UNIVERSITAS INDONESIA
|
|
|
- Leony Kartawijaya
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA INTERVENSI TERHADAP PENDERITA KUSTA SETELAH SELESAI PENGOBATAN MELALUI PENGAMATAN SEMI AKTIF DAN PENGAMATAN PASIF (STUDI KASUS DI KABUPATEN PASURUAN TAHUN 2012) TESIS MEDITA ERVIANTI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DEPOK JANUARI 2013
2 UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA INTERVENSI TERHADAP PENDERITA KUSTA SETELAH SELESAI PENGOBATAN MELALUI PENGAMATAN SEMI AKTIF DAN PENGAMATAN PASIF (STUDI KASUS DI KABUPATEN PASURUAN TAHUN 2012) TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kesehatan Masyarakat MEDITA ERVIANTI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT KEKHUSUSAN FARMAKOEKONOMI DEPOK JANUARI 2013 i
3 ii
4
5 iii
6 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan lindungannya, sehingga tesis yang berjudul Analisis Efektivitas Biaya Intervensi terhadap Penderita Kusta Setelah Selesai Pengobatan melalui Pengamatan Semi Aktif dan Pengamatan Pasif dapat diselesaikan. Tesis ini merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Magister Kesehatan Masyarakat dari Program Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. Pada penulisan tesis ini, banyak pihak yang berperan dari awal hingga akhir. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang memberikan bantuan dalam penyelesaian tesis ini khususnya kepada : 1. Dr. H. Adang Bachtiar, MPH, DSc dan Kurniasari, SKM, MSE selaku pembimbing akademik yang telah banyak memberikan ilmu, waktu, dan motivasi untuk penulisan tesis ini. 2. Kepala Dinas Kabupaten Pasuruan yang telah mengijinkan pelaksanaan penelitian ini 3. Pengelola Program Kusta dan Petugas Kusta Puskesmas di Kabupaten Pasuruan serta Pengelola Program Kusta di Provinsi Jawa Timur yang banyak membantu penulis selama penyusunan tesis. 4. Ayahanda Syaiful Bakhri, Ibunda alm. Niniek Kusmanawaty, Ayah Mertua Sjachrul A. Bustami, Ibu Mertua Nina Samsiah, dan suami tercinta Rizal Ramadhani yang selalu mendoakan dan memberikan dorongan selama masa studi. 5. Dr. Christina Widaningrum, M.Kes selaku Kasubdit Pengendalian Penyakit Kusta dan Frambusia, Ditjen PP dan PL, Kementerian Kesehatan RI yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk menyelesaikan tesis. 6. Ketua dan Tim Penguji Tesis yang banyak memberikan masukan untuk perbaikan tesis ini. 7. Seluruh teman kuliah angkatan 2009, rekan-rekan di Subdit Pengendalian Penyakit Kusta dan Frambusia, rekan-rekan di NLR, serta teman-teman yang terlibat dalam seminar yang telah memberikan banyak masukan dalam penyusunan tesis ini. iv
7 Akhir kata, penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini tidak luput dari segala kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun tetap diharapkan. Depok, 3 Januari 2013 Penulis Medita Ervianti v
8 vi
9 ABSTRAK Medita Ervianti Ilmu Kesehatan Masyarakat Analisis Efektivitas Biaya Intervensi terhadap Penderita Kusta Setelah Selesai Pengobatan melalui Pengamatan Semi Aktif dan Pengamatan Pasif Kecacatan merupakan salah satu indikator beban penyakit kusta. Risiko kecacatan akibat kusta tidak hanya terjadi pada kasus baru kusta, tetapi juga selama pengobatan dan setelah selesai pengobatan. Metode pengamatan berperan untuk mengendalikan tingkat cacat pada penderita yang telah selesai pengobatan. Metode pengamatan pasif diterapkan di Indonesia sejak tahun Pada tahun 2009, metode pengamatan semi aktif diterapkan di Kabupaten Pasuruan. Belum diketahui metode pengamatan yang lebih efektif biaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya antara metode pengamatan pasif dan metode pengamatan semi aktif setelah selesai pengobatan kusta dalam pengendalian tingkat cacat. Efektivitas dan biaya pada masingmasing metode dihitung dan dilihat berapa rasio efektivitas biaya dalam pengendalian tingkat cacat. Hubungan faktor-faktor seperti umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri dengan pengendalian tingkat cacat serta faktor apa yang paling dominan juga diteliti. Desain penelitian adalah cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan metode pengamatan semi aktif lebih efektif biaya dibandingkan dengan metode pengamatan pasif. Berdasarkan hasil analisis bivariat, terdapat hubungan antara pencegahan cacat dan perawatan diri dengan pengendalian tingkat cacat. Sedangkan hasil multivariat menyatakan perawatan diri sebagai faktor yang mempengaruhi. Kata Kunci : Analisis Efektivitas Biaya, Pengamatan Semi Aktif, Setelah Pengobatan Kusta, Kecacatan vii
10 ABSTRACT Medita Ervianti Public Health Science Cost-Effectiveness Analysis of Intervention for Leprosy Patients after Release from Treatment Through Semi Active Surveillance and Passive Surveillance Disability is one of indicator of the leprosy burden. The risk of disability due to leprosy, not only in new cases of leprosy, but also during treatment and after release from treatment. Surveillance is one of method to control level of disability in patients who had completed treatment. Passive surveillance implemented in Indonesia since In 2009, the semi-active surveillance applied in Pasuruan. Not yet known which surveillance is more cost-effective. This study aims to analyze the cost-effectiveness of the passive and semiactive surveillance after release from leprosy treatment in controlling the level of disability. The effectiveness and cost of each method was calculated and seen the cost-effectiveness ratio to the control of the level of disability. Relationship of factors such as age, education level, knowledge level, economic level, type of leprosy, history of reactions, defect prevention, self-care by controlling the level of disability and what is the most dominant factor is also studied. The study design was cross-sectional. The results showed semi active surveillance more cost-effective than passive surveillance. Based on the results of the bivariate analysis, there is a relationship between defect prevention and self-care by controlling the level of disability. While the results of the multivariate declared self-care as a affected factor. Keywords: Cost-Effectiveness Analysis, Semi Active Surveillance, Released from Treatment of Leprosy, Disability viii
11 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii KATA PENGANTAR... iv LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH... vi ABSTRAK... vii ABSTRACT... viii DAFTAR ISI... ix DAFTAR TABEL... xiii DAFTAR GAMBAR... xv DAFTAR LAMPIRAN... xvi DAFTAR SINGKATAN... xvii 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Pertanyaan Penelitian Tujuan Penelitian Tujuan Umum Tujuan Khusus Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Penelitian TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Diagnosis Penyakit Kusta Klasifikasi Kusta Pengobatan Kusta Selesai Pengobatan atau RFT Relaps atau Kambuh Kecacatan Akibat Kusta Penyebab Kecacatan Penilaian Kecacatan Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecacatan Karakteristik Responden Umur Tingkat Pendidikan Pengetahuan Tingkat Ekonomi Tipe Kusta Riwayat Reaksi Pengertian Reaksi ix
12 Gejala dan Klasifikasi Hubungan Reaksi dan Kecacatan Upaya Pencegahan Cacat Akibat Kusta Pemeriksaan Fungsi Saraf secara Rutin Penangan Reaksi dan Neuritis Hubungan Upaya Pencegahan Cacat dengan Kecacatan Perawatan Diri Perawatan Diri pada Mata Perawatan Diri pada Kulit Perawatan Diri pada Tangan dan Kaki Hubungan Perawatan Diri dengan Kecacatan Program Pengawasan Penderita Kusta Setelah Selesai Pengobatan Metode Pengamatan Aktif Metode Pengawasan Pasif Metode Pengamatan Semi Aktif Perbedaan Metode Evaluasi Ekonomi Pengertian Evaluasi Ekonomi Metode Evaluasi Ekonomi Biaya (Cost) Klasifikasi Biaya Pengaruh pada Skala Produksi Lama Penggunaan Fungsi atau Aktivitas Sumber Biaya Konsep Akibat Ekstern Penghitungan Biaya Efektivitas (Outcome) Analisis Efektivitas Biaya (Cost Effectiveness Analysis) KERANGKA KONSEP Kerangka Teori Kerangka Konsep Hipotesis DESAIN PENELITIAN Desain Penelitian Waktu dan Lokasi Penelitian Populasi dan Sampel Definisi Operasional Teknik Pengumpulan Data Manajemen Data Analisis Data Pencatatan dan Pemilahan Analisis Univariat dan Bivariat x
13 4.7.3 Analisis Multivariat Perhitungan ICER HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Metode Pengamatan Semi Aktif Metode Pengamatan Pasif Hubungan Metode Pengamatan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan, Pencegahan Cacat dan Perawatan Diri Hubungan Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan Hubungan Metode Pengamatan dengan Pencegahan Cacat Hubungan Metode Pengamatan dengan Perawatan Diri Hubungan Umur, Tingkat Pendidikan, Tingkat Pengetahuan, Tingkat Sosial Ekonomi, Tipe Kusta, Riwayat Reaksi, Pencegahan Cacat, dan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Umur dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Tingkat Ekonomi dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Tipe Kusta dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Riwayat Reaksi dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Pencegahan Cacat dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat Faktor yang Paling Berpengaruh terhadap Pengendalian Tingkat Cacat Biaya Efektivitas Biaya dalam Pengendalian Tingkat Cacat Rasio Efektivitas Biaya Tambahan dalam Pengendalian Tingkat Cacat PEMBAHASAN Hubungan Metode Pengamatan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan, Pencegahan Cacat, dan Perawatan Diri Hubungan Umur, Tingkat Pendidikan, Tingkat Pengetahuan, Tingkat Sosial Ekonomi, Tipe Kusta, Riwayat Reaksi, Pencegahan Cacat, dan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Umur dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pengendalian Tingkat Cacat xi
14 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Tingkat Ekonomi dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Tipe Kusta dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Riwayat Reaksi dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Pencegahan Cacat dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat Faktor yang Paling Berpengaruh terhadap Pengendalian Tingkat Cacat Biaya Efektivitas Biaya dalam Pengendalian Tingkat Cacat Keterbatasan Penelitian KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran Program Penelitian Selanjutnya DAFTAR PUSTAKA xii
15 DAFTAR TABEL Tabel 1 Prevalensi dan jumlah kasus baru kusta di 130 negara pada wilayah WHO tahun Tabel 2.1 Fungsi Saraf Tepi Tabel 2.2 Klasifikasi Kusta berdasarkan Program Pengobatan Tabel 2.3 Dosis Obat Penderita PB Tabel 2.4 Dosis Obat Penderita MB Tabel 2.5 Tingkat Cacat Menurut WHO yang Disesuaikan untuk Indonesia. 17 Tabel 2.6 Hasil Pemeriksaan Keadaan Cacat pada Kartu Penderita Kusta Tabel 2.7 Hasil Penelitian Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecacatan Tabel 2.8 Perbedaan Reaksi Ringan dan Berat pada Reaksi Tipe Tabel 2.9 Perbedaan Reaksi Ringan dan Berat pada Reaksi Tipe Tabel 2.10 Kerusakan Fungsi Saraf Tepi Tabel 2.11 Pengobatan Reaksi Berat Tabel 2.12 Jenis Kecacatan dan Perawatan Diri pada Mata Tabel 2.13 Jenis Kecacatan dan Perawatan Diri pada Kulit Tabel 2.14 Jenis Kecacatan dan Perawatan Diri pada Tangan dan Kaki Tabel 2.15 Perbedaan Metode Pengamatan Setelah Selesai Pengobatan Tabel 2.16 Tabel Pengukuran Biaya dan Konsekuensi pada Evaluasi Ekonomi 51 Tabel 4 Definisi Operasional Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Puskesmas di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.2 Hubungan Metode Pengamatan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.3 Hubungan antara Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.4 Hubungan antara Metode Pengamatan dengan Pencegahan Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.5 Hubungan antara Metode Pengamatan dengan Perawatan Diri di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.6 Hubungan antara Umur dengan Pengemdalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.7 Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.8 Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.9 Hubungan antara Tingkat Ekonomi dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.10 Hubungan antara Tipe Kusta dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.11 Hubungan antara Riwayat Reaksi dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.12 Hubungan antara Pencegahan Cacat dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun xiii
16 Tabel 5.13 Hubungan antara Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.14 Model Awal Uji Multivariat terhadap Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.15 Model Akhir Uji Multivariat terhadap Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun Tabel 5.16 Gambaran Biaya Program dan Penderita pada Metode Pengamatan Semi Aktif dan Metode Pengamatan Pasif di Kabupaten Pasuruan Tahun xiv
17 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Skema Proses Terjadinya Kecacatan Kusta Gambar 2.2 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Pasif Gambar 2.3 Alur Pertemuan Penderita dengan Petugas pada Metode Pengamatan Semi Aktif Gambar 2.4 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Semi Aktif Gambar 3.2 Kerangka Konsep Gambar 5.1 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Semi Aktif Gambar 5.2 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Dikunjungi oleh Puskesmas pada Metode Pengamatan Semi Aktif Gambar 5.3 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Pasif xv
18 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Kartu Penderita Kusta Lampiran 2 Form POD Lampiran 3 Form Evaluasi Pengobatan Reaksi Berat Lampiran 4 Kuesioner Puskesmas Lampiran 5 Kuesioner Petugas Puskesmas Lampiran 6 Kuesioner Penderita Lampiran 7 Hasil Analisis Bivariat Lampiran 8 Hasil Analisis Multivariat xvi
19 DAFTAR SNGKATAN ALERT BTA CEA CER DDS ENL GDP ICER ILEP KPD MB MDT NCD OR PB PCC POD RCT RFC RFT ST UPBM VMT WHO : All Africa Leprosy, Tuberculosis and Rehabilitation Training Centre : Bakteri Tahan Asam : Cost-Effectiveness Analysis : Cost-Effectiveness Ratio : Diamino Diphenyl Sulphone : Erythema Nodosum Leprosum : Gross Domestic Product : Incremental Cost-Effectiveness Ratio : International Federation of Anti-Leprosy Associations : Kelompok Perawatan Diri : Multi Basiler : Multi Drugs Therapy : New Case Detection : Odds Ratio : Pausi Basiler : Pengawas Cegah Cacat : Prevention of Disability : Randomized Clinical Trial : Release From Control : Release From Treatment : Sensory Test : Upaya Perawatan Berbasis Masyarakat : Voluntary Muscle Testing : World Health Organization xvii
20 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit kronis dan menular yang telah dikenal sejak tahun 2000 sebelum Masehi (Depkes RI, 2007). Namun hingga tahun 2010, masih terdapat 130 negara di wilayah Afrika, Amerika, Asia Tenggara, Mediterania Timur, dan Pasifik Barat yang memiliki beban penyakit kusta tinggi. Data WHO (2011) menunjukkan bahwa Asia Tenggara memiliki penderita kusta terdaftar (prevalensi) dan jumlah kasus baru (NCD) terbanyak dibandingkan dengan empat wilayah lainnya, seperti yang tercantum pada tabel berikut ini : Tabel Prevalensi dan jumlah kasus baru kusta di 130 negara pada wilayah WHO tahun 2010 Wilayah WHO Afrika Amerika Asia Tenggara Mediterania Timur Pasifik Barat Sumber : WHO, 2011 Kasus Terdaftar (prevalensi / penduduk) (0,38) (0,38) (0,64) (0,17) (0,05) Jumlah kasus baru (angka penemuan kasus baru / penduduk) (3,53) (4.25) (8,77) (0,67) (0,28) Selain besarnya jumlah kasus baru dan prevalensi, WHO (2009) juga menyatakan bahwa lebih dari tiga juta orang di seluruh dunia diperkirakan hidup dengan kecacatan akibat kusta. Besarnya jumlah kasus baru, prevalensi, dan jumlah kecacatan tersebut menunjukkan tingginya beban kusta di dunia pada tahun Indonesia sebagai salah satu negara di Asia tenggara, memiliki beban penyakit kusta yang cukup tinggi. Pada tujuh tahun terakhir, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dan urutan kedua di wilayah Asia Tenggara (WHO, 2011). Berdasarkan Kemenkes RI (2011), pada tahun 2010 jumlah 1
21 2 kasus baru kusta di Indonesia mencapai kasus dengan kecacatan tingkat 2 di antara penderita baru sebesar 10,71% (1822 kasus). Kecacatan sebagai salah satu indikator beban penyakit kusta, menimbulkan masalah yang kompleks. Kecacatan yang terjadi pada bagian mata, tangan, atau kaki penderita seringkali tampak menyeramkan sehingga menimbulkan ketakutan yang berlebihan terhadap kusta (leprofobia) dan stigma di masyarakat (Wisnu dan Hadilukito, 2003). Stigma di masyarakat menyebabkan penderita kusta dijauhi dan dikucilkan oleh masyarakat walaupun penderita tersebut telah diobati dan telah dinyatakan selesai pengobatan (Wisnu dan Gudadi, 1997). Kecacatan menjadi penyebab timbulnya stigma yang mengakibatkan terjadinya permasalahan kompleks, tidak hanya terbatas pada masalah medis melainkan masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan, dan ketahanan nasional (Depkes RI, 2007; Universitas Sumatera Utara, 2008). Risiko kecacatan akibat kusta tidak hanya terjadi pada kasus baru kusta. Kecacatan dapat terjadi sebelum pengobatan, selama pengobatan, bahkan setelah selesai pengobatan dan risiko cacat tersebut menurun bertahap setelah tiga tahun berikutnya (Rodrigues dan Lockwood, 2011; Depkes RI, 2007; Health Ministry of Ethiopia, 1997). Laporan WHO Expert Committee on Leprosy dari beberapa Negara menyatakan bahwa rata-rata setelah selesai pengobatan kusta terdapat 75% penderita dengan kecacatan (Susanto, 2006). Sedangkan hasil penelitian penilaian kecacatan terhadap 43 penderita setelah selesai pengobatan yang dilakukan di kabupaten Subang provinsi Jawa Barat pada tahun 2001, menunjukkan 21 % mengalami kenaikan tingkat kecacatan (Hasibuan, 2002). Risiko kecacatan pada penderita kusta setelah selesai pengobatan di seluruh provinsi di Indonesia selama ini dipantau dengan menggunakan metode pengamatan pasif (passive surveillance). Metode ini dilakukan selama 2 tahun setelah selesai pengobatan untuk tipe PB (pauci-baciler) dan 5 tahun setelah selesai pengobatan untuk tipe MB (multi-baciler) tanpa pemeriksaan laboratorium (Depkes RI, 2007). Metode ini disebut dengan pengamatan pasif
22 3 karena petugas tidak akan melakukan tindakan apabila penderita tidak datang. Metode pengamatan pasif yang direkomendasikan oleh WHO ini, lebih mengacu pada keaktifan penderita setelah selesai pengobatan untuk datang ke puskesmas dan berkonsultasi dengan petugas puskesmas tiap tahun atau kapan saja jika terdapat tanda-tanda relaps atau terdapat masalah-masalah lain seperti terjadinya reaksi atau bertambah buruknya akibat kusta yang mereka derita (Jacobson, 1994; Gebre dan Saunderson, 2001). Setelah diterapkan, diketahui kerugian pada metode pengamatan pasif adalah kesempatan untuk mendeteksi reaksi atau neuritis (terutama silent neuritis) secara dini berkurang. ALERT melakukan penelitian di Ethiopia pusat terhadap 116 penderita setelah selesai pengobatan yang dipantau oleh metode pengamatan pasif selama 5 tahun. Hasil menunjukkan bahwa dari 116 penderita yang didorong untuk datang tiap tahun ke pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan fungsi saraf dan penilaian tingkat kecacatan, hanya sedikit yang datang untuk tindak lanjut. Sebanyak 56,9% penderita tidak pernah datang sama sekali dalam 5 tahun. Berdasarkan penelitian ini juga diperoleh odds ratio (OR) terjadinya kondisi yang memburuk pada kecacatan (nilai kecacatan Mata-Tangan-Kaki meningkat) apabila pengamatan aktif tidak dilakukan adalah 1,9 (disesuaikan umur, jenis kelamin, klasifikasi) (Gebre dan Saunderson, 2001). Berdasarkan berkurangnya kesempatan mendeteksi reaksi secara dini dan memburuknya kondisi kecacatan pada penderita dalam metode pengamatan pasif, maka pada tahun 2009 dilakukan suatu proyek uji coba pengamatan semi aktif (Semi Active Surveillance). Metode yang dilakukan di Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Gorontalo ini disebut dengan pengamatan semi aktif karena petugas puskesmas akan pasif menunggu penderita datang ke puskesmas atau Kelompok Perawatan Diri (KPD) berdasarkan perjanjian minimal 3 bulan sekali untuk memeriksakan diri. Namun, petugas akan mengunjungi penderita secara aktif apabila penderita tidak datang dan tidak dapat dihubungi dalam tempo 4 bulan dari waktu yang dijanjikan. Saat penderita bertemu dengan petugas puskesmas atau KPD, akan
23 4 dilakukan pemeriksaan tanda awal reaksi dan pencegahan cacat (pemeriksaan fungsi saraf), penilaian kondisi kecacatan, pemberian informasi tentang perawatan diri, serta identifikasi kebutuhan medis dan alat pelindung diri yang dibutuhkan oleh penderita (Kemenkes RI, 2010) Pengamatan semi aktif secara umum, bertujuan untuk mencegah peningkatan tingkat kecacatan (tingkat tetap atau menurun) pada penderita setelah selesai pengobatan dalam pengamatan selama 5 tahun. Sedangkan tujuan khusus dari metode ini adalah penderita tetap memiliki hubungan dengan petugas puskesmas selama penderita masih berisiko, penderita mampu melakukan perawatan diri secara teratur tiap hari, dan penderita mendapatkan bantuan dalam mengatasi masalah medis yang ada (Kemenkes RI, 2010). Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan (2011), perlu dilakukan kegiatan pengamatan semi aktif untuk mengurangi beban kecacatan penderita kusta setelah selesai pengobatan. Kecacatan dapat dikurangi dan penderita kusta dapat dibantu secara lebih efektif dan efisien dengan menerapkan suatu sistem yang memungkinkan penderita kusta setelah selesai pengobatan untuk tetap berhubungan dengan Puskesmas selama penderita tersebut membutuhkan bimbingan untuk mengatasi kecacatan yang dialami. Kedua metode pencegahan cacat setelah selesai pengobatan tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu lebih spesifik untuk mencegah terjadinya peningkatan tingkat cacat (timbulnya cacat baru dan kondisi cacat yang bertambah parah). Namun dari kedua metode tersebut, belum dapat ditentukan metode yang mana yang lebih efektif-biaya. Hal ini disebabkan karena metode pengamatan semi aktif belum pernah dilakukan sebelumnya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Penelitian yang pernah dilakukan terkait dengan metode pengamatan pasif adalah penelitian yang dilakukan oleh ALERT di daerah Ethiopia pusat, pada penelitian ini metode pengamatan pasif dibandingkan dengan metode pengamatan aktif. Hasil penelitian menunjukkan pada kedua metode terdapat sedikit perbedaan efektivitas (mengurangi tingkat kecacatan) namun biaya yang dibutuhkan pada metode pengamatan aktif lebih mahal dibandingkan metode pengamatan pasif (Gebre dan Saunderson, 2001).
24 5 Berdasarkan paparan tersebut, peneliti berpendapat bahwa diperlukan metode yang tepat untuk dapat mengevaluasi secara menyeluruh terhadap efektivitas dan biaya dari penerapan metode pengamatan pasif dan pengamatan semi aktif. Peneliti akan menggunakan Analisis Efektivitas Biaya (CEA) yaitu suatu analisis yang mencari bentuk intervensi mana yang paling menguntungkan dalam mencapai suatu tujuan, dengan cara membandingkan hasil suatu kegiatan dengan biayanya, dimana ukuran input diukur dalam nilai moneter dan ukuran output-nya diukur dalam jumlah output yang dihasilkannya (Drummond, 2001). Input yang dimaksud dalam penelitian ini adalah besarnya biaya yang terdiri biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan oleh program dalam mengendalikan nilai kecacatan pada penderita, sedangkan output yang dimaksud adalah jumlah penderita yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan sehingga tingkat cacat yang dimiliki tetap bahkan menurun. Selanjutnya melalui penelitian yang akan dilakukan, akan diketahui metode mana yang memiliki efektivitas biaya yang lebih tinggi dan menjadi suatu alternatif yang sesuai untuk mengendalikan tingkat cacat pada penderita setelah selesai pengobatan. Selain itu, peneliti juga akan melihat hubungan antara pengendalian tingkat cacat dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan kecacatan seperti umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri (Moshioni,et.al, 2010; Universitas Negeri Semarang, 2009; Susanto, 2006; Universitas Diponegoro, 2002). Penelitian ini bermanfaat bagi semua pihak baik orang yang pernah mengalami kusta dan keluarga, masyarakat umum, peneliti dan bagi program pengendalian penyakit kusta dan penelitian ini tidak merugikan masyarakat. Harapan peneliti adalah penelitian ini dapat menghasilkan data yang akurat yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk merencanakan dan melaksanakan program pengendalian penyakit kusta terkait pencegahan cacat akibat kusta pada penderita setelah selesai pengobatan.
25 6 Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka dibutuhkan suatu penelitian yang dapat menentukan apakah metode pengamatan semi aktif lebih efektif biaya dibandingkan dengan pengamatan pasif dalam mengendalikan tingkat cacat. 1.2 Rumusan Masalah Kecacatan merupakan salah satu indikator beban penyakit kusta. Kecacatan dapat terjadi Kecacatan dapat terjadi sebelum pengobatan, selama pengobatan, bahkan setelah selesai pengobatan (Rodrigues dan Lockwood, 2011; Depkes RI, 2007; Health Ministry of Ethiopia, 1997). Upaya dalam pengendalian kecacatan pada penderita yang telah selesai pengobatan adalah dengan menerapkan metode pengamatan. Sejak tahun 1982, telah diterapkan metode pengamatan pasif di seluruh wilayah Indonesia. Namun pada penerapan pengamatan pasif ini, terdapat kerugian dalam pengendalian cacat yaitu berkurangnya kesempatan untuk mendeteksi reaksi atau neuritis (terutama silent neuritis) secara dini (Gebre dan Saunderson, 2001). Guna mengatasi kerugian tersebut, pada tahun 2009 dilakukan suatu proyek uji coba pengamatan semi aktif (Semi Active Surveillance) pada Kabupaten Pasuruan dan Gorontalo. Namun hingga saat ini belum diketahui apakah metode pengamatan semi aktif lebih efektif biaya dibandingkan dengan metode pengamatan pasif yang telah diterapkan sebelumnya dalam mengendalikan tingkat cacat. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian untuk melihat metode yang lebih efektif biaya dalam pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta setelah selesai pengobatan antara pengamatan pasif dan metode pengamatan semi aktif. Penelitian ini akan dilakukan di Kabupaten Pasuruan pada Mei 2012 karena Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu kabupaten yang melaksanakan metode pengamatan semi aktif di 10 puskesmas dan metode pengamatan pasif di 14 puskesmas. Selain itu, Kabupaten Pasuruan terletak di Provinsi Jawa Timur yang merupakan provinsi dengan jumlah kasus kecacatan terbanyak dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Prosentase kecacatan
26 7 tingkat 2 di antara kasus baru yang terdapat di Kabupaten Pasuruan mencapai 8,9% (Kemenkes, 2011). 1.3 Pertanyaan Penelitian a. Bagaimana gambaran biaya, metode pengamatan, umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri, dan tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan? b. Bagaimana hubungan metode pengamatan dengan tingkat pengetahuan, perawatan diri, dan pencegahan cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan? c. Bagaimana hubungan umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri dengan pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan? d. Faktor-faktor apa yang paling dominan mempengaruhi pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan? e. Bagaimana rasio efektivitas biaya metode pengamatan semi aktif terhadap metode pengamatan pasif dalam mengendalikan tingkat cacat pada penderita kusta setelah selesai pengobatan? 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Menganalisis efektivitas biaya metode pengamatan semi aktif terhadap metode pengamatan pasif setelah selesai pengobatan kusta dalam pengendalian tingkat cacat Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi biaya, metode pengamatan, umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat
27 8 reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri, dan tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. b. Mengetahui hubungan antara metode pengamatan dengan tingkat pengetahuan, perawatan diri, dan pencegahan cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. c. Mengetahui hubungan antara umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri dengan pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. d. Mengetahui faktor-faktor apa yang paling dominan mempengaruhi pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. e. Mengetahui rasio efektivitas biaya metode pengamatan semi aktif terhadap metode pengamatan pasif dalam mengendalikan tingkat cacat pada penderita kusta setelah selesai pengobatan. 1.5 Manfaat Penelitian a. Aplikatif Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembuat kebijakan dalam merumuskan alternatif terbaik dalam perencanaan dan pelaksanaan pengendalian cacat pada program pengendalian penyakit kusta. b. Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan penelitian tentang efektivitas biaya pada metode lain terkait pengendalian cacat pada penyakit kusta. c. Metodologis Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai metode atau strategi yang tepat untuk mendapatkan metode yang lebih efektif dan efisien dalam pengendalian cacat pada penyakit kusta.
28 9 1.6 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini akan menganalisis efektivitas biaya intervensi terhadap penderita kusta setelah selesai pengobatan melalui metode pengamatan pasif dan metode pengamatan semi aktif di kabupaten Pasuruan pada bulan Mei Penelitian ini dilakukan pada penderita kusta setelah selesai pengobatan di Kabupaten karena Kabupaten Pasuruan menerapkan metode pengamatan pasif (14 puskesmas) dan metode pengamatan semi aktif (10 puskesmas). Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian cross sectional.
29 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Diagnosis Penyakit Kusta Penyakit kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang kulit dan saraf tepi (James Chin, 2009). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan ditularkan melalui pernapasan atau kulit dengan kontak erat dan lama. Bakteri pada penyakit kusta memiliki masa inkubasi yang cukup panjang yaitu 2 hingga 5 tahun (Depkes RI, 2007). Diagnosa penyakit kusta dapat dilakukan oleh petugas puskesmas atau tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan tentang penyakit ini. Berdasarkan Pfaltzgraff dan Ramu (1994) dan Depkes RI (2007), diagnosa penyakit kusta ditegakkan dengan ditemukannya salah satu tanda dari 3 tanda utama yang umum disebut cardinal sign yaitu : a. Lesi berwarna keputihan (hypopigentasi) atau kemerahan (erithematous) yang mati rasa (anaesthesi). b. Adanya penebalan saraf tepi disertai dengan adanya gangguan fungsi. Gangguan fungsi saraf merupakan akibat dari peradangan kronis pada saraf tepi (neuritis perifer). c. Ditemukannya bakteri Mycobacterium leprae dari hasil pemeriksaan BTA pada kerokan kulit. Saraf tepi yang dimaksud dalam cardinal sign berikut dengan fungsinya dapat dilihat pada tabel
30 11 Saraf Auricularis magnus Facialis Tabel 2.1 Fungsi Saraf Tepi Fungsi Motorik Sensorik Otonom Mempersarafi kelopak mata agar bisa menutup Ulnaris Mempersarafi jari manis dan jari kelingking Medianus Mempersarafi ibu jari, telunjuk, dan jari tengah Radialis Peroneus communis Tibialis posterior Sumber : Depkes RI, Klasifikasi Kusta Mempersarafi belakang telinga area Rasa raba telapak tangan bagian jari kelingking dan separuh jari manis Rasa raba telapak tangan bagian ibu jari, telunjuk, jari tengah, separuh jari manis Kekuatan pergelangan tangan Kekuatan pergelangan kaki Mempersarafi jarijari Rasa raba telapak kaki kaki Mempersarafi kelenjar keringat, kelenjar minyak, dan pembuluh darah Menurut Amirudin, Hakim, dan Darwis (2003), klasifikasi penyakit kusta dilakukan untuk menentukan rejimen pengobatan, prognosis, komplikasi, dan perencanaan operasional. Perencanaan operasional yang dimaksud, misalnya menentukan pasien yang mempunyai nilai epidemiologis tinggi sebagai target utama pengobatan, identifikasi pasien yang memiliki peluang cacat. Klasifikasi penyakit kusta yang umum digunakan antara lain klasifikasi Madrid (1953), klasifikasi Ridley-Jopling (1962), dan klasifikasi WHO (1981 dan modifikasi 1988). Klasifikasi Madrid merupakan klasifikasi internasional yang membagi penyakit kusta menjadi 4 tipe yaitu intermediate (I), tuberkuloid (T), borderline dimorphous (B), Lepromatosa (L). Sedangkan klasifikasi Ridley-Jopling merupakan klasifikasi yang digunakan untuk kepentingan riset yang membagi penyakit kusta menjadi tipe tuberkuloid (TT), borderline tuberkuloid (BT), mid borderline (BB),
31 12 borderline lepromatous (BL), Lepromatosa (LL). Klasifikasi berikutnya adalah klasifikasi WHO yang digunakan untuk kepentingan program (memudahkan pengobatan di lapangan), yaitu tipe PB (pausibasilar) dan tipe MB (multibasilar) dengan kriteria yang dijabarkan pada tabel 2.2. Tabel 2.2 Klasifikasi Kusta berdasarkan Program Pengobatan Tanda Utama PB MB Bercak Kusta Jumlah 1 5 Jumlah > 5 Penebalan Saraf Tepi yang Hanya satu saraf Lebih dari satu saraf Disertai dengan Gangguan Fungsi (mati rasa/ kelemahan otot yang dipersarafi oleh saraf yang bersangkutan) Sediaan Apusan BTA Negatif BTA Positif Sumber : Depkes RI, Pengobatan Kusta Pengobatan pada penderita kusta dapat membunuh bakteri Mycobacterium leprae sehingga dapat memutus mata rantai penularan, menyembuhkan penyakit pada penderita, dan mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan (Depkes RI, 2007). Pengobatan dengan minyak chaulmoogra (hydnocarpus) dikenal sebagai pengobatan pertama kali yang efektif untuk kusta. Kemudian pada tahun 1945, pengobatan tersebut digantikan dengan pengobatan yang menggunakan dapson (DDS). DDS tidak hanya mengobati penyakit kusta pada suatu individu, namun juga mengontrol kusta pada masyarakat di daerah endemik (McDougall, 1997). Berdasarkan Depkes RI (1993), DDS digunakan sebagai pengobatan kusta di Indonesia sejak tahun Pada tahun 1969, program kusta diintegrasikan di puskesmas. Sejak tahun 1982, WHO merekomendasikan pengobatan baru untuk penyakit kusta yaitu rejimen MDT (Multi Drugs Therapy). Pengobatan dengan MDT diterapkan oleh program kusta di Indonesia pada tahun yang sama (McDougall, 1997; Depkes RI, 1993). MDT diharapkan dapat mengantisipasi terjadinya resistensi obat saat penderita kusta hanya
32 13 mengkonsumsi DDS dalam pengobatan penyakit kusta (Soebono dan Suhariyanto, 2003). MDT (Multi Drugs Therapy) merupakan kombinasi dua atau tiga obat yang terdiri dari obat rifampisin, lampren (clofazimin), dan dapson (DDS). Rifampisin bekerja sinergis mematikan bakteri Mycobacterium leprae, sedangkan obat lampren dan DDS bekerja untuk melemahkan dan menghancurkan sisa-sisa bakteri. Rincian mengenai dosis obat ditampilkan pada tabel 2.3 untuk penderita PB dan 2.4 untuk penderita MB. Tabel 2.3 Dosis Obat Penderita PB Obat Umur tahun Umur 15 tahun Keterangan Rifampisin 450 mg/bulan 600 mg/bulan DDS Sumber : Depkes RI, 2007 Minum hari ke 1 di depan petugas 50 mg/bulan 100 mg/bulan Minum hari ke 1 di depan petugas 50 mg/hari 100 mg/hari Minum hari ke 2 28 di rumah Tabel 2.4 Dosis Obat Penderita MB Obat Umur tahun Umur 15 tahun Keterangan Rifampisin 450 mg/bulan 600 mg/bulan DDS Lampren Sumber : Depkes RI, 2007 Minum hari ke 1 di depan petugas 50 mg/bulan 100 mg/bulan Minum hari ke 1 di depan petugas 50 mg/hari 100 mg/hari Minum hari ke 2 28 di rumah 150 mg/bulan 300 mg/bulan Minum hari ke 1 di depan petugas 50 mg/ 2 hari 50 mg/hari Minum hari ke 2 28 di rumah Informasi pada kedua tabel tersebut adalah rincian dosis pada paket obat yang tersedia dalam bentuk blister, yaitu paket obat untuk orang dewasa
33 14 dan anak umur tahun. Sedangkan untuk anak yang umurnya di bawah 10 tahun, dosis obat disesuaikan dengan berat badan sebagai berikut : Rifampisin : mg/kgbb DDS : 1 2 mg/kg BB Lampren : 1 mg/kgbb Pada awal rejimen MDT ini direkomendasikan, jumlah obat MDT yang diberikan pada tipe PB adalah 6 blister dalam 6 9 bulan, sedangkan pada tipe MB adalah 24 blister selama bulan. Kemudian pada tahun 1997, muncul rejimen MDT generasi kedua oleh WHO sebagai hasil dari penelitian terhadap pengobatan MDT pada tipe MB. Pada rejimen MDT kedua ini, penderita MB direkomendasikan mendapatkan jumlah obat lebih sedikit dari sebelumnya, yaitu 12 blister obat selama bulan tanpa meningkatkan risiko berkembangnya resistensi terhadap rifampisin (McDougall, 1997; Depkes RI, 2007). 2.4 Selesai Pengobatan atau RFT Selesai pengobatan atau RFT (Release from Treatment) adalah istilah untuk menyatakan penderita telah selesai pengobatan kusta. Penderita PB yang telah minum 6 blister obat MDT dalam 6 9 bulan dan penderita MB yang telah minum 12 blister obat MDT dalam bulan dinyatakan telah menyelesaikan pengobatan atau RFT oleh petugas puskesmas dan akan memasuki masa pengamatan (Depkes RI, 2007). 2.5 Relaps atau Kambuh Relaps adalah kembalinya penyakit kusta secara aktif pada penderita yang telah menyelesaikan pengobatan MDT (RFT) dengan gejala meluas dan menebalnya lesi yang telah ada atau terbentuknya lesi baru, penebalan atau kekakuan saraf, adanya saraf baru yang mengalami penebalan disertai gangguan fungsi, ditemukannya bakteri pada tempat yang sebelumnya negatif atau pada lesi baru (Amirudin, Hakim, dan Darwis, 2003). Menurut Depkes RI (2007), pernyataan relaps harus dikonfirmasikan ke dokter kusta yang memiliki kemampuan klinis dalam mendiagnosis relaps.
