PENGADAAN OBAT KUSTA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler. mengenai organ lain kecuali susunan saraf pusat.

BAB I PENDAHULUAN. kusta (Mycobacterium leprae) yang awalnya menyerang saraf tepi, dan selanjutnya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kusta merupakan salah satu jenis penyakit menular yang masih

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Amiruddin dalam Harahap (2002) menjelaskan penyakit kusta adalah

BAB I PENDAHULUAN. kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Masa tunas dari

-Faktor penyebab penyakit kusta. -Tanda dan gejala penyakit kusta. -Cara penularan penyakit kusta. -Cara mengobati penyakit kusta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Profil Program P2 Kusta Dinkes Kayong Utara

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Sebenarnya kusta bila ditemukan dalam stadium dini

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi bidang promotif, pencegahan, dan pengobatan seharusnya

BAB I PENDAHULUAN. oleh kuman kusta Mycobacterium leprae (M. leprae) yang dapat menyerang

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN NGAWI

UNTUK PENGOBATAN TUBERKULOSIS DI UNIT PELAYANAN KESEHATAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO TINGKAT KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA DI PUSKESMAS PADAS KABUPATEN NGAWI

BAB 1 PENDAHULUAN. pada kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Predileksi awal penyakit

PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN

Analisis Penyebab Kekosongan Obat Kusta di RS. X Tahun 2014

PRATIWI ARI HENDRAWATI J

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae (M.leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf

BAB I PENDAHULUAN. kusta maupun cacat yang ditimbulkannya. kusta disebabkan oleh Mycobacterium

UNIVERSITAS INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis menular dan menahun yang

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

BAB 1 :PENDAHULUAN. masih merupakan masalah kesehatan utama yang banyak ditemukan di. hubungan status gizi dengan frekuensi ISPA (1).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan,

BAB 1 PENDAHULUAN. perifer sebagai aktivitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN MOTIVASI PETUGAS TBC DENGAN ANGKA PENEMUAN KASUS TBC DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABUPATEN BOYOLALI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. kronis pada manusia yang disebabkan Mycobacterium leprae (M. leprae) yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi

SAFII, 2015 GAMBARAN KEPATUHAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU TERHADAP REGIMEN TERAPEUTIK DI PUSKESMAS PADASUKA KECAMATAN CIBEUNYING KIDUL KOTA BANDUNG

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN KUSTA DI UNIT REHABILITASI KUSTA RUMAH SAKIT KELET PROVINSI JAWA TENGAH


Tingginya prevalensi kusta di Kabupaten Blora juga didukung oleh angka penemuan kasus baru yang cenderung meningkat dari tahun 2007 sampai dengan

Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang. disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium Tuberculosis yang pada

BAB 1 PENDAHULUAN. Kegiatan penanggulangan Tuberkulosis (TB), khususnya TB Paru di

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang

Indikator monitoring dan evaluasi program pengendalian kusta :

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. bahwa penyakit tuberkulosis merupakan suatu kedaruratan dunia (global

ANALISIS KETEPATAN WAKTU PELAPORAN DALAM SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PUSKESMAS (SP3) DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN BLORA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Laporan Kasus REAKSI KUSTA TIPE 2 PADA PENDERITA KUSTA MULTIBASILER (MB) YANG TELAH MENYELESAIKAN TERAPI MDT-MB. dr. Cut Putri Hazlianda

Kerangka Acuan Program Kusta

Klasifikasi penyakit kusta

KUSTA SALAH SATU PENYAKIT MENULAR YANG MASIH DI JUMPAI DI INDONESIA. Drh. Hiswani Mkes Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Diperkirakan sekitar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah penduduk dunia telah

Panduan OAT yang digunakan di Indonesia adalah:

PENGARUH KOINSIDENSI DIABETES MELITUS TERHADAP LAMA PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Mikobakterium tuberculosis dan kadang-kadang oleh Mikobakterium bovis

