BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. susunannya akan mempengaruhi penampilan wajah secara keseluruhan, sebab

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 1. Fotometri Profil 16. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dalam melakukan perawatan tidak hanya terfokus pada susunan gigi dan rahang saja

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. menghasilkan bentuk wajah yang harmonis jika belum memperhatikan posisi jaringan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Ukuran lebar mesiodistal gigi permanen menurut Santoro dkk. (2000). 22

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tiga puluh orang menggunakan sefalogram lateral. Ditemukan adanya hubungan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sejak tahun 1922 radiografi sefalometri telah diperkenalkan oleh Pacini dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. perawatan ortodonti dan mempunyai prognosis yang kurang baik. Diskrepansi

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dengan estetis yang baik dan kestabilan hasil perawatan (Graber dkk., 2012).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi. syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi. Oleh : MELISA NIM :

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perawatan ortodontik bertujuan memperbaiki fungsi oklusi dan estetika

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. cepat berkembang. Masyarakat makin menyadari kebutuhan pelayanan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Penggunaan fotografi di bidang ortodonti telah ada sejak sekolah kedokteran

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. wajah dan jaringan lunak yang menutupi. Keseimbangan dan keserasian wajah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. (Alexander,2001). Ortodonsia merupakan bagian dari ilmu Kedokteran Gigi yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 MALOKLUSI KLAS III. hubungan lengkung rahang dari model studi. Menurut Angle, oklusi Klas I terjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. Hal yang penting dalam perawatan ortodonti adalah diagnosis, prognosis dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. gigi-gigi dengan wajah (Waldman, 1982). Moseling dan Woods (2004),

I.PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Nesturkh (1982) mengemukakan, manusia di dunia dibagi menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Maloklusi adalah istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ada berbagai pedoman, norma dan standar yang telah diajukan untuk

HUBUNGAN SUDUT INTERINSISAL DENGAN JARINGAN LUNAK WAJAH BERDASARKAN ANALISIS STEINER PADA MAHASISWA FKG USU RAS DEUTRO MELAYU

SEFALOMETRI. Wayan Ardhana Bagian Ortodonsia FKG UGM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. sagital, vertikal dan transversal. Dimensi vertikal biasanya berkaitan dengan

HUBUNGAN SUDUT INTERINSISAL DENGAN PROFIL JARINGAN LUNAK WAJAH MENURUT ANALISIS RICKETTS PADA MAHASISWA SUKU BATAK FKG DAN FT USU

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PERBANDINGAN LIMA GARIS REFERENSI DARI POSISI HORIZONTAL BIBIR ATAS DAN BIBIR BAWAH PADA MAHASISWA FKG DAN FT USU SUKU BATAK

I. PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Masalah. Ilmu Ortodonti menurut American Association of Orthodontics adalah

ANALISA PROFIL JARINGAN LUNAK MENURUT METODE HOLDAWAY PADA MAHASISWA FKG USU SUKU DEUTRO MELAYU

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. displasia dan skeletal displasia. Dental displasia adalah maloklusi yang disebabkan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat. memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi. Oleh: Ahmad Tommy Tantowi NIM:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Sebagian besar dari penduduk Indonesia termasuk ras Paleomongoloid yang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dentofasial termasuk maloklusi untuk mendapatkan oklusi yang sehat, seimbang,

Volume 46, Number 4, December 2013

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 PROTRUSI DAN OPEN BITE ANTERIOR. 2.1 Definisi Protrusi dan Open Bite Anterior

CROSSBITE ANTERIOR. gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi anterior rahang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Maloklusi adalah keadaan yang menyimpang dari oklusi normal dengan

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan retrospective

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Crossbite posterior adalah relasi transversal yang abnormal dalam arah

ANALISA KONVEKSITAS WAJAH JARINGAN LUNAK SECARA SEFALOMETRI LATERAL PADA MAHASISWA DEUTRO-MELAYU FKG USU USIA TAHUN (TAHUN )

