BAB III BAHAN DAN METODE

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III BAHAN DAN METODE

Lampiran 1 Skema Prosedur Pembuatan Preparat Histologi Skema langkah-langkah pengujian histologi secara garis besar adalah sebagai berikut:

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III METODE PENELITIAN. kegiatan pengumpulan dan analisis data yang bertujuan untuk menggambarkan

SNI Standar Nasional Indonesia

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni-Juli 2013 di Unit Pelaksanaan

Air dan air limbah Bagian 8: Cara uji timbal (Pb) dengan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)-nyala

III. METODOLOGI PENELITIAN

III MATERI DAN METODE PENELITIAN. 1. Feses sapi potong segar sebanyak 5 gram/sampel. 2. Sludge biogas sebanyak 5 gram/sampel.

Udara ambien Bagian 4: Cara uji kadar timbal (Pb) dengan metoda dekstruksi basah menggunakan spektrofotometer serapan atom

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE

Lampiran 1 Prosedur Pembuatan Preparat Histologi

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bersifat eksploratif, untuk mengetahui tingkat pencemaran

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel dalam penelitian ini diambil di Instalasi PDAM dan di rumah

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Bahan dan Alat Penelitian 3.3 Metode Penelitian

Air dan air limbah Bagian 4: Cara uji besi (Fe) secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) nyala

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2013 di Balai Besar

Lampiran 1. Prosedur kerja analisa bahan organik total (TOM) (SNI )

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

II. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian dibagi menjadi lokasi pengambilan sampel dan lokasi

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari Bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2015

identifikasi masalah sampling ekstraksi AAS analisis data

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Oktober 2011,

III. METODOLOGI PENELITIAN di Laboratorium Kimia Analitik dan Kimia Anorganik Jurusan Kimia

Bab III Bahan dan Metode

II. METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Instrumen Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2013 di Balai Besar

III. METODOLOGI PERCOBAAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 sampai Juni 2015 di

Lampiran 1. Prosedur Analisis

LAPORAN PRAKTIKUM. : Histoteknik : Selly Oktaria Tanggal Praktikum : 14 September 2012

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimen karena pada penelitian

Air dan air limbah Bagian 6: Cara uji tembaga (Cu) secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) nyala

Air dan air limbah Bagian 16: Cara uji kadmium (Cd) secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) nyala

BAB III METODE PENELITIAN. Sampel air diambil di Kost Kuning Jalan Pangeran Hidayat Kelurahan. Heledulaa Utara Kecamatan Kota Timur.

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2011

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret Juli 2015 di Laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan

II. METODE PENELITIAN

Air dan air limbah Bagian 7: Cara uji seng (Zn) secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) nyala

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Bahan Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. dengan 12 Oktober 2013 di Laboraturium Unit Pelayanan Teknis (UPT)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODE DAN BAHAN PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai Mei 2013 yang

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Pengambilan Sampel

Air dan air limbah Bagian 8: Cara uji timbal (Pb) secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) nyala

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. waterbath, set alat sentrifugase, set alat Kjedalh, AAS, oven dan autoklap, ph

Air dan air limbah Bagian 69: Cara uji kalium (K) s e c a r a S p e k t r o f o t o m e t r i Ser a p a n A t o m ( S S A ) n y a l a

MATERI DAN METODE PENELITIAN

A = berat cawan dan sampel awal (g) B = berat cawan dan sampel yang telah dikeringkan (g) C = berat sampel (g)

Lampiran 1. Prosedur Analisis Pati Sagu

BAB III METODE PENELITIAN. terdiri atas 5 perlakuan dengan 3 ulangan yang terdiri dari:

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Kota Gorontalo.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. - Spektrofotometri Serapan Atom AA-6300 Shimadzu. - Alat-alat gelas pyrex. - Pipet volume pyrex. - Hot Plate Fisons

Lampiran 1. Prosedur analisis karakteristik kompos

Lampiran 1. Prosedur Analisis Morfometrik Mikro Ileum Itik Cihateup Menggunakan Metode Paraffin Haemotoksilin Eosin

