BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Syarbini ( 2013 : 15 ), tepung terigu adalah hasil dari

UJI ORGANOLEPTIK HASIL JADI KUE BALAPIS MENGGUNAKAN TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG BIJI NANGKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

TINJAUAN PUSTAKA. pisang raja berasal dari kawasan Asia Tenggara dan pulau-pulau pasifik barat. Selanjutnya

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya

CONTOH TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN PADA KELOMPOK BAHAN PANGAN

TEHNIK PEMBUATAN MIE SEHAT. Dr. Sri Handayani

RESEP KUE TALAM BESERTA TIPS dan VARIASINYA

Resep kue lapis lengkap

BAB II LANDASAN TEORI

: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Bab 2 LANDASAN TEORI

Kue Kering Tradisional yang Selalu Hadir saat Lebaran

denaturasi pada saat pemanasan dan mempertahankan bentuk pada produk akhir. Pati yang merupakan komponen utama dalam tepung (sekitar 67%) pada proses

Resep kue basah : kue lumpur, tips dan variasinya

sampai matang 10. Tuang kembali adonan hijau sampai separuh adonan

HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan Adonan Kerupuk

tips: Menyimpan Tahu Segar

tips: Menyimpan Tahu Segar

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

LAPORAN PRAKTEK TEKNOLOGI MAKANAN PEMBUATAN NUGGET AYAM

Resep Kue. Resep kue nastar

II. TINJAUAN PUSTAKA. disertai dengan proses penggilingan dan penjemuran terasi. Pada umumnya

LOGO BAKING TITIS SARI

KOMPARASI UJI KARBOHIDRAT PADA PRODUK OLAHAN MAKANAN DARI TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG BIJI NANGKA (Artocarpus heterophyllus)

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan akan vitamin dan mineral yang diperoleh dari buah-buahan

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan hidup. Pemenuhan kebutuhan pangan dapat dilakukan dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan

TEPUNG MOCAF SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TEPUNG TERIGU Oleh: Puji Lestari, S.TP Widyaiswara Pertama

III. METODE PELAKSANAAN. bulan April 2013 sampai dengan pertengahan Juni 2013.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri

KERUPUK UDANG ATAU IKAN

PENGOLAHAN JAGUNG SEBAGAI BAHAN PANGAN. Agus Sutanto

Pengolahan Sagu (Metroxylon) sebagai Bahan Baku Pembuatan Es Krim

Bahan Baku daging ikan 500 g. tepung tapioka 50 g. merica halus 1/2 sendok teh. bawang merah 7,5 g. bawang putih 1,5 g. jahe 0,5 g.

I. PENDAHULUAN. Sayur-sayuran dan buah-buahan adalah jenis komoditi pertanian yang mempunyai

Resep Puding - Cara Membuat Puding Istimewa

PENDAHULUAN. segar mudah busuk atau rusak karena perubahan komiawi dan kontaminasi

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki potensi di sektor

I PENDAHULUAN. Umumnya dalam sebuah penelitian diawali dengan identifikasi masalah. hipotesis dan sekaligus untuk menjawab permasalahan penelitian.

PENGOLAHAN HASIL JAGUNG (MEMBUAT SUSU JAGUNG DAN MIE JAGUNG) Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si.

BAB 2 LANDASAN TEORI

SUBSTITUSI TEPUNG BIJI NANGKA PADA PEMBUATAN KUE BOLU KUKUS DITINJAU DARI KADAR KALSIUM, TINGKAT PENGEMBANGAN DAN DAYA TERIMA

OLEH: YULFINA HAYATI

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

BAB III METODOLOGI A. Alat dan Bahan A.1Alat yang digunakan : - Timbangan - Blender - Panci perebus - Baskom - Gelas takar plastik - Pengaduk -

