 cm/ tahun, dengan pohon terbesar mencapai 28.5 cm (MAI=3.16 cm/ tahun). Capaian ini jauh melebihi pertumbuhan S. leprosula di Jasinga hasil penelitian Arim (1995), yaitu S. leprosula umur 11 tahun baru mencapai diameter 21.9 cm dengan MAI 1.99 cm/ tahun (rata-rata diameter= 15.05cm, rata-rata MAI= 1.38). Hal ini karena selain adanya perbedaan lingkungan, juga diduga karena ada perbedaan perlakuan silvikultur yang diterapkan. Menurut Pamoengkas (2006), kegiatan pemeliharan dalam sistem TPTJ seperti pemangkasan tanaman meranti dan penebasan tanaman di pinggir jalur tanam yang dilakukan secara intensif terus-menerus mulai tanaman berumur
1 tahun menyebabkan adanya penambahan bahan organik yang berasal dari residu tanaman secara terus menerus sehingga terjadi peningkatan akumulasi bahan organik pada areal TPTJ dan kondisi ini turut membantu proses perbaikan atau pemulihan bahan organik tanah. Selain itu melalui tindakan pembebasan terhadap tanaman lain yang menaungi S. leprosula akan meningkatkan masuknya cahaya yang sangat penting bagi pertumbuhannya. Hasil penelitian pertumbuhan kumulatif diameter S. leprosula umur 5-9 tahun bila digabungkan dengan hasil penelitian Pamoengkas (2006) yang meneliti pertumbuhan diameter S. leprosula umur tanam 1-4 tahun, maka akan tampak bentuk kurva pertumbuhan yang mendekati bentuk kurva S (Gambar 7). Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan S. leprosula dalam jalur termasuk ideal seperti pertumbuhan organisme pada umumnya. Grafik riap diameter tanaman umur 5 hingga 9 tahun (Gambar 6) menunjukkan bahwa riap diameter pada umur tanam 5 tahun adalah yang terkecil dibandingkan dengan yang lain. Hal ini diduga karena daya adaptasi (adaptability) tanaman yang kurang terhadap lingkungannya. Melihat kenyataan di atas jenis S. leprosula masih membutuhkan perlakuan silvikultur yang intensif, seperti pemeliharaan tanaman berupa pembebasan vertikal hingga berumur 5 tahun. Sejauh ini pemeliharan tanaman hanya dilakukan hingga tanaman berumur 4 tahun. Meski berubah-ubah, tren pertumbuhan (riap) dari umur tanam 6 hingga 9 tahun tidak berbeda nyata atau cukup stabil dengan rata-rata 2,2 cm/ tahun, hanya tanaman berumur 5 tahun yang memiliki riap dibawah rata-rata tersebut yaitu sebesar 1,45 cm/ tahun. Bila tren ini tidak mengalami perubahan drastis maka pada umur tanam 20 tahun, diameter S. leprosula yang ditanam dengan sistem TPTJ ini sudah bisa mencapai limit diameter (40 cm up) dan layak tebang. Hal ini berarti bahwa sistem silvikultur TPTJ tidak hanya memberi kelestarian produksi, namun juga mempercepat daur produksi sehingga dapat menambah pendapatan perusahaan dalam jangka waktu yang lebih singkat. Hasil penelitian yang disajikan dalam Tabel 6 menunjukkan bahwa angka standar deviasi yang semakin besar seiring bertambahnya umur tanam. Simpangan baku (standar deviasi) merupakan ukuran penyebaran data yang berupa akar dari
rata-rata jarak kuadrat semua titik pengamatan terhadap nilai tengah gugus data tersebut (rata-rata). Simpangan baku ini memperlihatkan besar kecilnya keragaman diantara pengamatan-pengamatan dalam suatu gugus data. Berdasarkan nilai simpangan baku (σ) tersebut dapat diketahui pertumbuhan diameter tanaman meranti yang memiliki tingkat keragaman tinggi yaitu saat umur tanaman 9 tahun dan tingkat keragaman yang paling rendah atau hampir seragam (sama) yaitu saat umur tanaman 5 tahun. Lebih jauh dapat diungkapkan bahwa nilai keragaman semakin besar seiring dengan bertambahnya umur. Adanya perbandingan lurus antara nilai ragam dan umur tanaman ini dapat dijelaskan bahwa pada awal pertumbuhan, tanaman yang baru ditanam hampir seragam untuk ukuran diameter tanaman. Tetapi dengan semakin bertambahnya waktu maka