AKUNTABILITAS PENDIDIKAN. As ari Djohar

dokumen-dokumen yang mirip
AKUNTABILITAS PENDIDIKAN. As ari Djohar

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS. Dalam Modul Pembentukan Auditor Ahli yang berjudul Akuntabilitas

A.Analisis Analisis Capaian Kinerja. Pengukuran Kinerja

BERITA NEGARA. KEPOLISIAN. LAKIP. Penyusunan. Laporan.

Bahan Diskusi SIMULASI PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS DAN RENCANA KERJA SKPD BERBASIS KINERJA

AKUNTABILITAS KINERJA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

2 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tamba

BAB V PERTANGGUNGJAWABAN LURAH

BUPATI KAPUAS HULU PROVINSI KALIMANTAN BARAT

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Ke

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam upaya memberi pertanggungjawaban terhadap tingkat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Akuntansi dan Sistem Pelaporan Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PEDOMAN. PENYUSUNAN LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKj) DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

IKHTISAR EKSEKUTIF. dan laporan kinerja, maka disusunlah Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi

BAB I PENDAHULUAN. melalui Otonomi Daerah. Sejak diberlakukannya Undang-Undang No.22 tahun

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

3 AKUNTABILITAS KINERJA

PETUNJUK PELAKSANAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN PUSAT KERJASAMA LUAR NEGERI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

I. PENDAHULUAN. Meningkat pesatnya kegiatan pembangunan serta laju pertumbuhan

RENCANA KERJA (RENJA) TAHUN ANGGARAN 2018

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2013

B.IV TEKNIK PENGUKURAN KINERJA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN AGAMA

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA

PENYUSUNAN PERJANJIAN KINERJA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Bab I Pendahuluan 1 BAB I PENDAHULUAN

EVALUASI KINERJA AKUNTABILITAS POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN

BAB II TELAAH PUSTAKA DAN MODEL PENELITIAN

PEMERINTAH KOTA SOLOK LAPORAN KINERJA TAHUN 2016

Perencanaan Stratejik, Pertemuan ke 4

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kata Pengantar. Semarang, Pebruari 2016 Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Tinjauan pustaka yang digunakan dalam penelitian ini berkaitan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembangunan sumber daya

Pada hakekatnya reformasi birokrasi pemerintah merupakan proses

L A P O R A N K I N E R J A

BAB II RENCANA STRATEGIS

2016, No Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 267, Tamba

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

B. TUGAS POKOK DAN FUNGSI

BAB I PENDAHULUAN. Renstra BAPPEDA I - 1

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015 NOMOR 14

LAPORAN AKUNTABILITAS DAN KINERJA PEMERINTAH (LAKIP)

BAB IV VISI, MISI,TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN, PENDAPATAN DAN ASSET DAERAH

B.IV TEKNIK PENYUSUNAN PERENCANAAN KINERJA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN AGAMA

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 88 TAHUN 2011 TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (SAKIP) DI LINGKUNGAN BADAN STANDARDISASI NASIONAL

PEDOMAN PENYUSUNAN PK BPS

BAB I PENDAHULUAN. birokrasi dalam berbagai sektor demi tercapainya good government. Salah

TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENENGAH DINAS PELAYANAN PAJAK PEMERINTAH KOTA BANDUNG

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

PEDOMAN PENYUSUNAN PERJANJIAN KINERJA DAN PELAPORAN KINERJA DI LINGKUNGAN KOMISI PEMILIHAN UMUM

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) BAGIAN HUMAS SETDA KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013

2016, No Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 216 Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 5584); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tah

I. Pengertian BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Hakekat dari otonomi daerah adalah adanya kewenangan daerah yang lebih

BERITA DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN WALIKOTA SEMARANG

RENCANA KINERJA TAHUN

L A P O R A N K I N E R J A

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

2 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Ev

ngadilan Agama Tangerang

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERJANJIAN DAN PELAPORAN KINERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEDOMAN PENYUSUNAN PELAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN

S A L I N A N BERITA DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 91 TAHUN No. 91, 2016 TENTANG

Kata Pengantar. Semarang, Maret 2015 Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah

BAB I PENDAHULUAN. Rappang terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2008 tentang

Tabel 4.9 Tabel Visi menggambaran tentang keadaan masa depan yang berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan instansi pemerintah Tabel 4.

