PERSETUJUAN PEMBIMBING

dokumen-dokumen yang mirip
IDENTIFIKASI PEMAMAHAN KONSEP FISIKA TERHADAP POKOK BAHASAN TERMODINAMIKA PADA SISWA SMA. Mohammad Khairul Yaqin

PENGEMBANGAN SOFTWARE PENDETEKSI MISKONSEPSI KIMIA SOFTWARE DEVELOPMENT FOR DETECTING CHEMICAL MISCONCEPTIONS. Abstract

PROFIL MISKONSEPSI MATERI IPBA DI SMA DENGAN MENGGUNAKAN CRI (CERTAINLY OF RESPONS INDEX)

LEMBAR PENGESAHAN JURNAL

IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA PADA KONSEP SISTEM REPRODUKSI MANUSIA KELAS XI IPA SMA UNGGUL ALI HASJMY KABUPATEN ACEH BESAR

Identifikasi Miskonsepsi Pada Konsep-Konsep Fisika Menggunakan Certainty of Response Index (CRI)

Identifikasi Miskonsepsi IPBA Di SMA Dengan CRI Dalam Upaya Perbaikan Urutan Materi Pada KTSP

Keywords: Concepts, Misconceptions, Certainty Response Indeks (CRI).

ANALISIS MISKONSEPSI SISWA SMP DALAM MATERI PERBANDINGAN DENGAN MENGGUNAKAN CERTAINTY OF RESPONSE INDEX (CRI)

Profil Miskonsepsi Mahasiswa tentang Konsep Kepolaran Molekul dengan Menggunakan CRI (Certainty of Response Index)

Identifikasi Miskonsepsi Siswa SDN Kemayoran I Bangkalan pada Konsep Cahaya Menggunakan CRI (Certainty Of Response Index)

Identifikasi Pemahaman Siswa Terhadap Konsep Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan dengan Menggunakan Tes Diagnostik Three-Tier Multiple Choice

PERSETUJUAN PEMBIMBING. Analisis Kesalahan Konsep Mahasiswa Pada Pokok Bahasan Reaksi Reduksi Oksidasi. Oleh. Sriningsih NIM.

ANALISIS MISKONSEPSI SISWA SMA KELAS XI PADA KONSEP LAJU REAKSI MENGGUNAKAN TWO-TIER MULTIPLE CHOICE DAN CERTAINTY OF RESPONSE INDEX (CRI)

DESKRIPSI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI ATOM, MOLEKUL, DAN ION DI SMP NEGERI 21 PONTIANAK

MENGGALI MISKONSEPSI SISWA SMA PADA MATERI PERHITUNGAN KIMIA MENGGUNAKAN CERTAINTY OF RESPONSE INDEX

IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA MENGGUNAKAN CERTAINTY OF RESPONSE INDEX PADA OPERASI HITUNG BILANGAN

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 6 No. 1, pp January 2017

Winny Liliawati dan Taufik Ramlan Ramalis

Daimul Hasanah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2017

Winny Liliawati dan Taufik Ramlan Ramalis

BAB I PENDAHULUAN. bermanfaat bagi kepentingan hidup. Secara umum tujuan pendidikan dapat

Analisis Pemahaman Konsep Siswa SMA Lab-School Palu pada Materi Hukum Newton

MEREMEDIASI MISKONSEPSI SISWA YANG MEMILIKI GAYA BELAJAR VISUAL-VERBAL SEIMBANG MENGGUNAKAN CONCEPTUAL CHANGE PADA KONSEP IKATAN KIMIA

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan mata pelajaran biologi di Madrasah Aliyah (MA) adalah agar peserta didik

Analisa Fitria. Kata Kunci: Pemahaman Konsep,Miskonsepsi, Certainty of Response Index (CRI), grup.

Pengetahuan Alam, Pembimbing I: Dr. Astin lukum, M.Si; Pembimbing II: La Ode Aman, M.Si

IDENTIFIKASI MISKONSEPSI PADA MATERI POKOK WUJUD ZAT SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 BAWANG TAHUN AJARAN 2009/2010

IMPLEMENTASI STRATEGI POGIL UNTUK MEREDUKSI MISKONSEPSI PADA MATERI STOIKIOMETRI KELAS X DI SMAN 1 KANDANGAN

UNESA Journal of Chemical Education Vol. 2, No. 1, pp Januari 2013 ISSN:

IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY OF RESPONSE INDEX

IDENTIFIKASI MISKONSEPSI DAN PENYEBABNYA PADA SISWA KELAS XI MIA SMA NEGERI 1 SUKOHARJO TAHUN PELAJARAN 2015/2016 PADA MATERI POKOK STOIKIOMETRI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Definisi operasional dibuat untuk menghindari berbagai penafsiran