BAB III METODE PENELITIAN. dan 1 kontrol terhadap ikan nila (O. niloticus). bulan, berukuran 4-7 cm, dan berat gram.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif yaitu

BAB III METODE PENELITIAN. digunakan dalam penelitian ini yaitu tikus putih (Rattus norvegicus) Penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS

METODE. Materi. Rancangan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Juli 2014 di

Lampiran 1. Rumus konversi dalam pembuatan media

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan empat ulangan.hewan

Laporan Praktikum Histotehnik. Oleh: Lucia Aktalina. Jum at, 14 September WIB

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan. menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan 5

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini berlangsung selama bulan Oktober sampai Desember 2013.

BAB III METODE PENELITIAN. kuantitatif. Menurut Sugiyono (2013) Penelitian deskriptif kuantitatif bertujuan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Tanah Balai Penelitian

bio.unsoed.ac.id MATERI DAN METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN. Lampung untuk pemeliharaan dan pemberian perlakuan pada mencit dan

Lampiran 1. Gambar Sampel Sayur Sawi

BAB III METODE PENELITIAN. rancangan penelitian yang digunakan adalah acak lengkap dengan lima kelompok,

dimana a = bobot sampel awal (g); dan b = bobot abu (g)

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Kecamatan Kota Tengah Kota Gorontalo, karena di

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif bertujuan untuk

BAB III METODE PENELITIAN. penambahan Chlorella sp. dan waktu kontak) dan empat kali ulangan untuk masingmasing

LAPORAN PRAKTIKUM HISTOTEKNIK DASAR

PENYEHATAN MAKANAN MINUMAN A

Transkripsi:

BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2013 di Waduk Saguling Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat. Analisis logam berat dalam air dan organ serta pembuatan preparat histologi dilakukan di PPSDAL Unpad, Jurusan Kimia dan Jurusan Biologi Fakultas MIPA Unpad serta pengamatan preparat di Balai Uji Standar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BUSKIPM) Jakarta Timur. 3.2 Bahan dan Alat Penelitian. 3.2.1 Bahan Penelitian a. Ikan Uji Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan patin (Pangasius sp) yang di tangkap langsung dari tiga stasiun di waduk Saguling dan stasiun pembanding di ambil dari kolam budidaya Cijengkol Subang. Ikan Patin yang digunakan untuk penelitian ini yaitu sebanyak 12 ekor, dengan ukuran kisaran 20cm, 30cm, dan 40cm. setiap ukuran diambil 1 ekor ikan yang mewakili stasiunnya masing-masing. b. Bahan Untuk Analisis Histopatologi 1. Albumin Mayer yang terdiri dari Albumin dan Gliserin berfungsi untuk merekatkan jaringan. 2. Alkohol (etanol) berfungsi untuk mengurangi kadar air dalam jaringan atau Dehidrasi. 3. Aquades digunakan untuk pencucian jaringan. 4. Bouin yang terdiri dari Asam Fikrat, Asam Asetat Glacial dan formalin sebagai larutan fiksatif untuk merendam organ sehingga tidak rusak. 5. Entellen digunakan untuk penempelan objek glass dengan cover glass. 6. Eosin digunakan untuk proses pewarnaan jaringan menjadi warna merah muda pada sitoplasma. 26