BAB I PENDAHULUAN. penerimaan dan pengeluaran yang terjadi dimasa lalu (Bastian, 2010). Pada

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) DINAS PERHUBUNGAN KABUPATEN INDRAGIRI HULU TAHUN

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

B.IV TEKNIK PENYUSUNAN LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN AGAMA

SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (SAKIP) DAN LAPORAN AKUNTANTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP)

BAB I PENDAHULUAN. kebijakan ekonomi untuk daerah maupun kebijakan ekonomi untuk pemerintah

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN ANGGARAN BERBASIS KINERJA (APLIKASI UNTUK PEMERINTAH PUSAT)

KATA PENGANTAR. Bandung, Januari 2015 KEPALA BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIJINAN TERPADU PROVINSI JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. akuntabel serta penyelenggaraan negara yang bersih dari unsur-unsur KKN untuk

SASARAN REFORMASI BIROKRASI

Transkripsi:

AKUNTABILITAS PENDIDIKAN As ari Djohar A. Pengertian Akuntabilitas: Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewajiban untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Akuntabilitas dapat diinterpretasikan mencakup keseluruhan aspek tingkah laku seseorang yang mencakup baik prilaku bersifat pribadi dan disebut dengan akuntabilitas spiritual, maupun prilaku yang bersifat eksternal terhadap lingkungan dan orang sekeliling. Akuntabilitas pendidikan dapat diartikan adalah suatu kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan Institusi pendidikan kepada pihak yang memiliki hak seperti orang tua peserta didik/masyarakat atau berkewajiban untuk meminta keterangan atau pertanggung jawaban seperti wakil rakyat atau lembaga masyarakat. B. Prinsip-Prinsip Akuntabilitas. Dalam pelaksanaan akuntabilitas pendidikan perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Harus ada komitmen dari pimpinan mulai dari pimpinan Departemen DikNas, Dinas pendidikan propinsi, Dinas pendidikan Kabupaten / Kota Tk II, Pimpinan Sekolah untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi Pendidikan Nasional agar akuntabel. b. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. d. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh. e. Harus jujur, obyektif, transparan, dan inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen di lingkungan Depdiknas, Dinas pendidikan, lembaga penyelenggara

pendidikan dalam bentuk pemutakhiran metode dan teknik pengukuran kinerja dan penysunan laporan akuntabilitas. f. Akuntabilitas kinerja harus pula menyajikan penjelasan deviasi antara realisasi kegiatan dengan rencana serta keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. C. Perencanaan Strategik Dalam sistem akuntabilitas kinerja, perencanaan strategik merupakan langkah awal untuk melaksanakan mandat. Perencanaan strategik, memerlukan integrasi antara keahlian sumberdaya manusia dan sumber daya lainnya agar mampu menjawab tuntutan perkembangan lingkungan strategis, nasional dan global. Analisis terhadap lingkungan organisasi baik internal maupun eksternal merupakan langkah yang sangat penting dalam memperhitungkan kekuatan ( strengths ), kelemahan ( weakness ), peluang (opportunities) dan tantangan/kendala ( threats ) yang ada. Perencanaan strategis yang disusun oleh LPTK harus mencakup: (1) Pernyataan visi, misi, strategi dan faktor-faktor keberhasilan lembaga, (2) Rumusan tentang tujuan, sasaran dan uraian aktivitas LPTK, dan (3) Uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Dengan visi, misi dan strategi yang jelas, diharapkan LPTK akan dapat menyelaraskan denga potensi, peluang dan kendala yang dihadapi. Perencanaan strategik bersama dengan pengukuran kinerja serta evaluasinya merupakan rangkaian sistem akuntabilitas kinerja yang penting. D. Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Pengukuran kinerja punya makna ganda, yaitu pengukuran kinerja sendiri dan evaluasi kinerja. Untuk melaksanakan kedua hal itu, terlebih dahulu harus ditentukan tujuan program secara jelas. Program dirancang, termasuk penciptaan indikator kinerja atau ukuran keberhasilan pelaksanaan program, sehingga dengan demikina dapat diukur dan dievaluasi tingkat keberhasilannya. Pengukuran kinerja merupakan jembatan antara perencanaan strategis dengan akuntabilitas. Suatu instansi/lembaga dapat dikatakan berhasil jika terdapat bukti-bukti

