UNIVERSITAS MERCU BUANA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR HIDRAULIK

TUGAS AKHIR PERENCANAAN SYSTEM HYDROLIK PADA MOVABLE BRIDGE DERMAGA KAPASITAS 100 TON

KOPLING. Kopling ditinjau dari cara kerjanya dapat dibedakan atas dua jenis: 1. Kopling Tetap 2. Kopling Tak Tetap

TUGAS AKHIR PERANCANGAN, PEMBUATAN DAN PENGUJIAN ALAT PEMBUKA BALL BEARING DENGAN HYDRAULIC JACK 4 TON

TUGAS AKHIR PERENCANAAN SISTEM HIDRAULIK PADA BACKHOE LOADER TYPE 428E

TUGAS AKHIR SISTEM HIDROLIK PADA FORKLIFT FD 30. Universitas Mercubuana

BAB IV PERHITUNGAN SISTEM HIDRAULIK

REKONDISI SISTEM KOPLING PADA MITSUBISHI L300


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENERAPAN KONSEP FLUIDA PADA MESIN PERKAKAS

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS KERJA MOBIL TENAGA UDARA MSG 01 DENGAN SISTEM DUA TABUNG

KOPLING. Gb. 1 komponen utama kopling

CORRECTIVE MAINTENANCE BANTALAN LUNCUR LORI PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS ANGKUT 2,5 TON TBS MENGGUNAKAN ANALISA KEGAGALAN

ANALISA PENGARUH JUMLAH BILAH PENGADUK JENIS FLAT BLADE PITCH PADDLE TERHADAP KAPASITAS PENGADUKAN DAN BESARNYA DAYA MOTOR

PENGUJIAN PENGARUH VARIASI HEAD SUPPLY DAN PANJANG LANGKAH KATUP LIMBAH TERHADAP UNJUK KERJA POMPA HIDRAM

MAKALAH TEKNIK PERAWATAN I PERAWATAN DAN PERBAIKAN DONGKRAK HIDROLIK

SISTEM REM PADA SEPEDA MOTOR LISTRIK GENERASI II

ANALISIS FAKTOR GESEK PADA PIPA AKRILIK DENGAN ASPEK RASIO PENAMPANG 1 (PERSEGI) DENGAN PENDEKATAN METODE EKSPERIMENTAL DAN EMPIRIS TUGAS AKHIR

TUGAS AKHIR PERANCANGAN MESIN PENGANGKUT PRODUK BERTENAGA LISTRIK (ELECTRIC LOW LOADER) PT. BAKRIE BUILDING INDUSTRIES

UNJUK KERJA MOBIL MSG 01 DENGAN SISTEM TENAGA UDARA

PERENCANAAN OVERHEAD TRAVELLING CRANE YANG DIPAKAI PADA PABRIK PELEBURAN BAJA DENGAN KAPASITAS ANGKAT CAIRAN 10 TON


TRANSMISI RANTAI ROL 12/15/2011

1. Kopling Cakar : meneruskan momen dengan kontak positif (tidak slip). Ada dua bentuk kopling cakar : Kopling cakar persegi Kopling cakar spiral

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer


Minggu 1 Tekanan Hidrolika (Hydraulic Pressure)

TUGAS AKHIR TRANSMISI RANTAI PADA RODA GIGI MAJU-MUNDUR KENDARAAN MOBIL MINI UNTUK DAERAH PERUMAHAN

TRANSMISI RANTAI ROL

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

3.2. Hal-hal Penting Dalam Perencanaan Kopling Tetap

TUGAS AKHIR Analisa Tiga Jenis Kanvas Pada Motor Matic 110 cc

PERENCANAAN POMPA SENTRIFUGAL DENGAN KAPASITAS 42 LITER/ DETIK, HEAD 40M DAN PUTARAN 1450 PRM DENGAN PENGGERAK DIESEL

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN

BAB IV ANALISA PENGUJIAN DAN PERHITUNGAN BLOWER

BAB 2 LANDASAN TEORI. menaikkan cairan dari dataran rendah ke dataran tinggi atau untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II DASAR TEORI. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai

Menguak Prinsip Kerja Dongkrak Hidrolik

Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

TEORI SAMBUNGAN SUSUT

TUGAS AKHIR. Analisa Aliran Turbulen Terhadap Aliran Fluida Cair Pada Control Valve AGVB ANSI 150 Dan ANSI 300

PERANCANGAN KOMPRESOR TORAK UNTUK SISTEM PNEUMATIK PADA GUN BURNER

FIsika KTSP & K-13 FLUIDA STATIS. K e l a s. A. Fluida

TUGAS AKHIR PERANCANGAN ALAT PENCETAK TABLET DENGAN APLIKASI PNEUMATIK DAN KONTROL PLC

SKRIPSI PERANCANGAN MESIN PENGISIAN BULK SEDIAAN LIQUID CREAM DENGAN SISTEM PNEUMATIK MENGGUNAKAN KONTROL PLC AUTONIC TYPE LP

SKRIPSI. Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik STEVANUS SITUMORANG NIM

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Motor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Identifikasi Sistem Kopling dan Transmisi Manual Pada Kijang Innova

ANALISIS DAYA BERKURANG PADA MOTOR BAKAR DIESEL DENGAN SUSUNAN SILINDER TIPE SEGARIS (IN-LINE)

FISIKA STATIKA FLUIDA SMK PERGURUAN CIKINI

HUKUM STOKES. sekon (Pa.s). Fluida memiliki sifat-sifat sebagai berikut.

BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN

SOAL TRY OUT FISIKA 2

BAB III PERANCANGAN LAPORAN TUGAS AKHIR. 3.1 Rangkaian Rem. Desain alat yang digunakan pada rangkaian rem merupakan desain alat

Gambar 3-15 Selang output Gambar 3-16 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk Gambar 3-17 Skema penelitian dengan sudut pipa masuk

PERANCANGAN OVERHEAD TRAVELLING CRANE YANG DIPAKAI DI WORKSHOP PEMBUATAN PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS ANGKAT 10 TON

Gambar1. Dongkrak Hidrolik

BAB 7 ULIR DAN PEGAS A. ULIR Hal umum tentang ulir Bentuk ulir dapat terjadi bila sebuah lembaran berbentuk segitiga digulung pada sebuah silinder,

BAB II DASAR TEORI Sistem Transmisi

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

KAJIAN ULANG PERENCANAAN PIPA PESAT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) WONOGIRI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang bertekanan lebih rendah dari tekanan atmosfir. Dalam hal ini disebut pompa

TUGAS AKHIR. Analisa Kekuatan Sambungan Pipa Yang Menggunakan Expansion Joint Pada Sambungan Tegak Lurus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

TUGAS AKHIR. Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) Disusun Oleh :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HANDOUT. Hukum Pokok Hidrostatis & Hukum Pascal. Mata Pelajaran : Fisika Kelas / Semester : X / 2. Jumlah Pertemuan : 1 Pertemuan

Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel

RANCANG BANGUN DAN PENGUJIAN TURBIN PELTON MINI BERTEKANAN 7 BAR DENGAN DIAMETER RODA TURBIN 68 MM DAN JUMLAH SUDU 12

Bab 4 Perancangan Perangkat Gerak Otomatis

K13 Antiremed Kelas 10 Fisika

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.2 TUJUAN RUMUSAN

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

ANALISIS KOPLING SEPEDA MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM HIDROLIK Paridawati 1)

ANALISA PERENCANAAN POMPA HYDRANT PEMADAM KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT DELAPAN BELAS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan C. Rumusan Masalah BAB II PEMBAHASAN

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK ( LKPD )

STRUKTURISASI MATERI. Fluida statis ALFIAH INDRIASTUTI

PERANCANGAN TURBIN UAP PENGGERAK GENERATOR LISTRIK DENGAN DAYA 80 MW PADA INSTALASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS UAP

Rumus bilangan Reynolds umumnya diberikan sebagai berikut:

Kopling tetap adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti

II. TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KIMIA IV DINAMIKA PROSES PADA SISTEM PENGOSONGAN TANGKI. Disusun Oleh : Zeffa Aprilasani NIM :

RANCANG BANGUN TURBIN TESLA SEBAGAI TURBIN AIR DAN ANALISA PERBANDINGAN VARIASI JUMLAH DISK DAN JARAK ANTAR DISK

LAPORAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN MESIN ROUGH MAKER DIAMETER INTERNAL PIPA POLYPROPYLENE Ø 600

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN KINCIR ANGIN TIPE HORIZONTAL AXIS WIND TURBINE (HAWT) UNTUK DAERAH PANTAI SELATAN JAWA

PERANCANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH DINGIN DARI TANGKI ATAS MENUJU HOTEL PADA THE ARYA DUTA HOTEL MEDAN

ANALISA PERPINDAHAN KALOR PADA KONDENSOR PT. KRAKATAU DAYA LISTRIK

SKRIPSI. Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi. Syarat memperoleh Gelar Sarjana Teknik OLEH : ERICK EXAPERIUS SIHITE NIM :

Transkripsi:

TUGAS AKHIR PERANCANGAN SISTEM KOPLING HIDROLIK SEBAGAI PENGGANTI SISTEM KOPLING SENTRIFUGAL UNTUK HONDA ASTREA STAR Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat dalam Meraih Gelar Sarjana Strata Satu (S-1) Disusun Oleh : Trend Endianto 01301-108 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri UNIVERSITAS MERCU BUANA Jakarta 2007

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS MERCU BUANA LEMBAR PENGESAHAN Nama : Trend Endianto Nim : 01301-108 Jurusan : Teknik Mesin Fakultas : Teknologi Industri Judul : Perancangan Sistem Kopling Hidrolik Sebagai Pengganti Sistem Kopling Sentrifugal Untuk Honda Astrea Star Telah diperiksa dan disahkan oleh : Koordinator Tugas Akhir (Nanang Ruhyat, ST., MT) Pembimbing I Pembimbing II (Prof. Ir. Djoko W, Karmiadji, MSME, Ph.D) (R. Ariosuko Dh., Ir.)

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS MERCU BUANA LEMBAR PERNYATAAN Saya yang bertanda-tangan di bawah ini : Nama : Trend Endianto Nim : 01301-108 Jurusan : Teknik Mesin Fakultas : Teknologi Industri Judul : Perancangan Sistem Kopling Hidrolik Sebagai Pengganti Sistem Kopling Sentrifugal Untuk Honda Astrea Star Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil pemikiran serta karya sendiri bukan salinan atau duplikat dari karya orang lain, kecuali dari kutipan-kutipan referensi yang telah disebutkan sumbernya. Jakarta, Agustus 2007 (Trend Endianto)

ABSTRAK Dalam tugas akhir ini dilakukan perhitungan-perhitungan sebagai suatu solusi permasalahan perancangan sistem kopling hidrolik. Perhitungan dilakukan dengan menentukan besar gaya tekan F yang diperlukan pada master silinder dan kaliper. Di dalam perhitungan ini juga dilakukan analisis untuk menentukan besar gaya F yang terjadi pada pegas yang diasumsikan bahwa besar gaya (output) pada kaliper sama dengan besar gaya yang diterima oleh keempat pegas yang terdapat pada rangkaian kopling, maka terlebih dahulu menghitung besar gaya yang terjadi pada pegas tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan yang sudah dilakukan, besar gaya keempat pegas tersebut adalah Fp max = 1216 N. Maka besar gaya (output) pada kaliper adalah sama dengan besar gaya yang terjadi pada pegas, yaitu F k = 1216 N. Dari hasil perhitungan tersebut di atas, besar gaya yang diperlukan master silinder adalah sebesar F ms = 165 N. Besarnya tekanan yang terjadi pada master silinder dan kaliper adalah p ms = p k = 1,34 N/mm 2.