BAB III METODE PENELITIAN

Miskonsepsi Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 9 Pontianak Pada Materi Ikatan Kimia

ANALISIS MISKONSEPSI SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 BANAWA TENGAH PADA PEMBELAJARAN LARUTAN PENYANGGA DENGAN CRI (CERTAINTY OF RESPONSE INDEX)

ANALISIS KEMAMPUAN PEMAHAMAN GRAFIK KINEMATIKA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS. Oleh Surya Gumilar

MEREMEDIASI MISKONSEPSI SISWA PADA KONSEP STRUKTUR ATOM BERBASIS GAYA BELAJAR DIMENSI PROSES MENGGUNAKAN MULTIMEDIA INTERAKTIF

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF UNTUK MENGURANGI MISKONSEPSI PADA MATERI GERAK MELINGKAR.

BAB I PENDAHULUAN. kemampuannya agar bermanfaat bagi kepentingan hidup. Secara umum

Kata Kunci : Konsepsi, Peserta Praktikum, CRI, Gerak Jatuh Bebas, Gerak Harmonis Sederhana.

BAB I PENDAHULUAN. Indah Rizki Anugrah, Mengungkap Miskonsepsi Topik Stoikiometri Pada Siswa Kelas X Melalui Tes Diagnostik Two-Tier

ANALISIS MISKONSEPSI SISWA DENGAN CERTAINTY OF RESPONSE INDEX (CRI) PADA SUBMATERI SISTEM SARAF DI KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 SELIMBAU

ANALISIS MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM MENGGUNAKAN TEKNIK CRI (CERTAINTY OF RESPONSE INDEX) TERMODIFIKASI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

Dr. Hj. Masriyah, M.Pd Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, Abstrak. Abstract

PENGEMBANGAN INSTRUMEN MISKONSEPSI KIMIA PADA KONSEP STRUKTUR ATOM

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Kajian Teori

Identifikasi Miskonsepsi Siswa SMA Pada Konsep Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi

BAB I PENDAHULUAN. disebut dengan sains sekolah (school sains) (Hermawan, 2008:2). Salah satu tujuan

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

ANALISIS MISKONSEPSI SISWA MENGGUNAKAN TES DIAGNOSTIC MULTIPLE CHOICE BERBANTUAN CRI (CERTAINTY OF RESPONSE INDEX)

ANALISIS DESKRIPTIF MISKONSEPSI SISWA SMA PADA MATERI SISTEM SARAF MANUSIA MENGGUNAKAN TEKNIK CERTAINTY RESPONSE INDEX

Universitas Muhammadiyah Purwokerto ABSTRAK

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONCEPTUAL CHANGE UNTUK MEREDUKSI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI POKOK ASAM DAN BASA DI KELAS XI IA SMAN 2 BOJONEGORO

STUDI PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA SUB KONSEP RANGKAIAN LISTRIK ARUS SEARAH DI KELAS XI SMA NEGERI 1 PALEMBANG

BAB I PENDAHULUAN. hukum, prinsip dan teori. Materi kimia yang sangat luas menyebabkan kimia

Unesa Journal Of Chemical Education ISSN: Vol. 3, No. 3, pp , September 2014

DESKRIPSI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI GAYA GESEK DENGAN CERTAINTY OF RESPONSE INDEX TERMODIFIKASI ARTIKEL PENELITIAN. Oleh :

IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA PADA POKOK BAHASAN RANGKAIAN ARUS SEARAH DI KELAS XII MAN 1 JEMBER. Risalatun Nur Rohmah

PENGEMBANGAN INSTRUMEN IDENTIFIKASI MISKONSEPSI FISIKA PADA MATERI LISTRIK DINAMIS MELALUI CRI (CERTAINTY OF RESPONSE INDEX) BERBASIS WEB

BAB II IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA MELALUI METODE CERTAINTY OF RESPONSE INDEX (CRI) TERMODIFIKASI PADA MATERI USAHA DAN ENERGI

Keyword: miskonsepsi, penjumlahan, pengurangan, bilangan bulat, garis bilangan

Analisis Konsepsi Siswa Pada Konsep Kinematika Gerak Lurus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

PENGGUNAAN TWO-TIER MULTIPLE CHOICE DIAGNOSTIC TEST DISERTAI CRI UNTUK MENGANALISIS MISKONSEPSI SISWA

PENGGUNAAN THINK-ALOUD PROTOCOLS UNTUK MENGATASI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI POKOK STOIKIOMETRI DI SMA KHADIJAH SURABAYA

