BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1Ayam Pedaging

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Total Protein Darah Ayam Sentul

ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam memproduksi daging. Mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan

I. PENDAHULUAN. atau ayam yang kemampuan produksi telurnya tinggi. Karakteristik ayam petelur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tubuh, membawa nutrisi, membersihkan metabolisme dan membawa zat antibodi

BAB I PENDAHULUAN. Obat adalah zat yang digunakan untuk terapi, mengurangi rasa nyeri, serta

SISTEM PEREDARAN DARAH

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya terus

Sistem Transportasi Manusia L/O/G/O

II. TINJAUAN PUSTAKA. Darah merupakan media transportasi yang membawa nutrisi dari saluran

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN. Tingkat keperluan terhadap hasil produksi dan permintaan masyarakat berupa daging

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semua bagian dari tubuh rusa dapat dimanfaatkan, antara lain daging, ranggah dan

TINJAUAN PUSTAKA. genetis ayam, makanan ternak, ketepatan manajemen pemeliharaan, dan

I. PENDAHULUAN. Usaha peternakan broiler merupakan suatu alternatif dalam menjawab tantangan

Ilmu Pengetahuan Alam

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kompetensi SISTEM SIRKULASI. Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya

Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler merupakan ayam ras tipe pedaging yang umumnya dipanen

HASIL DAN PEMBAHASAN. diberi Fructooligosaccharide (FOS) pada level berbeda dapat dilihat pada Tabel 5.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI PERHITUNGAN JUMLAH ERITROSIT DARAH

PENDAHULUAN. puyuh (Cortunix cortunix japonica). Produk yang berasal dari puyuh bermanfaat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing merupakan ternak yang termasuk kelas : Mammalia ordo : Artiodactyla, sub-ordo ruminansia, dan familia : Bovidiae.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah

PENDAHULUAN. adalah Timbal (Pb). Timbal merupakan logam berat yang banyak digunakan

STORYBOARD SISTEM PEREDARAN DARAH

HASIL DAN PEMBAHASAN. ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perkembangan broiler dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu broiler modern

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut W.J.S Poerwodarminto, pemahaman berasal dari kata "Paham

TINJAUAN PUSTAKA. Masyarakat saat ini mengenal tiga tipe ayam yaitu ayam tipe ringan, tipe medium

BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang. Peningkatan cekaman panas yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KAJIAN KEPUSTAKAAN. beriklim kering. Umumnya tumbuh liar di tempat terbuka pada tanah berpasir yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kedu merupakan jenis ayam kampung yang banyak dikembangkan di

Para-aminofenol Asetanilida Parasetamol Gambar 1.1 Para-aminofenol, Asetanilida dan Parasetamol (ChemDraw Ultra, 2006).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Isa Brown, Hysex Brown dan Hyline Lohmann (Rahayu dkk., 2011). Ayam

PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ayam tipe petelur yang jantan dikenal dengan sebutan ayam jantan tipe medium,

I PENDAHULUAN. peternakan. Penggunaan limbah sisa pengolahan ini dilakukan untuk menghindari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oksigen, antibodi, panas, elektrolit dan vitamin ke jaringan seluruh tubuh. Darah

I. PENDAHULUAN. Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan

BAB I PENDAHULUAN. vitamin dan mineral, sayuran juga menambah ragam, rasa, warna dan tekstur

BAB I PENDAHULUAN. Parasetamol atau asetaminofen atau N-asetil-p-aminofenol merupakan

Laporan Praktikum V Darah dan Peredaran

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan

BAB I PENDAHULUAN. nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering. memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Tingkat Energi Protein Ransum terhadap Total Protein Darah Ayam Lokal Jimmy Farm

Apa itu Darah? Plasma Vs. serum

UPT Balai Informasi Teknologi LIPI Pangan & Kesehatan Copyright 2009

PENDAHULUAN. jualnya stabil dan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan ayam broiler, tidak

