BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pemotongan hewan Pacar Keling, Surabaya. dengan waktu pengamatan setiap 4 jam

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN. Biologi dan Laboratorium Biokimia, Departemen Kimia Fakultas Sains dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. AKTIVITAS KUALITATIF ENZIM KITINOLITIK (INDEKS KITINOLITIK)

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. aplikasi enzim menyebabkan penggunaan enzim dalam industri semakin luas.

LAMPIRAN. Lampiran 1. Foto Lokasi Pengambilan Sampel Air Panas Pacet Mojokerto

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. uji, yaitu uji resistensi logam berat, uji TPC (Total Plate Count), dan uji AAS

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Metode Pengukuran Spektrofotometri (Bergmeyer et al. 1974) Pembuatan Media Heterotrof Media Heterotrof Padat. Pengaruh ph, Suhu, Konsentrasi dan

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu pengekspor buah nanas yang menempati posisi

PERTUMBUHAN JASAD RENIK

LAMPIRAN Lampiran 1: Komposisi dan Penyiapan Media Skim Milk Agar, Komposisi Media Feather Meal Agar, Komposisi Media Garam Cair.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Hasil pengukuran Nilai OD pada Media NB. Tabel 1. Pengukuran Nilai OD pada Media NB. Waktu OD (Optical Density)

BAB I PENDAHULUAN. teknologi aplikasi enzim menyebabkan penggunaan enzim dalam industri semakin

III. METODE PERCOBAAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2014 di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim Protease dari Penicillium sp.

4 Hasil dan Pembahasan

Analisis Nitrit Analisis Chemical Oxygen Demand (COD) HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi dan Identifikasi Bakteri

BAB I PENDAHULUAN. sebagai sumber karbon dan sumber energi (Hardjo et al., 1994: 15).

Dr. Dwi Suryanto Prof. Dr. Erman Munir Nunuk Priyani, M.Sc.

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Isolasi dan identifikasi bakteri penambat nitrogen nonsimbiotik

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertumbuhan Total Bakteri Anaerob

dari reaksi kimia. d. Sumber Aseptor Elektron

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 Hasil dan Pembahasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Calf starter merupakan susu pengganti (milk replacer) yang diberikan ke

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pertumbuhan Konsorsium Bakteri Pada Biodekomposer

BAB IV Pemilihan Jamur untuk Produksi Lakase

HASIL. Karakteristik, Morfologi dan Fisiologi Bakteri Nitrat Amonifikasi Disimilatif

LAPORAN PRAKTIKUM PERSIAPAN MEDIA DAN STERILISASI OLEH : : RITA ANGGREANI WIDIASTUTI NIM : D1C KELOMPOK : IV KELAS : TPG-A 2014

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan yang semakin tinggi serta adanya tekanan dari para ahli dan pecinta

Kultivasi, reproduksi dan pertumbuhan Bakteri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dicampurkan dengan bahan-bahan lain seperti gula, garam, dan bumbu,

Sampel air panas. Pengenceran 10-1

Uji Potensi Bakteri dan Resistensi terhadap Antibiotik

IV PEMBAHASAN. 4.1 Kandungan Protein Produk Limbah Udang Hasil Fermentasi Bacillus licheniformis Dilanjutkan oleh Saccharomyces cereviseae

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I PENDAHULUAN...

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Data-data yang dihasilkan selama penelitian adalah sebagai berikut :

BAB III METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4 Isolat-isolat yang diisolasi dari lumpur aktif.

I. PENDAHULUAN. Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian

PERTUMBUHAN MIKROORGANISME

Media Faktor Jumlah Volvmie Total Plate Kode pengenceran koloni sampel Count Isolat. Nutrien agar 10' 26 0,1 26xlO'CFU/ml S Selektif 10' 4 0,1 - S-p

BAB V. PEMBAHASAN. 5.1 Amobilisasi Sel Lactobacillus acidophilus FNCC116. Amobilisasi sel..., Ofa Suzanti Betha, FMIPA UI, 2009

HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi dan Seleksi Bakteri Proteolitik