34 15 Apabila relaps terjadi, maka penderita akan diobati kembali dengan rejimen pengobatan yang sesuai dengan tipe kusta yang diderita berdasarkan hasil pemeriksaan cardinal sign (Depkes RI, 2007). Pada saat pengobatan dengan DDS dilakukan, relaps sering terjadi pada penderita setelah pengobatan (RFT). Namun sejak pengobatan MDT dilaksanakan, angka relaps setelah selesai pengobatan (RFT) sangat kecil, berkurang hingga kurang dari 1 % (Lockwood, 2002). 2.6 Kecacatan Akibat Kusta Penyebab Kecacatan Kecacatan pada kusta dapat terjadi sebelum pengobatan, selama pengobatan, bahkan setelah selesai pengobatan dan risiko cacat tersebut menurun bertahap setelah tiga tahun berikutnya (Rodrigues dan Lockwood, 2011; Depkes RI, 2007; Health Ministry of Ethiopia, 1997). Kecacatan dapat terjadi pada mata, tangan, dan kaki. Skema proses terjadinya kecacatan pada penderita penyakit kusta dapat dilihat pada gambar 2.1.
35 16 Gambar 2.1 Skema Proses Terjadinya Kecacatan Kusta Gangguan Fungsi Saraf Tepi Kecacatan Primer Sensorik Motorik Otonom Anestesi (Mati Rasa) Kelemahan Gangguan Kelenjar Keringat, Kelenjar Minyak, Aliran Darah Tangan/ Kaki Mati Rasa Kornea Mati Rasa, Refleks Kedip Berkurang Tangan/ Kaki Lemah/ Lumpuh Mata Tidak Bisa Kedip Kulit Kering dan Pecahpecah Kecacatan Sekunder Luka Infeksi Jari-jari bengkok/ kaku Infeksi Luka Mutilasi/ Absorbsi Buta Mutilasi/ Absorbsi Buta Infeksi Sumber : Depkes RI, 2007; Wisnu dan Hadilukito, 2003 Pada skema tersebut, kecacatan berdasarkan penyebabnya terbagi atas kecacatan primer dan kecacatan sekunder. Cacat primer adalah cacat yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, yaitu melalui infiltrasi langsung Mycobacterium leprae ke susunan saraf tepi dan organ atau dapat juga melalui reaksi kusta. Aktivitas penyakit ini menyebabkan kerusakan pada fungsi sensorik, motorik, dan otonom dari saraf tepi : facialis, auricularis magnus, medianus, radialis, ulnaris, peroneus communis, dan tibialis posterior. Infiltrasi bakteri pada kulit, jaringan subkutan, dan
36 17 jaringan lain juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan tersebut (Depkes RI, 2007). Cacat sekunder terjadi akibat adanya cacat primer. Kerusakan fungsi saraf sensorik di bagian tubuh tertentu dapat menyebabkan terjadinya luka apabila bagian tubuh tersebut mengalami trauma mekanis atau termis. Kerusakan fungsi saraf motorik dapat menyebabkan kontraktur yang dapat menimbulkan gangguan menggenggam atau berjalan. Kerusakan fungsi saraf otonom akan mengakibatkan kulit mudah retak-retak dan dapat terjadi infeksi sekunder (Universitas Sumatera Utara, 2008) Penilaian Kecacatan Guna menilai kualitas penanganan pencegahan cacat yang telah dilakukan, seluruh penderita kusta dinilai tingkat kecacatannya sesuai dengan petunjuk WHO. Tingkat kecacatan menurut WHO yang disesuaikan untuk Indonesia, secara garis besar terbagi menjadi 3 tingkat. Perbedaan tingkat kecacatan di Indonesia dengan tingkat kecacatan menurut WHO, terletak pada adanya gangguan fungsi sensoris pada mata yang tidak diperiksa (cacat tingkat 1 pada mata) karena keterbatasan pemeriksaan di lapangan. Secara lengkap, penetapan tingkat kecacatan tersebut dapat dilihat pada tabel 2.5. Tabel 2.5 Tingkat Cacat Menurut WHO yang Disesuaikan untuk Indonesia Tingkat Mata Telapak Tangan/Kaki 0 Tidak ada kelainan pada mata Tidak ada cacat pada tangan dan akibat kusta. kaki akibat kusta. 1 Anestesi, kelemahan otot pada tangan dan kaki (tidak ada kecacatan/ kerusakan yang kelihatan akibat kusta). 2 Ada lagophthalmos pada Ada cacat/kerusakan yang mata (kelopak mata tidak kelihatan akibat kusta, misalnya dapat menutup sempurna) ulkus, jari kiting, kaki semper. Sumber : Depkes RI, 2007 Pada penilaian kecacatan ini, suatu kecacatan yang bukan merupakan akibat kusta tidak dihitung. Mati rasa pada bercak juga tidak dihitung
37 18 sebagai kecacatan tingkat 1 karena bukan disebabkan oleh kerusakan saraf perifer utama tetapi rusaknya saraf lokal kecil pada kulit. (Depkes RI, 2005 dan 2007). Pemeriksaan dan penilaian kecacatan pada penderita kusta dilakukan saat mulai pengobatan dan pada saat selesai pengobatan (RFT). Nilai tersebut dicatat pada kartu penderita yang wajib dimiliki oleh penderita baru seperti yang terlihat pada tabel 2.6. Tabel 2.6 Tabel Hasil Pemeriksaan Keadaan Cacat pada Kartu Penderita Kusta WAKTU PEMERIKSAAN TANGGAL TINGKAT CACAT (WHO : 0.1.2) MATA TANGAN KAKI Nilai ka ki ka ki Ka ki Tertinggi Jumlah Nilai Pertama RFT Sumber : PLKN, 2010 Pencatatan hasil pemeriksaan pada tabel tersebut, dimulai dengan mengisi tanggal kemudian mencatat tingkat kecacatan menurut WHO (nilai 0 2) pada kolom mata kanan, mata kiri, tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, dan kaki kiri. Kolom nilai tertinggi diisi dengan nilai kecacatan yang paling tinggi diantara kolom mata, tangan, dan kaki baik kiri maupun kanan. Nilai tertinggi antara 0 2, nilai ini disebut dengan tingkat kecacatan. Jumlah nilai diperoleh dengan menjumlahkan semua nilai dari kolom mata, tangan, dan kaki. Jumlah nilai berkisar 0 12, nilai ini disebut dengan skor kecacatan. Pada penelitian ini, nilai kecacatan yang digunakan sebagai output adalah jumlah nilai kecacatan atau nilai kecacatan tertinggi, tergantung pada hasil penelitian. 2.7 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecacatan Faktor - faktor diteliti hubungannya dengan kecacatan pada beberapa penelitian yang dapat dilihat pada tabel 2.7.
38 19 Tabel 2.7 Hasil Penelitian faktor-faktor yang berhubungan dengan Kecacatan No Peneliti Tahun Variabel yang diteliti 1 Moshioni,et.al 2010 Umur, tipe kusta, pendidikan, jenis kelamin 2 Saputri (UNS) 2009 Pengetahuan penderita tentang kecacatan, sikap penderita terhadap kecacatan, perilaku pencegahan cacat penderita kusta, jenis kelamin, pendapatan, keteraturan berobat, kelambatan berobat, reaksi kusta, tingkat pendidikan, jenis kusta 3 Susanto 2006 Umur, pendidikan, tipe kusta, reaksi, pengetahuan, keteraturan berobat, diagnosis, perawatan diri, jenis kelamin, lama sakit, lama kerja 4 Kurnianto (UNDIP) 2002 Umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat penghasilan, riwayat reaksi, tipe kusta, lama sakit, lokasi lesi, keteraturan berobat, motivasi keluarga, pencegahan cacat, perawatan diri Variabel yang Berhubungan Hasil Umur, tipe kusta, pendidikan Pengetahuan penderita tentang kecacatan, sikap penderita terhadap kecacatan, perilaku pencegahan cacat penderita kusta, jenis kelamin, status ekonomi, keteraturan berobat, kelambatan berobat, reaksi kusta Variabel yang Tidak Berhubungan Jenis kelamin Tingkat pendidikan, jenis kusta Umur, pendidikan, Jenis kelamin, tipe kusta, reaksi, pengetahuan, lama sakit, lama kerja keteraturan berobat, diagnosis, perawatan diri, Jenis pekerjaan, tingkat ekonomi, riwayat reaksi, tipe kusta, lama sakit, lokasi lesi, keteraturan berobat, motivasi keluarga, pencegahan cacat, perawatan diri Umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tipe kusta Peneliti memilih faktor- faktor yang berhubungan berdasarkan pada hasil penelitian yang pernah dilakukan minimal oleh dua peneliti dan menunjukkan adanya hubungan antara variabel tersebut dengan kecacatan. Faktor keteraturan berobat tidak diteliti sebagai faktor risiko karena populasi yang diteliti pada penelitian ini adalah penderita yang telah menyelesaikan pengobatan secara teratur. Faktor-faktor risiko kecacatan yang diteliti pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
39 Karakteristik Responden (Umur, Tingkat Pendidikan, Pengetahuan, Tingkat Ekonomi) Umur Umur berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), diartikan sebagai lama waktu hidup seorang individu sejak dilahirkan. Menurut Smith (1992) sebagaimana pada sebagian besar penyakit, kecacatan pada kusta meningkat seiring dengan meningkatnya umur. Penelitian membuktikan bahwa penderita usia lebih tua banyak mengalami cacat dan memiliki kecacatan yang lebih serius daripada penderita yang berusia muda (Guocheng, 1993). Pada usia lanjut terjadi penurunan kemampuan hormonal, kemampuan sensorik, dan kemampuan motorik (Courtright, 2002). Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa umur 15 tahun berhubungan dengan kecacatan (Susanto, 2006). Namun penelitian yang lain menyatakan bahwa tidak hubungan antara umur dengan kecacatan (Universitas Diponegoro, 2002) Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan yang dimaksud pada penelitian ini adalah tingkat pendidikan formal. Pendidikan formal adalah segenap bentuk pendidikan atau pelatihan yang diberikan secara terorganisasi dan berjenjang, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus (Depdikbud, 1990). Menurut Moschioni, et al (2010), penderita yang telah menempuh pendidikan formal lebih waspada terhadap apa yang mereka butuhkan termasuk dalam perhatian mencari pelayanan kesehatan. Rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan lambatnya pencarian pengobatan terhadap gejala dini kerusakan fungsi saraf yang dapat berkembang menjadi kecacatan. Smith (1992) juga menyatakan bahwa rendahnya
40 21 tingkat pendidikan sebagai salah satu faktor risiko terjadinya kecacatan walaupun efek atau sebab tersebut masih belum dapat dimengerti secara jelas. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berhubungan dengan kecacatan (Susanto, 2006). Namun penelitian yang lain menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kecacatan (Universitas Diponegoro, 2002; Universitas Negeri Semarang, 2009) Pengetahuan Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui mengenai hal tertentu (Depdikbud, 1990). Pengetahuan berisikan aspek positif atau aspek negatif tentang suatu hal sehingga apabila seseorang lebih melihat aspek positif daripada aspek negatif maka akan tumbuh sikap yang positif terhadap hal tersebut, begitu pula sebaliknya (Ancok, 1987). Pengetahuan mengenai terjadinya kecacatan pada kusta, reaksi, upaya pencegahan cacat, dan perawatan diri pada seorang penderita akan mendorong timbulnya sikap dan perilaku penderita tersebut untuk mencegah terjadinya kecacatan apabila penderita dapat melihat kerugian yang disebabkan oleh kecacatan dan reaksi serta melihat keuntungan dalam melakukan upaya pencegahan cacat dan perawatan diri. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan penderita tentang kecacatan berhubungan dengan kecacatan, OR 3,339 (Universitas Negeri Semarang, 2009; Susanto, 2006). Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu: a. Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% - 100% dari seluruh petanyaan b. Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% - 75% dari seluruh pertanyaan c. Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% - 55% dari seluruh pertanyaan
41 22 Pada penelitian ini, tingkat pengetahuan akan dibagi menjadi 2 kategori yaitu tinggi dan rendah. Kategori tingkat pengetahuan tinggi mencakup pengetahuan yang baik dan cukup berdasarkan tingkat pengetahuan menurut Arikunto. Sedangkan tingkat pengetahuan rendah sama dengan kriteria pengetahuan yang kurang Tingkat Ekonomi Menurut Smith (1992), status ekonomi yang kurang diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko terjadinya kecacatan walaupun efek atau sebab tersebut masih belum dapat dimengerti secara jelas. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat ekonomi berhubungan dengan kecacatan dengan OR 5,8 (Universitas Diponegoro, 2002) dan 3,995 (Universitas Negeri Semarang, 2009) Tipe Kusta Klasifikasi penyakit kusta telah dipaparkan sebelumnya pada tinjauan pustaka sub bab Pada penelitian ini, klasifikasi kusta yang akan dikaitkan sebagai faktor risiko kecacatan adalah klasifikasi WHO (tipe PB dan MB) karena penelitian ini berkaitan dengan program. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa tipe kusta berhubungan dengan kecacatan (Susanto, 2006). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Guocheng (1993), prosentase penderita kusta tipe MB yang mengalami kecacatan (81,15%) lebih besar daripada prosentase penderita kusta tipe PB yang mengalami kecacatan (53,4%). Hal ini disebabkan banyaknya kuman kusta pada tipe MB yang dapat menginfiltrasi langsung ke susunan saraf tepi yang dapat menyebabkan kerusakan fungsi saraf (Depkes RI, 2007). Namun penelitian yang lain menyatakan bahwa tidak hubungan antara tingkat penghasilan dengan kecacatan (Universitas Diponegoro, 2002; Universitas Negeri Semarang, 2009).
42 Riwayat Reaksi Pengertian Reaksi Reaksi kusta adalah suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu reaksi kekebalan (cellular respons) atau reaksi antigen-antibodi (humoral respons) dengan akibat merugikan penderita, terutama jika mengenai saraf tepi karena menyebabkan gangguan fungsi atau cacat (Depkes RI, 2007, p.90). Reaksi oleh beberapa penulis dianggap sebagai penyakit yang lazim dalam perjalanan penyakit kusta. Namun, dalam kondisi tertentu reaksi dapat berlangsung serius dan merambah serta merusak organ lain dalam tubuh. Reaksi dapat menimbulkan kecacatan apabila tidak ditangani dengan tepat (Martodihardjo dan Susanto, 2003). Terjadinya reaksi seringkali berkaitan dengan perubahan daya tahan tubuh penderita. Faktor-faktor yang dapat menjadi pencetus timbulnya reaksi kusta adalah stres fisik (kehamilan, masa nifas, imunisasi, penyakit infeksi, anemia, kurang gizi, kelelahan), stres mental (malu, takut), kelelahan, kurang gizi, anemia, penyakit infeksi, sesudah imunisasi, kehamilan dan setelah melahirkan, dan setelah pengobatan yang intensif (Universitas Diponegoro, 2008; Depkes RI, 2007; Martodihardjo dan Susanto, 2003) Gejala dan klasifikasi Reaksi dibagi menjadi 2 yaitu : a. Reaksi tipe 1 atau reaksi reversal Reaksi tipe 1 disebabkan karena meningkatnya kekebalan seluler secara cepat sehingga menyebabkan terjadinya respon radang pada daerah kulit dan saraf yang terkena penyakit ini. Apabila dilihat dari sudut pandang penyerangan bakteri, peningkatan imun ini dapat menguntungkan, namun radang yang terjadi pada jaringan saraf dapat menyebabkan kerusakan/kecacatan jika tidak ditangani secara cepat dan tepat. Reaksi tipe 1 ditandai dengan adanya lesi kulit yang memerah,
43 24 bengkak, nyeri, panas, neuritis, gangguan fungsi saraf tepi sering terjadi, dan kadang disertai demam. Reaksi ini biasanya terjadi segera setelah pengobatan, baik pada penderita PB maupun penderita MB (Depkes RI, 2007). Berdasarkan tingkat keparahannya, reaksi tipe 1 terbagi menjadi reaksi ringan dan reaksi berat dengan gejala seperti yang dipaparkan pada tabel 2.8. Tabel 2.8 Perbedaan Reaksi Ringan dan Berat pada Reaksi Tipe 1 No Gejala Reaksi Ringan Reaksi Berat 1 Kulit Bercak merah, tebal, panas, nyeri 2 Saraf Tepi Tidak ada nyeri pada perabaan, tidak ada gangguan fungsi 3 Keadaan Tidak ada demam Umum 4 Gangguan Tidak ada pada Organ Lain Sumber : Depkes RI, 2007 b. Reaksi tipe 2 atau ENL (Erythema Nodosum Leprosum) Bercak merah, tebal, panas, nyeri yang bertambah parah sampai pecah, dekat dengan saraf Nyeri pada perabaan, terdapat gangguan fungsi Terkadang timbul demam Tidak ada Reaksi tipe 2 merupakan reaksi humoral ditandai dengan kumpulan nodul kemerahan (ENL) yang lunak dan nyeri, neuritis, gangguan fungsi saraf tepi, gangguan konstitusi, dan komplikasi pada organ tubuh lainnya seperti mata, kelenjar getah bening, sendi, ginjal, dan testis. Reaksi ini biasanya terjadi setelah mendapat pengobatan yang lama (lebih dari 6 bulan) dan hanya terjadi pada penderita MB (Depkes RI, 2007; Universitas Diponegoro, 2008). Berdasarkan tingkat keparahannya, reaksi tipe 2 terbagi menjadi reaksi ringan dan reaksi berat dengan gejala seperti yang dipaparkan pada tabel 2.9
44 25 Tabel 2.9 Perbedaan Reaksi Ringan dan Berat pada Reaksi Tipe 2 No Gejala Reaksi Ringan Reaksi Berat 1 Kulit Nodul merah, panas, nyeri 2 Saraf Tepi Tidak ada nyeri pada perabaan, tidak ada gangguan fungsi 3 Keadaan Terkadang timbul Umum demam 4 Gangguan Tidak ada pada Organ Lain Sumber : Depkes RI, Hubungan Reaksi dan Kecacatan Nodul merah, panas, nyeri yang bertambah parah sampai pecah Nyeri pada perabaan, terdapat gangguan fungsi Timbul demam Terjadi peradangan pada mata, testis, ginjal, kelenjar limfe, gangguan pada tulang, hidung, dan tenggorokan Prosentase penderita kusta yang mengalami kecacatan dengan riwayat reaksi lebih besar daripada proporsi penderita kusta yang mengalami kecacatan tanpa riwayat reaksi (Universitas Diponegoro, 2002; Susanto, 2006). Menurut Depkes RI (2007) reaksi merupakan salah satu penyebab terjadinya kecacatan. Reaksi dapat merusak organ dalam tubuh dan mengakibatkan kecacatan yang mendadak (Martodihardjo dan Susanto, 2003). Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa reaksi berhubungan dengan kecacatan dengan OR yang bervariasi 4,9 (Universitas Diponegoro, 2002) dan 2,404 (Universitas Negeri Semarang, 2009). Berdasarkan penelusuran peneliti, belum ada penelitian lain yang menyatakan bahwa tidak hubungan antara reaksi dengan kecacatan Upaya Pencegahan Cacat Akibat Kusta Upaya pencegahan cacat (prevention of disability) menurut Depkes (2007) adalah penemuan penderita baru secara dini, pengobatan penderita dengan MDT, deteksi dini adanya reaksi kusta dengan pemeriksaan fungsi
45 26 saraf secara rutin, penanganan reaksi, penyuluhan, perawatan diri, penggunaan alat bantu, dan rehabilitasi. Menurut Srinivasan (1994), terdapat empat tahap pencegahan cacat : a. Tahap pertama yaitu mencegah terjadinya kecacatan primer yang belum berkembang dan mencegah cacat sekunder yang berkembang dari beberapa cacat primer. Upaya pencegahan cacat primer lebih menekankan pada diagnosis dan terapi diantaranya diagnosis kusta secara dini serta pengobatan secara teratur dan adekuat tanpa adanya penundaan. Upaya pencegahan sekunder menekankan pada pendidikan dan perawatan. Pendidikan diberikan agar penderita memahami bagaimana kecacatan sekunder dapat terjadi dan bagaimana cara menghindarinya. Perawatan yang dimaksud diantaranya perawatan diri sendiri untuk mencegah luka, perawatan mata, tangan, dan atau kaki yang anestesi atau mengalami kelumpuhan otot (Wisnu dan Hadilukito, 2003). b. Tahap kedua adalah tindakan pencegahan cacat permanen. Beberapa cacat pada kusta bersifat sementara namun dapat menjadi permanen apabila diabaikan. Tindakan untuk mencegah cacat permanen yang dapat dilakukan adalah diagnosis dini dan penatalaksanaan neuritis, diagnosis dini dan penatalaksanaan reaksi. Selain itu perlu juga dilakukan pemeriksaan fungsi sensorik, motorik, dan otonom oleh petugas kesehatan. Penderita sebaiknya melaporkan perubahan-perubahan yang terjadi terutama pada mata, tangan, dan kaki sesegera mungkin kepada petugas kesehatan. Perubahan-perubahan yang dilaporkan penderita tersebut sebaiknya dicatat oleh petugas kesehatan secara rutin setiap bulan (Srinivasan, 1994; Wisnu dan Hadilukito, 2003). c. Tahap Ketiga adalah pencegahan yang bertujuan untuk menghapuskan kecacatan dengan membuat penderita yang cacat sedapat mungkin seperti kondisi semula melalui fisioterapi, pembedahan korektif, dan alat bantu seperti alas kaki khusus, orthesa, dan prosthesa. d. Tahap Keempat adalah mencegah terjadinya pengucilan penderita dari keluarga dan masyarakat. Pada tahap ini diupayakan agar penderita
46 27 memperoleh kembali kehormatannya yang hilang, menghasilkan kemampuan, dan berbaur kembali dengan keluarga dan masyarakatnya. Upaya pencegahan cacat yang dimaksud sebagai faktor risiko kecacatan pada penderita setelah selesai pengobatan adalah suatu upaya yang dilakukan penderita sejak menyelesaikan pengobatan dalam mencegah terjadinya kecacatan baru dan bertambah buruknya cacat yang telah ada. Berdasarkan pada pengertian dan tahapan pencegahan yang telah dipaparkan, upaya pencegahan cacat yang sesuai untuk digunakan dalam penelitian ini adalah upaya pencegahan tahap kedua (diagnosis dini dan penatalaksanaan neuritis melalui pemeriksaan fungsi saraf serta diagnosis dini dan penatalaksanaan reaksi). Upaya pencegahan cacat tahap pertama (kecuali perawatan diri), ketiga, dan keempat tidak termasuk faktor risiko kecacatan dalam penelitian ini. Pencegahan cacat tahap pertama berupa diagnosis dan pengobatan kusta (pencegahan cacat primer) dilakukan untuk penderita baru kusta. Sedangkan perawatan diri (pencegahan cacat sekunder), menjadi faktor risiko terhadap kecacatan yang akan dibahas secara terpisah pada bagian selanjutnya. Pencegahan cacat tahap ketiga (upaya rehabilitasi medik) dan tahap keempat (upaya rehabilitasi sosial) tidak dimasukkan ke dalam penelitian ini karena pencegahan cacat yang ditekankan pada penelitian ini hanya sampai pada upaya pencegahan cacat primer dan sekunder. Upaya pencegahan cacat dilihat dari bagaimana upaya penderita setelah selesai pengobatan untuk memeriksakan diri secara dini dan teratur mengenai reaksi dan neuritis yang sedang diderita kepada petugas puskesmas. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Wisnu dan Hadilukito (2003), penderita sebaiknya melaporkan perubahan-perubahan yang terjadi terutama pada mata, tangan, dan kaki sesegera mungkin kepada petugas kesehatan. Perubahan-perubahan yang dilaporkan penderita tersebut sebaiknya dicatat oleh petugas secara rutin. Hasil pemeriksaan terhadap penderita akan ditulis oleh petugas di lembar pemeriksaan atau dikenal dengan form POD (Prevention of Disability). Contoh form POD terlampir. Penderita yang diidentifikasi mengalami neuritis ataupun reaksi akan
47 28 ditangani sesuai dengan pengobatan yang telah ditentukan oleh program. Adapun penjelasan mengenai pemeriksaan fungsi saraf dan reaksi secara rutin berikut dengan penanganannya akan diulas sebagai berikut : Pemeriksaan Fungsi Saraf secara Rutin Penyakit kusta dapat menyebabkan kerusakan fungsi saraf tepi secara permanen, kerusakan yang dialami dipaparkan pada tabel Kerusakan saraf yang terjadi kurang dari 6 bulan, jika diobati prednison dengan tepat tidak akan menyebabkan kerusakan saraf permanen. Untuk itu, pemantauan kerusakan fungsi saraf melalui pemeriksaan fungsi saraf secara rutin sangat penting sebagai upaya pencegahan dini cacat (Depkes RI, 2007). Saraf Facialis Ulnaris Medianus Radialis Peroneus communis Tibialis posterior Sumber : Depkes RI, 2007 Tabel Kerusakan Fungsi Saraf Tepi Fungsi Motorik Sensorik Otonom Kelopak mata tidak menutup jari manis dan jari Mati rasa telapak Kekeringan dan kelingking lemah/ tangan bagian jari kulit retak akibat lumpuh /kiting kelingking dan jari kerusakan kelenjar manis keringat, kelenjar Ibu jari, telunjuk, dan Mati rasa telapak minyak, dan jari tengah lemah/ tangan bagian ibu pembuluh darah lumpuh/ kiting jari, telunjuk, dan jari tengah Tangan lunglai Kaki semper Jari kaki kiting Mati rasa telapak kaki Penanganan Reaksi dan Neuritis Sebelum melakukan penanganan reaksi yang dialami oleh penderita kusta, terlebih dahulu harus mengidentifikasi tipe reaksi yang dialami serta derajat keparahan reaksi untuk menentukan penanganan dan
48 29 obat yang tepat. Penentuan tipe reaksi dan adanya neuritis dapat dibantu dengan mengisi form POD. Prinsip penanganan reaksi ringan : a. Berobat jalan, istirahat di rumah. b. Pemberian analgetik/antipiretik, obat penenang jika perlu. c. Jika masih dalam pengobatan, MDT tetap diberikan dengan dosis yang sama seperti sebelumnya. d. Menghindari/menghilangkan faktor pencetus. Sedangkan prinsip penanganan reaksi berat dan neuritis, yaitu : a. Imobilisasi lokal/ istirahat di rumah. b. Pemberian analgetik/antipiretik, obat penenang jika perlu. c. Jika masih dalam pengobatan, MDT tetap diberikan dengan dosis yang sama seperti sebelumnya. d. Menghindari/menghilangkan faktor pencetus. e. Memberikan obat anti reaksi yaitu prednison dan lamprene. Obat thalidomid yang juga merupakan obat anti reaksi tidak digunakan dalam program. f. Jika terdapat indikasi rawat inap, penderita dirujuk ke rumah sakit. Pemberian obat prednison dan lampren terhadap kondisi reaksi berat yang berbeda, secara rinci dapat dilihat pada tabel Tabel 2.11 Pengobatan Reaksi Berat Tipe Reaksi Pengobatan Keterangan Tipe 1 dan 2 Berat Pemberian prednison pada pagi hari sesudah makan: 2 Minggu ke 1 = 40 mg/hari 2 Minggu ke 2 = 30 mg/hari 2 Minggu ke 3 = 20 mg/hari 2 Minggu ke 4 = 15 mg/hari 2 Minggu ke 5 = 10 mg/hari 2 Minggu ke 6 = 5 mg/hari Setiap 2 minggu penderita diperiksa kembali fungsi sarafnya. Jika kondisi membaik, dosis diturunkan. Jika kondisi tetap, dosis yang sama dilanjutkan 1 minggu. Jika memburuk, dosis dinaikkan satu tingkat diatasnya.
49 30 Tipe Reaksi Pengobatan Keterangan Neuritis Tipe 1 dan 2 berat pada anak ENL (tipe 2) berat berulang Mencari dosis awal prednison yaitu dengan memberikan 40 mg/hari pada pagi hari sesudah makan selama 1 minggu kemudian diperiksa kembali. Jika tidak ada perbaikan, kondisi maka dosis dinaikkan menjadi 50 sampai 60 mg/hari. Dosis awal ini kemudian dipertahankan selama 2 minggu. Pada anak, dosis awal prednison maksimal 1 mg/ kgbb. Pemberian prednison pada pagi hari sesudah makan: 2 Minggu ke 1 = 40 mg/hari 2 Minggu ke 2 = 30 mg/hari 2 Minggu ke 3 = 20 mg/hari 2 Minggu ke 4 = 15 mg/hari 2 Minggu ke 5 = 10 mg/hari 2 Minggu ke 6 = 5 mg/hari Pemberian prednison didampingi dengan pemberian lamprene dosis dewasa : 2 bulan ke 1= 3 x 100 mg/hari 2 bulan ke 2 = 2 x 100 mg/hari 2 bulan ke 3 = 1 x 100 mg/hari Setelah dosis awal ditemukan, setiap 2 minggu penderita diperiksa kembali fungsi sarafnya. Jika kondisi membaik, dosis diturunkan. Jika kondisi tetap, dosis yang sama dilanjutkan 1 minggu. Jika memburuk, dosis dinaikkan satu tingkat diatasnya. Setiap 2 minggu penderita diperiksa kembali fungsi sarafnya. Jika kondisi membaik, dosis diturunkan. Jika kondisi tetap, dosis yang sama dilanjutkan 1 minggu. Jika memburuk, dosis dinaikkan satu tingkat diatasnya. Total lama pengobatan maksimal 12 minggu. Pada pemberian prednison, setiap 2 minggu penderita diperiksa kembali fungsi sarafnya. Jika kondisi membaik, dosis diturunkan. Jika kondisi tetap, dosis yang sama dilanjutkan 1 minggu. Jika memburuk, dosis dinaikkan satu tingkat diatasnya. Sumber : Depkes RI, 2007 Menurut Depkes RI (2007), hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian prednison pada penderita reaksi dan neuritis: a. Pemberian prednison harus dalam pengawasan dokter puskesmas atau petugas kusta kabupaten dan harus dicatat pada form evaluasi pengobatan reaksi berat.
50 31 b. Sebelum memulai pengobatan dengan prednison, terlebih dahulu memeriksa kondisi penderita yang mungkin merupakan kontra indikasi pemberian prednison (TBC, kencing manis, tukak lambung berat). Jika kondisi tersebut berat maka penderita harus dirujuk ke rumah sakit. c. Prednison diberikan dalam dosis tunggal pada pagi hari sesudah makan, kecuali dalam kondisi terpaksa prednison dapat diberikan dengan dosis terbagi misalnya 2 x 4 tablet/hari. d. Penderita harus mematuhi aturan pemberian prednison karena prednison dapat menyebabkan efek samping yang serius. Prednison tidak boleh dihentikan secara mendadak karena dapat mengakibatkan terjadinya rebound phenomena (demam, nyeri otot, nyeri sendi, malaise). Sedangkan efek samping penggunaan jangka panjang adalah gangguan cairan dan elektrolit, hiperglikemi, mudah terinfeksi, perdarahan pada penderita tukak lambung, osteoporosis, dan cushing syndrome (moon face, obesitas sentral, jerawat, pertumbuhan rambut berlebihan, timbunan lemak) Hubungan Upaya Pencegahan Cacat dengan Kecacatan Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa upaya pencegahan cacat berhubungan dengan kecacatan, OR 3,429 (Universitas Negeri Semarang, 2009) Perawatan Diri Penderita kusta dalam mencegah cacat perlu dilakukan perawatan dan penggunaan alat bantu sebagai pelindung terhadap mata, tangan, dan kaki yang berisiko. Jika terdapat kelemahan otot maka dilakukan latihan secara aktif, namun jika kekuatan otot sudah hilang perlu dilakukan latihan secara pasif. Bagian kaki dan tangan yang kontraktur, harus dilakukan latihan peregangan. Kaki dan tangan yang tidak sensitif maka dilakukan rendam-gosok-oles dan hindari benda tajam. Alat pelindung yang digunakan dapat berupa kaca mata, sarung tangan, sepatu (Wisnu dan Hadilukito, 2003).
