IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IV. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 56 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Metode analisis yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode Vector Auto Regression (VAR) dan dilanjutkan dengan metode Vector Error Correction Model (VECM) Uji Akar Unit (Unit Root Test) Data variabel ekonomi banyak menggunakan data time series, dimana data tersebut sering menimbulkan permasalahan terkait dengan stasioneritas. Data yang stasioner adalah data yang menyebar pada rataan dan simpangan baku tertentu. Hampir 95 persen data ekonomi tidak stasioner, oleh karena itu dilakukanlah pengujian terlebih dahulu terhadap kestasionerannya. Tahapan pengujiannya dimulai dengan menguji apakah data dalam model mengandung akar-akar unit (unit root) atau tidak melalui uji Augmented Dickey Fuller (ADF). Model yang mengandung unit root akan menimbulkan ketidakvalidan serta menghasilkan spurious regression atau regresi lancung (Firdaus, 2011). Spurious regression merupakan data dengan R 2 tinggi, t statistik dan f statistik signifikan tetapi d w relatif kecil yaitu < 0,5. Regresi tersebut terlihat bagus namun pada kenyataannya tidak dan hasilnya tidak dapat diinterpretasikan secara ekonomi. Uji Augmented Dickey Fuller (ADF) merupakan tahap awal sebelum masuk pada tahapan analisis VAR, kriteria uji ADF ini adalah dengan membandingkan nilai ADF dengan nilai kritis Mc Kinnon. Hipotesis dalam pengujian ADF adalah sebagai berikut: H0 : δ = 0 (data tidak stasioner atau mengandung unit root) H1 : δ < 0 (data stasioner) Apabila nilai ADF statistik lebih kecil dari nilai kritis Mc Kinnon, maka hipotesis akan tolak H 0 dan data tersebut dikatakan stasioner (tidak mengandung unit root), begitu juga sebaliknya. Apabila nilai ADF statistik lebih besar dari nilai kritis Mc Kinnon maka hipotesis yang akan dihasilkan adalah tidak tolak H 0 atau terima H 1 dan data tersebut tidak stasioner (mengandung unit root).

2 57 Tabel 4.1. Hasil Uji Augmented Dickey Fuller (ADF) pada Tingkat Level Variabel Nilai Nilai Kritis Mc Kinnon ADF 1% 5% 10% Keterangan FD Tidak Stasioner Trade Stasioner LIBOR Tidak Stasioner GDP Tidak Stasioner RER Tidak Stasioner Sumber: Lampiran 1, data diolah Hasil dari uji ADF pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa variabel Foreign Debt, LIBOR, GDP, RER tidak stasioner pada tingkat level karena nilai ADF lebih besar dari Nilai Kritis Mc Kinnon sedangkan variabel Trade Openness sudah stasioner pada level dengan tingkat kritis 1%, 5%, 10%. Variabel yang tidak stasioner pada level harus dilanjutkan dengan uji ADF pada tingkat first difference hingga data yang digunakan menjadi stasioner. Tabel 4.2. Hasil Uji Augmented Dickey Fuller (ADF) pada First Difference Variabel Nilai ADF Nilai Kritis Mc Kinnon 1% 5% 10% Keterangan FD Stasioner Trade Stasioner LIBOR Stasioner GDP Stasioner RER Stasioner Sumber: Lampiran 1, data diolah Tabel 4.2. menunjukkan bahwa semua variabel sudah stasioner pada taraf nyata lima persen. Hal tersebut dilihat dari nilai ADF yang lebih kecil dari Nilai Kritis Mc Kinnon. Penggunaan data first difference akan menghilangkan informasi jangka panjang. Oleh karena itu, digunakan data level sehingga model VAR akan dikombinasikan dengan model VECM Uji Lag Optimal Tahap ke dua dalam metode VAR adalah penentuan lag optimal. Tahap ini diperlukan karena lag dari variabel endogen akan digunakan sebagai variabel eksogen. Jumlah lag yang terlalu pendek dapat memberikan spesifikasi yang salah, sedangkan lag yang terlalu panjang dapat mengurangi derajat bebas dan jumlah observasi. Kriteria yang digunakan dalam penentuan lag optimal antara lain; Akaike Information Criteria (AIC), Final Prediction Error (FPE), Hannan- Quinn Information Criterion (HQ), dan Schwarz Information Criterion (SC).

3 58 Jumlah lag yang optimal dalam penelitian ini didasarkan pada nilai Schwarz Information Criterion (SC) yang terkecil atau minimum. Tabel 4.3. menunjukkan bahwa lag optimal terdapat pada lag satu dengan nilai SC terkecil yaitu 2, dengan demikian lag yang digunakan dalam model VECM adalah lag satu. Tabel 4.3. Hasil Pengujian Lag Optimal Lag LogL LR FPE AIC SC HQ NA * 1.79e-06* * * E * Sumber: Lampiran 2, data diolah Keterangan: * lag optimal 4.3. Uji Stabilitas VAR Tahapan ke tiga dalam data time series adalah uji stabilitas VAR. Uji ini dilakukan untuk melihat apakah model VAR stabil atau tidak. Pengujian stabilitas VAR perlu dilakukan guna melihat validitas dalam analisis Impulse Response Function (IRF) dan juga Variance Decompotition (FEVD). Kestabilan model VAR dalam uji ini dilihat dari nilai modulus dari seluruh roots of characteristic polynominal yang kurang dari satu (Gujarati,2003). Tabel 4.4. memperlihatkan bahwa model VAR yang digunakan dalam penelitian ini stabil pada lag optimalnya yaitu lag satu karena nilai modulus dari seluruh roots memiliki nilai kurang dari satu. Tabel 4.4. Hasil Uji Stabilitas VAR Root Modulus i i i i i i Sumber: Lampiran 3, data diolah

