BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR

dokumen-dokumen yang mirip
ARAH PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI DI KEMENTERIAN/LEMBAGA DALAM RANGKA TERWUJUDNYA 3 (TIGA) SASARAN REFORMASI BIROKRASI NASIONAL

BAB 1 PENDAHULUAN. Kantor Pengelolaan Taman Pintar. Pada BAB 1, penelitian ini menjelaskan

ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI

REFORMASI BIROKRASI. (Presentasi Materi Subtansi Instansi) Jakarta, 18 Juli 2017

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI PEMERINTAH KABUPATEN SINJAI BUPATI SINJAI,

Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

KEBIJAKANPELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB 1 BISNIS PROSES DALAM REFORMASI BIROKRASI. A. Pendahuluan

Kebijakan Bidang Pendayagunaan Aparatur Negara a. Umum

KEPUTUSAN KECAMATAN CICURUG KABUPATEN SUKABUMI NOMOR : 30 Tahun 2018

BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BAB V SIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN. Berdasarkan hasil analisis data yang sudah dilakukan, maka penulis

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 30 TAHUN 2012

RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT KEMENTERIAN PANRB. Sekretariat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 2015

Penataan Tatalaksana Dalam Kerangka Reformasi Birokrasi

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 23 /KPTS/013/2015 TENTANG

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)

Deputi Bidang Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan Pengawasan. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (ToR) RtR

Kata Pengantar. Kerja Keras Kerja Lebih Keras Kerja Lebih Keras Lagi 1

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) DAN EVALUASI KINERJA Kedeputian Pelayanan Publik

BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN

GUBERNUR SULAWESI BARAT

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BIRO ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI

PENGUATAN KELEMBAGAAN PEMERINTAH DAERAH DALAM RANGKA PERCEPATAN REFORMASI BIROKRASI

PENGADILAN NEGERI BANTUL KELAS I B

Setyanta Nugraha Inspektur Utama Sekretariat Jenderal DPR RI

BAB I REVIEW RENSTRA SETDA KALTIM

2 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara R

ARAHAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI PADA ACARA

BAB I P E N D A H U L U A N

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN ZONA INTEGRITAS MENUJU WILAYAH BEBAS KORUPSI (WBK) DAN WILAYAH BIROKRASI BERSIH DAN MELAYANI (WBBM) DI DINAS PENANAMAN

WALIKOTA BANDA ACEH PERATURAN WALIKOTA BANDA ACEH NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH TAHUN

PENGADILAN NEGERI BANTUL KELAS I B MANUAL MUTU PENJAMINAN MUTU PENGADILAN

PEDOMAN PENGUSULAN, PENETAPAN, DAN PEMBINAAN REFORMASI BIROKRASI PADA PEMERINTAH DAERAH BAB I PENDAHULUAN

REFORMASI BIROKRASI DALAM UPAYA PENINGKATAN KINERJA DAN PELAYANAN PUBLIK RRI

PERATURAN WALIKOTA BANDA ACEH NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN PROGRAM E-KINERJA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH WALIKOTA BANDA ACEH,

KETUA PENGADILAN AGAMA JAKARTA PUSAT

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2010 TENTANG GRAND DESIGN REFORMASI BIROKRASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Pada hakekatnya reformasi birokrasi pemerintah merupakan proses

- 9 - BAB II PENCAPAIAN DAN ISU STRATEGIS

BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

ANGAN Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 21 TAHUN 2O16 TENTANG PIAGAM AUDIT INTERN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN PATI

PROSES PENCAPAIAN TUJUAN DAN SASARAN REFORMASI BIROKRASI

3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Badan Kepegawaian Daerah Kota Bandung

PENDAHULUAN BAB I 1.1. LATAR BELAKANG

BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT DPRD KOTA. Rencana strategis merupakan proses yang berorientasi

KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN DINAS PELAYANAN PAJAK KOTA BANDUNG TAHUN 2014

L A P O R A N K I N E R J A

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) BIRO HUKUM DAN ORGANISASI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI. III.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan OPD

EVALUASI PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI SESUAI DENGAN SURAT MENPAN RB NOMOR : B/14/D.I.PANRB-UPRBN/12/2015 TANGGAL 22 DESEMBER 2015

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya

4. Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi ; 5. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

Bab I. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

- 1 - PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 62 TAHUN 2017 TENTANG PIAGAM AUDIT INTERN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 20 TAHUN 2015 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI PEMERINTAH KOTA MALANG TAHUN

birokrasi, agar dapat ditetapkan langkah deregulasi dan/atau reregulasi sesuai kebutuhan regulasi yang menjadi tanggung jawab Kementerian Dalam

Kebijakan Reformasi Birokrasi dan Evaluasi Jabatan

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya, guna

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN. "Terwujudnya peningkatan kualitas kinerja Biro Pemerintahan Provinsi

KOMISI PEMILIHAN UMUM PROVINSI/KOMISI INDEPENDEN PEMILIHAN ACEH DAN KOMISI PEMILIHAN UMUM/KOMISI INDEPENDEN PEMILIHAN KABUPATEN/KOTA

3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Badan Kepegawaian Daerah Kota Bandung

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 97 TAHUN 2015 TENTANG

P E M E R I N T A H K O T A M A T A R A M

MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Hal. Bab I Pendahuluan... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Landasan Hukum... 3 C. Maksud dan Tujuan... 5

PENINGKATAN TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS APARATUR DALAM KERANGKA REFORMASI BIROKRASI

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

IV. GAMBARAN UMUM. A. Sejarah Singkat Badan Kepegawaian Penddidikan dan Latihan. atas Undang-undang Nomor 8 tahun 1974 tentang Pokok-pokok kepegawaian

KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

Jambi, Januari 2017 INSPEKTUR KOTA JAMBI, Drs. H. HAFNI ILYAS. Pembina Utama Muda. NIP

LAPORAN KINERJA BIRO ORGANISASI DAN KEPEGAWAIAN TAHUN 2014

WALIKOTA BATU KEPUTUSAN WALIKOTA BATU NOMOR: 180/16/KEP/ /2013 TENTANG

DIREKTORAT RESERSE KRIMINAL UMUM POLDA METRO JAYA

KATA PENGANTAR. Kepala Badan Pengawasan, Dr. H.M. SYARIFUDDIN, SH., MH.

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH

RENCANA STRATEGIS BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI TAHUN BAB I PENDAHULUAN

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. 4.1 Dasar Hukum Terbentuknya Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Latihan Kabupaten Lampung Selatan

BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT DPRD KOTA. penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai

Cetak Biru Reformasi Birokrasi KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah ( Renstra SKPD )

RENCANA KERJA PEMBAGUNAN ZONA INTEGRITAS MENUJU WBK / WBBM DI KEMENTERIAN AGAMA KOTA DENPASAR

GRAND DESIGN REFORMASI BIROKRASI BAB I PENDAHULUAN

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

Transkripsi:

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI PEMERINTAH PROPINSI SUMATERA BARAT DALAM MELAKSANAKAN KEBIJAKAN REFORMASI BIROKRASINYA 2013-2014 Oleh: Dr. Drs. H. Maisondra, S.H, M.H, M.Pd, Dipl.Ed Staf Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat I. PENDAHULUAN Undang-undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 mengamanatkan bahwa pembangunan aparatur negara dilakukan melalui reformasi birokrasi untuk mendukung keberhasilan pembangunan bidang lainnya. Sebagai wujud komitmen nasional untuk melakukan reformasi birokrasi, pemerintah telah menetapkan reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan menjadi prioritas utama dalam Perpres Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010 2014. Makna reformasi birokrasi adalah: Perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia; Pertaruhan besar bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan abad ke-21; Berkaitan dengan ribuan proses tumpang tindih antarfungsi-fungsi pemerintahan, melibatkan jutaan pegawai, dan memerlukan anggaran yang tidak sedikit; Upaya menata ulang proses birokrasi dari tingkat tertinggi hingga terendah dan melakukan terobosan baru dengan langkah-langkah bertahap, konkret, realistis, sungguh-sungguh, berfikir di luar kebiasaan/rutinitas yang ada, dan dengan upaya luar biasa; Upaya merevisi dan membangun berbagai regulasi, memodernkan berbagai kebijakan dan praktek manajemen pemerintah pusat dan daerah, dan menyesuaikan tugas fungsi instansi pemerintah dengan paradigma dan peran baru. Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Pemerintah di Indonesia pada dasarnya dimulai sejak akhir tahun 2006 yang dilakukan melalui pilot project di Kementerian Keuangan, Mahkamah Agung, dan Badan Pemeriksa Keuangan. Sejak itu, dikembangkan konsep dan kebijakan Reformasi Birokrasi yang komprehensif yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden No.81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025, dan Permenpan-rb No. 20 Tahun 2010 tentang peta jalan (Road Map) Reformasi Birokrasi 2010-2014. Selain itu, diterbitkan pula 9 (sembilan) Pedoman dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi yang ditetapkan dengan Permenpan-rb No. 7 sampai dengan No. 15 yang meliputi pedoman tentang Pengajuan dokumen usulan sampai dengan mekanisme persetujuan pelaksanaan reformasi birokrasi dan tunjangan kinerja.

Pelaksanaan reformasi birokrasi di masing-masing instansi pemerintah dilakukan berdasarkan kebijakan/program/kegiatan yang telah digariskan dalam Grand Design Reformasi Birokrasi dan peta jalan (Road Map) reformasi Birokrasi, serta berbagai pedoman pelaksanaannya. Selanjutnya, pelaksanaan reformasi birokrasi memerlukan sistem monitoring dan evaluasi yang solid dan kredibel dan dapat mencerminkan suatu sistem pengukuran yang objektif, dan pengguna dapat menerima dan menindaklanjuti hasil dari sistem tersebut. Dalam rangka itu, ditetapkan Permenpanrb No. 1 Tahun 2012 tentang Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi, dan untuk operasionalisasinya ditetapkan Permenpanrb No. 31 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi secara Online. Pada tahun 2010 dicanangkan gerakan reformasi birokrasi bagi seluruh organisasi pemerintah dengan keluarnya Perpres Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010 2014 sebagai wujud komitmen nasional terhadap Undang-undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 yang mengamanatkan bahwa pembangunan aparatur negara dilakukan melalui reformasi birokrasi untuk mendukung keberhasilan pembangunan bidang lainnya. Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat sudah membentuk satu bagian khusus untuk menyusun perencanaan, menjalankan dan mengevaluasi kebijakan reformasi birokrasi, yang mana bagian ini berada di bawah biro organisasi sekretariat daerah. Namun secara umum diketahui belum banyak kebijakan yang dapat terlaksana dengan baik disebabkan adanya kendala-kendala. II. PEMBAHASAN A. Kebijakan Reformasi Birokrasi di Lingkungan Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Sumatera Barat Tahun 2011-2014 Kebijakan reformasi Birokrasi di lingkungan Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat baru di mulai tahun 2011 dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 24 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Pemerintah Propinsi Sumatera Barat, meskipun gerakan reformasi birokrasi secara nasional sudah dimulai sejak tahun 2006 dengan ditetapkannya beberapa kementerian dan lembaga sebagai pilot project pelaksanaan reformasi birokrasi di Indonesia, yang selanjutnya dilanjutkan dengan menetapkan sejumlah pemerintahan daerah sebagai pilot project. Pokok-pokok dalam pedoman reformasi birokrasi Penerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat sesuai Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 24 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Pemerintah Propinsi Sumatera Barat adalah sebagai berikut:

a. Susunan Tim Pengarah: Ketua: Sekretaris Daerah Propinsi Sumatera Barat Sekretaris/Anggota: Kepala Biro Organisasi Sekretariat Daerah Propinsi Sumatera Barat Anggota : 1. Asisten Sekretariat Daerah Propinsi Sumatera Barat 1. Kepala Bappeda Propinsi Sumatera Barat. 2. Kepala DPKD Propinsi Sumatera Barat 3. Kepala BKD Propinsi Sumatera Barat. 4. Kepala Badan Diklat Propinsi Sumatera Barat. 5. Inspektur Propinsi Sumatera Barat. 6. Kepala Biro Hukum Setda Propinsi Sumatera Barat. 7. Para Kepala SKPD. b. Visi dan Misi Reformasi Birokrasi Propinsi Sumatera Barat: Visi: Mewujudkan Pemerintahan yang bersih dan profesional melalui pelayanan prima kepada masyarakat guna membentuk tata kelolal pemerintah yang akuntabel. Misi: 1. Melakukan perubahan budaya dan pola pikir birokrat agar memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat guna meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran. 2. Menciptakan system dan mekanisme pemerintahan yang menjamin akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan serta mencegah terjadinya korupsi dalam birokrasi. 3. Membentuk sistem pemerintahan yang memungkinkan partisipasi dan kontrol masyarakat atas penyelenggaraan pemerintahan. c. Tujuan Umum: Membangun/membentuk sosok aparatur daerah yang berintegritas dan berkinerja tinggi sehingga mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat guna mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Sumatera Barat. d. Tujuan Khusus: 1) Membentuk birokrasi yang bersih dari KKN, 2) Membentuk birokrasi yang efesien, efektif, dan produktif, 3) Membentuk birokrasi yang akuntabel dan transparan, 4) Membentuk birokrasi yang melayani masyarakat. e. Program Reformasi Birokrasi: 1) Program Pemantapan Implementasi,

