Volume VI Nomor 3, Agustus 2016 ISSN:
|
|
|
- Hendri Kusuma
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENDAHULUAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN RISIKO KEJADIAN PENYAKIT KUSTA (MORBUS HANSEN) Riska Ratnawati (Prodi Kesehatan Masyarakat, Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun) ABSTRAK Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban penyakit kusta yang tinggii. Pada tahun 2013 jumlah kasus kusta baru sebanyak kasus dan jumlah kecacatan tingkat 2 di antara penderita baru sebanyak 9,86%. Banyaknya kasus kusta di daerah endemik yang terjadi tanpa adanya kontak langsung dengan penderita kusta memungkinkan adanya sumber penularan di luar manusia seperti lingkungan dan hewan yang dapat menyebabkan kejadian kusta. Faktor geografi, etnik atau suku dan sosial ekonomi (pendidikan dan pekerjaan) diduga dapat mempengaruhi kejadian kusta. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan resiko kejadian penyakit kusta (Morbus Hansen) di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga Maret 2016 menggunakan rancang bangun penelitian case control study. Lokasi penelitian di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita kusta yang terdaftar dalam anggota Paguyuban Budi Utomo di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi tahun Sampel sejumlah 36 orang yang terdiri dari 18 orang kelompok kasus dan 18 orang kelompok kontrol. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square. Variabel yang merupakan faktor risiko penyakit kusta adalah kondisi sanitasi meliputi kondisi dinding, kondisi lantai, jamban sehat dan karakteristik masyarakat meliputi pendidikan dan riwayat kontak. Kata kunci: Kusta, Faktor Resiko Latar Belakang Program pengobatan penyakit kusta dengan Multi Drugs Therapy (MDT) secara nasional telah dilakukan di seluruh Indonesia selama lebih dari 20 tahun, namun masih terus bermunculan kasus penyakit kusta baru. Seharusnya pengobatan yang bersifat bakterisidal dapat memutuskan rantai penularan penyakit kusta, karena sumber penularan yakni penderita penyakit kusta telah diobati. Menurut Cree & Smith (1998) salah satu kemungkinan faktor penularan lain adalah sumber diluar manusia yang menyebabkan kontrol, eliminasi dan eradikasi penyakit kusta pada manusia menjadi sulit. Menurut Blum, lingkungan merupakan faktor penyumbang terbesar kejadian penyakit. Lingkungan dapat menjadi tempat berkembang biaknya berbagai bakteri, termasuk bakteri penyakit kusta. Rumah merupakan bagian dari lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi kesehatan individu dan masyarakat. Rumah yang menjadi tempat tinggal harus memenuhi syarat kesehatan seperti memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, pencahayaan yang cukup, kepadatan hunian yang sesuai dan lantai yang terbuat bukan dari tanah. Sepanjang tahun 2013, Kementerian Kesehatan RI mencatat kasus kusta baru, dengan angka kecacatan 6,82 per penduduk. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia dengan kasus baru penyakit kusta setelah India ( kasus) dan Brasil ( kasus). Tahun 2014 Jawa Timur memiliki penderita baru sebesar kasus dengan Prevalensi Rate (PR) 1.07 per penduduk. Kabupaten Ngawi merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur dengan jumlah penderita penyakit kusta terbanyak ke-16 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur (Kemenkes RI, 2015). Jumlah penderita penyakit kusta di Ngawi cepat meningkat karena sebagian besar adalah tipe Multi Basiller (MB) yang bisa menular. Berdasarkan Data Pokok Program Kusta Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi 2015, jumlah penderita penyakit kusta sebanyak 57 kasus dengan prevalensi Rate (PR) 1,01 per TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan ---
2 penduduk. Kecamatan Bringin khususnya wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin merupakan daerah dengan prevalensi penyakit kusta tertinggi kedua pada tahun 2015 yaitu sebesar 18 kasus dengan prevalensi rate (PR) 5.97 per penduduk (Dinkes Kab. Ngawi, 2015). Cakupan sehat di Kecamatan Bringin Ngawi pada tahun 2015 adalah 29,0 persen sedangkan target cakupan sehat yang ditetapkan adalah 75 persen. Persentasi keluarga di Kabupaten Ngawi yang memiliki akses air bersih sebesar 59.5 persen. Angka cakupan dan persentasi keluarga yang memiliki sarana air bersih masih tergolong rendah. Hal ini mungkin dapat menyebabkan berbagai penyakit menular yang melalui air masih banyak terjadi di Kabupaten Ngawi (Dinkes Kab. Ngawi, 2015). Berdasarkan Report of the International Leprosy Association Technical Forum di Paris pada Februari 2002 dilaporkan adanya M.leprae pada debu, air untuk mandi dan mencuci di penderita. Perlunya kondisi fisik yang memenuhi syarat kesehatan agar dapat mencegah penyebaran M. leprae di lingkungan. Kondisi fisik mencakup jenis bahan bangunan dan lokasi seperti jenis dinding, lantai dan atap. Jenis bahan bangunan akan mempengaruhi peresapan air dan jumlah debu dalam. Menurut Ehler dan Stee, sanitasi sebagai pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengawasi faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan mata rantai perpindahan penyakit. Sanitasi yang perlu ditingkatkan untuk mencegah penyebaran bakteri kusta antara lain pengadaan jamban tangga yang sehat, sarana air bersih yang memenuhi syarat, sarana pembuangan limbah, ventilasi dan pencahayaan yang baik serta kepadatan hunian yang sesuai. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan resiko kejadian penyakit kusta (Morbus Hansen) di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi METODE PENELITIAN Ngawi. Populasi penelitian adalah semua penderita kusta yang terdaftar dalam anggota Paguyuban Budi Utomo di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi tahun Besar populasi kasus = 18 orang, kontrol = 36 orang. Besar sampel kasus = 18 penderita (total sampling) dan perbandingan kasus: kontrol adalah 1:2. Variabel bebas penelitian adalah faktor resiko kejadian kusta yaitu sanitasi pean (kondisi atap, kondisi dinding, kondisi lantai, kondisi jendela, kepadatan hunian, ventilasi, pencahayaan, sarana air bersih, jamban sehat, sarana pembuangan air limbah serta sarana pembuangan sampah) dan karakteristik masyarakat (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan riwayat kontak). Variabel terikat adalah penularan penyakit kusta. Instrumen penelitian adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Hasil Uji Hipotesis Hubungan Sanitasi Pean dengan Kejadian Kusta di UPTD Puskesmas Bringin No Variabel Sig OR 95 % CI A Sanitasi pean 0,002 7,857 1,920-32, Kondisi atap 0,111 2,800 0,770-10, Kondisi dinding 0,007 5,500 1,503-20, Kondisi lantai 0,001 8,846 2,151-36, Kondisi jendela 1,000 1,000 0,085-11, Kepadatan hunian 0,610 2,059 0,121-34, Ventilasi 0,076 7,000 0,673-72, Pencahayaan 0,620 2,059 0,121-34, Sarana air bersih 0,620 0,700 0,170-2, Jamban sehat 0,007 5,179 1,494-17, Sarana pembuangan air limbah 0,118 2,500 0,784-7, Sarana pembuangan sampah Keterangan : Signifikan = (p<0,05) 0,430 0,625 0,192-2,034 Lokasi penelitian case control ini adalah wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan ---
3 Sanitasi pean memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian kusta (pvalue <0.05), nilai OR sanitasi pean sebesar 7,857 yang berarti sanitasi pean merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit kusta dan peluang orang yang tinggal di dengan sanitasi pean yang tidak sehat tertular penyakit kusta 7,857 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tinggal dengan kondisi sanitasi pean yang sehat. Kondisi atap tidak memiliki kondisi atap sebesar 2,800 dengan CI 95% 0,770-10,183 yang berarti kondisi atap bukan merupakan faktor risiko Kondisi dinding memiliki penyakit kusta (p-value < 0.05), nilai OR kondisi dinding sebesar 5,500 yang berarti kondisi dinding merupakan faktor risiko kejadian penyakit kusta dan peluang orang yang tinggal di dengan dinding yang tidak sehat tertular penyakit kusta 5,500 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tinggal dengan kondisi dinding yang sehat. Kondisi lantai memiliki hubungan kusta (p-value < 0.05), nilai OR kondisi lantai sebesar 8,846 yang berarti kondisi lantai merupakan faktor risiko kejadian penyakit kusta dan peluang orang yang tinggal di dengan lantai yang tidak sehat tertular penyakit kusta 8,846 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tinggal dengan kondisi lantai yang sehat. Kondisi jendela tidak memiliki kondisi jendela sebesar 1,000 yang berarti kondisi jendela bukan merupakan faktor risiko kejadian penyakit kusta Kepadatan hunian tidak memiliki kepadatan hunian = 2,059 yang berarti kepadatan hunian bukan merupakan Ventilasi tidak memiliki kepadatan hunian sebesar 7,000 yang berarti ventilasi bukan merupakan Pencahayaan tidak memiliki kusta (p-value > 0.05), nilai OR kepadatan hunian sebesar 2,059 yang berarti pencahayaan bukan merupakan Sarana air bersih tidak memiliki kepadatan hunian sebesar 0,700 yang berarti sarana air bersih bukan merupakan Jamban sehat memiliki hubungan yang (p-value <0.05), nilai OR kondisi lantai sebesar 5,179 yang berarti jamban yang sehat merupakan faktor risiko kejadian penyakit kusta dan peluang orang yang tinggal di dengan jamban yang tidak sehat tertular penyakit kusta 5,179 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tinggal dengan jamban yang sehat. Sarana pembuangan air limbah tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian penyakit kusta (p-value > 0.05), nilai OR SPAL sebesar 2,500 yang berarti SPAL bukan merupakan faktor risiko Sarana pembuangan sampah tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian kusta (p-value > 0.05), nilai OR sarana pembuangan sampah sebesar 0,625 yang berarti sarana pembuangan sampah bukan merupakan faktor risiko Tabel 2. Hasil Uji Hipotesis Hubungan Karakteristik Masyarakat dengan Kejadian Kusta di UPTD Puskesmas Bringin No Variabel Sig OR 95 % CI B Karakteristik masyarakat 1. Umur 0,620 0,700 0,170-2, Jenis kelamin 0,620 0,700 0,170-2, Pendidikan 0,020 4,375 1,203-15, Pekerjaan 0,121 4,857 0,558-42, Pendapatan 0,037 7,480 0,882-63, Riwayat kontak 0,000 28,000 6, ,223 Keterangan: Signifikan = (p<0,05) TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan ---
4 Umur tidak memiliki hubungan yang (p-value > 0.05), nilai OR umur sebesar 0,700 yang berarti umur bukan merupakan Jenis kelamin tidak memiliki hubungan kusta (p-value > 0.05), nilai OR umur sebesar 0,700 yang berarti jenis kelamin bukan merupakan faktor risiko kejadian penyakit kusta. Tingkat pendidikan memiliki hubungan kusta (p-value < 0.05), nilai OR tingkat pendidikan sebesar 4,375 yang berarti tingkat pendidikan merupakan faktor risiko kejadian penyakit kusta dimana orang yang berpendidikan rendah berpeluang terjangkit penyakit kusta 4,375 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang berpendidikan tinggi. Pekerjaan tidak memiliki hubungan yang (p-value > 0.05), nilai OR kondisi lantai sebesar 4,968 yang berarti pekerjaan bukan merupakan faktor risiko Pendapatan memiliki hubungan yang (p-value <0.05), OR pendapatan sebesar 7,480 yang berarti pendapatan merupakan faktor risiko penyakit kejadian kusta. Riwayat kontak memiliki hubungan kusta (p-value < 0.05), nilai OR riwayat kontak sebesar 28,000 yang berarti riwayat kontak merupakan faktor risiko kejadian penyakit kusta dan peluang orang yang mempunyai riwayat kontak dengan penderita penyakit kusta tertular penyakit kusta 28,000 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai riwayat kontak dengan penderita kusta. PEMBAHASAN Hubungan Sanitasi Pean dengan Kejadian penyakit Kusta secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara sanitasi pean dengan Peluang orang yang tinggal dengan sanitasi yang tidak sehat tertular penyakit kusta 7,857 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tinggal dengan kondisi sanitasi yang sehat. Pada penelitian ini dari variabel sanitasi pean yang meliputi: kondisi atap, kondisi dinding, kondisi lantai, kondisi