INFEKSI PARASITER (JAMUR)

dokumen-dokumen yang mirip
INFEKSI PARASITER (CACING)

TUBERKULOMA MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

MORBUS HANSEN MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

INFEKSI KOMENSAL/ PENURUNAN IMUNITAS

MODUL PERDARAHAN INTRAKRANIAL SPONTAN

MODUL NYERI 1. Definisi

MODUL ENTRAPMENT SYNDROME

SPONDILITIS TUBERKULOSA

MODUL FISTULA ARTERI-VENA (AV FISTULA)

1. Definisi Kanal stenosis adalah suatu kondisi medis di mana kanal tulang belakang menyempit dan menekan medulla spinalis.

ABSES SEREBRI MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

MODUL SPONDILOLISTESIS

DEGENERASI DISKUS INTERVERTEBRAL SERVIKAL

MODUL ANEURISMA SEREBRI

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA KRANIAL (SIMPEL)

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA SPINAL

MODUL KAROTIS-KAVERNOSUS FISTULA

MODUL SCHWANNOMA SARAF TEPI 1. DEFINISI

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS.

MODUL DEFORMITAS ATLANTO-OKSIPITAL

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS.

SPINAL DISRAFISME MODUL. 1. Definisi

MENINGOKEL POSTERIOR MODUL. 1. Definisi

MODUL OSTEOMA 1. DEFINISI

GLIOMA SPINAL MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

DANDY WALKER MALFORMATION

SINDROM ARNOLD CHIARI/ SIRINGOMIELIA

KISTA ARACHNOID MODUL. 1. Definisi

MODUL SPASTISITAS/RIGIDITAS 1. Definisi

MIKROSEFALI MODUL. 1. Definisi

GRANULOMA EOSINOFILIK

MODUL PLASMASITOMA 1. DEFINISI 2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

MODUL TUMOR METASTATIK

MODUL KRANIOFARINGIOMA 1. DEFINISI

HIDROSEFALUS KOMPLEKS

MODUL SUBDURAL HEMATOMA AKUT

MODUL SUBDURAL HEMATOMA KRONIK

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM KEPROFESIAN ( Beban dihitung berdasarkan Kompetensi )

MODUL EPIDURAL HEMATOMA

MODUL INTRACEREBRAL HEMATOMA

MODUL TRAUMA TEMBUS. 1. Definisi Trauma tembus kranium adalah lesi di mana proyektil benda asing menembus tulang tengkorak dan tidak keluar lagi.

(Cryptococcus neoformans)

MODUL ADENOMA HIPOFISIS 1. Definisi

MODUL BOCORAN LIQUOR

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

MODUL MENINGIOMA SUPRATENTORIAL

TERAPI INHALASI MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI. : Prosedur Tidakan pada Kelainan Paru. I. Waktu. Mengembangkan kompetensi.

Modul 34 EKSISI LUAS TUMOR DINDING ABDOMEN PADA TUMOR DESMOID & DINDING ABDOMEN YANG LAIN (No. ICOPIM: 5-542)

Modul 4 SIRKUMSISI PADA PHIMOSIS (No. ICOPIM: 5-640)

Meningitis: Diagnosis dan Penatalaksanaannya

MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI BATUK DARAH. Oleh

Modul 20 RESEKSI/ EKSISI ANEURISMA PERIFER (No. ICOPIM: 5-382)

Modul 26 DETORSI TESTIS DAN ORCHIDOPEXI (No. ICOPIM: 5-634)

( No. ICOPIM : )

Lama pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf adalah 11 Semester. Dipandang dari sudut hukum, dikenal istilah Pengayaan, Magang dan Mandiri.

