Aksara Sunda. Dr. Ruhaliah, M.Hum.

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III AKSARA SUNDA

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR. MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) MADRASAH TSANAWIYAH (MTs.)

SERAT MUMULEN (SUNTINGAN TEKS DAN KAJIAN SEMIOTIK)

PERANGKAT PEMBELAJARAN STANDAR KOMPETENSI (SK) & KOMPETENSI DASAR (KD)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Zainal Arifin Nugraha, 2013

SEJARAH JAKARTA. Jakarta berasal dari kata Jayakarta Betawi berasal dari perubahan penyebutan Batavia

BAB I PENDAHULUAN. Prabu Siliwangi adalah seorang sosok raja Sunda dengan pusat. pemerintahan berada pada Pakuan Pajajaran.

BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

2014 SAJARAH CIJULANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG HARI JADI KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG,

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN ASTANA GEDE. di Kabupaten Ciamis. Situs Astana Gede merupakan daerah peninggalan

SILABUS KAMPUS CIBIRU / /

Bujangga Manik dan Studi Sunda. Oleh: Hawe Setiawan

BAB 1 PENDAHULUAN. dulu sampai saat ini. Warisan budaya berupa naskah tersebut bermacam-macam

23/03/2010 Drs. Sumiyadi, M.Hum./Jurdiksatrasia, FPBS,UPI

MATERI USBN SEJARAH INDONESIA. 6. Mohammad Ali : Sejarah adalah berbagai bentuk penggambaran tentang pengalaman kolektif di masa lampau

BAB I PENDAHULUAN. Tutur merupakan salah satu jenis teks sastra tradisional yang mengandung

KESASTRAAN MELAYU KLASIK oleh Halimah FPBS UPI Bandung

BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL

Wujud Akulturasi Budaya Islam Di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. terutama kesaksian tangan pertama yang disusun oleh bangsa yang bersangkutan

89. Mata Pelajaran Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) Program Bahasa

2016 TEKS NASKAH SAWER PANGANTEN: KRITIK, EDISI, DAN TINJAUAN FUNGSI

Sunda, Priangan dan Jawa Barat : Analisis berdasarkan pola gerak sejarah

KAJIAN SEMIOTIK SYAIR SINDHEN BEDHAYA KETAWANG PADA NASKAH SERAT SINDHEN BEDHAYA

MEKARKEUN PANGAJARAN KAPARIGELAN NGAGUNAKEUN BASA NUNUY NURJANAH

KUJANG DAN POLA TIGA YANG MENGEMUKA

Prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati perintah Rakryan Juru Pangambat pada tahun Saka 854 untuk mengembalikan kekuasaan kepada raja

SD kelas 4 - BAHASA INDONESIA BAB 1. INDAHNYA KEBERSAMAANLatihan Soal 1.7

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ki Gede Sebayu merupakan tokoh pendiri Tegal yang telah dikenal oleh

BAB IV WAWACAN RAWI MULUD

BAB I PENDAHULUAN A. Manfaat dan Relevansi

SUNDA, PRIANGAN, DAN JAWA BARAT

BAB II KONDISI DAERAH SEKITAR TEMPAT TINGGAL PANGLIMA BESAR JENDERAL SOEDIRMAN

BAB III DATA DAN TEORY

MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA

BAB III OBJEK, METODE, DAN TEKNIK PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. kebudayaan Jawa dengan mengacu pada buku History Of Java dan membandingkannya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan

ARSITEKTUR ISLAM PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA DAN KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. yang luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penemuan penelitian. Penelitian ini mengambil cerita rakyat Onggoloco sebagai

Pertemuan XII Permukiman Kuna Di Trowhlan

AGUS SANTOSO PERNIKAHAN ARJUNA. Sebuah Epik Arjunawiwaha Karya Mpu Kanwa

Setelah selesai kegiatan pembelajaran, siswa dapat :

DINAS PENDIDIKAN KOTA SURABAYA KISI-KISI PENULISAN SOAL UJIAN SEKOLAH TULIS TAHUN PELAJARAN 2014/2015

LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2011 NOMOR 1 SERI E PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN NAMA JALAN

2015 ORNAMEN MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA

ASAL MULA NAMA PANTARAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. bangunan besar, benda-benda budaya, dan karya-karya sastra. Karya sastra tulis

BAB 5 PENUTUP. Penelitian ini merupakan penelusuran sejarah permukiman di kota Depok,

Lampiran 1. Peta Provinsi Banten Dewasa ini. Peta Provinsi Banten

BAB I PENDAHULUAN. dapat dibaca dalam peningglan-peninggalan yang berupa tulisan.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Kedudukan Pujangga Dalam Kesusastraan Jawa 1

BAB I PENDAHULUAN. cipta yang menggambarkan kejadian-kejadian yang berkembang di masyarakat.

