Bab II Tinjauan Pustaka

dokumen-dokumen yang mirip
Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Minyak dan Lemak 1.1 TUJUAN PERCOBAAN. Untuk menentukan kadar asam lemak bebas dari suatu minyak / lemak

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

B. Struktur Umum dan Tatanama Lemak

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

MINYAK DAN LEMAK TITIS SARI K.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lemak dan minyak adalah golongan dari lipida (latin yaitu lipos yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut

Gun Gun Gumilar, Zackiyah, Gebi Dwiyanti, Heli Siti HM Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indinesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang lebih efektif dibandingkan karbohidrat dan protein. Satu gram minyak

DEFINISI. lipids are those substances which are

4.1. Persepsi dan Kondisi di Masyarakat seputar Minyak Goreng

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.

BAB II PEMILIHAN DAN URAIAN PROSES. teknologi proses. Secara garis besar, sistem proses utama dari sebuah pabrik kimia

sidang tugas akhir kondisi penggorengan terbaik pada proses deep frying Oleh : 1. Septin Ayu Hapsari Arina Nurlaili R

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. Gorengan adalah produk makanan yang diolah dengan cara menggoreng

Bab II. Tinjauan Pustaka

Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasil gliserol, dengan rumus umum : O R' O C

PENGARUH PENGGUNAAN BERULANG MINYAK GORENG TERHADAP PENINGKATAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS DENGAN METODE ALKALIMETRI

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.

Bab II Tinjauan Pustaka

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan (Pembuatan Biodiesel)

A. RUMUS STRUKTUR DAN NAMA LEMAK B. SIFAT-SIFAT LEMAK DAN MINYAK C. FUNGSI DAN PERAN LEMAK DAN MINYAK

BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA. yang jika disentuh dengan ujung-ujung jari akan terasa berlemak. Ciri khusus dari

MINYAK DAN LEMAK TITIS SARI K.

SAINS II (KIMIA) LEMAK OLEH : KADEK DEDI SANTA PUTRA

Penentuan Bilangan Asam dan Bilangan Penyabunan Sampel Minyak atau Lemak

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK I PERCOBAAN VI TITRASI REDOKS

1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi

contoh-contoh sifat Pengertian sifat kimia perubahan fisika perubahan kimia ciri-ciri reaksi kimia percobaan materi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gliserol dan asam lemak rantai panjang. Lemak dan minyak (trigliserida) yang

4 Pembahasan Degumming

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. utama minyak sangat menentukan mutu minyak adalah asam lemaknya, karena asam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti

Bab I Pengantar. A. Latar Belakang

LAPORAN PENELITIAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN MAKANAN Penentuan Asam Lemak Bebas, Angka Peroksida Suatu Minyak atau Lemak. Oleh : YOZA FITRIADI/A1F007010

Analisis Vitamin C. Menurut Winarno (1997), peranan utama vitamin C adalah dalam

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lemak merupakan triester asam lemak dengan gliserol. Trigliserida alami

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK

ISOLASI BAHAN ALAM. 2. Isolasi Secara Kimia

Modul 1 Analisis Kualitatif 1

BAB I PENDAHULUAN. minyak ikan paus, dan lain-lain (Wikipedia 2013).

I. PENDAHULUAN. energi dan pembentukan jaringan adipose. Lemak merupakan sumber energi

PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS. Korry Novitriani M.Si Iin Intarsih A.Md.Ak. Program Studi D-III Analis Kesehatan STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmlaya

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

I. ISOLASI EUGENOL DARI BUNGA CENGKEH

Lemak dan minyak merupakan sumber energi yang efektif dibandingkan dengan karbohidrat dan protein Satu gram lemak atau minyak dapat menghasilkan 9

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

PENAMBAHAN BAWANG MERAH ( Allium ascalonicum ) UNTUK MENGHAMBAT LAJU PEMBENTUKAN PEROKSIDA DAN IODIUM PADA MINYAK CURAH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH KONSENTRASI ASAM SITRAT TERHADAP PENURUNAN BILANGAN ASAM DAN KEPEKATAN WARNA MINYAK JELANTAH MELALUI PROSES ADSORPSI.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. mengandung sejumlah mikroba yang bermanfaat, serta memiliki rasa dan bau

Lipid. Dr. Ir. Astuti,, M.P

Struktur atom, dan Tabel periodik unsur,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter, kloroform, dan

PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 2 (2013), Hal ISSN :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berbentuk padat pada suhu kamar (Wikipedia 2013).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. M yang berupa cairan berwarna hijau jernih (Gambar 4.1.(a)) ke permukaan Al 2 O 3

Oksidasi dan Reduksi

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dengan tiga molekul asam lemak. Di alam,bentuk gliserida yang lain yaitu digliserida

Pereaksi-pereaksi yang digunakan adalah kalium hidroksida 0,1 N, hidrogen

KISI-KISI UN KIMIA SMA/MA

Penentuan Sifat Minyak dan Lemak. Angka penyabunan Angka Iod Angka Reichert-Meissl Angka ester Angka Polenske Titik cair BJ Indeks bias

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tetapi berasal dari Afrika. Kelapa sawit pada awal mulanya didatangkan ke Indonesia

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

SPEKTROSKOPI INFRA RED & SERAPAN ATOM

Biodiesel Dari Minyak Nabati

KIMIA. Sesi HIDROKARBON (BAGIAN II) A. ALKANON (KETON) a. Tata Nama Alkanon

HASIL DAN PEMBAHASAN

EKA PUTI SARASWATI STUDI REAKSI OKSIDASI EDIBLE OIL MENGGUNAKAN METODE PENENTUAN BILANGAN PEROKSIDA DAN SPEKTROFOTOMETRI UV

contoh-contoh sifat meteri Pengertian sifat kimia perubahan fisika perubahan kimia ciri-ciri reaksi kimia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan Ca-Bentonit. Na-bentonit memiliki kandungan Na +

Laporan Kimia Analitik KI-3121

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Sifat Fisik Kimia Produk

I. PENDAHULUAN. menghasilkan produk-produk dari buah sawit. Tahun 2008 total luas areal

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS MUTU MINYAK GORENG

TUGAS ANALISIS AIR, MAKANAN DAN MINUMAN ANALISIS LEMAK

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) merupakan tumbuhan tropis yang diperkirakan

KISI-KISI PENULISAN SOAL USBN

Perbedaan minyak dan lemak : didasarkan pada perbedaan titik lelehnya. Pada suhu kamar : - lemak berwujud padat - minyak berwujud cair

A. PENETAPAN ANGKA ASAM, ANGKA PENYABUNAN DAN ANGKA IOD B. PENETAPAN KADAR TRIGLISERIDA METODE ENZIMATIK (GPO PAP)

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Transkripsi:

Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Sifat Fisiko Kimia Minyak. Minyak adalah trigliserida campuran yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Minyak mempunyai sifat fisika dan sifat kimia yang dikenal dengan sifat fisico-kimia yang biasanya berada dalam suatu kisaran nilai II.1.1 Sifat Fisika Minyak II.1.1.1 Warna Zat warna dalam minyak terdiri dari 2 golongan yaitu: A. Zat warna alamiah B. Zat warna dari hasil degradasi zat warna alamiah A. Zat warna alamiah. Zat yang termasuk golongan ini terdapat secara alamiah di dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut terekstrak bersama minyak pada proses pembuatan minyak. Zat warna tersebut antara lain terdiri dari β karoten, klorofil dan lain-lain. Zat warna ini menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan, kehijauhijauan dan kemerah-merahan. Pigmen yang berwarna merah jingga dan kuning disebabkan oleh karotenoid yang bersifat larut dalam minyak. Karotenoid merupakan persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh. Jika minyak dihidrogenasi, karoten tersebut juga ikut terhidrogenasi. Sehingga intensitas warna kuning berkurang. Karotenoid bersifat tidak stabil pada suhu tinggi dan jika minyak dialiri uap panas, maka warna kuning akan hilang. 4

B. Warna akibat oksidasi dan degradasi komponen kimia yang terdapat dalam minyak. Warna gelap pada minyak disebabkan oleh proses terhadap tokoferol (vitamin E). Jika minyak bersumber dari tanaman hijau, maka zat warna hijau turut terekstrak bersama minyak, dan klorofil tersebut sulit dipisahkan dari minyak. Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan (Sacharow, 1970), yang disebabkan oleh beberapa faktor: 1. Suhu pemanasan yang terlalu tinggi pada waktu pengepresan, sehingga sebagian minyak teroksidasi 2. Pengepresan bahan yang mengandung minyak dengan tekanan dan suhu yang lebih tinggi akan menghasilkan minyak yang berwarna lebih gelap 3. Ekstraksi minyak dengan menggunakan pelarut organik tertentu, misalnya campuran pelarut petroleum benzena akan menghasilkan minyak dengan warna lebih cerah jika dibandingkan dengan minyak yang diekstraksi dengan pelarut trikloroetilena dan heksan 4. Logam seperti Fe, u dan Mn akan menimbulkan warna yang tidak diinginkan dalam minyak 5. ksidasi terhadap fraksi yang tidak tersabunkan dalam minyak menghasilkan warna kecoklat-coklatan. Warna coklat atau pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada minyak yang berasal dari bahan yang busuk atau memar. al ini dapat pula terjadi karena reaksi molekul karbohidrat dengan gugus pereduksi seperti aldehid serta gugus amin dari molekul protein yang disebabkan karena aktivitas enzim-enzim, seperti phenol oxidase, polyphenol oxidase dan sebagainya (Ketaren, 2008). 5

