BAB 5 SIMPULAN DAN REKOMENDASI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan menginginkan agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai tepat pada

WALI KOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI

BAB III LAPORAN PELAKSANAAN MAGANG Pengenalan Lingkungan kerja Pada PT (Persero) Angkasa Pura II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Karyawan dalam suatu organisasi merupakan aset terpenting dalam

BAB V PENUTUP. keistimewaan bidang kebudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta, maka dapat. yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan DIY.

BAB I PENDAHULUAN. karyawan untuk mendapatkan kinerja terbaik. memikirkan bagaimana cara perusahaan beradaptasi dengan lingkungan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekolah sebagai suatu organisasi dan lembaga pendidikan dipimpin

Perpustakaan Unika LAMPIRAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Penerapan Disiplin Kerja Karyawan Pada PT. Kusumahadi Santosa Alfinia Palupi Hidayah D

BAB I PENDAHULUAN. memasuki era pemerintahan yang kompetitif tersebut. Kemampuan ini sangat

BAB 1 PENDAHULUAN. dukungan dari pegawai yang kompeten dan terampil. maka kemungkinan untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah peletak dasar pelaksana sistem

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Dewan Komisaris

ANALISIS PENGARUH KEPEMIMPINAN, INSENTIF DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP DISIPLIN KERJA PADA PEGAWAI DINAS LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN MAGELANG

BAB I PENDAHULUAN. dalam keluarga, organisasi, bisnis maupun bangsa. Budaya membedakan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tujuan pembangunan Indonesia adalah mewujudkan visi pembangunan

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. sekolah dengan keefektifan Sekolah Menengah Pertama di Kota Medan. Hal

BAB V KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN DAN KARYAWAN DALAM ORGANISASI PERUSAHAAN

PENGARUH KOMPENSASI TERHADAP LOYALITAS KARYAWAN Oleh : RETNO DJOHAR JULIANI DOSEN ADMINISTRASI NIAGA UNIVERSITAS PANDANARAN SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. menuntut setiap organisasi dan perusahaan untuk bersikap lebih responsif agar

BAB I PENDAHULUAN. kompetitif yang dapat menunjukan kelebihan atau keunggulan yang ada pada

Pedoman Audit Internal (Internal Audit Charter) Lampiran, Surat Keputusan, No:06/FMI-CS/III/2017 Tentang Penetapan Kepala Unit Audit Internal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perusahaan atau instansi pemerintah. Disiplin kerja digunakan untuk dapat meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. juga luar negeri. Selain persaingan antar perusahaan dalam meningkatkan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. mutu terpadu (TQM) termasuk dalam kategori tinggi, dengan pencapaian tertinggi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mempunyai komitmen pada organisasi biasanya mereka menunjukan sikap kerja

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam Era kompetisi yang kian ketat ini, setiap perusahaan dituntut untuk

PIAGAM INTERNAL AUDIT

I. PENDAHULUAN. Negara Republik Indonesia adalah negara kesatuan, dalam penyelenggaraan

PIAGAM DEWAN KOMISARIS PT SINAR MAS AGRO RESOURCES AND TECHNOLOGY Tbk.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

- 1 - PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA,

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN. A. Simpulan. maka penelitian yang berjudul Peranan Kegiatan Morning Spiritual Gathering

MENGATASI TEKANAN DI U.S CUSTOMS. (Tugas Mata Kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia) Dosen Pengampu: Dra. Trias Setiawati, M.Si

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk

PERATURAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 9 TAHUN TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GROBOGAN,

BAB I PENDAHULUAN. kompleks yang perlu mendapatkan perhatian semua orang. Salah satu masalah

BAB I PENDAHULUAN. penggerak utama dari seluruh kegiatan atau aktifitas dalam mencapai tujuan sekaligus untuk

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Disiplin Kerja Pengertian Disiplin Kerja Disiplin kerja merupakan fungsi operatif keenam dari Manajemen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kinerja lebih tinggi daripada jumlah masukan individual (Stephen, Timothy

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Organisasi merupakan sistem dan kegiatan manusia yang bekerja secara

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DENGAN DISIPLIN KERJA KARYAWAN PT. TYFOUNTEX INDONESIA GUMPANG - KARTASURA ABSTRAKSI. Derajat Sarjana S-1

BAB I PENDAHULUAN. sekelompok manusia sangat diperlukan untuk dapat bersosialisasi dan bekerja

