DESAIN DAN IMPLEMENTASI JARINGAN AKSES KABEL TELEPON

dokumen-dokumen yang mirip
DESAIN DAN IMPLEMENTASI JARINGAN AKSES KABEL TELEPON

JARINGAN AKSES TELEPON

BAB II JARINGAN PSTN. yang lebih dikenal dengan jaringan Public Switch Telephone Network (PSTN). Jaringan ini

5

Training Center ISSUED4/17/2004 1

Powered By TeUinSuska2009.Wordpress.com. Upload By - Vj Afive -

Tembaga(Jarlokat) Oleh: Mike Yuliana PENS-ITS

PERTEMUAN 8 (MEDIA TRANSMISI FISIK)

DasarJaringan Komunikasi

DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI KEJURUAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

PERTEMUAN 8 (RUMAH KABEL) POKOK BAHASAN

II. Sekilas Tentang Jaringan Lokal Akses Kawat Tembaga 2.1 Tinjauan Umum Jaringan Local

SENTRAL TELEPON OTOMAT SUDIANG ( MS-8 )

Training Center ISSUED - 4/17/2004 1

BAB II DASAR TEORI A. JARINGAN LOKAL AKSES KABEL TEMBAGA (JARLOKAT) (di sentral) melalui konstruksi kabel primer (terdiri dari manhole dan duct) dan

PENANGANAN GANGGUAN JARINGAN AKSES TEMBAGA STO BOJONG GEDE (Studi Kerja Di Telkom Bojong Gede)

JARINGAN AKSES. Akses Tembaga. Akses Optik. Akses Radio

Faculty of Electrical Engineering BANDUNG, 2015

BAB III DATA DAN HASIL PENGUKURAN

METODE SAMPLING DALAM PENGUKURAN VALIDITAS DATA NUMERIK JARINGAN LOKAL AKSES TEMBAGA (JARLOKAT)

BAB III JARINGAN LOKAL AKSES TEMBAGA (JARLOKAT) PT. TELKOM INDONESIA

Sukiswo Jartel, Sukiswo 1

PENGANTAR TELEKOMUNIKASI

MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK. PSM (PERIPHERAL SWITCHING MODULE) PADA SGD (SENTRAL GERBANG DOMESTIK) ZTE ZXJ10 PT. INDOSAT, Tbk SEMARANG

: Teknik Jaringan Akses JENJANG PENDIDIKAN : Sekolah Menengah Kejuruan

PERANCANGAN JARINGAN AKSES KABEL (DTG3E3)

BAB III TAHAPAN AWAL PERENCANAAN JARINGAN

Arsitektur Jaringan Secara Umum Jaringan Telekomunikasi terdiri dari :

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, memicu

JARINGAN AKSES PSTN (Public Switch Telephone Network) Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP)

TUGAS AKHIR. Disusun oleh : ALVEN DELANO PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MERCU BUANA INDONESIA

BAB III KABEL BAWAH TANAH

PELAYANAN GANGGUAN PADA JARINGAN LOKAL AKSES KAWAT TEMBAGA M

TEKNOLOGI JARINGAN AKSES

FTTX. 1. Latar belakang

KETENTUAN TEKNIS INFRASTRUKTUR BERSAMA TELEKOMUNIKASI

PERBANDINGAN KUALITAS JARINGAN TEKNOLOGI MSAN DAN GPON PADA LAYANAN TRIPLE PLAY DI PT. TELKOM

BAB IV RUMAH KABEL Kapasitas RK ditentukan oleh jumlah pasangan Kabel Primer dan Sekunder maksimum yang dapat diterminasikan di RK tersebut.

BAB II JARINGAN AKSES TEMBAGA DAN SERAT OPTIK

BAB III LANDASAN TEORI

ANALISIS KUALITAS JARINGAN AKSES TEMBAGA TERHADAP LAYANAN SPEEDY STUDI KASUS DI PT.TELKOM,Tbk DIVISI ACCESS SITE OPERATION PURWOKERTO

BAB III PEMBAHASAN. Setelah melakukan penelitian terhadap permasalahan yang ada di PT.