I. PENDAHULUAN. zat kimia lain seperti etanol, aseton, dan asam-asam organik sehingga. memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi (Gunam et al., 2004).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juli 2012 di Laboratorium. Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Bakteri asam laktat (BAL) adalah kelompok bakteri yang bersifat Gram

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian deskriptif

BAB I PENDAHULUAN. besar. Total penjualan protease di dunia mencapai 50-60%. Indonesia merupakan

TINJAUAN PUSTAKA. memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif seperti hewan. Inti

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2012 sampai bulan Desember 2012 di

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PERTUMBUHAN MIKROBA

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan jaman, dunia pengobatan saat ini semakin

I. PENDAHULUAN. tanpa ikut berubah di akhir reaksi (Agustrina dan Handayani, 2006). Molekul

I. PENDAHULUAN. Industri pertanian seperti PT.GGP (Green Giant Pinaeple) Lampung. menggunakan nanas sebagai komoditas utama dalam produksi.

BAB I PENDAHULUAN. industri dan pengobatan (Moon dan Parulekar, 1993). merupakan satu dari tiga kelompok enzim terbesar dari industri enzim dan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Isolasi Bakteri Selulolitik dari Tanah Mangrove

IV. Hasil dan Pembahasan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini isolat actinomycetes yang digunakan adalah ANL 4,

Pembiakan dan Pertumbuhan Bakteri

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Nimas Mayang Sabrina S, STP, MP Lab. Bioindustri, Jur Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Penelitian. Tabel 3. Pertumbuhan Aspergillus niger pada substrat wheat bran selama fermentasi Hari Fermentasi

RINGKASAN LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kedudukan taksonomi kapang Rhizopus oligosporus menurut Lendecker

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian yang dilakukan menggunakan daun sirsak (Annona muricata) yang

BAB II. latin menjadi natare yang berarti terapung-apung (Susanti,2006). Nata termasuk

I. PENDAHULUAN. Lampung adalah produsen tapioka utama di Indonesia. Keberadaan industri

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I PENDAHULUAN... 1

TINJAUAN PUSTAKA. (a) (b) (c) (d) Gambar 1. Lactobacillus plantarum 1A5 (a), 1B1 (b), 2B2 (c), dan 2C12 (d) Sumber : Firmansyah (2009)

bio.unsoed.ac.id I. PENDAHULUAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-November 2012 di

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Jumlah Bakteri Asam Laktat pada Media Susu Skim.

ISOLASI BAKTERI PENGHASIL PROTEASE DARI LIMBAH CAIR TAHU DI KOTA PADANG ABSTRACT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pengukuran zona hambat yang berikut ini disajikan dalam Tabel 2 : Ulangan (mm) Jumlah Rata-rata

II. TINJAUAN PUSTAKA. : Volvocales. : Tetraselmis. Tetraselmis sp. merupakan alga bersel tunggal, berbentuk oval elips dan memiliki

Uji Kosser Sitrat Hidrolisis Lemak Uji Oksidase dan Katalase Hidrolisis Gelatin Motilitas Hidrolisis Kasein Uji H2S Uji Indol Reduksi Nitrat

KURVA PERTUMBUHAN BAKTERI OD dan CFU

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

Media Kultur. Pendahuluan

Air Panas. Isolat Murni Bakteri. Isolat Bakteri Selulolitik. Isolat Terpilih Bakteri Selulolitik. Kuantitatif

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Penyiapan Inokulum dan Optimasi Waktu Inokulasi. a. Peremajaan Biakan Aspergillus flavus galur NTGA7A4UVE10

HASIL DAN PEMBAHASAN

Isolasi, Karakterisasi dan Uji Potensi Bakteri Penghasil Enzim Termostabil Air Panas Kerinci

POTENSI BAKTERI SELULOLITIK DALAM DEKOMPOSISI JERAMI PADI

II. TINJAUAN PUSTAKA. negatif dan oksidase positif, dengan asam laktat sebagai produk utama

BAHAN DAN METODE. Hrp -, IAA +, BPF Hrp -, IAA + + , BPF Hrp. , BPF Hrp -, IAA +, BPF + Hrp. , BPF Hrp. , BPF Hrp. Penambat Nitrogen Penambat Nitrogen

