MODUL TUMOR METASTATIK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MODUL TUMOR METASTATIK"

Transkripsi

1 MODUL TUMOR METASTAT 1. DEFINISI Tumor adalah penyebaran tumor dari organ lain di luar susunan saraf pusat. Tumor di otak dikenal juga dengan secondary brain tumor. 2. WAKTU PENDIDAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS Program Magister Neurologi Tesis Program Profesi Bedah Saraf Pogram Bedah Dasar Program Bedah Saraf PROGRAM Dasar KEPROFESIAN (beban dihitung berdasarkan kompetensi) GOLONGAN PENYAKIT & LOKALISASI KONGENITAL ICD 10 - Bab XVII INFEKSI ICD 10 - Bab I Kranial Spinal Kranium NEOPLASMA ICD 10 - Bab II Supratentorial Infratentorial Spinal Saraf Tepi TRAUMA ICD 10 - Bab XIX DEGENERASI ICD 10 - Bab VI & XIII VASKULER ICD 10 - Bab IX FUNGSIONAL ICD 10 - Bab VI & XXI Kranial Spinal Saraf Tepi Spinal Saraf Tepi Intrakranial Spinal Pendidikan spesialisasi bedah saraf terdiri dari 3 tahap, yaitu : 1. Tahap Pengayaan (tahap I): 1

2 a. Lama pendidikan 5 semester yaitu semester 1 sampai semester 5, peserta didik diberi ilmu-ilmu dasar maupun bedah saraf dasar. Dalam tahap ini dapat dipergunakan untuk mengambil program magister. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen I, yaitu di akhir masa pendidikan tahap I residen baru mencapai Kompetensi tingkat I. Residen sudah harus mengenal kelainan bedah saraf, khususnya semua jenis neoplasma dan 10 jenis kasus penyakit terbanyak. 2. Tahap Magang (tahap II) : a. Lama pendidikan 3 semester, yaitu dari semester 6 s/d 8. Peserta didik mulai dilatih melakukan tindakan bedah saraf. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen II, yaitu di akhir masa pendidikan tahap II residen telah mencapai Kompetensi tingkat II. Residen sudah harus mampu menangani secara mandiri kasus-kasus tumor, minimal 2 kasus. 3. Tahap Mandiri (tahap III) : a. Lama pendidikan 3 semester, yaitu dari semester 9 s/d 11. Peserta didik menyelesaikan pendidikan sampai kompetensi bedah saraf dasar. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen III, yaitu di akhir masa pendidikan tahap III residen telah mencapai kompetensi tingkat III. Residen sudah harus mampu menangani kasus tumor, minimal 2 kasus. Kompetensi bedah saraf dasar : 1. Semua jenis penyakit yang diajarkan dalam masa pendidikan sampai mencapai tingkat mandiri (residen boleh mengerjakan operasi sendiri, dengan tetap dalam pengawasan konsulen) 2. Tehnik operasi yang diajarkan sebagai target ahir pendidikan adalah terbatas pada tindakan operasi konvensional yang termasuk dalam Indeks Kesulitan 1 dan 2; tehnik operasi sulit yang membutuhkan kemampuan motoris lebih tinggi dan/ataupun membutuhkan alat-alat operasi canggih, termasuk dalam Indeks Kesulitan 3 dan 4, diajarkan hanya maksimal sampai tingkat magang. Tindakan operasi dalam kelompok ini merupakan kelanjutan pendidikan yang masuk dalam CPD. JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 G M G M G P NEOPLASMA Kranium Granuloma eosinofilik D Plasmositoma C 90.2 Osteoma D 16 Fibrous dysplasia M 85.0 Hamartoma Q 85.9 Tumor C Neurofibrosarkoma /osteosarkoma C41.0 Supratentorial Glioma C 71.9 Glioma simpel 3 3 Glioma kompleks 3 3 Ependimoma M

3 JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHAP I TAHAP II TAHAP III Pleksus papiloma C Meningioma (simpel) C Meningioma (kompleks) 3 Pituitary adenoma /t. sella (simpel) D 26.7 Pituitary adenoma/t. sella (kompleks) 2 Kraniofaringioma D Pinealoma /t. korpus pineal C 75.3, D Tumor (simpel) C Tumor (kompleks) C Angioma (simpel) D Angioma (kompleks) D Infratentorial Glioma Simpel C Kompleks C Acoustic neuroma D Meningioma (simpel) C Meningioma (kompleks) C 70 2 Medulloblastoma C Kolesteatoma H 71 1 Ependimoma M 9392, C Pleksus papiloma C Angioma (simpel) D Angioma (kompleks) D Tumor Spinal... Glioma D Meningioma D Ependimoma D Schwannoma D Angioma D Tumor Saraf Tepi... Schwannoma D KETERANGAN Tingkat Pengayaan. Dalam periode ini, tingkat kognisi harus dapat mencapai 6 (K6) Tingkap Magang. Dalam periode ini, di samping K6, Psikomotor harus mencapai 2 (P2) dan Afektif mencapai 3 (A3) Tingkat Mandiri. Semua Kategori Bloom harus mencapai maksimal, K6, P5, A5 S : Semester G : Magang M : Mandiri K : Kognitif : A : Afektif P : Psikomotor TUJUAN UMUM Setelah menyelesaikan modul tumor peserta didik diharapkan mampu mengenali tumor, mampu mengobati tumor yang diajarkan sampai level mandiri serta mampu mengatasi kegawatan akut tumor. 4. Tujuan Khusus 1. Mampu menerangkan insidens, patogenesis, dan sitogenesis tumor 2. Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. 3. Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dan patologi anatomi dalam menegakkan tumor 3

