BAB IV HASIL PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Data

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data 1. Data Nilai Ulangan Semester I Siswa Kelas VII Tahun Pelajaran 2014/2015 Kelas

PEMBELAJARAN KOOPERATIF MELALUI MODEL JIGSAW

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pengaruh variasi celah reed valve dan variasi ukuran pilot jet, main jet terhadap konsumsi bahan bakar pada sepeda motor Yamaha F1ZR tahun 2001

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

EKSPERIMEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN PROBLEM BASED LEARNING DAN PROJECT BASED LEARNING DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR SISWA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. kepemilikan tanah adalah milik pemerintah. Luas tanah 7872 m 2 dan status tanah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Menurut Sutama (2015:43) penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Data. Deskripsi data hasil analisis tes peningkatan dribble shooting sepakbola yang dilakukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENT BERBASIS KOMPUTER PADA SISWA SMP KELAS VIII

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Mei Dwi Utami 1,*, Sri Mulyani 2, dan Ashadi 2 1 Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia, FKIP, UNS, Surakarta, Indonesia

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PEMBELAJARAN ROLE PLAY DAN GUIDED DISCOVERY TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR SISWA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT (NUMBERED HEAD TOGETHER) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA

Sulistyaning Kartikawati. Program Studi Pendidikan Teknik Elektro, FPTK, IKIP PGRI MADIUN

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY-TWO STRAY

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pembangunan Surakarta, untuk pelaksanaan treatment (perlakuan) terhadap latihan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Tujuan penelitian dapat tercapai dengan data yang diperoleh dari objek penelitian. Data penelitian dikumpulkan

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL DISCOVERY LEARNING BERBASIS MULTIMEDIA DITINJAU DARI

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE BERBANTU KARTU MASALAH DAN THINK PAIR SHARE BERBANTU KARTU MASALAH DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL

BAB IV HASIL PENELITIAN. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

EKSPERIMENTASI METODE PEMBELAJARAN COURSE REVIEW HORAY DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SMP

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum Peneliti memberikan perlakuan / treatment bimbingan kelompok

KOMPARASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION DITINJAU DARI KREATIVITAS MAHASISWA

STUDI PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING DAN RECIPROCAL TEACHING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DITINJAU DARI EMOTIONAL QUOTIENT (EQ)

BAB III METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. 1. Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di Stadion Sriwedari Surakarta.

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN AIR DAN RT PADA MATERI RELASI DAN FUNGSI DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA SMP NEGERI SE-KABUPATEN SRAGEN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 8 Bandar

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Analisis deskripsi dalam penelitian ini membahas mengenai deskripsi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Data Skor Motivasi Belajar Peserta Didik

NASKAH PUBLIKASI SKRIPSI. Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Matematika

EKSPERIMEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PARTNERS IN LEARNING DAN PROBLEM BASED

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE SYNERGETIC

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis perhitungan validitas butir soal ( pbis. Berdasarkan hasil analisis perhitungan validitas butir soal diperoleh data sebagai berikut:

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Data

BAB IV HASIL PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA. Data yang diperoleh dari hasil tes dan pengukuran masih merupakan skor-skor

BAB III METODE PENELITIAN

JMP : Volume 4 Nomor 1, Juni 2012, hal

EKSPERIMEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI METODE JIGSAW DAN GROUP INVESTIGATIONN DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS VII

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA PENELITIAN. 1. Deskripsi hasil pengamatan aktivitas siswa dengan pendekatan

PENGARUH KEDISIPLINAN BELAJAR DAN JENIS KELAMIN TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA SMP NEGERI 1 PUCAKWANGI PATI TAHUN AJARAN 2012/2013

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Institut Agama Islam Ma arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN AIR DIKOMBINASIKAN NHT DAN STAD TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

BAB IV HASIL PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap:

Jurnal Akademis dan Gagasan matematika Edisi Ke Dua Tahun 2015 Halaman 45 hingga 53

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. antara kelas yang menggunakan LKS paperless dan kelas yang menggunakan LKS

UJI HOMOGENITAS. Pada dasarnya uji homogenitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa dua atau lebih

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. eksperimen semu, maka dilakukan Pre-Tes atau bisa juga dikatakan tes

Oleh: Sumaji. Kata kunci : Pembelajaran Matematika, Group Investigation, Aktivitas Belajar.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1.1 Deskripsi Hasil Penelitian Data hasil penelitian diperoleh dari tes kemampuan awal (X 1 ) dan tes

