IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Akar Unit (Unit Root Test) bahwa setiap data time series yang akan dianalisis akan menimbulkan spurious

III METODE PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Untuk memenuhi salah satu asumsi dalam uji data time series dan uji

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Uji Stasioneritas Data

III. METODE PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. maupun variabel dependent. Persamaan regresi dengan variabel-variabel yang

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kestasioneran data diperlukan pada tahap awal data time series

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. atas, data stasioner dibutuhkan untuk mempengaruhi hasil pengujian

BAB 4 PEMBAHASAN. 51 Universitas Indonesia. Keterangan : Semua signifikan dalam level 1%

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. stasioner dari setiap masing-masing variabel, baik itu variabel independent

Penjualan Pasokan Penjualan Pasokan Penjualan Pasokan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. time series. Data time series umumnya tidak stasioner karena mengandung unit

HASIL DAN PEMBAHASAN. metode Vector Auto Regression (VAR) dan dilanjutkan dengan metode Vector

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Unit Root Test Augmented Dickey Fuller (ADF-Test)

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. sekunder yang akan digunakan ialah data deret waktu bulanan (time series) dari bulan

BAB IV. Hasil dan Pembahasan. 1. Analisis Deskriptif Saham Sektor Pertanian. dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor-sektor ini

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Pra Estimasi Uji Akar Unit (Unit Root Test) Pada penerapan analisis regresi linier, asumsi-asumsi dasar yang

III. METODE PENELITIAN. Bentuk data berupa data time series dengan frekuensi bulanan dari Januari 2000

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan maka yang dijadikan objek

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa time series

METODE PENELITIAN. terdiri dari data pinjaman luar negeri, pengeluaran pemerintah, penerimaan pajak,

METODE PENELITIAN. waktu (time series) dari tahun 1986 sampai Data tersebut diperoleh dari

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. mengandung akar-akar unit atau tidak. Data yang tidak mengandung akar unit

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series

STUDI KAUSALITAS GRANGER ANTARA NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP USD DAN AUD MENGGUNAKAN ANALISIS VAR

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi

METODE PENELITIAN. merupakan data time series dari bulan Januari 2002 sampai Desember Data

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Indonesia dan variabel independen, yaitu defisit transaksi berjalan dan inflasi.

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. perubahan sehingga harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan data dilakukan dengan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

APLIKASI MODEL VAR DAN VECM DALAM EKONOMI

BAB III METODE PENELITIAN. analisis yang berupa angka-angka sehingga dapat diukur dan dihitung dengan

METODE PENELITIAN. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian Respon PDB terhadap shock

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN

BAB V ANALISIS HASIL PENELITIAN

1 analisis regresi dengan pendekatan VECM

BAB III METODE PENELITIAN. kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

PERAMALAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP USD DAN AUD BERDASARKAN MODEL VAR

III. METODOLOGI PENELITIAN. Data-data tersebut berupa data bulanan dalam rentang waktu (time series) Januari

IV METODE PENELITIAN

INTEGRASI SPASIAL PADA PASAR MINYAK GORENG DI INDONESIA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

METODOLOGI PENELITIAN. Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan yang dijadikan objek

IV. METODE PENELITIAN

ANALISIS VECTOR AUTOREGRESION (VAR) TERHADAP INTERRELATIONSHIP ANTARA IPM DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DI SUMATERA UTARA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini

3. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah

IV. METODE PENELITIAN

Penerimaan Pajak dan Pengeluaran Pemerintah kota Tebing Tinggi Tahun (juta rupiah)

METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam

V. SPESIFIKASI MODEL DAN HUBUNGAN CONTEMPORANEOUS

Transkripsi:

29 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum perusahaan 4.1.1. Sejarah TRIPLE COMBO Pada awalnya kue klappertat di kembangkan oleh Bapak Agus Prihanto seorang direktur marketing sebuah hotel di Bogor. Beliau melihat rata-rata tamu hotel menyukai kue yang berkualitas. Sebagai seorang marketing beliau mengetahui permintaan pasar cukup besar untuk kue yang berkualitas dan mencoba untuk mengembangkan klappertart. Untuk melengkapinya beliau melengkapi dengan pastel tutup dan makaroni panggang yang disebut lebih populer TRIPLE COMBO. Melihat perkembangan dunia kuliner di Bogor yang dapat dikatakan sebagai surga kuliner (Culinary Paradise) ke dua setelah Bandung, maka pada awal tahun 2007, Hotel Salak The Heritage berniat untuk menambah semarak dunia kuliner di Bogor dengan membuat produk oleh-oleh yang bernuansa Belanda sesuai dengan sejarah Hotel salak yang merupakan warisan peninggalan masa penjajahan Belanda dan dapat diterima oleh lidah Indonesia. Tidak kurang dari sepuluh macam kue Belanda misalnya Indische Pastei (Pastel Tutup), Makaroni Gebak/Schotel (Makaroni Panggang), Klappertart, Hollandsche Kroketten, Spekoek, Ontbijtkoek, Pannenkoeken, Oliebollen, Bitterballen & Poffertjes dibuat dan dijual di cafenya Hotel Salak namanya Den Haag Cafe dan setelah beberapa bulan berjalan, terlihat ketiga kue yang disebut pertama diatas paling diminati pelanggan, maka dicarikanlah nama dari gabungan ketiga kue tersebut untuk lebih di populerkan dan tercetuslah nama Triple Combo yang berdiri sejak 25 Juni 2007 dan mulai dipergunakan pada awal Juli 2007. Dalam memperkenalkan Triple Combo, dilakukan terobosan pemasarannya melalui apa yang dikenal dengan pengasong tidak disebut pengasong tetapi Medium Enterpreneur yang disingkat ME atau dikenal dengan yang membawakan dagangan Triple Combo di kereta-kereta atau di jalan. Mereka dibekali rompi serta topi yang bertuliskan Triple Combo lengkap dengan nama produknya serta tiga lapis keranjang tenteng yang kemudian di jual ke sepanjang

30 jalan juga di kereta-kereta. Dari para pedagang tersebut, produk Triple Combo mulai dikenal oleh masyarakat dan berkembang cukup pesat sehingga yang pada awalnya tempat produksinya gabung dengan dapur Hotel Salak, tetapi untuk pembaharuan maka mulai pertengahan tahun 2008, Hotel Salak menyewa sebuah rumah di Jl. Pangrango 8 untuk dijadikan tempat produksi sekaligus gerai untuk menjual kue tersebut. Untuk memberikan pilihan pada para pelanggan, hingga kini telah tercipta lebih dari sepuluh macam rasa klappertart sebagai produk yang paling unggul dibanding makaroni atau pastel tutup, karena klappertart yang paling diminati masyarakat. Karena kue klappertart dibandingkan makaroni dan pastel yang paling diminati oleh pelanggan, maka rumah tempat produksi maupun gerai penjualan tersebut dinamakan Huize atau Rumah Klappertart. Selain citrarasa yang baik, satu keunggulan dari klappertart Triple Combo adalah Halal yang mana Triple Combo telah mendapatkan sertifikat halal yang dikeluarkan oleh MUI karena hampir semua klappertart yang ada di Indonesia menggunakan rum (alcohol) karena penganaan ini awal terkenalnya di Menado yang mayoritasnya masyarakat Nasrani. Dari sini pasar yang dapat dilihat baru hotel dan restauran yang kemudian sebagai ajang promosi dan membantu masyarakat memberikan kesempatan kepada para pedagang (asongan) untuk juga menjualkan Triple Combo tersebut. Sampai saat ini pendapatan rata-rata per bulan sekitar 300 samapi 400 juta. Triple Combo merupakan jenis kue yang bergerak dalam bidang kuliner dan fokus dalam operasionalnya sehari-hari yang selalu di supervise oleh pengajar professional dari Bogor Hotel Institute dan tenaga ahli dari Hotel Salak The Heritage. Berawal dari keinginan membuat makanan yang unik dan spesial untuk memenuh kebutuhan akan makanan yang lezat, sehat dan berkualitas yang cocok menjadi hidangan sehari-hari ataupun untuk oleh-oleh atau gift serta menunjang pariwisata kota Bogor dengan memberi warna baru kuliner kota Bogor. Karena kota Bogor erat kaitannya dengan colonial dan Belanda didukung dengan Hotel Salak The Heritage yang memang kental nuansa colonial Belanda akhirnya terbersit ide membuat penganan khas Belanda yaitu: klappertart, makaroni dan pastel. Awalnya penganan tersebut dikenalkan ke Indonesia pada jaman colonial dan

31 hingga sekarang masih digemari di beberapa daerah di Indonesia. Setelah melalui proses pengembangan yang cukup panjang akhirnya ketiga jenis kue tersebut diproduksi dan diperkenalkan kepada masyarakat di wilayah Bogor & Jakarta. Ternyata sambutan masyarakat yang luar biasa, kue ini sangat digemari baik oleh orang dewasa maupun anak-anak, karena selain cocok untuk santai, kue ini juga dapat sebagai pengganti makan pagi atau siang, sebagai hidangan makanan tambahan atau hidangan rapat yang exclusive. 4.1.2 Visi & Misi Visi Menjadi perusahaan kue berskala dunia dengan norma-norma & nilai-nilai perusahaan berstandar internasional. Misi Menyajikan kue yang berkualitas dan lezat, sehingga mendukung acara dan bisnis anda menjadi sukses serta tidak khawatir dengan apa yang dimakan karena telah jelas asal usulnya. 4.1.3 Lokasi Perusahaan Lokasi Triple Combo Klappertart Huize yang beralamat di Jalan. Pangrango No.8 Bogor terletak di Taman Kencana, bisa dikatakan pusat jajanan kuliner dan banyak berbagai tempat makanan di daerah ini, maka dari itu tepat sekali menjadi tempat kue Triple Combo. Triple Combo memberi warna oranye pada toko kuenya agar memberi ciri khas pada Triple Combo. Dengan warna oranye yang menjadi khas Triple Combo akan memudahkan para pelanggan untuk menuju lokasi Triple Combo. Nuansa wilayah kuliner Taman Kencana tersebut yang selalu banyak pelanggan tersebut memudahkan akses pelanggan untuk cepat dan mudah menuju toko kue Triple Combo.

