Kedaulatan Energi dan Ketenagalistrikan I. Pendahuluan Sejak tahun 2008 Indonesia resmi menjadi net importer migas akibat tingginya konsumsi yang tidak dibarengi dengan produksi yang ada. Posisi ketahanan energi Indonesia semakin merosot dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang dirilis Dewan Energi Dunia, Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 129 negara pada 2014 1. Peringkat itu melorot dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2010, Indonesia ada di peringkat ke-29 dan pada 2011 turun ke peringkat ke-47. Indonesia akan terus menjadi net importir jika tidak dilakukan langkah-langkah untuk mendapatkan cadangan minyak baru. 60% keutuhan BBM nasional masih impor dan semakin besar impor maka akan semakin besar ketergantungan Indonesia terhadap harga BBM dunia. Kedaulatan energi 2 adalah kemampuan bangsa untuk menetapkan kebijakan, mengawasi pelaksanaannya dan memastikan jaminan ketersediaan energi selaras dengan tujuan dan kepentingan nasionalnya melalui implementasi strategis dinamis sesuai dengan tuntutan dinamika dan konstelasi global, regional dan nasional yang berubah. RPJMN tahun 2015-2019 bidang kedaulatan energi dan ketenagalistrikan masuk prioritas ke 7 Nawacita yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Berdasarkan RPJMN 2015-2019 3 kedaulatan energi merupakan sasaran sektor ESDM dengan target pendapatan pemerintah sebesar Rp1.994 triliun. Total investasi dan pendanaan pada sektor energi dan sumber daya mineral tahun 2015-2019 sebesar 273 miliar USD. Total investasi dan pendanaan APBN tahun 2015-2019 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebesar Rp71,5 triliun. II. Isi A. Evaluasi 6 Target Nasional Bidang Energi RPJMN 2010-2014 Berdasarkan data dibawah ini evaluasi 6 target nasional bidang energi RPJMN 2010-2014 realisasi tahun 2014 yang tidak tercapai adalah produksi minyak bumi dan kapasitas terpasang panas bumi. Realisasi produksi minyak bumi tahun 2014 sebesar 789 ribu bpd masih dibawah target yang ditetapkan yaitu sebesar 1,01 juta bpd. Berdasarkan data SKK migas 4 realisasi produksi minyak 1 http://print.kompas.com/baca/2015/03/05/ketahanan-energi-indonesia-rapuh 2 http://www.slideshare.net/sampepurba/mencapai-kedaulatan-energi-dengan-mewujudkan-tata-kelola-minyakdan-gas-bumi-yang-berlandaskan-konstitusi 3 http://musrenbangnas.bappenas.go.id/files/pramus/penutupan/kesdm%20talkshow.pdf 4 http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20141222183534-85-19841/skk-migas-kontraktor-ingkar-produksiminyak-di-bawah-target/
bumi sebesar 790 ribu bpd, sedangkan untuk lifting. minyak bumi 5 dalam periode Desember 2013 sampai dengan November 2014 mencapai 794 ribu bpd atau 97% dari target APBNP Tahun 2014 sebesar 818 ribu bpd. Hal ini disebabkan oleh 6 gangguan produksi yaitu cuaca buruk di sejumlah terminal penyimpanan yang menyebabkan stok minyak di sejumlah kargo penampung migas yang seharusnya sudah bisa masuk dalam catatan lifting, baru bisa dilakukan pada bulan berikutnya, unplanned shutdown tanggal 23 Januari 2014 pada Floating Storage and Offloading (FSO) Cinta Natomas milik Joint Operating Body Pertamina PetroChina East Java yang beroperasi di lepas pantai Tuban Jawa Timur putus akibat gelombang laut mencapai 4-5 meter dan kecepatan angin 25 knot yang mengakibatkan lifting minyak turun 70 ribu barel. faktor non teknis yaitu lahan, penangguhan izin ekspor, dan keamanan, beberapa kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) tidak bisa memenuhi kewajibannya sesuai dengan work program and budget(wp&b) yang disusun sejak akhir tahun lalu dan masalah mundurnya produksi fullscale blok Cepu dari semula tahun 2014 menjadi tahun 2015 Potensi sumber panas bumi nasional 7 sebanyak 40% dari total potensi panas bumi global. Potensi energi panas bumi 8 sebesar 28.6 gigawatt