Multiprofesional Learning

dokumen-dokumen yang mirip
Interprofessional Education: Sebuah Ulasan Singkat. Zakka Zayd Zhullatullah Jayadisastra. Staff Kajian Medical Education and Profession (MEP) ISMKI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbahaya, salah satunya medical error atau kesalahnan medis. Di satu sisi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Kesiapan (readiness) terhadapinteprofesional Education (IPE)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan melibatkan sekelompok mahasiswa atau profesi kesehatan yang

Pendekatan Interprofessional Collaborative Practice dalam Perawatan Pasien Katastropik

Bab II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan, di Amerika Serikat penyebab kematian nomer tiga pada

BAB 1 PENDAHULUAN. sistem pelayanan kesehatan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan, dari, dan tentang satu sama lain untuk meningkatkan kolaborasi

BAB I PENDAHULUAN. serta kualitas pelayanan kesehatan (Majumdar, et al., 1998; Steinert, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. menunjang kinerja setelah lepas dari institusi pendidikan (Barr, 2010)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organization (WHO) menyatakan setiap menit seorang wanita

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Pembelajaran IPE berbasis komunitas memberikan dampak positif dengan

BAB I PENDAHULUAN orang meninggal pertahun akibat medication error. Medication error

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelayanan yang bermutu

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan keterkaitan antara kategori attachment, patient-centered

Kerangka Kompetensi Kepemimpinan Klinik

BAB I PENDAHULUAN. bersama, belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari peran masingmasing

PEDOMAN AKADEMIK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA BAB IV PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pharmaceutical care menggeser paradigma praktik kefarmasian dari drug

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Pada beberapa tahun terakhir ini terjadi inovasi. di dalam sistem pendidikan kedokteran di Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mahasiswa keperawatan. Hal ini sesuai dengan Brinkley et al., (2010)

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Persyaratan. Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran KEVIN PIETER TOMAN G FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. tradisional yang berbasis silo dimana setiap tenaga kesehatan tidak mempunyai

BAB I DEFINISI BAB II A. DEFINISI

Etika Profesi dan Pendidikan Interprofesional

BAB I PENDAHULUAN. pengajar dan peserta didik dalam mencapai tujuan learning outcome.

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION

BAB I PENDAHULUAN. memecahkan masalah (problem solving skill) serta berfokus pada mahasiswa

HUBUNGAN PRIOR KNOWLEDGE TERHADAP KEEFEKTIFAN KELOMPOK PADA METODE BELAJAR PROBLEM BASED LEARNING DI PROGRAM STUDI D3 KEBIDANAN STIK IMMANUEL

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Definisi dan Ruang Lingkup Praktek Konseling Rehabilitasi. Oleh Didi Tarsidi <a href=" Pendidikan Indonesia (UPI)</a>

Implementasinya dalampbl. Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia Departemen Pendidikan Kedokteran FKUI

STRATEGI PEMBELAJARAN PENDEKATAN SCL

PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNIN (PBL) DALAM KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

BAB 1 PENDAHULUAN. medical error antara % dari jumlah pasien dengan %. Medical

PROFESIONALISME DAN INTERPROFESIONALISME DALAM MASYARAKAT YANG SEDANG BERUBAH

BAB I PENDAHULUAN. kerawanan terjadi kesalahan medik (medical error). Kasus kematian akibat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Inter-Professional Education in Clinical Setting*)

BAB I PENDAHULUAN. tugasnya, serta beberapa perilaku lain yang merupakan sifat-sifat kemanusiaan

DRAFT KKNI PROFESI KEPERAWATAN

BAB I PENDAHULUAN. keperawatan, menyusun intervensi keperawatan, implementasi tindakan

PRAKTIK BELAJAR LAPANGAN TERINTEGRASI

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. tentang diagnosa, melakukan kerjasama dalam asuhan kesehatan, saling

Contoh Pendidikan Karakter Dalam Mata Kuliah: Sikap Mental Etika Profesi

PENERAPAN PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL: Dewi Irawaty, MA, PhD

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambaran Pelaksanaan Problem-Based Learning Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Softskill, Kurikulum, Dosen, dan Mahasiswa. Bertalya Universitas Gunadarma

METODE BIMBINGAN KLINIK

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan di era global. Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

IDENTIFIKASI PERAN STAF EDUKASI YANG DIBUTUHKAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU DALAM RANGKA PELAKSANAAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebuah rekomendasi dari WHO (2010) yang bertema Framework For Action On

kedokteran keluarga, salah satunya adalah patient centered care. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terfragmentasi dan kebutuhan kesehatan masyarakat tidak terpenuhi. Tenaga

2016 PENGEMBANGAN MODEL DIKLAT INKUIRI BERJENJANG UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGI INKUIRI GURU IPA SMP

