BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan PT.Bridgestone Sumatra Rubber Estate merupakan suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan dan pengolahan karet. Hasil perkebunan berupa getah karet akan diolah menjadi crumb rubber. Crumb rubber atau karet remahan yang diolah oleh PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate akan diekspor ke jepang sebagai bahan baku pembuatan ban. Ban Bridgestone akan dipasarkan ke berbagai negara Asia, Afrika dan Amerika. PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate yang terletak di Dolok Merangir, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara dibeli oleh perusahaan Goodyear pada tahun 1916. Perusahaan ini dibeli dari Vrenide Indice Coltounderneeming (VICO). Vrenide Indice Coltounderneeming merupakan perusahaan Belanda yang dipimpin oleh J.J. Blandeing. Pada Tahun 1917 didirikan pabrik dan kemudian, pada tahun 1927 didirikan Planing Research dan Chemical Research. Saat ini PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate mempunya 5 divisi perkebunan. Divisi perkebunan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1. Lokasi Divisi Perkebunan PT. BSRE No Divisi Lokasi 1. Divisi I Naga Raja 2. Divisi II Dolok Meragir 3. Divisi III Dolok Ulu 4. Divisi IV Dolok Ulu 5. Divisi V Aek Tarum Sumber : PT.Bridgestone Sumatera Rubber Estate, Dolok Merangir PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate saat ini memiliki pabrik pengolahan crumb rubber seluas 106.537,58 m 2. Pabrik pengolahan crumb rubber terbagi atas 5 factory, yaitu : 1. DM Factory (Dolok Merangir Factory) 2. DX Factory (Dolok Merangir Expansion Factory) 3. FOOM Factory 4. NB 1 (New Bridgestone 1) 5. NB 2 (New Bridgestone 2) DM factory, DX factory serta Foom factory merupakan factory yang didirikan oleh PT. Goodyear Sumatra Plantations. Factory NB 1 dan NB 2 merupakan factory yang didirikan oleh PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate. 2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate menghasilkan crumb rubber yang merupakan bahan baku pembuatan ban. Peningkatan produksi yang
dilakukan oleh PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate membuat masyarakat sekitar terpacu untuk menanam karet. Harga jual karet pada PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate sangat tinggi, oleh karena itu masyarakat sekitar lebih tertarik menjual kepada PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate dari pada perusahaan sejenis yang ada di lingkungan sekitar. Harga Jual karet yang tinggi dikarenakan perusahaan sangat bergantung pada penjualan karet dari masyarakat. Sekitar 65% bahan baku untuk proses produksi berasal dari karet masyarakat. Selain bergerak dalam bidang penjualan dan pengolahan karet, PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate juga bergerak pada bidang perkebunan karet. Hasil perkebunan karet dari PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate hanya memenuhi 35% dari kebutuhan bahan baku. Saat ini PT. Bridgestone meiliki 5 Divisi perkebunan yaitu di daerah Naga Raja, Dolok Ulu, Dolok Merangir dan Aek Tarum. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku saat ini PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate berupaya menambah divisi perkebunannya. 2.3. Organisasi dan Manajemen Struktur organisasi pada suatu pabrik adalah bagian yang penting dalam pendirian suatu perusahaan untuk memperlancar jalannya tugas dan wewenang, sehingga pendistribusian tugas, dan tanggung jawab serta hubungan antara jabatan satu dan yang lainnya menjadi jelas. Struktur organisasi menggambarkan hubungan kerjasama antara dua orang atau lebih dengan tugas yang berkaitan satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan tertentu yang diharapkan oleh semua pihak yang terkait didalamnya.
Organisasi ditentukan atau dipengaruhi oleh badan usaha, jenis usaha dan besarnya usaha dan sistem produksi perusahaan. Dengan adanya struktur organisasi dan uraian tugas yang telah ditetapkan akan menciptakan suasana kerja yang baik dan tidak terjadi kekacauan akibat kesalahan dalam pemberian perintah dan tanggung jawab. Struktur organisasi dari PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate berbentuk struktur organisasi campuran lini, fungsional dan staff. Sruktur lini merupakan struktur dimana didalamnya terdapat garis wewengang yang menghubungkan langsung secara vertikal antara atasan dan bawahan. Struktur fungsional merupakan struktur organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada kepala bagian yang mempunyai jabatan fungsional untuk dikerjakan kepada pelaksanan dengan keahlian khusus, dan hubungan staff merupakan hubungan atasan dengan staff khusus. Struktur Organisasi PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate dapat dilihat pada Gambar 2.1.
