ENSEFALITIS DAN MENINGITIS

dokumen-dokumen yang mirip
Meningitis: Diagnosis dan Penatalaksanaannya

93 Meningitis Tuberkulosa

MENINGITIS. b. Anak Umur 2 Bulan Sampai Dengan 2 Tahun 1) Gambaran klasik (-).

BAB I PENDAHULUAN. Meningitis adalah kumpulan gejala demam, sakit kepala dan meningismus akibat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Sesi dengan fasilitasi Pembimbing : 3 X 50 menit (coaching session) Sesi praktik dan pencapaian kompetensi: 4 minggu (facilitation and assessment)

Radang pada selaput otak (meningen)

Fellow Clinical Neurophysiology UMC Utrecht The Netherlands

Sesi dengan fasilitasi Pembimbing : 3 X 120 menit (coaching session) Sesi praktik dan pencapaian kompetensi: 4 minggu (facilitation and assessment)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Meningitis adalah reaksi peradangan pada meninges, membran yang melapisi otak

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LIHAT TULISAN SCALP PD GAMBAR DIATAS. HAFALKAN YA, ITU SINGKATAN LAPISAN PEMBUNGKUS KEPALA.

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Algoritme Tatalaksana Kejang Akut dan Status Epileptikus pada Anak

BAB 1 PENDAHULUAN. fungsi otak, medulla spinalis, saraf perifer dan otot.

Trauma Lahir. dr. R.A.Neilan Amroisa, M.Kes., Sp.S Tim Modul Tumbuh Kembang FK Unimal 2009

BAHAN AJAR V ARTERITIS TEMPORALIS. kedokteran. : menerapkan ilmu kedokteran klinik pada sistem neuropsikiatri

Kejang Pada Neonatus

LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG

Pengobatan TB pada keadaan khusus. Kuliah EPPIT 15 Departemen Mikrobiologi FK USU

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menduduki urutan ke 10 dari urutan prevalensi penyakit. Inflamasi yang terjadi pada sistem saraf pusat

Tuberkulosis sebagai suatu penyakit sistemik yang dapat menyerang berbagai organ termasuk tulang dan sedi.

A. PENGERTIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN MININGITIS. I. LANDASAN TEORI.

Tinjauan Pustaka. Tuberculosis Paru. Oleh : Ziad Alaztha Pembimbing : dr. Dwi S.

KEJANG DEMAM SEDERHANA PADA ANAK YANG DISEBABKAN KARENA INFEKSI TONSIL DAN FARING

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Mengapa Kita Batuk? Mengapa Kita Batuk ~ 1

BAB I PENDAHULUAN. Spondylitis tuberculosis atau yang juga dikenal sebagai Pott s disease

POLA PENDEKATAN DIAGNOSIS KEJANG PADA ANAK. Prof dr Darto Saharso SpAK Dr Erny SpA Kelompok Studi Neuro-Developmental

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN MININGITIS

Dasar Determinasi Pasien TB

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piameter

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

MANAJEMEN TERPADU UMUR 1 HARI SAMPAI 2 BULAN

Pemeriksaan Rangsang Meningeal Bila selaput otak meradang atau di rongga subarakhnoid terdapat benda asing, maka hal ini dapat merangsang selaput

BAB I PENDAHULUAN. Penelitian yang berskala cukup besar di Indonesia dilakukan oleh

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung. Mycobacterium

ASKEP GAWAT DARURAT ENDOKRIN

TUBERKULOSIS. Fransiska Maria C. Bag. FKK-UJ

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B

LAPORAN PENDAHULUAN. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Tn.S Dengan CKR ( CIDERA KEPALA RINGAN )

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh kuman TBC ( Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman. lainnya seprti ginjal, tulang dan usus.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan adalah penyakit Tuberkulosis Ekstra Paru di. bagian Ilmu Penyakit Dalam sub bagian Pulmologi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kejang Demam (KD) Erny FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

PREEKLAMPSIA - EKLAMPSIA

memfasilitasi sampel dari bagian tengah telinga, sebuah otoscope, jarum tulang belakang, dan jarum suntik yang sama-sama membantu. 4.

GANGGUAN NAPAS PADA BAYI

Tekanan Tinggi Intra Kranial (TTIK) dr. Syarif Indra, Sp.S Bagian Neurologi FK UNAND RS Dr. M. Djamil Padang

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

BAB I PENDAHULUAN DEFINISI ETIOLOGI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang

Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 3 PENURUNAN KESADARAN

MENINGOENSEFALITIS. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Disusun oleh: Fransiska A. Sihotang

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

DIARE AKUT. Berdasarkan Riskesdas 2007 : diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.