atau indikator-indikator atau ukuran-ukuran capaian yang mengarah pada pencapaian misi. Pengukuran kinerja merupakan suatu pembenaran yang logis atas pencapaian misi organisasi/lembaga. Hal-hal yang berkait dengan pengukuran kinerja adalah : penetapan indikator kinerja, penetapan capaian kinerja dan formulir pengukuran kinerja. 1. Penetapan Indikator Kinerja. Penetapan indikator kinerja merupakan proses identifikasi dan klasifikasi indikator kinerja melalui sistem pengumpulan dan pengolahan data/informasi untuk menentukan capaian tingkat kinerja kegiatan/program. Penetapan indikator kinerja tersebut didasarkan pada kelompok menurut masukan (input), keluaran (outputs), hasil (outcome), manfaat (benefit) dan dampak (impact) serta indikator proses, untuk menunjukkan proses manajemen kegiatan yang telah terjadi. Indikator kinerja input dan output dapat dinilai sebelum kegiatan yang dilakukan selesai. Sedangkan untuk indikator outcomes, benefit, dan impacts baru dipeorleh setelah beberapa waktu kegiatan berlalu. 2. Penetapan Capaian Kinerja. Penetapan capaian kinerja dimaksudkan untuk mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja pelaksanaan kegiatan/program dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh suatu lembaga/instansi. Pencapaian indikator-indikator kinerja tidak terlepas dari proses yang merupakan kegiatan mengolah input menjadi output, atau proses penyusunan kebijakan/program/kegiatan yang dianggap penting dan berpengaruh terhadap pencapaian sasaran dan tujuan. Misalnya, keterkaitan antara tingkat capaian kinerja output tertentu dengan proses pencapaiannya seperti kecepatan dan keakuratan, ketaatan pada peraturan perundangan dan keterlibatan kelompok target (beneficiaries atau target group) terkait. Dengan demikian, sesungguhnya di samping kelompok indikator menurut input, output, outcomes, benefits, dan impact, juga terdapat kelompok indikator menurut proses. 3. Formulir Pengukuran Kinerja Untuk memudahkan dalam melakukan evaluasi atas kesesuaian dan keselarasan antara kegiatan dan program, atau antara program yang lebih rendah dengan program yang lebih tinggi, atau antara kebijakan instansi yang lebih rendah dengan kebijakan instansi yang lebih tinggi, dapat menggunakan formulir PK (Pengukuran Kinerja). Ada tiga formulir yang perlu disiapkan yakni; formulir EK-1 yaitu untuk penilaian kinerja kegiatan,

