BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
Dr. HAKIMI, SpAK Dr. MELDA DELIANA, SpAK Dr. SISKA MAYASARI LUBIS, SpA DIVISI ENDOKRINOLOGI ANAK FKUSU / RSHAM

I. PENDAHULUAN. sikap yang biasa saja oleh penderita, oleh karena tidak memberikan keluhan

BAB I PENDAHULUAN. beragam. Masalah gizi di Indonesia dan di Negara berkembang pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan masyarakat perkotaan dipengaruhi oleh beberapa faktor,

BAB I PENDAHULUAN. klinik. Prevalensi nodul berkisar antara 5 50% bergantung pada populasi tertentu

CIRI CIRI KARAKTERISTIK PENDERITA NODUL TIROID DI POLIKLINIK ENDOKRIN DAN POLIKLINIK BEDAH RSUP DR. KARIADI SEMARANG LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

HIPERTIROID DALAM KEHAMILAN

BAB I PENDAHULUAN. yang terdiri dari dataran tinggi atau pegunungan. Gangguan Akibat. jangka waktu cukup lama (Hetzel, 2005).

Gejala Klinis. Umum. Gejala

BAB I PENDAHULUAN. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. komponen utama adalah hemoglobin A dengan struktur molekul α 2 β 2.

HIPERTIROID DALAM KEHAMILAN

PATOFISIOLOGI DAN IDK DM, TIROID,PARATIROID

BAB 1 PENDAHULUAN. Benign Prostat Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masalah gizi masyarakat merupakan salah satu. masalah yang sering dialami oleh negara berkembang,

Dr. HAKIMI, SpAK. Dr. MELDA DELIANA, SpAK. Dr. SISKA MAYASARI LUBIS, SpA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. produksi rantai globin mengalami perubahan kuantitatif. Hal ini dapat menimbulkan

DIABETES MELLITUS I. DEFINISI DIABETES MELLITUS Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen

Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Kanker Payudara Thursday, 14 August :15

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. Pertumbuhan dan

Jenis hormon berdasarkan pembentuknya 1. Hormon steroid; struktur kimianya mirip dengan kolesterol. Contoh : kortisol, aldosteron, estrogen,

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetic foot merupakan salah satu komplikasi Diabetes Mellitus (DM).

BAB I PENDAHULUAN. daya manusia adalah upaya peningkatan status gizi. Gangguan Akibat

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

: Ikhsanuddin Ahmad Hrp, S.Kp., MNS. NIP : Departemen : Kep. Medikal Bedah & Kep. Dasar

BAB 2 ANATOMI DAN FUNGSI KELENJAR TIROID. Tiroid berarti organ berbentuk perisai segi empat. Kelenjar tiroid merupakan

DIAGNOSIS DM DAN KLASIFIKASI DM

BAB 1 PENDAHULUAN. Massa regio colli atau massa pada leher merupakan temuan klinis yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. lemak, dan protein. World health organization (WHO) memperkirakan prevalensi

Definisi: keadaan yang terjadi apabila perbandingan kuantitas jaringan lemak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membuat protein, dan mengatur sensitivitas tubuh terhadap hormon

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Hormon tiroid disintesis dan disekresi oleh kelenjar tiroid, sintesis dan sekresi

Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Askep Gangguan Kelenjar Endokrin

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HIPERPITUITARISME

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya kesadaran masyarakatakan hidup sehat. menyebabkan jumlah usia lanjut menjadi semakin banyak, tak terkecuali di

Kanker Payudara. Breast Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. tiroid ditemukan pada 4-8% dari populasi umum dengan pemeriksaan palpasi, 10-

BAB 1 PENDAHULUAN. pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan

BAB I PENDAHULUAN. (radioimmunoassay) dan IRMA (immunoradiometric assay), atau metode

BAB 1 PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Keganasan ini dapat menunjukkan pola folikular yang tidak jarang dikelirukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Anatomi dan Histologi Kelenjar Tiroid. lobus tiroid yang berbentuk lonjong berukuran panjang 2,5-4 cm,


BAB I PENDAHULUAN. dari tiga masalah gizi utama di Indonesia. GAKY merupakan masalah. kelenjar gondok, kekurangan yodium dapat mempengaruhi kecerdasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang memproduksi 2 hormon yaitu tiroksin (T 4 ) dan triiodotironin (T 3

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Kuliah. Melakukan praktikum di lab Membaca literatur dan handout

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. penelitian yang dilakukan oleh Weir et al. dari Centers for Disease Control and