KATA PENGANTAR Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-nya, sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik. Dimana Tugas Akhir ini penulis sajikan dalam bentuk buku yang sederhana. Adapun judul penulisan Tugas Akhir yang penulis ambil adalah : PERANCANGAN SISTEM KOPLING HIDROLIK SEBAGAI PENGGANTI SISTEM KOPLING SENTRIFUGAL UNTUK HONDA ASTREA STAR Tujuan penulisan Tugas Akhir ini dibuat sebagai salah satu syarat kelulusan Program Strata Satu (S1) Universitas Mercu Buana. Sebagai bahan penulisan diambil berdasarkan hasil penelitian (experiment), observasi dan beberapa sumber literatur yang mendukung penulisan ini. Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan dan dorongan dari semua pihak, penulisan Tugas Akhir ini tidak akan berjalan lancar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini izinkanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. Ir. Djoko W. Karmiadji, MSME, Ph.D, selaku dosen pembimbing I Tugas Akhir. 2. Bapak R. Ariosuko Dh., Ir., selaku dosen pembimbing II Tugas Akhir. 3. Bapak Nanang Ruhyat, ST., MT, selaku koordinator Tugas Akhir. 4. Seluruh Dosen Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri Universitas Mercu Buana yang telah membimbing dan memberikan ilmu pengetahuannya kepada penulis dalam belajar. 5. Kedua orang tua serta keluarga besar penulis yang telah banyak membantu baik dalam bentuk dorongan moril maupun materil.

6. Siti Sarah yang tak kenal lelah memberikan semangat kepada penulis untuk segera menyelesaikan Tugas Akhir ini. 7. Bengkel Bubut AMANAH yang membantu dalam merancang alat terutama pada proses pengelasan. 8. Teman-teman mahasiswa teknik mesin angkatan 01 yang secara langsung maupun tidak langsung turut membantu dalam penyusunan Tugas Akhir. 9. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu dalam penulisan Tugas Akhir ini. Penulis menyadari bahwa penulisan Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mohon kritik serta saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan dimasa yang akan datang. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga Tugas Akhir ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Jakarta, Agustus 2007 (Trend Endianto)

DAFTAR ISI Hal. LEMBAR JUDUL............................................ LEMBAR PENGESAHAN..................................... LEMBAR PERNYATAAN..................................... ABSTRAK.................................................. KATA PENGANTAR......................................... DAFTAR ISI................................................. NOTASI.................................................... DAFTAR GAMBAR......................................... DAFTAR LAMPIRAN........................................ i ii iii iv v vii xi xiv xvi...... BAB I PENDAHULUAN..................................... 1.1. Latar Belakang.................................... 1.2. Tujuan Penulisan.................................. 1.3. Ruang Lingkup Pembahasan......................... 1.4. Metode Penulisan.................................. 1.5. Sistematika Penulisan.............................. 1 1 2 3 3 3. BAB II TEORI DASAR KOPLING HIDROLIK................... 2.1. Pengertian........................................ 2.2. Kopling.......................................... 2.2.1. Prinsip Dasar Kerja Kopling................... 2.2.2. Jenis-Jenis Kopling.......................... 5 5 5 6 7

2.2.3. Pegas Kopling.............................. 2.3. Hidrolik......................................... 2.3.1. Komponen Sistem Hidrolik.................... 2.4. Kekentalan Fluida (Viskositas)....................... 2.5. Pokok Pertimbangan dalam Merancang Kopling Hidrolik.. 2.5.1. Tekanan.................................... 2.5.2. Hukum PASCAL............................. 2.5.3. Volume Fluida............................... 2.5.4. Kecepatan Luncur Piston....................... 2.5.5. Kapasitas Aliran.............................. 2.5.6. Faktor Keamanan Bahan (Safety Factor, Sf)........ 2.5.7. Tebal Dinding Silinder......................... 2.5.8. Kekuatan Dinding Silinder...................... 2.5.9. Piston...................................... 2.5.10. Pemeriksaan Kekuatan Selang (Pipa)............. 2.5.11. Kecepatan Aliran dalam Selang (Pipa)............ 2.5.12. Aliran Fluida dan Bilangan Reynold.............. 2.5.13. Faktor Gesekan.............................. 2.5.14. Kerugian Ketinggian.......................... 2.5.15. Kerugian Tekanan............................ 2.5.16. Tangki Fluida (Reservoir)..................... 8 9 10 12 13 13 15 16 16 16 17 17 17 18 18 19 20 21 21 22 22 2.5.17. Diagram Alir (Flowchart) Menentukan Gaya Tekan F dan Tekanan p............................. 23 2.5.18. Diagram Alir (Flowchart) Perhitungan Master Silinder dan Kaliper.......................... 23

2.5.19. Diagram Alir (Flowchart) Perhitungan Piston Master Silinder, Piston Kaliper, dan Selang (Pipa) Hidrolik................................... 24........ BAB III PERHITUNGAN...................................... 3.1 Data Perancangan (Spesifikasi Teknik).................. 3.2 Perhitungan....................................... 3.2.1. Menentukan Besar Gaya pada Master Silinder................. 3.2.2. Menentukan Tekanan Fluida pada Master Silinder... 3.2.3. Menentukan Tekanan Fluida pada Kaliper......... 3.2.4. Menentukan Volume Fluida pada Master Silinder... 3.2.5. Menentukan Volume Fluida pada Kaliper.......... 3.2.6. Menentukan Kecepatan Luncur Piston............ 3.2.7. Menentukan Kapasitas Aliran................... 3.2.8. Menentukan Tebal Dinding Silinder.............. 3.2.9. Pemeriksaan Kekuatan Dinding Silinder........... 3.2.10. Menentukan Piston.......................... 28 28 31 32 34 34 35 35 36 37 37 38 39. 3.2.11. Menentukan Ukuran Selang (Pipa) Hidrolik dan Bentuk Aliran................................ 3.2.12. Pemeriksaan Kekuatan Selang (Pipa) Hidrolik...... 3.2.13. Kecepatan Aliran dalam Selang (Pipa) Hidrolik..... 3.2.14. Bilangan Reynold............................. 3.2.15. Faktor Gesekan.............................. 3.2.16. Kerugian Ketinggian.......................... 3.2.17. Kerugian Tekanan........................... 41 41 42 44 44 45 46

. 3.2.18. Menentukan Tangki Fluida (Reservoir)............ 3.3. Rekapitulasi Perhitungan........................... 46 47. BAB IV PROSES MODIFIKASI SERTA ANALISIS UNJUK KERJA (PERFORMANCE) KOPLING............................. 4.1. Proses Modifikasi (Pembuatan)............................. 4.1.1. Tahap Pengelasan............................. 4.1.2. Tahap Perakitan.............................. 4.2. Analisis Unjuk Kerja (Performance).................. 50 50 51 53 54.. BAB V PENUTUP............................................ 5.1 Kesimpulan...................................... 5.2 Saran............................................ 57 57 58.... DAFTAR PUSTAKA.......................................... LAMPIRAN................................................. 59 60..

NOTASI Simbol Keterangan Satuan A k Luas permukaan piston kaliper mm 2 A ms Luas permukaan piston master silinder mm 2 A r Luas permukaan tangki (reservoir) mm 2 A s Luas permukaan-dalam selang mm 2 D k Diameter-luar kaliper mm d k Diameter-dalam kaliper mm d kp Diameter kawat pegas mm D ms Diameter-luar master silinder mm d ms Diameter-dalam master silinder mm D p Diameter pegas mm Dp k Diameter piston kaliper mm Dp ms Diameter piston master silinder mm d r Diameter-dalam tangki (reservoir) mm D s Diameter selang (pipa) mm d s Diameter-dalam selang (pipa) mm f Faktor gesekan F ms Gaya pada master silinder N Fp Gaya pegas N Fp max = F k Gaya pegas maksimum = Gaya kaliper N g Percepatan gravitasi = 9,81 m/s 2 m/s 2 L 0 Panjang pegas awal/bebas mm

L f Panjang pegas awal terpasang mm L k Panjang/Langkah piston kaliper mm L ms Panjang/Langkah piston master silinder mm l p Langkah piston mm Lp k Panjang piston kaliper mm Lp ms Panjang piston master silinder mm L r Panjang/tinggi tangki (reservoir) mm L s Panjang selang (pipa) mm p k Tekanan fluida pada kaliper N/mm 2 p ms Tekanan fluida pada master silinder N/mm 2 Q k Kapasitas aliran kaliper m 3 /s Q ms Kapasitas aliran master silinder m 3 /s Q s Kapasitas aliran selang m 3 /s Re Bilangan Reynold Sf Faktor keamanan bahan S k Tebal dinding kaliper mm S ms Tebal dinding master silinder mm Sp ms Tebal piston master silinder mm Sp ms Tebal piston master silinder mm S s Tebal selang (pipa) mm t Waktu (= detik) s V k Volume fluida pada kaliper mm 3 V ms Volume fluida pada master silinder mm 3 v p Kecepatan luncur piston m/s V r Volume tangki (reservoir) mm 3

v s Kecepatan aliran selang m/s h Kerugian ketinggian mm p Kerugian tekanan N/mm 2 ν Viskositas kinematik fluida m 2 /s ρ Massa jenis fluida kg/m 3 σ i Tegangan izin bahan N/mm 2 σ k Tegangan kerja dinding-dalam kaliper N/mm 2 σ ms Tegangan kerja dinding-dalam master silinder N/mm 2 σ Pk Tegangan kerja piston kaliper N/mm 2 σ Pms Tegangan kerja piston master silinder N/mm 2 σ s Tegangan kerja selang N/mm 2

DAFTAR GAMBAR Hal. Gambar 2.1. Prinsip Dasar Kerja Kopling......................... Gambar 2.2. Prinsip Dasar Kerja Hidrolik......................... Gambar 2.3. Fluida Hidrolik, JUMBO Brake Fluid DOT3............ Gambar 2.4. Penerapan Hukum Hidrostatika....................... Gambar 2.5. Aliran Laminar dan Aliran Turbulen................... Gambar 2.6. Diagram Alir Menentukan Gaya Tekan F dan Tekanan p... Gambar 2.7. Diagram Alir Perhitungan Master Silinder dan Kaliper.... 6 10 12 14 20 25 26 Gambar 2.8. Diagram Alir Perhitungan Piston Master Silinder, Piston Kaliper, dan Selang (Pipa) Hidrolik................ Gambar 3.1. Sistem Kopling Hidrolik............................ Gambar 3.2. Piston Master Silinder.............................. Gambar 3.3. Penampang Master Silinder.......................... Gambar 3.4. Piston Kaliper..................................... Gambar 3.5. Penampang Kaliper................................ Gambar 3.6. Penampang Selang (Pipa) Hidrolik.................... Gambar 3.7. Pegas Kopling.................................... Gambar 3.8. Besar Gaya Pada Kaliper............................ Gambar 3.9. Besar Gaya pada Master Silinder...................... Gambar 3.10. Langkah Piston Master Silinder....................... Gambar 3.11. Langkah Piston Kaliper............................. Gambar 3.12. Selang Hidrolik Tipe SAE J1401...................... 27 28 29 29 29 30 30 31 32 33 35 36 41

Gambar 3.13. Penampang Tangki (Reservoir)....................... Gambar 4.1. Komponen Pendukung Sistem Kopling Hidrolik......... Gambar 4.2. Dua Komponen yang Akan Disatukan (di-las)........... Gambar 4.3. Letak Baut Pengatur (Setelan) Kopling................. Gambar 4.4. Dua Komponen yang Sudah Disatukan................. Gambar 4.5. Kopling Sentrifugal yang Sudah Dinon-aktifkan.......... Gambar 4.6. Sistem Kopling Hidrolik yang Sudah Dirakit (Disusun).... Gambar 4.7. Dinding-Dalam Kaliper yang Dikhawatirkan Mengecil.... 47 50 51 52 52 53 53 55 Gambar 4.8. Kopling Semi-Otomatis, Kopling Manual Tipe Mekanis, dan Sistem Kopling Hirolik......................... 56...............

