Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V KIMIA AIR. 5.1 Tinjauan Umum

BAB 3 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA

BAB IV SISTEM PANAS BUMI DAN GEOKIMIA AIR

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan kimia airtanah dipengaruhi oleh faktor geologi dan faktor antropogen.

BAB IV GEOKIMIA AIR PANAS

Week 9 AKIFER DAN BERBAGAI PARAMETER HIDROLIKNYA

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata Kunci: Desa pesisir, air bersih, kekeruhan, total dissolved solid, ph

Potensi Panas Bumi Berdasarkan Metoda Geokimia Dan Geofisika Daerah Danau Ranau, Lampung Sumatera Selatan BAB I PENDAHULUAN

BAB III METODE PENELITIAN. panasbumi di permukaan berupa mataair panas dan gas. penafsiran potensi panasbumi daerah penelitian.

Buletin Geologi Tata Lingkungan (Bulletin of Environmental Geology) Vol. 22 No. 1 April 2012 : 1-8

BAB I PENDAHULUAN. Cekungan Air Tanah Magelang Temanggung meliputi beberapa wilayah

KARAKTERISTIK KUALITAS SUMBERDAYA AIR KAWASAN PANAS BUMI STUDI KASUS DIENG DAN WINDU WAYANG

Week 4. Struktur Geologi dalam Hidrogeologi. (Geological structure in hydrogeology)

BAB 5 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOKIMIA

BAB IV GEOKIMIA AIR PANAS DI DAERAH GUNUNG KROMONG DAN SEKITARNYA, CIREBON

BAB VI INTERPRETASI DATA GEOKIMIA

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan

BAB IV KARAKTERISTIK AIR PANAS DI DAERAH TANGKUBAN PARAHU BAGIAN SELATAN, JAWA BARAT

BAB III PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA

STUDI POTENSI AIRTANAH BEBAS DI DAERAH KEBUMEN JAWA TENGAH

PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8 Academia-Industry Linkage OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

PENGUJIAN UAP/MONITORING SUMUR PANAS BUMI MATALOKO, NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2006

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Kondisi hidrogeologi daerah penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. Temanggung bagian timur. Cekungan airtanah ini berada di Kabupaten Magelang

Materi kuliah dapat didownload di

PENYELIDIKAN PENDAHULUAN GEOLOGI DAN GEOKIMIA DAERAH PANAS BUMI KABUPATEN BONE DAN KABUPATEN SOPPENG, PROVINSI SULAWESI SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. Zona Bogor (Van Bemmelen, 1949). Zona Bogor sendiri merupakan antiklinorium

BAB V KESIMPULAN. 1. Cekungan Aitanah Yogyakarta Sleman memiliki kondisi hidrogeologi seperti

GEOLOGI DAN GEOKIMIA DAERAH PANAS BUMI GERAGAI KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR PROVINSI JAMBI

BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON

BAB IV MANIFESTASI PANAS BUMI DI GUNUNG RAJABASA

BAB I PENDAHULUAN. terus berkembang bukan hanya dalam hal kuantitas, namun juga terkait kualitas

Groundwater Quality Assesment of Unconfined Aquifer System for Suitable Drinking Determination at Northern Jakarta Groundwater Basin

Pengujian Uap/Monitoring Sumur Panas Bumi MT-2, MT-3, dan MT-4 Mataloko Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur Tahun 2005

EVALUASI KUALITAS DAN KUANTITAS AIR YANG DITERIMA PELANGGAN PDAM KECAMATAN WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK

Model Hydrogeology for Conservation Zone in Jatinangor using Physical and Chemical Characteristic of Groundwater

12/3/2015 PENGOLAHAN AIR PENGOLAHAN AIR PENGOLAHAN AIR 2.1 PENDAHULUAN

BAB II TEORI DASAR 2.1. Metode Geologi

ABSTRAK. : Panas bumi, Geokimia, Reservoar panas bumi, Geoindikator Cl-HCO3-SO4, Geotermometer Silika, Binary Cycle

PRISMA FISIKA, Vol. V, No. 1 (2017), Hal ISSN:

No. BAK/TBB/SBG201 Revisi : 00 Tgl. 01 Mei 2008 Hal 1 dari 8 Semester I BAB I Prodi PT Boga BAB I MATERI

V.2.4. Kesetimbangan Ion BAB VI. PEMBAHASAN VI.1. Jenis Fluida dan Posisi Manifestasi pada Sistem Panas Bumi VI.2.