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) yang. terakhir dilaksanakan pada tahun 2007, walaupun menunjukkan

uan Tiroid Saat Hamil ngsung pada lbu Hamil dan Bayinya

DIVISI ENDOKRINOLOGI ANAK FKUSU/RSHAM Dr. HAKIMI, SpAK. Dr. MELDA DELIANA, SpAK. DR. SISKA MAYASARI LUBIS, SpA

BAB I PENDAHULUAN. peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi

Kanker Rahim - Gejala, Tahap, Pengobatan, dan Resiko

Limfoma. Lymphoma / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN HIPERTENSI ANTARA PRIA DAN WANITA PENDERITA DIABETES MELITUS BERUSIA 45 TAHUN SKRIPSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Program Keluarga Berencana adalah perawatan. kesehatan utama yang sesuai untuk kaum ibu dalam masa

BAB I PENDAHULUAN. sebasea yang dapat dialami oleh semua usia dengan gambaran klinis yang bervariasi antara

BAB I PENDAHULUAN. Memperoleh gambaran teoritis mengenai asuhan keperawatan pada klien dengan goiter.

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Paradigma mengenai kanker bagi masyarakat umum. merupakan penyakit yang mengerikan.

BAB I PENDAHULUAN. absolute atau relatif. Pelaksanaan diet hendaknya disertai dengan latihan jasmani

PENDAHULUAN. Secara alamiah seluruh komponen tubuh setelah mencapai usia dewasa tidak

ENDEMIK GOITER. Ni Luh Ayu Darmayanti, I Gd Budhi Setiawan, Sri Maliawan

BUKU PANDUAN KERJA. Keterampilan Anamnesis & Pemeriksaan Pembesaran kelenjar tiroid Penilaian Kelenjar Tiroid - Hipertiroid dan hipotiroid

BAB 4 HASIL. Korelasi stadium..., Nurul Nadia H.W.L., FK UI., Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. kebersihan rumah tangga dan lingkungan, serta meningkatnya pendapatan dan

Bagi pria, kewaspadaan juga harus diterapkan karena kanker payudara bisa menyerang

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel

BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai bahan dasar dalam pembentukan hormon tiroid. Apabila tubuh

:

BAB I PENDAHULUAN. kompleks, mencakup faktor genetik, infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) dan

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit asam urat atau biasa dikenal sebagai gout arthritis merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah

I. PENDAHULUAN. pada wanita dengan penyakit payudara. Insidensi benjolan payudara yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. dikalangan wanita sedunia, meliputi 16% dari semua jenis kanker yang diderita

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Status kesehatan masyarakat ditunjukkan oleh angka kesakitan, angka

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini ialah cross sectional

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Gambar 2.1. Anatomi Kelenjar Tiroid

BAB I PENDAHULUAN. sel tubuh normal mengadakan mutasi menjadi sel kanker yang kemudian. Penyakit kanker saat ini sudah merupakan masalah kesehatan di

BAB 1 PENDAHULUAN. ditemukan di seluruh dunia dewasa ini (12.6% dari seluruh kasus baru. kanker, 17.8% dari kematian karena kanker).

BAB 1 PENDAHULUAN. penduduk dunia meninggal akibat diabetes mellitus. Selanjutnya pada tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kesehatan masyarakat baik di Indonesia maupun di dunia. Masalah yang

BAB I PENDAHULUAN. Karsinoma kolorektal (KKR) merupakan masalah kesehatan serius yang

KARAKTERISTIK KLINIS DAN DIAGNOSIS SITOLOGI PASIEN DENGAN NODUL TIROID YANG DILAKUKAN PEMERIKSAAN FINE NEEDLE ASPIRATION BIOPSY

Tugas Endrokinologi Kontrol Umpan Balik Positif Dan Negatif

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi fisiologi kelenjar tiroid Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang terletak di leher dan terdiri atas sepasang lobus di sisi kiri dan kanan. Terletak di leher dihubungkan oleh ismus yang menutupi cincin trakea 2 dan 3. Kelenjar ini tersusun dari zat hasil sekresi bernama koloid yang tersimpan dalam folikel tertutup yang dibatasi oleh sel epitel kuboid. Koloid ini tersusun atas tiroglobulin yang akan dipecah menjadi hormon tiroid (T3 dan T4) oleh enzim endopeptidase. Kemudian hormon ini akan disekresikan ke sirkulasi darah untuk kemudian dapat berefek pada organ target. 12,14 Gambar 1. Mekanisme sintesis hormon tiroid 13 6