SIMULASI PERANCANGAN JARINGAN FIBER TO THE HOME (FTTH) DI PERUMAHAN LEGOK INDAH MENGGUNAKAN SIMULASI OPTISYSTEM

MODERNISASI JARINGAN AKSES TEMBAGA DENGAN FIBER OPTIK SAMPAI DENGAN KE PELANGGAN. Oleh :

BAB III PEMBAHASAN. Aktifitas Pegawai IT di PT. Telkom Cianjur terbagi dalam beberapa bagian, yaitu:

BAB II VDSL2 DAN ALGORITMA HEURISTIK

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

ANALISIS SOLUSI JARINGAN FTTDP DI LOKASI PERUMAHAN PT. VALE INDONESIA

Dasar Perencanaan PSTN

BAB II DASAR TEORI. Perkembangan teknologi telekomunikasi global akhir-akhir ini

BAB III HASIL PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Teknologi Jarlokaf. DLC (Digital Loop Carrier) PON (Passive Optical Network) AON (Active Optical Network) Point to Point. 1 Digital Loop Carrier (DLC)

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

BAB I RANGKA PEMBAGI UTAMA

TREND JARINGAN. Muhammad Riza Hilmi, ST.

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA TEKNOLOGI MSAN DAN GPON PADA LAYANAN TRIPLE PLAY

BAB III ANALISIS JARINGAN FTTH DENGAN TEKNOLOGI GPON DI CLUSTER TEBET

Modul 2 Peralatan Telepon dan Call Setup

ISDN. (Integrated Service Digital Network) -Overview - Prima K - PENS Jaringan Teleponi 1 1

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALI KOTA BANDUNG,

Gambar 1. Digital loop carrier

Sistem Jaringan Akses Fiber Optik Jaringan Lokal Akses Fiber (JARLOKAF)

RANCANG BANGUN APLIKASI PERHITUNGAN DAN PERENCANAAN JARINGAN DENGAN METODE OPTICAL DRAFTER UNTUK SISTEM KOMUNIKASI SERAT OPTIK BERBASIS ANDROID

BAB IV ANALISA JARINGAN VDSL2 HASIL DESAIN APLIKASI

ANALISA JARINGAN UNTUK LAYANAN BROADBAND BERBASIS TEKNOLOGI GIGABIT PASSIVE OPTICAL NETWORK (GPON) ABSTRAK

media transmisi backbone sebagai bagian dari sistem yang handal.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERANCANGAN JARINGAN AKSES KABEL (DTG3E3)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

1.2. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan kerja praktek di PT Telkom. Keyword / kata kunci : Jarlokat, MDF, ADSL

ANALISIS JARINGAN TELKOM SPEEDY UNTUK KELAYAKAN LAYANAN IPTV. Disusun Oleh : Nama : Ferdinandus Mujur Nrp :

PRODI D3 TEKNIK TELEKOMUNIKAS 2012 YUYUN SITI ROHMAH, ST.,MT

PERANCANGAN DAN ANALISIS JARINGAN FIBER TO THE HOME (FTTH) UNTUK PERUMAHAN PESONA CIWASTRA VILLAGE BANDUNG MENGGUNAKAN SOFTWARE SIMULASI OPTISYSTEM

29

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

TUGAS AKHIR PERHITUNGAN DAN ANALISA. BANDWIDTH VoIP O L E H WISAN JAYA

PERBANDINGAN JARINGAN GIGABYTE PASSIVE OPTICAL NETWORK DAN MULTI SERVICE ACCESS NODE PADA PT. TELKOM

ANALISA SIMULASI RANCANGAN JARINGAN FIBER TO THE HOME (FTTH) DENGAN OPTISYSTEM PADA LINK STO BANJARAN KE GRIYA PRIMA ASRI BANDUNG. Yara romana rachman

