Indikator Sarana Prasarana Pendidikan

dokumen-dokumen yang mirip
Tabel-1: Rasio Jenjang Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

TAMAN KANAK-KANAK Tabel 5 : Jumlah TK, siswa, lulusan, Kelas (rombongan belajar),ruang kelas, Guru dan Fasilitas 6

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II GAMBARAN PELAYANAN DINAS PENDIDIKAN KOTA PONTIANAK

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan mutu pendidikan di tengah perubahan global agar warga Indonesia

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 12 TAHUN 2016

Grafik 3.2 Angka Transisi (Angka Melanjutkan)

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4

Mewujudkan Peningkatan Pendidikan yang berkualitas tanpa meninggalkan kearifan lokal.

BAB I PENDAHULUAN. yang makin bertambah dan makin padat, bangunan-bangunannya yang semakin

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. bermaksud menjelaskan hubungan antara lingkungan alam dengan penyebarannya

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 158 TAHUN 2014 TENTANG


LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 13 TAHUN 2007 TANGGAL 17 APRIL 2007 TENTANG STANDAR KEPALA SEKOLAH/MADRASAH

Kecamatan : Bogor Tengah Data Urusan : Pendidikan Tahun : 2017 Triwulan : 1

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2014 TENTANG MUATAN LOKAL KURIKULUM 2013

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI KULON PROGO PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR : 13 TAHUN 2008 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 19 TAHUN 2017 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi untuk memberi arah dan bimbingan bagi para pelaku sekolah dalam

KEBIJAKAN- KEBIJAKAN PENDIDIKAN FORMAL. Rahmania Utari, M. Pd.

ALIKOTA YO GYAKARTYAKARTA WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 18 TAHUN 2017

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2015 ANALISIS MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 22 TAHUN 2018

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 17 TAHUN 2017

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMAKASIH... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... xi

BUPATI PENAJAM PASER UTARA

STANDAR LABORATORIUM KOMPUTER SEKOLAH

WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PROYEKSI PRASARANA DAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN TAHUN 2012/ /2021

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 25 TAHUN 2016 TENTANG

Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum URAIAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 3 TAHUN 2017

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2013 DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR Manajemen Pendidikan TK / RA 915,000,000

EVALUASI KESESUAIAN JUMLAH PENDUDUK USIA SEKOLAH DAN FASILITAS PENDIDIKAN DI KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2011 SKRIPSI


BERITA DAERAH KOTA BEKASI

2 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5410); 3. Peraturan Presiden Nomor 47 Tah

Analisis Kualifikasi Guru pada Pendidikan Agama dan Keagamaan

Kecamatan : Bogor Timur Data Urusan : Pendidikan Tahun : 2021 Triwulan : 1

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 109 TAHUN 2016 TENTANG

KAJIAN JANGKAUAN PELAYANAN DAN KEBUTUHAN FASILITAS PENDIDIKAN DI KECAMATAN SINGKIL KABUPATEN ACEH SINGKIL

GUBERNUR JAWA BARAT PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 16 TAHUN TENTANG

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 2 TAHUN 2016

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

Jurnal Geodesi Undip AGUSTUS 2015

BAB I PENDAHULUAN. Prenada Media Group, 2012), hlm Abdul Kadir, dkk., Dasar-dasar Pendidikan, (Jakarta: Kencana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2014 TENTANG

ANALISA PENDEKATAN SISTEM PENDIDIKAN PADA PEMBANGUNAN SUMBERDAYA MANUSIA KABUPATEN WONOGIRI

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2014 NOMOR 17 SERI F NOMOR 313

RENCANA KERJA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN KARIMUN TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN

INDIKATOR KINERJA UTAMA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BERITA DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2010 NOMOR : 22

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 2 TAHUN 2015

PENANGGULANGAN KEMISKINAN

PEDOMAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN 2014 TENTANG

gizi buruk. Ketenagakerjaan meliputi rasio penduduk yang bekerja. Secara jelas digambarkan dalam uraian berikut ini.

Lampiran 1 DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

2) Pendidikan Menengah. rasio guru dan murid. a) Angka Partisipasi Sekolah (APS)

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR

C. ANALISIS CAPAIAN KINERJA

Penilaian potensi kepemimpinan. kepala sekolah. Suryanto Kepala Lembaga Pengembangan pembelajaran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

dari target 28,3%. dari target 25,37%. dari target 22,37%. dari target 19,37%.