51 32 Menurut ILEP (2006), Orang yang harus mengembangkan kebiasaan rawat diri kusta adalah orang yang menderita kerusakan saraf dan orang yang berisiko mengalami reaksi (selama pengobatan dan selama sekurangnya 2 tahun setelah pengobatan). Banyak orang yang menderita kusta akan menderita kerusakan saraf permanen sehingga akan selalu memiliki risiko mengalami kerusakan jaringan dan perubahan bentuk. Apabila mempelajari kebiasaan rawat diri yang baik, orang yang menderita kusta dapat melindungi dirinya dari kerusakan lebih lanjut. Walaupun petugas kesehatan, keluarga, dan teman kadang dapat membantu, sebenarnya untuk menjaga diri tiap hari tergantung pada orang itu sendiri. Kebutuhan yang ditekankan pada perawatan diri adalah kesadaran, periksa pandang, dan proteksi. Perawatan diri perlu dilakukan pada tangan, kaki jika telah terjadi kerusakan saraf karena seringnya bagian-bagian tubuh ini mengalami kecacatan. Masalah terpenting dalam kerusakan saraf akibat kusta adalah hilangnya sensabilitas atau anestesi yang membuat orang mudah terluka dalam aktivitas sehari-hari mereka. Kusta juga dapat menyebabkan kerusakan pada saraf yang mengendalikan otot menyebabkan kelemahan, clawing (jari bengkok), kekakuan sendi dan perubahan bentuk. Petugas kesehatan seharusnya dapat mendorong para penyandang kusta untuk dapat mengatasi komplikasi penyakit mereka sebisa mungkin di rumah, tetapi juga siap untuk memberikan informasi dan nasehat jika diperlukan. Perawatan diri dilakukan untuk menjaga agar mata yang susah berkedip bebas dari cedera dan gangguan penglihatan, tangan dan kaki yang mati rasa bebas dari luka, daerah kulit yang tidak berkeringat tetap lembut dan bebas dari keretakan, mempertahankan mobilitas sendi walaupun ada paralisis otot tangan atau kaki, melatih otot-otot penting yang mengalami kelemahan untuk membuatnya kuat merencanakan perubahan kegiatan sehari-hari guna mencegah berulangnya luka, serta membuat penderita mampu menjaga tangan dan kaki mereka.
52 Perawatan diri pada Mata Jenis kecacatan yang terjadi pada mata dan perawatan diri yang dapat dilakukan dijelaskan pada tabel Tabel 2.12 Jenis Kecacatan dan Perawatan Diri pada Mata Jenis kecacatan Keterangan Perawatan Diri Lagophthalmos Kondisi mata tidak dapat menutup dengan sempurna karena otot yang berfungsi menutup mata menjadi lemah atau lumpuh (paralisis) akibat terjadinya kerusakan saraf facialis saat reaksi kusta. Tanda berupa keluarnya air mata terus-menerus, terkadang hilangnya sensasi kornea yang menyebabkan hilangnya refleks kedip normal. Menyebabkan kornea mengalami risiko rusak sehingga warnanya menjadi kurang jernih dan transparan Harus mengembangkan kebiasaan baru yang disebut think blink atau pikir-kedip (didorong untuk melakukan berkedip yang dipaksakan tersebut kapan saja saat orang melihat obyek/benda yang umum di sekitar mereka yang dilakukan cukup lama) Mengenakan kaca mata. Mengenakan topi atau kerudung Menggunakan kain atau kipas untuk mengusir lalat Menutup kepala dengan kain atau gunakan kelambu saat tidur Menjaga mata tetap bersih dan lembab (menggunakan tetes mata yang mengandung air mata buatan yang tersedia di pasaran atau larutan saline steril yang diteteskan sepanjang hari ke mata) Tidak menggosok mata (terutama dengan tangan mati rasa yang kasar atau dengan kain yang kotor) Menjaga daerah sekitar mata tetap bersih dengan menggunakan kain bersih yang basah/lembab Memeriksa mata secara rutin tiap hari (menggunakan cermin atau meminta bantuan teman untuk melihat apakah ada tanda luka, kemerahan atau bulu mata yang bengkok masuk ke mata), Memeriksa ketajaman penglihatan tiap hari dengan melihat benda tetap yang sama yang berjarak 6 meter Melakukan latihan aktif tiap hari (penderita mencoba keras menutup mata dengan erat) Jika tidak dapat melakukan latihan aktif maka penderita dapat melakukan latihan pasif tiap hari untuk mencegah masalah berlanjut (mencoba keras menutup mata dengan erat kemudian meletakkan jari-jari di sudut luar dan perlahan tarik ke luar hingga mata tertutup)
53 34 Jenis kecacatan Peradangan (inflamasi) Ulserasi Kornea Sumber : ILEP, 2006 Keterangan Tanda utama adalah nyeri dan kemerahan yang menetap pada mata Terjadi karena mata terus terpapar debu atau binatang kecil Pada kornea terdapat bintik putih dan mata merah Terjadi karena sensasi pada kornea menghilang kemudian terpapar benda seperti pasir, serangga, atau bulu mata jika tidak ditangani secepatnya dapat menimbulkan kebutaan Perawatan Diri Harus ditangani khusus oleh orang yang terlatih dalam perawatan mata Harus segera dirujuk ke spesialis mata Perawatan Diri pada Kulit Jenis kecacatan yang terjadi pada kulit dan perawatan diri yang dapat dilakukan dijelaskan pada tabel 2.13.
54 35 Tabel 2.13 Jenis Kecacatan dan Perawatan Diri pada Kulit Jenis Kecacatan Keterangan Perawatan Diri Kulit Pecah dan Kalus Disebabkan oleh Melakukan periksa pandang pada kulit sekurangnya kulit yang sekali sehari. Melihat apakah ada yang luka atau dibiarkan menjadi pecah, daerah yang merah atau bengkak. Jika terlalu kering kesulitan dapat menggunakan cermin untuk akibat rusaknya membantu melihat. Guna mencegah terjadinya ulkus, saraf yang maka kaki dan tangan harus diistirahatkan saat mengendalikan pengeluaran keringat Kulit pecah seringkali terdapat tanda awal yang ditemukan pada saat periksa pandang Pemeriksaan alas kaki yang dipakai juga dilakukan tiap hari. Alas kaki diperiksa apakah ada batu atau benda keras lain yang mungkin terperangkap di ditemukan di dalamnya, atau benda tajam yang mungkin dapat lengkungan/ lipatan menembus sol alas kaki. Periksa bagian bawah alas tangan, sekitar kaki, apakah ada benda tajam yang mungkin dapat tumit, dan lipatan antar jari-jari kaki. Kulit yang pecah menembus sol saat alas kaki digunakan untuk berjalan Jika kulit lembut dan elastis, maka kemungkinan untuk retak karena tekanan (pembebanan atau merupakan luka gesekan) adalah kecil. Kalus akan terbentuk pada yang tidak boleh diabaikankarena bagian bawah kaki yang mengalami tekanan dan akan lebih cepat muncul jika kulit mengalami kerusakan dapat menjadi pintu sehingga penderita perlu melakukan aktivitas masuknya infeksi. merendam kaki dan tangan dengan air bersih dalam Jika luka terinfeksi, bisa dengan mudah menyebar ke sendi dan tulang sehingga menyebabkan hilangnya jari waktu 20 hingga 30 menit, menggosok kulit kaki dan tangan yang kering dengan benda abrasif (batu apung, sabut kelapa, tongkol jagung, amplas, dan alat kikir), dan mengoleskan minyak dan salep pelembab pada kulit pecah dan kalus yang telah direndam sebelum benar-benar kering Kulit Pecah dan Kalus Jika infeksi menyebar ke tulang tumit, infeksi dapat menghancurkan tulang tersebut. Jika tulang tumit hancur atau rusak berat, ada kemungkinan penderitanya kehilangan seluruh kakinya Apabila kalus tidak dapat hilang dengan melakukan kegiatan merendam, menggosok, dan mengoles atau terlalu banyak kulit bagian dalam yang retak maka petugas harus menghilangkannya dengan skapel Mengistirahatkan dan melindungi jari yang terluka menggunakan bidai agar tidak bergerak (dari plastik, pipa karet, kayu, bambu). Bidai mencegah pemendekan jari lunak (terutama sekitar daerah sendi) selama fase penyembuhan. Bidai melindungi luka dan menahan jari pada posisi terbaik yang paling menguntungkan. Bidai tersebut dipakai selama 23 jam tiap hari, 1 jam bidai dilepas untuk memijat dan menggerakkan sendi untuk mencegah kekakuan.
55 36 Jenis Kecacatan Kulit melepuh Luka terbuka (ulkus) Sumber : ILEP, 2006 Keterangan Penyebab utama kulit melepuh : Panas (sumber kontak langsung dengan cairan /permukaan panas/ api) Gesekan/ friksi (gosokan berulang pada kulit dengan permukaan keras seperti alat yang tidak dilapisi dan sepatu tidak pas). Seluruh luka terjadi karena jaringan pada bagian tubuh mati rasa mendapat penekanan seperti : Cedera tiba-tiba karena benda tajam yang mengiris atau menembus kulit Tekanan berulang dan gesekan (seperti ulkus di kaki karena berjalan Luka di tangan akibat tidak menggunakan pelindung pada peralatan yang dipegang tangan) Terbakar. Perawatan Diri Hal pertama yang dilakukan yaitu menentukan penyebab terjadinya kulit melepuh dan meyakinkan bahwa ada tindakan untuk mencegah berulangnya kejadian tersebut. Jangan membuka atau menusuk lepuhan. Bersihkan perlahan dengan sabun yang lembut dan air bersih mengalir tanpa memecahkan kulit, lalu keringkan. Olesi dengan cairan iodium agar lepuh mengering cepat. Tutup dengan pembalut tebal dari kain atau kasa sebagai bantalan hingga sekelilingnya. Istirahatkan bagian yang terluka. Jika lepuhan pecah maka penanganan sama seperti luka terbuka Luka yang bersih, cairan jernih, dan superfisial ditangani oleh petugas dan penderita bersama-sama Luka lain (daerah luka merah, hangat, dan bengkak dengan kelenjar limfe nyeri dan bengkak, eksudat nanah, luka yang dalam) dapat mengalami komplikasi akibat infeksi jaringan lunak atau tulang sehingga harus dirawat di rumah sakit /dokter spesialis. Hampir semua luka sembuh bila diistirahatkan dan akan memburuk bila tidak diistirahatkan. Sepanjang orang tersebut sehat, jaringan yang rusak akan memperbaiki sendiri. Jika ulkus di kaki, lebih baik berbaring di tempat tidur dengan kaki dinaikkan di atas level jantung (tirah baring). Jika tidak dapat sepenuhnya istirahat, sedapat mungkin mengistirahatkan bagian yang terluka dengan bidai atau berjalan dengan kruk/tongkat. Lingkungan luka bebas dari benda asing (bahan pembalut tidak berlebihan, tidak menggunakan kapas), bebas substansi beracun (mengikis jaringan mati dari pinggir luka), bebas mikroorganisme berbahaya, lembab tapi tidak terlalu basah (nanah atau cairan dari luka harus didrainase, ganti pembalut yang kotor akibat cairan yang keluar dari luka), tidak kering, temperatur stabil (luka dibersihkan/direndam dalam air yang suhunya mendekati suhu tubuh). Higiene harus terjaga sehingga tidak menjadi sumber infeksi terhadap luka Perawatan Diri pada Tangan dan kaki Jenis masalah atau kecacatan yang terjadi pada tangan dan kaki serta perawatan diri yang dapat dilakukan dijelaskan pada tabel 2.14.
56 37 Tabel 2.14 Jenis Kecacatan dan Perawatan Diri pada Tangan dan Kaki Jenis Masalah /Kecacatan Keterangan Perawatan Diri Tekanan Saat permukaan yang keras digenggam terlalu keras, tekanan dapat menyebabkan luka pada tangan. Contoh aktivitas : bekerja dengan sekop, bajak, palu, atau saat menggenggam pegangan sepeda atau motor. Banyak orang tidak mampu mendistribusikan beban tubuh secara merata pada kaki sehingga area tertentu pada kaki mengalami tekanan lebih berat daripada area lain. Tekanan tersebut dalam waktu tertentu akan mengakibatkan jaringan rusak Belajar memperhatikan dan memikirkan aktivitasnya untuk bisa mencegah luka karena tidak memiliki sensasi yang dapat memperingatkan apabila ada kegiatan tertentu yang tidak aman Guna mencegah tekanan terjadi pada tangan, pegangan yang keras dibungkus dengan menggunakan kain atau material lain yang lembut sehingga berfungsi sebagai bantalan agar lebih lembut dipegang oleh tangan. Guna mencegah tekanan terjadi pada kaki, sepatu atau sandal diberi sol yang lembut pada bagian dalamnya untuk dapat mambantu mengurangi tekanan. Apabila terjadi luka pada tangan dan kaki, dapat dilakukan penanganan seperti penanganan luka/ulkus pada kulit. Gesekan Aktivitas dengan tangan terus menerus meluncur maju mundur di atas permukaan keras dapat menimbulkan gesekan pada tangan sehingga mengakibatkan lepuhan Contoh aktivitas : mendayung perahu, menggiling jagung, menumbuk tepung Tali sandal dan bagian atas sepatu bisa menggesek kulit kaki yang menyebabkan lepuh dan dapat menimbulkan luka serius pada kaki yang mati rasa dan kering Belajar memperhatikan dan memikirkan aktivitasnya untuk mencegah luka karena tidak memiliki sensasi yang dapat memperingatkan apabila ada kegiatan tertentu yang tidak aman Guna mencegah gesekan terjadi pada tangan, permukaan yang keras diberi bantalan agar pegangannya kokoh dan mantap. Bantalan karet sangat berguna untuk mencegah slip/meluncurnya genggaman. Guna mencegah gesekan terjadi pada kaki, kulit dijaga senantiasa lembut dan elastis dengan kegiatan merendam, menggosok, dan mengoleskan minyak. Kemudian menghindari penggunaan alas kaki yang terbuat dari bahan yang keras yang tidak dapat membengkok dengan mudah seperti kulit atau plastik cetak. Apabila terjadi lepuhan pada tangan dan kaki, dapat dilakukan penanganan seperti penanganan pada kulit lepuh.
57 38 Jenis Masalah /Kecacatan Panas /terbakar Luka akibat benda tajam Tangan lumpuh atau lemah Keterangan Contoh : saat memasak, karena makanan atau minuman panas, duduk di dekat api, merokok, terkena knalpot. atau duduk dekat mesin yang sedang menyala. Benda tajam yang kasar seperti serpihan kayu, kaca, duri, seng, paku, alat tajam dapat melukai tangan dan kaki. Tangan yang lumpuh atau lemah diakibatkan adanya kerusakan pada saraf tepi pada tangan Perawatan Diri Belajar memperhatikan dan memikirkan aktivitasnya untuk bisa mencegah luka karena tidak memiliki sensasi yang dapat memperingatkan apabila ada kegiatan tertentu yang tidak aman Guna mencegah terbakar/ terkena panas maka harus menemukan cara mencegah kontak kulit dengan permukaan panas atau terlalu dekat dengan api, contoh : menggunakan sendok untuk makan, memakai tambahan di luar cangkir/ gelas yang panas, menggunakan kain tebal untuk memegang peralatan panas, menggunakan pemegang pipa rokok, kaki dilipat jika duduk dekat api. Luka bakar diobati perak sulfadiazine atau obat lain yang tersedia di puskesmas. Belajar memperhatikan dan memikirkan aktivitas untuk mencegah luka karena tidak memiliki sensasi yang dapat memperingatkan jika ada kegiatan tertentu yang tidak aman Guna mencegah luka akibat benda tajam pada tangan, tangan harus diproteksi dengan sarung tangan atau kain saat melakukan aktivitas yang berisiko melukai tangan. Orang harus selalu mencoba dan menyadari bahwa tangannya dalam bahaya. Guna melindungi kaki, dapat menggunakan alas kaki dengan sol luar yang keras. Jika terjadi luka, maka dilakukan penanganan seperti penanganan luka/ulkus pada kulit. Tangan lumpuh/ lemah harus dijaga agar kulitnya tetap dalam kondisi baik dengan cara merendam, menggosok, mengoleskan minyak. Jari tangan yang lemah/ lumpuh harus dipijat untuk mencegah kekakuan. Latihan meluruskan jari-jari yang mulai bengkok. Tangan yang lemah diletakkan di atas permukaan datar dan lunak dengan telapak menghadap ke atas. Bagian pinggir tangan lain diletakkan kuat dan didorong perlahan dari permulaan pergelangan tangan hingga ke ujung jari yang lemah, tahan dalam hitungan sepuluh. Latihan diulangi 3 kali sehari. Latihan ibu jari yang lemah. Letakkan tangan yang ibu jarinya lemah di atas permukaan datar dan lunak. Letakkan tangan yang kuat di atas tangan yang ibu jarinya lemah. Lingkari sekeliling ibu jari yang lemah dengan jari-jari tangan lain, ibu jari diposisikan tegak, kemudian tahan. Tanpa merubah posisi, lakukan gerakan mengurut ke arah ujung ibu jari yang lemah hingga lurus. Setelah di ujung ibu jari tahan dalam hitungan sepuluh. Latihan diulangi 3 kali sehari
58 39 Jenis Masalah /Kecacatan Tangan lumpuh atau lemah Keterangan Kaki semper terjadi jika saraf poplitea lateralis mengalami kerusakan Jika mengalami kaki semper, orang tidak Sumber : ILEP, 2006 mampu mengangkat atau menahannya tetap stabil sehingga ketika tungkai diangkat, kaki seakan menjadi tergantung lepas. Kaki semper bisa menimbulkan serangkaian kerusakan pada kaki jika kaki juga kebetulan mengalami gangguan sensasi (mati rasa). Perawatan Diri Latihan meluruskan jari secara aktif. Caranya adalah mengepalkan tangan yang mengalami kelemahan kemudian memaksakan untuk membuka dan tahan pada posisi membuka dalam hitungan sepuluh. Latihan dilakukan sekurangnya 3 kali sehari Meluruskan jari yang telah bengkok secara pasif dengan bidai minimal digunakan pada malam hari. Bidai harus diberi bantalan serta dilepas dan diperiksa secara reguler untuk mencegah terjadinya luka akibat tekanan. Bidai hanya diberikan pada orang yang dapat memahami risiko dalam menggunakannya. Menjaga kulit agar tetap dalam kondisi yang baik dengan cara merendam, menggosok, dan mengoleskan minyak. Jika layanan rujukan dapat diakses, penderita dirujuk untuk memperoleh pegas/ per atau bidai posterior untuk kaki semper. Jika layanan rujukan tidak dapat diakses, pegas kaki semper dapat dibuat sendiri dengan memasang ban dalam sepeda ke bagian pengikat di betis sampai ke sepatu kemudian menggunakan material yang kuat yang dipaskan ke sekeliling sepatunya. Pegas tersebut dapat melindungi kaki agar tidak tergantung lepas saat berjalan. Guna mencegah kaki tertarik melengkung ke arah bawah karena tarikan otot di bagian belakang kaki, maka dibutuhkan latihan. Bila masih ada kekuatan dapat melakukan latihan aktif. Sembari duduk, penderita mencoba sedapat mungkin mengangkat kaki yang lunglai. Bila masih ada kekuatan, memakai beban dengan menggunakan kantong berisi pasir. Latihan dilakukan 20 kali setiap latihan pada pagi dan sore hari. Guna menghindari pemendekan tendo achiles pada kaki semper maka perlu dilakukan latihan pasif. Kain dilingkarkan ke sekeliling kaki. Kain tersebut ditarik untuk menarik kaki ke arah atas. Kaki ditahan dalam posisi tersebut, sementara menghitung hingga sepuluh, kemudian baru dilemaskan. Lakukan 20 kali setiap latihan pada pagi dan sore hari. Kecacatan yang telah terjadi pada kaki dapat terlindungi oleh alas kaki dari masalah yang dapat menyebabkan memburuknya kecacatan seperti yang dijelaskan pada tabel Adapun alas kaki yang sesuai untuk kaki yang mati rasa yaitu :
59 40 a. Bersol luar yang keras untuk mencegah penetrasi benda tajam dari tanah b. Sol dalam yang lembut (berguna mengurangi tekanan pada kaki saat berjalan) dengan bahan dari karet mikroseluler (MCR) atau Ethyil Vinyl Acetate (EVA) setebal 4 mm. c. Kelengkungan yang cukup tinggi sekitar jari-jari kaki (terutama jika orang tersebut memiliki jari-jari yang bengkok) d. Jika penderitanya juga menderita kecacatan pada tangan atau mata, disarankan untuk memilih sepatu dengan penutup berperekat (velcro) di bagian depan kaki dan tali belakang yang menahan serta mudah disesuaikan. Alas kaki yang harus dihindari adalah : a. Sepatu atau sandal dari plastik b. Sepatu dengan paku di bagian bawahnya c. Sepatu modis dengan tumit tinggi d. Sandal yang tidak punya tali pengikat di bagian belakang e. Alas kaki rusak yang telah diperbaiki lagi. Alas kaki yang diperbaiki justru dapat berbahaya karena jahitan dan kulit yang kaku justru dapat menyebabkan luka Hubungan Perawatan Diri dengan Kecacatan Berdasarkan hasil beberapa penelitian terdapat hubungan antara perawatan diri dengan kecacatan dengan OR 4,1 (Universitas Diponegoro, 2002; Susanto, 2006). 2.8 Program Pengawasan Penderita Kusta Setelah Selesai Pengobatan Surveilans (Surveillance) berasal dari bahasa Perancis Surveiller yang berarti mengamati sesuatu dengan perhatian penuh disertai dengan kemampuan dan seringkali kecurigaan. Menurut WHO, Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interprestasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang
60 41 membutuhkan untuk diambil tindakan (Universitas Diponegoro, 2006b). Surveilans yang dilakukan oleh program pengendalian penyakit kusta terhadap penderita kusta setelah selesai pengobatan lebih dikenal dengan istilah pengamatan atau pengawasan (Depkes RI, 1993). Pengamatan dilakukan oleh petugas puskesmas sejak penderita dinyatakan RFT hingga penderita dinyatakan RFC (Release from Control) untuk melihat kondisi tertentu dari penderita kusta sesuai dengan tujuan program. RFC (Release from Control) adalah istilah untuk menyatakan penderita telah selesai dari masa pengawasan/pengamatan (Depkes RI, 2005). Masa pengamatan terhadap penderita setelah selesai pengobatan dilakukan selama beberapa tahun tergantung pada jenis pengamatan dan tujuan pengamatan. Terdapat 3 metode pengamatan terhadap penderita setelah selesai pengobatan yaitu metode pengamatan aktif, pasif, dan semi aktif Metode Pengamatan Aktif Metode pengamatan aktif (Active Surveillance) adalah suatu metode pengamatan yang dilakukan oleh petugas puskesmas kepada penderita setelah selesai pengobatan yang datang ke puskesmas atau dikunjungi oleh petugas kusta secara rutin, yaitu sekali dalam 6 bulan. Penderita yang tidak datang ke puskesmas dalam 6 bulan akan ditelusuri dan ditemui oleh petugas puskesmas. Pada saat datang ke puskesmas atau dikunjungi, penderita diperiksa secara klinis maupun laboratorium. Pengamatan dilakukan selama 4 tahun untuk penderita PB dan 5 tahun untuk penderita MB (Depkes RI, 1984). Metode pengamatan aktif bertujuan untuk mengidentifikasi sedini mungkin terjadinya kasus relaps (kambuh) pada penderita dengan melakukan pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan fisik terhadap tanda relaps dan kondisi kecacatan, serta pengobatan kembali sesuai dengan tipe kusta jika penderita dinyatakan relaps (Gebre dan Saunderson, 2001). Metode pengamatan aktif dihentikan pada masa penggantian regimen DDS ke regimen MDT karena pada saat itu risiko terjadinya, relaps sangat kecil (Srinivasan, 1995; Manjunath, 2001).
61 Metode Pengamatan Pasif Metode pengamatan pasif (passive surveillance) adalah suatu metode pengamatan yang dilakukan oleh petugas puskesmas kepada penderita setelah selesai pengobatan yang datang ke puskesmas minimal sekali dalam setahun tanpa pemeriksaan laboratorium (Depkes RI, 2007; Depkes RI, 1993 ; Srinivasan, 1995). Penderita yang tidak datang ke puskesmas dalam 1 tahun tidak akan ditelusuri oleh petugas puskesmas dan dianggap tidak memiliki keluhan akibat kusta. Metode pengamatan pasif bertujuan untuk mengidentifikasi terjadinya reaksi, neuritis, dan relaps pada penderita dengan melakukan pemeriksaan fisik terhadap kondisi kecacatan, tanda reaksi dan neuritis, serta tanda relaps (Jacobson, 1994). Penderita yang datang akibat adanya keluhan reaksi dan neuritis akan ditangani dengan pengobatan prednisone dan lamprene sesuai dengan kebijakan program mengenai penatalaksanaan reaksi. Penderita yang teridentifikasi relaps akan diberikan pengobatan ulang sesuai dengan tipe kusta yang diderita (Depkes RI, 2007). Sedangkan penderita yang mengalami luka akibat kusta akan ditangani sesuai dengan tata cara perawatan luka seperti yang dipaparkan oleh ILEP (2006) pada sub bab mengenai perawatan diri. Selain memberikan bantuan tindakan medis, petugas puskesmas juga memberikan informasi tanda-tanda reaksi dan pentingnya perawatan diri. Alur kegiatan penderita setelah selesai pengobatan kusta yang datang ke puskesmas pada metode pengamatan pasif dapat dilihat pada gambar 2.2.
62 43 Gambar 2.2 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Pasif Penderita datang Penderita pulang Administrasi Puskesmas Petugas Kusta Apotik/ Loket Obat Membayar administrasi Mengambil kartu penderita Mengambil kartu khusus penderita kusta Anamnesa Pemeriksaan cardinal sign kusta Pemeriksaan kecacatan dan pengisian form POD Penjelasan tanda-tanda reaksi dan pentingnya perawatan diri Penanganan reaksi/ neuritis akibat kusta dan memberikan obat lamprene secara langsung dan meresepkan vitamin atau obat prednisone untuk reaksi/ neuritis jika dibutuhkan Penanganan luka akibat kusta Memberikan vitamin atau obat prednisone untuk reaksi/ neuritis Metode pengamatan pasif diberlakukan pada masa penggantian regimen DDS ke regimen MDT. Pada saat pengobaan MDT dimulai, kejadian relaps menjadi sangat kecil (Srinivasan, 1995). Berdasarkan penelitian, kejadian relaps menurun hingga kurang dari 1 % (Lockwood, 2002). Metode pengamatan pasif hingga saat ini masih digunakan sebagai metode pengamatan pada penderita setelah selesai pengobatan. Namun berdasarkan hasil penelitian penilaian kecacatan terhadap 43 penderita setelah selesai pengobatan yang dilakukan di kabupaten Subang provinsi Jawa Barat pada tahun 2001, menunjukkan 21 % penderita mengalami kenaikan tingkat kecacatan (Hasibuan, 2002). Tingkat kecacatan yang memburuk pada penderita tersebut merupakan dampak dari kerugian yang
63 44 disebabkan oleh metode pengamatan pasif. Kerugian yang dimaksud adalah berkurangnya kesempatan untuk mendeteksi reaksi atau neuritis (terutama silent neuritis) secara dini yang merupakan hal terpenting pada program pengobatan yang lebih pendek dengan terapi MDT (Gebre dan Saunderson, 2001). Kesempatan deteksi berkurang karena metode ini sangat tergantung pada kewaspadaan dan kepedulian penderita untuk melaporkan kondisi dirinya (Manjunath, 2001). Hasil penelitian ALERT di Ethiopia pusat (Gebre dan Saunderson, 2001) menunjukkan dalam metode pengamatan pasif, dari 116 penderita setelah selesai pengobatan yang didorong untuk datang tiap tahun ke pelayanan kesehatan selama 5 tahun untuk pemeriksaan VMT,ST, dan penilaian tingkat kecacatan hanya sedikit yang datang untuk tindak lanjut (56,9% tidak pernah datang sama sekali dalam 5 tahun). Sedikitnya penderita yang datang pada pengamatan pasif di Ehiopia diperkirakan karena jauhnya jarak antar rumah penderita dengan pelayanan kesehatan terdekat. Odds ratio terjadinya kondisi yang memburuk (kerusakan) apabila pengamatan aktif tidak dilakukan adalah 1,9 (disesuaikan umur, jenis kelamin, klasifikasi). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, juga diketahui bahwa pengamatan aktif mahal jika dilakukan dan hanya sedikit mengurangi kecacatan lebih lanjut. Penulis jurnal menyarankan untuk mengupayakan pendidikan dan dukungan kepada penderita sebelum selesai pengobatan agar dapat memahami kerusakan yang mungkin terjadi, bagaimana mengenalinya, dan langkah apa yang harus diambil jika hal tersebut terjadi (Gebre dan Saunderson, 2001) Metode Pengamatan Semi Aktif Metode pengamatan semi aktif (Semi Active Surveillance) adalah suatu metode pengamatan yang dilakukan oleh petugas puskesmas kepada penderita setelah selesai pengobatan yang datang ke puskesmas minimal sekali dalam 3 bulan. Penderita yang tidak datang ke puskesmas dalam 3 bulan akan ditunggu selama 1 bulan oleh petugas di puskesmas. Jika pada 1 bulan tersebut penderita tetap tidak datang ke puskesmas, petugas akan
64 45 menelusuri dan menemui penderita. Alur metode pengamatan semi aktif digambarkan pada gambar 2.3. Gambar 2.3 Alur Pertemuan Penderita dengan Petugas pada Metode Pengamatan Semi Aktif Penderita diperiksa Penderita RFT datang ke puskesmas pada 3 bulan yang dijanjikan kepada petugas Ya Ya Ya Petugas menelusuri alamat dan menemui penderita Tidak Petugas menunggu selama 1 bulan, penderita datang ke puskesmas Tidak Metode pengamatan semi aktif merupakan suatu proyek uji coba yang dilakukan di kabupaten Pasuruan dan Gorontalo yang dimulai sejak bulan Agustus 2009 dan masih berlangsung hingga saat ini. Metode ini secara umum bertujuan untuk mencegah bertambahnya dan memburuknya kecacatan pada penderita kusta setelah selesai pengobatan dan untuk meningkatkan kemampuan penderita untuk dapat mengontrol kecacatan secara mandiri. Tujuan khusus dari metode ini adalah penderita tetap memiliki hubungan dengan puskesmas selama masih memiliki risiko, penderita mampu melakukan perawatan diri secara teratur tiap hari, dan penderita mendapat bantuan dalam mengatasi masalah medis yang ada (Kemenkes, 2010). Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan (2011), kecacatan dapat dikurangi dan penderita kusta dapat dibantu secara lebih efektif dan efisien dengan menerapkan suatu sistem yang memungkinkan penderita
65 46 kusta setelah selesai pengobatan untuk tetap berhubungan dengan Puskesmas selama penderita tersebut membutuhkan bimbingan untuk mengatasi kecacatan yang dialami. Sehingga perlu dilakukan kegiatan Pengamatan semi aktif untuk mengurangi beban kecacatan penderita kusta setelah selesai pengobatan. Kegiatan pengamatan semi aktif mengarah pada identifikasi terjadinya reaksi, neuritis, dan relaps serta perilaku perawatan diri pada penderita dengan melakukan pemeriksaan fisik terhadap kondisi kecacatan, tanda reaksi dan neuritis, dan tanda relaps serta perilaku perawatan diri. Penderita yang datang akibat adanya keluhan reaksi dan neuritis akan ditangani dengan pengobatan prednison dan lampren sesuai dengan kebijakan program mengenai penatalaksanaan reaksi. Penderita yang teridentifikasi relaps akan diberikan pengobatan ulang sesuai dengan tipe kusta yang diderita. Sedangkan penderita yang mengalami luka akibat kusta akan ditangani dan diberikan informasi perawatannya di rumah secara rutin. Selain memberikan bantuan tindakan medis, petugas puskesmas juga memberikan informasi tanda-tanda reaksi dan pentingnya perawatan diri, memberikan demo perawatan diri dan memberikan alat perawatan diri yang sesuai dengan kebutuhan penderita, bantuan konseling psikologis. Alur kegiatan penderita setelah selesai pengobatan kusta di puskesmas pada metode pengamatan semi aktif digambarkan pada gambar 2.4.
66 47 Gambar 2.4 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Semi Aktif Penderita datang Penderita pulang Administrasi Puskesmas Petugas Kusta Apotik/ Loket Obat Membayar administrasi Mengambil kartu penderita Mengambil kartu khusus penderita kusta Anamnesa Pemeriksaan cardinal sign kusta Pemeriksaan kecacatan, hasil perawatan diri, dan pengisian form POD Penjelasan tanda-tanda reaksi dan pentingnya perawatan diri Memberikan demo perawatan diri dan memberikan alat perawatan diri yang sesuai dengan kebutuhan penderita Penanganan reaksi/ neuritis akibat kusta dan memberikan obat lamprene secara langsung dan meresepkan vitamin atau obat prednisone untuk reaksi/ neuritis jika dibutuhkan Penanganan luka akibat kusta Bantuan konseling psikologis Memberikan vitamin atau obat prednisone untuk reaksi/ neuritis Perbedaan Metode Perbedaan mengenai 3 metode pengamatan penderita setelah selesai pengobatan yang pernah diterapkan di Indonesia dipaparkan pada tabel 2.15.