PENGARUH FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN ASAHAN TAHUN 2007 T E S I S

Andry Firmansyah *, Edy Seosanto**,Ernawati***

I. PENDAHULUAN. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium tuberculosis masih

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Penyakit kusta (morbus Hansen) merupakan penyakit infeksi kronis menahun

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan manusia. Melalui pembangunan kesehatan diharapkan akan tercapai

BAB 3 KERANGKA PIKIR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. infeksi bakteri Mycobacterium leprae (M.leprae). Penatalaksanaan kasus

TATALAKSANA MALARIA. No. Dokumen. : No. Revisi : Tanggal Terbit. Halaman :

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK PENCARIAN PENGOBATAN KUSTA PADA PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MAKASSAR

S T O P T U B E R K U L O S I S

BAB I PENDAHULUAN. sementara penyakit menular lain belum dapat dikendalikan. Salah satu

BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization

KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA DENGAN PROSES PENYEMBUHAN PADA PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN BENGKALIS RIAU TAHUN 2010

I. PENDAHULUAN. besar di Indonesia, kasus tersangka tifoid menunjukkan kecenderungan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB

BAB I PENDAHULUAN. paru yang disebabkan oleh basil TBC. Penyakit paru paru ini sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan suatu keadaan fisiologis yang diharapkan setiap pasangan

BAB I PENDAHULUAN. menular (dengan Bakteri Asam positif) (WHO), 2010). Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global utama dengan tingkat

Pengertian. Tujuan. b. Persiapan pasien - c. Pelaksanaan

I. PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Efektivitas Pengobatan Kombinasi Rifampisin-Klaritromisin dengan MDT WHO terhadap Derajat Kesembuhan Pasien Lepra Tipe PB

Volume VI Nomor 3, Agustus 2016 ISSN:

2016 GAMBARAN MOTIVASI KLIEN TB PARU DALAM MINUM OBAT ANTI TUBERCULOSIS DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT DUSTIRA KOTA CIMAHI

KOLABORASI TB-HIV PELATIHAN BAGI PETUGAS KTS DAN PDP MODUL G:

Infeksi yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan adalah salah satu penyebab utama kematian dan peningkatan morbiditas pada pasien rawat

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung dengan baik, bayi tumbuh sehat sesuai yang diharapkan dan

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis, dengan gejala klinis seperti batuk 2

PROFIL PENDERITA MORBUS HANSEN (MH) DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI DESEMBER 2012

/Pusk- Bal/TB/VIII/2015. Tanggal Terbit

BAB 1 PENDAHULUAN. karena penularannya mudah dan cepat, juga membutuhkan waktu yang lama

Transkripsi:

PENGADAAN OBAT KUSTA Dr. Donna Partogi, SpKK NIP. 132 308 883 DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FK.USU/RSUP H.ADAM MALIK/RS.Dr.PIRNGADI MEDAN 2008

PENGADAAN OBAT KUSTA PENDAHULUAN Penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun dan disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Leprae (M. Leprae) yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. 1,2,3 Sampai saat ini kusta masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, meskipun pada pertengahan tahun 2002 Indonesia sudah mencapai eliminasi kusta. Hal ini disebabkan karena sampai akhir tahun 2002 masih ada 13 Propinsi dan 111 kabupaten yang belum dapat dieliminasi. Eliminasi yaitu suatu kondisi dimana penderita kusta tercatat (angka prevalensi) kurang dari 1 per 10.000 penduduk, diperkirakan penyakit tersebut akan hilang secara alamiah. 4 Pemberantasan penyakit kusta di Indonesia telah dimulai pada tahun 1969 secara integrasi di Unit Pelayanan Kesehatan Umum. Pengobatan pada waktu itu hanya menggunakan Dapson. Sekalipun ada keberhasilan tetapi program P2 Kusta berjalan sangat lambat karena pengobatan dengan mono Dapson membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan ada penderita yang harus minum obat seumur hidup. 5 Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang pemberantasan penyakit kusta di dunia, maka Indonesia telah ikut melaksanakan program MDT sejak tahun 1983 yaitu 1 tahun setelah WHO merekomendasikan pengobatan MDT untuk kusta. 5 OBAT-OBAT YANG DIGUNAKAN DALAM REGIMEN MDT WHO 1,4,6 1.DDS (Dapson) a) Singkatan dari Diamino Diphenyl Sulfone b) Bentuk obat berupa tablet putih dengan ukuran 50 mg/tab dan 100 mg/tab c) Sifat bakteriostatik dengan menghambat enzim dihidrofolat sintetase. d) Dosis dewasa 50-100 mg/hari, anak-anak 1-2 mg/hari e) Obat ini sangat murah, efektif, dan relatif aman.