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. selulosa dan lignin yang terdapat pada dinding sel tumbuhan. Oleh karena

Lampiran 1 Prosedur uji aktivitas protease (Walter 1984, modifikasi)

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian tentang skrining dan uji aktivitas enzim protease bakteri hasil isolasi dari limbah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Pacar Keling Surabaya menghasilkan data-data sebagai berikut : 1. Isolat bakteri penghasil enzim protease yang berasal dari limbah rumah pemotongan hewan Pacar Keling, Surabaya 2. Kemampuan aktivitas kualitatif proteolitik isolat bakteri penghasil enzim protease 3. Kurva pertumbuhan bakteri selama 3 hari dari isolat yang terpilih, dengan waktu pengamatan setiap 4 jam 4. Nilai aktivitas proteolitik dari isolat bakteri yang terpilih, selama 3 hari dengan waktu pengamatan setiap 4 jam Uraian tentang hasil data-data penelitian tersebut disajikan dan dibahas berturut-turut sebagai berikut. 4.1 Isolasi dan Karakterisasi Isolat Bakteri Penghasil Enzim Protease Bakteri di isolasi dari limbah cair rumah pemotongan hewan Pacar Keling Surabaya. Dilakukan pengujian dengan metode pour plate (sebar) pada media Nutrien Agar plate. Kemudian dilakukan pengujian karakter secara makroskopis. Dari uji karakteristik secara makroskopis, didapatkan 12 isolat mikroba (5 bakteri, 7 yeast) dengan karakteristik koloni yang berbeda. Karakter makroskopis dapat diketahui dari bentuk koloni, warna koloni, tepi dan elevasi dari koloni. Dari 12

isolat yang didapat, dilakukan pengujian aktivitas proteolitik secara kualitatif dengan menumbuhkan satu loopfull isolat pada permukaan media selektif susu skim agar. Karakter makroskopis dari 12 isolat tersebut disajikan pada Tabel 4.1 di bawah ini. Tabel 4.1 Karakter makroskopis dua belas isolat bakteri proteolitik dari limbah rumah pemotongan hewan Pacar Keling Surabaya No Kode Isolat Bentuk Koloni Karakter Makroskopis Warna Koloni Tepi Elevasi 1 RPH 1.1 Bulat Putih kusam Rata Cembung 2 RPH 2.1 Bulat Putih kusam Tidak rata Cembung 3 RPH 2.3 Bulat Putih kusam Rata Cembung 4 RPH 2.4 Bulat Putih kusam Rata Cembung 5 RPH 2.5 Bulat Putih kusam Rata Cembung 6 RPH 1.2 Bulat Pink keoranyean Rata Rata 7 RPH 1.3 Bulat kecil Putih susu Rata Cembung 8 RPH 2.2 Bulat Putih susu Rata Rata 9 RPH 2.6 Bulat Orange kemerahan Rata 10 RPH 2.7 Bulat Putih Rata - 11 RPH 2.8 Bulat Putih Tidak rata - Rata 12 RPH 2.9 Bulat Putih Rata Rata Dari ciri-ciri karakter makroskopis tersebut, hanya lima isolat yang diambil untuk dilakukan pengujian aktivitas proteolitik. Hal ini disebabkan tujuh isolat yang lain diduga kelompok yeast, sementara penelitian ini difokuskan untuk

mencari bakteri-bakteri yang berpotensi dalam menghasilkan enzim protease. Setelah dipilih lima isolat bakteri, selanjutnya dilakukan pengamatan karakter mikroskopis yaitu dengan pewarnaan gram dan pengamatan bentuk sel. Karakter mikroskopis dari kelima isolat tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan diperjelas pada Gambar 4.1. Tabel 4.2 Karakter mikroskopis lima isolat bakteri proteolitik dari limbah rumah pemotongan hewan Pacar Keling Surabaya No Kode Isolat Bentuk Gram 1 RPH 1.1 Kokus Negatif 2 RPH 2.1 Kokus Negatif 3 RPH 2.3 Basil berantai Positif 4 RPH 2.4 Kokus Positif 5 RPH 2.5 Kokus Negatif