4 Uji Kointegrasi Uji kointegrasi dapat dilakukan apabila seluruh variabel telah stasioner pada derajat yang sama yaitu derajat I(1) atau stasioner pada tingkat first difference. Uji ini digunakan untuk melihat jumlah persamaan yang tekointegrasi dalam model dan untuk melihat apakah metode VECM dapat digunakan atau tidak. Metode VECM dapat digunakan dalam analisis, jika terdapat lebih dari nol rank kointegrasi. Hasil uji kointegrasi menggunakan Johanssen s Trace Statistic Test dapat dilihat pada Tabel 4.5. Tabel 4.5. Hasil Uji Kointegrasi Johanssen Hypothesized No. of CE(s) Eigenvalue Trace Statistic 0.05 Critical Value Prob.** None * At most 1 * At most At most At most Sumber: Lampiran 4, data diolah Jumlah persamaan yang terkointegrasi dapat dilihat dengan membandingkan nilai Trace Statistic dengan nilai Kritis lima persen. Apabila nilai Trace Statistic lebih besar dari nilai kritis yang digunakan maka sebuah persamaan dapat dinyatakan terkointegrasi. Tabel 4.4 menunjukkan bahwa terdapat dua persamaan yang terkointegrasi Uji Kausalitas Granger Analisis hubungan kausalitas dari setiap variabel dapat dilihat dalam uji kausalitas granger. Dalam penelitian ini, uji kausalitas dilakukan dengan menggunakan Granger Causality dengan hipotesis awal (H 0 ) tidak ada hubungan kausalitas dan hipotesis alternatifnya (H 1 ) terdapat hubungan kausalitas. Kriteria penolakan H 0 adalah dengan melihat nilai probabilitas yang lebih kecil dari nilai kritis yang ditentukan yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.6.

5 60 Tabel 4.6. Hasil Granger Causality Test Peubah Tak Bebas Peubah Bebas Probability TRADE FD ** LIBOR * GDP FD ** LIBOR * RER FD * LIBOR ** Sumber: Lampiran 5, data diolah Keterangan: * signifikan pada α = 5% ** signifikan pada α = 10% Hasil uji kausalitas pada Tabel 4.6. menunjukkan bahwa hanya terdapat hubungan satu arah antar variabel yaitu variabel TRADE, GDP, dan RER yang mempunyai pengaruh terhadap variabel FD dan LIBOR secara signifikan pada taraf nyata lima persen dan sepuluh persen Hasil Estimasi VECM Variabel yang tidak stasioner pada tingkat level tetap dapat dilakukan estimasi VECM jika terdapat minimal satu persamaan yang terkointegrasi. Estimasi VECM ini dilakukan untuk menghindari kehilangan informasi jangka panjang akibat variabel yang tidak stasioner. VECM menunjukkan hubungan keseimbangan jangka pendek dan jangka panjang antara liberalisasi perdagangan terhadap beban utang luar negeri Indonesia. Variabel dependennya adalah utang luar negeri Indonesia (FD), sedangkan variabel independennya adalah TRADE, LIBOR, RER, dan GDP. Tabel 4.7. Hasil Estimasi VECM Jangka Pendek Jangka Pendek Variabel Koefisien T-statistik CointEq * D(FD(-1)) * D(GDP(-1)) D(RER(-1)) D(TRADE(-1)) D(LIBOR(-1)) C Sumber: Lampiran 6, data diolah Keterangan: * signifikan pada α = 5%

6 61 Hasil estimasi VECM dalam jangka pendek menunjukkan bahwa hanya terdapat satu variabel yang berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia, yaitu variabel utang luar negeri (FD) lag pertama. Sedangkan variabel lain yaitu GDP lag pertama, RER lag pertama, TRADE lag pertama, dan LIBOR lag pertama tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia dalam jangka pendek. Hasil signifikansi tersebut dilihat dari nilai T-statistik yang harus lebih besar dari dua. Selain itu dengan nilai kointegrasi kesalahan yang signifikan dan bernilai negatif sebesar -0,50 persen maka dinyatakan bahwa terbukti adanya mekanisme penyesuaian dari jangka pendek ke jangka panjang. FD lag pertama berpengaruh signifikan terhadap FD itu sendiri pada taraf nyata lima persen secara positif sebesar 0,518870, artinya jika utang luar negeri Indonesia lag pertama mengalami peningkatan sebesar satu persen maka utang luar negeri Indonesia saat ini akan mengalami peningkatan sebesar 0, persen. Utang luar negeri periode sebelumnya yang meningkat menyebabkan utang luar negeri saat ini juga mengalami peningkatan, hal ini disebabkan oleh jumlah utang luar negeri yang semakin terakumulasi ditambah dengan beban bunga utang yang harus dibayar. Dengan demikian apabila pemerintah Indonesia terus melakukan pinjaman dari luar negeri maka akan berdampak pada peningkatan jumlah utang luar negeri Indonesia untuk periode selanjutnya. Peningkatan akumulasi utang luar negeri Indonesia disebabkan oleh manajemen pengelolaan utang luar negeri Indonesia yang kurang baik. Menurut Harinowo (2004), jika dilihat asalnya, utang pemerintah Indonesia tidak hanya dari utang luar negeri tapi juga merupakan campuran antara utang luar negeri dan domestik. Oleh karena itu, pengelolaan utang harus mempertimbangkan berbagai variabel makro dan internasional seperti tingkat bunga, nilai tukar dan inflasi. Berdasarkan kajian direktorat internasional BI 2009, pengelolaan utang yang tidak tepat dapat berisiko meningkatkan biaya atas perekonomian. Para investor cenderung akan menetapkan risk premium sebagai biaya tambahan atas ketidakpastian dalam kerangka kerja kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi. Dengan demikian, pengelolaan utang pemerintah secara tidak tepat akan dapat meningkatkan risk premium pinjaman luar negeri pemerintah. Peningkatan risk