ASUHAN PADA BAYI DENGAN TETANUS NEONATORUM

PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

Jika tidak terjadi komplikasi, penyembuhan memakan waktu 2 5 hari dimana pasien sembuh dalam 1 minggu.

Sesi dengan fasilitasi Pembimbing : 3 X 120 menit (coaching session) Sesi praktik dan pencapaian kompetensi: 4 minggu (facilitation and assessment)

BAB I PENDAHULUAN. akhir tahun 2011 sebanyak lima kasus diantara balita. 1

Preeklampsia dan Eklampsia

BAB 1 : PENDAHULUAN. membungkus jaringan otak (araknoid dan piameter) dan sumsum tulang belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Berdasarkan penelitian

Gambar. Klasifikasi ukuran tonsil

Kejang Demam pada Anak. Divisi Neurologi Departemen IKA FKUI-RSCM UKK Neurologi IDAI

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas

Hipertensi dalam kehamilan. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus:

Manajemen Kasus Sistem Neurobehavior. dr. Riska Yulinta V, MMR

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dilakukan secara retrospektif berdasarkan rekam medik dari bulan Januari

BAB III METODE PENELITIAN. mengetahui jenis-jenis efek samping pengobatan OAT dan ART di RSUP dr.

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMEGALI

BAB I KONSEP DASAR. Selulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan

MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL

(Cryptococcus neoformans)

A PLACEBO-CONTROLLED TRIAL OF ANTIMICROBIAL TREATMENT FOR ACUTE OTITIS MEDIA. Paula A. Tahtinen, et all

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian yang berjudul Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik

DEFINISI BRONKITIS. suatu proses inflamasi pada pipa. bronkus

KEJANG PADA NEONATUS KELOM POK 4B :

sex ratio antara laki-laki dan wanita penderita sirosis hati yaitu 1,9:1 (Ditjen, 2005). Sirosis hati merupakan masalah kesehatan yang masih sulit

Transkripsi:

ENSEFALITIS DAN MENINGITIS 1

MENINGITIS

MENINGITIS DEFINISI Peradangan selaput otak dan medulla spinalis yg disebabkan oleh berbagai mikroorganisme 3

4

KLASIFIKASI 1. Meningitis bakterial a) Bakteri non spesifik: Neisseria meningitidis, Haemophillus influenzae, S. pneumoniae, stafilokokus, streptokokus, E. coli, S. thyphosa b) Bakteri spesifik: M. tuberculosis 2. Meningitis viral: mumps, measles, 3. Meningitis fungal 4. Meningitis parasit: toxoplasma, amoeba 5

Meningitis Bakterial Definisi Peradangan selaput otak & medulla spinalis yang disebabkan oleh bakteri patogen,ditandai peningkatan sel PMN dalam LCS & terbukti adanya bakteri penyebab infeksi dalam LCS Etiologi 0-2 bulan Streptococcus grup B, E. coli 2-5 tahun S.pneumonia,N.meningitidis, H.influenzae >5 tahun S.pneumoniae, N.meningitidis Prognosis Mortalitas tinggi (5-10%) Menimbulkan gejala sisa seperti gangguan pendengaran,defisit neurologis

PATOGENESIS Infeksi selaput otak melalui: Aliran darah (hematogen)- infeksi di tempat lain (faringitis, tonsilitis, endokarditis, pneumonia, infeksi gigi) bakteriemia Perluasan langsung (perkontinuitatum) infeksi sinus paranasalis, mastoid, abses otak, sinus cavernosus Implantasi langsung: trauma kepala terbuka, bedah otak, pungsi lumbal, mielochele 7

PATOGENESIS Meningitis pada neonatus: Aspirasi cairan amnion Transplasental (terutama listeria) Sebagian besar infeksi SSP akibat penyebaran hematogen Saluran napas merupakan port d entry utama 8

PATOGENESIS Tahapan hematogen: 1. Bakteri melekat pd sel epitel mukosa nasofaring (kolonisasi) 2. Menembus rintangan mukosa 3. Bereplikasi dalam darah bakteriemia 4. Masuk LCS 5. Replikasi dalam LCS 6. Menimbulkan peradangan pada meninges dan otak 9