PERBANDINGAN KONSISTENSI GARIS E RICKETTS DAN GARIS S STEINER DALAM ANALISIS POSISI HORIZONTAL BIBIR PADA MAHASISWA FKG USU SUKU INDIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saluran pernafasan merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TI JAUA PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini masyarakat semakin menyadari akan kebutuhan pelayanan

MATERI KULIAH ORTODONSIA I. Oleh Drg. Wayan Ardhana, MS, Sp Ort (K) Bagian Ortodonsia

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Eksperimental kuasi dengan desain one group pre dan post. Tempat : Klinik Ortodonti RSGMP FKG USU

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Pharynx merupakan suatu kantong fibromuskuler yang berbentuk seperti

PERBEDAAN SUDUT MP-SN DENGAN KETEBALAN DAGU PADA PASIEN DEWASA YANG DIRAWAT DI KLINIK PPDGS ORTODONSIA FKG USU

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 DIAGNOSA DAN PERAWATAN BINDER SYNDROME. Sindrom binder merupakan salah satu sindrom yang melibatkan pertengahan

Tugas Online 2 Fisika 2 Fotometri

Hubungan antara derajat konveksitas profil jaringan keras dan jaringan lunak wajah pada suku Bugis dan Makassar

BAB 3 METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian ini adalah penelitian observasional dengan metode

Nama: Tony Okta Wibowo Nrp : Dosen Pembimbing : Bp. Moch Hariadi, ST M.Sc PhD Bp. Dr. I ketut eddy Purnama, ST,MT

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. dari struktur wajah, rahang dan gigi, serta pengaruhnya terhadap oklusi gigi geligi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I.PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah. Secara umum bentuk wajah (facial) dipengaruhi oleh bentuk kepala, jenis kelamin

III. RENCANA PERAWATAN

BAB 1 PENDAHULUAN. pertumbuhan dan perkembangan wajah dan gigi-geligi, serta diagnosis,

PERBEDAAN PROFIL LATERAL WAJAH BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA MAHASISWA USU RAS DEUTRO-MELAYU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PERBANDINGAN PROFIL LATERAL WAJAH BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA MAHASISWA USU RAS DEUTROMELAYU.

BAB I PENDAHULUAN. Ortodontik berasal dari bahasa Yunani orthos yang berarti normal atau

BAB 1 PENDAHULUAN. Ukuran lebar mesiodistal gigi bervariasi antara satu individu dengan

Penetapan Gigit pada Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap

BAB 1 PENDAHULUAN. dan harmonis.pada saat mendiagnosis dan membuat rencana perawatan perlu diketahui ada

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu jenis maloklusi yang sering dikeluhkan oleh pasien-pasien

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Transkripsi:

17 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Perawatan ortodonti modern merupakan tujuan yang digunakan untuk mencapai suatu keselarasan estetika wajah, keseimbangan struktural pada wajah dan fungsional pengunyahan. 2 Penampilan wajah pasien yang lebih seimbang dan harmonis selalu menjadi tuntutan dan keluhan yang selalu disampaikan oleh pasien mengenai perawatan ortodonti. Kesuksesan yang harus dicapai dalam perawatan ortodonti adalah bagaimana keseimbangan dan keharmonisan wajah pasien menjadi lebih baik dari sebelumnya. Inklinasi dan angulasi gigi anterior yang baik harus sesuai dengan kriteria oklusi normal sehingga kondisi harmonis dan seimbang ini dapat tercapai dalam perawatan ortodonti. 6 Untuk mencapai semua tujuan tersebut perlu dilakukan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat agar semua tujuan tercapai. 2 Posisi bibir sangat mempengaruhi penampilan wajah seseorang sedangkan posisi bibir ditentukan juga oleh inklinasi gigi anterior. Inklinasi gigi insisivus sentral ditetapkan melalui pengukuran derajat kemiringan/angulasi gigi pada sefalogram lateral melalui analisis sefalometri. 1,6 2.1 Sefalometri Studi tentang sefalometri mulai dikembangkan oleh Ketcham dan Ellis (1919), Percy Brown (1921), dan Pacini (1922), tetapi baru dipopulerkan oleh B. Holly Broadbent pada tahun yang sama, Hofrath dari Jerman juga mengadakan penelitian tentang penggunaan radiografi sefalometri untuk menganalisis pertumbuhan wajah. 11 Hubungan antara gigi, rahang, wajah, dan struktur kepala yang lebih stabil serta keberhasilan perawatan yang lebih baik dianggap dapat tercapai. Setelah itu analisis sefalometri digunakan dalam menentukan hubungan dalam masalah dentofasial. 12 Sefalogram juga membantu ortodontis menentukan perubahan dengan pertumbuhan atau perawatan ortodonti.sefalometri lebih banyak digunakan untuk mempelajari tumbuh kembang kompleks kraniofasial kemudian berkembang