67 48 Tabel 2.15 Perbedaan Metode Pengamatan Setelah Selesai Pengobatan Keterangan Pengamatan Aktif Pengamatan Pasif Pengamatan Semi Aktif Tahun saat ini 2009 saat ini Pengobatan DDS MDT MDT Tujuan Memantau kejadian relaps Memantau kejadian relaps, neuritis, reaksi Memantau kejadian neuritis, reaksi, Bentuk Kegiatan Kelebihan Kelemahan Penderita dikunjungi oleh petugas puskesmas minimal 1 kali dalam 6 bulan untuk pemeriksaan dini terhadap relaps (diperiksa secara klinis dan laboratorium) Kondisi penderita setelah selesai pengobatan (saat masa pengawasan) dapat dipantau dan ditangani dengan baik Jumlah biaya yang dikeluarkan besar Beban kerja yang tinggi bagi petugas Penderita memiliki ketergantugan yang tinggi terhadap petugas Penderita mengunjungi puskesmas minimal 1 kali dalam 1 tahun untuk pemeriksaan dini terhadap relaps, neuritis, dan reaksi dibantu oleh petugas puskesmas Petugas tidak diwajibkan mencari dan memeriksa penderita jika penderita tidak datang Beban kerja yang ringan bagi petugas Jumlah biaya yang dikeluarkan diperkirakan rendah Kondisi penderita setelah selesai pengobatan (masa pengawasan) sulit dipantau bahkan tidak dapat ditangani dengan baik karena penderita datang saat kondisi kesehatannya sudah memburuk Berdasarkan penelitian, masih banyak ditemukan penderita yang kecacatannya kian memburuk selama masa pengawasan perawatan diri Penderita mengunjungi puskesmas minimal 1 kali dalam 3 bulan untuk pemeriksaan dini terhadap neuritis dan reaksi dibantu oleh petugas puskesmas Petugas wajib mencari penderita dan memeriksa penderita pada bulan selanjutnya jika penderita tidak datang hingga akhir tribulan yang dijanjikan Kondisi penderita setelah selesai pengobatan (saat masa pengawasan) dapat dipantau dan ditangani dengan baik Jumlah biaya yang dikeluarkan diperkirakan tidak terlalu tinggi Beban kerja petugas tidak terlalu tinggi Penderita secara tidak langsung didorong untuk belajar mandiri dan waspada terhadap kondisi kesehatannya
68 49 Keterangan Pengamatan Aktif Pengamatan Pasif Pengamatan Semi Aktif Rekomendasi Dihentikan karena jumlah kasus relaps sedikit akibat penggantian regimen pengobatan DDS menjadi MDT Diharapkan diganti dengan metode yang lebih efektif-biaya sehingga dapat memantau kondisi penderita dengan baik dengan biaya dan tenaga yang relatif ringan Diharapkan dapat lebih efektif-biaya untuk memantau kondisi penderita akibat kusta setelah selesai pengobatan (dalam masa pengawasan) termasuk kondisi kecacatannya 2.9 Evaluasi Ekonomi Pengertian Evaluasi Ekonomi Evaluasi Ekonomi adalah penilaian dan interpretasi nilai suatu intervensi layanan kesehatan dengan menguji hubungan antara biaya dan outcome dari intervensi tersebut secara sistematik (Wonderling, 2005). Sedangkan Brent (2003) menyatakan bahwa evaluasi ekonomi mencoba menilai keinginan sosial dari suatu program relatif terhadap beberapa alternatif lain. Menurut Drummond (2005), evaluasi ekonomi penting dilakukan karena tanpa analisis yang sistematik sulit untuk mengidentifikasi secara jelas alternatif-alternatif yang sesuai. Tanpa adanya pengukuran dan perbandingan output dan input, nilai yang dapat terlihat hanya sebatas nilai uang yang dikeluarkan dan tidak sampai melihat keuntungan yang diperoleh program atau alternatif-alternatif tersebut. Selain itu, melalui evaluasi ekonomi dapat diperoleh alternatif yang sesuai dengan sudut pandang yang diinginkan, misalnya sesuai sudut pandang masyarakat, anggaran kementerian kesehatan yang tersedia, individu, institusi khusus, kelompok target untuk layanan khusus Metode Evaluasi Ekonomi Pada evaluasi ekonomi, terdapat beberapa metode analisis yang digunakan yaitu :
69 50 a. Analisis Minimalisasi Biaya (Cost Minimization Analysis) Suatu metode analisis yang digunakan untuk membandingkan biaya bersih dari program-program yang menghasilkan outcome yang sama (Gold, 1996). b. Analisis Manfaat Biaya (Cost Benefit Analysis) Suatu metode analisis untuk memperkirakan keuntungan sosial bersih dari suatu program atau intervensi dimana keuntungan tambahan program lebih sedikit dibandingkan tambahan biayanya, dengan seluruh keuntungan dan biaya diukur dalam dolar (Gold, 1996). c. Analisis Efektivitas Biaya (Cost Effectiveness Analysis) Analisis efektivitas biaya adalah suatu analisis yang mencari bentuk intervensi mana yang paling menguntungkan dalam mencapai suatu tujuan, dengan cara membandingkan hasil suatu kegiatan dengan biayanya, dimana ukuran input diukur dalam nilai moneter dan ukuran output-nya diukur dalam jumlah output yang dihasilkannya (Drummond, 2001). Sedangkan menurut Gold (1996), analisis efektivitas biaya merupakan suatu metode analisis dimana biaya dan dampak dari suatu program atau alternatif dihitung dan ditunjukkan dalam suatu rasio dari tambahan biaya terhadap tambahan dampak yang berupa outcome kesehatan. d. Analisis Utilitas Biaya (Cost Utility Analysis) Analisis Utilitas Biaya adalah suatu metode evaluasi ekonomi yang konsekuensi intervensinya diukur dalam bentuk kuantitas dan kualitas hidup (Coons dan Kaplan, 1996). Perbedaan metode analisis pada evaluasi ekonomi dirangkum oleh Drummond pada tabel 2.16.
70 51 Tabel 2.16 Tabel Pengukuran Biaya dan Konsekuensi pada Evaluasi Ekonomi Jenis Analisis Pengukuran / Penilaian biaya pada seluruh alternative Analisis Nilai moneter Minimalisasi Biaya Analisis Efektivitas Nilai moneter Biaya Analisis Manfaat Biaya Analisis Utilitas Biaya Nilai moneter Nilai moneter Sumber: Diterjemahkan dari Drummond, 2005 Identifikasi konsekuensi Identifikasi semua aspek Output yang sama pada berbagai alternatif tetapi tingkatan yang dicapai berbeda Output sama ataupun berbeda dengan berbagai tindakan alternatif Output sama ataupun berbeda dengan berbagai tindakan alternatif Pengukuran / penilaian konsekuensi Tidak ada Nilai satuan output mengikuti hasil (misalnya pertambahan tahun hidup yg diperoleh, hari mengalami cacat yang dapat diselamatkan, penurunan angka hipertensi,dan lain-lain) Nilai moneter Pertambahan tahun hidup yang berkualitas Berdasarkan uraian mengenai metode evaluasi ekonomi tersebut, metode yang sesuai dengan penelitian adalah analisis efektivitas biaya karena alternatif-alternatif yang dibandingkan memiliki output yang sama namun dengan jumlah/tingkatan yang berbeda. Peneliti ingin mengetahui alternatif mana yang lebih efektif biaya dengan melihat perbandingan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan setiap output Biaya (Cost) Biaya adalah nilai dari sumber daya yang biasanya diekspresikan dalam bentuk moneter (Wonderling, Gruen, dan Black, 2005).
71 Klasifikasi Biaya Biaya dikelompokkan menurut beberapa kriteria yaitu berdasarkan: Pengaruh pada skala produksi Berdasarkan pengaruh pada skala produksi, biaya dibedakan menjadi : a. Biaya Tetap (Fixed Cost) Merupakan biaya yang nilainya secara relatif tidak dipengaruhi oleh besarnya produksi (output). Biaya ini harus tetap dikeluarkan walaupun tidak ada pelayanan. b. Biaya variabel (Variabel Cost) Merupakan biaya yang nilainya dipengaruhi oleh banyaknya output (produksi). c. Biaya Total (Total Cost) Merupakan jumlah biaya dari biaya tetap dan biaya variabel Lama penggunaan Berdasarkan pengaruh pada skala produksi, biaya terbagi menjadi 3 yaitu : a. Biaya Investasi (Investment Cost) Merupakan biaya yang kegunaannya dapat berlangsung dalam waktu yang relatif lama, biasanya lebih dari 1 tahun. Biaya tersebut dihitung dari nilai barang investasi yang disetahunkan (biaya penyusutan). b. Biaya Operasional (Operational Cost) Merupakan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan dalam suatu proses produksi dan memiliki sifat habis pakai dalam kurun waktu singkat (kurang dari satu tahun). c. Biaya pemeliharaan (Maintenance Cost) Merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mempertahankan nilai suatu barang investasi agar tetap berfungsi.
72 Fungsi atau aktivitas sumber biaya Biaya menurut fungsi atau aktivitas sumber biaya dibedakan menjadi : a. Biaya Langsung (Direct Cost) Merupakan biaya yang dibebankan pada sumber biaya yang mempunyai fungsi atau aktivitas langsung terhadap output. Menurut Gold (1996), biaya langsung adalah nilai dari seluruh barang, layanan, dan sumber daya lain yang dikonsumsi dalam ketentuan dari suatu intervensi atau dalam menangani efek samping atau konsekuensi lain saat ini atau di masa mendatang yang terkait dengan hal tersebut. b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) Merupakan biaya yang dibebankan pada sumber biaya yang memunyai fungsi penunjang (aktivitas tidak langsung) terhadap output Konsep akibat ekstern Biaya berdasrkan konsep akibat ekstern menurut Sukirno (2002) dibagi menjadi : a. Biaya pribadi Merupakan biaya yang dibelanjakan oleh produsen yang digunakan untuk menghasilkan barang. b. Biaya sosial Merupakan biaya yang dibelanjakan oleh masyarakat untuk memperoleh barang dan biaya-biaya lain yang harus dibayar oleh masyarakat akibat dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas produsen dalam menghasilkan barang Penghitungan Biaya Perhitungan biaya menggunakan metode konvensional dengan menjumlahkan kelompok biaya berdasarkan konsep akibat ekstern yaitu biaya program atau biaya penderita pada masing-masing metode. Masingmasing biaya diperoleh dari penjumlahan biaya langsung dan tidak
73 54 langsung (biaya berdasarkan aktivitas sumber biaya). Menurut Muennig (2002), terdapat 3 langkah untuk menghitung data yaitu mengidentifikasi sumber daya yang digunakan, mengukur sumber daya yang digunakan, dan memberi nilai pada sumber daya yang digunakan Efektivitas (Outcome) Outcome adalah perubahan status sebagai hasil dari proses suatu sistem. Pada konteks pelayanan kesehatan adalah perubahan status kesehatan sebagai hasil dari pelayanan (Wonderling, 2005). Pada penelitian ini yang menjadi efektivitas adalah pengendalian tingkat cacat Analisis Efektivitas Biaya (Cost Effectiveness Analysis) Analisis efektivitas biaya adalah suatu metode untuk mengevaluasi outcome dan biaya dari intervensi-intervensi yang dibuat untuk meningkatkan kesehatan. Hasil analisis ini biasanya dirangkum dalam suatu rasio efektivitas biaya yang menunjukkan biaya untuk mencapai satu unit outcome kesehatan. Analisis efektivitas biaya menyediakan perkiraan efektivitas dan biaya sehingga menunjukkan trade-off yang dilibatkan dalam memilih di antara intervensi-intervensi atau variasi dalam suatu intervensi (Russel et al, 1996). Apabila intervensi yang akan diteliti lebih efektif dan biayanya lebih sedikit daripada alternatifnya maka intervensi tersebut dinyatakan mendominasi alternatif. Pada situasi tersebut, penghitungan rasio efektivitas biaya tidak dibutuhkan. Analisis efektivitas biaya dilakukan pada intervensi dengan biaya yang dikeluarkan lebih banyak dan lebih efektif daripada alternatifnya. Pada pemahaman biaya saat ini, analisis efektivitas biaya juga dapat memberikan informasi untuk memutuskan suatu intervensi baru mana yang biayanya lebih sedikit tetapi sedikit kurang efektif daripada alternatif yang ada (Garber et al, 1996). Rasio efektivitas biaya merupakan ukuran inti yang digunakan dalam analisis efektivitas biaya (Garber et al, 1996). Menurut Gold (1996),
74 55 rasio efektivitas biaya adalah biaya tambahan untuk memperoleh suatu efek dampak kesehatan dari intervensi kesehatan, dibandingkan dengan suatu alternatif. Rumus rasio efektivitas biaya berdasarkan McGuire (2001) digambarkan sebagai berikut : Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) Ca ACER a = (2.1) Ea Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) Ca Cb C ICER = = (2.2) Ea Eb E Intervensi dengan rasio efektivitas biaya rendah merupakan intervensi yang baik dan akan menjadi prioritas tinggi sebagai sumber daya (Garber et al, 1996).
75 BAB 3 KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Teori Analisis Efektivitas Biaya (CEA) adalah suatu analisis yang mencari bentuk intervensi mana yang paling menguntungkan dalam mencapai suatu tujuan, dengan cara membandingkan hasil suatu kegiatan dengan biayanya, dimana ukuran input diukur dalam nilai moneter dan ukuran output-nya diukur dalam jumlah output yang dihasilkannya (Drummond, 2001). Intervensi yang akan dianalisis pada penelitian ini adalah metode pengamatan semi aktif dan metode pengamatan pasif. Efektivitas biaya pada dua intervensi tersebut diperoleh dengan membandingkan jumlah biaya sebagai input dan jumlah penderita yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan sebagai output yang dihasilkan dari masing-masing metode selama 2 tahun hingga 3 tahun. Biaya diperoleh dari total biaya baik biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan oleh program untuk dapat menghasilkan suatu pengendalian tingkat cacat. Penelitian ini juga melihat hubungan antara faktor-faktor seperti umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat sosial ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri dengan pengendalian tingakat cacat serta mengetahui faktor-faktor mana yang paling dominan dalam mempengaruhi pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. 56
76 Kerangka Konsep Variabel Independen Variabel Dependen BIAYA Biaya Program Biaya Penderita INTERVENSI Pengamatan Semi Aktif FAKTOR BERHUBUNGAN DENGAN KECACATAN - Pengetahuan - Pencegahan Cacat - Perawatan Diri FAKTOR BERHUBUNGAN DENGAN KECACATAN - Umur - Tingkat Pendidikan - Tingkat Penghasilan - Tipe Kusta - Riwayat Reaksi LUARAN Pengendalian Tingkat Cacat ICER BIAYA Biaya Program Biaya Penderita INTERVENSI Pengamatan Pasif FAKTOR BERHUBUNGAN DENGAN KECACATAN - Umur - Tingkat Pendidikan - Pengetahuan - Tingkat Penghasilan - Tipe Kusta - Riwayat Reaksi - Pencegahan Cacat - Perawatan Diri LUARAN Pengendalian Tingkat Cacat Gambar 3. Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka konsep tersebut, pengendalian tingkat cacat berhubungan dengan faktor-faktor seperti umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri. Faktor tingkat pengetahuan, pencegahan cacat, dan perawatan diri pada kelompok penderita setelah selesai pengobatan yang dipantau dengan
77 58 metode pengamatan semi aktif, dipengaruhi secara langsung oleh intervensi pada metode tersebut. Pada metode pengamatan semi aktif, petugas puskesmas akan datang jika penderita tidak datang pada waktu yang telah dijanjikan sehingga penderita akan melakukan pengobatan atau konsultasi secara teratur. Saat konsultasi, petugas memberikan informasi dan melakukan pemeriksaan fungsi saraf serta tanda awal reaksi, memberikan informasi tentang perawatan diri, mengidentifikasi kebutuhan medis dan alat pelindung diri yang dibutuhkan oleh penderita. 3.2 Hipotesis Hipotesis penelitian ini adalah metode pengamatan semi aktif lebih efektif-biaya dari metode pengamatan pasif dalam mengendalikan tingkat cacat pada penderita setelah selesai pengobatan.
78 59 BAB 4 DESAIN PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian cross sectional adalah penelitian non-eksperimental dalam rangka mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek yang berupa penyakit atau status kesehatan tertentu (Pratiknya, 1996). Sedangkan menurut Gold (1996), penelitian cross sectional adalah suatu penelitian yang melihat status seorang individu berdasarkan keberadaan paparan dan penyakit yang dinilai pada saat yang sama. Peneliti menggunakan desain cross sectional karena tidak terdapat data yang lengkap mengenai data variabel independen maupun variabel dependen yang tercatat sebelumnya sehingga data variabel independen dan dependen diambil pada saat yang sama. 4.2 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilakukan pada Mei 2012 di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. 4.3 Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian adalah penderita kusta setelah selesai pengobatan. Sampel penelitian diambil dengan teknik purposive sampling dengan kriteria a. Inklusi : 1. Penderita kusta semua usia dan semua jenis kelamin. 2. Penderita kusta tipe PB ataupun tipe MB yang telah menyelesaikan terapi obat MDT (RFT/ Release From Treatment) pada bulan Mei 2009 hingga bulan April Penderita yang memiliki riwayat kecacatan atau riwayat reaksi, riwayat nodul atau infiltrat, atau hasil pemeriksaan laboratorium BTA positif.
79 60 b. Eksklusi : 1. Penderita kusta yang masih dalam pengobatan MDT. 2. Penderita yang telah menyelesaikan terapi obat MDT (RFT/ Release From Treatment) sebelum bulan Mei 2009 atau setelah April 2010 karena efektivitas akan dinilai dari intervensi yang dilakukan 2 tahun hingga <3 tahun setelah selesai pengobatan. 3. Penderita yang tidak memiliki riwayat kecacatan atau riwayat reaksi, riwayat nodul atau infiltrat, atau BTA negatif. Jumlah sampel yang diambil adalah 43 orang per metode dari rumus : n = { Z1-α/2 2 P (1-P) + Z1-β P1 (1-P1) + P2 (1-P2) } 2 Dengan : α = 5 % 1 β = 80 % P1 = 0,97 P2 = 0,79 (P1-P2) 2 Pada penelitian ini, diperkirakan metode pengamatan semi aktif lebih efektif-biaya dibandingkan metode pengamatan pasif. Berdasarkan hasil evaluasi sementara pada bulan Juni 2011 (laporan pengamatan semi aktif, 2011), prosentase kejadian cacat yang dapat dikendalikan (menetap bahkan membaik) mencapai 97% (P1). Sedangkan pada metode pengamatan pasif, prosentase cacat adalah 0,79% (P2). Prosentase ini diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan di kabupaten Subang, Jawa Barat pada tahun 2001 (Hasibuan, 2002).
80 Definisi Operasional Tabel 4 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Variabel Dependen 1 Tingkat Cacat Nilai tertinggi yang diperoleh dari pemeriksaan fisik pada mata, tangan, kaki penderita kusta yang menyatakan beratnya kondisi cacat. 2 Pengendalian Menetap atau menurunnya Tingkat Cacat tingkat cacat saat pengambilan data dibandingkan tingkat cacat saat penderita kusta baru dinyatakan selesai pengobatan. Tabel Keadaan Cacat Tabel Keadaan Cacat pada Kartu penderita dan kuesioner Pemeriksaan penderita fisik Membandingkan tingkat cacat pada kartu penderita dengan tingkat cacat pada kuesioner Tingkat 0 2 Kategori : 0. Tingkat cacat dapat dikendalikan (tetap/menurun) 1. Tingkat cacat tidak dapat dikendalikan (meningkat) Rasio Ordinal 3 Pengendalian Tingkat Cacat pada Metode Pengamatan Pasif Pengendalian tingkat cacat terhadap penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan 2 hingga kurang dari 3 tahun yang datang ke puskesmas minimal sekali dalam setahun Tabel Keadaan Cacat pada Kartu penderita dan kuesioner Membandingkan tingkat cacat pada kartu penderita dengan tingkat cacat pada kuesioner Kategori : 0. Tingkat cacat dapat dikendalikan (tetap/menurun) 1. Tingkat cacat tidak dapat dikendalikan (meningkat) Ordinal
81 62 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 4. Pengendalian Tingkat Cacat pada Metode Pengamatan Semi Aktif 5. Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) Pengendalian tingkat cacat terhadap penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan 2 hingga kurang dari 3 tahun yang datang ke puskesmas minimal sekali dalam 3 bulan dan akan dikunjungi oleh petugas puskesmas jika tidak datang. Perbandingan selisih biaya dan selisih jumlah penderita yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan pada metode pengamatan semi aktif dan pengamatan pasif. Tabel Keadaan Cacat pada Kartu penderita dan kuesioner Perhitungan program excel Membandingkan tingkat cacat pada kartu penderita dengan tingkat cacat pada kuesioner Membandingkan selisih biaya dengan selisih jumlah penderita yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan Kategori : 0. Tingkat cacat dapat dikendalikan (tetap/menurun) 1. Tingkat cacat tidak dapat dikendalikan (meningkat) Jumlah biaya dalam rupiah Ordinal Rasio Variabel Independen 6. Umur Waktu yang dihitung sejak kelahiran responden sampai saat responden dinyatakan selesai pengobatan (RFT). 7. Tingkat Pendidikan Jenjang pendidikan formal yang telah ditempuh oleh responden saat responden dinyatakan selesai pengobatan (RFT). Kuesioner Kuesioner Kategori : 0. < 15 tahun tahun Kuesioner Kuesioner Kategori : 0. Tinggi (SMP, SMA, PT) 1. Rendah (Tidak sekolah, SD) Nominal Ordinal
82 63 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 8. Tingkat Pemahaman responden Pengetahuan tentang terjadinya cacat pada kusta, reaksi, pencegahan cacat, dan perawatan diri pada saat pengambilan data 9. Tingkat Pengeluaran rata-rata yang Ekonomi diperoleh setiap anggota rumah tangga responden setiap bulan 10. Tipe Kusta Tipe penyakit kusta berdasarkan klasifikasi WHO pada responden saat responden mendapatkan pengobatan 11. Reaksi Kusta Suatu reaksi kekebalan atau reaksi antigen-antibodi akibat kusta yang pernah dialami responden sejak selesai pengobatan (RFT) hingga saat pengambilan data. Gejala reaksi: timbulnya bercak kulit atau nodul yang memerah, bengkak, panas, neuritis, gangguan fungsi saraf, nyeri yang bertambah parah sampai pecah, dan demam. Kuesioner Kuesioner Kategori : 0. Tinggi (skor > 55) 1. Rendah (skor 55) Kuesioner Kuesioner Kategori : 0. Tinggi ( Rp ) 1. Rendah(<Rp ) (BPS, 2012) Kartu penderita Pemeriksaan klinis Kategori: 0. PB 1. MB Kuesioner Kuesioner Kategori : 0. Tidak Pernah Reaksi 1. Pernah Reaksi Ordinal Ordinal Nominal Nominal
83 64 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 12. Pencegahan Cacat Pemeriksaan fungsi saraf minimal 1 tahun sekali serta tata laksana reaksi atau neuritis secara dini dan teratur yang diperoleh responden sejak menyelesaikan pengobatan (RFT) hingga saat pengambilan data. Kuesioner Kuesioner Kategori : 0. Mendapat pencegahan cacat 1. Tidak mendapat pencegahan cacat Nominal 13. Perawatan Diri Perawatan dan perlindungan yang dilakukan responden setiap hari terhadap mata, tangan, dan kakinya yang berisiko cacat dengan menggunakan alat bantu yang sesuai dan aktif mencari bantuan ke pelayanan kesehatan untuk menangani kecacatan atau masalah terkait kusta yang dialami. Tindakan dilihat sejak responden menyelesaikan pengobatan (RFT) hingga saat pengambilan data. Kuesioner Kuesioner Kategori : 0. Melakukan perawatan diri 1. Tidak melakukan perawatan diri Nominal
84 65 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 14. Biaya pada Metode Pengamatan Semi Aktif Total dari biaya yang dikeluarkan oleh program maupun biaya yang dikeluarkan oleh penderita untuk menghasilkan efektivitas pada metode pengamatan semi aktif Kuesioner penderita dan stakeholder, dokumen terkait penderita dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder Wawancara dengan penderita dan stakeholder, dokumen terkait penderita dan dokumen pengeluaran biaya yang berada di stakeholder Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 15. Biaya pada Metode Pengamatan Pasif Total dari biaya yang dikeluarkan oleh program maupun biaya yang dikeluarkan oleh penderita untuk menghasilkan efektivitas pada metode pengamatan pasif Kuesioner penderita dan stakeholder, dokumen terkait penderita dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder Wawancara dengan penderita dan stakeholder, dokumen terkait penderita dan dokumen pengeluaran biaya yang berada di stakeholder Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 16. Biaya Program Total dari biaya langsung maupun biaya tidak langsung yang dikeluarkan oleh program meliputi biaya yang dikeluarkan oleh pusat, NLR, yayasan kusta, dinas kesehatan, puskesmas, maupun petugas dalam mengendalikan tingkat cacat. Kuesioner penderita dan stakeholder, dokumen terkait penderita dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder Wawancara dengan penderita dan stakeholder, dokumen terkait penderita dan dokumen pengeluaran biaya yang berada di stakeholder Jumlah biaya dalam rupiah Rasio
85 66 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 17. Biaya Langsung Program Biaya yang dibebankan pada sumber biaya yang mempunyai fungsi/aktivitas langsung pada pengendalian tingkat cacat yang dikeluarkan oleh program seperti biaya investasi, biaya operasional, dan biaya pemeliharaan. Kuesioner penderita dan stakeholder, dokumen terkait penderita dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder Wawancara dengan penderita dan stakeholder, dokumen terkait penderita dan dokumen pengeluaran biaya yang berada di stakeholder Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 18. Biaya Investasi Biaya dari penggunaan barang yang kegunaannya dapat berlangsung dalam waktu yang relatif lama, biasanya lebih dari 1 tahun. Biaya ini dihitung dari nilai barang investasi yang disetahunkan (biaya penyusutan), pada penelitian ini adalah biaya pemakaian ruang kusta dan biaya pemakaian alat medis/non medis. Kuesioner puskesmas dan daftar inventaris ruangan kusta di puskesmas Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan daftar inventaris ruangan kusta, kemudian menjumlahkan biaya pemakaian ruang kusta dan biaya pemakaian alat medis/non medis. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio
86 67 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 19. Biaya Pemakaian Ruang Kusta Biaya pembangunan ruang kusta untuk melayani seluruh responden yang telah selesai pengobatan yang datang ke puskesmas sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya adalah nilai ruang kusta yang disetahunkan (biaya penyusutan). Kuesioner puskesmas, kartu register penderita Wawancara dengan stakeholder, menghitung biaya pemakaian ruang kusta berdasarkan nilai ruang kusta yang disetahunkan (biaya penyusutan). Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 20. Biaya Pemakaian Alat Medis/Non Medis Biaya pembelian alat medis/non medis untuk melayani seluruh responden yang telah selesai pengobatan yang datang ke puskesmas sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya adalah nilai alat medis/non medis yang disetahunkan (biaya penyusutan). Kuesioner puskesmas, inventaris kusta daftar ruangan Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan daftar inventaris ruangan kusta, menghitung biaya pemakaian alat medis/non medis berdasarkan nilai alat medis/non medis yang disetahunkan (biaya penyusutan). Jumlah biaya dalam rupiah Rasio
87 68 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 21. Biaya Operasional 22. Biaya Tenaga Pelayanan Kusta Biaya yang dikeluarkan untuk melakukan seluruh kegiatan dalam suatu proses produksi dan memiliki sifat habis pakai dalam kurun waktu singkat seperti biaya tenaga, bahan habis pakai, obat, transportasi, komunikasi, listrik-air, penyediaan alat pelindung dan perawatan diri untuk penderita. Biaya tenaga yang dikeluarkan petugas untuk memberikan pelayanan pada seluruh responden yang selesai pengobatan (datang ke puskesmas maupun yang dikunjungi) sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya diperoleh dari proporsi responden yang datang ke puskesmas maupun yang dikunjungi terhadap jumlah waktu yang diluangkan petugas untuk pelayanan dan kegiatan yang mengikuti. Kuesioner stakeholder dan penderita, kartu register penderita, dokumen pengeluaran biaya stakeholder. Kuesioner petugas puskesmas, kartu register penderita Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan kartu register penderita dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder. Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan data kunjungan responden dari kartu register penderita, kemudian menghitung biaya tenaga berdasarkan proporsi responden yang datang ke puskesmas terhadap jumlah waktu yang diluangkan petugas untuk pelayanan kepada responden. Jumlah biaya dalam rupiah Jumlah biaya dalam rupiah Rasio Rasio
88 69 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 23. Biaya Bahan Habis Pakai Biaya pemakaian bahan habis pakai oleh petugas untuk memberikan pelayanan kepada seluruh responden yang telah selesai pengobatan yang datang ke puskesmas sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya diperoleh dengan menghitung proporsi responden yang datang ke puskesmas terhadap jumlah bahan habis pakai yang digunakan petugas untuk pelayanan. Kuesioner petugas puskesmas, kartu register penderita. Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan data kunjungan dari kartu register penderita, menghitung biaya bahan habis pakai berdasarkan proporsi responden yang datang ke puskesmas terhadap jumlah bahan habis pakai yang digunakan petugas untuk pelayanan. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 24. Biaya Pemakaian Obat Biaya pembelian obat untuk diberikan kepada seluruh responden yang telah selesai pengobatan yang datang ke puskesmas sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya diperoleh dengan menghitung jumlah obat yang diberikan kepada responden saat menerima pelayanan di puskesmas. Kartu penderita. register Mengumpulkan data kunjungan dari kartu register penderita, menghitung jumlah obat yang diberikan kepada responden saat pelayanan di puskesmas. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio
89 70 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 25. Biaya Transportasi Petugas Biaya yang dikeluarkan oleh petugas untuk mengunjungi seluruh responden sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya diperoleh dengan menghitung jumlah kunjungan ke rumah responden. Kuesioner puskesmas penderita. petugas dan Wawancara dengan penderita dan stakeholder, kemudian menghitung jumlah kunjungan ke rumah responden. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 26. Biaya Listrik dan air Biaya pemakaian listrik dan air untuk memberikan pelayanan kepada seluruh responden sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya diperoleh dengan menghitung proporsi responden yang datang ke puskesmas terhadap biaya listrik dan air yang digunakan untuk seluruh pelayanan di puskesmas. Kuesioner puskesmas dan petugas puskesmas, kartu register penderita, dokumen pengeluaran biaya stakeholder Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan dokumen pengeluaran biaya stakeholder dan data kunjungan dari kartu register penderita, menghitung biaya listrik dan air berdasarkan proporsi responden yang datang ke puskesmas terhadap biaya listrik dan air yang digunakan petugas di ruang kusta untuk pelayanan. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio
90 71 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 27. Biaya Komunikasi dengan Penderita Biaya yang dikeluarkan oleh petugas untuk menghubungi seluruh responden sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya diperoleh dengan menghitung jumlah komunikasi dengan responden atau pihak yang dapat berkomunikasi langsung dengan responden. Kuesioner puskesmas. petugas Wawancara dengan stakeholder, kemudian menghitung jumlah komunikasi. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 28. Biaya Pembelian Alat dan Bahan Perawatan dan Perlindungan Diri untuk Penderita Biaya yang dikeluarkan oleh program untuk membeli alat dan bahan perawatan dan perlindungan diri sesuai dengan kebutuhan seluruh responden sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya diperoleh dengan menghitung jumlah dari masing-masing jenis alat dan bahan yang diterima responden. Kuesioner penderita. Wawancara dengan penderita, kemudian menghitung jumlah dari masing-masing jenis alat dan bahan yang diterima responden. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio
91 72 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 29. Biaya Pemeliharaan 30. Biaya Tidak Langsung Program Biaya yang dikeluarkan oleh program untuk mempertahankan nilai barang investasi agar tetap berfungsi, dalam hal ini adalah ruang kusta dan alat medis/non medis. Besarnya biaya diperoleh dengan menjumlahkan biaya pemeliharaan dari masingmasing barang inventaris yang digunakan dalam pelayanan. Biaya yang dibebankan pada sumber biaya yang mempunyai fungsi penunjang/aktivitas tak langsung terhadap pengendalian tingkat cacat yang dikeluarkan oleh program seperti biaya untuk tenaga pendukung, koordinasi Dinkes Kabupaten dengan puskesmas, monitoring dan evaluasi Dinkes Provinsi, pelatihan, administrasi umum Dokumen pengeluaran stakeholder. Kuesioner dokumen pengeluaran stakeholder biaya dan biaya Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan dokumen pengeluaran biaya stakeholder, kemudian menjumlahkan biaya dari masing-masing barang inventaris yang digunakan dalam pelayanan. Wawancara dengan stakeholder dan mengumpulkan dokumen pengeluaran biaya Jumlah biaya dalam rupiah Jumlah biaya dalam rupiah Rasio Rasio
92 73 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 31. Biaya Tenaga Pendukung Program 32. Biaya Koordinasi Dinkes Kabupaten dengan Puskesmas Biaya tenaga yang dikeluarkan pegawai dinkes kabupaten dan provinsi untuk melaksanakan kegiatan terkait program dalam upaya pengendalian tingkat cacat penderita yang telah selesai pengobatan kusta. Besarnya biaya diperoleh dari proporsi waktu yang diluangkan untuk melakukan kegiatan terkait program pada masing-masing pengamatan. Biaya yang dikeluarkan oleh dinkes kabupaten untuk menghubungi pihak puskesmas dalam rangka melaksanakan kegiatan terkait program pengendalian tingkat cacat pada penderita yang telah selesai pengobatan. Besarnya biaya diperoleh dengan menjumlahkan biaya seluruh kegiatan koordinasi. Kuesioner stakeholder dokumen pengeluaran stakeholder. Kuesioner stakeholder dokumen pengeluaran stakeholder. dan biaya dan biaya Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan dokumen pengeluaran biaya stakeholder, kemudian menghitung proporsi waktu yang diluangkan untuk melakukan kegiatan terkait program pada masing-masing pengamatan. Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan dokumen pengeluaran biaya stakeholder, kemudian menjumlahkan biaya seluruh kegiatan koordinasi. Jumlah biaya dalam rupiah Jumlah biaya dalam rupiah Rasio Rasio
93 74 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 33. Biaya Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Dinkes Provinsi Biaya yang dikeluarkan oleh dinkes provinsi untuk melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan terkait program pengendalian tingkat cacat pada penderita yang telah selesai pengobatan. Besarnya biaya diperoleh dengan menjumlahkan biaya seluruh kegiatan monitoring dan evaluasi. Kuesioner stakeholder dokumen pengeluaran stakeholder. dan biaya Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan dokumen pengeluaran biaya stakeholder, kemudian menjumlahkan biaya seluruh kegiatan monitoring dan evaluasi. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 34. Biaya Pelatihan Biaya yang dikeluarkan oleh seluruh pihak untuk melatih petugas puskesmas dan pihak yang terlibat dalam pelayanan penderita yang telah selesai pengobatan dalam pengendalian tingkat cacat. Besarnya biaya diperoleh dengan menjumlahkan biaya seluruh kegiatan pelatihan. Kuesioner stakeholder dokumen pengeluaran stakeholder. dan biaya Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan dokumen pengeluaran biaya stakeholder, kemudian menjumlahkan biaya seluruh kegiatan pelatihan. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio
94 75 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 35. Biaya Administrasi Umum Biaya yang dikeluarkan oleh seluruh pihak untuk kegiatan pendukung pelayanan penderita yang telah selesai pengobatan dalam pengendalian tingkat cacat. Besarnya biaya diperoleh dengan menjumlahkan biaya bahan habis pakai dan biaya pemeliharaan yang tidak terkait langsung dengan pelayanan. Kuesioner stakeholder dokumen pengeluaran stakeholder. dan biaya Wawancara dengan stakeholder, mengumpulkan dokumen pengeluaran biaya stakeholder, kemudian menjumlahkan biaya bahan habis pakai dan biaya pemeliharaan yang tidak terkait langsung dengan pelayanan Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 36. Biaya Penderita Total dari biaya langsung maupun biaya tidak langsung yang dikeluarkan oleh penderita dalam mengendalikan tingkat cacatnya. Kuesioner penderita dan stakeholder, dokumen terkait penderita dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder Wawancara dengan penderita dan stakeholder, dokumen terkait penderita dan dokumen pengeluaran biaya yang berada di stakeholder Jumlah biaya dalam rupiah Rasio
95 76 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 37. Biaya Langsung Penderita Biaya yang dibebankan pada sumber biaya yang mempunyai fungsi (aktivitas) langsung terhadap pengendalian tingkat cacat yang dikeluarkan oleh penderita pada metode pengamatan semi aktif, seperti biaya tindakan dan pengobatan ke pelayanan kesehatan dan biaya pembelian alat pelindung dan perawatan diri. Kuesioner penderita, kuesioner stakeholder, dokumen pengeluaran biaya stakeholder. Wawancara dengan penderita dan stakeholder, mengumpulkan dokumen pengeluaran biaya stakeholder, Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 38. Biaya Pengobatan dan Tindakan oleh Penderita Biaya yang dikeluarkan seluruh responden untuk membayar pengobatan dan tindakan yang telah diterima saat datang ke pelayanan kesehatan sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya diperoleh dengan menghitung jumlah biaya yang dikeluarkan saat responden berkunjung di pelayanan kesehatan. Kuesioner penderita. Wawancara dengan penderita, kemudian menghitung jumlah biaya yang dikeluarkan saat responden menerima pelayanan di pelayanan kesehatan. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio
96 77 No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 39. Biaya Pembelian Alat dan Bahan Perawatan dan Perlindungan Diri oleh Penderita Biaya yang dikeluarkan oleh responden untuk membeli alat dan bahan perawatan dan perlindungan diri sesuai dengan kebutuhan sejak Juni 2009 hingga Mei Besarnya biaya diperoleh dengan menghitung jumlah dari masing-masing jenis alat dan bahan yang dibeli oleh responden. Kuesioner penderita. Wawancara dengan penderita, kemudian menghitung jumlah dari masing-masing jenis alat dan bahan yang dibeli oleh responden. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio 40. Biaya Transportasi Penderita Biaya yang dikeluarkan oleh penderita untuk menjangkau pelayanan kesehatan sejak Juni 2009 hingga Mei 2012 dalam rangka pengendalian tingkat cacatnya. Besarnya biaya diperoleh dengan menghitung jumlah kunjungan ke pelayanan kesehatan. Kuesioner penderita dan kartu register penderita. Wawancara dengan penderita, mengumpulkan kartu register penderita, kemudian menghitung jumlah kunjungan ke pelayanan kesehatan. Jumlah biaya dalam rupiah Rasio
97 Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung melalui pengisian kuesioner yang dipandu dan diajukan oleh enumerator untuk penderita. Selain itu data juga diperoleh dari kuesioner stakeholder (puskesmas dan petugas puskesmas, petugas dinas kesehatan kabupaten, petugas dinas kesehatan provinsi). Data sekunder diperoleh dari beberapa data yang telah tercatat pada dokumen-dokumen tertentu untuk informasi tambahan. Dokumen yang menjadi sumber data sekunder pada penelitian ini adalah kartu penderita, kartu monitoring khusus penderita pada pengamatan semi aktif, form pencegahan cacat (POD), form tatalaksana reaksi reaksi berat, simpus penderita, rincian biaya puskesmas, rincian biaya dinkes kabupaten dan provinsi untuk kegiatan kusta, rincian biaya dari dana yang diberikan oleh NLR untuk pengamatan semi aktif, daftar inventaris ruangan kusta di puskesmas, catatan penerimaan alat bantu pelindung diri. 4.6 Manajemen Data Manajemen data terdiri atas editing, coding, entry data, dan cleaning. Editing adalah pengecekan data yang telah terkumpul untuk melihat adanya kemungkinan data yang masuk meragukan atau tidak sesuai. Coding adalah pemberian kode atau tanda pada tiap-tiap data yang termasuk dalam kategori yang sama. Kode dibuat dalam bentuk angka atau huruf. Entry data adalah memasukkan data yang diperoleh dalam sistem computer. Cleaning adalah data yang telah masuk diperiksa kembali dan digunakan untuk membersihkan data dari kesalahan-kesalahan.