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS BISNIS KRIPIK KENTANG

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah,

PENGOLAHAN BUAH-BUAHAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

PENGOLAHAN TALAS. Ir. Sutrisno Koswara, MSi. Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan Seafast Center IPB 2013

PENGARUH PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI, WAKTU PENGUKUSAN DAN SUHU TERHADAP PEMBUATAN SNACK MIE KERING RAINBOW

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Tanaman nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) adalah jenis tanaman

23. HASlL OLAHAN TEPUNG UBI JALAR

METODE. Materi. Rancangan

BAB 2 LANDASAN TEORI

PEMBUATAN MIE SUKUN (KAJIAN SUBTITUSI SUKUN KUKUS DAN PENAMBAHAN TELUR) SKRIPSI. Oleh : INDARTY WIJIANTI

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET PENGOLAHAN BAKERY

TINJAUAN PUSTAKA. A. Deskripsi dan Kedudukan Taksonomi Kluwih (Artocarpus communis)

INOVASI PRODUK OLAHAN BERBASIS UBI JALAR

PENGEMBANGAN PENGOLAHAN TEPUNG CASSAVA UNTUK WIRAUSAHA

Teknologi Pengolahan Hasil Ubi Jalar dan Ubi Kayu

BAB I PENDAHULUAN. didalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk

TINJAUAN PUSTAKA. Nangka memiliki nama latin artocarpus heteropyllus sedangkan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembuatan tahu adalah kacang kedelai (Glycine max Merr) dengan kandungan

BAB I PENDAHULUAN. Mutu gizi makanan seseorang dapat diperbaiki dengan mengkonsumsi

BAB 1 PENDAHULUAN. akan tetapi sering dikonsumsi sebagai snack atau makanan selingan. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang gizi

I PENDAHULUAN. Pemikiran, 1.6 Hipotesis Penelitian, dan 1.7 Tempat dan Waktu Penelitian.

Menerapkan Teknik Pengolahan Menggunakan Media Penghantar Panas. KD 1. Melakukan Proses Pengolahan Abon Ikan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. disukai oleh masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga

BAB 1 PENDAHULUAN. namun WHO menetapkan remaja (adolescent) berusia antara tahun.

BAB I PENDAHULUAN. Konsumsi rata-rata kue kering di kota dan di pedesaan di Indonesia 0,40

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

MODUL 5 PIZZA IKAN. Indikator Keberhasilan: Mutu pizza ikan yang dihasilkan memiliki tekstur yang lembut, rasa dan aroma khas ikan.

TEKNOLOGI PEMBUATAN SUSU DARI TEMPE BENGUK

BAB III METODOLOGI. Laporan Tugas Akhir Pembuatan Mie Berbahan Dasar Gembili

: 1. Mengetahui cara pembuatan roti standart dan roti wortel serta untuk. 2. Mengetahui volume adonan roti standart dan adonan roti wortel

Hidangan Bubur Manis untuk Berbuka Puasa

BAB III MATERI DAN METODE. substitusi tepung biji alpukat dilaksanakan pada bulan November 2016 di

PENGOLAHAN UBI KAYU. Kue Pohong Keju

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tapioka. Kerupuk sudah banyak dimodifikasikan dengan berbagai cita rasa

Analisis Usaha Diversifikasi Produk Olahan Tempe. Oleh Siti Marwati Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY

II. TINJAUAN PUSTAKA. Standar Nasional Indonesia mendefinisikan tepung terigu sebagai

ABON IKAN 1. PENDAHULUAN

1. MOCCA ANGEL CAKE A. RESEP

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

JAGUNG. Bahan Pangan Alternatif SERI BACAAN ORANG TUA

I PENDAHULUAN. Bab ini membahas mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2)

Kue atau yang disebut juga cake merupakan produk bakery yang banyak diminati masyarakat. Dalam membuat kue, ada tiga faktor yang sangat menentukan

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS TAPE SINGKONG

Transkripsi:

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Analisa Bahan 2.1.1 Tepung Terigu Menurut Syarbini (2013: 15), tepung terigu adalah hasil dari penggilingan biji gandum. Gandum merupakan salah satu tanaman biji-bijian yang biasa tumbuh di negara seperti Amerika, Kanada, Eropa dan Australia. Tepung terigu digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan kue, roti, biskuit/kukis, pastry, muffin, makaroni, spaghetti, wafel. Penggunaan tepung terigu sudah menjadi produk pokok sebagai pengganti karbohidrat dan praktis. Tabel 2.1 Kandungan Gizi Tepung Terigu Kandungan Gizi Tepung Terigu Energi (kkal) 333 Protein (g) 9,0 Lemak (g) 1,0 Karbohidrat (g) 77,2 Kalsium (mg) 22 Fosfor (mg) 150 Besi (mg) 1,3 Vitamin C (mg) 0 Air (g) 11,8 Sumber: Komposisi Pangan Indonesia (2009) Tepung terigu dapat dikenali dengan melihat warna, kekuatan, kemudahan dalam menyesuaikan diri, daya serap dan keseragaman. Protein tepung terigu yang berperan dalam pembentukan adonan adalah gluten. Gluten tidak terdapat pada biji gandum ataupun pada tepung terigu, akan tetapi gluten terbentuk bila gliadin bereaksi dengan air. Gluten merupakan fraksi protein yang memberikan kepadatan dan kekuatan pada adonan untuk menahan gas pada pengembangan adonan serta berperan dalam pembentukan 9

10 struktur adonan. Sedangkan gliadin adalah fraksi protein yang memberikan sifat lembut dan elastis (Ayustaningwarno, 2014: 81). 2.1.1.1 Proses Pembuatan Tepung Terigu Menurut Syarbini (Syarbini, 2013: 19), tepung terigu merupakan hasil dari proses penggilingan gandum yang memisahkan biji gandum dari Bran dan Germ yang dilanjutkan dengan proses penumbukan. Proses pengolahan gandum menjadi tepung terigu dibagi dalam 2 proses, yakni proses pembersihan (cleaning) dan penggilingan (milling), (Bogasari, 2011): a. Pembersihan (cleaning). Pada proses cleaning, gandum dibersihkan dari impurities seperti debum biji-bijian lain selain gandum (seperti biji jagung, kedelai), kulit gandum, batang gandum, batu-batuan kerikil, dan lain-lain. Setelah gandum dibersihkan dari impurities, proses penambahan air (dampening) agar gandum memiliki kadar air yang diinginkan. Proses dampening tergantung pada beberapa faktor. Antara lain kandungan air di awal biji gandum, jenis gandum dan jenis serta mutu tepung yang diharapkan. Selanjutnya gandum yang telah diberi air didiamkan selama waktu tertentu agar air meresap ke dalam biji gandum. Tahap ini bertujuan untuk membuat kulit gandum menjadi liat sehingga tidak mudah hancur saat digiling dan memudahkan endosperma terpisah dari kulit serta melunakkan endosperm yang mengandung tepung. b. Penggilingan (milling). Meliputi proses breaking, reduction, sizing dan tailing. Prinsip proses penggilingan adalah memisahkan endosperm dari lapisan kulit. Diawali dengan proses breaking yaitu pemisahan biji gandum untuk memisahkan kulit gandum dengan endosperma. Tahap berikutnya adalah reduction, yaitu endosperma yang sudah dipisahkan diperkecil lagi menjadi tepung terigu. Kulit gandum yang terpisah diproses kembali menjadi bran dan pollard.

