PRAKTEK KOMUNIKASI DATA SEMESTER V TH 2008 / 2009 PENGKODEAN KARAKTER Disusun Oleh : FADLAN FAOZI (3306130171) NURINA PUTRI (3306130353) RETI ARI MURNI (3306130613) TANAGO (3306130505) PROGRAM STUDI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI JAKARTA DEPOK 2008 1
PRAKTIKUM 2 PENGKODEAN KARAKTER I. TUJUAN 1. Mengamati pengkodean karakter pada keyboard (terminal) PC pada kondisi Make dan Break. 2. Mengukur level logika sinyal pengkodean. 3. Mengukur bit time dan laju data pengiriman untuk setiap pengugesetan Baud Rate. II. DASAR TEORI Pada komunikasi data, khususnya text, elemen utama informasinya adalah karakter. Karakter terdiri dari karakter yang dapat dicetak dan tidak. Agar dapat berkomunikasi, manusia memerlukan interface dengan PC, yakni keyboard. Pada keyboard tersedia semua karakter yang diperlukan untuk berkomunikasi. Pada saat keyboard ditekan (kondisi Make), maka keyboard akan mengeluarkan kode key tersebut, serta clock untuk mentriger transmisi. Kode tersebut akan keluar secara serial. Untuk mengkodekan karakter, terdapat beberapa standar, seperti : ASCII, EBCDIC, dll. Clock ini akan menentukan laju sinyalnya. Pada PC untuk melakukan format transmisi Data III. INSTRUMENT DAN KOMPONEN No Alat alat dan komponen Jumlah 1 Osiloskop 1 buah 2 Keyboard 1 buah 3 Terminal pengukuran 2 buah 4 Kabel BNC to Banana 2 buah 2
IV. GAMBAR RANGKAIAN V. LANGKAH PERCOBAAN 1. Susun rangkaian pengukuran seperti gambar rangkaian. 2. Tekan karakter yang dapat dicetak dan lengkapi tabel. 3. Ukur bit time, bit rate dan level DC untuk masing masing karakter yang telah diamati. 3
VI. HASIL PERCOBAAN Tabel 1. Hasil Bentuk Clock Dan Sinyal Karakter Pada Keyboard Karakter Bentuk clock dan sinyal Hexa desimal B Make 32 B Break F0 D Make 23 D Break F0 4
E Make 24 E Break F0 F Make 2B F Break F0 5
Tabel 2. Hasil Bit Time, Bit Rate dan Level DC Karakter Level Logika sinyal Bit Time Bit Rate Logic 0 Logic 1 B 0 6,4 800 S 1250 bps C 0 6,4 800 S 1250 bps D 0 6,6 800 S 1250 bps E 0 6,4 800 S 1250 bps G 0 6,4 800 S 1250 bps H 0 6,4 800 S 1250 bps 6
VII. ANALISA DATA Character encoding merupakan salah satu cara atau metode yang digunakan untuk mengkodekan karakter atau text menjadi urutan bilangan biner yang selanjutnya dapat dimengerti oleh mesin guna terealisasinya komunikasi antara manusia dengan mesin. Standar yang telah direkomendasikan ada beberapa macam antara lain ASCII, EBCDIC, dll. Pada kehidupan sehari-hari kita sering melakukan komunikasi dengan mesin, ambil contoh dengan komputer. Saat kita sedang berinteraksi dengan komputer dalam hal ini mengetik, sadar tidak sadar sebenarnya kita sedang melakukan proses komunikasi data dengan mesin (komputer). Saat komunikasi dengan mesin tentunya kita memerlukan suatu alat hubung antara manusia dengan komputer sehingga proses komunikasi bisa lancar, yang berarti adanya keselarasan antara bahasa manusia dengan bahasa mesin. Bagaimanakah dua bahasa yang