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dian Ratna Puspananda, Tri Atmojo K., Budi Usodo. Program Studi Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 PENDIDIKAN MATEMATIKA. Oleh : VERA LUSIANA A

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

Transkripsi:

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri atas data keadaan awal Fisika siswa dari nilai ulangan harian pada materi sub pokok bahasan Suhu dan Pemuaian, yang sekaligus sebagai data kemampuan awal Fisika siswa. Nilai tes akhir untuk mengetahui kemampuan kognitif Fisika siswa pada sub pokok bahasan Kalor di SMAN 1 Wangon kelas X semester 2 Tahun Pelajaran 2008/2009. 1. Data Kemampuan Awal Fisika Siswa Berdasarkan data yang terkumpul mengenai kemampuan awal siswa kelompok eksperimen diperoleh nilai terendah 58 dan nilai tertinggi 81, dengan nilai rata-rata 66,89 dan simpangan baku 6,25. Sedangkan siswa kelompok kontrol diperoleh nilai terendah 58 dan nilai tertinggi 77, dengan nilai rata-rata 66,32 dan simpangan baku 4,54. Deskripsi data Kemampuan awal Fisika siswa dapat ditunjukan pada tabel 4.1 sedang data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 13. Tabel 4.1a. Deskripsi Data Kemampuan Awal Fisika Siswa Kelas Eksperimen Data Tinggi Rendah Tinggi Rendah Nilai 81 58 77 58 Tabel 4.1b. Deskripsi Data Kemampuan Awal Fisika Siswa Kelas Eksperimen Data Nilai Rata-rata 66,89 66,32 Simpangan Baku 6,25 4,54 69

70 NO Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Kemampuan Awal Fisika Siswa Kelompok Eksperimen Kelas Interval Frekuensi Mutlak Titik Tengah Frekuensi Relatif (%) 1 58-62 9 60,0 23,68 2 63-67 15 65,5 39,47 3 68-72 6 70,0 15,80 4 73-77 5 75,0 13,16 5 78-82 3 80,0 7,89 Jumlah 38 100,00 Nilai kemampuan awal Fisika siswa kelas X semester 2 kelompok eksperimen memiliki rentang antara 58 sampai 82. Dengan deskripsi datanya dapat dilihat dalam tabel histogram berikut: Gambar 4.1. Histogram Kemampuan Awal Fisika Siswa Kelompok Eksperimen

71 Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Kemampuan Awal Fisika Siswa Kelompok NO Kelas Frekuensi Titik Frekuensi Interval Mutlak Tengah Relatif (%) 1 58-61 7 59,5 18,42 2 62-65 10 63,5 26,32 3 66-69 13 67,5 34,21 4 70-73 5 71,5 13,16 5 74-77 3 75,5 7,89 Jumlah 38 100,00 Kemampuan awal Fisika siswa kelas X semester 2 kelompok kontrol memiliki rentang antara 58 sampai 77. Dengan deskripsi datanya dapat dilihat dalam tabel histogram berikut: Gambar 4.2. Histogram Kemampuan Awal Fisika Siswa Kelompok

72 2. Data Nilai Kemampun Kognitif Fisika Siswa Berdasarkan data yang terkumpul mengenai nilai kemampuan kognitif Fisika siswa untuk kelompok eksperimen diperoleh nilai terendah 60 dan nilai tertinggi 92, dengan nilai rata-rata 74,53dan simpangan baku 7,23. Sedangkan untuk kelompok kontrol diperoleh nilai terendah 56 dan nilai tertinggi 88, dengan nilai rata-rata dan simpangan baku adalah 71,84 dan 8,50. Deskripsi data kemampuan kognitif Fisika siswa dapat ditunjukan pada table 4.4 sedang data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 21. Tabel 4.4a. Deskripsi Data Nilai Kemampuan Kognitif Fisika Siswa Kelas Eksperimen Data Tinggi Rendah Tinggi Rendah Nilai 92 60 88 56 Tabel 4.4b. Deskripsi Data Nilai Kemampuan Kognitif Fisika Siswa Kelas Eksperimen Data Harga Rata-rata 74,53 71,84 Simpangan Baku 7,23 8,50 Distribusi frekuensi nilai kemampuan kognitif Fisika siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol disajikan pada tabel 4.5 dan 4.6. untuk memperjelas distribusi frekuensi nilai kemampuan kognitif Fisika siswa tersebut, disajikan histogram pada gambar 4.3 dan 4.6.

