Oculi Dextra Conjunctivitis ec. Suspect Viral

dokumen-dokumen yang mirip
Diagnosa banding MATA MERAH

GLAUKOMA ABSOLUT POST TRABEKULEKTOMI DAN GLAUKOMA POST PERIFER IRIDEKTOMI

BAB I PENDAHULUAN. penyebarannya sangat cepat. Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia

KARAKTERISTIK KLINIS DAN DEMOGRAFIS PENDERITA KONJUNGTIVITIS YANG BEROBAT

LAPORAN KASUS GLAUKOMA KRONIK

BAB 1 PENDAHULUAN. Kornea merupakan lapisan depan bola mata, transparan, merupakan

24 years old Male with Corneal Ulcer and Iris Prolapse Occuli Dextra

Anita's Personal Blog Glaukoma Copyright anita handayani

Evidence-based Treatment Of Acute Infective Conjunctivitis Breaking the cycle of antibiotic prescribing

PENDAHULUAN. beristirahat (tanpa akomodasi), semua sinar sejajar yang datang dari benda-benda

Pengkajian Sistem Penglihatan Mula Tarigan, SKp. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA PADA KORNEA DI RUANG MATA RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA. Trauma Mata Pada Kornea

xiii Patofisiologi Konjungtivitis Jenis Konjungtivitis Konjungtivitis Bakteri Konjungtivitis Virus

Nama Jurnal : European Journal of Ophthalmology / Vol. 19 no. 1, 2009 / pp. 1-9

KARYA TULIS AKHIR HUBUNGAN HIGIENITAS DENGAN KEJADIAN KONJUNGTIVITIS DI PONDOK PESANTREN MODERN DAN TRADISIONAL. Oleh :

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

SOP KATARAK. Halaman 1 dari 7. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon SMF. Ditetapkan Oleh Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon.

06/10/2011 PERADANGAN MATA (KONJUNGTIVITIS)

BAB I PENDAHULUAN. bahan kimia atau iritan, iatrogenik, paparan di tempat kerja atau okupasional

Jangan Sembarangan Minum Antibiotik

CONJUNCTIVITIS BAKTERIAL TREATMENT IN KOTA KARANG VILLAGE

PENERAPAN METODE FORWARD CHAINING DAN CERTAINTY FACTOR UNTUK DIAGNOSA PENYAKIT MATA MANUSIA

LAPORAN KASUS UVEITIS ANTERIOR OD

BAB I PENDAHULUAN. kacamata. Penggunaan lensa kontak makin diminati karena tidak mengubah

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

BAB I PENDAHULUAN. pasien datang berobat ke dokter mata. Penyebab mata berair adalah gangguan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dalam kandungan dan faktor keturunan(ilyas, 2006).

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat menyebabkan lisis pada bakteri dan dapat membantu. mengeliminasi organisme dari mata (Muzakkar, 2007).

Oftalmia Neonatorum et Causa Infeksi Gonokokal. Ophtalmia Neonatorum et Causa Gonoccocal Infection

ABSTRAK PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGI CAIRAN PERAWATAN LENSA KONTAK SEKELOMPOK MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

A 41 Years Old Man with Posterior Uveitis

BAB V PEMBAHASAN. (66,6%), limfosit terdapat di 4 subyek (44,4%) dan monosit terdapat di 3 subyek

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

5. Dengan tetes adrenalin 1:1000 injeksi akan lenyap sementara. 6. Gatal 7. Fotofobia tidak ada 8. Pupil ukuran normal dengan reaksi normal Injeksi Si

Lakukan pemeriksaan visus, refraksi terbaik dan segmen anterior.anamnesis

MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT

Laki-laki 41 Tahun dengan Endoftalmitis Eksogen Pasca Trauma pada Mata Kiri

ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG LAPORAN KASUS CORPUS ALIENUM. Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

ENTROPION PADA KUCING

BAB I PENDAHULUAN. hilangnya serat saraf optik (Olver dan Cassidy, 2005). Pada glaukoma akan terdapat

Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ

BAB 1 PENDAHULUAN. memulihkan fungsi fisik secara optimal(journal The American Physical

Tatalaksana Endoftalmitis et Kausa Perforasi Kornea pada Laki-laki Usia 40 Tahun

KMN Klinik Mata Nusantara

The Incidence of Conjunctivitis in Rural Hospital Compared with Urban Hospital 1 January-31 December 2013

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan di apotek Mega Farma Kota Gorontalo pada tanggal

BAB III CARA PEMERIKSAAN

DEFINISI BRONKITIS. suatu proses inflamasi pada pipa. bronkus

Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?

PENATALAKSANAAN PADA PASIEN ULKUS KORNEA DENGAN PROLAPS IRIS OCULI SINISTRA

PEMERIKSAAN MATA I. Tujuan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. penyakit. Lensa menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu, dan. telah terjadi katarak senile sebesar 42%, pada kelompok usia 65-74

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah. mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan pada mukosa hidung

Famili : Picornaviridae Genus : Rhinovirus Spesies: Human Rhinovirus A Human Rhinovirus B

Mata: kenali kondisi umum sakit Mata

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN

PROFIL GLAUKOMA SEKUNDER AKIBAT KATARAK SENILIS PRE OPERASI DI RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2011 DESEMBER 2011

ACUTE GLAUCOMA ON RIGHT EYE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TATALAKSANA TRAUMA PADA MATA No.Dokumen No. Revisi 00

BAB 1 PENDAHULUAN. diperantarai oleh lg E. Rinitis alergi dapat terjadi karena sistem

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki efek yang kuat dalam menurunkan tekanan intraokular (TIO)

MODUL SISTEM INDRA KHUSUS

BAB I PENDAHULUAN. Keluhan rasa tidak nyaman pada mata merupakan keluhan yang paling sering

BAB II KAJIAN PUSTAKA. sesuatu seperti yang dilakukan oleh manusia.

ADHIM SETIADIANSYAH Pembimbing : dr. HJ. SUGINEM MUDJIANTORO, Sp.Rad FAKULTAS KEDOKTERAN UNIV. MUHAMMADIYAH JAKARTA S t a s e R a d i o l o g i, R u

Data Administrasi diisi oleh Nama: NPM/NIP:

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang ditunjukkan setelah pasien

MODUL PROBLEM BASED LEARNING KELAS REGULER SISTEM INDRA KHUSUS

PORTFOLIO. 2. Riwayat Pengobatan Pasien sudah sempat berobat ke dokter, kemudian diberikan obat (yang pasien tidak tahu namanya).

Pengkajian Sistem Penglihatan. Maryunis, S.Kep, Ns., M.Kes.

1. Sklera Berfungsi untuk mempertahankan mata agar tetap lembab. 2. Kornea (selaput bening) Pada bagian depan sklera terdapat selaput yang transparan

LAPORAN KASUS BEDAH SEORANG PRIA 34 TAHUN DENGAN TUMOR REGIO COLLI DEXTRA ET SINISTRA DAN TUMOR REGIO THORAX ANTERIOR

ASUHAN KEBIDANAN PADA An. E USIA 8 TAHUN DENGAN VARICELLA. Nur Hasanah* dan Heti Latifah** ABSTRAK

ANALISIS PERBANDINGAN HASIL ANTARA METODE CERTAINTY FACTOR DAN METODE DEMPSTER SHAFER DALAM SISTEM PAKAR SKRIPSI LENI ARDILA

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

Definisi Bell s palsy

Gejala Penyakit CAMPAK Hari 1-3 : Demam tinggi. Mata merah dan sakit bila kena cahaya. Anak batuk pilek Mungkin dengan muntah atau diare.

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

KESEHATAN MATA DAN TELINGA

THT CHECKLIST PX.TELINGA

Abstrak Kata kunci: Retinopati Diabetik, Laser Fotokoagulasi, Injeksi Intravitreal Anti VEGF.