32 4.1.4 Struktur Organisasi Ir. Agus Prihanto Direktur Dwi Irfan General manajer Usman Marketing Supervisor Adi wardian Wisma Supervisor Sanudin Leder Produksi Mulyadi Purchasing Staff Produksi Driver,cleaning staff Gambar2. Struktur organisasi

33 4.1.5 Produk-Produk Perusahaan Tabel 1. Produk Triple Combo Klapertart Ukuran Lebar Harga Klapertaart Standar Small, Medium, S= 65ml, M =90ml, S= Rp. 5000, Dimensi Regular, Large R=125ml, L=150ml M= Rp.7000, R= Rp.9000, L= Rp. 11000 Klappertaart Small, Regular, S= 65ml, R=125ml, S= Rp. 6000, Strawberry Dimensi Large L=150ml R= Rp.10000, L= Rp. 12000 Klappertaart Small, Regular, S= 65ml, R=125ml, S= Rp. 6000, Blueberry Dimensi Large L=150ml R= Rp.10000, L= Rp. 12000 Klappertaart Cheese Small, Regular, S= 65ml, R=125ml, S= Rp. 6000, Dimensi Large L=150ml R= Rp.10000, L= Rp. 12000 Klappertaart Rum & Small, Regular, S= 65ml, R=125ml, S= Rp. 7000, Raisin Dimensi Large L=150ml R= Rp.11000, L= Rp. 13000 Klappertaart Pandan Small, Regular, S= 65ml, R=125ml, S= Rp. 6000, Dimensi Large L=150ml R= Rp.10000, L= Rp. 12000

34 Lanjutan Tabel 1. Produk Triple Combo Klapertart Ukuran Lebar Harga Klappertaart Green Small, Regular, S= 65ml, R=125ml, S= Rp. 7000, Tea Dimensi Large L=150ml R= Rp.11000, L= Rp. 13000 Klappertaart Small, Regular, S= 65ml, R=125ml, S= Rp. 6000, Chocolate Dimensi Large L=150ml R= Rp.10000, L= Rp. 12000 Klappertaart Oreo Small, Regular, S= 65ml, R=125ml, S= Rp. 6000, Dimensi Large L=150ml R= Rp.10000, L= Rp. 12000 Klappertaart Tutti Small, Regular, S= 65ml, R=125ml, S= Rp. 6000, Fruity Dimensi Large L=150ml R= Rp.10000, L= Rp. 12000 Macaroni Schotel Small, Medium, S= 65ml, M =90ml, S= Rp. 5000, Chicken & Cheese Dimensi Regular, Large R=125ml, L=150ml M= Rp.7000, R= Rp.9000, L= Rp. 11000 Macaroni Schotel Small, Medium, S= 65ml, M =90ml, S= Rp. 5000, Chicken & Cheese Dimensi Regular, Large R=125ml, L=150ml M= Rp.7000, R= Rp.9000, L= Rp. 11000

35 Lanjutan Tabel 1. Produk Triple Combo Klapertart Ukuran Lebar Harga Macaroni Schotel Small, Medium, S= 65ml, M =90ml, S= Rp. 5000, Chicken & Cheese Regular, Large R=125ml, L=150ml M= Rp.7000, Dimensi R= Rp.9000, L= Rp. 11000 Macaroni Schotel Small, Medium, S= 65ml, M =90ml, S= Rp. 5000, Bolognaise Dimensi Regular, Large R=125ml, L=150ml M= Rp.7000, R= Rp.9000, L= Rp. 11000 Pastel Tutup Small, Medium, S= 65ml, M =90ml, S= Rp. 5000, Standard Dimensi Regular, Large R=125ml, L=150ml M= Rp.7000, R= Rp.9000, L= Rp. 11000 Pastel Tutup Small, Medium, S= 65ml, M =90ml, S= Rp. 5000, Superior Dimensi Regular, Large R=125ml, L=150ml M= Rp.7000, R= Rp.9000, L= Rp. 11000 Klappertaart Triple Small, Regular, S= 65ml, R=125ml, S= Rp. 7000, Cheese Dimensi Large L=150ml R= Rp.11000, L= Rp. 13000 Macaroni Shotel Small, Medium, S= 65ml, M =90ml, S= Rp. 5000, Corned Beef Regular, Large R=125ml, L=150ml M= Rp.7000, R= Rp.9000, L= Rp. 11000

