HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN Tipe-tipe Sel yang Tumbuh dan Berkembang dalam Kultur

KULTUR IN VITRO SEL-SEL FIBROBLAS FETUS TIKUS HARLYSTIARINI

TINJAUAN PUSTAKA Sel Fibroblas Morfologi dan Peranan Sel Fibroblas

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH CONDITIONED MEDIUM RAT EMBRYONIC FIBROBLAST

HASIL. Tabel 1 Perbandingan berat abomasum, fundus, dan mukosa fundus dari domba di atas dan di bawah satu tahun

Gambar Scan gel SDS PAGE protein sel galur HSC-3

KULTUR IN VITRO SEL-SEL OTAK BESAR (CEREBRUM) ANAK TIKUS VIVIT RIYACUMALA

BAB 5 HASIL PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PERCOBAAN KE 2 PEMISAHAN PROTEIN PUTIH TELUR DENGAN FRAKSINASI (NH 4 ) 2 SO 4

Jaringan adalah kumpulan dari selsel sejenis atau berlainan jenis termasuk matrik antar selnya yang mendukung fungsi organ atau sistem tertentu.

I. Tujuan Menentukan berat molekul protein dengan fraksinasi (NH 4 ) 2 SO 4 Teori Dasar

BAB I PENDAHULUAN. tahapan dalam siklus sel. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam surat an Nuh :

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. untuk mempertahankan integritas membran sel, sehingga kondisi sel tersebut

Fraksinasi merupakan langkah awal untuk melakukan proses purifikasi. Prinsip fraksinasi menggunakan liquid IEF BioRad Rotofor yakni memisahkan enzim

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0

BAB I PENDAHULUAN. penyebab intrakorpuskuler (Abdoerrachman et al., 2007). dibutuhkan untuk fungsi hemoglobin yang normal. Pada Thalassemia α terjadi

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. dalam kelas Liliopsida yang merupakan salah satu tumbuhan berbunga lidah dari

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah. Prevalensi DIABETES. Terapi. Prevalensi

Lampiran 1 Pembuatan Medium Kultur DMEM Lampiran 2 Pembuatan Larutan PBS Lampiran 3 Prosedur Pewarnaan HE

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Salmonella enterica serotype typhi (Salmonella typhi)(santoso et al.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. tikus putih (Rattus norvegicus, L.) adalah sebagai berikut:

TINJAUAN PUSTAKA. Tujuan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Beberapa definisi berkaitan dengan elektroforesis

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam Global Burden Disease Report, World Health Organization (WHO)

EMBRIOGENESIS IN VIVO PADA BIJI MELINJO (Gnetum gnemon L.) DAN PENGARUH ASAM ABSISAT TERHADAP PERKEMBANGAN IN VITRO BAKAL EMBRIO

BAB III METODE PENELITIAN. dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan lalu dibandingkan kerusakan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Lampiran 1 Data Rendemen Pelet Kapang Endofit Xylaria psidii KT30. Berat sampel (pelet) setelah sentrifugase: 0,223 gram

III. METODOLOGI PENELITIAN

4 Hasil dan Pembahasan

BAB I. PENDAHULUAN. ahli medis, bahkan orang awam diseluruh penjuru dunia. Sesuai dengan kata yang

METODE PENELITIAN. Pemilihan Ikan Uji dan Bakteri (Patogen dan Probiotik)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PERAN ISOFORM TAp73 DAN STATUS GEN p53 TERHADAP AKTIFITAS htert PADA KARSINOMA SEL SKUAMOSA RISBIN IPTEKDOK 2007

ulangan pada tiap perlakuan. Pada penelitian ini dilakuan sebanyak 6 kali ulangan.

Lampiran 1 Prosedur Pembuatan Preparat Histologi

HASIL DAN PEMBAHASAN

POTENSI TRANSDIFERENSIASI SEL FIBROBLAS MENJADI SEL SARAF SECARA IN VITRO

JARINGAN DASAR HEWAN. Tujuan : Mengenal tipe-tipe jaringan dasar yang ditemukan pada hewan. PENDAHULUAN

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini menggunakan Post Test Only Control Group Design yang

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Desain pada penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dengan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian tentang pengaruh pemberian tomat (Solanum

Otot rangka tersusun dari serat-serat otot yang merupakan unit. penyusun ( building blocks ) sistem otot dalam arti yang sama dengan

BAB III METODE PENELITIAN. rancangan percobaan post-test only control group design. Pengambilan hewan