98 Analisis Data Berikut akan diuraikan langkah-langkah untuk mengolah data pada penelitian ini Pencatatan dan Pemilahan Langkah awal pengolahan data pada penelitian ini adalah pencatatan dan pemilahan terhadap biaya, faktor-faktor yang berhubungan dengan kecacatan sebagai variabel independen, efektivitas sebagai variabel dependen yang diperoleh dari data primer dan sekunder. Data biaya diolah dengan program excel, sedangkan data variabel dependen dan independen diinput dan diolah dengan program SPSS Analisis Univariat dan Bivariat Data variabel dianalisis univariat dan bivariat untuk melihat distribusi dari masing-masing variabel baik variabel dan untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel dependen dengan independen dengan menggunakan uji chi-square. Penghitungan biaya dilakukan dengan metode konvensional. Seluruh biaya dihitung dan diinput pada masing-masing komponen biaya dan dijumlahkan sehingga diperoleh biaya untuk masing-masing metode pengamatan. Komponen biaya dan cara memperoleh jumah biayanya pada penelitian ini dirinci sebagai berikut : a. Biaya Pemakaian Ruang Kusta Biaya diperoleh dari nilai ruang kusta (yang disetahunkan). Data diperoleh dari kuesioner petugas, kuesioner puskesmas. b. Biaya Pemakaian Alat Medis/Non Medis Biaya diperoleh dari nilai alat medis/non medis yang digunakan dalam pelayanan terhadap responden (yang disetahunkan). Data diperoleh dari daftar inventaris ruang kusta, kuesioner puskesmas.
99 80 c. Biaya Tenaga Pelayanan Kusta Biaya diperoleh dengan menghitung proporsi responden yang datang ke puskesmas maupun yang dikunjungi dikalikan proporsi jumlah waktu yang diluangkan petugas untuk pelayanan dan kegiatan yang mengikuti dikalikan dengan gaji petugas yang terlibat. Data diperoleh dari kuesioner petugas puskesmas, kartu register penderita d. Biaya Bahan Habis Pakai Biaya diperoleh dengan menghitung proporsi responden yang datang ke puskesmas dikalikan dengan jumlah biaya bahan habis pakai yang digunakan petugas untuk pelayanan. Data diperoleh dari kuesioner petugas puskesmas, kartu register penderita. e. Biaya Pemakaian Obat Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah obat yang diberikan kepada responden saat menerima pelayanan di puskesmas dikalikan dengan harga masing-masing obat dengan harga sesuai tahun yang dilakukan confounding. Data diperoleh dari kartu register penderita. f. Biaya Transportasi Petugas Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah kunjungan ke rumah responden dikalikan dengan biaya transport ke rumah masing-masing responden. Data diperoleh dari kuesioner petugas dan penderita. g. Biaya Komunikasi dengan Penderita Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah komunikasi dengan responden atau pihak yang dapat berkomunikasi langsung dengan responden dikalikan dengan biaya komunikasi. Data diperoleh dari kuesioner petugas puskesmas. h. Biaya Pembelian Alat dan Bahan Perawatan dan Perlindungan Diri untuk Penderita Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah dari masing-masing jenis alat dan bahan yang diterima responden dikalikan dengan harga masingmasing jenis alat dan bahan. Data diperoleh dari kuesioner penderita.
100 81 i. Biaya Listrik dan Air Biaya diperoleh dengan menghitung proporsi responden yang datang ke puskesmas dikalikan dengan proporsi ruang kusta dikalikan dengan biaya listrik dan air yang digunakan untuk seluruh pelayanan di puskesmas. Data diperoleh dari kuesioner puskesmas dan petugas puskesmas, kartu register penderita, dokumen pengeluaran biaya stakeholder. j. Biaya Pemeliharaan Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah biaya pemeliharaan dari masing-masing barang inventaris yang digunakan dalam pelayanan. Data diperoleh dari dokumen pengeluaran biaya stakeholder. k. Biaya Tenaga Pendukung Program Biaya diperoleh dengan menghitung proporsi waktu yang diluangkan pegawai dinkes kabupaten dan provinsi untuk melakukan kegiatan terkait program pada masing-masing pengamatan. Data diperoleh dari kuesioner stakeholder dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder. l. Biaya Koordinasi Dinkes Kabupaten dengan Puskesmas Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah biaya seluruh kegiatan koordinasi. Data diperoleh dari kuesioner stakeholder dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder. m. Biaya Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Dinkes Provinsi Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah biaya seluruh kegiatan monitoring dan evaluasi. Data diperoleh dari kuesioner stakeholder dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder. n. Biaya Pelatihan Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah biaya seluruh kegiatan pelatihan. Data diperoleh dari kuesioner stakeholder dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder. o. Biaya Administrasi Umum Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah biaya bahan habis pakai dan biaya pemeliharaan yang tidak terkait langsung dengan pelayanan.
101 82 Data diperoleh dari kuesioner stakeholder dan dokumen pengeluaran biaya stakeholder. p. Biaya Pengobatan dan Tindakan oleh Penderita Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah biaya yang dikeluarkan saat responden berkunjung ke pelayanan kesehatan. Data diperoleh dari kuesioner penderita. q. Biaya Pembelian Alat dan Bahan Perawatan dan Perlindungan Diri oleh Penderita Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah dari masing-masing jenis alat dan bahan yang dibeli oleh responden dikalikan dengan harga masing-masing jenis alat dan bahan. Data diperoleh dari kuesioner penderita. r. Biaya Transportasi Penderita Biaya diperoleh dengan menghitung jumlah kunjungan ke pelayanan kesehatan dikalikan biaya transport ke pelayanan kesehatan. Data diperoleh dari kuesioner penderita dan kartu register penderita Analisis Multivariat Seluruh variabel independen yang telah dinyatakan berhubungan dengan variabel dependen pada analisis bivariat kemudian dimasukkan ke dalam model dan dianalisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda untuk mencari variabel independen yang paling berpengaruh terhadap variabel dependen Perhitungan ICER Kemudian dihitung rasio efektivitas biaya intervensi terhadap penderita kusta setelah selesai pengobatan melalui pengamatan semi aktif dan metode pengamatan pasif dengan membandingkan biaya pada kedua metode dengan efektivitas berupa penderita dengan cacat yang dapat dikendalikan pada kedua metode tersebut. Setelah diperoleh rasio efektivitas biaya (ICER), dibandingkan dengan threshold ratio. Threshold ratio berdasarkan WHO (2005) adalah Gross Domestic Product per capita (GDP
102 83 per capita) dengan tingkatan efektif biaya tinggi (kurang dari GDP per capita), efektif biaya (antara satu hingga tiga kali GDP per capita), tidak efektif biaya (lebih dari tiga kali GDP per capita). Berdasarkan data Bank Dunia (World Bank) tahun 2011, current prices untuk GDP per capita untuk Indonesia adalah US$ 3,495.
103 BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Pada tahun 2011, angka penemuan kasus baru di Kabupaten Pasuruan sebesar 16,88 per penduduk dengan prosentase penderita MB sebesar 78 %, kasus anak 16 %, dan cacat tingkat 2 sebesar 14 %. Prevalensi hingga akhir tahun 2011 cukup tinggi yaitu 2,4 per penduduk. Kasus kusta tersebar di 26 puskesmas dari 33 puskesmas yang berada di wilayah Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Pasuruan menerapkan metode pengamatan semi aktif sebagai suatu proyek uji coba dalam pengamatan terhadap penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan (dinyatakan RFT) sejak tahun Metode pengamatan semi aktif ini diterapkan di 10 puskesmas, sedangkan puskesmas lainnya masih menerapkan metode pengamatan pasif. Pada penelitian ini akan dibandingkan efektivitas biaya pada kedua metode tersebut. Responden yang dipilih pada penelitian ini adalah penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan (dinyatakan RFT) sejak bulan Mei tahun 2009 hingga bulan Maret tahun Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh 86 responden dari 23 puskesmas yang terbagi menjadi 2 intervensi (metode pengamatan) yaitu 43 responden pada metode pengamatan semi aktif dan 43 responden pada metode pengamatan pasif. Adapun distribusi responden di 23 puskesmas yang menjadi lokasi penelitian disajikan pada tabel
104 85 Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Puskesmas di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 No Nama Puskesmas Jumlah Responden Pengamatan Semi Aktif Jumlah Responden Pengamatan Pasif 1 Pohjentrek 7-2 Winongan 11-3 Pasrepan 2-4 Grati 8-5 Wonorejo 2-6 Gempol 2-7 Kedaung Wetan 3-8 Nguling Gondang Wetan 4-10 Beji 3-11 Sukorejo Kejayan Rembang Kraton Kepulungan Purwosari Lumbang Lekok Karangrejo Rejoso Ambal-ambil Bangil Ngempit - 2 Total Metode Pengamatan Semi Aktif Responden pada metode pengamatan semi aktif adalah penderita kusta yang telah selesai pengobatan (dinyatakan RFT) yang tersebar di 10 puskesmas di Kabupaten Pasuruan. Pada metode pengamatan semi aktif, terdapat 37 responden yang aktif datang ke puskesmas dan terdapat 41 responden yang pernah dikunjungi oleh petugas puskesmas. Responden yang datang ke puskesmas mendaftarkan diri dan mengambil kartu register keluarga (family folder) di loket tanpa membayar biaya registrasi. Setelah mendapat kartu dari petugas loket, responden kemudian menemui petugas kusta puskesmas di ruang pelayanan. Ruang
105 86 pelayanan untuk kusta di setiap puskesmas berbeda. Ada puskesmas yang memiliki ruangan khusus untuk pelayanan kusta, ada pula yang menjadi satu dengan ruang balai pengobatan, ruang laboratorium, atau ruang unit gawat darurat. Waktu pelayanan petugas kusta kepada responden bervariasi, berkisar 23 hingga 130 menit tergantung pada pelayanan apa saja yang diberikan. Setiap petugas puskesmas memberikan pelayanan berupa anamnesa, penjelasan mengenai reaksi, penjelasan mengenai perawatan diri, melakukan pemeriksaan fungsi saraf dan tatalaksana reaksi sebagai pencegahan cacat, perawatan luka, dan melakukan demo rawat diri kepada responden. Beberapa petugas memberikan pelayanan tambahan yaitu mengambil kartu kusta, melakukan pemeriksaan tanda utama kusta (cardinal sign), memberikan alat untuk perawatan dan pelindung diri, menyerahkan obat atau vitamin secara langsung, melakukan konseling, dan memberikan motivasi untuk datang ke Kelompok Perawatan Diri (KPD). Petugas kusta di tiga puskesmas dibantu oleh petugas apotik dalam memberikan pelayanan penyerahan obat atau vitamin. Pelayanan tindakan dan obat tidak dipungut biaya. Alur pelayanan pada metode pengamatan semi aktif yang datang ke puskesmas dapat dilihat pada gambar 5.1. Petugas kusta puskesmas yang akan berkunjung ke rumah responden meluangkan waktu kurang lebih 5 hingga 15 menit untuk mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa. Perlengkapan tersebut diantaranya adalah kartu penderita, form pemeriksaan fungsi saraf dan tatalaksana reaksi, buku catatan, bolpoin, leaflet, kapas, gunting, plester, kasa, obat-obatan, alat bantu/pelindung, bahan untuk perawatan diri, dan tensimeter. Hampir seluruh petugas kusta puskesmas pada metode pengamatan semi aktif menggunakan sepeda motor pribadi untuk mengunjungi rumah responden. Waktu tempuh yang dibutuhkan adalah 15 hingga 30 menit dengan biaya transpor yang dikeluarkan sebesar rupiah. Beberapa petugas kusta puskesmas mengunjungi responden bersama dengan mitra kerja diantaranya bidan desa, tenaga admnistrasi, atau kader. Seluruh petugas kusta saat berkunjung ke rumah responden memberikan pelayanan berupa anamnesa, penjelasan mengenai reaksi, penjelasan
106 87 mengenai perawatan diri, melakukan pemeriksaan fungsi saraf dan tatalaksana reaksi sebagai pencegahan cacat, perawatan luka, dan melakukan demo rawat diri kepada responden. Terdapat beberapa petugas yang juga memberikan pelayanan tambahan seperti mengambil kartu register keluarga (family folder), kartu kusta, melakukan pemeriksaan tanda utama kusta (cardinal sign), memberikan alat untuk perawatan dan pelindung diri, menyerahkan obat atau vitamin secara langsung, melakukan konseling, dan memberikan motivasi untuk datang ke Kelompok Perawatan Diri (KPD). Waktu yang diluangkan untuk memberikan pelayanan saat berkunjung ke rumah responden berkisar 47 hingga 135 menit. Alur pelayanan responden pada metode pengamatan semi aktif saat petugas melakukan kunjungan ke rumah penderita dapat dilihat pada gambar 5.2. Gambar 5.1 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Semi Aktif Penderita datang Penderita pulang Administrasi Puskesmas Petugas Kusta Apotik/ Loket Obat Pendaftaran Mengambil kartu register keluarga (family folder) Keterangan : Anamnesa Penjelasan tanda-tanda reaksi Penjelasan pentingnya perawatan diri Pemeriksaan fungsi saraf & tatalaksana reaksi Perawatan luka akibat kusta Demo perawatan diri Mengambil kartu khusus penderita kusta Pemeriksaan tanda utama (cardinal sign) kusta Penyerahan vitamin /obat secara langsung Memberikan alat perawatan dan pelindung diri Melakukan konseling Memberikan motivasi untuk datang ke Kelompok Perawatan Diri (KPD) = aktivitas pasti dilakukan = aktivitas belum tentu dilakukan Memberikan vitamin/ obat
107 88 Gambar 5.2 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang dikunjungi oleh Puskesmas pada Metode Pengamatan Semi Aktif Persiapan Petugas Petugas Datang Petugas Kusta di Rumah Penderita Petugas Pulang Keterangan : Anamnesa Penjelasan tanda-tanda reaksi Penjelasan pentingnya perawatan diri Pemeriksaan fungsi saraf dan tatalaksana reaksi/ neuritis Penanganan dan perawatan luka akibat kusta Demo perawatan diri Mengambil kartu register keluarga (family folder) Mengambil kartu khusus penderita kusta Pemeriksaan tanda utama (cardinal sign) kusta Penyerahan vitamin atau obat secara langsung kepada penderita Memberikan alat perawatan dan pelindung diri Melakukan konseling Memberikan motivasi untuk datang ke Kelompok Perawatan Diri = aktivitas pasti dilakukan = aktivitas belum tentu dilakukan Metode Pengamatan Pasif Responden pada metode pengamatan pasif adalah penderita kusta yang telah selesai pengobatan (dinyatakan RFT) yang tersebar di 14 puskesmas di Kabupaten Pasuruan. Pada metode pengamatan pasif, terdapat 7 responden yang aktif datang ke 5 puskesmas. Responden yang datang ke puskesmas langsung ke bagian loket untuk mendaftarkan diri dan mengambil kartu register keluarga (family folder) tanpa membayar biaya registrasi. Setelah mendapat kartu dari petugas loket, responden kemudian menemui petugas kusta puskesmas di ruang pelayanan. Seluruh puskesmas memiliki ruangan khusus untuk
108 89 pelayanan kusta. Waktu pelayanan petugas kusta kepada responden bervariasi, berkisar 47 hingga 153 menit tergantung pada pelayanan apa saja yang diberikan. Setiap petugas puskesmas mengambil kartu kusta, melakukan anamnesa, memberikan penjelasan mengenai reaksi, penjelasan mengenai perawatan diri, perawatan luka, dan menyerahkan obat atau vitamin secara langsung kepada responden. Pelayanan tindakan dan obat tidak dipungut biaya. Beberapa petugas memberikan pelayanan tambahan yaitu, melakukan pemeriksaan tanda utama kusta, melakukan pemeriksaan fungsi saraf dan tatalaksana reaksi sebagai pencegahan cacat, memberikan alat untuk perawatan dan pelindung diri, melakukan demo rawat diri, dan melakukan konseling. Alur pelayanan responden pada metode pengamatan pasif yang datang ke puskesmas dapat dilihat pada gambar 5.3. Gambar 5.3 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Pasif Penderita datang Administrasi Puskesmas Petugas Kusta Penderita pulang Pendaftaran Mengambil kartu register keluarga (family folder) Mengambil kartu khusus penderita kusta Anamnesa Penjelasan tanda-tanda reaksi Penjelasan pentingnya perawatan diri Perawatan luka akibat kusta Memberikan vitamin/ obat secara langsung kepada penderita Pemeriksaan tanda utama kusta Pemeriksaan fungsi saraf & tatalaksana reaksi Demo perawatan diri Memberikan alat perawatan & pelindung diri Melakukan konseling Keterangan : = aktivitas pasti dilakukan = aktivitas belum tentu dilakukan
109 90 Pada metode pengamatan pasif tidak ada responden yang mendapat kunjungan dari petugas kusta puskesmas. Hal ini sesuai dengan deskripsi pengamatan pasif bahwa petugas tidak diwajibkan melakukan kunjungan ke rumah penderita apabila penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan dan masih dalam masa pengamatan tidak datang ke puskesmas untuk memeriksakan diri secara dini. 5.2 Hubungan Metode Pengamatan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Tabel 5.2 Hubungan antara Metode Pengamatan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Jenis Metode Pengamatan Setelah Selesai Pengobatan Kusta Metode Pengamatan Semi Aktif Pengendalian Tingkat Cacat Ya Tidak Total OR (95%CI) n % n % n % 42 97,7 1 2, ,6 (1,145-80,517) Metode Pengamatan 35 81,4 8 18, Pasif Jumlah 77 89,5 9 10, p Value 0,030 Tabel 5.2 menyajikan data distribusi dan hubungan metode pengamatan dengan pengendalian tingkat cacat. Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa pada metode pengamatan semi aktif hanya ada 1 responden (2,3%) dari 43 responden yang tingkat cacatnya tidak dapat dikendalikan. Sedangkan pada metode pengamatan pasif, dari 43 responden masih terdapat 8 responden (18,6%) yang tingkat cacatnya tidak dapat dikendalikan. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square, diperoleh p=0,030 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan pengendalian tingkat cacat antara metode pengamatan semi aktif dengan metode pengamatan pasif. Hasil uji juga menunjukkan nilai OR=9,6 yang berarti bahwa penderita pada metode pengamatan pasif memiliki peluang 9,6 kali untuk tidak dapat dikendalikan tingkat cacatnya dibandingkan dengan penderita pada metode pengamatan semi aktif.
110 Hubungan Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan, Pencegahan Cacat, dan Perawatan Diri Hubungan Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan Tabel 5.3 Hubungan antara Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Jenis Metode Tingkat Pengetahuan Pengamatan Setelah Total Tinggi Rendah OR (95% CI) Selesai Pengobatan Kusta n % n % n % Metode Pengamatan 35 81,4 8 18, ,804 Semi Aktif (1,436-10,078) Metode Pengamatan 23 53, , Pasif Jumlah 58 67, , p Value 0,011 Tabel 5.3 memperlihatkan bahwa responden pada metode pengamatan semi aktif lebih banyak yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi mengenai kecacatan pada kusta yaitu sebanyak 35 orang (81,4%). Pada metode pengamatan pasif, jumlah responden yang memiliki pengetahuan tinggi mengenai kecacatan pada kusta (23 orang) tidak jauh berbeda dengan jumlah responden yang memiliki pengetahuan rendah (20 orang). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh α < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat pengetahuan responden pada metode pengamatan semi aktif dengan tingkat pengetahuan responden pada metode pengamatan pasif. Nilai OR=3,804 menyatakan bahwa penderita pada metode pengamatan pasif memiliki peluang 3,8 kali lebih rendah pengetahuannya daripada penderita pada metode pengamatan semi aktif.
111 Hubungan Metode Pengamatan dengan Pencegahan Cacat Tabel 5.4 Hubungan antara Metode Pengamatan dengan Pencegahan Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Jenis Metode Pengamatan Setelah Selesai Pengobatan Kusta Metode Pengamatan Semi Aktif Pencegahan Cacat Ya Tidak Total n % n % n % OR (95% CI) 41 95,3 2 4, (56, ,686) 2 4, , Metode Pengamatan Pasif Jumlah p Value 0,000 Pada Tabel tersebut dapat dilihat bahwa pada metode pengamatan semi aktif, responden yang mendapat pencegahan cacat mencapai 95,3 % (41 responden). Jumlah tersebut jauh lebih besar daripada jumlah responden yang tidak mendapat pencegahan cacat (2 responden). Sebaliknya, pada metode pengamatan pasif jumlah responden yang mendapat pencegahan cacat hanya 4,7% (2 responden) dan responden yang tidak mendapat pencegahan cacat sebanyak 95,3 % (41 responden). Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square, diperoleh α < 0,05 yaitu terdapat perbedaan perilaku pencegahan cacat antara metode pengamatan semi aktif dengan metode pengamatan pasif. Nilai OR=420,250 menyatakan bahwa penderita pada metode pengamatan pasif memiliki peluang 420 kali untuk tidak mendapat pencegahan cacat dibandingkan penderita pada metode pengamatan semi aktif.
112 Hubungan Metode Pengamatan dengan Perawatan Diri Tabel 5.5 Hubungan antara Metode Pengamatan dengan Perawatan Diri di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Jenis Metode Pengamatan Setelah Selesai Pengobatan Kusta Metode Pengamatan Semi Aktif Perawatan Diri Ya Tidak Total n % n % n % OR (95% CI) 42 97,7 1 2, ,522 (4, ,926) 23 53, , Metode Pengamatan Pasif Jumlah 65 75, , p Value 0,000 Berdasarkan tabel, responden pada metode pengamatan semi aktif lebih banyak yang melakukan perawatan diri yaitu sebanyak 42 orang (97,7%). Sedangkan pada metode pengamatan pasif, jumlah responden yang melakukan perawatan diri (23 orang) tidak jauh berbeda dengan jumlah responden yang tidak melakukan perawatan diri (20 orang). Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square, dapat dilihat p value yang dihasilkan adalah 0,000. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan perilaku perawatan diri antara metode pengamatan semi aktif dengan metode pengamatan pasif. Nilai OR yang dihasilkan adalah 36,522. Nilai tersebut menyatakan bahwa penderita pada metode pengamatan pasif memiliki peluang 36 kali untuk tidak melakukan perawatan diri dibandingkan dengan penderita pada metode pengamatan semi aktif. 5.4 Hubungan Umur, Tingkat Pendidikan, Tingkat Pengetahuan, Tingkat Sosial Ekonomi, Tipe Kusta, Riwayat Reaksi, Pencegahan Cacat, dan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Umur dengan Pengendalian Tingkat Cacat Umur responden pada penelitian ini diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok umur < 15 tahun dan kelompok umur 15 tahun.
113 94 Distribusi dan hubungan antara umur dengan pengendalian tingkat cacat disajikan pada tabel 5.6. Tabel 5.6 Hubungan antara Umur dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Kelompok Umur Pengendalian Tingkat Cacat Ya Tidak Total n % N % n % OR (95% CI) p Value < 15 Tahun , Tahun 74 89,2 9 10, Jumlah 77 89,5 9 10, Berdasarkan tabel tersebut, jumlah responden berumur < 15 tahun yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan adalah 3 orang (100%) dan tidak ada responden yang cacatnya tidak dapat dikendalikan. Sedangkan pada responden yang berumur 15 tahun, terdapat 74 responden (89,2%) yang cacatnya dapat dikendalikan dan 9 responden (10,8%) yang cacatnya tidak dapat dikendalikan. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square, diperoleh α > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan pengendalian tingkat cacat Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Tabel 5.7 Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Tingkat pendidikan Pengendalian Tingkat Cacat Ya Tidak Total n % N % n % OR (95% CI) p Value Tinggi 18 90, ,000 Rendah 59 89,4 7 10, Jumlah 77 89,5 9 10, Tabel tersebut menunjukkan bahwa 90% responden berpendidikan tinggi (18 orang) dapat dikendalikan tingkat cacatnya dan terdapat 2
114 95 responden (10%) yang tingkat cacatnya tidak dapat dikendalikan. Pada responden dengan tingkat pendidikan rendah, sebagian besar responden (89,4%) dapat dikendalikan tingkat cacatnya dan hanya 7 orang (10,6%) yang tingkat cacatnya tidak dapat dikendalikan. Berdasarkan hasil analisis, p value yang diperoleh adalah 1,000. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengendalian tingkat cacat Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Tabel 5.8 Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Tingkat Pengetahuan Pengendalian Tingkat Cacat Ya Tidak Total n % N % n % OR (95% CI) p Value Tinggi 50 86,2 8 13, ,260 Rendah 27 96,4 1 3, Jumlah 77 89,5 9 10, Pada Tabel 5.8 dapat dilihat pada responden dengan tingkat pengetahuan tinggi mengenai kecacatan pada kusta, lebih banyak responden yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan (86%). Begitu pula dengan responden yang memiliki tingkat pengetahuan rendah, jumlah responden yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan (27 orang) lebih banyak daripada jumlah responden yang tingkat cacatnya tidak dapat dikendalikan (27 orang). Berdasarkan hasil analisis diperoleh p=0,260, artinya tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan pengendalian tingkat cacat Hubungan Tingkat Ekonomi dengan Pengendalian Tingkat Cacat Tingkat ekonomi responden pada penelitian ini diukur dari besarnya biaya yang dikeluarkan rumah tangga responden per bulan per orang. Pada tabel berikut, disajikan distribusi dan hubungan antara tingkat ekonomi dengan pengendalian tingkat cacat.
115 96 Tabel 5.9 Hubungan antara Tingkat Ekonomi dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Tingkat Sosial Ekonomi Pengendalian Tingkat Cacat Ya Tidak Total n % N % n % Tinggi OR p Value (95% CI) - 1,000 Rendah 70 88,6 9 11, Jumlah 77 89,5 9 10, Pada tabel dapat dilihat bahwa jumlah responden dengan tingkat sosial ekonomi tinggi adalah 7 responden dan ternyata tingkat cacat dari seluruh responden dapat dikendalikan. Sedangkan pada responden dengan tingkat ekonomi rendah, jumlah responden yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan adalah 70 orang (88,6%) dan 9 orang lainnya (11,4%) tidak dapat dikendalikan tingkat cacatnya. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square, diperoleh α > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat ekonomi dengan pengendalian tingkat cacat Hubungan Tipe Kusta dengan Pengendalian Tingkat Cacat Tabel 5.10 Hubungan antara Tipe Kusta dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Tipe Kusta Pengendalian Tingkat Cacat Ya Tidak Total n % N % n % OR (95% CI) p Value PB ,000 MB 75 89,3 9 10, Jumlah 77 89,5 9 10, Tabel 5.10 menggambarkan bahwa seluruh responden dengan tipe PB (2 orang) dapat dikendalikan tingkat cacatnya. Pada penderita kusta tipe MB, jumlah responden dengan tingkat cacat yang dapat dikendalikan (75 orang) lebih besar dibandingkan jumlah responden dengan tingkat cacat
116 97 tidak dapat dikendalikan (9 orang). Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji chi-square, diperoleh p value sebesar 1,000. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tipe kusta dengan pengendalian tingkat cacat Hubungan Riwayat Reaksi dengan Pengendalian Tingkat Cacat Tabel 5.11 Hubungan antara Riwayat Reaksi dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Riwayat Reaksi Pengendalian Tingkat Cacat Ya Tidak Total n % N % n % OR (95% CI) p Value Tidak 56 87,5 8 12, ,437 Ya 21 95,5 1 4, Jumlah 77 89,5 9 10, Pada responden yang tidak memiliki riwayat reaksi, jumlah responden dengan tingkat cacat dapat dikendalikan lebih besar daripada responden dengan tingkat cacat tidak dapat dikendalikan yaitu masingmasing sebanyak 56 responden dan 8 responden. Pada responden yang memiliki riwayat reaksi, jumlah responden dengan tingkat cacat dapat dikendalikan juga lebih besar yaitu sebanyak 21 responden (95,5%) dan hanya ada 1 responden saja (4,5%) yang tingkat cacatnya tidak dapat dikendalikan. Berdasarkan hasil analisis, p value yang diperoleh sebesar 0,437 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara riwayat reaksi dengan tingkat cacat yang dapat dikendalikan.
117 Hubungan Pencegahan Cacat dengan Pengendalian Tingkat Cacat Tabel 5.12 Hubungan antara Pencegahan Cacat dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Pencegahan Cacat Pengendalian Tingkat Cacat Ya Tidak Total n % N % n % OR (95% CI) Ya 42 97,7 1 2, ,6 (1,145-80,517) Tidak 35 81,4 8 18, Jumlah 77 89,5 9 10, p Value 0,030 Pada Tabel 5.12 dapat dilihat bahwa pada responden yang mendapat pencegahan cacat, terdapat 42 responden (97,7%) yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan dan hanya 1 responden (2,3%) yang tingkat cacatnya tidak dapat dikendalikan. Pada responden yang tidak mendapat pencegahan, terdapat 35 responden (81,4%) dengan tingkat cacat dapat dikendalikan dan 8 responden (18,6%) dengan tingkat cacat tidak dapat dikendalikan. responden yang tidak mendapat pencegahan cacat sebanyak 95,3 % (41 responden). Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square, diperoleh p=0,030 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pengendalian tingkat cacat antara penderita yang mendapat pencegahan cacat dengan penderita yang tidak mendapat pencegahan cacat. Nilai OR=9,6 menyatakan bahwa penderita yang tidak mendapat pencegahan cacat memiliki peluang 9,6 kali untuk tidak dapat dikendalikan tingkat cacatnya dibandingkan dengan penderita yang mendapat pencegahan cacat.
118 Hubungan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat Tabel 5.13 Hubungan antara Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Perawatan Diri Pengendalian Tingkat Cacat Ya Tidak Total n % N % n % OR (95% CI) Ya 64 98,5 1 1, ,385 (4, ,424) Tidak 13 61,9 8 38, Jumlah 77 89,5 9 10, p Value 0,000 Pada tabel dapat dilihat bahwa pada responden yang melakukan perawatan diri, lebih banyak responden yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan (64 orang) dibandingkan dengan responden yang tingkat cacatnya tidak dapat dikendalikan (1 orang). Sedangkan pada responden yang tidak melakukan perawatan diri, jumlah responden dengan tingkat cacat dapat dikendalikan sebanyak 13 responden dan 8 responden yang tingkat cacatnya tidak dapat dikendalikan. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square, dapat dilihat p value yang dihasilkan adalah 0,000. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengendalian nilai cacat dengan perawatan diri. Nilai OR yang dihasilkan adalah 39,385. Nilai tersebut menyatakan bahwa penderita yang tidak melakukan perawatan diri memiliki peluang 39 kali untuk tidak dapat dikendalikan tingkat cacatnya dibandingkan dengan penderita yang melakukan perawatan diri. 5.5 Faktor yang Paling Berpengaruh terhadap Pengendalian Tingkat Cacat Sebelum melakukan analisis multivariat, faktor-faktor yang diprediksi berhubungan telah dilakukan seleksi dengan analisis bivariat. Faktor-faktor tersebut yang masuk pada model multivariat adalah faktor yang dari hasil uji bivariatnya diperoleh p value 0,25. Tabel 5.14 menyajikan data mengenai faktor yang berhubungan dengan pengendalian tingkat cacat yang masuk pada model awal multivariat yaitu variabel perawatan diri dan pencegahan cacat.