Gambar 4.1 Karakter mikroskopis lima isolat bakteri proteolitik hasil isolasi dari limbah rumah pemotongan hewan Pacar Keling Surabaya dengan menggunakan pewarnaan Gram pada perbesaran 1000x (Keterangan gambar : A. Isolat RPH 1.1; B. Isolat RPH 2.1; C. Isolat RPH 2.3; D. Isolat RPH 2.4; E. Isolat RPH 2.5) 4.2 Uji Karakteristik Isolat Bakteri Penghasil Protease 4.2.1 Uji kualitatif aktivitas proteolitik isolat bakteri penghasil protease Media yang digunakan untuk uji secara kualitatif pada penelitian ini adalah susu skim yang disuspensikan dalam medium. Isolat bakteri dari agar

miring diambil satu loopfull dan ditotolkan pada media susu skim agar plate. Setelah inokulasi dan inkubasi kultur plate agar, bakteri mensekresikan protease. Hal ini diperlihatkan dengan adanya daerah bening di sekeliling pertumbuhan bakteri. Susu skim mengandung kasein yang berfungsi sebagai substrat enzim. Kasein merupakan protein susu yang terdiri dari fosfoprotein yang berikatan dengan kalsium membentuk garam kalsium yang disebut kalsium kalseinat (Pakpahan, 2009). Hidrolisis kasein digunakan untuk memperlihatkan aktivitas hidrolitik protease. Protease mengkatalisis degradasi kasein yaitu dengan memutuskan ikatan peptida CO-NH dengan masuknya air ke dalam molekul. Reaksi tersebut melepaskan asam amino. Dari lima isolat yang diuji secara kualitatif, didapatkan bahwa semua isolat menunjukkan adanya aktivitas proteolitik. Aktivitas proteolitik suatu bakteri dapat ditunjukkan dari indeks hidrolisis, dimana dapat dihitung dengan cara membandingkan diameter lingkaran jernih dengan diameter koloni. Dari pengujian tersebut, dipilih satu isolat bakteri yang menunjukkan indeks hidrolisis tertinggi. Hasil uji indeks hidrolisis terhadap lima isolat uji dapat dilihat pada Tabel 4.3 serta hasil indeks hidrolisis terbesar dapat dilihat pada Gambar 4.2. Tabel 4.3 Hasil uji indeks hidrolisis pada lima isolat bakteri. Kode Isolat Indeks Hidrolisis RPH 1.1 0,23 ± 0,025 RPH 2.1 0,98 ± 0,025 RPH 2.3 1,77 ± 0,025

RPH 2.4 1,14 ± 0,025 RPH 2.5 1,55 ± 0,025 a b c Gambar 4.2 Zona jernih sebagai indikator adanya aktivitas hidrolisis dari isolat terpilih RPH 2.3 (Keterangan gambar : a. Koloni bakteri, b. zona hidrolisis, c. media skim milk agar) Zona jernih yang terbentuk ini dikarenakan bakteri mensekresikan enzim protease yang digunakan untuk menghidrolisis kasein menjadi asam amino. Menurut Lehninger (2005), aktivitas suatu enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ph, konsentrasi substrat dan enzim, suhu dan adanya aktivator atau inhibitor. Adanya perbedaan diameter zona jernih ini disebabkan perbedaan kemampuan tiap mikroba dalam memproduksi enzim protease, sehingga aktivitas yang dihasilkan juga berbeda. Untuk itu, kandungan protease dalam bakteri tersebut perlu ditentukan secara kuantitatif (Susanti, 2003).