KEGIATAN DOSEN MAGANG DIKTI UNPAD

PENGEMBANGAN RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DI DAERAH TERPENCIL

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Membangun Komunitas Belajar Bagi Guru Matematika Melalui Lesson Study

Komentar dan Rekomendasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penderita gangguan jiwa di dunia pada tahun 2001 adalah 450 juta jiwa, menurut

Listiani dan Kusuma. Memperkenalkan Penerapan Strategi 1

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU SEBAGAI BENTUK STUDENT SUPPORT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah proses komunikasi interprofesional dan pembuatan keputusan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hal yang penting dalam pendidikan kedokteran. adalah keterlibatan langsung mahasiswa ke dalam situasi

KERANGKA ACUAN (Term of Reference) Student Centered Learning Internal Grant

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. jadi, yang tinggal dipindahkan ke orang lain dengan istilah transfer of knowledge.

MODUL PELATIHAN PELATIH PASIEN STANDAR

Metode Penelitian: Understand & Follow the rules

KERANGKA ACUAN (Term of Reference) Student Centered Learning Internal Grant. Hibah Internal Pembelajaran Berpusat pada Mahasiswa

InfinityJurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung, Vol 4, No.2, September 2015

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Yogyakarta (UMY). Semua responden adalah mahasiswa tahap klinik (coass)

GAMBARAN PRAKTIK KOLABORATIF ANTARA PERAWAT DAN DOKTER DI RUANG RAWAT INAP RSUD SIDIKALANG

ORGANISASI PEMBELAJARAN. Hendrawan Soetanto. Bagian Ketiga

MENUJU GURU YANG PROFESIONAL MELALUI LESSON STUDY A. LATAR BELAKANG

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memegang tanggung jawab paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka

BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN RINGKASAN. V.1. Kesimpulan. lingkungan asrama dan jam belajar. Penegakan peraturan di asrama,

John Toding Padang, Novita Medyati

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan mahasiswa kedokteran. Pada tahap ini mahasiswa belajar untuk

PANDUAN PROSES EVALUASI KINERJA STAF MEDIS RUMAH SAKIT UMUM AMINAH BLITAR TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan kedokteran bertujuan untuk menghasilkan dokter yang. sebagai bekal untuk belajar sepanjang hayat (Konsil Kedokteran

MODUL KETRAMPILAN KOMUNIKASI INTER-PROFESI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Problem Based Learning (PBL)

Profil Analisis Kebutuhan Pembelajaran Fisika Berbasis Lifeskill Bagi Siswa SMA Kota Semarang

PERSEPSI DOSEN STIKES AISYIYAH SURAKARTA TERHADAP INTER PROFESIONAL EDUCATION (IPE)

BAB V STUDI KASUS. Pada bab ini dilakukan studi kasus untuk menerapkan model komunitas belajar learnercentered hasil perancangan pada bab IV.

TINGKAT KEPUASAN BIMBINGAN KLINIK MAHASISWA KEPERAWATAN

MEMBANGUN LITERASI DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN OLEH : Nunuk Suryani. Page 1

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PRASETYA BUNDA NOMOR : SK/KEH/RSPB/I/2014 TENTANG PEMBENTUKAN KOMITE ETIK DAN HUKUM RUMAH SAKIT PRASETYA BUNDA

Transkripsi:

89 Menumbuhkan Ketrampilan Kepemimpinan dan Team- Building serta Penghargaan terhadap Profesi Lain Melalui Interprofessional Education Analisis Kemungkinan Penerapannya Pada Fakultas Kedokteran di Indonesia Fostering Medical Students Leadership and Team Building Skills and Respect toward Other Health Profession through Inter-Professional Education Analysis of Its Possible Application in Indonesian Medical Schools Endang Lestari 1* ABSTRACT Inter-professional learning is becoming a very hot issue in medical education field in Indonesia nowadays. Many medical faculties carried out discussions about this topic to consider the possibility to apply the method of learning in their own faculties. This writing is a critical review of an article concerning multiprofessional learning in medical field and an analysis of its possible implications to improve the quality f medical education in Indonesia (Sains Medika, 3(1):89-101). Key words: Interprofessional learning, medical education, team working ABSTRAK Inter-professional learning menjadi issu nasional dalam bidang pendidikan kedokteran. Berbagai diskusi dilakukan di beberapa perguruan tinggi, untuk mengkaji kemungkinan penerapan pendekatan multiprofesi dalam bidang kesehatan tersebut. Berikut adalah review terhadap salah satu artikel mengenai multiprofesional learning dalam bidang medis serta membahas berbagai implikasi yang dapat dipelajari dari artikel tersebut bagi pengembangan pendidikan kedokteran di Indonesia (Sains Medika, 3(1):89-101). Kata kunci: Interprofessional learning, pendidikan kedokteran, team working PENDAHULUAN Artikel ini merupakan review dari artikel yang ditulis oleh Oneha, F. Yoshimoto, Cedric. Enos, dan Nui (2001) dari Wainae Coast Comprehensive Health Center, Hawaii, USA dengan judul Educating Health Professionals in Community Setting: What Students Value. Artikel tersebut merupakan laporan penelitian yang dilakukan oleh Tim Bagian Community Health Service, Waianae Coast Comprehensive Health Center, Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan penulis tersebut ditujukan untuk menggali pengalaman yang diperoleh siswa selama mengikuti kegiatan di Health Center yang kemudian sangat berpengaruh pada kegiatan praktik kedokteran yang mereka lakukan setelah mereka menjadi dokter. Metode yang dipergunakan dalam penelitian tersebut adalah survei, dengan 1 Bagian Medical Education Unit Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) * Email: endang271@yahoo.com