119 100 Tabel 5.14 Model Awal Uji Multivariat terhadap Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun ,0% C.I.for EXP(B) B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper Step 1 a Cgh_cct Rwt_diri Constant Setelah dilakukan analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda, diperoleh model terakhir yang disajikan pada tabel berikut. Tabel 5.15 Model Akhir Uji Multivariat terhadap Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun ,0% C.I.for EXP(B) B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper Step 1 a Rwt_diri Constant Berdasarkan tabel 5.15, dapat dilihat bahwa hanya terdapat 1 faktor yang berhubungan signifikan dengan pengendalian tingkat cacat dari hasil uji multivariat yaitu faktor perawatan diri dan tidak terdapat variabel interaksi maupun variabel perancu (confounding). Nilai OR yang dihasilkan adalah 39,385. Nilai tersebut menyatakan bahwa penderita yang tidak melakukan perawatan diri memiliki peluang 39 kali untuk tidak dapat dikendalikan tingkat cacatnya dibandingkan dengan penderita yang melakukan perawatan diri. Hasil analisis hubungan bivariat dan multivariat, memperlihatkan hubungan antara metode pengamatan dengan perawatan diri dan hubungan anatara perawatan diri dengan pengendalian tingkat cacat. Hubungan tersebut berikut proporsinya dapat disajikan pada Pohon Keputusan (Decision Tree) gambar 5.4.
120 101 Gambar 5.4 Pohon Keputusan (Decision Tree) Probabilitas Cacat Dapat Dikendalikan 0,54 Melakukan Perawatan Diri N=43 (0,54) N=23 (1,0) Cacat Tidak Dapat Dikendalikan 0 Pengamatan Pasif N=23 (0) Penderita Kusta Setelah Selesai Pengobatan N=43 Tidak Melakukan Perawatan Diri N=43 (0,46) Cacat Dapat Dikendalikan N=20 (0,6) Cacat Tidak Dapat Dikendalikan N=20 (0,4) Cacat Dapat Dikendalikan 0,276 0,184 0,96 Melakukan Perawatan Diri N=43 (0,98) N=42 (0,98) Cacat Tidak Dapat Dikendalikan 0,02 Pengamatan Semi Aktif N=42 (0,02) N=43 Tidak Melakukan Perawatan Diri N=43 (0,02) Cacat Dapat Dikendalikan N=1 (1,0) Cacat Tidak Dapat Dikendalikan 0,02 0 N=1 (0)
121 Biaya Biaya metode pengamatan semi aktif dan pengamatan pasif pada penelitian ini digambarkan pada tabel Tabel 5.16 Gambaran Biaya Program dan Penderita pada metode Pengamatan Semi Aktif dan Metode Pengamatan Pasif di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 Jenis Biaya Pengamatan Pengamatan Semi Aktif Pasif I. Biaya Program , ,49 A Biaya Langsung , ,95 1 Biaya Investasi , ,30 a Biaya Pemakaian Ruang Kusta , ,15 b Biaya Pemakaian Alat Medis/ Non Medis , ,15 2 Biaya Operasional , ,49 a Biaya Tenaga Pelayanan Kusta , ,48 b Biaya Bahan Habis Pakai , ,10 c Biaya Pemakaian Obat , ,10 d Biaya Transportasi Petugas ,00 - e Biaya Komunikasi dengan Penderita , ,81 f Biaya Listrik dan Air , ,00 g Biaya Pembelian Alat dan Bahan Perawatan dan Perlindungan Diri untuk penderita , ,00 3 Biaya Pemeliharaan , ,16 B. Biaya Tidak Langsung , ,54 1 Biaya Tenaga (SDM Non Ptgs Kusta Puskesmas, Dinkes atau Pusat) , ,00 2 Biaya Koordinasi Dinkes Kab dengan Puskesmas , ,27 3 Biaya Monitoring dan Evaluasi kegiatan Dinkes Prov ,00-4 Biaya Pelatihan , ,45 5 Biaya Administrasi Umum , ,82 II Biaya Penderita , ,00 Biaya Langsung , ,00 1 Biaya Pengobatan dan Tindakan , ,00 2 Biaya Pembelian Alat dan Bahan Perawatan dan Perlindungan Diri , ,00 3 Biaya Transportasi Penderita , ,00 Total Biaya , ,49
122 Rasio Efektivitas Biaya dalam Pengendalian Tingkat Cacat Rasio efektivitas biaya tambahan dalam pengendalian tingkat cacat pada metode pengamatan semi aktif dengan pengamatan pasif adalah : C (Rp ,63 - Rp ,49) ICER = = E (41-23) Rp ,14 = = Rp Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa rasio efektivitas biaya untuk mengendalikan tingkat cacat pada seorang penderita yang telah selesai pengobatan pada metode pengamatan semi aktif adalah sebesar Rp Biaya tersebut apabila dibandingkan dengan threshold ratio berdasarkan WHO (GDP per capita = US$ 3,495), diperoleh hasil bahwa rasio efektivitas biaya metode pengamatan semi aktif kurang dari satu kali GDP per capita. Metode pengamatan semi aktif merupakan intervensi yang efektif biayanya tinggi terhadap pengamatan pasif dalam mengendalikan tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan.
123 BAB 6 PEMBAHASAN 6.1 Hubungan Metode Pengamatan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hasil analisis bivariat terhadap metode pengamatan dengan pengendalian tingkat cacat pada penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan dengan nilai OR sebesar 9,6. Hasil analisis ini sesuai dengan tujuan pengamatan semi aktif menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan (2011), yaitu menurunkan kejadian kecacatan atau bertambah buruknya kecacatan pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. Pengamatan semi aktif perlu dilakukan untuk mengurangi beban kecacatan penderita kusta setelah selesai pengobatan. Kecacatan dapat dikurangi dan penderita kusta dapat dibantu secara lebih efektif dan efisien dengan menerapkan suatu sistem yang memungkinkan penderita kusta setelah selesai pengobatan untuk tetap berhubungan dengan Puskesmas selama penderita tersebut membutuhkan bimbingan untuk mengatasi kecacatan yang dialami. 6.2 Hubungan Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan, Pencegahan Cacat, dan Perawatan Diri Berdasarkan hasil analisis bivariat terhadap variabel metode pengamatan dengan variabel tingkat pengetahuan, pencegahan cacat, dan perawatan diri diperoleh hubungan yang signifikan antara metode pengamatan dengan 3 variabel tersebut. Responden pada pengamatan pasif memiliki peluang untuk tidak melakukan perawatan diri, tidak mendapatkan pencegahan cacat, dan lebih rendah tingkat pengetahuannya apabila dibandingkan dengan metode pengamatan semi aktif. Metode pengamatan semi aktif bertujuan agar penderita tetap memiliki hubungan dengan petugas puskesmas selama penderita masih berisiko, penderita mampu melakukan perawatan diri secara teratur tiap hari, dan penderita mendapatkan bantuan dalam mengatasi masalah medis yang ada (Kemenkes RI, 2010). 104
124 105 Kepedulian petugas puskesmas untuk melakukan kunjungan ke rumah penderita apabila penderita tidak datang ke puskesmas cukup mendukung peningkatan pengetahuan, perilaku perawatan diri, dan pencegahan cacat. Pada pengamatan semi aktif, petugas selalu melakukan pemeriksaan fungsi saraf dan tata laksana reaksi serta memberikan demo perawatan diri kepada penderita yang telah selesai pengobatan, baik di puskesmas maupun di rumah penderita sebagaimana telah dijelaskan pada gambaran metode pengamatan semi aktif (sub bab 5.1.1). 6.3 Hubungan Umur, Tingkat Pendidikan, Tingkat Pengetahuan, Tingkat Sosial Ekonomi, Tipe Kusta, Riwayat Reaksi, Pencegahan Cacat, dan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hubungan Umur dengan Pengendalian Tingkat Cacat Analisis bivariat terhadap hubungan umur dengan pengendalian tingkat cacat membuktikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna. Hasil pada penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurnianto (2002), namun bertentangan dengan Susanto (2006) dan Moshioni (2010) yang menyatakan ada hubungan yang bermakna secara statistik antara umur dengan tingkat cacat. Hubungan yang tidak bermakna pada penelitian ini mungkin disebabkan adanya distribusi umur yang tidak normal. Jumlah responden usia < 15 tahun sangat sedikit yaitu hanya 3 orang dari 86 responden yang diteliti, sehingga tidak dapat mewakili kelompok umur yang diteliti Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Berdasarkan hasil uji chi-square pada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengendalian tingkat cacat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan. Hal ini bertentangan dengan penelitian Susanto (2006) dan Moshioni (2010) yang menyatakan pendidikan sebagai faktor yang berhubungan dengan tingkat cacat. Perbedaan hasil analisis mungkin terjadi karena adanya perbedaan kriteria dalam mengelompokkan tingkat pendidikan.
125 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Pengendalian Tingkat Cacat Penelitian yang dilakukan oleh Saputri (2009) menunjukkan bahwa pengetahuan penderita tentang kecacatan berhubungan dengan kecacatan. Namun hal ini tidak terbukti pada hasil analisis hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat cacat pada penelitian ini karena p value yang diperoleh adalah 0,260. Hubungan yang tidak bermakna secara statistik antara tingkat pengetahuan dengan pengendalian tingkat cacat dimungkinkan karena tingkat pengetahuan responden tidak selalu mendorong timbulnya sikap dan perilaku penderita dalam mencegah terjadinya cacat baru atau cacat yang memburuk, dalam hal ini peran keluarga juga mempengaruhi (Universitas Diponegoro, 2002) Hubungan Tingkat Ekonomi dengan Pengendalian Tingkat Cacat Menurut Smith (1992), status ekonomi yang kurang diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko terjadinya kecacatan. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Saputri (2009) dan Kurnianto (2002). Pernyataan mengenai hubungan tingkat ekonomi dengan tingkat cacat tidak terbukti pada penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis bivariat, diperoleh α > 0,05 yang berarti tidak ada hubungan antara tingkat ekonomi dengan pengendalian tingkat cacat. Hal ini mungkin disebabkan jumlah responden yang memiliki tingkat ekonomi tinggi hanya 7 orang dari 86 orang yang diteliti. Selain itu itu penentuan kriteria dalam pengelompokkan tingkat ekonomi juga mempengaruhi perbedaan hasil analisis Hubungan Tipe Kusta dengan Pengendalian Tingkat Cacat Tipe kusta menjadi salah satu faktor yang dibuktikan berhubungan dengan kecacatan pada penelitian Susanto (2006). Banyaknya kuman kusta pada penderita tipe MB menyebabkan terjadinya infiltrasi langsung ke susunan saraf tepi yang dapat menimbulkan kerusakan fungsi saraf (Depkes RI, 2007). Namun adanya hubungan signifikan tersebut tidak dapat
126 107 dibuktikan pada penelitian ini. Nilai p value (1,000) yang dihasilkan dari analisis bivariat menggunakan uji chi-square menyatakan tidak ada hubungan antara tipe kusta pada penderita dengan pengendalian tingkat cacat. Hal ini dikarenakan jumlah responden kusta tipe PB dalam penelitian ini sangat sedikit (2 orang) dibandingkan jumlah responden kusta tipe MB (84 orang) Hubungan Riwayat Reaksi dengan Pengendalian Tingkat Cacat Hasil analisis bivariat antara riwayat reaksi dengan pengendalian tingkat cacat pada penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan. Hal ini tidak sesuai dengan hasil beberapa penelitian yang menyatakan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara riwayat reaksi dengan kecacatan (Universitas Diponegoro, 2002; Susanto, 2006; Universitas Negeri Semarang, 2009). Perbedaan hasil penelitian mungkin disebabkan reaksi yang terjadi terhadap responden pada penelitian ini tidak berlangsung serius sampai menimbulkan kecacatan. Sebagaimana dinyatakan oleh Martodihardjo dan Susanto (2003), reaksi dapat menimbulkan kecacatan apabila tidak ditangani dengan tepat. Pada penelitian ini, sebagian besar reaksi yang terjadi pada responden telah ditangani dengan tepat Hubungan Pencegahan Cacat dengan Pengendalian Tingkat Cacat Pada hasil penelitiannya, Saputri (2009) dan Kurnianto (2002) menyatakan adanya hubungan antara pencegahan cacat dengan kecacatan yang terjadi. Penelitian ini juga membuktikan bahwa hubungan antara pencegahan cacat dengan pengendalian tingkat cacat adalah bermakna secara statistik, dengan OR sebesar 9,6. Responden yang tidak mendapatkan pencegahan cacat memiliki peluang 9,6 kali untuk tidak dapat dikendalikan tingkat cacatnya. Menurut Srinivasan (1994), beberapa cacat pada kusta bersifat sementara namun dapat menjadi permanen apabila diabaikan. Oleh karena itu, diagnosis dini dan tatalaksana reaksi atau neuritis serta pemeriksaan
127 108 fungsi saraf yang dilakukan oleh petugas sebagai bentuk pencegahan cacat merupakan hal yang penting Hubungan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat Perawatan diri merupakan salah satu faktor pada penelitian ini yang dinyatakan memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan pengendalian tingkat cacat. OR yang diperoleh dari uji chi-square adalah 39,385, yang artinya penderita yang tidak melakukan perawatan diri memiliki peluang 39 kali untuk tidak dapat dikendalikan tingkat cacatnya. Hasil dari penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Susanto (2006) dan Kurnianto (2002). ILEP (2006) menyatakan bahwa orang yang menderita kusta dapat melindungi dirinya dari kerusakan lebih lanjut apabila memiliki kebiasaan rawat diri yang baik. Kebutuhan yang ditekankan pada perawatan diri adalah kesadaran, periksa pandang, dan proteksi. 6.4 Faktor yang Paling Berpengaruh terhadap Pengendalian Tingkat Cacat Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh 2 variabel yang berhubungan secara bermakna dengan pengendalian tingkat cacat, yaitu variabel pencegahan cacat dan perawatan diri. Namun setelah diuji multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda, hasilnya menyatakan bahwa hanya perawatan diri yang memiliki pengaruh terhadap pengendalian tingkat cacat tanpa adanya variabel interaksi maupun variabel perancu (confounding) dengan OR =39,385. Variabel metode pengamatan berhubungan dengan pengendalian tingkat cacat namun tidak mempengaruhi pengendalian tingkat cacat secara langsung. Hasil analisis bivariat metode pengamatan dengan perawatan diri diperoleh adanya hubungan yang signifikan (sub bab 5.3.3). Perbedaan metode pengamatan mendorong perbedaan terjadinya perawatan diri yang merupakan faktor tunggal yang mempengaruhi pengendalian tingkat cacat. Pada metode pengamatan semi aktif, petugas tidak hanya memberikan informasi mengenai pentingnya perawatan diri saat penderita datang ke
128 109 puskesmas tetapi juga memberikan contoh cara melakukan perawatan diri (Gambar 5.1). Petugas juga melakukan kunjungan ke rumah untuk melihat kondisi penderita apabila penderita tidak datang ke puskesmas pada waktu yang telah dijanjikan. Hal tersebut menyebabkan penderita pada pengamatan semi aktif lebih banyak yang melakukan perawatan diri. Variabel pencegahan cacat juga dinyatakan berhubungan dengan pengendalian tingkat cacat namun tidak berpengaruh saat dianalisis bersamasama dengan variabel perawatan diri. Hal ini kemungkinan karena adanya hubungan antara perawatan diri dengan pencegahan cacat. Hasil analisis bivariat menggunakan chi-square terhadap hubungan perawatan diri dengan pencegahan cacat diperoleh p value=0,000 dengan OR = 36,522. Pada penderita yang tidak melakukan perawatan diri memiliki peluang 36 kali untuk tidak mendapat pencegahan cacat. Adanya kesempatan untuk mendapat pencegahan cacat dari petugas sangat tergantung dari ada atau tidaknya pertemuan antara penderita dengan petugas. Responden yang melakukan perawatan diri biasanya menemui petugas kusta saat mereka tidak mampu mengatasi komplikasi penyakit di rumah dan meminta informasi dari petugas. Pada saat itulah petugas akan memberikan pencegahan cacat sesuai dengan kebutuhan penderita. Menurut ILEP (2006), orang yang harus mengembangkan kebiasaan rawat diri kusta adalah orang yang menderita kerusakan saraf dan orang yang berisiko mengalami reaksi (selama pengobatan dan selama sekurangnya 2 tahun setelah pengobatan). Penderita kusta akan selalu memiliki risiko kerusakan jaringan dan perubahan bentuk. Apabila memiliki kebiasaan rawat diri yang baik, orang yang menderita kusta dapat melindungi dirinya dari kerusakan lebih lanjut. Berdasarkan hasil penelitian, perawatan diri pada penderita yang telah menyelesaikan pengobatan merupakan faktor yang paling penting untuk ditingkatkan dan menjadi suatu kebutuhan bagi penderita agar dapat mengendalikan tingkat cacat selama hidupnya. Guna mewujudkan hal tersebut, penderita tidak mungkin dapat menggantungkan pencegahan cacat selama hidupnya kepada petugas kusta atau tenaga medis lainnya. Perlu
129 110 dilakukan suatu inovasi yang efektif biaya untuk mendorong perilaku perawatan diri pada penderita yang telah selesai pengobatan agar dapat mengendalikan tingkat cacat secara mandiri. Selain meningkatkan perawatan diri melalui metode pengamatan semi aktif dan melalui Kelompok Perawatan Diri (KPD), perawatan diri di rumah (home care) merupakan salah satu cara yang relatif murah. Namun untuk meningkat efektivitasnya cara ini perlu dimodifikasi karena seringkali penderita kurang termotivasi untuk melakukan perawatan diri di rumah. Modifikasi perawatan diri dapat dilakukan dengan pemberdayaan dalam bentuk Upaya Perawatan Berbasis Masyarakat (UPBM). Upaya Perawatan Berbasis Masyarakat (UPBM) menekankan pada pemberian informasi, pemberian kapasitas terhadap individu, dan kemandirian individu. Adapun Upaya Perawatan Berbasis Masyarakat meliputi : a. Informasi Risiko Kecacatan Memberikan informasi kepada penderita yang akan selesai pengobatan (RFT) mengenai faktor-faktor yang dapat menimbulkan kecacatan, tandatanda dini reaksi/neuritis atau luka yang dapat menyebabkan kecacatan, dan bentuk kecatatan yang dapat dialami. Selain memberikan informasi secara lisan, hendaknya terdapat poster yang dilengkapi dengan gambar dan keterangan singkat yang mudah diingat oleh penderita. Dengan demikian, penderita lebih waspada terhadap ancaman kecacatan. b. Informasi Cara Perawatan Diri dan Pemberian Paket Perlengkapan Memberikan informasi kepada penderita yang akan selesai pengobatan (RFT) mengenai cara-cara perawatan diri yang sesuai dengan kecacatan yang diderita atau sesuai dengan risiko kecacatan pada anggota tubuhnya. Informasi diperkuat dengan memberikan contoh secara langsung, memberikan paket lengkap alat dan perlengkapan perawatan diri untuk di rumah, dan lembar balik tentang cara perawatan diri dan perlindungan diri. Dengan demikian, penderita dapat melakukan perawatan diri secara mandiri di rumah.
130 111 c. Pembentukan Pengawas Cegah Cacat (PCC) Membentuk Pengawas Cegah Cacat (PCC) dari pihak keluarga atau orang terdekat dengan penderita yang bertugas membantu penderita untuk mengenali faktor-faktor yang dapat menimbulkan kecacatan, tanda-tanda dini reaksi/neuritis atau luka yang dapat menyebabkan kecacatan, dan bentuk kecatatan yang dapat dialami penderita serta cara-cara perawatan diri yang dapat dilakukan oleh penderita untuk mencegah hilangnya fungsi anggota tubuh atau mengembalikan sebanyak mungkin fungsi anggota tubuh. Sebaiknya Pengawas Cegah Cacat (PCC) ikut ke pelayanan kesehatan saat penderita akan dinyatakan selesai pengobatan (RFT) dan mendapatkan informasi langsung dari petugas kusta puskesmas. Pengawas Cegah Cacat (PCC) tidak hanya berfungsi mengingatkan namun juga memberikan motivasi bagi penderita. d. Informasi Kontak Pertolongan Pencegahan Cacat Memberikan informasi kepada penderita yang akan selesai pengobatan (RFT) mengenai siapa yang harus dihubungi dan kemana mereka harus datang apabila terdapat masalah terkait kecacatan yang tidak dapat mereka tangani sendiri. Perlu adanya klinik-klinik khusus untuk perawatan luka ataupun kecacatan yang menjadi bidang dari bagian keperawatan. Klinik tidak hanya dapat menangani perawatan pada penderita kusta namun juga dapat diintegrasikan untuk penanganan kasus kecelakaan umum, kecelakaan akibat kerja, perawatan luka pada penderita diabetes, dan kasus lain yang memerlukan perawatan secara intensif. Klinik sejenis ini telah ada di wilayah pulau bali. e. Pemantauan Terintegrasi Petugas dapat juga memantau kondisi penderita yang telah selesai pengobatan secara umum pada saat melakukan survei kontak untuk mencari kasus baru. Integrasi kegiatan pemantauan dengan kegiatan pencarian kasus baru dapat meminimalkan biaya pemantauan terhadap penderita yang telah selesai pengobatan yang dapat digunakan untuk kepentingan program.
131 Biaya Berdasarkan gambaran biaya yang dikeluarkan oleh kedua metode pada tabel 5.16 pada Bab 5, biaya yang dikeluarkan oleh metode pengamatan semi aktif relatif lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan oleh metode pengamatan pasif. Komponen biaya yang paling besar adalah biaya pemakaian obat (Rp ,00) pada pengamatan semi aktif. Besarnya biaya diakibatkan karena penderita pada pengamatan semi aktif lebih aktif datang ke puskesmas untuk memeriksakan diri dan mendapatkan obat. Apabila obat yang harus diminum telah habis, penderita akan kembali ke puskesmas untuk memeriksakan diri dan mendapatkan obat jika masih dibutuhkan. Biaya yang paling besar setelah biaya pemakaian obat adalah biaya monitoring dan evaluasi kegiatan dinas kesehatan provinsi pada pengamatan semi aktif (Rp ,00). Hal ini disebabkan karena pengamatan semi aktif masih merupakan suatu uji coba sehingga kegiatannya masih dipantau oleh dinas kesehatan provinsi. Besarnya biaya pada kedua komponen tersebut mempengaruhi besarnya biaya yang dibutuhkan dalam pengendalian kecacatan pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. Perlu dilakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya apabila kedua biaya tersebut dapat ditekan atau dihilangkan. Biaya obat pada pengamatan semi aktif dapat diturunkan dengan memberikan jumlah obat dan jenis obat sesuai kebutuhan penderita. Sedangkan biaya monitoring dan evaluasi kegiatan dinas kesehatan provinsi pada pengamatan semi aktif dapat dihilangkan apabila metode pengamatan semi aktif bukan merupakan suatu uji coba sehingga hanya dinas kesehatan kabupaten yang bertanggung jawab atas monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan metode ini. Namun, walaupun pada penelitian ini tidak dilakukan analisis sensitivitas dan jumlah biaya seperti yang dipaparkan pada tabel 5.16, metode pengamatan semi aktif masih dinyatakan memiliki efektivitas biaya tinggi yang dibahas lebih lanjut pada sub bab 5.7.
132 Efektivitas Biaya dalam Pengendalian Tingkat Cacat Tingginya efektivitas biaya pada metode pengamatan semi aktif terhadap pengamatan pasif menunjukkan bahwa efektivitas pada metode pengamatan semi aktif sepadan dengan biaya yang dikeluarkan peda metode tersebut dibandingkan dengan pengamatan pasif. Pengamatan semi aktif meningkatkan pengetahuan, mendorong timbulnya perilaku perawatan diri, dan meningkatkan pencegahan cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. Penderita lebih aktif datang ke puskesmas dan aktif melakukan perawatan diri. Keaktifan penderita pada pengamatan semi aktif menyebabkan tingginya biaya operasional (Rp ,86) hingga mencapai 58 kali lipat dibandingkan biaya operasional pada pengamatan pasif. Selain itu, keaktifan penderita datang ke puskesmas menyebabkan biaya transpor yang dikeluarkan penderita pada pengamatan semi aktif secara kumulatif (Rp ,00) tiga kali lebih besar dibandingkan biaya transpor penderita pada pengamatan pasif (Rp ,00). Keaktifan penderita dalam merawat tubuhnya menyebabkan biaya untuk membeli alat dan bahan perawatan dan perlindungan diri (Rp ,00) hampir tiga kali lebih besar dibandingkan biaya transpor penderita pada pengamatan pasif (Rp ,00). Namun besarnya biaya tersebut tidak menyebabkan metode pengamatan semi aktif menjadi tidak efektif biaya. Rasio efektivitas biaya yang dihasilkan (Rp ) kurang dari 1 kali GDP per capita (US$ 3,495)sehingga metode pengamatan semi aktif lebih efektif biaya dibandingkan metode pengamatan pasif untuk mengendalikan tingkat cacat pada seorang penderita yang telah selesai pengobatan di kabupaten Pasuruan. 6.7 Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini dilakukan pengambilan data primer dan sekunder. Pada pengambilan data primer terdapat keterbatasan dalam merekam data biaya yang dikeluarkan oleh penderita. Peneliti mengandalkan ingatan penderita terhadap aktivitas penderita terkait pengendalian tingkat cacat dalam 2-3 tahun sebelum pengambilan data sehingga ada kemungkinan
133 114 kesalahan nominal biaya atau biaya yang dicatat tidak lengkap. Selain itu, biaya pembangunan gedung pada penelitian ini tidak diketahui nilai pada saat gedung tersebut dibangun karena keterbatasan dokumen pendukung sehingga nilai yang diambil adalah nilai saat ini tanpa penyusutan. Sampel pada penelitian tidak sesuai dengan yang diperkirakan sebelumnya karena pada saat pengambilan data, ditemukan adanya responden yang pindah tempat tinggal dan sudah meninggal.
134 BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan 1. Metode pengamatan semi aktif adalah intervensi yang efektif biaya tinggi dibandingkan pengamatan pasif dalam mengendalikan tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan dengan rasio efektivitas biaya kurang dari satu kali GDP per capita yaitu sebesar Rp Faktor yang berhubungan dengan pengendalian tingkat cacat penderita yang telah selesai pengobatan adalah metode pengamatan, pencegahan cacat, dan perawatan diri. 3. Faktor yang paling mempengaruhi pengendalian tingkat cacat pada penderita yang telah selesai pengobatan adalah perawatan diri. Penderita yang tidak melakukan perawatan diri memiliki peluang 39 kali untuk tidak dapat dikendalikan tingkat cacatnya dibandingkan dengan penderita yang melakukan perawatan diri. 4. Metode pengamatan berhubungan dengan pengetahuan, pencegahan cacat, dan perawatan diri. 7.2 Saran Program 1. Metode pengamatan semi aktif direkomendasikan sebagai metode untuk mengendalikan tingkat cacat penderita yang telah selesai pengobatan karena terbukti sebagai intervensi dengan efektif biaya tinggi dibandingkan dengan metode pengamatan pasif. 2. Program harus melakukan analisis dampak anggaran (Budget Impact Analysis) apabila metode pengamatan semi aktif akan diterapkan di seluruh Indonesia. 115
135 Perlu dilakukan suatu inovasi yang efektif biaya untuk mendorong perilaku perawatan diri pada penderita yang telah selesai pengobatan agar dapat mengendalikan tingkat cacat yaitu Upaya Perawatan Berbasis Masyarakat (UPBM). Upaya ini meliputi pemberian informasi risiko kecacatan dengan alat bantu poster, pemberian informasi cara perawatan diri dengan alat bantu lembar balik, pemberian paket perlengkapan untuk perawatan diri, pembentukan Pengawas Cegah Cacat (PCC) dari pihak keluarga atau orang terdekat, pemberian informasi kontak klinik khusus perawatan yang dapat memberikan pertolongan pencegahan cacat saat penderita tidak mampu menangani, dan pemantauan terintegrasi Penelitian Selanjutnya 1. Penelitian selanjutnya diharapkan juga meneliti tentang faktor jenis kelamin, pekerjaan, serta motivasi keluarga sebagai faktor yang berhubungan dengan pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengendalian tingkat cacat pada penderita yang telah selesai pengobatan dengan desain kohort dengan Randomized Clinical Trial (RCT) agar dapat mengontrol faktorfaktor yang berhubungan dengan kecacatan dan lebih mudah merekam biaya yang dikeluarkan oleh program dan terutama oleh penderita untuk menghindari recall bias. 3. Melakukan analisis sensitivitas terhadap biaya yang tidak berhubungan secara langsung atau yang dapat dihemat dalam penerapan metode pengamatan semi aktif.
136 117 DAFTAR PUSTAKA Ancok, Djamaludin. (1987). Teknik Penyusunan Skala Pengukuran. Yogyakarta : Pusat Penelitian Kependudukan UGM. Amirudin, MD, Hakim, Zainal, dan Darwis, Emil. (2003). Diagnosis Penyakit Kusta. Dalam E.S.S. Daili, dkk (Ed). Kusta (Edisi Kedua, hal ,). Jakarta : FKUI. Arianto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi VI. Dalam Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi. KTI Tingkat Pengetahuan Remaja Putri dalam Menggunakan Cairan Pembersih Genetalia di SMA Negeri 1 Glenmore Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi. 12 Desember BPS Provinsi Jawa Timur. (2012). Statistik Daerah Provinsi Jawa Timur Mei Brent, Robert J. (2003). Cost-Benefit Analysis and Health Care Evaluations. Massachusetts : Edward Elgar Publishing Limited. Chin, James. (2009). Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Jakarta : CV. Infomedika. Coons, Stephen Joel, dan Kaplan, Robert M. (2005). Cost-Utility Analysis. Dalam J.L Bootman, R.J. Townsend, dan W.F. McGhan (Ed). Principles of Pharmacoeconomics (3rd ed, pp ). Cincinnati : Harvey Whitney Books Company. Courtright, P. (2002, September). Eye disease in multibacillary leprosy patients at the time of their leprosy diagnosis: findings from the Longitudinal Study of Ocular Leprosy (LOSOL) in India, the Philippines and Ethiopia. Leprosy Review, 73 (3), Depdikbud RI. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Depkes RI. (1984). Petunjuk Kusta untuk Petugas Balai Pengobatan Umum dan Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Depkes RI. (1993). Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Depkes RI. (2005). Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
137 118 Depkes RI. (2007). Buku Pedoman Nasional Pengendalian Penyakit Kusta. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Dinas Kesehatan Pasuruan. (2011, Mei) Pilot Project Semi Active Surveilance (SAS) Kabupaten Pasuruan. 16 November Drummond, F.M., et al. (2005). Methods for the Economic Evaluation of Health Care Programmes (3rd Edition). New York : Oxford University Press. Garber, A.M, et al. (1996). Theoretical Foundations of Cost-Effectiveness Analysis. Dalam Marthe R. Gold, et al (Ed). Cost-Effectiveness in Health and Medicine (pp ). New York : Oxford University Press. Gebre, Alemu, dan Saunderson, Paul. (2001). Comparative Value of Active and Passive Surveillance Over Time in Treated Leprosy Patients, in The prevention of Further Disability. Leprosy Review, 72, Desember Gold, M.R., et al. (1996). Indentifying and Valuing Outcomes. Dalam Marthe R. Gold, et al (Ed). Cost-Effectiveness in Health and Medicine (pp ). New York : Oxford University Press. Guoceng, Zhang, et al. (1993, June). An Epidemiological Survey of Deformities and Disabilities among Cases of Leprosy in 11 Countries. Leprosy Review, 64 (2), Hasibuan, Yamin. (2002, December). Problems Related to Physical Rehabilitation Amongst PALS After Release From Treatment. International Journal of Leprosy, 70 (4), 316A-317A. ILEP.(2006). How to Prevent Disabilities in Leprosy. London : ILEP. Jacobson, R.R. (1994). Treatment of Leprosy. Dalam Hastings, Robert C. Lerosy (2nd ed, pp ). London : Churchil Livingstone. Lockwood, Diana N.J. (2002, June). Chemotherapy. Leprosy Review, 73 (Supplement), S27-S34. Manjunath, R., et al. (2001, March). Modified Active Surveillance System(MASS); a Novel Clinicopathological Evaluation of PB Leprosy Patients after RFT, in Mangalore, India. Leprosy Review, 72 (1), Martodihardjo, Sunarko dan Susanto, R.S.D. (2003). Reaksi Kusta dan Penanganannya. Dalam E.S.S.Daili, dkk (Ed). Kusta (Edisi kedua, hal.75-82). Jakarta : FKUI.
