PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH

dokumen-dokumen yang mirip
MEIDITA CAHYANINGTYAS K

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENT) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENT

Reni Rasyita Sari Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Ilmu Pendidikan,Universitas Sebelas Maret Surakarta

Syifa ur Rokhmah. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Negeri Malang

ABSTRAK. Kata kunci: hasil belajar, model pembelajaran Think-Pair-Share

Esty Setyarsih Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta ABSTRAK

Singgih Bayu Pamungkas Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

JURNAL SKRIPSI TAHUN AJARAN 2015/2016 SKRIPSI. Oleh : Aditya Surya Pratama K PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI

PENERAPAN KOMBINASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TWO STAY TWO STRAY

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Kurnia Anandita Widyaningrum Program Studi Pendidikan-Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Ratih Rahmawati Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol. X, No. 1, Tahun 2012 Yolanda Dian Nur Megawati & Annisa Ratna Sari Halaman

BAB I PENDAHULUAN. Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan. Nasional :

Chairul Huda Atma Dirgatama 1, Djoko Santoso Th 2 1 Program Studi Magister Pendidikan Ekonomi UNS 2. FKIP UNS Surakarta

ABSTRAK. Kata kunci : Penerapan, Berbasis Masalah (problem based learning), Hasil Belajar, Sosiologi

Eti Rahmawati. Program studi Pendidikan Sosiologi Antropologi FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta

C027. Pendidikan Biologi FKIP Universitas Sebelas Maret ABSTRAK

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Make A Match 1

Dian Ayu Natalia. Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN QUIZ TEAM PADA SISWA KELAS V SD NEGERI KARTASURA 6 TAHUN AJARAN 2011 / 2012

NASKAH PUBLIKASI. Diajukan sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar

UPAYA PENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI MELALUI PEMBELAJARAN TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIVIEMENT DIVISION (STAD)

METODE PEMBELAJARAN MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

PENINGKATAN HASIL BELAJAR EKONOMI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION

KOLABORASI MEDIA GAMBAR DAN MODEL PEMBELAJARAN BOTLE DANCE PADA MATERI PENINGGALAN SEJARAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS MATERI AKTIVITAS EKONOMI MELALUI MODEL MAKE A MATCH DI KELAS IV SDN II ARYOJEDING KABUPATEN TULUNGAGUNG

BAB I PENDAHULUAN. guru yang melaksanakan kegiatan pendidikan untuk orang-orang muda

MENINGKATKAN HASIL DAN PROSES BELAJAR SISWA KELAS XI IPA SMA PGRI 6 BANJARMASIN PADA KONSEP SISTEM EKSKRESI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN TGT PADA STANDAR KOMPETENSI PERBAIKAN SISTEM PENGAPIAN SISWA KELAS XI TKR 3 SMK NEGERI 6 PURWOREJO TAHUN AJARAN

Shinta Arwidya Pendidikan Sosiologi Antropologi,Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta

Lathifatus Sa adah 1 Soewalni Soekirno 2 dan Anggit Grahito Wicaksono 3 ABSTRAK

Wenni Hastuti Universitas PGRI Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Diyah Ayu Intan Sari Universitas PGRI Yogyakarta

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI)

Merisa Aria Utama. Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

PENERAPAN METODE QUANTUM LEARNING TEKNIK PETA PIKIRAN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS X IPS 5 SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIVE TIPE TALKING STICK DAN KARTU ARISAN PADA KELAS XI IPS

EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN IPS DENGAN MENERAPKAN TEKNIK BRAINSTORMING DI KELAS VIII-C SMP NEGERI 1 LUBUK PAKAM

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAWUNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATA PELAJARAN SOSIOLOGI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR

BAB I PENDAHULUAN. pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN SISWA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DENGAN MEDIA SOFTWARE PREZI

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER

Fariyani Eka Kusuma Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI SMAN 1 MEDAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW

PENGGUNAAN STRATEGI JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GEJALA ALAM (IPA) SISWA KELAS III SD NEGERI 1 JOMBORAN KLATEN TENGAH TAHUN PELAJARAN