36 4.2 Analisis Kointegrasi Analisis mengenai pola data atau sifat pergerakan dari deret waktu yang akan analisis sangat diperlukan dengan tujuan menentukan metode peramalan yang sesuai dengan pola data tersebut apakah menggunakan metode VAR atau VECM. Apabila pola data yang digunakan stasioner pada level nol maka digunakan metode VAR, dan apabila pola data yang digunakan tidak stasioner pada level nol maka menggunakan metode VECM. Dalam menganalisa stasioneritas, tingkat signifikansi yang digunakan adalah pada tingkat signifikan 5 persen. 4.2.1 Uji Stasioner Data Uji stasioneritas data pada seluruh variabel dengan Augmented Dickey- Fuller Test (ADF) dengan perangkat lunak Eviews 6. Jika nilai Test Critical Values lebih besar dari nilai t-statistic berarti data tidak stasioner, sebaliknya jika nilai Test Critical Values lebih kecil dari nilai t-statistic berarti data stasioner. Dari hasil uji stationer pada level menujukan bahwa semua variabel statsioner. Semua variable memiliki nilai -p (0.000) < alpha 5% artinya sudah stasioner pada level. Tabel 2. Hasil Uji Stasioner Variable Level (α=5%) p-value keterangan KLAPPERTART 0.0000 stasioner MAKARONI 0.0000 stasioner PASTEL 0.0000 stasioner

37 4.2.2 Metode Pengujian Granger Causality Uji kausalitas multivariate dilakukan untuk melihat hubungan kausalitas antara variabel-variabel yang ada dalam model. Hubungan kausalitas antar variabel dapat diketahui dengan melakukan Pairwise Granger Causality Test. Uji ini pada intinya mengindifikasikan apakah variabel dua arah atau satu arah yang adanya hubungan sebab akibat. Nilai P < Alpha 5% maka artinya signifikan. Dan hasilnya dari analisisnya adanya hubungan sebab akibat dari makaroni kepada klappertart. Nilai -P (0.0420) < Alpha 5% artinya makaroni menyebabkan klappertart. Uji ini pada intinya mengindifikasikan apakah variabel dua arah atau satu arah. Adanya hubungan sebab akibat dari pastel kepada klappertart. Nilai-P (0.0332) < Alpha 5% artinya pastel menyebabkan klappertart. Tabel 3. Hasil Uji Granger Causality Null Hypothesis Obs F-Statistic Prob. 1.Adanya hubungan sebab akibat dari 117 4.23601 0.0420 makaroni kepada klappertart 2.Adanya hubungan sebab akibat dari 117 4.65003 0.0332 pastel kepada klappertart 4.2.3 Pengujian Lag Optimal Pendekatan VAR atau VECM sangat sensitif terhadap jumlah lag yang digunakan, maka perlu ditentukan panjang lag yang optimal. Penentuan panjang lag digunakan untuk mengetahui lamanya periode keterpengaruhan suatu variabel terhadap variabel masa lalunya maupun terhadap variabel endogen lainnya. Penentuan lag dapat digunakan dengan beberpa pendekatan antara lain Likelihood Ratio (LR), Final Prediction Error (FPE), Akaike Information Criterion (AIC), dan Schwarz Criterion (SC). Hasil penentuan panjang lag secara lengkap.

38 Tabel 4. Hasil Uji Lag Optimal Lag LogL LR FPE AIC SC HQ 0-2050.082 NA 6.45e+11 35.70577 35.77738* 35.73484* 1-2040.728 18.05643* 6.41e+11* 35.69962* 35.98605 35.81588 Berdasarkan tabel 4 hanya SC dan HQ yang menentukan panjang lag yang berbeda sedangkan LR, FPE, AIC menentukan panjang lag yang sama yaitu pada lag ke satu. Karena tiga kriteria memberikan hasil yang sama, maka dipilih panjang lag satu. Dari hasil uji lag optimun ada di lag satu. 4.2.4 Vector Autoregresesive (VAR) Analisis regresi dua arah, dimana semua peubah atau variabel adalah variabel endogen, modelnya sederhana karena menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square), semua variabel adalah vaeriabel endogen dan baik untuk peramalan dan semua varibelnya stasioner pada level. Pengaruh variabel dapat menggunakan dan dilihat dengan analisis VAR. interpretasi hasil dapat dilihat dengan membaca koefisien integrasi dan pembacaan tanda terbalik dari tanda koefisiennya. Koefisien integrasi dinyatakan signifikan jika nilai mutlak statistik lebih besar dari nilai tabel yaitu 1,96 berikut ini merupakan hasil estimasi VAR.

