1. Pendahuluan. 1.1 Latar belakang

dokumen-dokumen yang mirip
GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KESEHATAN KABUPATEN / KOTA

PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KESEHATAN DI KABUPATEN SITUBONDO

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

PEMERINTAH KABUPATEN BOMBANA

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2011 NOMOR 35 SERI E PERATURAN BUPATI BANJARNEGARA NOMOR 862 TAHUN 2011 TENTANG

TUGAS POKOK : Melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi dan tugas

KATA SAMBUTAN DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II GAMBARAN UMUM 3

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK...

MISI 5 Mewujudkan Peningkatan Budaya Sehat dan Aksesibilitas Kesehatan Masyarakat SATU AN

PERJANJIAN KINERJA DINAS KESEHATAN TAHUN 2016

PERJANJIAN KINERJA TINGKAT SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4

REVISI CAPAIAN INDIKATOR KINERJA RPJMD REALISASI TAHUN 2013, 2014 dan 2015 SKPD : DINAS KESEHATAN

1 Usia Harapan Hidup (UHH) Tahun 61,2 66,18. 2 Angka Kematian Bayi (AKB) /1.000 KH Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) /100.

BAB II PERENCANAAN KINERJA

Juknis Operasional SPM

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH DINAS KESEHATAN KABUPATEN KEDIRI TARGET

Target Tahun. Kondisi Awal Kondisi Awal. 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12 0,12 Program pengadaan, peningkatan dan penduduk (tiap 1000 penduduk

Standar Pelayanan Minimal Puskesmas. Indira Probo Handini

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

PENGUKURAN INDIKATOR KINERJA SASARAN

RPJMD Kab. Temanggung Tahun I X 47

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN

PROFIL KESEHATAN PROVINSI KEP. BANGKA BELITUNG TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. Tersusunnya laporan penerapan dan pencapaian SPM Tahun 2015 Bidang Kesehatan Kabupaten Klungkung.

PERNYATAAN PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 (PERUBAHAN ANGGARAN) PEMERINTAH KABUPATEN SUKABUMI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

HASIL KEGIATAN PUSKESMAS BALARAJA

INDIKATOR DAN TARGET SPM. 1. Indikator dan Target Pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat

KEPUTUSAN. Nomor : 449.1/KEP-III/003 / 03/ 2016 TENTANG PENETAPAN INDIKATOR MUTU DAN KINERJA DI UPTD PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT SUSUKAN

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

PEDOMAN PENILAIAN KINERJA PUSKESMAS

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

BAB. III AKUNTABILITAS KINERJA

PERNYATAAN PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN SUKABUMI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) TAHUN 2015

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

Seluruh isi dalam buku ini dapat dikutip tanpa izin, dengan menyebut sumber.

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) TAHUN 2016

Mewujudkan Peningkatan Budaya Sehat dan Aksesbilitas Kesehatan Masyarakat.

Kata Sambutan KEPALA DINAS KESEHATAN PROVINSI SULAWESI SELATAN

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

REKAPITULASI PERHITUNGAN CAKUPAN KOMPONEN KEGIATAN KINERJA PUSKESMAS

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas ijin dan. kehendak-nya sehingga Laporan Tahunan dan Profil Kesehatan Puskesmas

PROFIL KESEHATAN KABUPATEN TULUNGAGUNG TAHUN 2012

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS PERAWATAN RATU AGUNG NOMOR :800/ /PRA/I/2017 TENTANG PENETAPAN INDIKATOR MUTU DAN KINERJA

HASIL ANALISIS APBD PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT 1

RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF DINAS KESEHATAN PROVINSI BANTEN

RESUME PROFIL KESEHATAN DI PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

RESUME HASIL DESK PROFIL KESEHATAN 2013

PROFIL KESEHATAN PROVINSI BENGKULU TAHUN 2012

Tabel 2.1 Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar Kabupaten Gianyar

KATA PENGANTAR. Dalam rangka penyediaan data atau informasi kesehatan, kualitas

BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR ^7 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KESEHATAN KABUPATEN BANYUMAS

