BAB II LANDASAN TEORITIS

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA. cerita matematika adalah soal-soal matematika yang menggunakan bahasa verbal

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR. A. Kajian Pustaka

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL

BAB II KAJIAN PUSTAKA. belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menggapai hasil

II. TINJAUAN PUSTAKA. melalui generalisasi dan berfikir abstrak. Konsep merupakan prinsip dasar

Nama Guru : Hari/tanggal : Kelas : Waktu : A. Tindak Mengajar B. Tindak Belajar C. Penarikan Makna

SISTEM PERSAMAAN LINEAR, KUADRAT DAN PERTIDAKSAMAAN SATU VARIABEL

IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA DAN FAKTOR- FAKTOR PENYEBAB PADA MATERI PERMUTASI DAN KOMBINASI DI SMA NEGERI 1 MANYAR

BAB I PENDAHULUAN. Matematika sebagai salah satu ilmu dasar yang diberikan sejak pendidikan

BAB II KAJIAN TEORITIK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PERSAMAAN & SISTEM PERSAMAAN LINEAR

BAB II LANDASAN TEORI. lain, berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut

1. Pendahuluan Siswa sangat lemah dalam geometri, khususnya dalam pemahaman ruang dan bentuk (Untung, 2008). Lemahnya pemahaman siswa tentang konsep

BAB I PENDAHULUAN. matematika di sekolah memiliki tujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai

BAB II KAJIAN TEORI. A. Masalah Matematika. Masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan tujuan yang

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL

BAB II KAJIAN PUSTAKA. yang dinyatakan dalam kalimat-kalimat bentuk cerita yang perlu. rangkaian kalimat sederhana dan bermakna.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. untuk mengembangkan cara berfikir. Sehingga matematika sangat diperlukan baik

Mata Pelajaran MATEMATIKA Kelas X

ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA BERDASARKAN LANGKAH-LANGKAH POLYA PADA MATERI ARITMATIKA SOSIAL SISWA KELAS VII SMP N 1 BRINGIN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA. Sesuai dengan pertanyaan peneliti diatas, maka data yang dianalisis dalam

I. PENDAHULUAN. Fisika merupakan ilmu fundamental yang menjadi dasar perkembangan ilmu

BAB II ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA DALAM MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL

STRATEGI PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP KRISTEN 2 SALATIGA DITINJAU DARI LANGKAH POLYA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. yaitu bahwa obyek matematika tidaklah konkrit tetapi abstrak. 1 Mengenai obyek

Pemahaman Siswa terhadap Konsep Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS KESALAHAN MENGERJAKAN SOAL SISI TEGAK LIMAS SEGIEMPAT SISWA KELAS IX MTs NU SALAM TAHUN PELAJARAN 2013/2014

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bertanah air. Maju mundurnya suatu

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah : SMP dan MTs Mata Pelajaran : Matematika Kelas : VIII (Delapan) Semester : 1 (Satu)

BAB V PEMBAHASAN. Analisis Berpikir Visual Siswa Laki-laki Dalam

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN TEORI. Menurut arti leksikal Hasil adalah sesuatu yang diadakan. 10 Sedangkan belajar

BAB I PENDAHULUAN. dan prinsip-prinsip yang saling berkaitan satu sama lain. Guru tidak hanya

Satya Mardi Ayuningrum 1, Rubono Setiawan 2. Pendidikan Matematika, Universitas Sebelas Maret Surakarta

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 6 (2010)

JURNAL VANELLA EKAPUTRI TUIYO NIM

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI. dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan:

STRATEGI PEMECAHAN MASALAH DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PADA MATERI SPLDV SISWA KELAS VIII DI SMP KRISTEN 2 SALATIGA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PEMECAHAN MASALAH PADA SOAL CERITA UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR

SILABUS (HASIL REVISI)

BAB I PENDAHULUAN. merupakan ilmu dasar yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Sering

BAB I PENDAHULUAN. (Syarifudin, 2007: 21). Dalam arti luas, pendidikan berlangsung bagi siapapun,

Disusun untuk memenuhi syarat mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi S1 Pendidikan Matematika. Oleh YULIANA ISMAWATI JURNAL

BAB II LANDASAN TEORI. Koneksi berasal dari kata dalam bahasa inggris Connection, yang

