A 66 YEARS OLD MAN WITH ACUTE PRIMARY ANGLE CLOSURE GLAUCOMA

dokumen-dokumen yang mirip
GLAUKOMA ABSOLUT POST TRABEKULEKTOMI DAN GLAUKOMA POST PERIFER IRIDEKTOMI

LAPORAN KASUS GLAUKOMA KRONIK

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

BAB I PENDAHULUAN. hilangnya serat saraf optik (Olver dan Cassidy, 2005). Pada glaukoma akan terdapat

ACUTE GLAUCOMA ON RIGHT EYE

Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

BAB I PENDAHULUAN. (Dorland, 2010). Dalam keadaan normal, tekanan intraokular rata rata sekitar 15 mm

Anita's Personal Blog Glaukoma Copyright anita handayani

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENURUNAN TEKANAN INTRAOKULER PADA LASER IRIDOTOMI DENGAN POWER KURANG DARI 700mW DAN LEBIH DARI 700mW

PERBEDAAN TEKANAN INTRAOKULER PASCA OPERASI IRIDEKTOMI PERIFER DAN LASER IRIDOTOMI PADA GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERTUTUP AKUT PERIODE 1 JANUARI 2004

BAB 1 PENDAHULUAN. kebutaan baik di dunia maupun di Indonesia. Menurut World Health. (10,2%), age-macular degeneration (AMD) (8,7%), trakhoma (3,6%),

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENURUNAN TEKANAN INTRAOKULER PADA LASER IRIDOTOMI DENGAN POWER KURANG DARI 700mW DAN LEBIH DARI 700mW

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut data Riskesdas 2013, katarak atau kekeruhan lensa

Diagnosa banding MATA MERAH

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Glaukoma adalah suatu neuropati kronik di dapat yang ditandai oleh

GLAUKOMA DEFINISI, KLASIFIKASI, EPIDEMIOLOGI, ETIOLOGI, DAN FAKTOR RISIKO

Terapi Glaukoma Primer Sudut Tertutup Akut dengan Iridoplasti dan Iridotomi Laser

BAB I PENDAHULUAN. Leber Hereditary Optic Neuropathy (LHON) merupakan penyakit

PERBANDINGAN PENURUNAN TEKANAN INTRAOKULER PADA TERAPI TIMOLOL MALEAT DAN DORSOLAMID PASIEN GLAUKOMA. Jurnal Media Medika Muda

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ARTIKEL PENELITIAN. Putu Giani Anabella Bestari Putri 1, I Wayan Eka Sutyawan 2, AA Mas Putrawati Triningrat 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menempati ruang anterior dan posterior dalam mata. Humor akuos

SOP KATARAK. Halaman 1 dari 7. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon SMF. Ditetapkan Oleh Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon.

ABSTRAK GAMBARAN KELAINAN REFRAKSI ANAK USIA 6-15 TAHUN DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012

Glaukoma. Apakah GLAUKOMA itu?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dalam kandungan dan faktor keturunan(ilyas, 2006).

BAB I PENDAHULUAN. Mata adalah organ tubuh yang menentukan kualitas hidup. seseorang, walaupun kerusakan pada mata tidak langsung berhubungan

Obat Diabetes Melitus Dapat Menghindari Komplikasi Mata Serius

GLAUCOMA. Glukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996)

Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ

BAB I LAPORAN KASUS. ANAMNESIS Keluhan utama : Pasien mengeluh penglihatan mata kanan dan kiri buram sejak 4 hari lalu.