Jaringan Lokal Akses

MODUL VII MATA KULIAH : SALURAN TRANSMISI

BAB III METODE PENELITIAN DAN GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

ANALISIS JARAK TERHADAP REDAMAN, SNR (SIGNAL TO NOISE RATIO), DAN KECEPATAN DOWNLOAD PADA JARINGAN ADSL

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

Endi Dwi Kristianto

PERANCANGAN DAN ANALISIS JARINGAN FIBER TO THE HOME (FTTH) DENGAN OPTISYSTEM UNTUK PERUMAHAN PERMATA BUAH BATU I BANDUNG

ANALISIS PENGUJIAN IMPLEMENTASI PERANGKAT FIBER TO THE HOME (FTTH) DENGAN OPTISYTEM PADA LINK STO GEGERKALONG KE PERUMAHAN CIPAKU INDAH

Dokumentasi. Jaringan PT. TELKOM cabang Tondano. Nama Kelompok :

3 BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN. Sistem Intergrator (SI) perangkat akses jaringan telekomunikasi.

BAB IV HASIL DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN. juga memiliki keuntungan keuntungan lain yang mampu meningkatkan efisiensi

Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Telkom BANDUNG, 2012

DASAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

ANALISIS JARAK TERHADAP REDAMAN, SNR (SIGNAL TO NOISE RATIO), DAN KECEPATAN DOWNLOAD PADA JARINGAN ADSL

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi. Saat ini internet tidak hanya digunakan sebagai media bertukar

BAB IV ANALISA JARINGAN AKSES TEMBAGA UNTUK IMPLEMENTASI ADSL DI KANCATEL PAMANUKAN

TUGAS AKHIR ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA TEKNOLOGI MSAN DAN GPON PADA LAYANAN TRIPLE PLAY. Fratika Arie Yolanda NIM :

Transkripsi:

DESAIN DAN IMPLEMENTASI JARINGAN AKSES KABEL TELEPON Suherman 1) 1) Staf Pengajar Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik USU Abstrak Jaringan akses kabel merupakan teknologi lama yang digunakan untuk menghubungkan sentral telepon ke pelanggan. Dalam perkembangannya, teknologi akses serat optik mulai menggantikan. Namun demikian, teknologi akses kabel masih banyak digunakan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia. Teknologi DSL dan jaringan akses untuk layanan multimedia dibangun berdasarkan jaringan kabel, baik sebagai peningkatan kualitas saja, maupun dibangun secara campuran. Beberapa jaringan akses juga menggunakan teknik desain yang relatif sama. Artikel ini membahas teknik perencanaan jaringan kabel dari peramalan permintaan, rancangan dasar, sampai implementasi (rancangan rinci). Kata kunci: Jaringan, Akses, Telepon, Kabel Abstract Cable network is an anchient technology that connect public telephone network to its subcribers. Optical network then will replace it. Even it s a conventional technology without any significant techniques, cable networks are still the primary subscriber networks in many developing countries. DSL technology for TV cable or Internet access, and optical network for multimedia services are developed based on the cable network, on it, mixed, or using the same technique.this article describes design technique to develop a cable network, including demand forecasting, basic design, and detil design. This article also give a basic knowledge to design the other access network technology. Keywords: Networks, Access, Telephone, Cable 1. Pendahuluan Jaringan akses adalah jaringan yang menghubungkan sentral telepon dengan pesawat telepon pelanggan. Jaringan akses secara umum terdiri atas: jaringan akses kabel, jaringan akses radio, jaringan akses optik, serta jaringan akses campuran (hibrid). Jaringan akses kabel merupakan jaringan akses tertua sejalan dengan lahirnya teknologi telepon itu sendiri. Jaringan akses kabel (jarkab) pada dasarnya terdiri dari sepasang kabel tembaga terpilin yang ditarik dari sentral sampai ke pesawat telepon pelanggan melalui beberapa titik persambungan. Titik persambungan tersebut antara lain MDF (Main Distribution Frame), RK (Rumah Kabel), DP (Distribution Point), KTB (Kotak Terminal Bagi) dan rowset. Tempat penyambungan opsional lain adalah titik persambungan kabel serta manhole/handhole. Gambar 1 menunjukkan gambar jaringan kabel sederhana. Instalasi jaringan kabel luar dari MDF sampai DP, sedangkan instalasi jaringan kabel pelanggan (Instalasi Kabel Rumah/Gedung [IKR/G]) dari KTB hingga pesawat telepon. 2. Elemen Jaringan Kabel 2.1 Main Distribution Frame (MDF) MDF (Main Distribution Frame) atau Rangka Pembagi Utama (RPU) adalah tempat terminasi antara kabel telepon ke sentral dan kabel telepon ke pelanggan (kabel primer). Komponen utama adalah LSA kapasitas 10 pair. Dalam beberapa aplikasi, MDF dibagi atas 2 blok, yaitu CDF dan MDF. CDF terminasi kabel dari sentral, sedangkan MDF terminasi kabel primer. CDF dan MDF dihubungkan dengan menggunakan kabel jumper. Jurnal Teknik Elektro ENSIKOM Vol. 3, No. 2 DESEMBER 2005 (50 56) 50