Kata kunci: model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI), keaktifan, hasil belajar

Dosen Program Studi Pendidikan Kimia, PMIPA, FKIP, UNS, Surakarta, Indonesia. *Keperluan Korespondensi, telp: ,

Umi Masitah Pendidikan Ekonom, FKIP, Universitas Muhammadiyah Purworejo

MENGGUNAKAN MODEL STUDENT TEAM ACHIEVEMEN DIVISION (STAD) DI SD NEGERI 15 KOTO BALINGKA

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V MELALUI METODE DISCOVERY

PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENJASKES SISWA SMP

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PPKn MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER

Dovan Julinur Rahsyaputra Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

G. Lian Y. Nababan. NIM ABSTRAK. antara hasil belajar siswa menggunakan model konvensional dengan model

UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE

Kata Kunci : Pembelajaran IPA MI, Make a Match, Prestasi Belajar

Peningkatan Aktivitas Dan Prestasi Belajar Matematika Dengan Metode Jigsaw Pada Siswa Kelas VIII B di MTs Muhammadiyah 1 Ponorogo

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan dapat dicapai dengan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)

PENERAPAN METODE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 JIWAN KARANGNONGKO KLATEN TAHUN AJARAN 2012/2013

BAB I PENDAHULUAN. taraf pemikiran yang tinggi dan telah melaksanakan pembangunan

A. Minat Belajar B. Prestasi Belajar... 8 C. Metode Diskusi D. Mata Pelajaran IPS SD BAB III TUJUAN DAN MANFAAT

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS PADA MATERI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MELALUI MODEL STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW

YANIK SULISTYANI SDN Ngletih Kec.Kandat Kab.Kediri

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA MATERI POKOK SUMBER ENERGI GERAK MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

NICO SATYA YUNANDA A54F100019

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ASSURE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 12 BANDA ACEH ABSTRAK

Majalah Ilmiah Inspiratif, Vol.2 No.2 Januari 2016

I. PENDAHULUAN. demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang. memungkinkannya untuk berfungsi secara menyeluruh dalam kehidupan

Desra Putri Devi. Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

ekonomi dengan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI).

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGHITUNG KELILING DAN LUAS SEGITIGA MELALUI PEMBELAJARAN PEER TEACHING

PENGARUH PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING

MEMAHAMI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TINGKAT PUSAT DAN DAERAH BAGI SISWA KELAS V SD NEGERI 03 BANGSRI KECAMATAN KARANGPANDAN TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. ini semakin berkembanng dengan sangat pesat. integratif, produktif, kreatif dan memiliki sikap-sikap kepemimpinan dan

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DENGAN MEDIA KONKRET DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA PADA SISWA KELAS IV SDN 1 PANJER TAHUN AJARAN 2014/1015

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION

Transkripsi:

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS XI IPS 3 SMA NEGERI 3 WONOGIRI TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Arum Rahma Shofiya Universitas Sebelas Maret Surakarta Arum Rahma Shofiya. K8409010. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI HASIL BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS XI IPS 3 SMA NEGERI 3 WONOGIRI TAHUN PELAJARAN 2012/2013. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Desember 2013. Tujuan Penelitian ini adalah perbaikan pembelajaran sosiologi sebagai upaya peningkatan motivasi dan hasil belajar sosiologi pada siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, dengan setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 26 siswa. Sumber data yang digunakan adalah informan, tempat atau lokasi, peristiwa, dokumen atau arsip. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, angket, tes, dan dokumentasi. Validitas data menggunakan teknik triangulasi sumber. Analisis data menggunakan teknik analisis diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar sosiologi siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri mengalami peningkatan setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Hasil ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan prosentase motivasi belajar siswa dan peningkatan rata-rata hasil belajar siswa pada setiap siklusnya. Peningkatan prosentase motivasi belajar dilihat dari dua aspek yaitu berdasarkan lembar observasi dan angket. Motivasi belajar siswa berdasarkan lembar observasi menunjukkan terjadinya peningkatan sebesar 12,3% dari siklus I sebesar 63,85% menjadi 76,15% pada siklus II. Dan motivasi belajar siswa berdasarkan angket juga menunjukkan peningkatan yaitu sebesar 4,16% dari siklus I sebesar 74,05% menjadi 78,21% pada siklus II. Sedangkan peningkatan hasil belajar ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata nilai tes evaluasi siswa pada akhir siklus yaitu mengalami peningkatan sebesar 4,85 dari pra siklus dengan nilai rata-rata 71,42 menjadi 76,27 pada siklus I. Setelah dilaksanakan siklus II nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan sebesar 2,38 menjadi 78,65. Kata kunci : Pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, motivasi belajar, hasil belajar 1