II.1.1.2 Berat Jenis Berat jenis adalah perbandingan berat dari suatu volume contoh pada suhu 25 0 dengan berat air pada volume dan suhu yang sama. Berat jenis dari minyak biasanya ditentukan pada temperatur 25 0, akan tetapi dalam hal ini dianggap penting juga diukur pada temperatur 40 0 dan 60 0 untuk minyak yang titik cairnya tinggi. Pada penetapan berat jenis, temperatur dikontrol dengan hati-hati dalam kisaran temperatur yang pendek. Alat yang digunakan untuk penentuan ini adalah piknometer II..1.2 Sifat Kimia Minyak II.1.2.1 idrolisis eaksi hidrolisis yaitu minyak diubah menjadi asam asam lemak bebas dan gliserol. eaksi hidrolisis yang dapat mengakibatkan kerusakkan minyak terjadi karena terdapatnya sejumlah air dalam minyak tersebut. eaksi ini akan mengakibatkan ketengikan. idrolisa yang menghasilkan flavor dan bau tengik pada minyak. Komponen zat berbau tengik dalam minyak dapat disebabkan oleh hidrolisa minyak yang mengandung asam lemak jenuh berantai pendek. Asam lemak tersebut mudah menguap dan berbau tidak enak (Ketaren, 2008). Seperti terlihat pada Gambar II.1 sebagai berikut: 2 2 2 + 2 2 + 2 Trigliserida 2 Gliserol Asam Lemak Gambar II.1. eaksi hidrolisis minyak 6

Persamaan reaksi di atas adalah reaksi hidrolisis lemak atau minyak. Proses hidrolisis yang disengaja, biasanya dilakukan penambahan sejumlah basa. Proses ini dikenal sebagai reaksi penyabunan. II.1.2.2 ksidasi Proses oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak sejumlah oksigen dengan minyak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada minyak. ksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida dan hidroperoksida. Tingkat selanjutnya adalah terurainya asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehide dan keton serta asam-asam lemak bebas. Ketengikan terbentuk oleh aldehid bukan oleh peroksida. Mekanisme oksidasi yang umum dari minyak seperti pada Gambar II.2 sebagai berikut: Inisiasi * + * Pembentukan peroksida * + 2 2 * 2 * + + Dekomposisi peroksida (propagation) * + * Penghentian (Termination) * + X Produk inaktif Gambar II.2 Tahapan oksidasi ksidasi yang lebih lanjut dapat menghasilkan keton, karena reaksi ini disertai hidrolisis. Peristiwa ini dikenal sebagai ketonic rancidity. Mekanisme dari ketonic rancidity terlihat pada Gambar II.3 berikut: 7

Asam Lemak 2 Asam idroksi 2 Asam Keton 3 3 Metil Alkohol Metil Keton Gambar II.3 eaksi ketonic rancidity. II.1.2.3 idrogenasi Proses hidrogenasi sebagai suatu proses industri yang bertujuan untuk menjenuhkan ikatan rangkap dari rantai karbon asam lemak pada minyak. eaksi hidrogenasi ini dilakukan dengan menggunakan hidrogen murni dan ditambahkan serbuk nikel sebagai katalisator. Setelah proses hidrogenasi selesai, minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan cara penyaringan. asilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras, tergantung pada derajat kejenuhan. eaksi pada proses hidrogenasi terjadi pada permukaan katalis yang mengakibatkan reaksi antara molekul-molekul minyak dengan gas hidrogen. idrogen akan diikat oleh asam lemak yang tidak jenuh, yaitu pada ikatan rangkap, membentuk radikal kompleks antara hidrogen, nikel dan asam lemak tak jenuh. 8