Gambar 1. Konfigurasi jaringan kabel Jumpering MDF-CDF dimaksudkan agar memudahkan memindahkan sambungan telepon pelanggan ke nomor tertentu sentral telepon. Juga memudahkan dalam proses instalasi, perawatan dan perbaikan. Gambar 2. Konstruksi dan sambungan MDF-CDF 2.2 Kabel Primer Kabel primer ditempatkan dan didistribusikan dari MDF di dalam gedung sentral ke arah Rumah Kabel (RK). Penempatan kabel melalui tanam langsung atau duct, dan menggunakan titik penarikan manhole atau handhole. Terdapat juga daerah yang dicatu secara langsung (DCL), di mana penarikan kabel langsung dari MDF ke DP. Kabel primer diaplikasikan dengan cara tanam langsung atau menggunakan pipa dan dicor beton (kabel duct). Kapasitas kabel primer terdiri dari 100 pair sampai 2400 pair. Gambar 3. Konstruksi Rumah Kabel (RK) 2.3 Rumah Kabel Rumah kabel atau cross connect cabinet menjadikan distribusi kabel primer fleksibel dan berfungsi menghubungkan jaringan kabel primer dengan jaringan kabel sekunder. Rumah kabel ditempatkan pada tempat yang mudah diakses, seperti di pinggir jalan. Kapasitas penyambungan kabel sampai 2400 pair. Gambar 3 menunjukkan bentuk fisik RK. 51 Desain dan Implementasi Jaringan Akses Kabel Telepon (Suherman)