PERATURAN BUPATI BERAU

BUKU SAKU DINAS KESEHATAN KOTA MAKASSAR TAHUN 2014 GAMBARAN UMUM

BUPATI BULUNGAN SALINAN PERATURAN BUPATI BULUNGAN NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KESEHATAN DI KABUPATEN BULUNGAN

PROFIL KESEHATAN KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN PROFIL KESEHATAN KABUPATEN TULUNGAGUNG TAHUN

BERITA DAERAH KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2015 NOMOR 4 PERATURAN BUPATI MAGELANG NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG

KATA PENGANTAR. Tulungagung, Juni 2014 KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN TULUNGAGUNG

KATA PENGANTAR Masyarakat Kolaka yang Sehat, Kuat. Mandiri dan Berkeadilan Profil Kesehatan Kabupaten Kolaka 2016 Hal. i

PEMERINTAH KABUPATEN SANGGAU DINAS KESEHATAN PUSKESMAS ENTIKONG KEPALA PUSKESMAS ENTIKONG,

KATA PENGANTAR dr. Hj. Rosmawati

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN WALIKOTA SLIRAKARTA NOMOR 4 - A TAHUH 2910 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

EVALUASI KINERJA DINAS KESEHATAN KAB. BOALEMO TAHUN 2016 KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN UNTUK MENCAPAI TARGET

RENCANA KINERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN PACITAN TAHUN 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan pada

LAPORAN KETERANGAN PERTANGGUNGJAWABAN WALIKOTA PADANG TAHUN 2009

KATA PENGANTAR. Gorontalo, Agustus 2011 KEPALA DINAS KESEHATAN PROVINSI GORONTALO

PERATURAN MENTERI KESEHATAN RI NOMOR 741/MENKES/PER/VII/2008 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KESEHATAN DI KABUPATEN/KOTA

KATA PENGANTAR. PROFIL KESEHATAN KABUPATEN TULUNGAGUNG TAHUN ii -

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN

ARAH KEBIJAKAN DAN PRIORITAS PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN TAHUN Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Bappenas

LAMPIRAN PENETAPAN KINERJA DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013

PROFIL KESEHATAN KOTA TEGAL TAHUN 2013 PEMERINTAH KOTA TEGAL DINAS KESEHATAN

REVIEW INDIKATOR RENSTRA DINAS KESEHATAN KOTA BOGOR

BAB V RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF

INDIKATOR KINERJA UTAMA DINAS KESEHATAN TAHUN

TABEL PROFIL KESEHATAN KOTA PANGKAL PINANG TAHUN 2013

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013

PEDOMAN WAWNCARA BAGAIMANA IMPLEMENTASI PROGRAM BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK) DI UPT PUSKESMAS HILIDUHO KABUPATEN NIAS TAHUN 2015

RESUME PROFIL KESEHATAN KOTA PADANG TAHUN 2011

Tim Penyusun Pengarah : dr. Hj. Rosmawati. Ketua : Sitti Hafsah Yusuf, SKM, M.Kes. Sekretaris : Santosa, SKM

PEMERINTAH KABUPATEN SUKABUMI DINAS KESEHATAN Komplek Gelanggang Pemuda Cisaat Tel-Fax (0266) SUKABUMI

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012

jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt

Transkripsi:

1. Pendahuluan 1.1 Latar belakang Derajat kesehatan yang tinggi merupakan salah satu perwujudan dari kesejahteraan umum masyarakat Indonesia. Oleh karena itu salah satu agenda pemerintah dalam rangka pembangunan kesehatan di Indonesia adalah melakukan program nasional Menuju Indonesia Sehat 2010. Untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah menetapkan kriteria SPM (Standar Pelayanan Minimal) bidang kesehatan yang digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan kesehatan.. Setelah diadakan pengukuran ternyata hampir semua wilayah kinerja pelayanan kesehatannya belum memenuhi standar untuk mencapai Indonesia Sehat 2010. Oleh karena itu diperlukan pembangunan kesehatan pada tiap wilayah untuk meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan di wilayah tersebut dan untuk menghindari kesenajangan pelayanan kesehatan antar wilayah. Pembangunan kesehatan pada tiap kabupaten/kota di tiap-tiap propinsi tidak dapat dilakukan secara serentak mengingat tenaga dan biaya yang terbatas. Oleh karena itu diperlukan suatu pemilihan wilayah pembangunan kesehatan yang efektif dan efisien agar pembangunan kesehatan tepat pada sasaran. Pemilihan wilayah pembangunan kesehatan yang tidak tepat dapat menyebabkan pemborosan tenaga, waktu, maupun biaya. Wilayah dengan kinerja pelayanan kesehatan yang paling rendah yang akan diprioritaskan lebih dahulu. Menentukan prioritas wilayah pembangunan kesehatan sesuai kriteria SPM berdasarkan indikator yang ada merupakan salah satu kesulitan yang dihadapi oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu diharapkan SPPK pemilihan wilayah pembangunan kesehatan ini dapat membantu Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah dalam mengatasi kesulitan tersebut. Pada tugas akhir ini dibangun suatu SPPK dengan inputan berupa data dan indikator kesehatan. Output yang dihasilkan dalam sistem ini berupa rangking terhadap wilayah yang sebaiknya diprioritaskan agar pembangunan kesehatan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Pada SPPK Pemilihan Wilayah Pembangunan Kesehatan ini menggunakan data kesehatan di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, karena prosedur penentuan pemilihan wilayah pembangunan kesehatannya dilakukan dengan menggunakan perhitungan manual yang disebut kebijakan makro yang memiliki kelemahan sebagai berikut: a. Perhitungannya terlalu sederhana tetapi membutuhkan waktu yang lama karena dilakukan secara manual sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan (human error) cukup besar. b. Proses perangkingan dilakukan secara manual dengan membandingkan nilai keseluruhan indikator yang ada untuk setiap wilayah disertai perkiraan (human insting) Untuk mengatasi hal tersebut di atas maka pada SPPK pemilihan wilayah pembangunan kesehatan menggunakan metode SMARTER (Simple Multi- Atribute Rating Technique Exploiting Ranks) untuk pembobotan tiap indikator. SMARTER merupakan metode pengambilan keputusan multiatribut yang fleksibel dan merupakan pengembangan dari metode 1

SMART (Simple Multi-Atribute Rating Technique). Kelebihan SMARTER daripada metode SMART adalah memungkinkan penambahan atau pengurangan alternatif, karena pembobotan dilakukan dengan menggunakan rumus pembobotan Rank-Order Centroid (ROC), sehingga penambahan atau pengurangan alternatif tidak akan mempengaruhi pembobotan. Proses pembobotan ROC ini didasarkan pada peringkat tiap indikator. Setiap atribut atau indikator mempunyai peringkat yang menggambarkan seberapa penting ia dibandingkan dengan atribut lain, peringkat tersebut dimasukkan oleh user. Sedangkan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) dipilih sebagai metode untuk merangking semua alternatif wilayah berdasarkan indikator yang ada dengan mempertimbangkan 2 hal sekaligus, yaitu jarak terhadap solusi ideal dan jarak terhadap solusi negatif-ideal dengan mengambil kedekatan relatif terhadap solusi ideal. 1.2 Perumusan masalah Dalam tugas akhir ini, terdapat beberapa permasalahan yang timbul yaitu : 1. Bagaimana membangun SPPK untuk menentukan prioritas wilayah pembangunan kesehatan. 2. Bagaimana menganalisa pengimplementasian metode SMARTER dan TOPSIS. 3. Bagaimana mengevaluasi hasil keputusan berupa perangkingan wilayah yang diberikan SPPK yang dibuat dengan hasil keputusan berdasarkan kebijakan makro. 1.3 Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas,maka tujuan dari tugas akhir ini adalah : 1. Menghasilkan alat bantu berupa SPPK yang dapat menghasilkan keputusan berupa wilayah yang sudah terurut berdasarkan prioritasnya sebagai rekomendasi bagi Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah tentang wilayah-wilayah yang harus segera ditangani masalah kesehatannya. 2. Pengimplementasian metode SMARTER dan TOPSIS. 3. Mengevaluasi hasil keputusan berupa perangkingan wilayah yang diberikan SPPK yang dibuat dengan hasil keputusan berdasarkan kebijakan makro. 1.4 Batasan Masalah Batasan masalah dalam tugas akhir ini meliputi : 1. SPPK yang dibuat adalah SPPK spesifik, yang ditujukan untuk masalah penentuan wilayah pembangunan kesehatan pada Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. 2. Metode pengambilan keputusan yang digunakan adalah SMARTER dan TOPSIS untuk membantu menentukan dan meningkatkan kualitas keputusan yang dihasilkan. 2