IDENTIFIKASI MISKONSEPSI PADA KONSEP CAHAYA SISWA SMP. Irwandani, M.Pd. Pendidikan Fisika, IAIN Raden Intan Lampung

ANALYSIS OF STUDENT MISCONCEPTIONS IN PHYSICS LEARNING OF STATIC FLUID MATERIALS USING CERTAIN OF RESPONSE INDEX (CRI) METHOD IN SMAN 7 PEKANBARU

PROFIL KONSEPSI SISWA SMP DENGAN CRI TEST BERBASIS REVISED BLOOM S TAXONOMY PADA MATERI KLASIFIKASI MATERI DAN PERUBAHANNYA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian deskriptif. Menurut Nazir (2009:54) Metode deskriptif adalah suatu

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Mustafa Ramadhan 1, Sunardi 2, Dian Kurniati 3

BioEdu Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi

OLEH Ni Nyoman Widiantari Telah diperiksa dan disetujui oleh NIP NIP

IDENTIFIKASI KECENDERUNGAN GAYA BELAJAR MAHASISWA YANG MENGALAMI MISKONSEPSI PADA KONSEP KESETIMBANGAN KIMIA JURNAL PENELITIAN

DESKRIPSI MISKONSEPSI SISWA SMA SEKECAMATAN KAPUAS TENTANG GERAK MELINGKAR BERATURAN MENGGUNAKAN THREE-TIER TEST

MENGUNGKAP MISKONSEPSI MEKANIKA MAHASISWA CALON GURU FISIKA SEMESTER AKHIR PADA SALAH SATU UNIVERSITAS DI LAMPUNG

Abstrak. Kata Kunci: Miskonsepsi, Model Pembelajaran PDEODE Terbimbing, Laju Reaksi. Abstact

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA BERBASIS KOMPUTER UNTUK MENGURANGI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA KELAS XI SMA

Analisis Miskonsepsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Menggunakan Certainty Of Response Index (CRI) Pada Konsep Gaya

IDENTIFIKASI MISKONSESPI SISWA PADA MATERI GETARAN DAN GELOMBANG KELAS VIII DI MTsN RUKOH

PROFIL MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI POKOK PECAHAN DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA SISWA

IDENTIFIKASI TINGKAT PEMAHAMAN KONSEP STOIKIOMETRI PADA PEREAKSI PEMBATAS DALAM JENIS-JENIS REAKSI KIMIA SISWA KELAS X MIA SMA NEGERI 4 MALANG

Prosiding Seminar Nasional Kimia Unesa 2012 ISBN : Surabaya, 25 Pebruari 2012

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengumpulan Data. Produk. Massal. Gambar 3.1 Langkah-langkah penggunaan Metode R & D

JURNAL. Oleh. Jahardi Ineng Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji. Nip Nip

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK CONCEPTUAL UNDERSTANDING PROCEDURES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS SISWA

MISKONSEPSI DALAM PEMBELAJARAN IPA. Abstrak

MISKONSEPSI DAN SIKAP SISWA PADA PEMBELAJARAN LEMAK MELALUI PRAKTIKUM PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN

TINGKAT KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL-SOAL PERHITUNGAN KIMIA SISWA KELAS XI IPA 2 DI SMA NEGERI 1 TELAGA

PERSETUJUAN PEMBIMBING. Identifikasi Hirarki Pemahaman Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Gorontalo pada Materi Ikatan Kimia. Oleh Bambang NIM.

Transkripsi:

PERSETUJUAN PEMBIMBING Jurnal: Identifikasi Miskonsepsi Siswa Pada Materi Asam Basa Menggunakan Certainty Of Response Index (CRI) Pada Kelas XI IPA 2 Di SMA Negeri 1 Bonepantai Oleh Mindrianti Muksin NIM. 441 411 053 Telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing I Pembimbing II Prof. Dr. Astin Lukum, M.Si Erni Mohamad, S..Pd, M.Si NIP: 19630327 198803 2 002 NIP: 19690812 200501 2 002 Mengetahui: Ketua Jurusan Pendidikan Kimia Dr. Akram La Kilo, M.Si NIP. 19770411 200312 1 001

IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI ASAM BASA MENGGUNAKAN CERTAINTY OF RESPONSE INDEX (CRI) PADA KELAS XI IPA 2 DI SMA NEGERI 1 BONEPANTAI Mindrianti Muksin 1, Astin Lukum 2, Erni Mohamad 3 Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo e-mail: muksin_mindrianti@yahoo.com ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk mengidentiikasi miskonsepsi siswa terhadap materi asam basa. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI IPA 2 di SMA Negeri 1 Bonepantai menggunakan tes pilihan ganda (multiple choice) dengan alasan terbuka. Instrumen ini dapat membedakan antara siswa yang tahu konsep, tidak tahu konsep dan miskonsepsi. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara sampling jenuh. Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan bahwa miskonsepsi siswa pada materi asam basa kelas XI IPA 2 di SMAN 1 berada dalam kategori tinggi yaitu nilai rata-rata sebesar 52,14%, tahu konsep nilai rata-rata 14,29%, tahu konsep tetap i kurang yakin nilai rata-rata 2,38% dan tidak tahu konsep nilai rata-rata sebesar 31,19%.. Kata kunci: Miskonsepsi, Certainty Of Response Index (CRI), Tes Pilihan Ganda Beralasan Terbuka, Asam Basa. Pendahuluan Tujuan pembelajaran sains (IPA) di SMP/MTs sesuai dengan peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006, yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. (1) Meningkatkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaannya, (2) mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, konsep dan prinsip sains yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, (3) mengembangkan rasa ingin tahu sikap positif, dan kesadaran terhadap adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara sains, lingkungan, teknologi, dan 1 Mahasiswa Jurusan Kimia 2 Pembimbing I, Prof. Dr. Astin Lukum, M.Si 3 Pembimbing 2, Erni Mohamad, S.Pd, M.Si

masyarakat, (4) melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berfikir, bersikap, dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi, (5) meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam, (6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan, (7) meningkatkan pengetahuan, konsep, dan keterampilan sains sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya (Suniati, dkk ;2013: 2). Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang menekankan pada penguasaan konsep. Dalam proses pembelajaran, konsep merupakan hal yang perlu dimengerti atau dipahami, dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Konsep kimia terbentuk dalam diri siswa secara berangsur-angsur melalui pengalaman dan interaksi mereka dengan alam sekitarnya. Di sekolah, mata pelajaran kimia dianggap sulit oleh sebagian besar siswa, sehingga banyak siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tidak berhasil dalam belajar kimia. Nazar, dkk (2009: 1) Banyak faktor yang menyebabkan siswa tidak mencapai ketuntasan minimum yang ditentukan sekolah dalam belajar kimia, diantaranya yaitu kurangnya pemahaman konsep dan juga banyaknya siswa yang mengalami miskonsepsi. Kurangnya pemahaman konsep tersebut terjadi karena sebagian besar konsep kimia bersifat abstrak, seperti konsep tentang atom, molekul, orbital, kesetimbangan dan laju. Kean dan Middlecamp (1984: 5-9) mengatakan bahwa : sebagian besar konsep kimia bersifat abstrak, konsep-konsep kimia pada umumnya merupakan penyederhanaan dari keadaan sebenarnya (analogi), konsep kimia bersifat berurutan. Sedangkan miskonsepsi dapat terjadi karena prakonsepsi yang salah (pemahaman atau konsep yang dimiliki oleh siswa sebelum masuk kelas). Salah satu materi pokok kimia bersifat abstrak yang sering menyebabkan miskonsepsi pada peserta didik adalah asam basa. Materi tersebut merupakan salah satu materi pokok kimia yang dipelajari di SMA kelas XI. Materi pokok asam basa ini memerlukan pemahaman konsep yang mendalam serta penerapannya dalam memecahkan soal-soal hitungan. Permasalahan inilah yang menyebabkan munculnya miskonsepsi pada peserta didik Miskonsepsi (salah konsep) adalah konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima oleh para pakar dalam bidang itu (Suparno, 2005: 4). Osborne memberi beberapa nama, yaitu ada yang menyebutnya children s science, misconception, alternative framework, alternative conception, atau children s idea, namun istilah miskonsepsi seringkali lebih banyak mewakili semua istilah tersebut (Dahar, 2011: 153). Dalam pengertian lain miskonsepsi adalah kepercayaan yang tidak sesuai dengan penjelasan yang diterima