BAB 1 PENDAHULUAN. diabetes retinopati (1%), penyebab lain (18%). Untuk di negara kita, Indonesia

24 years old Male with Corneal Ulcer and Iris Prolapse Occuli Dextra

Perbandingan Komplikasi Glaukoma Sekunder antara Pasien Post Operasi Tunggal dan Kombinasi Vitrektomi - Sklera Bukle

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. beristirahat (tanpa akomodasi), semua sinar sejajar yang datang dari benda-benda

Pengukuran Tekanan Intraokular pada Mata Normal Dibandingkan dengan Mata Penderita Miop sebagai Faktor Risiko Glaukoma

BAB I PENDAHULUAN. karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan menyempitnya lapang

Muhammadiyah Yogyakarta, 2 Departemen Mata, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ABSTRACT

PROFIL GLAUKOMA SEKUNDER AKIBAT KATARAK SENILIS PRE OPERASI DI RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2011 DESEMBER 2011

TATALAKSANA TRAUMA PADA MATA No.Dokumen No. Revisi 00

BAB I PENDAHULUAN. total kebutaan di dunia, disebabkan oleh glaukoma. 1 Sedangkan di Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. penyakit. Lensa menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu, dan. telah terjadi katarak senile sebesar 42%, pada kelompok usia 65-74

Perbandingan keberhasilan monoterapi dengan multiterapi pada pasien glaukoma di RSUD Panembahan Senopati Bantul tahun 2013

Lakukan pemeriksaan visus, refraksi terbaik dan segmen anterior.anamnesis

Alat optik adalah suatu alat yang bekerja berdasarkan prinsip cahaya yang. menggunakan cermin, lensa atau gabungan keduanya untuk melihat benda

PENATALAKSANAAN GLAUKOMA AKUT

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA PADA KORNEA DI RUANG MATA RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA. Trauma Mata Pada Kornea

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Miopia (nearsightedness) adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar

Author : Aulia Rahman, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau. Pekanbaru, Riau. Files of DrsMed FK UNRI (

BAB I PENDAHULUAN. Glaukoma adalah sekumpulan gejala dengan tanda karakteristik berupa

BAB I. Pendahuluan. Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal. dari sel-sel ganglion retina menuju chiasma nervus

MODUL SISTEM INDRA KHUSUS

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki efek yang kuat dalam menurunkan tekanan intraokular (TIO)

Wanita 65 Tahun Dengan Glaukoma Sekunder et Causa Katarak Senilis Hipermatur

LAPORAN PENDAHULUAN GLAUKOMA

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

[ LAPORAN KASUS ] [ LRA MANAGEMENT OF SECONDARY GLAUCOMA DUE TO SENILE CATARACT IN 56 YEARS OLD MAN. Arnia Faculty of Medicine, Universitas Lampung

BAB 1 : PENDAHULUAN. dikumpulkan melalui indera penglihatan dan pendengaran.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pencekungan cupping diskus optikus dan penyempitan lapang pandang yang

DAFTAR PUSTAKA. 1. World Health Organization. GLOBAL DATA ON VISUAL IMPAIRMENTS :3.

BAB I PENDAHULUAN. utama kebutaan yang tidak dapat disembuhkan. Glaukoma umumnya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kornea merupakan jaringan transparan avaskular yang berada di dinding depan bola mata. Kornea mempunyai fungsi

SILABUS BLOK MATA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET TAHUN 2014

Abstrak Kata kunci: Retinopati Diabetik, Laser Fotokoagulasi, Injeksi Intravitreal Anti VEGF.

ENTROPION PADA KUCING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

O P T I K dan REFRAKSI. SMF Ilmu Kesehatan Mata RSD Dr.Soebandi FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

1 Andrea Lalita 2 Yamin Tongku 2 J. S. M. Saerang. RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

Gambar 2.1. Struktur interna dari mata manusia (Junqueria, 2007)

BAB I PENDAHULUAN. Katarak adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata dan menjadi penyebab

BAB I. Pendahuluan. Saraf optik merupakan kumpulan akson yang berasal. dari sel-sel ganglion retina menuju khiasma nervus

NASKAH PUBLIKASI KARAKTERISTIK PENDERITA GLAUKOMA DI RUMAH SAKIT UMUM DR. SOEDARSO PONTIANAK TAHUN NUR ASICHA I

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) PROGRAM STUDI KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Berdasarkan tingginya dioptri, miopia dibagi dalam(ilyas,2014).:

PERBANDINGAN PENURUNAN TEKANAN INTRAOKULER PADA TERAPI TIMOLOL MALEAT DAN DORSOLAMID PASIEN GLAUKOMA LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

BAB 1 PENDAHULUAN. Kebutaan merupakan suatu masalah kesehatan di dunia, dilaporkan bahwa

DAFTAR PUSTAKA. 1. Kementrian Kesehatan RI. InfoDATIN : Situasi Gangguan Penglihatan dan

UNIVERSITAS INDONESIA

UPDATE MATERI PENATALAKSANAAN CORPUS ALIENUM PADA MATA

Nama Jurnal : European Journal of Ophthalmology / Vol. 19 no. 1, 2009 / pp. 1-9

BAB I PENDAHULUAN. Terminologi kebutaan didefenisikan berbeda beda di setiap negara seperti

BAB I PENDAHULUAN. Jumlah penderitadiabetes mellitus (DM) baru di seluruh dunia meningkat secara

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Hilman Mahyuddin, Lutfi Hendriansyah Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSUPN Cipto Mangunkusumo

MATA visus 6/9 injeksi siliar keratic presipitate dan tyndall effect d. Iridosiklitis uveitis anterior e. segera

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengkajian Sistem Penglihatan Mula Tarigan, SKp. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

BAB 2 Tinjauan Pustaka

MODUL PROBLEM BASED LEARNING KELAS REGULER SISTEM INDRA KHUSUS

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA GLAUKOMA DENGAN KETAATAN MENGGUNAKAN OBAT LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

Seorang Pria 66 Tahun dengan Glaukoma Akut Primer Sudut Tertutup M Novsandri Syuhar Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung Abstrak Glaukoma merupakan kegawatdaruratan dalam bidang mata. Sebanyak 3,2 juta orang mengalami kebutaaan dikarenakan glaukoma. Laki-laki, 66 tahun datang dengan keluhan penurunan penglihatan pada mata kiri secara tiba-tiba sejak 1 minggu SMRS. Keluhan disertai dengan mata merah, nyeri pada mata kiri, nyeri kepala dan mual muntah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, composmentis, TD 120/80 mmhg, nadi 80 x/menit, RR 16 x/menit, T 36,5 o C. Pemeriksaan oftalmologi oculi sinistra VOS 3/60, terdapat Injeksi konjungtiva pada konjungtiva bulbi, kornea udem, camera oculi anterior kedalaman dangkal, gambaran iris baik, pupil midilatasi, tensio oculi Tono dig N+2. Diagnosis Glaukoma akut primer sudut tertutup OS. Pasien diberikan terapi Timolol maleate 0,5 % ED 2x1 tetes ODS/hari, Cxytrol 3x1 tetes OS/hari, Carpin 1% 2x1 tetes OS/hari, Asetazolamide 3x250 mg, KSR 2x1 tablet. Kata Kunci: glaukoma akut primer sudut tertututp, tensio oculi A 66 YEARS OLD MAN WITH ACUTE PRIMARY ANGLE CLOSURE GLAUCOMA Abstract Glaucoma is an emergency in ophtalmology. 3.2 million people suffered blindness due to glaucoma. Male. A 66 years old man with complain suddenly decreased vision in the left eye since one week before entering hospital. Furthermore, patient had a red eyes and pain in the left eye. He also complaint headach, nausea and vomiting. On physical examination found moderate sick in general condition, composmentis, BP 120/80 mm Hg, pulse 80 x/min, RR 16 x/min, T 36,5 o C. On ophtalmology examination in the left eyes found Visus 3/60, conjunctival injection of conjunctiva bulbi, corneal edema, shallow on camera oculi anterior, normal iris, middilatation of pupil, tensio oculi Tono dig N + 2. Diagnosis acute primary angle closure glaucoma OS. Patients received timolol maleate 0.5% ED 2x1 drops ODS/day,Cytrol 3x1 drops OS/day,Carpin 1% 2x1 drops OS/day Acetazolamide 3x250 mg, KSR 2x1 tablet. Keyword : acute primary angle closure, tensio oculi Korespondensi: M Novsandri Syuhar, alamat Jl. Kamboja II No. 3 Labuhan Dalam Merta Sari Kecamatan Tanjung Senang, HP 082307084104, e-mail novsandrisyuhar@yahoo.com Pendahuluan Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai oleh meningkatnya tekanan intraokuler yang disertai oleh pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapang pandang. 1-3 Glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua terbanyak setelah katarak. Berbeda dengan katarak, kebutuaan akibat glaukoma bersifat permanen atau tidak dapat diperbaiki (irreversibel). 4,5 Di Amerika Serikat, kira-kira 2.2 juta orang pada usia 40 tahun dan yang lebih tua mengidap glaukoma, sebanyak 120,000 adalah buta disebabkan penyakit ini. Tiap tahun, ada lebih dari 300,000 kasus glaukoma yang baru dan kira-kira 5400 orang-orang menderita kebutaan Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2010 diperkirakan sebanyak 3,2 juta orang mengalami kebutaan akibat glaukoma. Glaukoma pada orang kulit hitam, lima belas kali lebih menyebabkan kebutaan dibandingkan orang kulit putih. 6 Kasus Pasien laki-laki, 66 tahun datang dengan keluhan penurunan penglihatan secara tibatiba pada mata kiri sejak 1 minggu Sebelum Masuk Rumah Sakit (SMRS). Pasien megeluhkan bahwa pada saat melihat jauh hanya dapat melihat seperti bayangan. Selain itu pasien mengeluh mata kiri merah dan nyeri. Nyeri dirasakan terus menerus dan menghilang setelah tidur sebentar. Pasien juga mengeluh sakit kepala terus-menerus dan disertai mual muntah. Riwayat trauma dan penggunaan obat-obatan tetes mata yang lama sebelumnya disangkal. Riwayat menggunakan kaca mata, hipertensi, diabetes mellitus, trauma pada kedua bola tidak ada. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran komposmentis, tekanan darah 120/80 mmhg, nadi 80 x/menit, RR 16 x/menit, T 36,5 o C. Pada status generalis didapatkan sistem kardiovaskular, sistem J Medula Unila Volume 4 Nomor 3 Januari 2016 99