Patofisiologi molekular meningitis bakterial

MANIFESTASI KLINIS Tidak ada gejala khas Demam Nyeri kepala Meningismus dengan/tanpa penurunan kesadaran Lethargi Malaise Kejang Muntah Anak usia < 3 tahun jarang mengeluh nyeri kepala Gejala pada bayi demam,irritable,lethargi, malas minum,high pitched cry

DIAGNOSIS ANAMNESIS Adanya infeksi saluran napas atau saluran cerna yang mendahului, seperti batuk, pilek, diare, muntah Didapatkan gejala klinis yang mendukung sesuai usia PEMERIKSAAN FISIK Penurunan kesadaran atau iritabilitas Tanda peningkatan tekanan intrakranial (ubun-ubun membonjol) Tanda rangsang meningeal (kaku kuduk, tanda kernig, brudzinski), tanda rangsang meningeal bisa tidak ditemukan pada usia<1 tahun Defisit neurologis fokal : hemiparesis,tetraparesis Tanda infeksi di tempat lain : infeksi saluran napas/ telinga, sepsis, pneumonia

PEDIATRIC COMA SCALE (PCS) Tanda Respon Nilai Buka mata Respon Verbal Respon motorik Spontan Terhadap suara Terhadap sakit Tidak ada Terorientasi Kata-kata Suara-suara Menangis Tidak ada Mengikuti perintah Lokalisasi sakit Fleksi terhadap sakit Ekstensi terhadap sakit Tidak ada Nilai normal Lahir-6 bulan : 9 2-5 tahun : 13 6-12 bulan :11 > 5 tahun : 14 1-2 tahun :12 4 3 2 1 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah lengkap, kultur darah, gula darah dan elektrolit Lumbal pungsi pemeriksaan LCS Cairan LCS keruh/opalesence, Nonne +/-, Pandy+/++ Sel 100-100.000,dominan sel polimorfonuklear Protein 200-500 mg/dl Glukosa<40 mg/dl Jika pernah mendapat antibiotik, gambaran LCS tidak spesifik

Kontra Indikasi Lumbal Pungsi Terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial karena lesi desak ruang Jika kuat dugaan ke arah meningitis,lumbal pungsi dapat dilakukan dengan hati-hati meskipun terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial Pemeriksaan Penunjang Lain CT Scan dan MRI pada kasus berat dan curiga komplikasi seperti empyema subdural, abses otak, hidrosefalus EEG perlambatan umum

Tatalaksana Medikamentosa Usia 1-3 bln: Ampisilin 200-400 mg/kgbb/hari IV dibagi 4 dosis + Sefotaksim 200-300 mg/kgbb/hari IV dibagi 4 dosis, atau Seftriakson 100 mg/kgbb/hari IV dibagi 2 dosis Usia > 3 bln: Sefotaksim 200-300 mg/kgbb/hari IV dibagi 3-4 dosis, atau Seftriakson 100 mg/kgbb/hari IV dibagi 2 dosis, atau Ampisilin 200-400 mg/kgbb/hari IV dibagi 4 dosis + kloramfenikol 100 mg/kgbb/hari dibagi 4 dosis 18

Medikamentosa Deksametason Deksametason 0,6 mg/kgbb/hari IV dibagi 4 dosis selama 4 hari, injeksi diberikan 15-30 menit sebelum pemberian antibiotik Lama pengobatan Tergantung dari kuman penyebab, umumnya 10-14 hari 19

TATA LAKSANA Bedah Umumnya tdk diperlukan tindakan bedah, kecuali jika ada komplikasi seperti empiema subdural, abses otak, atau hidrosefalus Suportif Monitor ketat tanda vital, lingkar kepala, tanda peningkatan tekanan intrakranial Monitor efek samping antibiotik pemeriksaan darah serial, uji fungsi hati, uji fungsi ginjal 21

PEMANTAUAN Tumbuh kembang Gangguan pendengaran sekuele meningitis bakterialis terjadi pada 30% pasien uji fungsi pendengaran harus segera dikerjakan setelah pulang (saat rawat jalan) Gejala sisa lain seperti retardasi mental, epilepsi, kebutaan, spastisitas, dan hidrosefalus 22

(Novariani et al.,2008)

(Novariani et al.,2008)