BAB I PENDAHULUAN. tergantung pada kesempurnaan aparatur negara khususnya Pegawai Negeri Sipil

PT LIPPO CIKARANG Tbk. Piagam Dewan Komisaris

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN,

BAB I PENDAHULUAN. ataupun sebuah perusahaan. Agar seluruh aktivitas perusahaan berjalan dengan baik,

PT ARGHA KARYA PRIMA INDUSTRY Tbk PIAGAM KOMITE AUDIT. (Audit Committee Charter)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Krisis keuangan global tak hanya berdampak pada sektor riil, tapi juga

BAB I PENDAHULUAN. berusaha untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang sudah berdiri

BAB I PENDAHULUAN. adalah asset suatu organisasi karena tanpa adanya sumber daya manusia maka

2017, No Perilaku Pegawai Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Neg

RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR.../POJK.../20...

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan, tanpa aspek manusia sulit kiranya instansi untuk mengembangkan

LAMPIRAN PEDOMAN WAWANCARA. Kepala KPPN. Standard dan arah kebijakan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 07 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA,

BAB I PENDAHULUHAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dinamika organisasi. Perusahaan yang menyadari bahwa sumber daya manusia adalah

BAB I PENDAHULUAN. Suatu perusahaan dibentuk untuk mencapai tujuan bersama, untuk

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. telah diuraikan pada Bab IV, maka dapat disimpulkan:

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya, kesimpulan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. terpenting suatu perusahaan atau organisasi adalah sumber daya manusia

PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC TBK. PIAGAM DEWAN KOMISARIS

b. Aspek-Aspek Loyalitas Aspek-Aspek loyalitas menurut Saydam ( 2000 ) adalah sebagai berikut : 1) ketaatan atau kepatuhan ;

BAB I PENDAHULUAN. dengan diberlakukannya UU No. 32 tahun 2004 tentang pelaksanaan Otonomi

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II BAHAN RUJUKAN

PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN PEMBANGUNAN PARTISIPATIF KOTA KEDIRI

BAB I PENDAHULUAN. mengelola dan memanfaatkan unsur-unsur seperti mesin, modal, dan bahan baku

Transkripsi:

BAB 5 SIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Simpulan Berdasarkan analisis data di Bab 4, pihak konsultan akan menjelaskan kesimpulan sebagai berikut: 5.1.1 Permasalahan Berdasarkan pengumpulan data yang dilakukan oleh pihak konsultan, pihak konsultan menemukan 3 inti masalah terkait dengan loyalitas kerja karyawan didalam PT. Nusa Prima Motor. Permasalaahan tersebut didapat dari rendahnya nilai yang didapat saat survey, FGD, pengamatan partisipasi observasi, dan wawancara dengan informan kunci PT. Nusa Prima Motor, antara lain sebagai berikut: 1. Tenggang Waktu Pekerjaan Pembagian kerja dan keanekaragaman tugas, serta tantangan yang diberikan perusahaan kepada karyawan disambut positif para karyawan, namun tidak diimbangi dengan waktu yang disediakan perusahaan. Karyawan merasa tenggang waktu yang diberikan terlalu cepat, sehingga karyawan merasa bahwa kontribusi yang mereka berikan belum maksimal untuk pekerjaan dan untuk perusahaan. 85

86 Hal ini dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seorang individu karyawan. Sehingga hal tersebut dapat mendorong perilaku - perilaku disloyal karyawan didalam perusahaan, misalnya seperti malas mengerjakan tugas, mengulur waktu dalam mengerjakan tugas, dll. 2. Formalisasi Perusahaan (Peraturan Tertulis) Karyawan merasa peraturan dan standar operasional perusahaan belum terlaksana dengan baik, mereka merasa masih suka melanggar peraturan karena tidak adanya sanksi yang membuat mereka jera. Karyawan juga merasa SOP yang dibuat belum maksimal, hal ini menyebabkan karyawan salah mengerti tentang penyelesaian pekerjaan pekerjaan mereka. Formalisasi dirasa penting didalam sebuah perusahaan, hal ini mampu mempengaruhi secara langsung sikap dari seorang karyawan. Formalisasi dapat berpengaruh pada minimnya kepercayaan seorang karyawan didalam sebuah perusahaan, karena karyawan akan merasa bahwa perusahaan tidaklah professional dalam mengelola standar operasional prosedur. Secara tidak langsung hal ini mengikis sikap loyalitas kerja seorang karyawan didalam perusahaan. 3. Sentralisasi didalam Perusahaan Karyawan merasa tidak dapat mengambil keputusan meskipun menyangkut pekerjaan mereka sendiri. Hal ini dikarenakan semua