I. PENDAHULUAN. Peternakan broiler merupakan salah satu sektor usaha peternakan yang

KAJIAN KEPUSTAKAAN. besar pasang gen yang masing-masing dapat berperan secara aditif, dominan dan

BAB I PENDAHULUAN. Semakin tingginya tingkat pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya terus

I. TINJAUAN PUSTAKA. plasma dan sel darah (eritrosit, leukosit, dan trombosit), yang masing -masing

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I. April 2008 DARAH DAN SIRKULASI

SISTEM EKSKRESI. - Sistem ekskresi pada uniseluler dan multiseluler. - Pembuangan limbah nitrogen dan CO 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berasal dari lemak tumbuhan maupun dari lemak hewan. Minyak goreng tersusun

I. PENDAHULUAN. pesat. Perkembangan tersebut diiringi pula dengan semakin meningkatnya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. adanya perubahan kondisi kesehatan ikan baik akibat faktor infeksi

Mengenal Penyakit Kelainan Darah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam kedu termasuk ragam ayam kampung dari spesies Gallus gallus yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah adalah suspensi dari partikel dalam larutan koloid cair yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oksigen. Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagian cair yaitu berupa plasma

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan waktu, pertambahan jumlah penduduk,

MAKALAH GIZI ZAT BESI

menghilangkan kesadaran. Berdasarkan kerja farmakologinya, analgesik dibagi dalam dua kelompok besar yaitu analgesik narkotik dan analgesik non

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes,familyPhasianidae dan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pakan. Biaya untuk memenuhi pakan mencapai 60-70% dari total biaya produksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah adalah bagian dari tubuh yang berbentuk cair dengan jumlah %

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Selama proses pencernaan, karbohidrat akan dipecah dan diserap di dinding

Artikel Kimia tentang Peranan Larutan Penyangga

BAB I PENDAHULUAN. lain. Salah satu fungsi darah adalah sebagai media transport didalam tubuh, volume darah

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA ACARA III MENGHITUNG JUMLAH SEL DARAH MERAH

BAB 2BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan bagian padat. Bagian cair disebut plasma sedangkan bagian yang padat

I. PENDAHULUAN. Broiler adalah ayam yang memiliki karakteristik ekonomis, memiliki

SUSU. b. Sifat Fisik Susu Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, dan kekentalannya.

DiGregorio, 1990). Hal ini dapat terjadi ketika enzim hati yang mengkatalisis reaksi konjugasi normal mengalami kejenuhan dan menyebabkan senyawa

BAB 5 HASIL PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terdiri dari sel darah. (Evelyn C. Pearce, 2006)

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Pemberian Kitosan terhadap Kadar Besi (Fe) pada Darah Puyuh yang Terpapar Pb