39 Tabel 5. Hasil VAR Klappertart Makaroni Pastel Klappertart (-1) 0.112397-0.036326-0.026049 [ 0.83102] [-1.45742] [-1.45382] Makaroni (-1) -0.568277 0.293359 0.102637 [-0.37953] [ 1.06317] [ 0.51744] Pastel (-1) -1.474239-0.313866-0.059264 [-0.73853] [-0.85321] [-0.22411] Berdasarkan hasil VAR tersebut dapat terlihat bahwa terdapat pengaruh yang ditunjukan oleh penjualan klappertart, penjualan tersebut dipengaruhi secara nyata oleh penjualan makaroni pada lag 1 dan penjualan pastel pada lag 1, sedangkan penjualan makaroni dipengaruhi secara nyata oleh penjualan klappertart pada lag 1. Dari tabel tersebut dapat terlihat bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara klappertart dan makaroni sedangkan untuk pastel hubungan yang terjadi dengan kue lainnya tidak terlalu signifikan. 4.2.5 Stabilitas VAR Untuk menguji stabil tidaknya estimasi VAR yang telah dibentuk maka dilakukan VAR Stability Condition Check berupa Roots of Charateristic Polynomial. Berikut hasil pengujian stabilitas model berdasarkan hasil AR Root Table. Hal ini merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh model dinamik seperti VAR dikarenakan apabila didapatkan model VAR yang tidak stabil maka analisis IFR dan FEVD menjadi tidak valid.

40 Tabel 6. Hasil Uji Stabilitas VAR Root Modulus 0.332201 0.332201 0.157820 0.157820-0.143530 0.143530 Nilai modulus menunjukkan VAR sudah dalam kondisi stabil karena di nilai di posisi 0 <nilai modulus 1 maka artinya sudah dalam kondisi stabil. Model dikatakan stabil apabila nilai modulus nya kurang dari satu. Berdasarkan tabel bahwa nilai akar karakteristik atau modulus semuanya menunjukan nilai kurang dari satu, sehingga dapat disimpulkan bahwa model VAR telah stabil. 4.2.6 Analisis Impuls Response Function (IRF) Analisis Impuls Response Function atau IRF merupakan alat analisis yang digunakan untuk mencari dampak shock variabel satu terhadap variabel lainnya. Dengan menggunakan IRF maka akan dapat dilacak dampak dari salah satu shock terhadap shock lainnya pada saat sekarang dan masa yang akan datang dari variabel endogen. Shock yang terjadi pada variabel endogen secara langsung akan mempengaruhi variabel itu sendiri dan akan berpengaruh juga terhadap variabel lainnya secara berkesinambungan atau dinamis. Pada penelitian ini akan dilakukan tiga analisis IRF untuk masing-masing produk yaitu klappertart, makaroni dan pastel.

41 Respon Makaroni terhadap Klappertart Response to Cholesky One S.D. Innovations 80 Response of MAKARONI to KLAPERTART 60 40 20 0-20 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 60 50 40 diberikan 30 oleh produk makaroni terhadap standar deviasi variabel itu sendiri telah bernilai 20 negatif. Pergerakan respon pada grafik tersebut cenderung bernilai stabil, pada 10 periode 1 nilai respon yang diberikan cukup tinggi yaitu dengan nilai 80 persen, 0 tetapi pada periode ke 2 terjadi penurunan yang signifikan dari respon -10 Response of PASTEL to KLAPERTART Gambar 3. Respon Makaroni terhadap Klappertart Pada Gambar 3 ini dapat terlihat respon yang diberikan oleh makaroni terhadap klappertart. dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa respon yang tersebut, pada periode ke 2 respon yang dihasilkan adalah 20 persen, Setelah 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 terjadinya penuruan pada periode ke 2, respon kemudian bergerak stabil dari periode 3 sampai dengan periode ke 5, nilai respon tersebut adalah -20 persen. Selanjutnya untuk periode 6 sampai 50 pergerakan respon kembali menurun dengan nilai respon bernilai negatif, pergerakan respon ini sangat kecil. Sehingga dalam grafik pergerakan kecil dan cenderung stabil di periode 5.