Modul 11 BEDAH TKV FIKSASI INTERNAL IGA ( KLIPING KOSTA ) (ICOPIM 5-790, 792)

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-467)

CLINICAL PATHWAY APENDISITIS AKUT

Modul 36. ( No. ICOPIM 5-545)

Modul 26 PENUTUPAN STOMA (TUTUP KOLOSTOMI / ILEOSTOMI) ( No. ICOPIM 5-465)

Modul 16 EKSISI TELEANGIEKTASIS (ICOPIM 5-387)

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI

REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH. Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang

Modul 18 Bedah TKV EKSISI HEMANGIOMA (ICOPIM 5-884)

(No. ICOPIM: 5-491, 5-884)

OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT

Sem 9 G M Q 79.3 K6 K6 K6 K6 P5.A3 P5.A3 P5.A3 P5.A5 P5.A5 P5.A Sem 3. Sem 5. Sem 4

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN 2014 SILABUS

Modul 23 ORCHIDOPEXI/ORCHIDOTOMI PADA UNDESCENSUS TESTIS (UDT) (No. ICOPIM: 5-624, 5-620)

Penemuan PasienTB. EPPIT 11 Departemen Mikrobiologi FK USU

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PELAYANAN BEDAH DAN ANESTESI (PAB)

PANDUAN PENUNDAAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PUPUK KALTIM BONTANG

BAB II PELAYANAN BEDAH OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

Modul 3. (No. ICOPIM: 5-530)

BAB I PENDAHULUAN. Meningitis adalah kumpulan gejala demam, sakit kepala dan meningismus akibat

PANDUAN TEKNIS PESERTA DIDIK KEDOKTERAN DALAM PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

Modul 1 EKSISI TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER (ICOPIM )

Hepatitis: suatu gambaran umum Hepatitis

PELAYANAN BEDAH DAN ANESTESI

BAB I PENDAHULUAN. Spondylitis tuberculosis atau yang juga dikenal sebagai Pott s disease

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. berbagai lapisan masyarakat dan ke berbagai bagian dunia. Di Indonesia,

e) Faal hati f) Faal ginjal g) Biopsi endometrium/

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PRIMA HUSADA NOMOR : 224/RSPH/I-PER/DIR/VI/2017 TENTANG PEDOMAN REKAM MEDIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Rakor Bidang Keperawatan, PP dan PA. Kirana, 9 Agustus 2016

Sosialisasi Kaidah Koding sesuai Permenkes 76 tahun RIRIS DIAN HARDIANI Tim Teknis Ina CBG Kementerian Kesehatan

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

MANAJEMEN KEJANG PASCA TRAUMA

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

PEDOMAN PENGORGANISASIAN UNIT RAWAT JALAN RUMAH SAKIT ELIZABETH

REPAIR PERFORASI SEDERHANA (No. ICOPIM: 5-467)

Transkripsi:

MODUL INFEKSI PARASITER (JAMUR) 1. Definisi Infeksi jamur adalah infeksi yang terjadi setelah terjadi invasi jamur (spora) pada tubuh manusia termasuk diantaranya adalah susunan saraf pusat dan menimbulkan reaksi secara lokal maupun sistemik. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS Program Magister Neurologi Tesis Program Profesi Bedah Saraf Pogram Bedah Dasar Program Bedah Saraf PROGRAM Dasar KEPROFESIAN (beban dihitung berdasarkan kompetensi) GOLONGAN PENYAKIT & LOKALISASI KONGENITAL ICD 10 - Bab XVII INFEKSI ICD 10 - Bab I Kranial Spinal Kranium NEOPLASMA ICD 10 - Bab II Supratentorial Infratentorial Spinal Saraf Tepi TRAUMA ICD 10 - Bab XIX DEGENERASI ICD 10 - Bab VI & XIII VASKULER ICD 10 - Bab IX FUNGSIONAL ICD 10 - Bab VI & XXI Kranial Spinal Saraf Tepi Spinal Saraf Tepi Intrakranial Spinal 1

