26 Media Bina Ilmiah ISSN No

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian analitik.

DEFINISI KASUS MALARIA

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK MALARIA

EFEK EKSTRAK BIJI Momordica charantia L TERHADAP LEVEL GAMMA GLUTAMYL TRANSFERASE SERUM MENCIT SWISS YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei SKRIPSI

JST Kesehatan, Juli 2013, Vol.3 No.3 : ISSN KADAR HEMOGLOBIN DAN DENSITAS PARASIT PADA PENDERITA MALARIA DI LOMBOK TENGAH

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS MALARIA BALAI LABORATORIUM KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam pembuatan karya ilmiah adalah. Waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2009

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

A. Pengorganisasian. E. Garis Besar Materi

Latar Belakang Penyakit Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa

Meti Kusmiati, Danil Muharom Program Studi DIII Analis Kesehatan STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dapat dilakukan dengan banyak metoda. Salah satu metoda yang paling diyakini

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik.

STATUS HEMATOLOGI PENDERITA MALARIA SEREBRAL

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bertingkat dengan empat dosis tidak didapatkan kematian pada

BAB I PENDAHULUAN. Separuh penduduk dunia berisiko tertular malaria karena hidup lebih dari 100

SKRIPSI. Oleh Thimotius Tarra Behy NIM

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B

Medan Diduga Daerah Endemik Malaria. Umar Zein, Heri Hendri, Yosia Ginting, T.Bachtiar Pandjaitan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik dengan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN HUBUNGAN RIWAYAT INFEKSI MALARIA DAN MALARIA PLASENTA DENGAN HASIL LUARAN MATERNAL DAN NEONATAL

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium.

BAB 1 PENDAHULUAN. Malaria adalah penyakit akibat infeksi protozoa genus Plasmodium yang

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik. Waktu penelitian adalah Desember April 2010.

CSL5_Manual apusan darah tepi_swahyuni 2015 Page 1

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik.

BAB I PENDAHULUAN. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit yang

BAB I PENDAHULUAN. I. A. Latar Belakang. Infeksi dengue merupakan penyakit akut yang. disebabkan oleh virus dengue. Sampai saat ini dikenal

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh

Pendahuluan. Tujuan Penggunaan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yaitu menggambarkan perbedaan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) sampai saat ini merupakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Penyebab timbulnya penyakit DHF. oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus (Arthropodborne

DESKRIPSI KEGIATAN Kegiatan Waktu Deskripsi 1. Pendahuluan 10 menit Instruktur menelaskan tujuan dari kegiatan ini

Bab 1 PENDAHULUAN. tetapi sering tidak diketahui, karena tidak menunjukkan gejala untuk waktu

RINGKASAN. Penyakit hati kronis merupakan masalah kesehatan masyarakat, tetapi sering tidak diketahui, karena tidak menunjukkan gejala untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan parasit Plasmodium yang

Malaria merupakan penyakit yang terdapat di daerah Tropis. Penyakit ini. sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN JENIS JENIS PEMERIKSAAN

Epidemiologi dan aspek parasitologis malaria. Ingrid A. Tirtadjaja Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS Jl. Perintis Kemerdekaan Padang Telp.: Fax:

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit malaria merupakan salah satu penyakit parasit yang tersebar

BAB I PENDAHULUAN. macam, mulai dari virus, bakteri, jamur, parasit sampai dengan obat-obatan,

Dosen Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Malaria merupakan penyakit kronik yang mengancam keselamatan jiwa yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dengue dan ditandai empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi

LAPORAN PRAKTIKUM 3 METABOLISME GLUKOSA TEKNIK SPEKTROFOTOMETRI SISKA MULYANI (NIM: ) HARI/TANGGAL PRAKTIKUM : KAMIS / 4 Agustus 2016

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract. Riche Anggresti 1, Nuzulia Irawati 2, Roza Kurniati 3