hour (GW), sementara pemanfaatanya baru mencapai 1,3 GW atau sekitar 4,5 persen. Indonesia menjadi negara dengan sumber panas bumi terbesar sebagai alternatif yang strategis untuk sumber energi listrik. Berdasarkan data dibawah ini realisasi kapasitas terpasang panas bumi tahun 2014 sebesar 1.403,5 MW juga masih dibawah target tahun 2014 yang sebesar 5.000 MW. Hal ini disebabkan oleh 9 kendala perizinan lahan, harga jual, negosiasi pengembang dengan PLN, benturan antar peraturan perundang-undangan, dan kompleksitas pengelolaan kapasitas panas bumi yang sifatnya lintas sektor antara KESDM, Kemenhut, Kemenkeu, Kemen LH, Kementerian BUMN, Kemendagri, dan Pemda. Tabel 1. Evaluasi 6 Target Nasional Bidang Energi RPJMN 2010-2014 No Indikator Kinerja Target 2014 Realisasi 2014 Capaian 1 Produksi Minyak 1,01 juta bpd 789 ribu bpd 78% 2 Penggunaan gas untuk transportasi (APBN) 30 SPBG 26 SPBG (APBN &Swasta:55 SPBG/MRU) 87% 3 Jaringan gas kota 21 lokasi 23 kota 110% 4 Pembangunan pembangkit 3.000 MW 3.813 MW 127% 5 Rasio Elektrifikasi 80% 84,12% 105% 6 Kapasitas terpasang panas bumi 5.000 MW 1.403,5 MW 28% Sumber : Bahan KESDM pada Musrenbangnas 29 April 2015 5 http://www.anggaran.depkeu.go.id/dja/edef-konten-view.asp?id=1024 6 http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20141218125529-85-19052/lima-alasan-skk-migas-tak-capai-targetlifting-2014/ 7 http://swa.co.id/business-strategy/medco-akan-operasikan-pembangkit-listrik-tenaga-panas-di-2016 8 http://labelhematenergi.ebtke.esdm.go.id/esl/index.php/article/article/detail/87 9 http://www.beritaheadline.com/post/regulasi-dan-penolakan-penyebab-pltp-sering-gagal
960 949 948 945 945 902 930 860 840 824 818 789 825 830 750 700 700 B. Sasaran Kedaulatan Energi pada RPJMN 2015-2019 (arah kebijakan) Berdasarkan hasil analisa terhadap ketentuan UU RI No. 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas UU No. 27 Tahun 2014 tentang APBN Tahun 2015 sudah mengakomodasi ketentuan, program, dan anggaran yang ditetapkan di dalam RPJMN 2015-2019. Anggaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam RAPBN-P tahun 2015 diperkirakan sebesar Rp15.055,2 milyar atau meningkat Rp5.0317 miliar dari pagunya dalam APBN tahun 2015. Peningkatan tersebut disebabkan oleh tambahan anggran prioritas untuk sektor unggulan energi sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 disebutkan untuk mewujudkan kedaulatan energi Pemerintah telah menyusun arah kebijakan dan strategi yaitu meningkatkan peranan energi baru terbarukan dalam bauran energi, selain itu meningkatkan aksesibilitas, kemudian meningkatkan efisiensi dalam penggunaan energi dan terakhir memanfaatkan potensi sumber daya air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Berdasarkan data tabel dibawah ini, realisasi produksi minyak bumi tahun 2009 sampai tahun 2014 selalu lebih rendah dari target APBN-P. Sasaran RKP tahun 2016 untuk produksi sumber daya energi minyak bumi sebesar 880 ribu SBM per hari sulit tercapai. Permasalahan yang menyebabkan target produksi minyak dan gas bumi sulit tercapai dalam RKP tahun 2016 adalah sulit melakukan pencarian minyak dan gas di wilayah daratan, laut dangkal, dan Indonesia barat dengan biaya rendah, birokrasi di industri migas setelah adanya UU migas baru dimana adanya perluasan wewenang Direktorat Jenderal Migas dan dibentuknya SKK Migas muncul berbagai birokrasi tambahan, dan masalah hilangnya lex specialis yaitu kesepakatan dalam kontrak kerja sama migas menjadi hukum khusus dan tidak tunduk pada hukum lain yang berbenturan. Tabel 2. Produksi Minyak Bumi Produksi Minyak Bumi Target APBN-P (ribu barrel oil per day) Realisasi Produksi (ribu barrel oil per day) Linear (Target APBN-P (ribu barrel oil per day)) 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Sumber: Bahan KESDM pada Musrenbangnas 29 April 2015 Tabel 2