PRISMA FISIKA, Vol. IV, No. 01 (2016), Hal ISSN :

Analisis Geokimia Fluida Manifestasi Panas Bumi Daerah Maribaya

: Komposisi impurities air permukaan cenderung tidak konstan

BAB VI DISKUSI. Dewi Prihatini ( ) 46

SEMINAR NASIONAL ke-8 Tahun 2013 : Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi

Peraturan Pemerintah RI No. 20 tahun 1990, tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air

BAB I PENDAHULUAN. Pulau Jawa (Busur Sunda) merupakan daerah dengan s umber daya panas

BAB V PEMBAHASAN. mana tinggi rendahnya konsentrasi TDS dalam air akan mempengaruhi besar

BAB III ALTERASI HIDROTERMAL BAWAH PERMUKAAN

DETEKSI KERENTANAN AIRTANAH PADA PERTAMBANGAN NIKEL KABUPATEN MOROWALI

SURVEI PENDAHULUAN DAERAH PANAS BUMI KABUPATEN MAHAKAM HULU DAN KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH LIMBAH CAIR INDUSTRI PELAPISAN LOGAM TERHADAP KAN- DUNGAN CU. ZN, CN, NI, AG DAN SO4 DALAM AIR TANAH BEBAS DI DESA BANGUNTAPAN, BANTUL

KERANGKA ACUAN KERJA ( TERM OF REFERENCE TOR )

POTENSI AIR TANAH DANGKAL DAERAH KECAMATAN NGEMPLAK DAN SEKITARNYA, KABUPATEN SLEMAN, D.I. YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan unsur yang penting di dalam kehidupan.tidak ada satu pun makhluk

STUDI KARAKTERISTIK KIMIA AIRTANAH DAN STATUS MUTU AIR DI KAWASAN CANDI SONGGORITI KELURAHAN SONGGOKERTO KECAMATAN BATU KOTA BATU

Penyelidikan Pendahuluan Panas Bumi Kabupaten Nunukan, Kabupaten Bulungan, dan Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Timur

MONITORING SUMUR-SUMUR EKSPLORASI LAPANGAN PANAS BUMI MATALOKO, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. Dahlan, Eddy M., Anna Y.

BAB IV TINJAUAN SUMBER AIR BAKU AIR MINUM

BAB IV TINJAUAN AIR BAKU

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

KAJIAN KUALITAS AIRTANAH BERDASARKAN BENTUKLAHAN DI KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH. Dwi Nila Wahyuningsih

BAB 6 PEMBAHASAN POTENSI PANAS BUMI DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berputar, sehingga merupakan suatu siklus (daur ulang) yang lebih dikenal

KIMIA AIR TANAH DI CEKUNGAN AIR TANAH MAGELANG-TEMANGGUNG BAGIAN BARAT, KABUPATEN TEMANGGUNG DAN MAGELANG, PROVINSI JAWA TENGAH

Pemetaan Airtanah Dangkal Dan Analisis Intrusi Air Laut

), bikarbonat (HCO 3- ), dan boron (B). Hal ini dapat mempengaruhi penurunan pertumbuhan dan perkembangan pada sektor pertanian.

1. KOMPONEN AIR LAUT

BAB I PENDAHULUAN. Air adalah sebutan untuk senyawa yang memiliki rumus kimia H 2 O. Air. Conference on Water and the Environment)

ANALISIS KEBERADAAN DAN KETERSEDIAAN AIR TANAH BERDASARKAN PETA HIDROGEOLOGI DAN CEKUNGAN AIR TANAH DI KOTA MAGELANG

ANALISIS KUALITAS AIR MINUM SAPI PERAH RAKYAT DI KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH

BAB III TABEL PERIODIK

BAB 4 Analisa dan Bahasan

SURVEI PENDAHULUAN GEOLOGI DAN GEOKIMIA PANAS BUMI KABUPATEN BANGGAI DAN KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN PROVINSI SULAWESI TENGAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam kegiatan seperti mandi, mencuci, dan minum. Tingkat. dimana saja karena bersih, praktis, dan aman.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian

Penentuan status mutu air dengan sistem STORET di Kecamatan Bantar Gebang

ANALISISN AIR METODE TITRIMETRI TENTANG KESADAHAN AIR. Oleh : MARTINA : AK

Kajian kondisi air tanah di Kecamatan Porong dan Tanggulangin tahun

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL...i. HALAMAN PENGESAHAN...ii. HALAMAN PERSEMBAHAN...iii. UCAPAN TERIMAKASIH...iv. KATA PENGANTAR...vi. SARI...