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Ayam Pedaging Ayam pedaging atau yang lebih dikenal dengan broiler adalah galur ayam yang dihasilkan dari rekayasa genetik yang mempunyai karakteristik ekonomis dengan ciri yang sangat khas yaitu pertumbuhan cepat, masa pemeliharaan pendek, menghasilkan daging berserat lunak, memiliki ukuran badan yang terbilang besar dan kokoh, memiliki banyak daging dan lemak, produksi telur minim dan bedanya memiliki bobot yang berat (AAK, 1981). Broiler merupakan salah satu ayam pedaging yang memiliki pertumbuhan sangat pesat kisaran umur 1-5 minggu. Broiler yang berumur 6 minggu sama besarnya dengan ayam kampung yang telah dipelihara selama 8 bulan. Keunggulan dari broiler ini didukung dengan sifat genetik dan keadaan lingkungan yang meliputi temperatur lingkungan, cara pemeliharaan dan makanan. Pada dasarnya ada 3 hal penting yang sangat menentukan dalam beternak ayam pedaging yaitu, Kualitas Day Old Chick (DOC), pakan dan manajemenya. Selain ketiga factor yang disebutkan diatas masih ada factor lain yang sangat menentukan berhasilnya ternak ayam pedaging ini yaitu ; jaminan pemasaran daging, usaha pencegahan penyakit termasuk sanitasi dan biosecurity, serta diagnose dan pengobatan penyakit secara tepat dan benar (Bur, 2000). Menurut Ardana (2009), ayam pedaging termasuk hewan berdarah panas atau homeothermis yang memiliki kemampuan terbatas dalam menyesuaikan diri dengan suhu lingkunganya. Kondisi cuaca yang selalu berubah-ubah membuat ayam pedaging sangat rentan terserang penyakit yang mampu menyebabkan para peternak gagal panen. Pemberian pakan yang baik pada ayam pedaging saja tidak cukup, ayam pedaging juga perlu diberi vitamin. Pemberian vaksin, antibiotik dan obat antipiretik dapat digunakan sebagai terapi dan pencegahan terhadap penyakit infeksius agar ayam mampu bertahan sampai usia panen. 2.2 Darah Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sedangkan sel darah itu sendiri terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit,leukosit dan trombosit. Volume darah secara keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan, 55% plasma darah dan 45% terdiri dari sel darah (Pearce, 2006). Menurut Colville dan Basert (2002), darah memiliki tiga fungsi yang sangat penting yaitu; sebagai system transportasi, system regulasi, dan system pertahanan. Darah sebagai system transportasi memiliki peran dalam mengangkut oksigen yang berasal dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan mengangkut karbondioksida dari jaringan tubuh menuju ke paru-paru. Darah

membawa cairan dari setiap jaringan ke jaringan lain, hal tersebut agar keseimbangan cairan di dalam tubuh tetab terjaga stbilitasnya, darah memiliki ph rata-rata 7,4. Selain itu juga darah membawa suplai makanan berupa nutrisi dari system pencernaan ke sel- sel atau jaringan tubuh serta mengangkut produk yang terbuang ke jaringan yang ada di ginjal dan usus besar untuk ekskresi dan mencegah terjadinya akumulasi. Pada saat terjadinya trauma dan infeksi, sel darah dan antibodi berperan untuk melindungi tempat melawan agen penyebab penyakit atau proses pembekuan darah pada luka yang disebabkan oleh pendarahan atau hemoragi. Darah juga berperan penting dalam pengendalian suhu tubuh (termoregulasi) yaitu dengan cara mengangkut panas dari bagian dalam tubuh ke permukaan kulit dimana panas nantinya akan menghilang ke udara. Dan fungsi darah yang terakhir yaitu menjaga keseimbangan asam basa di dalam tubuh (homeostatis). Fungsi darah sebagai system pertahanan berperan dalam fagositosis dan memberikan respon imunitas. Cairan tubuh memenuhi sekitar 68% bobot pada ayam dewasa dan 12% pada anak ayam yang baru menetas (Bell,2002). Kandungan yang terdapat di dalam cairan darah yaitu 91% air, 3% protein yang terdiri dari (albumin, globulin, protombin dan fibrinogen 0,9% mineral yang terdiri dari (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam fosfat, magnesium, kalsium, zat besi) dan 0,15 bahan organic yang terdiri dari ( glukosa, lemak,asam urat, kolesterol dan asam amino) (ITBI, 2011). 2.3 Packed Cell Volume ( PCV ) Nilai PCV yaitu suatu istilah yang menunjukan persen volume sel darah merah dalam darah. Keadaan hematokrit itu sendiri sangat dipengaruhi oleh jumlah sel darah merah. Berkurangnya jumlah sel darah merah akan mempengaruhi persen volume sel darah merah dalam darah. Nilai hematokrit ini sangat berhubungan dengan sel darah merah, nilai dapat berubah-ubah tergantung dengan factor yang mempengaruhi yaituras,jenis kelamin, nutrisi dan umur. Penentuan nilai hematokrit ini dilakukan dengan cara mengisi tabung mikrohematokrit dengan darah yang terlebih dahulu telah diberi zat antikoagulan agar tidak menggumpal, kemudian darah disentrifuse sampai sel-sel mengumpul di dasar ( Frandson,1996). Sel-sel yang mengumpul di dasar tersebut merupakan sesuatu yang memiliki berat lebih daripada plasma. Hasil sentrifugasi dalam satu paket dari sel darah di bagian bawah tabung tersebut yang disebut dengan Packed Cell Volume (PCV) atau hematokrit (Cunningham, 2000). Menurut Indrawati (2011) nilai PCV merupakan petunjuk yang sangat baik dalam menentukan volume total eritrosit dalam sirkulasi darah. Dengan teknik pemusingan yang cepat eritrosit yang memiliki berat jenis tinggi dapat dipisahkan dari unsur-unsur lainya, adapun urutan lapisan pada mikrohematokrit dari atas ke bawah yaitu; 1) Plasma darah yang berwarna kuning; 2) Bufi coat yang berwarna abu-abu sampai abu-abu kemerahan yang tersusun dari leukosit dan trombosit; 3) Eritrosit yang merupakan lapisan darah yang memiliki warna merah gelap (Dharmawan, 2002). Nilai hematokrit pada sebagian besar hewan piaraan berkisar 38-40% dengan rata-rata 40% (Cholacha, 2010). 2.4 Hemoglobin