7 62 premium dapat dilihat dari pandangan negatif investor yang pada akhirnya dapat mengakibatkan instabilitas pasar keuangan domestik dan meningkatkan kerentanan terhadap gangguan sektor keuangan. Kebijakan pengelolaan utang tidak hanya mencakup masalah pinjaman dan alokasi. Dalam pemanfaatan sumber pembiayaan negara, perlu memperhatikan aspek-aspek manajemen risiko dan analisa biaya dengan baik. Hal ini berkaitan dengan perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh setiap negara debitur. Minimalisasi biaya dapat dilakukan dengan cara penggunaan instrumen dan teknik penjualan yang inovatif. Sedangkan untuk mencapai tingkat risiko yang aman, manajemen risiko yang bersifat prudensial juga dirasakan penting sekali bagi pengelola utang (debt manager). Portofolio utang pemerintah umumnya merupakan portofolio keuangan terbesar di suatu negara dengan struktur keuangan dan risiko yang kompleks dan berisiko yang dapat menimbulkan risiko substansial terhadap balance sheet milik pemerintah dan stabilitas keuangan Negara. Di samping itu, menurut IMF dan World Bank 2003, portofolio utang pemerintah juga rentan terhadap kemungkinan gagal bayar dan besarnya kerugian yang mungkin akan ditanggung pemerintah sehingga menyebabkan akumulasi utang luar negeri yang semakin meningkat. Tabel 4.8. Hasil Estimasi VECM Jangka Panjang Jangka Panjang Variabel Koefisien T-statistik GDP(-1) * RER(-1) * TRADE(-1) * LIBOR(-1) Sumber: Lampiran 6, data diolah Keterangan: * signifikan pada α = 5% Hasil estimasi model VECM pada persamaan jangka panjang menunjukkan bahwa terdapat tiga variabel yang signifikan yaitu Gross Domestic Product (GDP) lag pertama, Real Exchange Rate (RER) lag pertama, dan trade openness (TRADE) lag pertama, sedangkan international interest rate (LIBOR) lag pertama tidak signifikan pada jangka panjang. Gross Domestic Product (GDP) lag pertama pada jangka panjang berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia (FD) pada tingkat

8 63 lima persen secara positif sebesar 2,997716, artinya jika GDP meningkat satu persen maka FD mengalami peningkatan sebesar 2, persen. Hasil estimasi ini sesuai dengan identitas (2.1) dan identitas (2.2), dimana GDP merupakan komponen dari konsumsi, pengeluaran pemerintah, pajak, investasi, tabungan, eskpor dan impor. Setiap kenaikan dari pengeluaran pemerintah (G) dan investasi (I), maka akan menyebabkan terjadinya peningkatan GDP namun berdampak pada defisit anggaran pemerintah serta defisit tabungan dan investasi yang tinggi dan menyebabkan utang luar negeri Indonesia juga meningkat sesuai dengan identitas (2.5) sebagai berikut: D t = ( I S) t + (G T) t +DSt NFL t + R t + NOL t (2.5) Identitas (2.5) ini menunjukkan bahwa selain untuk membiayai defisit transaksi berjalan, utang luar negeri juga dibutuhkan untuk membiayai defisit anggaran pemerintah, serta kesenjangan tabungan dan investasi. Dengan demikian, apabila G dan I meningkat akan meningkatkan GDP dan juga akan meningkatkan utang luar negeri Indonesia. Real Exchange Rate (RER) lag pertama pada jangka panjang berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia (FD) pada tingkat lima persen secara positif sebesar 1,14683, artinya jika RER meningkat satu persen maka FD mengalami peningkatan sebesar 1,14683 persen. Teori ekonomi menyatakan bahwa apabila terjadi depresiasi mata uang Rupiah terhadap Dollar AS maka akan berdampak pada peningkatan jumlah Rupiah yang harus dikeluarkan untuk membayar setiap Dolar utang luar negeri Indonesia. Hal ini menyebabkan jumlah utang luar negeri Indonesia semakin meningkat, begitu juga sebaliknya. Namun, fakta menunjukkan bahwa jumlah utang luar negeri Indonesia selalu meningkat setiap tahunnya baik pada saat Rupiah terdepresiasi atau terapresiasi. Hal ini dikarenakan pemerintah lebih berorientasi pada defisit anggaran yang harus dibiayai oleh utang luar negeri, sehingga jumlah utang luar negeri Indonesia selalu meningkat. Trade openness (TRADE) lag pertama pada jangka panjang berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia (FD) pada tingkat lima persen secara negatif sebesar 0,012415, artinya jika TRADE meningkat satu persen maka FD akan menurun sebesar 0, persen. Liberalisasi perdagangan mempunyai