MATA visus 6/9 injeksi siliar keratic presipitate dan tyndall effect d. Iridosiklitis uveitis anterior e. segera

Visus adalah ketajaman penglihatan. Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan untuk melihat ketajaman penglihatan.

I. BIODATA IDENTITAS PASIEN. Jenis Kelamin : Laki - laki. Status Perkawinan : Menikah

Mengapa Kita Batuk? Mengapa Kita Batuk ~ 1

Jika tidak terjadi komplikasi, penyembuhan memakan waktu 2 5 hari dimana pasien sembuh dalam 1 minggu.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

PREVALENSI GEJALA RINITIS ALERGI DI KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ANGKATAN

Kaviti hidung membuka di anterior melalui lubang hidung. Posterior, kaviti ini berhubung dengan farinks melalui pembukaan hidung internal.

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B

Transkripsi:

Oculi Dextra Conjunctivitis ec. Suspect Viral Lovensia Faculty of Medicine, Lampung University Abstract Conjunctivitis is an inflammation of the conjunctiva caused by microorganisms (viruses, bacteria), irritation or allergic reaction characterized by red eyes, pain, watery, itchy, out dirt and blurred vision. Conjunctivitis is a common virus that cause is adenovirus. A women, 57 years old, came with red on the right eye since 4 days ago, accompanied by pain, swelling in the upper eyelid and itchy. History of trauma or foreign bodies intruding previously denied.physical examination revealed good general condition, blood pressure 120/80 mmhg, pulse 80 x/minute, respiration 16 x/minute, the status of generalists found no abnormalities. Ophthalmological status oculi dextra obtained visual acuity 6/6, palpebrae superior: minimal edema, no spasm, bulbus oculi ortoforia, conjungtiva bulbi hyperemia (+), conjungtiva fornices hyperemia (+), conjungtiva palpebral hyperemia (+), iris crypts (+) brown, light reflex (+). Patien twas diagnosed as conjunctivitis oculi dextra ec. suspect viral, the management of non-medical education is done in order to protect the eyes from sunlight, dust, and air dried, and medically is to give antibiotic eye drops and anti-inflammatory that is Xitrol 3 times a day. The patient's prognosis is generally good. Patients with a red right eye was diagnosed as conjunctivitis oculi dextra ec.suspected viral and pharmacological therapy Xitrol eye drop 3 times a day Keywords: viral conjuvtivitis, oculi dextra,xitrol, woman Abstrak Konjungtivitis adalah radang konjungtiva disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri), iritasi atau reaksi alergi yang ditandai dengan mata merah, terasa nyeri, berair, gatal, keluar kotoran dan pandangan kabur. Konjungtivitis virus adalah umum ditemukan yang penyebabnya adalah adenovirus.wanita usia 57 tahun, datang dengan keluhan merah pada mata kanan sejak 4 hari lalu, disertai rasa nyeri, bengkak pada kelopak mata bagian atas dan gatal.riwayat trauma maupun kemasukan benda asing sebelumnya disangkal. Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, tekanandarah120/80 mmhg, nadi 80 x/menit, pernafasan 16 x/menit, pada status generalis tidak didapatkan kelainan. Status oftalmologis oculi dextra didapatkan visus 6/6, palpebra superior: edem minimal, tidak ada spasme, bulbus oculi ortoforia, conjungtiva bulbi hiperemi (+), conjungtiva fornices hiperemi (+), conjungtiva palpebra hiperemi (+), iris kripta (+) berwarna coklat, refleks cahaya (+). Pasien didiagnosis sebagai konjungtivitis oculi dextra ec suspek viral, dengan penatalaksanaan secara non-medikamentosa dilakukan edukasi agar lindungi mata dari sinar matahari, debu, dan udara kering, dan secara medikamentosa yaitu dengan memberikan obat tetes mata antiobiotik dan antiinflamasi yaitu Xitrol 3 kali sehari. Prognosis pasien ini secara umum baik. Pasien dengan mata kanan merah didiagnosis sebagai konjungtivitis oculi dextra ec. suspek viral dan mendapatkan terapi farmakologi Xitrol eye drop 3 kali sehari. Kata kunci: konjungtivitis viral, oculi dextra, xitrol, wanita... Korespondensi :Lovensia lovensiatia@rocketmail.com 168