Hemoglobin merupakan senyawa organik komplek yang tersusun atas empat pigmen porfirin merah ( heme) yang merupakan suatu derivate porfirin yang mengandung besi ditambah globin yang merupaka protein grobular yang tersususn dari empat asam amino ( Frandson,1992). Hemoglobin berperan penting dalam mengangkut oksigen dari paru-paru menuju ke semua jaringan tubuh hewan. Pada hewan invertebrata yang memiliki ukuran tubuh kecil,oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigenya terlarut secara bebas. Produksi hemoglobin dipengaruhi oleh kadar besi (fe) dalam tubuh karena besi merupakan komponen penting dalam pembentukan molekul heme. Molekul hemoglobin tersusun atas dua cincin haem dan globin yang disintesis sendiri-sendiri. Rantai haem mengandung besi dan merupakan tempat pengikatan oksigen. Molekul ini mempunyai kemampuan untuk mengambil dan menggantikan oksigen dengan tekanan yang relative tipis (Guyton,1997). Konsentrasi hemoglobin dipengaruhi oleh umur, kedewasaan dan jenis kelamin. Menurut Cholacha (2010), dalam keadaan normal 100ml drah mengandung 15 gram hemoglobin yang mampu mengangkut 0,03 gram oksigen. Pada sebagian besar darah hewan normal nilai hemoglobinya antara 13-15 gram/100ml. 2.5 Eritrosit Sel darah merah (erotrosit) memiliki bentuk seperti cakram/ bikonkaf dan tidak memiliki inti. Kecuali pada unggas eritrosit berbentuk oval, berinti dan berukuran lebih besar daripada darah mamalia (Smith et al., 2000). Sel darah merah atau eritrosit memiliki garis tengah 5,0-7,34 mikron yang berfungsi untuk transportasi oksigen. Eritrosit memiliki warna kuning kemerahan, karena mengandung zat yang disebut hemoglobin, warna ini akan bertambah merah jika oksigen banyak terkandung di dalamnya (ITBI, 2011). Sel darah merah atau eritrosit berfungsi mengikat oksigen (oksihemoglobin) dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh kemudian mengikat karbondioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru-paru. Sel darah merah tersusun atas 65% air, 33% Hb, dan sisanya terdiri dari sel stroma, lemak mineral, vitamin, ion K, dan bahan organic lainya.sebagian besar eritrosit bersikulasi dalam waktu yang relatif terbatas kisaran dari 2-5 bulan pada hewan domestikasi dan tergantung spesies. Umumnya masa hidup eritrosit ungggas lebih pendek dibandingkan dengan masa hidup eritrosit pada mamalia yaitu berumur 28-45 hari dan pada hewan umumnya kira-kira 25-140 hari (Guyton, 1986). Pada hewan dewasa pembentukan eritrosit terjadi di sum-sum tulang belakang sedangkan pada waktu masih janin dihasilkan oleh limpa, hati dan nodus limfatikus (Frandson, 1992). Sel darah merah yang sudah tua akan dihancurkan dalam sel Retikulo Endoplasmik System dalam hati,limpa dan sum-sum tulang belakang (Breazile, 1971). Proses pembentukan eritrosit di dalam sum-sum tulang memiliki beberapa tahapan, mula-mula besar bernukleus dan tidak berisi hemoglobin lalu dimuati hemoglobin dan akhirnya kehilangan nukleusnya kemudian siap diedarkan dalam sirkulasi darah yang kemudian akan beredar di dalam tubuh selama 25-140 hari (Guyton, 1986).