Pendahuluan Pendidikan adalah salah satu faktor penting dalam perkembangan suatu negara. Dengan pendidikan yang lebih baik maka akan mengarah pada perkembangan suatu negara yang lebih baik pula. Dalam Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan sebagai berikut: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk itu pendidikan diharapkan bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan atau nilai-nilai tetapi berfungsi mengembangkan seluruh potensi yang secara potensial telah dimiliki oleh peserta didik secara utuh guna meningkatkan kualitas dan mutu kehidupan mereka kelak. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, guru seharusnya dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkat aturan dalam bentuk kurikulum. Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional. Pada tahun pelajaran 2012/2013 ini, SMA Negeri 3 Wonogiri masih mengacu pada kurikulum 2006 yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Yang mana kurikulum ini siswa diharapkan untuk turut aktif dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini guru berfungsi sebagai fasilitator, dan semua kegiatan pembelajaran dipusatkan pada siswa (student center). Namun pada kenyataannya kurikulum ini belum terealisasi secara optimal. Lemahnya proses pembelajaran, baik yang dikarenakan guru maupun siswa menjadi salah satu masalah yang tengah dihadapi dunia pendidikan Indonesia saat ini. Oleh karena itu untuk mengantisipasi masalah tersebut dan proses belajar mengajar dapat berhasil, maka guru harus sadar betul dan berkeinginan untuk mengubah proses pembelajaran dengan model pembelajaran yang bervariasi guna menciptakan iklim pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Selain itu pada dasarnya di dalam proses 2

pembelajaran siswa dituntut untuk mengikuti pembelajaran secara aktif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengajak siswa untuk turut aktif di dalam proses pembelajaran yaitu dengan mengembangkan interaksi kooperatif pada diri siswa. Siswa diajarkan untuk menerapkan pengetahuannya, belajar memecahkan masalah, mendiskusikan masalah dengan teman-temannya, mempunyai keberanian untuk menyampaikan ide atau gagasan, dan berlatih bertanggung jawab terhadap tugasnya. Untuk itu salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran Sosiologi yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match atau mencari pasangan. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu alternatif perbaikan pembelajaran melalui kerjasama atau diskusi antar siswa sebagai upaya peningkatan kemampuan siswa dalam memahami materi pembelajaran. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match ini mendorong siswa untuk meningkatkan keaktifan, semangat belajar, penguasaan terhadap materi pelajaran serta kerja sama antar siswa yang secara langsung akan berpengaruh pada peningkatan motivasi maupun hasil belajarnya. Dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif ini diharapkan siswa akan lebih mudah dalam memahami dan menerima materi pelajaran sehingga akan memperoleh hasil belajar yang maksimal. Berpijak dari latar belakang di atas, peneliti memfokuskan permasalahan pada (1) Apakah dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran sosiologi? dan (2) Apakah dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran sosiologi?. Metode Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Surakarta. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 26 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus tindakan, dengan tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data hasil 3