Meningitis Tuberkulosis Definisi Peradangan selaput otak yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis,biasanya jaringan otak ikut terkena meningoensefalitis tuberkulosis Insiden < 3 bulan jarang Meningkat dalam 5 tahun pertama Tertinggi usia 6 bulan - 2 tahun Prognosis Mortalitas tinggi (10-20%) Sebagian besar gejala sisa,hanya 18% yang normal neurologis dan intelektual Jika tidak diobati,meninggal dalam 3-5 minggu

Diagnosis ANAMNESIS Riwayat demam yg lama/kronis, dpt pula berlangsung akut Kejang, penurunan kesadaran Penurunan BB, anoreksia, muntah, sering batuk & pilek Riwayat kontak dgn pasien tuberkulosis dewasa Riwayat imunisasi BCG

Manifestasi Klinis Stadium I (Inisial) Pasien tampak apatis, iritabel, nyeri kepala, demam, malaise, anoreksia, mual & muntah. Belum tampak manifestasi kelainan neurologi Stadium II Stadium III Pasien tampak mengantuk, disorientasi, ditemukan tanda rangsang meningeal, kejang, defisit neurologis fokal, paresis nervus kranial, & gerakan involunter (tremor, koreoatetosis, hemibalismus) Stadium II disertai kesadaran menurun sampai koma, tanda2 peningkatan TIK, pupil terfiksasi, pernapasan ireguler disertai peningkatan suhu tubuh, & ekstremitas spastis

Pemeriksaan fisik Funduskopi: dpt ditemukan papil yg pucat, tuberkel pada retina, dan adanya nodul pada koroid Periksa parut BCG dan tanda-tanda infeksi tuberkulosis di tempat lain 28

DIAGNOSIS Pemeriksaan penunjang Darah perifer lengkap, LED, dan gula darah Lekosit sering meningkat (10.000-20.000 sel/mm 3 ) Sering ditemukan hiponatremia dan hipokloremia karena sekresi antidiuretik hormon yang tidak adekuat 29

Pemeriksaan penunjang Pungsi lumbal/lp: LCS jernih, cloudy atau santokrom Jumlah sel meningkat antara 10-250 sel/mm 3,jarang melebihi 500 sel/mm 3 hitung jenis predominan sel limfosit walaupun pd stadium awal dapat dominan pmn Protein meningkat >100 mg/dl sedangkan glukosa menurun <35 mg/ dl, rasio glukosa LCS dan darah dibawah normal Pemeriksaan BTA dan kultur M. tuberculosis Jika hasil pemeriksaan LCS yang pertama meragukan, pungsi lumbal ulangan dpt memperkuat diagnosis dengan interval 2 minggu 30

Pemeriksaan penunjang PCR, ELISA & latex particle agglutination mendeteksi kuman Mycobacterium di LCS Pencitraan (CT Scan/MRI) kepala dengan kontras lesi parenkim pada daerah basal otak, infark, tuberkuloma, maupun hidrosefalus jika ada indikasi, terutama jika dicurigai komplikasi hidrosefalus Foto thorax: gambaran tuberkulosis Uji tuberkulin mendukung diagnosis EEG dapat menunjukkan perlambatan gelombang irama dasar Dx pasti bila ditemukan M. tuberkulosis pada pemeriksaan apus LCS/kultur 31

TATA LAKSANA Medikamentosa Pengobatan medikamentosa diberikan sesuai rekomendasi AAP 4 macam obat selama 2 bulan, dilanjutkan pemberian INH & Rifampisin selama 10 bln 32

Dosis OAT: Medikamentosa Isoniazid (INH) 10-20 mg/kgbb/hari, dosis maksimal 300 mg/hari Rifampisin 10-20 mg/kgbb/hari, dosis maksimal 600 mg/hari Pirazinamid 15-30 mg/kgbb.hari, dosis maksimal 2000 mg/hari Etambutol 15-20 mg/kgbb/hari, dosis maksimal 1000 mg/harl atau streptomisin im 20-30 mg/kg/hari maksimal 1 g/hari 33

Medikamentosa Kortikosteroid menurunkan inflamasi & edema serebral. Prednison 1-2 mg/kg/hari selama 6-8 mgg. Jika ada peningkatan TIK deksametason 6 mg/m 2 setiap 4-6 jam atau dosis 0,3-0,5 mg/kg/hari Tata laksana kejang Peningkatan TIK dpt diatasi dgn pemberian diuretik osmotik manitol 0,5-1 g/kg/kali atau furosemid 1 mg/kg/kali 34