11 2.1.1.2 Jenis-jenis Tepung Terigu Menurut Ayustaningwarno (2014: 82), tepung terigu berdasarkan kandungan protein digolongkan pada tiga macam, yaitu: a. Hard Flour (terigu protein tinggi) Tepung terigu yang mempunyai kandungan protein antara 12%- 13%. Tepung ini diperoleh dari gandum keras (hard wheat). Tingginya kadar protein menjadikan sifatnya mudah dicampur, difermentasikan, daya serap airnya tinggi, elastis dan mudah digiling. Karakteristik ini menjadikan tepung terigu hard wheat sangat cocok untuk bahan baku roti, mie dan pasta karena sifatnya elastis dan mudah difermentasikan. Kandungan glutennya yang tinggi akan membentuk jaringan elastis selama proses pengadukan. Pada tahap fermentasi gas yang terbentuk oleh ragi akan tertahan oleh jaringan gluten, hasilnya adonan roti akan mengembang besar dan empuk teksturnya. Tepung hard flour ini mempunyai sifat-sifat : Mampu menyerap air dalam jumlah yang relatif tinggi dan derajat pengembangan yang tinggi. Memerlukan waktu pengadukan yang lama. Memerlukan hanya sedikit ragi. b. Medium Flour (terigu protein sedang) Jenis terigu medium wheat mengandung protein sebanyak 10%- 11%. Sebagian orang mengenalnya dengan sebutan all-purpose flour atau tepung serbaguna. Dibuat dari campuran tepung terigu hard wheat dan soft wheat sehingga karakteristiknya diantara kedua jenis tepung tersebut. Tepung ini cocok untuk membuat adonan fermentasi dengan tingkat pengembangan sedang, seperti dona, bakpau, wafel, panada atau aneka cake dan muffin. c. Soft Flour (terigu protein rendah) Tepung ini dibuat dari gandum lunak dengan kandungan protein 8%-9%. Sifatnya, memiliki daya serap air yang rendah sehingga akan menghasilkan adonan yang sukar diuleni, tidak elastis, lengket dan daya pengembangannya rendah serta penggunaan ragi yang banyak. Cocok untuk membuat kue kering dan kue basah

12 yang tidak memerlukan proses fermentasi. Jenis tepung lunak memiliki persentase gluten yang rendah, adonan kurang elastis dan tidak baik dalam menahan gas. Tetapi tepung lunak ini memerlukan energi yang lebih kecil dalam pencampuran dan pengocokan adonan dibandingkan dengan jenis tepung keras. 2.1.2 Biji Nangka (Arthocarphus heterophyllus lam) Gambar 2.1 Biji Nangka Nangka adalah salah satu jenis buah yang banyak di tanam di daerah beriklim tropis. Buah nangka cukup terkenal di seluruh dunia bahkan di Indonesia sendiri dan kebanyakan khusus di daerah pedesaan karena lahan yang luas untuk bercocok tanam. Nama buah nangka dalam bahasa Inggris adalah Jackfruit. Tanaman ini awalnya berasal dari India selatan lalu kemudian tersebar ke daerah tropis lainnya termasuk Indonesia. Biji buahnya berbentuk bulat lonjong berukuran 2-4 cm, tertutup oleh kulit biji yang tipis berwarna coklat. Endokarp yang sangat keras keputihan, eksokarp yang lunak. Biji nangka memiliki cukup banyak kandungan protein, lemak, karbohidrat, fosfor, kalium, besi, vitamin C, vitamin B1. Biji nangka merupakan bahan yang sering terbuang setelah dikonsumsi buahnya, walaupun ada sebagian kecil masyarakat yang mengolahnya untuk di makan, dikutip dari (Yunarni, 2012). Pengklasifikasian dari tanaman nangka adalah: Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Sub Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