2.4 Daerah Catuan Langsung Daerah Catuan Langsung (DCL) adalah daerah layanan di mana kabel dari MDF langsung dicatukan ke DP. Daerah ini adalah wilayah pelanggan yang terletak di sekitar sentral, sehingga instalasi kabel relatif sederhana, tanpa melalui rumah kabel. 2.5 Kabel Sekunder Kabel sekunder ditempatkan dan didistribusikan dari Rumah Kabel (RK) ke arah Distribution Point (DP). Pendistribusiannya melalui sistem kabel udara dan sistem kabel bawah tanah. Distribusi sekunder kabel udara menggunakan tiang. Kapasitas kabel sekunder terdiri dari 10 pair sampai 200 pair. 2.6 Distribution Point (DP) Distribution point digunakan untuk menghubungkan kabel sekunder ke kabel dropwire ke rumah pelanggan, yang nantinya diteruskan ke pesawat telepon. DP diletakkan di atas tiang maupun di dinding. Gambar 4 menunjukkan instalasi DP pada tiang. Komponen penyambungan saat ini banyak yang menggunakan LSA. meramalkan kebutuhan yang akan datang. Peramalan kebutuhan (demand forecasting) ini menentukan kapasitas jaringan untuk beberapa waktu mendatang. Perencanaan dapat dilakukan untuk 5, 10, 15, atau 20 tahun mendatang, namun implementasinya tetap memperhitungkan biaya. Jika implementasi dilakukan untuk kebutuhan sampai beberapa tahun mendatang, maka biaya investasi akan menjadi besar. Sedangkan jika implementasi jaringan hanya berdasarkan kebutuhan sesaat, maka akan terjadi pembangunan kembali jika kapasitas jaringan tidak mencukupi. Selain perencanaan kapasitas berdasarkan peramalan kebutuhan, standardisasi komponen dan instalasinya juga dilakukan. Hal ini penting agar implementasi berdasarkan pada standar yang telah dikaji sebelumnya. Untuk merealisasikan perencanaan dan implementasi jaringan kabel, dilakukan langkahlangkah sebagai berikut: - Peramalan kebutuhan (demand forecasting) berdasarkan data-data historis kebutuhan telepon dan jumlah pelanggan (peramalan kebutuhan makro), serta peramalan yang didasarkan survei langsung ke lapangan (peramalan kebutuhan mikro). - Perencanaan dasar (basic design) komponen dan instalasi jaringan kabel. - Perencanaan detil (detail design) untuk panduan implementasi jaringan. 4. Pembahasan 4.1 Peramalan Kebutuhan Makro Peramalan kebutuhan makro didasarkan pada data jumlah kebutuhan jaringan yaitu satuan sambungan telepon per 100 penduduk (SST/100jiwa) serta data perkembangan jumlah penduduk. Dari kedua data tersebut akan diperoleh pola atau trend perkembangan tertentu. Pola atau trend ini dianalisa dengan metode analisa statistik, salah satunya metode trend. Gambar 4. Konstruksi Distribution Point (DP) 2.7 Instalasi Kabel Rumah/Gedung (IKR/G) Instalasi kabel rumah/gedung adalah tatacara pemasangan jaringan telepon di dalam rumah atau gedung. Titik hubungannya dimulai dari Kotak Titik Bagi (KTB) sampai ke pesawat telepon. Untuk instalasi rumah dengan 1 pesawat telepon relatif mudah, sedangkan instalasi gedung (bertingkat) dengan banyak pesawat telepon relatif sulit serta menggunakan kabinet/panel sambungan pembantu. 3. Metodologi Untuk dapat merencanakan dan mengimplementasikan jaringan kabel harus dipertimbangkan aspek historis kebutuhan untuk Tabel 1. Data penduduk dan kepadatan telepon (Suherman, 2000) Tahun Jumlah Penduduk (jiwa) Kepadatan Telepon (SST/100jiwa) 1991 1174 0.8184 1992 1332 1.0586 1993 1592 2.1027 1994 1895 3.3493 1995 2375 4.0796 1996 2411 5.5291 1997 2698 5.7335 1998 3335 7.9996 1999 3813 8.857 2000 4437 9.9817 Jurnal Teknik Elektro ENSIKOM Vol. 3, No. 2 DESEMBER 2005 (50 56) 52