Analisis Tingkat Partisipasi Pendidikan Siswa Madrasah

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2014 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. dengan jelas dan singkat pokok permasalahan. dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pengertian, fungsi, dan

A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil pembahasan mengenai pengelolaan perpustakaan sekolah

BAB IV ANALISIS. Berikut adalah tabel program kebutuhan ruang pada proyek Sekolah Menengah Terpadu:

Transkripsi:

Indikator Sarana Prasarana Pendidikan Junaidi, Junaidi (Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Jambi) Pemerataan sarana dan prasarana pendidikan merupakan suatu prasyarat awal dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karenanya, merupakan hal yang penting untuk mendapatkan gambaran kondisi pemerataan sarana dan prasarana pendidikan, agar kebijakan di bidang pendidikan khususnya di bidang sarana dan prasarana dapat lebih tepat arah dan tepat sasaran. Dalam tulisan ini diberikan beberapa indikator pemerataan sarana dan prasarana pendidikan, berikut contoh data dan analisis ringkasnya. 1. Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Kasar (APK) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah murid pada jenjang pendidikan tertentu (SD, SLTP, SLTA dan sebagainya) dengan penduduk kelompok usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. Hasil perhitungan APK ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan tertentu pada wilayah tertentu. Semakin tinggi APK berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan pada suatu wilayah. Nilai APK bisa lebih besar dari 100% karena terdapat murid yang berusia di luar usia resmi sekolah, terletak di daerah kota, atau terletak pada daerah perbatasan. APK = (Jumlah murid di tingkat pendidikan tertentu/jumlah penduduk usia tertentu)x100 Keterangan: Tingkat Sekolah Dasar (SD) : Kelompok usia 7-12 tahun Tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) : Kelompok usia 13-15 tahun Tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) : Kelompok usia 16-18 tahun APK sebagaimana dapat diamati pada Tabel di atas dapat dibedakan untuk tiga kategori yaitu SD, SMP,dan SMA. Penjelasan terkait dengan hal ini sebagai berikut. Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, 2010 Page 1

a) Untuk tingkat SD, empat wilayah nilai APK melebihi 100 yaitu Haraman, Baram, Rantau Pelita, dan Jembar. Sementara dua kecamatan nilai APK di bawah 100 adalah Kota Tua dan Kota Baru. b) Untuk tingkat SMP, semua wilayah angka APK tidak mencapai 100. Dua kecamatan dengan nilai terendah berada di Kecamatan Haraman, kemudian disusul oleh Jembar. Sedangkan dua kecamatan dengan nilai tertinggi berada di Baram dan Rantau Pelita. c) Untuk tingkat SMA, nilai terendah berada di Haraman dan Jembar, sedangkan tertinggi berada di Rantau Pelita dan Kota Baru. Angka di atas menunjukkan kondisi yang berbeda untuk masing-masing jenjang pendidikan. Untuk tingkat SD angka partisipasi sekolah di atas 100 menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk mengikuti pendidikan baik, khususnya bagi kecamatan dimana nilainya melebihi 100. Bagi wilayah yang besaran APK tidak sampai 100 menunjukkan masih ada wilayah dimana terdapat anak yang seharusnya sekolah ternyata tidak. Angka partisipasi sekolah untuk tingkat SMP dan SMA menunjukkan gejala yang sama, tidak satu kecamatan pun yang menunjukkan nilai 100, dan kecenderungan lain pun terlihat karena APK untuk tingkat SMA semakin turun. Hal ini secara umum menunjukkan bahwa masih didapat gejala angka putus sekolah, dimana anak usia sekolah setamat dari SD tidak melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMP dan SMA. 2. Perbandingan Antar Jenjang Pendidikan (PAJ) Perbandingan Antar Jenjang Pendidikan (PAJ) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah sekolah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ini digunakan untuk mengetahui kesenjangan antara jumlah sekolah pada jenjang lebih rendah dengan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi. PAJ = (Jumlah sekolah pada jenjang pendidikan tertentu/jumlah sekolah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi) X 100 Makin tinggi nilai PAJ berarti makin besar kesenjangan antara sekolah jenjang pendidikan tertentu dengan jenjang yang lebih tinggi. Dengan memperhatikan Tabel di atas terlihat bagaimana kesenjangan antara jenjang pendidikan setiap kecamatan hingga. Dengan membandingkan jumlah siswa pada jenjang SD/SMP dan SMP/SMA di masing-masing kecamatan dapat dicatat hal berikut: Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, 2010 Page 2