LAMPIRAN 1 DAFTAR PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM. - Mg/l Skala NTU - - Skala TCU

GEJALA INTRUSI AIR LAUT DI DAERAH PESISIR PADELEGAN, PADEMAWU DAN SEKITARNYA

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya airtanah terbentuk akibat adanya proses siklus hidrologi

Tanggapan Laporan Masyarakat Kepulan Asap dari dalam Tanah di Gedangsari GunungKidul

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan

EVALUASI KUALITAS AIR MINUM PADA HIPPAM DAN PDAM DI KOTA BATU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

GAMBARAN KONDISI FISIK SUMUR GALI DAN KUALITAS BAKTERIOLOGIS AIR SUMUR GALI

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA

Edisi Juni 2011 Volume V No. 1-2 ISSN TINGKAT KOROSIFITAS AIR DI PERAIRAN PEMBANGKIT LISTRIK AIR WADUK CIRATA

TARIF LAYANAN JASA TEKNIS BADAN PENGKAJIAN KEBIJAKAN, IKLIM DAN MUTU INDUSTRI BALAI RISET DAN STANDARDISASI INDUSTRI SAMARINDA

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

SURVEI PENDAHULUAN PANAS BUMI GEOLOGI DAN GEOKIMIA

Transkripsi:

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN: 2460-6499 Studi Hidrokimia Airtanah Desa Cikasungka dan Sekitarnya, Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung - Provinsi Jawa Barat (Studi Kasus Sumur Produksi PT Charoen Pokphand Indonesia) Hydrochemical Groundwater Research Cikasungka Villages And Surrounding, Subdistrict Cikancung Bandung Regency - West Java Province (Case Studies Water Well Production of PT Charoen Pokphand Indonesia) 1 Heri Akhmad Syaukani, 2 Yunus Ashari. 1,2 Prodi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.1Bandung 40116 Email: 1 heriakhmadsyaukani@gmail.com, 2 yunus.ashari@yahoo.com, Abstact. This research is located in the village and surrounding Cikasungka, Cikancung subdistrict, Bandung regency, West Java province which is focused on the production wellbore in PT Charoen Pokphand Indonesia. This area belongs to the eastern part of Bandung Groundwater Basin. PT Charoen Pokphand is a company engaged in the food processing industry that requires a source of water for the production process. The company's location is not covered by the water distribution service Regional Water Company (PDAM), so it must make use of water resources through the drilling of groundwater. To support the production process, physical-chemical aspects of groundwater becomes important because it must meet the requirements of Minister Regulation Number 492 of 2010 on Drinking Water Quality Requirements. Physical-chemical data of groundwater can also be used to explain the genesis or origin of the water. The research activities carried out by observing outcrop around the site, the measurement of the physical properties of water insitu and sampling. Groundwater samples tested in the laboratory to obtain the required chemical parameters, so that differences in chemical composition that includes major element, secondary and minor element element can be known. To know the origin of groundwater, analysis through diagrams piper and diagrams HCO3-Cl-SO4, and the identification of sources of heat using a diagram of Li-Cl-B and K-Na-Mg, further groundwater grouped by chemical elements dominant and quality by the standards of water drink. The results of field measurement known their chemical differences-physical at 5 wells drilled groundwater such as electrical conductivity (EC), total dissolved solids (TDS), a potential reduction (EH), temperature, and ph that occur in a relatively short distance, ie 70-280 meters and the area is relatively small at 3.8 ± Ha. Based on the physical-chemical properties of groundwater can be divided into two groups, with code wells DW01, DW02 and DW05 and DW03 wells group with code, DW04, and SB_DW01. Groundwater hydrochemical facies indicate the type of groundwater Na + HCO 3 due to the influence of meteoric water, their interaction with the side of the rock in the form of the washing process with igneous rocks, low water equilibrium value (young water). Geological conditions and geological structures below the surface is the cause of differences in physical-chemical properties of the groundwater at the sites. The quality of groundwater in the study site is considered inappropriate for the activities of the company (except the sample DW03) because some of the parameters that exceed the standard. Keywords: Chemical-Physical, Bandung Basin Groundwater and Groundwater facies Abstrak. Penelitian ini berlokasi di Desa Cikasungka dan sekitarnya, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat yang difokuskan pada sumur bor produksi di PT Charoen Pokphand Indonesia. Daerah ini termasuk ke dalam Cekungan Airtanah Bandung bagian timur. PT Charoen Pokphand merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri pengolahan pangan yang membutuhkan sumber air untuk proses produksi. Lokasi perusahaan tidak tercakup layanan distribusi air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), sehingga harus memanfaatkan sumberdaya air melalui pengeboran airtanah. Untuk menunjang proses produksi, aspek kimia-fisik airtanah menjadi penting karena harus memenuhi persyaratan Permenkes No 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Data kimia-fisik airtanah juga dapat digunakan untuk menjelaskan genesa atau asal-usul air tersebut. Kegiatan penelitian dilakukan dengan mengamati singkapan batuan di sekitar lokasi, pengukuran sifat fisik air secara insitu dan pengambilan sampel. Sampel air tanah diuji di laboratorium untuk mendapatkan parameter kimia yang dibutuhkan, sehingga perbedaan komposisi kimia yang mencakup major element, secondary element dan minor element dapat diketahui. Untuk mengetahui asal-usul airtanah, dilakukan analisis melalui diagram piper serta diagram HCO 3 -Cl-SO 4, dan identifikasi sumber panas menggunakan diagram Li-Cl-B dan K-Na-Mg, selanjutnya airtanah dikelompokkan berdasarkan unsur kimia dominan dan kualitasnya menurut standar air minum. Hasil pengukuran lapangan diketahui adanya perbedaan sifat kimia-fisik pada 5 sumur bor airtanah seperti daya hantar listrik (EC), total zat padat terlarut (TDS), potensial reduksi (EH), suhu, dan ph yang terjadi pada jarak yang relatif dekat, yaitu 70-280 meter dan luasan yang relatif kecil yaitu ±3,8 Ha. Berdasarkan sifat kimia-fisik airtanah dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok dengan kode sumur DW01, DW02, dan DW05 dan kelompok dengan kode sumur DW03, DW04, dan SB_DW01. Fasies hidrokimia airtanah menunjukkan tipe airtanah Na + HCO 3 akibat adanya pengaruh air meteorik, adanya interaksi dengan batuan samping berupa proses pencucian dengan batuan beku, nilai kesetimbangan air rendah (air muda). Kondisi geologi dan struktur geologi bawah permukaan merupakan penyebab adanya perbedaan sifat kimia-fisik airtanah di lokasi penelitian. Kualitas airtanah di lokasi penelitian dianggap tidak layak untuk kegiatan perusahaan (kecuali sampel DW03) karena beberapa parameter yang melebihi standar. Kata kunci : Kimia-Fisik, Cekungan Airtanah Bandung, dan Fasies Airtanah 603