Pendahuluan Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebra) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak mata (persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus. Konjungtiva mengandung kelejar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea. 1,2 kasus konjungtivitis penyebabnya adalah virus terutama adenovirus. 12,13 Sedangkan di Asia Timur, adenovirus dapat diisolasi dari 91,2% kasus yang didiagnosa keratokonjungtivitis epidemik.lebih dari 50 serotipe adenovirus yang telah diidentifikasi dan terbagi menjadi 6 subkelompok. 14,15 Gambar 2.Konjungtivitis viral Gambar 1. Anatomi normal konjungtiva Konjungtivitis ( pink eye) adalah radang konjungtiva yang dapat disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri), iritasi atau reaksi alergi. 3,4,5,6,7,8,9 Ditandai dengan mata merah, terasa nyeri, berair, gatal, keluar kotoran ( belekan) dan pandangan kabur. 10 Umumnya penderita konjungtivitis mengalami pembengkakkan kelopak mata dikarenakan struktur dibawah kelopak mata memiliki jaringan yang lemah dan membentuk lekukan serta kaya akan pembuluh darah. 11 Konjungtivitis virus adalah penyakit mata yang umum ditemukan baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Karena begitu umum dan banyak kasus yang tidak dibawa ke perhatian medis, statistik yang akurat pada frekuensi penyakit tidak tersedia. Pada penelitian di Philadelphia, 62% dari Keratokonjungtivitis epidemik berhubungan dengan adenovirus serotipe 8, 19 and 37. 16,17,18 Infeksi virus sering terjadi pada epidemi dalam keluarga, sekolah, kantor, dan organisasi militer. 19 Konjungtivitis juga salah satu penyakit mata yang paling umum di Nigeria bagian timur, dengan insidens rate yaitu 32,9% dari 949 kunjungan di Departemen Mata Aba Metropolis, Nigeria, pada tahun 2004 hingga 2006. 20 Faktor risiko predisposisi diantaranya adanya riwayat kedinginan atau infeksi saluran napas bagian atas, higienitas kurang, kontak dengan orang yang terinfeksi dalam lingkungan yang ramai, dan penularan virus dari tangan atau instrument kontak (contoh prisma tonometer). 21 Onset konjungtivitis viral secara cepat dapat terjadi pada pasien, namun pada kenyataannya ada periode inkubasi sekitar satu minggu sebelum gejala klinis muncul. 22 Konjungtivitis 169