13 Kelas : Magnoliopsida (Berkeping dua/dikotil) Sub Kelas : Dilleniidae Ordo : Urticales Famili : Moraceae Genus : Artocarpus Spesies : Artocarpus heterophyllus lam (Alim, 2013) Potensi biji nangka (Arthocarphus heterophyllus lamk) yang besar belum dieksploitasi secara optimal. Rendahnya pemanfaatan biji nangka dalam pengolahan pangan masih sebatas 10% disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat dalam pengolahan biji nangka. Biji nangka merupakan sumber karbohidrat (36,7 g/100g), protein (4,2 g/100g), dan energi (165 kkal/100g), sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang potensial (Nuraini, 2011: 191). Biji nangka juga merupakan sumber mineral yang baik. Kandungan mineral yang terkandung dalam biji nangka sangat bagus untuk dikonsumsi sama layaknya dengan bahan pangan lainnya. Selain dapat dimakan dalam bentuk utuh, biji nangka juga dapat diolah menjadi tepung. Selanjutnya dari tepung biji nangka dapat dihasilkan berbagai olahan makanan (Nuraini, 2011: 191). 2.1.2.1 Tepung Biji Nangka Pemanfaatan biji nangka agar lebih berdaya guna dapat dilakukan dengan mengolah menjadi tepung. Tepung biji nangka dibuat dengan cara memilih biji nangka yang baik terutama pada teksturnya, lalu mencuci biji nangka di atas air mengalir. Setelah itu biji nangka direbus hingga kulit ari dari biji nangka terkelupas. Lalu biji nangka dibersihkan, dan dipotongpotong atau diiris tipis-tipis. Selanjutnya biji nangka dipotong potong kecil lalu dijemur di bawah terik matahari setelah kering biji nangka digiling hingga halus (Nuriana, 2010). Proses pembuatan tepung biji nangka mengalami beberapa tahap pengolahan agar dihasilkan tepung yang berkualitas dan tidak bau. Proses pertama dalam pembuatan tepung biji nangka adalah dengan pencucian biji nangka. Setelah dicuci, biji nangka direbus bersama arang batok kelapa untuk

14 menghilangkan bau, dengan suhu 110ºC selama kurang lebih 30 menit. Setelah direbus, biji nangka dipisahkan dari sisa pulp yang masih menempel. Kemudian biji nangka diiri-iris (dipotong menjadi bagian-bagian kecil). Agar memudahkan pada proses pengeringan (Fadillah, 2008: 4). Proses pengeringan hingga menjadi tepung biji nangka, dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan cara menjemur bahan pangan di bawah sinar matahari, yang dikenal dengan istilah pengeringan secara alamiah atau dengan menggunakan panas buatan dalam bentuk udara yang panas dari oven atau konstruksi pada alat pengering yang khusus untuk pengering pada suatu bahan pangan. Pengeringan di terik matahari memang bisa efektif, oleh karena suhu yang dicapai sekitar 35-45ºC. Iklim di wilayah tropis merupakan sumber energi yang sangat cukup potensial. Proses pengeringan ini bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam biji nangka tersebut (Sari, 2012: 22). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan proses pengeringan dengan cara pengeringan alamiah. Tahap terakhir adalah menggiling potongan biji nangka yang telah dikeringkan sampai menjadi butiran halus menggunakan blender ataupun alat penggiling lain seperti mesin penepung beras. Butiran-butiran halus tersebut kemudian diayak dengan saringan halus dengan tiga kali pengayakan sehingga menghasilkan tepung yang diinginkan (Sari, 2012: 23). Tabel 2.2 Komposisi Kimia Tepung Biji Nangka Komposisi Kima Tepung Biji Nangka Air 12,40 Protein (g) 12,19 Lemak (g) 1,12 Karbohidrat 36,77 Bahan ektra tanpa nitrogen 68,8 Serat Kasar 2,74 Abu 3,24 Pati 56,21 Sumber: Departemen Perindustrian RI Daftar Komposisi Bahan Makanan (2000)

15 2.1.2.2 Proses Pembuatan Tepung Biji Nangka Tahapan pembuatan tepung biji nangka secara sederhana adalah sebagai berikut dalam bentuk gambar diagram alir: Gambar 2.2 Proses Pembuatan Tepung Biji Nangka Referensi: Pemanfaatan Tepung Biji Nangka sebagai Substitusi dalam Pembuatan Kudapan Berbahan Dasar Tepung Terigu untuk PMT pada Balita, Sari, 2012)