tanaman-tanaman tersebut akan mengalami pertumbuhan dan memiliki kecepatan tumbuh yang berbeda-beda akibat berbagai faktor baik genetik maupun lingkungan. Selain itu terjadi persaingan antar individu untuk tetap bertahan hidup dalam memperoleh air, unsur hara, dan cahaya sesuai kebutuhan masing-masing individu. Persaingan seperti ini akan terus berlanjut yang mengakibatkan perbedaan kecepatan tumbuh, beberapa tanaman kalah bersaing pertumbuhannya akan kurang baik karena kekurangan materi-materi untuk pertumbuhannya, dan tanaman yang mampu bersaing dapat tumbuh dengan baik dan semakin mendominasi. Hal inilah yang menyebabkan semakin besarnya nilai keragaman seiring bertambahnya umur tanaman. Tanaman-tanaman yang terdapat dalam jalur tanam dapat dikategorikan sebagai tegakan seumur karena ditanam pada waktu yang bersamaan, serta dicirikan oleh tajuk pohon yang tampak seragam (satu strata). Untuk sebaran ukuran parameter pertumbuhannya, jumlah (frekuensi) terbesar pohon berada pada kelas diameter yang diwakili oleh rata-rata diameter tegakan hutan, sedangkan kelas diameter diatas atau dibawah rata-rata diameter tegakan hutan memiliki jumlah pohon yang lebih sedikit (Daniel et al. 1987). Bila divisualisasikan dalam bentuk grafik histogram, maka bentuk distribusi kelas diameternya sesuai dengan bentuk kurva sebaran normal yaitu berupa lonceng telungkup. Bisa disederhanakan bahwa bila data acak yang terkumpul lulus uji
normalitas, maka data tersebut memiliki sebaran normal yang berarti sebaran diameter dari tegakan tersebut memenuhi ciri-ciri dari tegakan seumur. Hasil uji normalitas data dengan Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk (Tabel 7) menunjukkan bahwa semua data yang diambil pada masing-masing umur tanam memiliki data sebaran diameter normal, sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan tanaman-tanaman dalam jalur tersebut termasuk baik karena sesuai dengan ciri-ciri tegakan seumur seperti diuraikan pada alinea sebelumnya. Dari beberapa petak contoh yang diamati, sebaran diameter yang terbaik terdapat pada petak contoh berumur sembilan tahun dimana sebaran diameternya memiliki kecenderungan (condong) ke arah kanan dari nilai tengah. Jumlah individu yang berdiameter lebih besar dari nilai tengah mencapai 58% dari total individu (n=63). Ini berarti pertumbuhan tanaman di plot contoh ini tidak hanya tersebar normal, tetapi juga menghasilkan volume kayu yang lebih besar. Hal ini diduga karena cahaya yang diterima tanaman lebih banyak karena dari pengamatan langsung dilapangan, tinggi tanaman sudah menyamai tinggi tanaman penaung dalam jalur antara. Kenyataan ini sesuai dengan pernyataan Alrasyid et al. (1991) dalam Arim (1995) bahwa pada umur tanam tersebut tutupan tajuk yang menaungi tanaman sudah tidak ada lagi, sebab rata-rata tinggi pohon sudah menyamai tinggi pohon naungannya, sehingga tanaman meranti dapat memperoleh cahaya matahari hampir 100%. Selain itu juga diduga karena pada umur 9 tahun tanaman meranti sudah lebih siap untuk menerima atau mungkin sudah membutuhkan cahaya lebih, mengingat bahwa jenis ini adalah jenis semitoleran. Begitu banyaknya faktor-faktor lingkungan tempat tumbuh terhadap pertumbuhan tanaman mendesak diperlukannya penelitian yang lebih mendalam tentang berbagai interaksi antar faktor luar tersebut dalam mempengaruhi pertumbuhan. Seperti hasil penelitian Wati (2008), bahwa penelitian terhadap satu faktor lingkungan seperti perbedaan kelas kelerengan tidak menyebabkan perbedaan yang berarti terhadap pertumbuhan (tinggi dan diameter) pada S. Leprosula. Dugaan perbedaan diameter disebabkan oleh pengaruh simultan dengan beberapa faktor yang mempengaruhi unsur pertumbuhan, seperti cahaya, lereng dan hara.