4. Menentukan Himpunan Penyelesaian untuk Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

SILABUS PEMBELAJARAN

PERSAMAAN & PERTIDAKSAMAAN

Persamaan dan Pertidaksamaan Linear

BAB II KAJIAN TEORITIK. 1. Pengertian Kemampuan Pemahaman Konsep. konsep. Menurut Sudjiono (2013) pemahaman atau comprehension dapat

DESKRIPSI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL

KTSP Perangkat Pembelajaran SMP/MTs, KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) Mapel Matematika kls VII s/d IX. 1-2

BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN. 1. Jenis Kesalahan Siswa Dalam Mengerjakan Soal Cerita Pokok Bahasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dasar matematika yang telah diterima siswa. konsep dengan soal untuk aspek penilaian yang lain. Indikator-indikator

PETA KONSEP : PENGUNGKAP PENGUASAAN KONSEP

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PROSES SCAFFOLDING BERDASARKAN DIAGNOSIS KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH PERTIDAKSAMAAN KUADRAT DENGAN MENGGUNAKAN MAPPING MATHEMATICS

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembelajaran matematika siswa mempelajari konsep-konsep yang

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IX- 3 SMP NEGERI I SECANGGANG DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

DESKRIPSI KESALAHAN SISWA DALAM MENERJEMAHKAN SOAL CERITA KEDALAM MODEL MATEMATIKA DAN PENYELESAIANNYA PADA POKOK BAHASAN SPLDV

LAMPIRAN A INSTRUMEN POSTTEST

1 King s Learning. Nama Siswa. Kelas KOMPETENSI DASAR: x = 4. Untuk x = 4 disubstitusikan ke persamaan (1) 4 y = 2 y = 4 2. y = 2

KEMAMPUAN PENALARAN ANALOGI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

BAB II KAJIAN TEORI. A. Analisia Kesalahan. 1. Konsep

A. Persamaan Linier Dua

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dan kreativitasnya melalui kegiatan belajar. Oleh

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN TUGAS PETA KONSEP PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA SMP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA. A. Deskripsi Buku Ajar Matematika SMA/MA Kelas X yang digunakan di

Meilantifa, Strategi Kognitif Pada Pembelajaran Persamaan Linier Satu. Strategi Konflik Kognitif Pada Pembelajaran Persamaan Linier Satu Variabel

PENERAPAN MODEL ADVANCE ORGANIZER UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN DAN ANALOGI MATEMATIS SISWA SMP

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

ABSTRAK PENDAHULUAN. Kata Kunci : analisis, kesalahan, newman, soal cerita, bilangan bulat.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PROFIL PEMECAHAN MASALAH SPLDV DENGAN LANGKAH POLYA DITINJAU DARI KECERDASAN LOGIS MATEMATIS SISWA

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA. Ardiyanti 1), Haninda Bharata 2), Tina Yunarti 2)

Disusun oleh Sutriana Epriyanti ( )

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus, masingmasing

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORITIS A. Konsep Kemampuan matematika siswa dapat dilihat dari kemampuannya dalam menyelesaikan soal matematika baik yang berbentuk cerita maupun bukan. Soal cerita matematika adalah soal-soal matematika yang menggunakan bahasa verbal dan umumnya berhubungan dengan kegiatan sehari-hari. Jadi soal cerita merupakan soal yang disajikan dalam bentuk cerita yang berkaitan dengan kenyataan yang ada di lingkungan siswa 8. Dalam penelitian ini hampir semua soal yang peneliti gunakan adalah soal cerita yang berbentuk pilihan ganda. Dalam memahami soal cerita tersebut diperlukan konsep dasar matematika yang kuat. Menurut Slavin 9 konsep adalah suatu abstrak yang digeneralisasikan dari contoh-contoh spesifik. Menurut Berg 10 konsepsi adalah tafsiran perorangan dari suatu konsep ilmu.menurut Soejadi 11 konsep adalah suatu ide abstrak yang digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan obyek. Konsep adalah ide yang memungkinkan kita mengklasifikasikan atau mendefinisikan sifat-sifat dai sebuah obyek.. Menurut Ausubel 12 individu memperoleh konsep melalui dua cara yaitu : (1) Formasi konsep, Merupakan proses pembentukan konsep secara induktif dan merupakan suatu bentuk belajar menemukan (discovery learning), melalui 8 Abdul Haris Rosyidi, Analisis `Kesalahan Siswa Kelas II MTs Alkhoiriyah dalam Menyelesaikan Soal Cerita yang Terkait dengan Sistem Persamaan Linear Dua Peubah Tesis Pendidikan Matematika, (Surabaya: Perpustakan Pasca Sarjana Unesa, 2011), hal. 2 9 Nurul Wafiyah,Identifikasi Miskonsepsi Siswa Dan Faktor-Faktor Penyebab Pada Mteri Permutasi Dan Kombinasi Di Sma Negeri 1 Manyar, (Surabaya : Pasca Sarjana Unesa,2011 ), hal. 11 10 Enwe V.D Berg, Miskonsepsi, Fisika dan Remediasi, (Salatiga : Universitas Kristen Satya Wacana, 1991), hal. 10 11 R. Soejadi, Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia,(Jakarta : Dikti depdiknas), hal. 14 12 Luluk Setiowati, Analisismiskonsepsi Siswa Dan Faktor-Faktor Penyebab Pada Materi Program Linear Di Sma Negeri 2 Mojokerto, (Surabaya: Pasca Sarjana Unesa, 2013), hal. 11 7

