TRANSFORMASI SUMBU KOORDINAT

dokumen-dokumen yang mirip
KONSTRUKSI RANGKA BATANG

Pertemuan 5 INTERPRETASI REAKSI PELETAKAN DAN GAYA DALAM

ANALISIS STRUKTUR FRAME-SHEAR WALL

TUTORIAL PORTAL 3 DIMENSI

PENGANTAR SAP2000. Model Struktur. Menu. Toolbar. Window 2. Window 1. Satuan

MODEL STRUKTUR SLOPPED TRUSS

Menghitung Jembatan Baja dengan SAP 2000 V.14

By SUGITO Call :

APLIKASI METODE ELEMEN HINGGA PADA RANGKA RUANG (SPACE TRUSS) DENGAN MEMBANDINGKAN CARA PERHITUNGAN MANUAL DENGAN PROGRAM SAP2000

ANALISA STRUKTUR METODE MATRIKS (ASMM)

TUTORIAL PERHITUNGAN STRUKTUR DENGAN SAP 2000 V.14

Pertemuan 13 ANALISIS P- DELTA

Oleh I Gusti Ngurah Putu Dharmayasa, ST, MT Jurusan Teknik Sipil - Undiknas

METODOLOGI PENELITIAN

Metode Kekakuan Langsung (Direct Stiffness Method)

Kita akan menyelesaikan permasalahan struktur kuda-kuda berikut, Panjang Bentang = 10 meter; Tinggi = 3m.

LAMPIRAN A. Perhitungan Beban Gempa Statik Ekivalen

Modul SAP2000 Ver.7.42

Modul SAP2000 Ver.7.42

PERANCANGAN GEDUNG STRUKTUR BAJA GEDUNG 5 LANTAI MENGGUNAKAN PROGRAM SAP 2000

PEMODELAN DERMAGA DENGAN SAP 2000

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

DASAR DASAR PENGGUNAAN SAP2000

Pertemuan 4 DEFINE, ASSIGN & ANALYZE

DAFTAR LAMPIRAN. L.1 Denah Tampak Depan Struktur Dermaga 59 L.2 Denah Tampak Samping Struktur Dermaga 60 L.3 Denah Pembalokan Struktur Dermaga 61

Gambar 2.2. Notasi dimensi elemen struktur balok dan kolom

LAMPIRAN. Universitas Kristen Maranatha

MANUAL STRUCTURAL ANALYSIS PROGRAM SAP oleh: Fikri Alami, S.T., M.Sc. Siti Nurul Khotimah, S.T.,M.Sc

Modul SAP2000 Ver.7.42

Untuk kalangan sendiri tidak untuk diperjualbelikan. Seri 1. Modul. v11

BAB V ANALISIS STRUKTUR

B A B III M E T O D E P E R E N C A N A A N

Pertemuan 3 MENGGAMBAR KONFIGURASI STRUKTUR 3 D T. ATAS. Gambar 3.1: Contoh Model Struktur Portal 3D

Workshop SAP2000 Berbagi Pengetahuan Tentang Program Komputer Rekayasa

Analisis Dinamik Struktur dengan Respon Spektrum berdasarkan SNI 1726:2012 menggunakan SAP2000

Langkah-langkah pengerjaan analisis dengan menggunakan software etabs: 1. Membuka program dengan mengklik icon atau diambil dari start program

KOMPUTERISASI ANALISIS STRUKTUR RANGKA 3D DENGAN METODE KEKAKUAN LANGSUNG ALGORITMA HOLZER. Yohanes I P NRP :

BAB IV PERENCANAAN STRUKTUR. lantai, balok, kolom dan alat penyambung antara lain sebagai berikut :

MAIN COURSE. Chapter 1 : Something Always In Your Mind About SAP Inside : 10 Step of SAP2000 Calculation and Analysis, Axes, Grid, etc