Muhammad Seorang Pria 66 Tahun dengan Glaukoma Akut Primer Sudut Tertutup respirasi, kulit dan ekstremitas dalam batas normal. Pada pemeriksaan oftalmologi oculi sinistra VOS 3/60, terdapat Injeksi konjungtiva pada konjungtiva bulbi, kornea udem, camera oculi anterior kedalaman dangkal, gambaran iris baik, pupil midilatasi, tensio oculi Tono dig N+2. Pada oculi dextra VOD 6/60, palpebra dan konjungtiva tenang, kornea jernih, camera oculi anterior dalam, gambaran iris baik, pupil miosis dengan reflek, lensa jernih, tensio oculi Tono dig N. Gambar 1. Status Oftalmologi Pasien dididagnosis glaukoma akut primer sudut tertutup OS. Pasien diberikan terapi Timolol maleate 0,5 % ED 2x1 tetes ODS/hari, Cxytrol 3x1 tetes OS/hari, Carpin 1% 2x1 tetes OS/hari, Asetazolamide 3x250 mg, KSR 2x1 tablet. Pembahasan Pada kasus ini, pasien didiagnosis glaukoma akut primer sudut tertutup OS. Penegakkan diagnosis didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis ditemukan mata kiri mendadak buram sejak 1 minggu lalu, mata kiri merah, nyeri kiri yang timbul mendadak, nyeri kepala, mual muntah. Pada pemeriksaan oftalmologi oculi sinistra VOS 3/60, terdapat Injeksi konjungtiva pada konjungtiva bulbi, kornea udem, camera oculi anterior kedalaman dangkal, gambaran iris baik, pupil midilatasi, tensio oculi Tono dig N+2. Dari riwayat anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat didiagnosis banding glaukoma akut sudut tertutup, iritis, konjungtivitis, dan keratitis. Diagnosis banding ini berdasarkan keluhan yang sama yaitu mata merah, tapi pada iritis, konjungtivitis dan keratitis tidak didapatkan penurunan ketajaman penglihatan dan peningkatan tekanan intraokuler. Sehingga dengan disingkirkan diagnosis banding yang lain, maka pada pasien ini didiagnosis dengan glaukoma akut sudut tertutup.1,3,8 J Medula Unila Volume 4 Nomor 3 Januari 2016 100 Pada glaukoma akut sudut tertutup glaukoma sudut tertutup akut primer merupakan penyakit mata dengan gangguan integritas struktur dan fungsi yang mendadak sebagai akibat peningkatan tekanan intraokuler (TIO) yang sangat tinggi karena sudut bilik mata depan mendadak tertutup akibat blok pupil.3 Mata dengan segmen anterior yang kecil dengan meningkatnya usia akan mengalami perubahan-perubahan (lensa lebih tebal, lebih ke depan, pupil miosis) dan bila pada suatu saat mengalami cetusan berupa dilatasi ringan dari pupil (karena emosi, sinar yang remang-remang, obatobatan) maka mendadak terjadi blok pupil.9 Humor akuous terbendung di bilik mata belakang yang akan mendorong iris perifer ke depan sampai menempel pada jaringan trabekula sehingga sudut bilik mata depan tertutup akibat TIO meningkat secara mendadak pula.3,9 Glaukoma sudut tertutup primer terjadi karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor akueus mengalir ke saluran schlemm.3,10 Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua. Peningkatan tekanan intraokuler akan mendorong perbatasan antara saraf optikus dan retina di bagian belakang mata. Akibatnya pasokan darah ke saraf optikus berkurang