Pertumbuhan tanaman kebanyakan sangat tergantung kepada jumlah air yang tersedia di dalam tanah. Air dibutuhkan tanaman untuk membuat karbohidrat di daun, untuk menjaga hidrasi protoplasma dan sebagai pengangkut dan mentranslokasikan makanan-makanan dan unsur-unsur mineral (Nyakpa et al. 1998). Oleh karena itu, pelebaran jalur tanam serta pemeliharaan berupa pembebasan baik vertikal maupun horisontal tetap perlu dilakukan karena akan membantu mengurangi persaingan terhadap kebutuhan air antara tanaman dalam jalur dengan tanaman gulma dalam jalur atau dengan tanaman yang terdapat dalam jalur antara.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian sejauh ini dapat disimpulkan bahwa: 1. Secara umum pertumbuhan diameter tanaman S. leprosula yang ditanam dalam jalur dengan sistem TPTJ di PT. SBK memiliki sebaran pertumbuhan diameter normal, dimana jumlah (frekuensi) individu (tanaman) banyak terdapat pada kelas yang mewakili nilai tengah (ratarata) dari diameter tegakan, serta menunjukkan kurva pertumbuhan diameter berbentuk sigmoid. 2. Pertumbuhan S. leprosula dalam jalur hingga umur 9 tahun mencapai riap rata-rata diameter (MAI) tertinggi pada umur tanam 7 tahun yaitu sebesar 2,31 cm/ tahun dan terendah pada umur tanam 5 tahun yaitu 1,45 cm/ tahun. Diameter terbesar terdapat pada umur tanam 9 tahun yaitu 28,5 cm (rata-rata 19,7 cm). 6.2 Saran 1. Pemeliharaan tanaman sebaiknya masih dilanjutkan hingga tanaman berumur 5 tahun. 2. Diperlukan penelitian lanjutan mengenai keragaman genetik S. leprosula dalam jalur untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap pertumbuhan. 3. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai interaksi berbagai faktor pertumbuhan seperti suhu, kelembaban, cahaya, kelerengan, dan genetik. 4. Sebaiknya segera dilakukan penjarangan pada tegakan dengan umur tanam 9 tahun karena pohon-pohon berdiameter kecil dalam jalur sudah sangat tertekan dan hanya menghambat pertumbuhan tanaman lainnya.
DAFTAR PUSTAKA Appanah S, G Weinland. 1993. Planting Quality Timber Trees In Peninsular Malaysia. Kepong: Forest Research Institute Malaysia. Arim HD. 1995. Studi Pertumbuhan Tanaman Meranti (Shorea spp.) di BKPH Jasinga, KPH Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Avery TE, HE Burkhart. 1994. Forest Measurements. New York: Mc. Graw-Hill Inc. Bruenig EF. 1996. Conservation and Management of Tropical Rainforests: An integrated approach to sustainability. Willingford: CAB International. Daniel TW, JA Helms, FS Baker. 1987. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Djoko Marsono, penerjemah; Oemi HS, editor. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Principles of Silviculture. [Dephut] Departemen Kehutanan. Undang-undang Pokok Kehutanan No. 5 Tahun 1967. Jakarta: Dephut. [Dephut] Departemen Kehutanan. Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Jakarta: Dephut. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2009. Statistik Kehutanan Indonesia 2008. Jakarta: Dephut. Husch B. 1963. Forest Mensuration and Statistic. New York: The Ronald Press Company. Indrawan A. 2003. Model Sistem Pengelolaan Hutan Alam Setelah Penebangan dengan Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI). Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol.IX No.2 : 19-33(2003). Joker D. 2002. Informasi Singkat Benih: Shorea leprosula Miq. Jakarta: Direktorat Perbenihan Tanaman Kehutanan, Departemen Kehutanan. Kramer PJ, T Kozlowski. 1960. Physiology of Trees. New York: McGraw-Hill Book Company. Lambers H, FS Chapin, TL Pons. 1998. Plant Physiological Ecology. New York: Spriger Verlag. Latifah S. 2004. Tinjauan Konseptual Model Pertumbuhan dan Hasil Tegakan Hutan. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Lemmens RHMJ, I Soerianegara. 2002. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 5(1): Pohon penghasil kayu perdagangan yang utama. Jakarta: PROSEA Balai Pustaka. Hlm 415-438. Loetsch F, E Haller. 1973. Forest Inventory Volume II. F Brunig, penerjemah. Munchen: BLV. Martawijaya et al. 1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Mindawati N, Tiryana T. 2002. Pertumbuhan Jenis Pohon Khaya anthotheca di Jawa Barat. Bulletin Penelitian Hutan No. 632: 47-58. Nyakpa et al. 1998. Kesuburan Tanah. Lampung: Universitas Lampung. Pamoengkas P. 2006. Kajian Aspek Vegetasi dan Kualitas Tanah Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (Studi Kasus di Areal HPH PT. Sari bumi Kusuma, Kalimantan Tengah) [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Rudjiman, DT Adriyanti. 2002. Identification Manual of Shorea spp. ITTO PD 16/96 Rev. 4 (F). Yogyakarta: Faculty of Forestry Gadjah Mada University. Sitompul MS. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Yogyakarta : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. UGM Press. Suhendang E. 1990. Hubungan Antara Dimensi Tegakan Hutan Tanaman Dengan Faktor Tempat Tumbuh dan Tindakan Silvikultur Pada Hutan Tanaman Pinus Merkusii Jungh. Et De Vriese Di Pulau Jawa [disertasi]. Bogor: Program Pasca Sarjana, IPB. Suparna N, S Purnomo. 2004. Pengalaman Membangun Hutan Tanaman Meranti di PT. Sari bumi Kusuma, Kalteng. Jakarta: PT. Alas kusuma. Sutarno H, S Riswan. 1997. Seri Pengembangan Prosea 5 (2).3 Latihan Mengenal Pohon Hutan : Kunci Identifikasi dan Fakta Jenis. Bogor: Yayasan Prosea Indonesia. Tjionger M. 2002. Pentingnya Menjaga Keseimbangan Unsur Hara Makro dan Mikro Untuk Tanaman. Sulsel. Wati NH. 2008. Pertumbuhan Shorea leprosula Miq dan Shorea parvifolia Dyer dalam Sistem Silvikultur TPTI Intensif (Studi Kasus di Areal IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma Unit Sungai Seruyan Kalimantan Tengah) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil perhitungan riap diameter S. leprosula umur 5-9 tahun Umur 5 Tahun (pengukuran : Mei 2009) No. No jalur No. Ajir Jenis Diameter (cm) Riap (MAI) 1 21 1 Shorea leprosula 3.7 0.74 2 21 3 Shorea leprosula 8.6 1.72 3 21 5 Shorea leprosula 7.4 1.48 4 21 6 Shorea leprosula 7.2 1.44 5 21 7 Shorea leprosula 4.1 0.82 6 21 8 Shorea leprosula 6.1 1.22 7 21 9 Shorea leprosula 4.1 0.82 8 21 10 Shorea leprosula 6.5 1.30 9 21 12 Shorea leprosula 7.4 1.48 10 21 14 Shorea leprosula 11.1 2.22 11 21 15 Shorea leprosula 8.3 1.66 12 21 16 Shorea leprosula 8.9 1.78 13 21 18 Shorea leprosula 8.6 1.72 14 21 19 Shorea leprosula 9.2 1.84 15 21 20 