DAFTAR LAMPIRAN Gambar A1. Tabel Bahan (Material) Master Silinder, Kaliper, Piston Master Silinder dan Piston Kaliper Gambar A2. Tabel Bahan (Material) Selang Hidrolik (Brake/Hydraulic Hose) Gambar A3. Tabel Spesifikasi Minyak (Fluida) Hidrolik Gambar A4. Penampang Pegas Sekrup dan atau Pegas Tekan Gambar A5. Diagram Tegangan Izin Bahan Pegas, σ i Gambar B1. Sistem Kopling Hidrolik Gambar B2. Selang (Pipa) Hidrolik Tipe SAE J1401 Gambar B3. Master Silinder dan Piston Master Silinder Gambar B4. Kaliper dan Piston Kaliper (Stut Kopling) Gambar B5. Rumah Kopling (Housing) dan Kaliper yang Belum Disatukan Gambar B6. Rumah Kopling (Housing) dan Kaliper yang Telah Disatukan Gambar B7. Stut (Penekan/Pembebas) Kopling Standar Gambar B8. Penampang Rumah Stut Kopling Hasil Modifikasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mengingat semakin meningkatnya kebutuhan hidup manusia dalam hal ini kebutuhan alat-alat transportasi yang sangat dibutuhkan dalam menunjang kebutuhan hidupnya sehari-hari. Perkembangan dunia industri khususnya otomotif semakin berkembang pesat. Tuntutan akan konsumen dari alat transportasi khususnya sepeda motor mendorong para ahli otomotif untuk menciptakan sebuah kendaraan bermotor dengan kwalitas yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Para ahli berusaha melakukan inovasi dan penelitian yang menghasilkan suatu produk bermutu tinggi dan bermanfaat bagi semua orang. Dengan adanya penemuan semacam itu maka diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup manusia. Pada saat ini kendaraan bermotor merupakan alat transportasi yang sangat efisien, dinamis dan efektif untuk dibawa kemana-mana. Untuk itu dunia industri otomotif selalu mengalami perubahan ke tingkat yang lebih tinggi dan canggih untuk sebuah inovasi, seperti salah satunya adalah sistem kerja atau mekanisme kerja dari kopling hidrolik. Mesin dan transmisi bekerja bersama-sama dengan bantuan kopling. Kopling bertugas untuk menghubungkan serta memutuskan hubungan mesin dan transmisi manual. Kopling melakukannya melalui gesekan, yang menekan pelat kopling pada roda gaya mesin. Ketika handle (tuas) kopling ditarik, maka stut (pembebas) kopling membebaskan pelat dan kampas kopling dari tenaga penjepit pada rumah kopling (roda gaya). Hal tersebut memutuskan hubungan transmisi dari mesin. Kemudian

tuas persneling diinjak atau ditekan untuk memilih persneling berikutnya dan melepaskan tuas kopling untuk menghubungkan kembali transmisi dengan mesin. Dari beberapa jenis motor yang sudah diproduksi khususnya pada sepeda motor jenis sport sudah menggunakan kopling manual, tetapi masih digerakkan secara mekanis (dengan perantara tali kopling). Berbeda dengan motor sport jenis MOGE atau lebih dikenal dengan motor gede yang memiliki kapasitas silinder di atas 250 cc. Kopling manual pada motor tersebut sudah menggunakan kopling hidrolik. Pada Tugas Akhir ini, penulis akan merancang sebuah kopling hidrolik pada sepeda motor Honda Astrea Star yang belum menggunakan kopling manual, baik kopling manual yang digerakkan secara mekanis maupun kopling yang digerakan dengan sistem hidrolik. 1.2. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah merancang sebuah sistem kopling hidrolik sebagai pengganti sistem kopling sentrifugal (semi-otomatis) untuk motor Honda Astrea Star. Pada perancangan sistem kopling hidrolik ini, penulis ingin mengetahui hasil-hasil perhitungan secara menyeluruh, serta mengenal dan memahami sistem kopling hidrolik, yaitu bagaimana cara kerja, karakteristik, serta tahapan dalam merancang sebuah kopling hidrolik agar didapatkan hasil yang baik dari suatu sistem kerja kopling hidrolik tersebut. Karena masih ada beberapa kekurangan yang dimiliki kopling manual yang digerakkan secara mekanis, maka dengan adanya sistem kopling hidrolik diharapkan kekurangan tersebut dapat ditutupi atau bahkan dapat dihilangkan.

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis akan membahas tentang perancangan, pemilihan bahan, proses pembuatan (tahap pengerjaan) dan perakitan, perhitungan, serta analisis unjuk kerja (performance) secara keseluruhan berdasarkan referensi dan data lapangan. Akan tetapi, dalam penyusunan ini penulis lebih menekankan pada perhitungan untuk mengetahui besar gaya yang terjadi pada sistem hidrolik. 1.4. Metode Penulisan Metode penulisan dalam perancangan kopling hidrolik ini dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu: a. Metode Observasi, dilakukan dengan cara terjun langsung (praktek) ke lapangan untuk mendapatkan data data yang dibutuhkan untuk perancangan kopling hidrolik ini. b. Metode Tinjauan Pustaka, dilakukan dengan cara membaca buku-buku referensi mengenai kopling hidrolik dan sistem kerjanya, serta teori teori yang di dapat dalam perkuliahan yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam Tugas Akhir ini. 1.5. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penyusunan Tugas Akhir ini, penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi tentang latar belakang penulisan, tujuan penulisan, ruang lingkup pembahasan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II TEORI DASAR Bab ini berisi tentang teori teori dasar kopling hidrolik yang mendasari perancangan sistem kopling hidrolik pada motor Honda Astrea Star. BAB III PERHITUNGAN Bab ini berisi tentang asumsi asumsi awal yang digunakan dalam perancangan sistem kopling hidrolik yang menyangkut di dalamnya pengumpulan data-data dan perhitungan berdasarkan teori dan hasil hasil yang di dapat (rekapitulasi perhitungan). BAB IV PROSES MODIFIKASI SERTA ANALISIS UNJUK KERJA (PERFORMANCE) KOPLING Bab ini berisi tentang tahapan tahapan dalam modifikasi (pembuatan) sistem kopling hidrolik, dari tahap pemilihan komponen (spare parts yang akan digunakan dalam perancangan sistem kopling hidrolik), pengelasan, hingga tahap perakitan. Pada bab ini juga berisi tentang analisis unjuk kerja (performance), kelebihan dan kekurangan, serta perbandingan-perbandingan dari hasil perancangan yang telah dilakukan. BAB V PENUTUP Bab ini berisi tentang rangkuman (kesimpulan) dari seluruh proses perancangan yang telah dilakukan dan saran saran yang bermanfaat agar hasil perancangan sesuai dengan apa yang penulis harapkan. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB II TEORI DASAR KOPLING HIDROLIK 2.1. Pengertian Sistem adalah suatu totalitas atau sesuatu yang bersifat menyeluruh atau merupakan suatu kumpulan komponen-komponen dimana antara satu komponen dengan komponen yang lain terjadi interaksi, artinya antar-komponen memiliki hubungan timbal balik. 2.2. Kopling Salah satu hal yang paling penting dalam bidang permesinan adalah penggunaan daya dalam menggunakan alat mesin tertentu. Sistem ini dalam penggunaanya disebut sistem transmisi daya yang merupakan gabungan dari beberapa elemen mesin yang bekerja dalam mekanisme tertentu. Transmisi adalah pemindahan gaya putar atau dari mekanisme tertentu menuju mekanisme yang lain. Cara pemindahannya yaitu dengan menggunakan roda gigi yang diteruskan ke rantai sabuk atau poros tertentu. Proses memutuskan dan menghubungkan putaran mesin ke transmisi adalah dengan menggunakan kopling. Kopling adalah satu bagian yang mutlak diperlukan pada kendaraan bermotor baik motor bensin maupun motor diesel dan jenis lainnya, dimana penggerak utamanya diperoleh dari hasil pembakaran di dalam silinder mesin. Bila dari suatu mesin yang sedang berputar, putarannya langsung dipindahkan ke roda-roda penggerak pada waktu kendaraan sedang berhenti, kendaraan akan

melompat apabila tenaga terlalu besar dan mesin akan mati apabila tenaga terlalu kecil juga kendaraan tidak dapat bergerak dengan keadaan lembut untuk pertama kali. Untuk memungkinkan mesin kendaraan dapat hidup dengan lembut pada saat memindahkan tenaga ke roda-roda penggerak maka kopling sangat diperlukan, disamping itu dengan adanya kopling memindahkan perkaitan rodaroda gigi pada transmisi dapat dilakukan dengan mudah tanpa menimbulkan bunyi atau kerusakan. 2.2.1. Prinsip Dasar Kerja Kopling Seperti terlihat pada gambar 2.1., sebuah bor tangan (drill) menggerakan sebuah piringan, hal ini sama saja dengan mesin yang menggerakan flywheel. Sebuah piringan yang lain didekatkan pada piringan yang pertama. Pada saat piringan itu berhubungan maka terjadilah gesekan antara kedua piringan yang pertama dengan yang kedua, karena terjadi slip putaran piringan yang kedua lebih lambat dibandingkan yang pertama. Apabila penekanan piringan kedua terhadap piringan pertama semakin besar maka kedua piringan akan berputar menjadi satu kesatuan menyebabkan putaran yang sama pada kedua piringan. Hal tersebut sama dengan pemindahan daya dari mesin atau transmisi melalui kopling. Gambar 2.1. Prinsip Dasar Kerja Kopling [3]

2.2.2. Jenis-Jenis Kopling Dalam dunia permesinan, kopling dibedakan menjadi 2, antara lain : 1. Kopling Tetap Suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti (tanpa terjadi slip), dimana sumbu kedua poros tersebut terletak pada satu garis lurus atau dapat sedikit berbeda sumbunya. Macam-macam kopling tetap : a. Kopling Kaku : kopling bus, kopling flens kaku, kopling flens tempa. b. Kopling Luwes (Fleksibel) : kopling flens luwes, kopling karet ban, kopling karet bintang, kopling gigi, kopling rantai. c. Kopling Universal : kopling universal Hook, kopling universal kecepatan tetap. 2. Kopling Tak Tetap Suatu elemen mesin yang menghubungkan poros yang digerakkan dan poros penggerak, dengan putaran yang sama dalam meneruskan daya, serta dapat melepaskan hubungan kedua poros tersebut baik dalam keadaan diam maupun berputar. Macam-macam kopling tak tetap : a. kopling cakar b. kopling plat c. kopling kerucut d. kopling friwil e. kopling fluida

Sedangkan kopling yang berdasarkan mekanisme penggerak, ada dua tipe kopling yang dibedakan dari cara kerjanya : 1. Tipe Kopling Mekanis (menggunakan kabel) Tipe kopling mekanis, perpindahan tuas kopling diteruskan ke body kopling secara langsung oleh (dengan perantara) kabel. 2. Tipe Kopling Hidrolik Pergerakan tuas (handle) kopling dirubah oleh master silinder menjadi tekanan hidraulis kemudian diteruskan ke stut (pembebas) kopling melalui silinder pembebas (release cylinder). 2.2.3 Pegas Kopling Pegas pada umumnya berfungsi untuk memberikan gaya, melunakkan tumbukan dengan memanfaatkan sifat elastis bahannya, menyerap dan menyimpan energi dalam waktu singkat dan mengeluarkannya lagi dalam jangka waktu yang lebih panjang, serta dapat mengurangi getaran. Pada perancangan kopling hidrolik ini, pegas yang digunakan adalah pegas tekan, atau berdasarkan dari bentuknya disebut pegas ulir. Untuk pegas ini menggunakan bahan baja yang paling umum dipakai untuk pegas, yaitu baja pegas kelas C menurut DIN 17223. Pegas ini memiliki panjang awal/bebas L 0 = 25,5 mm, panjang pegas awal terpasang L f = 19 mm, diameter pegas D p = 20 mm, diameter kawat pegas d kp = 2,5 mm, harga modulus geser G = 83.10 3 N/mm 2, tegangan izin σ i = 990 N/mm 2 (diperkirakan menurut diagram). Untuk menentukan besar gaya F agar pegas dapat tertekan, dapat dihitung dengan menggunakan persamaan [2] :

Fp 3 σ i. π. d k = (2.1) 8. D p Dimana : Fp σ d k D p = Gaya untuk menekan pegas = tegangan izin bahan pegas = diameter kawat pegas = diameter pegas 2.3. Hidrolik Hidrolika membahas hukum keseimbangan dan gerakan fluida serta aplikasinya, sasaran pokok dari hidrolika adalah aliran fluida yang dikelilingi oleh selubung, seperti misalnya aliran di dalam saluran-terbuka & tertutup. Sebagai contoh : aliran pada sungai, terusan, cerobong dan juga pipa saluran; nozzle dan komponen-komponen mesin hidrolik. Pengertian dasar dari suatu sistem hidrolik adalah suatu sistem pemindahan tenaga dengan menggunakan fluida sebagai media kerjanya. Dalam tugas akhir ini penulis akan membahas suatu sistem pemindahan energi yang dilakukan secara hidrolik, yaitu pemindahan dan pengaturan gaya dan gerakan fluida. Seperti ilustrasi dibawah ini, pada prinsipnya suatu sistem hidrolik bisa menghasilkan kerja dari sebuak gerak mekanik menjadi gerak hidrolik yang kemudian diubah lagi menjadi tenaga mekanik. Zat cair (fluida) disini bertindak sebagai pengalih energi, sebagai contoh : pompa-pompa hidrolik, kopling hidrolik, dan sebagainya.