Untuk memperoleh hasil kandungan protease bakteri secara kuantitatif, dilakukan produksi enzim protease terlebih dahulu dan diiringi dengan pembuatan kurva pertumbuhan bakteri terpilih. 4.2.2 Uji karakteristik mikroskopis dan fisiologis isolat bakteri penghasil protease Dari data di atas, isolat bakteri terpilih yang memiliki indeks hidrolisis terbesar adalah isolat berkode RPH 2.3 yaitu sebesar 1,77 mm. Dari hasil pengamatan mikroskopis pewarnaan Gram, beberapa hasil uji fisiologis menggunakan kit Microbact 12A dan 12B, pewarnaan endospora, dan uji amilase, dengan menggunakan perhitungan persentase indeks kesamaan menggunakan koefisien sebanding (Barrow, et al.,1993) menunjukkan bahwa isolat RPH 2.3 memiliki persentase indeks kesamaan sebesar 71% terhadap genus Bacillus gram positif, berbentuk basil berantai, membentuk endospora, dan bersifat katalase positif. Hasil pewarnaan gram dan pewarnaan endospora isolat RPH 2.3 dapat dilihat pada Gambar 4.3 dan 4.4, serta hasil uji fisiologis menggunakan kit Microbact 12A dan 12B dapat dilihat pada lampiran.

Sel bakteri Gambar 4.3 Hasil pewarnaan gram isolat RPH 2.3 dan diamati dengan perbesaran 1000x Endospora Gambar 4.4 Hasil pewarnaan endospora isolat RPH 2.3 dan diamati dengan perbesaran 1000x

4.3 Kurva Pertumbuhan Bakteri dan Produksi Enzim Protease dari Bakteri Terpilih Istilah pertumbuhan yang umum digunakan untuk bakteri dan mikroorganisme lain, yang biasanya mengacu pada perubahan di dalam hasil panen sel (pertambahan total sel) dan bukan perubahan individu organisme. Bakteri memiliki ciri khas bereproduksi yaitu dengan pembelahan biner melintang, di mana satu sel bakteri membelah diri, dan menghasilkan dua sel. Selang waktu yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri atau untuk populasi menjadi dua kali lipat dikenal sebagai waktu generasi. Tidak semua spesies bakteri mempunyai waktu generasi yang sama. Waktu generasi untuk suatu spesies bakteri tertentu juga tidak sama pada segala kondisi. Waktu generasi sangat bergantung pada kecukupan nutrien di dalam medium, serta pada kesesuaian kondisi fisik (Pelczar dan Chan, 2005). Pada penelitian ini, pembuatan kurva pertumbuhan bakteri dan pengukuran produksi enzim dari bakteri terpilih dilakukan menurut metode Enggel et al. (2004), pada selang waktu inkubasi 4 jam sekali selama 3 hari. Kekeruhan medium pada selang waktu tertentu mengindikasikan bahwa bakteri memperbanyak sel dalam medium. Kekeruhan terjadi karena sel bakteri tumbuh, berkembang, memperbanyak diri dan mensekresikan enzim ke medium kultur (Susanti, 2003). Starter berupa kultur bakteri dalam media Nutrien Broth dengan Optical Density 0,5 pada panjang gelombang 660 nm, sebanyak 1% kultur bakteri dimasukkan ke dalam medium produksi protease. Kemudian dilakukan

penghitungan jumlah sel untuk pembuatan kurva pertumbuhan bakteri dengan metode Total Plate Count selama inkubasi 3 hari, dan diiringi dengan produksi enzim protease. Hasil perhitungan dengan cara hitungan cawan yang menggunakan Total Plate Count (TPC) diperoleh grafik yang menghubungkan antara waktu inkubasi dan jumlah sel yang dapat dilihat pada Gambar 4.5. Gambar 4.5. Kurva pertumbuhan Bacillus sp. RPH 2.3 yang ditumbuhkan pada media skim milk selama 72 jam Dari data di atas jika dihubungkan garis lurus pada waktu inkubasi 4 jam hingga 32 jam bakteri mengalami fase log. Fase log yaitu fase dimana setelah mikroba menyesuaikan diri dengan lingkungan, maka sel mikroba membelah dengan cepat. Pada fase ini kecepatan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh medium tempat tumbuhnya, seperti ph, kandungan nutrien, suhu dan kelembaban