27 7. Hematoksilin digunakan untuk proses pewarnaan jaringan menjadi warna biru pada nukleus. 8. NaCl fisiologis untuk membersihkan darah pada organ 9. Paraffin berfungsi untuk pengisian jaringan atau Infiltrasi. 10. Xylene berfungsi untuk menghilangkan alkohol pada jaringan atau Clearing (Lampiran 1). c. Bahan Analisis Logam Berat pada Air. Bahan yang digunakan untuk analisis logam berat Pb dan Cd adalah air suling, asam nitrat (HNO 3 ) pekat, HCl, larutan standar logam Pb dan Cd, dan gas asetilen (C 2 H 2 ) (Lampiran 2). d. Bahan Analisis Logam Berat pada Organ. Bahan kimia yang digunakan untuk analisis logam berat yang terakumulasi dalam organ ikan Patin yaitu aquades untuk proses pengenceran dan HNO 3 6,5% digunakan untuk melarutkan logam berat di dalam organ Insang, Hati dan Daging ikan Patin (Lampiran 3). 3.2.2 Alat-alat Penelitian. a. Alat yang Digunakan dalam Pengambilan Sampel Ikan Patin dan Organ Insang, Hati dan Daging. Box sterofoam digunakan untuk membewa sampel ikan Gunting bedah digunakan untuk memisahkan organ insang, hati dan daging dari ikan patin. Pancing untuk menangkap ikan Patin. Pinset digunakan untuk mengambil organ insang, hati dan daging. Pisau digunakan untuk memfilet daging ikan patin. Plastik digunakan untuk membawa sampel ikan patin. Suntikan untuk menyemprotkan NaCl fisiologis dan larutan boang. Tabung oksigen digunakan untuk memasok oksigen untuk ikan yang akan di packing (Lampiran 4).

28 b. Alat yang Digunakan dalam Pengukuran Kualitas Air dan Logam Berat. Botol 300 ml dan cool box untuk menyimpan semple air Peralatan gelas untuk analisis kadar Pb dan Cd Kertas saring untuk menyaring sample air DO meter untuk mengukur kadar oksigen terlarut Thermometer untuk mengukur suhu air ph meter untuk mengukur ph air Seperangkat alat Atomi Absorpsi Spectrometry (AAS) untuk mengatur kandungan logam Pb dan Cd pada sample air (AAS; lampu holow katoda Pb dan Cd; gelas piala 250 ml; pipet ukur 2 ml; 5 ml; 10 ml; 20 ml; 30 ml; 40 ml dan 50 ml; labu ukur 100 ml; corong gelas; erlenmeyer; pemanas listrik; kertas saring whatman 40, dengan ukuran pori θ 0.42 µm; dan labu semprot) (Lampiran 5). c. Alat yang Digunakan dalam Pembuatan Preparat Histologi Organ Ikan Patin. Botol film digunakan untuk menyimpan sampel organ insang, hati dan daging. Cawan Pewarnaan digunakan pada proses pewarnaan jaringan. Hot plate digunakan untuk memanaskan objek glass. Jara digunakan untuk merentangkan sayatan organ. Kotak organ digunakan untuk proses pencetakan blok paraffin. Kotak preparat digunakan untuk menyimpan preparat yang telah jadi. Label digunakan untuk mengkode preparat. Mikroskop untuk pengamatan preparat histologi Mikrotom untuk memotong blok paraffin Objek glass dan cover glass untuk membuat preparat Oven digunakan untuk menyimpan paraffin. Petri disk digunakan untuk tempat pengisian paraffin.

29 Pinset digunakan untuk memindahkan organ. Pisau bedah digunakan untuk memotong organ. Spidol digunakan untuk menandai wadah sampel organ. Stopwatch digunakan untuk pengingat waktu. Talenan untuk tempat memotong organ (Lampiran 6) d. Alat yang Digunakan dalam Analisis Logam Berat pada Organ Ikan Patin. Batang pengaduk digunakan untuk mengaduk organ dengan larutan agar tercampur. Blub pipet dan pipet 10ml merk iwaki pyrex digunakan untuk mengambil larutan HNO 3 6,5%. Botol film digunakan untuk menyimpan sampel organ insang, hati dan daging segar. Cawan keramik digunakan untuk menyimpan organ untuk diabukan. Corong digunakan untuk memasukan larutan. Crush tank digunakan untuk mengambil cawan Frezzer digunakan untuk membekukan organ agar tidak busuk. Hot plate digunakan untuk mereaksikan larutan HNO 3 dengan organ Kertas saring digunakan untuk memisahkan larutan dengan ampas organ. Labu ukur 50 ml (merk iwaki pyrex) digunakan untuk menghomogenkan larutan. Pisau digunakan untuk memotong organ. Plastik digunakan untuk menyimpan larutan yang akan di AAS Seperangkat alat Atomic Absorption Spectrometry (AAS) untuk mengukur kandungan logam berat dalam insang, hati dan daging. Spidol digunakan untuk menandai wadah sampel organ. Talenan untuk tempat memotong organ. Tanur (merk camsco) untuk mengabukan sampel