Pendidikan spesialisasi bedah saraf terdiri dari 3 tahap, yaitu : 1. Tahap Pengayaan (tahap I): a. Lama pendidikan 5 semester, yaitu mulai pada semester pertama sampai dengan semester kelima, peserta didik diberi ilmu-ilmu dasar maupun bedah saraf dasar. Dalam tahap ini dapat dipergunakan untuk mengambil program magister. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen I, yaitu di ahir masa pendidikan tahap I residen baru mencapai Kompetensi tingkat I. Residen sudah harus mengenal infeksi jamur susunan saraf pusat. 2. Tahap Magang (tahap II) : a. Lama pendidikan 4 semester, yaitu dari semester keenam sampai dengan semester kesembilan. Peserta didik mulai dilatih melakukan tindakan bedah saraf. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen II, yaitu di ahir masa pendidikan tahap II residen telah mencapai Kompetensi tingkat II. Residen sudah harus mampu menangani 1 (satu) kasus operatif infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 3. Tahap Mandiri (tahap III) : a. Lama pendidikan 2 semester, yaitu dari semester kesepuluh dan semester kesebelas. Peserta didik menyelesaikan pendidikan sampai kompetensi bedah saraf dasar. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen III, yaitu di ahir masa pendidikan tahap III residen telah mencapai kompetensi tingkat III. Residen sudah harus mampu menangani 1 (satu) kasus operatif infeksi jamur pada susunan saraf pusat secara mandiri. Kompetensi bedah saraf dasar : 1. Semua jenis penyakit yang diajarkan dalam masa pendidikan sampai mencapai tingkat mandiri (residen boleh mengerjakan operasi sendiri, dengan tetap dalam pengawasan konsulen) 2. Tehnik operasi yang diajarkan sebagai target ahir pendidikan adalah terbatas pada tindakan operasi konvensional yang termasuk dalam Indeks Kesulitan 1 dan 2; tehnik operasi sulit yang membutuhkan kemampuan motoris lebih tinggi dan/ataupun membutuhkan alat-alat operasi canggih, termasuk dalam Indeks Kesulitan 3 dan 4, diajarkan hanya maksimal sampai tingkat magang. Tindakan operasi dalam kelompok ini merupakan kelanjutan pendidikan yang masuk dalam CPD. JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHA P I Infeksi... TAHAP II TAHAP III 1 2 3 4 S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 G M G M G P Abses Serebri G 06.0 3 3 Tuberkuloma G 07 3 3 Inf Komensal / Penurunan Imunitas 2 1 Kelainan Parasiter... Cacing B 65-B 83 1 1 Jamur B 35- B 49 1 1 2

JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHA P I TAHAP II TAHAP III 1 2 3 4 Spondilitis Tbc A 23 3 1 Morbus Hansen A 30.9 1 1 KETERANGAN Tingkat Pengayaan, dalam periode ini Tingkat Kognitif harus dapat mencapai 6 (K6) Tingkap Magang, dalam periode ini disamping K6, Psikhomotor harus mencapai 2 (P2) dan Afektif mencapai 3 (A3) Tingkat Mandiri semua Kategori Bloom harus mencapai maksimal, K6, P5, A5 S : Semester G : Magang M : Mandiri K : Kognitif : A : Afektif P : Psikhomotor 3. Tujuan Umum Setelah menyelesaikan sub-modul infeksi jamur pada susunan saraf pusat, peserta didik diharapkan mampu mengenali, mengobati, serta mampu mengatasi kegawatan akut dari infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 4. Tujuan Khusus 1. Mampu menerangkan insidensi, patogenesis, dan mikrobiologi dari infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 2. Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. 3. Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi, patologi dan mikrobiologi) dalam menegakkan diagnosa infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 4. Mengetahui pengobatan pada berbagai jenis infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 5. Mampu menentukan perubahan neurofisiologi yang diakibatkan oleh infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 6. Mampu menentukan lokasi infeksi jamur 7. Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosa infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 8. Mampu menegakkan diagnosa banding dari infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 9. Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan diagnosa infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 10. Mampu melakukan pengobatan medikamentosa pada infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 11. Mampu melakukan tindakan operasi pada infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 12. Mampu melakukan tindakan pertolongan pertama kasus infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 13. Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 14. Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 15. Mampu memberi informed consent 3