4 4. Mampu menentukan perubahan neurofisiologi karena tumor 5. Mampu menentukan lokasi tumor 6. Mengetahui pengobatan berbagai jenis tumor 7. Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis tumor 8. Mampu mengetahui diagnosis banding tumor 9. Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan tumor 10.Mampu melakukan pengobatan medikamentosa tumor 11.Mampu melakukan tindakan operasi tumor 12.Mampu mengatasi tindakan pertolongan pertama pada tumor 13.Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus tumor 14.Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 15.Mampu memberi informed consent 5. STRATEGI PEMBELAJARAN a Pengajaran dan Kuliah Pengantar Kuliah tatap muka, 50 menit b b Tinjauan Pustaka Presentasi ilmu dasar: 1 kali tiap submodul penyakit Presentasi kasus: 1 kali tiap jenis submodul penyakit Diskusi Kelompok Telaah kepustakaan, 1 kali Presentasi kasus, 1 kali d e 2 x 50 menit diskusi kasus tiap submodul penyakit menyangkut diagnosis, operasi dan penyulit Bed-side Teaching Bed-side teaching minimum 3 kali setiap submodul penyakit Bimbingan Operasi Operasi magang Diskusi kasus, 2 x 50 menit Ronde diikuti bed-side teaching memenuhi sejumlah kasus tumor, minimal 2 kasus sebagai prasyarat untuk instruksi/evaluasi operasi sampai dinyatakan lulus Operasi mandiri melakukan operasi mandiri sejumlah minimal 2 kasus tumor sebagai prasyarat untuk maju ke ujian kompetensi tingkat nasional 6. PERSIAPAN SESI 1. Materi kuliah pengantar berupa kisi-kisi materi yang harus dipelajari dalam mencapai kompetensi, mencakup a. Insidens, patogenesis, dan sitogenesis tumor b. Neuroanatomi, dan neurofisiologisusunan saraf dan pembungkusnya. 4

5 c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi)dan patologi anatomi dalam menegakkan tumor d. Pengobatan berbagai jenis tumor e. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis tumor f. Diagnosis banding tumor g. pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan tumor h. Pengobatan medikamentosa tumor i. Tindakan operasi tumor j. Penyulit tindakan bedah pada kasus tumor k. Kegawatdaruratan tumor l. Tindak lanjut yang diperlukan m. Informed consent 2. Audio visual 3. Lampu baca X-ray 7. REFERENSI a.osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed b.wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed c. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby d.winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders KOMPETENSI a. b c JENIS KOMPETENSI Mampu menerangkan insidens, patogenesis, dan sitogenesis tumor Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dan patologi anatomi dalam menegakkan tumor d Mengetahui pengobatan berbagai jenis tumor 6 Tingkat Kompetensi K P A TAHAP 6 P E N 6 G A Y 6 A A N e Mampu menentukan perubahan neurofisiologi karena tumor M f Mampu menentukan lokasi tumor A G Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan g A diagnosis tumor N h Mampu mengetahui diagnosis banding tumor G i j Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (ne uroradiologi) dalam menegakkan tumor Mampu melakukan pengobatan medikamentosa terhadap tumor M A N D 5

6 k Mampu melakukan tindakan operasi tumor I R Mampu mengatasi tindakan pertolongan pertama pada tumor l I m Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus tumor n Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan o Mampu memberi informed consent GAMBARAN UMUM Metastasis tumor ke intracranial hampir sebanyak tumor primer di otak. Tumor ini paling banyak berasal dari tumor paru, sekitar 43-60% memiliki kelainan pada chest x-ray. Tumor dapat mengalami ke intrakranial melalui CSF atau hematogen. Gejala klinis berupa nyeri kepala, defisit fokal (kelem ahan atau disfasia), dan gangguan fungsi luhur. Gejalanya merupakan cerminan dari hipertensi intrakranial atau disfungsi neurologis tergantung pada lokasi dari lesi. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium, imajing, dan radionuklir. 10. CONTOH KASUS 11. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan neoplasma susunan saraf, khususnya tumor. 12. METODE Metode Pembelajaran 1. Tinjauan Pustaka 2. Diskusi Kelompok 3. Bedside teaching 4. Tindakan Operasi Mandiri a. Peserta didik harus erlebih dahulu melakukan asistensi operasi (magang) sampai mencapai jumlah yang ditentukan, dan kemudian melakukan instruksi pada spesialis pembimbing. Setelah dinyatakan lulus instruksi, baru diijinkan melakukan operasi mandiri. b. Operasi mandiri oleh asisten harus selalu ada spesialis supervisor yang akan menilai keseluruhan aspek yang harus dilakukan oleh asisten terhadap pasien secara mandiri. c. Residen yang memiliki level tertinggi dalam suatu operasi harus membuat laporan operasi dengan berpedoman pada daftar tilik, selanjutnya konsulen/supervisor operasi ini akan memeriksa laporan operasi sesuai daftar tilik dan memberi nilai berdasarkan kelengkapan yang ditetapkan daam daftar tilik. Metode Diagnostik 1. Pemeriksaan klinis neurologik 6

7 2. Alat bantu diagnostik a. Pemeriksaan X ray, b. EMG / EEG c. Alat neuroradiologi lain : CT Scan, MRI, MRS, Angiografi 3. Metode diagnostik yang diajarkan mencakup metode diagnostik konvensional sesuai ketersediaannya di daerah perifer, tidak semata-mata berorientasi pada alat-alat dianostik canggih. 13. RANGKUMAN Tumor adalah penyebaran tumor dari organ lain di luar susunan saraf pusat. Tumor di otak dikenal juga dengan secondary brain tumor. Metastasis tumor ke intrakranial hampir sebanyak tumor primer di otak. Tumor ini paling banyak berasal dari tumor paru, sekitar 43-60% memiliki kelainan pada chest x- ray. Tumor dapat mengalami ke intracranial melalui CSF atau hematogen. Gejala klinis berupa nyeri kepala, defisit fokal (kelem ahan atau dysfasia), dan gangguan fungsi luhur. Gejalanya merupakan cerminan dari hipertensi intrakranial atau disfungsi neurologis tergantung pada lokasi dari lesi.diagnosis dapat ditegakan berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium, imajing, dan radionuklir Tujuan pendidikan neoplasma adalah mampu mengenali neoplasma susunan saraf pusat, mampu mengobati neoplasma saraf pusat yang diajarkan sampai level mandiri serta mampu mengatasi kegawatan akut neoplasma susunan saraf, dengan tujuan pembelajaran berupa proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan neoplasma susunan saraf, khususnya penyakit yang dicantumkan pada tahap mandiri (lihat submodul). Metode Pembelajaran 1. Tinjauan Pustaka 2. Diskusi Kelompok 3. Bed side teaching 4. Tindakan Operasi Mandiri a. Peserta didik harus erlebih dahulu melakukan asistensi operasi (magang) sampai mencapai jumlah yang ditentukan, dan kemudian melakukan instruksi pada spesialis pembimbing. Setelah dinyatakan lulus instruksi, baru diijinkan melakukan operasi mandiri. b. Operasi mandiri oleh asisten harus selalu ada spesialis supervisor yang akan menilai keseluruhan aspek yang harus dilakukan oleh asisten terhadap pasien secara mandiri. c. Residen yang memiliki level tertinggi dalam suatu operasi harus membuat laporan operasi dengan berpedoman pada daftar tilik, selanjutnya konsulen/supervisor operasi ini akan memeriksa laporan operasi sesuai daftar tilik dan memberi nilai berdasarkan kelengkapan yang ditetapkan daam daftar tilik. Metode Diagnostik 1. Pemeriksaan klinis neurologik 2. Alat bantu diagnostik a. Pemeriksaan X ray, b. EMG / EEG 7