Menurut Mehta dan Hoffbrand (2008), faktor yang mampu mempengaruhi jumlah eritrosit dalam sirkulasi diantaranya yaitu hormon eritroprotein yang memiliki fungsi untuk merangsang eritropoesis dengan memicu produksi proeritroblas dari sel-sel homopoietik dalam sumsum tulang. 2.6 Paracetamol 2.6.1 Struktur Kimia Parasetamol Paracetamol memiliki bentuk menyerupai Kristal berwarna putih,tidak berbau dan memiliki rasa yang sedikit pahit. Paracetamol sangat mudah larut di dalam natrium hidroksida dan di air mendidih. Berat molekul dari paracetamol yaitu 151,16 dalton ( DITJEN POM, 1995). Pada dosis terapi paracetamol aman untuk dikonsumsi, meskipun demikian overdosis akut dari penggunaan paracetamol dapat menyebabkan perubahan struktur dan nilai hematokrit dari sel darah merah. Paracetamol memiliki beberapa nama generic paracetamol antara lain N-asetil-paminofenol N-hidroksi asetanilida dan asetaminofen. Selama ini paracetamol digunakan sebagai obat analgesic dan antipiretik di seluruh dunia. Paracetamol berawal dari asetanilid yang merupakan anggota pertama golongan obat p- aminofenol.pada tahun 1886 asetanilid diperkenalkan di bidang kedokteran dengan nama antifebrin oleh Chan dan Hepp, yang kebetulan menemukan kerja antipiretiknya. Dalam usaha menemukan senyawa yang dianggap kurang toksik, p-aminofenol diuji dengan keyakinan bahwa tubuh akan mengoksidasi asetanilid menjadi senyawa. Namun, toksisitasnya tidak berkurang,dan sejumlah turunan kimiawi p-aminofenol selanjutnya dilakukan pengujian. Fenasitin atau asetofenetidin merupakan salah satu turunan yang lebih memuaskan (Goodman dan Gilman,2007 ). Pada tahun 1887 fenasitin diperkenalkan di dalam terapi dan banyak digunakan dalam campuran analgesic sampai akhirnya diketahui dampak dari fenasitin yang mampu menyebabkan gangguan terhadap gambaran darah akibat penyalahgunaan analgesic, maka dari itu fenasitin saat ini tidak lagi tersedia. Pada tahun 1949 ditemukan metabolit aktif dari asetanilid dan fenasitin yaitu paracetamol yang relative lebih aman penggunaanya (Goodman dan Gilman, 2007) 2.6.2 Farmakokinetik Paracetamol Di dalam saluran pencernaan paracetamol diabsorbsi dengan cepat dan hampir sempurna. Paracetamol memiliki waktu paruh 2 jam dan konsentrasi dalam plasma mencapai puncak dalam waktu 30 sampai 60 menit. Indeks terapi dari paracetamol berada diantara 5-20 mg/ml. Sebagian paracetamol dikonjugasi dengan asam glukuronat dan sebagian kecil lainya dengan asam sulfat, yang secara farmakologi tidak aktif (Katzung,1997). Kurang dari 5% paracetamol yang diekskresikan dalam bentuk tidak berubah. 2.6.3 Farmakodinamik Paracetamol Selama ini paracetamol digunakan sebagai obat antipiretik dan analgesic, walaupun efek analgesic dan antipiretiknya setara dengan aspirin, paracetamol berbeda karena efek anti inflamasinya bisa dikatakan sangat minim sekali atau tidak ada ( Katzung,1997). Pada pasien yang dikontraindikasikan