2015 KRITIK TEKS DAN TINJAUAN KANDUNGAN ISI NASKAH WAWACAN PANDITA SAWANG

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS JAMBI

BAB 2 DESKRIPSI NASKAH

KAJIAN STRUKTURAL DALAM SERAT PARARATON: KEN ANGROK

BAB I PENDAHULUAN. memikat perhatian para peneliti, salah satunya adalah kakawin yang merupakan

INTERAKSI KEBUDAYAAN

I. PENDAHULUAN. dalamnya terdapat pengilustrasian, pelukisan, atau penggambaran kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Gending berarti lagu, tabuh, nyanyian, sedangkan Rare berarti bayi/

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Definisi Batik

AKULTURASI BUDAYA INDONESIA DAN ISLAM

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Permukaan Bulan. Bulan merupakan satu-satunya satelit alam yang dimiliki bumi. Kemunculan

FAKTOR-FAKTOR STRATEGIK DALAM PENINGKATAN BELAJAR UKIR KAYU (Studi Kasus: Pada Sanggar Ukir Di Jepara)

BAB 3 OBJEK DAN METODE PENELITIAN. (Ratna, 2004:34). Metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah, sehingga

2015 KONSEP PERCAYA DIRI PEREMPUAN SUNDA DALAM JANGJAWOKAN PARANTI DISAMPING

BAB I PENDAHULUAN. nenek moyang yang memiliki nilai-nilai luhur budaya. Bali bukan hanya sebagai

MEKARKEUN PROFESI GURU BASA DAERAH KU USEP KUSWARI FPBS UPI

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

Arsip dan Naskah Banten yang tersimpan di Luar Negeri. Titik Pudjisatuti 1

PERAN TAMAN BUDAYA DALAM PENGEMBANGAN LITERASI SENI DAN BUDAYA KREATIF BERBASIS NILAI-NILAI LUHUR DALAM NASKAH NUSANTARA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Kebudayaan Jawa telah menjadi salah satu identitas bangsa. Indonesia. Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia maupun

BAB I PENDAHULUAN. ilmiah tentang peninggalan masa lalu manusia. Di dalam ilmu arkeologi terdapat subsub

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Budi Utomo, 2014

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidupnya. Manusia yang memiliki sifat Human Society (sosialisasi

SASTRA MELAYU HALAMAN SAMPUL SOAL MID SEMESTER JURUSAN SASTRA DAERAH/ MELAYU SEMESTER 2

commit to user BAB I PENDAHULUAN

KERAJAAN SAMUDERA PASAI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

INTERAKSI LOKAL - HINDU BUDDHA - ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sosial, adat istiadat. Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah

LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI NOMOR : 385 TAHUN : 1992 SERI: D NO. 379 PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI

BAB I PENDAHULUAN. kesusastraan Bali adalah salah satu bagian dari karya sastra yang terdapat di

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 6 MALANG

KISI-KISI UJIAN SEKOLAH SMP/MTs MATA PELAJARAN BAHASA DAERAH KURIKULUM 2006 TAHUN PELAJARAN 2017/2018 KOTA SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. Danandjaja (dalam Maryaeni 2005) mengatakan bahwa kebudayaan daerah

AGUS SANTOSO PERNIKAHAN ARJUNA. Sebuah Epik Arjunawiwaha Karya Mpu Kanwa

Transkripsi:

Aksara Sunda Dr. Ruhaliah, M.Hum.

Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI Ketua Program Magister Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Jawa Barat Pengurus Manassa Jawa Barat

Naskah di PNRI SD 111 Radhen Widjajakoesoemah, koppypaktimeester 1862 M Nieuwe Almanak Operhet Jaar 1862 of gematt (?) door Radhen Widjajakoesoemah gewezen Koppypaktinimeester te Boutenzorg

SD 85 SD 50: 25 Oktober 1892, Rabiulawal, selesai ditulis waktu Ashar hari Selasa 3 Ramadhan tahun Alif, Desa Campeya sebelah utara Caringin, Tirtapraja (pemilik), Agus Asmawan Tirta Jumena (?), Rahibin (penulis) SD 85: Carita Nagara Pajajaran SD 87: Carita Tanah Jawa Beunang ku Walanda SD 174: Babad Pajajaran