8 c. Alat neuroradiologi : CT Scan, MRI, MRS, dan Angiografi 3. Metode diagnostik yang diajarkan mencakup metode diagnostik konvensional sesuai ketersediaannya di daerah perifer, tidak semata-mata berorientasi pada alat-alat dianostik canggih. 14. EVALUASI Organisasi Evaluasi 1. Evaluasi dilaksanakan di IPDS Bedah Saraf 2. Evaluasi dilakukan minimal oleh Pembimbing di IPDS Bedah Saraf 3. Evaluasi untuk peserta PPDS Bedah Saraf dilakukan sbb a. Untuk penguasaan ilmu dasar (pengayaan) dilakukan pada akhir setiap semester b. Kemampuan menegakkan diagnosis c. Untuk penguasaan kasus dan teknis operasi dilakukan pada setiap akan dilakukan tindakan / operasi. 4. Untuk dokter spesialis bedah lain yang akan mengambil modul-modul bedah saraf tertentu untuk kepentingan penigkatan kompetensi dalam program CPD, waktu disesuaikan pada kodisi yang ada dari modul ini, dengan evaluasi dan tahap penguasaan materi yang dievaluasi sama ketentuan yang berlaku. Tahap Evaluasi 5. Evaluasi tahap pengayaan dilakukan setelah peseta didik menyelesaikan aspek kognitif di tahap pengayaan. 6. Evaluasi tahap magang dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi Sebagai Asisten I sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul 7. Evaluasi tahap mandiri dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi mandiri sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul Metode dan Materi Evaluasi 1. Ujian Tulis dan Lisan 2. Kemampuan menegakkan diagnosis di poliklinik maupun ruang rawat 3. Penilaian kemampuan melakukan tindakan 4. Penilaian kemampuan penanganan penderita secara menyeluruh Hasil Penilaian IPDS 1. Penyelesaian modul harus dapat dicapai dalam kurun waktu yang telah ditetapkan 2. Penilaian disesuaikan dengan kompetensi akhir yang harus dicapai pada setiap sum modul (pengayaan, magang, mandiri) 3. Kegagalan dalam 1 aspek harus diulang dalam masa selama stase di Bagian/Departemen Bedah Saraf. 15. INSTRUMEN PENILAIAN 1 Kemampuan informed consent Instruksi & Bimbingan 2 Penilaian Ilmiah a. Teori & Penyakit Diskusi dan Ujian 8

9 b. Instrument & Penyakit Diskusi dan Ujian 3 Penilaian Kecakapan Poliklinik, Bedside teaching & Kamar Operasi 4 Penilaian Rehabilitasi Instruksi & Bimbingan 16. PENUNTUN BELAJAR 1. Kisi-kisi materi dan buku referensi 2. Kisi-kisi materi Neoplasma susunan saraf : a. Insidens, patogenesis, dan sitogenesis tumor b. Neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi)dan patologi anatomi dalam menegakkan tumor d. Pengobatan berbagai jenis tumor e. Perubahan neurofisiologi karena tumor f. Lokasi tumor g. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis tumor h. Diagnosis banding tumor i. Pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan tumor j. Pengobatan medikamentosa tumor k. Tindakan operasi tumor l. Penyulit tindakan bedah pada kasus tumor m. Tindak lanjut yang diperlukan n. Informed consent 17. DAFTAR TIL RINCIAN DAFTAR TIL Menentukan indikasi bedah saraf 1 Uraian atau keluhan tentang gejala utama 2 Cara datang (sendiri/rujukan) Kelengkapan riwayat penyakit 1 2 Alasan pertama kali (bila pernah berobat) dan sekarang membawa ke dokter Edit Pengobatan dan tindakan yang pernah diberikan(tempat, waktu, oleh, siapa), serta hasilnya Deskripsi keadaan kulit 1 Bekas luka operasi (bila pernah operasi) dan lokalisasi 2 Daerah yang akan dioperasi Deskripsi kelainan saraf yang dijumpai Pemeriksaan penunjang 1 X-Ray, CT scan, MRI ADA TA TL L 9

10 2 Laboratorium darah Hasil konsultasi persiapan operasi Catatan status gizi Obat-obatan yang masih diberikan Informed consent 1 Kelainan yang dijumpai 2 Apa yang dilakukan, lama perawatan, biaya yang dibutuhkan 3 4 Peraturan rumah sakit untuk pasien maupun keluarga/penunggu Prognosis penyakit dan apa yang perlu dilakukan setelah pulang Surat pengantar rawat inap 1 Lampiran daftar tilik 2 Instruksi untuk perawat 3 Nama konsulen dan asisten Admission 1 Kelengkapan administrasi 2 Kelengkapan dokumen sesuai daftar tilik poliklinik * Status poliklinik * Hasil pemeriksaan neuroradiologi * Hasil pemeriksaan laboratorium * Hasil konsultasi persiapan operasi Buat status rekam medis Cek ulang hasil pemeriksaan di poliklinik 1 Riwayat penyakit 2 Deskripsi keadaan kulit 3 Hasil pemeriksaan klinis neurologis 4 Status gizi Buat rencana perawatan 1 Instruksi perawatan dan pengobatan Persiapan Operasi 1 Assesment rencana tindakan, operator dan asisten 2 Persiapan alat 3 Konsul toleransi operasi 4 Buat daftar operasi Pra bedah 1 Konsul anestesi 2 Asisten lapor pada operator 10