Lampiran 1. Pembuatan Larutan Buffer untuk Dialisa Larutan buffer yang digunakan pada proses dialisa adalah larutan buffer Asetat 10 mm ph 5,4 dan

HASIL DAN PEMBAHASAN Penyimpanan In Vitro Bobot Basah

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. hidup, terkontaminasi dan eksplan Browning. Gejala kontaminasi yang timbul

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Pertumbuhan dan Peremajaan Isolat Pengamatan Morfologi Isolat B. thuringiensis

ANALISIS KERAGAMAN PROTEIN DAN FITOKIMIA TANAMAN PEGAGAN (Centella asiatica) HASIL PERBANYAKAN IN VITRO PUTRI KARINA LAILANI

HASIL DAN PEMBAHASAN

TRANSFORMASI DAN EKSPRESI pet-endo-β-1,4-xilanase DALAM Escherichia coli BL21 SKRIPSI. Oleh : Eka Yuni Kurniawati NIM

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Skripsi. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Sains

BAB I PENDAHULUAN. terhadap tubuh karena akan mengalami proses detoksifikasi di dalam organ tubuh.

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan

DIFERENSIASI EMBRYONIC STEM CELLS MENCIT MENJADI NEURON MENGGUNAKAN CONDITIONED MEDIUM RIRIS LINDIAWATI PUSPITASARI

Rickettsia typhi Penyebab Typhus Endemik

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. AKTIVITAS KUALITATIF ENZIM KITINOLITIK (INDEKS KITINOLITIK)

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Kuantitas dan Kualitas DNA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh pencekokan ekstrak rimpang rumput teki terhadap diameter oosit

PROTEIN IMUNOGENIK PENYUSUN KELENJAR SALIVA VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE Aedes aegypti L. SKRIPSI. Oleh Rofiatul Laila NIM

IDENTIFIKASI PROFIL PROTEIN OOSIT KAMBING PADA LAMA MATURASI IN VITRO YANG BERBEDA DENGAN SDS-PAGE. Nurul Isnaini. Abstrak

Lampiran 1 Proses Dehidrasi Jaringan

TINJAUAN PUSTAKA. Fitoplankton adalah alga yang berfungsi sebagai produsen primer, selama

I. PENDAHULUAN. memberikan sensasi seperti terbakar (burning sensation) jika kontak dengan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

MEKANISME TRANSPOR PADA MEMBRAN SEL

I. PENGANTAR. A. Latar Belakang Permasalahan. sinar X dalam bidang medis, yang dalam pelaksanaannya berkaitan dengan

Jaringan syaraf. Jaringan syaraf = Jaringan komunikasi. Mengubah rangsang menjadi impuls. Memberikan jawaban terhadap rangsang

Proses fisiologis dan biokimiawi yang meregulasi proses persalinan

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Air leri merupakan bahan organik dengan kandungan fosfor, magnesium

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

URAIAN MATERI 1. Kultur sel tunggal Sejalan dengan kemajuan teknologi DNA, ilmuwan telah mengembangkan dan menyempurnakan metode untuk melakukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1.1 Pengaruh Pembentukan Kalus Pada Media MS Kombinasi ZPT BAP dan 2,4-D.

BAB I PENDAHULUAN. Kultur jaringan hewan merupakan metode untuk memelihara sel hidup

Efisiensi isolat protein metode presipitasi dengan Aseton

FUNGSI JARINGAN PULPA DALAM MENJAGA VITALITAS GIGI. Sartika Puspita *

Transkripsi:

HASIL DAN PEMBAHASAN Morfologi Sel Fibroblas dalam Kultur In Vitro Hasil pengamatan kultur sel otot fetus tikus menunjukkan secara morfologi adanya dua bentuk sel, yakni sel fibrosit, berbentuk spindel pipih dan sel fibroblas, berbentuk spindel agak membulat dengan beberapa penjuluran sitoplasma (Gambar 4). c c b a b a A B Gambar 4. Kultur in vitro sel fibroblas : A. Sel fibrosit; B. Sel fibroblas; (a) Penjuluran sitoplasma, (b) Inti sel, (c) Sitoplasma; A-B Preparat natif; Bar: 20 µm. Sel fibroblas dan fibrosit memiliki inti sel yang berbentuk lonjong dan memiliki satu atau dua nukleoli yang kadang-kadang terlihat. Hal ini sejalan dengan Samuelson (2007) yang menyatakan bahwa sel fibrosit umumnya berbentuk spindel dengan penjuluran sitoplasma yang saling bersentuhan. Sedangkan, sel fibroblas memiliki bentuk yang lebih besar dibandingkan sel fibrosit (Eurell dan Sickle 1998) dengan beberapa penjuluran sitoplasma yang berbentuk irregular (Junquieira dan Carneiro 2005). Menurut Eurell dan Sickle (1998) inti sel fibrosit hanya dikelilingi oleh sedikit sitoplasma yang berwarna pucat. Sel fibrosit merupakan bentuk tidak aktif dari sel fibroblas (Junquieira dan Carneiro 2005). Menurut Eurell dan Sickle (1998) sel fibrosit merupakan sel yang paling umum ditemui pada jaringan ikat. Sel fibrosit memiliki kemampuan untuk membelah diri dan kembali aktif menjadi fibroblas saat dibutuhkan untuk memperbaiki jaringan yang rusak.