Shorea leprosula 7.4 1.48 16 21 21 Shorea leprosula 10.5 2.10 17 21 22 Shorea leprosula 10.9 2.18 18 21 23 Shorea leprosula 6.7 1.34 19 21 26 Shorea leprosula 9.7 1.94 20 23 13 Shorea leprosula 6.0 1.20 21 23 20 Shorea leprosula 10.4 2.08 22 23 21 Shorea leprosula 7.6 1.52 23 23 28 Shorea leprosula 9.1 1.82 24 24 237 Shorea leprosula 7.3 1.46 25 24 238 Shorea leprosula 6.4 1.28 26 24 240 Shorea leprosula 5.6 1.12 27 24 242 Shorea leprosula 7.3 1.46 28 24 251 Shorea leprosula 6.1 1.22 29 24 252 Shorea leprosula 7.9 1.58 30 24 260 Shorea leprosula 1.8 0.36 31 24 264 Shorea leprosula 2.3 0.46 Rata-rata 7.23 1.45 Umur 6 Tahun (pengukuran : Mei 2009) No. No jalur No. Ajir Jenis Diameter (cm) Riap (MAI) 1 9 - Shorea leprosulla 12.5 2.08 2 9 - Shorea leprosulla 12.5 2.08 3 9 - Shorea leprosulla 12.0 2.00 4 9 - Shorea leprosulla 14.5 2.42 5 9 - Shorea leprosulla 14.0 2.33
No. No jalur No. Ajir Jenis Diameter (cm) Riap (MAI) 6 9 - Shorea leprosulla 13.8 2.30 7 9 - Shorea leprosulla 15.0 2.50 8 9 - Shorea leprosulla 7.5 1.25 9 9 - Shorea leprosulla 16.5 2.75 10 9 - Shorea leprosulla 17.5 2.92 11 9 - Shorea leprosulla 16.0 2.67 12 9 - Shorea leprosulla 10.5 1.75 13 9 - Shorea leprosulla 16.5 2.75 14 9 - Shorea leprosulla 17.5 2.92 15 9 - Shorea leprosulla 17.0 2.83 16 9 - Shorea leprosulla 17.5 2.92 17 9 - Shorea leprosulla 17.5 2.92 18 9 - Shorea leprosulla 9.0 1.50 19 9 - Shorea leprosulla 6.0 1.00 20 9 - Shorea leprosulla 7.0 1.17 21 9 - Shorea leprosulla 9.5 1.58 22 9 - Shorea leprosulla 10.0 1.67 23 9 - Shorea leprosulla 11.0 1.83 24 9 - Shorea leprosulla 9.7 1.62 25 9 - Shorea leprosulla 4.3 0.72 26 9 - Shorea leprosulla 12.7 2.12 27 9 - Shorea leprosulla 4.9 0.82 28 9 - Shorea leprosulla 13.5 2.25 29 9 - Shorea leprosulla 12.4 2.07 30 9 - Shorea leprosulla 11.3 1.88 31 9 - Shorea leprosulla 12.0 2.00 Rata-rata 12.31 2.05 Umur 7 Tahun (pengukuran : Mei 2007) No. No jalur No. Ajir Jenis Diameter (cm) Riap (MAI) 1 10 - Shorea leprosulla 10.2 1.46 2 10 - Shorea leprosulla 15.0 2.14 3 10 - Shorea leprosulla 7.0 1.00 4 10 - Shorea leprosulla 17.2 2.46 5 10 - Shorea leprosulla 14.3 2.05 6 10 - Shorea leprosulla 12.1 1.73 7 10 - Shorea leprosulla 22.8 3.25 8 10 - Shorea leprosulla 19.6 2.80 9 10 - Shorea leprosulla 18.3 2.61 10 11 -- Shorea leprosulla 18.7 2.67 11 11 - Shorea leprosulla 16.0 2.29
No. No jalur No. Ajir Jenis Diameter (cm) Riap (MAI) 12 11 - Shorea leprosulla 14.6 2.08 13 11 - Shorea leprosulla 20.1 2.87 14 11 - Shorea leprosulla 17.2 2.45 15 11 - Shorea leprosulla 16.4 2.34 16 11 - Shorea leprosulla 15.2 2.17 17 11 - Shorea leprosulla 17.1 2.45 18 11 - Shorea leprosulla 14.5 2.07 19 11 - Shorea leprosulla 18.1 2.59 20 12 - Shorea leprosulla 16.5 2.35 21 12 - Shorea leprosulla 14.2 2.03 22 12 - Shorea leprosulla 10.9 1.56 23 12 - Shorea leprosulla 10.0 1.43 24 12 - Shorea leprosulla 17.4 2.48 25 12 - Shorea leprosulla 11.0 1.57 26 12 - Shorea leprosulla 11.7 1.67 27 12 - Shorea leprosulla 14.4 2.05 28 12 - Shorea leprosulla 20.4 2.92 29 12 - Shorea leprosulla 17.8 2.55 30 12 - Shorea leprosulla 21.9 3.13 31 12 - Shorea leprosulla 21.1 3.02 32 12 - Shorea leprosulla 19.9 2.84 33 12 - Shorea leprosulla 21.4 3.06 