Aspek Virologi Hepatitis C

dokumen-dokumen yang mirip
Aspek Virologi Hepatitis C

Termasuk ke dalam retrovirus : famili flaviviridae dan genus hepacivirus. Virus RNA, terdiri dari 6 genotip dan banyak subtipenya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B

Hepatitis Marker. oleh. dr.ricke L SpPK(K)/

Aspek Laboratorium Pada Infeksi Virus Hepatitis C

ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR

ABSTRAK HUBUNGAN INFEKSI VIRUS HEPATITIS C DAN KARSINOMA HEPATOSELULER

BAB I PENDAHULUAN. dengue. Virus dengue ditransmisikan oleh nyamuk Aedes aegypti. Infeksi dengan

ABSTRAK. Prevalensi Penularan Virus Hepatitis C pada Skrining Penyumbang Darah. di PMI Kota Bandung antara Tahun 2003 sampai dengan 2006

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Selama tiga dekade ke belakang, infeksi Canine Parvovirus muncul sebagai salah

BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Virus hepatitis B (VHB) merupakan virus yang dapat. menyebabkan infeksi kronis pada penderitanya (Brooks et

ANALISIS MUTASI GEN PENGEKSPRESI DOMAIN B DAN C DNA POLIMERASE HBV DARI PASIEN YANG TERINFEKSI DENGAN TITER TINGGI

M. ESHA FAHLUTHFI PEMBIMBING : DR. HJ. IHSANIL HUSNA, SP.PD

BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis B (VHB). Termasuk famili Hepadnavirus ditemukan pada cairan tubuh

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Infeksi Virus Hepatitis B (VHB) merupakan masalah. kesehatan global, terutama pada daerah berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan wabah dan menyebabkan kematian. Dalam kurun waktu 50 tahun

PATOGENESIS DAN RESPON IMUN TERHADAP INFEKSI VIRUS. Dr. CUT ASMAUL HUSNA, M.Si

ABSTRAK. Analisis Mutasi Gen Pengekspresi Domain B dan C DNA Polimerase HBV Dari Pasien Yang Terinfeksi Dengan Titer Rendah.

Heterogenitas pada Struktur Genotipe Hepatitis C Virus

BAB II TINJUAN PUSTAKA

ABSTRAK ASPEK KLINIK PEMERIKSAAN ANTIGEN NS-1 DENGUE DIBANDINGKAN DENGAN HITUNG TROMBOSIT SEBAGAI DETEKSI DINI INFEKSI DENGUE

BAB I PENDAHULUAN. kronik dan termasuk penyakit hati yang paling berbahaya dibandingkan dengan. menularkan kepada orang lain (Misnadiarly, 2007).

Etiology dan Faktor Resiko

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit porcine reproductive and respiratory syndrome (PRRS) adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus

Virus baru : Coronavirus dan Penyakit SARS

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Darah donor dan produk darah yang digunakan pada penelitian medis diperiksa kandungan HIVnya.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SEL SISTEM IMUN SPESIFIK

DIAGNOSTIK MIKROBIOLOGI MOLEKULER

ABSTRAK. STUDI TATALAKSANA SKRINING HIV di PMI KOTA BANDUNG TAHUN 2007

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Protein berperan penting untuk perkembangan kecerdasan otak,

I. PENDAHULUAN. Ekonomi Pertanian tahun menunjukkan konsumsi daging sapi rata-rata. Salah satu upaya untuk mensukseskan PSDSK adalah dengan

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit hati menahun dan sirosis merupakan penyebab kematian kesembilan di

SISTEM IMUN. Pengantar Biopsikologi KUL VII

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit infeksi

Frekuensi Hepatitis B dan Hepatitis C Positif pada Darah Donor di Unit Transfusi Darah Cabang Padang pada Tahun 2012

1. ASPEK BIOLOGI MORFOLOGI VIRUS EBOLA:

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

KuTiL = KankeR LeHEr RaHIM????