udara. Pada fase ini sel membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan dengan fase lainnya, selain itu sel paling sensitif terhadap keadaan lingkungan. Pada waktu inkubasi setelah 32 jam, bakteri mengalami fase eksponensial diperlambat. Pada fase ini pertumbuhan bakteri diperlambat, karena beberapa sebab, diantaranya berkurangnya nutrisi di dalam medium, dan adanya zat hasil metabolisme yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada fase ini kecepatan pertumbuhan sel konstan, tetapi jumlah populasi masih naik. Hal ini karena jumlah sel yang tumbuh lebih banyak daripada jumlah sel yang mati. Pada waktu inkubasi setelah 68 jam, bakteri mengalami fase stasioner. Pada fase ini jumlah populasi sel relatif tetap karena jumlah sel yang tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati. Pada fase stasioner ini sel kehabisan nutrien untuk tumbuh dan membelah sehingga jumlah pertumbuhan sel cenderung mendatar atau terjadi akumulasi produk toksik akibat metabolisme sehingga mengganggu pembelahan sel. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba adalah tersedianya nutrien, air, suhu, ph, oksigen, potensial oksidasi reduksi, adanya zatzat penghambat, dan adanya jasad renik lain. Mikroba membutuhkan nutrien untuk kehidupan dan pertumbuhannya sebagai sumber karbon, sumber nitrogen, sumber energi dan faktor pertumbuhan lain seperti vitamin dan mineral. Nutrien tersebut dibutuhkan untuk membentuk energi dan menyusun komponenkomponen sel (Waluyo, 2004). Nutrien yang dibutuhkan bakteri pada penelitian ini tersedia dari media pertumbuhannya, yaitu susu skim yang di kombinasi dengan media Bushnell

Hass. Susu merupakan media yang sesuai untuk pertumbuhan mikroba karena kaya akan nutrien. Komposisi susu yaitu air, lemak, protein, laktosa, mineral, vitamin dan enzim. Sedangkan susu skim merupakan susu dengan kadar lemak yang rendah. Jadi susu skim masih memiliki semua bahan yang dibutuhkan mikroba untuk kehidupan dan pertumbuhannya. Setelah membuat kurva pertumbuhan bakteri, dilanjutkan dengan pengujian aktivitas proteolitik secara kuantitatif. Hal ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas proteolitik berdasarkan jumlah asam amino yang dihasilkan dari hidrolisis kasein. 4.4 Uji kuantitatif aktivitas proteolitik dari isolat bakteri terpilih Protease adalah enzim yang mengkatalisis pemecahan ikatan peptida dalam peptida, polipeptida, dan protein menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana seperti peptida rantai pendek dan asam amino (Naiola dan Widyastuti, 2002). Proses pemecahan ikatan peptida menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana oleh enzim protease disebut aktivitas proteolitik. Aktivitas proteolitik ditentukan dengan metode Enggel, (2004). Pada metode ini kasein digunakan sebagai substrat. Enzim protease yang disekresi oleh sel bakteri akan menghidrolisis kasein untuk menghasilkan asam amino. Besarnya aktivitas proteolitik ditentukan berdasarkan jumlah tirosin yang dihasilkan dari hidrolisis kasein, dan dilakukan dengan mengukur serapan pada panjang gelombang 660 nm.

Pada tahap pengukuran aktivitas proteolitik tersebut juga digunakan asam trikhloroasetat (TCA) yang berfungsi untuk menghentikan reaksi enzimatis. Selain itu juga digunakan natrium karbonat (Na 2 CO 3 ) yang dapat mengikat air di dalam larutan. Sebagai reagen pewarna digunakan Folin Ciocalteau yang akan bereaksi dengan protein dan memberikan warna biru gelap. Intensitas warna yang terbentuk tergantung pada jumlah asam amino aromatik yang ada di dalam larutan tersebut. Satu unit aktivitas proteolitik dinyatakan sebagai jumlah enzim yang dapat menghasilkan 1 µg tirosin setiap ml setiap menit dalam kondisi pengukuran. Hasil pengujian aktivitas proteolitik dari isolat bakteri yang terpilih dengan waktu inkubasi yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 4.6. Gambar 4.6. Uji aktivitas proteolitik Bacillus sp. RPH 2.3 yang ditumbuhkan pada media skim milk selama 72 jam (Keterangan gambar : Aktivitas proteolitik (U/ml) poly.(aktivitas proteolitik (U/ml)))