sehingga sel-sel sarafnya mati. 1,11,12 Karena saraf optikus mengalami kemunduran, maka akan terbentuk bintik buta pada lapang pandang mata. Yang pertama terkena adalah lapang pandang tepi, lalu diikuti oleh lapang pandang sentral. Jika tidak diobati, glaukoma pada akhirnya bisa menyebabkan kebutaan. 13 Mekanisme utama penurunan penglihatan pada glaukoma adalah atrofi sel ganglion difus, yang menyebabkan penipisan lapisan serat saraf dan inti bagian dalam retina dan berkurangnya akson di saraf optikus. Iris dan korpus siliar juga menjadi atrofi, dan prosesus siliaris memperlihatkan degenerasi hialin. 15,16 Diskus optikus menjadi atrofi disertai pembesaran cekungan optikus diduga disebabkan oleh gangguan pendarahan pada papil yang menyebabkan degenerasi berkas serabut saraf pada papil saraf optik (gangguan terjadi pada cabang-cabang sirkulus Zinn- Haller), diduga gangguan ini disebabkan oleh peninggian tekanan intraokuler. 14,17 Tekanan intraokuler yang tinggi secara mekanik menekan papil saraf optik yang merupakan tempat dengan daya tahan paling lemah pada bola mata. Bagian tepi papil saraf optik relatif lebih kuat daripada bagian tengah sehingga terjadi cekungan pada papil saraf optik. 14 Gambar 2. Mekanisme kerusakan Mata Akibat Glaukoma 14 Pasien diberikan terapi Timolol maleate 0,5 % ED 2x1 tetes ODS/hari, Cxytrol 3x1 tetes OS/hari, Carpin 1% 2x1 tetes OS/hari, Asetazolamide 3x250 mg, KSR 2x1 tablet. Adapun Prinsip tatalaksana pada glaukoma akut sudut tertutup adalah sebagai berikut: 1,3,17 1. Menurunkan TIO segera 2. membuka sudut yang tertutup 3. memberi suportif 4. mencegah sudut tertutup berulang 5. mencegah sudut tertutup pada mata jiran (fellow eye). Pada pasien ini diberikan terapi sebagai berikut: 1. Menurunkan TIO segera. Pada pasien diberikan asetazolamide yang merupakan golongan carbonic anhidrase inhibitor yang berfungsi menekan produksi akuos. Yaitu Asetazolamide 3x250 mg. Pemberian KSR digunakan untuk mencegah hipokalemia yang merupakan efek samping pemeberian asetazolamide. 18 2. Pada pasien juga diberikan Timolol maleate 0,5 % yang merupakan golongan beta bloker yang berfungsi untuk menurunkan produksi akuos humor. 19 3. Pemberian carpin 1% 2x1 tetes OS/hari merupakan obat golongan miotika yang berkerja untuk mengkontriksikan pupil. Penggunaan obat ini akan menyebabkan iris tertarik dan menjauh dari trabekula sehingga sudut terbuka. 8,20 4. Pemberian cytrol yang berisikan kortikosteroid topikal dengan antibiotik digunakan untuk mengurangi inflamasi dan kerusakan saraf optic. 3,21 Pada pasien ini dilakukan pengamatan keberhasilan terapi selama 2-3 hari. Apabila J Medula Unila Volume 4 Nomor 3 Januari 2016 101