30 Timbangan analitik (merk mettle tuledo) dengan ketelitian 0,0001 g untuk menimbang sempel organ ikan (Lampiran 7). e. Alat Pendukung Penelitian. Alat tulis digunakan untuk mencatat. Kamera digital sebagai alat dokumentasi. 3.3 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode survei, sampel ikan diambil dari 3 stasiun di waduk Saguling dan ikan pembanding didapatkan dari kolam budidaya Cijengkol Subang. Lokasi pengambilan sampel di Waduk Saguling (Gambar 6), yaitu : Stasiun 1 : Maroko, merupakan daerah perikanan yang menjadi pintu masuk air dari sungai Citarum ke Waduk Saguling. Stasiun 2: Ciminyak, merupakan perairan yang dimungkinkan memiliki sedimentasi paling tinggi karena sebagai pusat KJA. Stasiun 3 : Pintu Air, merupakan pengeluaran air dari dalam waduk Saguling yang akan mengalir kembali ke Sungai Citarum. Gambar 6. Stasiun Pengambilan Sampel Ikan di Waduk Saguling. (Sumber : PLTA Waduk Saguling)

31 Stasiun 4 : Kolam Budidaya Cijengkol Subang, yang merupakan stasiun pembanding. 3.4 Prosedur Penelitian. 3.4.1 Pengukuran Kualitas Air Parameter kualitas air yang di ukur dalam penelitian ini adalah DO, suhu, ph dan Logam Pb dan Cd. Sampel air permukaan diambil dari tiga stasiun penelitian di waduk Saguling dengan dua kali ulangan, air permukaan kemudian di masukan ke dalam botol 300 ml yang telah di beri asam HNO 3 kemudian sampel air dimasukan ke laboratorium untuk di uji AAS (Tabel 5). Tabel 5. Parameter Kualitas Air dan Metode Analisis. Parameter Satuan Metode Pengukuran Alat Lokasi Fisika Kimiawi Suhu 0 C Potensitometrik Thermometer Insitu DO mg/l Potensitometrik DO meter In situ ph - Potensitometrik ph meter In situ Logam Berat Pb Cd mg/l mg/l AAS AAS AAS AAS (Sumber: Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, dalam Rachmadi, 2012) Laboraturium Laboratorium 4.4.2 Pengambilan Sampel Ikan Patin. Sampel ikan Patin diambil dari empat stasiun penelitian, ikan patin yang diambil sebanyak 1 ekor untuk pengujian histopatologi dan untuk pengamatan logam berat. Ikan patin diambil dari alam dengan cara dipancing, ikan yang dijadikan sampel penelitian adalah ikan yang berukuran panjang total 20 cm, 30 cm, dan 40 cm masing- masing sebanyak satu ekor. Ikan patin yang tertangkap kemudian diukur panjang total serta bobot tubuh, setelah itu dibedah di lapangan kemudian organ insang, hati dan daging di bawa ke laboratorium untuk selanjutnya diuji histologi dan AAS.