20 0 42-20 Respon Pastel terhadap Klappertart 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Response of PASTEL to KLAPERTART 60 50 40 30 20 10 0-10 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Gambar 4. Respon Pastel terhadap Klappertart Pada Gambar 4 ini dapat terlihat respon yang diberikan oleh pastel terhadap klappertart. dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa respon yang diberikan oleh produk pastel terhadap standar deviasi variabel itu sendiri telah bernilai negatif. Pergerakan respon pada grafik tersebut cenderung bernilai stabil, pada periode 1 nilai respon yang diberikan cukup tinggi yaitu dengan nilai 50 persen, tetapi pada periode ke 2 terjadi penurunan yang signifikan dari respon tersebut, pada periode ke 2 respon yang dihasilkan adalah 10 persen, Setelah terjadinya penuruan pada periode ke 2, respon kemudian bergerak stabil dari periode 3 sampai dengan periode ke 5, nilai respon tersebut adalah -10 persen. Selanjutnya untuk periode 6 sampai 50 pergerakan respon kembali menurun dengan nilai respon bernilai negatif, pergerakan respon ini sangat kecil. Sehingga dalam grafik pergerakan kecil dan cenderung stabil di periode 5.

43 Respon Klappertart terhadap Makaroni Response to Cholesky One S.D. Innovations 0 Response of KLAPERTART to MAKARONI -20-40 -60-80 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Gambar 5. Response Klappertart of PASTEL terhadap to MAKARONI Makaroni 40 30 20 klappertart 10 terhadap makaroni yaitu -75 persen, pada periode ketiga nilai respon 0 Pada Gambar 5 ini dapat terlihat respon yang diberikan oleh klappertart terhadap makaroni, respon yang diberikan klappertart pada perubahan standar deviasi bernilai negatif. Hanya pada periode pertama nilai respon yang diberikan tinggi yaitu nol persen. Selanjutnya pada periode kedua hingga periode kelima terjadi penurunan yang cukup signifikan, dimana pada periode kedua nilai respon yaitu -45 persen, periode keempat nilai respon -37 persen sedangkan pada periode kelima responnya bernilai -19 persen. Nilai respon stabil pada periode ke 6 sampai 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 periode ke 50 dengan nilai respon nol persen. Dengan nilai respon yang negatif hal ini berarti impuls dari penjualan klappertart sebesar satu standar deviasi berpengaruh negatif terhadap penjualan makaroni.

-20-40 44-60 Respon Pastel terhadap Makaroni -80 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Response of PASTEL to MAKARONI 40 30 20 10 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Gambar 6. Respon Pastel terhadap Makaroni Pada Gambar 6 ini respon yang dianalisa adalah respon pastel terhadap makaroni. Pada grafik tersebut nilai standar deviasi dari respon pastel terhadap makaroni itu sendiri bernilai positif, ketika variabel diimpuls nilai respon meningkat pada periode pertama sampai periode ke 40. Pada periode pertama nilai respon tertinggi yaitu 100 persen dan nilai respon terendah pada periode 10 yaitu 5 persen. Pada periode berikutnya hingga periode ke 50 nilai respon cenderung stabil yaitu nol persen, dengan nilai respon yang positif hal ini menunjukkan bahwa variabel pastel sangat berpengaruh terhadap naik dan turunnya penjualan pastel terhadap makaroni.

45 Respon Klappertart terhadap Pastel Response to Cholesky One S.D. Innovations 60 Response of KLAPERTART to PASTEL 40 20 0-20 -40-60 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Response of MAKARONI to PASTEL Gambar 7. Respon Klapertart terhadap Pastel 0 Pada Gambar 7 selanjutnya respon klappertart terhadap pastel. Respon yang diberikan oleh klappertart terhadap standar deviasi pastel cenderung positif, tetapi -2 pada periode dua dan periode tujuh bernilai negatif. Pada periode satu sampai periode 14 terjadi fluktuasi respon yang signifikan dengan nilai tertinggi 59 persen -4 pada periode tiga, dan nilai terendah -40 persen pada periode dua. Pada periode 14 sampai -6 periode 50 nilai respon stabil. Dengan nilai respon yang cenderung positif dapat disimpulkan bahwa kejutan dari penjualan produk klappertart sebesar satu standar -8 deviasi berpengaruh positif terhadap peningkatan penjualan produk pastel. 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

20 0-20 46-40 Respon Makaroni terhadap Pastel -60 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Response of MAKARONI to PASTEL 0-2 -4-6 -8 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Gambar 8. Respon Makaroni terhadap Pastel Pada Gambar 8 ini adalah nilai respon yang ditunjukkan oleh respon makaroni terhadap pastel, dari grafik tersebut terlihat bahwa nilai standar deviasi yang dihasil oleh makaroni adalah negatif. Pada periode pertama nilai respon yang ditunjukan adalah nol persen. Kemudian pada periode ke 2 sampai periode ke 4 terjadi penurunan,pada periode ke 2 respon yang ditunjukkan adalah - 7 persen, periode ke 3 respon bernilai -2 persen dan periode ke 4 nilai responnya adalah 1 persen. Kemudian pada periode ke 5 sampai periode ke 50 respon kembali stabil di nol.