90 Vol. 3, No. 1, Januari - Juni 2011 mengirimkan kuesioner kepada 65 dokter yang selama menjalani pendidikan dokter pernah mengikuti kegiatan di Health Center tersebut. Tiga pertanyaan dalam kuesioner yang dikirimkan kepada para dokter tersebut adalah: (1) tiga pengalaman apa sajakah yang anda peroleh di Health Center yang sangat bermanfaat bagi praktik anda sekarang? (2) ada hal lain yang akan anda sampaikan kepada kami? (3) bekerja di manakah anda sekarang? Hasil dari penelitian survei tersebut menunjukkan bahwa ada tiga komponen yang sangat berpengaruh bagi kegiatan praktik mereka sekarang, yakni (1) pendekatan multiprofesional yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran (2) setting dan kontak dengan komunitas, (3) pemahaman budaya komunitas tempat melakukan praktik. Pengalaman yang mereka peroleh selama mengikuti kegiatan di Health center tersebut tenyata juga mempengaruhi pilihan kerjanya, sebagian besar telah dan berniat praktik di komunitas tertentu, seperti daerah pinggiran dan daerah yang belum memperoleh layanan kesehatan. Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa kurikulum kedokteran komunitas dengan pendekatan multiprofesional sangat relevan dengan kebijakan praktik pelayanan medis yang diterapkan saat ini di Amerika Serikat. Yang dimaksud multiprofesional adalah profesi dari berbagai disiplin seperti misalnya dokter, perawat, pekerja sosial, kesehatan masyarakat yang duduk bersama dan bekerja sama dalam satu tim untuk mengidentifikasi dan menerapkan program pelayanan kesehatan masyarakat. Kurikulum multiprofesional ini diterapkan bagi siswa di Universitas Hawai. Tujuan dari penerapan kurikulum tersebut adalah menyusun model pendidikan kesehatan yang berorientasi pada komunitas untuk berbagai profesi kesehatan. Siswa dari berbagai jurusan melakukan kegiatan dalam satu tim interdisipliner, maksudnya mereka bekerja bersama, menentukan kebijakan, tujuan kegiatan secara tim. Bedanya dengan tim multidisipliner adalah bahwa tim tersebut terdiri dari anggota dari berbagai bidang, kemudian bekerja dengan tujuan masing-masing, bukan satu tujuan tim. Proyek yang diberikan kepada tim interdisipliner ini adalah menyelesaikan masalah kesehatan di daerah pinggiran. Sebelumnya mereka mendapatkan pendidikan interdisipliner di daerah pinggiran Virginia. Keuntungan yang didapat dari kegiatan ini

91 adalah bahwa (1) mengembangkan kemampuan untuk mengidentifikasi peran yang harus dilakukan masing-masing profesi, yang selanjutnya dapat menumbuhkan rasa hormat kepada profesi lain (2) memberikan apresiasi pada dimensi kultural dengan cara hidup bersama di komunitas tempat meeka bertugas, dan mengikuti berbagai kegiatan kemunitas (3) menghormati kelebihan dan kontribusi masing-masing disiplin untuk menyelesaikan masalah tim (4) memiliki pengalaman bekerjasama dengan profesi lain. Penelitian tersebut sangat menarik dan memberikan informasi yang sangat bermanfaat mengenai pengaruh positif penerapan kurikulum community basedmultiprofessional bagi pendidikan kedokteran. Dalam tulisan ini akan dieksplorasi mengenai kegiatan community based multiprofessional education yang diterapkan dalam kegiatan di Health Center. Selanjutnya akan dijelaskan mengapa kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi praktik dokter dengan menggunakan teori Interdisciplinary Collaborative Practice (IDCP) yang dikemukakan oleh Orchard et al., (2005). Manfaat dalam konteks kepemimpinan apa sajakah yang dapat diperoleh melalui kegiatan tersebut juga akan dieksplor. Kemudian akan dikritisi pula mengenai kemungkinan penerapan multidisciplinary practice ini dalam kegiatan pendidikan kedokteran di Indonesia. Kajian terhadap teori pendidikan yang melandasi penerapan pendidikan multiprofessional Perlu ditegaskan mengenai perbedaan multi-professional dan interprofessional education, karena kedua terminologi tersebut sering dipergunakan secara bergantian bahkan yang satu menggantikan yang lain, padahal keduanya memiliki pengertian dan ciri yang berbeda. CAIPE (Centre for the Advancement of Inter-Professional Education, 1997) mendefinisikan multi-professional education sebagai proses pembelajaran yang terjadi ketika dua atau lebih profesi belajar berdampingan untuk tujuan apapun, sedangkan inter-professional education adalah proses pembelajaran yang terjadi ketika dua atau lebih profesi belajar dari dan mengenai satu profesi dengan profesi lainnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan (Lorente et al., 2006). Bertolak dari definisi ini, maka sesungguhnya istilah yang tepat untuk menjelaskan fenomena kegiatan di Wainae Coast Comprehensive Health Center, Hawaii, USA tersebut adalah inter-professional learning. Penggunaan istilah ini didasarkan pada adanya fenomena saling belajar dan mengajar