Fluida di dorong oleh pompa Master Silinder Actuator/Peng arah (Kaliper) Obyek yang di dorong Gambar 2.2. Prinsip Dasar Kerja Hidrolik Dengan memanfaatkan media minyak (oil), suatu sistem hidrolik dapat menggerakkan benda yang besar ataupun berat hanya dengan menggunakan tenaga yang kecil. Energi dalam bentuk cairan yang ditekan dari master silinder, dialirkan melalui pipa (dalam perancangan ini menggunakan selang) ke pengarah menuju obyek. Pengarah atau actuator (dalam perancangan ini menggunakan kaliper) memindahkan energi hidrolik menjadi energi mekanik. 2.3.1. Komponen Sistem Hidrolik Pada perancangan kopling hidrolik ini, ada beberapa komponen-komponen penunjang yang sangat penting atau berpengaruh terhadap kinerja dari sistem kopling hidrolik tersebut, diantaranya : 1. Master Silinder Di dalam master silinder masih ada beberapa komponen yang menjadi satu kesatuan, seperti : a. Piston pompa, berfungsi sebagai pemompa atau pendorong minyak hidrolik (fluida) yang diteruskan untuk mendorong piston pada kaliper. b. Pegas pembalik, berfungsi sebagai pembalik piston pompa (kembali ke tempat semula).

c. Perapat (sil), pada master silinder, ada dua buah sil yang memiliki dua fungsi, yaitu sebagai katup dan sebagai pencegah kebocoran minyak hidrolik (fluida). 2. Reservoir (tangki fluida), berfungsi sebagai wadah atau tempat penyimpanan minyak hidrolik. 3. Pipa (selang) Dalam perancangan ini, pipa yang digunakan untuk mengalirkan minyak (fluida) dari master silinder menuju kaliper, yaitu berupa selang (pipa lentur) yang terbuat dari bahan sintetis yaitu selang hidrolik Tipe SAE J1401 dipilih dari jenis Nitrile Rubber (NBR, Acrylonitrile-Butadiene Rubber) yang memiliki tegangan izin bahan sebesar, σ i = 6,89 N/mm 2. 4. Kaliper Di dalam kaliper, ada beberapa komponen yang menjadi satu kesatuan, seperti : a. Piston, berfungsi sebagai pendorong obyek. Dari piston master silinder melalui fluida menekan piston pada kaliper dan mendorong obyek (kopling) yang ada di depannya. b. Perapat (sil), berfungsi untuk mencegah bocornya minyak (fluida) dan mencegah kotoran, debu, maupun air yang masuk. 5. Fluida Fluida (minyak hidrolik) yang digunakan pada sistem kopling hidrolik ini adalah minyak hidrolik JUMBO Brake Fluid DOT3, memiliki viskositas kinematik, ν = 0,00115 m 2 /s, dan memiliki massa jenis, ρ = 1030 kg/m 3 = 103 N/m 3. Fluida yang digunakan akan mendapat tekanan, kecepatan, dan

temperatur yang bervariasi dalam batas-batas tertentu terhadap media tekan dan media pemindah tekanan. Gambar 2.3. Fluida Hidrolik, JUMBO Brake Fluid DOT3 2.4. Kekentalan Fluida (Viskositas) Untuk fluida yang tidak kental, saat mengalir antara dinding dan fluida hampir tidak ada gesekan, demikian juga antara bagian fluida itu sendiri. Alirannya homogen dan laju fluida dalam penampang adalah sama. Untuk fluida yang kental, saat mengalir terjadi gesekan antara bagian fluida itu sendiri yaitu antara bagian fluida yang mengalir dengan bagian fluida yang menempel pada dinding pipa (selang). Oleh karena itu, kekentalan fluida berkaitan erat dengan gesekan di dalam fluida itu sendiri. Kekentalan suatu fluida dinyatakan dengan besaran yang disebut koefisien viskositas, atau disebut viskositas. Ada dua macam kekentalan, yaitu : kekentalan absolute (kekentalan dinamis), dan kekentalan relative (kekentalan kinematik). Kekentalan absolute (dinamis) η tergantung pada karakteristik fisik zat cair. Sedangkan kekentalan kinematik tergantung pada suhu cairan (Helmholz, 1860). Kekentalan kinematik diturunkan dari kekentalan absolute dan massa jenis. Contoh : air pada suhu 10, memiliki kekentalan kinematik ν = 1,31 10-6 m 2 /s.

Viskositas fluida dipengaruhi oleh kelajuan gerak dan suhu. Makin besar kelajuannya, makin besar viskositasnya. Untuk fluida cair, makin tinggi suhunya semakin kecil viskositasnya. Akibat adanya kekentalan, maka setiap benda yang bergerak dalam fluida mengalami gesekan. 2.5. Pokok Pertimbangan dalam Merancang Kopling Hidrolik Dalam perancangan kopling hidrolik ini, penulis akan membahas perhitungan untuk fluida pada sistem kopling hidrolik. Perhitungan fluida yang dimaksud adalah untuk mencari besar gaya tekan F pada silinder pendorong (master silinder) hingga sampai ke kaliper untuk dapat menekan pegas kopling. Dan berapa gaya tekan maksimum yang dapat diterima oleh keempat pegas yang terdapat pada rangkaian kopling setelah menerima gaya tekan dari kaliper. Fluida atau zat alir adalah zat yang dapat mengalir. Dengan demikian zat cair dan gas termasuk fluida. Fluida dibedakan menjadi fluida tak bergerak dan fluida bergerak. Pada perancangan kopling hidrolik ini, akan dibahas tentang tekanan fluida yang tidak bergerak. Fluida yang digunakan dalam sistem kopling hidrolik ini harus memenuhi hukum-hukum dasar fluida, serta teori-teori yang mendasari dan mendukung untuk perhitungan-perhitungan dalam merancang sebuah sistem kopling hidrolik. 2.5.1. Tekanan Sebelum membahas tentang fluida, akan ditinjau lebih dahulu tentang besaran tekanan. Dalam ilmu fisika, pengertian tekanan dan gaya memiliki arti yang sangat berbeda. Seperti telah dipelajari bahwa : Tekanan adalah gaya yang bekerja pada bidang tiap satuan luas. Dengan demikian, tampak jelas perbedaan

antara tekanan dan gaya. Besarnya tekanan p (N/mm 2 ) akan ditentukan oleh faktor gaya F (N) dan luas bidang A (mm 2 ) yang menopang gaya tersebut. Atau secara matematis dapat ditulis [5] : Keterangan : p : tekanan, N/mm 2 F : gaya, N A : luas penampang, mm 2 F p = (2.2) A Apabila zat cair berada dalam suatu bejana, pada dinding dan dasar bejana mendapat tekanan dari zat cair tersebut. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada semua titik di dalam zat cair tersebut mendapat tekanan dari zat cair tersebut. Tekanan dari zat cair itu disebut tekanan hidrostatis. Seperti pada gambar 2.4. di bawah ini, fluida dimasukkan ke dalam bejana dan diberikan tekanan. Tekanan tersebut akan diteruskan oleh fluida kesegala-arah dengan sama rata. Gambar 2.4. Penerapan Hukum Hidrostatika Semua titik yang terletak pada bidang horizontal di dalam zat cair yang tenang mempunyai tekanan hidrostatis yang sama. Pernyataan tersebut dinamakan hukum utama hidrostatis.

2.5.2. Hukum PASCAL Pada tahun 1650, diperkenalkan hukum distribusi tekanan dalam zat cair yang dikenal dengan hukum Pascal. Apabila fluida dalam ruang tertutup diberi tekanan, maka tekanan tersebut akan diteruskan ke semua arah secara merata dan sama besar Pernyataan tersebut yang disebut hukum Pascal. Seperti yang terlihat pada gambar 2.4., apabila piston pada tabung 1 diberi gaya F 1, pada tabung 1 akan timbul tekanan p = 1 F1, tekanan ini akan diteruskan ke segala arah dan sama A 1 besar, diantaranya menuju tabung 2. Dengan demikian, pada piston 2 timbul gaya sebesar F 2 = p 2. A 2. Oleh karena dengan [5] : p = 1 F1, maka besarnya F 2 dapat dinyatakan A 1 F F = (2.3) 1 2.A2 A1 Persamaan tersebut dapat juga ditulis [5] : F 1 F = 2 atau 1 A1 A1 A2 F2 A2 F = (2.4) Dimana : F 1, F 2 : gaya pada piston 1 dan 2, N A 1, A 2 : luas penampang piston 1 dan 2, mm 2 Oleh karena A 2 lebih besar dari A 1, maka didapatkan keuntungan yaitu hanya dengan gaya yang kecil dapat menghasilkan gaya dorong yang lebih besar (lihat gambar 2.4.).

2.5.3. Volume Fluida Volume atau isi fluida yang menempati suatu ruang tertentu merupakan hasil kali dari luas permukaan bidang dengan tinggi atau panjang bidang (benda), Atau secara matematis dapat ditulis [7] : V = A. L (2.5) Dimana : V = volume fluida, mm 3 A = luas penampang, mm 2 L = tinggi atau panjang bidang, mm 2.5.4. Kecepatan Luncur Piston Besarnya kecepatan luncur piston v (m/s) ditentukan oleh faktor langkah piston l (mm) dan waktu t (s), Atau secara matematis dapat ditulis [7] : l v = p p t (2.6) Dimana : v p = kecepatan luncur piston, mm/s l p = langkah piston, mm t = waktu yang dibutuhkan, s 2.5.5. Kapasitas Aliran Pada aliran stasioner, debit aliran yang terjadi adalah sama dengan luas penampang dikalikan dengan kecepatan aliran. Persamaan ini disebut Persamaan Kontinuitas. Secara matematis dapat ditulis [5] : Q = A. v (2.7) Dimana : Q = debit, m 3 /s