9 64 hubungan yang negatif terhadap beban utang luar negeri, yaitu apabila terjadi peningkatan liberalisasi perdagangan maka akan terjadi penurunan utang luar negeri Indonesia. Hal ini dikarenakan liberalisasi perdagangan akan meningkatkan kegiatan ekspor dan impor dimana suatu negara dapat dengan bebas melakukan kegiatan ekspor ke negara lain tanpa ada hambatan tarif maupun non tarif dan akan meningkatkan devisa suatu negara. Menurut Auboin (2004), liberalisasi perdagangan dapat meningkatkan alokasi sumber daya pada tingkat nasional dan internasional, dan dapat meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal. Apabila liberalisasi perdagangan memerhatikan kebutuhan khusus negara berkembang, mereka juga bisa mendapatkan keuntungan dari liberalisasi perdagangan tersebut. Namun, apabila Indonesia belum mempunyai daya saing terhadap barang dan jasa asing yang masuk ke pasar domestik, liberalisasi perdagangan justru membuat pasar dalam negeri melimpah akan produk impor dari negara lain dan hal ini akan menurunkan net eskpor dan meningkatkan utang luar negeri Indonesia. Variabel international interest rate (LIBOR) lag pertama pada jangka panjang berpengaruh tidak signifikan terhadap utang luar negeri Indonesia (FD) pada tingkat lima persen secara negatif sebesar 0,005226, artinya jika LIBOR meningkat satu persen maka FD akan menurun sebesar 0, persen. Suku bunga internasional yang mengalami peningkatan menyebabkan Indonesia mengurangi jumlah utang luar negerinya. Hal ini disebabkan karena suku bunga yang tinggi akan membebankan pemerintah Indonesia atas modal yang dipinjam dari luar negeri yang harus dikembalikan dengan jumlah yang lebih tinggi seiring dengan peningkatan suku bunga, sehingga mengurangi keinginan pemerintah Indonesia untuk melakukan pinjaman dari luar negeri Analisis Impuls Response Function (IRF) IRF mengukur pengaruh suatu guncangan pada suatu waktu kepada inovasi variabel endogen pada saat tersebut dan di masa yang akan datang (Firdaus, 2011). Analisis Impulse Response Function (IRF) dalam penelitian ini dilakukan untuk menilai respon dinamik dari variabel utang luar negeri (FD), jika terjadi guncangan (shock) pada variabel Gross Domestic Product (GDP), Real

10 65 Exchange Rate (RER), trade openness (TRADE), dan international interest rate (LIBOR). Sumbu vertikal menujukkan nilai koefisien hasil peramalan, sedangkan sumbu horizontal menunjukkan rentang periode peramalan. Gambar 4.1. menunjukkan respon FD terhadap Guncangan FD itu sendiri, GDP, RER, TRADE, dan LIBOR. Respon FD terhadap FD itu sendiri berfluktuatif dari periode awal hingga periode ke-36 dan secara keseluruhan direspon positif. Artinya, jika terjadi peningkatan utang luar negeri periode sebelumnya maka akan meningkatkan utang luar negeri Indonesia periode selanjutnya. Utang luar negeri (FD) sangat cepat merespon guncangan GDP secara berfluktuatif dari awal periode peramalan dan direspon stabil dimulai dari periode ke-39 hingga periode akhir peramalan. Dari periode awal hingga periode akhir guncangan GDP secara keseluruhan direspon positif oleh FD artinya, jika GDP diberikan guncangan maka akan meningkatkan FD hingga mencapai titik puncak 0,08 standar deviasi. Oleh sebab itu bila terdapat guncangan pada GDP, FD akan merespon dengan cepat. Respon FD terhadap guncangan RER direspon negatif secara keseluruhan dari periode awal peramalan hingga periode akhir peramalan. Respon yang diberikan FD tidak terlalu signifikan atau fluktuasinya relatif kecil dan stabil pada periode ke-29 peramalan. Respon ini tidak sesuai dengan hasil estimasi VECM terhadap variabel RER pada jangka panjang yang menunjukkan hubungan yang positif, sedangkan pada hasil IRF menunjukkan fluktuasi yang negatif. Guncangan TRADE terhadap FD direspon negatif secara keseluruhan dari periode awal peramalan hingga periode akhir peramalan. Respon yang diberikan berfluktuatif dan stabil pada periode ke-17 peramalan. Respon negatif yang diberikan oleh FD terhadap guncangan TRADE menunjukkan bahwa jika terjadi penurunan TRADE maka akan mengurangi penerimaan devisa dari kegiatan perdagangan tersebut dan akan berdampak terhadap peningkatkan utang luar negeri Indonesia. Guncangan LIBOR terhadap FD direspon negatif secara keseluruhan dari periode awal peramalan hingga periode akhir peramalan. Respon yang diberikan tidak terlalu berfluktuatif dan sudah stabil pada periode ke-28 peramalan. Suku bunga internasional yang tinggi mengurangi keinginan pemerintah Indonesia

11 66 untuk melakukan pinjaman luar negeri sehingga memberikan respon yang negatif. Hasil IRF tersebut menunjukkan bahwa dari kelima guncangan yang diberikan kepada FD, respon FD terhadap guncangan LIBOR memberikan respon yang lebih cepat mencapai kestabilan. Response to Cholesky One S.D. Innovations Response of FD to FD Response of FD to GDP Response of FD to RER Response of FD to TRADE Response of FD to LIBOR Sumber: Lampiran 7, data diolah Gambar 4.1. Respon FD terhadap Guncangan FD, GDP, RER, TRADE, dan LIBOR