tidak terjadi penurunan TIO direncanakan dilakukan tindakan operatif. Adapun tindakan operatif yang dilakukan adalah Iridektomi dan iridotomi perifer. 23,24 Iridektomi dan iridotomi perifer adalah teknik bedah dimana membentuk komunikasi langsung antara kamera anterior dan posterior sehingga beda tekanan diantara keduanya menghilang. 22 Apabila iridektomi dan iridotomi perifer tidak berhasil dapat dilanjutkan dengan bedah drainase glaukoma melalui teknik trabekulektomi. Trabekulektomi merupakan tindakan bedah untuk membuat jalan pintas dari mekanisme drainase normal, sehingga terbentuk akses langsung humor aquous dari kamera anterior ke jaringan subkonjungtiva atau orbita dapat dibuat dengan trabekulotomi atau insersi selang drainase. Trabekulotomi telah menggantikan tindakan-tindakan drainase full-thickness (misalnya sklerotomi bibir posterior, sklerostomi termal, trefin). Penyulit utama trabekulotomi adalah kegagalan bleb akibat fibrosis jaringan epikslera. Hal ini lebih mudah terjadi pada pasien berusia muda, berkulit hitam dan pasien yang pernah menjalani bedah drainase glaukoma atau tindakan bedah lain yang melibatkan jaringan episklera. Terapi ajuvan dengan antimetabolit misalnya fluorourasil dan mitomisin berguna untuk memperkecil risiko kegagalan bleb. 24 Gambar 4. Bleb Yang Terbentuk Setelah Trabekulotomi 26 Pada pasien ini prognosis quo ad vitam adalah bonam, quo ad fungtionam dan sanationam adalah dubia ad bonam. Hal ini dikarenakan glaukoma akut merupakan kegawat daruratan mata, yang harus segera ditangani dalam 24 48 jam. Jika tekanan intraokular tetap terkontrol setelah terapi akut glaukoma sudut tertutup, maka kecil kemungkinannya terjadi kerusakan penglihatan progresif. Tetapi bila terlambat ditangani dapat mengakibatkan buta permanen. Simpulan Pada kasus ini penegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang sudah sesuai. Penatalaksaan pada pasien ini juga sudah cukup sesuai dengan kepustakan. Kasus glaukoma akut adalah kegawatdarurtan di bidang mata yang harus ditangani dalam 24-48 jam dengan pengobatan medikamentosa. Apabila medikamentosa tidak berhasil menurunakan TIO maka dilakukan tindakan operatif. Hal ini dikarenakan apabila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan kebutaan. DAFTAR PUSTAKA 1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-6. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2004. 2. Gerhard KL, Oscar, Gabriele, Doris, Peter. Ophtalmology a short textbook. Edisi ke-2. Stuttgart: Thieme; 2007. 3. Eva PR, Emmet T, Cunningham JR. Vaughan & Asbury`s General Ophtalmology. 4. Edisi ke-8. United States of America: Mc Graw Hill; 2011. 5. Pan Y, Varma R. Natural history of glaucoma. Indian J Ophthalmol. 2011;59:19-23. J Medula Unila Volume 4 Nomor 3 Januari 2016 102