berbeda ini bisa sinergis? Disinilah gunanya alat hubung (interface) tadi. Keyboard sebagai interface antara manusia dengan komputer harus mampu menterjemahkan bahasa manusia menjadi bahasa yang dapat dimengerti oleh komputer. Karena bahasa yang dimengerti oleh komputer adalah bahasa mesin maka fungsi keyboard adalah mengubah semua karakter yang ada pada tombol keyboard menjadi rangkaian kode binary digit (bit). Rangkaian kode bit inilah yang akan dimengerti oleh komputer dan selanjutnya diproses untuk ditampilkan pada layar monitor sesuai dengan karakter yang kita ketikkan. Yang terjadi pada kode karakter ketika switch Keyboard ditekan dan dilepas yaitu : Pada saat keyboard ditekan (kondisi Make), maka keyboard akan mengeluarkan kode key tersebut, serta clock untuk mentriger transmisi dan kode tersebut akan keluar secara serial. Berikut ini adalah tabel ketika switch keyboard ditekan (make) dan dilepas (break) : KEY MAKE BREAK KEY MAKE BREAK KEY MAKE BREAK A 1C F0,1C 9 46 F0,46 [ 54 FO,54 B 32 F0,32 ` 0E F0,0E INSERT E0,70 E0,F0,70 C 21 F0,21-4E F0,4E HOME E0,6C E0,F0,6C D 23 F0,23 = 55 FO,55 PG UP E0,7D E0,F0,7D E 24 F0,24 \ 5D F0,5D DELETE E0,71 E0,F0,71 F 2B F0,2B BKSP 66 F0,66 END E0,69 E0,F0,69 7
G 34 F0,34 SPACE 29 F0,29 PG DN E0,7A E0,F0,7A H 33 F0,33 TAB 0D F0,0D U ARROW E0,75 E0,F0,75 I 43 F0,43 CAPS 58 F0,58 L ARROW E0,6B E0,F0,6B J 3B F0,3B L SHFT 12 FO,12 D ARROW E0,72 E0,F0,72 K 42 F0,42 L CTRL 14 FO,14 R ARROW E0,74 E0,F0,74 L 4B F0,4B L GUI E0,1F E0,F0,1F NUM 77 F0,77 M 3A F0,3A L ALT 11 F0,11 KP / E0,4A E0,F0,4A N 31 F0,31 R SHFT 59 F0,59 KP * 7C F0,7C O 44 F0,44 R CTRL E0,14 E0,F0,14 KP - 7B F0,7B P 4D F0,4D R GUI E0,27 E0,F0,27 KP + 79 F0,79 Q 15 F0,15 R ALT E0,11 E0,F0,11 KP EN E0,5A E0,F0,5A R 2D F0,2D APPS E0,2F E0,F0,2F KP. 71 F0,71 S 1B F0,1B ENTER 5A F0,5A KP 0 70 F0,70 T 2C F0,2C ESC 76 F0,76 KP 1 69 F0,69 U 3C F0,3C F1 05 F0,05 KP 2 72 F0,72 V 2A F0,2A F2 06 F0,06 KP 3 7A F0,7A W 1D F0,1D F3 04 F0,04 KP 4 6B F0,6B X 22 F0,22 F4 0C F0,0C KP 5 73 F0,73 Y 35 F0,35 F5 03 F0,03 KP 6 74 F0,74 Z 1A F0,1A F6 0B F0,0B KP 7 6C F0,6C 0 45 F0,45 F7 83 F0,83 KP 8 75 F0,75 1 16 F0,16 F8 0A F0,0A KP 9 7D F0,7D 2 1E F0,1E F9 01 F0,01 ] 5B F0,5B 3 26 F0,26 F10 09 F0,09 ; 4C F0,4C 4 25 F0,25 F11 78 F0,78 ' 52 F0,52 5 2E F0,2E F12 07 F0,07, 41 F0,41 6 36 F0,36 PRNT E0,12, E0,F0,. 49 F0,49 SCRN E0,7C 7C,E0, 7 3D F0,3D SCROLL 7E F0,7E / 4A F0,4A 8 3E F0,3E PAUSE E1,14,77, E1,F0,14, F0,77 -NONE- Pola pengkodean Karakter, Karakter pada keyboard terdiri dari huruf, angka, spasi, tanda baca, simbol pada keyboard, dan simbol lainnya. Setiap karakter dalam informasi tersebut dijadikan kode tersendiri (kode ASCII) agar dapat dikirimkan dalam saluran komunikasi data. Lalu di ubah menjaji kode biner dan di tampilkan dalam sinyal digital. 8