penelitian diperoleh dari hasil observasi selama kegiatan pembelajaran menggunakan lembar observasi, angket, tes, dan dokumentasi atau arsip. Data yang diperoleh dari lembar observasi belajar siswa dianalisis dengan menghitung dari keseluruhan aspek yang diamati. Data yang diperoleh dari tes dan angket dianalisis dengan menggunakan triangulasi sumber. Review Literatur Menurut Joyce dalam Agus Suprijono (2012: 46) model pembelajaran adalah suatu rencana atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk perangkat pembelajaran termasuk di dalamya buku-buku, film komputer, kurikulum, dan lain-lain. Slavin berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran di mana para siswa bekerja sama dalam kelompokkelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran (2009: 4). Isjoni (2012: 16) juga mengemukakan pendapat sebagai berikut: Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa (student oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan oleh guru dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli dengan yang lain. Lungdren dalam Isjoni (2009: 13) juga mengemukakan unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif yaitu : 1) Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka tenggelam atau berenang bersama. 2) Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi. 3) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka mereka semua memiliki tujuan yang sama. 4) Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggungjawab diantara para anggota kelompok. 5) Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok. 6) Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh 4

ketrampilan bekerja sama selama belajar. 7) Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada kerjasama antar siswa dalam memahami konsep-konsep pembelajaran melalui kartu-kartu dengan suasana yang menyenangkan. Agus Suprijono menyatakan bahwa Hal-hal yang perlu dipersiapkan jika pembelajaran dikembangkan dengan teknik Make a Match adalah kartu-kartu. Kartu tersebut terdiri dari pertanyaanpertanyaan dan kartu-kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaanpertanyaan tersebut (2009: 94). Motivasi belajar menurut Sardiman A.M (2012:75) adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka ia akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Abdurrahman (2003) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar (hlm.37). Sudjana dalam Jihad dan Haris (2008: 15) juga menambahkan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Sehingga hasil belajar tidak hanya sekedar diukur dari faktor kognitif saja, namun mencakup keseluruhan yaitu berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama proses belajar mengajar. Dari hasil belajar inilah dapat diketahui ketercapaian tujuan pembelajaran. 5

berikut : Untuk lebih jelasnya penelitian ini memiliki kerangka berpikir sebagai A. B. Kondisi Awal Guru belum menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Make a Match Motivasi dan hasil belajar siswa rendah Tindakan Guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match Motivasi dan hasil belajar siswa meningkat Kondisi Akhir Meningkatnya hasil dan motivasi belajar Sosiologi siswa Hasil Penelitian dan Pembahasan Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan yang dilaksanakan dengan prosedur penelitian tindakan kelas sesuai dengan teori yang ada. Pada penelitian tindakan kelas ini peneliti melakukan observasi terhadap minat dan hasil belajar siswa dalam penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Make a Match di kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri. Pelaksanaan penelitian ini dimulai dengan peneliti melakukan observasi awal terhadap kegiatan pembelajaran di kelas untuk mengetahui secara nyata keadaan yang ada di kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari observasi peneliti menemukan beberapa permasalahan pembelajaran baik dari segi proses maupun hasilnya. Pada 6

proses pembelajaran guru cenderung menerapkan metode ceramah sehingga siswa tampak tidak tertarik mengikuti pembelajaran di kelas yang mengindikasikan bahwa motivasi siswa terhadap pembelajaran rendah. Pada hasil belajar siswa dapat dilihat pada nilai rata-rata kelas yang rendah dan belum memenuhi KKM. Oleh karena itu peneliti mengadakan diskusi lebih lanjut dengan guru mata pelajaran Sosiologi untuk mengatasi permasalahan yang muncul tersebut dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. a. Siklus I terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada siklus I pembelajaran dilaksanakan dengan 3 kali pertemuan, pada awal pertemuan dipergunakan untuk menyampaikan materi yang meliputi pengertian kelompok sosial, dasar pembentuk kelompok sosial, macam-macam kelompok sosial, dan memberikan contoh macammacam kelompok sosial yang relevan dengan keadaan masyarakat sekitar. Selanjutnya pada pertemuan kedua mulai untuk menerapkan model pmebelajaran kooperatif tipe Make a Match, dan pada pertemuan terkahir digunakan untuk melaksanakan tes hasil belajar dan pengisian angket motivasi. Namun setelah diterapkan model pembelajaran ini masih terdapat beberapa kelemahan baik dari diri siswa maupun guru. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut : 1) Siswa masih kurang memahami langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. 2) Beberapa siswa masih terlihat kurang aktif dalam mencari pasangan kartu soal dan jawaban maupun saat diskusi. 3) Masih kurangnya kesadaran siswa dalam mengajukan pertanyaan maupun pendapatnya. 4) Siswa masih mengandalkan temannya dalam mengerjakan soal diskusi maupun evaluasi 5) Guru kurang dapat menekankan langkah-langkah pembelajaran pada siswa. 6) Guru masih terlalu cepat dalam menyampaikan materi 7) Guru masih kurang menekankan adanya persaingan 7