f) Efek samping yang mungkin timbul antara lain: erupsi obat, anemia hemolitik, leukopenia, insomnia, neuropatia, methemoglobinemia. Namun efek samping tersebut jarang dijumpai pada dosis lazim. 2. Lamprene juga disebut Clofazimine a) Bentuk kapsul warna coklat dengan takaran 50 mg/kapsul dan 100 mg/hari b) Sifat bakteriostatik setara dengan dapson. Bekerja mungkin melalui gangguan metabolisme radikal oksigen. Disamping itu mempunyai efek antiinflamasi sehingga berguna untuk pengobatan reaksi kusta. c) Cara pemberian secara oral, diminum setelah makan untuk menghindari gangguan gastrointestinal d) Dosis untuk kusta adalah 50 mg/hari atau 100 mg tiga kali seminggu dan untuk anak-anak 1 mg/kgbb/hari. Selain itu dosis bulanan 300 mg juga diberikan setiap bulan untuk mengurangi reaksi tipe 1 dan tipe 2. e) Dapat menyebabkan pigmentasi kulit yang sering merupakan masalah pada ketaatan berobat penderita. f) Efek sampingnya hanya terjadi pada dosis tinggi berupa gangguan gastrointestinal (nyeri abdomen, diare, anoreksia dan vomitus) 3. Rifampisin a) Bentuk kapsul atau tablet takaran 150 mg, 300 mg, 450 mg dan 600 mg b) Sifat bakterisidal kuat, bekerja dengan menghambat enzim polymerase RNA yang berikatan secara irreversible. c) Dosis tunggal 600 mg/hari (atau 5-15 mg/kgbb) mampu membunuh kuman kirakira 99,9% dalam waktu beberapa hari. d) Cara pemberian obat secara oral, bila diminum setengah jam sebelum makan maka penyerapan lebih baik e) Efek samping yang harus diperhatikan adalah hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal dan erupsi kulit.

Regimen Pengobatan MDT 2,6 Regimen pengobatan MDT di Indonesia sesuai dengan regimen pengobatan yang direkomendasikan oleh WHO. Regimen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Penderita Pauci Baciler (PB) a. Penderita Pauci Baciler (PB) lesi Satu Diberikan dosis tunggal ROM. Rifampisin Ofloxacin Minocyclin Dewasa 50-70 kg 600 mg 400 mg 100 mg Anak 5-14 tahun 300 mg 200 mg 50 mg 1. obat ditelan didepan petugas 2. anak dibawah 5 tahun dan ibu hamil tidak diberikan ROM 3. Pengobatan sekali saja dan langsung dinyatakan RFT. Dalam program ROM tidak pergunakan, penderita satu lesi diobati dengan regimen PB selama 6 bulan b. Penderita Pauci Baciler (PB) lesi 2-5 Dapson Rifampisin Dewasa 100 mg/hari 600 mg/bulan, diawasi Anak 10-14 tahun 50 mg/hari 450 mg/bulan, diawasi 2. Penderita Multi Basiler Dapson Rifampisin Klofazimin Dewasa 100 mg/hari 600 mg/bulan, diawasi 50 mg/hari dan 300 mg/bulan diawasi Anak 10-14 tahun 50 mg/hari 450 mg/bulan, diawasi 50 mg selang sehari dan 150 mg/bulan diawasi