87 pengambilan keputusan harus dilakukan oleh pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan juga tidak mendiskusikan terkait dengan pengambilan keputusan yang harus diambil terkait dengan pekerjaan karyawan. Keputusan seorang karyawan sangat penting, karena keputusan yang diambil oleh karyawan adalah keputusan berdasarkan situasi yang ada dilapangan. Adanya sentralisasi didalam perusahaan akan mengurangi keinginan karyawan dalam berusaha semaksimal dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan, karena karyawan akan merasa bukan tanggung jawab mereka dalam mengambil keputusan meskipun menyangkut pekerjaan mereka. Hal tersebut dapat mempengaruhi sikap dan perilaku loyalitas kerja karyawan. Keinginan individu karyawan untuk memberikan kontribusi yang maksimal tertahan akibat tidak berhaknya seorang karyawan untuk mengambil keputusannya sendiri, meskipun hal tersebut menyangkut dari pekerjaan mereka sendiri. 5.1.2 Analisis GAP Berdasarkan analisis gap, antara kondisi yang sedang dihadapi perusahaan dengan ekspektasi karyawan. Dalam hal ini pihak konsultan perlu memberikan rekomendasi terhadap 3 permasalahan utama tersebut. Diantaranya perusahaan perlu untuk menyediakan:

88 1. Pembagian kerja yang merata kepada karyawan, disesuaikan dengan kemampuan masing masing karyawan, atau tenggang waktu penyelesaian kerja yang lebih diperpanjang atau setidaknya lebih fleksibel. Pembagian kerja yang merata, atau target perusahaan yang realistis akan membentuk sikap tanggung jawab lebih seorang karyawan didalam perusahaan. Hal ini diungkapkan oleh salah seorang karyawan PT. Nusa Prima Motor harapan saya pembagian kerja agar dibagi sesuai porsi dan kemampuan masing masing pegawai, agar karyawan satu sama lainnya dapat berkoordinasi juga. Pembagian kerja yang merata akan membuat kita mengerti akan kondisi satu sama lainnya. 2. Pengembangan standar operasional prosedur sesuai dengan fokus masing masing deskripsi pekerjaan karyawan. Pembaharuan atau modifikasi peraturan yang sudah ada menjadi lebih ketat dengan sanksi yang sesuai dengan peraturan yang dilanggar. Berdasarkan aspek loyalitas untuk membentuk sikap loyalitas dibutuhkan peraturan yang jelas, agar karyawan dapat mematuhi dengan baik dan tidak melanggar karena paham akan konsekuensi yang akan mereka terima.

89 3. Sentralisasi yang lebih fleksibel, dengan tetap pengambilan keputusan melalui pemimpin perusahaan. Hal ini akan bertambah baik apabila dapat didiskusikan dengan karyawan untuk mendapat hasil yang terbaik untuk perkembangan perusahaan. Hal ini juga berfungsi untuk meminimalkan jarak antara atasan dan bawahan dan terciptanya hubungan timbal balik yang ideal didalam perusahaan. Menurut data dilapangan, ekspektasi karyawan adalah agar mereka dapat menjadi bagian dalam pengambilan keputusan, hal ini akan meningkatkan komitmen mereka terhadap perusahaan, karena mereka akan merasa memiliki perusahaan itu sendiri. Kesempatan ini dapat digunakan saat rapat internal perusahaan. Adanya transparansi didalam perusahaan dapat membentuk sikap jujur karyawan yang mampu memperbaiki sikap serta perilaku loyal karyawan terhadap perusahaan.

90 5.1.3 SWOT Analisis Tabel 5.1 SWOT Analisis PT. Nusa Prima Motor (sumber: hasil consulting project 2013) 5.2 Rekomendasi Setelah mengeksplor sumber masalah didalam perusahaan, dan juga sejalan dengan kondisi loyalitas kerja karyawan didalam perusahaan. Pihak perusahaan perlu solusi alternatif untuk menumbuhkan serta memelihara sikap