jendela, kepadatan hunian, ventilasi, pencahayaan, sarana air bersih, jamban sehat, sarana pembuangan air limbah dan sarana pembuangan sampah di dapatkan hasil yang bervariasi. dari variabel kondisi fisik yang menunjukan adanya hubungan yang adalah kondisi dinding dan lantai. Dari penelitian diketahui bahwa kondisi dinding yang tidak memenuhi syarat kesehatan berpeluang tertular penyakit kusta 5,500 kali lebih besar dibandingkan dengan yang mempunyai dinding yang memenuhi syarat kesehatan. Begitu pula dengan lantai yang tidak memenuhi syarat kesehatan berpeluang tertular penyakit kusta 8,846 lebih besar dibandingkan dengan yang mempunyai lantai memenuhi syarat kesehatan. Sedangkan untuk atap, jendela, ventilasi, kepadatan hunian dan pencahayaan secara statistik tidak ada hubungan yang signifikan dengan kejadian penyakit kusta. Hasil penelitian dari variabel jamban sehat menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jamban yang memenuhi syarat dengan kejadian penyakit kusta. Ini berarti bahwa jamban merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan penularan penyakit kusta. Jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan berpeluang menularkan penyakit kusta 5,179 kali lebih besar dibandingkan dengan jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Sedangkan sarana air bersih, sarana pembuangan air limbah, dan sarana pembuangan sampah tidak terdapat hubungan yang signifikan. Ini berarti bahwa sarana air bersih, sarana pembuangan air limbah dan sarana pembuangan sampah bukan merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan penularan penyakit kusta. Kondisi fisik dibeberapa desa di Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi masih banyak yang belum memenuhi syarat kesehatan, khususnya dinding, lantai dan jamban. Masyarakat masih banyak yang mempunyai dengan dinding yang tidak kedap air, berlantai tanah yang berdebu dan menggunakan jamban yang bukan leher angsa, tidak bertutup bahkan TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan ---
5 masih ada yang buang air besar di sungai. Berdasarkan Kepmenkes No. 829 tahun 1999 tentang Persyaratan Kesehatan pean bahwa dinding pean yang memenuhi syarat kesehatan adalah yang terbuat dari bahan permanen / tembok / batu bata yang plester /papan yang kedap air. Lantai yang memenuhi syarat kesehatan adalah lantai yang terbuat dari ubin/ keramik/ papan yang kedap air dan tidak berdebu. Sedangkan jamban yang memenuhi syarat kesehatan adalah jamban yang berleher angsa dengan septic tank. Dinding dan lantai yang berdebu merupakan salah satu faktor lingkungan yang diduga kuat menjadi sumber penularan di daerah-daerah endemik, dibuktikan dengan banyaknya kasus-kasus baru di daerah endemik yang tidak jelas riwayat kontak dengan penderita kusta. Selain itu beberapa hasil penemuan Report of the International Leprosy Association Technical Forum melaporkan bahwa ditemukan adanya Mycobacterium leprae pada debu, air untuk mandi dan mencuci di penderita kusta yang dibuktikan dengan pemeriksaan Polymerase Chain Reactin (PCR). Untuk menanggulangi hal ini sebaiknya mengambil kebijakan strategis, yaitu memperbaiki kondisi fisik dan sanitasi pean khusunya penderita kusta. Hal yang mungkin dapat dilakukan antara lain kerjama sama antar lintas sektoral yaitu dengan pihak penyelenggara pembangun desa (PNPM Mandiri) agar lebih meprioritaskan pembangunan sehat untuk penderita kusta agar dapat memutus sumber penularan utamanya. Kebanyakan masyarakat di Kecamatan Bringin masih belum tahu tentang pentingnya membangun yang memenuhi syarat kesehatan. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Gordis yang menyatakan penyakit dapat terjadi karena adanya hubungan antara penjamu, penyebab penyakit dan lingkungan. Untuk menanggulangi hal ini sebaiknya mengambil kebijakan strategis, yaitu memperbaiki kondisi fisik dan sanitasi pean khusunya penderita kusta. Hal yang mungkin dapat dilakukan antara lain kerjama sama antar lintas sektoral yaitu dengan pihak penyelenggara pembangun desa (PNPM Mandiri) agar lebih meprioritaskan pembangunan sehat untuk penderita kusta agar dapat memutus sumber penularan utamanya. Kebanyakan masyarakat di Kecamatan Bringin masih belum tahu tentang pentingnya membangun yang memenuhi syarat kesehatan. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Gordis yang menyatakan penyakit dapat terjadi karena adanya hubungan antara penjamu penyebab penyakit dan lingkungan. Hubungan umur dengan kejadian kusta tidak ada hubungan yang bermakna antara umur dengan Usia bukan merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit kusta di Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian dengan metode case control yang dilakukan di Kabupaten Cirebon yang menyimpulkan penderita yang berumur 0-14 tahun dan lebih dari 14 tahun tidak berhubungan dengan kejadian penyakit kusta. Menurut Depkes RI (2007), penyakit kusta dapat menyerang semua golongan umur dari 3 minggu sampai lebih dari 70 tahun, namun yang terbanyak adalah golongan umur muda (0-14 tahun) dan produktif (15-64 tahun). Hal ini sesuai dengan kondisi di UPTD Puskesmas Bringin bahwa penderita penyakit kusta yang masuk dalam golongan umur dewasa ( 17 tahun) sebesar 100%. Hubungan jenis kelamin dengan Kejadian penyakit kusta tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian penyakit kusta. Jenis Kelamin bukan merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit kusta di Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan di Kabupaten Brebes yang menyimpulkan bahwa jenis kelamin bukan merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit kusta (Prawoto, 2008). Menurut Depkes RI (2007), penyakit kusta dapat menyerang laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan laporan, sebagian besar Negara di dunia kecuali di beberapa Negara Afrika menunjukan bahwa laki-laki lebih banyak terserang penyakit kusta dari pada perempuan. Rendahnya kejadian penyakit kusta pada TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan ---