PENGADAAN OBAT KUSTA MDT 6 MDT yang diberikan secara gratis oleh WHO disediakan dalam kemasan blister untuk penderita kusta tipe MB dan PB dewasa dan anak-anak. WHO memperkirakan kebutuhan MDT suatu negara berdasar pada data terakhir yang dikumpulkan melalui suatu standard format tahunan (World Heath Organization Leprosy Elimination Project, Government Request for MDT Drugs Supply by WHO in 2005) dan standard format laporan tribulanan (World Health Organization Leprosy Elimination Project, Quarterly Report) Dalam beberapa tahun terakhir terjadi masalah dalam pengelolaan obat kusta di Indonesia. Masalah tersebut antara lain terjadinya kekurangan obat di beberapa daerah endemik terutama daerah endemik tinggi yang mengakibatkan adanya penderita yang belum mendapatkan pengobatan. Dilain pihak ada beberapa daerah yang kelebihan, sehingga banyak obat kusta yang kadaluarsa. Terjadinya kekurangan dan kelebihan MDT ini kemungkinan disebabkan karena Pusat (Subdit Kusta) tidak menerima informasi data tepat waktu dan lengkap seperti yang diminta oleh WHO antara lain: jumlah kasus baru yang ditemukan, jumlah penderita yang sembuh, stok obat yang masih ada di Puskesmas, Kabupaten dan Propinsi. Akibat ketidaktepatan informasi tersebut WHO mengirimkan obat kusta tidak sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Penyebab lainnya adalah overdiagnosis, salah dalam klasifikasi, pemberian pengobatan diperpanjang (lebih dari 6 atau 12 bulan), penderita yang berobat tidak teratur, tidak adanya penghapusan kasus yang sudah Release From Treatmen (RFT) dari register. Maka diperlukan pedoman pengelolaan logistik MDT di Indonesia sesuai dengan cara menghitung perkiraan kebutuhan MDT oleh WHO. PENGELOLAAN LOGISTIK MDT 6 Pengelolaan MDT adalah suatu rangkaian kegiatan meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, penggunaan, pencatatan dan pelaporan serta monitoring dan evaluasi.

Tujuan utama dari pengelolaan MDT ini untuk memastikan ketersediaan obat bagi penderita kusta tepat waktu di Unit Pelayanan Kesehatan (UPK). Pengelolaan MDT juga meliputi penggunaan obat yang aman, efektif dan berkualitas. Pengelolaan yang efisien juga tergantung pada pelaksanaan program dan kepatuhan penderita dalam pengobatan. Untuk mengobati penderita kusta di Indonesia dipakai regimen sesuai standard rekomendasi WHO yaitu regimen MDT MB dan MDT PB dalam kemasan blister untuk dewasa dan anak. Pengelolaan MDT yang efisien membutuhkan arus pelaporan informasi penting dan tepat waktu untuk memperhitungkan kebutuhan obat yang meliputi permintaan, penyediaan, pengiriman ke UPK dan penyimpanan yang benar termasuk pengawasan penggunaan dan sisa MDT. Berbagai kesulitan geografi dan operasional serta endemisitas suatu daerah harus dipertimbangkan ketika menghitung kebutuhan dan persediaan. Persediaan MDT yang cukup, tidak terputus dan tepat waktu di fasilitas kesehatan diperlukan untuk melayani penderita kusta agar tidak putus berobat. Kondisi ini seluruhnya tergantung pada efisiensi pengelolaan MDT di Puskesmas, Kabupaten, Provinsi dan Pusat. Selain itu pengelolaan yang efisien juga akan mencegah obat terbuang karena rusak dan kadaluarsa. PEDOMAN PENGELOLAAN MDT 6 Pedoman pengelolaan MDT telah dikembangkan oleh Subdit Kusta bersama penanggung jawab program Kusta dari Propinsi terpilih, konsultan WHO, konsultan NLR serta Ahli Kesehatan Masyarakat. Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan MDT agar tidak tidak terjadi kekurangan dan kelebihan. 1. Kebutuhan MDT dihitung dalam blister masing-masing menurut kategori MB dewasa, MB anak, PB dewasa dan PB anak. Perhitungan menggunakan blister ini selain untuk memudahkan persediaan dan mengawasi penggunaannya juga disesuaikan dengan cara WHO menghitung kebutuhan MDT.