91 dan perilaku loyalitas kerja karyawan didalam perusahaan. Karena itu pihak konsultan memberikan rekomendasi solusi alternatif sebagai berikut: 5.2.1 Tenggang Waktu Pekerjaan (Otonomi Tugas) Untuk mengembangkan sikap loyalitas kerja karyawan berdasarkan masalah tenggang waktu pekerjaan yang tidak sesuai dengan tugas tugas yang diberikan perusahaan kepada karyawan, kami merekomendasikan: 1. Pembagian kerja sesuai dengan kemampuan yang dimilki karyawan, dan diskusikan dengan karyawan terlebih dahulu agar karyawan nyaman dalam mengerjakan tugas, sehingga pekerjaan selesai dengan maksimal dan tepat pada waktunya. Pembagian kerja yang sesuai dengan kemampuan masing masing dirasa cocok untuk membangun sikap loyalitas kerja karyawan. Hal ini akan berhubungan dengan aspek loyalitas kerja, karena akan meningkatkan keinginan karyawan untuk berusaha semaksimal mungkin bagi perusahaan dengan membentuk persepsi karyawan tentang kesamaan tujuan dengan perusahaan. Pihak personalia berperan penting dalam rekomendasi ini. Pihak personalia berperan untuk menganalisis dan mengevaluasi kemampuan masing masing karyawan. Hal ini dilakukan agar dapat menyesuaikan deskripsi kerja karyawan dengan kemampuan karyawan itu sendiri. Sehingga pembagian kerja lebih merata dan sesuai dengan deskripsi pekerjaan dari karyawan.

92 2. Penyesuaian target dengan diiringi penyampaian perkembangan situasi perusahaan kepada karyawan, agar karyawan mengerti sasaran yang diinginkan pihak perusahaan dan berusaha memberikan kontribusi yang maksimal untuk perusahaan. Hal ini adapat membentuk sikap loyalitas kerja, karena karyawan akan merasa percaya dengan apa yang dibutuhkan perusahaan dan akan dilakukan perusahaan nantinya untuk berkembang sebagai perusahaan. Pihak manajemen dan direksi berperan dalam rekomendasi ini, mereka harus menyadari situasi dan kondisi yang sedang berlangsung didalam perusahaan. Sehingga saat mengambil keputusan penentuan sasaran perusahaan lebih realistis. Hal ini juga dapat dimaksimalkan dengan penyampaian perkembangan perusahaan secara berkala, agar karyawan dapat lebih bertanggung jawab dan berkeinginan untuk mengejar target tersebut. 3. Perekrutan karyawan yang lebih ketat dengan mempertimbangkan karyawan yang mampu bekerja dibawah tekanan, dan mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Perekrutan adalah hal yang paling penting, untuk menemukan kesamaan antara tujuan seorang individu dengan tujuan perusahaan. Hal ini akan memberikan dorongan yang kuat bagi

93 seseorang untuk bekerja sesuai dengan harapan perusahaan. Perekrutan yang baik semakin maksimal apabila perusahaan mampu memberikan kebutuhan yang cukup bagi individu tersebut. Kesadaran karyawan dengan tantangan yang ada saat perekrutan, akan membentuk sikap karyawan untuk memberikan kontribusinya secara maksimal, dan ini sangat baik untuk perusahaan. 5.2.2 Formalisasi Perusahaan (Peraturan Tertulis) Untuk menumbuhkan sikap loyalitas karyawan berdasarkan permasalahan lemahnya standar operasional perusahaan dan juga peraturan serta sanksi yang diberlakukan perusahaan. Pihak konsultan memberikan rekomendasi sebagai berikut: 1. Peraturan dibuat dengan jelas dan terperinci, dirundingkan dengan pihak manajemen atau direksi agar sesuai dengan pelanggaran pelanggaran yang biasanya terjadi. Menurut siswanto (2009) seorang ahli manajemen sumber daya manusia adalah dengan memberikan peraturan yang jelas dan memaksa karyawan untuk mematuhinya, akan membangun sikap disiplin dan tanggung jawab terhadap perusahaan, sehingga mampu menumbuhkan sikap loyalitas kerja yang ada pada karyawan. Karyawan menambahkan bahwa peraturan secara tidak tertulis, harusnya direalisasikan untuk menghindari kelalaian dalam