16 2.2 Kajian Produk 2.2.1 Kue Balapis Kue Balapis merupakan kue basah tradisional yang berasal dari provinsi Sulawesi Utara, Manado, dibuat oleh orang suku Minahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2015), kue basah adalah kue yang dikukus (seperti kue lapis atau kue pisang); kue yang mengandung zat cair sehingga tidak tahan lama disimpan atau cepat busuk. Kue Balapis ini terbuat dari tepung terigu, santan dan gula, kue ini memiliki tekstur yang berlapis-lapis. Warna balapis biasanya terdiri dari paduan warna cokelat putih atau hijau putih. Untuk warna hijau menggunakan pewarna alami dari air perasan daun pandan dan daun suji yang juga memberikan aroma pada hasil jadi kue. Untuk warna cokelatnya didapat dengan menambahkan cokelat pasta atau coklat bubuk pada adonan. Ketika digigit terasa kenyal dan lembut, dikutip dari (Septia, 2009). Untuk membuat kue balapis dibutuhkan kesabaran karena tiap lapisannya dikerjakan selapis demi selapis. Agar lapisan warnanya tidak bercampur satu sama lain. Adonan dicetak dalam loyang segiempat. Proses memasaknya dengan cara dikukus dengan api sedang. Ketika matang, balapis ini tak bisa langsung dipotong karena teksturnya masih sangat lembek saat panas, harus menunggu agar balapis dingin dulu kemudian dapat dipotong. Kue Balapis umumnya dimakan sebagai cemilan di pagi hari atau sore hari sebagai pelengkap hidangan santai (Septia, 2009). 2.2.2 Bahan Utama 1. Tepung Biji Nangka Gambar 2.3 Tepung Biji Nangka

17 Tepung Biji Nangka merupakan bahan utama dalam pembuatan kue balapis dengan menggunakan tepung biji nangka. Tepung biji nangka digunakan sebagai bahan substitusi tepung terigu dengan perbandingan 75%, 50% dan 25%. 2. Tepung Terigu Gambar 2.4 Tepung Terigu Tepung terigu merupakan salah satu bahan utama dalam pembuatan kue balapis. Tepung terigu dipakai sebagai campuran tepung dalam pembuatan kue balapis dengan perbandingan 75%, 50% dan 25%. 3. Santan Gambar 2.5 Santan Santan adalah bahan utama yang digunakan dalam pembuatan berbagai adonan kue basah untuk menambah rasa, aroma dan menjadikan kue lebih lembut dan lembab (Yanti, 2013). Santan, cairan berlemak dan gurih dari daging buah kelapa, merupakan unsur

18 penting bagi dapur Nusantara. Dari satu butir kelapa parut yang tua (±450 gr) yang diremas-remas dengan 100 ml air bisa diperoleh 250 ml santan kental. Selanjutnya dapat diulang 3 kali berturut-turut tiap kali dengan 200 ml air hingga diperoleh ±750 ml santain cair (Boga, 2014: 15). 4. Gula Gambar 2.6 Gula Pasir Peranan gula dalam pembuatan sangat penting yaitu memberikan rasa manis pada kue balapis. Gula dihasilkan melalui pengolahan air tebu, mempunyai kristal yang besar, memerlukan waktu agak lama untuk larut dalam adonan. 5. Daun Suji Gambar 2.7 Daun Suji