2. Satu bulan persediaan pada setiap tingkatan propinsi, kabupaten dan puskesmas/upk ditambahkan pada kebutuhan sesungguhnya untuk mengantisipasi keterlambatan pengiriman (Lead Time). 3. Register stok obat untuk masing-masing kategori (Stok MDT Register 1,2,3,4) dibuat seragam disetiap tingkat dan harus selalu digunakan. Daftar stok obat dimonitor oleh petugas penanggung jawab program selama kunjungan supervisi mereka. Reg 1 MB dewasa, Reg 2 MB Anak, Reg 3 PB Dewasa, Reg 4 PB Anak. 4. Formulir standar permintaan MDT harus digunakan untuk menghitung kebutuhan sesuai penjelasan di formulir. Provinsi Form 1, kabupaten form 2, Puskesmas/UPK Form3, Daerah sulit Form 4. 5. Format baku digunakan untuk memonitor permintaan dan suplai propinsi oleh Pusat. 6. Untuk memperlancar persediaan dan mengurangi jumlah obat yang terbuang, frekuensi yang digunakan untuk permintaan dan pengiriman persediaan MDT adalah sebagai berikut: Propinsi: Semester, Kabupaten: tribulanan, Puskesmas dan UPK : tribulanan Daerah sulit : tahunan 7. Propinsi perlu mengirimkan format permintaan sedikitnya tiga bulan sebelumnya ke Subdit Kusta untuk menghindari kekurangan dan memudahkan pengepakan serta pengiriman agar sampai di provinsi tepat waktu. Hal ini akan memudahkan provinsi menyediakan obat ke kabupaten pada setiap tribulan. 8. Puskesmas dan rumah sakit yang mengobati penderita kusta harus mengikuti standard definisi sesuai pedoman Program Pemberantasan Kusta untuk menghitung kebutuhan MDT, yaitu definisi kasus baru, jangka waktu pengobatan MDT, pengurangan dari register kasus yang sembuh (RFT), kasus tidak dapat dikontrol (OOC) dan kasus pindah tempat. 9. Perkiraan kebutuhan MDT secara Nasional Kebutuhan MDT secara Nasional setiap tahunnya akan dihitung oleh WHO dengan menggunakan formula khusus. Akan tetapi formula ini sulit untuk dipakai untuk menghitung kebutuhan di setiap propinsi. Subdit Kusta akan mengirimkan informasi yang diperlukan ke WHO sesuai format yang ditentukan.

FORMULIR-FORMULIR 6 1. Kartu stok MDT 1,2,3,4 Masing-masing kategori MDT harus mempunyai register stok. Kartu stok MDT 1: MB dewasa, MDT 2 MB anak, MDT 3PB dewasa, MDT 4 PB anak. Keempat kartu stok MDT ini harus ada dan dipergunakan di pusat, propinsi, kabupaten, puskesmas dan UPK lainnya seperti rumah sakit. Obat dengan tanggal kadaluarsa lebih dahulu harus digunakan pertama untuk mencegah jumlah obat terbuang. Petugas penanggung jawab di berbagai tingkatan perlu melakukan verifikasi stok MDT pada saat kunjungan supervisi. 2. Formulir Permintaan MDT 1 : Propinsi Penanggung jawab program di propinsi akan mengisi format ini dua kali dalam satu tahun (tiap semester) dan mengirimkannya kepada Subdit Kusta, sedikitnya tiga bulan sebelum permulaan semester berikutnya. Idealnya kebutuhan propinsi dihitung berdasar pada permintaan dari kabupaten, akan tetapi biasanya permintaan dari semua kabupaten tidak diterima tepat waktu. Untuk menghindari keterlambatan memperoleh MDT dari pusat serta menghindari keterlambatan pendistribusian ke kabupaten, maka kebutuhan dihitung berdasarkan pada laporan tribulanan terakhir yang tersedia dari semua kabupaten di propinsi itu. 3. Formulir Permintaan MDT 2: Kabupaten Kebutuhan MDT di kabupaten harus siap sebelum permulaan tribulan uintuk didistribusikan ke UPK (Puskesmas). Penanggung jawab program harus melengkapi formulir ini berdasarkan laporan kasus atau formulir permintaan MDT tribulan sebelumnya untuk menghindari keterlambatan penyediaan dan pendistribusian.