umum dan memang sudah terbukti sahih tentang sesuatu (Ormrod, 2009: 338). miskonsepsi adalah suatu pemikiran siswa yang salah atau bertentangan dengan teori ilmiah yang telah dikemukakan oleh para ahli dan sudah melekat dalam diri siswa itu sendiri. Miskonsepsi dipandang sebagai masalah dalam pengetahuan berfikir dalam pemahaman konsep. Miskonsepsi dalam pelajaran kimia akan sangat fatal dikarenakan konsepkonsep kimia saling terkait antara satu dengan yang lainnya, sehingga kesalahan konsep di awal pembelajaran akan berpengaruh kepada pelajaran lanjutan, hal ini akan bermuara pada rendahnya kemampuan siswa dan tidak tercapainya ketuntasan belajar. Akan tetapi sebelum lebih jauh membicarakan tentang upaya penanggulangan miskonsepsi, sebenarnya terdapat persoalan yang lebih mendasar dalam masalah miskonsepsi ini, yaitu masalah pengidentifikasian terjadinya miskonsepsi. Hingga saat ini masih terdapat kesulitan dalam membedakan antara siswa-siswa yang miskonsepsi dan yang tidak tahu konsep. Tanpa dapat membedakan diantara keduanya, akan sulit untuk menentukan langkah penanggulangannya, sebab cara penanggulangan untuk siswa yang mengalami miskonsepsi akan berbeda dengan siswa yang tidak tahu konsep. Kesalahan pengidentifikasian akan menyebabkan kesalahan dalam cara penanggulangannya, dan hasilnya pun tidak akan memuaskan. Karena itu sebelum melangkah lebih jauh pada upaya penanggulangannya, terlebih dahulu para pengajar harus memiliki pengetahuan dan kemampuan mengidentifikasi miskonsepsi secara tepat, yang setiap saat dapat digunakan pada proses belajar mengajarnya. Miskonsepsi atau kekeliruan konsepsi merupakan fenomena yang hingga kini menjadi perhatian dalam pengajaran kimia maupun sains lainnya, karena keberadaannya dipercaya dapat menghambat pada proses asimilasi pengetahuanpengetahuan baru pada benak para siswa. Miskonsepsi diduga kuat terbentuk pada masa anak dalam interaksi otak dengan alam di sekitarnya. Persoalan yang kerap muncul ketika akan dilakukan upaya pengobatan adalah adanya kesulitan dalam membedakan apakah seorang siswa mengalami miskonsepsi atau justru tidak tahu konsep. Karena cara mengobati siswa yang mengalami miskonsepsi akan sangat berbeda dengan cara mengobati siswa yang tidak tahu konsep. Cara yang dapat digunakan untuk mengetahui miskonsepsi yaitu: Wawancara Diagnosis, penyajian peta konsep, metode CRI, tes multiple choice dengan reasoning terbuka, diskusi dalam kelas, praktikum dengan tanya jawab dan tes esai tertulis. Dalam penelitian cara yang digunakan adalah metode CRI dan tes multiple choice dengan reasoning terbuka.

Metode CRI ini telah dikembangkan oleh Saleem Hasan (1999: 294-299) yang digunakan untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami siswa, yang merupakan ukuran tingkat keyakinan/kepastian responden dalam menjawab setiap pertanyaan (soal) yang diberikan. CRI juga dikembangkan untuk mengidentifikasi terjadinya miskonsepsi sekaligus dapat membedakannya dengan tidak tahu konsep. Secara sederhana CRI dapat diartikan sebagai ukuran tingkat keyakinan atau kepastian responden dalam menjawab setiap pertanyaan (soal) yang diberikan. Satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam penggunaan CRI adalah kejujuran siswa dalam mengisi CRI untuk jawaban suatu soal, karena nantinya akan menentukan pada keakuratan hasil identifikasi yang dilakukan (Tayubi, 2005: 1). Metode CRI ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya yakni bersifat sederhana dan dapat digunakan di berbagai jenjang (sekolah menengah sampai perguruan tinggi), sedangkan kelemahannya adalah metode ini sangat bergantung pada kejujuran siswa (Mahardika, 2014: 5). Metode CRI ini meminta responden untuk menjawab pertanyaan disertai dengan pemberian derajat atau skala (tingkat) keyakinan responden dalam menjawab pertanyaan tersebut. Sehingga metode ini dapat menggambarkan keyakinan siswa terhadap kebenaran dari jawaban alternatif yang direspon. Setiap pilihan respon memiliki nilai skala, seperti yang disajikan yaitu pada tebel berikut: Tabel 1. Skala Respon CRI CRI Kriteria 0 (Totally guessed answer): jika menjawab soal 100% ditebak (Almost guess) jika menjawab soal presentase unsure tebakan antara 75%- 1 99% 2 (Not sure) jika menjawab soal presentase unsur tebakan antara 50%-74% 3 (Sure) jika menjawab soal presentase unsur tebakan antara 25%-49% (Almost certain) jika menjawab soal presentase unsure tebakan antara 1%- 4 24% 5 (Certain) jika menjawab soal presentase unsure tebakan antara 1%-24% Berdasarkan tabel tersebut, skala CRI ada 6 (0-5) dimana 0 berarti tidak paham konsep dan 5 adalah yakin benar akan konsep yang responden jawab. Jika derajat keyakinan rendah (nilai CRI 0-2) menyatakan bahwa responden menjawabnya dengan cara menebak, terlepas dari jawabannya benar atau salah. Hal ini menunjukkan bahwa responden tidak paham konsep. Jika nilai CRI tinggi, dan jawaban benar maka menunjukkan bahwa responden paham konsep (jawabannya beralasan) Jika nilai CRI tinggi, jawaban salah maka menunjukkan miskonsepsi. Jadi,