12 Analisis Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) FEVD berfungsi untuk memprediksi kontribusi setiap variabel terhadap guncangan atau perubahan variabel tertentu (Ascarya, 2009). Peramalan dekomposisi varian dalam penelitian ini digunakan untuk melihat seberapa besar inovasi dari variabel TRADE, IR, GDP dan RER dalam menjelaskan pinjaman luar negeri sebagai variabel endogen. Tabel 4.9. Dekomposisi Varians Foreign Debt Periode Guncangan (%) S.E. FD GDP RER TRADE LIBOR Sumber: Lampiran 8, data diolah Pada tahun pertama guncangan FD dipengaruhi oleh dirinya sendiri sebesar 100 persen. Pada tahun ke-5 guncangan FD dipengaruhi oleh dirinya sendiri sebesar 73,82 persen, kontribusi dari GDP sebesar 24,03 persen, kontribusi dari RER sebesar 0,48, kontribusi dari TRADE sebesar 0,66 persen, serta kontribusi dari LIBOR sebesar 1,005 persen. Kontribusi dari variabel lain pada tahun ke-10 bervariasi, dimana GDP memberikan kontribusi sebesar 26,97 persen, FDI dipengaruhi oleh diri sendiri sebesar 70,45 persen, RER sebesar 0,81 persen, kontribusi dari TRADE sebesar 0,37 persen, serta kontribusi dari LIBOR sebesar 1,40 persen. Guncangan FD pada tahun ke-15 hingga tahun ke-50 secara keseluruhan lebih dipengaruhi oleh dirinya sendiri namun mengalami penurunan dari kontribusi sebesar 69,56 persen hingga 68,40 persen. GDP memberikan peningkatan kontribusi dalam rentang 27,75 persen hingga 28,77 persen, RER sebesar 0,89 persen hingga 0,99 persen, TRADE dalam rentang 0,28 persen hingga 0,17 persen, dan LIBOR mengalami kenaikan sebesar 1,52 persen hingga

13 68 1,66 persen. Variabel FD yang dipengaruhi oleh guncangan FD sendiri memberikan proporsi kontribusi yang relatif lebih tinggi dari tahun awal hingga akhir tahun peramalan, dan variabel makroekonomi lain yang memberikan kontribusi terbesar kedua adalah variabel GDP, dan diikuti oleh variabel RER, TRADE, dan LIBOR hingga kuartal ke Variance Decomposition of FD: LIBOR TRADE RER GDP FD Gambar 4.2. Variance Decomposition dari Foreign Debt

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kestasioneran data diperlukan pada tahap awal data time series

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kestasioneran data diperlukan pada tahap awal data time series IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengujian Pra Estimasi 4.1.1. Kestasioneran Data Pengujian kestasioneran data diperlukan pada tahap awal data time series untuk melihat ada tidaknya unit root yang terkandung

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. metode Vector Auto Regression (VAR) dan dilanjutkan dengan metode Vector

HASIL DAN PEMBAHASAN. metode Vector Auto Regression (VAR) dan dilanjutkan dengan metode Vector 52 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Metode analisis yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode Vector Auto Regression (VAR) dan dilanjutkan dengan metode Vector Error Correction Model (VECM).

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Akar Unit (Unit Root Test) bahwa setiap data time series yang akan dianalisis akan menimbulkan spurious

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Akar Unit (Unit Root Test) bahwa setiap data time series yang akan dianalisis akan menimbulkan spurious 48 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengujian Akar Unit (Unit Root Test) Pengujian akar unit merupakan tahap awal sebelum melakukan estimasi model time series. Pemahaman tentang pengujian akar unit ini mengandung

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Pra Estimasi Uji Akar Unit (Unit Root Test) Pada penerapan analisis regresi linier, asumsi-asumsi dasar yang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Pra Estimasi Uji Akar Unit (Unit Root Test) Pada penerapan analisis regresi linier, asumsi-asumsi dasar yang 40 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Pra Estimasi 4.1.1. Uji Akar Unit (Unit Root Test) Pada penerapan analisis regresi linier, asumsi-asumsi dasar yang telah ditentukan harus dipenuhi. Salah satu asumsi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 46 III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa data time series dari tahun 1986-2010. Data tersebut diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS),

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. time series. Data time series umumnya tidak stasioner karena mengandung unit

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. time series. Data time series umumnya tidak stasioner karena mengandung unit 48 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Uji Kestasioneritasan Data Uji stasioneritas data dilakukan pada setiap variabel yang digunakan pada model. Langkah ini digunakan untuk menghindari masalah regresi lancung

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. stasioner dari setiap masing-masing variabel, baik itu variabel independent

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. stasioner dari setiap masing-masing variabel, baik itu variabel independent BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Kausalitas Intrumen Data. 1. Uji Stasioner Data. Tahap pertama dalam metode VECM yaitu dengan melakukan pengujian stasioner dari setiap masing-masing variabel,

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Uji Stasioneritas Data

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Uji Stasioneritas Data BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Kausalitas dan Instrumen Data 1. Uji Stasioner Test Variabel Level t-statistik Sumber: Data Diolah Tabel 5.1 Uji Stasioneritas Data Prob ULN 2.065415 0.9998

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. waktu (time series) dari tahun 1986 sampai Data tersebut diperoleh dari

METODE PENELITIAN. waktu (time series) dari tahun 1986 sampai Data tersebut diperoleh dari 40 III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Dan Sumber Data Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang relevan dengan penelitian. Semua data yang digunakan merupakan data deret

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. terdiri dari data pinjaman luar negeri, pengeluaran pemerintah, penerimaan pajak,

METODE PENELITIAN. terdiri dari data pinjaman luar negeri, pengeluaran pemerintah, penerimaan pajak, III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data terdiri dari data pinjaman luar negeri, pengeluaran pemerintah, penerimaan pajak,

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Untuk memenuhi salah satu asumsi dalam uji data time series dan uji

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Untuk memenuhi salah satu asumsi dalam uji data time series dan uji BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Uji Stasioneritas Untuk memenuhi salah satu asumsi dalam uji data time series dan uji VECM, maka perlu terlebih dahulu dilakukan uji stasioneritas. Uji stationaritas yang

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. atas, data stasioner dibutuhkan untuk mempengaruhi hasil pengujian