6 perempuan kemungkinan karena faktor lingkungan atau biologi. Seperti penyakit menular lainya laki-laki lebih banyak terpapar dengan faktor risiko sebagai akibat gaya hidupnya. Hal ini bertolak belakang dengan penitian ini, kemungkinan besar penyebabnya adalah perbandingan antara jumlah responden laki-laki tidak seimbang, sehingga homogenitas sampel nya kurang memenuhi syarat penelitian. Hubungan tingkat pendidikan dengan kejadian penyakit kusta secara statistik ada hubungan yang bermkana antara tingkat pendidikan dengan Peluang orang dengan pendidikan rendah tertular penyakit kusta 4,375 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang berpendidikan tinggi. Tingkat pendidikan masyarakat di Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi dari waktu ke waktu memang semakin meningkat, tetapi di daerah-daerah yang terpencil dan jauh dari kota tingkat pendidikan masih banyak yang rendah Menurut Skiner, perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus rangsangan dari luar. Perilaku masyarakat merupakan hal penting dalam meningkatkan derajat kesehatan. Kebiasaan menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar akan melindungi diri dari berbagai jenis penyakit. Perilaku hidup bersih dan sehat dapat mencegah perkembangan penyakit. Upaya yang dapat dilakukan oleh petugas kesehatan adalah meningkatkan sosialisasi tentang kebersihan secara umum dan tentang kusta khususnya. Perlunya ditanamkan kesadaran tentang pendidikan umum dan kesehatan pada usia dini, sehingga dapat menciptakan penerus yang berpendidikan dan sehat. Hasil penelitian sebelumnya menyatakan tingkat pendidikan rendah akan meningkatkan risiko 3,169 kali lebih besar tidak patuh berobat dibandingkan dengan pendidikan tinggi (Norlatifah, 2010). Hubungan antara pekerjaan dengan kejadian penyakit kusta tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan Pekerjaan bukan merupakan faktor risiko yang berhubungn dengan kejadian penyakit kusta di Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi. Pekerjaan masyarakat di Kecamatan Bringin mayoritas sebagai petani karena masih luasnya wilayah sawah dan ladang. Sosial ekonomi yang rendah dimasyarakat meningkatkan banyaknya orang yang putus sekolah, karena diharuskan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar masyarakat akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Hasil penelitian serupa di Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan, menunjukan hasil bahwa pekerjaan bukan merupakan faktor risiko kejadian kusta (Norlatifah, 2010). Hubungan pendapatan dengan kejadian penyakit kusta secara statistik ada hubungan yang signifikan antara pendapatan dengan Di wilayah Kecamatan Bringin sebagian besar tingkat sosial ekonominya adalah menengah ke bawah. Ini dikarenakan sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, dimana ekonomi yang didapat bergantung segalanya terhadap sawah ataupun ladang. Selain itu lokasi yang jauh dari kota juga memegang peranan penting dalam kemajuan desa yang berdampak pada besarnya pendapatan. Masyarakat dengan pendapatan yang rendah, biasanya pemenuhan gizinya kurang, hal ini menyebabkan rendahnya sistem imunitas dari tubuh, sehingga mudah tertular olehmbibit penyakit. Selain itu rendahnya pengetahuan tentang kesehatan akan menurunkan status kesehatan lingkunganya sehingga status kesehatanya juga mengalami penurunan (Soemirat, 2009). Hubungan antara riwayat kontak dengan kejadian penyakit kusta secara statistik ada hubungan yang bermakna antara riwayat kontak dengan Peluang orang dengan riwayat kontak se tertular penyakit kusta 28,000 kali lebih besar dibandingkan dengan tidak ada riwayat TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan ---
7 kontak se. Karakteristik masyarakat di Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi yang memiliki tingkat keakraban yang tinggi terhadap keluarga dan tetangga. Kebiasaan masyarakat bertemu dan berbincang dengan keluarga dan tetangga memungkinkan adanya kontak dengan penderita kusta yang belu diketahui. Riwayat kontak dengan penderita sebelumnya merupakan sumber penularan utama dan dapat menyebabkan kejadian penyakit kusta jika terjadi kontak yang dekat atau akrab, terus menerus dalam waktu yang lama dan orang yang rentan dengan Mycobacterium leprae. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan kontak dengan penderita kusta yang berasal dari keluarga inti lebih berisiko tertular penyakit kusta dibandingkan dengan penderita yang tinggal satu atap tetapi bukan keluarga inti atau tetangga (Norlatifah, 2010). KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Ada hubungan antara sanitasi pean (kondisi dinding dan kondisi lantai ) dan karakteriskti masyarakat (pendidikan, pendapatan dan riwayat kontak) dengan kejadian penyakit kusta di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bringin Kabupaten Ngawi. Depkes RI, 2007, Buku Pedoman Nasional Pengendalian Penyakit Kusta. Diretorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dir. Jen. P dan PL). Jakarta. Dinkes Kab. Ngawi (2016). Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi. Kabid P2M. Ngawi. Dinkes Kab. Ngawi (2015). Profil Cakupan Rumah Sehat. Bidang Penyehatan Lingkungan. Ngawi. Kementrian Kesehatan RI (2015). Hari Kusta Sedunia: Hilangkan Stigma!Kusta Bisa Sembuh Tuntas. Tanggal 22 Maret 2016 jam Norlatifah (2010) Hubungan Kondisi Fisik Rumah, Sarana Air Bersih dan Karakteristik Masyarakat dengan Kejadian Kusta. Notoatmodjo Soekidjo ( 2003 ) Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Prawoto, (2008) Faktor-Faktor Resiko Yang Berpengaruh Terhadap Terjadinya Reaksi Kusta. Report of the International Leprosy Association, Technical forum. Paris. Soemirat (2009) Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Saran Saran yang diberikan berdasarkan kesimpulan untuk Dinas kesehatan kabupaten Ngawi adalah: meningkatkan penemuan penderita secara aktif yang dilakukan oleh petugas kesehatan, sehingga penderita segera dapat didiagnosis dan diobati secara dini, meningkatkan penyuluhan kesehatan (KIE) tentang faktor-faktor resiko penularan penyakit kusta khususnya masyarakat yang mempunyai riwayat kontak dengan penderita kusta, meningkatkan penyuluhan kesehatan (KIE) tentang pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Cree IA & Smith WC., (1998). Leprosy Transmission and Mucosal Immunity: Towards Eradication Lepr. Rev TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan ---