32 3.4.3 Pengukuran Logam Berat Pb dan Cd. a. Air. Sampel air yang didapat dari setiap stasiun diawetkan dengan cara di tambahkan HNO 3 pekat hingga ph mencapai 2 untuk kemudian dianalisis kandungan logam Pb dan Cd dilaboratorium. Pengukuran logam Pb dan Cd pada sampel air dilakukan dengan menggunakan metode spektofotometri serapan atom (SSA)-nyala dengan dua kali pengulangan. Posedur pengukuran kadar Pb dan Cd pada sampel air mengacu SNI No. 06-6596-2001 tentang perlakuan contoh air untuk analisis logam (pengukuran kadar logam total) dengan spektrofotometer serapan atom (SSA): 1) Persiapan contoh uji Sampel Air yang diambil tanpa penyaringan diawetkan dengan HNO 3 pekat sehingga ph mencapai 2. Contoh yang diterima dilaboratorium dikocok sampai homogen, kemudian air diambil menggunakan pipet 25 ml dan masukkan kedalam gelas erlenmeyer. Sampel air tersebut di tambahkan 2,5 ml HNO 3 pekat. Tempatkan di atas pelat pemanas dan panaskan sampai hampir kering. Jaga jangan sampai mendidih. Sampel uji di Dinginkan, kemudian ditambahkan 2,5 ml HNO 3 pekat dan tutup gelas erlenmeyer dengan corong gelas panaskan kembali di atas pelat sampai hampir kering dan warna residu menjadi bening. Sampel uji ditambahkan 1 ml HNO 3 (1:1), kemudian tutup dengan corong gelas dan panaskan dengan api kecil hingga keseluruhan residu larut kembali Dinding gelas erlenmeyer dan corong gelas dibilas dengan aquabidets dan saring larutan contoh dengan kertas saring whatman N0.40. tampung hasil saringan kedalam labu ukur 25 ml. Sampel uji di tambahkan aquabidest sampai tanda batas dan kocok sampai seba sama. Larutan siap untuk dianalisis (Lampiran 8).

33 2) Pembuatan larutan baku logam Timbal dan Kadmium, Pb 100 dan Cd 100 mg/l Larutan induk logam timbal dan kadmium diambil menggunakan pipet 10 ml, kemudian Pb dan Cd 100 mg/l dimasukan ke dalam labu ukur 100 ml. Larutan induk dicampurkan dengan larutan pengencer sampai tanda tera. 3) Pembuatan larutan baku logam Timbal dan Kadmium, Pb 10 mg/l dan Cd 10 mg/l Pipet 50 ml larutan standar logam timbal dan cadmium, Pb dan Cd 100 mg/l ke dalam labu ukur 500 ml. Tepatkan dengan larutan pengencer sampai tanda tera. 4) Pembuatan larutan kerja logam timbal dan kadmium. Masukan larutan ke dalam Pipet 0 ml; 2 ml; 5 ml; 10 ml; 20 ml; 30 ml; 40 ml dan 50 ml larutan baku Timbal dan Kadmium, Pb dan Cd 10 mg/l masing-masing ke dalam labu ukur 100 ml. Larutan di tambahkan larutan pengencer sampai tepat tanda tera sehingga diperoleh konsentrasi logam besi 0,0 mg/l; 0,2 mg/l; 0,5 mg/l; 1,0 mg/l; 2,0 mg/l; 3,0 mg/l ; 4,0 mg/l dan 5,0 mg/l. 5) Prosedur dan pembuatan kurva kalibrasi Alat SSA di optimasi sesuai petunjuk penggunaan alat. Masing-masing larutan kerja yang telah dibuat diukur. Kuat kurva kalibrasi untuk mendapatkan persamaan garis regresi. Contoh uji yang sudah dipersiapkan dan diukur b) Organ Insang, Hati dan Daging Ikan Patin. Prosedur pengukuran logam berat dalam insang, hati dan daging berdasarkan metode Laboratorium Penelitian dan Pelayanan Jurusan Kimia Unpad, sebagai berikut : 1. Sampel insang, hati dan daging ditimbang. 2. Organ ditanur selama 2 jam sampai suhu tanur 300 o C