Setelah terjadi penguraian nikel dan radikal asam lemak, akan dihasilkan suatu tingkat kejenuhan yang lebih tinggi. adikal asam lemak dapat terus bereaksi dengan hidrogen membentuk asam lemak yang jenuh. II.1.2.4 Esterifikasi Proses esterifikasi bertujuan untuk mengubah asam-asam lemak dari trigiserida dalam bentuk ester. eaksi esterifikasi dapat dilakukan melalui reaksi kimia yang disebut interesterifikasi atau petukaran ester yang didasarkan atas prinsip transesterifikasi fiedel-craft. Dengan menggunakan prinsip reaksi ini, hidrokarbon rantai pendek dalam asam lemak seperti asam butirat dan asam kaproat yang menyebabkan bau tidak enak, dapat ditukar dengan rantai panjang yang bersifat tidak menguap. Seperti yang terlihat pada Gambar II.4 1 + 2 3 3 Gambar II.4 eaksi transesterifikasi fiedel-craft + 2 1 II.2 Minyak Minyak adalah trigliserida campuran yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Minyak adalah trigliserida yang cair pada suhu kamar, hal ini tergantung dari komposisi asam lemak penyusunnya (Fessenden and Fessenden, 1997). Adapun Komposisi asam lemak minyak yang berasal dari kelapa sawit adalah seperti Tabel II.1. 9

Tabel II.1 Komposisi asam lemak minyak kelapa sawit ( Eckey, S.W.,1955) No Asam Lemak Minyak Minyak Inti kelapa sawit (%) Sawit (%) 1 Asam Kaprilat - 3 4 2 Asam Kaproat - 3-7 3 Asam Laurat - 46 52 4 Asam Miristat 1,1 2,5 14 17 5 Asam Palmitat 40-46 6,5 9 6 Asam Stearat 3,6 4,7 1 2,5 7 Asam leat 39-45 13 19 8 Asam Linoleat 7-11 0,5 2 Minyak berbentuk cair karena mengandung sejumlah asam lemak tidak jenuh, yaitu asam oleat, linoleat, atau asam linolenat (arold dkk, 2003). Minyak termasuk salah satu golongan lipid yaitu lipid netral (Braverman, 1963) Minyak yang diperoleh dari berbagai sumber mempunyai sifat fisio kimia yang berbeda satu sama lain, karena perbedaan jumlah dan jenis ester yang terdapat di dalamnya. Sifat fisiko-kimia biasanya berada dalam suatu kisaran nilai. Karena nilainya cukup kecil, nilai tersebut dinamakan konstanta. Konstanta fisik yang dianggap cukup penting adalah berat jenis, sedangkan konstanta kimia yang penting adalah bilangan iod, bilangan penyabunan, bilangan asam, bilangan peroksida. eaktivitas kimia dari trigliserida dicerminkan oleh reaktivitas ikatan ester dan derajat ketidak jenuhan dari rantai hidrokarbon. Asam lemak bebas yang terbentuk hanya terdapat dalam jumlah kecil dan sebagian besar terikat dalam bentuk ester (trigliserida). Ikatan ester dapat mengalami hidrolisis dalam suasana asam ataupun basa. eaksi hidrolisis oleh asam bersifat reaksi bolak-balik (reversible). idrolisis basa tidak bersifat bolak-balik (irreversible) pada tahap reaksi terakhir, yaitu asam 10

yang terbentuk tidak dapat bereaksi kembali dengan alkohol. Basa kuat sering digunakan pada proses penyabunan, karena mampu menghidrolisis ikatan ester pada trigliserida (Ketaren, 1986). eaksi hidrolisis asam dapat digambarkan pada gambar II.5 sebagai berikut: 1 + + + 1 + 2 + + + 2 + 1 idrolisis asam 1 + 1 1 - - 1 + - + 1 - idrolisis basa Gambar II.5 idrolisis asam dan basa Sifat lainnya dari asam lemak dicerminkan oleh sifat rantai hidrokarbon. Jika dalam rantai asam lemak terdapat satu ikatan rangkap, dapat terbentuk isomer geometris. Sebagian besar asam lemak tidak jenuh ditemukan sebagai isomer cis yang bersifat tidak stabil, sedangkan isomer trans bersifat lebih stabil. Karena isomer cis bersifat tidak stabil maka proses hidrogenasi lebih mudah berlangsung dibandingkan dengan isomer trans. 11