11 3 Persiapan menjelang operasi * Pasang infuse * Cukur gundul * Cuci daerah yang akan dioperasi dengan sabun * Puasa * Klisma menjelang ke kamar operasi * Cek kelengkapan status * Cek dokumen pendukung * Sediakan alat Kamar operasi 1 Dokumen yang disertakan bersama pasien 2 Keadaan pasien * Terpasang infuse * Cukur gundul 3 Persiapan pasien 4 Dilakukan narkose umum 5 Dipasang kateter 6 Posisi pasien diatur sesuai standard 7 Persiapan daerah operasi * Cuci ulang dengan sabun * Dibuat marking * Dilakukan tindakan a dan antiseptik * Dilakukan penyuntikan anestesi lokal 8 Dipasang plat diatermi 9 Persiapan alat Tindakan operasi 1 Memasang Head Frame Dan Navigasi Intra Operatif 2 Insisi kulit kepala 3 Kraniotomi dan drilling tulang 4 Gantung duramater 5 Membuka Duramater 6 Identifikasi tumor 7 Removal Tumor secara makroskopis dan mikroskopis 8 Ambil spesimen tumor untuk pemeriksaan histopatologis 9 Hemostasis 10 Tutup Dura, duraraph, duraplasy 11 Pasang drain bila perlu 11

12 12 Fiksasi tulang 13 Jahit otot, Fasia dan kulit 14 Dressing luka 12 Jumlah perdarahan tercatat 13 Jumlah urin tercatat 14 Jumlah kassa yang dipakai tercatat 15 Jumlah dan jenis instrumen sesuai prosedur Pasca Bedah 1 Dokumentasi * Status dan hasil pemeriksaan penunjang dari OK diterima lengkap * Laporan operasi * Laporan Anestesi 2 Catatan perawatan Pemulangan * Pemantauan luka operasi * Pemantauan efek samping * Pemantauan KU rutin * Catatan pengobatan 1 Catatan keadaan pasien 2 Inform concernt pada yang merawat 3 Jadwal kontrol dan konsultasi 4 Kelengkapan status dan diagnosis 5 Catatan administrasi & keuangan 18. MATERI BAKU Definisi Metastatik intrakranial bisa berupa deposit tumor di kompartemen ekstra-aksial, termasuk kranium, duramater atau ruang subarakhnoid, tetapi lebih sering ke kompartemen intra-aksial, berupa metastatis intraparenkim otak. Single brain metastatis merujuk pada lesi serebral tunggal yang berasal dari luar sistim saraf pusat; metastatis solid ke otak digambarkan oleh lesi tunggal tanpa tanda acuan pada status sistemik. Terminologi single brain metastatis diaplikasikan pada pasien dengan satu pada otak tapi dibuat tanpa kesimpulan tentang ada atau tidaknya kanker di tempat lain di tubuh. Terminologi solitary brain metastatis relatif jarang dijumpai daripada metastatis otak tunggal adalah hanya diketahui kanker pada tubuh. Timbulnya ke otak sering dihubungkan dengan prognosa yang buruk. 12

13 Multiple brain metastatis mengandung arti terdapatnya lebih dari satu ke otak, tanpa mengacu kepada ada tidaknya penyakit ekstra-kranial. Patofisiologi Tipe penyebaran ke otak hampir selalu secara hematogenik melalui sirkulasi arteri; meski penyebaran melalui vena spinal epidural pleksus Batson s juga mungkin terjadi. Metastatis sendiri dapat berasal dari emboli tumor yang menghasilkan kaskade dari di tempat lain. Proses mempunyai selektifitas yang tinggi untuk subpopulasi sebelumnya dari sel yang memiliki prasyarat biologi untuk interaksi yang menguntungkan dengan lingkungan mikro inang dan mekanisme homeostatik yang membiarkan sel-sel tumor berkumpul dari induk tumor dan migrasi ke ketempat yang jauh dimana mereka dapat berkembang dalam bentuk kehidupan yang baru. Saat yang penting dalam pembentukan lesi adalah adesi sel tumor kepada matrix lokal extraselular, daya penggerak sel dan proteolisis, yang membolehkan invasi ke limfatik, vena dan kapiler diikuti oleh emboli hematogen pada tempat yang jauh, dimana sel tumor berinteraksi dengan komponen-komponen darah seperti platelet untuk bertahan pada lingkungan inangnya. Jika lingkungan inang yang baru (soil) kunduktif untuk berproliferasi dari sel-sel, kemudian akan terjadi. Gejala Klinis Paling sedikit dua pertiga dari pasien dengan cerebral mengalami gejala neurologis. Tiga gejala yang paling sering yaitu nyeri kepala, difisit fokal (spt. Kelemahan atau dysfasia), dan gangguan fungsi luhur. Gejalannya merupakan cerminan dari hipertensi intrakranial atau disfungsi neurologis tergantung pada lokasi dari lesi. Contohnya pasien dengan perubahan perilaku dengan lesi di frontal. Seringkali gejala muncul subakut dan progresif dengan gejala beberapa hari sampai beberapa minggu. Kejang umum dan kejang parsial lebih sering terjadi pada lesi multipel Diagnosis Diagnosis tumor ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain CT Scan dan MRI dengan atau tanpa kontras. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan sitologi analisis likuor dan pemeriksaan lain untuk mengetahui asal tumor primer tersebut. Tatalaksana Secara umum, tatalaksana tumor dapat dilakukan sebagai berikut. a.tumor soliter tanpa diketahui tumor primer, dapat dilakukan tindakan operatif b.tatalaksana operatif jika bertujuan untuk mempertahankan fungsi beberapa struktur c. Radioterapi, untuk lesi multiple tumor d. Kemoterapi, untuk metastasis tumor golongan limfoma 13

14 19. ALGORITME 20. KEPUSTAKAAN a.osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed b.wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed c. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby d.winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders PRESENTASI Materi presentasi menggunakan materi dalam bentuk Power Point sesuai dengan materi modul tumor. 22. Model Model pembelajaran dapat menggunakan diseksi kadaver. 14

15 15

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial MODUL HAMARTOMA 1. DEFINISI Hamartoma adalah nodul yang menyerupai tumor, terdiri atas jaringan dan sel matur yang tumbuh berlebihan, mengalami disorganisasi dan biasanya ada satu elemen yang dominan.