President Director Production Director Finance Director Vice Managing Director Latex Specialist M F O Rubber Estate Specialist Production Factory Finance M F A Safety & Health Q C D Hospital H R D Security Field Training Divison Processing Engineering R & D Purchasing Estate Inspector TD / AWS Cent. Godown Assistant Traffic Assistant I T Assistant RM Buyer Assistant F S D Assistant Gambar 2.1. Struktur Organisasi PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate
Dari stuktur organisasi dapat dilihat hubungan lini, fungsional, dan staff antara pimpinan tertinggi dengan bawahannya. Hubungan lini misalnya pada hubungan president director dengan para director yang ada dibawahnya. Hubungan fungsional misalnya terdapat pada manajer latex specialist dengan manager field administration (MFA). Disini manajer latex specialist melimpahkan wewenang kepada MFA yang mempunyai jabatan fungsional sebagai pelaksana yang memiliki keahlian khusus. Hubungan staff dapat dilihat pada hubungan Finace Director dengan staff khusus IT. Tugas staff IT disini hanya memberi saran atau nasehat kepada Finace Director. Dari hal ini, maka dapat disimpulkan bahwa PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate memiliki struktur organisasi campuran. 2.4 Proses Pengolahan 2.4.1 Proses Pre cleaning Bahan baku sebelum diproses di pabrik terlebih dahulu menjalani proses pre cleaning. Pre cleaning merupakan proses pengecilan ukuran, pencucian getah karet dan juga penghilangan bau. Tahapan proses pre cleaning adalah : 1. Transportasi Bahan baku ditransportasikan ke precleaning melalui truk 2. Drag Conveyor Bahan baku kemudian akan ditransportasikan dengan menggunakan drag conveyor ke mesin slab cutter.
3. Screw Conveyor dan Slab Cutter Pada mesin slab cutter terjadi pengurangan ukuran secara kasar fungsinya adalah melepaskan sejumlah besar kotoran untuk kemudian dibawa ke proses selanjutnya. 4. Tangki Pencuci 1 (Settling Tank 1) Bahan baku yang telah melewati slab cutter kemudian dimasukkan ke dalam tangki pencuci. Proses ini menyebabkan pelepasan dan pengendapan kotoran. 5. Bucket Conveyor 1 Bucket Conveyor berfungsi untuk memindahkan karet dari tangki pencuci ke mesin selanjutnya. 6. Hammer Mill Mesin ini berfungsi untuk memperkecil ukuran partikel dan membersihkan kotoran dengan menggunakan rotating knife yang berputar dengan kecepatan tinggi. 7. Tangki Pencuci 2 (Settling Tank 2) Partikel Karet yang telah melewati hammer mill kemudian dimasukkan kedalam tangki pencuci 2. Disini karet dibersihkan dan kotoran diendapkan. 8. Bucket Conveyor 2 Bucket Conveyor berfungsi untuk memindahkan partikel karet dari tangki pencuci 2 ke tahap selanjutnya, yaitu blower 9. Blower Partikel karet yang telah melewati Bucket Conveyor 2 akan dimasukkan ke blower arus udara untuk kemudian di transfer ke drumb truck. Partikel karet
akan dibawa oleh drumb truck dan dimasukkan kedalam bin sebelum partikel karet diproses ke tahap selanjutnya (balling process). Partikel karet disimpan pada bin sampai partikel karet tersebut mempunyai kadar DRC (Dry Rubber Content) sebesar 75-80%. 2.4.2 Proses Produksi Crumb Rubber Proses produksi terdiri dari dua, yaitu: a. Wet Process 1. Drag Conveyor Partikel Karet dari tempat penyimpanan bin yang DRCnya telah mencapai 75-80% akan dikeluarkan dari tempat penyimpanan untuk diproses di pabrik. Partikel karet terlebih dahulu ditumpuk, kemudian partikel karet akan diletakkan di drag conveyor oleh pekerja untuk diproses di mesin slab cutter. 2. Slab Cutter Pada mesin slab cutter bahan baku dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil. Pada mesin slab cutter, bahan baku akan mengalami penekanan oleh screw press untuk melewati die plate. Die plate mempunyai diameter lubang sebesar 25 mm. Bahan baku yang keluar dari die plate akan dipotong dengan besi pemotong yang bekerja secara berlawanan, sehingga ukuran bahan baku semakin kecil.