Dari hasil pengujian aktivitas proteolitik menunjukkan Bacillus sp. RPH 2.3 aktif menghasilkan protease selama pertumbuhannya. Pada grafik dapat dilihat Bacillus sp. RPH 2.3 memiliki aktivitas proteolitik secara kuantitatif yang tertinggi sebesar 11,60 U/ml dengan waktu inkubasi 20 jam pada suhu 37 C dan pada ph 6,5. Pada ph 6,5 ini merupakan ph optimum, karena pada kondisi ph ini enzim dapat bekerja dengan aktivitas tertinggi yang dapat dilakukannya. Tetapi, pada waktu inkubasi setelah 20 jam dengan ph 7, aktivitas proteolitik semakin menurun. Hal ini disebabkan, pada ph tertentu enzim sama sekali tidak aktif atau bahkan rusak yang mengakibatkan menurunnya aktivitas enzim. Menurut Poedjiadi (1994), dapat diketahui bahwa enzim merupakan molekul protein yang kestabilannya dapat dipengaruhi oleh tingkat keasaman lingkungan, dimana pada kondisi keasaman yang ekstrim molekul-molekul protein enzim akan rusak. Pada penelitian Akhdiya (2003), menggunakan bakteri pembanding yaitu Bacillus firmus NRRL B-1107 yang diperoleh dari Northern Utilization Research and Development Division of the US Departement of Agriculture, Peoria, Illinois. Bakteri tersebut memiliki aktivitas protease sebesar 11,259 U/ml dengan suhu inkubasi 37 C. Jika dibandingkan dengan penelitian yang sudah ada, Bacillus sp. RPH 2.3 ini dengan suhu inkubasi 37 C memiliki aktivitas yang lebih besar daripada Bacillus firmus NRRL B-1107 yang merupakan bakteri mesofil. Menurut penelitian Naiola dan Widhyastuti (2002), menyatakan bahwa Bacillus sp. yang diisolasi dari makanan fermentasi, tanah dan air sungai memiliki aktivitas protease tertinggi sebesar 1,14 U/ml dengan kondisi ph optimum

berkisar antara 5,0-6,0. Dari penelitian tersebut dapat terlihat kecenderungan media yang sesuai untuk produksi protease adalah media dengan kondisi ph sedikit asam sampai netral. Jika dihubungkan antara kurva pertumbuhan bakteri dengan uji aktivitas proteolitik dapat dilihat bahwa pada fase pertumbuhan cepat bakteri menghasilkan aktivitas proteolitik tinggi yang dicapai pada waktu inkubasi 20 jam. Hal ini disebabkan masih tersedianya nutrisi dalam jumlah besar yang diperlukan sel bakteri untuk melakukan metabolisme sel, sehingga jumlah log sel bakteri juga mengalami peningkatan, yaitu sebesar 14,14 CFU/ml. Pada waktu inkubasi setelah 20 jam, aktivitas enzim protease yang dihasilkan mengalami penurunan. Jika dihubungkan dengan kurva pertumbuhan bakteri, pada waktu inkubasi setelah 20 jam ini bakteri menuju fase eksponensial diperlambat. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, seperti zat nutrisi di dalam medium sudah mulai berkurang yang mengakibatkan jumlah sel mikroorganisme sedikit, sehingga enzim yang disekresikan juga semakin menurun. Selain itu, adanya hasil metabolisme yang mungkin beracun sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada 68 jam bakteri menghasilkan aktivitas enzim yang semakin menurun. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan bakteri pada saat tersebut mengalami fase stasioner dimana zat nutrisi di dalam medium sangat sedikit, sehingga aktivitas yang dihasilkan juga semakin menurun. Hubungan antara kurva pertumbuhan bakteri dengan uji aktivitas proteolitik pada waktu inkubasi 4 hingga 20 jam dan 24 hingga 72 jam dapat dilihat pada Gambar 4.7 dan 4.8.