I. PENDAHULUAN. perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara sedang

Bioinformatika. Aplikasi Bioinformatika dalam Virologi

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

I. PENDAHULUAN. Iridoviridae yang banyak mendapatkan perhatian karena telah menyebabkan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

YOHANES NOVI KURNIAWAN KONSTRUKSI DAERAH PENGKODE INTERFERON ALFA-2B (IFNα2B) DAN KLONINGNYA PADA Escherichia coli JM109

CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI

Virologi - 2. Virologi - 3. Virologi - 4

Partikel virus (virion), terdiri dari : Virologi adalah ilmu yang mempelajari tentang virus dan agent menyerupai virus:

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PATOLOGI SERANGGA (BI5225)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ABSTRAK. (Studi Pustaka)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. KHS terjadi di negara berkembang. Karsinoma hepatoseluler merupakan

Penyakit tersebut umumnya disebabkan oleh infeksi virus Human. merupakan virus RNA untai tunggal, termasuk dalam famili Retroviridae, sub

I. PENDAHULUAN. dengan insiden dan mortalitas yang tinggi (Carlos et al., 2014). Sampai saat ini telah

BAB I PENDAHULUAN. Insiden penyakit ini masih relatif tinggi di Indonesia dan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu. Penurunan imunitas seluler penderita HIV dikarenakan sasaran utama

BAB I PENDAHULUAN. Penelitian ini dibatasi pada pemeriksaan HBsAg strip test pada perawat di RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya.

KAJIAN ILMIAH TEMATIK HARI HEPATITIS SEDUNIA 19 MEI 2016

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Dinamika dan Aplikasi dari Model Epidemologi Hepatitis C Ema Hardika S. ( )

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Famili : Picornaviridae Genus : Rhinovirus Spesies: Human Rhinovirus A Human Rhinovirus B

Hepatitis Virus. Oleh. Dedeh Suhartini

Proporsi Infeksi HBV, HCV, dan HIV pada Pasien Talasemia-β Mayor di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari Juli 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bakteri Micobacterium tuberculosis (M. tuberculosis). Tuberkulosis disebarkan

Mekanisme Pertahanan Tubuh. Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang

ANALISIS MOLEKULER GENOM VIRUS HEPATITIS C SERTA PERANANNYA DALAM PATOGENESIS INFEKSI

BAB I PENDAHULUAN. Perbedaan antara virus hepatitis ini terlatak pada kronisitas infeksi dan kerusakan jangka panjang yang ditimbulkan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

DETEKSI HEPATITIS C Toni Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. DETECTION HEPATITIS C dr. Toni

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

BAB I PENDAHULUAN. dengan gejala saraf yang progresif dan hampir selalu berakhir dengan kematian. Korban

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired

MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS

Imunologi Transplantasi. Marianti Manggau

BAB 1 PENDAHULUAN. penduduk dunia terinfeksi oleh Virus Hepatitis B (VHB). Diperkirakan juta diantaranya

ABSTRAK. Linda Nathalia, Pembimbing: Caroline Tan Sardjono, S.Ked, PhD

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B terdistribusi di

ABSTRAK (STUDI PUST AKA) Interferon Sebagai Terapi Terhadap Penderita Hepatitis C Roni Aldiano, Pembimbing : dr. Fanny Rahardja, MSi.

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. dipengaruhi epidemi ini ditinjau dari jumlah infeksi dan dampak yang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

SISTEM IMUN. ORGAN LIMFATIK PRIMER. ORGAN LIMFATIK SEKUNDER. LIMPA NODUS LIMFA TONSIL. SUMSUM TULANG BELAKANG KELENJAR TIMUS

APLIKASI DIAGNOSIS PENYAKIT HEPATITIS MENGGUNAKAN J2ME DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan

Ni Putu Eka Rosiana Dewi 1, A.A. Wiradewi Lestari 2, Wayan Sutirtayasa 2

SISTEM PERTAHANAN TUBUH

BAB I PENDAHULUAN. Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hepatitis adalah penyakit peradangan hati yang. paling sering disebabkan oleh infeksi virus.