3. Settling Tank 1 Tangki ini berfungsi untuk mengendapkan kotoran. Bahan baku yang telah melewati settling tank I akan di transfer blending tank dengan bucket conveyor 4. Bucket Conveyor 1 Pada proses pentransferan denga bucket conveyor I bahan baku juga mengalami proses pencucian 5. Blending Tank Pada blending tank bahan baku dicuci dengan putaran mixer, fungsinya untuk pengendapan kotoran. 6. Bucket Conveyor Karet di keluarkan dari tangki, kemudian ditranportasikan ke mesin pre breaker 7. Pre breaker Sama seperti prinsip kerja mesin slab cutter, mesin pre breaker juga berfungsi untuk mengurangi ukuran partikel dari bahan baku serta menghilangkan serum dan kotoran. Dengan bantuan arus air, maka bahan baku akan berpindah ke settling tank 2 8. Settling Tank 2 Mesin Settling tank 2 berfungsi untuk membersihkan partikel karet dari kotoran partikel karet yang telah melewati settling tank akan ditransfer ke dalam system pneumatic transfer. Partikel karet akan ditransfer ke mesin hammer mill dengan menggunakan blower.
10. Hammer Mill Mesin Hammer mill akan mengurangi ukuran partikel dan menghilangkan kotoran dengan menggunakan pisau yang berputar dengan kecepatan tinggi. Dengan bantuan arus air, bahan baku keluar dari hammer mill dan akan ditransportasikan di settling tank 3 11. Settling Tank 3 Mesin settling tank 3 berfungsi untuk mengaduk, sehingga kotoran mengendap. 12. Screw Conveyor dan Blower System Partikel karet yang telah melewati Settling Tank 3 akan dibawa dengan screw conveyor kedalam system pneumatic transfer. Melalui system pneumatic transfer bahan baku akan dibawa ke dalam settling tank 4 13. Settling Tank 4 Sama dengan settling tank sebelumnya, fungsi settling tank 4 adalah mengendapkan kotoran yang ada pada partikel karet. 14. Screw Conveyor dan Blower System Partikel karet ditransfer dari settling tank 4 menggunakan screw conveyor ke dalam system pneumatic transfer. Melalui system pneumatic transfer partikel karet akan ditransfer ke mesin extruder I 15. Extruder 1 Pada mesin extruder partikel karet akan mengalami proses penekanan agar dapat melewati die plate. Diameter die plate pada extruder I sebesar 3-3,5 mm. Mesin extruder akan memotong dan mengekstruksi partikel karet dengan
pemotongan kecepatan tinggi, sehingga menghasilkan partikel karet yang kecil. Mesin extruder berfungsi mengurangi ukuran partikel, sehingga memudahkan pengeringan dan mengurangi serum dan kotoran. Partikel karet yang telah melewati mesin extruder I akan dibawa arus air ke settling tank 5 16. Washing tank 5 Pada settling tank 4 partikel karet akan dicuci untuk mengendapkan kotoran. 17. Screw/ Blower Partikel karet kemudian ditransfer menggunakan screw conveyor ke dalam system pneumatic transfer. Partikel karet akan ditransfer oleh system pneumatic transfer ke mesin extruder 2 18. Extruder 2 Pada mesin extruder 2 bahan baku akan mengalami proses penekanan untuk melewati die plate dengan diameter 2,4mm 3mm. Pada mesin extruder 2, partikel karet akan dipotong dan diekstruksi 19. Blower + Cyclone Produk crumb yang diekstrusi dimasukkan ke blower arus udara, partikel karet akan ditransfer secara pneumatik ke trolley. Partikel karet dipisahkan dari udara menggunakan aliran gas siklon. Partikel karet turun ke dalam trolley dan partikel udara habis, sehingga dihasilkan kualitas produk akhir b. Balling Press 1. Trolley (Lori Pengering) Trolley dibagi ke dalam beberapa bagian untuk memudahkan pembentukan biscuit. Trolley diisi dengan partikel karet dengan menggunakan Hydrocyclone