Sasaran Akhir Ketahanan Energi Tahun 2015-2019 No. Indikator Sasaran RKP 2014 1. Produksi Sumber Daya Energi a. Minyak Bumi ( ribu SBM per hari) Sasaran RKP 2016 Sasaran RPJMN 2015-2019 Keterangan 818 880 700 Rata-rata produksi harian dalam kurun waktu 5 tahun adalah 824 1.224 1.150 1272 b. Gas Bumi (ribu SBM per hari) c. Batubara 397 419 421 (Juta Ton) 2. Penggunan Dalam Negeri a. Gas Bumi (%) 53 61 64 b. Batubara (%) 24 26 60 3. Rasio Elektrifikasi (%) 81,5 91,09 95,5 Konsumsi Listrik Per Kapita 843 1058 1200 (KWH) 4. Infrastruktur Energi FSRU/regasification/LNG 2 2 7 Angka Kumulatif 5 tahun terminal (unit) 2 2 7 Jaringan pipa gas (km) 1 Jaringan pipa gas (km) 11.960 1 15.330 18,322 km Angka Kumulatif 5 tahun Pembangunan SPBG (unit) 40 30 118 Jaringan gas kota (sambungan rumah) 188 ribu 121 ribu 1,1 juta Angka Kumulatif 5 tahun Pembangunan kilang baru (unit)*(dengan badan usaha) Sumber: Buku 1 RPJMN 2015-2019 EPC & PMC Kilang Minyak 1 unit berkapasitas 300 mboep Berdasarkan data sasaran ketahanan energi diatas produksi gas bumi tahun 2014 10 sebesar 1.224 SBM per hari untuk penggunaan dalam negeri sebesar 53% sedangkan untuk ekspor sebesar 47% hal ini disebabkan karena Pemerintah mulai tahun 2013 membatasi ekspor gas bumi. Sasaran RKP tahun 2016 untuk gas bumi sebesar 1.150 ribu SBM per hari dapat tercapai karena kondisi neraca gas saat ini masih surplus 11, namun gas murah sudah terkontrak jangka panjang untuk ekspor sedangkan potensi cadangan gas yang akan dikembangkan letaknya jauh dari pusat konsumen kebanyakan di laut dalam di belahan Indonesia timur yang memerlukan biaya produksi lebih mahal daripada gas didarat (on shore). Pemanfaatan gas bumi tahun 2019 domestik diharapkan sebesar 64% untuk domestik yang dimanfaatkan untuk pabrik pupuk, kilang, petrokimia, kondensasi, LPG, PGN, PLN, Krakatau Steel, gas kota, industri lain, LNG domestik dan pemakaian sendiri. Strategi Sasaran ketahanan energi untuk gas bumi yaitu 10 http://beritadaerah.co.id/2015/01/15/bappenas-targetkan-penggunaan-energi-nasional-mencapai-64-persen/ 11 Energy Nusantara Edisi 01. Tahun 1. Januari 2015.
pembangunan FSRU dan LNG terminal, pembangunan pipa transmisi gas, dan penyelesaikan Peraturan Presiden tentang tata kelola gas bumi. Realisasi Produksi batubara tahun 2014 12 sebesar 435 juta ton melebihi target dalam RKP tahun 2014 sebesar 397 juta ton, namun produksi batubara selama tahun 2014 mengalami penurunan 39 juta ton dibandingkan tahun 2013 yaitu sebesar 474 juta ton. Sasaran RKP tahun 2016 sebesar 419 juta ton dapat tercapai namun serapan alokasi batubara tahun 2016 sebesar 26% sulit untuk tercapai. Penggunaan dalam negri batubara tahun 2014 sebesar 76 juta ton sedangkan untuk ekspor ke negara India dan Tiongkok sebesar 395 juta ton. Realisasi serapan alokasi batubara domestik (domestic market obligation) sebesar 76 juta ton 13 masih dibawah target seharusnya sebesar 95,5 juta ton. Realisasi serapan alokasi batu bara domestik sebesar 76 juta ton dialokasikan untuk kebutuhan PT. PLN sedangkan sisanya 15% dilokasikan untuk sektor industri. Kurang tercapainya target serapan domestik sebesar 19,55 juta ton dipicu adanya perkiraan berlebih (overestimated) saat penyusunan alokasi domestik. Batubara sebagai energi primer dalam program percepatan pembangunan hendaknya berbeda pengelolaannya dibandingkan migas. Pemerintah harus jelas mengeluarkan kebijakan energi dengan cara merevisi royalti dalam pemanfaatan energi batubara sehingga penerimaan negara dari sektor batubara sebanding dengan kerusakan lingkungan dari hasil penambangan. Akses listrik dapat dilihat dari rasio elektrifikasi. Rasio elektrifikasi atau keterjangkauan listrik di wilayah Indonesia hingga akhir tahun 2014 14 mencapai 84,35%. melebihi target RKP tahun 2014 sebesar 81,5% namun keterjangkauan