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi banyak terjadi di negara berkembang yang mempunyai kondisi sosial ekonomi rendah. Salah satu penyakit infeksi tersebut adalah penyakit kusta. Penyakit
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai ke masalah sosial, ekonomi, budaya,
KONDISI LINGKUNGAN FISIK RUMAH PENDUDUK DENGAN KEJADIAN KUSTA DI KECAMATAN JENGGAWAH KABUPATEN JEMBER
KONDISI LINGKUNGAN FISIK RUMAH PENDUDUK DENGAN KEJADIAN KUSTA DI KECAMATAN JENGGAWAH KABUPATEN JEMBER (Physical Environment of Houses with the Incidence of Leprosy in Jenggawah, Jember District) Ellyke*
BAB I LATAR BELAKANG A. Latar Belakang Penyakit kusta disebut juga penyakit lepra atau Morbus Hansen merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. (1) Kusta adalah
BAB 1 : PENDAHULUAN. fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan,
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit berbasis lingkungan merupakan penyakit yang proses kejadiannya atau fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan, berakar
PERILAKU IBU DALAM MENGASUH BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE
PENELITIAN PERILAKU IBU DALAM MENGASUH BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE Andreas A.N*, Titi Astuti**, Siti Fatonah** Diare adalah frekuensi dan likuiditas buang air besar (BAB) yang abnormal, ditandai dengan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis menular dan menahun yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang utamanya menyerang saraf tepi, dan kulit,
BAB I PENDAHULUAN. penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG TB paru merupakan penyakit infeksi kronik dan menular yang erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan prilaku masyarakat. Penyakit TB paru merupakan penyakit infeksi
Berapa penghasilan rata-rata keluarga perbulan? a. < Rp b. Rp Rp c. > Rp
LAMPIRAN 1 LEMBAR PERTANYAAN ANALISIS PENILAIAN RUMAH SEHAT DAN RIWAYAT PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN PADA BALITA DI DESA SIHONONGAN KECAMATAN PARANGINAN KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN TAHUN 2016 I. Identitas
HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 922-933 Online di http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN
BAB I PENDAHULUAN. karena adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan. Terutama
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk dapat menjadi media penularan penyakit. Terjadinya penyakit berbasis lingkungan disebabkan karena adanya interaksi antara manusia
BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat (Kemenkes, 2012).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis saja tetapi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular menahun disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan
BAB I PENDAHULUAN. di kenal oleh masyarakat. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular kronis yang telah lama di kenal oleh masyarakat. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, bakteri ini mampu
BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan laporan WHO (World Health Organisation) pada tahun 2014,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Tuberkulosis adalah penyakit menular yang ditularkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, merupakan penyebab kematian terutama di negaranegara berkembang di seluruh
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Puskesmas Nuangan terletak di Wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow. a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tutuyan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil A. Gambaran Umum Lokasi Puskesmas Nuangan terletak di Wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dengan luas wilayah 337,80 KM 2, dengan batas wilayah: a. Sebelah Utara
BAB I PENDAHULUAN. Menurut laporan World Health Organitation tahun 2014, kasus penularan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Menurut laporan World Health Organitation
BAB 1 PENDAHULUAN. pada kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Predileksi awal penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kusta atau disebut juga Morbus Hansen (MH) merupakan infeksi kronik pada kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Predileksi awal penyakit ini adalah saraf
ANALISA FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU Dhilah Harfadhilah* Nur Nasry Noor** I Nyoman Sunarka***
ANALISA FAKT RISIKO LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU Dhilah Harfadhilah* Nur Nasry Noor** I Nyoman Sunarka*** * Program Studi Pendidikan Dokter UHO ** Bagian Kimia Bahan Alam Prodi Farmasi
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN KELEMBABAN UDARA DENGAN KEJADIAN TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUTRI AYU KOTA JAMBI TAHUN 2014
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN KELEMBABAN UDARA DENGAN KEJADIAN TB PARU DI WILAYAH KERJA Herlina 1, Erris 2* 1 STIKes Prima Jambi 2 Politeknik Kesehatan Jambi Jurusan Kesehatan Lingkungan *Korespondensi penulis
HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH, SARANA AIR BERSIH DAN KARAKTERISTIK MASYARAKAT DENGAN KEJADIAN KUSTA DI KABUPATEN TAPIN KALIMANTAN SELATAN
KES MAS ISSN : 1978-0575 182 HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH, SARANA AIR BERSIH DAN KARAKTERISTIK MASYARAKAT DENGAN KEJADIAN KUSTA DI KABUPATEN TAPIN KALIMANTAN SELATAN Norlatifah, Adi Heru Sutomo, Solikhah
KUISIONER PENELITIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI DASAR DAN RUMAH SEHAT