18 sebagai sarana yang sangat berguna untuk mengevaluasi keadaan klinis misalnya membantu menentukan diagnosis, merencanakan perawatan, menilai hasil perawatan dalam bidang ortodonti. Untuk mendapatkan sefalogram yang terstandar diperlukan prosedur pembuatan sefalogram yang sama. 13 Sefalometri mempunyai beberapa kegunaan yakni: 3,13 a. Membantu mendiagnosis dengan mempelajari struktur dental, skeletal dan jaringan lunak dari struktur kraniofasial b. Menegakkan diagnosa/analisis kelainan kraniofasial. c. Untuk mempelajari tipe wajah. d. Klasifikasi abnormalitas skeletal dan dental serta tipe wajah. e. Untuk evaluasi kasus-kasus yang telah dirawat (progress reports). f. Pembuatan rencana perawatan. g. Perkiraan arah pertumbuhan. h. Sebagai alat bantu dalam riset yang melibatkan regio kraniodentofasial 2.2 Sudut Interinsisal Dalam menentukan tindakan diagnosis dan evaluasi perawatan ortodonti, inklinasi gigi insisivus selalu menjadi pertimbangan dalam menetapkan estetika wajah pasien. Inklinasi gigi insisivus sentral ditetapkan melalui pengukuran derajat kemiringan/angulasi gigi pada sefalogram lateral melalui analisis sefalometri yang terlihat pada gambar 1. 7

19 Gambar 1. Sudut Interinsisal. Sudut inklinasi insisivus yang lebih besar dari normal berarti gigi dalam keadaan protrusif, sedangkan sudut inklinasi yang lebih kecil dari normal berarti retrusif. Keadaan normal dari sudut inklinasi insisivus adalah 130 o. 7 Menurut Graber dan Vanarsdall, posisi gigi insisivus merupakan salah satu karakteristik maloklusi yang dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan perawatan. Sedangkan menurut Ricketts dkk., posisi gigi insisivus bawah merupakan kunci utama dalam menentukan rencana perawatan karena posisi akhir gigi insisivus bawah terhadap A-Pog dapat mempengaruhi profil jaringan lunak wajah dan stabilitas hasil perawatan. 2 Menurut Ceylan dkk., menyatakan bahwa dalam menetukan perubahan gigi insisivus atas perlu disesuaikan dengan posisi gigi insisivus bawah, karena perawatan terhadap perubahan posisi dan inklinasi gigi insisivus bawah dilakukan terlebih dahulu, kemudian ditentukan perubahan gigi insisivus atas yang disesuaikan dengan posisi gigi insisivus bawah, dimana gigi insisivus atas juga merupakan faktor yang paling penting dalam menentukan rencana perawatan. Russouw dkk., gigi insisivus atas memegang peranan penting dalam petunjuk anterior dari gerakan protrusif mandibula dan menurut Creekmore menyatakan bahwa posisi optimal gigi pada rahang dan wajah lebih ditentukan oleh posisi gigi insisivus bawah. 2