92 Vol. 3, No. 1, Januari - Juni 2011 antara satu profesi dengan lainnya, untuk memahami peran dan tanggung jawab masingmasing profesi. Dalam artikel tersebut, penulis tidak menyampaikan teori pendidikan yang melandasi diterapkannya pendekatan tersebut. Bagi pendidikan kedokteran, penerapan pendekatan multiprofesional ini adalah bagian dari upaya untuk memberikan pengalaman pembelajaran seperti yang akan dihadapi oleh pembelajar kelak di lingkungan kerjanya. Oleh karena itu, pendekatan ini selaras dengan teori konstruktivisme. Simon (2001) melaporkan bahwa dasar-dasar konstruktivisme yang melandasi penerapan pendekatan pembelajaran antara lain: - Belajar adalah proses aktif, dan pengalaman sangat mempengaruhi berarti atau tidaknya sebuah informasi. - Konsep yang dimiliki seseorang akan berkembang seiring dengan negosiasi makna dan berbagi pandangan dari berbagai perspektif. Perubahan representasi internal terjadi melalui kegiatan belajar kelompok. - Belajar harus disesuaikan dengan situasi yang nyata, yang akan dihadapi oleh pembelajar kelak. Secara umum dipahami bahwa kerja dokter dalam pelayanan medis akan selalu berhubungan dengan profesi-profesi lain, seperti perawat, dan bagian kesehatan masyarakat. Mahasiswa harus diberi pengalaman mengenai apa dan harus bagaimana berinteraksi dengan dan hormat kepada profesi lain, dengan komunikasi dan hubungan interpersonal yang baik. Jika pengalaman mengenai hubungan interpersonal dengan profesi lain tidak pernah diperoleh siswa selama pendidikan, maka bisa dimungkinkan mereka akan tidak siap atau butuh penyesuaian waktu yang lama untuk bekerjasama dengan profesi lain di tempat kerjanya kelak. Oleh karena itu, Pittilo dan Ross (1998), Orchard et al., (2005), Iedema et al., (2004) dan Horder (2000) semua menyarankan pentingnya mengembangkan kultur multiprofesional tersebut dalam pendidikan kedokteran. Konsep collaborative learning dan self directed learning inti dari pendekatan pembelajaran orang dewasa sangat mewarnai kegiatan pembelajaran dengan menggunakan community based multi-professional education ini. Pada umumnya, dalam