5. Strategi Pembelajaran a Pengajaran dan kuliah pengantar 50 menit b b Tinjauan pustaka Presentasi ilmu dasar Presentasi kasus Diskusi kelompok 1x telaah kepustakaan 1x d Bedside teaching 6x ronde e Bimbingan operasi Operasi magang Operasi mandiri Diskusi menyangkut diagnosis, operasi dan penyulit Minimal 3 kasus untuk selanjutnya instruksi/evaluasi post operasi Minimal 3 kasus sebelum dapat maju ke ujian kompetensi akhir tingkat nasional 6. Persiapan Sesi 1. Materi kuliah pengantar berupa kisi-kisi materi yang harus dipelajari dalam mencapai kompetensi, mencakup: a. Insidensi, patogenesis, dan mikrobiologi infeksi jamur pada susunan saraf pusat. b. Neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi, patologi dan mikrobiologi) dalam menegakkan diagnosa infeksi jamur susunan saraf pusat. d. Pengobatan berbagai jenis infeksi jamur pada susunan saraf pusat. e. Perubahan neurofisiologi yang diakibatkan oleh infeksi jamur pada susunan saraf pusat. f. Lokasi infeksi jamur pada susunan saraf pusat. g. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosa infeksi jamur pada susunan saraf pusat. h. Diagnosa banding penyakit infeksi jamur pada susunan saraf pusat. i. Pemeriksaan tambahan (neu roradiologi) dalam menegakkan diagnosa infeksi jamur pada susunan saraf pusat. j. Pengobatan medikamentosa infeksi jamur pada susunan saraf pusat. k. Tindakan operasi pada infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 4

l. Tindakan pertolongan pertama pada infeksi jamur pada susunan saraf pusat. m. Penyulit tindakan bedah pada kasus infeksi jamur pada susunan saraf pusat. n. Tindak lanjut yang diperlukan o. informed consent 2. Audio visual 3. Lampu baca x ray 7. Referensi 1. Osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 2. Wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 3. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 4. Winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 8. Kompetensi a. b. c. d. e. Jenis Kompetensi Mampu menerangkan patologi dan patogenesis kelainan parasiter pada sistem saraf pusat Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan diagnosis Mengetahui pengobatan kelainan parasiter pada sistem saraf pusat Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologi untuk menegakkan diagnosis kelainan parasiter pada sistem saraf pusat Mampu melakukan pemeriksaan tambahan dalam menegakkan diagnosa kelainan parasiter pada sistem saraf pusat Tingkat Kompetensi TAHAP K P A 6 6 6 P E N G A Y A A N 6 6 2 2 3 3 M A G A N G f. Mampu melakukan pengobatan medikamentosa 6 2 3 g. Mampu melakukan tindakan operasi kasus kelainan 6 5 5 M 5

h. parasiter pada sistem saraf pusat Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus kelainan parasiter sistem saraf pusat 6 5 5 i. Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 6 5 5 j. Mampu memberi informed consent 6 5 5 A N D I R I 9. Gambaran Umum Jamur yang dapat menginfeksi sistem saraf pusat dibagi menjadi dua, yaitu jamur patogen dan jamur oportunistik. Keluhan yang ada diakibatkan oleh lesi desk ruang atau peningkatan tekanan intrakranial oleh abses yang disebabkan oleh jamur tersebut. Klasifikasi jamur penyebab infeksi pada sistem saraf pusat 1. Jamur patogen, yaitu jamur yang dapat menginfeksi sesorang yang tidak mengalami penurunan imunitas : Coccidioides immitis Histoplasma capsulatum Sporothrix schenckii Paracoccidioides brasiliensis Blatomyces dermatitidis Cryptococcus neoformans 2. Jamur oportunisik, yaitu jamur yang hanya menginfeksi seseorang dengan penurunan imunitas: Candida albicans Aspergillus spp Mucor spp 10. Contoh Kasus Contoh kasus dibuat sesuai dengan jenis penyakit pada submodul. 11. Tujuan Pembelajaran Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan mengobati infeksi jamur pada susunan saraf pusat. 12. Metoda Metoda Pembelajaran 1. Tinjauan Pustaka 2. Diskusi Kelompok 6