7 Mekanisme sekresi hormon tiroid sendiri diatur oleh suatu axis hipothalamushipofisis-tiroid. Hipotalamus akan mensekresikan Thyroid Releasing Hormon (TRH) yang akan merangsang hipofisis untuk mengeluarkan Thyroid Stimulating Hormon (TSH). Kemudian TSH merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid. Hormon tiroid terutama dalam bentuk T3 dan T4. Biosintesis hormon tiroid terbagi dalam beberapa tahap : a. Tahap trapping; b. Tahap oksidasi; c. Tahap coupling; d. Tahap penimbunan atau storage; e. Tahap deyodinasi; f. Tahap proteolisis; f. Tahap sekresi. 14 2.2 Nodul tiroid 2.2.1 Faktor risiko 2.2.1.1 Paparan radiasi Lingkungan menjadi faktor penting dalam munculnya nodul tiroid. Paparan radiasi atau penggunaan obat radioisotop pada daerah leher menjadi faktor risiko kelainan tiroid. Radiasi eksternal yang digunakan untuk mengobati kanker berat seperti CNS tumor, limfoma Hodgkin s mempunyai efek samping neoplasma yang tersering pada kelenjar tiroid. Selain itu, radiasi internal akibat asupan radioiodine 131 pada usia muda berisiko tinggi terjadinya papillary thyroid carcinoma. 15

8 2.2.1.2 Jenis kelamin Dalam suatu studi epidemiologi menyebutkan bahwa prevalensi nodul tiroid empat kali lebih besar terjadi pada wanita daripada laki laki, tetapi kecenderungan untuk menjadi keganasan lebih tinggi pada laki laki dibandingkan wanita. Data yang mendukung antara jenis kelamin dan kejadian nodul tiroid masih sedikit dan tidak ada bukti kuat keterkaitan antara estrogen dengan pertumbuhan sel tiroid. 1,4 2.2.1.3 Defisiensi yodium Defisiensi yodium menjadi pencetus utama timbulnya gondok endemik yang diakibatkan sebagai mekanisme adaptasi alami akibat kekurangan bahan baku pembuat hormon tiroid yang menyebabkan aktifitas berlebihan dari kelenjar tiroid. Pada daerah dengan defisiensi yodium seperti di daerah pegunungan menjadi tempat dengan angka kejadian gondok endemik. Pembagian daerah gondok endemik terlihat seperti berikut : 16 - Endemi grade I (derajat ringan) : ekskresi median iodium >50 µg l/g kreatinin atau median urin 5,0-9,9 µg/dl. - Endemi grade II (derajat sedang) : ekskresi median iodium 25-50 µg l/g kreatinin atau median urin 2,0-4,9 µg/dl. - Endemi grade III (derajat berat) : ekskresi median iodium <25 µg l/g kreatinin atau median urin <2mg/dl.

9 2.2.1.4 Goitrogen Peran goitrogen sejauh ini hanya terbukti hanya pada binatang coba, secara global hanya ada dua daerah endemis yang memiliki pengaruh goitrogen yang kuat yaitu Idjwi, Zaire dan Candelaria, Columbia. Sumber goitrogen alami yang sudah teridentifikasi di antaranya ketela, air minum dari sedimen karang tertentu, sayur kol. Goitrogen baru dipirkan apabila pada pemberian yodium secara adekuat akan tetapi tidak terdapat penurunan angka kejadian yang signifikan. 16 2.2.1.5 Genetik Faktor herediter yang bertanggung jawab terbentuknya karsinoma tiroid sangatlah sedikit bila dibandingkan dengan kasus sporadik, kejadian ini berhubungan dengan Medullary Thyroid Carsinoma (MTC) sel C (25% kasus). Gen MTC tersebut ditransmisikan secara autosomal dominan dan apabila orang tua terpengaruh dengan gen tersebut dan membawa mutasi germ-line bersama reseptor tyrosine-protein kinase gene maka anggota keluarga perlu diskrining terhadap mutasi tersebut. 17 2.2.1.6 Penggunaan obat amiodaron Prevalensi nodul tiroid lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki akan tetapi tidak ditemukan bukti yang kuat keterkaitan antara estrogen dan pertumbuhan sel. Pada penggunaan obat gangguan jantung amiodaron telah

