EFEK PEMBERIAN PREBIOTIK DALAM PAKAN KOMERSIAL TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN PATIN (Pangasius sp.)

dokumen-dokumen yang mirip
APLIKASI PREBIOTIK PADA PAKAN KOMERSIAL UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

APLIKASI PREBIOTIK UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PAKAN IKAN LELE (Clarias sp.)

KECERNAAN PAKAN IKAN PATIN (Pangasius sp.) DENGAN PENAMBAHAN DOSIS PREBIOTIK YANG BERBEDA

APLIKASI PROBIOTIK AMILOLITIK PADA PAKAN BERBASIS KARBOHIDRAT TINGGI UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PERTUMBUHAN IKAN NILA Oreochromis niloticus

APLIKASI PREBIOTIK UNTUK MENINGKATKAN NILAI KECERNAAN PAKAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Jurnal Perikanan dan Kelautan p ISSN Volume 7 Nomor 1. Juni 2017 e ISSN Halaman : 18 24

PENGARUH PREBIOTIK TERHADAP NILAI AMONIAK PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

III. BAHAN DAN METODE

II. BAHAN DAN METODE

3 METODE PENELITIAN A2B2 (37;11) A2B1 (37;9) A1B2 (33;11) Tepung ikan

3. METODE Waktu dan Tempat Penelitian Tahapan Penelitian Prosedur Penelitian a. Tahap I 1. Kultur bakteri Serratia marcescens

PENGGUNAAN TEPUNG DAGING DAN TULANG SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN HEWANI PADA PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

II. METODOLOGI 2.1 Penyediaan Bakteri Probiotik 2.2 Ekstraksi Oligosakarida/Prebiotik

II. BAHAN DAN METODE. Bahan Pakan

Sri Yuningsih Noor 1 dan Rano Pakaya Mahasiswa Program Studi Perikanan dan Kelautan. Abstract

II. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Agustus

METODE PENELITIAN. Penelitian Tahap 1: Uji Efektivitas Enzim Cairan Rumen Domba Terhadap Penurunan Kandungan Serat Kasar Bungkil Kelapa

III. BAHAN DAN METODE

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan selama 40 hari pada bulan Agustus sampai dengan

BAB III BAHAN DAN METODE

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan Prosedur Penelitian Isolasi dan Seleksi Bakteri Proteolitik Isolasi Bakteri Proteolitik

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Maret 2014 di

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 10 Mei 30 Juni 2013 selama 50

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

II. BAHAN DAN METODE

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada tanggal 26 Maret - 25 April 2012 di Laboratorium

GAMBARAN DARAH IKAN PATIN (Pangasius sp.) DENGAN PENAMBAHAN PREBIOTIK PADA PAKAN

II. BAHAN DAN METODE

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2011 bertempat di. Balai Budidaya Ikan Hias, Natar, Lampung Selatan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG IKAN RUCAH TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA GESIT (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG IKAN RUCAH TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA GESIT (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilakukan selama 2 bulan pada bulan Februari-April 2015,

Efektivitas Suplemen Herbal Terhadap Pertumbuhan dan Kululushidupan Benih Ikan Lele (Clarias sp.)

PENGARUH DOSIS PAKAN YANG DICAMPUR PROBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN. 1. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan gurami

PENGARUH SUMBER ASAM LEMAK PAKAN BERBEDA TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN IKAN BOTIA Botia macracanthus Bleeker

PEMANFAATAN BIOFLOK DARI LIMBAH BUDIDAYA LELE DUMBO (Clarias gariepinus) SEBAGAI PAKAN NILA (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

II. BAHAN DAN METODE

Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Rata-rata Benih Lele Dumbo pada Setiap Periode Pengamatan

3. METODE Penelitian 1: Kecernaan pakan dan kecernaan protein pada pemeliharaan ikan lele.

BAB III BAHAN DAN METODE

METODE PENELITIAN. M 1 V 1 = M 2 V 2 Keterangan : M 1 V 1 M 2 V 2

EVALUASI PENGGUNAAN PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILEM (Osteochilus hasseltii)

BAB III BAHAN DAN METODE

PEMBERIAN PAKAN PELET DAN BAHAN BAKU LOKAL TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Jolanda Sitaniapessy 1

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGGUNAAN TEPUNG ONGGOK SINGKONG YANG DIFERMENTASI DENGAN Rhizopus sp. SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