Tujuan dari pengkodean tersebut adalah menjadikan tiap karakter dalam sebuah informasi menjadi digital yaitu ke bentuk biner. Beberapa kode yang telah dipakai dan sangat populer adalah Baudot, EBCDIC, dan ASCII. Kode EBCDIC terdiri atas kode alphanumerik 8-bit yang dipergunakan pada sistem komunikasi komputer oleh IBM. Start bit bernilai logik 0 diikuti oleh kode karakter sebanyak 8 bit yang kemudian diikuti oleh parity bit. Parity bit bersifat parity ganjil maka nilainya akan membuat parity bit ditambah sinyal kode karakter memiliki jumlah bit bernilai logik 1 yang ganjil, misalnya data memiliki bit 1 genap maka parity akan diset 1 sedangkan bila data memiliki bit 1 ganjil maka parity diset 0. Setelah bit parity ini diikuti oleh stop bit yan bernilai tinggi. Pada keaadaan idle jalur data memiliki level tinggi. Nilai bit bit ini didapat dengan melihat nilainya saat berada pada level rendah dari clock. Pada bentuk sinyal dari karakter A Arah sinyal bermula dari kiri hingga ke kanan dari osiloskop dan bit dibaca saat keadaan rendah dari clock, maka sinyal karakter A memiliki : stop bit bernilai logik 1 parity bit bernilai logik 0 kode karakter = 0001 110 = 1C Bila diamati, sinyal karakter A hanya memuat 10 bit data. 1 bit data yang hilang merupakan start bit yang kemungkinan besar bernilai logik 0. Hal ini terjadi karena keterbatasan osiloskop untuk menangkap sinyal awal dari keyboard tersebut. Berdasarkan teori diketahui bahwa parity bit pada sinyal keyboard bersifat parity ganjil, sehingga dengan melihat jumlah logik 1 pada kode karakter A maka ada 3 9
parity bit yang bernilai 0. Dengan menganggap start bit bernilai logik 0 maka pada percobaan telah didapatkan hasil yang benar. Bagaimana dengan laju data pada keyboard? Laju data pada keyboard menuju komputer oleh berbagai kalangan memiliki nilai yang bervariasi yaitu antara 10-30 kbps, ada yang mengatakan 10-16,7 kbps namun ada pula yang mengatakan 20-30 kbps. Besarnya kecepatan data tergantung dari produsen pembuat keyboard tersebut. Nilai Laju Data didapatkan dari periode 1 bit data yang kemudian dihitung dengan rumus : Periode(T) = 800 s x 1 = 800 s (Bit Time) Frekuensi = 1/ T = 1/ 800 s = 1250 bps (Bit Rate) Bila dianalisa besarnya laju bit ini tidak sebesar laju data pada komponen komponen lain pada komputer seperti hardisk, USB, dll. Hal ini disebabkan karena frekuensi seseorang untuk menekan tombol tombol keyboard sangatlah rendah sehingga tidak diperlukan laju data yang tinggi. 10
VIII. KESIMPULAN 1. Tujuan dari pengkodean tersebut adalah menjadikan tiap karakter dalam sebuah informasi menjadi digital yaitu ke bentuk biner. 2. Start bit bernilai logik rendah sedangkan stop bit bernilai logik tinggi. 3. Kode karakter pada keyboard telah distandarisasi secara internasional dengan nilai yang telah disepakati bersama. 4. Besarnya kode karakter adalah 8 bit dimana LSB dikirim terlebih dahulu. 5. Parity yang digunakan pada data keyboard berupa parity ganjil. 6. Pada keadaan idle, jalur data berada pada level tinggi. 7. Laju transmisi berada pada kisaran 10 30 kbps tergantung dari produsen keyboard. 8. Transmisi bit-oriented adalah skema yang lebih universal karena dapat digunakan untuk transmisi semua frame yang terdiri dari data biner (tidak hanya karakter ASCII/IRA). Setelah mendeteksi start bit, receiver melakukan sinkronisasi karakter dengan cara menghitung jumlah bit tertentu (misal 8 bit). Receiver mentransfer karakter (byte) yang diterimanya ke dalam buffer register. 11