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. atas, data stasioner dibutuhkan untuk mempengaruhi hasil pengujian BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Kualitas dan Instrumen Data 1. Uji Stasioneritas Tahap pertama yang harus dilalui untuk mendapatkan estimasi VECM adalah pengujian stasioneritas data masing-masing

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 59 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dijelaskan pelaksanaan tahapan-tahapan metode VECM yang terbentuk dari variabel-variabel capital gain IHSG (capihsg), yield obligasi 10 tahun (yieldobl10)

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Kausalitas dan Instrumen Data 1. Uji Stasioneritas Dalam mendapatkan estimasi model VECM, tahap pertama yang harus dilakukan pada pengujian data adalah dengan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 45 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Untuk menggambarkan bagaimana pengaruh capital gain IHSG dengan pergerakan yield obligasi pemerintah dan pengaruh tingkat suku bunga terhadap IHSG dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Obyek/Subyek yang diamati dalam penelitian ini adalah Pembiayaan Modal Kerja UMKM dengan variabel independen DPK, NPF, Margin, dan Inflasi sebagai variabel

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Unit Root Test Augmented Dickey Fuller (ADF-Test)

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Unit Root Test Augmented Dickey Fuller (ADF-Test) BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Stasioneritas Tahap pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan estimasi VECM adalah pengujian stasioneritas data masing-masing variabel,

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. maupun variabel dependent. Persamaan regresi dengan variabel-variabel yang

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. maupun variabel dependent. Persamaan regresi dengan variabel-variabel yang BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Uji Stasioneritas 5.1.1 Uji Akar Unit ( Unit Root Test ) Tahap pertama dalam metode VAR yaitu dengan melakukan pengujian stasioner dari setipa masing-masing variabel,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek Penelitian Dalam penelitian ini, obyek yang diamati yaitu inflasi sebagai variabel dependen, dan variabel independen JUB, kurs, BI rate dan PDB sebagai variabel yang

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengujian Stasioner Data / Uji Akar (Unit Root Test) Suatu data atau variabel dapat dikatakan stasioner apabila nilai rata-rata dan memiliki varians yang konstan

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN

III METODE PENELITIAN 18 III METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Mengetahui kointegrasi pada setiap produk adalah salah satu permasalahan yang perlu dikaji dan diteliti oleh perusahaan. Dengan melihat kointegrasi produk,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. mengandung akar-akar unit atau tidak. Data yang tidak mengandung akar unit

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. mengandung akar-akar unit atau tidak. Data yang tidak mengandung akar unit 32 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Estimasi VAR 4.1.1 Uji Stasioneritas Uji kestasioneran data pada seluruh variabel sangat penting dilakukan untuk data yang bersifat runtut waktu guna mengetahui apakah

Lebih terperinci

BAB 4 PEMBAHASAN. 51 Universitas Indonesia. Keterangan : Semua signifikan dalam level 1%

BAB 4 PEMBAHASAN. 51 Universitas Indonesia. Keterangan : Semua signifikan dalam level 1% BAB 4 PEMBAHASAN 4.1. Hasil Uji Stasioneritas Data Data yang akan digunakan untuk estimasi VAR perlu dilakukan uji stasioneritasnya terlebih dahulu. Suatu data dikatakan stasioner jika nilai rata-rata

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Bentuk data berupa data time series dengan frekuensi bulanan dari Januari 2000

III. METODE PENELITIAN. Bentuk data berupa data time series dengan frekuensi bulanan dari Januari 2000 28 III. METODE PENELITIAN 3.1. Data 3.1.1. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Bentuk data berupa data time series dengan frekuensi bulanan dari Januari

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Perusahaan merupakan suatu badan hukum yang memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai salah satunya yaitu mendapatkan keuntungan. Untuk mencapai

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Obyek Penelitian Obyek penelitian adalah sesuatu yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian, objek penelitian ini menjadi sasaran dalam penelitian untuk mendapatkan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan maka yang dijadikan objek

III. METODOLOGI PENELITIAN. Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan maka yang dijadikan objek 53 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan maka yang dijadikan objek penelitian yang dilakukan, maka penelitian ini akan menganalisis kinerja kebijakan

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Kualitas Instrumen 1. Hasil Uji Stasioneritas Data (Unit Root Test) Uji stasioneritas data menggunakan metode pengujian ADF (Augmented Dickey Fuller)

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 49 BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian Variabel-variabel dalam penelitian ini menggunakan variabel dependen dan independen. Variabel dependen

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam data time series adalah uji stasioner,

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam data time series adalah uji stasioner, V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Pengujian Pra Estimasi 5.1.1. Uji Kestasioneran Data Langkah awal yang perlu dilakukan dalam data time series adalah uji stasioner, untuk melihat ada atau tidaknya unit root

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series 40 III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series sekunder. Data-data tersebut diperoleh dari berbagai sumber, antara lain dari

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. sekunder yang akan digunakan ialah data deret waktu bulanan (time series) dari bulan

BAB III METODE PENELITIAN. sekunder yang akan digunakan ialah data deret waktu bulanan (time series) dari bulan 40 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang akan dipakai dalam penelitian ini berupa data sekunder. Data sekunder yang akan digunakan ialah data deret waktu bulanan (time series)

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini 51 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode analisis Vector Error Correction (VEC) yang dilengkapi dengan dua uji lag structure tambahan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada

BAB III METODE PENELITIAN. kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada BAB III METODE PENELITIAN Menurut Sugiyono (2013), Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat

Lebih terperinci

BAB IV. Hasil dan Pembahasan. 1. Analisis Deskriptif Saham Sektor Pertanian. dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor-sektor ini