3. Indikator yang digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan ini dapat bertambah maupun berkurang sesuai dengan ketetapan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. Indikator yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah kriteria SPM bidang kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan antara lain : A. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Dasar 1. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 2. Cakupan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan 3. Ibu hamil resiko tinggi yang dirujuk 4. Cakupan kunjungan neonatus 5. Cakupan kunjungan bayi 6. Cakupan bayi berat badan lahir rendah/ BBLR yang ditangani 7. Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan prasekolah 8. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih/guru UKS/Dokter kecil 9. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK, SLTP, SLTA dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih /guru /UKS /Dokter kecil 10. Cakupan pelayanan kesehatan remaja 11. Cakupan peserta aktif KB 12. Desa/ kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 13. Cakupan rawat jalan 14. Cakupan rawat inap 15. Pelayanan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum B. Penyelenggaraan Perbaikan Gizi Masyarakat 16. Balita yang datang dan ditimbang (D/S) 17. Balita yang naik berat badannya (N/D) 18. Balita Bawah Garis Merah (BGM) 19. Cakupan Bayi (6-11 bulan) mendapat kapsul vitamin A 1 kali 20. Cakupan balita (12-59 bulan) mendapat kapsul vitamin A 2 kali per tahun 21. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A 22. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe 23. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi BGM dari Keluarga miskin 24. Balita gizi buruk mendapat perawatan C. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang 25. Akses terhadap ketersediaan darah dan komponen yang aman untuk menangani rujukan ibu hamil dan neonatus 26. Ibu hamil resiko tinggi yang ditangani 27. Ibu hamil dengan komplikasi yang ditangani 28. Nenonatal resiko tinggi /komplikasi yang ditangani 29. Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat 30. Pemenuhan darah di RS D. Penyelenggaraan Pemberantasan Penyakit Menular 31. Desa /Kelurahan mengalami KLB yang ditangani <24 jam 3

32. Kecamatan bebas rawan gizi 33. Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 penduduk < 15 tahun 34. Kesembuhan penderita TBC BTA positif (CR /Cure Rate) 35. Penemuan kasus TBC BTA positif (CDR /Case Detection Rate) 36. Cakupan Balita dengan pneumonia yang ditangani 37. Klien yang mendapatkan penanganan HIV-AIDS 38. Kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) yang diobati 39. Penderita DBD yang ditangani 40. Incident rate DBD 41. CFR / Angka kematian DBD 42. Balita dengan diare yang ditangani 43. CFR / Angka Kematian Diare E. Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar 44. Institusi yang dibina 45. Rumah sehat (Desa) 46. Rumah sehat (Kota) 47. Penduduk yang memanfaatkan jamban 48. Rumah yang mempunyai SPAL 49. Rumah atau bangunan bebas jentik nyamuk Aedes 50. Tempat umum yang memenuhi syarat F. Penyelenggaraan Promosi Kesehatan 51. Rumah Tangga Sehat 52. Bayi yang mendapat ASI eksklusif 53. Desa dengan garam beryodium baik 54. Keluarga sadar gizi 55. Posyandu Purnama 56. Posyandu Mandiri G. Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (P3 NAPZA) 57. Upaya Penyuluhan P3 NAPZA / P3 NARKOBA oleh petugas kesehatan H. Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian (obat) 58. Ketersediaan obat sesuai kebutuhan (jumlah) 59. Ketersediaan obat sesuai kebutuhan (jenis/item) 60. Pengadaan obat esensial 61. Pengadaan obat generik 62. Ketersediaan Narkotika, psikotropika sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan terhadap prosentase (jumlah) 63. Ketersediaan Narkotika, psikotropika sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan terhadap prosentase (jenis/item) 64. Penulisan resep obat generik I. Penyediaan pembiayaan dan Jaminan Kesehatan 65. Cakupan penduduk yang menjadi peserta jaminan pemeliharaan kesehatan prabayar 66. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan keluarga miskin dan masyarakat rentan J. Pelayanan Sesuai Kebutuhan 4