73 NO Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Kemampuan Kognitif Fisika Siswa Kelompok Eksperimen Kelas Interval Frekuensi Mutlak Titik Tengah Frekuensi Relatif (%) 1 60-66 5 63,0 13,16 2 67-73 14 70,0 36,84 3 74-80 13 77,0 34,21 4 81-87 4 84,0 10,53 5 88-94 2 91,0 5,26 Jumlah 38 100,00 Nilai tes akhir Fisika kelompok eksperimen yang diberi pembelajaran melalui model direct instruction disertai tugas kelompok memiliki rentang antara 60 sampai 94. Untuk deskripsi datanya dapat dilihat pada histogram berikut ini: Gambar 4.3. Histogram Nilai Kemampuan Kognitif Fisika Siswa Kelompok Eksperimen

74 Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Kemampuan Kognitif Fisika Siswa Kelompok NO Kelas Interval Frekuensi Mutlak Titik Tengah Frekuensi Relatif (%) 1 56-62 4 59,0 10,53 2 63-69 13 66,0 32,21 3 70-76 11 73,0 8,94 4 77-83 5 80,0 13,16 5 84-90 5 87,0 7,89 Jumlah 38 100,00 Nilai tes akhir Fisika siswa kelompok kontrol yang diberi pembelajaran melalui model direct instruction disertai tugas individu memiliki rentang antara 56 sampai 90. Untuk deskripsi datanya dapat dilihat pada histogram berikut ini: Gambar 4.4. Histogram Nilai Kemampuan Kognitif Fisika Siswa Kelompok B. Uji Kesamaan Kemampuan Awal Fisika Siswa Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis variansi dua jalan (2 x 2). Prasyarat analisis yang harus dipenuhi untuk menggunakan

75 anava adalah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan homogen yang dapat diketahui dengan melakukan uji prasyarat yang terdiri dari uji normalitas dengan teknik uji Lilliefors dan uji homogenitas dengan uji Bartlett. Kemudian untuk mengetahui kesamaan keadaan awal Fisika siswa diketahui dengan melakukan uji-t dua ekor. 1. Uji Normalitas Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak normal. Hasil uji normalitas dengan metode Lilliefors diperoleh dengan harga statistik Uji Lo untuk tingkat signifikansi 0.05 pada masing-masing kelas yakni sebagai berikut: Tabel 4.7. Harga Statistik Uji Beserta Harga Kritik Pada Uji Normalitas Kelompok Statistik Uji Lo Harga Kritik 1. Eksperimen 0,1391 0,1437 2. 0,1189 0,1437 Dari Tabel 4.5 di atas tampak bahwa harga ststistik uji Lo dari masingmasing kelompok tidak melebihi harga kritiknya. Dengan demikian diperoleh keputusan bahwa Ho diterima. Ini berarti bahwa sampel-sampel dalam penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal. 2. Uji Homogenitas Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang homogen atau tidak homogen. Uji homogen dengan uji Bartlett diperoleh harga x 2 hitung = 3,6930. Sedangkan untuk n = 2 pada taraf signifikansi 5 % harga x 2 1-1/2α = 3,84, karena x 2 hitung < x 2 1-1/2α, maka diperoleh keputusan uji bahwa Ho diterima, hal ini menunjukan bahwa sampel berasal populasi yang homogen. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran16. 3. Uji-t Dua Ekor Uji kesamaan keadaan awal Fisika siswa antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan dengan uji-t dua ekor yang sebelumnya telah diuji dengan uji normalitas dan uji homogenitas. Dari pengujian data diperoleh harga t hitung = 0,4618 harga t tabel pada taraf signifikansi 5 % untuk n = 76 dengan