ABSTRAK KORELASI ANTARA TOTAL LYMPHOCYTE COUNT DAN JUMLAH CD4 PADA PASIEN HIV/AIDS

BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG. Virus hepatitis B (VHB) merupakan penyebab infeksi. hepatitis B yang masih menjadi masalah kesehatan global

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang penelitian. dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Banyak pasien yang meninggal

SOAL UTS IMUNOLOGI 1 MARET 2008 FARMASI BAHAN ALAM ANGKATAN 2006

Transkripsi:

Faktor-Faktor Pencetus Autism Spectrum Disorders (ASD) Aspek Virologi Hepatitis C Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha, Bandung Ringkasan Hepatitis C mempunyai banyak persamaan dengan hepatitis B dalam epidemiologi dan gambaran klinis. Berbeda dari virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV) adalah suatu virus RNA, tidak mengadakan integrasi ke dalam genom hepatosit, glikoprotein pada envelopnya sangat mudah berubah, sehingga respons imun terhadapnya menjadi sangat tidak efisien, dan infeksinya cenderung lebih persisten, lebih banyak yang menjadi sirosis dan karsinoma. Selain itu, penularan HCV lebih banyak terjadi secara horizontal, di antara penyalah-guna obat intravena. Kerusakan sel hepar pada hepatitis C terutama disebabkan oleh sel T sitotoksik, sedangkan kerusakan jaringan ekstrahepatiknya adalah akibat aktivasi komplemen oleh kompleks imun. Genom HCV sebenarnya adalah campuran populasi molekul RNA HCV yang heterogen tapi masih saling berhubungan (quasispecies), terdiri atas virus yang lengkap dan juga yang cacad, oleh karena itu, hasil immunoassay terhadap anti-hcv belum dapat diandalkan sepenuhnya untuk diagnosis. Pemeriksaan untuk deteksi RNA HCV yang lebih sensitif sekalipun belum memberikan hasil yang konsisten SUMMARY Hepatitis C resembles hepatitis B epidemiologically and clinically, but not virologically. Hepatitis C virus (HCV) is an RNA virus, it does not integrate into the genome of hepatocyte, the hypervariability of glycoproteins in its envelop makes the host immune response become very inefficient, and as a result, HCV infection tends to be more persistant, prones to develop cirrhosis and carcinom., Besides, HCV is transmitted more prevalent horizontally among IV drug users. Liver cell damage in hepatitis C is mainly caused by cytotoxic T cell, and the extrahepatic tissue damage is the result of complement activation by immune complex. HCV genome is in fact a mixed population of heterogenous yet closely related HCV RNA molecules (quasispecies), consisting of replication competent as well as defective virus, consequently, the immunoassays to detect anti HCV are sometimes insufficient for diagnosis, even the detection of HCV RNA by more sensitive techniques fails to yield consistent results. Pendahuluan Pada tahun 1970-an dikenal suatu bentuk hepatitis non A - non B yang mempunyai banyak persamaan dengan hepatitis B, namun tidak dijumpai petanda hepatitis B dalam serum penderitanya, baru pada tahun 1989, dengan bantuan teknik DNA rekombinan, penyebabnya berhasil diidentifikasi oleh Choo, 1