REFRENSI Pasa komunikasi data, khususnya text, elemen utama informasinya adalah karakter. Karakter terdiri dari karakter yang dapat dicetak dan tidak. Agar dapat berkomunikasi, manusia memerlukan interface dengan PC, yakni keyboard. Pada keyboard tersedia semua karakter yang diperlukan untuk berkomunikasi. Pada saat keyboard ditekan, maka keyboard akan mengeluarkan kode key tersebut, serta clock untuk mentriger transmisi. Kode tersebut akan keluar secara serial. Untuk mengkodekan karakter, terdapat beberapa standar, seperti: ASCII, EBCDIC,dll. Clock in akan menentukan laju sinyalnya. Elemen sinyal merupakan sesuatu yang dikirimkan melewati saluran transmisi dan dipergunakan yang mewakili karakter-karakter yang dikirim. Dot dan dash (marks dan spaces) dalam kode morse merupakan elemen sinyal, sebagaimana satu dan nol pada deretan berikut ini: 01000001010000001011 0111011011 0110001011. Hal ini merupakan cara karakter A7# yang mungkin kelihatan sebagai kode biner saat dikirimkan antaar PC ke PC yang lain atau ke printer, pada pembahasan berikutnya akan dibicarakan mengenai hal tersebut sebagai kode ASCII, dengan even parity, satu start-bit dan satu stop-bit. Tujuan dari pengkodean tersebut adalah menjadikan tiap karakter dalam sebuah informasi menjadi digital yaitu berbentuk biner. Setiap karakter dalam informasi tersebut dijadikan kode tersendiri agar dapat dikirikan dalam saluran komunikasi data. Kode BOUDOT Kode ini terdiri atas kode 5-bit yang dipergunakan pada terminal teletype dan teleprinter, karena terdiri atas 5-bit maka hanya terdiri atas 25 atau 32 kombinasi yang merupakan kode huruf atau gambar yang berbeda. Masing-masing kode biner harus diterjemahkan ke dalam dua karakter yang berbeda yaitu sebagai karakter Letter atau Figure, dengan cara menambahkan karakter perantara yang dipilih yaitu FIGH atau LTRS. Jika kode Boudot dikirim menggunakan transmisi serial asynchronous, maka untuk pulsa stop-bit umumnya lebarnya 1,5 bit tidak seperti dalam kode ASCII yang menggunakan 1 atau 2 bit. 12
Tabel 1, kode boudot. Kode Karakter Letter Karakter Figure 11000 A - 10011 B? 01110 C : 10010 D $ 10000 E 3 10110 F! 01011 G & 00101 H # 01100 I 8 11010 J 11110 K ( 01001 L ) 00111 M. 00110 N, 00011 O 9 01101 P 0 11101 Q 1 01010 R 4 10100 S BELL 00001 T 5 11100 U 7 01111 V ; 11001 W 2 10111 X / 10101 Y 6 10001 Z 11111 LTRS LTRS 11011 FIGS FIGS 00100 SPC SPC 00010 CR CR 01000 LF LF 00000 NULL NULL 13