77) a. Judul Naskah: CARITA NAGARA PAJAJARAN pada halaman awal naskah tertulis SAJARAH KITAB CERITA ASAL KALUARAN DARI NEGERI PAJAJARAN b. No. Kode: SD. 85 c. Ukuran Naskah: 21,3 X 17,2 cm, teks: 18,5 X 12,7 cm d. Penulisan: recto & verso e. Tebal Naskah: 10 halaman, 26-27 baris perhalaman f. Keadaan naskah: lengkap g. Aksara yang Digunakan: Latin, tulisan renggang, bekas pena tumpul, aksara besar h. Tinta: hitam j. Kertas: Kertas Eropah, polos, berwarna putih bersih

j. Kertas: Kertas Eropah, polos, berwarna putih bersih k. Cap Kertas: Lion in Medallion dengan tulisan CONCORDIA RESPARVAE CRESCUNT l. Titimangsa: Bogor, 23 April 1859, m. Iluminasi: - n. Paginasi: angka Arab, menggunakan balpen biru r. Bahasa: Sunda s. Bentuk Karangan: Prosa t. Isi Teks: Mengenai berbagai peristiwa pemerintahan yang terjadi di Bogor dan Jakarta antara tahun 1627 sampai tahun 1750 t. Keterangan lain: Di bawah titimangsa terdapat tanda tangan Radhen Wijayakusumah

Naskah dalam Aksara Sunda Kuna Bujangga Manik (abad 15-16 M) Sanghyang Siksa Kandang Karesian 1518 (nora catur sagara wulan, 1440 Saka)

Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian dan Carita Bujangga Manik disusun pada zaman Kerajaan Sunda-Pajajaran masih ada dan berkembang. Dari kacamata sejarah, kedua naskah tersebut bisa jadi sumber primer. Sedangkan naskahnaskah lainnya yang disusun setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh termasuk sumber sekunder. Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh pada tahun 1579. Kedua naskah tersebut ditulis dengan bahasa dan huruf Sunda Kuno.

BUJANGGA MANIK penyair kelana dari Pakuan (di dekat Bogor kini) yang hidup pada abad ke-16. Sebetulnya, dia adalah ahli waris takhta kerajaan dari Istana Pakuan di Cipakancilan, dengan gelar Pangeran Jaya Pakuan, tapi dia lebih suka menempuh jalan hidup asketis. Sebagai rahib Hindu, dia berziarah menyusuri Pulau Jawa hingga Bali.

Bujangga Manik Prabu Jaya Pakuan (baris ke-14). Bujangga Manik (baris ke-456) Dalam baris 15-20 diceritakan bahwa dia akan meninggalkan ibunya untuk pergi ke arah timur.

Waktu Bujangga Manik mendaki daerah Puncak, dia menghabiskan waktu, seperti seorang pelancong zaman modern, dia duduk, mengipasi badannya dan menikmati pemandangan, khususnya Gunung Gede yang, pada baris ke 59 sampai 64, dia sebut sebagai titik tertinggi dari kota Pakuan (ibukota Kerajaan Sunda).

Perjalanan dari Pamalang ke Kalapa, pelabuhan Kerajaan Sunda, ditempuh dalam setengah bulan. (baris 121), yang memberi kesan bahwa kapal yang ditumpangi tersebut berhenti di berbagai tempat di antara Pamalang dan Kalapa. Dari perjalanan tersebut, Bujangga Manik membuat nama alias lainnya yaitu Ameng Layaran.

Yang menjadi tokoh dalam naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda yang, walaupun merupakan seorang prabu pada keraton Pakuan Pajajaran (ibu kota kerajaan, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi kota Bogor), lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi. Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke Jawa. Pada perjalanan kedua Bujangga Manik malah singgah di Bali untuk beberapa lama. Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya. [1] Jelas sekali, dari ceritera dalam naskah tersebut, bahwa naskah Bujangga Manik berasal dari zaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda. Naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Penyebutan Majapahit, Malaka dan Demak Demak memungkinkan kita untuk memperkirakan bahwa naskah ini ditulis dalam akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an. [2] Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan topografi pulau Jawa pada sekitar abad ke-15. Lebih dari 450 nama tempat, gunung, dan sungai disebutkan di dalamnya. Sebagian besar dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan atau dikenali sampai sekarang.