604 Heri Akhmad Syaukani, dkk. A. Pendahuluan PT Charoen Pokphand Indonesia yang terletak di Desa Cikasungka dan sekitarnya, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat (Gambar 1) adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pengolahan pangan. Untuk proses produksinya, perusahaan ini membutuhkan sumber air yang cukup secara kuantitas dan layak secara kualitas. Karena wilayah ini belum terjangkau layanan PDAM, maka perusahaan memanfaatkan airtanah melalui sumur bor sebagai air baku produksi. Untuk mengetahui kelayakan dan lebih dalam lagi genesa airtanahnya, perlu diteliti melalui analisis baik aspek fisik maupun kimianya. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengetahui faktor apa saja yang menjadi pembeda sifat fisik dan kimia airtanah pada kelima sumur bor; 2. Mengetahui penyebab adanya perbedaan sifat fisik dan sifat kimia airtanah; 3. Menentukan asal-usul airtanah dengan mengetahui fasies kimia airtanah; 4. Menentukan kelayakan kualitas airtanah dari beberapa parameter tertentu sesuai dengan kebutuhan PT Charoen Pokphand Indonesia berdasarkan Permenkes No 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. B. Tinjauan Pustaka Gambar 1. Peta Lokasi dan Geologi Regional Daerah Penelitian Airtanah adalah air yang melekat pada butir-butir tanah, air yang terletak di antara butir-butir tanah, dan air yang tergenang di atas lapisan tanah yang terdiri dari batu, tanah lempung yang amat halus atau padat yang sukar ditembus air (Daryanto, 2004). Karakteristik kimia airtanah dapat dikelompokkan berdasarkan komposisi zat terlarut (Hadipurwo, 2006) yaitu: 1. Major element, (1,0-1000 mg/l): natrium, kalsium, magnesium, bikarbonat, sulfat, klorida; 2. Secondary element, (0,01-10 mg/l): besi, strontium, kalium, florida, boron; Volume 2, No.2, Tahun 2016