1) Dua kecamatan dengan jenjang pendidikan tertinggi ada di Kota Baru dan Baram, sementara jenjang pendidikan terendah ada di Jembar dan Haraman. 2) Jenjang pendidikan seperti di atas menunjukkan bahwa tidak seluruhnya jumlah siswa yang mengikuti jenjang pendidikan di SD/SMP yang melanjut ke SMP/SMA. Secara umum jenjang pendidikan ini menggambarkan bahwa bila dibandingkan antara siswa yang mengikuti jenjang pendidikan di tingkat SD/SMP dengan SMP/SMA, secara rata-rata jumlah siswa di SD/SMP hampir 5 kali dari jumlah siswa di jenjang SMP/SMA. Ukuran ini menunjukkan bahwa memang jumlah siswa ini mengalami kesenjangan. Penyebabnya baik dikarenakan oleh alasan ekonomi karena semakin tinggi jenjang pendidikan akan membutuhkan biaya yang semakin tinggi pula, atau juga dikarenakan oleh preferensi usia sekolah mengikuti jenjang pendidikan lebih tinggi semakin menurun. 3. Rasio Murid per Sekolah (R-M/S), Rasio murid per sekolah didefinisikan sebagai perbandingan antar jumlah murid dengan jumlah sekolah pada jenjang pendidikan tertentu untuk mengetahui rata-rata besarnya kepadatan sekolah di suatu daerah. Semakin tinggi nilai rasio, berarti tingkat kepadatan sekolah makin tinggi. Pada umumnya terdapat suatu pola bahwa makin tinggi jenjang pendidikan makin padat jumlah murid di sekolah. Kondisi ini juga menunjukkan makin tinggi jenjang pendidikan, makin kurang jumlah sekolahnya R-M/S = Jumlah murid pada jenjang pendidikan tertentu/jumlah sekolah pada jenjang pendidikan tertentu Menyimak Tabel di atas dapat disampaikan hal-hal berikut: 1. Rata-rata jumlah siswa per sekolah untuk tingkat SD mencapai 122 orang. Akan tetapi didapat dua kecamatan dengan jumlah siswa yang paling rendah yaitu Jembar (75,81) dan Kota Baru (93,68) orang. 2. Untuk tingkat SMP rata-rata siswa per sekolah mencapai 271 orang, dengan jumlah siswa per sekolah terendah adalah di Kecamatan Jembar yaitu 166,5 orang saja. 3. Untuk tingkat SMA rata-rata jumlah siswa per sekolah mencapai 183,85 orang dengan jumlah siswa terendah mencapai 75 orang. Untuk jenjang pendidikan SD rata-rata jumlah siswa adalah 122 orang saja, sementara semakin ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi jumlah siswa semakin tinggi. Untuk SMP Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, 2010 Page 3

dan SMA besarannya masing-masing adalah 271 dan 183 siswa per kelas. Dari gambaran jumlah siswa persekolah seperti ini dapat ditunjukkan bahwa semakin tinggi rasio siswa dengan kelas maka semakin efisien PBM di satu sekolah karena semakin intensif pemakaian sumberdaya yang ada. 4. Rasio Siswa per Kelas (R-M/K), Rasio murid per kelas didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah murid dengan jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu. Hal ini digunakan untuk mengetahui rata-rata besarnya kepadatan kelas di suatu sekolah atau daerah tertentu. R-M/K = Jumlah murid pada jenjang pendidikan tertentu/jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu Semakin tinggi nilai rasio, berarti tingkat kepadatan kelas makin tinggi Dengan mengamati Tabel di atas dapat ditunjukkan hal-hal berikut: 1) Untuk jenjang pendidikan SD rasio tertinggi ada di Haraman (28,43) dan Rantau Pelita (23,04), sementara terendah ada di Jembar (16,06) dan Kota Baru (17,20). 2) Untuk jenjang pendidikan SMP rasio tertinggi berada di Kota Baru (36,56) dan Baram (30,38). 3) Untuk jenjang pendidikan SMA rasio tertinggi ada di Rantau Pelita (58.80) dan Kota Tua (57.18) Dengan menyimak lebih dalam angka-angka di atas dan membandingkan tingkat rasio murid perkelas maka kondisi sekolah sebagaimana ditunjukkan pada tabel di atas bermakna banyak. Untuk tingkat SD terlihat bahwa tidak satu kecamatan pun yang dapat memenuhi ketercukupan siswa di kelas bila dibandingkan dengan rasio standar bahwa satu kelas dapat ditempati oleh 40 siswa. Sementara itu untuk tingkat SMP jumlah siswa per kelas perlahan mengalami peningkatan mendekat angka 40 orang perkelas, dan selanjutnya untuk jenjang pendidikan SMA angka ini melebihi angka standar yaitu 40 orang per kelas. Di sisi lain, angka ini juga menggambarkan bahwa untuk tingkat SD didapat gejala kekurangan murid, hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa terendah mencapai 16,08 dan 17,20 untuk masing-masing kecamatan Jembar dan Kota Baru. Kekurangan murid di sisi lain juga secara implisit menunjukkan adanya gejala kelebihan ruang yang mengakibatkan rasio murid dengan kelas rendah. Artinya ruang dan fasilitas yang juga dapat disebut sarana dan prasarana belum termanfaatkan secara maksimal. Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, 2010 Page 4