Lebih terperinci

MODUL SCHWANNOMA SARAF TEPI 1. DEFINISI

MODUL SCHWANNOMA SARAF TEPI 1. DEFINISI MODUL SCHWANNOMA SARAF TEPI 1. DEFINISI Schwannoma adalah tumor yang berasal dari lapisan pembungkus sel saraf (neuron). Schwannoma tumbuh lambat dan dapat tumbuh di sepanjang saraf tepi. 2. WAKTU PENDIDAN

Lebih terperinci

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial

2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11. Supratentorial MODUL MEDULOBLASTOMA 1. DEFINISI Medulloblastoma adalah tumor primer intrakranial yang berasal dari serebelum atau fossa posterior. Tumor ini adalah salah satu tumor ganas intrakranial. 2. WAKTU PENDIDAN

Lebih terperinci

MODUL PERDARAHAN INTRAKRANIAL SPONTAN

MODUL PERDARAHAN INTRAKRANIAL SPONTAN MODUL PERDARAHAN INTRAKRANIAL SPONTAN 1. Definisi Perdarahan intrakranial spontan adalah perdarahan yang terjadi intrakranial, dan dapat terjadi pada parenkim otak atau ruang meningen, yang terjadi spontan

Lebih terperinci

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS.

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS. 1. Definisi MODUL ANGIOMA SPINAL Angioma, dikenal pula sebagai cavernous malformasi atau cavernous angioma atau juga sebagai cavernoma, merupakan kelainan pembuluh darah yang ditandai dengan gambaran pembuluh

Lebih terperinci

MODUL OSTEOMA 1. DEFINISI

MODUL OSTEOMA 1. DEFINISI MODUL OSTEOMA 1. DEFINISI Osteoma adalah tumor jinak yang mengandung sel-sel jaringan tulang yang berdiferensiasi, dapat berupa jaringan yang sklerotik, tulang padat, dan dapat terjadi di tulang tengkorak

Lebih terperinci

GLIOMA SPINAL MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

GLIOMA SPINAL MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 MODUL GLIOMA SPINAL 1. Definisi Glioma adalah tumor otak primer yang berasal dari sel glia, yaitu sel penunjang sel saraf pada otak. Glioma diklasifikasikan berdasarkan letak dan histologisnya. Berdasarkan

Lebih terperinci

MODUL NYERI 1. Definisi

MODUL NYERI 1. Definisi MODUL NYERI 1. Definisi Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, terkait dengan potensi kerusakan jaringan. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5

Lebih terperinci

MODUL PLASMASITOMA 1. DEFINISI 2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

MODUL PLASMASITOMA 1. DEFINISI 2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 MODUL PLASMASITOMA 1. DEFINISI Plasmasitoma intrakranial adalah mieloma sel plasma yang mengenai tulang tengkorak, meningen dan parenkim otak. Plasmasitoma termasuk varian dari mieloma multiple yang jarang

Lebih terperinci

GRANULOMA EOSINOFILIK

GRANULOMA EOSINOFILIK MODUL GRANULOMA EOSINOFIL 1. DEFINISI Granuloma eosinofilik adalah jenis spektrum histiositosis sel Langerhans yang paling ringan. Granuloma eosinofilik dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Granuloma eosinofilik

Lebih terperinci

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS.

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS. MODUL KAVERNOMA 1. Definisi Malformasi kavernosus atau hemangioma kavernosus atau kavernoma adalah lesi vaskular yang abnormal berupa beberapa kompartemen kecil (lobulus). Kompartemen ini mengandung komponen

Lebih terperinci

MODUL FISTULA ARTERI-VENA (AV FISTULA)

MODUL FISTULA ARTERI-VENA (AV FISTULA) MODUL FISTULA ARTERI-VENA (AV FISTULA) 1. Definisi AV fistula adalah hubungan abnormal antara arteri dan vena. AV fistula dapat bersifat kongenital atau didapat. AV fistula yang didapat disebabkan oleh

Lebih terperinci

MODUL KRANIOFARINGIOMA 1. DEFINISI

MODUL KRANIOFARINGIOMA 1. DEFINISI MODUL KRANIOFARINGIOMA 1. DEFINISI Kraniofaringioma adalah tumor epithelial jinak yang tumbuh dari tangkai atau glandula hipofisis, memiliki struktur solid, kistik ataupun campuran keduanya yang mengisi

Lebih terperinci

DEGENERASI DISKUS INTERVERTEBRAL SERVIKAL

DEGENERASI DISKUS INTERVERTEBRAL SERVIKAL 1. Definisi MODUL DEGENERASI DISKUS INTERVERTEBRAL SERVIKAL Degenerasi diskus intervertebralis adalah hilangnya sifat bantalan struktur semikaku (diskus intervertebralis) yang memisahkan dan menahan kolom

Lebih terperinci

MODUL ENTRAPMENT SYNDROME

MODUL ENTRAPMENT SYNDROME MODUL ENTRAPMENT SYNDROME 1. Definisi Entrapment syndrome adalah suatu kondisi di mana saraf melewati ruang terbatas ditekan dan menimbulkan gejala penekanan saraf tepi. Yang paling umum dari kondisi ini

Lebih terperinci

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA KRANIAL (SIMPEL)

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA KRANIAL (SIMPEL) Bedah Saraf : Kelainan Vaskuler Susunan Saraf MODUL MALFORMASI ARTERI VENA KRANIAL (SIMPEL) 1. Definisi AVM adalah lesi pembuluh darah ketika darah mengalir dari sistem arteri ke sistem vena tanpa melewati

Lebih terperinci

MODUL ANEURISMA SEREBRI

MODUL ANEURISMA SEREBRI MODUL ANEURISMA SEREBRI 1. Definisi Aneurisma adalah dilatasi/pelebaran/ penonjolan pada dinding pembuluh darah arteri. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11

Lebih terperinci

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA SPINAL

MODUL MALFORMASI ARTERI VENA SPINAL MODUL MALFORMASI ARTERI VENA SPINAL 1. Definisi AVM adalah lesi pembuluh darah ketika darah mengalir dari sistem arteri ke sistem vena tanpa melewati kapiler. Tanda khas penyakit ini adalah adanya pintasan

Lebih terperinci

1. Definisi Kanal stenosis adalah suatu kondisi medis di mana kanal tulang belakang menyempit dan menekan medulla spinalis.