10 dilaporkan adanya efek samping tirotoksikosis yang disebut Amiodarone Induced Thyrotoxicosis. Kejadian tirotoksikosis pada penggunaan obat amiodaron disebabkan karena amiodaron dan metabolitnya (desethylamiodaron) dapat menyebabkan tiroiditis destruktif. 14 2.2.1.7 Insulin Insulin merupakan faktor yang merangsang proliferasi sel tiroid pada kultur. Selain itu aktivitas berlebihan dari reseptor insulin menjadi faktor pemicu awal dari pembentukan tumor. Penelitian tersebut mengindikasikan resistensi insulin dan kadar insulin yang tinggi merupakan faktor risiko dalam peningkatan proliferasi tiroid sehingga bermanifestasi peningkatan volume tiroid dan terbentuknya nodul. Hal ini terjadi karena insulin-like growth factor (IGF)-1 dan reseptor insulin menyebabkan ekspresi berlebihan sehingga menginduksi pertumbuhan tumor kelenjar tiroid. 18 2.2.1.8 Defisiensi vitamin D Dalam penelitian lain menyebutkan ada hubungan antara defisiensi vitamin D dan karsinoma tiroid. Penelitian tersebut berpendapat bahwa di dalam kelenjar tiroid terdapat reseptor vitamin D dan vitamin D memiliki sifat sebagai anti karsinogenesis, sehingga defisiensi vitamin D bertanggungjawab terhadap terbentuknya karsinoma tiroid. 19

11 2.2.1.9 Infeksi tuberkulosis Infeksi tuberkulosis bisa menyebabkan penyakit tiroid walaupun dengan angka kejadian yang jarang. Hal yang memungkinkan karena adanya resistensi kelenjar tiroid akibat adanya sifat bakterisidal koloid, aliran darah yang banyak di daerah kelenjar tiroid, aktivitas yodium, dan efek antituberkulosis hormon tiroid. Kelenjar tiroid terinfeksi oleh kuman tuberkulosis melalui rute hematogen dan limfatik walaupun kontroversial. Kejadian yang pernah dilaporkan infeksi tersebut merupakan penyebaran kuman secara langsung dari nodus limfatikus regional. Tuberkulosis tiroid menjadi diagnosa banding dalam masa leher dan dapat dibedakan dengan pemeriksaan Fine Needle Aspiration Cytology yang merupakan spesimen yang dianalisis dengan mikroskop, kultur, dan sitologi. 20 2.2.2 Gambaran klinik Secara klinik nodul dibagi menjadi nodul tunggal (soliter) dan multipel, sedangkan berdasarkan kelainan fungsi dibagi menjadi hiperfungsi, hipofungsi, dan fungsi normal. 1 Kelainan yang timbul akibat adanya pembesaran kelenjar lebih dikarenakan karena adanya efek desakan mekanis ke organ sekitar seperti esofagus, trakea, dan pita suara. Nodul tidak memberikan rasa nyeri kecuali telah terjadi perdarahan pada kelenjar. 4

12 2.2.3. Diagnosis Sejauh ini beberapa metode telah dikembangkan untuk deteksi nodul tiroid, di antaranya biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH/FNAB), ultrasonografi, sidik tiroid (sintigrafi), dan CT atau MRI. Para ahli di American Thyroid Association (ATA) dan European Thyroid Association (ETA) menjadikan biopsi aspirasi jarum halus sebagai langkah diagnostik awal. 1 2.3. Kelainan fungsi tiroid Seperti halnya penyakit-penyakit endokrin secara umum kelenjar tiroid pun bisa mengalami suatu kelainan fungsional seperti : 1. Pembentukan hormon tiroid yang berlebihan (hipertiroidisme). 2. Defisiensi hormon tiroid (hipotiroidisme). 2.3.1. Hipertiroidisme Beberapa literatur menyebutnya sebagai tirotoksikosis, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Tirotoksikosis merupakan manifestai klinik dari berlebihnya hormon tiroid di sirkulasi darah, sedangkan hipertiroidisme merupakan suatu tirotoksikosis akibat hipermetabolisme. Berdasarkan letak anatomi hipertiroid dibagi menjadi hipertiroid primer apabila kelainan terjadi di kelenjar tiroid dan hipertiroid sekunder apabila letak kelainan di luar kelenjar