Bedah TATA LAKSANA Hidrosefalus 2/3 kasus dgn lama sakit 3 minggu,dapat diterapi dgn asetazolamid 30-50 mg/kgbb/hari dibagi dlm 3 dosis Monitor asidosis metabolik pd pemberian asetazolamid Hidrosefalus obstruktif dengan gejala ventrikulomegali disertai peningkatan tekanan intraventrikel atau edema periventrikuler VPshunt 35

Suportif TATA LAKSANA Jika kondisi pasien stabil, konsultasi ke Rehabilitasi Medik mobilisasi bertahap, mengurangi spastisitas, serta mencegah kontraktur Pemantauan pasca rawat Pemantauan darah tepi & fungsi hati setiap 3-6 bulan untuk mendeteksi adanya komplikasi obat tuberkulostatik 36

Pemantauan pasca rawat Gejala sisa : gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, palsi serebral, epilepsi, retardasi mental, maupun gangguan perilaku Pemantauan tumbuh-kembang, jika ada gejala sisa dilakukan konsultasi ke departemen terkait (Rehabilitasi Medik, THT, Mata dll) sesuai indikasi 37

Pencegahan Angka kejadian meningkat dengan meningkatnya jumlah pasien tuberkulosis dewasa Imunisasi BCG dpt mencegah meningitis tuberkulosis Faktor risiko: malnutrisi, pemakaian kortikosteroid, keganasan, & infeksi HIV 38

ENSEFALITIS

Ensefalitis Definisi Infeksi jaringan otak yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme,sebagian besar tidak dapat ditentukan penyebabnya. Patogenesis Primer invasi langsung mikroorganisme substantia gricea Parainfeksius akibat respon imun pasien substantia alba Prognosis Mortalitas tinggi (35-50%) Gejala sisa tinggi (20-40%) Hanya Ensefalitis HSV dan Varicella yang dapat diobati

DIAGNOSIS Anamnesis Demam tinggi mendadak, sering ditemukan hiperpireksia Penurunan kesadaran dengan cepat. Anak agak besar sering mengeluh nyeri kepala, ensefalopati, kejang, & kesadaran menurun Kejang bersifat umum atau fokal, dapat terjadi status epileptikus 47

Pemeriksaan penunjang DIAGNOSIS Darah perifer lengkap, gula darah & elektrolit Pungsi lumbal: pemeriksaan CSS bisa normal atau menunjukkan abnormalitas ringan sampai sedang: peningkatan jumlah sel 50-200/mm3 hitung jenis didominasi sel limfosit protein meningkat tapi tidak melebihi 200 mg/dl glukosa normal 48

Pemeriksaan penunjang Pencitraan (CT-Scan atau MRI kepala) menunjukkan gambaran edema otak baik umum maupun fokal EEG umumnya didapatkan gambaran perlambatan atau gelombang epileptiform baik umum maupun fokal, kadang didapatkan gambaran normal pd beberapa pasien 49

TATA LAKSANA (IDAI, 2010) Medikamentosa Tidak spesifik. Terapi suportif berupa tata laksana hiperpireksia, keseimbangan cairan & elektrolit, peningkatan TIK, serta tata laksana kejang. Pasien sebaiknya dirawat di ruang rawat intensif Pemberian antipiretik, cairan IV, obat anti epilepsi, kadang diberikan kortikosteroid Untuk mencegah kejang berulang dapat diberikan fenitoin atau fenobarbital sesuai standar terapi Peningkatan TIK dpt diatasi dgn pemberian diuretik osmotik manitol 0,5-1 gram/kg/kali atau furosemid 1 mg/kg/kali 50

Medikamentosa Neuritis optika, mielitis, vaskulitis inflamasi, & acute disseminated encephalomyelitis diberikan metil prednisolon 15 mg/kg/hari dibagi setiap 6 jam selama 3-5 hari & dilanjutkan prednison oral 1-2 mg/kg/hari selama 7-10 hari Jika KU pasien sudah stabil, konsultasi ke Rehabilitasi Medik utk mobilisasi bertahap, mengurangi spastisitas, & mencegah kontraktur 51

TATA LAKSANA Pemantauan pasca rawat Gejala sisa : gangguan penglihatan, palsi serebral, epilepsi, retardasi mental maupun gangguan perilaku Pemantauan tumbuh-kembang konsultasi ke departemen terkait (Rehabilitasi medik, mata dll) sesuai indikasi Pemantauan pascaensefalitis 6-12 bulan kemungkinan terjadinya sekuele 52

(Fowler,2010)