Selain dengan pengamatan secara natif, sel fibroblas juga diamati morfologinya dengan pewarnaan HE (Gambar 5). c b a Gambar 5. Sel-sel fibroblas dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Inti sel fibroblas terlihat dengan jelas (a) dengan satu atau dua nukleoli (b), sedangkan bagian sitoplasma tidak terlalu jelas (c). Bar: 20 µm. Menurut Aughey dan Fyre (2001) sel-sel fibroblas tidak dapat terwarnai dengan baik menggunakan metode HE karena adanya kandungan bahan dasar jaringan ikat yang berlimpah dan bersifat seperti gelatin. Pernyataan Aughey dan Fyre (2001) ini mendukung hasil pewarnaan HE dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa dengan pewarnaan HE sel-sel fibroblas hanya terlihat jelas di bagian inti selnya saja, sedangkan sitoplasmanya kurang jelas. Oleh karena sitoplasma sel tidak terlihat dengan jelas, sulit dilakukan pembedaan antara sel fibroblas dengan sel fibrosit. Hal ini juga sejalan dengan Eurell dan Sickle (1998) yang menyatakan bahwa dengan pewarnaan HE, hanya inti sel fibroblas saja yang dapat terlihat jelas, sedangkan bagian membran plasmanya tidak jelas. Oleh karena itu diperlukan metode pewarnaan lain yang diharapkan dapat mewarnai sel fibroblas dengan lebih baik misalnya pewarnaan Van Gieson,

Masson's trichrome, atau Periodic acid Schiff (PAS) yang merupakan jenis pewarnaan jaringan ikat. Pertumbuhan Sel Fibroblas dalam Kultur In Vitro Hasil penghitungan jumlah sel fibroblas memperlihatkan terjadinya peningkatan jumlah sel baik pada kultur primer maupun pada kultur galur sel setelah mengalami pasase. Sedangkan dilihat dari PDT, tampak bahwa dengan meningkatnya jumlah pasase, waktu PDT menjadi semakin kecil (Tabel 1). Tabel 1. Jumlah dan PDT sel fibroblas pada kultur in vitro Galur Jumlah sel awal Jumlah sel akhir PDT (hari) Kultur primer 6,0 x 10 6 16 x 10 6 4,2 1 2,4 x 10 6 6 x 10 6 3,7 5 1,2 x 10 6 3 x 10 6 2,2 9 2,0 x 10 5 6 x 10 5 1,9 Doubling time adalah periode waktu yang diperlukan oleh sel untuk menjadikan jumlah atau ukurannya dua kali dari jumlah maupun ukuran semula (Mader 2000). Semakin cepat proses proliferasi (pembelahan) sel, maka PDT yang dicapai pun akan semakin cepat. Pada kultur primer tampak bahwa PDT adalah 4,2 yang menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk proses pembelahan sel adalah 4,2 hari, waktu ini jauh lebih tinggi dibandingkan waktu yang dibutuhkan untuk proses pembelahan sel secara in vivo yaitu berkisar 18 24 jam (Butler 2004). Hal ini disebabkan komposisi sel pada kultur primer masih tidak homogen. Selain itu, selsel pada kultur primer belum bisa beradaptasi dengan lingkungan in vitro, sehingga pertumbuhannya belum terlalu baik. Namun demikian, seiring dengan dilakukannya pasase yang mengarah kepada homogenisitas sel, maka waktu yang dibutuhkan oleh sel untuk membelah semakin cepat dan bahkan setelah sel mengalami pasase ke 9, PDT menunjukkan nilai yang semakin mendekati kisaran waktu normal yang dibutuhkan untuk pembelahan secara in vivo. Sel yang telah