II.3 Struktur Minyak Goreng yang sudah Dipanaskan Pemanasan mengakibatkan 3 macam perubahan dalam minyak yaitu - Terbentuknya peroksida dalam asam lemak tidak jenuh. - Peroksida berdekomposisi menjadi persenyawaan karbonil - Polimerisasi oksidasi sebagian Dekomposisi minyak dengan adanya udara terjadi pada suhu lebih rendah (190 o ) dari pada tanpa udara (pada suhu 240-260 o ). eaksi yang terjadi berbeda pada bagian permukaan dan pada bagian tengah minyak yang digoreng dan bentuk ketel berpengaruh besar terhadap kecepatan penguraian minyak (Krishnamurty dan hang, 1967). Minyak goreng mengandung sejumlah besar asam lemak tidak jenuh dalam molekul trigliserida. eaksi-reaksi degradasi selama proses penggorengan didasarkan atas reaksi penguraian asam lemak. Produk yang terbentuk dapat diklasifikasikan menjadi 2 golongan utama yaitu: 1. asil dekomposisi yang tidak menguap (NVDP), yang tetap terdapat dalam minyak dapat diserap oleh bahan pangan yang digoreng. 2. asil dekomposisi yang dapat menguap (VDP) yang keluar bersama-sama uap pada waktu minyak dipanaskan II.3.1 asil Dekomposisi yang tidak Menguap (NVDP) Ada 3 macam reaksi yang dapat membentuk NVDP yaitu autooksidasi, thermal polimerisasi dan thermal oksidasi. Setelah periode induksi, selanjutnya disusul dengan tahap yang ditandai dengan peningkatan jumlah oksigen yang diserap dan pembentukan peroksida. Pembentukan peroksida akan mencapai maksimum dan akhirnya mengalami dekomposisi. 12

Degradasi minyak yang teroksidasi meliputi pembentukan sejumlah persenyawaan baru yaitu hidroperoksida berkonyugasi misal metil linoleat, yang pada suhu lebih tinggi mengalami siklisasi dan membentuk senyawa polimer, persenyawaan rantai panjang non siklis dan produk yang dapat menguap. Produk yang bersifat tidak menguap terbentuk dalam minyak, selama proses menggoreng. Zat tersebut terbentuk dari asam lemak tidak jenuh yang terdapat dalam molekul trigliserida. Pada proses penggorengan yang menggunakan suhu tinggi dan dengan adanya oksigen, asam lemak tidak jenuh tersebut akan menyebabkan terjadinya reaksi kimia (Ketaren, 2008) yaitu: II.3.1.1 Autooksidasi eaksi-reaksi yang terjadi selama proses autooksidasi adalah polimerisasi termal dan oksidas termal sehingga membentuk hasil dekomposisi yang tidak menguap. Minyak yang mengandung asam lemak tidak jenuh, misal asam linoleat akan mengalami periode induksi. eaksi yang terjadi belum terdeteksi pada tahap ini. Kadar peroksida dalam minyak mulai meningkat. Setelah mencapai nilai maksimum, persentase oksigen dalam minyak akan meningkat secara bertahap. Pada tahap akhir, proses polimerisasi akan meningkat dan ditandai dengan nilai kekentalan yang semakin meningkat. Peroksida dan hidroperoksida yang terbentuk selama proses autooksidasi akan mengalami dekomposisi, sehingga membentuk zat menguap seperti aldehid, keton, asam-asam, alkohol dan hidrokarbon, dan komponen lainnya. II.3.1.2 Polimerisasi Termal Jika minyak dipanaskan pada suhu tinggi sekitar 250 o tanpa oksigen akan terjadi peristiwa polimerisasi. Asam linoleat yang terdapat dalam minyak berkonyugasi 13