Studi Hidrokimia Airtanah Desa Cikasungka 605 3. Minor element, (0,0001-0,1 mg/l): antimon, aluminium, arsen, barium, brom, kadmium, krom, kobalt, tembaga, germanium, jodium, timbal, litium, mangan, molibdenum, nikel, fosfat, rubidium, selenium, titanium, uranium, vanadium, sen; 4. Trace element, (<0,001 mg/l): berilium, bismut, cerium, cesium, galium, emas, indium, lanthanum, niobium, platina, radium, ruthenium, scandium, perak, thalium, tharium, timah, tungsten, yttrium, zirkon. Temperatur airtanah mempengaruhi kandungan unsur kimianya dan dipengaruhi proses proses fisika yang terjadi. Klasifikasi fluida air panas, menurut Ellis dan Mahon, (1977), memiliki ciri berikut : 1. Klorida, cirinya: konsentrasi klorida besar dari reservoir yang dalam serta pada zona yang permeabel, adanya sodium dan potasium (dalam rasio 10:1) sebagai kation utama dengan konsentrasi silika, boron, sulfat dan bikarbonat bervariasi, adanya gas hidrogen sulfida, dan ph 5-9; 2. Sulfat, cirinya: sering dijumpai pada air yang keruh atau berlumpur, dengan ph ± 2,8; 3. Bikarbonat, cirinya: kaya fluida CO 2, merupakan non vulkanogenik dengan ph mendekati netral, kandungan sulfat dan klorida seimbang; 4. Campuran Klorida dan Sulfat, cirinya: terbentuk melalui proses pencampuran air klorida dengan sulfat pada kedalaman tertentu, kondensasi gas vulkanik menjadi air meteorik, kondensasi uap magmatik atau fluida yang mengalir mengandung klorida; 5. Dilute Klorit-Bikarbonat, cirinya: terbentuk akibat dilusi dari florida klorida oleh airtanah atau air bikarbonat yang mengikuti aliran, konsentrasi bikarbonat dalam jumlah tertentu, dan ph 6 8. C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pengambilan sampel airtanah dilakukan pada 6 sumur yang terdiri atas 5 sumur di area perusahaan (DW01, DW02, DW03, DW04, dan DW05) dan 1 sumur di luar area (SB_DW01). Sumur SB_DW01 berfungsi sebagai data pembanding. Pengukuran Sifat Fisik dan Analisis Laboratorium Kimia Airtanah Pengukuran aspek fisik airtanah yang dilakukan meliputi electrical conductivity (EC), total dissolved solid (TDS), suhu udara dan air, reduction potensial (Eh), dan ph air (Tabel 1). Sampel dianalisis di laboratorium kimia air untuk mengetahui kandungan unsur kimianya. Analisis kimia meliputi beberapa unsur yang kemudian dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu unsur major (major element) meliputi Kalsium (Ca 2+ ) Magnesium (Mg 2+ ), Natrium (Na + ), Klorida (Cl - ), Bikarbonat (HCO 3 - ), dan Sulfat (SO 4 2- ). Unsur sekunder (secondary element) meliputi Kalium (K + ), Boron (B + ), Fluor (F - ), dan Stronsium (Sr 2+ ). Sedangkan unsur minor (minor element) meliputi Arsenik (As + ), Litium (Li + ), dan Amonium (NH 4 + ) (Tabel 2). Tabel 1. Data Hasil Pengukuran Insitu Sifat Fisik Airtanah EC TDS Suhu EH Kode Sumur (µs/cm) (ppm) ( 0 C) (mv) ph Udara Air DW01 1073 810 26,5 29,8 16,2 6,84 DW02 1106 1090 29,4 30,5 31 6,85 DW03 312 358 28,7 27,2 89,2 6,7 DW04 128 242 33,9 34,2 54,3 7,81 DW05 859 845 33,4 26,1 36,9 6,75 SB_DW01 69 248 29,1 29,3 39,6 7,83 Teknik Pertambangan, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016