Hepatitis Virus. Oleh. Dedeh Suhartini

PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH PADA WANITA PENGGUNA KONTRASEPSI ORAL DAN PADA WANITA HAMIL TRIMESTER III

BAB I Infeksi dengue adalah suatu infeksi arbovirus yang ditularkan melalui

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Plasmodium, yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Ada empat spesies

Daftar Pustaka. Arubusman M., Evaluasi Hasil Guna Kombinasi. Artesunate-Amodiakuin dan Primakuin pada Pengobatan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik. Laboratorium MITRA SEHAT JEPARA. sampel di ambil secara total populasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Gejala dan Tanda Klinis Malaria di Daerah Endemis

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian

TATALAKSANA MALARIA. Dhani Redhono

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Malaria merupakan salah satu penyakit infeksi yang. masih menjadi masalah di negara tropis dan subtropis

BAB I PENDAHULUAN. digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut. Berdasarkan intensitasnya, nyeri

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Asia Tenggara termasuk di Indonesia terutama pada penduduk yang

GAMBARAN KADAR TRIGLISERIDA (METODE GPO- PAP) PADA SAMPEL SERUM DAN PLASMA EDTA

BAB I PENDAHULUAN. diperuntukkan sebagai makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia,

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak daun sirsak (Annona

DAFTAR ISI. BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN Kerangka Berpikir Konsep Penelitian...26

BAB III METODE PENELITIAN

Project Status Report. Presenter Name Presentation Date

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan bagi negara tropis/

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERBANDINGAN HITUNG JUMLAH LEUKOSIT METODE MANUAL DAN AUTOMATIK MIFTAHUL FARID P

BAB 4 METODE PENELITIAN. Jenis penelitian adalah eksperimental dengan rancangan pre and post

TATALAKSANA MALARIA. No. Dokumen. : No. Revisi : Tanggal Terbit. Halaman :

BAB III METODE PENELITIAN. pemeriksaan di Unit Transfusi Darah Cabang Palang Merah Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. pemeriksaan rutin kesehatan atau autopsi (Nurdjanah, 2014).

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN Malaria Definisi Malaria merupakan infeksi protozoa genus Plasmodium yang dapat

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Patologi Klinik.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Analitik, mengingat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 4 METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Randomized control

GAMBARAN GLUKOSA DARAH SEWAKTU PADA ORANG YANG KURANG TIDUR DI USIA PRODUKTIF

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan uji klinik dengan desain Randomized

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Malaria merupakan salah satu penyakit infeksius. yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

Transkripsi:

26 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 PERBEDAAN KADAR SGOT (SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSAMINASE) PADA PENDERITA MALARIA FALCIPARUM DAN MALARIA VIVAX oleh: Ida Bagus Rai Wiadnya Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram Abstrak : adalah salah satu jenis penyakit yang mematikan, karena dapat menimbulkan gejala berat dan komplikasi. Berat ringannya manifestasi malaria tergantung jenis Plasmodium yang menyebabkan infeksi dan imunitas penderita. Komplikasi yang paling berat dijumpai pada malaria falciparum yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan sering di sebut pernicious manifestations. Plasmodium falciparum menginfeksi semua jenis eritrosit. Pada malaria vivax jarang menyebabkan malaria berat karena Plasmodium vivax menginfeksi reticulosit dan merozoit. Pada penderita malaria terjadi perubahan fungsi hati sehingga menyebabkan kerusakan hati ringan disertai kadar SGOT sedikit meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) pada penderita malaria falciparum dan malariavivax. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Studi komparasi. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara consecutive sampling dimana semua subyek yang datang dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek diperlukan terpenuhi. Perbedaan kadar SGOT pada penderita dianalisa menggunakan Uji Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar SGOT pada penderita malaria falciparum lebih tinggi (59,7 U/L) dibandingkan dengan rerata kadar SGOT pada penderita malaria vivax (19,5 U/L). Hasil uji beda antara kadar SGOT pada penderita malaria falcipar um dan malaria vivax menunjukkan p = 0,000 < 0,050.. Dari hasil statistik disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar SGOT pada penderita malaria falciparum dengan malaria vivax. Kata kunci : falciparum, vivax, SGOT PENDAHULUAN adalah salah satu jenis penyakit yang mematikan dimana berdasarkan taksiran WHO sekitar 300-400 juta orang di dunia terinfeksi malaria setiap tahun dan menyebabkan kematian pada 2,7 juta orang. Indonesia merupakan salah satu negara endemik malaria karena 60% penduduk Indonesia tinggal di daerah malaria dan menyebabkan kematian pada 15 juta penderita setiap tahunnya (Depkes RI, 2006). disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium dan memiliki dua hospes yaitu manusia dan nyamuk. pada manusia dapat disebabkan oleh P. malariae, P.vivax, P. falciparum dan P.ovale (Sudoyo, 2006). Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2010 diperoleh Point prevalence malaria (perbandingan antara jumlah penderita malaria yang dicatat dengan jumlah penduduk saat itu) adalah 0,6%, dan spesies parasit malaria yang paling banyak ditemukan adalah Plasmodium falciparum (86,4%) sedangkan sisanya adalah Plasmodium vivax dan campuran antara P.falciparum dan P.vivax (Kemenkes RI, 2011). ambaran karakteristik dari malaria ialah demam berkala, anemia, trombositopenia dan splenomegali. Berat ringannya manifestasi malaria tergantung jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi dan imunitas penderita (White, dkk, 1994). Diagnosis malaria biasanya ditegakkan dengan metoda konvensional memakai perwarnaan giemsa pada apusan darah dan pemeriksaan di bawah mikroskop, Sampai saat ini metoda giemsa merupakan gold standard. Kelebihan dari metoda giemsa ini adalah biaya relatif murah dan bisa menentukan jenis spesies dari Plasmodium. Meskipun demikian masih terdapat kendala yaitu memerlukan tenaga laboratorium yang terlatih dan hasil diperoleh dalam waktu yang lebih lama (time consuming) (Susanto, dkk, 1995). RDT (Rapid Diagnostic Test) merupakan alternatif terhadap diagnosa yang ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis, terutama pada tempat yang tidak mempunyai sarana mikroskopis yang berkualitas (WHO, 2005). Menurut Roe & Pasvol (2009), keuntungan RDT adalah pemeriksaan ini tidak memerlukan kepakaran yang tinggi untuk pelaksanaannya. Walaupun begitu, biaya RDT mahal dan pemeriksaan tidak bersifat kuantitatif. SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) atau juga dinamakan AST (Aspartat

ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah 27 aminotransferase) merupakan enzim yang dijumpai dalam otot jantung dan hati, sementara dalam konsentrasi sedang dijumpai pada otot rangka, ginjal dan pankreas. Konsentrasi rendah dijumpai dalam darah, kecuali jika terjadi cedera seluler, dan dalam jumlah banyak dilepaskan ke dalam sirkulasi metabolisme. Pada penyakit hati, kadarnya akan meningkat 10 kali lebih dan akan tetap demikian dalam waktu yang lama (Sherlock,1990). Peningkatan kadar SGOT juga terjadi pada kasus seperti alkoholik, radang pankreas, malaria, infeksi lever stadium akhir, adanya penyumbatan pada saluran empedu, kerusakan otot dan jantung, orang-orang yang selalu mengkonsumsi obat-obatan seperti antibiotik dan obat TBC (Bastiansyah, 2008). Dari hasil pengamatan kadar SGOT pada pasien malaria positif di RSUD Praya, sebagian besar menunjukkan peningkatan kadar SGOT, sehingga menimbulkan keinginan peneliti untuk melakukan penelitian tentang perbedaan kadar SGOT pada penderita. METODE PENELITIAN Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah Tabung 5 ml, rak tabung, spuit 3 ml, tourniquet, Kapas alkohol 70 %, stopwatch, centrifuge, spektrofotometer clinicon 4010, tissue, Aluminium foli, Mikropipet 100 μl, tip kuning, Obyek glass dan botol semprot. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah Darah, Serum, Bufer, cat Giemsa dan Reagen SGOT. Pengumpulan Sampel Pemeriksaan, disediakan sebuah obyek glass dan sebuah tabung tanpa antikoagulan. Dilakukan fungsi vena, diambill darah sebanyak 3 cc. Teteskan darah sebanyak 1 tetes di atas obyek glass untuk pemeriksaan malaria dan sisanya masukkan ke dalam tabung secara perlahan melalui dinding tabung. Kemudian disentrifugasi selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm, untuk mendapatkan serum untuk pemeriksaan SGOT. Pemeriksaan malaria, Pembuatan sediaan tetes tebal dan hapusan : Teteskan 1 tetes darah pada objek glass yang bersih dan kering kemudian buatlah lingkaran dengan diameter 1 cm. Pengecatan sediaan tetes tebal : Sediaan tetes tebal yang sudah kering dilisiskan terlebih dahulu dengan air sampai hemoglobin hilang. Susun sediaan tetes tebal, tuangkan larutan Giemsa yang sebelumnya telah diencerkan dengan larutan Buffer ph 7,2 dengan perbandingan : 3 tetes Giemsa dengan 20 tetes (1 ml) Buffer ph 7,2 dan diamkan selama 10-15 menit. Cuci dengan air bersih secara perlahan-lahan sampai semua larutan Giemsa terbuang. Keringkan sediaan tersebut, kemudian periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran lensa objek 100 kali. Cara kerja pemeriksaan SGOT, masukkan ke dalam tabung reaksi sesuai dengan tabel berikut : No Tabung 25 o C 37 o C Reaksi 1. Sampel 200 μl 100 μl 2. Reagen Kerja 1000 μl 1000 μl Dicampur, dan inkubasi selama 1 menit. Baca pada fotometer clinicon 4010 dengan panjang gelombang 340 nm, program K20, faktor 1745 (37oC) atau 952 (25 oc). - Catat hasil yang terbaca pada alat fotometer. HASIL PENELITIAN a. Gambaran Umum Penelitian Penelitian telah dilakukan pada bulan Nopember sampai dengan Desember 2012 di Instalasi Laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah Praya. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara consecutive sampling dimana semua subyek yang memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek diperlukan terpenuhi. Dari keseluruhan penderita dipilih 40 penderita yang memenuhi kriteria penelitian yang terdiri dari 20 subyek penderita malaria falciparum dan 20 subyek penderita malaria vivax. Subyek yang memenuhi kriteria penelitian kemudian dilakukan pemeriksaan kadar SGOT. b. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Setelah dilakukan pengumpulan data hasil pemeriksaan malaria dan kadar SGOT diperoleh hasil sebagaimana tercantum pada Tabel 1 di bawah ini. Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa rerata kadar SGOT penderita malaria falciparum adalah 59,7 U/L dan rerata kadar SGOT penderita malaria vivax adalah 19,5 U/L. Kadar SGOT penderita malaria falciparum terendah adalah 14,0 U/L dan kadar tertinggi adalah 148,6 U/L, sedangkan pada penderita malaria vivax kadar SGOT terendah adalah 10,9 U/L dan kadar tertinggi adalah 29,5 U/L. Dari 20 sampel penderita malaria falciparum ditemukan Plasmodium falciparum ring positif (Pl.fr+) sebanyak 18 sampel dan Plasmodium falciparum gamet positif (Pl.fg+) sebanyak 2 sampel. Data hasil pemeriksaan kadar SGOT penderita dikelompokkan berdasarkan nilai normal kadar SGOT. Pada penelitian ini nilai normal kadar