akibat pemanasan dan terjadi siklisasi sendiri atau dengan molekul lain yang mengandung ikatan rangkap sehingga membentuk senyawa siklik. II.3.1.3 ksidasi Termal Jika minyak dipanaskan pada suhu tinggi dengan oksigen disebut oksidasi thermal. Proses ini terjadi pada waktu menggoreng, misalnya pada lapisan permukaan minyak panas yang kontak dengan oksigen atmosfir. Perubahan kimia yang terjadi pada oksidasi thermal adalah derajat ketidakjenuhan yang diukur dengan bilangan iod, akan berkurang selama pemanasan. Jumlah asam tak berkonyugasi bertambah sampai mencapai maksimum, kemudian berkurang karena proses penguraian. Kadar karbonil oksigen bertambah secara kimia terikat pada minyak. Asam lemak bebas juga akan terbentuk selama proses oksidasi yang dihasilkan dari pemecahan dan oksidasi ikatan rangkap Pemanasan minyak dalam jangka waktu yang lama akan meningkatkan persentase hasil oksidasi berupa zat tidak menguap yang berat molekulnya tinggi dan nilai gizi minyak menurun. Struktur dari persenyawaan yang terbentuk akibat oksidasi thermal, biasanya merupakan senyawa yang kompleks dengan berat molekul tinggi dan mengandung lebih dari 2 buah gugus karboksil. II.3.2 asil Dekomposisi dapat Menguap (VDP) Komposisi yang ada dalam VDP adalah hasil dari pemanasan minyak, terdiri dari alkohol, ester, lakton, aldehid, keton, dan senyawa aromatik. Jenis persenyawaan yang jumlahnya dominan adalah aldehid, termasuk dienal yang mempengaruhi bau khas dari hasil gorengan. Fraksi VDP yang bersifat asam mengandung sekitar 30 macam persenyawaan yang terdiri dari asam lemak jenuh, asam lemak tidak jenuh (mempunyai 2 3 ikatan rangkap), asam keto, asam hidroksi, asam dikarboksilat dan asam asam aromatik (Ketaren, 2008). 14

Fraksi VDP bersifat asam dihasilkan dengan reaksi sebagai berikut: 1. Pada awal pemanasan, VDP yang bersifat asam jumlahnya dominan, yang Dihasilkan dari pemecahan rantai karbon dengan proses oksidasi 2. eaksi tersebut disusul dengan hidrolisa trigliserida yang terbukti dengan akumulasi asam lemak bebas dalam minyak, terlihat pada Gambar II.6 sebagai berikut: Gambar II.6 Akumulasi asam lemak bebas dalam minyak 3. ksidasi dari asam lemah berantai lebih panjang 4. Degradasi thermal terhadap ester, dengan reaksi pada Gambar II.7 sebagai berikut: 2 + Gambar II.7 Degradasi termal ester 15

5. Thermal oksidasi pada atom karbon α, dari asam dalam molekul trigliserida 6 Akhirnya, autooksidasi aldehid dan keton membentuk asam karboksilat dan aldehid rantai pendek. eaksi autooksidasi aldehid dan keton terlihat pada Gambar II.8 1 1 + 1 + 1 Gambar II.8 eaksi autooksidasi aldehid dan keton 2.4 Standar Mutu Standar mutu merupakan hal yang penting untuk menentukan minyak yang bermutu baik. Ada beberapa faktor yang menentukan standar mutu yaitu kandungan air dan kotoran dalam minyak, kandungan asam lemak bebas, warna, bilangan peroksida dan bilangan iodium, rasa dan bau. Faktor lain yang mempengaruhi standar mutu adalah titik cair, titik leleh, titik didih, kandungan gliserida, bilangan asam, bilangan iod, kadar air, berat jenis, kejernihan kandungan logam berat dan bilangan penyabunan. Mutu minyak kelapa sawit yang baik mempunyai kadar air kurang 0,1 % dan kadar kotoran lebih kecil dari 0,01%, kandungan asam lemak serendah mungkin (lebih kurang dari 2 %), bilangan peroksida di bawah 2, bebas dari warna merah dan coklat dan kandungan logam berat serendah mungkin atau bebas dari ion logam (Krischenbauer, 1960). Adapun standar mutu minyak seperti pada Tabel II.2 16

Tabel II.2 Standar mutu minyak goreng (SNI 3741) No. Kriteria Uji Persyaratan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Bau, rasa Warna Kadar Air Asam lemak bebas Bilangan peroksida Angka iodium Angka penyabunan Berat jenis emaran ion logam : Normal Mudah jernih Max 0,3% Max 0,3% Max 2 meg/kg 45 46 196 206 0,9 g/liter Fe 2+ Pb 2+ u 2+ Zn 2+ 1,5 mg/kg 0,1 mg/kg 40 mg/kg 0,05 mg/kg 2.5 Kulit Pisang sebagai Adsorben Adsorbsi adalah peristiwa fisik padat permukaan suatu bahan, yang tergantung dari affinitas spesifik antara adsorben dan zat yang diadsorbsi. Permukaan adsorben akan menyerap zat warna, suspensi koloid (gum dan resin ), serta hasil degradasi minyak seperti peroksida. Daya adsorbsi disebabkan karena bahan mepunyai pori-pori dalam jumlah besar, dan adsorbsi akan terjadi karena adanya perbedaan potensial antara permukaan dan zat yang diserap. Berdasarkan adanya perbedaan energi potensial, maka jenis adsorbsi terdiri dari adsorbsi listrik, adsorbsi mekanis, adsorbsi kimia, dan adsorbsi termis. Sifat adsorbsi tersebut masing-masing disebabkan karena perbedaan muatan listrik, perbedaan tegangan permukaan, perbedaan potensial sifat kimia dan perbedaan potensial karena panas. Kulit pisang kepok merupakan bahan padat yang berpori-pori yang umumnya 17