67. Cakupan pelayanan kesehatan kerja pada pekerja formal 68. Cakupan pelayanan kesehatan kerja pada pekerja informal 69. Cakupan pelayanan kesehatan pra usia lanjut dan lanjut 70. Cakupan wanita usia subur yang mendapatkan kapsul yodium di daerah endemis gaki 71. Darah donor diskrining terhadap HIV-AIDS 72. Penderita malaria yang diobati 73. Penderita kusta yang selesai berobat (RFT rate) 74. Kasus filariasis yang ditangani 1.5 Metodologi penyelesaian masalah Metode yang digunakan dalam penyelesaian tugas akhir ini adalah menggunakan metode studi pustaka atau studi literatur dan analisis dengan langkah kerja sebagai berikut : 1. Studi pustaka atau studi literatur, tahap menambah wawasan dari buku-buku, artikel dan sumber-sumber lain yang layak, seperti informasi-informasi yang tersedia di internet, mengenai SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN, SMARTER dan TOPSIS untuk menunjang pembuatan tugas akhir ini. 2. Pengumpulan data, informasi, dan studi lapangan untuk memperoleh gambaran nyata dan melakukan wawancara secara langsung kepada bagian Perencanaan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah 3. Pengembangan SPPK dengan menggunakan SMARTER dan TOPSIS dengan tahapan sebagai berikut : a. Perencanaan Tahapan ini dilakukan untuk merencanakan susunan pengerjaan pembuatan SPPK pemilihan wilayah pembangunan kesehatan dengan metode TOPSIS dan SMARTER b. Analisis Tahapan ini dilakukan untuk menentukan kebutuhan sistem, melakukan analisis dan pengelolaan terhadap data dan dokumen yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah agar dapat sesuai dengan metode yang diinginkan. c. Perancangan Tahapan ini adalah tahap perancangan tiga komponen SPPK, yaitu subsistem basis data, subsistem basis model dan subsistem dialog. d. Coding Tahapan ini adalah tahapan untuk pembuatan coding SPPK pemilihan wilayah pembangunan kesehatan. e. Testing Tahap terakhir yang dilakukan untuk pengujian SPPK yang telah dibuat dengan melakukan pengujian fungsionalitas, pengujian hasil perhitungan sistem, pengujian hasil sistem terhadap sistem lama, pengujian dengan kuisioner. f. Evaluasi Mengevaluasi hasil keputusan berupa perangkingan wilayah yang diberikan SPPK yang dibuat dengan hasil keputusan berdasarkan kebijakan makro. 5

1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir ini disusun dengan sistematika pembahasan sebagai berikut : BAB I BAB II BAB III PENDAHULUAN Bab ini memaparkan latar belakang masalah, perumusan masalah yang akan dibahas, pembatasan masalah, tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini, metode penyelesaian masalah dan sistematika pembahasan. DASAR TEORI Bab ini berisi uraian mengenai landasan teori yang akan digunakan dalam penyelesaian tugas akhir PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI Bab ini menjelaskan mengenai analisa sistem yang akan dibuat dan perncangan sistem. BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN Bab ini berisi tenteng implementasi dari SPPK yang telah dirancang dan pengujian SPPK BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Berisi kesimpulan dari hasil penelitian tugas akhir ini serta saransaran untuk pengembangan lebih lanjut. 6