93 kegiatan work based learning seperti yang dilakukan di Waianae Coast Comprehensive Health Center ini menuntut siswa untuk secara mandiri menentukan tujuan yang akan diperoleh dalam kegiatan tersebut dan bentuk kegiatan yang akan dilakukan dan dipelajari, dengan difasilitasi oleh para tutor (Maclaren dan Marshall, 1998). Fenomena tersebut adalah gambaran aplikasi self directed learning. Aplikasi collaborative learning dapat dilihat dari kerjasama multiprofesi tersebut untuk melakukan interdisciplinary team-work, baik sejak penentuan tujuan dan kegiatan team, hingga pelaksanaan dan evaluasi kegiatan tersebut. Kajian terhadap manfaat multiprofessional education bagi pendidikan kedokteran Dalam penelitian yang dilakukan oleh Oneha et al., (2001) tersebut, dengan mengeksplorasi pendapat dokter yang sudah praktik yang dahulu pernah mengenyam pendidikan di Waianae Coast Comprehensive Health Center tersebut, diketahui bahwa manfaat pendekatan pelayanan dan pembelajaran multiprofesional tersebutlah yang dirasakan sangat bermanfaat bagi mereka dalam menjalankan tugas pelayanan saat ini, selain manfaat dari pembelajaran budaya komunitas tempat mereka belajar menjalankan tugas. Oneha et al., (2001) juga membahas manfaat kegiatan tersebut bagi pengembangan personal dan profesi serta kemampuan untuk memberikan arahan bagi pengembangan diri dan karier di masa yang akan datang. Pemberian pengalaman kepada siswa untuk melakukan pembelajaran pada konteks multiprofesionalme adalah ide yang sangat hebat. Banyak hal yang dapat dipelajari oleh siswa ketika melakukan multiprofessional education dengan menggunakan interdisciplinary team-work, antara lain adalah tumbuhnya pemahaman nilai-nilai kepakaran dari profesi pemberi pelayanan kesehatan yang beragam. Pelayanan interdisipliner memungkinkan siswa untuk melakukan partnership antara berbagai profesi pelayan kesehatan dan klien dengan menggunakan pendekatan partisipatoris, kolaboratif dan terkoordinasi untuk menyusun keputusan seputar masalah kesehatan. Terkait dengan interdisciplinary team-work ini, Orchard et al., (2005) menyusun konsep patient centered interdisciplinary collaborative practice (IDCP). Konsep frame-work IDCP dapat dilihat pada Gambar 1.

94 Vol. 3, No. 1, Januari - Juni 2011 Gambar 1. Proses perubahan selama pengembangan kekelompokan Secara teori, menurut Orchard et al., (2005), ada beberapa fase yang akan dilalui oleh kelompok dalam mengembangkan team-work, yakni fase sensitisasi, fase eksplorasi, fase implementasi dan fase evaluasi. Pada fase sensitisasi, terjadi penyusunan struktur organisasi, ketidaksetaraan kekuatan dan sosialisasi peran. Selanjutnya pada fase eksplorasi, terjadi klarifikasi peran yang harus dilakukan tiap individu dalam kelompok dan penghargaan peran masing-masing. Pada even klarifikasi peran, anggota kelompok mendiskusikan: (a) kejelasan pemahaman mengenai peran masing-masing, (b) percaya diri dengan kemampuan pribadinya, (c) mengenali hal-hal terkait dengan profesinya, (d) komitmen terhadap nilai dan etika profesinya, (e) mengetahui standard praktik pelayanan sesuai dengan profesinya masing-masing. Peran pasien dalam kegiatan kolaborasi ini juga harus dieksplor bersama pasien dan tim. Selanjutnya, pada fase implementasi terjadi proses saling mempercayai hubungan antar tiap anggota, yang ditandai dengan: (a) adanya pembagian tanggung jawab dalam pelayanan pasien, (b) pelayanan dilakukan secara kooperatif (c) pendekatan kerja tim

95 didasarkan pada kemauan untuk berpartisipasi dan keikutsertaan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, (d) power atau kekuasaan diberikan berdasarkan keilmuan yang dimiliki. Pada fase evaluasi, tim akan mengevaluasi efektivitas kerja tim. Beberapa hal yang menjadi bahan evaluasi adalah proses kerja kelompok, kepuasan anggota kelompok, luaran pelayanan (hasil yang diperoleh pasien), dan kepuasan pasien dan keluarganya. Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa kelompok yang produktif adalah kelompok yang memfokuskan diri pada tugas yang harus dilaksanakannya dan komunikasi antar kelompok. Pada pelaksanaan tugas, hal yang ikut berpengaruh dalam keberhasilannya adalah (a) kemampuan untuk melakukan kepemimpinan informal, (b) kemampuan untuk menyusun tujuan kegiatan, (c) kemampuan saling mempengaruhi, (d) negosiasi peran (e) kemampuan untuk membangun kekelompokan, (f) problem solving, (g) menentukan masalah, (h) manajemen konflik. Kunci keberhasilan lainnya adalah bagaimana perbedaan pendapat dan konflik yang terjadi dapat ditangani dan apakah perbedaan pendapat dapat diterima dengan cara yang baik. Jika keduanya dapat dikuasai oleh anggota kelompok, maka jalan team work akan berjalan dengan lancar. Bertolak dari penjelasan terakhir tersebut, bisa dipahami bahwa kemampuan kepemimpinan dan team working harus dikuasai oleh siswa baik mulai dari fase sensitisasi hingga evaluasi. Sayang sekali kuesioner Oneha et al., (2001) tidak secara spesifik memberikan pertanyaan mengenai manfaat aplikasi kepemimpinan dan pengelolaan team work yang telah mereka pelajari dalam multiprofessional education tersebut pada pekerjaan mereka sekarang. Dalam paper laporan hasil penelitian tersebut juga tidak banyak dibahas aspek kepemimpinan dan team working dalam pendidikan multiprofessional. Ketiga pertanyaan dalam kuesioner tersebut adalah pertanyaan umum yang harapannya akan memungkinkan munculnya jawaban yang sifatnya umum pula. Meskipun demikian, dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mendapat banyak pelajaran dari pendidikan multiprofessional yang dilaksanakan. Bisa jadi beberapa diantaranya adalah manfaat dari penerapan prinsip kepemimpinan, dan pengembangan team work, seperti pada konsep yang dijelaskan oleh Orchard et al., (2005).