94 bertugas. Contohnya seperti tidak diperbolehkannya memakai sandal didalam kantor. Memberlakukan jam masuk kantor secara jelas, dengan penyesuaian hukuman seperti terlambat dalam 3 hari secara berturut turut akan dikenakan sanksi surat peringatan pertama. 2. Peningkatan kualitas standar operasional perusahaan, agar meningkatkan sikap profesionalitas kerja karyawan. Hal ini juga akan berdampak pada selesainya pekerjaan karyawan dengan hasil yang maksimal dan sesuai dengan target yang diberikan perusahaan. Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah salah satu bagian penting didalam perusahaan, setidaknya inilah yang dirasakan para karyawan. Semakin jelas SOP dan adanya penyeliaan dengan intensitas yang baik, maka akan menimbulkan rasa tanggung jawab seorang karyawan, dan meningkatkan kepercayaan karyawan terhadap profesionalitas sebuah perusahaan. Seperti Steers dan Porter (2009) katakan bahwa kepercayaan akan didapatkan saat perusahaan mampu mengimplementasi nilai nilai yang ada diperusahaan. Karyawan menambhakan bahwa SOP didalam perusahaan dapat disesuaikan ISO perusahaan, dengan sasaran ISO yang lebih baik.

95 Pengembangan kualitas SOP akan lebih baik lagi dan dapat membangun kedisiplinan kerja para karyawan. 3. Penerapan sanksi yang berat bagi setiap karyawan, tanpa melihat status jabatan didalam perusahaan jika melanggar peraturan yang berlaku didalam perusahaan. Sanksi ini diharapkan akan meningkatkan disiplin kerja karyawan dan juga meningkatkan komitmen karyawan terhadap perusahaan yang berdampak pada pembentukan sikap loyalitas kerja karyawan. Hal ini diutarakan oleh salah satu karyawan PT. Nusa Prima Motor sanksi yang kita terima ga terlalu berat memang, itu sih yang bikin nyaman cuma takutnya malah keenakan dan jadi ga berkomitmen buat perusahaan. Solusi dengan pemberian sanksi yang sesuai dan dapat membuat jera seorang karyawan, akan meningkatkan tanggung jawab karyawan terhadap perusahaan dan hal ini dapat menumbuhkan sikap loyalitas kerja karyawan didalam PT. Nusa Prima Motor. 5.2.3 Sentralisasi didalam Perusahaan Untuk menumbuhkan sikap loyalitas kerja karyawan didalam perusahaan berdasarkan permasalahan mengenai adanya sentralisasi didalam perusahaan, pihak konsultan merekomendasikan:

96 1. Desentralisasi yang disesuaikan atau diimbangi dengan peraturan yang diberlakukan didalam perusahaan, serta penerapan sanksi yang tepat bagi yang melanggar. Desentralisasi berkaitan dengan pengambilan keputusan sendiri oleh seorang karyawan, dan hal ini mampu meningkatkan kualitas kerja. Hal tersebut dapat meningkatkan aspek aspek loyalitas kerja seperti membentuk sikap tanggung jawab karyawan, meningkatkan kualitas sikap kerja didalam perusahaan, dan juga meningkatkan keinginan seorang karyawan untuk berusaha memberikan kontribusi yang maksimal bagi perusahaan. Karyawan berperan penting dalam melakukan desentralisasi. Memperkaya wawasan dalam pengambilan keputusan dengan didukung pengalaman yang ada dilapangan, mampu mempengaruhi efektifitas dari desentralisasi tersebut, dan juga hal ini mampu membentuk sikap tanggung jawab karyawan terhadap pekerjaannya. Dengan kata lain menurut Siswanto (2009) bahwa karyawan yang mempunyai loyalitas yang tinggi maka karyawan tersebut mempunyai tanggung jawab yang lebih baik. 2. Fleksibiltas Sentralisasi, maksudnya adalah dengan tetap pemimpin sebagai pengambilan keputusan yang terpusat, namun karyawan ikut dalam rapat pengambilan keputusan dan

97 pengambilan keputusan berdasarkan kemungkinan saran yang diberikan karyawan. Hal ini dapat memberikan kepercayaan para karyawan sebagai pemilik perusahaan juga. Hal ini akan membentuk kepercayaan karyawan terhadap nilai nilai didalam perusahaan, dan hal ini baik dalam membentuk sikap loyalitas kerja seorang karyawan didalam PT. Nusa Prima Motor. Pihak direksi berperan dalam rekomendasi ini. Pihak direksi disarankan untuk memungkinkan mengambil keputusan secara objektif. Kemungkinan kritik dan saran yang diberikan karyawan sebagai bahan pertimbangan pihak direksi dalam mengambil keputusan. Karyawan menambahkan bahwa keputusan yang dibuat oleh pemimpin perusahaan, seharusnya didasari saran para karyawan. Karyawan merasa sebagai pelaksana kerja yang memungkinkan pengambilan keputusan lebih baik untuk perusahaan.