Gambar 4. Grafik Peningkatan Bobot Rata-rata Benih Ikan Lele Sangkuriang

II. BAHAN DAN METODE

METODOLOGI Waktu dan Tempat Ikan Uji Persiapan Bahan Baku Biji Karet Komposisi TBBK Tidak Diolah TBBK Diolah

BAB 4. METODE PENELITIAN

Afriansyah Nugraha*, Yuli Andriani**, Yuniar Mulyani**

PENGARUH PEMBERIAN ENZIM PAPAIN PADA PAKAN TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4. METODE PENELITIAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

PERTUMBUHAN IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypopthalmus) YANG DIPELIHARA DENGAN SISTEM BIOFLOK PADA Feeding Rate YANG BERBEDA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PAKAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIBERI PAKAN BUATAN BERBASIS KIAMBANG

BAHAN DAN METODE. 3.1 Waktu dan tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2009 di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi.

METODE KERJA. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2014 sampai April 2015 di. Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung.

GAMBARAN DARAH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN PENAMBAHAN DOSIS PREBIOTIK YANG BERBEDA DALAM PAKAN

II. METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. : Nilai pengamatan perlakuan ke-i, ulangan ke-j : Rata-rata umum : Pengaruh perlakuan ke-i. τ i

II. BAHAN DAN METODE

PERTUMBUHAN IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) YANG DIBERI PAKAN MENGANDUNG IKAN ASIN BAWAH STANDAR (IABS) DENGAN KESEGARAN BERBEDA

PENGGUNAAN MEAT AND BONE MEAL (MBM) SEBAGAI SUMBER PROTEIN UTAMA DALAM PAKAN UNTUK PEMBESARAN IKAN NILA Oreochromis niloticus

PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PRODUKSI PEMBESARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) DI KERAMBA JARING APUNG WADUK CIRATA

II. METODELOGI 2.1 Waktu dan Tempat 2.2 Alat dan Bahan 2.3 Tahap Penelitian

III. BAHAN DAN METODE

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1 Prosedur Analisis Proksimat (Takeuchi, 1988) 1.1 Prosedur analisis kadar air (X 1 + A) A

Penggantian Tepung Ikan dengan Tepung Ikan Asin Bawah Standar dalam Formulasi Pakan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

PERBANDINGAN KARBON DAN NITROGEN PADA SISTEM BIOFLOK TERHADAP PERTUMBUHAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus)

Berkala Perikanan Terubuk, Juli 2016, hlm ISSN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada 2 Oktober sampai 10 November 2014,

Pengaruh Pemberian Viterna Plus dengan Dosis Berbeda pada Pakan terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Lele Sangkuriang di Balai Benih Ikan Kota Gorontalo

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Maret 2014 bertempat

PENGARUH TEKNIK ADAPTASI SALINITAS TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN PATIN, Pangasius sp.

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2015 selama 50

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

PEMBERIAN MOLASE PADA APLIKASI PROBIOTIK TERHADAP KUALITAS AIR, PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio)

KINERJA PERTUMBUHAN JUVENIL IKAN LELE DUMBO (Clarias sp.) YANG DIBERI PAKAN DENGAN KANDUNGAN KROMIUM BERBEDA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2012 di Laboratorium

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai dengan bulan Nopember

II. BAHAN DAN METODE

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan pada bulan September-Oktober 2013,

PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG KEPALA IKAN TERI TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis sp.)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2012 hingga Februari 2013

SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG CACING TANAH DALAM PAKAN UNTUK PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PAKAN IKAN BAUNG (Mystus nemurus CV ABSTRAK

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN Persiapan Penelitian Penelitian Pendahuluan Tahap 1 Waktu dan Tempat

BAB IV HASIL. Pertumbuhan. Perlakuan A (0%) B (5%) C (10%) D (15%) E (20%) gurame. Pertambahan

Transkripsi:

EFEK PEMBERIAN PREBIOTIK DALAM PAKAN KOMERSIAL TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN PATIN (Pangasius sp.) (Effect of Prebiotic in Commercial Feed on the Growth of Catfish (Pangasius sp.)) Ida Hadijah 1), Mustahal 1), Achmad Noerkhaerin Putra 1) 1) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jl. Raya Jakarta Km. 4 Pakupatan, Serang Banten Email: putra.achmadnp@untirta.ac.id ABSTRACT A prebiotic is a non-digestible food ingredient that beneficially affects the host by selectively stimulating the growth or the activity of one or a limited number of bacteria in the colon. This research aimed to determine the effect of commercial feed containing prebiotics on the growth of catfish (Pangasius sp.). The experiment were done with four treatments and three replicates, namely control A (0% prebiotic), B (1% prebiotic), C (2% prebiotic), D (3% prebiotic). The treatment with the addition of 1% prebiotic can improve number of bacteria populations, protein retention, protein efficiency ratio, specific growth rates, feed efficiency and survival rate higher than the other treatments with the value of each 9.25 ± 0.09 b %, 15.65 ± 3.83 b %, 112.68 ± 25.22 b %, 1.52 ± 0.16 c %, 31.55 ± 5.1 b % and 93.33 ± 6.67%.. Therefore, the addition of 1% prebiotic can promote the growth performance of catfish. Keywords : catfish, growth, prebiotic PENDAHULUAN Pemberian pakan buatan dalam budidaya ikan patin secara intensif merupakan hal yang mutlak dibutuhkan karena mampu menunjang pertumbuhan patin secara optimal. Namun, penggunaan pakan buatan atau pelet cenderung memakan biaya yang relatif tinggi. Pertumbuhan sangat tergantung dengan kandungan protein dalam pakan, namun ikan tidak hanya memanfaatkan protein untuk pertumbuhan tetapi juga sebagai sumber energi. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan penambahan prebiotik pada pakan komersial. Prebiotik adalah bahan makanan yang tidak dapat dicerna yang menguntungkan inang yang secara selektif merangsang pertumbuhan atau aktivitas satu atau sejumlah bakteri dalam usus besar (Ringø et al. 2010). Putra (2010) dan Putra et al. (2015) melaporkan bahwa penambahan prebiotik dalam pakan telah meningkatkan jumlah populasi bakteri dibandingkan dengan perlakuan lainnya sehingga diduga menyebabkan aktivitas enzim dalam pencernaan dan kecernaan pakan meningkat. Beberapa prebiotik telah digunakan pada kegiatan akuakultur dan telah berperan dalam meningkatkan pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, kecernaan, efisiensi pakan, sistem kekebalan tubuh dan komposisi bakteri yang Efek Pemberian Prebiotik dalam Pakan.. 33

menguntungkan (probiotik) dalam saluran pencernaan ikan (Putra 2014). Sudiarto (2013) menyatakan bahwa dosis pemberian prebiotik terbaik adalah 1% yang diformulasikan dalam pakan terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Sedangkan Putra et al. (2015) melaporkan bahwa penambahan prebiotik sebesar 2% dalam pakan telah meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Namun sejauh ini belum ada yang melaporkan dosis prebiotik terbaik pada ikan patin yang terkait dengan peningkatan nilai nutrisi dengan aplikasi prebiotik. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai peranan prebiotik dalam meningkatkan pertumbuhan ikan patin. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian prebiotik pada pakan komersial terhadap pertumbuhan ikan patin (Pangasius sp.). METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan Juli - September 2014 dan bertempat di Balai Benih Ikan Baros. Pengujian jumlah populasi bakteri dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Sedangkan analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Ekstraksi Oligosakarida/Prebiotik Proses ekstraksi prebiotik dari ubi jalar mengacu pada Muchtadi (1989). Sebanyak 500 gram tepung ubi jalar dicampur air dengan perbandingan 1:1 (w/v) dan dikukus pada suhu 100 o C selama 30 menit. Kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 55 o C selama 18 jam. Pada proses ekstraksi, sebanyak 100 gram tepung kukus ubi jalar disuspensikan ke dalam 1 L etanol 70% dan diaduk selama 15 jam menggunakan magnetic stirer pada suhu ruang. Filtrat yang diperoleh dipekatkan menggunakan evaporator vakum pada suhu 40 o C. Hasil pemekatan di sentrifuse pada 5000 rpm selama 10 menit untuk mengendapkan kotoran, sehingga ekstrak mudah disterilisasi dengan kertas saring. Ubi jalar yang digunakan dalam penelitian ini adalah ubi jalar varietas cilembu Pemeliharaan Ikan Ikan patin yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan patin dengan bobot rata-rata 7±0,73 g/ekor yang berasal dari Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi. Ikan patin dipelihara dengan kepadatan 15 ekor/akuarium dimana setiap akuarium diberi heater. Peletakan akuarium disusun secara acak. Akuarium yang digunakan berukuran 75 x 40 x 28 cm, dengan volume air 84 liter sebanyak 12 buah. Pada bagian luar akuarium ditutup dengan plastik hitam agar ikan tidak mengalami stres. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 60 hari dengan 34 Hadijah et al.