606 Heri Akhmad Syaukani, dkk. Tabel 2. Data Hasil Uji Laboratorium Kimia Airtanah Ca 2+ Mg 2+ Na + Cl - HCO 3 - Geologi dan Struktur Geologi Lokasi Penelitian Parameter Analisis (mg/l) No Kode Sumur Unsur Mayor Unsur Sekunder Unsur Minor SO 4 2- K + B + F - Sr 2+ As + Li + NH 4 + 1 DW01 82,100 34,530 255,500 185,660 765,900 30,300 0,550 0,477 0,132 2,110 0,013 0,040 0,400 2 DW02 90,820 73,970 339,100 303,270 1.024,350 50,000 0,220 0,624 0,236 2,420 0,008 0,500 0,500 3 DW03 31,940 17,270 111,690 71,590 339,870 12,100 1,530 <0,003 0,178 1,010 0,002 1,500 1,500 4 DW04 27,980 19,010 65,840 48,770 284,040 21,100 0,060 0,043 0,416 0,880 0,030 0,000 0,000 5 DW05 69,430 58,920 238,180 226,560 722,350 53,500 0,130 0,406 0,251 0,940 0,051 0,200 1,200 6 SB_DW01 28,250 23,600 54,940 39,330 254,670 15,200 11,620 - - - - 0,020 0,000 Lokasi penelitian termasuk ke dalam Formasi Endapan Danau (Ql) dengan struktur geologi yang terbentuk adalah sesar mendatar dan sesar normal (Gambar 1). Karakteristik geologi endapan vulkanik yang selalu berubah dalam jangka waktu yang cukup dekat dan struktur geologinya yang kompleks akan berpengaruh terhadap kondisi kimia-fisik airtanah. Cekungan Bandung bagian timur diketahui dilalui oleh beberapa sesar (Ashari, 2015). Dasar analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi sesar terhadap kondisi airtanah dalam penelitian ini adalah melalui analisis sifat fisik dan kimia airtanah, serta kondisi hidrogeologi bawah permukaan. 1. Kondisi Hidrogeologi Bawah Permukaan Litologi bor daerah penelitian berdasarkan deskripsi cutting hasil pengeboran adalah lempung, lempung pasiran, pasir, dan batuan beku andesitis di bagian bawahnya. Akuifer airtanah berupa lapisan pasir umumnya berada pada kedalaman 48-90 meter (akuifer 1), 85-120 meter (akuifer 2 pada DW01 dan DW02), dan 107-155 meter (akuifer 3 pada DW02, DW03 dan DW05) dari muka tanah setempat. Akuifer di lokasi ini merupakan jenis akuifer tertekan. Ciri sesar tidak didapatkan dari deskripsi ini. Korelasi dengan peta geologi dilakukan karena kenampakan sesar di permukaan tidak ditemukan. 2. Sifat Fisik Airtanah Kondisi sifat fisik airtanah terutama suhu, daya hantar listrik (EC), dan jumlah zat terlarut (TDS) pada masing-masing sumur bor berbeda (Tabel 1). Beberapa sumur tidak dapat diukur suhunya karena sudah di konstruksi dan tidak tersedia pompa. Berdasarkan informasi yang diperoleh pada saat pumping test pada sumur DW01, DW02 dan DW05 kondisi suhu airtanah diatas normal (panas), dimana suhu DW02>DW01>DW05. Hanya DW04 yang terpasang pompa, suhu airtanahnya dapat diukur secara langsung (34,2 o C), sedangkan sumur DW03 suhu airtanahnya ±26 o C, termasuk bertemperatur normal. 3. Kimia Airtanah Salah satu metode untuk mengetahui tingkat kedewasaan air dan dapat menggambarkan evolusi aliran yang telah dilalui pada sistem hidrologi adalah dengan melakukan analisis ion utama (McBride, 2011). Yang dimaksud ion utama adalah anion (HCO 3 Cl - SO 4 ) dan kation (K Na Ca). Ion-ion tersebut umumnya ditemukan dalam air dengan konsentrasi yang >1 mg/l (Hem, 1992). Nilai kuantitatif unsur dalam airtanah ditentukan dengan menghitung nilai rasio mili-ekivalen (ratio meq), persen meq dan nilai kesetimbangan ion-nya. Melalui analisis ini, asal-usul airtanah diinterpretasikan berdasarkan unsur penyusun terlarut dalam air dengan menggunakan diagram Piper dan diagram HCO 3 Cl - SO 4. Identifikasi sumber panas dalam air dibuktikan dengan analisis reaksi air dengan batuan samping dengan menggunakan diagram Cl Li B, analisis kesetimbangan air dan batuan samping dengan menggunakan diagram K Na Mg. Perbedaan karakteristik airtanah diketahui dengan melakukan analisis perbedaan sifat dari masing-masing kelompok berdasarkan unsur kimia dominan. Kualitas dan kelayakan air untuk dikonsumsi ditentukan menurut standar air minum. Volume 2, No.2, Tahun 2016