8 proses diskriminasi (membedakan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep), abstraksi (menggugurkan atau menghilangkan sifat-sifat yang tidak penting pada atribut dari suatu konsep) dan differensiasi ( menetapkan suatu aturan untuk menentukan suatu criteria dari suatu konsep), (2) Asimilasi konsep, menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran dengan struktur kognitif yang ada. Asimilasi konsep terjadi secara deduksi. Menurut Skemp 13 pembelajaran konsep matematika harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) Chapter of higher order than those which already has cannot be communicated to him by a definition, but only by arranging for him to encounter a suitable collection of examples. (2) Since in mathematics this examples are almost invariably other concept, it must first be ensured that these already formed in mind of learner Dengan demikian, dalam pengajaran konsep matematika harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) Pengajaran konsep dengan tingkatan lebih tinggi daripada yang telah dimiliki oleh siswa tidak dapat dikomunikasikan dengan menggunakan definisi,tetapi hanya dengan contohcontoh yang mengarahkan siswa kepada contoh-contoh yang bertentangan dengan kumpulan contoh tersebut, (2) Karena dalam matematika contohcontoh tersebut hampir semuanya berhubungan dengan konsep-konsep lain, maka harus dipastikan bahwa contoh-contoh tersebut telah terbentuk dalam pikiran siswa. Dari pengertian konsep yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa konsep adalah ide abstrak untuk mengklasifikasi objek-objek yang biasanya dinyatakan dalam suatu istilah kemudian dituangkan ke dalam contoh dan bukan contoh, sehingga seseorang dapat mengerti suatu konsep dengan jelas. 13 R. R Skemp. The Psychology Of Learning Mathematics,(New York :penguin books, 1971), hal. 31

9 B. Miskonsepsi Novak dan Gowin 14, menyatakan bahwa miskonsepsi merupakan suatu interpretasi konsep- konsep dalam suatu peryataan yang tidak dapat diterima. Suparno 15 memandang miskonsepsi sebagai pengertian yang tidak akurat tentang konsep pnggunaan konsep yang salah, kekacauan konsep yang berbeda-beda dan hubungan hirarkis konsep-konsep yang tidak benar. Fredette dan Clement 16 menyatakan miskonsepsi merupakan penyimpangan terhadap hal yang benar, yang sifatnya sistematis, konsisten maupun incidental pada suatu keadaan tertentu. Teori-teori tentang miskonsepsi banyak dijelaskan oleh para ahli. L.S. Cox mengemukakan miskonsepsi ditinjau dari sifatnya dikelompokkan menjadi 4 bagian yaitu: (1) miskonsepsi yang sistematis (systematic error), yaitu kesalahan yang terjadi jika siswa membuat kesalahan dengan pola yang sama pada sekurang-kurangnya tiga soal dari lima soal yang diberikan; (2) miskonsepsi yang random (random error) adalah kesalahan yang terjadi jika siswa membuat kesalahan dengan pola yang berbeda pada sekurang-kurangnya tiga soal dari lima soal yang diberikan; (3) miskonsepsi yang diakibatkan dari kecerobohan adalah kesalahan yang terjadi jika siswa hanya membuat dua kesalahan dari lima soal yang diberikan; (4) miskonsepsi yang tidak dapat dimasukkan dalam salah satu tipe di atas, misalnya lembar data yang tidak lengkap 17. Menurut Arti Sriati miskonsepsi yang berasal siswa dalam mengerjakan soal matematika secara khusus adalah: (1) miskonsepsi terjemahan, adalah kesalahan mengubah informasi keungkapan matematika atau kesalahan dalam memberi makna suatu ungkapan matematika; (2) miskonsepsi konsep, adalah 14 J. D Novak and D.B Gowin, Learning How To Learn 21 st,(cambridge-england :Cambridge university press,2006) 15 Suparno,Paul. Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan Fisika. (Jakarta: Grasindo,2005), hal. 95 16 Rini Asnawati, Pemahaman Siswa Terhadap Konsep Pecahan Decimal Sebelum Dan Sesudah Kegiatan Rremediasi Dengan Strategi Konflik Kognitif, (Surabaya : Program Pasca Sarjana IKIP Surabaya, 1999), hal. 27 17 Syafi atur Rohmah, Analisis Kesalahan Siswa Kelas VI MI Al-Ishlah Ketapang Lor Ujung Gresik dalam Menyelesaikan Soal Cerita pada Pokok Bahasan Pecahan Desimal, Skripsi Pendidikan Matematika, (Surabaya: Perpustakan IAIN Sunan Ampel, 2010), hal. 22