19 Daun suji digunakan pada kue balapis untuk memberikan warna hijau alami sekaligus memberikan aroma. Daun suji merupakan tanaman perdu yang tingginya bisa sampai 8 meter. Bentuk daunnya memanjang dan tersusun melingkar. Tanaman ini sesekali berbunga. Sekilas bentuk daun mirip daun pandan, berwarna hijau tua, bentuknya runcing polos tanpa tulang tengah. Fungsi utamanya sebagai pewarna pada masakan. Daun suji tidak seharum daun pandan, tapi dapat memberikan warna hijau alami pada masakan. Cara menggunakan daun suji yaitu dengan cara menumbuk halus, lalu diperas. Kemudian airnya dapat langsung dipakai dalam masakan (Koki, 2010). 6. Air Dalam membuat kue balapis air sangat penting perannya sebagai zat pelarut bahan-bahan kue lainnya. 2.2.3 Bahan Tambahan 1. Garam Gambar 2.8 Garam Garam merupakan bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan kue balapis untuk memberikan sedikit rasa asin.

20 2.2.4 Peralatan 1. Timbangan Gambar 2.9 Timbangan Timbangan digunakan untuk menimbang bahan-bahan seperti tepung, gula dan tepung biji nangka agar tepat takarannya. 2. Gelas Ukur Gambar 2.10 Gelas Ukur Gelas ukur digunakan untuk mengukur bahan baku yang berbentuk cairan seperti air dan santan dalam kue balapis.

21 3. Loyang Aluminium Gambar 2.11 Loyang Aluminium Loyang persegi panjang digunakan sebagai cetakan kue balapis untuk membentuk kue berbentuk persegi panjang sehingga memudahkan pemotongan kue. 4. Panci Pengukus/Dandang Gambar 2.12 Panci Pengukus Panci pengukus digunakan untuk mengukus bahan makanan yang sedang diolah. Adonan kue balapis dimasukkan perlapis setelah air mendidih, kemudian tutup rapat.

22 5. Balloon Whisk Gambar 2.13 Balloon Whisk Digunakan untuk mengaduk seluruh bahan kue balapis menjadi adonan yang sempurna. 6. Baskom Plastik Gambar 2.14 Baskom Plastik Baskom digunakan sebagai wadah untuk mencampur bahan baku pembuatan kue balapis, seperti tepung, gula, santan dan air.

23 7. Saringan Gambar 2.15 Saringan Saringan digunakan untuk menyaring adonan yang masih kasar menjadi halus. 8. Talenan dan Pisau Gambar 2.16 Talenan dan Pisau Talenan dan pisau digunakan untuk memotong kue balapis menjadi beberapa bagian. 9. Ulekan Gambar 2.17 Ulekan Ulekan digunakan untuk menumbuk halus daun suji yang kemudian airnya diperas untuk dijadikan pewarna hijau alami.

24 2.2.5 Resep Baku Resep kue balapis diambil dari buku 100 Resep Kue & Minuman Khas Daerah oleh Aan Roswaty, halaman 196: Bahan: Jumlah Bahan 500 gr Tepung Terigu 300 gr Gula Pasir ½ sdt Garam 1.500 ml Santan (1 butir kelapa) 50 ml Air Daun Suji Tabel 2.3 Bahan Baku Cara membuat: 1. Campur tepung terigu dengan gula pasir dan garam, tuangi santan sedikit demi sedikit, aduk hingga menjadi adonan yang licin. 2. Bagi adonan menjadi 2 bagian. Beri salah satu bagiannya air daun suji. 3. Siapkan panci kukus dan didihkan airnya, masukkan loyang persegi ukuran 15x15x7 cm yang sudah diolesi minyak dalam panci kukus. 4. Tuang 1 sendok sayur adonan putih, ratakan, kukus hingga mengeras. Tuang adonan hijau di atasnya, kukus lagi hingga mengeras. Lakukan hingga adonan kedua warna habis. Kukus hingga seluruh adonan matang, sekitar 1 jam, angkat, dinginkan. Sajikan dengan dipotong-potong.