Gambar 4.7. Hubungan antara kurva pertumbuhan dengan uji aktivitas proteolitik Bacillus sp. RPH 2.3 pada waktu inkubasi 4 jam hingga 20 jam Gambar 4.8. Hubungan antara kurva pertumbuhan dengan uji aktivitas proteolitik Bacillus sp. RPH 2.3 pada waktu inkubasi 24 jam hingga 72 jam

Dari grafik 4.7 dapat dilihat bahwa aktivitas proteolitik pada waktu inkubasi 4 hingga 20 jam semakin meningkat serta diiringi dengan meningkatnya kurva pertumbuhan bakteri. Telah dijelaskan sebelumnya, pada waktu inkubasi hingga 20 jam bakteri mengalami fase log. Dimana pada fase ini bakteri membutuhkan nutrisi yang banyak untuk pertumbuhan dan pembelahan sel. Pada penelitian ini nutrisi atau substrat yang digunakan adalah kasein, dimana dapat dihubungkan dengan salah satu ciri enzim yaitu kekhususan yang tinggi terhadap substrat. Mekanisme reaksi enzimnya adalah enzim dan substrat akan bergabung menjadi kompleks enzim substrat, yang kemudian terurai menjadi produk. Enzim tersebut tidak terkonsumsi di dalam reaksinya tetapi dilepaskan kembali untuk reaksi selanjutnya. Proses ini diulang-ulang sampai semua molekul substansi yang tersedia habis terpakai. Banyak bakteri dapat menghancurkan protein di luar tubuhnya dan menggunakan produk-produk hasil proses tersebut sebagai sumber tenaga karbon dan nitrogen. Karena molekul protein terlampau besar untuk dapat melewati membran, bakteri mensekresikan protease yang menghidrolisis protein tersebut menjadi peptide-peptide. Bakteri menghasilkan peptidase yang menguraikan peptide menjadi asam-asam amino yang diperlukan untuk metabolisme (Pelczar dan Chan, 2005). Sedangkan pada grafik 4.8 dapat dilihat bahwa pada waktu inkubasi setelah 20 jam aktivitas proteolitik cenderung menurun tetapi kurva pertumbuhan bakteri masih meningkat. Hal ini dikarenakan adanya pengendalian aktivitas enzim yang diatur oleh ligan (molekul yang dapat terikat oleh enzim) yang tidak

turut berperan dalam proses katalitik itu sendiri. Pengendalian aktivitas enzim yang dimaksud adalah hambatan arus-balik (feedback inhibition). Pada hambatan arus-balik, ligan pengaturnya adalah produk akhir suatu lintasan metabolik yang dapat menghentikan sintesisnya sendiri dengan cara menghambat aktivitas enzim. Produk akhir dari reaksi enzim disini adalah asam amino, dimana asam amino akan menghambat aktivitas protease jika asam amino yang dihasilkan menumpuk. Sehingga mengakibatkan aktivitas enzim protease yang dihasilkan menurun (Pelczar dan Chan, 2005). Penurunan aktivitas proteolitik ini juga dapat terjadi karena berkurangnya jumlah substrat yang akan menghambat pembentukan kompleks enzim substrat dan perubahan struktur enzim yang akan menyebabkan penurunan laju katalitik. Akibat perubahan struktur enzim, sisi aktif enzim mengalami perubahan bentuk sehingga tidak dapat digunakan secara baik dalam mengikat substrat (Pakpahan, 2009). 4.5 Menentukan Titik Maksimum Grafik Uji Aktivitas proteolitik Dari grafik uji aktivitas enzim protease, didapatkan fungsi y = -0,025x 2 + 1,060x + 0,826 dan R 2 = 0,920. Dari fungsi tersebut, didapatkan titik maksimum dengan x = 21,2 dan y = 12,062. Dari hasil yang diperoleh, dapat dijelaskan bahwa titik maksimum dari grafik tersebut ada diantara 20 jam dan 24 jam. Pada titik maksimum tersebut, merupakan fase log pertumbuhan dengan aktivitas enzim yang tinggi. Hasil perhitungan dengan menggunakan program Mathematica 5 dapat dilihat pada lampiran 12.