34 3. Organ yang telah di tanur didiamkan hingga dingin. 4. Larutan HNO 3 6,5% sebanyak 10 ml di masukan ke dalam sampel yang telah di tanur. 5. Sampel di panaskan pada hot plate selama 5 menit. 6. Organ diaduk menggunakan batang pengaduk agar tercampur dengan larutan. 7. Sampel di saring menggunakan kertas saring lalu campurkan aquadesh sampai larutan mencapai 50ml. 8. Siap diukur AAS dengan panjang gelombang untuk Cd 228 dan Pb 283,3nm (Lampiran 9.). Pengukuran logam berat Pb dan Cd pada organ insang, hati, dan daging pada ikan ukuran 20 cm, 30 cm, dan 40 cm, untuk mengetahui perbedaan kandungan akumulasi logam berat Pb dan Cd pada organ ikan Patin (Pangasius sp) dan akan dibandingkan dengan ikan budidaya 3.4.4 Pembuatan dan Pengamatan Preparat Histologi Ikan Patin. Uji histologi terdiri atas beberapa tahap yaitu fiksasi, dehidrasi, clearing, infiltrasi paraffin, embedding paraffin, pembuatan preparat dan pewarnaan H&E. Langkah-langkah pengujian histopatologi menggunakan metode Laboratorium Mikroteknik Hewan Biologi Unpad adalah sebagai berikut: a. Ikan ukuran 20-41 cm di bedah dan diambil bagian insang, hati dan daging. b. Perendaman jaringan dalam larutan Bouin dengan perbandingan 1:3 selama 24 jam (fiksasi) c. Perendaman jaringan dalam alkohol 70%, 80%, 96% masing-masing 30 menit serta alkohol 100% selama 15 menit (dehidrasi) d. Perendaman jaringan dalam larutan alkohol dan xylene dengan perbandingan 3: 1, 1:1, dan 1:3 serta xylene murni selama 5 menit (clearing) e. Perendaman jaringan dalamlarutan xylene dan paraffin dengan perbandingan 3:1, 1:1 dan 1:3 serta paraffin I dan II masing-masing 15menit (infiltrasi paraffin) f. Pencetakan blok paraffin (embedding paraffin)

35 g. Pemotongan blok paraffin menggunakan mikrotom dengan ketebalan 3μm h. Penempelan irisan jaringan pada gelas objek yang telah di beri albumin meyer. i. Perendaman jaringan dalam xylene I dan II masing-masing 10 menit j. Perendaman jaingan dalam alkohol absolut I dan II masin-masing 5 menit k. Perendaman jaringan dalam alkohol 95%, 90%, 80%, 70% dan 50% masingmasing 2 menit l. Pembilasan dengan air mengalir selama 1 menit m. Pencelupan dalam akuades (4-5 kali celupan) n. Perendaman jaringan dalam hematoksilin selama 6 menit o. Pembilasan dengan air mengalir selama 15 menit p. Pencelupan dengan akuades q. Perendaman jaringan dengan eosin selama 4 menit r. Pencelupan dengan alkohol 70% (sekali celupan) s. Pencelupan dengan alkohol 80% (sekali celupan) t. Pencelupan dengan alkohol 90% (4-5 kali celupan) u. Perendaman jaringan dalam alkohol 95% selama 5 menit v. Perendaman jaringan dalam alkohol 100% I selama 10 menit w. Perendaman jaringan dalam alkohol 100% II selama 15 menit x. Perendaman jaringan dalam xylen I, II, dan III selama 10 menit y. Penutupan jaringan dengan pemberin entellen (perekat) secukupnya pada gelas objek dan ditutupi dengan gelas penutup z. Pengamatan di bawah mikrosop dengan pembesaran 40x10 dan 100x10 (Lampiran 10.). Pengamatan Histopatologi dilakukan pada ikan ukuran 20-41 cm, untuk mengetahui tingkat kerusakan organ insang, hati dan daging ikan Patin (Pangasius sp) yang terkena logam berat Pb dan Cd dan dibandingkan dengan ikan pembanding.

36 3.5 Analisis Data. Hasil pengamatan terhadap kualitas air, preparat histopatologi organ insang, hati dan daging ikan patin ukuran 20-41 cm dan uji AAS untuk mengetahui kandungan logam berat dalam organ kemudian dianalisa secara deskriptif komparatif.