listrik dibeberapa daerah masih ada yang dibawah 50% seperti di papua sedangkan didaerah lain sudah diatas 50 persen. Realisasi konsumsi listrik per kapita tahun 2014 15 sebesar 741 KWH dibawah sasaran RKP tahun 2014 sebesar 843 KWH. Konsumsi listrik Indonesia masih dibawah negara ASEAN lainnya seperti Brunei 8308 KWH, Singapura 8.185 KWH, Malaysia 3.4490 KWH, Thailand 2.079 KWH, Vietnam 799 KWH, dan India 778 KWH. Sasaran RKP konsumsi listrik tahun 2016 sebesar 1.058 KWH dapat tercapai jika sasaran rasio elektrifikasi dapat tercapai. Sasaran RKP untuk tahun 2016 untuk rasio elektrifikasi 91,09% dapat tercapai jika ada kebijakan gabungan stimulant fiskal, moneter, dan kelonggaran regulasi untuk pengguna rumah tangga maupun pendukung lainnya dalam sentra industri baru. Pemerintah juga harus memperhatikan efisiensi di sektor hulu listrik karena dapat mengurangi kenaikan tarif listrik yang secara berkala naik setiap dua bulan sekali mulai juli 2014. Oleh karena itu, pemerintah harus fokus memperbaiki tata kelola disektor pembangkit listriknya. 12 http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/01/07/341662/produksi-batu-bara-selama-2014-turun-39-jutaton 13 Energy Nusantara Edisi 01. Tahun 1. Januari 2015. 14 http://katadata.co.id/berita/2015/03/11/rasio-elektrifikasi-nasional-tahun-lalu-sudah-melebihitarget#sthash.lm69vjh1.dpuf 15 Musrenbangnas.bappenas.go.id/files/rakorbangpus/Paparan%20Menteri%20PPNBappenas%20- %20Rakorbangpus.pdf
III. Kesimpulan Sasaran kedaulatan energi dalam RPJMN 2015-2019 untuk pemanfaatan gas bumi kebutuhan domestik harus diutamakan karena potensi cadangan gas yang akan dikembangkan letaknya jauh dari pusat konsumen kebanyakan di laut dalam dibelahan Indonesia timur. Pemerintah harus mengutamakan kontrak jangka panjang batubara sebagai energi primer PLTU dan memperhatikan keadaan industri batubara yang melambat akibat keadaan global China dan India. Sektor kelistrikan pemerintah harus mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan misalnya menggunakan listrik yang bersumber dari matahari dan pemerintah harus memberikan kelonggaran regulasi, fiskal dan moneter untuk mempercepat kenaikan rasio elektrifikasi Kedaulatan energi mempunyai tujuan peningkatan pasokan energi terbarukan. Kebijakan Energi Nasional (KEN) 16 menetapkan target pangsa energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025 17, dimana energi panas bumi ditargetkan memberikan kontribusi sebesar 7 persen yang dapat dimanfaatkan untuk listrik dan penurunan emisi CO2. Kebijakan energi terbarukan juga perlu mengembangkan energi listrik yang bersumber dari matahari dan energi yang bisa ditambang dari laut. Peningkatan pasokan energi juga harus diimbangi dengan pengendalian kebutuhan energi yang sehat. Pengendalian kebutuhan energi berarti perubahan gaya hidup yang lebih rendah energi seperti kebijakan transportasi yang membatasi mobilitas, mendorong angkutan umum dengan moda sungai, rel, dan laut yang lebih banyak, serta mengurangi dominasi moda jalan pribadi Pemerintah supaya dapat mencapai kedaulatan energi perlu melakukan langkah-langkah mengurangi impor BBM karena Impor BBM menyumbang angka besar terhadap defisit neraca berjalan tahun 2013 18 dari defisit US$ 29,1 miliar impor BBM menyumbang angka US$ 22,5 miliar, mempercepat pengembangan atau optimalisasi lapangan minyak dalam negeri, menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah karena akan berpengaruh terhadap cost production migas dan mengalokasikan subsidi BBM pada program-program yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat, menjaga nilai tukar. (MS) 16 btke.esdm.go.id/post/2014/09/11/667/tahun.ini.penurunan.co2.dari.panas.bumi.ditargetkan.7.957.921.ton 18 http://finance.detik.com/read/2014/12/04/101908/2767430/1034/faisal-basri-nilai-tukar-rupiah-rusak-karenaminyak