4. Formulir Permintaan MDT 3: Unit Pelayanan Kesehatan (Puskesmas/Rumah Sakit) Formulir ini diisi oleh penanggung jawab program setiap tribulan dan disampaikan sewaktu mengirimkan salinan register kohort ke kabupaten dan sekaligus mengambil kebutuhannya. 5. Formulir Permintaan MDT 4: Kabupaten/Puskesmas daerah sulit Daerah yang secara geografis sukar dijangkau dimana transportasi mahal dan sulit, formulir permintaan ini harus digunakan. Kebutuhan akan dikirimkan sekali setahun ke lokasi ini. Satu bulan persediaan stok akan mengatasi keterlambatan pengadaan dan pemberian pada penderita didaerah sulit yang diberikan MDT sekaligus 1 paket (Accompanied-MDT). 6. Formulir Monitoring MDT 5: Pusat Formulir ini akan digunakan untuk memantau permintaan dan penyediaan bagi masing-masing propinsi. Kadang-kadang persediaan obat di pusat tidak mungkin memenuhi 100% kebutuhan propinsi karena hal ini tergantung pada pengiriman dari WHO. Monitoring ini akan membantu pusat untuk mengatur kembali penyediaan dimana diperlukan. KESIMPULAN 1. Penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. 2. Sejak tahun 1983 Indonesia telah ikut melaksanakan program MDT sesuai dengan rekomendasi dari WHO dan obat diberikan secara gratis dari WHO. 3. Persediaan MDT yang cukup, tidak terputus dan tepat waktu di fasilitas kesehatan diperlukan untuk melayani penderita kusta agar tidak putus berobat. 4. Diperlukan pengelolaan logistik MDT sesuai dengan cara menghitung perkiraan kebutuhan MDT oleh WHO sehingga tidak terjadi kekurangan dan kelebihan obat MDT.

DAFTAR PUSTAKA 1. Ditjen PPM & PL Departemen Kesehatan RI, Buku pedoman pemberantasan Penyakit kusta, Jakarta, 2001:5-22. 2. Amirudin MD, Hakim Z, Darwis ER. Diagnosis penyakit kusta. Dalam: Daili ESS, Menaldi SL, Ismiarto SP, Nilasari H, editor. Kusta. Edisi ke 2. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2003:12-32. 3. WHO. A guide to leprosy control. 2 nd ed. Geneva: WHO, 1998:103-6 4. Rachmat H. Program Pemberantasan Penyakit Kusta di Indonesia. Dalam: Daili ESS, Menaldi SL, Ismiarto SP, Nilasari H, editor. Kusta. Edisi ke 2. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2003:1-11 5. Hasibuan Y. Situasi penderita kusta di Indonesia dan masalah-masalah yang dihadapi dalam pemberantasannya. Dalam: Kumpulan Makalah Ilmiah. Konas VII PERDOSKI. Bukit Tinggi, 1992: 17-33. 6. Ditjen PPM & PL Departemen Kesehatan RI. Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta,. Jakarta, 2004: 98-105