25 2.2.5.1 Proses pembuatan Kue Balapis 1. Persiapkan alat dan bahan 2. Timbang dan ukur semua bahan-bahan yang dibutuhkan 3. Masukkan tepung terigu, tepung biji nangka, gula dan garam, aduk rata lalu tuangi santan sedikit demi sedikit hingga adonan tercampur rata 4. Bagi adonan menjadi 2 bagian sama rata 5. Beri salah satu bagiannya air perasan daun suji 6. Siapkan panci kukus dan didihkan airnya, masukkan loyang persegi yang sudah diolesi minyak 7. Jika air sudah mendidih, tuang 1 sendok adonan warna putih dan ratakan, kukus hingga mengeras 8. Setelah adonan putih mengeras, tuang adonan hijau di atasnya, kukus lagi hingga mengeras. Lakukan hingga adonan kedua warna habis 9. Kukus hingga seluruh adonan matang sekitar 1 jam, angkat dan dinginkan. Setelah dingin kue dapat dipotong-potong Gambar 2.18 Diagram Alir Proses Pembuatan Kue Balapis

26 Gambar 2.19 Timbang Bahan Gambar 2.20 Pencampuran Santan

27 Gambar 2.21 Proses Pengadukan Gambar 2.22 Pembagian adonan

28 Gambar 2.23 Pencetakan Adonan Gambar 2.24 Hasil Jadi Kue

29 2.2.5.2 Resep Modifikasi Kue Balapis Menggunakan Tepung Biji Nangka dengan Perbandingan 75% Jumlah Bahan 333 gr Tepung Biji Nangka 167 gr Tepung Terigu 300 gr Gula Pasir ½ sdt Garam 1.500 ml Santan (1 butir kelapa) 50 ml Air Daun Suji Tabel 2.4 Resep Modifikasi 75% Tepung Biji Nangka 2.2.5.3 Resep Modifikasi Kue Balapis Menggunakan Tepung Biji Nangka dengan Perbandingan 50% Jumlah Bahan 250 gr Tepung Biji Nangka 250 gr Tepung Terigu 300 gr Gula Pasir ½ sdt Garam 1.500 ml Santan (1 butir kelapa) 50 ml Air Daun Suji Tabel 2.5 Resep Modifikasi 50% Tepung Biji Nangka 2.2.5.4 Resep Mofifikasi Kue Balapis Menggunakan Tepung Biji Nangka dengan Perbandingan 25% Jumlah Bahan 167 gr Tepung Biji Nangka 333 gr Tepung Terigu 300 gr Gula Pasir ½ sdt Garam 1.500 ml Santan (1 butir kelapa) 50 ml Air Daun Suji Tabel 2.6 Resep Modifikasi 25% Tepung Biji Nangka

30 2.3 Kerangka Berpikir Tingkat konsumsi tepung terigu di Indonesia terus bertumbuh setiap tahunnya, maka dibutuhkan diversifikasi pangan untuk menurunkan ketergantungan pada tepung terigu dengan menggunakan limbah biji nangka sebagai tepung yang lebih murah UJI ORGANOLEPTIK HASIL JADI KUE BALAPIS MENGGUNAKAN TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG BIJI NANGKA Tepung Terigu Harga : Rp 10.000,-/Kg Karbohidrat (per 100gr) : 77,2gr Tepung Biji Nangka Harga : Rp 4.750,-/Kg Karbohidrat (per 100gr) : 36,7gr Proses Pembuatan Kue Balapis 25% Biaya Produksi : Rp 18.822,- 50% Biaya Produksi : Rp 18.385,- 75% Biaya Produksi : Rp 17.947,- Uji Organoleptik Warna Aroma Tekstur Rasa Pengujian oleh Panelis 3 Orang Terlatih 25 Orang Agak Terlatih

31 Analisa 25% 50% 75% Warna Warna Warna Aroma Aroma Aroma Tekstur Tekstur Tekstur Rasa Rasa Rasa Kesimpulan Gambar 2.25 Skema Kerangka Berpikir