formulir EK-2 untuk penilaian kinerja program dan formuluir EK-3 untuk penilaian kinerja kebijakan. E. Evaluasi Kinerja Tahapan evaluasi kinerja ini dimulai dengan menghitung nilai capaian dari pelaksanaan per kegiatan Kemudian dilanjutkan dengan menghitung capaian kinerja dari pelaksanaan program didasarkan pembobotan dari setiap kegiatan yang ada di dalam suatu program. Beberapa hal yang berkaitan dengan evaluasi kinerja adalah; membuat kesimpulan hasil evaluasi dan menganalisis pencapaian akuntabilitas kinerja. 1. Membuat Kesimpulan Hasil Evaluasi. Untuk membuat kesimpulan hasil evaluasi, digunakan skala pengukuran kinerja, antara lain dengan skala pengukuran ordinal, misalkan: 85 s/d 100 = Baik Sangat Baik Sangat Berhasil 70 X < 85 Sedang atau Baik atau Berhasil 55 X < 70 Kurang Sedang Cukup Berhasil X < 55 Sangat Kurang Kurang Tidak Berhasil 2. Analisi Pencapaian akuntabilitas Kinerja. Laporan akuntabilitas kinerja tidak hanya berisi tingkat keberhasilan/kegagalan yang dicerminkan oleh evaluasi indikator-indikator kinerja sebagaimana yang ditunjukkan oleh pengukuran dan penilaian kinerja, tetapi juga harus menyajikan data dan informasi relevan lainnya bagi pembuat keputusan agar dapat menginterpretasikan keberhasilan/kegagalan secara lebih luas dan mendalam. Oleh karena itu dari kesimpulan evaluasi perlu dibuat suatu analisis tentang pencapaian akuntabilitas kinerja instansi/lembaga secara keseluruhan. Analisis tersebut meliputi uraian tentang keterkaitan pencapaian kinerja kegiatan dan program dengan kebijakan dalam rangka mewujudkan sasaran, tujuan dan misi serta visi sebagaimana ditetapkan dalam perencanaan strategik. Dalam analisis ini perlu pula dijelaskan proses dan nuansa pencapaian sasaran dan tujuan secara efisien, efektif dan ekonomis sesuai dengan kebijakan, program dan kegiatan yang telah ditetapkan. Analisis dilakukan dengan menggunakan informasi/data yang diperoleh secara lengkap dan rinci. Juga perlu dilakukan analisis terhadap komponen-komponen dalam evaluasi kinerja antara lain mencakup analisis inputs-outputs, analisis realisasi

outcomes dan benefits, analisis impacts baik positif maupun negatif dan analisis proses pencapaian indikator-indikator kinerja tersebut, analisis keuangan dan analisis kebijakan. F. Pelaporan Laporan akuntabilitas kinerja instansi/lembaga harus disusun secara jujur, obyektif dan transparan. Disamping itu pula perlu diperhatikan prinsip prinsip: 1. Prinsip pertanggung jawaban, sehingga jelas hal-hal yang dikendalikan maupun yang tidak dikendalikan oleh pihak yang melaporkan dan harus dapat dimengerti oleh pembaca laporan. 2. Prinsip pengecualian, yang dilaporkan yang penting dan terdepan bagi pengambilan keputusan dan keberhasilan dan kegagalan serta perbedaan realisasi dan target. 3. Prinsip manfaat yaitu manfaat laporan harus lebih besar dari pada biaya penyusunan. Beberapa ciri laporan yang baik perlu diperhatikan yakni : relevan, tepat waktu, dapat dipercaya/diandalkan, mudah dimengerti (jelas dan cermat), dalam bentuk yang menarik (tegas dan konsisten, tidak kontradiktif), berdaya banding tinggi, lengkap, netral, padat dan terstandarisasi. Isi laporan adalah uraian pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi dalam rangka pencapaian visi dan misi serta penjabarannya. Disamping itu pula dimasukkan dalam laporan berbagai aspek pendukung yang yang meliputi: a) Aspek keuangan; b) aspek SDM; c) Aspek sarana dan prasarana dan d) Metode kerja, pengendalian manajemen, dan kebijakan lain yang mendukung pelaksanaan tugas utama lembaga. a) Uraian pertanggungjawaban keuangan dititik beratkan kepada perolehan dan penggunaan dana baik yang berasal dari alokasi APBN maupun dana yang berasal dari masyarakat. b) Uraian pertanggungjawaban SDM, dititik beratkan pada penggunaan dan pembinaan dalam hubungannya dengan peningkatan kinerja yang berorientasi pada hasil atau manfaat dan peningkatan kualitas pada masyarakat. c) Uraian mengenai pertanggungjawaban penggunaan sarana dan prasarana dititik beratkan pada pengelolaan, pemeliharaan, pemanfaatan dan pengembangan.

d) Uraian mengenai metode kerja, pengendalian manajemen dan kebijakan lainnya difokuskan pada manfaat atau dampak dari suatu kebijakan yang merupakan cerminan pertanggungjawaban kebijakan (policy accountability) Bandung; Mei 2005