2.5.6. Faktor Keamanan Bahan (Safety Factor, Sf) Dalam menentukan faktor keamanan harus ditimbang dua hal, yang pertama adalah pelampauan kekuatan (bahaya fatal dan interupsi kerja yang rumit atau mudah mengatasi kerusakan) dan hal kedua adalah pengaruh faktor Sf terhadap kelayakan dan nilai pakai komponen tersebut. Jika faktor S tersebut lebih besar dari 1,5 (Sf > 1,5), maka bahan dari suatu komponen tersebut aman dan layak dalam hal pemakaian. Sebaliknya, jika faktor Sf lebih kecil dari 1,5 (Sf < 1,5), maka bahan dari suatu komponen tersebut tidak aman dan tidak layak dalam hal pemakaian. Besarnya nilai Sf dapat ditentukan melalui persamaan berikut [2] : Dimana : Sf = nilai faktor keamanan σ i = tegangan izin bahan, N/mm 2 σ = tegangan kerja bahan, N/mm 2 σ Sf = i (2.8) σ 2.5.7. Tebal Dinding Silinder Dalam perancangan ini, ketebalan dinding master silinder dan kaliper sudah diketahui dengan cara mengukur langsung, yaitu untuk master silinder S ms = 4,5 mm, sedangkan kaliper S k = 4 mm. Bahan (material) yang digunakan pada master silinder dan kaliper adalah Casting Alloy AA357 (Aluminium) yang memiliki tegangan izin, σ i = 269 MPa = 269 N/mm 2. 2.5.8. Kekuatan Dinding Silinder Tegangan kerja dinding-dalam silinder ditentukan oleh faktor tekanan p (N/mm 2 ), diameter D (mm) dan tebal dinding S (mm). Tegangan kerja yang

terjadi pada dinding-dalam silinder akibat tekanan aliran fluida dapat dihitung melalui persamaan berikut [1] : p. D σ = (2.9) 4. S Dimana : σ = tegangan kerja dinding-dalam master silinder, N/mm 2 p = tekanan dalam silinder, N/mm 2 D = diameter luar silinder, mm S = tebal dinding silinder, mm 2.5.9. Piston Dalam perancangan sistem kopling hidrolik ini, untuk bahan piston master silinder dipilih dari jenis cor kelabu (grey cast iron) SAE J431 G2500 yang memiliki tegangan izin bahan, σ i = 173 N/mm 2, sedangkan bahan piston untuk kaliper dipilih dari jenis baja krom molibdenum (chromium-molybdenum) JIS SCM2 yang memiliki tegangan izin bahan, σ i = 670 N/mm 2. Untuk pemeriksaan kekuatan bahan piston, dapat dihitung melalui persamaan 2.9. Begitu juga untuk menentukan faktor keamanan bahan piston dapat dihitung melalui persamaan 2.8. 2.5.10. Pemeriksaan Kekuatan Selang (Pipa) Dalam perancangan ini, diameter selang (pipa) dan tebal selang (pipa) sudah diketahui dengan cara mengukur langsung selang tersebut. Selang tersebut memiliki diameter-dalam sebesar, d s = 2,5 mm, dan tebal selang, S s = 3,75 mm.

Untuk pemeriksaan kekuatan bahan selang (pipa), dapat dihitung melalui persamaan 2.9. Begitu juga untuk menentukan faktor keamanan bahan selang (pipa) dapat dihitung melalui persamaan 2.8. 2.5.11. Kecepatan Aliran dalam Selang (Pipa) Kecepatan aliran dalam selang ditentukan oleh debit aliran selang Q s (m 3 /s) dan luas permukaan-dalam selang A s (m 2 ). Untuk menentukan kecepatan aliran dalam selang (pipa), dapat dihitung melalui persamaan 2.7 : Q = A. v Untuk mencari kapasitas aliran selang digunakan persamaan [4] : 1 2 Q s =. π. d s.re. ν (2.10) 4 A s 2 π. d s = (2.11) 4 Maka untuk menentukan kecepatan aliran dapat ditulis persamaan berikut : Q s v s = (2.12) As Dimana : v s = kecepatan aliran selang, m/s d s = diameter-dalam selang (pipa), m Re = bilangan Reynold, 2320 ν = viskositas kinematik fluida, m 2 /s A s = luas penampang selang, m 2 Q s = kapasitas aliran selang, m 3 /s

2.5.12. Aliran Fluida dan Bilangan Reynold Kondisi aliran dibedakan menjadi dua, yaitu aliran laminer dan aliran turbulen. Aliran laminer ditandai dengan garis-garis aliran yang tidak saling memotong, sedangkan aliran turbulen garis alirannya saling memotong. Semua zat cair memiliki kekentalan yang merupakan faktor gaya gesek dalam yang bekerja antar elemen zat cair. Jika elemen ini mengikuti secara paralel garis aliran tanpa gerakan transversal, maka gerakan tersebut masih dipengaruhi kuat oleh kekentalannya, maka aliran ini disebut aliran laminer. Jika kecepatan bertambah, maka akan terjadi aliran melintang (impuls) yang menyebabkan benturan atau gesekan antar-elemen air, sehingga terjadi percampuran antarlapisan air satu dengan yang lain. Aliran semacam ini disebut aliran turbulen. Gambar 2.5. Aliran Laminar (a.) dan Aliran Turbulen (b.) Perilaku yang berbeda dari dua macam aliran tersebut digambarkan seperti yang tampak pada gambar di atas. Perubahan dari aliran laminar ke turbulen pada aliran dalam pipa tercepat pada angka Reynold, Re = 2320. Untuk dapat menentukan suatu aliran laminar maupun turbulen, dapat dihitung melalui persamaan berikut [1] :

. < 2320 laminar Re = v d s s (2.13) ν > 2320 turbulen Dimana : Re = bilangan Reynold v s = kecepatan aliran dalam selang (pipa), m/s d s = diameter-dalam selang (pipa), mm ν = viskositas kinematik fluida, m 2 /s 2.5.13. Faktor Gesekan Kerugian tekanan pada aliran fluida akan menentukan tekanan kerja yang diizinkan serta efisiensi dari sistem hidrolik. Kerugian-kerugian tersebut diakibatkan oleh adanya gesekan fluida di dalam selang. Besarnya gesekan pada selang didapat dari persamaan [1] : 64 f = (2.14) Re Dimana : f = faktor gesekan Re = bilangan Reynold 2.5.14. Kerugian Ketinggian Kerugian ketinggian pada sistem kopling hidrolik ini berbanding lurus dengan faktor gesekan f, panjang selang L s, kecepatan aliran v s, dan berbanding terbalik dengan diameter-dalam selang d s. Besarnya kerugian ketinggian pada perancangan sistem kopling hidrolik ini dapat ditentukan melalui persamaan berikut [1] : Dimana : h = kerugian ketinggian, m d s = diameter-dalam selang (pipa), m 2 Ls. vs h = f (2.15) d.2 s

f v s L s = faktor gesekan = kecepatan aliran selang, m/s = panjang selang, m 2.5.15. Kerugian Tekanan Kerugian tekanan pada sistem kopling hidrolik ini berbanding lurus dengan massa jenis fluida ρ, percepatan gravitasi g, dan kerugian ketinggian h. Besarnya kerugian tekanan pada perancangan sistem kopling hidrolik ini dapat ditentukan melalui persamaan berikut [1] : p = ρ. g. h (2.16) Dimana : h = kerugian ketinggian, m ρ = massa jenis fluida, N/m 3 g = percepatan gravitasi, 9,81 m/s 2 p = kerugian tekanan, N/mm 2 2.5.16. Tangki Fluida (Reservoir) Besar volume tangki fluida (reservoir) berbanding lurus dengan luas permukaan tangki A r dan panjang atau tinggi tangki. Besarnya volume tangki (reservoir) yang dibutuhkan pada sistem kopling hidrolik ini dapat dihitung melalui persamaan berikut [7] : π 2 V r = ( Dr ). Lr (2.17) 4 Dimana : V r = volume tangki (reservoir), mm 3 D r = diameter tangki (reservoir), mm L r = panjang/tinggi tangki (reservoir), mm

2.5.17. Diagram Alir (Flowchart) Menentukan Gaya Tekan F dan Tekanan p Untuk menentukan besar gaya tekan F ms pada master silinder, terlebih dahulu menentukan besar gaya pada kaliper F k. Sedangkan gaya (output) pada kaliper adalah sama dengan gaya yang diperlukan pada keempat pegas pada rangkaian kopling (F k = Fp max ). Untuk menentukan gaya-gaya tersebut ditentukan oleh faktor diameter D (mm), tegangan izin bahan pegas σ i (N/mm 2 ), luas penampang piston A (mm). Jika besar gaya master silinder lebih kecil dari gaya kaliper (F ms < F k ), maka perhitungan untuk menentukan besar gaya pada sistem hidrolik sudah benar dan sesuai dengan hukum Pascal. Sebaliknya, jika besar gaya master silinder lebih besar dari gaya kaliper (F ms < F k ), maka perlu dilakukan perhitungan ulang dengan melihat data-data teknik yang telah disebutkan di atas. Besar tekanan p yang terjadi dalam sistem hidrolik ditentukan oleh faktor gaya F (N), dan luas penampang piston A (mm). Hasil dari perhitungan tekanan p dalam sistem hidrolik adalah p ms = p k. Berikut ini adalah gambar diagram alir (flowchart) untuk menentukan besar gaya tekan F dan tekanan p yang ditunjukkan pada gambar 2.6. 2.5.18. Diagram Alir (Flowchart) Perhitungan Master Silinder dan Kaliper Tegangan kerja dinding-dalam master silinder σ ms dan kaliper σ k ditentukan oleh faktor tekanan p (N/mm 2 ), diameter D (mm), dan tebal dinding S (mm). Sedangkan untuk menentukan faktor keamanan bahan master silinder Sf ms dan kaliper Sf k ditentukan oleh tegangan kerja bahan dan tegangan izin σ i dari masing-masing bahan tersebut. Jika faktor Sf tersebut lebih besar dari 1,5 (Sf > 1,5), maka bahan dari suatu komponen tersebut aman dan layak dalam hal

pemakaian. Sebaliknya, jika faktor Sf lebih kecil dari 1,5 (Sf < 1,5), maka bahan dari suatu komponen tersebut tidak aman dan tidak layak dalam hal pemakaian. Berikut ini adalah gambar diagram alir (flowchart) untuk perhitungan master silinder dan kaliper yang ditunjukkan pada gambar 2.7. 2.5.19. Diagram Alir (Flowchart) Perhitungan Piston Master Silinder, Piston Kaliper, dan Selang (Pipa) Hidrolik Tegangan kerja piston master silinder σ Pms, piston kaliper σ Pk, dan selang σ s ditentukan oleh faktor tekanan p (N/mm 2 ), diameter D (mm), dan tebal dinding S (mm). Sedangkan untuk menentukan faktor keamanan bahan piston master silinder Sfp ms, piston kaliper Sfp k, dan selang Sfs ditentukan oleh tegangan kerja bahan dan tegangan izin σ i dari masing-masing bahan tersebut. Jika faktor Sf tersebut lebih besar dari 1,5 (Sf > 1,5), maka bahan dari suatu komponen tersebut aman dan layak dalam hal pemakaian. Sebaliknya, jika faktor Sf lebih kecil dari 1,5 (Sf < 1,5), maka bahan dari suatu komponen tersebut tidak aman dan tidak layak dalam hal pemakaian. Berikut ini adalah gambar diagram alir (flowchart) untuk perhitungan piston dan selang (pipa) hidrolik yang ditunjukkan pada gambar 2.8.