DAFTAR ISI BAB 1. PENDAHULUAN

MENAMBAHKAN CANOPY. Gambar 5.1 Canopy dengan fungsi ganda

MODEL PORTAL 3 DIMENSI

PENGANTAR PEMODELAN STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN SAP 2000

Ditulis untuk Menyelesaikan Mata Kuliah Tugas Akhir Semester VI Pendidikan Program Diploma III. oleh:

Dosen Pembimbing: 1. Tavio, ST, MS, Ph.D 2. Bambang Piscesa, ST, MT

STRUKTUR STATIS TAK TENTU

Analisis Pertemuan Balok-Kolom Struktur Rangka Beton Bertulang Menggunakan Metode Strut And Tie. Nama: Budi Piyung Riyadi NRP :

Pertemuan 2 MENGGAMBAR KONFIGURASI STRUKTUR 2 D

TUTORIAL ANALISA STRUKTUR

SAP Pemodelan Struktur Balok Lengkung menggunakan CAD

Pertemuan 8 KUBAH TRUSS BAJA

ANALISIS STRUKTUR METODE MATRIX. Pertemuan ke-3 SISTEM RANGKA BATANG (PLANE TRUSS)

PERBANDINGAN DIMENSI BALOK AKIBAT MENGGUNAKAN BATA KONVENSIONAL DAN BATA RINGAN

Pertemuan 6 PROPERTI PENAMPANG DALAM FILE DATABASE

STUDI ANALISIS PERTEMUAN BALOK KOLOM BERBENTUK T STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG DENGAN PEMODELAN STRUT-AND- TIE ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal

BAB I PENDAHULUAN. tersebut. Modifikasi itu dapat dilakukan dengan mengubah suatu profil baja standard menjadi

BAB III PETUNJUK PEMAKAIAN PROGRAM

STUDI ANALISIS PEMODELAN BENDA UJI BALOK BETON UNTUK MENENTUKAN KUAT LENTUR DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE KOMPUTER

BAB III METODOLOGI. Mulai. Pengumpulan Data. Preliminary Desain Struktur Model-1. Input Beban Yang Bekerja Pada Struktur

Kata Kunci : Analisa lendutan balok, metode elemen hingga. PENDAHULUAN

LANGKAH PEMODELAN ANALISA KAPASITAS LATERAL KELOMPOK TIANG PADA PROGRAM PLAXIS 3D FOUNDSTION

STUDI GESER PADA BALOK BETON BERTULANG

LAMPIRAN I DIAGRAM ALIR PENELITIAN TUGAS AKHIR

PELATIHAN GEOGEBRA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Analisis Struktur II

I.1 Latar Belakang I-1

LAMPIRAN 1 LANGKAH PEMODELAN ANALISA STABILITAS TIMBUNAN PADA PROGRAM PLAXIS 8.6

PENGEMBANGAN WEBSITE UNTUK PEMBELAJARAN ANALISIS STRUKTUR RANGKA DENGAN METODE KEKAKUAN LANGSUNG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI ANALISIS PEMODELAN TULANGAN BAJA VANADIUM DAN TEMPCORE DENGAN SOFTWARE KOMPUTER

PENGARUH KEKAKUAN LENTUR PADA DEFLEKSI TIANG PONDASI YANG DIBEBANI LATERAL ABSTRAK

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Tumpuan Rol

PROGRAM ANALISIS GRID PELAT LANTAI MENGGUNAKAN ELEMEN HINGGA DENGAN MATLAB VERSUS SAP2000

Studi Defleksi Balok Beton Bertulang Pada Sistem Rangka Dengan Bantuan Perangkat Lunak Berbasis Metode Elemen Hingga