seorang siswa mengalami miskonsepsi atau tidak paham konsep dapat dibedakan dengan cara sederhana yaitu dengan membandingkan benar atau tidaknya jawaban suatu soal dengan tinggi rendahnya indeks kepastian jawaban (CRI) yang diberikan untuk soal tersebut. Pada berbagai penelitian, tes plihan ganda terbukti dapat digunakan secara efektif untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami oleh siswa karena sifatnya yang objektif dan dapat menghasilkan skor dengan cepat walaupun dengan jumlah peserta yang relative banyak. Tetapi, terdapat beberapa kelemahan dari tes pilihan ganda, khususnya dalam identifikasi miskonsepsi pada siswa. Kelemahan bentuk tes pilihan ganda terletak pada pertanyaan yang ada dimana tidak dapat memberikan ruang kepada siswa dalam mengemukakan ide dan gagasan mengenai suatu topik atau konsep terhadap soal secara mendalam bahkan sering kali siswa dapat memberikan jawaban yang benar padahal alasan mereka salah (Adodo, 2013: 202). Dengan adanya kelemahan ini, memungkinkan siswa menjawab soal dengan cara menebak pilihan atau alternative jawaban tanpa didasari alasan yang berkaitan. Beberpa penelitian terdahulu yang telah menggunakan instrument tes ini antara lain: Aliefman Hakim, Liliasari dan Asep Kadarohman (2012) dengan judul Student Concept Understanding of Natural Products Chemistry in Primary and Secondary Metabolites Using the Data Collecting Technique of Modified CRI, Tri Ade Mustaqim (2014) denga judul Identifikasi Miskonsepsi Siswa Menggunakan Certainty Of Response Index (CRI) Pada Konsep Fotosintesis Dan Respirasi Tumbuhan, Fina Nurul Khotimah (2014) denga judul Identifikasi Miskonsepsi Siswa Pada Konsep Archaebacteria dan Eubacteria Dengan Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan ganda Beralasan dll. Metode Penelitian Tujuan dari penelitiaan untuk mengetahui miskonsepsi pada materi asam basa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Bonepantai Tahun ajaran 2014/2015. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 2 yang berjumlah 21 siswa. Dalam penelitian ini data yang digunakan yaitu jawaban siswa dalam benuk tes tertulis berbentuk pilihan ganda ( multiple choice) beralasan terbuka dengan lima opsi jawaban dan ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampling jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel yang kurang dari 30 (Sugiyono, 2013: 124). Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini adalah melalui proses observasi, instrument tes, serta dokumentasi penelitian dan menggunakan instrumen

berupa tes dalam bentuk pilihan ganda beralasan terbuka dengan metode CRI. Siswa dengan indeks keyakinan CRI (Certainty of Response Index) tinggi (>2,5 dari skala 5), dan jawabannya benar maka dikategorikan tahu konsep, dan apabila jawabannya salah maka dikategorikan miskonsepsi. Sedangkan apabila jawaban salah dengan indeks CRI rendah (<2,5 dari skala 5) maka dikategorikan tidak tahu konsep. Instrumen tes ini terdiri dari 9 indikator secara umum dengan 20 item soal. Pengkategorian kelompok dapat dilihat pada tabel 2. berikut ini. Tabel 2. Kategori kelompok berdasarkan jawaban, alasan dan nilai CRI tinggi maupun CRI rendah. Jawaban Alasan CRI Deskripsi Benar Benar > 2,5 Tahu Konsep Benar Benar < 2,5 Tahu Konsep tetapi Kurang Yakin Benar Salah > 2,5 Miskonsepsi Benar Salah < 2,5 Tidak Tahu Konsep Salah Benar > 2,5 Miskonsepsi Salah Benar < 2,5 Tidak Tahu Konsep Salah Salah > 2,5 Miskonsepsi Salah Salah < 2,5 Tidak Tahu Konsep Analisis yang digunakan untuk mencari persentase siswa dalam menjawab soal beserta tingkat keyakinannya menjadi kelompok berkategori tahu konsep, miskonsepsi dan tidak tahu konsep, adalah sebagai berikut: P = x 100% Keterangan: f = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya N = Number ofcases (jumlah frekuensi/banyaknya individu) P = Angka persentase Kelompok Hasil analisis data ini selanjutnya akan mengarah pada kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara menggunakan triangulasi metode. Dalam hal ini triangulasi adalah obsrvasi, tes dan dokumentasi. Adapun tahap-tahap penelitian ini yaitu tahap pendahuluan, tahap pengembangan desain dan tahap dan tahap pengumpulan data.