pump dan blower. Trolley berisi 28 kotak, masing-masing kotak berukuran 60cm x 20cm x 25cm 2. Dryer (Pengering) Trolley diisi oleh partikel karet kemudian dimasukkan kedalam dryer dan akan dipanaskan selama ± 12 menit dengan suhu 115 0 C-125 0 C. Setelah 12 menit, trolley akan keluar secara otomatis. Selanjutnya akan dilakukan pembongkaran Biscuit oleh pekerja. 3. Pembongkaran Biscuit Biscuit yang telah dikeringkan dari dryer (suhu sekitar 80-100 0 C) ditempatkan pada meja pendinginan untuk didinginkan selama 1 timer ( ± 12 menit, dengan suhu yang diinginkan selama masa pendinginan sebesar <50 0 C. 4. Penimbangan Manual dan Pengepresan Biscuit yang telah didinginkan kemudian akan dtimbang dengan berat 35kg ± 0,05. Biscuit yang telah memenuhi kriteria penimbangan, kemudian akan dipress dengan mesin press selama 15 detik. Biscuit yang telah dipress (bandela) akan diambil sampel sesuai dengan kriteria pengambilan sampel pada PT. BSRE 5. Pengambilan Sampel Sampel diambil setiap sembilan bandela (yaitu 4 sampel per pallet). Sampel diambil dari setiap sudut yang berlawanan secara diagonal. Sampel yang diambil sekitar 350 gr sampel. Sampel diberi label, dibungkus dan dikirim untuk analisis. Setiap bandela yang mengandung white spot atau kontaminasi
ditolak oleh petugas QCD. Bandela kemudian dipotong dua setiap 6 bandela, secara visual diperiksa untuk memeriksa white spot dan kontaminasi. 6. Penimbangan Ulang dan Pendeteksian Metal Setiap bandela kemudian ditimbang ulang dengan timbangan digital. Penimbangan ulang untuk memastikan bahwa berat dari produk sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Bandela kemudian ditransfer ke detektor logam dengan menggunakan belt conveyor, jika terkontaminasi bandela akan ditolak oleh inspektur QCD dan kemudian dipisahkan. 7. Pengemasan dan Pallet Bandela diberi label atau nomor dan kemudian dikemas setelah mendapatkan persetujuan kualitas dari QCD. Bandela yang tidak sesuai dengan kualitas kemudian dipisahkan dalam on hold area untuk kemudian diproduksi kembali. Bandela kemudian akan dimasukkan ke dalam pallet, setiap pallet berisi 36 bandela. Produk yang dihasilkan berdasarkan Standard Indonesia Rubber yang disajikan dalam bentuk bandela dengan berat dan ukuran tertentu. Ukuran bandela SIR yang diperdagangkan adalah panjang 675 ± 25 mm dan lebar 35 mm, dapat mempunyai berat sebesar 33 1/3 atau 35 kg, atau sesuai dengan permintaan pembeli. Untuk mengetahui jenis dan karakteristik penggolongan mutu karet olahan berdasarkan SIR, dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Skema Persyaratan Mutu Crumb Rubber Jenis Mutu Persyaratan No Jenis Mutu Karakteristik Bahan Olah Sir3CV Sir3L SIR3WF SIR 5 SIR 10 SIR 20 Satuan LATEKS KOAGULUM LATEKS 1 Kadar Kotoran (b/b) % Max0.03 Max0.03 Max0.03 Max0.05 Max0.10 Max0.20 2 Kadar Abu (b/b) % Max0.50 Max0.50 Max0.50 Max0.50 Max0.75 Max1.00 3 Kadar zat menguap (b/b) % Max0.80 Max0.80 Max0.80 Max0.80 Max0.80 Max0.80 4 PRI % Min 60 Min 75 Min 75 Min 70 Min 60 Min 50 5 Po - - Min 30 Min 30 Min 30 Min 30 Min 30 6 Nitrogen (b/b) - Max0.60 Max0.60 Max0.60 Max0.60 Max0.60 Max0.60 7 Kemantapan Viskositas WAST(Skala Plastisitas Wallace) 8 Viskositas Mooney ML (1+4) % Max 8 - - - - - *) - - - - 10 Warna skala Lovibond - - Max 6 - - - - Sumber : PT. Bridgestone Sumatra Rubber Estate Dolok Merangir - -