virus biasanya mengenai satu mata. Pada konjungtivitis ini, mata sangat berair. Kotoran mata ada, namun biasanya sedikit. Konjungtivitis bakteri biasanya mengenai kedua mata. Ciri khasnya adalah keluar kotoran mata dalam jumlah banyak, berwarna kuning kehijauan. Konjungtivitis alergi juga mengenai kedua mata. Tandanya, selain mata berwarna merah, mata juga akan terasa gatal. Gatal ini juga seringkali dirasakan dihidung. Produksi air mata juga berlebihan sehingga mata sangat berair. Konjungtivitis papiler raksasa adalah konjungtivitis yang disebabkan oleh intoleransi mata terhadap lensa kontak. Biasanya mengenai kedua mata, terasa gatal, banyak kotoran mata, air mata berlebih, dan kadang muncul benjolan di kelopak mata. Konjungtivitis virus biasanya tidak diobati, karena akan sembuh sendiri dalam beberapa hari. Walaupun demikian, beberapa dokter tetap akan memberikan larutan astringen agar mata senantiasa bersih sehingga infeksi sekunder oleh bakteri tidak terjadi dan air mata buatan untuk mengatasi kekeringan dan rasa tidak nyaman di mata. 2,3 Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa tidak ada pengobatan yang efektif untuk infeksi adenovirus, namun air mata buatan, antihistamin topikal, kompres air dingin mungkin dapat mengurangi gejala. 23 Selain itu dibutuhkan cuci tangan secara berkala dan menggunakan handuk serta alat kosmetik secara sendiri-sendiri untuk mencegah penularan. 24,25 Pasien harus dirujuk ke spesialis mata jika gejala tidak berkurang setelah 7-10 hari dikarenakan risiko komplikasinya. 26 Kasus Pasien perempuan berusia 57 tahun, seorang pensiunan PNS (Pegawai Negri Sipil) datang dengan keluhan merah pada mata kanannya sejak 4 hari yang lalu, disertai rasa nyeri. Pasien mengaku awalnya mata kanannya hanya merah sedikit yang makin hari dirasa semakin merah dan nyeri, namun keluhan ini tidak dirasakan pada mata kirinya. Pasien juga mengeluh mata kanannya keluar kotoran sejak 4 hari yang lalu. Pasien mengatakan kotoran terasa sangat banyak pada mata kanan pada pagi hari. Kotoran tersebut dikatakan sering keluar dengan cairan berwarna bening, pasien juga mengatakan penglihatan pada mata kanan sedikit kabur. Selain itu, pasien juga mengeluhkan bengkak pada kelopak mata bagian atas sejak 4 hari yang lalu. Bengkak dirasakan terus menerus dan disertai sedikit rasa gatal. Keluhan nyeri, mata silau dan penglihatan kabur pada mata kiri disangkal oleh pasien. Riwayat trauma maupun kemasukan benda asing sebelumnya disangkal. Pasien juga mengatakan tidak pernah sakit mata seperti ini sebelumnya. Riwayat asma serta alergi disangkal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, compos mentis, tekanan darah120/80 mmhg, nadi 80 x/menit, pernafasan 16 x/menit, pada status generalis tidak didapatkan kelainan. Pada status oftalmologis oculi dextra didapatkan visus 6/6, palpebra superior: edem minimal, tidak ada spasme, palpebra inferior: tidak edem, tidak ada spasme, gerak bola mata baik ke segala arah, bulbus oculi ortoforia, eksoftalmus ( -) endoftalmus ( -), konjungtiva bulbi 170