Hasil Penelitian Dan Pembahasan Deskripsi Hasil Penelitian Pada dasarnya tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan gambaran miskonsepsi siswa pada materi asam basa. Untuk melihat miskonsepsi siswa pada materi asam basa telah digunakan instrument tes objektif beralasan terbuka menggunakan metode Certainty of Response Index (CRI). Berikut ini tabulasi data miskonsepsi siswa pada materi asam basa dengan 9 indikator yang terdiri dari 20 item soal sebagai berikut: Tabel 3. Persentase Siswa Berdasarkan Jawaban dan Indeks CRI Pada Materi Asam Basa Indikator No Soal Presentase (%) TK TKKY TTK MK 1 1 23,8 0 28,6 47,6 2 23,8 4,76 19 52,4 10 0 0 33 67 2 5 28,6 9,52 19 42,9 6 14 0 19 67 14 4,8 0 43 52 3 8 4,8 0 24 71 4 9 14 4,8 9,5 71 12 14,3 0 33,3 52,4 11 0 0 38 62 5 3 19 4,76 38,1 38,1 6 13 19 0 28,6 52,4 20 19 4,76 28,6 47,6 7 4 14 0 29 57 15 19 4,8 33 43 18 0 0 52 48 8 7 19 14,3 33,3 33,3 16 0 0 62 38 9 17 33,3 0 23,8 42,9 19 14 0 29 57 Rata-rata 14,3 2,38 31,2 52,1 Keterangan: TK = Tahu Konsep TKKY = Tahu Konsep tetapi Kurang Yakin TTK = Tidak Tahu Konsep MK = Miskonsepsi

Hasil akhir presentase siswa pada materi asam basa di SMA Negeri 1 Bonepantai didominasi pada kategori Miskonsepsi MK dengan rata-rata presentase sebesar 52,14%. Sedangkan presentase pada kategori Tahu Konsep Kurang Yakin TKKY sebesar 2,38%, presentase pada kategori Tahu Konsep TK sebesar 14,29% dan pada kategori Tidak Tahu Konsep TTK yaitu sebesar 31,19%. Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan siswa mengalami miskonsepsi dengan persentase tertinggi terdapat pada soal nomor 8 dan 9 yaitu dengan persentase sebesar 71%. Pembahasan Berdasarkan deskripsi miskonsepsi siswa pada materi asam basa menunjukkan bahwa metode CRI efektif untuk menganalisis siswa yang mengalami miskonsepsi. Siswa mengalami miskonsepsi atau tidak paham konsep dapat dibedakan dengan menggunakan CRI dengan modifikasi pada kategori tingkat pemahaman yang terdiri atas: 1). Siswa yang menjawab dengan keyakinan yang tinggi namun menjawab dengan pilihan jawaban yang salah serta alasan yang salah, 2). Siswa yang menjawab dengan pilihan jawaban yang benar dengan keyakinan yang tinggi namun memberikan alasan yang salah, 3). Siswa yang memberikan alasan yang benar dengan keyakinan yang tinggi namun memberikan jawaban yang salah. Persentase siswa yang paham konsep, miskonsepsi, dan tidak paham konsep pada tiap-tiap butir soal yang dilihat pada tabel 3 yang menunjukkan bahwa pada masing-masing indikator masih banyak miskonsepsi siswa dan juga banyak yang siswa tidak pahami, sedangkan siswa yang paham konsep jumlahnya sedikit. Adapun kemungkinan penyebab miskonsepsi pada siswa antara lain: buku dimana penggunaan bahasa yang terlalu sulit dan kompleks terkadang membuat anak tidak dapat mencerna dengan baik apa yang tertulis dalam buku (Liliawati dan Ramalis 2008), pemikiran asosiatif (pemikiran yang b erbeda) dimana kata dan istilah yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran diasosiasikan lain oleh siswa (Marshall dan Gilmour 1990), alasan yang tidak lengkap (reasoning) dimana informasi atau data yang diperoleh dari guru pada saat proses pembelajaran tidak mereka tangkap secara penuh sehingga siswa keliru dalam menarik kesimpulan (Comins 1994), intuisi (perasaan dalam diri seseorang) dimana intuitisi adalah suatu perasaan dalam diri seseorang, yang secara spontan mengungkap sikap atau gagasannya tentang sesuatu secara objektif dan rasioanal sebelum diteliti. Pemikiran intuisi ini biasanya berasal dari pengamatan akan benda atau kejadian yang terus menerus. Akhirnya secara spontan, bila menghadapi persolan kimia tertentu, akan muncul dalam benak siswa adalah pengertian spontan itu. Jika pengertian spontan ini keliru, maka dapat menyebabkan miskonsepsi (Suparno 2005), kemampuan siswa