3. Bed side teaching 4. Tindakan Operasi Mandiri a. Peserta didik harus terlebih dahulu melakukan asistensi operasi (magang) sampai mencapai jumlah yang ditentukan, dan kemudian melakukan instruksi pada spesialis pembimbing. Setelah dinyatakan lulus instruksi, baru diijinkan melakukan operasi mandiri. b. Operasi mandiri oleh asisten harus selalu ada spesialis supervisor yang akan menilai keseluruhan aspek yang harus dilakukan oleh asisten terhadap pasien secara mandiri. c. Residen yang memiliki level tertinggi dalam suatu operasi harus membuat laporan operasi dengan berpedoman pada daftar tilik, selanjutnya konsulen/supervisor operasi ini akan memeriksa laporan operasi sesuai daftar tilik dan memberi nilai berdasarkan kelengkapan yang ditetapkan daam daftar tilik. Metoda Diagnostik 1. Pemeriksaan klinis neurologik 2. Alat bantu diagnostik a. Pemeriksaan X ray, b. EMG / EEG c. Alat neuroradiologi lain. 3. Metoda diagnostik yang diajarkan mencakup metode diagnostik konvensional sesuai ketersediaannya di daerah perifer, tidak sematamata berorientasi pada alat-alat dianostik canggih. 13. Rangkuman Infeksi jamur adalah infeksi setelah inflantasi jamur (spora) pada tubuh dan menimbulkan reaksi secara lokal maupun sistemik. Jamur yang dapat menginfeksi sistem saraf pusat dibagi menjadi dua, yaitu jamur patogen dan jamur oportunistik. Keluhan yang ada diakibatkan oleh lesi desk ruang atau peningkatan tekanan intrakranial oleh abses timbul. Klasifikasi jamur penyebab infeksi pada sistem saraf pusat 1. Jamur patogen, yaitu jamur yang dapat menginfeksi sesorang yang tidak mengalami penurunan imunitas: Coccidioides immitis, Histoplasma capsulatum, Sporothrix schenckii, Paracoccidioides brasiliensis, Blatomyces dermatitidis dan Cryptococcus neoformans. 2. Jamur oportunisik, yaitu jamur yang hanya menginfeksi seseorang dengan penurunan imunitas: Candida albicans, Aspergillus spp dan Mucor spp. 14. Evaluasi Organisasi Evaluasi 1. Evaluasi dilaksanakan di IPDS Bedah Saraf 7

2. Evaluasi dilakukan minimal oleh Pembimbing di IPDS Bedah Saraf 3. Evaluasi untuk peserta PPDS Bedah Saraf dilakukan sbb a. Untuk penguasaan ilmu dasar (pengayaan) dilakukan pada a khir setiap semester b. Kemampuan menegakkan diagnosa c. Untuk penguasaan kasus dan teknis operasi dilakukan pada setiap akan dilakukan tindakan / operasi. 4. Untuk dokter spesialis bedah lain yang akan mengambil modul-modul bedah saraf tertentu untuk kepentingan penigkatan kompetensi dalam program CPD, waktu disesuaikan pada kodisi yang ada dari modul ini, dengan evaluasi dan tahap penguasaan materi yang dievaluasi sama ketentuan yang berlaku. Tahap Evaluasi 1. Evaluasi tahap pengayaan dilakukan setelah peseta didik menyelesaikan aspek kognitif di tahap pengayaan. 2. Evaluasi tahap magang dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi Sebagai Asisten I sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul 3. Evaluasi tahap mandiri dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi mandiri sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul Metode dan Materi Evaluasi 1. Ujian Tulis dan Lisan 2. Kemampuan menegakkan diagnosa di poliklinik, IGD, maupun ruang rawat 3. Penilaian kemampuan melakukan tindakan 4. Penilaian kemampuan penanganan penderita secara menyeluruh Hasil Penilaian IPDS 1. Penyelesaian modul harus dapat dicapai dalam kurun waktu yang telah ditetapkan 2. Kegagalan dalam 1 aspek harus diulang dalam masa selama stase di Bagian/Departemen Badah Saraf. 15. Instrumen Penilaian Instrumen penilaian dari setiap kegiatan berupa evaluasi yang dilakukan pada setiap tahap pendidikan, intrumen yang dipakai adalah : 1 Kemampuan Inform Concent Instruksi & Bimbingan 2 Penilaian Ilmiah a. Teori & Penyakit Diskusi dan Ujian 8