Lampiran KUISIONER PENELITIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI DASAR DAN RUMAH SEHAT I. Karakteristik Responden. Nama :. Jenis Kelamin :. Pekerjaan : 4. Pendidikan : II. Pengetahuan
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN NGAWI
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN NGAWI Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memproleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan di Kecamatan Pancoran Mas pada bulan Oktober 2008 April 2009 dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut : 1.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis ( mycobacterium tuberculosa) yang ditularkan melalui udara (droplet nuclei) saat
BAB I PENDAHULUAN. seluruh daerah geografis di dunia. Menurut data World Health Organization
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan dan terjadi hampir di seluruh daerah geografis di dunia. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2013,
BAB I PENDAHULUAN. mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi. kesehatan lingkungan. (Munif Arifin, 2009)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit berbasis lingkungan. Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB
DIABETES MELITUS (TIPE 2) PADA USIA PRODUKTIF DAN FAKTOR-FAKTOR RESIKO YANG MEMPENGARUHINYA (STUDI KASUS DI RSUD Dr. SOEROTO KABUPATEN NGAWI)
DIABETES MELITUS (TIPE 2) PADA USIA PRODUKTIF DAN FAKTOR-FAKTOR RESIKO YANG MEMPENGARUHINYA (STUDI KASUS DI RSUD Dr. SOEROTO KABUPATEN NGAWI) Dyah Surya Kusumawati (Prodi S1 Keperawatan) Stikes Bhakti
BAB I PENDAHULUAN. sementara penyakit menular lain belum dapat dikendalikan. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia masih menghadapi beberapa penyakit menular baru sementara penyakit menular lain belum dapat dikendalikan. Salah satu penyakit menular yang belum sepenuhnya
STUDI KASUS KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAYANAN TAHUN 2015
STUDI KASUS KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAYANAN TAHUN 2015 Mahmudah FKM Uniska, Banjarmasin, Kalimantan Selatan E-mail: [email protected] Abstrak Latar belakang: Diare
BAB I PENDAHULUAN. Asam) positif yang sangat berpotensi menularkan penyakit ini (Depkes RI, Laporan tahunan WHO (World Health Organitation) tahun 2003
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang tersebar hampir di sebagian besar negara di seluruh dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat,
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan
BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai nafas sesak atau nafas cepat,
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai nafas sesak atau nafas cepat, penyakit ini sering menyerang anak balita, namun juga dapat ditemukan pada orang dewasa,
BAB I PENDAHULUAN. oleh kuman kusta Mycobacterium leprae (M. leprae) yang dapat menyerang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh kuman kusta Mycobacterium leprae (M. leprae) yang dapat menyerang hampir semua organ tubuh terutama
melebihi 40-70%, pencahayaan rumah secara alami atau buatan tidak dapat menerangi seluruh ruangan dan menyebabkan bakteri muncul dengan intensitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberkulosis. Kuman Tuberkulosis dapat masuk ke dalam tubuh manusia
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi Directly
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis Paru (TB Paru) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi Directly Observed Treatment Short-course
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO TINGKAT KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA DI PUSKESMAS PADAS KABUPATEN NGAWI
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO TINGKAT KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA DI PUSKESMAS PADAS KABUPATEN NGAWI Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat Disusun
HUBUNGAN ANTARA KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI PUBLIKASI ILMIAH
HUBUNGAN ANTARA KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI PUBLIKASI ILMIAH Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan
BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit TB paru merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit TB paru merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan merupakan penyakit infeksi kronis menular yang menjadi
HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG
Volume, Nomor, Tahun 0, Halaman 535-54 Online di http://ejournals.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN
BAB I PENDAHULUAN. penyakit yang disebabkan oleh sejenis mikroba atau jasad renik. Mikroba ini
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan terhadap penyakit menular masih tetap dirasakan, terutama oleh penduduk di negara yang sedang berkembang. Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan
Lampiran 1. I. Identitas Kepala Keluarga 1. Nomor : 2. Nama : 3. Umur : Tahun 4. Alamat :
Lampiran 1 LEMBAR PERTANYAAN HUBUNGAN KARAKTERISTIK, PENGETAHUAN, SIKAP KEPALA KELUARGA DENGAN KEPEMILIKAN RUMAH SEHAT DI KELURAHAN PEKAN SELESEI KECAMATAN SELESEI KABUPATEN LANGKAT TAHUN 2010 I. Identitas
HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNA AIR SUMUR DENGAN KELUHAN KESEHATAN DAN PEMERIKSAAN KUALITAS AIR SUMUR PADA PONDOK PESANTREN DI KOTA DUMAI TAHUN
KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNA AIR SUMUR DENGAN KELUHAN KESEHATAN DAN PEMERIKSAAN KUALITAS AIR SUMUR PADA PONDOK PESANTREN DI KOTA DUMAI TAHUN 2011 IDENTITAS RESPONDEN 1. Nomor Responden
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
VIDIYANITA SEPTIAN KARISTYA PUTRI J
ANALISIS SPASIAL PERSEBARAN PENYAKIT KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADAS KABUPATEN NGAWI TAHUN 2014 NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh : VIDIYANITA SEPTIAN KARISTYA PUTRI J 410 100 038 PROGRAM STUDI KESEHATAN
PENDAHULUAN. Herdianti STIKES Harapan Ibu Jambi Korespondensi penulis :
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI SERTA PERAN KELUARGA TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERAWATAN SUBAN KECAMATAN BATANG ASAM TAHUN 2015 Herdianti STIKES