BAB IV. Hasil dan Pembahasan. 1. Analisis Deskriptif Saham Sektor Pertanian. dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor-sektor ini BAB IV Hasil dan Pembahasan A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Analisis Deskriptif Saham Sektor Pertanian Jakarta Islamic Index dimaksudkan untuk digunakan sebagai tolak ukur untuk mengukur kinerja suatu

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran 20 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Kerangka pemikiran dalam penelitian dapat dijadikan landasan dalam setiap tahap penelitian. Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui metode

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. merupakan data time series dari bulan Januari 2002 sampai Desember Data

METODE PENELITIAN. merupakan data time series dari bulan Januari 2002 sampai Desember Data 23 III. METODE PENELITIN 3.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan data time series dari bulan Januari 2002 sampai Desember 2009. Data

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Indonesia dan variabel independen, yaitu defisit transaksi berjalan dan inflasi.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Indonesia dan variabel independen, yaitu defisit transaksi berjalan dan inflasi. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini difokuskan pada variabel dependen utang luar negeri Indonesia dan variabel independen, yaitu defisit transaksi berjalan dan inflasi.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian. Dalam penelitian ini penulis memilih impor beras sebagai objek melakukan riset di Indonesia pada tahun 1985-2015. Data bersumber dari Badan Pusat Statistika

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Kualitas Data 1. Hasil Uji Stasioneritas/ Unit Root Test Uji stasioneritas dalam penelitian ini adalah menggunakan uji akar-akar unit (Unit Root Test) dengan

Lebih terperinci

Penjualan Pasokan Penjualan Pasokan Penjualan Pasokan

Penjualan Pasokan Penjualan Pasokan Penjualan Pasokan LAMPIRAN Lampiran 1. Data Penjualan dan Pasokan Bulan January 2005 2006 2007 Penjualan Pasokan Penjualan Pasokan Penjualan Pasokan 293.57 291.82 325.64 546.955 359.88 762.063 February 297.05 291.82 341.45

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Deskriptif 4.1.1 Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi Produksi padi Indonesia meskipun mengalami fluktuasi namun masih menunjukkan pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS HASIL PENELITIAN

BAB V ANALISIS HASIL PENELITIAN 70 BAB V ANALISIS HASIL PENELITIAN 5.1. Uji Stasioneritas Uji stasioneritas merupakan tahap yang paling penting dalam menganalisis data time series untuk melihat ada tidaknya unit root yang terkandung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. B. Belanja Negara (triliun Rupiah)

I. PENDAHULUAN. B. Belanja Negara (triliun Rupiah) 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sedang fokus terhadap pembangunan nasional. Menurut data Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa time series

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa time series 30 III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa time series bulanan periode Mei 2006 sampai dengan Desember 2010. Sumber data di dapat dari Statistik

Lebih terperinci

Perkembangan M1 dan M2

Perkembangan M1 dan M2 2011 Juni Des Maret Sept 2013 Juni Des Maret Sept 2015 Juni Des Maret Sept dalam miliar rupiah 52 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pergerakan Permintaan Uang di Indonesia Dalam melihat pergerakan permintaan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu pendekatan dengan cara mengukur variabel yang di lingkari oleh teori atau satu

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Sifat Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif karena menggunakan data penelitian berupa angka-angka dan analisis dengan menggunakan metode

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. analisis yang berupa angka-angka sehingga dapat diukur dan dihitung dengan

BAB III METODE PENELITIAN. analisis yang berupa angka-angka sehingga dapat diukur dan dihitung dengan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan analisis yang berupa angka-angka sehingga dapat diukur dan dihitung dengan menggunakan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data sekunder.data ini

METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data sekunder.data ini 27 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Pada penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data sekunder.data ini bersumber dari Bank Indonesia (www.bi.go.id), Badan Pusat Statistik (www.bps.go.id).selain

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif deskriptif. Pendekatan kuantitatif deskripstif merupakan pengujian hipotesis

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan yang dijadikan objek

METODOLOGI PENELITIAN. Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan yang dijadikan objek III. METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan yang dijadikan objek penelitian, maka penelitian ini hanya menganalisis mengenai harga BBM dan nilai tukar

Lebih terperinci

V. SPESIFIKASI MODEL DAN HUBUNGAN CONTEMPORANEOUS

V. SPESIFIKASI MODEL DAN HUBUNGAN CONTEMPORANEOUS 59 V. SPESIFIKASI MODEL DAN HUBUNGAN CONTEMPORANEOUS 5.1 Pengujian Asumsi Time Series 5.1.1 Uji Stasioneritas Uji Stasioneritas merupakan uji awal untuk setiap data time series yang masuk dalam model dalam

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian Respon PDB terhadap shock

METODE PENELITIAN. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian Respon PDB terhadap shock 40 III. METODE PENELITIAN Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian Respon PDB terhadap shock kredit perbankan, pembiayaan pada lembaga keuangan non bank dan nilai emisi saham pada pasar modal

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. perubahan sehingga harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan data dilakukan dengan

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. perubahan sehingga harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan data dilakukan dengan BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Sumber Data Keselurahan data yang diterima sebelumnya belum mengindikasikan dinamika perubahan sehingga harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan data dilakukan dengan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Perusahaan memiliki tujuan yang pada dasarnya mendapatkan keuntungan demi kelancaran usahanya dan mampu bersaing dalam lingkungan bisnis secara

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Kuantitas dan Instrumen Data 1. Uji Stasioneritas Tahap pertama yang harus dilalui untuk mendapatkan estimasi VECM adalah pengujian stasioneritas data masing-masing

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. series. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah BI rate, suku bunga