47 4.2.7 Forcasting Eror Variace Decompotion (FEVD) Analisis FEVD bertujuan untuk mengetahui variabel yang memiliki peranan penting dalam dalam menjelaskan perubahan suatu variabel. Dengan adanya analisis ini maka dapat diketahui seberapa besar persen variasi variabel dijelaskan oleh setiap gangguan yang ada di dalam model. Hasil dari analisis FEVD ini akan ditunjukan dalam bentuk diagram, diagram tersebut menunjukkan hasil variasi masing-masing variabel baik endogen maupun eksogen. Forecast Error Variabilitas data ramalan diukur dengan peramalan kesalahan standar atau disebut forecast standard error ditambah nilai prediksi dari garis persamaan regresi. Persamaan regresi yang di dapat untuk variabel Klappertart sebagai berikut : 1. Klappertart KLAPPERTART = 404 + 1.14 PASTEL - 0.34 PASTEL1 + 3.39 MAKARONI - 1.68 MAKARONI1+ 0.265 KLAPPERTART1 Tabel 7. Hasil peramalan variable Klappertart selama 12 minggu ke depan Minggu Forecast SE Nilai Persamaan Nilai Forecast 119 ± 515 839 324 1354 120 ± 527 492 35 1019 121 ± 528 210 318 738 122 ± 528 342 186 870 123 ± 528 966 438 1494 124 ± 528 1058 530 1586

48 Lanjutan Tabel 7. Hasil peramalan variable Klappertart selama 12 minggu ke depan Minggu Forecast SE Nilai Persamaan Nilai Forecast 125 ± 528 788 260 1316 126 ± 528 920 392 2448 127 ± 528 841 313 1369 128 ± 528 996 468 1528 129 ± 528 1044 516 1572 130 ± 528 1120 592 1648 Hasil peramalan Tabel 7 diperoleh dari hasil perhitungan atau persamaan regresi yang didapatkan dengan menggunakan nilai rata-rata 12 minggu terakhir. Dari hasil peramalan tersebut dapat terlihat bahwa untuk periode 12 minggu kedepan forecast SE untuk klappertart akan meningkat pada minggu ke 124 dan cenderung stabil sampai akhir periode terakhir. Nilai forecast penjualan klappertart pada minggu ke 129 diramalkan penjualan akan meningkat juga pada minggu 130. Nilai persamaan paling besar diperoleh pada minggu ke 130, maka peramalan untuk penjualan klappertart dipengaruhi oleh makaroni itu sendiri dan juga pastel.

49 Gambar 9. Variance Decomposition Terhadap Klappertart Pada Gambar 9 diagram variance decomposition klappertart dapat diketahui bahwa penjualan klappertart dari periode 1 sampai 50 dipengaruhi oleh klappertart, sedangkan variabel lain yang mempengaruhi penjualan klappertart adalah makaroni. Pada diagram tersebut dapat dilihat bahwa variabel produk makaroni lebih berpengaruh dibandingkan produk pastel. hasil analisis FEVD dapat disimpulkan bahwa penjualan kalppertart dipengaruhi klapertart itu sendiri dan juga produk kue makaroni.

50 2. Makaroni MAKARONI = 9.12 + 1.13 PASTEL - 0.201 PASTEL1 + 0.195 MAKARONI1 + 0.0313 KLAPPERTART - 0.0105 KLAPPERTART1 Tabel 8. Hasil peramalan variable Makaroni selama 12 minggu ke depan Minggu Forecast SE Nilai Persamaan Nilai Forecast 119 ± 95 153 58 248 120 ± 96 450 354 546 121 ± 96 559 463 655 122 ± 96 221 125 317 123 ± 96 97 1 193 124 ± 96 140 44 236 125 ± 96 314 218 410 126 ± 96 194 98 290 127 ± 96 163 67 259 128 ± 96 158 62 254 129 ± 96 115 19 211 130 ± 96 117 21 213 Hasil peramalan Tabel 8 untuk makaroni menggunakan nilai waktu 12 minggu terakhir, perhitungan ini menggunakan persamaan regresi dari makaroni sehingga akan didapatkan hasil peramalan untuk 12 minggu ke depan. Untuk peramalan makaroni hanya dipengaruhi oleh klappertart dan pastel tidak terlalu berpengaruh, hal ini karena dari hasil IRF kedua variabel tersebut memberikan

51 respon negative. Nilai persamaan paling besar diperoleh pada minggu ke 121 artinya pada minggu tersebut apabila penjualan makaroni mengalami kenaikan maka akan berpengaruh terhadap penjualan klappertart dan pastel. Gambar 10. Variance Decomposition Terhadap Makaroni Pada Gambar 10 diagram makaroni ditunjukan mengenai hasil analisis FEVD untuk makaroni. Dari diagram tersebut ditunjukan variabel yang mempengaruhi penjualan untuk produk makaroni untuk periode 50 depan, dari hasil variance decomposition makaroni terlihat bahwa pengaruh penjualan makaroni pengaruhnya didominasi oleh produk makaroni itu sendiri, sedangkan untuk pengaruh variabel lain yaitu klappertart dan pastel, pengaruhnya lebih besar klappertart dibandingkan dengan pastel.