Gambar 5. Grafik peramalan demand makro dengan metode trend Beberapa metode analisa statistik trend yang umum digunakan antara lain trend linier, least square, quadratis, exponensial, logistic, dan trend gompertz. Masing-masing trend memiliki karakteristik yang berbeda. Sebagai contoh, untuk data pada Tabel 1 (Andre Poupart, 1997), setelah dilakukan analisis statistik trend, akan diperoleh persamaan untuk masing-masing trend. Grafik karakteristik dari masing-masing persamaan trend diperoleh seperti pada Gambar 5 (Suherman, 2000). Dari masing-masing persamaan trend yang terbentuk, dilakukan uji korelasi untuk menentukan trend terbaik. Uji korelasi dilakukan dengan membandingkan data sebenarnya dengan data perhitungan setiap trend. Uji yang dilakukan menggunakan persamaan korelasi (Andre Poupart, 1997): ( ((( Yi Yi' )( Yi' Yi")) r =...(1) 2 2 { Yi Yi' ) ( Yi' Yi") } Yi Yi Yi r : Data ke-i : Data peramalan ke-i : Rata (Yi+Yi )/2 : Koefisien korelasi Parameter r masing-masing trend diuji, nilai terdekat r = 1 adalah trend yang dipilih. Dari analisis trend tabel di atas, untuk peramalan jumlah penduduk diperoleh trend eksponensial dengan persamaan: Ui '= 2298,3065.(1,0758...(2) Y ) sedangkan untuk peramalan kepadatan telepon diperoleh trend quadratis dengan persamaan: 2 = 4,6745+ 0,5307Ui 0,0084. Ui...(3) Yi + Di mana Ui adalah parameter peramalan tahun ke-i (nilai i dimulai i =1 pada tahun 1991). Jika perencanaan dilakukan untuk jangka waktu 5 tahun (tahun 2004, i = 15), akan diperoleh jumlah penduduk 9.205 jiwa dan kepadatan telepon 17,78 SST/100jiwa. Sehingga jumlah kebutuhan jaringan telepon pada tahun 2004 adalah 1.637 SST. Nilai ini adalah hasil akhir peramalan kebutuhan makro. 4.2 Peramalan Kebutuhan Mikro Peramalan kebutuhan mikro didasarkan pada data survei di lapangan. Data-data tersebut antara lain, tipe dan jumlah bangunan, pelanggan lama (existing subcriber), pelanggan yang terdaftar namun belum dilayani (waiting list), dan penduduk yang belum meminta tetapi berpotensi menjadi pelanggan (suppressed demand). Karena kemampuan penduduk dapat didekati dengan melihat kondisi fisik bangunan, maka tingkat kebutuhan juga didasarkan oleh tipe bangunan. Tipe bangunan didasarkan pada konstruksi dan fungsi bangunan, sebagai contoh, untuk rumah tinggal diklasifikasikan atas R1, R2, dan R3. Perkantoran, sekolah, sarana umum, sampai lapangan kosong memiliki klasifikasi tersendiri. Untuk masing-masing tipe bangunan, diperhitungkan Faktor Penetrasi (FP), yaitu faktor yang menunjukkan tingkat kebutuhan telepon. Misal, untuk FP = 1 berarti dibutuhkan 1 SST. Faktor penetrasi dihitung berdasarkan rumus (Andre Poupart, 1997): Exist. subc. + Wait. list + Suppr. demand FP( t 0) =...(4) = Jumlahbangunan 53 Desain dan Implementasi Jaringan Akses Kabel Telepon (Suherman)