96 Vol. 3, No. 1, Januari - Juni 2011 Kajian terhadap kemungkinan penerapan pendidikan interprofesional dalam pendidikan kedokteran di Indonesia Dari artikel yang ditulis oleh Oneha tersebut, diketahui bahwa kegiatan pendidikan multiprofesi ini dilakukan di sebuah Health Center di daerah urban yang dikelola oleh Universitas Hawaii. Mahasiswa dari berbagai jurusan terkait belajar bersama dan dikelompokkan dalam tim multiprofesi untuk melakukan kegiatan yang diatur oleh Health Center tersebut. Pertanyaannya kemudian apakah kegiatan seperti ini bisa dilakukan pada perguruan tinggi lain yang belum memiliki Health Center yang dikelola pribadi oleh Universitas? Mungkinkah pendidikan multiprofesi ini dilakukan di tempat lain, misalnya di rumah sakit pendidikan yang dikelola oleh universitas? Hal yang dapat kita pelajari dari artikel ini adalah tersedianya sarana pendidikan berupa Health Center di daerah urban, tempat siswa melakukan kegiatan dengan profesi lain. Ketersediaan sarana tersebut sangat mendukung penerapan community based curriculum. Fenomena tersebut sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada pendidikan dokter di Indonesia. Sekarang, hampir semua fakultas kedokteran di Indonesia mengklaim diri menerapkan kurikulum pendidikan kedokteran mengarahkan siswa untuk menjadi tenaga medis yang memberikan pelayanan kesehatan dasar dan menerapkan community based curriculum. Namun, jatah waktu praktik yang diberikan kepada siswa untuk berinteraksi dengan sarana pelayanan kesehatan dasar, seperti puskesmas, sangat minim pada umumnya hanya dilaksanakan pada saat rotasi bagian Kedokteran Komunitas. Sebagian besar praktik rotasi klinik dilakukan di rumah sakit. Dari artikel Oneha tersebut, selayaknya dapat diambil pelajaran bahwa layanan kesehatan dasar yang berbasis pada komunitas, tempat siswa berlatih untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar dan memahami seluk beluk pelayanan kesehatan dasar perlu disediakan oleh penyelenggara pendidikan kedokteran dan jatah waktu stase di layanan primer tersebut juga harus mencukupi hingga mahasiswa dapat mengenali tugas profesionalnya di layanan primer. Jika institusi pendidikan tidak mampu untuk mengelola sendiri, maka mereka dapat bekerjasama dengan institusi layanan kesehatan primer yang telah ada. Kerjasama dengan institusi layanan primer yang dikelola oleh departemen kesehatan memang merupakan alternatif penyelesaian yang disarankan oleh Pittilo dan Ross (1998), untuk mengatasi masalah tempat kegiatan pendidikan multiprofesi di UK. Meskipun

97 demikian, pendidikan multiprofesi tersebut sangat memungkinkan dilakukan pula di rumah sakit pendidikan maupun di tempat pelayanan kesehatan lain, ataupun di komunitas tertentu. Permasalahan yang urgen untuk dipertimbangkan sesungguhnya adalah apakah pihak-pihak yang terkait dengan pengambilan kebijakan mengenai kegiatan pendidikan yang harus ditempuh oleh mahasiswa dari berbagai jurusan atau bahkan fakultas yang berbeda tersebut dapat duduk bersama untuk merancang kegiatan pendidikan multiprofesi ini bagi mahasiswa mereka. Untuk menerapkan kegiatan ini, paling tidak ada dua atau tiga jurusan yang akan saling berinteraksi, seperti fakultas kedokteran, keperawatan, kebidanan, dan kesehatan masyarakat. Apakah mereka bersedia berkolaborasi untuk menyelenggarakan kegiatan ini, selain itu, siapakah yang harus menjadi pelopor untuk mengajak mereka duduk dalam satu forum memikirkan konsep pendidikan multiprofesi yang akan diterapkan untuk mahasiswa mereka? Tidak jarang pula pada perguruan tinggi tertentu, hanya memiliki fakultas kedokteran, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pendidikan multiprofesional. Berbagai realitas inilah yang memang kemudian menjadi kendala diterapkannya pendidikan multiprofesional di Indonesia. Menyadari bahwa pendekatan ini sangat bermanfaat bagi siswa untuk memberikan pengalaman belajar dalam konteks multiprofesi, sebagaimana yang akan mereka hadapi kelak di tempat kerja yang harus segera diselesaikan, maka permasalahan tersebut perlu segera diselesaikan. Untuk penerapan ketrampilan kepemimpinan dan team building, pada umumnya, institusi pendidikan kedokteran lebih memilih untuk mengambil jalan pintas dengan memberikannya dalam bentuk kegiatan team work di rotasi klinik dan perkuliahan, dan belum melalui multi professional education. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cornell dan Pascoe (2004) mengenai kurikulum kepemimpinan pada berbagai institusi pendidikan dokter menunjukkan bahwa delapan dari institusi pendidikan kedokteran yang ditelitinya, yang tergabung dalam Undergraduate Medical Education for the 21 st Century (UME-21) pada umumnya telah mengembangkan kurikulum kepemimpinan dan team working. Secara umum, prinsip-prinsip dan pentingnya kepemimpinan serta team work diajarkan dan diterapkan melalui kerjasama kelompok dalam rotasi klinik. Tiga institusi pendidikan yang diteliti mengajarkan kepemimpinan dan team working melalui