BAB 1 PENDAHULUAN. dunia, menurut WHO 9 (sembilan) juta orang penduduk dunia setiap tahunnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TBC) saat ini masih menjadi masalah kesehatan dunia, menurut WHO 9 (sembilan) juta orang penduduk dunia setiap tahunnya menderita TBC. Diperkirakan
PERILAKU MASYARAKAT TENTANG RUMAH SEHAT DI DUSUN NGUMPAK DESA JABON KECAMATAN MOJOANYAR KABUPATEN MOJOKERTO
PERILAKU MASYARAKAT TENTANG RUMAH SEHAT DI DUSUN NGUMPAK DESA JABON KECAMATAN MOJOANYAR KABUPATEN MOJOKERTO Dwi Helynarti Syurandhari 1, Ellen Yuni Yastuti 2 1) Dosen Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat
13 2-TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan
PENDAHULUAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENYAKIT DBD Riska Ratnawati (Prodi Kesehatan Masyarakat) STIKes Bhakti Husada Mulia Madiun ABSTRAK Penyakit Demam Berdarah Dengue
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae (M.leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae (M.leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang
HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GIRIWOYO 1 WONOGIRI
HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GIRIWOYO 1 WONOGIRI Ani Murtiana 1, Ari Setiyajati 2, Ahmad Syamsul Bahri 3 Latar Belakang : Penyakit diare sampai
ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KONTRUKSI SUMUR GALI TERHADAP KUALITAS SUMUR GALI
ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KONTRUKSI SUMUR GALI TERHADAP KUALITAS SUMUR GALI Enda Silvia Putri Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar, Meulaboh Email: [email protected] ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN. mencanangkan TB sebagai kegawatan dunia (Global Emergency), terutama
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa situasi Tuberkulosis (TB) dunia semakin memburuk, dimana jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan.
BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB paru) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh
BAB V HASIL. Kelurahan Bidara Cina merupakan salah satu dari delapan kelurahan yang
BAB V HASIL 5.1. Gambaran Umum Wilayah 5.1.1. Geografi Kelurahan Bidara Cina merupakan salah satu dari delapan kelurahan yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Jatinegara. Berdasarkan data Kelurahan Bidara
BAB I PENDAHULUAN. sosial dan ekonomi (Depkes, 2007). Para penderita kusta akan cenderung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai
BAB I PENDAHULUAN. peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sasaran pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal.
BAB 5 HASIL. Kelurahan Gandaria Selatan, Puskesmas Kelurahan Cipete Selatan, Puskesmas
BAB 5 HASIL 5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Puskesmas Kecamatan Cilandak terletak di Kota Administrasi Jakarta Selatan Propinsi DKI Jakarta dengan memiliki 5 Puskesmas kelurahan yaitu: Puskesmas Kelurahan
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kusta merupakan salah satu jenis penyakit menular yang masih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta merupakan salah satu jenis penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Selain menimbulkan masalah kesehatan penyakit kusta juga
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Visi pembangunan kesehatan yaitu hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat diantaranya memiliki kemampuan hidup sehat, memiliki kemampuan untuk
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam sistem kesehatan nasional disebutkan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN PENYAKIT KUSTA PADA PENDUDUK DI KECAMATAN TUKDANA KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2012
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN PENYAKIT KUSTA PADA PENDUDUK DI KECAMATAN TUKDANA KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2012 Oleh: Riyanto Martomijoyo FKM Universitas Wiralodra Indramayu, Jawa Barat ABSTRAK
HUBUNGAN TINGKAT KESEHATAN RUMAH DENGAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK BALITA DI DESA LABUHAN KECAMATAN LABUHAN BADAS KABUPATEN SUMBAWA
Aprinda D.S. dan Soedjajadi K., Hubungan Tingkat Kesehatan Rumah HUBUNGAN TINGKAT KESEHATAN RUMAH DENGAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK BALITA DI DESA LABUHAN KECAMATAN LABUHAN BADAS KABUPATEN SUMBAWA Association
NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Oleh : Januariska Dwi Yanottama Anggitasari J
PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN DIARE BALITA PADA KELOMPOK MASYARAKAT YANG SUDAH MEMILIKI JAMBAN KELUARGA DENGAN KELOMPOK MASYARAKAT YANG BELUM MEMILIKI JAMBAN KELUARGA NASKAH PUBLIKASI Diajukan Oleh : Januariska
HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN PENYAKIT KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABUNAN KABUPATEN PEMALANG ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH
HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN PENYAKIT KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABUNAN KABUPATEN PEMALANG ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat
The Effect of House Environment on Pneumonia Incidence in Tambakrejo Health Center in Surabaya
PENGARUH KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH TERHADAP KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMBAKREJO KECAMATAN SIMOKERTO SURABAYA The Effect of House Environment on Pneumonia Incidence in
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Usaha kesehatan lingkungan merupakan salah satu dari enam usaha dasar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha kesehatan lingkungan merupakan salah satu dari enam usaha dasar kesehatan masyarakat. Usaha ini merupakan usaha yang perlu didukung oleh ahli rekayasa secara
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat diwujudkan jika masyarakat Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium Tuberculosis dan paling sering menginfeksi bagian paru-paru.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis dan paling sering menginfeksi bagian paru-paru. Penyebaran penyakit