Dari Kalapa, Bujangga Manik melewati Pabeyaan dan meneruskan perjalanan ke istana kerajaan di Pakuan, di bagian selatan kota Bogor sekarang (Noorduyn 1982:419). Bujangga Manik memasuki Pakancilan (baris 145), terus masuk ke paviliun yang dihias cantik dan duduk di sana. Dia melihat ibunya sedang menenun, teknik menenunnya dijelaskan dalam baris (160-164). Ibunya terkejut dan bahagia melihat anaknya pulang kembali. Dia segera meninggalkan pekerjaannya dan memasuki rumah dengan melewati beberapa lapis tirai, dan naik naik ke tempat tidurnya.

Mo lain di Pakancilan, tohaan eukeur nu ma(ng)kat, P(e)rebu Jaya Pakuan Sauma karah sakini: (Tidak diragukan peristiwa itu terjadi di Pakancilan, seorang pangeran akan pergi, Pangeran Jaya Pakuan. Lalu ia berkata:)

Sau(n)dur aing ti U(m)bul, sadiri ti Pakancilan, sadatang ka Wi(n)du Cinta, cu(n)duk aing ka Mangu(n)tur, ngalalar ka Pancawara, ngahusir ka Lebuh Ageung, na leu(m)pang saceu(n)dung kaen. (Setelah melewati Umbul, setelah pergi dari Pakancilan, dan setelah sampai di Windu Cinta, aku tiba di halaman paling luar, melewati Pancawara, untuk terus pergi ke alun-alun besar, berjalan dengan mengenakan sehelai pakaian sebagai hiasan kepala.)

Séok na janma nu carek: Tohaan nu dék ka mana? Mana sinarieun teuing teka leu(m)pang sosorangan?' (Banyak rakyat yang berkata: Ke manakah engkau akan pergi, Tuan? Kenapa engkau tiba-tiba bepergian sendiri. ) Ditanya ha(n)teu dek nyaur. Nepi ka Pakeun Caringin, ku ngaing teka kaliwat. (Walau mereka bertanya, aku tidak ingin berkata apa-apa. Pergi ke Pakuen Caringin, aku melewatinya dengan segera.) Ngalalar ka Na(ng?)ka Anak, datang ka Tajur Mandiri. (Aku pergi melewati Nangka Anak, dan datang ke Tajur Mandiri.)

Sanghyang Siksa Kandang Karesian Ensiklopedi masyarakat Sunda abad ke-16

Deung maka ilik-ilik dina turutaneun: mantri gusti kaasa-asa, bayangkara nu marek, pangalasan, juru lukis, pande dang, pande mas, pande gelang, pande wesi, guru wida(ng), medu wayang, kumbang gending, tapukan, banyolan, pahuma, panyadap, panyawah, panyapu, bela mati, juru moha, barat katiga, pajurit, pamanah, pam(a)rang, pangurang dasa calagara, rare angon, pacelengan, pakotokan, palika, preteuleum, sing sawatek guna.

Pamaréntah Daérah Tingkat I Jawa Barat ngaluarkeun Peraturan Daérah No.6 Tahun 1996, ngeunaan Pelestarian, Pembinaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda (Ngamumulé, Ngabina, jeung Mekarkeun Basa, Sastra, katut Aksara Sunda). Éta Perda téh dilengkepan ku Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat No.434/SK.614-Dis.PK/99. Éta Peraturan Daérah No.6 Tahun 1996 téh ayeuna geus disaluyukeun jeung situasi sarta kondisi dina waktu ieu jadi Peraturan Daérah Propinsi Jawa Barat No.5 Tahun 2003, ngeunaan Miara Basa, Sastra, jeung Aksara Daérah.

Aksara Palawa dan bahasa Sanskerta di Pulau Jawa pertama kali diketahui dari inskripsiinskripsi raja Pūrn awarman raja dari kerajaan Tārumānagara, yang berkuasa di wilayah bagian barat Pulau Jawa.

Aksara Palawa yang digunakan pada inskripsiinskripsi raja Pūrn awarman berasal dari masa pertengahan abad ke-5, sedangkan aksara Palawa yang digunakan dalam inskripsiinskripsi Batujaya berasal dari kurun waktu sekitar abad ke-6 dan ke-7.

aksara Palawa jaman kerajaan Tārumānagara, disebut aksara Palawa awal (Early Pallava script), aksara Palawa Akhir (Later Pallava script). aksara Palawa mendorong munculnya aksaraaksara lokal

Mampu menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan daam beragam karangan yang berupa prosa (surat, biografi, berita, bahasan, esai, resensi buku, carita pondok, laporan, puisi (sajak, guguritan, sisindiran), dan teks drama, serta mampu menulis terjemahan ke dalam bahasa Sunda, dan menggunakan aksara Sunda.