Gambar 2.6. Diagram Alir Menentukan Gaya Tekan F dan Tekanan p

Gambar 2.7. Diagram Alir Perhitungan Master Silinder dan Kaliper

START Tekanan, p Diameter piston master silinder, Dp ms Tebal piston master silinder, Sp ms Diameter piston kaliper, Dp k Tebal piston kaliper, Sp k Diameter selang, D s Tebal selang, S s Tegangan izin bahan, σ i Tegangan kerja piston master silinder, σ Pms Tegangan kerja piston kaliper, σ Pk Tegangan kerja selang, σ s Faktor keamanan bahan piston master silinder, Sfp ms Faktor keamanan bahan piston kaliper, Sfp k Faktor keamanan bahan selang, Sfs Tidak Sfp ms, Sfp k, dan Sfs > 1,5 Ya Piston master silinder, piston kaliper, dan selang memenuhi syarat STOP Gambar 2.8. Diagram Alir Perhitungan Piston Master Silinder, Piston Kaliper, dan Selang (Pipa) Hidrolik

BAB III PERHITUNGAN 3.1. Data Perancangan (Spesifikasi Teknik) Sebelum masuk ke tahap perhitungan dalam perancangan sistem kopling hidrolik ini ada beberapa spesifikasi teknik yang diketahui, sebagai berikut : Gambar 3.1. Sistem Kopling Hidrolik 1. Master Silinder Pada master silinder ada beberapa komponen yang terdapat di dalamnya, salah satunya adalah piston master silinder. Berikut ini adalah spesifikasi data dari master silinder :

Gambar 3.2. Piston Master Silinder 1. Diameter piston master silinder, Dp ms = 12,5 mm 2. Panjang piston master silinder, Lp ms = 49 mm 3. Diameter-dalam master silinder, d ms = 13 mm 4. Panjang sisi-dalam master silinder, L ms = 54 mm 24 mm 19 mm 18 mm 8 mm 13 mm 22 mm 54 mm 62 mm Gambar 3.3. Penampang Master Silinder 2. Kaliper Pada kaliper ada beberapa komponen yang terdapat di dalamnya, salah satunya adalah piston kaliper. Berikut ini adalah spesifikasi data dari kaliper : Gambar 3.4. Piston Kaliper

1. Diameter piston kaliper, Dp k = 34 mm 2. Panjang piston kaliper, Lp k = 42,5 mm 3. Diameter-dalam kaliper, d k = 34,5 mm 4. Panjang sisi-dalam kaliper, L k = 28 mm 4,75 mm 34,5 mm 44 mm 28 mm 32,75 mm Gambar 3.5. Penampang Kaliper 3. Selang (Pipa) Hidrolik Komponen ketiga dari sistem kopling hidrolik ini adalah selang (pipa) hidrolik. Berikut ini adalah spesifikasi data dari selang (pipa) hidrolik : Gambar 3.6. Penampang Selang (Pipa) Hidrolik 1. Panjang selang (pipa), L s = 900 mm 2. Diameter selang (pipa), D s = 10 mm 3. Diameter-dalam selang (pipa), d s = 2,5 mm

3.2. Perhitungan Sebelum menentukan besar gaya F yang diperlukan pada sistem hidrolik, yaitu master silinder kaliper pegas kopling, maka terlebih dahulu menentukan besar gaya Fp max yang dibutuhkan untuk menekan keempat pegas yang terdapat pada rangkaian kopling. Pada perancangan ini diketahui beberapa spesifikasi teknik pegas : 1. Panjang pegas awal/bebas, L 0 = 25,5 mm 2. Panjang pegas awal terpasang, L f = 19 mm 3. Diameter pegas, D p = 20 mm 4. Diameter kawat pegas, d kp = 2,5 mm 5. Bahan (material) pegas = kelas C menurut DIN 17223 [2] 6. Tegangan izin pegas, σ i = 990 N/mm 2 (diperkirakan menurut diagram pada lampiran) [2] Gambar 3.7. Pegas Kopling Berdasarkan data-data di atas, maka dapat ditentukan gaya pegas Fp melalui persamaan 2.1, yaitu : σ i. π. d Fp = 8. D p 3 k

990. π Fp = 8.20 3.( 2,5) Fp = 303,57 N 304 N Gambar 3.8. Besar Gaya Pada Kaliper Karena di dalam rangkaian kopling terdapat 4 (empat) pegas, maka gaya yang diperlukan untuk menekan keempat pegas adalah : Fp max = Fp. 4 dimana : Fp max = gaya pegas maksimum = 304. 4 = 1216 N 3.2.1. Menentukan Besar Gaya pada Master Silinder Jika besar gaya tekan yang dibutuhkan untuk dapat menekan keempat pegas pada rangkaian kopling (sama dengan gaya kaliper) Fp max = F k sudah diketahui, maka besar gaya tekan pada master silinder F ms adalah : Diketahui : Dp ms Dp k = 12,5 mm = 34 mm Fp max = F k = 1216 N

Gambar 3.9. Besar Gaya pada Master Silinder Berdasarkan hukum Pascal melalui persamaan 2.4, yaitu : F 1 = F 2 A1 A 2 F 1 = F ms F 2 = F k = Fp max A 1 = A ms A 2 = A k Dimana : F ms = gaya pada master silinder F k = gaya (output) pada kaliper A ms = luas permukaan piston master silinder A k = luas permukaan piston kaliper A ms π. D = 4 2 A k π. D = 4 2 π. = ( 12,5) 4 2 π. = ( 34) 4 2 = 122,65 mm 2 = 907,46 mm 2 123 mm 2 907 mm 2 Maka besar gaya yang terjadi pada master silinder : F ms = F k A A ms k F = F ms k A A ms k 123 = 1216 = 164,9 N 165 N 907

3.2.2. Menentukan Tekanan Fluida pada Master Silinder Untuk menentukan besar tekanan fluida p ms yang terjadi pada master silinder menggunakan persamaan 2.2, besarnya tekanan p (N/mm 2 ) ditentukan oleh faktor gaya F (N) dan luas bidang A (mm 2 ), yaitu : Diketahui : F ms = 165 N A ms = 123 mm 2 Maka tekanan yang terjadi pada master silinder adalah : p p ms ms F = A ms ms 165 = 123 = 1,34 N/mm 2 3.2.3. Menentukan Tekanan Fluida pada Kaliper Untuk menentukan besar tekanan fluida p k yang terjadi pada kaliper menggunakan persamaan 2.2 (sama dengan persamaan di atas), yaitu : Diketahui : F k = Fp max = 1216 N A k = 907 mm 2 Maka tekanan yang terjadi pada kaliper adalah : p p k k F = A k k 1216 = 907 = 1,34 N/mm 2 Dapat diambil satu kesimpulan bahwa tekanan yang terjadi di dalam master silinder dan kaliper adalah sama, yaitu sebesar p = 1,34 N/mm 2.

3.2.4. Menentukan Volume Fluida pada Master Silinder Volume fluida merupakan hasil kali dari luas permukaan bidang dengan tinggi atau panjang bidang (benda), untuk menentukan volume fluida V ms yang terdapat pada master silinder menggunakan persamaan 2.5, yaitu : Diketahui : L ms = 32 mm dimana : L ms = langkah piston master silinder A ms = 123 mm 2 Gambar 3.10. Langkah Piston Master Silinder Maka volume pada master silinder adalah : V ms = A ms. L ms = 123. 32 = 3936 mm 3 3.2.5. Menentukan Volume Fluida pada Kaliper Untuk menentukan volume fluida V k yang terdapat pada kaliper menggunakan persamaan yang sama seperti menentukan volume fluida pada master silinder, yaitu : Diketahui : L k = 15 mm dimana : L k = panjang sisi-dalam kaliper A k = 907 mm 2

Gambar 3.11. Langkah Piston Kaliper Maka volume pada kaliper : V k = A k. L k = 907. 15 = 13605 mm 3 3.2.6. Menentukan Kecepatan Luncur Piston Besarnya kecepatan luncur piston v p (m/s) ditentukan oleh faktor langkah piston l (mm) dan waktu t (s), bila waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 2 detik, maka kecepatan luncur piston dapat ditentukan melalui persamaan 2.6, yaitu : Diketahui : l p t = 6,5 mm = 2 detik Maka kecepatan luncur piston pada sistem kopling hidrolik tersebut adalah : l v = p p t dimana : v p = kecepatan luncur piston, m/s 6,5 = l p = langkah piston, mm 2 = 3,25 mm/s t = waktu yang dibutuhkan, s = 0,00325 m/s = 0,003 m/s

Catatan : l p = langkah piston yang terdorong ketika tuas (handle) kopling ditarik (ditekan). 3.2.7. Menentukan Kapasitas Aliran Pada aliran stasioner, debit aliran yang terjadi adalah sama dengan luas penampang dikalikan dengan kecepatan aliran. Maka kapasitas aliran pada master silinder dan kaliper dapat ditentukan melalui persamaan 2.7, yaitu : Diketahui : v p = 3,25 mm/s A ms = 123 mm 2 A k = 907 mm 2 Q ms = v p. A ms = 3,25. 123 = 399,75 mm 3 /s = 0,00039975 m 3 /s = 0,0004 m 3 /s Q k = v p. A k = 3,25. 907 = 2947,75 mm 3 /s = 0,00294775 m 3 /s = 0,003 m 3 /s Dimana : Q ms Q k = kapasitas aliran master silinder = kapasitas aliran kaliper 3.2.8. Menentukan Tebal Dinding Silinder Dalam perancangan ini, ketebalan dinding master silinder dan kaliper sudah diketahui dengan cara mengukur langsung, yaitu untuk master silinder S ms = 4,5 mm (lihat gambar 3.3.), sedangkan kaliper S k = 4,75 mm (lihat gambar 3.4.). Bahan (material) yang digunakan pada master silinder dan kaliper adalah

Casting Alloy AA357 (Aluminium) yang memiliki tegangan izin, σ i = 269 MPa = 269 N/mm 2. 3.2.9. Pemeriksaan Kekuatan Dinding Silinder Tegangan kerja yang terjadi pada dinding-dalam silinder akibat tekanan aliran fluida dapat ditentukan melalui persamaan 2.9. Tegangan kerja dindingdalam master silinder dan kaliper ditentukan oleh faktor tekanan p (N/mm 2 ), diameter D (mm) dan tebal dinding S (mm). Diketahui : p = 1,34 N/mm 2 D ms = 22 mm D k S k = 44 mm = 4,75 mm S ms = 4,5 mm Maka tegangan kerja yang terjadi pada dinding-dalam master silinder dan kaliper adalah : σ ms = p. D 4. S ms ms σ k = p. D 4. S k k 1,34. = 4. ( 22) ( 4,5) = 1,64 N/mm 2 1,34. = 4. ( 44) ( 4) = 3,685 N/mm 2 Dimana : σ ms = tegangan kerja dinding-dalam master silinder, N/mm 2 σ k = tegangan kerja dinding-dalam kaliper, N/mm 2 D ms D k = diameter-luar master silinder, mm = diameter-luar kaliper, mm Dari bahan yang digunakan, maka faktor keamanan (Sf) dinding-dalam master silinder dan kaliper dapat ditentukan melalui persamaan 2.8, yaitu :

Sf ms σ i = σ ms Sf k σ i = σ k 269 Sf ms = 1,64 = 164 Sf k = 269 3,685 = 73 Dimana : Sf ms = faktor keamanan master silinder Sf k = faktor keamanan kaliper Karena Sf ms dan Sf k > 1,5 maka dinding-dalam silinder tersebut aman dalam bahan pemakaian. 3.2.10. Menentukan Piston Untuk pemeriksaan kekuatan bahan (tegangan kerja) pada piston, dapat dihitung melalui persamaan 2.9. Tegangan kerja pada piston master silinder dan kaliper ditentukan oleh faktor tekanan p (N/mm 2 ), diameter piston D (mm) dan tebal piston S (mm). Diketahui : p = 1,34 N/mm 2 Dp ms = Sp ms = 12,5 mm (lihat gambar 3.2.) Dp k = Sp k = 34 mm (lihat gambar 3.4.) Maka tegangan kerja yang terjadi pada piston master silinder dan kaliper adalah : σ p ms = p. Dp 4. Sp ms ms σ p k = p. Dp 4. Sp k k 1,34. = 4. ( 12,5) ( 12,5) = 0,34 N/mm 2 1,34. = 4. ( 34) ( 34) = 0,34 N/mm 2

Dimana : σ Pms = tegangan kerja piston master silinder, N/mm 2 σ Pk = tegangan kerja piston kaliper, N/mm 2 Dp ms = diameter piston master silinder, mm Dp k = diameter piston kaliper, mm Sp ms = tebal piston master silinder, mm Sp k = tebal piston kaliper, mm Dari kondisi kerja tersebut, maka bahan piston untuk master silinder dipilih dari jenis cor kelabu (grey cast iron) SAE J431 G2500 yang memiliki tegangan izin bahan, σ i = 173 N/mm 2, sedangkan bahan piston untuk kaliper dipilih dari jenis baja krom molibdenum (chromium-molybdenum) JIS SCM2 yang memiliki tegangan izin bahan, σ i = 670 N/mm 2. Sehingga faktor keamanan (Sf) piston master silinder dan kaliper dapat ditentukan melalui persamaan 2.8, yaitu : Sfp ms σ i = σ p ms Sfp k σ i = σ p k Sfp ms = 173 0,34 Sfp k = 670 0,34 = 509 = 1971 Dimana : Sfp ms = faktor keamanan piston master silinder Sfp k = faktor keamanan piston kaliper Karena Sf ms dan Sf k > 1,5 maka piston tersebut aman dalam bahan pemakaian.