98 Vol. 3, No. 1, Januari - Juni 2011 kegiatan pengajaran dan workshop, dan satu institusi pendididkan dokter yang menggunakan gross anatomy dissection sebagai wahana untuk menerapkan konten material. Belum ada laporan mengenai pemberian materi kepemimpinan dan team working dalam konteks pendidikan kedokteran di Indonesia. Pengalaman kepemimpinan dan team working pada rotasi klinik yang beranggotakan profesi yang sama, yakni mahasiswa kedokteran, tentu berbeda dengan pengalaman kepemimpinan dan team working yang akan dipelajari oleh mahasiswa jika mereka melakukannya dengan profesi lain. Seperti dijelaskan oleh Orchard (2005) bahwa pengalaman praktik interdisipliner memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi dengan profesi lain, menghormati nilai-nilai dan kepakaran profesi lain, saling belajar, serta berbagi dalam membuat keputusan layanan hal yang tidak mungkin dilakukan dalam kegiatan team satu profesi, apapun bentuknya. Sesungguhnya, jika institusi pendidikan profesi kesehatan, baik kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat dan lain-lain, menyadari pentingnya pengalaman tersebut bagi siswa, maka harus dicari jalan keluar untuk mengatasi masalah sulitnya komunikasi dan kerjasama antar institusi pendidikan tenaga medis. Salah satu pemecahannya adalah yang dilakukan di Universitas Hawai tersebut. Jika kita telusur penjelasan Oneha diketahui bahwa kegiatan pendidikan multidisiplin ini dikelola sepenuhnya oleh Health Center. Mahasiswa fakultas kedokteran, keperawatan, social worker dan kesehatan masyarakat di perguruan tinggi tersebut dikirim oleh institusinya masing-masing untuk dikelola dan dibina oleh Health Center. Sesungguhnya konsep ini sudah diterapkan oleh beberapa Fakultas Kedokteran di Indonesia, yakni dengan mengirimkan mahasiswa untuk dididik di Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) yang dikelola oleh Departemen Kesehatan. Akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa jika desain pendidikan di BAPELKES tersebut adalah desain pendidikan multiprofesi bahkan interprofesi. Alternatif lain yang mungkin lebih ideal adalah kearifan komite atau tim yang bertanggungjawab menyusun kurikulum dari berbagai bidang, seperti kedokteran, keperawatan, kebidanan, kesehatan masyarakat, administrasi, hukum, dan lain-lain untuk duduk bersama merumuskan kurikulum pendidikan multiprofesional maupun interprofesional. Kurikulum disusun dengan mempertimbangkan bahwa kegiatan pembelajaran tersebut dilakukan pada setting rumah sakit pendidikan, layanan