antar tim/kelompok berpasangan. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi pada siklus I melaui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus I dikatakan berhasil akan tetapi belum mencapai hasil yang maksimal. Untuk itu perlu dilaksanakan siklus II sebagai langkah perbaikan proses pembelajaran siklus I. Pada siklus II pembelajaran dilaksanakan dengan 3 kali pertemuan, pada awal pertemuan dipergunakan untuk menyampaikan materi yang meliputi pengertian kelompok sosial, dasar pembentuk kelompok sosial, macam-macam kelompok sosial, dan memberikan contoh macam-macam kelompok sosial yang relevan dengan keadaan masyarakat sekitar. Selanjutnya pada pertemuan kedua mulai untuk menerapkan model pmebelajaran kooperatif tipe Make a Match, dan pada pertemuan terkahir digunakan untuk melaksanakan tes hasil belajar dan pengisian angket motivasi. Kelemahan yang terjadi pada siklus II ini sangat minim sekali dan suasana pembelajaran terlihat semakin kondusif. Adapun kelemahan yang terjadi pada siklus II adalah sebagai berikut : 1) Beberapa siswa masih terlihat kurang aktif dalam mencari pasangan kartu soal dan jawaban maupun saat diskusi. 2) Masih kurangnya kesadaran siswa dalam mengajukan pertanyaan maupun pendapatnya. 3) Guru terlalu cepat dalam menyampaikan materi karena waktu yang agak terbatas. Dan berdasarkan hasil analisis pada siklus I dan siklus II, dapat diketahui bahwa setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match terjadi peningkatan pada motivasi dan hasil belajar Sosiologi siswa. Dari pengamatan hasil lembar observasi, angket maupun nilai tes evaluasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada tiap akhir siklus. Uraian hasil peningkatan motivasi maupun hasil belajar siswa dijelaskan sebagai berikut : 1) Motivasi belajar siswa 8

No a) Peningkatan Motivasi Indikator Belajar Lembar Observasi Berdasarkan Capaian Indikator % Pra Siklus Siklus I Siklus II 61,53% 80,77% 88,46% 11,53% 30,77% 46,15% 53,84% 76,92% 80,76% 42,31% 69,23% 76,92% 46,15% 61,54% 88,46% 43,07% 63,85% 76,15% Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal tersebut terbukti dengan adanya peningkatan rata-rata prosentase sebesar 20,78% dari 43,07% pada pra siklus menjadi 63,85% pada siklus I. Selanjutnya pada siklus I mengalami peningkatan rata-rata prosentase yaitu No sebesar 12,30% yaitu dari 63,85% menjadi 76,15 pada siklus II. b) Peningkatan Motivasi Indikator 1. Kesungguh an siswa untuk mengikuti pembelajar an Sosiologi 2. Kemauan bertanya jika menemui kesulitan 3. Keinginan untuk bekerja dan berusaha menyelesai kan masalah sendiri 4. Lingkungan belajar yang kondusif 5. Kegiatan belajar yang menarik Ratarata 1. Kesungguh an siswa untuk mengikuti pembelajar an Sosiologi 2. Kemauan bertanya jika menemui kesulitan 3. Keinginan untuk bekerja dan berusaha menyelesai kan masalah sendiri 4. Lingkungan belajar yang kondusif 5. Kegiatan belajar yang menarik Ratarata Belajar Berdasarkan Angket Capaian Indikator % Pra Siklus Siklus I Siklus II 61,53% 80,77% 88,46% 11,53% 30,77% 46,15% 53,84% 76,92% 80,76% 42,31% 69,23% 76,92% 46,15% 61,54% 88,46% 43,07% 63,85% 76,15% Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal tersebut terbukti dengan adanya peningkatan prosentase sebesar 13,84% dari 60,21% pada pra siklus menjadi 74,05% pada siklus I. Selanjutnya pada siklus I 9