6. Pascolini D, Mariotti SP. Global estimates of visual impairment 2010. Br J Ophthalmol. 2011;96:614 8. 7. Quigley HA, Broman AT. The number of people with glaucoma worldwide in 2010 and 2020. Br J Ophthalmol. 2006;90:262 7. 8. American Academy of Ophtalmology. Acute Primary Angle Closure Glaucoma in Basic and Clinical Science Course, section 10. USA: AAP; 2005. 9. Gondowihardjo T, Simanjuntak G, editor. Glaukoma akut dalam panduan manajemen klinis perdami. Jakarta: PP Perdami; 2006. 10. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes Oftalmologi. Edisi ke-9. Jakarta: EMS; 2005. 11. Lang, GK. Glaucoma In Ophthalmology A Pocket Textbook Atlas. Edisi ke-2. Germany: Stuttgart-New York; 2006. 12. Kulkarni KM, Mayer JR, Lorenzana LL, Myers JS, Spaeth GL. Visual field staging systems in glaucoma and the activities of daily living. Am J Ophthalmol. 2012; 154:445 51. 13. Lin JC, Yang MC. Correlation of visual function with health-related quality of life in glaucoma patients. J Eval Clin Pract. 2010;16:134 40. 14. Tochel CM, Morton JS, Jay JL, et al. Relationship between visual field loss and contrast threshold elevation in glaucoma. BMC Ophthalmol. 2005;13:22. 15. Spaeth GL, Lopes JF, Junk AK, Grigorian AP, Henderer J. Systems for staging the amount of optic nerve damage in glaucoma: a critical review and new material. Surv Ophthalmol. 2006;51:293 315. 16. Richman J, Lorenzana LL, Lankaranian D. Importance of visual acuity and contrast sensitivity in patients with glaucoma. Arch Ophthalmol. 2010;128:1576 82. 17. Affandi ES, Pudjiastuti I. Terapi glaukoma primer sudut tertutup akut dengan iridoplasti dan iridotomi laser. Majalah Kedokteran Nusantara. 2006;39(3):135-40. 18. Robert EM, Jess TW. Management of glaucoma: Focus on pharmacological therapy. Drugs Aging. 2005;22:1 21. 19. Aptel F, Cucherat M, Denis P. Efficacy and tolerability of prostaglandin-timolol fixed combinations: a meta-analysis of randomized clinical trials. Eur J Ophthalmol. 2012;22:5 18. 20. Higginbotham EJ. Considerations in glaucoma therapy: fixed combinations versus their component medications. Clin Ophthalmol. 2010;4:1 9. 21. Sambhara D, Aref AA. Glaucoma management: relative value and place in therapy of available drug treatments.ther Adv Chronic Dis. 2014;5:30 43. 22. Dietlein TS, Hermann MM, Jordan JF. The medical and surgical treatment of glaucoma. Dtsch Arztebl Int. 2009;106:597 605. 23. Rubin B, Taglienti A, Rothman RF, Marcus CH, Serle JB. The effect of selective laser trabeculoplasty on intraocular pressure in patients with intravitreal steroid-induced elevated intraocular pressure. J Glaucoma. 2008;17:287 92. 24. Gedde SJ, Schiffman JC, Feuer WJ, Herndon LW, Brandt JD, Budenz DL. Treatment outcomes in the tube versus trabeculectomy study after one year of follow-up. Am J Ophthalmol. 2007;143:9 22. 25. Babighian S, Caretti L, Tavolato M, Cian R, Galan A. Excimer laser trabeculotomy vs 180 degrees selective laser trabeculoplasty in primary openangle glaucoma. A 2-year randomized, controlled trial. Eye Lond. 2010 24:632 638. J Medula Unila Volume 4 Nomor 3 Januari 2016 103