hiperemi (+), konjungtiva fornixhiperemi (+), konjungtiva palpebra hiperemi (+), sikatrik (-), sklera siliar injeksi (-), kornea jernih infiltrat (- ) ulkus ( -), kamera oculi anterior kedalaman cukup, bening, iris kripta (+) berwarna coklat, pupil bulat, regular, sentral, ± 3 mm, refleks cahaya (+), lensa jernih, tensio oculi dalam batas normal, sistem kanalis lakrimalis diperiksa secara digital normal. Diagnosis kerja pada pasien adalah OD Konjungtivitis ec susp viral, dengan penatalaksanaan secara nonmedikamentosa dilakukan edukasi agar lindungi mata dari sinar matahari, debu, dan udara kering, dan secara medikamentosa yaitu dengan memberikan obat tetes mata Antiobiotik dan antiinflamasi 3 kali sehari. Obat tetes mata yg digunakan adalah Xitrol yang mengandung deksametason 0,1%, neomisina 3,5 mg, dan polimiksina 6000 IU. Prognosis pasien ini secara umum baik. Pembahasan Keluhan penderita yaitu mata kanan kemerahan disertai rasa nyeri, keluar kotoran serta cairan berwarna bening sehingga penglihatan pasien sedikit terganggu, kelopak mata kanan bagian atas sedikit bengkak, dan terasa sedikit gatal. Kemerahan pada mata merupakan tanda dari berbagai penyakit mata, sehingga untuk membedakannya perlu dilihat gejala lainnya. Pada pasien ini terdapat kotoran berwarna bening yang keluar terus menerus, hal ini mengarah ke penyakit konjungtivitis. Keluarnya kotoran dari mata disebabkan adanya peradangan pada bagian konjungtiva dari mata, dimana pada konjungtiva terdapat banyak kelenjar. Infeksi konjungtiva menyebabkan terjadi hipersekresi dari kelenjar tersebut. Untuk penyebab dari infeksi tersebut, pada pasien ini lebih mengarah ke konjungtivitis viral dilihat dari warna kotoran yang bening. Pada konjungtivitis bakteri, sekret biasanya berwarna kuning, kental dan biasa keluar dalam jumlah besar sehingga mata agak sulit dibuka. Sedangkan konjungtivitis alergi, biasanya pasien memiliki riwayat atopi atau alergi pada keluarga, serta ada pajanan terhadap alergen sebelum muncul gejala. Beberapa penyebab mata merah seperti keratitis, uveitis, dan glaukoma akut bisa dibedakan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada keratitis, pasien biasanya mengeluhkan mata silau, mata kabur, nyeri serta sulit untuk membuka mata. Gejala tersebut tidak terdapat pada pasien ini. Selain itu dari pemeriksaan fisik, biasanya terlihat infiltrat pada kornea, peri corneal vascular injection (PCVI), edema kornea dan bisa tampak ulkus pada kornea pasien. Sedangkan pada uveitis, pasien juga bisa mengeluhkan nyeri pada mata, mata merah, dan dari pemeriksaan fisik bisa tampak miosis dan hipopion. Dan pada glaukoma, pasien mengeluhkan nyeri hebat pada mata disertai mual muntah, dan penurunan penglihatan. Dari pemeriksaan fisik, tampak bilik mata depan dangkal serta tekanan bola mata yang meningkat. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik penderita ini memenuhi kriteria diagnosis konjungtivitis yang disebabkan oleh viral. Pada konjungtivitis didapatkan hiperemia pada daerah konjungtiva palpebra dan konjungtiva bulbi. Selain itu terdapat pula edema minimal pada 171

palpebra serta conjunctival vascular injection (CVI) pada konjungtiva bulbi. Tanda tanda tersebut menunjukkan konjungtivitis. Sedangkan untuk perbedaan jenis penyebab, dapat dilihat dari gejala dan tanda seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pada konjungtivitis alergi, bisa ditemukan cobblestone appearance pada konjungtiva palpebra serta trantas dots pada daerah perilimbu. Pengobatan yang diberikan pada penderita ini adalah obat tetes mata berupa antibiotik dan antiinflamasi untuk membantu proses penyembuhan. Prognosis pada penderita ini baik, didukung oleh kepustakaan yang mengatakan bahwa kebanyakan kasus konjungtivitis viral dapat sembuh sendiri tanpa diberikan terapi. Komplikasi dari penyakit ini juga tidak sering terjadi. Namun perlu diperhatikan pencegahan agar tidak menular kepada orang lain mengingat angka penularannya cukup tinggi. Simpulan Pasien wanita berusia 57 tahun didiagnosis sebagai konjungtivitis oculi dextra ec. suspek viral dan diberi tatalaksana non-medikamentosa berupa edukasi cuci tangan secara berkala dan menggunakan handuk serta alat kosmetik secara sendirisendiri untuk mencegah penularan, edukasi agar lindungi mata dari sinar matahari, debu, dan udara kering. Secara medikamentosa adalah memberikan obat tetes mata Antiobiotik dan antiinflamasi Xitrol 3 kali sehari. Daftar Pustaka 1. Garcia-Ferrer FJ, Schwab IR, Shetlar DJ. Conjunctiva. In: Riordan-Eva P, WhitcherJP, editors. Vaughan &Asburry s General Opthalmology 17 th edition. USA: McGraw-Hill Companies. 2010. p108-112 2. Ilyas S. IlmuPenyakit Mata. Jakarta: FakultasKedokteranUniversitas Indonesia. 2005. p128-131 3. American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea Section 11. San Fransisco: MD Association; 2006. 4. Ikatan Dokter Indonesia. Buku Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter Pelayanan Primer Edisi 1. Jakarta: IDI; 2013. 5. James Brus, et al. Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta: Erlangga. 2005. 6. Mark B and Lauren Lilyestrom. Ocular Encounters of The Viral Kind [Internet]. [Place unknown]: Review of Ophthalmology; 2007 [cited 2014 July 23]. Available from:http://www.revophth.com/content/ d/therapeutic_topics/i/1295/c/24938/. 7. Sambursky RP, Fram N, Cohen EJ. The prevalence of adenoviral conjunctivitis at the Wills Eye Hospital emergency room. Optometry. 2007; 78:236-9. 8. Jin X, Ishiko H, Ha NT, etal. Molecular epidemiology of adenoviral conjunctivitis in Hanoi, Vietnam. Am J Ophthalmol. 2006; 142:1064-6. 9. Sambursky R, Tauber S, Schirra F, etal. The RPS Adeno Detector for diagnosing adenoviral conjunctivitis. Ophthalmology. 2006; 113:1758-64. 10. Gondhowiardjo, TD Simanjuntak. Panduan Manajemen Klinis Perdami 1 th. Jakarta: CV Ondo.2006. 11. Khurana AK, editor. Disease of The Conjunctiva. Comprehensive Ophtalmology 4 th. New Delhi. 2010. 12. Hampton Roy, editor.viral Conjunctivitis[Internet]. [Place unknown]: Medscape; 2011 [cited 2014 July 23]. Available from:http://emedicine.medscape.com/art icle/1191370-overview. 13. Centers for Disease Control and Prevention. Viral Conjunctivitis [Internet]. [Place unknown]: CDC; 2014 [cited 2014 July 23]. Available from:http://www.cdc.gov/conjunctivitis/cl inical.html. 14. Butt AL, Chodosh J. Adenoviral keratoconjunctivitis in a tertiary care eye clinic. Cornea. 2006; 25:199-202. 172