100 mengalami peningkatan prosentase yaitu sebesar 4,16% yaitu dari 74,05% menjadi 78,21 pada siklus II. 2) Hasil Belajar 80 60 40 20 0 Hasil analisis data dari masing-masing siklus menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dapat meningkatkan hasil belajar Sosiologi siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri. Peningkatan hasil belajar siswa dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata nilai test kognitif pra siklus, siklus I, dan siklus II. Peningkatan tersebut dapat digambarkan pada grafik berikut ini : Peningkatan Rata- Rata Hasil Belajar Siswa Pra Siklus 71,42 76,27 78,65 Siklus Siklus I II Nilai Rata- Rata Sebagai penunjang data hasil belajar siswa berikut ini juga disajikan prosentase ketuntasan belajar siswa yang mengalami peningkatan setelah diterapakan model pembelajaran Make a Match pada siklus I dan siklus II. Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Krite ria Tunta s 73-100 Belu m Tunta s 0-72 Pra Siklus Siklus I Siklus II Prosentase Jml Prosen Jml siswa tase siswa Jml siswa Prosen tase 12 46,15% 20 76,92% 22 84,62% 14 53,85% 6 23,08% 4 15,38% 26 100% 26 100% 26 100% Berdasarkan gambar dan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata maupun prosentase ketuntasan siswa dari awal sampai akhir siklus menunjukkan adanya peningkatan. Dari gambar dapat dijelaskan bahwa pada awal siklus sebelum diterapkannya model pembelajaran Make a Match rata-rata hasil belajar siswa masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu sebesar 71,42. Namun setelah diterapkannya model pada siklus I, mengalami peningkatan sebesar 4,85 dari 10

awal siklus yaitu menjadi 76,27. Selanjunya pada siklus II juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 2,38 yaitu menjadi 78,65. Selanjutnya jika dilihat dari prosentase ketuntasan, hasil belajar siswa dari awal siklus sampai akhir siklus juga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada awal siklus prosentase ketuntasan siswa jauh dibawah indikator ketercapaian yaitu hanya sebesar 46,15%. Namun setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada siklus I dan siklus II prosentase ketuntasan siswa mengalami peningkatan. Pada siklus I naik menjadi 76,92% dan pada siklus II naik menjadi 84,62%. Hasil tersebut membuktikan bahwa setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup signifikan dan telah mencapai indikator ketercapaian yaitu 75%. Berdasarkan data yang diperoleh setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I dan siklus II membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri. Pernyataan ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa pada keseluruhan kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian motivasi membuktikan baik dari hasil observasi maupun angket mengalami peningkatan pada tiap indikator motivasi belajar yang telah ditetapkan yaitu keseluruhan siswa mengalami peningkatan motivasi dari pra siklus, siklus I ke siklus II. Dan peningkatan tersebut telah melebihi indikator ketercapaian ( 75%) dengan prosentase sebesar 78,21%. Hal serupa juga terjadi pada hasil belajar siswa yang mengalami kenaikan prosentase ketuntasan sebesar 84,62% pada siklus II. Dari prosentase ketuntasan hasil belajar siswa siklus II tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dan telah melebihi indikator ketercapaian sebesar 75%. Dari keseluruhan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar Sosiologi 11