76 db = 38 + 38 2 = 74 adalah 1,99. Karena =1,995, dengan demikian dapat diperoleh keputusan uji bahwa H 0 diterima, hal ini menunjukan bahwa keadaan awal Fisika siswa antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tersebut sama. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 17. C. Hasil Pengujian Hipotesis 1. Analisis Variansi Anava Dua Jalan Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian yang berupa kemampuan awal Fisika siswa dan nilai kemampuan kognitif Fisika siswa dianalisis dengan Analisis Variansi Dua Jalan Dengan Jumlah Sel Tak Sama. Dilanjutkan dengan uji Scheffe. Hasil ANAVA tersebut didapatkan harga-harga seperti yang terangkum dalam tabel berikut: Tabel 4.8. Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan Dengan Jumlah Sel Tak Sama Sumber variansi JK db RK F P Efek Utama A (Baris) 210,9576 1 210,9576 6,99 <0,05 B (Kolom) 2411,0268 1 2411,0268 79,87 >0,05 Interaksi (AB) 26,8040 1 26,8040 0,89 >0,05 Ralat 2173,45 72 30,1868 - - Total 4822,2408 75 - - - Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 23. Berdasarkan dari Tabel 4.8. analisis variansi dua jalan diperoleh hasilhasil sebagai berikut: a. Hipotesi 1. F a = 6,99 ; F 0.05;1,72 = 3,98 (db = 1, p= 0,05) Karena F a > F 0.05;1,72, maka H 01 ditolak, yang berarti H 11 diterima.

77 b. Hipotesis 2. F b =79,87; F 0.05;1;72 = 3,98 (db = 1, p= 0,05) Karena F b > F 0.05;1,72, maka H 02 ditolak, yang berarti H 12 diterima. c. Hipotesis 3. F ab = 0,89 ; F 0,05;1;72 = 3,98 (db = 1, p= 0,05) Karena F ab < F 0,05;1;72 dengan demikian maka H 03 diterima, yang berarti H 13 ditolak. Hasil perhitungan analisis variansi dua jalan yang terdiri dari dua efek utama dan interaksi dapat disimpulkan bahwa: a. Efek utama Efek utama yang berupa baris (model pembelajaran) perhitungan yang ditunjukan dengan harga uji F a = 6,99 > F 0.05;1,72 = 3,98 pada taraf signifikansi 5 %, yang berarti faktor A (model pembelajaran) mempunyai pengaruh terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa pada sub pokok bahasan Kalor. Efek utama yang berupa kolom (kemampuan awal Fisika siswa) perhitungan yang ditunjukan dengan harga uji F b = 79,87 > F 0.05;1;72 = 3,98 pada taraf signifikansi 5 % yang berarti bahwa faktor B (keadaan awal) mempunyai pengaruh terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa pada sub pokok bahasan Kalor. b. Interaksi Berdasarkan hasil perhitungan yang ditunjukan dengan harga statistik uji F ab = 0,89 < F 0,05;1;72 = 3,98 pada taraf signifikansi 5 %, yang berarti bahwa tidak ada interaksi antara pengaruh faktor A (model pembelajaran) dan B (kemampuan awal Fisika siswa) terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa.

78 2. Uji Lanjut Anava Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perbedaan ketiga masalah di atas maka dilakukan uji komparasi ganda dengan metode Scheffe, yang rangkuman analisisnya sebagai berikut: Table 4.9. Rangkuman Komparasi Ganda Komparasi Ganda Rerata Statisti Harga kritik k Uji P 1 2 (F) 0,01 0,05 4,53 7,00 3,98 < 0,05 77,57 7,00 3,98 < 0,05 Kesimpulan (Signifikan) (Signifikan) Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 24. Berdasarkan Tabel 4.9 di atas dapat disimpulkan hasil uji coba beda rerata yaitu: a. F A12 = 4,53 > F 0,05;1;72 = 3,98 H 0 maka ditolak, yang berarti ada perbedaan rerata yang signifikan antara baris A 1 (penggunaan model pembelajaran direct instruction melalui metode demonstasi disertai tugas kelompok) dan baris A 1 (penggunaan model pembelajaran direct instruction dengan metode demonstrasi disertai tugas individu). b. F B12 = 77,57 > F 0,05;1;72 = 3,98 H 0 maka ditolak, yang berarti ada perbedaan rerata yang signifikan antara baris B 1 (kemampuan awal Fisika siswa kategori tinggi) dan baris B 1 (kemampuan awal Fisika siswa kategori rendah). E. Pembahasan Hasil Analisis Data 1. Hipotesis Pertama H 0A : α i1 = 0 : Tidak ada perbedaan pengaruh antara penggunaan model