menggunakan aspirin (misalnya pasien ulcer lambung) paracetamol dapat digunakan sebagai analgesic atau antipiretiknya. Efek analgesic yang dihasilkan oleh paracetamol yaitu mampu menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri ringan sampai sedang, namun bagaimana mekanismenya sampai saat ini belum diketahui. Paracetamol juga mampu mengurangi produksi prostaglandin yaitu senyawa proinflamasi, namun paracetamol tidak mempunyai sifat antiinflamasi seperti halnya aspirin (Goodman dan Gilman,2007). Sebagai antipiretik, paracetamol bekerja mengembalikan suhu tubuh dalam keadaan demam menjadi normal dengan cara menghambat produksi prostaglandin di susunan saraf pusat. 2.6.4 Hubungan Paracetamol Terhadap Profil Hematologi Pemberian paracetamol ini diduga mampu mempengaruhi total eritrosit, PCV dan Hb pada ayam pedaging. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian yang membuktikan bahwa parasetamol dapat merusak ginjal (Mazer and Perrone, 2008; Pathan et al, 2013). Ginjal merupakan salah satu organ yang berperan dalam regulasi hematopoiesis dengan mensekresikan eritropoietin (Polenakovic and Sikole, 1996). Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang mendapati terjadinya perubahan yang signifikan terhadap gambaran darah hewan coba, terutama PCV, Hb dan RBC. Pada sel darah merah terdapat perubahan tetapi tidak terlalu signifikan. Akibat dari pemberian paracetamol ini juga berpengaruh terhadap Hb, karena dapat menurunkan konsentrasi Hb, yang artinya juga menurunkan kapasitas oksigen yang dibawa dari darah serta oksigen yang dibawa dari darah ke jaringan (Oyedeji, 2013). 2.7 Kerangka Konsep Paracetamol merupakan obat antipiretik dan analgesic derivate para amino fenol yang sering digunakan dalam obat manusia. Paracetamol di Indonesia tersedia sebagai obat bebas dan telah menggantikan penggunaan silsilat sebagai antipiretik dan analgesik. Paracetamol merupakan metabolit fanasetin dengan efek antipiretik yang sama dan telah digunakan sejak 1893. Pemberian paracetamol ini diduga mampu menurunkan total eritrosit,pcv dan Hb terhadap ayam pedaging. Pemberian paracetamol pada hewan mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap gambaran darah hewan coba, terutama mengakibatkan penurunan yang signifikan terhadap PCV,Hb dan RBC. Pada sel darah merah terdapat perubahan tetapi tidak terlalu signifikan. Akibat dari pemberian paracetamol ini juga berpengaruh terhadap Hb, karena dapat menurunkan konsentrasi Hb, yang artinya juga menurunkan kapasitas oksigen yang dibawa dari darah serta oksigenyang dibawa dari darah ke jaringan (Oyedeji, 2013). 2.8 Hipotesis Berdasarkan kerangka konsep diatas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut; 1. Pemberian paracetamol menurunkan Packed Cell Volume (PCV) pada ayam pedaging.

2. Pemberian paracertamol menurunkan kadar hemoglobin pada ayam pedaging. 3. Pemberian paracetamol menurunkan total eritrosit pada ayam pedanging.