28 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 SGOT adalah 0 35 U/L (Pospatklin, 2008). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini. Tabel 1. Hasil pemeriksaan kadar SGOT penderita No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Falciparum Pl fg + Kadar SGOT U/L 47,6 40,3 87,4 14,0 53,4 124,7 79,9 52,6 43,5 76,7 148,6 46,3 17,8 42,3 70,5 51,2 43,4 45,6 40,8 67,0 Vivax Kadar SGOT U/L 11,7 21,1 10,9 14,9 23,2 23,7 27,0 22,8 19,3 11,8 24,8 18,6 24,1 21,0 29,5 17,6 22,2 16,5 14,7 15,1 Rerata 59,7 19,5 Tabel 2. Data Hasil pemeriksaan kadar SGOT dikelompokkan berdasarkan nilai normalnya. Katagori Kelompok Subyek Hasil Pemeriksaan Falciparum vivax n % n % Normal 2 10 20 100 Tidak 18 90 0 0 Normal Jumlah 20 100 20 100 Dari Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa kadar SGOT normal sebanyak 2 sampel (10 %) pada penderita malaria falciparum dan 20 sampel (100 %) pada penderita malaria vivax. Kadar SGOT tidak normal sebanyak 18 sampel (90 %) pada penderita malaria falciparum dan 0 sampel (0 %) pada penderita malaria vivax. ANALISIS DATA Untuk mengetahui perbedaan Kadar SGOT pada penderita falciparum dan malaria vivax, maka dari data hasil pemeriksaan kadar SGOT penderita dilakukan analisis data menggunakan uji statistik, dengan menggunakan program SPSS pada tingkat kepercayaan 95 % didapatkan hasil analisis sebagai berikut: 1. Uji Kolmogorov-Smirnov (K-S) Uji Kolmogorov-Smirnov (K -S) pada tingkat kepercayaan 95% (α=0,05) bertujuan untuk melihat atau mengetahui apakah data hasil penelitian berdistribusi normal atau tidak. Adapun hasil uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan data kadar SGOT penderita probabilitasnya adalah 0,127 > α 0,05 yang berarti bahwa data tersebut berdistribusi normal. 2. Uji Levene Test ( Uji Homogenitas Varian ) Uji kesamaan varian (homogenitas) dengan Levene Test digunakan untuk mengetahui apakah data tersebut mempunyai varian yang sama atau berasal dari kelompok yang homogen. Adapun hasil uji Levene Test menunjukkan bahwa untuk uji Levene Test dengan syarat > 0,05 didapatkan nilai signifikansi 0,210 > 0,05 yang berarti bahwa data kadar SGOT serum tersebut mempunyai varian yang sama. Karena data kadar SGOT serum penderita berdistribusi normal dan mempunyai varian yang sama, maka dilanjutkan ke Uji Independent T-Test. 3. Uji Independent T-Test Uji Independent T-Test bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar SGOT serum penderita. Adapun hasil uji Independent T-Test menunjukkan nilai P 0,000 < 0,050, artinya Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada perbedaan yang bermakna antara kadar SGOT pada penderita malaria falciparum dan malaria vivax. PEMBAHASAN Hasil penelitian mendapatkan adanya peningkatan kadar SGOT yang melebihi nilai normal pada penderita malaria falciparum yaitu sebanyak 18 sampel (90%) sedangkan kadar SGOT penderita malaria vivax masih dalam batas normal pada semua sampel (100%).

ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah 29 Peningkatan kadar SGOT pada penderita malaria falciparum disebabkan karena Plasmodium falcifarum mempunyai patogenitas yang khusus, eritrosit yang terinfeksi akan mengalami proses sekuestrasi yaitu tersebarnya eritrosit yang berparasit ke pembuluh kapiler alat dalam tubuh, sehingga menyebabkan malaria berat, sedangkan pada malaria vivax gejala yang ditimbulkan tidak seberat falciparum (Harijanto,P.N, 1999). Pada saat sporozoit masuk ke aliran darah melalui gigitan nyamuk Anopheles, dalam waktu ± 1/2-1 jam, sporozoit sudah tiba di hati dan segera menginfeksi sel hati yang merupakan awal siklus parasit di sel hati. Di sel hati, sporozoit mengalami reproduksi aseksual yang disebut sebagai proses sizogoni eksoeritrositer (prose s pemisahan sel di dalam sel hati). Stadium hati yang disebut stadium pre-eritrositik, mengalami proses sizogoni dengan jumlah merozoit yang dihasilkan dan besarnya sizon dewasa (mature sizon), tergantung spesies parasitnya (Gandahusada,dkk, 1998). Pada plasmodium vivax ada yang ditemukan dalam bentuk laten di dalam sel hati yang tetap tidur (dormant) selama periode tertentu sampai menjadi aktif kembali yang disebut Hipnozoit sedangkan Plasmodium falciparum akan menginfeksi seluruh eritrosit (Gandahusada, dkk, 1998). Pada malaria falciparum sering terjadi komplikasi seperti terjadinya kelainan hati ( Biliosa). Sekuestrasi dan sitoadheren pada infeksi Pasmodium falsiparum menyebabkan obstruksi 45 mikrovaskular sehingga terjadi ikterus. Jaundice atau ikterus pada infeksi malaria falciparum. umumnya disebabkan oleh hemolisis, dan terjadinya ikterus menunjukkan adanya disfungsi hepar. Tanda penting adanya disfungsi hepar adalah kadar albumin yang rendah atau menurun, kadar SGOT dan SGPT sering meningkat (Harijanto PN, 1999). Menurut Rosenthal (2008), suatu karakteristik khas Plasmodium falciparum adalah cytoadherence, di mana eritrosit yang terinfeksi dengan parasit matang akan melekat pada sel endotel mikrovaskular. Proses ini dikatakan sebagai suatu kelebihan untuk parasit karena ini bisa menghambat jalur masuknya eritrosit abnormal ke dalam limpa untuk dihancurkan. Konsentrasi tinggi eritrosit yang terinfeksi oleh Plasmodium falciparum dalam sirkulasi darah serta interplay antara faktor penjamu dan parasit ini yang akan menyebabkan manifestasi infeksi malaria berat seperti malaria serebral, noncardiogenic pulmonary edema, dan gagal ginjal. Pada penderita malaria yang tidak ditangani dengan segera akan menyebabkan terjadinya kerusakan yang lebih besar di dalam hati. Sel-sel hati (hepatosit) cenderung mengeluarkan atau membebaskan aminotransferase dan apabila hepatosit mengalami cedera, enzim yang secara normal berada di dalam sel (intra sel) ini masuk ke dalam aliran darah dan akan terukur melalui pemeriksaan Laboratorium. Salah satu enzim tersebut adalah SGOT (Purwanto, 2009). SGOT atau dinamakan juga AST adalah enzim yang terdapat di dalam sel hati. Ketika sel hati mengalami kerusakan, akan terjadi pengeluaran enzim AST dari dalam sel hati ke sirkulasi darah dan akan terukur melalui pemeriksaan laboratorium. AST memiliki spesifitas yang relatif lebih tinggi untuk kerusakan hati. Apabila terjadi cedera akut pada hati dapat menyebabkan peningkatan AST (LeFever J, 2004). Peningkatan SGOT yang paling tinggi ditemukan dengan kelainan-kelainan yang menyebabkan kematian yang banyak dari selsel hati (nekrosis hati). Ini terjadi pada kondisi - kondisi seperti virus hepatitis A atau hepatitis B kronis, kerusakan hati yang jelas yang ditimbulkan oleh racun-racun seperti dari suatu overdosis ( kelebihan dosis ) dan shock (Widman F.K, 1989). Kenaikan enzim-enzim hati dari ringan sampai sedang adalah hal yang biasa. SGOT seringkali secara tak terduga ditemukan pada tes-tes screening darah pada individu-individu yang jika tidak sehat. Peningkatan SGOT pada kasuskasus semacam ini biasanya ada di antara dua kali batas-batas normal atas. Penyebab yang paling umum dari kenaikan-kenaikan yang ringan sampai sedang dari enzim-enzim hati adalah hati berlemak (Fatty liver) yang sering disebabkan oleh penyalahgunaan alkohol dan kegemukan (obesitas) (Widman F.K, 1989). Analisis data hasil penelitian perbedaan kadar SGOT (Serum Glutamat Oksaloacetat Transaminase) pada penderita malaria falciparum dan malaria vivax melalui uji statistik Independent T - test pada tingkat kepercayaan 95% (α 0,05) menunjukkan ada perbedaan yang bermakna pada penderita malaria falciparum dengan malaria vivax Perbedaan kadar SGOT (Serum Glutamat bisa digunakan untuk membantu dalam menegakkan diagnosa malaria, seperti untuk membedakan jenisjenis infeksi malaria antara malaria falciparum dan vivax. PENUTUP a. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang perbedaan kadar SGOT (Serum Glutamat

