BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mendeskripsikan apa-apa yang berlaku saat ini. Didalamnya terdapat upaya

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Semiotika, Tanda dan Makna

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan data atau pun informasi untuk. syair lagu Insya Allah (Maherzain Feat Fadly).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. baru, maka keberadaan seni dan budaya dari masa ke masa juga mengalami

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan menjelaskan atau menganalisis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bersifat interpretatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.

1.1.1 KONDISI TEMPAT WISATA DI SURAKARTA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang ditempuh melalui

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Keadaan Museum di Indonesia

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

BAB III METODE PERANCANGAN. perancangan merupakan paparan deskriptif mengenai langkah-langkah di dalam

BAB III METODE PENELITIAN

PENDAHULUAN BAB I. Latar Belakang. Kota Jakarta, ibukota negara sekaligus sebagai pusat ekonomi dan pusat

BAB I PENDAHULUAN. ditegaskan oleh Astrid (1982:120) bahwa, Semenjak peluncuran satelit

BAB I PENDAHULUAN. Perancangan Marina Central Place di Jakarta Utara (Sebagai Lokasi Sentral Bisnis dan Wisata Berbasis Mixed Use Area)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. diinginkan. Melalui paradigma seorang peneliti akan memiliki cara pandang yang

1.5 Ruang lingkup dan Batasan Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

1.1.2 Perpustakaan dan Museum Budaya Sebagai Fasilitas Belajar Budaya

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. sebuah karya kreatif yang bisa bebas berekspresi dan bereksplorasi seperti halnya

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Kampus Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Bina Nusantara. yang Berhubungan dengan Arsitektur.

Perancangan Perpustakaan Umum dengan Pendekatan Arsitektur Hybrid

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PERANCANGAN. perancangan ialah merupakan metode dalam sebuah perancangan. Yang hal ini bisa

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PERANCANGAN DESAIN INTERIOR MUSEUM KOPI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Judul 1.2 Pengertian Judul

BAB I PENDAHULUAN. dari target yang ditetapkan. Kegiatan pertambangan mengalami penurunan seiring

BAB I PENDAHULUAN. dapat tercapai sesuai yang diinginkan ( Hamalik, 2001 : 56) pengetahuan, ilmu dan pengalaman-pengalaman hidupnya dalam bahasa tulis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan sekolah, keterampilan menulis selalu dibelajarkan. Hal ini disebabkan oleh menulis

menciptakan sesuatu yang bemilai tinggi (luar biasa)1. Di dalam seni ada

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB III METODE PERANCANGAN. kualitatif, karena penelitian ini bertujuan membuat deskripsi, gambaran atau

BAB I INTRODUCING. revitalisasi kawasan yang berlokasi di Blok bekas fungsi bangunan: Gedung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kartun sebagai media komunikasi merupakan suatu gambar interpretatif. diciptakan dapat mudah dikenal dan dimengerti secara cepat.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

2015 PENGEMBANGAN RUMAH BERSEJARAH INGGIT GARNASIH SEBAGAI ATRAKSI WISATA BUDAYA DI KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. teks yang isinya berbagai jenis, baik berupa ide, gagasan, pemikiran suatu tokoh

HILLSIDE HOTEL DI SEMARANG Penekanan Desain Arsitektur Neo Vernakular

PUSAT INFORMASI BATIK di BANDUNG BAB I PENDAHULUAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Dalam persaingan saat ini, produsen dengan segala cara berusaha untuk

BAB I PENDAHULUAN. Peran Berita Politik Dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat Terhadap Pengetahuan Politik Mahasiswa Ilmu Sosial se-kota Bandung

BAB I PENDAHULUAN. dikaruniai berbagai kelebihan dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Karunia itu

BAB III DESKRIPSI PROYEK. : Museum Perjuangan Rakyat Indonesia

BAB III METODE PERANCANGAN. terbagi jadi beberapa tahap. Keseluruhan proses ini yang akan dikerjakan dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. massa sangat beragam dan memiliki kekhasan yang berbeda-beda. Salah satu. rubrik yang ada di dalam media Jawa Pos adalah Clekit.

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

PROGRAM STUDI D4 ANIMASI SIKAP

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan

BAB III METODE PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN. simbolisme dari kalimat Minazh zhulumati ilan nur pada surat Al Baqarah 257.

BAB III METODE PENELITIAN. A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

PASAR GUNUNGPATI DI SEMARANG (Penekanan Desain Arsitektur Neo Vernakular)

BAB I PENDAHULUAN. membentang luas lautan yang merupakan pesisir utara pulau Jawa. Kabupaten

BAB I PENDAHULUAN. potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik. Kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. perekonomiannya ini dibuktikan dengan banyaknya pusat perbelanjaan dibangun

BAB I PENDAHULUAN. Museum Transportasi Darat di Bali 1

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan intelektual. Oleh karena itu mereka tidak dapat terlepas dari. menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Tipe penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembuatan film, pasti mengharapkan filmnya ditonton orang sebanyakbanyaknya.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Latar Belakang Perancangan. Pusat perbelanjaan modern berkembang sangat pesat akhir-akhir ini.