METODE SLOPE DEFLECTION

sendi Gambar 5.1. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik

PETUNJUK PRAKTIKUM GEOGEBRA

PENGENALAN MACROMEDIA FLASH 8

ANALISIS STRUKTUR BALOK NON PRISMATIS MENGGUNAKAN METODE PERSAMAAN SLOPE DEFLECTION

STUDI PERBANDINGAN DISTRIBUSI GAYA GESER PADA STRUKTUR DINDING GESER AKIBAT GAYA GEMPA DENGAN BERBAGAI METODE ANALISIS ABSTRAK

Gambar 4.1 Bentuk portal 5 tingkat

Verifikasi Hasil Penulangan Lentur Balok Beton SAP2000

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada tahap awal perencanaan suatu struktur biasanya dimulai dengan

Trik Seleksi SAP2000

APLIKASI TEKLA STRUCTURES DAN SAP 2000 PADA PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BAJA TUGAS AKHIR A. A. NGURAH GITA MANTRA

Anton Susanto NRP : Pembimbing : Ir. Djoni Simanta, MT FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG ABSTRAK

STUDI ANALISIS PEMODELAN BENDA UJI KUBUS DAN SILINDER UNTUK MENETUKAN KUAT TEKAN BETON DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE KOMPUTER

BAB I PENDAHULUAN. analisa elastis dan plastis. Pada analisa elastis, diasumsikan bahwa ketika struktur

BAB II METODE DISTRIBUSI MOMEN

TUGAS AKHIR DESAIN ALTERNATIF PENGGUNAAN HONEYCOMB DAN SISTEM RANGKA BATANG PADA STRUKTUR BAJA BENTANG PANJANG PROYEK WAREHOUSE

tutorial APRIL 1999 SANS FOR WINDOWS TUTORIAL Retno santoro I. Method : Static Equivalent Load A. Menjalankan SANS for Windows

Analisis Struktur Statis Tak Tentu dengan Force Method

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian rangka

PRINSIP DASAR MEKANIKA STRUKTUR

LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

Perancangan Balok Beton Bertulang dengan SAP2000 1

BAB V ANALISIS STRUKTUR GEDUNG. Analisa struktur bertujuan untuk menghitung gaya-gaya dalam, reaksi perletakan

Analisis Struktur Statis Tak Tentu dengan Metode Slope-Deflection

Bab V Implementasi Dan Pembahasan Metode Elemen Hingga Pada Struktur Shell

Transkripsi:

TRANSFORMASI SUMBU KOORDINAT Tujuan Pembelajaran Umum Mahasiswa mampu menyelesaikan analisa struktur dengan cara Analisa Struktur Metode Matriks (ASMM) 3.5 Pendahuluan Transformasi Sumbu Koordinat Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa mampu menyelesaikan struktur statis tak tentu elemen balok dan portal Dimensi dengan transformasi sumbu koordinat U, P u, p u, p u 3, p 3 U, P U 3, P 3 θ 3 3 u u u 3 = Koordinat Lokal dan Global C C -C C U U U 3 C = cos θ C = sin θ

Atau dapat ditulis : u = λ U Dimana : λ = C S -S C C = cos θ S = sin θ Untuk transformasi sumbu sebuah titik dengan 6 dof dapat ditulis : u u u 3 u 4 u 5 u 6 = λ λ U U U 3 U 4 U 5 U 6 [ u ] = [ R ] [ U ] R = matriks rotasi Transformasi sumbu juga berlaku untuk gaya : p = λ P P = λ - p λ - = λ T P = λ T p P P P 3 P 4 P 5 P 6 = λ Τ λ Τ p p p 3 p 4 p 5 p 6 [ P ] = [ R ] T [ p ] R = matriks rotasi p = k u ; u = R U P = R T p P = K U = R T k u K = R T k R = R T k R U K

Matriks kekakuan elemen untuk 6 dof : EA L EA - L k = 6 x 6 EA L EI 3 L 6 EI L 6 EI L 4 EI L EI - 3 L 6 EI - L EI 6 EI - 3 L L 6 EI L EI L EA - L EI 3 L 6 EI - L 6 EI L EI L 6 EI - L 4 EI L β -β 6L - 6L 6L 4L -6L L k = α -β β - -6L -6L 6L L -6L 4L Dimana : α = EI 3 L β = A L I [ K ] = [ R ] T [ k ] [ R ]