Studi Hidrokimia Airtanah Desa Cikasungka 607 Parameter Fisik dan Kimia Airtanah Salah satu cara untuk mengetahui karakteristik kimia airtanah dapat digunakan grafik Schoeller (Truesdell, 1991). Grafik ini dapat memberikan informasi adanya perbedaan kandungan fisik maupun kimia airtanah berdasarkan nilai dan konsentrasi dari unsur yang terkandung di dalamnya. Gambar 2. Grafik Schoeller Parameter Fisik Airtanah Gambar 3. Grafik Schoeller Unsur Kimia Utama Airtanah Gambar 4. Grafik Schoeller Unsur Kimia Sekunder dan Minor Airtanah Untuk menganalisis sifat airtanah, digunakan analisis pengelompokan unsur kimia untuk mengetahui perbedaan karakteristik airtanah dan penyebab terjadinya perbedaan tersebut. Pengelompokan dilakukan terhadap 3 unsur yang dianggap memiliki nilai kuantitatif yang dominan, meliputi : 1. Klorida [Cl - ] vs Bikarbonat [HCO 3 - ] Plot Cl-HCO3 memberikan gambaran adanya 2 kelompok airtanah, yakni kelompok 1 DW01, DW02 dan DW05 dan kelompok 2 yeng terdiri atas DW03, DW04 dan SB-DW01 (Gambar 5).. Kelompok 1 ditandai dengan konsentrasi bikarbonat dan klorida yang tinggi dibanding kelompok 2. Berdasarkan temperatur airnya, maka kelompok 1 termasuk jenis air hipertermal dan kelompok 2 adalah air mesotermal. Hal ini dikarenakan karakter airtanah meteorik yang dominan bikarbonat identik dengan karakter air mesotermal (dingin). Berdasarkan peta geologi, lokasi ini dilalui sesar Cicalengka (Marjiono dkk., 2008). Pengaruh sesar diduga berperan di dalam pengayaan anion pada airtanah kelompok 1 tersebut. Teknik Pertambangan, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016

608 Heri Akhmad Syaukani, dkk. Gambar 5. Grafik Analisis Ion Korida vs Bikarbonat 2. Klorida [Cl - ] vs Natrium [Na + ] Pada grafik Cl vs Na diketahui bahwa kelompok airtanah 1 memiliki konsentrasi Na yang lebih besar daripada kelompok 2 (Gambar 6). Hal ini konsisten dengan informasi yang didapat sebelumnya, bahwa pengayaan anion Cl dan HCO 3 diikuti dengan pengayaan kation Na. Perbedaan konsentrasi natrium pada kedua kelompok airtanah mengindikasikan adanya interaksi air dalam suhu yang berbeda, karena sifat natrium mudah larut dalam suhu yang tinggi. Secara geologi, natrium umumnya dikandung oleh material semen pada batuan sedimen (pasir dan lempung) atau mineral pembawa natrium seperti albit (NaAlSi 3 O 8 ). Gambar 6. Grafik Analisis Ion Korida vs Natrium 3. Klorida [Cl - ] dengan Sulfat [SO 4 2- ] Tingginya konsentrasi sulfat pada kelompok airtanah 1 (Gambar 7), diduga akibat pengaruh batuan volkanik dan/atau aktivitas volkanik di sekitar lokasi penelitian. Kemungkinan lain adalah adanya pengaruh sesar yang melalui daerah tersebut, yang memungkinkan airtanah berinteraksi dengan airtanah dari kedalaman melalui zona patahan. Gambar 7. Grafik Analisis Ion Korida vs Sulfat Volume 2, No.2, Tahun 2016