Bertujuan untuk membentuk komitmen dan kesamaan persepsi dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi. 2) Program Penataan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia, Bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme Sumber Daya Manusia Aparatur melalui pembinaan karir berdasarkan system prestasi kerja dan karir. 3) Program Penataan Organisasi, Bertujuan untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas kelembagaan SKPD, sehingga tepat fungsi dan tepat ukuran. 1) Program Regulasi Bertujuan untuk terwujudnya Peraturan Per UU yang selaras dengan Per UU yang lebih tinggi. 2) Program Penataan Ketatalaksanaan Bertujuan untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas bisnis proses dan prosedur kerja dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. 3) Program Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Bertujuan untuk penguatan akuntabilitas dan pengembangan manajemen kinerja birokrasi. 4) Program Penguatan Pengawasan dan Partisipasi Masyarakat Bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, kolusi serta nepotisme. f. Tahapan Implementasi Reformasi Birokrasi Ada enam tahapan dalam reformasi birokrasi Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat, yaitu: 1) Pembentukan Tim, 2) Pengembangan Konsep, 3) Penetapan program percepatan, 4) Penetapan manajemen perubahan, 5) Pelaksanaan program kegiatan dan 6) Monitoring B. Kendala-Kendala yang Dihadapi Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat dalam Melaksanakan Kebijakan Reformasi Birokrasinya Terkait kelambatan implementasi reformasi birokrasi di Propinsi Sumatera Barat, terdapat beberapa faktor yang masih menjadi kendala dan tantangan, diantaranya: 1. Minimnya Komitmen Kepemimpinan Politik Reformasi birokrasi dinilai gagal jika pemerintah daerah tetap abaikan peraturan perundang undangan. Tak hanya itu, kinerja aparatur negara pun dinilai masih lemah, sehingga berdampak pada pelayanan masyarakat.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Ombudsman Perwakilan Sumatera Barat Yunafri, saat ditemui di Hotel Mercure, Padang, (Haluan, Kamis 21 November 2013). Dia mengatakan, kemungkinan gagalnya reformasi birokrasi itu terlihat dari tingginya angka pelaporan pelayanan publik di Ombudsman Sumatera Barat. Dari Januari hingga saat ini data laporan pengaduan sudah mencapai 118, dan trennya setiap bulan terus meningkat, ujarnya. Dia menjelaskan, rating tertinggi pihak terlapor ada di pemerintah kabupaten dan kota sebanyak 52. Lalu disusul dari Provinsi Sumatera Barat sebanyak 14 laporan. Kebanyakan pengaduan tersebut terkait dengan internal kepegawaian. Dimulai dari masalah pemerintah daerah yang merotasi pegawai dengan seenaknya, sampai pegawai yang dinonjobkan tanpa mematuhi peraturan yang ada, terangnya. Yunafri juga menambahkan, permasalahan itu terjadi karena pemerintah daerah atau kepala daerah tidak patuh terhadap peraturan yang berlaku. Selain itu, program yang dibuat oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) juga tidak dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Reformasi birokrasi harus dimulai dari pimpinan tingkat tertinggi sampai dengan tingkat terendah. Komitmen pimpinan sangat penting, karena pimpinan yang akan menentukan arah perubahan. Dalam menggerakkan reformasi birokrasi, pemimpin tidak bisa hanya mengandalkan orang lain. Pemimpin harus turun tangan, jangan hanya mengandalkan bawahan. Pimpinan harus menjadi role model dalam reformasi birokrasi. Dalam kenyataan yang ditemukan justru banyak pimpinan birokrasi di lingkungan Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat yang menunjukan sikap kontra produktif terhadap implementasi kebijakan reformasi birokrasi. Komitmen dan keteladanan elit politik, reformasi birokrasi merupakan pekerjaan besar karena menyangkut sistem besar yang mengalami tradisi buruk untuk kurun yang cukup lama. Untuk memutus tradisi lama dan menciptakan tatanan dan tradisi baru, perlu kepemimpinan yang kuat dan yang patut diteladani. Kepemimpinan yang kuat berarti hadirnya pemimpin-pemimpin yang berani dan tegas dalam membuat keputusan. Sedangkan keteladanan adalah keberanian memberikan contoh kepada bawahan dan masyarakat. 2. Penentangan (Resistensi) dari dalam Birokrasi itu sendiri Kenyamanan yang dirasakan selama ini oleh jajaran birokrat (status quo) membuat mereka sulit untuk merubah pola pikir maupun sikap mental untuk mendukung kearah perubahan yang lebih baik. Intinya terjadi penentangan oleh pihak internal (birokrat itu sendiri) terhadap usaha perubahan yang menjadi inti dari reformasi birokrasi. Ketidakinginan untuk merubah pola pikir termasuk budaya kerja dari para birokrat yang ada tentunya menjadi kendala dalam perubahan itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Biro Organisasi dan Reformasi Birokrasi Setda Propinsi Sumatera Barat:

Hambatan utama dalam reformasi birokrasi adalah sulitnya merubah pola pikir dan budaya kerja. Artinya ada penolakan terhadap usaha perubahan ke arah yang lebih baik tersebut. Kepala Bagian Pendayagunaan Aparatur Setda Propinsi Sumatera Barat mengatakan: Sangat susah merubah pola pikir dan budaya kerja aparatur kita. Cara-cara lama dianggap masih aman dan menguntungkan mereka. Ketdakmampuan mempergunakan teknologi baru/it juga membuat mereka menolak reformasi. Walaupun Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat telah merintis dan melakukan upaya- upaya reformasi, namun pada umumnya belum menyeluruh.. Program reformasi hanya beroperasi pada tataran instrumental dan struktural namun sulit untuk kultural. Contohnya, Walaupun sudah ada upaya melakukan reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja pelayanan kepada masyarakat, namun hanya secara instrumental dan structural, dimana perubahan dilakukan melalui pengadaan sarana dan prasarana penunjang penyelenggaraan urusan wajib dan pilihannya serta melakukan penataan organisasi dengan prinsip-prinsip manajemen dan pelayanan prima, namun ditinjau dari perubahan mind set aparaturnya, budaya birokrasi dan berbagai perilaku yang masih mengutamakan kepentingan pribadi masih menjadi hambatan mewujudkan reformasi birokrasi di Pemerintah Propinsi Sumatera Barat. 3. Minimnya Kompetensi Dalam Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Reformasi birokrasi tidak akan berhasil jika tidak ada kompetensi sumberdaya manusia dalam implementasinya. Semakin tepat dan kompeten pelaksananya semakin tinggi tingkat keberhasilan reformasi birokrasi. kompetensi di sini juga berarti ketepatan tugas dan fungsi dari suatu lembaga yang dibentuk, artinya semakin tepat organisasi kelembagaan yang dibentuk akan menentukan juga keberhasilan tugas yang diemban pemerintah. Jadi tidak ada lembaga yang tidak jelas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. 4. Terbatasnya Anggaran Keuangan Daerah Tidak dapat dipungkiri bahwa reformasi birokrasi membutuhkan pendanaan yang cukup untuk mendukung setiap kebijakan yang diambil baik itu melalui reformasi kelembagaan, tata laksana, maupun sumber daya manusia. Masalah sumber daya manusia menjadi hal yang sensitif dengan hambatan ini, karena berbicara masalah pegawai akan terkait pula dengan kesejahteraan pegawai itu sendiri. Manajemen reward and punishment memang menjadi dasar bagi pemerintah memberikan suatu dorongan dan motivasi para pegawai dan aparatur untuk meningkatan kinerjanya dalam upaya mengoptimalkan pelayanan publik.

kebijakan memberikan Tunjangan Daerah (Tunda) yang diterapkan sebagai elemen reformasi birokrasi selama ini di Propinsi Sumatera Barat dinilai kurang adil dan parsial karena hanya menguntungkan para pejabat ditingkat eselon, karena jumlah penerimaan yang begitu besar yang diterima pejabat eselon dibandingkan dengan staf biasa. Indikasi berkurangnya korupsi sebagai dampak dari diberikannya Tunjangan Daerah tersebut juga tidak terlihat dan juga sulit untuk dinilai dapat meningkatkanan kinerja. PNS. III. PENUTUP A. Kesimpulan Pelaksanaan reformasi birokrasi diharapkan dapat: Mengurangi dan akhirnya menghilangkan setiap penyalahgunaan kewenangan publik oleh pejabat di instansi yang bersangkutan; Menjadikan negara yang memiliki birokrasi yang bersih, mampu, dan melayani; Meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat; Meningkatkan mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan/program instansi; Meningkatkan efisiensi (biaya dan waktu) dalam pelaksanaan semua segi tugas organisasi; Menjadikan birokrasi Indonesia antisipatif, proaktif, dan efektif dalam menghadapi globalisasi dan dinamika perubahan lingkungan strategis. Kebijakan reformasi Birokrasi di lingkungan Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat baru dimulai tahun 2011 dengan diundangkannya Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 24 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Pemerintah Propinsi Sumatera Barat. B. Saran Pemerintah pusat mestinya lebih mendorong pemerintah daerah untuk melakukan inovasi-inovasi dan kreatifitas dalam pelaksanaan reformasi birokrasi, serta hendaknya tidak memaksa pemerintah daerah untuk menyeragamkan atau menggunakan strategi dan pendekatan reformasi birokrasi yang sama, yang bersifat top down (dari pemerintah pusat), yang tidak mempertimbangkan permasalahan serta kondisi governance yang spesifik dari tiap-tiap pemerintah daerah tersebut.