menggunakan sistem resirkulasi. Ikan terlebih dahulu diaklimatisasi terhadap lingkungan dan pakan selama 7 hari. Setelah masa aklimatisasi selesai, ikan uji dipuasakan selama 24 jam dengan tujuan menghilangkan sisa pakan dalam tubuh. Dalam menjaga kualitas air dalam wadah pemeliharaan, akuarium disifon untuk menghilangkan sisa-sisa pakan dan kotoran sebanyak dua kali sehari pada waktu pagi dan sore, air diganti sebanyak ± 30% dari total volume akuarium. Pergantian air di bak fiber serta pergantian fisik dilakukan setiap seminggu sekali. Sama halnya dengan pengukuran kualitas air meliputi suhu dan ph dilakukan setiap hari selama pemeliharaan. Pengukuran DO (Dissolved Oxygen) dan NH3 dilakukan sebanyak tiga kali pada awal, pertengahan dan akhir pemeliharaan. Pada pencampuran prebiotik ke dalam pakan komersial, dosis prebiotik yang sesuai dengan perlakuan dimasukkan kedalam formulasi pakan kemudian dilakukan repeleting dan dikeringkan dengan oven pada suhu 60 0 C. Komposisi bahan penyusun pakan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perlakuan dosis prebiotik Komposisi Pakan Perlakuan Prebiotik (%) A B C D Pakan Komersial 100 100 100 100 Tepung Tapioka 8 8 8 8 Cr 2O 3 0,5 0,5 0,5 0,5 Prebiotik 0 1 2 3 Parameter yang di uji Parameter penelitian yang diamati yaitu jumlah konsumsi pakan, jumlah populasi bakteri, retensi protein, protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan spesifik (SGR), efisiensi pakan dan tingkat kelangsungan hidup (SR). Analisis Data Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulangan dan empat perlakuan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk melihat perbedaan perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan uji Duncan s Multiple Range dengan menggunakan program komputer SPSS 16. HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah konsumsi pakan yang dikonsumsi ikan patin selama pengujian tidak mengalami perbedaan antar perlakuan. Selisih konsumsi pakan antara perlakuan 1% prebiotik dan 3% prebiotik tidak signifikan, yaitu sebesar 473,33 ± 9,61 g dan 474,00 ± 10,15 g. Pada Tabel 2, menunjukkan bahwa konsumsi pakan tertinggi diperoleh pada perlakuan 0% prebiotik yang nilainya tidak berbeda nyata (P > 0,05) antar perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan prebiotik pada pakan Efek Pemberian Prebiotik dalam Pakan.. 35