MUSEUM PEREMPUAN RIAU DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR KONTEMPORER

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. kreativitas imajinatif. Secara garis besar dibedakan atas sastra lisan dan tulisan, lama

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya merupakan upaya untuk

BAB III METEDOLOGI PENELITIAN. & Knipe, 2006 ) menyatakan bahwa paradigma adalah kumpulan longgar dari

BAB 1 PENDAHULUAN. desain poster seperti prinsip keseimbangan (balance), alur baca (movement),

BAB I PENDAHULUAN. kota Jakarta pada akhirnya menuntut tersedianya wadah fisik untuk menampung

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Latar Belakang Proyek. Angka pertambahan penduduk yang tinggi dan perkembangan pesat di

Transkripsi:

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Tesis perancangan ini berangkat dari permasalahan komunikasi atas kenangan dari masa lampau yang hadir dari sebuah situs cagar budaya melalui perancangan arsitektur. Dan karena pembahasan berkaitan langsung dengan situs cagar budaya yang kondisinya tidak terawat dan tidak tertata, kajian juga meliputi masalah peran sisa bagian dari bangunan yang dapat dimanfaatkan sebagai bagian penting dari pengembangan yang akan dilakukan. Komunikasi dimana arsitektur sebagai medianya bisa terjadi dalam sistem tanda yang dikenalkan Charles Sander Pierce dalam model triadik. Model triadik ini memiliki tiga komponen utama yang memungkinkan terjadinya pemaknaan terhadap suatu obyek arsitektur, yaitu pesan perancang, bangunan, dan pengamat bangunan. Komponen yang paling mudah dikontrol oleh perancang adalah pesan perancang dan bangunan, sedangkan pengamat merupakan variabel yang tidak terkontrol namun sebenarnya bisa diarahkan. Pendekatan ini bisa disadur menjadi komponen isi yang ingin disampaikan dan ekspresi yang digunakan dimana masing-masing mewakili pesan perancang dan bangunan itu sendiri. Isi dan ekspresi ini bisa disejajarkan dengan petanda dan petanda, sehingga sebenarnya muncul satu komponen lain yaitu fungsi aktual. Hubungan antara isi dan ekspresi ini memiliki beberapa jenis hubungan tanda, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang menyerupai obyek yang diwakilinya atau tanda yang menggunakan kesamaan ciri-ciri dengan yang dimaksudkan. Indeks adalah tanda yang sifatnya tergantung pada keberadaan suatu denotatum (penanda). Simbol adalah tanda dimana hubungan antara tanda dengan denotatum (penanda) ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum atau kesepakatan bersama yang diketahui sebelumnya. 279

Sebuah situs cagar budaya memiliki kisah yang berharga untuk disampaikan kepada masyarakat. Kisah ini bisa didapatkan melalui analisa interpretatif terhadap bukti-bukti bersejarah yang dikumpulkan, diorganisasi, dan dikritisi. Metode kesejarahan interpretatif bisa digunakan untuk membentuk alur kisah yang ingin disampaikan dalam sebuah situs cagar budaya. Kisah tersebut kemudian dikategorisasi menjadi beberapa tahapan penceritaan sehingga lebih sederhana. Tahap-tahap yang dihasilkan dari beberapa kisah kemudian disandingkan sehingga bisa dicarikan alur penceritaan yang sesuai berdasarkan waktu. Hasil analisa pada Kasus Penjara Koblen dilihat dari kisah yang muncul yaitu kisah Perjuangan Kemerdekaan, Kisah Kehidupan Penjara, dan Kisah Perkembangan Arsitektur. Kriteria rancangnya berdasarkan ikon, indeks, dan simbol yang bisa dihasilkan dari pengkajian argumentatif logis dari tahap-tahap yang telah dikategorisasi. Analisa ini menghasilkan ekspresi bentuk, ruang, dan permukaan yang dijadikan konsep perancangan. Siasat rancang yang digunakan pada kasus ini menggunakan pendekatan rancang analogis, kanonis, tipologis, dan pragmatis yang dikenalkan Broadbent. Jenis perancangan yang dilakukan berdasarkan ikon adalah cenderung kanonis dan analogis, berdasarkan indeks adalah cenderung pragmatis, dan simbol adalah cenderung tipologis. Dan karena kasus rancangan merupakan berada pada situs atau bangunan cagar budaya maka dibutuhkan pendekatan rancangan antara lain korespondensi, unifikasi, fragmentasi, dan junction-delineation. Kesemua siasat rancang tersebut bisa digunakan bersamaan ataupun sebagian dalam menemukan alternatif solusi perancangan arsitektur yang dikerjakan. Siasat rancang tersebut memanfaatkan komponen bangunan lama sebagai aset yang dimunculkan. Menara dan dinding sekeliling yang cukup besar dimanfaatkan sebagai obyek koleksi yang ikut membentuk ruang dan pengalaman di dalam museum. Museum Penjara Koblen ini merupakan sebuah usaha untuk membangkitkan kembali aktifitas bekas Penjara Koblen yang tertata dengan baik. Setelah mengamati lokasi yang berada di tengah-tengah tiga jenis guna lahan yaitu 280