mengalami beberapa kali pasase akan semakin homogen dan akan lebih mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan in vitro. Menurut Freshney (2005) setelah pasase ke tiga, sel yang dikultur akan menjadi lebih stabil dan mampu berproliferasi dengan lebih cepat. Peningkatan jumlah sel ini berkolerasi dengan hasil pengamatan morfologi sel. Semakin homogen sel di dalam kultur, maka tingkat proliferasinya juga akan semakin cepat. Menurut Freshney (2005), proliferasi sel dipengaruhi oleh faktor dari lingkungan. Oleh karena itu, selain faktor homogenitas, salah satu faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap tingkat proliferasi sel adalah kepadatan sel. Sel dermal fibroblas akan berkembang relatif seragam (uniform) pada kultur dengan kepadatan rendah (sekitar 10 4 sel/ml), dan sebaliknya pada kultur dengan kepadatan tinggi (sekitar 10 5 sel/ml), sel yang berkembang akan relatif tidak seragam, terjadi induksi terhadap sel untuk berdiferensiasi, dan terjadi penghambatan proliferasi sel (Freshney 2000). Sel fibroblas dalam penelitian dikultur dengan konsentrasi 10 5 yang menurut Freshney (2000) termasuk dalam kategori padat, oleh karenanya proliferasi sel juga tidak berjalan dengan baik. Penghambatan proliferasi sel dapat diinisiasi oleh kontak antar sel dan ditonjolkan oleh kepadatan, perubahan resultan pada bentuk sel, dan penurunan penyebaran sel (Freshney 2005). Kepadatan menyebabkan terjadinya induksi dan diferensiasi karena kontak antar sel memungkinkan terbentuknya gap junction dan menyebabkan metabolit mengsinkronisasi ekspresi diferensiasi di dalam populasi sel. Hal ini umumnya terjadi saat populasi sel telah menutupi seluruh permukaan tempat sel ditumbuhkan atau dikenal dengan istilah konfluen (Butler 2004). Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi proliferasi sel adalah nutrisi (Freshney 2000). Tetapi dalam penelitian ini, faktor nutrisi tidak mempengaruhi proliferasi sel, karena semua sel menggunakan medium dengan kandungan nutrisi yang sama. Identifikasi protein Conditioned medium yang mengandung sekreta protein yang diekskresikan oleh sel dalam kultur di analisis kandungannya menggunakan metode Sodium Dodecyl Sulfate Polyacrylamide Gel Electrophoresis (SDS PAGE) dilanjutkan dengan metode pewarnaan silver nitrat (Gambar 6).

Gambar 6. Hasil SDS PAGE conditioned medium kultur sel fibroblas dengan visualisasi protein menggunakan metode silver nitrat. Semua sampel memiliki BM kurang lebih 36,5 kda. (M: Marker; KP: Kultur primer; P1, P5, P9: Kultur galur sel 1, 5, dan 9). Estimasi berat molekul protein yang terkandung di dalam CM kultur sel fibroblas dilakukan dengan menggunakan perbandingan berat molekul protein standar (marker) yang di-running secara bersamaan dengan CM kultur sel fibroblas. Hasil pewarnaan memperlihatkan pita (band) yang sejajar baik dari kultur primer, pasase 1, pasase 5, maupun pasase 9. Hal ini menunjukkan bahwa berat molekul protein dari keempat sampel CM yang dievaluasi adalah sama. Estimasi berat molekul protein berdasarkan marker yang digunakan adalah 36,5 kda. Ketebalan pita protein yang dihasilkan oleh tiap sampel berbeda. Pita protein yang paling tebal adalah pita protein dari CM kultur primer dan pasase 1 dengan ketebalan pita yang hampir sama. Selanjutnya adalah pasase 5 dan yang paling tipis adalah pita protein dari CM pasase 9. Ketebalan pita protein ini dipengaruhi oleh jumlah sel fibroblas yang ada di dalam kultur. Semakin sedikit jumlah sel fibroblas maka dapat diasumsikan bahwa konsentrasi protein yang disekresikan ke dalam CM juga semakin sedikit. Sesuai dengan data pengamatan pertumbuhan sel, jumlah total sel di akhir setiap pasase semakin menurun. Oleh karena itu, pita protein yang dihasilkan juga semakin lama semakin tipis.

Penurunan jumlah sel akhir ini dikarenakan jumlah sel awal yang dikultur konsentrasinya tidak sama.