C -S β -β K = S C C -S S C α 6L - 6L 6L 4L -6L L -β β - -6L -6L 6L L -6L 4L C S -S C C S -S C g g g 4 -g -g g 4 g 3 g 5 -g -g 3 g 5 K = g 6 -g 4 -g 5 g 7 g g -g 4 g 3 -g 5 g 6 Dimana : g = α ( β C + S ) g 5 = α 6 L C g = α C S ( β - ) g 6 = α 4 L g 3 = α ( β S + C ) g 7 = α L g 4 = -α 6 L S

Contoh 7 Sebuah portal seperti gambar, dengan menggunakan transformasi sumbu hitunglah gaya-gaya dalam yang bekerja. E = 3. ksi A = 5 in I = 5 in 4 L = ft L = ft q =,68 k/ft 3 L = ft M = 4 kft = 68 kin Sumbu Global 3 Sumbu Lokal DOF [ Ks ] 3 x 3 DOF [ k ] 3 x 3 5 3 3 6 5 3 4 3 6 4 Matriks transformasi batang : Batang : θ = 7 o cos 7 o = sin 7 o = - θ = 7 o C S x λ = -S C = - x

Batang : θ = o cos o = sin o = θ = o 3 x x λ = C S -S C = C S -S C R = = C S -S C - - C S -S C R = = C S -S C Matriks kekakuan system struktur Elemen : EI 3..5 α = 3 = 3 =,87 L (. ) β = A L I C = ; S = - 5.(.) = =.44 5

{ T } = { } T g g g 4 -g -g g 4 g 3 g 5 -g -g 3 g 5 K = g 6 -g 4 -g 5 g 7 g g -g 4 g 3 -g 5 -g 4 g 6 K = 3 g -g 4 -g 4 g 6 3 g = α ( β C + S ) =,87 [ + (-) ] =,44 g 4 = -α 6 L S = -,87. 6. (-) = 66,4 g 6 = α 4 L =,87. 4. = 5. Sehingga :,44-66,4 K = -66,4 5. Elemen : EI 3..5 α = 3 = 3 =,87 L (. ) β = A L I C = ; S = 5.(.) = =.44 5

{ T } = { 3 } T 3 g g g 4 -g -g g 4 g 3 g 5 -g -g 3 g 5 K = g 4 g 6 -g 4 -g 5 g 7 g g -g 4 g 3 -g 5 g 4 g 7 g 6 3 K = 3 g g 4 g 4 g 4 g 6 g 7 g 4 g 7 g 6 3 g = α ( β C + S ) =,87 [.44. + () ] =.5,8 g 4 = -α 6 L S = -,87. 6. () = g 6 = α 4 L =,87. 4. = 5. g 7 = α L =,87.. = 5.56 Sehingga :.5,8 K = 5. 5.56 5.56 5..63,4-66,4 K S = -66,4.4 5.56 5.56 5.

Matriks beban : 8,4 8,4 q =,4 k/in 68 kin 68 kin 68 kin P S = 68 { Ps } = [ Ks ] { Us } { Us } = [ Ks ] - { Ps }.63,4-66,4 - U S = -66,4.4 5.56 5.56 5. 68 U S =,95,9 -,96 Defleksi horizontal di Rotasi di Rotasi di 3 Displasement masing-masing batang (koordinat lokal) u - u u 3 u = = u 4 -,95 = u 5,95 u 6,9,9

u,95,95 u u 3 u = = u 4,9 =,9 u 5 u 6 -,96 -,96 Gaya akhir batang : Elemen : { P } = [ k ] { u } + { },93 k 47,5 kin P = = -,93 k 95,6 kin,93 k 3,959 kft -,93 k 7,968 kft Elemen : { P } = [ k ] { u } + { F aksi },9 k -7,8 k -95,84 kin P = = -,9 k -9 k 68 kin,9 k -7,8 k -7,99 kft -,9 k -9 k 4 kft