34 12 - Shorea leprosulla 21.3 3.05 35 13 - Shorea leprosulla 14.4 2.06 36 13 - Shorea leprosulla 15.8 2.26 37 13 - Shorea leprosulla 14.9 2.13 38 13 - Shorea leprosulla 15.3 2.19 39 13 - Shorea leprosulla 18.8 2.68 40 13 - Shorea leprosulla 14.5 2.07 41 13 - Shorea leprosulla 16.7 2.38 42 13 - Shorea leprosulla 21.4 3.05 43 13 - Shorea leprosulla 17.5 2.51 44 13 - Shorea leprosulla 23.2 3.31 45 13 - Shorea leprosulla 17.4 2.49 46 14 - Shorea leprosulla 14.0 2.01 47 14 - Shorea leprosulla 16.0 2.28 48 14 - Shorea leprosulla 12.5 1.78 49 14 - Shorea leprosulla 18.6 2.65 50 14 - Shorea leprosulla 16.4 2.35 51 14 - Shorea leprosulla 17.9 2.56
No. No jalur No. Ajir Jenis Diameter (cm) Riap (MAI) 52 14 - Shorea leprosulla 15.7 2.24 53 14 - Shorea leprosulla 9.9 1.41 54 14 - Shorea leprosulla 17.1 2.44 55 14 - Shorea leprosulla 13.5 1.92 56 14 - Shorea leprosulla 16.6 2.37 57 14 - Shorea leprosulla 13.5 1.93 58 14 - Shorea leprosulla 16.1 2.31 59 14 - Shorea leprosulla 16.1 2.31 60 14 - Shorea leprosulla 12.4 1.77 Rata-rata 16.18 2.31 Umur 8 Tahun (pengukuran : April 2008) No. No jalur No. Ajir Jenis Diameter (cm) Riap (MAI) 1 44 5 Shorea leprosulla 20.5 2.56 2 44 6 Shorea leprosulla 16.2 2.03 3 44 10 Shorea leprosulla 13.6 1.70 4 44 17 Shorea leprosulla 17 2.13 5 44 19 Shorea leprosulla 13.4 1.68 6 44 20 Shorea leprosulla 13.2 1.65 7 44 23 Shorea leprosulla 16.4 2.05 8 45 18 Shorea leprosulla 17.5 2.19 9 46 17 Shorea leprosulla 21.4 2.68 10 46 23 Shorea leprosulla 21.9 2.74 11 46 25 Shorea leprosulla 15.4 1.93 12 46 26 Shorea leprosulla 16.1 2.01 13 47 14 Shorea leprosulla 16.6 2.08 14 47 17 Shorea leprosulla 23.7 2.96 15 47 24 Shorea leprosulla 21.1 2.64 16 47 25 Shorea leprosulla 24.4 3.05 17 48 12 Shorea leprosulla 13.3 1.66 18 48 14 Shorea leprosulla 20.2 2.53 19 48 17 Shorea leprosulla 22 2.75 20 48 20 Shorea leprosulla 21.3 2.66 Rata-rata 18.26 2.28 Umur 9 Tahun (pengukuran : Mei 2009) No. No jalur No. Ajir Jenis Diameter (cm) Riap (MAI) 1 11 26 Shorea leprosulla 18.2 2.02 2 11 28 Shorea leprosulla 22.7 2.52 3 11 29 Shorea leprosulla 15.8 1.76
No. No jalur No. Ajir Jenis Diameter (cm) Riap (MAI) 4 11 30 Shorea leprosulla 20.0 2.22 5 11 31 Shorea leprosulla 18.8 2.09 6 11 32 Shorea leprosulla 15.9 1.77 7 11 33 Shorea leprosulla 11.9 1.32 8 11 34 Shorea leprosulla 15.3 1.70 9 11 35 Shorea leprosulla 19.9 2.21 10 11 36 Shorea leprosulla 19.6 2.18 11 11 37 Shorea leprosulla 22.0 2.44 12 11 39 Shorea leprosulla 16.0 1.78 13 11 40 Shorea leprosulla 13.2 1.47 14 11 41 Shorea leprosulla 23.6 2.62 15 11 42 Shorea leprosulla 17.8 1.98 16 11 43 Shorea leprosulla 17.7 1.97 17 11 45 Shorea leprosulla 23.0 2.56 18 11 46 Shorea leprosulla 12.8 1.42 19 12 - Shorea leprosulla 20.8 2.31 20 12 - Shorea leprosulla 19.7 2.19 21 12 - Shorea leprosulla 14.0 1.56 22 12 - Shorea leprosulla 23.6 2.62 23 12 - Shorea leprosulla 14.2 1.58 24 12 - Shorea leprosulla 13.1 1.46 25 12 - Shorea leprosulla 18.7 2.08 26 12 - Shorea leprosulla 27.7 3.08 27 12 - Shorea leprosulla 23.3 2.59 28 12 - Shorea leprosulla 24.6 2.73 29 12 - Shorea leprosulla 21.3 2.37 30 12 - Shorea leprosulla 25.3 2.81 31 12 - Shorea leprosulla 22.0 2.44 32 12 - Shorea leprosulla 26.8 2.98 33 12 - Shorea leprosulla 26.6 2.96 34 12 - Shorea leprosulla 23.6 2.62 35 12 - Shorea leprosulla 25.3 2.81 36 13 - Shorea leprosulla 23.7 2.63 37 13 - Shorea leprosulla 20.5 2.28 38 13 - Shorea leprosulla 12.5 1.39 39 13 - Shorea leprosulla 21.4 2.38 40 13 - Shorea leprosulla 28.5 3.17 41 13 - Shorea leprosulla 14.6 1.62 42 13 - Shorea leprosulla 21.7 2.41 43 13 - Shorea leprosulla 23.1 2.57 44 13 - Shorea leprosulla 21.7 2.41