tidak berpengaruh terhadap attractability pakan. Hasil yang sama juga diperoleh oleh Putra (2010), penambahan prebiotik dalam pakan tidak berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pakan untuk setiap perlakuan. Tabel 2. Nilai Jumlah Konsumsi Pakan (JKP), Jumlah Populasi Bakteri (JPB), Retensi Protein (RP), Protein Efisiensi Rasio (PER), Specific Growth Rates (SGR), Efisiensi Pakan (EP), Survival Rate (SR). Parameter Dosis Prebiotik (%) 0 1 2 3 JKP (g) 482,67 ± 5,13 473,33 ± 9,61 463,33 ± 4,04 474,00 ± 10,15 JPB (Log CFU/ml) 8,71 ± 0,02 a 9,25 ± 0,09 b 8,85 ± 0,23 a 8,80 ± 0,16 a RP (%) 7,37 ± 0,16 a 15,65 ± 3,83 b 9,52 ± 1,81 a 9,15 ± 0,26 a PER (%) 51,32 ± 4,26 a 112,68 ± 25,22 b 55,14 ± 22,57 a 47,40 ± 10,67 a SGR (%) 0,82 ± 0,02 a 1,52 ± 0,16 c 1,06 ± 0,05 b 0,95 ± 0,01 ab EP (%) 12,63 ± 1,05 a 31,55 ± 5,1 b 18,15 ± 2,5 a 15,57 ± 1,04 a SR (%) 84,44 ± 7,70 93,33 ± 6,67 86,67 ± 11,55 86,67 ± 6,67 Keterangan : Huruf superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P < 0,05). Penambahan prebiotik dalam pakan bertujuan untuk meningkatkan populasi probiotik dalam saluran pencernaan ikan patin. Pada pengujian, perlakuan pakan dengan dosis prebiotik 1% menunjukkan nilai jumlah populasi bakteri tertinggi yaitu sebesar 9,25 ± 0,09 Log CFU/ml, diikuti oleh perlakuan prebiotik 2% sebesar 8,85 ± 0,23 Log CFU/ml, perlakuan 3% prebiotik yaitu sebesar 8,80 ± 0,16 Log CFU/g dan populasi terendah yaitu pada perlakuan kontrol memiliki nilai sebesar 8,71 ± 0,02 Log CFU/ml. Penambahan prebiotik pada pakan diduga telah menstimulir pertumbuhan mikroflora normal di dalam saluran pencernaan ikan patin, sehingga jumlah log populasi bakteri pada perlakuan prebiotik lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pakan dengan penambahan prebiotik mampu meningkatkan jumlah populasi bakteri yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol walaupun dari hasil analisis tidak berbeda nyata (P > 0,05). Hal yang sama diperoleh oleh Putra (2010) dan Sudiarto (2013), penambahan prebiotik dalam pakan tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah populasi bakteri untuk setiap perlakuan. Pakan ikan yang telah dicerna kemudian sari-sarinya akan diserap oleh dinding usus. Nutrien yang terkandung dalam pakan salah satunya protein, yang telah dikonsumsi selanjutnya akan tercerna dan terhidrolisis menjadi asam amino bebas yang kemudian akan di absorpsi oleh jaringan intestinal dan didistribusikan oleh darah ke jaringan maupun organ (NRC 1993). Jumlah nutrien yang mampu diserap dari dalam pakan untuk disimpan didalam tubuh ikan digambarkan dengan nilai retensi. Nilai retensi protein tertinggi terdapat pada perlakuan pakan dengan dosis prebiotik 1% sebesar 15,65 ± 3,83%, kemudian diikuti oleh perlakuan prebiotik 2% sebesar 9,52 ± 1,81%, perlakuan prebiotik 3% sebesar 9,19 ± 0,26% dan perlakuan kontrol dengan nilai retensi sebesar 7,37 ± 0,16%. Berdasarkan hasil 36 Hadijah et al.

analisis data menunjukkan bahwa perlakuan pakan dengan penambahan 1% prebiotik berbeda nyata (P < 0,05) terhadap perlakuan pakan 0%, 2% dan 3%. Nilai retensi protein dengan penambahan prebiotik cenderung lebih tinggi dibanding perlakuan kontrol, hal ini menunjukkan bahwa protein dari pakan dengan penambahan prebiotik lebih dominan untuk disimpan didalam tubuh dibandingkan dengan pakan tanpa penambahan prebiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan prebiotik 1% telah meningkatkan aktifitas enzim protease dari ikan uji. Enzim protease bertugas memecah protein menjadi asam amino, sehingga lebih mudah untuk diserap dan akhirnya jumlah protein yang disimpan dalam tubuh akan lebih besar. Penyerapan protein yang baik akan meningkatkan ketersediaan asam amino yang diperlukan untuk pertumbuhan maupun memperbaiki sel-sel yang rusak. Dengan meningkatnya penyerapan asam amino dalam pakan akan meningkatkan ketersediaan energi, sehingga asam amino akan lebih efisien dimanfaatkan sebagai komponen pembangun tubuh dan pembentukan jaringan baru, dibandingkan sebagai sumber energi. Protein yang sudah dicerna tersebut sebagian ada yang disimpan dalam tubuh dan adapula yang langsung dimanfaatkan sebagai sumber energi serta pertumbuhan. Dengan demikian ikan telah mampu untuk mencerna protein yang kemudian disimpan didalam tubuh dalam bentuk nilai retensi. Dapat dikatakan bahwa ikan patin lebih baik dalam meretensi protein pada pakan dengan penambahan prebiotik dibandingkan dengan pakan yang tanpa penambahan prebiotik. Hal yang sama diperoleh Putra (2010) bahwa penambahan dosis prebiotik 2% pada pakan dapat meningkatkan retensi protein pada ikan nila yaitu sebesar 27,26 ± 1,12% dan nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol yaitu sebesar 21,13 ± 0,84%. Protein yang terkandung dalam pakan sangat mempengaruhi pertumbuhan. Pakan dengan kandungan protein optimal dapat menghasilkan pertumbuhan yang maksimal. Penambahan prebiotik 1% pada pakan menghasilkan aktifitas retensi protein tertinggi dibandingkan perlakuan kontrol, hal ini bekorelasi positif dengan nilai protein efisiensi rasio (PER). Berdasarkan nilai protein efisisensi rasio pada Tabel 2 didapatkan nilai yang tertinggi adalah perlakuan pakan dengan penambahan 1% prebiotik yaitu 112,68 ± 25,22%, diikuti oleh perlakuan pakan dengan 2% prebiotik yaitu 55,14 ± 22,57%, pakan kontrol sebesar 51,32 ± 4,26 dan terendah yaitu pakan dengan prebiotik 3% sebesar 47,40 ± 10,67%. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pakan dengan penambahan 1% prebiotik sangat efisien dalam pemanfaatan protein dibandingkan dengan perlakuan 2% dan 3% maupun kontrol. Semakin banyak protein yang dipecah menjadi peptida hingga asam amino, maka semakin banyak pula jumlah asam amino yang dapat diserap dan digunakan oleh tubuh. Penambahan prebiotik 1% pada pakan menghasilkan nilai aktifitas retensi protein dan protein efisiensi rasio yang tertinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Hal ini berbanding lurus dengan nilai Specific Growth Rates (SGR) dan Efek Pemberian Prebiotik dalam Pakan.. 37