JKM. Vol. 2, No. 2, Februari 2003 Houghton dan kawan-kawannya di USA, dan diberi nama virus hepatitis C (HCV), yang merupakan penyebab utama hepatitis non A - non B (1,4). HCV merupakan genus tersendiri dalam famili Flaviviridae, diameternya 60 nm dan berenvelop, bentuk capsidnya icosahedral, mempunyai sebuah RNA yang linear, single-stranded dan positive-sense, dengan 9500 nukleotida. Sifat - Sifat Hcv Genom HCV terdiri atas sebuah reading frame (gen) terbuka yang tunggal dan besar, yang membawa kode bagi suatu virus polyprotein dengan lebih kurang 3000 asam amino. Seperti yang tampak pada Gambar 1, baik di ujung 5 maupun 3 terdapat daerah untranslated. Seperti flavivirus lain, urutan gen dari ujung 5 ke 3 adalah C, E1, E2/NS1, NS2, NS3, NS4 dan NS5. C adalah core (nucleocapsid) dan E adalah tonjolan glikoprotein pada envelop, mereka termasuk protein struktural, NS adalah protein nonstruktural. Daerah untranslated di ujung 5 dan C pada semua genotipe adalah sama, sedangkan di dalam domain E2/NS1 terdapat daerah hipervariabel, terutama di ujung N daerah E2 yang disebut Hypervariable region 1 (HVR1). Daerah ini berbeda pada setiap penderita, pada peralihan infeksi HCV akut ke kronis dan selama perjalanan infeksi HCV menahun. Oleh karena itu, in vivo, HCV merupakan suatu identitas kolektif, yang terdiri atas sekelompok molekul RNA HCV yang heterogen namun masih saling berhubungan, yang disebut quasispecies, yang terdiri atas virus lengkap dan cacad. Pada beberapa penderita, sebagi-an besar molekul RNA HCV di dalam darah bahkan adalah virus cacad. Di lain pihak, seperti yang tampak pada Gambar 1, protein nonstruktural banyak berhubungan dengan immunoassay untuk anti-hcv, misalnya klon HCV yang pertama, 5-1-1, dan sikuens nukleotida untuk C100-3, suatu protein virus rekombinan yang digunakan pada immunoassay anti-hcv generasi pertama, keduanya terdapat di dalam gen NS4, demikian pula NS3 pembawa kode untuk protease dan helikase, selain itu juga NS5 pembawa kode untuk RNA-dependent RNA polymerase. Replikasi virus terjadi di dalam sitoplasma, karena tidak melalui suatu DNA perantara, ia tidak mengalami integrasi ke dalam genom hospes. 2

Faktor-Faktor Pencetus Autism Spectrum Disorders (ASD) Gambar 1. Susunan genom HCV dan protein yang bersangkutan. AA = asam amino, C = nucleocapsid, E = envelop, NS = non-structural. Protein-protein virus pada immunoassay generasi pertama ( C100-3 ), generasi kedua ( C200, suatu protein gabungan dari C100-3 & C33c, dan C22-3 ), generasi ketiga ( C22-3, C200 atau C33c & C100-3, dan NS5 ), dan recombinant immunoblot assay ( 5-1-1, C100-3, C33c, C22-3, NS5 ), masing-masing diperlihatkan di bawah gen yang bersangkutan (6). Genom virus bertindak langsung sebagai mrna untuk translasi suatu poliprotein tunggal yang besar, baru kemudian dipecah oleh protease virus dan sel hospes. Karena titer HCV yang beredar di dalam sirkulasi darah amat rendah, partikel virus sulit ditemukan secara visual, sedangkan hasil replikasi HCV in vitro belum memberikan hasil yang meyakinkan, maka dalam berbagai penelitian, simpanse adalah binatang percobaan yang sangat berharga. Cara penularan HCV menyerupai HBV, tapi perbandingan kelompok risikonya berbeda, sebagian besar penderita infeksi HCV adalah penyalahguna obat intravena. Penularan seksual dan infeksi kongenital tidak begitu penting, demikian pula peranan transfusi darah atau penggunaan produknya, karena sudah dapat dilakukan skrining terhadap HCV. Selain itu, transplantasi organ juga dapat menularkan HCV. Imunologi Pemeriksaan sikuens nukleotida HCV berhasil mengidentifikasi setidaknya 6 geno- 3