15. Lenaerts L, De Clercq E, Naesens L. Clinical features and treatment of adenovirus infections. Rev Med Virol. 2008; 18:357-74. 16. Rajaiya J, Chodosh J. New paradigms in infectious eye disease: adenoviral keratoconjunctivitis. Arch SocEspOftalmol. 2006; 81:493-8. 17. Lenaerts L, Naesens L. Antiviral therapy for adenovirus infections. Antiviral Res. 2006; 17:172-80. 18. Kinchington PR, Romanowski EG, Gordon YJ. Prospects for adenoviral antivirals. J AntimicrobChemother. 2005; 55:424-9. 19. Scott, IU. Viral Conjunctivitis [Internet]. [Place unknown]: Medscape; 2011. Available from:http://emedicine. medscape.com/article/1191370- overview#showall. 20. Amadi, A., et al.common Ocular Problems in Aba metropolis of Albia State, Eastern Nigeria. Federal Medical Center Owerri [Internet].2009; 6(1):32-35 21. Paramdeep Bilkhu, Shehzad Naroo, James Wolffsohn. Infectious Conjunctivitis. Ot Cet Continuing Education & Training. 2013. 22. Kaufman HE. Adenovirus advances: new diagnostic and therapeutic options. CurrOpinOphthalmol. 2011; 22:290-3. 23. American Academy of Ophthalmology. Preferred Practice Guidelines. Conjuctivitis. San Francisco. 2013. 24. Lakkis C, Lian KY, Napper G, etal. Infection control guidelines for optometrists 2007. ClinExpOptom. 2007; 6:434-44. 25. Diane Callahan. Conjunctivitis [Internet]. [Place unknown]: Digital Journal of ophthalmology; 2014 [cited 2014 July 23]. Available from:http://www.djo.harvard.edu/site.ph p?url=/patients/pi/410. 26. Amir A. Azari, MD; Neal P. Barney, MD. Conjuctivitis a systematic review of diagnosis and treatment. JAMA, 2013. 173