diperoleh dari pisang kepok Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat pisang disebut dengan au, di Jawa dinamakan gedang. Klasifikasi botani tanaman pisang seperti yang terlihat pada Tabel II.3 Tabel II.3 Klasifikasi botani tanaman pisang Divisi Sub Divisi Kelas Keluarga Genus Spesies : : : : : : Spermatophyta Angiospermae Monocotyledonae Musaceae Musa Musa Spp Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin dan mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat digunakan untuk menjernihkan minyak goreng dan membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagai pembungkus berbagai macam makanan tradisional Indonesia. Batang pisang diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dan sebagainya. Batang pisang yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak pada saat musim kemarau, dimana rumput kurang tersedia secara tradisional. Air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar, sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar racun. Adapun komposisi dari kulit pisang adalah pati, vitamin, vitamin B, a, Protein dan lemak. 18

II.6 Analisis Volumetri Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri, yang mana zat yang akan dianalisis dibiarkan bereaksi dengan zat lain yang konsentrasinya diketahui dan dititer dari buret dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat, reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping. Selain itu reagen penitrasi yang diberikan berlebih, maka harus dapat diketahui dengan indikator. Volume pada jumlah reagen yang ditambahkan tepat sama dengan yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis disebut titik ekivalen. Semua metode titrimetri tergantung pada larutan standar yang mengandung sejumlah reagen persatuan volume larutan dengan ketetapan yang tinggi. Konsentrasi dinyatakan dalam normalitas (g.ek/l). Larutan standar disiapkan dengan menimbang reagen murni secara tepat, karena tidak semua standar tersedia dalam keadaan murni. leh sebab itu dikenal dengan standar primer, yaitu zat yang tersedia dalam komposisi kimia yang jelas dan murni. II.6.1 Titrasi Asam Basa Titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan digunakan indikator bila p pada titik ekivalen antara 4 10. Selama titrasi asam basa, p larutan berubah secara khas. p berubah secara drastis bila volume titrannya mencapai titik ekivalen. Pada reaksi asam basa, proton ditransfer dari suatu molekul ke molekul lain. Dan digunakan indikator asam basa yaitu zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek ) p tertentu. Zat-zat indikator dapat berupa asam basa, larut, stabil. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. 19

Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya megalami perubahan warna pada range p berbeda. II.6.2 Titrasi edoks Titrasi redoks adalah titrasi yang berdasarkan transfer langsung elektron dari donor ke akseptor. Berbagai reaksi redoks dapat digunakan untuk analisis titrasi titrimetri asalkan kesetimbangan yang tercapai setiap penambahan titran dapat berlangsung dengan cepat. Dan diperlukan juga indikator yang mampu menunjukkan titik ekivalen stoikiometri dengan titik akurasi tinggi. arga E o iodium berada pada daerah pertengahan maka sistem iodium dapat digunakan sebagai oksidator maupun reduktor. Jika E o tidak bergantung pada p (p < 8) I 2 (s) + 2e - 2I - E o = 0,535V I 2 adalah oksidator lemah sedangkan iodida secara relatif merupakan reduktor lemah. Kelarutannya cukup baik dalam air dengan pembentukkan triiodida [KI 3 ]. I 2 (s) + 2e - 2I - E o = 6,21 Ini adalah reaksi pada permulaan atau reaksi awal. Iodium dapat dimurnikan dengan cara sublimasi dan larut dalam larutan KI dan harus disimpan dalam tempat yang dingin dan gelap. Berkurangnya iodium akibat penguapan dan oksidasi udara menyebabkan banyak kesalahan analisis. Standarisasi dapat dilakukan dengan Na 2 S 2 3.5 2. Larutan thiosulfat distandarisasi lebih dahulu dengan terhadap K 2 r 2 7 reaksinya: 2- r 2 7 + 14 + + 6I - 3I 2 + 2r 3+ + 7 2 Biasanya indikator yang digunakan adalah kanji/amilum. Iodida pada konsentrasi < 10-5 M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodium amilum mempunyai kelarutan yang kecil dalam air sehinngga biasanya ditambahkan pada titik akhir titrasi. 20