perdagangan dan perniagaan, fasilitas umum yang didominasi fasilitas pendidikan, dan perumahan, Museum Penjara Koblen merupakan solusi yang dianggap tepat. Kelebihan dari rancangan Museum Penjara Koblen baik metode rancang maupun hasil yang diwujudkan ini adalah kedekatannya terhadap kisah-kisah yang melatar belakangi sebuah situs cagar budaya. Sebagai sebuah museum yang memberikan informasi dan pengetahuan berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, Museum Penjara Koblen sebagai arsitektur dan lingkung binaan mewujudkan sebuah latar belakang yang mendukung penceritaan selain dari koleksi, informasi, maupun program kegiatan yang terjadi di dalamnya. Sehingga dengan perwujudan kisah yang ingin disampaikan dalam bentuk arsitektur, tujuan museum untuk memberikan pengetahuan, rekreasi sekaligus apresiasi dapat menjadi lebih optimal. Museum Penjara Koblen yang menggunakan pendekatan interpretasi kisah kesejarahan ini memiliki perbedaan terhadap preseden lain yang sudah dibahas sebelumnya. Pendekatan perancangan yang menggunakan eksploitasi sejarah terlebih dahulu ini memunculkan kisah yang tidak hanya satu. Beragam peristiwa telah terjadi seiring dengan waktu pada suatu tapak. Pengumpulan bukti-bukti terhadap kisah sejarah memunculkan beragam kisah sehingga terdapat beragam persepsi sejarah yang berbeda di sini. Pendekatan ini sudah cukup kompleks untuk dijadikan kompleksitas dalam perancangan arsitektur. Kompleksnya kisah yang akan dihadirkan akan lebih mudah dan sistematis ketika dikaji berdasarkan tanda-tanda yang muncul yaitu dengan semiotika. Sehingga pendekatan ini dibandingkan dengan pendekatan pada preseden yang lain memiliki keluasan pemaknaan yang didapatkan melalui penjabaran tanda. Walaupun demikian hasilnya tidak lantas menjadi berlebihan karena kriteria yang dibuat didasarkan tanda-tanda yang telah disederhanakan. Penggunaan metode yang berdasarkan pada model triadik Peirce ini memungkinkan untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh terhadap hubungan antara tanda yang dimunculkan arsitektur dengan maksud yang ditangkap oleh pengunjung museum. Walaupun tidak menutup kemungkinan 281

pemaknaan yang meluas karena petanda yang digunakan tidak semuanya merujuk kepada suatu obyek secara langsung, peran museum dengan beragam koleksi dan informasinya dapat melengkapi sekaligus mempersempit pemaknaannya. Terdapat kemunculan arsitektur Jawa dalam tesis perancangan ini. Penggunaan arsitektur Jawa mampu dipadukan dengan pendekatan arsitektur lain yang menghasilkan sebuah pendekatan arsitektur yang lebih kompleks dan lebih dekat dengan konteks lingkungan terkini. 5.2 Saran Museum yang terbangun pada lingkungan cagar budaya kadang kala tidak memiliki integrasi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang terkandung di dalamnya seperti kisah ataupun sejarah dalam lingkup arsitektur. Pendekatan yang dilakukan dalam tesis ini diharapkan mampu mengaitkan nilai-nilai ini terhadap arsitektur. Beragam usaha perlu dilakukan untuk lebih mengintegrasikan sebuah rancangan terhadap lingkungan, kawasan, dan masyarakat di sekitar tempat cagar budaya tersebut budaya. Pendekatan Peirce dalam mewacanakan sesuatu dapat dipahami maknanya berdasarkan tanda-tanda yang bisa dimunculkan. Jadi pendekatan ini memang akan bermakna berbeda dari setiap pengamat berdasarkan latar belakang yang berbeda. Namun menggunakan penandaan yang terlalu literal pun kadang kala akan memunculkan kebosanan dan kesan yang tidak kreatif. Terlepas dari pendekatan ini sebagai pemaknaan secara menyeluruh tanpa memperhatikan prilaku yang muncul akibat keberadaan ekspresi naratif. Besaran pengaruh ekspresi arsitektur terhadap pengamat yang berupa tingkat kepahamannya terhadap kisah-kisah yang hadir dari situs cagar budaya patut dilakukan penelitian lebih lanjut. Pemanfaatan kembali lahan cagar budaya yang mangkrak, khususnya Penjara Koblen, perlu juga diteliti pengaruhnya ketika lokasi ini dijadikan museum dibandingkan dengan fungsi lain seperti pusat perbelanjaan, ataupun arena rekreasi keluarga. Fungsi-fungsi lain yang lebih efisien dan lebih 282

memberikan nilai positif perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Kegiatan ini juga bisaberkaitan dengan studi tentang program maupun studi tentang kelayakan. Arsitektur Jawa yang secara tidak langsung muncul dalam tesis perancangan yang dilakukan ini memperoleh peluang baru untuk dieksplorasi. Arsitektur Jawa ternyata bisa dipadukan pendekatan rancang maupun interpretasi lain yang tentunya akan memperkaya khasanah pengetahuan arsitektur Nusantara. 283