52 3.Pastel PASTEL = - 3.72 + 0.153 PASTEL1 + 0.647 MAKARONI - 0.0838 MAKARONI1 + 0.00606 KLAPPERTART - 0.00322 KLAPPERTART1 Tabel 9. Hasil peramalan variable Pastel selama 12 minggu ke depan Minggu Forecast SE Nilai Persamaan Nilai Forecast 119 ± 68 74 6 142 120 ± 69 83 14 152 121 ± 69 99 30 168 122 ± 69 119 50 188 123 ± 69 116 47 185 124 ± 69 127 58 196 125 ± 69 119 50 188 126 ± 69 112 43 181 127 ± 69 115 46 184 128 ± 69 118 49 187 129 ± 69 118 49 187 130 ± 69 119 50 188

53 Hasil peramalan Tabel 9 pastel diperoleh dari hasil perhitungan data penjualan selama 12 minggu terakhir, sehingga akan diperoleh hasil peramalan untuk 12 minggu ke depan. Jika dibandingkan dengan dua produk lainnya yaitu klappertart dan makaroni untuk nilai persamaan pastel bernilai lebih kecil, hal ini karena pastel merupakan salah kue tambahan dari klappertart dan penjualan untuk pastel pun cenderung meningkat ketika penjualan klappertart dan makaroni meningkat. Nilai persamaan paling besar diperoleh pada minggu ke 124 sehingga penjualan pastel diramalkan akan meningkat ketika klappertart dan makaroni laris di pasaran. Gambar 11. Variance Decomposition Terhadap Pastel Pada Gambar 11 diagram pastel merupakan hasil analisis FEVD terhadap produk pastel, dari hasil variance decomposition tersebut dapat dilihat bahwa penjualan pastel untuk 50 periode kedepan dipengaruhi oleh klappertart. Sedangkan untuk pengaruh variabel lain yaitu makaroni, pengaruhnya lebih besar daripada pastel itu sendiri. 4.2.8 Implikasi Manajerial Setelah melakukan analisis peramalan penjualan klappertart, makaroni dan pastel maka dapat diketahui produk apa yang memberikan pengaruh positif terhadap penjualan produk lainnya. Hasil tersebut dapat diketahui bahwa produk yang memiliki pengaruh positif terhadap penjualan produk lain adalah klappertart. Berdasarkan hal tersebut maka pihak Triple Combo harus mengutamakan produk tersebut dalam penjualannya, hal ini karena jika penjualan klappertart meningkat maka penjualan makaroni dan pastel pun akan ikut mengalami peningkatan.

54 Dalam bidang pemasaran, pihak Triple Combo harus meningkatkan strategi promosinya, hal ini agar peramalan penurunan penjualan tidak terjadi. Triple Combo sebaiknya menambah jenis-jenis produk yang ditawarkannya serta meningkatkan program pemasarannya. Selain itu perlu menyususn formulasi strategi pemasaran yang tepat dan efektif dalam menghadapi persaingan pemasaran terhadap produk-produk yang ditawarkan, yakni dapat dilakukan melalui keunggulan dari produk yang ditawarkan, kelengkapan dari jenis produk yang ditawarkan. Triple Combo juga dapat menetapkan target penjualan ketiga produk kedepannya. Implikasi dari hasil analisa dan interpretasi ini akan mempengaruhi keputusan manajerial seperti dalam merencanakan strategi pemasaran yang mungkin dilakukan. Melihat strategi pemasaran Triple Combo dapat melakukan promosi secara menyeluruh dan besar-besaran sebagai langkah memperkenalkan produknya kepada calon pembeli. Produk kue yang harus diutamakan dalam pemasaran adalah klappertart, karena seperti yang telah diketahui bahwa klappertart ini mempunyai pengaruh positif terhadap produk kue yang lain sehingga secara tidak langsung klappertart tersebut dapat membantu meningkatkan penjualan makaroni dan pastel sehingga dapat meningkat dari segi promosi maupun penjualannya. Triple Combo juga dapat mengetahui ramalan penjualan sebagai target penjualan kedepan dan mengantisipasi pada bulan yang diramalkan akan menurunnya penjualan suatu produk sehingga penurunan penjualan tersebut tidak terjadi, agar pada tahun ke tahunya mengalami kenaikan dan penjualan Triple Combo semakin meningkat. Perusahaan juga dapat mengetahui ramalan penjualan sebagai target penjualan kedepan dan mengantisipasi pada bulan yang diramalkan akan menurunnya penjualan suatu produk sehingga penurunan penjualan tersebut tidak terjadi.