10 kesalahan memahami gagasan abstrak; (3) miskonsepsi strategi, adalah kesalahan yang terjadi jika siswa memilih jalan yang tidak tepat yang mengarah ke jalan buntu; (4) miskonsepsi sistematik, adalah kesalahan yang berkenaan dengan pemilihan yang salah atas teknik ekstrapolasi; (5) miskonsepsi tanda, adalah kesalahan dalam memberikan atau menulis tanda atau notasi matematika dan; (6) miskonsepsi hitung, adalah kesalahan menghitung dalam operasi matematika 18. Dari pengertian diatas miskonsepsi dapat diartikan sebagai suatu konsepsi atau pemahaman seseorang yang tidak sesuai (dari siswa) dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima oleh ilmuwan yang bersifat sistematis, konsisten maupun incidental. Dalam penelitian ini miskonsepsi yang dimaksud adalah miskonsepsi dalam memahami konsep matematika yang ada dalam Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) yaitu : 1. Seringnya terjadi miskonsepsi dalam mengenali perbedaan antara PLDV dan SPLDV. 2. Terdapat miskonsepsi dalam mengenali SPLDV dalam berbagai bentuk dan variabel. 3. Terdapat miskonsepsi dalam membedakan akar dan bukan akar pada SPL dan SPLDV. 4. Terdapat miskonsepsi dalam menjelaskan arti kata dan pada solusi SPLDV. 5. Siswa tidak mampu menentukan penyelesaian SPLDV dengan metode subtitusi, 6. Siswa tidak mampu menentukan penyelesaian SPLDV dengan metode eliminasi 7. Siswa tidak mampu menentukan penyelesaian SPLDV dengan metode grafik. 8. Siswa tidak mampu menyelesaikan System Persamaan Non Linear Dua Variabel menggunakan bentuk SPLDV. 18 Anis Sunarsih, Analisis Kesalahan dalam Menyelesaikan Soal pada Materi Luas Permukaan serta Volume Prisma dan Limas pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Negeri 2 Karanganyar Tahun Ajaran 2008/2009 (Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 2009), hal. 23

11 C. Faktor Penyebab Miskonsepsi Miskonsepsi dalam matematika adalah suatu kesalahan atau penyimpangan terhadap hal yang benar, yang sifatnya sistematis, konsisten maupun insidental dalam menyelesaikan soal matematika. Miskonsepsi yang sistematis dan konsisten terjadi disebabkan oleh kompetensi siswa. Sedangkan miskonsepsi yang bersifat insidental merupakan miskonsepsi bukan akibat rendahnya tingkat penguasaan materi pelajaran melainkan disebabkan faktor lain misalnya: kurang cermat dalam membaca soal sehingga kurang memahami maksud soal, kurang cermat dalam menghitung karena tergesagesa atau waktu yang tinggal sedikit 19 Kurniati 20 menyatakan bahwa faktor penyebab kesalahan konsep (miskonsepsi ) adalah sebagai berikut : 1. Pengalaman dalam belajar matematika. 2. Tidak memiliki kemampuan kognitif yang cikup untuk memahami konsep matematika. 3. Konsep telah dimiliki tetapi tidak cukup untuk dapat menyelesaikan soal. Sedangkan Suparno mengidentifikasi penyebab miskonsepsi sebagai penyebab utama dan penyebab khusus yang dapat dilihat dalam Tabel 2.1 21 : 19 Syafi atur Rohmah, Analisis Kesalahan Siswa Kelas VI MI Al-Ishlah Ketapang Lor Ujung Gresik dalam Menyelesaikan Soal Cerita pada Pokok Bahasan Pecahan Desimal, Skripsi Pendidikan Matematika, (Surabaya: Perpustakan IAIN Sunan Ampel, 2010), h. 22 20 Nurul Wafiyah,Identifikasi Miskonsepsi Siswa Dan Faktor-Faktor Penyebab Pada Materi Permutasi Dan Kombinasi Di Sma Negeri 1 Manyar, (Surabaya : Pasca Sarjana Unesa,2011 ), hal. 22 21 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar. (Jakarta: PT. Raja grafindo Persada, 2005),hal. 98