JKM. Vol. 2, No. 2, Februari 2003 tipe yang berbeda, yang terdiri atas tidak kurang dari 16 subtipe, yaitu 1a, 1b, 1c, 2a, 2b, 2c, 3a, 3b, 4a, 4b, 4c, 4d, 4e, 4f, 5a dan 6a, sesuai dengan klasifikasi oleh Simmonds pada tahun 1993 (9). Genetic variability HCV menyebabkan infeksinya cenderung persisten, dan mutasi HVR1 ternyata berkaitan dengan eksaserbasi hepatitis (3). Antibodi-antibodi terhadap varian-varian baru molekul RNA HCV akibat mutasi HVR1 terbentuk secara susulmenyusul, akhirnya terpilih varian RNA HCV yang dapat lolos dari netralisasi oleh antibodi, sehingga imunitas humoral menjadi tidak efektif. IgM anti-hcv merupakan antibodi pertama yang dibentuk pada infeksi HCV akut, baik terhadap antigen strutural maupun nonstrutural, dan biasanya akan hilang dengan sendirinya. Sebaliknya pada infeksi menahun, IgM anti- HCV akan tetap ada, yang menandakan infeksi aktif HCV yang berkepanjangan. Oleh karena itu, keberadaan IgM anti- HCV berhubungan dengan aktivitas dan keparahan infeksi HCV. Di lain pihak, walaupun respons imun seluler tampaknya lebih menonjol, tapi proliferasi aktif sel T helper dan T sitotoksik yang terjadi tetap tidak cukup untuk mengatasi infeksi maupun mencegah reinfeksi. Oleh karena itu, respons imun terhadap HCV adalah sangat tidak efisien, sehingga infeksi akut HCV tidak menghasilkan kekebalan, baik homolog maupun heterolog, dan cenderung persisten untuk jangka waktu lama. Dalam keadaan biasa, tidak ada virus hepatitis yang bersifat sitopatik langsung terhadap hepatosit. Banyak bukti menunjukkan bahwa berbagai manifestasi klinis akibat kerusakan hepar oleh virus hepatitis ditentukan oleh respons imun hospes, terutama sel T sitotoksik yang menimbulkan cell mediated injury, sedangkan manifestasi ekstrahepatiknya berhubungan dengan kerusakan jaringan akibat aktivasi sistem komplemen oleh kompleks imun. Di lain pihak, dengan molecular probe RNA HCV yang sensitif, replikasi HCV juga dapat ditemukan di dalam limfosit darah perifer penderita infeksi HCV, akan tetapi, seperti halnya pada virus hepatitis B (HBV), makna klinis infeksi limfosit oleh HCV belum diketahui. Beberapa genotipe HCV tersebar di seluruh dunia, sedangkan genotipe tertentu 4

Faktor-Faktor Pencetus Autism Spectrum Disorders (ASD) hanya terbatas pada daerah tertentu saja. Masing-masing genotipe mempunyai patogenitas yang berbeda, dan responsnya terhadap pengobatan antiviralpun bervariasi, genotipe 1b misalnya dilaporkan memberi respons yang paling buruk. Meskipun demikian, dampak biologis perbedaan genotipe dan quasispecies belum sepenuhnya dapat dipastikan. Diagnosis Virologi Immunoassay yang pertama ditujukan untuk menemukan antibodi terhadap C100-3, suatu polipeptida rekombinan yang berasal dari daerah NS4 genom. Pada sebagian besar penderita hepatitis C akut, antibodi tersebut akan terdeteksi 1-3 bulan setelah onset hepatitis akut, tapi kadang-kadang baru ditemukan setelah satu tahun atau lebih. Immunoassay generasi kedua menggabungkan protein rekombinan dari daerah nukleokapsid/core, C22-3, dan daerah NS3, C33c (diekspresikan bersama C100-3 sebagai C200), pemeriksaan ini lebih sensitif lebih kurang 20%, dan dapat mendeteksi anti-hcv 30-90 hari lebih dini. Immunoassay generasi ketiga, yang melibatkan protein dari daerah NS5 dan menggunakan peptida sintetik sebagai pengganti beberapa protein rekombinan, dapat mendeteksi anti-hcv lebih dini lagi. Karena pemeriksaan anti- HCV dalam klinis kurang spesifik, telah dikembangkan recombinant immunoblot assay (RIBA) sebagai pelengkap. Hasil immunoassay dipastikan oleh pengeraman strip nitroselulose yang mengandung pita masingmasing protein HCV sintetik atau rekombinan, sehingga terdeteksi antibodi terhadap protein viral baik yang struktural maupun nonstrutural secara terpisah, dan hasil positif palsu yang berhubungan dengan bahan bukan virus dapat teridentifikasi. Pemeriksaan ini berguna untuk mendukung validitas hasil positif suatu sampel, terutama pada penderita dengan kemungkinan infeksi yang rendah, misalnya donor darah, atau penderita dengan aktivitas sistem imun yang tidak lazim di dalam serum, misalnya adanya faktor rematoid, yang dapat memberikan hasil positif palsu. Deteksi anti-hcv saja ternyata tidak cukup untuk menemukan semua kasus infeksi HCV. Indikator paling sensitif kehadiran HCV ialah 5