III. METODE PENELITIAN. series. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah BI rate, suku bunga III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk time series. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah BI rate, suku

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 61 BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Stasioneritas Dalam meneliti data time series, yang pertama harus dilakukan adalah dengan menggunakan uji stasioneritas. Uji stasioneritas yang digunakan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Perkembangan Produk Domestik Bruto Nasional Produk domestik bruto adalah nilai pasar dari semua barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam suatu negara dalam kurun waktu

Lebih terperinci

INTEGRASI SPASIAL PADA PASAR MINYAK GORENG DI INDONESIA

INTEGRASI SPASIAL PADA PASAR MINYAK GORENG DI INDONESIA 101 IX. INTEGRASI SPASIAL PADA PASAR MINYAK GORENG DI INDONESIA Meskipun industri minyak goreng sawit telah tersebar di 19 propinsi, sentra produksi minyak goreng yang utama masih terpusat di Indonesia

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. diperoleh dari data Bank Indonesia (BI) dan laporan perekonomian indononesia

III. METODOLOGI PENELITIAN. diperoleh dari data Bank Indonesia (BI) dan laporan perekonomian indononesia III. METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Dan Sumber Data Data digunakan adalah data sekunder (time series) berupa data bulanan yang diperoleh dari data Bank Indonesia (BI) dan laporan perekonomian indononesia

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah PDB, Ekspor, dan

METODE PENELITIAN. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah PDB, Ekspor, dan III. METODE PENELITIAN A. Deskripsi Data Input Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah PDB, Ekspor, dan Foreign Direct Investment ((FDI). Deskripsi tentang satuan pengukuran, jenis

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN

BAB III DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN BAB III DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN III.1 Data penelitian Penelitian interdependensi pasar saham indonesia dengan pasar saham dunia ini menggunakan data sekunder berupa nilai penutupan harian/daily

Lebih terperinci

ANALISIS KAUSALITAS ANTARA CAPITAL INFLOW DAN NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA DINA OKTARIA PAIDI HIDAYAT

ANALISIS KAUSALITAS ANTARA CAPITAL INFLOW DAN NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA DINA OKTARIA PAIDI HIDAYAT ANALISIS KAUSALITAS ANTARA CAPITAL INFLOW DAN NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA DINA OKTARIA PAIDI HIDAYAT ABSTRACK This study aims to know whether there is a significant interrelationship between the Capital

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret 2012. Penelitian dilakukan di Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo). Penentuan tempat dilakukan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian Analisis Faktor-Faktor Yang

III. METODE PENELITIAN. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian Analisis Faktor-Faktor Yang III. METODE PENELITIAN A. Deskripsi Data Variabel Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Cadangan Devisa di Indonesia Periode 2000-2014 adalah cadangan

Lebih terperinci

KAUSALITAS INFLASI DAN KURS DI INDONESIA Mirza Winanda 1, Chenny Seftarita 2* Abstract

KAUSALITAS INFLASI DAN KURS DI INDONESIA Mirza Winanda 1, Chenny Seftarita 2* Abstract KAUSALITAS INFLASI DAN KURS DI INDONESIA Mirza Winanda 1, Chenny Seftarita 2* 1) Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Email: [email protected] 2)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Perkembangan Instrumen Kebijakan Moneter Syariah di Indonesia

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Perkembangan Instrumen Kebijakan Moneter Syariah di Indonesia BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perkembangan Instrumen Kebijakan Moneter Syariah di Indonesia Industri perbankan syariah mulai berkembang pada awal tahun 1980-an dari diskusi para ekonom yang bertemakan

Lebih terperinci

Analisis Hubungan Ekspor, Impor, PDB, dan Utang Luar Negeri Indonesia Periode

Analisis Hubungan Ekspor, Impor, PDB, dan Utang Luar Negeri Indonesia Periode JEKT Analisis Hubungan Ekspor, Impor, PDB, dan Utang Luar Negeri Indonesia Periode 1970-2013 Dison M.H. Batubara *) I.A. Nyoman Saskara Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Lebih terperinci

1 analisis regresi dengan pendekatan VECM

1 analisis regresi dengan pendekatan VECM 1 analisis regresi dengan pendekatan VECM BAHAN AJAR EKONOMETRIKA AGUS TRI BASUKI, SE., M.SI MODEL VECM 10. Pengertian VECM VECM (atau Vector Error Correction Model) merupakan metode turunan dari VAR.

Lebih terperinci

APLIKASI MODEL VAR DAN VECM DALAM EKONOMI

APLIKASI MODEL VAR DAN VECM DALAM EKONOMI BAHAN AJAR APLIKASI MODEL VAR DAN VECM DALAM EKONOMI MODEL VAR Pengertian VAR AGUS TRI BASUKI Dosen Fakultas Ekonomi Univ. Muhammadiyah Yogyakarta Vector Autoregression atau VAR merupakan salah satu metode

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Data-data tersebut berupa data bulanan dalam rentang waktu (time series) Januari

III. METODOLOGI PENELITIAN. Data-data tersebut berupa data bulanan dalam rentang waktu (time series) Januari 40 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Berdsarkan kajian beberapa literatur penelitian ini akan menggunakan data sekunder. Data-data tersebut berupa data bulanan dalam rentang waktu (time

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan analisis yang berupa angka-angka sehingga dapat diukur dan dihitung dengan menggunakan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 18 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Dalam pencarian metode peramalan terbaik, diperlukan berbagai informasi relevan sebagai data penunjang untuk pasar kue. Peramalan pasar kue dapat dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Data Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pojok Bursa Efek Indonesia Universitas Mercu Buana dengan data yang diambil adalah harga penutupan dari tahun 2009-2015, untuk

Lebih terperinci