1. Definisi Kanal stenosis adalah suatu kondisi medis di mana kanal tulang belakang menyempit dan menekan medulla spinalis. MODUL KANAL STENOSIS 1. Definisi Kanal stenosis adalah suatu kondisi medis di mana kanal tulang belakang menyempit dan menekan medulla spinalis. 2. Waktu TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7

Lebih terperinci

INFEKSI PARASITER (CACING)

INFEKSI PARASITER (CACING) MODUL INFEKSI PARASITER (CACING) 1. Definisi Infeksi parasit (cacing) adalah infeksi yang disebabkan oleh karena invasi telur atau larva cacing ke dalam tubuh manusia termasuk diantaranya adalah 2. Waktu

Lebih terperinci

MODUL DEFORMITAS ATLANTO-OKSIPITAL

MODUL DEFORMITAS ATLANTO-OKSIPITAL MODUL DEFORMITAS ATLANTO-OKSIPITAL 1. Definisi Deformitas Atlanto-oksipital adalah dislokasi sendi atlanto-oksipital (O-C1) akibat trauma berenergi tinggi yang menyebabkan ruptur membran tektorial dan

Lebih terperinci

TUBERKULOMA MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

TUBERKULOMA MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan MODUL TUBERKULOMA 1. Definisi Tuberkuloma adalah lesi pada jaringan otak berupa masa padat yang merupakan kumpulan jaringan nekrotik akibat infeksi kuman TB (Mycobacterium tuberkulosis) yang menyebar dari

Lebih terperinci

MODUL SPONDILOLISTESIS

MODUL SPONDILOLISTESIS MODUL SPONDILOLISTESIS 1. Definisi Spondilolistesis adalah perpindahan relatif ke arah anterior atau posterior satu vertebra terhadap yang lain. 2. Waktu TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7

Lebih terperinci

MODUL KAROTIS-KAVERNOSUS FISTULA

MODUL KAROTIS-KAVERNOSUS FISTULA MODUL KAROTIS-KAVERNOSUS FISTULA 1. Definisi Karotis-kavernosus adalah hubungan abnormal antara arteri karotis (atau cabang-cabangnya) dan sinus kavernosus di belakang mata. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I

Lebih terperinci

MORBUS HANSEN MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

MORBUS HANSEN MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan MODUL MORBUS HANSEN 1. Definisi Morbus hansen adalah suatu penyakit infeksi kronis oleh Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, yang selanjutnya dapat menyerang kulit, saluran nafas bagian atas,

Lebih terperinci

SPONDILITIS TUBERKULOSA

SPONDILITIS TUBERKULOSA MODUL SPONDILITIS TUBERKULOSA 1. Definisi Spondilitis tuberkulosa (TB) adalah infeksi granulomatosis dan bersifat kronis destruktif yang di sebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa yang mengenai tulang

Lebih terperinci

MENINGOKEL POSTERIOR MODUL. 1. Definisi

MENINGOKEL POSTERIOR MODUL. 1. Definisi MODUL MENINGOKEL POSTERIOR 1. Definisi Meningokel posterior adalah keluarnya struktur intra kranial (meningen) melalui defek yang terjadi akibat malformasi pada masa embriologi. Jika meningen yang keluar

Lebih terperinci

INFEKSI KOMENSAL/ PENURUNAN IMUNITAS

INFEKSI KOMENSAL/ PENURUNAN IMUNITAS MODUL INFEKSI KOMENSAL/ PENURUNAN IMUNITAS 1. Definisi Infeksi komensal/penurunan imunitas adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme setempat atau flora normal yang dapat diakibatkan karena

Lebih terperinci

ABSES SEREBRI MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan

ABSES SEREBRI MODUL. 1. Definisi. 2. Waktu Pendidikan MODUL ABSES SEREBRI 1. Definisi Abses serebri adalah suatu lesi desak ruang berupa suatu penumpukan materi piogenik yang terjadi akibat invasi dan perkembangan mikroorganisme yang terlokalisir di dalam

Lebih terperinci

SINDROM ARNOLD CHIARI/ SIRINGOMIELIA

SINDROM ARNOLD CHIARI/ SIRINGOMIELIA MODUL SINDROM ARNOLD CHIARI/ SIRINGOMIELIA 1. Definisi Sindrom Arnold Chiary atau siringomielia adalah sindrom herniasi otak belakang (hindbrain) dimana terdapat hubungan antara isi fossa posterior dengan

Lebih terperinci

MODUL SPASTISITAS/RIGIDITAS 1. Definisi

MODUL SPASTISITAS/RIGIDITAS 1. Definisi MODUL SPSTISITS/RIGIDITS 1. Definisi Spastisitas atau hipertonus otot merupakan kelainan sistem saraf pusat yang ditandai oleh otot yang terus menerus menerima impuls untuk menjadi kaku. Saraf yang menginervasi

Lebih terperinci

MODUL ADENOMA HIPOFISIS 1. Definisi

MODUL ADENOMA HIPOFISIS 1. Definisi MODUL ADENOMA HIPOFISIS 1. Definisi Adenoma hipofisis adalah tumor jinak yang tumbuh dari sel sel adenohipofisis yang mengisi ruang sella dan suprasella. Tumor disebut fungsional bila menyebabkan peningkatan

Lebih terperinci

INFEKSI PARASITER (JAMUR)

INFEKSI PARASITER (JAMUR) MODUL INFEKSI PARASITER (JAMUR) 1. Definisi Infeksi jamur adalah infeksi yang terjadi setelah terjadi invasi jamur (spora) pada tubuh manusia termasuk diantaranya adalah susunan saraf pusat dan menimbulkan

Lebih terperinci

DANDY WALKER MALFORMATION

DANDY WALKER MALFORMATION MODUL DANDY WALKER MALFORMATION 1. Definisi Dandy Walker malformation adalah suatu sindrom yang berkaitan dengan disgenesis dari struktur midline cerebellar, yang terdiri dari dilatasi kistik dari ventrikel

Lebih terperinci

SPINAL DISRAFISME MODUL. 1. Definisi

SPINAL DISRAFISME MODUL. 1. Definisi MODUL SPINAL DISRAFISME 1. Definisi Spinal disrafisme adalah defek pada perkembangan kolumna vertebra yang berhubungan dengan lesi neurologik. Occult Spinal Dysraphism (disrafisme spinal) adalah kelainan

Lebih terperinci

KISTA ARACHNOID MODUL. 1. Definisi

KISTA ARACHNOID MODUL. 1. Definisi MODUL KISTA ARACHNOID 1. Definisi Kista arachnoid adalah Kista arachnoid adalah kantung yang berisi cairan serebrospinal yang terdapat pada lapisan leptomening dan dibatasi oleh lapisan arachnoid di basis