JKM. Vol. 2, No. 2, Februari 2003 adanya RNA HCV, yang memerlukan amplifikasi molekuler dengan Polymerase Chain Reaction (PCR), alternatifnya adalah branched-chain complementary DNA hybridization, yang lebih mudah dilakukan secara otomatis, akan tetapi sensitivitasnya 2 tingkat lebih rendah. RNA HCV dapat ditemukan hanya dalam beberapa hari sesudah seseorang terinfeksi HCV, jauh sebelum timbulnya anti-hcv, dan cenderung menetap selama berlangsungnya infeksi HCV, tapi pada penderita infeksi HCV menahun, kadang-kadang RNA HCV hanya dapat dideteksi secara intermiten. Penentuan genotipe dan tingkat viremia kuantitatif mungkin dapat digunakan sebagai indikator prognostik, terutama tingkat viremia, yang mempunyai korelasi yang lebih baik dengan respons terhadap alpha interferon. Kesimpulan HCV adalah unik karena genetic variability-nya, sehingga imunopatogenesisnya menjadi amat rumit, yang sampai sekarang belum dapat dipahami seluruhnya. Ini semua membawa dampak yang amat luas dalam prediksi perjalanan penyakit, diagnosis, penatalaksanaan dan pencegahannya. Daftar Pustaka Brechot, C. Hepatitis C virus genetic variability: clinical implications. In: Hepatitis C virus. GEMHEP. John Libbey Eurotext. Paris. 1-15. 1994. Brillanti, Stefano et al. 1992. Significance of IgM antibody to Hepatitis C virus in patients with chronic hepatitis C. Hepatology. 15: 998-1001. 1992. Chemello, L, A Alberti, R Kenneth, and P Simmonds. Hepatitis C serotype and response to interferon therapy. N Engl J Med. 330: 143. 1994. Collier, L., J.Oxford and J.Pipkin. Human Virology. 2 nd edition. Oxford University Press. 169-171. 2000. Erlinger, S. Conclusion. In: Hepatitis C virus. GEMHEP. John Libbey Eurotext. Paris. 107-109. 1994. Fauci, A S, E Braunwald, K J Isselbacher et al. Harrison s Principles of Internal Medicine. 14 th edition. Volume 2. Mc Graw-Hill Health Professions Division. 1681-1682. 1998. Kato, N, H Setiya, Y Ootsuyama et al. Humoral immune response to hypervariable region 1 of the putative envelop glycoprotein (gp70) of hepatitis C virus. J Virol 67: 3923-30. 1993. Kurosaki, M. N Enomoto, F Marumo, C Sato. Rapid sequence variation of the hypervariable region of hepatitis C virus during the course of chronic infection. Hepatology. 18: 1293-9. 1993. Stuyver, L. HCV genotypes and genotyping methods. In: Hepatitis C virus. GEMHEP. John Libbey Eurotext. Paris. 39-48. 1994. Quiroga, JA et al. IgM antibody to hepatitis C virus in acute and chronic hepatitis C. Hepatology. 14: 38-43. 1991. 6

7