nilai efisiensi pakan. Pemeliharaan selama 60 hari memperlihatkan bahwa ikan patin mampu memanfaatkan pakan uji untuk tumbuh. Pertumbuhan ikan uji terlihat dari adanya peningkatan bobot tubuh dan nilai SGR individu. Pertumbuhan ikan tersebut terjadi karena adanya pemanfaatan pakan yang dikonsumsi oleh ikan uji. Pemanfaatan pakan ini terlihat dari adanya kemampuan ikan untuk memanfaatkan nutrien pakan menjadi nutrien dalam tubuh dan mengkonversikan nutrisi tersebut menjadi energi. Pada dasarnya ikan akan mencerna pakan yang dikonsumsinya menjadi sumber energi yang digunakan untuk pertahanan tubuh dan pertumbuhannya. Pemberian prebiotik pada pakan berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap peningkatan nilai SGR pada ikan patin. Dalam hal ini, nilai SGR tertinggi diperoleh dari perlakuan pakan dengan penambahan 1% prebiotik yaitu sebesar 1,52 ± 0,16% dan lebih besar dibandingkan dengan perlakuan kontrol sebesar 0,82 ± 0,02 %. Nilai SGR menunjukkan bahwa ikan mampu memanfaatkan nutrien pakan untuk disimpan dalam tubuh dan mengkonversinya menjadi energi dan pertumbuhan. Nilai SGR pada pakan dengan penambahan prebiotik 1% menunjukkan nilai yang tertinggi dan berkorelasi positif dengan nilai efisiensi pakan. Efisiensi pakan merupakan kemampuan ikan untuk memanfaatkan pakan secara optimal. Hal ini terkait dengan kemampuan ikan untuk mencerna pakan yang diberikan kemudian menyimpannya didalam tubuh. Perlakuan prebiotik pada pakan meningkatkan respon yang tinggi terhadap pertumbuhan ikan yang diuji. Sehingga menghasilkan tingkat pemanfaatan pakan yang lebih efisien dibandingkan dengan perlakuan kontrol atau tanpa penambahan prebiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan pakan dengan penambahan 1% prebiotik yaitu sebesar 31,55 ± 5,10%, lebih besar dibandingkan dengan perlakuan kontrol yaitu sebesar 12,63 ± 1,05%, serta menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P < 0,05). Pakan tanpa penambahan prebiotik memiliki nilai efisiensi pakan yang rendah. Semakin rendah nilai efisiensi pakan, maka ikan semakin tidak efisien dalam memnfaatkan pakan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan prebiotik dalam pakan mampu meningkatkan pemanfaatan nutrisi pakan yang lebih efektif serta diikuti juga dengan peningkatan deposisi bobot tubuh yang lebih efisien. Sehingga penggunaan prebiotik pada pakan lebih efisien dan memberikan respon lebih baik pada nilai efisiensi pakan. Hasil yang sama diperoleh pada penelitian yang dilakukan oleh Sudiarto (2013) bahwa penambahan prebiotik dengan dosis 2% pada pakan dapat meningkatkan nilai efisiensi pakan pada ikan nila sebesar 22,297 ± 2,695% dan nilai ini lebih besar dibandingkan dengan perlakuan kontrol yaitu sebesar 15,204 ± 3,154%. Serta penelitian yang dilakukan oleh Putra (2014) disebutkan bahwa penambahan prebiotik 2% pada pakan dapat meningkatkan nilai efisiensi pakan pada ikan nila sebesar 66,98 ± 0,90%, dimana nilai tersebut lebih besar dibandingkan dengan perlakuan kontrol yaitu 39,25 ± 4,24%. 38 Hadijah et al.