Lebih terperinci

MIKROSEFALI MODUL. 1. Definisi

MIKROSEFALI MODUL. 1. Definisi MODUL MROSEFALI 1. Definisi Mikrosefali atau Kraniostenosis adalah keadaan dimana satu atau lebih sutura kranial mengalami obliterasi atau osifikasi prematur di saat periode paling cepat pertumbuhan otak

Lebih terperinci

MODUL MENINGIOMA SUPRATENTORIAL

MODUL MENINGIOMA SUPRATENTORIAL MODUL MENINGIOMA SUPRATENTORIAL 1. DEFINISI Meningioma adalah tumor meningen di susunan saraf pusat yang berasal dari neuroektoderm, yaitu muncul dari sel-sel meningoendotelial yang banyak terkonsentrasi

Lebih terperinci

HIDROSEFALUS KOMPLEKS

HIDROSEFALUS KOMPLEKS MODUL HIDROSEFALUS KOMPLEKS 1. Definisi Hidrosefalus adalah keadaan dimana terjadi akumulasi CSS yang berlebihan pada satu atau lebih ventrikel dan ruang subarakhnoid. Bila akumulasi CSS yang berlebihan

Lebih terperinci

MODUL SUBDURAL HEMATOMA AKUT

MODUL SUBDURAL HEMATOMA AKUT MODUL SUBDURAL HEMATOMA AKUT 1. Definisi Subdural hematoma adalah pendarahan ke dalam ruang antara duramaterdan otak. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM

Lebih terperinci

MODUL INTRACEREBRAL HEMATOMA

MODUL INTRACEREBRAL HEMATOMA Bedah Saraf : Intracerebral Hematoma MODUL INTRACEREBRAL HEMATOMA 1. Definisi Intracerebral hematoma adalah perdarahan yang terjadi dalam jaringan otak itu sendiri. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II

Lebih terperinci

MODUL EPIDURAL HEMATOMA

MODUL EPIDURAL HEMATOMA MODUL EPIDURAL HEMATOMA 1. Definisi Epidural hematoma adalah hematoma antara tengkorak dan duramater. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM KEPROFESIAN

Lebih terperinci

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM KEPROFESIAN ( Beban dihitung berdasarkan Kompetensi )

2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM KEPROFESIAN ( Beban dihitung berdasarkan Kompetensi ) MODUL DEPRESSED FRACTURE 1. Definisi Depressed fracture adalah fraktur pada tulang tengkorak di mana terdapat fragmen yang tertekan di bawah permukaan normal. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP

Lebih terperinci

MODUL SUBDURAL HEMATOMA KRONIK

MODUL SUBDURAL HEMATOMA KRONIK MODUL SUBDURAL HEMATOMA KRONIK 1. Definisi Subdural hematoma kronik adalah pendarahan ke dalam ruang antara duramater dan otak yang telah berlangsung lama. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III

Lebih terperinci

MODUL TRAUMA TEMBUS. 1. Definisi Trauma tembus kranium adalah lesi di mana proyektil benda asing menembus tulang tengkorak dan tidak keluar lagi.

MODUL TRAUMA TEMBUS. 1. Definisi Trauma tembus kranium adalah lesi di mana proyektil benda asing menembus tulang tengkorak dan tidak keluar lagi. Bedah Saraf : Trauma tembus MODUL TRAUMA TEMBUS 1. Definisi Trauma tembus kranium adalah lesi di mana proyektil benda asing menembus tulang tengkorak dan tidak keluar lagi. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I

Lebih terperinci

MODUL BOCORAN LIQUOR

MODUL BOCORAN LIQUOR MODUL BOCORAN LIQUOR 1. Definisi Bocoran liquor adalah keluarnya cairan dari ruang cairan serebrospinal (CSS) akibat lacerasi duramater. 2. Waktu Pendidikan TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6

Lebih terperinci

Modul 34 EKSISI LUAS TUMOR DINDING ABDOMEN PADA TUMOR DESMOID & DINDING ABDOMEN YANG LAIN (No. ICOPIM: 5-542)

Modul 34 EKSISI LUAS TUMOR DINDING ABDOMEN PADA TUMOR DESMOID & DINDING ABDOMEN YANG LAIN (No. ICOPIM: 5-542) Modul 34 Bedah Digestif EKSISI LUAS TUMOR DINDING ABDOMEN PADA TUMOR DESMOID & DINDING ABDOMEN YANG LAIN (No. ICOPIM: 5-542) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik

Lebih terperinci

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN Modul 2 Bedah Anak POLIPEKTOMI REKTAL (No. ICOPIM: 5-482) 1. TUJUAN : 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi rektum dan isinya, menegakkan

Lebih terperinci

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN Modul 5 Bedah Anak BUSINASI (No. ICOPIM: 5-731) 1. TUJUAN : 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi dari anal canal, diagnosis dan pengelolaan

Lebih terperinci

Modul 4 SIRKUMSISI PADA PHIMOSIS (No. ICOPIM: 5-640)

Modul 4 SIRKUMSISI PADA PHIMOSIS (No. ICOPIM: 5-640) Modul 4 Bedah Anak SIRKUMSISI PADA PHIMOSIS (No. ICOPIM: 5-640) 1. TUJUAN : 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi preputium penis,

Lebih terperinci

Lama pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf adalah 11 Semester. Dipandang dari sudut hukum, dikenal istilah Pengayaan, Magang dan Mandiri.

Lama pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf adalah 11 Semester. Dipandang dari sudut hukum, dikenal istilah Pengayaan, Magang dan Mandiri. Bab I : Aturan Umum Landasan Hukum Kurikulum Pendidikan Bedah Saraf Indonesia (KPBSI) disusun dengan mengacu pada : Keputusan KKI / MKKI. Standar Pendidikan Bedah Saraf Indonesia. Standar Profesi Bedah

Lebih terperinci

Modul 20 RESEKSI/ EKSISI ANEURISMA PERIFER (No. ICOPIM: 5-382)

Modul 20 RESEKSI/ EKSISI ANEURISMA PERIFER (No. ICOPIM: 5-382) Modul 20 Bedah TKV RESEKSI/ EKSISI ANEURISMA PERIFER (No. ICOPIM: 5-382) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi pembuluh

Lebih terperinci

Modul 18 Bedah TKV EKSISI HEMANGIOMA (ICOPIM 5-884)

Modul 18 Bedah TKV EKSISI HEMANGIOMA (ICOPIM 5-884) Modul 18 Bedah TKV EKSISI HEMANGIOMA (ICOPIM 5-884) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu untuk menjelaskan anatomi, dari pembuluh darah, patologi, menegakkan