No. No jalur No. Ajir Jenis Diameter (cm) Riap (MAI) 45 13 - Shorea leprosulla 24.2 2.69 46 13 - Shorea leprosulla 22.3 2.48 47 13 - Shorea leprosulla 15.5 1.72 48 13 - Shorea leprosulla 8.2 0.91 49 13 - Shorea leprosulla 19.0 2.11 50 13 - Shorea leprosulla 23.1 2.57 51 14 - Shorea leprosulla 16.2 1.80 52 14 - Shorea leprosulla 14.2 1.58 53 14 - Shorea leprosulla 23.7 2.63 54 14 - Shorea leprosulla 20.0 2.22 55 14 - Shorea leprosulla 23.5 2.61 56 14 - Shorea leprosulla 20.3 2.26 57 14 - Shorea leprosulla 14.7 1.63 58 14 - Shorea leprosulla 22.2 2.47 59 14 - Shorea leprosulla 20.1 2.23 60 14 - Shorea leprosulla 21.0 2.33 61 14 - Shorea leprosulla 14.7 1.63 62 14 - Shorea leprosulla 21.3 2.37 63 14 - Shorea leprosulla 14.5 1.61 Rata-rata 19.7 2.19
Lampiran 2 Perhitungan distribusi Frekuensi diameter Umur 5 Tahun N = 31 Max = 11.1 cm Min = 1.8 cm Wilayah = max-min = 11.1 1.8 = 9.3 Jumlah Kelas = 1+ (3.3 * Log N) = 5.92 Lebar kelas = 6 (dibulatkan) = Wilayah/ jumlah kelas = 9.3/ 6 = 1.6 Batas bawah (bb) = Nilai min - 0.05 Batas atas (ba) = Batas bawah + lebar kelas Tabel distribusi frekuensi umur 5 tahun kelas batas kelas titik frekuensi selang kelas frekuensi bb ba tengah relatif 1 1.75 3.35 1.80 3.30 2.55 2 0.0000 2 3.35 4.95 3.40 4.90 4.15 3 0.0968 3 4.95 6.55 5.00 6.50 5.75 6 0.1935 4 6.55 8.15 6.60 8.10 7.35 9 0.2903 5 8.15 9.75 8.20 9.70 8.95 7 0.2258 6 9.75 11.35 9.80 11.30 10.55 4 0.1290 Jumlah 31 1 Umur 6 Tahun N = 31 Max = 17.5 cm Min = 4.3 cm Wilayah = max-min = 17.5-4.3 =13.2 Jumlah Kelas = 1+ (3.3 * Log N) = 5.92 Lebar kelas = 6 (dibulatkan) = Wilayah/ jumlah kelas = 13.2/ 6 = 2.23 Batas bawah (bb) = Nilai min - 0.05 Batas atas (ba) = Batas bawah + lebar kelas
Tabel distribusi frekuensi umur 6 tahun kelas batas kelas titik frekuensi selang kelas frekuensi bb ba tengah relatif 1 4.25 6.48 4.30 6.43 5.36 3 0.0968 2 6.48 8.71 6.53 8.66 7.59 2 0.0645 3 8.71 10.94 8.76 10.89 9.82 5 0.1613 4 10.94 13.17 10.99 13.12 12.05 8 0.2581 5 13.17 15.40 13.22 15.35 14.28 5 0.1613 6 15.40 17.63 15.45 17.58 16.51 8 0.2581 Jumlah 31 1 Umur 7 Tahun N = 60 Max = 23.2 cm Min = 7.0 cm Wilayah = max-min = 23.2 7.0 =16.2 Jumlah Kelas = 1+ (3.3 * Log N) = 6.86 = 7 (dibulatkan) Lebar kelas = Wilayah/ jumlah kelas = 16.2/ 7 = 2.4 Batas bawah (bb) = Nilai min - 0.05 Batas atas (ba) = Batas bawah + lebar kelas Tabel distribusi frekuensi umur 7 tahun kelas batas kelas titik frekuensi selang kelas frekuensi bb ba tengah relatif 1 6.956 9.36 7.01 9.31 8.16 1 0.0167 2 9.36 11.76 9.41 11.71 10.56 6 0.1000 3 11.76 14.16 11.81 14.11 12.96 6 0.1000 4 14.16 16.56 14.21 16.51 15.36 20 0.3333 5 16.56 18.96 16.61 18.91 17.76 16 0.2667 6 18.96 21.36 19.01 21.31 20.16 6 0.1000 7 21.36 23.76 21.41 23.71 22.56 5 0.0833 Jumlah 60 1 Umur 8 Tahun N = 20 Max = 24.4 cm Min = 13.2 cm Wilayah = max-min = 24.4 13.2 =11.2 Jumlah Kelas = 1+ (3.3 * Log N)