5. Rasio Murid per Guru (R-M/G) Rasio murid per guru dididefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah murid dengan jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu. untuk mengetahui rata-rata jumlah guru yang dapat melayani murid di suatu sekolah atau daerah tertentu. R-M/G = (Jumlah murid pada jenjang pendidikan tertentu/jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu) Jika rasio tinggi, ini berarti satu orang tenga pengajar harus melayani banyak murid. Banyaknya murid yang diajarkan akan mengurangi daya tangkap murid pada pelajaran yang diberikan atau mengurangi efektivitas pengajaran. Contoh Data: Sebagaimana dinyatakan dalam indikator rasio murid perguru dapat ditunjukkan keefektifan seorang guru dibanding dengan jumlah siswa yang dilayani. Sesuai dengan angka-angka di atas dapat ditunjukkan berbagai indikasi pada setiap kecamatan sebagai berikut: a) Untuk tingkat SD dua rasio tertinggi adalah di Kecamatan Haraman (21,18) dan Kota Tua dengan rasio (19,06) sementara dua rasio terendah berada di Kota Baru (10,06) dan Rantau Pelita (16,02). b) Untuk tingkat SMP rasio guru tertinggi berada di Kota Baru (24,70) dan Rantau Pelita (21,42), sementara rasio terendah ada di Jembar (10,47) dan Haraman (14,86). c) Untuk tingkat SMA angka tertinggi yang mencolok berada di Rantau Pelita (24,5) dan di Kota Baru (18,87) sementara rasio terendah ada di Jembar (5,88) dan Kota Tua (7,58). Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kecukupan guru untuk pendidikan dasar secara relatif sudah memadai, walau malah harus diakui ada indikasi bahwa di wilayah tertentu seorang guru SD hanya melayani 10 orang siswa saja. Sama juga halnya dengan ini, untuk tingkat SMP rata-rata rasio guru siswa adalah 17,23 siswa, akan tetapi wilayah yang cukup mencolok adalah di Haraman dimana seorang guru di SMP melayani sekitar 10 orang siswa saja. Angka ini menggambarkan hal yang sama yaitu kurang efisien-nya praktek PBM di jenjang pendidikan SD karena guru lebih banyak dibanding dengan siswa yang harus dilayani. Hal ini dapat terjadi karena kebijakan makro di satu sisi membangun sekolah dasar yang dilakukan tanpa memperhatikan potensi siswa dan prediksi ke depan. Prediksi ini khususnya berkaitan dengan angka pertumbuhan penduduk yang cenderung terkendali akibatnya jumlah penduduk yang mengikuti pendidikan semakin berkurang. Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, 2010 Page 5

6. Rasio Kelas per Guru (R-K/G) Rasio Kelas per Guru didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah kelas dengan jumlah guru pada suatu jenjang pendidikan tertentu. Kegunaannya adalah untuk mengetahui kekurangan / kelebihan guru yang mengajar di kelas pada suatu daerah tertentu. R-K/G = (Jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu/jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu) Makin tinggi nilai rasio, berarti makin banyak pula jumlah kelas yang harus diisi pelajaran oleh guru dan ini berarti juga konsentrasi mengajar guru makin terpecah. Contoh Data: 7. Ratio Guru per Sekolah Rasio Tenga pengajar per Sekolah didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah tenga pengajar dibandingkan dengan jumlah sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu untuk mengetahui kekurangan/kelebihan tenga pengajar yang mengajar di sekolah pada suatu daerah tertentu. R-K/G = (Jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu/jumlah sekolah pada jenjang pendidikan tertentu) Makin rendah nilai rasio, berarti makin terbatas juga jumlah tenga pengajar yang mengajar di suatu sekolah tertentu. Contoh Data: Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, 2010 Page 6

Dari gambaran sebagaimana pada Tabel di atas dapat ditambahkan penjelasan berikut: 1) Untuk tingkat SD, rasio guru per sekolah rata-rata adalah 7,24 dengan rasio terendah ada di Kecamatan Jembar dimana secara rata-rata seorang guru hanya mengajar 4 orang murid, dan kedua ada di Kecamatan Baram dimana seorang guru hanya mengajar 6 orang murid. 2) Keadaan di atas berbeda dengan keadaan di SMP dimana rata-rata seorang guru mengajar 15 orang siswa, dimana kondisinya hampir sama dengan di SMA. Keadaan di atas menunjukkan bahwa seorang guru di tingkat SD melayani siswa jauh lebih sedikit dibanding dengan guru yang bertugas di SMP atau di SMA. REFERENCES Bafadal dan Ibrahim. 2003. Seri Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah, Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasi, Cet. I Jakarta: PT Bumi Aksara Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor. 24 Tahun 2007 Tanggal 28 Juni 2007, Standar sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor. 40 Tahun 2008 Tanggal 31 juli 2008,Standar Sarana dan Prasarana Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK), Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, 2010 Page 7