Untuk data 5 tahun ke depan, faktor penetrasi juga harus diramalkan. Peramalan dapat dilakukan dengan mengacu pada laju pertumbuhan penduduk atau kebutuhan telepon. Untuk trend quadratis dan eksponensial diperoleh persamaan: FP ) t ( t) = FP( t = 0) (1+ r...(5) Di mana t adalah periode peramalan dan r tingkat pendapatan PDRB. Nilai FP (t) dihitung untuk masing-masing tipe bangunan. Jumlah total SST yang dibutuhkan adalah total hasil kali FP (t) dengan jumlah bangunan. Hasil total ini adalah hasil akhir peramalan kebutuhan mikro. 4.3 Hasil Akhir Peramalan Untuk mendapatkan hasil akhir peramalan kebutuhan adalah dengan membandingkan persentase perbedaan peramalan kebutuhan makro dan mikro. Asumsi persentase yang dapat diterima adalah bergantung kebijaksanaan pemilik jaringan. Namun umumnya jika persentase perbedaan di bawah 15%, maka hasil peramalan dapat digunakan. Jika lebih besar, maka harus dilakukan pengkajian ulang. Setelah diambil keputusan, maka hasil akhir peramalan adalah angka FP (t) untuk masing-masing tipe bangunan. Angka ini selanjutnya akan digunakan dalam rancangan detail. 4.4 Perancangan Dasar Perancangan dasar meliputi penetapan standar komponen jaringan, identifikasi, instalasi, standar batas layanan, analisis transmisi, dan analisis ekonomi. Standar komponen, standar batas layanan, identifikasi, dan analisis transmisi bergantung pada vendor produk jaringan yang digunakan, namun demikian, satu sama lain memiliki prinsip yang sama. Sedangkan analisis ekonomi meliputi analisa pengadaan jaringan, baik material maupun jasa. Salah satu rancangan dasar yang dibahas adalah identifikasi jaringan. Berikut ini identifikasi jaringan dari MDF sampai DP. 1. MDF (Main Distribution Frame) Penomoran : - 2. Kabel Primer Penomoran, contoh : KV 200 / 0,6 1000m P1 (1 1000) KV : Kabel duct, KT = Kabel Tanah 200 : 200 pair 0,6 : Diameter inti kawat 0,6 mm 1000 m : Panjang kabel P1 : Kabel primer pertama ke luar dari MDF 1 1000: urutan pair dalam kabel 3. Rumah Kabel Penomoran : RB 2400 1000 / 1200 RB : Nama sentral, contoh sentral rumbai. 2400 : Tipe box RK, ada 1200, 2400, dll. 1000/2000 : Kabel yang diterminasi. Kabel primer maks. 1.000 pair, kabel sekunder maks. 1.200 pair. 4. Kabel Sekunder Penomoran : KT 40/ 0,6 100m S1(1 100) KT : Kabel tanah, KU = Kabel Udara 40 : Kapasitas 40 pair 0,6 : Diameter inti kawat 0,6 mm S1 : Kabel sekunder pertama ke luar dari RK 1 100 : Urutan pair dalam kabel 5. Distribution Point DP Tiang DP Dinding Penomoran : RB110" S1(91 100) RB 1 : DP ke-1 dari rumah kabel RB 10 : Kapasitas 10 pair S2 : Diambil dari kabel sekunder S1 91 100 : Nomor urut pair yang berada di DP 6. Kabel Cadangan Penomoran : CAD 10" S1(91 100) CAD : Cadangan 10 : Kapasitas 10 pair S2 : Diambil dari kabel sekunder S1 91 100 : Nomor urut pair yang berada di DP Contoh penamaan jaringan ditunjukkan pada Gambar 6. Jurnal Teknik Elektro ENSIKOM Vol. 3, No. 2 DESEMBER 2005 (50 56) 54