3.2.11. Menentukan Ukuran Selang (Pipa) Hidrolik dan Bentuk Aliran Fluida yang digunakan adalah JUMBO Brake Fluid, memiliki viskositas kinematik, ν = 0,00115 m 2 /s, dan memiliki massa jenis, ρ = 1030 kg/m 3 = 103 N/m 3. Dalam perancangan ini, diameter selang (pipa) dan tebal selang (pipa) sudah diketahui dengan cara mengukur langsung selang tersebut. Selang tersebut memiliki diameter-luar D s = 10 mm, diameter-dalam d s = 2,5 mm, dan tebal selang, S s = 3,75 mm. Gambar 3.12. Selang Hidrolik Tipe SAE J1401 3.2.12. Pemeriksaan Kekuatan Selang (Pipa) Hidrolik Untuk pemeriksaan kekuatan bahan (tegangan kerja) pada selang (pipa) hidrolik, dapat dihitung melalui persamaan 2.9. Tegangan kerja pada piston master silinder dan kaliper ditentukan oleh faktor tekanan p (N/mm 2 ), diameterluar selang D s (mm) dan tebal selang S s (mm). Diketahui : p = 1,34 N/mm 2 D s S s = 10 mm = 3,75 mm Maka tegangan kerja yang terjadi pada selang : σ = s p. D 4. S s s

σ s 1,34. = 2. 13,4 = 7,5 ( 10) ( 3,75) = 1,79 N/mm 2 Dimana : D s = diameter selang (pipa), mm S s = tebal selang, mm p = tekanan terbesar, N/mm 2 σ s = tegangan kerja selang, N/mm 2 Bahan selang (pipa) yang digunakan dipilih dari jenis Nitrile Rubber (NBR, Acrylonitrile-Butadiene Rubber) yang memiliki tegangan izin bahan sebesar, σ i = 6,89 N/mm 2. Sehingga faktor keamanan selang (Sfs), melalui dengan persamaan 2.8 : σ i Sfs = σ s pemakaian. 6,89 = 0,45 = 15 Karena Sfs > 1,5 maka selang (pipa) tersebut aman dalam bahan 3.2.13. Kecepatan Aliran dalam Selang (Pipa) Hidrolik Untuk menentukan kecepatan aliran dalam selang (pipa) hidrolik, dapat dihitung melalui persamaan 2.12. Kecepatan aliran dalam selang ditentukan oleh debit aliran selang Q s (m 3 /s) dan luas permukaan-dalam selang A s (m 2 ).

Diketahui : d s = 2,5 mm = 0,0025 m ν = 0,00115 m 2 /s Re = 2320 Untuk menghitung kecepatan aliran dalam selang, dapat dihitung melalui persamaan 2.10, 2.11, 2.12 : 1 2 Q s =. π. d s.re. ν 4 A s π. d = 4 2 s Q s 1 2 =. π. 4 ( 0,0025).Re.0, 00115 A s π. = ( 0,0025) 4 2 = 0,000013 m 3 /s = 0,000005 m 2 Maka kecepatan aliran dalam selang : Q v s = A s s 0,000013 = 0,000005 = 2,6 m/s Dimana : v s = kecepatan aliran selang, m/s d s = diameter-dalam selang (pipa), m Re = bilangan Reynold, 2320 ν = viskositas kinematik, m 2 /s A s = luas penampang selang, m 2 Q s = kapasitas aliran selang, m 3 /s

3.2.14. Bilangan Reynold Dalam menentukan bilangan Reynold ini dimaksudkan untuk menentukan apakah aliran dalam selang tersebut laminar atau turbulen. Bilangan Reynold ditentukan oleh faktor kecepatan aliran dalam selang v s (m/s), diameter-dalam selang d s (m) dan nilai viskositas kinematik fluida v (m 2 /s). Bilangan Reynold dapat ditentukan melalui persamaan 2.13 : Diketahui : v s d s = 2,6 m/s = 2,5 mm = 0,0025 m ν = 0,00115 m 2 /s Maka bilangan Reynold dalam selang tersebut, adalah: d s s Re = v. ν 2,6.0,0025 Re = = 6 0,00115 Dari hasil perhitungan di atas, didapat Re < 2320 maka aliran di dalam selang tersebut adalah aliran laminer. 3.2.15. Faktor Gesekan Kerugian tekanan pada aliran fluida akan menentukan tekanan kerja yang diizinkan serta efisiensi dari sistem hidrolik. Kerugian-kerugian tersebut diakibatkan oleh adanya gesekan fluida di dalam selang. Besarnya gesekan pada selang didapat dari persamaan 2.14 : f = 64 Re 64 f = = 10,7 6

Dimana : f = faktor gesekan Re = bilangan Reynold 3.2.16. Kerugian Ketinggian Kerugian ketinggian pada sistem kopling hidrolik ini berbanding lurus dengan faktor gesekan f, panjang selang L s, kecepatan aliran v s, dan berbanding terbalik dengan diameter-dalam selang d s. Kerugian ketinggian dapat ditentukan melalui persamaan 2.15. Diketahui : v s d s L s = 2,6 m/s = 2,5 mm = 0,0025 m = 900 mm = 0,9 m f = 0,03 h = f 2 Ls. vs d.2 s Dimana : h = kerugian ketinggian, m d s = diameter-dalam selang (pipa), m f = faktor gesekan v s = kecepatan aliran selang, m/s L s = panjang selang, m Maka besar kerugian ketinggian pada sistem hidrolik ini adalah : ( 2,6) 0,9. h = 0,03 0,0025.2 = 36 m = 0,036 mm 2

3.2.17. Kerugian Tekanan Kerugian tekanan pada sistem kopling hidrolik ini berbanding lurus dengan massa jenis fluida ρ, percepatan gravitasi g, dan kerugian ketinggian h. Kerugian tekanan dapat ditentukan melalui persamaan 2.16. Diketahui : ρ = 103 N/m 3 g = 9,81 m/s 2 h = 36 m p = ρ. g. h Dimana : p = kerugian tekanan, N/mm 2 h = kerugian ketinggian, m ρ = massa jenis fluida, N/m 3 g = percepatan gravitasi, 9,81 m/s 2 Maka, kerugian tekanan yang terjadi pada sistem hidrolik ini : p = ρ. g. h = 103. 9,81. (36) = 36375 N/m 2 = 0,036375 N/mm 2 0,04 N/mm 2 3.2.18. Menentukan Tangki Fluida (Reservoir) Besar volume tangki fluida (reservoir) berbanding lurus dengan luas permukaan tangki dan panjang atau tinggi tangki. Volume tangki tersebut dapat ditentukan melalui dengan persamaan 2.17.

Diketahui : L r d r = 34 mm = 29 mm 30 mm 29 mm 35 mm 34 mm 45 0 Gambar 3.13. Penampang Tangki (Reservoir) π V r =. 4 2 ( d r ) Lr Dimana : V r = volume tangki, mm 3 d r = diameter-dalam tangki, mm L r = panjang/tinggi tangki, mm Maka, volume tangki (Reservoir) pada sistem kopling hidrolik ini adalah : V r π = 4 2 ( 29). 34 = 22446,3 mm 3 3.3. Rekapitulasi Perhitungan Rekapitulasi perhitungan ini ditulis dengan tujuan agar memudahkan penulis khususnya maupun kepada pembaca pada umumnya dalam mencari datadata atau hasil-hasil yang didapat dari perhitungan pada subbab sebelumnya di atas.

Rekapitulasi perhitungan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. Besar gaya pada : - master silinder, F ms - kaliper, F k = Fp max Tekanan pada : - master silinder, p ms - kaliper, p k Volume pada : - master silinder, V ms - kaliper, V k Kecepatan luncur piston, v p Kapasitas aliran pada : - master silinder, Q ms - kaliper, Q k Menentukan Master Silinder dan Kaliper Tebal dinding : - master silinder, S ms - kaliper, S k Tegangan kerja dinding-dalam : - master silinder, σ ms - kaliper, σ k Faktor keamanan bahan : - master silinder, Sf ms - kaliper, Sf k Menentukan Piston Tegangan kerja piston : - master silinder, σ Pms - kaliper, σ Pk Faktor keamanan bahan : - master silinder, Sfp ms - kaliper, Sfp k Menentukan Selang (Pipa) Hidrolik Tegangan kerja selang, σ s Faktor keamanan bahan, Sfs = 165 N = 1216 N = 1,34 N/mm 2 = 1,34 N/mm 2 = 3936 mm 3 = 13605 mm 3 = 0,003 m/s = 0,0004 m 3 /s = 0,003 m 3 /s = 4,5 mm = 4,75 mm = 1,64 N/mm 2 = 3,685 N/mm 2 = 164 = 73 = 0,34 N/mm 2 = 0,34 N/mm 2 = 509 = 1971 = 1,79 N/mm 2 = 15

22. 23. 24. 25. 26. 27. Kecepatan aliran dalam selang, v s Bilangan Reynold, Re (Re < 2320, maka aliran di dalam selang tersebut adalah aliran laminar). Faktor gesekan, f Kerugian ketinggian, h Kerugian tekanan, p Volume fluida tangki (Reservoir), V r = 2,6 m/s = 6 = 10,7 = 0,036 mm = 0,04 N/mm 2 = 22446,3 mm 3

BAB IV PROSES MODIFIKASI SERTA ANALISIS UNJUK KERJA (PERFORMANCE) KOPLING 4.1. Proses Modifikasi (Tahap Pembuatan) Sebelum masuk ke proses modifikasi (pembuatan) sistem kopling hidrolik, ada satu tahap yang harus diperhatikan, yaitu tahap pemilihan bahan (komponen). Ada beberapa komponen yang akan digunakan (lihat gambar 4.1), yaitu : 1. Master silinder (silinder pendorong) 2. Selang (pipa) hidrolik 3. Kaliper 4. Rumah kopling (housing) 5. Rangkaian kopling a. b. Gambar 4.1. Komponen-Komponen Pendukung Sistem Kopling Hidrolik. a. Master silinder, Selang (pipa) hidrolik, Kaliper, Rumah kopling (housing), b. Rangkaian kopling.

Pada tahap pembuatan ini ada 2 tahap yang mendukung jalannya proses pembuatan sistem kopling hidrolik tersebut, yaitu : 1. Tahap pengelasan 2. Tahap perakitan 4.1.1. Tahap Pengelasan Pada tahap ini ada 2 (dua) komponen yang harus disatukan, yaitu kaliper dan rumah kopling (housing). Dua komponen inilah yang menjadi bagian utama pada perancangan sistem kopling hidrolik ini (lihat gambar 4.2). Karena pada kaliper inilah sebuah kopling manual sistem hidrolik bekerja dan berfungsi dengan baik. Fungsi dari kaliper adalah sebagai media pendorong yang dihubungkan dan atau berhubungan langsung dengan stut pembebas kopling, dengan kata lain stut pembebasnya adalah piston itu sendiri yang berada di dalam kaliper tersebut. Gambar 4.2. Dua Komponen yang Akan Disatukan (di-las) Untuk menyatukan kaliper dan rumah kopling (housing) tersebut yaitu dengan cara di-las. Las yang digunakan adalah las aluminum (gas welding) atau lebih dikenal dengan las babet. Sebelum kedua komponen tersebut di-las, rumah kopling (housing) harus dilubangi. Lubang tersebut tepat berada pada baut

pengatur (setelan) kopling (lihat gambar 4.3.). Karena pada lubang itulah kaliper diletakkan dan kaliper harus berada pada posisi lurus (center) dengan rangkaian kopling. Setelah diberi lubang sebesar diameter-luar kaliper, kemudian kaliper dan rumah kopling (housing) dapat disatukan dengan las tersebut (lihat gambar 4.4.). Gambar 4.3. Letak Baut Pengatur (Setelan) Kopling Gambar 4.4. Dua Komponen yang Sudah Disatukan Ada satu komponen lagi yang harus di-las, yaitu kopling sentrifugal. Pengelasan ini dimaksudkan agar kopling sentrifugal tersebut tidak dapat berfungsi (lihat gambar 4.5.). Karena dengan adanya kopling manual pada motor bebek (khususnya), maka kopling sentrifugal tidak lagi diaktifkan. Oleh sebab itu kopling sentrifugal harus di-las. Untuk kopling sentrifugal cukup di-las menggunakan las karbit atau bisa menggunakan las listrik, karena komponen

tersebut terbuat dari bahan dasar besi. Lain halnya dengan kedua komponen tersebut di atas yang berbahan dasar aluminum. Gambar 4.5. Kopling Sentrifugal yang Sudah Dinon-aktifkan 4.1.2. Tahap Perakitan Setelah beberapa komponen tersebut di atas di-las, masuk ke tahap perakitan. Komponen-komponen pendukung yang sudah disebutkan sebelumnya, dirakit atau disusun sesuai dengan fungsinya masing-masing hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan dapat berfungsi dan bekerja dengan baik (lihat gambar 4.6.). Gambar 4.6. Sistem Kopling Hidrolik yang Sudah Dirakit (Disusun)