Free body diagram : 3,959,93 k 7,968 kft,93 k,9 k 7,99 kft q =,68 k/ft 4 kft,9 k 7,8 k 9 k Bidang M : 3,959 + 7,99 - - + + 7,99 4

Bidang D :,93 + 9 +,93-7,8 Bidang N :,9 -,9

Aplikasi dengan SAP V9..3 Untuk Contoh 6. Menentukan Sistem Grid Buka program SAP dengan mengklik Start >> All program >> Sap 9 >> Sap. Klik menu File >> New Model dan ganti satuan dalam bentuk Kip,ft,F dan pilih grid only untuk membuat model

Setelah memilih menu grid only, maka akan muncul tampilan untuk mengisikan jarak dan jumlah grid searah sumbu x, y dan z seperti pada gambar berikut. Isikan pada Number of Grid Lines, X direction =, Ydirection =, dan Z directon = Isikan pada Grid Spacing, X direction =, Y direction =, dan Z direction =. Kemudian klik OK.

. Mendefenisikan Property Material Ubah satuan menjadi Kip,in,F hal ini karena satuan dari E adalah Ksi Klik Define >> Material untuk mendefinisikan material yang akan digunakan. Pilih Other kemudian klik Modify/Show Material... Isikan Modulus of Elasticity = 3 ksi kemudian klik OK kali

3. Mendefenisikan Properti Penampang Batang Pastikan satuan di pojok kanan bawah adalah Kip,in,F Pilih menu Define >> Frame Section kemudian akan muncul tampilan dialog Frame Properties box sebagai berikut. Di bagian Choose Property Type to Add pilih Add Rectanguler kemudian klik Add New Property

Kemudian akan muncul tampilan dialog Rectanguler Section box sebagai berikut. Isikan data-data untuk penampang : Section Name = FRAME Material = Other Dimension : Depth (t3) = 6 in ; Width (t) = 4 in Kemudian klik Set Modifier maka akan keluar dialog box sepeti di bawah ini.

Ubah parameter Shear Area in direction dan Shear Area in 3 direction menjadi. Hal ini dilakukan karena kita hanya memperhitungkan pengaruh lentur dari penampang dan tidak memperhitungkan pengaruh geser dari penampang. Selain itu, nilai Moment of Inertia juga harus diubah. Hal ini karena nilai I di soal adalah 5 in 4 sedangkan I penampang SAP = 4 6 3 7 = in 4 (asumsi penampang yang digunakan adalah segiempat dengan b = 4 in dan h = 6 in), jadi nilai Moment 5 of Inertia about axis dan Moment of Inertia about 3 axis di ubah menjadi = 7,694444444. Klik OK kali sehingga muncul dialog Frame Properties box sebagai berikut. Pastikan batang yang kita beri nama FRAME sudah terbentuk. Kemudian klik OK.

4. Merubah definisi Tipe Beban Klik Menu Define >> Load Cases untuk membuka menu Define Load, kemudian akan muncul tampilan dialog Define Loads box seperti berikut. Karena berat sendiri diabaikan maka parameter Self Weight Multiplier diganti, kemudian klik Modify Load dan Klik OK. 5. Menggambar Balok Tutup jendela 3D dengan mengklik tanda X pada window 3D, kemudian pilih set XZ View pada toolbar. Sehingga muncul window seperti di bawah ini :

Klik tombol atau klik Draw >> Draw Frame/Cable/Tendon untuk menggambar frame Lalu muncul dialog Properties of Object dan pada section pilih FRAME Klik pada nodal dan tarik garis FRAME yang akan dibuat seperti pada gambar di bawah.