lateral. 9 Bidang ortodonsia sangat membutuhkan profil jaringan lunak wajah karena 20 2.3 Analisis Jaringan Lunak Jaringan lunak merupakan faktor penting yang dapat mengubah penampilan estetika wajah. Keberhasilan perawatan ortodonti sering dikaitkan dengan perbaikan penampilan wajah termasuk profil jaringan lunak. Analisis jaringan lunak mencakup penilaian terhadap adaptasi jaringan lunak dan profil tulang dengan mempertimbangkan ukuran, bentuk, dan postur bibir seperti terlihat pada sefalometri mempunyai peranan yang penting dalam diagnosis dan perawatan ortodonti. Profil yang seimbang adalah bila bibir atas, bibir bawah, dan dagu terletak pada satu garis vertikal yang melalui subnasal. 14 Analisis jaringan lunak wajah dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu metode langsung pada jaringan lunak, radiografi sefalometri, dan fotometri. Analisis profil wajah dengan metode sefalometri umumnya dilakukan dengan menggunakan bantuan garis dan bidang refrensi intrakranial yang sangat bervariasi, seperti garis Sela Tursika-Nasion (S-N) dan bidang Frankfort Horizontal. 15 Dari sefalogram lateral dapat dilakukan analisis jaringan lunak. Penggunaan titik-titik jaringan lunak pada sefalometri (Gambar 2) sebagai berikut: 9,13 a. Nasion kulit (N ) : titik paling cekung pada pertengahan dahi dan hidung b. Pronasale ( P / Pr ) : titik paling anterior dari hidung c. Subnasale (Sn) : titik septum nasal berbatasan dengan bibir atas d. Labrale superior (Ls) : titik perbatasan mukokutaneus dari bibir atas e. Sulcus Labial Superior (Sls) : titik tercekung di antara Sn dan Ls f. Stomion superior ( Stms) : titik paling bawah dari vermillion bibir atas g. Stomion inferior ( Stmi) : titik paling atas dari vermillion bibir bawah h. Labrale inferior (Li) : titik perbatasan dari membran bibir bawah i. Inferior Labial Sulcus (Ils): titik paling cekung di antara Li dan Pogonion j. Pogonion kulit (Pog ) : titik paling anterior pada jaringan lunak dagu k. Menton kulit (Me ) : titik paling inferior pada jaringan lunak dagu

21 Gambar 2. Titik-titik yang digunakan pada profil jaringan lunak. 9 2.3.1 Analisis Menurut Holdaway Analisis Holdaway dalam menentukan keseimbangan dan keharmonisan profil jaringan lunak menggunakan garis Harmoni (garis H). 11 Garis H diperoleh dengan menarik garis dari titik Pogonion (Pog ) ke Labrale superior (Ls). 12 Analisis profil jaringan lunak yang dilakukan Holdaway berbeda dengan Ricketts dimana Holdaway tidak menggunakan puncak hidung sebagai titik penentuan analisisnya (Gambar 3). 11 Analisis Holdaway melakukan 11 analisis untuk memperoleh profil jaringan lunak yang seimbang dan harmonis yaitu terdiri dari : 16 1. Tebal bibir atas 2. Strain bibir atas 3. Sudut fasial 4. Kurvatura bibir atas 5. Besar sudut H 6. Kecembungan skeletal

22 7. Jarak puncak hidung ke garis H 8. Kedalaman sulkus labialis superior 9. Kedalaman sulkus labialis inferior 10. Jarak bibir bawah ke garis H 11. Tebal dagu Menurut Jacobson dan Vlachos, analisis Holdaway lebih terperinci, jelas dan luas pembahasannya tentang analisis profil jaringan lunak. 4 Gambar 3. Analisis jaringan lunak wajah menurut Holdaway (H line). 15 2.3.1.1 Tebal Bibir Atas Pengukuran tebal bibir atas diukur dari 2 mm dibawah titik A skeletal ke bagian luar kulit labialis superior. Idealnya tebal bibir atas adalah berkisar 14 mm (Gambar 4). 4,16 2.3.1.2 Strain Bibir Atas Pengukuran Strain bibir atas secara horizontal dari titik perbatasan vermillion superior umumnya pada titik Labrale superior (Ls) ke permukaan labial insisivus sentralis atas. Sebaiknya ukuran tebal dari titik perbatasan vermillion superior ke