= 6 (dibulatkan) Lebar kelas = Wilayah/ jumlah kelas = 11.2/ 6 = 1.9 Batas bawah (bb) = Nilai min - 0.05 Batas atas (ba) = Batas bawah + lebar kelas Tabel distribusi frekuensi umur 8 tahun Kelas Batas Kelas Titik Frekuensi Selang kelas Frekuensi bb ba tengah Relatif 1 13.15 15.05 13.20 15.00 14.1 4 0.2000 2 15.05 16.95 15.10 16.90 16 5 0.2500 3 16.95 18.85 17.00 18.80 17.9 2 0.1000 4 18.85 20.75 18.90 20.70 19.8 2 0.1000 5 20.75 22.65 20.80 22.60 21.7 5 0.2500 6 22.65 24.55 22.70 24.50 23.6 2 0.1000 Jumlah 20 1.0000 Umur 9 Tahun N = 63 Max = 28.5 cm Min = 8.2 cm Wilayah = max-min = 28.5 8.2 = 20.3 Jumlah Kelas = 1+ (3.3 * Log N) = 7 (dibulatkan) Lebar kelas = Wilayah/ jumlah kelas = 20.3/ 7 = 2.9 Batas bawah (bb) = Nilai min - 0.05 Batas atas (ba) = Batas bawah + lebar kelas Tabel distribusi frekuensi umur 9 tahun batas kelas kelas selang kelas bb ba titik tengah frekuensi frekuensi relatif 1 8.15 11.05 8.20 11.00 9.60 1 0.0159 2 11.05 13.95 11.10 13.90 12.50 5 0.0794 3 13.95 16.85 14.00 16.80 15.40 13 0.2063 4 16.85 19.75 16.90 19.70 18.30 8 0.1270 5 19.75 22.65 19.80 22.60 21.20 17 0.2698 6 22.65 25.55 22.70 25.50 24.10 15 0.2381 7 25.55 28.45 25.60 28.40 27.00 3 0.0476 *8 28.45 31.35 28.50 31.30 29.90 1 0.0159 Jumlah 63 1.0000 *terjadi penambahan kelas karena terdapat data pencilan yang tidak berada dalam selang kelas sebelumnya
Lampiran 3 Hasil Uji Normalitas Data Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov(a) Shapiro-Wilk VAR00002 Statistic df Sig. Statistic df Sig. VAR0000 5.00.107 31.200(*).964 31.362 8 6.00.089 31.200(*).950 31.154 7.00.066 60.200(*).988 60.800 8.00.153 20.200(*).922 20.110 9.00.094 63.200(*).972 63.166 * This is a lower bound of the true significance. a Lilliefors Significance Correction Lampiran 4 Hasil Anova Laju Pertumbuhan (Riap) Diameter S. leprosula Descriptives 95% Confidence Umur Std. Interval for Mean Minimumum Maxi- N Mean Std. Error Tanam Deviation Lower Upper Bound Bound 5 31 1.446452 0.469195 0.08427 1.27434 1.61855 0.36 2.22 6 31 2.052258 0.641647 0.115243 1.81689 2.28761 0.72 2.92 7 60 2.310833 0.490138 0.063276 2.18421 2.43744 1 3.31 8 20 2.284 0.454306 0.101586 2.07137 2.49662 1.65 3.05 9 63 2.189365 0.492367 0.062032 2.06536 2.31336 0.91 3.17 Total 205 2.101073 0.58259 0.04069 2.02084 2.18129 0.36 3.31 VAR00009 ANOVA Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 17.159 4 4.290 16.473.000 Within Groups 52.081 200.260 Total 69.240 204 Post Hoc Tests Homogeneous Subsets VAR00009 Duncan N Subset for alpha =.05 VAR00002 1 2 1 5.00 31 1.4465 6.00 31 2.0523 9.00 63 2.1894 8.00 20 2.2840 7.00 60 2.3108 Sig. 1.000.057 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a Uses Harmonic Mean Sample Size = 34.001. b The group sizes are unequal. The harmonic mean of the group sizes is used. Type I error levels are not guaranteed.
Lampiran 5 Dokumentasi Penelitian Umur 5 tahun Umur 6 tahun Umur 9 tahun Pengukuran diameter Pengukuran diameter S. leprosula umur 9 tahun kondisi tertekan
S. leprosula umur 9 tahun S. leprosula umur 6 tahun