Studi Hidrokimia Airtanah Desa Cikasungka 609 Fasies Kimia Airtanah Fasies kimia airtanah di lokasi penelitian adalah jenis NaHCO 3, merupakan airtanah yang diperkaya melalui pertukaran ion dan komposisinya dipengaruhi oleh air permukaan atau air meteorik (Gambar 8 dan 9). Gambar 8. Diagram Piper Gambar 9. Diagram HCO 3 Cl - SO 4 Reaksi air dengan batuan samping dapat diketahui karena adanya konsentrasi klorida yang dominan serta rendahnya konsentrasi boron (Gambar 10). Hal ini mengindikasikan adanya kemungkinan air dipengaruhi aktivitas vulkanik dan pengaruh pencucian dengan batuan beku pada sampel airtanah kelompok 1 dan pengaruh batuan yang kaya akan zat organik pada sampel airtanah kelompok 2. Secara umum seluruh airtanah termasuk kedalam kelompok air muda (Gambar 11), sehingga dapat dipastikan dekat dengan sumber recharge air meteoriknya. Gambar 10. Diagram Li Cl B Penilaian Kualitas Airtanah Gambar 11. Diagram K Na Mg Selain parameter fisik dan parameter kimia yang dianalisis baik anion dan kation utamanya, parameter kimia lain yang dianalisis adalah konsentrasi B+, As+, dan F-. Berdasarkan penilaian kualitas, hanya 2 sampel yang dapat dinyatakan layak, yaitu sampel DW03 dan SB_DW01. Sampel DW01 dinyatakan tidak layak karena TDS dan [As+] yang melebihi standar, sampel DW02 dinyatakan tidak layak karena TDS, [Cl-] dan [B+] melebihi standar, sampel DW04 dinyatakan tidak layak karena [As+] melebihi standar, sedangkan sampel DW05 dinyatakan tidak layak karena TDS dan [As+] melebihi standar. Teknik Pertambangan, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016

610 Heri Akhmad Syaukani, dkk. D. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data, perhitungan, dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Karakteristik airtanah di lokasi penelitian berbeda, baik fisik maupun kimianya. Perbedaan aspek fisik meliputi nilai EC, nilai TDS dan nilai suhu air. Perbedaan konsentrasi kimia terlihat pada unsur utama (mayor element) yang meliputi Ca 2+ Mg 2+, Na +, Cl -, HCO 3 -, dan SO 4 2-. Sedangkan unsur kimia sekunder dan minor airtanah meliputi K +, B +, F -, dan Sr 2+, dan As +, Li +, dan NH 4 + ; 2. Kondisi hidrogeologi dan struktur geologi bawah permukaan merupakan penyebab terjadinya perbedaan sifat fisik dan kimia airtanah di lokasi penelitian. Perbedaan sifat fisik airtanah dan pengelompokan unsur kimia dominan dalam airtanah mengindikasikan adanya pengaruh aktivitas volkanik dan kemungkinan adanya pengaruh sesar khususnya pada sumur DW01, DW02, dan DW05; 3. Airtanah di lokasi penelitian termasuk ke dalam klasifikasi airtanah Na-HCO 3. Bikarbonat yang merupakan spesies airtanah yang dipengaruhi zona aerasi, sedangkan pengayaan konsentrasi Na diduga akibat pertukaran ion atau adanya reaksi dengan batuan samping berupa pencucian dengan batuan beku; 4. Berdasarkan kualitasnya, airtanah di lokasi penelitian tidak layak untuk air baku industri pengolahan makanan karena beberapa parameter melebihi standar baku mutu air, kecuali sampel DW03 yang semua parameternya memenuhi standar. Daftar Pustaka Anonim., 2010, Permenkes No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Ashari, Yunus., 2015, Kontrol Sesar terhadap Sistem Akuifer dan Sistem Aliran Airtanah, dan Akibat Keberadaannya terhadap Hidrokimia Cekungan Airtanah Bandung Bagian Timur, Universitas Padjadjaran, Bandung. Daryanto., 2004, Masalah Pencemaran, Bandung : Tarsito. Ellis, A. J., dan Mahon, W. A. J., 1977. Chemistry and Geothermal Systems. Academic Press, New York. Hadipurwo., 2006, Konservasi sebagai Upaya Penyelamatan Airtanah di Indonesia, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Panas Bumi dan Pengelolaan Air Tanah, Direktorat Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, Bandung. Hem, J. D., 1992, Study and Interpretation of the Chemical Caracteristics of Natural Water, US Geologcal Survey Water-Supply, Third edition, Paper 2254. Marjiono, Sohaemi, A., dan Kamawan., 2008, Identifikasi Sesar Aktif Daerah Cekungan Bandung dengan Data Citra Landsat dan Kegempaan, Jurnal Sumberdaya Geologi, Vol XVIII No. 2 April 2008. McBride, C. G., 2011, "Using groundwater age and hydrochemistry to understand sources and dynamics of nutrient contamination through the catchment into Lake Rotorua, New Zealand. Truesdell, A., 1991, Applications of Geochemistry in Geothermal Reservoir Development, UNITAR/UNDP publications, Rome. Volume 2, No.2, Tahun 2016