Adapun reaksi iodium-thiosulfat adalah sebagai berikut: Jika larutan iodium di dalam KI pada suasana netral dititrasi maka: I 3-2- + S 2 3 3I - 2- + S 4 6 Selama reaksi zat antara S 2 3 I - yang tidak berwarna adalah terbentuk sebagai S 2 3 2- + I 3 - S 2 3 I - + 2I - Yang mana berjalan terus menjadi S 2 3 I - + I - S 4 6 2- + I 3 - Warna indikator muncul kembali pada S 2 3 I - + S 2 3 2- S 4 6 2- + I - II.7 Spektrofotometri Serapan Atom Spektrofotometri serapan atom telah lama digunakan untuk analisa kuantitatif unsurunsur logam dalam jumlah renik. Keunggulan analisa spektrofotometri serapan atom antara lain adalah analisanya peka, teliti, tidak perlu pemisahan antara unsur logam yang ditentukan dari unsur yang lainnya, cepat dan relatif sederhana pengerjaannya (Underwood, 1996). Analisa spektrofotometri serapan atom didasarkan pada penyerapan energi sinar pada panjang gelombang tertentu oleh atom-atom netral dalam keadaan gas dari zat yang dianalisa. Sinar yang diserap itu biasanya berupa sinar tampak atau sinar ultraviolet. Sumber cahaya berasal dari lampu katoda berongga yang dibuat dari unsur yang dianalisa sehingga menghasilkan cahaya yang khas dari unsur tersebut. Besarnya adsorbsi sinar sebanding dengan konsentrasi atom-atom netral dalam nyala. Prinsip kerja alat spektrofotometri serapan atom adalah nyala api yang mengandung atomatom netral dari unsur yang dianalisa, yang berada dalam keadaan dasarnya disinari 21

oleh sinar yang dipancarkan oleh sumber sinar. Sebagian intensitas sinar dari sumber sinar tersebut dengan panjang gelombang tertentu diserap oleh atom-atom unsur dalam nyala dan sebagian lagi diteruskan. Sebagian sinar yang diteruskan menuju monokromator lalu ke detektor, kemudian ke amplifier dan rekorder. Gangguan-gangguan pada spektrofotometri serapan atom adalah peristiwa yang menyebabkan nilai adsorban yang diukur lebih kecil atau lebih besar dari nilai adsorban seharusnya yang sesuai dengan konsentrasi cuplikan. Gangguan-gangguan pada spektrofotometri serapan atom yaitu: 1. Gangguan matrik cuplikan Gangguan ini mempengaruhi banyaknya cuplikan yang mencapai nyala yang disebabkan oleh mengendapnya unsur yang dianalisa. Selain itu gangguan ini dapat pula terjadi apabila kondisi larutan seperti p, Viskositas tegangan permukaan, berat jenis dan tekanan uap tidak sama dalam larutan baik dalam larutan standar maupun larutan yang akan dianalisis 2. Gangguan-gangguan kimia Gangguan ini mempengaruhi banyaknya atom yang terjadi didalam nyala. Terbentuknya atom-atom netral unsur yang dianalisa yang masih dalam keadaan dasarnya di dalam nyala sering terganggu oleh 2 macam gangguan kimia yaitu dissosiasi tidak sempurna dan ionisasi atom-atom dalam nyala. II.8 Fourier Transfer Infra ed Spektrum inframerah suatu molekul adalah hasil transisi antara tingkat energi getaran yang berlainan. Gerakan getaran molekul menyerupai gerakan suatu bola yang dipasang pada pegas (resswell dkk, 1982). Karena panjang gelombang I lebih besar dari panjang gelombang UV maka pada I tidak mampu melakukan transisi elektronik melainkan hanya terjadi transisi vibrasi. anya gugus fungsi yang saat bervibrasi menghasilkan momen dipol yang aktif I (arvey, 2000). 22

Syarat I tidak boleh mengandung air karena Nal dapat larut dalam air dan akan terjadi vibrasi gugus, sehingga yang terlihat bilangan gelombang untuk air Diagram alat I seperti yang terlihat pada Gambar II.9 berikut ini: Sumber Sinar uplikan Monokromator Amplifier ecorder Detektor Gambar II.9 Diagram alat I 23