23 permukaan labial insisivus sentralis atas ini hampir sama atau sedikit lebih tipis dari tebal bibir atas yaitu idealnya sekitar 12 mm (Gambar 4). Jika strain bibir atas mencapai setengah dari tebal bibir atas maka sebaiknya insisivus sentralis atas diretraksi ke palatinal. 4,16 Gambar 4. Tebal bibir atas dan strain bibir atas. 4 2.3.1.3 Sudut Fasial Sudut fasial merupakan sudut yang terbentuk oleh perpotongan garis Frankfurt dengan garis N -Pog yang membentuk sudut A (Gambar 5). Sudut fasial yang ideal adalah berkisar antara 90 o sampai 92 o. Apabila sudut fasial lebih kecil dari 90 o menunjukkan profilnya cembung karena letak titik Pog lebih ke posterior sedangkan sudut fasial lebih besar dari 92 o menunjukkan profil cekung karena letak Pog lebih ke anterior. 4,16 2.3.1.4 Kurvatura Bibir Atas Kurvatura Bibir Atas berbentuk lekukan yang dibentuk titik Sn-Sls-Ls. Yang dimaksud dengan kedalaman kurvatura bibir atas yaitu jarak titik Sls ke garis yang ditarik dari titik Ls tegak lurus ke bidang Frankfurt (Gambar 5). 4,16 Jarak Sls ke garis tersebut berkisar 2,5 mm pada pasien yang mempunyai bibir dengan ketebalan normal, sedangkan pada kelompok yang mempunyai bibir tipis berkisar 1,5 mm dan 4

24 mm pada kelompok bibir tebal masih dapat diterima. Pada kelompok bibir tipis menunjukkan kurvatura bibir atas lebih datar sedangkan pada kelompok bibir tebal menunjukkan lebih dalam. 4,16 Gambar 5. Sudut fasial dan kurvatura bibir atas. 4 2.3.1.5 Sudut H Sudut H adalah sudut yang dibentuk oleh perpotongan garis H dengan garis N -Pog (Gambar 6). Sudut H merupakan penentuan bentuk profil jaringan lunak wajah apakah cembung, cekung, atau lurus. 4,16 Besar sudut H yang harmonis dan seimbang adalah sekitar 7 o sampai 15 o. Ketika besar sudut H lebih kecil dari 7 o maka bentuk profil wajah adalah cekung karena letak Pog lebih ke posterior atau letak titik Ls lebih ke anterior, begitu juga sebaliknya apabila besar sudut H lebih besar 15 o maka bentuk profil wajah adalah cembung. Apabila kecembungan skeletal dengan besar sudut H tidak sesuai maka kemungkinan terjadi pertumbuhan fasial yang tidak seimbang. 4,16

25 2.3.1.6 Kecembungan Skeletal Kecembungan skeletal diukur dari titik A ke garis Nasion-Pogonion skeletal (N-Pog) (Gambar 6). 10 Titik A adalah titik tercekung antara spina nasalis anterior dengan puncak prosessus alveolar maksila. 3 Dikatakan dengan tegas bahwa kecembungan skeletal tidak termasuk pengukuran jaringan lunak namun sangat berguna dalam penentuan kecembungan wajah skeletal yang ideal jika jarak antara garis N-Pog ke titik A sekitar -2 mm sampai +2 mm. 4,16 Gambar 6. Sudut H dan kecembungan skeletal. 4 2.3.1.7 Jarak Puncak Hidung ke Garis H Menurut Holdaway, jarak puncak hidung ke garis H (Pr-H) idealnya adalah sebesar 6 mm. Tetapi, Holdaway masih memberi batas maksimal sampai 12 mm, terutama pada anak usia 14 tahun. Meskipun ukuran hidung penting dalam gambaran keseimbangan wajah (Gambar 7). 4,16 2.3.1.8 Kedalaman Sulkus Labialis Superior Sulkus labialis superior terletak pada titik tercekung antara titik Sn dengan titik Ls. 12 Kedudukan bibir atas seimbang jika kedalaman sulkus labialis superior (Sls) sebesar 5 mm terhadap garis H. Apabila dijumpai kedalaman sulkus labialis