79 pembelajaran direct instruction melalui metode demonstrasi disertai tugas kelompok dan metode demonstrasi disertai tugas individu terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa. H 1A : α i1 0 : Ada perbedaan pengaruh antara penggunaan model pembelajaran direct instruction melalui metode demonstrasi disertai tugas kelompok dan metode demonstrasi disertai tugas individu terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa. Setelah dianalisis di mana model dan metode pembelajaran sebagai variabel bebas dan kemampuan kognitif Fisika siswa sebagai variabel terikat diperoleh F a = 4,53. Nilai tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga tabel sehingga diperoleh F tabel untuk taraf signifikan 5 % adalah 3,98 [F a > F 0.05;1;72 ] maka H 0A diterima, yang berarti hipotesis yang berbunyi: Ada perbedaan pengaruh antara penggunaan model pembelajaran direct instruction melalui metode demonstrasi disertai tugas kelompok dan metode demonstrasi disertai tugas individu terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa, diterima. Dari Tabel 4.9 terlihat bahwa rerata kemampuan kognitif Fisika siswa dengan model pembelajaran direct instruction melalui metode demonstrasi disertai tugas kelompok lebih besar daripada model pembelajaran direct instruction melalui metode demonstrasi disertai tugas individu. Sehingga model pembelajaran direct instruction melalui metode demonstrasi disertai tugas kelompok lebih efektif dari pada model pembelajaran direct instruction melalui metode demonstrasi disertai tugas individu. Hal ini disebabkan pada kegiatan demonstrasi disertai tugas kelompok, siswa mengamati demonastrasi dan melakukan kegiatan diskusi dengan kelompok untuk memperoleh pengetahuan yang lebih banyak, sedangkan pada pembelajaran dengan metode demonstrasi disertai tugas individu siswa hanya mengamati demonstrasi dan mendapatkan pengetahuan yang terbatas. 2. Hipotesis Kedua

80 H 0B : α j = 0 : Tidak ada perbedaan pengaruh antara kemampuan awal Fisika siswa kategori tinggi dan kategori rendah terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa. H 1B : α j 0 : Ada perbedaan pengaruh antara kemampuan awal Fisika siswa kategori tinggi dan kategori rendah terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa. Setelah dianalisis di mana kemampuan awal Fisika siswa sebagai variabel bebas dan kemampuan kognitif Fisika siswa sebagai variabel terikat, diperoleh F b = 77,57. Nilai tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga tabel sehingga didapatkan F 0.05;1;76 untuk taraf signifikan 5% adalah 3,98, [F b > F 0.05;1;76 ] maka H 0B ditolak dan H 1B diterima, berarti hipotesis yang berbunyi: Ada perbedaan pengaruh antara kemampuan awal Fisika siswa kategori tinggi dan kemampuan awal Fisika kategori rendah terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa, diterima. Jadi pada penelitian ini sudah sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa siswa yang memmpunyai kemampuan awal Fisika kategori tinggi mendapatkan nilai kognitif Fisika yang tinggi daripada siswa yang mempunyai kemampuan awal Fisika yang rendah. 3. Hipotesis Ketiga H 0AB : α ij = 0 : H 1AB : α ij = 0 : Tidak ada interaksi antara pengaruh penggunaan model pembelajaran direct instruction melalui metode pembelajaran dan kemampuan awal Fisika siswa terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa. Ada interaksi antara pengaruh penggunaan model pembelajaran direct instruction melalui metode pembelajaran dan kemampuan awal Fisika siswa terhadap kemampuan

81 kognitif Fisika siswa. Setelah data penelitian dianalisis di mana model pembelajaran direct instruction dan kemampuan awal Fisika siswa sebagai variabel bebas dan kemampuan kognitif Fisika siswa sebagai variabel terikat, diperoleh F ab = 0,89. Nilai tersebut kemudian dikonsultasikan dengan harga tabel sehingga didapatkan F 0.05;1;72 untuk taraf signifikan 5 % adalah 3,98. Karena F ab < F 0.05;1;72 maka H 0AB diterima dan H 1AB ditolak, berarti hipotesis yang berbunyi : Ada interaksi antara penggunaan model pembelajaran direct instruction melalui metode pembelajaran dan kemampuan awal Fisika siswa terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa, ditolak, artinya: Tidak ada interaksi antara pengaruh penggunaan model pembelajaran direct instruction melalui metode pembelajaran dan kemampuan awal Fisika siswa terhadap kemampuan kognitif Fisika siswa.