12 Tabel 2.1 Penyebab Miskonsepsi Sebab utama Sebab khusus Siswa Prakonsepsi Pemikiran asosiatif (proses asimillas,akomodasi dan akulturasi) Pemikiran humanistic(berbagai jalan pikiran yang berbeda ) Alas an yang tidak lengkap Kemampuan siswa,minat belajar siswa Pengalaman belajar siswa Bahasa sehari-hari yang berbeda Teman diskusi yang salah Penjelasan orang tua atauorang lain yang salah Konteks hidup siswa(tv,radio dan film yang memberikan infomasi yang salah ) Perasaan senang atau tidak senang,bebas atau tertekan Guru/pengajar Tidak menguasai bahan Tidak membiarkan siswa mengungkapkan alasan /ide Komunikasi antara siswa dan guru yang tidak berjalan dengan baik Metode mengajar hanya ceramah dan meminta anak mencatat Memberikan materi langsung berupa rumus tanpa diawali dengan cara mendapatkannya Tidakmengungkapkan kemungkinan miskonsepsi yang dapat terjadi pada materi yang akan diajarkan Tidak mengkoreksi PR yang salah Buku teks Penjelasan yang salah

13 Salah tulis terutama dalam rumus dan notasi Tingkat penulisan buku yang terlalu tinggi baik dari segi bahasa dan materi Menurut Suparno 22 guru juga merupakan salah satu penyebab miskonsepsi. Cara mengajar dapat menjadi penyebab khusus miskonsepsi diantaranya yaitu : hanya menggunakan metode ceramah dan menulis, langsung ke bentuk matematis, tidak mengungkapkan miskonsepsi siswa, tugas tidak dikoreksi, model analogi, model pratikum dan diskusi yang tidak sesuai langkah-langkah yang ditentukan. Metode mengajar yang hanya menekankan salah satu segi dari kebenaran yang diajarkan dan kefanatikan terhadap salah satu jenis metode mengajar perlu dihindari karena akan membatasi cara pandang kita terhadap masalah pengetahuan. Selain itu metode mengajar yang tidak tepat terhadap situasi, kondisi materi yang diajarkan dapat memunculkan miskonsepsi pada diri siswa, sehingga guru harus memilih dan menggunakan metode mengajar yang tepat agar penyampaian konsep dapat dipahami siswa. D. Tinjauan tentang materi SPLDV 1. Bentuk Umum SPLDV Persamaan linear dua variabel adalah persamaan yang memiliki dua variabel dan pangkat masing-masing variabelnya satu. Jika dua variabel tersebut x dan y, maka PLDV-nya dapat dituliskan : ax + by = c dengan a, b 0 Contoh: a. 2x + 2y = 3 b. y = 3x -2 c. 6y + 4 = 4x 22 Suparno,Paul. Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan Fisika. (Jakarta: Grasindo,2005), hal. 82