siswa dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan dan telah memenuhi rata-rata indikator capaian minimal sebesar 75%. Peningkatan tersebut sesuai dengan teori yang dijelaskan oleh Mulyasa (2006: 101) yang menyatakan bahwa suatu pembelajaran dapat dinyatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) siswa terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Dalam penetapan besarnya indikator ketercapaian dalam penelitian dilakukan dengan mempertimbangkan hasil observasi pra siklus, capaian awal dari perhitungan angket dan hasil tes kognitif yang diberikan pada subjek penelitian sebelum tindakan. Berpijak dari uraian pembahasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif Tipe Make a Match dapat meningkatkan motivasi maupun hasil belajar Sosiologi siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri. Penutup Berdasarkan hasil analisis penelitian tindakan dari siklus I sampai siklus II, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan motivasi dan hasil belajar Sosiologi setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match pada siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri Tahun Pelajaran 2012/2013. Adapun penjelasannya akan diuraikan dibawah ini : a. Motivasi belajar Sosiologi siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Wonogiri mengalami peningkatan setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Hal tersebut dapat ditunjukkan dari hasil observasi maupun perhitungan angket. Adapun penjelasan mengenai hasil peningkatan motivasi belajar siswa tersebut adalah sebagai berikut : 1) Motivasi belajar siswa berdasarkan hasil observasi, pada siklus I ke siklus II mengalami kenaikan sebasar 12,3%, yaitu dari motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 63,85% mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 76,15%. 2) Sedangkan motivasi belajar berdasarkan perhitungan angket, pada siklus I ke siklus II mengalami kenaikan sebasar 4,16%, yaitu dari motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 74,05% mengalami 12

peningkatan pada siklus II menjadi 78,21%. b. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari nilai rata-rata siswa prasiklus yaitu 71,42 meningkat 4,85 pada siklus I sebesar 76,27 mengalami kenaikan hasil belajar pada siklus II sebesar 2,38 dengan nilai rata-rata siswa menjadi 78,65. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dalam dua siklus, ada beberapa saran yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan, antara lain: 1. Bagi Guru a. Guru diharapkan dapat mengembangkan model dan metode pembelajaran yang dapat mendorong motivasi belajar Sosiologi siswa serta dapat mempermudah siswa dalam memahami materi pelajaran. b. Guru diharapkan mampu memilih dan mengembangkan metode yang tepat dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. c. Guru diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengembangkan dan menyampaikan materi, serta dalam mengelola kelas. Sehingga kualitas pembelajaran dapat terus meningkat seiring peningkatan kemampuan yang dimilikinya. d. Guru diharapkan dapat memanfaatkan sarana dan prasarana yang sudah disediakan oleh sekolah sebagai alat bantu dalam pengembangan media pembelajaran. 2. Bagi Siswa a. Siswa hendaknya berkonsentrasi dengan baik pada saat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match atau pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. b. Siswa hendaknya selalu aktif dan meningkatkan keberanianya dalam menyampaikan pertanyaan maupun gagasan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. c. Siswa hendakanya dapat bekerjasama saat diskusi sehingga tugas yang diberikan guru dapat terselesaikan dengan baik. d. Siswa hendaknya tidak tergantung pada materi yang diberikan oleh guru saja, tetapi juga lebih aktif mencari 13

informasi materi dari sumbersumber lain sehingga akan menambah wawasan siswa dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran yang dihadapi. 3. Bagi Sekolah a. Pihak sekolah hendaknya membuat kebijakan kepada guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan model pembelajaran yang lebih variatif dan inovatif. b. Pihak sekolah hendaknya semakin meningkatkan fasilitasfasilitas, sehingga dapat mendukung proses pembelajaran. Nana Sudjana. 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sardiman, A.M. 2012. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta Utara : PT Raja Grafindo Persada Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Ladasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Daftar Pustaka Agus Suprijono. 2012. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Isjoni. 2012. Cooperative Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta. Isjoni dan Arif Ismail. 2009. Model- Model Pembelajaran Mutakhir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 14

PERSETUJUAN Jurnal yang berjudul PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN Kooperatif TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS XI IPS 3 SMA NEGERI 3 WONOGIRI TAHUN PELAJARAN 2012/2013 ini telah disetujui sebagai syarat ujian Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Persetujuan Pembimbing Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Drs. Slamet Subagyo, M.Pd NIP. 19521126 198103 1 002 Drs. Soeparno,M.Si NIP. 19481210 197903 1 002 15