13 tiroid. 14 Kelainan ini bisa timbul secara spontan ataupun akibat asupan hormon tiroid yang berlebihan. Tabel 2.1 Tanda dan gejala klinik Hipertiroid 13 Sistem Gejala dan tanda Umum Gastrointestinal Muskular Genitourinaria Kulit Psikis, saraf dan jantung Darah dan sistem limfatik Skelet Tidak tahan hawa panas, hiperkinesis, capek, BB turun, tumbuh cepat, toleransi obat, youthfullness Hiperdefekasi, lapar, makan banyak, haus, muntah, disfagia, splenomegali Rasa lemah Oligomenorea, amenorea, libido turun, infertil, ginekomasti Rambut rontok, berkeringat, kulit basah, silky hair,dan onikolisis Labil, iritabel, tremor, psikosis, nervositas, paralisis periodik, dispneu, hipertensi, aritmia, palpitasi, gagal jantung Limfositosis, anemia, splenomegali, leher membesar Osteoporosis, epifisis cepat menutup dan nyeri tulang Terdapat dua macam hipertiroidisme yang paling sering dijumpai yaitu : penyakit Graves dan Goiter nodular toksik. Penyakit Graves paling sering terjadi pada usia sekitar dekade ketiga atau keempat walaupun bisa terdapat pada semua

14 umur dengan angka kejadian lebih sering pada perempuan daripada lakilaki. 20,21 Pada pasien dengan hipertiroidisme 60 80 % mengalami penyakit graves. 23 Manifestasi yang paling sering tampak adalah trias Graves seperti : 1)Hipertiroidisme dan goiter, 2) Optalmopati, 3) Dermopati. Dermatopati tiroid terjadi pada 2 3% pasien dengan penyakit Graves dan menyebabkan penebalan kulit di sekitar kulit tibia bawah tanpa piting. 24 Goiter nodular toksik merupakan kelainan hipertiroidisme yang paling sering terjadi pada usia lanjut sebagai komplikasi goiter nodular kronik. Kejadian hipertiroidisme timbul perlahan dan memberikan kelainan klinis yang lebih ringan dari penyakit graves. 21 2.3.2. Hipotiroidisme Definisi mengenai hipotiroidisme adalah berkurangnya efek hormon tiroid di jaringan. Pembagian secara klinik : 1) Hipotiroid tipe sentral apabila kerusakan di hipofisis/hipotalamus, 2) Hipotiroid tipe primer apabila kelainan terletak di kelenjar tiroid, 3) Hipotiroid tipe lain : penyebab farmakologi, defisiensi iodium, dan resistensi perifer. Pada hipotiroidisme tipe sentral sendiri dibagi menjadi dua, yaitu apabila kerusakan terletak di hipofisis disebut sebagai hipotiroid sekunder dan apabila kerusakan di hipotalamus disebut sebagai hipotiroidisme tersier. 14

15 Tabel 2.2 Penyebab Hipotiroidisme 14 Penyebab Hipotiroid Sentral 1. tumor, infiltrasi tumor 2. nekrosis iskemik (sindrom Sheehan pada hipofisis) 3. iatrogen (radiasi operasi) 4. infeksi (sarkoidosis histiosis) Penyebab Hipotiroid Primer 1. hipo- atau agenesis kelenjar tiroid 2. destruksi kelenjar tiroid 3. atrofi 4. dishormonogenesis sintesis hormon 5. hipotiroidisme sepintas (transient) Penyebab Hipotiroid Tersier 1. tiroiditis de Quervain 2. silent tiroiditis 3. tiroiditis postpartum 4. hipotiroidisme neonatal sepintas Hipotiroidisme memberikan suatu gejala hipometabolisme dari hormon tiroid. Manifestasi klinik pada kelainan hipotiroidisme seperti intoleransi dingin, berat badan meningkat, sembelit, kulit kering, bradikardia, suara serak, dan memperlambat proses mental. Populasi khusus yang mempunyai risiko tinggi terhadap hipotiroid adalah wanita postpartum, individu dengan riwayat penyakit tiroid autoimun, kondisi endokrin ( diabetes tipe I, kegagalan adrenal, dan gangguan ovarium), penyakit non-endokrin ( penyakit coeliac, vitiligo, anemia perniciosa,

16 sindroma Sjorgen, multiple sklerosis), hipertensi pulmonal, sindrom down dan turner). 21 Penegakan hipotiroidisme didasarkan pada : diagnosa klinik sub-klinik, primer-sentral, etiologi. Dikatakan hipotiroid subklinik apabila didapatkan TSH naik akan tetapi kadar hormon tiroid dalam batas normal. Tes laboratorium diperlukan untuk mengkonfirmasi kelainan hipotiroid yaitu : kadar T3 dan T4, kadar TSH, BMR, dan kolesterol serum. 14,21