b. Instrument & Penyakit Diskusi dan Ujian 3 Penilaian Kecakapan Poliklinik, Bedside teaching & kamar Operasi 4 Penilaian Rehabilitasi 16. Penuntun Belajar 1. Kisi-kisi materi dan buku referensi 2. Kisi-kisi materi infeksi jamur: a. Insidensi, patogenesis, dan mikrobiologi infeksi jamur pada susunan saraf pusat. b. Neuroanatomi, dan neurofisiologisusunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi, patologi dan mikrobiologi dalam menegakkan diagnosa infeksi jamur pada susunan saraf pusat. d. Perubahan neurofisiologi karena infeksi jamur pada susunan saraf pusat. e. Lokasi infeksi jamur pada susunan saraf pusat. f. Pengobatan berbagai jenis infeksi jamur pada susunan saraf pusat. g. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosa infeksi jamur pada susunan saraf pusat. h. Diagnosa banding infeksi jamur pada susunan saraf pusat. i. Pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakka n diagnosa infeksi jamur pada infeksi susunan saraf pusat. j. Pengobatan medikamentosa pada infeksi jamur pada infeksi susunan saraf pusat. k. Tindakan operasi pada penyakit infeksi jamur pada susunan saraf pusat. l. Tindakan pertolongan pertama pada kegawatan infeksi jamur pada susunan saraf pusat. m. Penyulit tindakan bedah pada infeksi jamur pada susunan saraf pusat. n. Tindak lanjut yang diperlukan. o. Informed consent. 17. Daftar Tilik RINCIAN DAFTAR TIL Menentukan indikasi bedah saraf (poliklinik) 1 Uraian tentang keluhan / gejala utama 2 Cara datang (sendiri / rujukan) ADA TA TL L 9

3 Kelengkapan riwayat penyakit Alasan pertama kali (bila pernah berobat) dan sekarang membawa ke dokter Pengobatan dan tindakan yang pernah diberikan(tempat, waktu, oleh, siapa), serta hasilnya 4 Deskripsi keadaan kulit Daerah yang akan dioperasi Bekas luka operasi (bila pernah operasi)dan lokalisasi 5 Deskripsi kelainan saraf yang dijumpai 6 Pemeriksaan penunjang X-ray, CT Scan, MRI Laboratorium darah Hasil pemeriksaan likuor 7 Hasil konsultasi persiapan operasi 8 Catatan status gizi 9 Obat-obatan yang masih diberikan 10 Inform consent Kelainan yang dijumpai Apa yang dilakukan, lama perawatan, biaya yang dibutuhkan Peraturan rumah sakit untuk pasien maupun keluarga / penunggu Prognose penyakit dan apa yang perlu dilakukan setelah pulang 11 Surat pengantar rawat inap 12 Lampiran daftar tilik 13 Instruksi untuk perawat 14 Nama konsulen dan asisten Admission 1 Kelengkapan administrasi 2 Kelengkapan dokumen sesuai daftar tilik poliklinik Status poliklinik Hasil pemeriksaan neuroradiology Hasil pemeriksaan laboratorium Hasil konsultasi persiapan operasi 10

3 Buat status Medical Record 4 Cek ulang hasil pemeriksaan di poliklinik Deskripsi keadaan kulit Hasil pemeriksaan klinis neurologis Status gizi 5 Buat rencana perawatan Instruksi perawatan dan pengobatan Persiapan operasi 1 Assesment rencana tindakan, operator dan asisten 2 Persiapan alat 3 Konsul toleransi operasi 4 Buat daftar operasi Pra Bedah 1 Konsul anestesi 2 Asisten lapor pada operator 3 Persiapan menjelang operasi Pasang infuse Cukur rambut kepala Cuci daerah yang akan dioperasi dengan sabun Puasa Klisma menjelang ke kamar operasi Cek kelengkapan status Cek dokumen pendukung Sediakan alat Kamar operasi 1 Dokumen yang disertakan bersama pasien 2 Keadaan pasien Cukur gundul Terpasang infuse 3 Persiapan pasien 4 Dilakukan narkose umum 5 Dipasang kateter 6 Posisi pasien diatur sesuai standar 7 Dipasang blanket pemanas 11