26 superior (Sls) 3 mm pada bibir yang pendek atau tipis maka hal ini masih dapat diterima. Begitu juga pada bibir panjang atau tebal apabila dijumpai hasil pengukuran sebesar 7 mm, maka hal ini masih dianggap hasil yang seimbang (Gambar 7). 4,16 2.3.1.9 Kedalaman Sulkus Labialis Inferior Sulkus labialis inferior terletak pada titik tercekung antara titik Labrale inferior (Li) dengan titik Pog. 3 Profil jaringan lunak seseorang untuk kedalaman sulkus labialis inferior dikatakan harmonis dan seimbang jika kedudukan sulkus labialis inferior terhadap garis H sama seperti kedalaman sulkus labialis superior yaitu mendekati 5 mm (Gambar 7). 4,16 2.3.1.10 Jarak bibir Bawah ke Garis H Bibir bawah paling anterior umumnya terletak pada titik Labrale inferior (Li). Jarak bibir bawah ke garis H diukur dari titik Li ke garis H dengan arah horizontal. 3 jarak bibir bawah ke garis H idealnya adalah 0 mm atau garis H menyinggung titik Li. Namun demikian menurut Holdaway masih dapat dikatakan harmonis dan seimbang jika jarak Li ke garis H dalam batasan -1 mm sampai dengan +2 mm. Tanda negatif menunjukkan letak titik Li dibelakang garis H, sebaliknya dikatakan positif jika terletak di depan garis H (Gambar 7). 4,16 2.3.1.11 Tebal Dagu Tebal dagu diukur dari jarak antara titik Pogonion skeletal dan Pogonion kulit (Pog-Pog ). 4,8 Tebal jaringan lunak yang harmonis dan seimbang jika tebalnya antara 10-12 mm sedangkan jika lebih tipis maka dagu terlihat datar. 4,16 Dagu datar dapat disebabkan oleh inklinasi gigi bawah yang lebih protusif (Gambar 7). 4

27 Gambar 7. Jarak puncak hidung ke garis H, kedalaman sulkuslabialis superior, jarak bibir bawah ke garis H, kedalaman sulkus labialis inferior, dan tebal dagu. 4 2.4 Suku Deutro-Melayu Penduduk Indonesia termasuk suku Paleomongoloid atau suku Melayu. Suku bangsa di Indonesia yang termasuk dalam Deutro-Melayu adalah Aceh (kecuali Gayo dan Alas), Melayu, Minangkabau, Betawi, Jawa, Sunda, Manado, Madura, Bali, Makassar, Bugis. Deutro-Melayu atau Melayu Muda merupakan generasi kedua setelah Proto-Melayu. Bangsa Deutro-Melayu memasuki wilayah Indonesia secara bergelombang sejak tahun 1500 SM. Mereka masuk ke wilayah Indonesia melalui jalan barat, yaitu melalui daerah Semenanjung Malaya, terus ke Sumatera dan selanjutnya tersebar ke seluruh wilayah Indonesia. Populasi ini dikatakan datang pada Zaman Logam. Kebudayaan Deutro Melayu lebih tinggi dari kebudayaan bangsa Proto-Melayu. 17

28 Pada kenyataannya, penduduk yang merupakan keturunan dari ras Deutro- Melayu sangat banyak ditemukan menikah dengan ras yang sama dikarenakan ras Deutro-Melayu memiliki suku yang lebih banyak dibandingkan Proto-Melayu. Oleh sebab itu, pengambilan sampel dalam penelitian ini ditujukan pada mahasiswa Indonesia FKG USU ras Deutro-Melayu.