14 Sedangkan SPLDV adalah suatu sistem persamaan yang terdiri atas dua persamaan linear (PLDV) dan setiap persamaan mempunyai dua variabel. Bentuk umum SPLDV adalah: ax + by = c px + qy = r; dengan a, b, p, q 0 Dalam PLDV dan SPLDV terdapat beberapa elemen yang harus diketahui yaitu Variabel,Konstanta dan Koefisien Contoh: Diketahui SPLDV : 3x + 5y = 7dan 2x 3y = 11,maka : Variabel SPLDV adalah x dan y Konstanta SPLDV adalah 7 dan 11 Koefisien x dari SPLDV adalah 3 dan 2 Koefisien y dari SPLDV adalah 5 dan 3 Dalam sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) terdapat pengganti-pengganti dari variabel sehingga kedua persamaan menjadi benar. Pengganti-pengganti variabel yang demikian disebut penyelesaian atau akar dari sistem persamaan linear dua variabel. Apabila pasangan pengganti menyebabkan salah satu atau kedua persamaan menjadi kalimat tidak benar disebut bukan penyelesaian atau bukan akar dari SPLDV tersebut. Sedangkan kata dan merupakan tanda kedua variabel SPLDV tersebut memiliki penyelesaian yang menyebabkan nilai dua variabel memenuhi kedua persamaan yang terdapat dalam SPLDV tersebut. Apabila nilai dua variabel tersebut hanya memenuhi salah satu persamaan saja, atau bahkan tidak memenuhi keduanya, maka nilai variabel-variabel tersebut bukanlah penyelesaian dari SPLDV tersebut. Contoh: Diketahui SPLDV : 2x y = 3 dan x + y = 3, Tunjukkan bahwa x = 2 dan y = 1 merupakan akar dari SPLDV tersebut. Jawab : 2x y = 3 Jika x = 2 dan y = 1 disubstitusikan pada persamaan diperoleh

15 2x - y = 3 2(2) 1 = 3 3 = 3 (benar) x + y = 3 jika x = 2 dan y = 1 disubstitusikan pada persamaan diperoleh x + y = 3 2 + 1 = 3 3 = 3 (benar) Jadi, x = 2 dan y = 1 merupakan akar dari SPLDV 2x y = 3 dan x + y = 3 2. Teknik Penyelesaian SPLDV SPLDV dapat diselesaikan dengan tiga cara, yaitu : a. Metode Grafik Prinsip dari metode grafik yaitu mencari koordinat titik potong grafik dari kedua persamaan. Contoh : Tentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel berikut ini dengan metode grafik. { Penyelesaian: Titik potong kedua persamaan pada sumbu- dan sumbu-. 0 6 4 0 0 1-1 0

16 Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah {(3, 2)} b. Metode Substitusi Contoh : Tentukan himpunan penyelesaian dari : 3x + y = 7... (1) dan 2x 5y = 33...(2) jawab : 3x + y = 7 y = 7 3x...(3) (3) disubstitusikan ke (2) 2x 5y = 33 2x 5(7 3x) = 33 2x 35 + 15 x = 33 2x + 15x 35 = 33 17x = 33 + 35 17x = 68 x = 68/17 x = 4...(4) (4) disubstitusikan ke (3) y = 7 3x y = 7 3(4) y = 7 12 y = 5 Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah {(4, 5)} c. Metode Eliminasi Mengeliminasi salah satu dari dua variabel misal mengeliminasi x untuk mendapatkan nilai dari variabel y. Contoh: Tentukan harga variabel x dan y dengan metode Eliminasi!! 3x + y = 7 2x 5y = 33

17 Jawab: 3x + y = 7 (x5) 15x + 5y = 35 2x 5y = 33 (x1) 2x 5y = 33 + 17x = 68 x = 68/17 x = 4 3x + y = 7 (x2) 6x + 2y = 14 2x 5y = 33 (x3) 6x 15y = 99 _ 17y = 85 y = 5 Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah {(4, 5) E. Indicator miskonsepsi Berdasarkan masalah yang peneliti kemukakan di atas, maka dalam pelaksanaan penelitian ini dibuat beberapa indikator yang menyatakan miskonsepsi pada siswa, dapat dinyatakan dalam Tabel 2.2 : Tabel 2..2 Indikator Miskonsepsi No. Konsep 1 Siswa mengenali perbedaan PLDV dan SPLDV 2 Terdapat miskonsepsi dalam mengenali SPLDV dalam berbagai bentuk dan variabel. Miskonsepsi Penyebab ya tidak siswa teman guru Buku 3 Siswa dapat membedakan akar dan bukan akar SPL dan SPLDV 4 Siswa dapat menjelaskan arti kata dan pada solusi SPLDV

18 5 Siswa mampu menentukan penyelesaian SPLDV dengan metode subtitusi 6 Siswa mampu menentukan penyelesaian SPLDV dengan metode grafik 7 Siswa mampu menentukan penyelesaian SPLDV dengan metode eliminasi 8 Siswa mampu menyelesaikan System Persamaan Non Linear Dua Variabel menggunakan bentuk SPLDV