99 kesehatan, maupun komunitas. Bagi perguruan tinggi yang belum memiliki bidang studi lain yang terkait dengan bidang kedokteran, misalnya hanya memiliki fakultas kedokteran saja, maka kegiatan multiprofesi di bidang medis dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan institusi pendidikan lain. Kesiapan pendidik juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Diketahui bahwa mahasiswa belajar dari dosen sebagai role model. Oleh karena itu, jika pendekatan ini hendak diterapkan, maka harus disepakati bersama pula oleh staf pengajar bahwa merekapun hendaknya memberikan contoh perilaku kinerja multiprofesi yang benar. Pembagian kerja, team working serta penghargaan terhadap profesi lain juga perlu ditekankan dan dicontohkan oleh dosen. Berbagai hasil penelitian menunjukkan pentingnya role model bagi pembelajaran profesi kedokteran (Haidet dan Stein, 2006; Maheux et al., 2000; Matthews, 2000; Purcell, 2003). Bahkan dalam penelitiannya, Elzubair dan Rizk (2001) menjelaskan bahwa karakteristik personal yang dipelajari dan dinilai serta dicontoh oleh mahasiswa dari dokter sebagai pengajar antara lain adalah perilaku penghargaan terhadap pasien, keluarga pasien, penghargaan terhadap dan kerjasama dengan staf dan kolega. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dosen benarbenar diposisikan oleh mahasiswa sebagai contoh, termasuk dalam konteks penghargaan terhadap profesi lain. Untuk kepentingan ini, perlu dilakukan penyiapan khusus secara kolaboratif oleh berbagai bidang yang akan saling bekerja sama dalam pendidikan multiprofesi dan atau interprofesi ini. KESIMPULAN Dari artikel yang ditulis oleh Oneha et al., (2001) mengenai pendidikan multiprofesional ini memberikan banyak pelajaran yang berharga untuk mengembangkan pendidikan dokter di Indonesia. Diskusi mengenai manfaat pendidikan multiprofesi bagi peningkatan kepemimpinan dan team building dengan profesi lain sudah diulas. Pengalaman dan peningkatan skill kepemimpinan dan team building memang bisa dilakukan dengan kegiatan kolaborasi dalam tim seprofesi, seperti misalnya dalam rotasi klinik. Akan tetapi, diyakini bahwa pengalaman untuk dapat menumbuhkan pemahaman dan penghargaan pada nilai-nilai kepakaran dari profesi pemberi pelayanan kesehatan yang beragam, melakukan partnership antara berbagai profesi pelayan

100 Vol. 3, No. 1, Januari - Juni 2011 kesehatan dan klien dengan menggunakan pendekatan partisipatoris, kolaboratif dan terkoordinasi untuk menyusun keputusan seputar masalah kesehatan, hanya bisa dilakukan melalui pendidikan multidisipliner. Persiapan yang perlu dilakukan adalah seputar penyusunan kurikulum multiprofesi dan interprofesi, penyiapan staf pengajar dan lingkungan pembelajaran multiprofesi dan interprofesi beserta kegiatannya. Mengingat pentingnya pemberian pengalaman pendidikan multidisipliner ini, pimpinan institusi pendidikan yang terkait dengan tenaga medis perlu duduk bersama untuk merancang kegiatan bersama multidisipliner tersebut. Kegiatan tersebut dapat ditangani oleh lembaga khusus, seperti di Health Center Universitas Hawai, atau ditangani bersama oleh institusi pendidikan sendiri di rumah sakit pendidikan. Salah satu institusi tersebut harus berdiri sebagai pemrakarsa, yang kemudian mengajak institusi lain untuk duduk dan mendiskusikan masalah krusial ini. DAFTAR PUSTAKA Cornell, M. dan Pascoe JM., 2004, Undergraduate Medical Education for the 21 st Century: Leadership and Teamwork, Family Medicine, 2004, Vol. 36, January, S51-S56. Haidet, P., Stein, H. F., 2006, The Role of the Student-Teacher Relationship in the Formation of Physicians The Hidden Curriculum as Process, J GEN INTERN MED; 21; S16-20 Horder, J., 2000, Leadership in multi-professional context, Medical Education, 2000 34, 203-205. Iedema, Y, Degeling, P, Braithwaite, J., 2004, Medical Education and Curriculum Reform: Putting reform proposals in context, Med Educ Online: 9:17 http://www.med-edonline.org. Lorente M., Hogg G., Ker J., 2006, The challenges of initiating a multi-professional clinical skills project, Journal of Interprofessional Care, June; 20(3): 290 301 Maclaren, P and Marshall, S., 1998, Who is the learner? An examination of the learner perspectives in Work-based learning, Journal of Vocational Education and Training, 50 (3), 327-336 Maheux, B., Beaudoin, C., Berkson, L., Gote, L., Marchais, J., Jean, P., 2000, Medical faculty as humanistic physician and teachers: The perception of students at innovative and traditional medical school, Medical Education; 34: 630-634. Matthews, C., 2000, Role modelling: How doest it influence teaching in family medicine, Medical Education; 34: 443-448. Oneha M F, Yoshimoto CM, Bell S, Enos RN, 2001, Educating Health Profisionals in a Community Setting: What students Value, Education for Health, 14, (2), 256-266.

101 Orchard AA, Curran V, and Kabene S, 2005, Creating a Culture for Interdisciplinary Collaborative Professional Practice, Med Ecuc Online: 10; 11, http://www.med-edonline.org Pittilo RM, Ross FM, 1998, Polecies for Interprofessional Education: Current Trends in The UK, Education fo Health, 11 (3) 285-295 Simon, SD., 2001, From Neo Behaviorism to Social Contructivism? The Paradigmatic Non- Evolution of Albert Bandura, Thesis submitted to Emory University, Downloaded at 24-11-2006.