8 Persiapan daerah operasi Tindakan operasi Pasca Bedah 1 Dokumentasi Cuci ulang dengan sabun Dibuat marking Tindakan a/antiseptic Dilakukan infiltrasi kulit kepala dengan NaCi steril Dilakukan penyuntikan anestesi lokal Status dan hasil pemeriksaan penunjang dari OK diterima lengkap Laporan operasi Laporan anestesi 2 Catatan perawatan Pemulangan Pemantauan luka operasi Pemantauan efek samping Pemantauan KU rutin Catatan pengobatan 1 Catatan keadaan pasien 2 Inform consent pada yang merawat 3 Jadwal kontrol dan konsultasi 4 Kelengkapan status dan diagnosa 5 Catatan administrasi & keuangan 18. Materi Baku Materi baku infeksi jamur disusun berdasarkan tujuan pendidikan. Secara rinci disusun pada tujuan khusus. Materi dirinci menjadi berbagai jenis penyakit pada submodul yang disesuaikan dengan kompetensi mandri yang harus dicapai ( matriks hijau ). Sebagai gambaran umum berbagai penyakit yang harus dikuasai adalah sebagai berikut : Infeksi Parasit (Jamur) Pada Susunan Saraf Pusat Definisi 12

Infeksi jamur adalah infeksi yang terjadi setelah terjadi inflantasi jamur (spora) pada tubuh manusia termasuk diantaranya adalah susunan saraf pusat dan menimbulkan reaksi secara lokal maupun sistemik. Epidemiologi Jamur jamur patogen yang opertunistik seperti aspergillus dan candida dapat mengancam jiwa pasien immunocopmpromised termasuk neonatus, pasien psot operasi, dan pasien dengan keganasan, transplantasi organ atau acquired immunodeficiency (AIDS). Etiologi Klasifikasi jamur penyebab infeksi pada sistem saraf pusat, antara lain: 1. Jamur patogen, yaitu jamur yang dapat menginfeksi sesorang yang tidak mengalami penurunan imunitas : Coccidioides immitis Histoplasma capsulatum Sporothrix schenckii Paracoccidioides brasiliensis Blatomyces dermatitidis Cryptococcus neoformans 2. Jamur oportunisik, yaitu jamur yang hanya menginfeksi seseorang dengan penurunan imunitas: Candida albicans Aspergillus spp Mucor spp Manifestasi Klinis Gejala klinis infeksi jamur pada susunan saraf pusat tidak spesifik seperti akibat infeksi bakteri. Pasien paling sering mengalami gejala sindroma meningitis atau sebagai meningitis yang tidak ada perbaikan atau semakin progresif selama observasi (paling kurang empat minggu). Manifestasi klinis lainnya berupa kombinasi beberapa gejala seperti demam, nyeri kepala, letargi, confise, mual, muntah, kaku kuduk atau defisit neurologik. Sering kali hanya satu atau dua gejala utama yang dapat ditemukan pada gejala awal. Waktu terjadinya penyakit sangat vital dan penting dalam mempertimbangkan diagnosis meningitis jamur. Beberapa kasus sebagai meningitis akut,kebanyakan subakut dan beberapa kronis. Gambaran klinis selain meningitis yang sering ditemukan yaitu gambaran ensefalitis. Pemeriksaan Penunjang Diagnosis infeksi jamur pada susunan saraf pusat seringkali sukar. Selain gejala klinis, sangat penting dilakukan pemeriksaan radiologis paru-paru dan organ lainnya, skin test,antibodi serum dan pemeriksaan cairan serebrospinal. Isolasi kuman dari lesi dan cairan serebrospinal merupakan pembantu diag- 13

nostik yang penting. Pada meningitis, perlu dilakukan pemeriksaan CT scan dan MRI. Diagnosis spesifik dapat dibuat dari hapusan cairan serebrospinal dan dari kultur dan juga dengan menemukan antigen spesifik dengan immunodifusion latex particle aggregation atau perbandingan antigen recognition test. Pemeriksaan cairan serebrospinal harus termasuk pemeriksaan tubercle basilli dan leukosit abnormal oleh karena banyak terjadi infeksi bersama jamur dengan tuberkulosa dan leukemia atau limfoma. Tatalaksana Terapi dengan amphotericin B memperlihatkan hasil yang baik. Amphotericin B diberikan tiap hari intravena dengan dosis 0,5 mg/kg,diberikan enam sampai sepuluh minggu, tergantung dari perbaikan klinis dan kembalinya cairan serebrospinal kearah normal. 19. Algoritme 20. Kepustakan 1. Osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 2. Wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 14

3. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 4. Winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 21. Presentasi Materi presentasi menggunakan materi dalam bentuk power point sesuai dengan materi modul infeksi parasit (jamur). 22. Model Model pembelajaran dapat menggunakan diseksi kadaver. 15