Gambar di atas adalah sebuah sistem kopling hidrolik yang sudah dirakit atau disusun secara benar. Gambar di atas merupakan gambaran singkat tentang perancangan sebuah sistem kopling hidrolik sebagai pengganti kopling sentrifugal pada motor Honda Astrea Star. Adapun cara kerja dari sistem kopling hidrolik adalah sama dengan cara kerja pada sistem rem hidrolik (rem cakram), yaitu sama-sama menggunakan fluida (cairan) sebagai media pengubah tenaga. Setelah sistem kopling hidrolik dirakit atau disusun secara utuh, kemudian mengisi fluida ke dalam tangki (reservoir) dan dilanjutkan dengan proses pembuangan udara dalam sistem hidrolik tersebut dengan cara yang sama seperti pada sistem rem hidrolik. Proses pembuangan udara tersebut dimaksudkan agar tidak ada udara di dalam sistem hidrolik yang dapat mengganggu kinerja dari sistem tersebut. 4.2. Analisis Unjuk Kerja (Performance) Dari proses pembuatan sampai tahap perakitan, kini masuk ke tahap unjuk kerja (performance). Analisis ini bertujuan untuk memeriksa dan mengetahui kinerja dari komponen-komponen yang sudah dibuat dan dirakit atau disusun apakah sudah bekerja dan berfungsi dengan baik atau tidak? Apakah sudah memenuhi syarat dan sesuai dengan harapan penulis? Pengujian awal dilakukan pada sistem hidrolik, yaitu pada master silinder hingga kaliper. Pengujian tersebut dilakukan untuk memeriksa apakah pada komponen-komponen tersebut terdapat kebocoran yang dapat mengakibatkan berkurangnya gaya tekan pada sistem hidrolik. Sebab setelah dua komponen tersebut disatukan, pada dinding-dalam kaliper dikhawatirkan terjadi perubahan

bentuk (diameter-dalam kaliper mengecil) yang mengakibatkan piston (stut pembebas) tidak dapat masuk ke dalam kaliper (lihat gambar 4.7.). Gambar 4.7. Dinding-Dalam Kaliper yang Dikhawatirkan Mengecil Kemudian dilanjutkan dengan pengujian sistem hidrolik dengan rangkaian kopling. Pada pengujian ini diharapkan sistem kopling hidrolik yang sudah dibuat dapat bekerja dengan baik. Pengujian yang dilakukan adalah dengan cara menghidupkan mesin (engine) motor dan menjalankan motor tersebut sebagaimana mestinya. Setiap perpindahan gigi perseneling 1 sampai 4 atau sebaliknya gigi 4 sampai 1 dirasakan lebih lembut dalam melakukan perpindahan gigi perseneling, tidak ada gejala slip pada kopling dan tidak ada gejala miss (susah masuk gigi perseneling). Dan juga pada saat menekan (menarik) handle (tuas) kopling tidak terasa keras (berat) dibandingkan dengan sistem kopling mekanis atau kopling manual yang menggunakan tali (kabel) kopling sebagai perantaranya. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini, perbedaan antara kopling mekanis (menggunakan tali atau kabel) dengan kopling hidrolik. Pada dasarnya prinsip kerja dari kopling manual adalah sama, baik kopling manual mekanis maupun kopling manual sistem hidrolik. Hanya perantara atau pengubah tenaganya saja yang berbeda.

Pada perancangan suatu alat, ada kelebihan dan kekurangan dari hasil perancangan tersebut. Pada perancangan sistem kopling hidrolik ini juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Untuk nilai lebih dari hasil perancangan tersebut adalah seperti yang sudah disebutkan di atas pada analisis unjuk kerja (performance). Sedangkan untuk kekurangan dari hasil perancangan ini adalah kesulitan dalam hal pembuatan dan biaya pembuatan yang sedikit lebih mahal dibandingkan dengan kopling manual tipe mekanis. Pada kopling manual tipe mekanis dalam hal pembuatan sedikit lebih simple (tidak rumit) dan membutuhkan biaya yang tidak terlalu mahal (terjangkau). (a) (b) (c) Gambar 4.8. Kopling Semi-Otomatis (a), Kopling Manual Tipe Mekanis (b), dan Sistem Kopling Hirolik (c).

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Berdasarkan data-data hasil perancangan dan pengujian yang telah dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan : 1. Untuk merancang atau membuat sebuah sistem kopling hidrolik, dibutuhkan beberapa komponen-komponen pendukung seperti : master silinder, selang hidrolik, kaliper, rumah kopling (housing), serta rangkaian kopling. 2. Besarnya gaya tekan F untuk dapat menekan keempat pegas kopling yang terdapat pada rangkaian kopling adalah sebesar, Fp max = 1216 N. Besarnya gaya tekan F pada pegas sama dengan besarnya gaya F pada kaliper, F 2 = F k = Fp max = 1216 N. Sedangkan besar gaya tekan pada master silinder, F ms = 165 N. 3. Tekanan fluida yang terjadi pada sistem kopling hidrolik adalah sebesar, p ms = p k = p =1,34 N/mm 2. 4. Ada dua komponen yang harus disatukan dengan cara di-las, yaitu kaliper dan rumah kopling (housing). Las yang digunakan adalah las aluminum atau lebih dikenal dengan las babet. Sedangkan untuk kopling sentrifugal cukup dengan menggunakan las karbit atau dengan menggunakan las listrik, tujuannya adalah agar kopling sentrifugal tersebut tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. 5. Setelah dilakukan pengujian, setiap perpindahan gigi perseneling 1 sampai 4 atau sebaliknya gigi 4 sampai gigi 1 dirasakan lebih lembut dalam melakukan

perpindahan gigi perseneling. Tidak ada gejala slip pada kopling dan tidak ada gejala miss (susah masuk gigi perseneling). Dan juga pada saat menekan (menarik) handle (tuas) kopling tidak terasa keras (berat) dibandingkan dengan sistem kopling mekanis atau kopling manual yang menggunakan tali (kabel) kopling sebagai perantaranya. 5.2. Saran Dalam merancang atau membuat sistem kopling hidrolik, penulis menyarankan : 1. Agar memperhatikan kedua komponen yang akan disatukan dengan las, karena dikhawatirkan terjadinya perubahan bentuk pada bagian dinding-dalam (diameter) kaliper yang menyebabkan piston tidak dapat masuk ke dalam kaliper. 2. Untuk hal tersebut di atas penulis menyarankan kepada pembaca pada umumnya yang ingin menyusun Tugas Akhir, bisa melakukan pengujian terhadap komponen tersebut di atas yaitu pada kaliper yang dikhawatirkan terjadi perubahan bentuk pada bagian dinding-dalam (diameter) setelah dilakukannya pengelasan atau penyatuan dua komponen tersebut.

DAFTAR PUSTAKA 1. Maryono, Agus, Hidrolika Terapan, Pradnya Paramita, Jakarta, 2003 2. Niemann, G, Budiman, Anton, Elemen Mesin, Jakarta, 1994 3. Sigar, Edi, Buku Pintar Otomotif, Delapratasa Publishing, Jakarta, 2001 4. Streeter, Victor, L, Prijono, Arko, Mekanika Fluida, Erlangga, Jakarta, 1992 5. Subekti, Markus, Konsep-Konsep Fisika, Intan Pariwara, Jawa Tengah, 1996 6. Sularso, Suga, Kiyokatsu, Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin, Pradnya Paramita, Jakarta, 2004 7. Thomas, Ginting, Dines, Hidraulika Ringkas Dan Jelas, Erlangga, Jakarta, 1989

L A M P I R A N

Material Casting Alloy AA357 SAE J431 automotive gray cast iron, SAE grade G2500 JIS SCM2, chromiummolybdenum Aluminum 6061-O Ductile Iron grade D4512 Tensile Strength, Ultimate MPa, [psi] 269 [45000] Physical Properties Tensile Strength, Yield MPa, [psi] 230 [40000] 173 [25100] 670 [97200] 124 [18000] 448 [65000] 435 [63100] 55.2 [8000] Density, g/cc [lb/in³] 7,15 [0,258] 7,85 [0,284] 2,7 [0,0975] 310 [45000] Uses Master cylinder, discbrake calipers. Cylinder blocks, cylinder heads, aircooled cylinders, pistons, clutch plates, oil pump bodies, transmission cases, gear boxes, clutch housings and light duty brake drums. 910 kg minimum transverse load, 4.3 mm minimum deflection. Automobile brake pistons. 1000 kg minimum transverse load. Couplings, magneto parts, brake pistons, hydraulic pistons, appliance fittings, valves and valve parts. Applications include moderately stressed parts requiring moderate machinability, discbrake calipers. Gambar A1. Tabel Bahan (Material) Master Silinder, Kaliper, Piston Master Silinder dan Piston Kaliper Referensi : http://www.matweb.com/

Physical Properties Material Tensile Strength, Ultimate MPa, [psi] Tensile Strength, Yield MPa, [psi] Density, g/cc [lb/in³] Nitrile Rubber (NBR, Acrylonitrile-Butadiene Rubber) 6,89 24,1 [1000-3500 ] 1,15 1,35 [0,0415 0,0488] Rubatex R421 Neoprene/EPDM/ SBR Rubber Sheet 0,345 [50] 2,67 [0,0965] Dow SE SLR-4400 Solution Polymerized Styrene Butadiene Rubber (S-SBR) 22 [3190] 13 [1890] Gambar A2. Tabel Bahan (Material) Selang Hidrolik (Brake/Hydraulic Hose) Referensi : http://www.matweb.com/

DOT 3 Brake Fluid Duralife [1] Jumbo [2] BrakeMax [3] APP [4] Equilibrium : Boiling point Dry, C ( F) Wet, C ( F) 250 (482) 170 (338) 258 (497) 144 (291) 245 (473) 145 (293) 230 (446) 140 (284) Specific Gravity @ 20 C (68 F) 1,04 0,850 Kinematic Viscosity, cst [m 2 /s] 1180 [0,00118] 1150 [0,00115] 1150 [0,00115] 1500 max [0,0015] Density, kg/m 3 1030 1030 1030 [N/m 3 ] [10094] [10094] [10094] ph 8 9,2 9 7,0-11,5 Gambar A3. Tabel Spesifikasi Minyak (Fluida) Hidrolik Referensi : 1. http://www.amtecol.com/ 2. http://www.mobilmotor.co.id/ 3. http://www.brakemax.com/ 4. http://www.app.com.vn/e_dauphanh.htm

Gambar A4. Penampang Pegas Sekrup dan atau Pegas Tekan [2] Gambar A5. Diagram Tegangan Izin Bahan Pegas, σ i [2]

Gambar B1. Sistem Kopling Hidrolik

Gambar B2. Selang (Pipa) Hidrolik Tipe SAE J1401 Gambar B3. Master Silinder dan Piston Master Silinder Gambar B4. Kaliper dan Piston Kaliper (Stut Kopling)

Gambar B5. Rumah Kopling (Housing) dan Kaliper yang Belum Disatukan Gambar B6. Rumah Kopling (Housing) dan Kaliper yang Telah Disatukan

Gambar B7. Stut (Penekan/Pembebas) Kopling Standar Gambar B8. Penampang Rumah Stut Kopling Hasil Modifikasi