Ingat: pada proses penggambaran frame, frame yang telah di beri nomor pada soal harus digambar terlebih dahulu kemudian di gambar frame nomor dan seterusnya. Arah penggambaran frame sesuai dengan titik nodal di soal. Jadi, frame nomor diatas di gambar dari koordinat sumbu Z+ ke koordinat, (berlawanan dengan sumbu Z+) untuk frame nomor di gambar dari sumbu X = ke sumbu X+. Arah penggambaran Frame

Untuk melihat section frame klik menu View >> Set Display Option maka akan keluar dialog Display Option For Active Window seperti dibawah ini. Beri tanda Check pada Section pada Frame/Cables/Tendons. Kemudian klik OK. Sehingga section frame terlihat seperti pada gambar berikut.

Untuk memberi nomor joint dan frame klik menu View >> Set Display Option maka akan keluar dialog Display Option For Active Window seperti dibawah ini. Beri tanda Check pada Label pada Joint dan Frame. Sehingga frame dan joint telah diberi nomor seperti pada gambar berikut.

6. Memberi perletakan Select joint dengan cara mengklik joint Klik Assign >> Joint >> Restraints, kemudian akan muncul dialog box sebagai berikut : Klik gambar jepit untuk mendefinisikan perletakan sebagai jepit. Kemudian, klik OK. Select joint Klik Assign >> Joint >> Restraints, kemudian akan muncul dialog box sebagai berikut : Klik gambar rol untuk mendefinisikan perletakan sebagai rol. Kemudian, klik OK. Select joint 3 Klik Assign >> Joint >> Restraints, kemudian akan muncul dialog box sebagai berikut :

Klik gambar sendi untuk mendefinisikan perletakan sebagai sendi. Kemudian, klik OK. Hasilnya adalah sebagai berikut : Select joint Klik Assign >> Joint >> Local Axes, kemudian akan muncul dialog box seperti di bawah ini. Ubah parameter Rotation about Y menjadi8.

Sehingga Local Axes untuk join 3 berubah seperti gambar berikut.

7. Memberikan Beban Ganti satuan menjadi Kip,ft,F Select frame dengan cara mengklik frame Klik Assign >> Frame /Cable/Tendon Loads >> Distributed Kemudian akan muncul dialog Frame Distributed Loads seperti gambar di bawah ini. Pastikan satuan pada units adalah Kip,ft,F. Load Case Name sebagai Dead, Isikan Uniform Load dengan,68 pastikan directionnya adalah gravity kemudian klik OK. Sehingga muncul pada gambar seperti dibawah ini. Select joint 3 dengan cara mengklik joint 3 Klik Assign >> Joint Loads >> Forces Kemudian akan muncul dialog Joint Forces seperti gambar di bawah ini. Pastikan satuan pada units adalah Kip,ft,F. Load Case Name sebagai Dead, Isikan Moment about Global Y = 4 kemudian klik OK.

Catatan : Pemberian beban momen sesuai dengan sumbu putarnya. Jika moment resebut berputar pada sumbu X maka diberikan beban moment pada Moment about Global X (Mx), jika momen berputar pada sumbu Y maka di berikan momen pada Moment about Global Y (My) demikian juga untuk beban momen yang berputar pada sumbu Z. Pada soal diatas moment berputar pada sumbu Y maka diberikan moment pada Moment about Global Y. Bila searah berputarnya jarum jam maka nilai moment negatif (-) namun bila berlawanan dengan perputaran jarum jam maka nilai moment positif (+). Z Y Mz My Mx X

Untuk meyakinkan apakah beban momen sudah masuk maka klik kanan joint 3, akan muncul dialog Point information box, pilih Loads. Kemudian klik OK

8. Analisis Model Klik menu Analyze >> set analysis option, maka akan muncul dialog Analysis Option seperti pada gambar di bawah ini. Klik pada Plane Frame XZ Plane kemudian klik OK. Klik menu Analyze >> Set Analysis Cases to Run, maka akan muncul dialog Set Analysis Cases to Run seperti pada gambar di bawah ini. Klik pada Modal kemudian klik Run/Do Not Run Case. Kemudian klik Run Now Untuk pekerjaan SAP yang belum disimpan sebelumnya, akan muncul tampilan untuk menyimpan pekerjaan. Simpan pekerjaan SAP yang telah dikerjakan dengan memberi nama pada File Name, kemudian tekan Save.