dimana siswa yang kurang mampu dalam mengusai dan mempelajari IPA sering mengalami kesulitan menangkap konsep yang benar dalam proses belajar meskipun guru telah menyampaikan bahan ajar dengan benar dan pelan pelan serta buku teks ditulis dengan benar sesuai dengan pengertian para ahli, pengertian yang mereka tangkap dapat tidak lengkap atau bahkan salah (Suparno 2005). dan minat siswa dimana minat siswa terhadap IPA juga bepengaruh pada moskonsepsi. Siswa yang tidak tertarik atau benci pada IPA, biasanya kurang berminat untuk belajar IPA atau kurang memperhatikan penjelasana guru tentang materi yang sedang disampaikan (Suparno 2005). Kebanyakan siswa sekarang belajar hanya untuk mendapatkan nilai tetapi tidak memperluas pengetahuan yang mereka dapatkan. Kesimpulan Dan Saran Kesimpulan Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh dari siswa kelas XI IPA 2 di SMA Negeri 1 Bonepantai dengan menggunakan tes pilihan ganda beralasan terbuka dengan metode CRI dapat disimpulkan bahwa miskonsepsi siswa pada materi asam basa kelas XI IPA 2 di SMAN 1 berada dalam kategori tinggi yaitu nilai rata-rata sebesar 52,14%, tahu konsep nilai rata-rata 14,29%, tahu konsep tetapi kurang yakin nilai rata-rata 2,38% dan tidak tahu konsep nilai rata-rata sebesar 31,19%. kemungkinan penyebab miskonsepsi pada siswa antara lain: buku, pemikiran asosiatif (pemikiran yang berbeda), alasan yang tidak lengkap (reasoning), intuisi (perasaan dalam diri seseorang), kemampuan memahami dan minat siswa. Saran 1. Bagi guru dapat melakukan apersepsi yang berkaitan dengan konsep pembelajaran pada saat awal pembelajaran. Sehingga siswa mendapatkan gambaran konsep awal yang benar untuk mempelajari konsep-konsep selanjutnya. Selain itu, apabila ditemukan miskonsepsi pada siswa, hendaknya guru memperbaiki miskonsepsi tersebut dengan cara menjelaskan konsep yang benar kepada siswa. 2. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian remediasi penanggulangan miskonsepsi. 3. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan mengenai penyebab miskonsepsi agar dapat dijadikan refleksi bagi guru kimia dalam melakukan pembelajaran. 4. Bagi pembaca, metode CRI ( Certainty of Response Index) diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan penelitian analisis miskonsepsi.

Daftar Pustaka Adodo, S O. 2013. Effects of Two-Tier Multiple Choice Diagnostic assessment items on Students Learning Outcome n Basic Science Technology (BST). MCSER- CEMAS-Sapienca University of Rome:mAcademic Journal of Interdisciplinary Studies. Dahar, Ratna Wilis. 2011. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga. Hasan, Saleem et.al. 1999. Misconceptions and the Certainty of Response Index (CRI). Journal of Phys. Educ. Vol. V. Kean, E. & Middlecamp, C. 1985. Panduan Belajar Kimia Dasar. Terjemahan oleh Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta: PT. Gramedia. Mahardika, Ria. 2014. Identifikasi miskonsepsi siswa menggunakan certainty of response index (CRI) dan wawancara diagnosis pada konsep sel. Jakarta. Nazar, Muhamad, Sulastri, Sri Winarni, dan Rakhmi Fitriana. 2009. Identifikasi Miskonsepsi Siswa SMA Pada Konsep Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi. Vol. 5 Ormrod, Jeanne Ellis. 2009. Psikologi pendidikan membantu siswa tumbuh dan berkembang. Jilid I. Jakarta: Erlangga. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Jakarta: Alfabeta, Cet. IV. Suniati, Ni Made Sari, Wayan Sadia, dan Anggan Suhanda. 2013. Pengaruh implemtasi pembelajaran kontekstual berbantuan multimedia interaktif tehadap penurunan miskonsepsi. e-journal Program Pascasarjna Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Administrasi Pendidikan. Vol. 4. Suparno, Paul. 2005. Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan Fisika. Jakarta: PT. Grasindo, Cet. I. Tayubi, Yuyu R. 2005. Identifikasi Miskonsepsi pada Konsep-Konsep Fisika Menggunakan Certainty of Response Index (CRI). Jurnal Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Vol. 24.