138 119 McDougall, A.C. (1997, December). Recent Developments in The Chemotherapy of Leprosy. Leprosy Review, 68 (4), McGuire, Alistair. (2001). Theoretical Concepts in The Economic Evaluation of Health Care. Dalam M.F. Drummond dan A. McGuire (Ed). Economic Evaluation in Health Care : Merging Theory with practice (pp. 1-21). New York : Oxford University Press. Ministry of Health Ethiopia. (1997, August). National Tuberculosis and Leprosy Control Programme (First Edition). Ethiopia : Ministry of Health Ethiopia. Moshioni, Cristiane, et.al. (2010, Jan/Feb). Risk factors for physical disability at diagnosis of 19,283 new cases of leprosy. Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical 43 (1). 27 November Muennig, Peter. (2002). Designing and Conducting Cost-Effectiveness Analysis in Medicine and Health Care. San Fransisco : Jossey-Bass a Willey Company. Pfaltzgraff, R.E. dan Ramu, Gopal. (1994). Clinical Leprosy. Dalam Robert C. Hastings (Ed). Lerosy (2nd ed, pp ). London : Churchil Livingstone. Pratiknya, A.W. (1996). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Rajawali. Pusat Pelatihan Kusta Nasional. (2010). Modul 5 : Pencatatan dan Pelaporan. Makassar: Pusat Pelatihan Kusta Nasional. Rodrigues, Laura C., dan Lockwood, Diana N. (2011, June). Leprosy Now : Epidemiology, Progress, Challenges, and Research Gaps. The Lancet, 11, November Russel, L.B., et al. (1996). Cost-Effectiveness Analysis as a Guide to Resource Allocation in Health : Roles and Limitations. Dalam Marthe R. Gold, et al (Ed). Cost-Effectiveness in Health and Medicine (pp. 3-24). New York : Oxford University Press. Smith, W.C.S. (1992, September). The Epidemiology of Disability in Leprosy Including Risk Factors. Leprosy Review, 63 (Supplement 1), 23s-30s. Soebono, Hardyanto dan Suhariyanto, Bambang. (2003). Pengobatan Penyakit Kusta Dalam E.S.S. Daili, dkk (Ed). Kusta (Edisi Kedua, hal ,). Jakarta : FKUI. Srinivasan, H. (1995, September). Deformities and Disabilities : Unfinished Agenda in Leprosy Work. Leprosy Review, 66 (3),
139 120 Srinivasan, H. (1994). Disability, deformity, rehabilitation. Dalam Robert C. Hastings (Ed). Lerosy (2nd ed, pp ). London : Churchil Livingstone. Sukirno, S. (1988). Pengantar Teori Mikroekonomi Edisi Ketiga. Dalam Rifmi Utami, dkk. Analisis Efektivitas Upaya Penderita Kusta Baru Secara Aktif dan Pasif Menggunakan Metode Cost Effectiveness Analysis. Surabaya : Yayasan Sumber Daya Manusia Bidang Kesehatan. Susanto, Nugroho. (2006). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kecacatan Penderita Kusta (Kajian di Kabupaten Sukoharjo). 27 November Universitas Gajah Mada. Universitas Diponegoro. (2002). Faktor-faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kecacatan Penderita Kusta di Kabupaten Tegal. 4 Desember Universitas Diponegoro. (2006). Faktor-faktor yang Berkaitan dengan Tingkat Kecacatan Kusta di Kabupaten Brebes Tahun November Universitas Diponegoro. (2008). Faktor-faktor Risiko yang Berpengaruh terhadap Terjadinya Reaksi Kusta (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Brebes). 27 November Universitas Negeri Semarang. (2009). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Cacat Tingkat 2 (Studi Di Kampung Rehabilitasi Rumah Sakit Kusta Donorojo Jepara tahun 2008). 27 November Universitas Sumatera Utara. (2008). Pencegahan Kecacatan pada Tangan Penderita Kusta. 29 Oktober WHO. (2005). Cost-Effectiveness Thresholds. 4 Januari WHO. (2009). Enhanced Global Strategy for Futher Reducing the Disease Burden Due to Leprosy. New Delhi : WHO WHO (2011, 2 September). Weekly Epidemiological Record. 25 November Wisnu, I.M. dan Gudadi, (1997). Pencegahan Cacat Kusta. Dalam Adi Djuanda, dkk (Ed). Kusta, Diagnosis, dan Penatalaksanaan. Jakarta : FKUI. Wisnu, I.M. dan Hadilukito, Gudadi. (2003). Pencegahan Cacat Kusta. Dalam E.S.S. Daili, dkk (Ed). Kusta (Edisi Kedua, hal ,). Jakarta : FKUI.
140 121 Wonderling, David, Gruen, Reinhold, dan Black, Nick. (2005). Introduction to Health Economics. England : Open University Press. World Bank. (2011). GDP Per Capita (Current US$). 4 Januari
141 122 KARTU PENDERITA Lampiran 1 : Kartu Penderita Kusta PROPINSI : KABUPATEN/KOTA :.. KECAMATAN :. KLASIFIKASI MB PB PUSKESMAS :. TERDAFTAR TGL : NOMOR TERDAFTAR : MDT MULAI TGL. : DINYATAKAN RFT TGL. : MENINGGAL TGL. :. DEFAULT TGL. :.. DIPINDAHKAN TGL. : KETERANGAN TENTANG SI SAKIT NAMA :.. JENIS KELAMIN : L / P UMUR :. TEMPAT LAHIR : SUKU :. ALAMAT :. (RT../RW.. ) DESA :. KECAMATAN :.. KABUPATEN/KOTA :.. Pekerjaan :. CARA PENEMUAN PEMBERITAHUAN SUKARELA SURVAI KONTAK SURVAI ANAK SEKOLAH CHASE SURVAI SURVAI LAIN KAMBUH PINDAH DARI LAIN-LAIN RIWAYAT PENYAKIT PERNAH BERGAUL DENGAN PENDERITA : YA / TIDAK *) SUDAH PERNAH BEROBAT SEBELUMNYA : YA / TIDAK *) BILA YA BERI KETERANGAN :...
142 123 KEADAAN SEKARANG (TGL 7/1/99 PEMERIKSAAN KULIT DAN URAT SYARAF LUKISLAH KELAINAN-KELAINAN PADA GAMBAR TUBUH DENGAN TANDA GAMBAR DI BAWAH INI Di kerjakan oleh : SIMBOL (TANDA GAMBAR) KELAINAN PADA KUSTA 1. Hipopigmentasi 10. x Hidung plana 2. Hipo/Anestesi (mati rasa) 11. c Kontraktur lemas 3. Tanda dengan batas tidak tegas 12. s Kontraktur kaku 4. Tanda dengan batas tegas 13. Mutilasi (hilang sebagian) 5. Infiltrat 14. Ulkus 6. Plaque (penebalan kulit yang lebar 15. Drop (lunglai) 7. Nodulus Ginekomasti 8. Penebalan syaraf 17. E Eritema 9. Madarosis (alis rontok) 18. Lo Lagopthalmos
143 124 KEADAAN CACAT WAKTU PEMERIKSAA N TANGGAL TINGKAT CACAT (WHO : 0.1.2) MATA TANGAN KAKI Nilai ka ki ka ki Ka ki Tertinggi Jumlah Nilai Pertama RFT TH. PENGOBATAN MDT PEMBERIAN OBAT TIAP BULAN BULAN TH... TANGGAL TH.. N o Nama Kontak U m u r PEMERIKSAAN KONTAK SERUMAH L Pemeriksaan P Tgl Hasil Tgl Hasil Tgl Hasil Tgl Hasil Tgl Hasil Keterangan Penjelasan Tulislah pada kolom hasil bila : - Ternyata kusta dengan : PB atau MB. - Suspek kusta dengan : S. - Bukan kusta dengan : -
144 125 KONFIRMASI DIAGNOSIS OLEH : Kepala Puskesmas/Wasor : Tanggal/Bulan/Tahun :.. Tanda Tangan : Catatan : TGL.. Tahun. TGL.. Tahun. TGL.. Tahun. TGL.. Tahun. TGL.. Tahun. TGL.. Tahun.
145 126
146 127 Lampiran 3 : Form Evaluasi Pengobatan Reaksi Berat Kesimpulan pemeriksaan: 1. Adakah bercak yang pecah / nodul yang pecah? 2. Adakah nyeri tekan pada saraf? 3. Apakah kekuatan otot atau rasa raba berkurang dalam waktu < dari 6 bulan terakhir? 4. Apakah ada lagophthalmos yang baru terjadi dalam waktu < dari 6 bulan terakhir? 5. Apakah ada bercak aktif di dekat saraf tepi? Ya / tidak Ya / tidak Ya / tidak Ya / tidak Ya / tidak Pemberian prednison : ( dosis tunggal) - 40 mg selama 2 Minggu - 30 mg selama 2 Minggu - 20 mg selama 2 Minggu - 15 mg selama 2 Minggu - 10 mg selama 2 Minggu - 5 mg selama 2 Minggu Perawatan diri baru diberikan bila keadaan penderita sudah membaik Petunjuk cara mengisi FORM EVALUASI PENGOBATAN REAKSI BERAT Kolom 2 : berapa mm celah Kolom 2 13 : hanya diisi kelainan yang ada Kolom 3,9 10 : (++) bila nyeri spontan atau Kolom 4,5,6,11 : diisi K ( kuat ), S ( sedang ) bila diraba sangat nyeri L ( lumpuh ) (+) bila digulirkan nyeri Kolom 14 : diisi jenis obat, dosis & lama(hari) pemberian Kolom 7,8,12,13 : beri tanda X pada titik yang mati rasa Kolom 15 : diisi kelainan organ kulit yang ada T a n g g a l Mata Lagoph thal mos Kekuatan Otot Tangan Nyeri saraf Ke Kua Kaki Dosis Obat dan lama nya Jari Ibu per P T 5 jari gel e i tan Nyeri r b otot saraf Gangguan Rasa o i Gangguan Rasa ulnar Raba (titik) n a Raba (titik) e l u i s s Pos Ka Ki Ka Ki Ka Ki Ka Ki Ka Ki Kanan Kiri Ka Ki Ka Ki Ka Ki Kanan Kiri Ket
147 128 T a n g g a l Mata Lagoph thal mos Nyeri saraf ulnar Jari 5 Kekuatan Otot Ibu jar Tangan per gel Gangguan Rasa Raba (titik) Nyeri saraf Ke Kua tan otot Kaki Gangguan Rasa Raba (titik) Dosis Obat dan lama nya Ka Ki Ka Ki Ka Ki Ka Ki Ka Ki Per one us Kanan Kiri Ka Ki Tib. Pos Ka Ki Ka Ki Kanan Kiri Ket
148 129 Kuesioner Puskesmas Lampiran 4 : Kuesioner Puskesmas No : Pengisi Kuesioner : Tanggal :../.../ I. Identitas Puskesmas 1. Puskesmas : 2. Alamat : 3. No Telp : 4. Lama berdiri : tahun bulan (sejak../..) 5. Luas bangunan puskesmas : m 2 6. Sumber air yang digunakan : a. PAM c. Mata Air b. Sumur tanah d. Lainnya, sebutkan II. Ruang Pemeriksaan Penderita Kusta di Puskesmas 7. Saat penderita yang telah RFT datang ke puskesmas, di ruang manakah penderita menemui petugas kusta? a. Di ruang khusus pemeriksaan petugas kusta b. Di tempat pemeriksaan yang menjadi satu dengan balai pengobatan c. Lainnya, sebutkan 8. Berapa luas ruangan tersebut? m 2 9. Apakah di ruangan tersebut terdapat : No Jenis Barang Pilihan Ukuran Jumlah Lama Penggunaan 1) Meja a.ya b. Tidak....x....x..... buah. tahun 2) Kursi a.ya b. Tidak.x...x..... buah. tahun 3) Lemari a.ya b. Tidak.x...x..... buah. tahun 4) Kipas Angin a.ya b. Tidak Besar/sedang/kecil.. buah. tahun 5) Tempat Tidur a.ya b. Tidak....x....x..... buah. tahun 6) Gunting a.ya b. Tidak Besar/sedang/kecil.. buah. tahun
149 Apakah saat penderita kusta yang telah RFT menemui petugas kusta, menggunakan barang habis pakai /jasa : No Nama Barang Pilihan Keterangan Biaya per bulan 1) Kertas/buku a.ya b. Tidak Administrasi Rp.. 2) Bolpoin/Alat tulis lain a.ya b. Tidak Administrasi Rp.. 3) Fotokopi/print a.ya b. Tidak Administrasi Rp.. 4) Perban/plester a.ya b. Tidak Tindakan Rp.. 5) Kapas a.ya b. Tidak Pemeriksaan Rp.. 6) Minyak goreng a.ya b. Tidak Demo perawatan diri Rp.. 7) Batu Apung a.ya b. Tidak Demo perawatan diri 8) Ember/Bak a.ya b. Tidak Demo perawatan diri Rp.. Rp.. III. Pembiayaan Puskesmas 11. Jumlah biaya untuk penggunaan listrik selama 1 bulan : Rp... (Rata-rata tagihan bulanan listrik dalam 3 bulan terakhir) 12. Apakah dalam 3 tahun terakhir puskesmas mendapatkan dana operasional khusus untuk penanganan penderita yang telah RFT dari : No Instansi Pilihan Jumlah Dana Waktu Penerimaan 1) Dinas Kesehatan a. Ya b.tidak Rp 2) BOK Puskesmas a. Ya b.tidak Rp 3) Lainnya, sebutkan. a. Ya b.tidak Rp 4) Lainnya, sebutkan.. a. Ya b.tidak Rp 5) Lainnya, sebutkan.. a. Ya b.tidak Rp
150 Apakah dalam 3 tahun terakhir terdapat dana operasional yang diterima puskesmas yang dialokasikan untuk : No Instansi Pilihan Jumlah Dana Sumber Dana 1) Transpor mengunjungi rumah penderita yang telah RFT 2) Transpor mengunjungi KPD dalam pelayanan kepada penderita yang telah RFT 3) Biaya menghubungi penderita yang telah RFT yang belum datang ke puskesmas 4) Biaya pembelian vitamin/obat untuk penderita 5) Biaya pembelian alat perawatan diri dan alat bantu untuk penderita 6) Membantu meningkatkan ekonomi penderita a. Ya b.tidak Rp a. Ya b.tidak Rp a. Ya b.tidak Rp a. Ya b.tidak Rp a. Ya b.tidak Rp a. Ya b.tidak Rp 7) Lainnya, sebutkan.. a. Ya b.tidak Rp 8) Lainnya, sebutkan.. a. Ya b.tidak Rp
151 132 Kuesioner Petugas Kusta Puskesmas Lampiran 5 : Kuesioner Petugas Puskesmas No : Tanggal :../.../ I. Identitas Tenaga Kesehatan 1. Nama : No Telp/ HP : Umur : Jabatan :... (Jika petugas mengelola program kesehatan lebih dari 1, mohon ditulis dengan lengkap) 5. Puskesmas : Lama bekerja di Puskesmas : tahun bulan (sejak bulan tahun.. ) II. Pembiayaan Tenaga Kesehatan 7. Sebagai seorang tenaga kesehatan di puskesmas, Saudara memiliki : 1) Jumlah gaji : Rp. per bulan 2) Jumlah hari kerja :. hari per minggu 3) Jumlah jam kerja : Senin kamis = jam per hari : Jumat = jam per hari : Sabtu = jam per hari 4) Jumlah pasien umum yang ditangani sendiri :... orang per bulan 5) Jumlah penderita Kusta yang ditangani sendiri :... orang per bulan 6) Jumlah penderita kusta telah RFT yang ditangani sendiri :... orang per bulan 7) Waktu rata-rata untuk melayani 1 orang penderita kusta yang telah RFT :. jam / menit 8) Waktu untuk melayani penderita kusta yang RFT di luar jam kerja puskesmas :. jam per bulan 9) Insentif yang diberikan untuk petugas dalam melayani penderita kusta yang telah RFT : Rp. per bulan
152 Selain Saudara, tenaga kesehatan di wilayah kerja puskesmas yang rutin No membantu Saudara menangani penderita kusta yang telah RFT : Jenis Tenaga Kesehatan Pilihan Jumlah Jumlah Jam Kerja dalam 1 Minggu Jumlah Jam pelayanan penderita kusta yang RFT dalam 1 Minggu 1) Petugas Puskesmas a. Ya b. Tidak orang. jam. jam 2) Bidan Desa a. Ya b. Tidak orang. jam. jam 3) Kader a. Ya b. Tidak orang. jam. jam 4) Lainnya, a. Ya b. Tidak orang. jam. jam 9. Apakah Saudara pernah menghubungi penderita kusta yang telah RFT untuk mengingatkan agar datang ke puskesmas? a. Ya b. Tidak (Jika Jawaban Tidak, langsung ke pertanyaan no.11) 10. Bagaimana cara Saudara menghubungi penderita kusta yang telah RFT? No Cara menghubungi Pilihan Biaya 1) Titip pesan kepada sanak saudara atau tetangga penderita b. Ya b. Tidak Rp... per bulan 2) Menghubungi via sms b. Ya b. Tidak Rp... per bulan 3) Menghubungi via telp b. Ya b. Tidak Rp... per bulan 4) Lainnya, Sebutkan. b. Ya b. Tidak Rp... per bulan 11. Apakah Saudara pernah mengeluarkan dana pribadi untuk kegiatan pelayanan penderita kusta yang telah RFT? a. Ya b. Tidak (Jika Jawaban Tidak, langsung ke pertanyaan no.13 )
153 Dana pribadi tersebut apakah Saudara untuk kegiatan/kebutuhan apa saja? No Cara menghubungi Pilihan Biaya 1) Transpor mengunjungi penderita yang telah RFT ke rumah 2) Transpor mengunjungi penderita yang telah RFT ke KPD 3) Membeli vitamin/obat untuk penderita 4) Membeli alat perawatan diri dan alat bantu untuk penderita 5) Memberi bantuan ekonomi pada penderita a. Ya b. Tidak Rp per bulan a. Ya b. Tidak Rp per bulan a. Ya b. Tidak Rp per bulan a. Ya b. Tidak Rp per bulan a. Ya b. Tidak Rp per bulan 6) Lainnya, Sebutkan. a. Ya b. Tidak Rp per bulan 7) Lainnya, Sebutkan. a. Ya b. Tidak Rp per bulan III. Proses Penderita setelah RFT yang berkunjung 13. Saat penderita kusta yang telah RFT datang berkunjung ke puskesmas, apakah penderita : No Kegiatan Pilihan Waktu berlangsung Ruangan / Tempat Petugas yang bertugas 1) Melakukan pendaftaran a. Ya b. Tidak. menit 2) Melakukan pembayaran biaya administrasi awal 3) Melakukan pengambilan Family folder (kartu riwayat kesehatan keluarga) 4) Melakukan pengambilan kartu penderita khusus kusta a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit 5) Dilakukan anamnesa a. Ya b. Tidak. menit 6) Mendapat pemeriksaan cardinal sign kusta 7) Medapat pemeriksaan kecacatan, hasil perawatan diri, dan pengisian form POD 8) Mendapat penjelasan tandatanda reaksi a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit
154 135 9) Mendapat penjelasan pentingnya perawatan diri 10) Mendapat demo perawatan diri 11) Mendapat tindakan perawatan luka akibat kusta bagi penderita yang memerlukan 12) Melakukan pembayaran biaya tindakan 13) Mendapat alat perawatan diri yang sesuai dengan kebutuhan penderita 14) Mendapat penanganan reaksi/ neuritis akibat kusta dan mendapat resep obat 15) Mendapatkan obat lamprene /vitamin/prednisone jika dibutuhkan 16) Melakukan pembayaran biaya obat/vitamin 17) Mendapat bantuan konseling psikologis 18) Mendapat motivasi untuk datang ke KPD a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit IV. Proses petugas berkunjung ke rumah penderita yang telah RFT 14. Apakah Saudara pernah mengunjungi penderita kusta yang telah RFT di: No Tempat Pilihan Waktu Kunjungan Kunjungan bersama dengan Mitra Kerja 1) Rumah Penderita a. Ya a. Di dalam jam kerja a. Ya, sebutkan. b. Tidak b. Di luar jam kerja b. Tidak 2) KPD a. Ya b. Tidak a. Di dalam jam kerja b. Di luar jam kerja a. Ya, sebutkan. b. Tidak 15. Apa saja yang Saudara bawa jika akan mengunjungi penderita kusta yang telah RFT? Berapa lama Saudara mempersiapkan barang barang tersebut?.. menit
155 Saat Saudara mengunjungi rumah penderita yang telah RFT : No Tempat Kendaraan yang Digunakan 1) Rumah Penderita Biaya Transpor Rp Rata-rata Waktu Tempuh Puskesmas Rumah Penderita.menit 2) KPD Rp.menit 18. Kegiatan apa saja yang dilakukan petugas kusta pada penderita yang telah RFT : No Kegiatan Pilihan Waktu berlangsung 1) Melakukan pengambilan Family folder (kartu riwayat kesehatan keluarga) a. Ya b. Tidak. menit 2) Melakukan pengambilan kartu penderita khusus kusta a. Ya b. Tidak. menit 3) Dianamnesa a. Ya b. Tidak. menit 4) Mendapat pemeriksaan cardinal sign kusta a. Ya b. Tidak. menit 5) Medapat pemeriksaan kecacatan, hasil perawatan diri, dan pengisian form POD a. Ya b. Tidak. menit 6) Mendapat penjelasan tanda-tanda reaksi a. Ya b. Tidak. menit 7) Mendapat penjelasan pentingnya perawatan diri a. Ya b. Tidak. menit 8) Mendapat demo perawatan diri a. Ya b. Tidak. menit 9) Mendapat tindakan perawatan luka akibat kusta bagi penderita yang memerlukan a. Ya b. Tidak. menit 10) Melakukan pembayaran biaya tindakan a. Ya b. Tidak. menit 11) Mendapat alat perawatan diri yang sesuai dengan kebutuhan penderita 12) Mendapat penanganan reaksi/ neuritis akibat kusta dan mendapat resep obat 13) Mendapatkan obat lamprene /vitamin/prednisone jika dibutuhkan a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit a. Ya b. Tidak. menit 14) Melakukan pembayaran biaya obat/vitamin a. Ya b. Tidak. menit 15) Mendapat bantuan konseling psikologis a. Ya b. Tidak. menit 16) Mendapat motivasi untuk datang ke KPD a. Ya b. Tidak. menit
156 137 Kuesioner Penderita Lampiran 6 : Kuesioner Penderita Pewawancara :... Puskesmas :... Kode Responden :... Tanggal :... I. Identitas dan Karakteristik Responden 1. Nama :... Jenis Kelamin : L / P 2. Umur :... tahun (lahir. /.../ ) Tipe Kusta : PB/MB 3. Alamat :... No Telp/HP : Pendidikan : a. Tidak sekolah d. Tamat atau tidak tamat SMA/sederajat b. Tamat atau tidak tamatsd/sederajat e. Tamat atau tidak tamat akademi/pt/sederajat c. Tamat atau tidak tamatsmp/sederajat 5. Jumlah penghasilan anggota keluargadalam 1 tahun : No 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Nama Anggota Keluarga (a) Hubungan dengan Responden (b) Bekerja (c) a. Ya b. Tidak a. Ya b. Tidak a. Ya b. Tidak a. Ya b. Tidak a.ya b. Tidak a.ya b. Tidak a. Ya b. Tidak a.ya b. Tidak a.ya b. Tidak a.ya b. Tidak Penghasilan Tetap Jumlah (d) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Periode (e) Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Penghasilan Tambahan Jumlah (f) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp... Periode (g) Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Per.. Catatan : - Pada kolom (a) ditulis nama anggota keluarga yang berada dalam satu rumah - Pada kolom (b) diisi dengan pilihan : Istri/Suami, Anak, Orang Tua, Mertua, Kakak, Adik, Ipar, Keponakan, Lainnya (sebutkan) - Pada kolom (e) dan (g) diisi dengan pilihan : hari, minggu, bulan, atau tahun - Kolom (f) untuk mencatat jumlah penghasilan di luar penghasilan tetap seperti : tunjangan hari raya, insentif/ bonus dari tempat bekerja, hasil menyewakan rumah /kendaraan/tanah, menerima bantuan atau sumbangan dari kerabat/orang lain
157 138 II. Pengetahuan Responden 6. Menurut Saudara, apakah penderita yang selesai pengobatan seperti Saudara masih mendapat kemungkinan untuk menjadi cacat? a. Ya b. Tidak 7. Apa yang menyebabkan penderita kusta dapat menjadi cacat? Apakah kecacatan akibat kusta dapat dicegah? a. Ya b. Tidak 9. Cara pencegahan apa saja yang dapat dilakukan agar seorang penderita kusta tidak menjadi cacat? Menurut Saudara,apakahpenderita kusta yang telah selesai pengobatan perlu menemui petugas kusta puskesmas? a. Ya, karena.. b. Tidak 11. Menurut Saudara, apa yang harus dilakukan seorang penderita kusta jika mengalami gejala reaksi seperti bercak/benjolan kecil pada kulit yang memerah, bengkak, nyeri, panas, nyeri dangangguan fungsi pada saraf?... III. Tindakan Pencegahan Cacat 12. Setelah selesai pengobatanpada bulan.tahun..., apakah Saudara pernah menemui petugas kusta untuk memeriksakan diri terkait dengan penyakit kusta di : No Tempat Pilihan Intensitas 1) 2) 3) a. Ya a. Ya a. Ya b. Tidak b. Tidak b. Tidak 4) Puskesmas KPD Rumah (dikunjungi oleh petugas) Lainnya, sebutkan. a. Ya b. Tidak..kali tiap bulan/tahun..kali tiap bulan/tahun..kali tiap bulan/tahun..kali tiap bulan/tahun Jika jawaban responden pada no 1) - no 4) adalah Tidak, langsung ke pertanyaan no Kapan Terakhir kali Saudara menemui petugas kusta tersebut? Bulan.. Tahun 20..
158 139 IV. Reaksi Kusta 14. Sejak Saudara selesai pengobatan MDT hingga saat ini,apakah Saudara pernah mengalami gejala reaksi seperti bercak/ benjolan kecil pada kulit yang memerah, bengkak, nyeri, panas, nyeri pada saraf, gangguan fungsi saraf, dan demam? a. Ya b. Tidak Jika jawaban responden Tidak, langsung ke pertanyaan no Berapa kali Saudara mengalami gejala tersebut? kali 16. Apa yang Saudara lakukan saat mengalami gejalatersebut? Tindakan Pilihan Intensitas Biaya Transpor 1) Dibiarkan saja a. Ya b. Tidak.kali - 2) Istirahat/mengurangi kerja a. Ya b. Tidak.kali - 3) Mengobatisendiri a. Ya b. Tidak.kali Rp... 4) Memeriksakan diri ke petugas a. Ya b. Tidak.kali Rp... kusta dipuskesmas/kpd 5) Memeriksakan diri ke a. Ya b. Tidak.kali Rp... pelayanan kesehatan lainnya 6) Lainnya, sebutkan. a. Ya b. Tidak.kali Rp... Jika responden hanyamelakukan tindakan no 1) dan 2), langsung ke pertanyaan no Selain biaya transpor dan biaya obat, apakah terdapat biaya lain yang Saudara keluarkan? a. Ya b. Tidak Jika jawaban responden Tidak, langsung ke pertanyaan no Apakah Saudara membayar : Biaya Obat/Vitamin - - Rp... Rp... Rp... Rp... No Jenis Biaya Pilihan Jumlah Biaya 1) Biaya Pendaftaran/Administrasi awal a. Ya b. Tidak Rp. 2) Biaya Tindakan : a. Ya b. Tidak -Tindakan -Tindakan Rp. Rp. 3) Biaya lainnya, sebutkan.. a. Ya b. Tidak Rp. 4) Biaya lainnya, sebutkan.. a. Ya b. Tidak Rp.
159 140 V. Perawatan Diri 19. Sejak Saudara selesai pengobatan MDT hingga saat ini, apakah Saudara pernah mengalami kecacatan/kelainan pada : N o Bagian Tubuh (a) Jenis Kelainan/ Kecacatan (b) Pilihan (c) Waktu (d) Tindakan Perawatan Diri Kusta yang Dilakukan (e) Keterangan (f) Biaya (g) 1 Mata Lagophthalmos (mata tidak dapat menutup sempurna) a. Ya b. Tdk /20 a. Latihan menutup mata dan berpikir ( bulan kedip yang b. Membersihkan mata dengan kain basah lalu) c. Memeriksa mata dengan cermin /oleh keluarga d. Memeriksa ketajaman mata e. Memberikan obat tetes mata f. Menggunakan kain atau kipas untuk mengusir lalat g. Mengenakan kaca mata dan topi h. Mengenakan tutup kepala atau kelambu saat tidur i. Tidak ada tindakan j. Lainnya, sebutkan.. Peradangan / Ulserasi kornea a. a b. Tdk /20 ( bulan yang lalu) a. Memberi salep mata antibiotik dari puskesmas dan bebat mata b. Berobat ke dokter spesialis mata c. Tidak ada tindakan d. Lainnya, sebutkan 2 Tangan Kulit pecah dan kalus a. a b. Tdk /20 ( bulan yang lalu) a. Periksa pandang b. Merendam, menggosok, mengoleskan minyak c. Mengeringkan dengan kain d. Menggunakan bidai (spalk) e. Tidak ada tindakan f. Lainnya, sebutkan Luka bakar /Kulit melepuh a. a b. Tdk /20 ( bulan yang lalu) a. Membersihkan dengan sabun b. Memberi obat dari puskesmas c. Membalut dengan kain atau kasa d. Memberi obat dari pelayanan kesehatan lain e. Tidak ada tindakan f. Lainnya, sebutkan...
160 141 N o Bagian Tubuh (a) Jenis Kelainan/ Kecacatan (b) Pilihan (c) Waktu (d) Tindakan Perawatan Diri Kusta yang Dilakukan (e) Keterangan (f) Biaya (g) 2 Tangan Luka terbuka (ulkus) a. a b. Tdk /20 ( bulan yang lalu) a. Istirahat b. Lindungi luka dengan pembalut/perban c. Menjaga hygiene (kebersihan diri) d. luka dibersihkan, jaringan yang mati dikikis, dan perban diganti secara teratur e. Tidak ada tindakan f. Lainnya, sebutkan.. Lumpuh lemah atau a. a b. Tdk /20 ( bulan yang lalu) a. Menjaga kulit (merendam, menggosok, mengoleskan minyak) b. Jari tangan dipijat agar tidak kaku c. Latihan meluruskan jari-jari yang mulai bengkok d. Latihan terhadap ibu jari yang lemah e. Latihan meluruskan jari secara aktif f. Latihan meluruskan jari secara pasif yang sudah bengkok g. Tidak ada tindakan h. Lainnya, sebutkan. 3 Kaki Kulit pecah dan kalus a. a b. Tdk /20 ( bulan yang lalu) a. Periksa pandang b. Merendam, menggosok, mengoleskan minyak c. Mengeringkan dengan kain d. Menggunakan bidai (spalk) e. Tidak ada tindakan f. Lainnya, sebutkan Luka bakar/ Kulit melepuh a. a b. Tdk /20 ( bulan yang lalu) a. Membersihkan dengan sabun b. Memberi obat dari puskesmas c. Membalut dengan kain atau kasa d. Memberi obat dari pelayanan kesehatan lain e. Tidak ada tindakan f. Lainnya, sebutkan...