Kemudian akan muncul hasil Run sebagai berikut : Pastikan tidak ada pesan Warning/Error pada proses analysis. Klik kanan pada joint untuk melihat nilai dari rotasi dan defleksi di titik yang di cari misalnya joint 3 maka klik kanan joint 3.

Untuk melihat output joint displacement secara keseluruhan bisa dilakukan dengan cara klik menu Display >> Show table maka akan keluar dialog Choose Tables for Display klik Joint output >> Displacements kemudian klik Select Analysis Cases pilih Dead kemudian klik OK kali.

Sedangkan hasil dari perhitungan dengan menggunakan ASMM didapatkan hasil seperti di bawah ini. U S =,95,9 -,96 Defleksi horizontal di Rotasi di Rotasi di 3 Perbandingan nilai rotasi metode ASMM dan SAP V9..3 Joint Metode ASMM Hasil SAP Error (%),9,9,5 3,96,96,4 Perbandingan nilai translasi metode ASMM dan SAP V9..3 Joint Metode ASMM Hasil SAP Error (%),95,7 3

9. Menampilkan nilai bidang M (Momen) Klik menu Display >> Show forces/stresses >> Frames/Cables maka akan muncul dialog Member Forces Diagram for Frames seperti gambar berikut. Pastikan Case/Combo Name sebagai Dead kemudian klik pada Moment 3-3, pilih Show values on Diagram, setelah itu klik OK

. Menampilkan nilai bidang D (Gaya Lintang) Klik menu Display >> Show forces/stresses >> Frames/Cables maka akan muncul dialog Member Forces Diagram for Frames seperti gambar berikut. Pastikan Case/Combo Name sebagai Dead kemudian klik pada Shear -, pilih Show values on Diagram, setelah itu klik OK.

. Menampilkan nilai bidang N (Gaya Normal) Klik menu Display >> Show forces/stresses >> Frames/Cables maka akan muncul dialog Member Forces Diagram for Frames seperti gambar berikut. Pastikan Case/Combo Name sebagai Dead kemudian klik pada Axial Force, pilih Show values on Diagram, setelah itu klik OK.

Untuk melihat output gaya dalam Momen, Gaya Lintang dan Gaya Normal secara keseluruhan bisa dilakukan dengan cara klik menu Display >> Show table maka akan keluar dialog Choose Tables for Display klik Element Output >> Frame Output kemudian klik Select Analysis Cases pilih Dead kemudian klik OK Kemudian klik OK maka akan keluar dialog Element Forces-Frames

Pada dialog Element Forces - Frames klik file >> Export current table >> to Excel Maka akan dihasilkan table Output Frame dalam format Excel seperti gambar berikut.

Perbandingan nilai Momen metode ASMM dan SAP V9..3 Joint Metode ASMM Hasil SAP Error (%) (Kip-ft) (Kip-ft) 3,989 3,996,9-7,99-7,9955,69 3-4 -4 Perbandingan nilai Gaya Lintang metode ASMM dan SAP V9..3 Posisi Metode ASMM Hasil SAP Error (%) (Kip) (Kip) kr kn,93,99,53 kr,93,99,53 kn 7,8 7,8 3kr 9 9 3kn Perbandingan nilai Gaya Normal metode ASMM dan SAP V9..3 Frame Metode ASMM Hasil SAP Error (%) (Kip) (Kip),9,99,4737