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau sering disebut dengan istilah TBC merupakan penyakit
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis atau sering disebut dengan istilah TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini biasanya menyerang
BAB IV HASIL PENELITIAN. Karanganyar terdapat 13 perusahaan tekstil. Salah satu perusahaan di daerah
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Berdasarkan data dari kelurahan desa Waru, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar terdapat 13 perusahaan tekstil. Salah satu perusahaan di daerah
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Bone Bolango. Wilayah kerja Puskesmas Kabila Bone terdiri dari 9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Puskesmas Kabila Bone merupakan salah satu puskesmas yang terletak di. Wilayah kerja Puskesmas Kabila Bone terdiri dari 9 desa yaitu : Desa Bintalahe, Desa Botubarani, Desa
PENDAHULUAN. waktu terjadi pasang. Daerah genangan pasang biasanya terdapat di daerah dataran
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daerah genangan pasang adalah daerah yang selalu tergenang air laut pada waktu terjadi pasang. Daerah genangan pasang biasanya terdapat di daerah dataran rendah di dekat
BAB 1 PENDAHULUAN. masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Visi Indonesia Sehat 2010 merupakan gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masuk dalam kategori penyakit infeksi yang bersifat kronik. TB menular langsung melalui udara yang tercemar basil Mycobakterium tuberculosis, sehingga
BAB 1 PENDAHULUAN. yang dikategorikan high burden countries. Kasus baru Tuberkulosis di dunia
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Situasi TB di dunia semakin memburuk, sebahagian besar negara di dunia yang dikategorikan high burden countries. Kasus baru Tuberkulosis di dunia mengalami peningkatan
HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT KONTAK, KELEMBABAN, PENCAHAYAAN, DAN KEPADATAN HUNIAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA ANAK DI KABUPATEN SUKOHARJO
HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT KONTAK, KELEMBABAN, PENCAHAYAAN, DAN KEPADATAN HUNIAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA ANAK DI KABUPATEN SUKOHARJO ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk
BAB III METODE PENELITIAN. Variable bebas
56 BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Variable bebas Intensitas Pencahayaan Luas Ventilasi JenisLantai Jenis dinding Kepadatan hunian Kelembaban Variabel Terikat Kejadian Kusta Suhu Frekwensi
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kualitas lingkungan dapat mempengaruhi kondisi individu dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kualitas lingkungan dapat mempengaruhi kondisi individu dan masyarakat, dimana kualitas kondisi lingkungan yang buruk akan menimbulkan berbagai gangguan pada kesehatan
I. PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO)
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkolosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO) dalam satu tahun kuman M.
BAB 1 PENDAHULUAN. agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2025 adalah meningkatnya kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat
HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013
HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013 Marinawati¹,Marta²* ¹STIKes Prima Prodi Kebidanan ²STIKes
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular langsung yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini paling sering menyerang organ paru dengan sumber
BAB I PENDAHULUAN. infeksi bakteri Mycobacterium leprae (M.leprae). Penatalaksanaan kasus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kusta merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae (M.leprae). Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta
BAB I PENDAHULUAN. sekolah dan tempat umum, air dan udara bersih, teknologi, pendidikan, perilaku terhadap upaya kesehatan (Depkes RI, 2009).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu : lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi
BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada di negara berkembang dan negara maju. Hal ini disebabkan karena masih tingginya
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang optimal bagi masyarakat diselenggarakan upaya kesehatan dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal bagi
Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012
PERINGATAN HARI KUSTA SEDUNIA TAHUN 214 Tema : Galang kekuatan, hapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta 1. Penyakit kusta merupakan penyakit kronis disebabkan oleh Micobacterium
BAB 1 PENDAHULUAN. dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Penyakit ini tetap menjadi salah satu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit campak adalah salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan pada bayi dan anak di Indonesia dan merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan
BAB I PENDAHULUAN. TB (Mycobacterium Tuberculosis) (Depkes RI, 2011). Mycobacrterium tuberculosis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis) (Depkes RI, 2011). Mycobacrterium tuberculosis bersifat tahan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Puskesmas Marisa Kec. Marisa merupakan salah satu dari 16 (enam belas)
32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Geografi Puskesmas Marisa Kec. Marisa merupakan salah satu dari 16 (enam belas) Puskesmas yang ada di Kabupeten Pohuwato, dimana
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel penelitian, dengan tetap memenuhi kriteria inklusi. Kuesioner ini diuji validitas dan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Validitas Kuesioner Sebelum digunakan dalam penelitian, kuesioner disebarkan kepada 30 orang responden non sampel penelitian, dengan tetap memenuhi kriteria