161 142 N o Bagian Tubuh (a) Jenis Kelainan/ Kecacatan (b) Pilihan (c) Waktu (d) Tindakan Perawatan Diri Kusta yang Dilakukan (e) Keterangan (f) Biaya (g) 3 Kaki Luka terbuka (ulkus) a. a b. Tdk /20 ( bulan yang lalu) a. Istirahat b. Lindungi luka dengan pembalut/perban c. Menjaga hygiene (kebersihan diri) d. luka dibersihkan, jaringan yang mati dikikis, dan perban diganti secara teratur e. Tidak ada tindakan f. Lainnya, sebutkan.. Kaki semper a. a b. Tdk /20 ( bulan yang lalu) a. Menjaga kulit (merendam, menggosok, mengoleskan minyak) b. Jari tangan dipijat agar tidak kaku dan latihan terhadap ibu jari yang lemah c. Latihan meluruskan jari-jari yang mulai bengkok e. Latihan meluruskan jari secara aktif f. Latihan meluruskan jari secara pasif yang sudah bengkok g. Tidak ada tindakan h. Lainnya, sebutkan. Catatan : - Lingkari jawaban Ya pada kolom (c) jika terjadi kelainan atau kecacatan sesuai dengan kolom (b) - Pada kolom (d) ditulis bulan dan tahun kelainan/kecacatan tersebut terjadi - Lingkari jawaban yang sesuai pada kolom (e), jawaban boleh lebih dari satu - Pada kolom (f) dituliskan nama barang yang digunakan dalam perawatan diri tersebut (minyak goreng/sayur/kelapa, batu apung, ember, perban, plester, kacamata, kain bersih, alat bantu lainnya), nama obat yang digunakan, atau nama dari jenis pelayanan/jasa lain yang digunakan untuk membantu responden dalam melakukan tindakan perawatan diri tersebut - Pada kolom (g) dituliskan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh penderita untuk membeli barang/obat/jasa serta biaya transpor untuk pembelian obat atau bahan tersebut (sesuai dengan kolom (f)). 20. Apakah Saudara pernah mendapat bantuan alat bantu dan alat perawatan diri kusta? a. Ya b. Tidak Jika jawaban responden Tidak, langsung ke pertanyaan no.22
162 Bantuan alat bantu dan alat perawatan diri kusta apa yang Saudara terima : N o Bentuk Bantuan Pilihan Jumlah Pihak yang Memberi 1) Minyak goreng a. Ya b. Tidak. buah 2) Batu Apung a. Ya b. Tidak. buah 3) Ember a. Ya b. Tidak. buah 4) Lainnya, sebutkan.. a. Ya b. Tidak. buah 5) Lainnya, sebutkan.. a. Ya b. Tidak. buah Catatan : pada kolom pihak yang memberi dapat diisi dengan Petugas kusta, Puskesmas, KPD, Dinas Kesehatan, Pemerintah Daerah, LSM, Lainnya (sebutkan) 22. Apakah Saudara pernah mendapatkan bantuan ekonomi? a. Ya b. Tidak Jika jawaban responden Tidak, langsung ke pertanyaan no Bantuan ekonomi apa yang Saudara terima : N o 1) 2) 3) 4) Bentuk Bantuan Pilihan Jumlah dalam rupiah Uang a. Ya b. Tidak Rp. Sembako a. Ya b. Tidak Rp. Pinjaman dana usaha a. Ya b. Tidak Rp. Lainnya, sebutkan.. a. Ya b. Tidak Rp. Catatan : pada kolom pihak yang memberi dapat diisi dengan Petugas kusta, Puskesmas, KPD, Dinas Kesehatan, Pemerintah Daerah, LSM, Lainnya (sebutkan) Pihak yang Memberi 24. Jumlah pengeluaran keluarga dalam 1 tahun terakhir : No Pengeluaran Keluarga Jumlah Pengeluaran Periode 1) Belanja bahan makanan Rp.. Per. 2) Membeli makanan dan minuman jadi Rp.. Per. 3) Membeli rokok, sirih Rp.. Per. 4) Membeli pakaian, sepatu/sandal, topi, aksesoris, kosmetik Rp.. Per. 5) Membeli perabot rumah tangga (TV,kulkas, kipas angin, Rp.. Per. lemari, radio, HP, komputer, meja, kursi, dll) 6) Membayar biaya pendidikan (iuran/sumbangan sekolah, Rp.. Per. kursus, ekstra kurikuler, alat tulis dan buku pelajaran, uang ujian)
163 144 No Pengeluaran Keluarga Jumlah Pengeluaran Periode 7) Biaya Kesehatan (membeli obat/vitamin, membayar jasa Rp.. Per. dokter/tenaga kesehatan/dukun, persalinan, imunisasi, 8) KB) Rp.. Per. 9) Membeli minyak tanah, gas, bensin/solar, bahan bakar lain Rp.. Per. 10) Membeli barang berharga (perhiasan, surat berharga) Rp.. Per. Membayar pajak, iuran warga, premi asuransi, arisan, 11) menabung Rp.. Per. 12) Memberikan sumbangan/bantuan, hibah, hadiah Rp.. Per. 13) Membayar sewa rumah, tanah, properti lain, kendaraan Rp.. Per. 14) Membeli rumah, tanah, properti lain, kendaraan Rp.. Per. 15) Membayar biaya listrik, air, telp rumah, pulsa HP Rp.. Per. Membiayai pesta atau upacara dari salah satu anggota keluarga (perkawinan, khitanan, ulang tahun, perayaan 16) hari raya, upacara adat, naik haji) Rp.. Per. 17) Biaya lain, sebutkan Rp.. Per. Biaya lain, sebutkan Catatan : - Pada kolom periode diisi dengan pilihan : hari, minggu, bulan, atau tahun - Uang saku anak termasuk dalam poin membeli makanan dan minuman jadi VI. Nilai Kecacatan 25. Jika Saudara tidak keberatan, kami akan melakukan pemeriksaan kondisi fisik Saudara Tabel Penilaian Kondisi Kecacatan TINGKAT CACAT (WHO : 0.1.2) Waktu Tanggal MATA TANGAN KAKI Nilai Jumlah Pemeriksaan Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri Tertinggi Nilai RFT. /.20 Saat Pengabilan Data. /.20 Catatan : - pengisian kondisi kecacatan saat RFT diambil dari data kartu penderita - hasil penilaian kondisi kecacatan diisikan pada baris saat pengambilan data
164 145 Lampiran 7 : Hasil Analisis Bivariat Hubungan antara metode pengamatan setelah selesai pengobatan kusta dengan tingkat cacat yang dapat dikendalikan Crosstabs Notes Output Created 15-Oct :28:15 Comments Input Data H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Kelp BY kndl_tkc /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
165 146 [DataSet1] H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT * tingkat cacat responden dapat dikendalikan % 0.0% % Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT * tingkat cacat responden dapat dikendalikan Crosstabulation tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Total Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT kelompok SAS Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 97.7% 2.3% 100.0% Kelompok PS Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 81.4% 18.6% 100.0% Total Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 89.5% 10.5% 100.0%
166 147 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,50. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT (kelompok SAS / Kelompok PS) For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Ya For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Tidak N of Valid Cases 86
167 148 Hubungan antara metode pengamatan setelah selesai pengobatan kusta dengan pengetahuan Crosstabs Notes Output Created 11-Nov :26:07 Comments Input Data H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Kelp BY Tk_pnget /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
168 149 [DataSet1] H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT * tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko % 0.0% % Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT * tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko Crosstabulation tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko tinggi rendah Total Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT kelompok SAS Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah 81.4% 18.6% 100.0% RFT Kelompok PS Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 53.5% 46.5% 100.0% Total Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 67.4% 32.6% 100.0%
169 150 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14,00. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT (kelompok SAS / Kelompok PS) For cohort tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko = tinggi For cohort tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko = rendah N of Valid Cases 86
170 151 Hubungan antara metode pengamatan setelah selesai pengobatan kusta dengan pencegahan cacat Crosstabs Notes Output Created 12-Jan :53:11 Comments Input Data E:\Lembar Tesis Lengkap\Data Olah\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Kelp BY Cgh_cct /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
171 152 [DataSet1] E:\Lembar Tesis Lengkap\Data Olah\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT * perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data % 0.0% % Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT * perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data Crosstabulation perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data Ya Tidak Total Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT kelompok SAS Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 95.3% 4.7% 100.0% Kelompok PS Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 4.7% 95.3% 100.0% Total Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 50.0% 50.0% 100.0%
172 153 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 21,50. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT (kelompok SAS / Kelompok PS) For cohort perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data = Ya For cohort perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data = Tidak N of Valid Cases 86
173 154 Hubungan antara metode pengamatan setelah selesai pengobatan kusta dengan perawatan diri Crosstabs Notes Output Created 12-Jan :55:59 Comments Input Data E:\Lembar Tesis Lengkap\Data Olah\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Kelp BY Rwt_diri /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
174 155 [DataSet1] E:\Lembar Tesis Lengkap\Data Olah\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT * perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data % 0.0% % Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT * perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data Crosstabulation perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data Ya Tidak Total Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT kelompok SAS Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 97.7% 2.3% 100.0% Kelompok PS Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 53.5% 46.5% 100.0% Total Count % within Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT 75.6% 24.4% 100.0%
175 156 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,50. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for Kelompok pemantauan terhadap penderita yang telah RFT (kelompok SAS / Kelompok PS) For cohort perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data = Ya For cohort perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data = Tidak N of Valid Cases 86
176 157 Hubungan antara Umur dengan Tingkat Cacat yang Dapat Dikendalikan Crosstabs Notes Output Created 11-Nov :33:55 Comments Input Data H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Umur_olh BY kndl_tkc /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
177 158 [DataSet1] H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent kelompok Umur responden saat RFT * tingkat cacat responden dapat dikendalikan % 0.0% % kelompok Umur responden saat RFT * tingkat cacat responden dapat dikendalikan Crosstabulation tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Total kelompok Umur responden saat RFT <15 Count % within kelompok Umur responden saat RFT 100.0%.0% 100.0% >=15 Count % within kelompok Umur responden saat RFT 89.2% 10.8% 100.0% Total Count % within kelompok Umur responden saat RFT 89.5% 10.5% 100.0%
178 159 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square.363 a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is,31. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Ya N of Valid Cases 86
179 160 Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Cacat yang Dapat Dikendalikan Crosstabs Notes Output Created 11-Nov :40:13 Comments Input Data H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Tk_didik BY kndl_tkc /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
180 161 [DataSet1] H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent tingkat pendidikan * tingkat cacat responden dapat dikendalikan % 0.0% % tingkat pendidikan * tingkat cacat responden dapat dikendalikan Crosstabulation tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Total tingkat pendidikan tinggi Count % within tingkat pendidikan 90.0% 10.0% 100.0% rendah Count % within tingkat pendidikan 89.4% 10.6% 100.0% Total Count % within tingkat pendidikan 89.5% 10.5% 100.0% Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square.006 a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,09. b. Computed only for a 2x2 table
181 162 Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for tingkat pendidikan (tinggi / rendah) For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Ya For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Tidak N of Valid Cases 86
182 163 Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat Cacat yang Dapat Dikendalikan Crosstabs Notes Output Created 17-Dec :17:48 Comments Input Data F:\Pengolahan Data\Hasil Olahan\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Tk_pnget BY kndl_tkc /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
183 164 [DataSet1] F:\Pengolahan Data\Hasil Olahan\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko * tingkat cacat responden dapat dikendalikan % 0.0% % tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko * tingkat cacat responden dapat dikendalikan Crosstabulation tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Total tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko tinggi Count % within tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko 86.2% 13.8% 100.0% rendah Count % within tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko 96.4% 3.6% 100.0% Total Count % within tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko 89.5% 10.5% 100.0%
184 165 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,93. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for tingkat pengetahuan responden tentang penyakit kusta terhadap kecacatan dan faktor risiko (tinggi / rendah) For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Ya For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Tidak N of Valid Cases 86
185 166 Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat Cacat yang Dapat Dikendalikan Crosstabs Notes Output Created 17-Dec :20:40 Comments Input Data F:\Pengolahan Data\Hasil Olahan\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Tk_keluar BY kndl_tkc /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available [DataSet1] F:\Pengolahan Data\Hasil Olahan\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent
186 167 Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent Tingkat pengeluaran rumah tangga responden * tingkat cacat responden dapat dikendalikan % 0.0% % Tingkat pengeluaran rumah tangga responden * tingkat cacat responden dapat dikendalikan Crosstabulation tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Total Tingkat pengeluaran rumah tangga responden tinggi Count % within Tingkat pengeluaran rumah tangga responden 100.0%.0% 100.0% rendah Count % within Tingkat pengeluaran rumah tangga responden 88.6% 11.4% 100.0% Total Count % within Tingkat pengeluaran rumah tangga responden 89.5% 10.5% 100.0% Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square.891 a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is,73. b. Computed only for a 2x2 table
187 168 Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Ya N of Valid Cases 86
188 169 Hubungan antara Tipe Kusta dengan Tingkat Cacat yang Dapat Dikendalikan Crosstabs Notes Output Created 11-Nov :43:26 Comments Input Data H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Tipe_kus BY kndl_tkc /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
189 170 [DataSet1] H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent Tipe kusta berdasarkan program yang diderita responden saat menerima pengobatan * tingkat cacat responden dapat dikendalikan % 0.0% % Tipe kusta berdasarkan program yang diderita responden saat menerima pengobatan * tingkat cacat responden dapat dikendalikan Crosstabulation tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Total Tipe kusta berdasarkan program yang diderita responden saat menerima pengobatan PB Count % within Tipe kusta berdasarkan program yang diderita responden saat 100.0%.0% 100.0% menerima pengobatan MB Count % within Tipe kusta berdasarkan program yang diderita responden saat menerima pengobatan 89.3% 10.7% 100.0% Total Count % within Tipe kusta berdasarkan program yang diderita responden saat menerima pengobatan 89.5% 10.5% 100.0%
190 171 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square.239 a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is,21. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Ya N of Valid Cases 86
191 172 Hubungan antara Riwayat Reaksi dengan Tingkat Cacat yang Dapat Dikendalikan Crosstabs Notes Output Created 11-Nov :48:52 Comments Input Data H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Reaksi BY kndl_tkc /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
192 173 [DataSet1] H:\Edit 7 Mei 2012 revisi ok\hasil Olahan\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent kejadian reaksi dari responden yang pernah dialami sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data * tingkat cacat responden dapat dikendalikan % 0.0% % kejadian reaksi dari responden yang pernah dialami sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data * tingkat cacat responden dapat dikendalikan Crosstabulation tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Total kejadian reaksi dari responden yang pernah dialami sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data Tidak Count % within kejadian reaksi dari responden yang pernah dialami sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data 87.5% 12.5% 100.0% Ya Count % within kejadian reaksi dari responden yang pernah dialami sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data 95.5% 4.5% 100.0% Total Count % within kejadian reaksi dari responden yang pernah dialami sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data 89.5% 10.5% 100.0%
193 174 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,30. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for kejadian reaksi dari responden yang pernah dialami sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data (Tidak / Ya) For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Ya For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Tidak N of Valid Cases 86
194 175 Hubungan antara Pencegahan Cacat dengan Tingkat Cacat yang Dapat Dikendalikan Crosstabs Notes Output Created 17-Dec :25:45 Comments Input Data F:\Pengolahan Data\Hasil Olahan\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Cgh_cct BY kndl_tkc /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
195 176 [DataSet1] F:\Pengolahan Data\Hasil Olahan\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data * tingkat cacat responden dapat dikendalikan % 0.0% % perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data * tingkat cacat responden dapat dikendalikan Crosstabulation tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Total perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data Ya Count % within perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data 97.7% 2.3% 100.0% Tidak Count % within perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data 81.4% 18.6% 100.0% Total Count % within perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data 89.5% 10.5% 100.0%
196 177 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,50. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for perilaku pencegahan cacat yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data (Ya / Tidak) For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Ya For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Tidak N of Valid Cases 86
197 178 Hubungan antara Perawatan Diri dengan Tingkat Cacat yang Dapat Dikendalikan Crosstabs Notes Output Created 17-Dec :23:58 Comments Input Data F:\Pengolahan Data\Hasil Olahan\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing. Cases Used Statistics for each table are based on all the cases with valid data in the specified range(s) for all variables in each table. Syntax CROSSTABS /TABLES=Rwt_diri BY kndl_tkc /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK /CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: Dimensions Requested 2 Cells Available
198 179 [DataSet1] F:\Pengolahan Data\Hasil Olahan\Data Penderita.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data * tingkat cacat responden dapat dikendalikan % 0.0% % perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data * tingkat cacat responden dapat dikendalikan Crosstabulation tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Total perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data Ya Count % within perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data 98.5% 1.5% 100.0% Tidak Count % within perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data 61.9% 38.1% 100.0% Total Count % within perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data 89.5% 10.5% 100.0%
199 180 Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided) Pearson Chi-Square a Continuity Correction b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 86 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,20. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Lower Upper Odds Ratio for perilaku perawatan diri yang dilakukan responden sejak setelah RFT hingga saat pengambilan data (Ya / Tidak) For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Ya For cohort tingkat cacat responden dapat dikendalikan = Tidak N of Valid Cases 86
200 181 Logistic Regression Notes Lampiran 8 : Hasil Analisis Multivariat Output Created 21-Dec :01:40 Comments Input Data F:\Lembar Tesis Lengkap\Data Olah\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing Syntax LOGISTIC REGRESSION VARIABLES kndl_tkc /METHOD=ENTER Cgh_cct Rwt_diri /PRINT=CI(95) /CRITERIA=PIN(0.05) POUT(0.10) ITERATE(20) CUT(0.5). Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: [DataSet1] F:\Lembar Tesis Lengkap\Data Olah\Data Penderita.sav Case Processing Summary Unweighted Cases a N Percent Selected Cases Included in Analysis Missing Cases 0.0 Total Unselected Cases 0.0 Total a. If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.
201 182 Dependent Variable Encoding Original Value Internal Value Ya 0 Tidak 1 Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square df Sig. Step 1 Step Block Model Model Summary Cox & Snell R Nagelkerke R Step -2 Log likelihood Square Square a a. Estimation terminated at iteration number 7 because parameter estimates changed by less than,001. Classification Table a Observed Predicted tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Percentage Correct Step 1 tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Overall Percentage 89.5 a. The cut value is,500
202 183 Variables in the Equation 95,0% C.I.for EXP(B) B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper Step 1 a Cgh_cct Rwt_diri Constant a. Variable(s) entered on step 1: Cgh_cct, Rwt_diri. Block 0: Beginning Block Classification Table a,b Predicted Observed tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Percentage Correct Step 0 tingkat cacat responden dapat Ya dikendalikan Tidak Overall Percentage 89.5 a. Constant is included in the model. b. The cut value is,500 Variables in the Equation B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Step 0 Constant Variables not in the Equation Score df Sig. Step 0 Variables Cgh_cct Rwt_diri Overall Statistics
203 184 Analisis : Variables in the Equation 95,0% C.I.for EXP(B) B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper Step 1 a Cgh_cct Rwt_diri Constant a. Variable(s) entered on step 1: Cgh_cct, Rwt_diri. Berdasarkan tabel akan dikeluarkan variabel yang nilai p value > 0,25 sehingga variabel cegah cacat akan dikeluarkan terlebih dahulu. Tabel Perubahan OR : Variabel OR awal OR Perubahan OR Cgh cct 1,062 Rwt diri 38,005 Setelah variabel cegah cacat dikeluarkan :
204 185 Logistic Regression Notes Output Created 21-Dec :23:16 Comments Input Data F:\Lembar Tesis Lengkap\Data Olah\Data Penderita.sav Active Dataset Filter Weight Split File DataSet1 <none> <none> <none> N of Rows in Working Data File 86 Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing Syntax LOGISTIC REGRESSION VARIABLES kndl_tkc /METHOD=ENTER Rwt_diri /PRINT=CI(95) /CRITERIA=PIN(0.05) POUT(0.10) ITERATE(20) CUT(0.5). Resources Processor Time 00:00: Elapsed Time 00:00: [DataSet1] F:\Lembar Tesis Lengkap\Data Olah\Data Penderita.sav Case Processing Summary Unweighted Cases a N Percent Selected Cases Included in Analysis Missing Cases 0.0 Total Unselected Cases 0.0 Total a. If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.
205 186 Dependent Variable Encoding Original Value Internal Value Ya 0 Tidak 1 Block 1: Method = Enter Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square df Sig. Step 1 Step Block Model Model Summary Cox & Snell R Nagelkerke R Step -2 Log likelihood Square Square a a. Estimation terminated at iteration number 7 because parameter estimates changed by less than,001. Classification Table a Observed Predicted tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Percentage Correct Step 1 tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Overall Percentage 89.5 a. The cut value is,500
206 187 Variables in the Equation 95,0% C.I.for EXP(B) B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper Step 1 a Rwt_diri Constant a. Variable(s) entered on step 1: Rwt_diri. Block 0: Beginning Block Classification Table a,b Predicted Observed tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Percentage Correct Step 0 tingkat cacat responden dapat dikendalikan Ya Tidak Overall Percentage 89.5 a. Constant is included in the model. b. The cut value is,500 Variables in the Equation B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Step 0 Constant Variables not in the Equation Score df Sig. Step 0 Variables Rwt_diri Overall Statistics Analisis :
207 188 Variables in the Equation 95,0% C.I.for EXP(B) B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper Step 1 a Rwt_diri Constant a. Variable(s) entered on step 1: Rwt_diri. Setelah variabel cgh cct dikeluarkan, perubahan OR : Variabel OR saat Cegah Cacat ada OR saat Cegah Cacat tdk ada Perubahan OR Cgh cct 1,032 - Rwt diri 37,956 39,385 3,7 % Setelah variabel cgh cct dikeluarkan, terlihat bahwa tidak ada perubahan OR > 10 % sehingga variabel cgh cct tersebut dikeluarkan. Tidak ada variabel confounding dan sepenuhnya variabel perawatan diri yang mempengaruhi pengendalian terhadap cacat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) terutama menyerang kulit dan saraf tepi. Penularan dapat terjadi dengan cara kontak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PENYAKIT KUSTA 1. Pengertian Umum. Epidemiologi kusta adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat kejadian, penyebaran dan faktor yang mempengaruhi sekelompok manusia. Timbulnya
BAB I PENDAHULUAN. sementara penyakit menular lain belum dapat dikendalikan. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia masih menghadapi beberapa penyakit menular baru sementara penyakit menular lain belum dapat dikendalikan. Salah satu penyakit menular yang belum sepenuhnya
Tingginya prevalensi kusta di Kabupaten Blora juga didukung oleh angka penemuan kasus baru yang cenderung meningkat dari tahun 2007 sampai dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kusta adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang awalnya menyerang saraf tepi, dan selanjutnya menyerang kulit,
-Faktor penyebab penyakit kusta. -Tanda dan gejala penyakit kusta. -Cara penularan penyakit kusta. -Cara mengobati penyakit kusta
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PENYAKIT KUSTA Judul Pokok Bahasan : Penyakit Kusta : Tanda dan Gejala Penyakit Kusta Sub Pokok Bahasan : -Pengertian penyakit kusta - Penyebab penyakit kusta -Faktor penyebab
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN NGAWI
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN NGAWI Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memproleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. kusta (Mycobacterium leprae) yang awalnya menyerang saraf tepi, dan selanjutnya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kusta adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang awalnya menyerang saraf tepi, dan selanjutnya menyerang kulit,
ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENYAKIT KUSTA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE
ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENYAKIT KUSTA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE 2011 2013 Kasus kusta di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan Negara lain. Angka kejadian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Lepra adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lepra adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae (M. leprae). Kuman ini bersifat intraseluler obligat yang menyerang saraf tepi dan dapat
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae (M.leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae (M.leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang
BAB I PENDAHULUAN. kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Masa tunas dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kusta merupakan penyakit infeksi kronik yang penyebabnya ialah Mycobacterium leprae dan bersifat intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat komplek. Penyebab penyakit kusta yaitu Mycobacterium Leprae. Masalah yang dimaksud
PROSEDUR DIAGNOSIS KUSTA
Kabupaten dr. ABDUL FATAH A. NIP: 197207292006041014 1.Pengertian 2.Tujuan Adalah penilaian klinis atau pernyataan ringkas tentang status kesehatan individu yang didapatkan melalui proses pengumpulan data
PENGADAAN OBAT KUSTA
PENGADAAN OBAT KUSTA Dr. Donna Partogi, SpKK NIP. 132 308 883 DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FK.USU/RSUP H.ADAM MALIK/RS.Dr.PIRNGADI MEDAN 2008 PENGADAAN OBAT KUSTA PENDAHULUAN Penyakit kusta
BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh masih kurangnya pengetahuan/pengertian, kepercayaan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit menular sampai saat ini sangat ditakuti oleh semua orang baik itu dari masyarakat, keluarga, termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan oleh masih
I. PENDAHULUAN. Penyakit kusta (morbus Hansen) merupakan penyakit infeksi kronis menahun
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta (morbus Hansen) merupakan penyakit infeksi kronis menahun yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae ( M.leprae ) yang menyerang hampir semua organ tubuh
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kusta 1. Pengertian Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman mycobacterium leprae(m. leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kusta merupakan infeksi kronis granulomatous yang mengenai kulit, syaraf tepi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Penyakit kusta merupakan infeksi kronis granulomatous yang mengenai kulit, syaraf tepi dan jaringan tubuh lainnya disebabkan oleh organisme obligat intraselluler Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular menahun disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis menular dan menahun yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang utamanya menyerang saraf tepi, dan kulit,
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai ke masalah sosial, ekonomi, budaya,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta atau lepra (leprosy) atau disebut juga Morbus hansen merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit kusta
PROFIL PENDERITA MORBUS HANSEN (MH) DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI DESEMBER 2012
PROFIL PENDERITA MORBUS HANSEN (MH) DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI DESEMBER 2012 1 Patricia I. Tiwow 2 Renate T. Kandou 2 Herry E. J. Pandaleke 1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Kusta merupakan penyakit menular langsung yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae)
Klasifikasi penyakit kusta
Penyakit kusta merupakan masalah dunia, terutama bagi Negara-negara berkembang. Di Indonesia pada tahun 1997 tercatat 33.739 orang, yang merupakan negara ketiga terbanyak penderitanya setelah India dan
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Sebenarnya kusta bila ditemukan dalam stadium dini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Penderita kusta (lepra) di Indonesia dewasa ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Sebenarnya kusta bila ditemukan dalam stadium dini merupakan penyakit ringan,
peningkatan dukungan anggota keluarga penderita kusta.
HUBUNGAN KEPATUHAN MINUM OBAT KUSTA DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECACATAN PADA PENDERITAKUSTA DI KABUPATEN KUDUS peningkatan dukungan anggota keluarga penderita kusta. 1. Wiyarni, 2. Indanah, 3. Suwarto
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun, disebabkan oleh mycobacterium leprae yang menyerang kulit saraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. Pada sebagian besar
Sri Marisya Setiarni, Adi Heru Sutomo, Widodo Hariyono Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
KES MAS ISSN : 1978-0575 HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN, STATUS EKONOMI DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA ORANG DEWASA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TUAN-TUAN KABUPATEN KETAPANG
dan menjadi dasar demi terwujudnya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani.
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Upaya peningkatan kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama dan menjadi dasar demi terwujudnya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani. Indonesia masih
BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB paru) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kusta merupakan salah satu jenis penyakit menular yang masih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta merupakan salah satu jenis penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Selain menimbulkan masalah kesehatan penyakit kusta juga
BAB I PENDAHULUAN. Diperkirakan sekitar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah penduduk dunia telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diperkirakan sekitar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah penduduk dunia telah terinfeksi oleh kuman Mycobacterium tuberculosis pada tahun 2007 dan ada 9,2 juta penderita
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Mycobacterium leprae (M.leprae). Kuman golongan myco ini berbentuk batang yang
8 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Kusta 2.1.1 Pengertian Penyakit kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae (M.leprae). Kuman golongan myco ini berbentuk batang
BAB 1 : PENDAHULUAN. fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan,
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit berbasis lingkungan merupakan penyakit yang proses kejadiannya atau fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan, berakar
BAB I LATAR BELAKANG A. Latar Belakang Penyakit kusta disebut juga penyakit lepra atau Morbus Hansen merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. (1) Kusta adalah
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB
Ika Setyaningrum *), Suharyo**), Kriswiharsi Kun Saptorini**) **) Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro
BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK PENCEGAHAN PENULARAN KUSTA PADA KONTAK SERUMAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GAYAMSARI SEMARANG TAHUN 2013 Ika Setyaningrum *), Suharyo**), Kriswiharsi Kun
BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit yang mendapat perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization (WHO) 2013, lebih dari
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, dan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. World Health Organization (WHO) pada berbagai negara terjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae (M. leprae) yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit,
KARAKTERISTIK PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO
KARAKTERISTIK PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO Dian Wahyu Laily*, Dina V. Rombot +, Benedictus S. Lampus + Abstrak Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang terjadi di
ABSTRAK PREVALENSI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015
ABSTRAK PREVALENSI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015 Diabetes melitus tipe 2 didefinisikan sebagai sekumpulan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemik
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis complex (Depkes RI, 2008). Tingginya angka
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) paru yaitu salah satu penyakit menular yang menyerang organ paru-paru. Tuberkulosis adalah salah satu penyakit yang tertua yang dikenal oleh manusia
BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Pada tahun
BAB 1 PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit Tuberculosis Paru merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang
BAB 1 PENDAHULUAN. pada kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Predileksi awal penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kusta atau disebut juga Morbus Hansen (MH) merupakan infeksi kronik pada kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Predileksi awal penyakit ini adalah saraf
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara tropis merupakan kawasan endemik berbagai penyakit menular seperti Malaria, TB, Kusta dan sebagainya. Penyakit kusta pada umumnya terdapat di
SAFII, 2015 GAMBARAN KEPATUHAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU TERHADAP REGIMEN TERAPEUTIK DI PUSKESMAS PADASUKA KECAMATAN CIBEUNYING KIDUL KOTA BANDUNG
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis (Tb) merupakan penyakit menular bahkan bisa menyebabkan kematian, penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil tuberkulosis
Happy R Pangaribuan 1, Juanita 2, Fauzi 2 ABSTRACT
PENGARUH FAKTOR PREDISPOSISI, PENDUKUNG, DAN PENDORONG TERHADAP PENCEGAHAN KECACATAN PASIEN PENDERITA PENYAKIT KUSTA DI RS KUSTA HUTASALEM KABUPATEN TOBASA TAHUN 2012 Happy R Pangaribuan 1, Juanita 2,
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KECACATAN PENDERITA KUSTA (Kajian di Kabupaten Sukoharjo)
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KECACATAN PENDERITA KUSTA (Kajian di Kabupaten Sukoharjo) Tesis Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat S-2 Minat Utama Epidemiologi Lapangan
GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU
ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU dr. SLAMET GARUT PERIODE 1 JANUARI 2011 31 DESEMBER 2011 Novina
PROFIL TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA KUSTA TENTANG PENYAKIT KUSTA DI PUSKESMAS KEMUNINGSARI KIDUL KABUPATEN JEMBER
PROFIL TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA KUSTA TENTANG PENYAKIT KUSTA DI PUSKESMAS KEMUNINGSARI KIDUL KABUPATEN JEMBER Rosida 1, Siti Anawafi 1, Fanny Rizki 1, Diyan Ajeng Retnowati 1 1.Akademi Farmasi Jember
BAB I PENDAHULUAN. kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler. mengenai organ lain kecuali susunan saraf pusat.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta atau morbus Hansen merupakan infeksi granulomatosa kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat. Kusta dapat
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Amiruddin dalam Harahap (2002) menjelaskan penyakit kusta adalah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Penyakit kusta Amiruddin dalam Harahap (2002) menjelaskan penyakit kusta adalah penyakit kronik disebabkan kuman Mycobacterium leprae yang pertama kali menyerang susunan
Profil Program P2 Kusta Dinkes Kayong Utara
Profil Program P2 Kusta Dinkes Kayong Utara 2009-2011 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, pada akhirnya buku Profil Program Pemberantasan Penyakit Kusta Kabupaten Kayong Utara
PENGARUH KINESIO TAPING TERHADAP KEKUATAN OTOT DORSAL FLEXOR ANKLE PADA PASIEN KUSTA DENGAN LESI NERVE PERONEUS DI UNIT REHABILITASI KUSTA
PENGARUH KINESIO TAPING TERHADAP KEKUATAN OTOT DORSAL FLEXOR ANKLE PADA PASIEN KUSTA DENGAN LESI NERVE PERONEUS DI UNIT REHABILITASI KUSTA RSUD KELET PROVINSI JAWA TENGAH SKRIPSI DISUSUN UNTUK MEMENUHI
GAMBARAN NILAI MANTOUX TEST PADA ANAK DENGAN RIWAYAT KONTAK DENGAN ORANG DEWASA SATU HUNIAN YANG MENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PADANG BULAN, MEDAN
GAMBARAN NILAI MANTOUX TEST PADA ANAK DENGAN RIWAYAT KONTAK DENGAN ORANG DEWASA SATU HUNIAN YANG MENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PADANG BULAN, MEDAN Oleh : EFFI ROHANI N 100100053 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
I. PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO)
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkolosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO) dalam satu tahun kuman M.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningkatnya arus globalisasi di segala bidang dengan adanya perkembangan teknologi dan industri telah banyak membuat perubahan pada perilaku dan gaya hidup pada masyarakat.
BAB 1 PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.bakteri ini berbentuk batang dan bersifat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... HALAMAN PERNYATAAN... HALAMAN PRAKATA... DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... HALAMAN PERNYATAAN... HALAMAN PRAKATA... i ii iii iv DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... xi DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN... xiv INTISARI...
BAB I PENDAHULUAN. Kusta merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih mendapatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kusta merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih mendapatkan perhatian khusus dari Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), terutama di negara-negara
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis paru (TBC) merupakan penyakit menular yang disebabkan adanya peradangan pada parenkim paru oleh mycobacterium tuberculosis, yaitu kuman jenis aerob
HUBUNGAN OLAHRAGA DENGAN KEJADIAN DIABETES MELITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOSARI SURAKARTA
HUBUNGAN OLAHRAGA DENGAN KEJADIAN DIABETES MELITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOSARI SURAKARTA Skripsi ini Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri penyebab. yang penting di dunia sehingga pada tahun 1992 World Health
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri penyebab tuberkulosis. Tuberkulosis
HUBUNGAN ANTARA KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI
HUBUNGAN ANTARA KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI Skripsi ini Disusun guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi
BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat dunia. Setiap tahunnya, TB Paru menyebabkan hampir dua juta
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang TB Paru adalah salah satu masalah kesehatan yang harus dihadapi masyarakat dunia. Setiap tahunnya, TB Paru menyebabkan hampir dua juta kematian, dan diperkirakan saat
BAB I PENDAHULUAN. oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis atau TB adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat
1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru
ABSTRAK TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG HEPATITIS B PADA DOKTER GIGI DI DENPASAR UTARA
ABSTRAK TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG HEPATITIS B PADA DOKTER GIGI DI DENPASAR UTARA Latar Belakang: Virus Hepatitis B atau (HBV) adalah virus DNA ganda hepadnaviridae. Virus Hepatitis B dapat
BAB I PENDAHULUAN. oleh kuman kusta Mycobacterium leprae (M. leprae) yang dapat menyerang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh kuman kusta Mycobacterium leprae (M. leprae) yang dapat menyerang hampir semua organ tubuh terutama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar tuberkulosis menyerang organ paru-paru, namun bisa juga
BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993 memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis masih
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular langsung yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini paling sering menyerang organ paru dengan sumber
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis, dengan gejala klinis seperti batuk 2
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kasus Tuberkulosis (TB) yang tinggi dan masuk dalam ranking 5 negara dengan beban TB tertinggi di dunia 1. Menurut
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER : Triswaty Winata, dr., M.Kes.
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER 2015 Annisa Nurhidayati, 2016, Pembimbing 1 Pembimbing 2 : July Ivone, dr.,mkk.,m.pd.ked. : Triswaty
BAB I PENDAHULUAN. kusta maupun cacat yang ditimbulkannya. kusta disebabkan oleh Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan beberapa negara di dunia. Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti oleh masyarakat,
BAB II KAJIAN PUSTAKA. kronis pada manusia yang disebabkan Mycobacterium leprae (M. leprae) yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Kusta Lepra (penyakit kusta, Morbus Hansen) adalah suatu penyakit infeksi kronis pada manusia yang disebabkan Mycobacterium leprae (M. leprae) yang secara primer menyerang
Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract PENDAHULUAN. Nitari Rahmi 1, Irvan Medison 2, Ifdelia Suryadi 3
345 Artikel Penelitian Hubungan Tingkat Kepatuhan Penderita Tuberkulosis Paru dengan Perilaku Kesehatan, Efek Samping OAT dan Peran PMO pada Pengobatan Fase Intensif di Puskesmas Seberang Padang September
SKRIPSI. HUBUNGAN TINGKAT STRESS DENGAN KEJADIAN REAKSI KUSTA DI RUMAH SAKIT KUSTA Dr. SITANALA TANGERANG 2013
SKRIPSI HUBUNGAN TINGKAT STRESS DENGAN KEJADIAN REAKSI KUSTA DI RUMAH SAKIT KUSTA Dr. SITANALA TANGERANG 2013 Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan JULIA 2011-33-070
PENGARUH PELATIHAN PERAWATAN DIRI BERBASIS KELUARGA TERHADAP PRAKTIK PERAWATAN DIRI PENDERITA KUSTA
PENGARUH PELATIHAN PERAWATAN DIRI BERBASIS KELUARGA TERHADAP PRAKTIK PERAWATAN DIRI PENDERITA KUSTA (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Kabunan Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang) SKRIPSI Diajukan
Laporan Pendahuluan Morbus Hansen. BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
Laporan Pendahuluan Morbus Hansen Ditulis pada Kamis, 24 Maret 2016 04:03 WIB oleh damian dalam katergori Mikrobiologi tag Morbus hansen, Kusta, Lepra, Mikrobilogi, Laporan Pendahuluan http://fales.co/blog/laporan-pendahuluan-morbus-hansen.html
BAB I PENDAHULUAN UKDW. kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi
Laporan Kasus REAKSI KUSTA TIPE 2 PADA PENDERITA KUSTA MULTIBASILER (MB) YANG TELAH MENYELESAIKAN TERAPI MDT-MB. dr. Cut Putri Hazlianda
Laporan Kasus REAKSI KUSTA TIPE 2 PADA PENDERITA KUSTA MULTIBASILER (MB) YANG TELAH MENYELESAIKAN TERAPI MDT-MB dr. Cut Putri Hazlianda DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT & KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN USU
2016 GAMBARAN MOTIVASI KLIEN TB PARU DALAM MINUM OBAT ANTI TUBERCULOSIS DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT DUSTIRA KOTA CIMAHI
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menurut Depertemen Kesehatan RI (2008) Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Sampai saat
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering mengenai organ paru-paru. Tuberkulosis paru merupakan
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO TINGKAT KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA DI PUSKESMAS PADAS KABUPATEN NGAWI
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO TINGKAT KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA DI PUSKESMAS PADAS KABUPATEN NGAWI Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat Disusun
Indikator monitoring dan evaluasi program pengendalian kusta :
Indikator monitoring dan evaluasi program pengendalian kusta : 1. Indikator utama a. Angka penemuan kasus baru (CDR = case detection rate) Adalah jumlah kasus yang baru ditemukan pada periode satu tahun
BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dari 90 mmhg (World Health Organization, 2013). Penyakit ini sering
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmhg dan/atau peningkatan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmhg
BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi bidang promotif, pencegahan, dan pengobatan seharusnya
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Keberadaan penyakit kusta atau lepra sangat ditakuti. Penyakit itu disebabkan bakteri Microbakterium leprae, juga dipicu gizi buruk. Tidak jarang penderitanya dikucilkan
BAB 1 : PENDAHULUAN. membungkus jaringan otak (araknoid dan piameter) dan sumsum tulang belakang
1 BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningitis merupakan reaksi peradangan yang terjadi pada lapisan yang membungkus jaringan otak (araknoid dan piameter) dan sumsum tulang belakang yang disebabkan