Hasil analisis data pada parameter survival rate (SR), menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata antar setiap perlakuan (P > 0,05). Namun dapat dilihat bahwa perlakuan pakan dengan 1% prebiotik cenderung lebih tinggi nilainya dibandingkan perlakuan prebiotik 0%, 2% dan 3%. Nilai SR untuk perlakuan pakan dengan dosis 1% prebiotik yaitu 93,33 ± 6,67% diikuti oleh perlakuan 3% prebiotik yaitu 88,89 ± 10,18%, perlakuan 2% prebiotik dengan nilai 86,67 ± 11,55% dan perlakuan 0% prebiotik sebesar 84,44 ± 7,70%. Rendahnya tingkat kelangsungan hidup pada perlakuan 0% prebiotik dibandingkan dengan perlakuan prebiotik 1%, 2% dan 3%, diduga terkait dengan peningkatan daya tahan tubuh ikan terhadap stres. Stres dapat terjadi karena sampling ikan yang dilakukan saat pengukuran panjang dan berat dari ikan patin setiap satu minggu sekali. Selain itu daya listrik yang kurang stabil di lokasi pemeliharaan, menyebabkan pemanas air atau heater yang digunakan dalam akuarium terkadang mati sehingga suhu menjadi turun begitupun dengan peralatan atau fasilitas yang menggunakan listrik menjadi tidak berfungsi. Nilai SR yang rendah bukan karena perlakuan pakan. Pemeliharaan ikan didukung dengan adanya sistem resirkulasi, penyiponan feses dan pembersihan bak filter resirkulasi yang rutin yang mampu mendukung kehidupan ikan patin. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penambahan prebiotik ubi Cilembu dalam pakan telah meningkatkan pertumbuhan ikan patin (Pangasius sp.). Penambahan prebiotik 1% dalam pakan komersial menghasilkan nilai terbaik dibandingkan dengan perlakuan kontrol dengan jumlah populasi bakteri dalam saluran pencernaan sebesar 9,25%, retensi protein 7,37%, rasio efisiensi protein 112,68%, laju pertumbuhan spesifik 1,52%, efisiensi pakan 31,55% dan tingkat kelangsungan hidup (SR) 93,33%. Saran Penambahan prebiotik 1% pada pakan komersial dapat diaplikasikan untuk budidaya ikan patin secara intensif. DAFTAR PUSTAKA NRC [National Research Council]. 1993. Nutrient requirements of fish. National Academic Press. Washington D. C. 115 pp. Putra AN. 2010. Kajian Probiotik, Prebiotik dan Sinbiotik untuk Meningkatkan Kenerja Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus). [TESIS]. Bogor : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Efek Pemberian Prebiotik dalam Pakan.. 39

Putra AN. 2014. Sweet Potato Varieties Sukuh Potential As A Prebiotics In Tilapia Feed (Oreochromis niloticus). International Conference of Aquaculture Indonesia 2014 35: 254-258 Putra AN, Utomo NBP dan Widanarni. 2015. Growth Performance of Tilapia (Oreochromis niloticus) Fed with Probiotic, Prebiotic and Synbiotic in Diet. Pakistan Journal of Nutrition 14(5): 263-268. Ringø E, Olsen RE, Gifstad TØ, Dalmo RA, Amlund H, Hemre GL dan Bakke AM. 2010. Prebiotics in aquaculture: a review. Aquaculture Nutrition 16:117-136 Sudiarto AJ, Mustahal dan Putra AN. 2013. Aplikasi Prebiotik pada Pakan Komersial untuk Meningkatkan Kinerja Pertumbuhan pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus). Jurnal Perikanan dan Kelautan 4 (4): 229-234 40 Hadijah et al.