Gambar 6. Contoh penamaan jaringan kabel Tabel 2. Contoh klasifikasi rumah Jenis Luas Bangunan Fasilitas Bahan Bangunan Keterangan R1 > 120m 2 Garasi Semen (Permanen) Perumahan>2200W R2 55-120m 2 Dengan/tanpa garasi Semen/kayu permanen Perumahan 900-2200W R3 <55m 2, <T40m 2 Tanpa garasi Semen/kayu (semi permanen) BTN dan Perumnas A Tidak jelas Tanpa garasi Tanpa semen Daerah kumuh. Non PLN OH >3000m 2 Tempat parkir Permanen Perkantoran O1 500 3000m 2 Tempat parkir Permanen Perkantoran O2 (15x16) m 2 Tanpa garasi/kompleks Permanen Perkantoran (900-2200W) S1 500 3000 m 2 Tempat parkir Permanen Perkantoran>2200W 4.4 Perancangan Detail Perancangan detail merupakan implementasi rancangan dasar ke pekerjaan lapangan. Rancangan detail meliputi penentuan letak perangkat jaringan (DP dan RK), batas layanan, penentuan jalur kabel sekunder dan primer, penentuan dan perhitungan pekerjaan sipil, implementasi dan pengawasan, serta pelaporan. Penentuan letak perangkat didasarkan nilai Faktor Penetrasi (FP) setiap bangunan yang diperoleh dari hasil peramalan kebutuhan (demand forecasting) serta kapasitas perangkat (komponen jaringan). Tabel 2 (Telkom, 1997) menunjukkan beberapa tipe rumah, terdiri dari R1, R2, R3, A, OH, O1, O2, S1, S2, S3, I1, I2, HTL1, HTL2, SU1, SU2, RS1, RS2, AP, LU, PSC, TH dan TI. Proses penentuan batas dan peletakan DP diilustrasikan seperti pada Gambar 7a dan 7b. Sebagai contoh, jika faktor penetrasi yang diperoleh dari peramalan demand adalah R1=1,2, R2=0,8, R3=0,5, A=0,1, S1=2,5, S2=1,5. Kebijaksanaan vendor jaringan menggunakan DP berkapasitas 10 nomor pelanggan yang dialokasikan 8 nomor digunakan, dan 2 nomor sebagai cadangan. Pada Gambar 7b, DP1 diletakkan di pinggir jalan dengan melingkupi 2 rumah tipe S1, 1 S2, dan 1 R1 sehingga total nilai FP 7,7 (berarti jumlah potensi pelanggan hampir 8). Meskipun cakupan DP1 meliputi 4 rumah, namun berdasarkan nilai FP, hampir 8 nomor yang dibutuhkan dengan cadangan 2 saluran, maka DP1 yang berkapasitas 10 pelanggan dianggap memenuhi kebutuhan. Proses yang sama dilakukan untuk DP lainnya. Tanah kosong juga dapat dipertimbangkan dengan mencari informasi rencana pembangunan saat melakukan survei lapangan. DP diletakkan di pinggir jalan untuk mempermudah penarikan kabel sekunder. 55 Desain dan Implementasi Jaringan Akses Kabel Telepon (Suherman)

Gambar 7. Contoh penerapan batasan DP Setelah dilakukan penentuan letak dan batasan masing-masing DP, maka ditentukan peletakan RK. Peletakan RK ditentukan berdasarkan kemudahan penarikan kabel dari DP ke RK. Kemudian ditentukan batas cakupan RK. Sebagai contoh, untuk RK berkapasitas 400 kabel sekunder dapat mencakup 40 unit DP kapasitas 10 pelanggan. Dari masing-masing DP kemudian ditarik kabel sekunder ke arah RK. Agar diperoleh efektivitas penarikan kabel, dilakukan kombinasi sambungan kabel 10 pair ke kapasitas yang lebih besar, misalnya 40, 60, 80, 100 pair, dan 200 pair. Selain itu dapat dilakukan kabel cadangan untuk daerah-daerah yang berpotensi di kemudian hari. 5. Kesimpulan Konfigurasi jaringan kabel digunakan sebagai dasar untuk memahami penerapan teknologi jaringan akses. Konfigurasi dimulai dari MDF sampai DP, namun dalam perencanaannya harus dimulai dari daerah cakupan DP. Penilaian kapasitas pelanggan, yakni angka penetrasi, diperoleh dari perpaduan peramalan permintaan (demand forecasting) makro dan mikro. Metode peramalan yang tepat dan metode implementasi yang akurat memaksimalkan dan mengefektifkan implementasi dan biaya. Tingginya teknologi akan sia-sia jika dalam implementasinya tidak sesuai kebutuhan. Oleh karenanya implementasi jaringan memiliki bidang tersendiri untuk dikaji. Daftar Pustaka Andre Poupart, Agus Wibowo, 1997, Access Network Design, Presentation and Colaboration, PIN. Consultative Committee International for Telephony and Telegraph, 1983, General Network Planning, Genewa. Divlat PT.Telkom, 1997, Network Planning, Bandung. Suherman, 2000, Perencanaan Jaringan Lokal Akses Serat Optik Berbasis Teknologi Passive Optical Network, Tugas Akhir Teknik Elektro FT. USU, Medan. Jurnal Teknik Elektro ENSIKOM Vol. 3, No. 2 DESEMBER 2005 (50 56) 56