30 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 malaria tropica dan malaria tertiana maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara kadar SGOT (Serum Glutamat malaria tropica dan malaria tertiana. b. Saran Adanya hasil penelitian di atas maka dapat di informasikan bahwa untuk menegakkan diagnosis malaria perlu dilakukan pemeriksaan kadar SGOT. DAFTAR PUSTAKA Bastiansyah E, 2008. Panduan Lengkap Membaca Hasil Test Kesehatan. Penebar Plus Cetakan I, Jakarta. Depkes RI, 2006. Pedoman Penatalaksanaan Kasus di Indonesia, Depkes RI. Jakarta. Gandahusada S, Ilahude H.D, Pribadi W. 1998. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga, FKUI Jakarta. Hanscheid, T., 1999. Diagnosis of : A review of Alternatives to Conventional Microscopy. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/105 83325. [Accessed 22 March 2012]. Harijanto PN, 1999. Gejala klinik malaria berat. Dalam Harijanto PN (Ed)., epidemiologi, patogenesis, manifestasi klinis, penanganan. Penerbit EGC, Jakarta Harijanto, P.N.,dkk, 2009. dari Molekuler ke Klinis. Edisi II. EGC, Jakarta. Kemenkes RI, 2011. Epidemiologi di Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. LeFever J, 2004. Pedoman Pemeriksaan dan Diagnostik, EGC. Jakarta. Notoatmodjo S, 2002. Metodelogi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta. Oswari, E, 2003. Penyakit dan Penanggulangannya. Cetakan V. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Purwanto AP,2009 Aspek Klinik Pemeriksaan Enzim Transaminase Dalam Media Laboratorium, Edisi 09, ILKI. Roe, J.K., Pasvol, G., 2009. New Developments in the Management of in Adults. Q J Med 2009 Rosenthal, P.J., 2008. Artesunate for the Treatment of Severe Falciparum. The New England Journal of Medicine 2008, Sherlock S., 1990, Penyakit Hati dan Sistem Saluran Empedu, Widya Medika Jakarta. Siswanto, Lina, Made Sidia, 1997. Gambaran Klinik Penderita yang Dirawat di Bagian Anak RSU Sumbawa. Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000:17-21. http://www.kalbe.co.id Sudoyo Aru W. Buku ajar Penyakit dalam Jilid III.Jakarta. Pusat penerbitan IPDFKUI.2006 WHO New perspctives malaria diagnosis. Report of ajoint WHO/ Usaid informal consultation. WHO 1999. Widman, F.K., 1989. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi IX, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.