Kode EBCDIC (Extended Binary Coded Decimal Interchange Code) Kode ini terdiri atas kode alphanumeric 8-bit yang dipergunakan pada system komunikasi computer oleh IBM. Kode EBCDIC terdiri atas kode karakter dan kode pengontrol. Setiap karakter memerlukan lebar 8-bit, sedangkan bit ke sembilan dipakai sebagai parity. Tabel 2, Kode EBCDIC Hex 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A B C D E F 0 NUL DLE DS SP & 0 1 SOH DC1 DOS a j A J 1 2 STX DC2 FS SYN b k s B K S 2 3 ETX DC3 c l t C L T 3 4 PF RES BYP PN d m u D M U 4 5 HT NL LF RS e n v E N V 5 6 LC BS ETB UC f o w F O W 6 7 DEL IL ESC EOT g p x G P X 7 8 CAN h q y H Q Y 8 9 RLF EM i r z I R Z 9 A SMM CC SM! : B VT DC4. $ # C FF IFS NAK < % @ D CR IGS ENQ - E SO IRS ACK SUB - > F SI IUS BEL!? Keterangan kode EBCDIC: PF = Punch off CC = Cursor control LC = Lowercase IFS = Interchange file separator UC = Uppercase IGC = Interchange group separator RLF = Reverse line feed IRS = Interchange record separotor SMM = Start of manual message IUS = Interchange unit separator RES = Restore DS = Digit select NL = New line SOS = Start of significance IL = Idle BYP = Bypass SM = Set mode PN = Punch on RS = Reader stop 14
Kode ASCII (American Standard Comitee for Information Interchange) Kode ini merupakan kode alphanumreik yang paling popular yang dipaklai dalam teknik telekomunikasi. Masing-masing kode ASCII berisi 7-bit. Tabel 3, Kode ASCII Hex 0 1 2 3 4 5 6 7 0 NUL DLE SP 0 @ P p 1 SOH DC1! 1 A Q a q 2 STX DC2-2 B R b r 3 ETX DC3 # 3 C S c s 4 EOT DC4 $ 4 D T d t 5 ENQ NAK % 5 E U e u 6 ACK SYN & 6 F V f v 7 BEL ETB 7 G W g w 8 BS CAN ( 8 H X h x 9 HT EM ) 9 I Y i y A LF SUB : J Z j Z B VT ESC + ; K [ k { C FF FC ; < L \ l D CR GS - = M ] m } E SO RS. > N ^ n ~ F SI US /? O _ o DEL Keterangan kode ASCII NUL = Null DLE = Data link escape SOH = Start of heading DCI = Device control 1 STX = Start of text DC2 = Device control 2 ETX = End of text DC3 = Device control 3 EOT = End of transmission DC4 = Device control 4 ENQ = Enquiry NAK = Negative acknowledge ACK = Acknowledge SYN = Synchronous idle BEL = Audible signal (bell) ETB = End of transmission block BS = Backspace CAN = Cancel HT = Horizontal tab EM = End of medium LF = Line feed SUB = Substitute VT = Vertical tab ESC = Escape FF = Form feed FS = File separator 15
CR = Carriage return GS = Group separator SO = Shift out RS = Record separator SI = Shift in US = Unit separator DEL = Delete SP = Space Karakter dalam kode ASCII dibagi dalalm beberapa group yaitu: controlcharacter, angka, huruf besar, huruf kecil, dan tanda baca (pada table tidak begitu jelas). Control-character ini sering disebut sebagai non-printable-character, yaitu karakter yang dikirim sebagai tahap awal (pengenalan) dalam berbagai kegunaan komunikasi data, misalnya sebelum informasi dikirim dari PC ke printer. Pada kode ASCII bila menggunakan deretan 7 bit maka bit ke delapan dapat ditambahkan untuk posisi pengecekan bit secara even parity atau odd-parity bila menggunakan kode ASCII pada telekomunikasi. 16