Lebih terperinci

Modul 26 DETORSI TESTIS DAN ORCHIDOPEXI (No. ICOPIM: 5-634)

Modul 26 DETORSI TESTIS DAN ORCHIDOPEXI (No. ICOPIM: 5-634) Modul 26 Bedah Anak DETORSI TESTIS DAN ORCHIDOPEXI (No. ICOPIM: 5-634) 1. TUJUAN : 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi dari testis,

Lebih terperinci

Karakteristik Tumor Infratentorial dan Tatalaksana Operasi di Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun

Karakteristik Tumor Infratentorial dan Tatalaksana Operasi di Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun Karakteristik Tumor Infratentorial dan Tatalaksana Operasi di Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun 2001 2005 Hilman Mahyuddin, Agus Budi Setiawan Departemen Bedah

Lebih terperinci

Modul 11 BEDAH TKV FIKSASI INTERNAL IGA ( KLIPING KOSTA ) (ICOPIM 5-790, 792)

Modul 11 BEDAH TKV FIKSASI INTERNAL IGA ( KLIPING KOSTA ) (ICOPIM 5-790, 792) Modul 11 BEDAH TKV FIKSASI INTERNAL IGA ( KLIPING KOSTA ) (ICOPIM 5-790, 792) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi, dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak (Brown CV, Weng J,

BAB I PENDAHULUAN. maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak (Brown CV, Weng J, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kraniotomy adalah operasi untuk membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak (Brown CV, Weng J, 2005). Pembedahan

Lebih terperinci

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-467)

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-467) Modul 11 Bedah Digestif PENUTUPAN PERFORASI USUS (No. ICOPIM: 5-467) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi, topografi dari

Lebih terperinci

MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI BATUK DARAH. Oleh

MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI BATUK DARAH. Oleh MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI BATUK DARAH Oleh BAGIAN PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG NOVEMBER 2014 I. Waktu Mengembangkan kompetensi

Lebih terperinci

Modul 16 EKSISI TELEANGIEKTASIS (ICOPIM 5-387)

Modul 16 EKSISI TELEANGIEKTASIS (ICOPIM 5-387) Modul 16 Bedah TKV EKSISI TELEANGIEKTASIS (ICOPIM 5-387) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi dari pembuluh darah, menegakkan

Lebih terperinci

TERAPI INHALASI MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI. : Prosedur Tidakan pada Kelainan Paru. I. Waktu. Mengembangkan kompetensi.

TERAPI INHALASI MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI. : Prosedur Tidakan pada Kelainan Paru. I. Waktu. Mengembangkan kompetensi. MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI NOMOR MODUL TOPIK SUB TOPIK I. Waktu : B02 : Prosedur Tidakan pada Kelainan Paru : Terapi Inhalasi TERAPI INHALASI Mengembangkan kompetensi Sesi Tutorial Diskusi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper & BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cedera kepala merupakan salah satu kasus penyebab kecacatan dan kematian yang cukup tinggi dalam bidang neurologi dan menjadi masalah kesehatan oleh karena penderitanya

Lebih terperinci

( No. ICOPIM : )

( No. ICOPIM : ) Modul 13 Bedah TKV TORAKOSTOSMI TERBUKA ( No. ICOPIM : 5-340 ) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta latih mampu untuk menjelaskan anatomi, topografi, dari pleura dan

Lebih terperinci

LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG

LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG A. DEFINISI CKR (Cedera Kepala Ringan) merupakan cedera yang dapat mengakibatkan kerusakan

Lebih terperinci

Modul 1 EKSISI TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER (ICOPIM )

Modul 1 EKSISI TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER (ICOPIM ) Modul 1 Bedah KL EKSISI TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER (ICOPIM 5-885 ) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi, patologi

Lebih terperinci

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9 Kanker Paru-Paru Kanker paru-paru merupakan kanker pembunuh nomor satu di Hong Kong. Ada lebih dari 4.000 kasus baru kanker paru-paru dan sekitar 3.600 kematian yang diakibatkan oleh penyakit ini setiap

Lebih terperinci

e) Faal hati f) Faal ginjal g) Biopsi endometrium/

e) Faal hati f) Faal ginjal g) Biopsi endometrium/ e) Faal hati f) Faal ginjal g) Biopsi endometrium/ mikrokuretae 15. Kehamilan FIT jika: 6 minggu setelah melahirkan Pemeriksaan : a) USG b) Pregnancy test (HCG test) 16. Operasi ginekologi FIT setelah

Lebih terperinci

Sem 9 G M Q 79.3 K6 K6 K6 K6 P5.A3 P5.A3 P5.A3 P5.A5 P5.A5 P5.A Sem 3. Sem 5. Sem 4

Sem 9 G M Q 79.3 K6 K6 K6 K6 P5.A3 P5.A3 P5.A3 P5.A5 P5.A5 P5.A Sem 3. Sem 5. Sem 4 MODUL GASTROSCHISIS KODE MODUL : MBA 010 A. Definisi Gastroschisis adalah kegagalan penutupan dinding perut dengan defek berada di sebelah kanan umbilikal cord (95% kasus) disertai dengan herniasi organ

Lebih terperinci

Modul 1 BIOPSI INSISIONAL DAN EKSISIONAL ( NO.ICOPIM : 1-501,502,599 )

Modul 1 BIOPSI INSISIONAL DAN EKSISIONAL ( NO.ICOPIM : 1-501,502,599 ) Modul 1 Bedah Onkologi BIOPSI INSISIONAL DAN EKSISIONAL ( NO.ICOPIM : 1-501,502,599 ) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang tujuan,

Lebih terperinci

Modul 36. ( No. ICOPIM 5-545)

Modul 36. ( No. ICOPIM 5-545) Modul 36 Bedah Digestif REPAIR BURST ABDOMEN ( No. ICOPIM 5-545) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan Pembelajaran umum: Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi dan fisiologi dari

Lebih terperinci

EKSTRAKSI CORPUS ALIENUM DI KEPALA DAN LEHER (ICOPIM 5-119)

EKSTRAKSI CORPUS ALIENUM DI KEPALA DAN LEHER (ICOPIM 5-119) Modul 24 Bedah KL EKSTRAKSI CORPUS ALIENUM DI KEPALA DAN LEHER (ICOPIM 5-119) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi, topografi

Lebih terperinci

REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH. Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang

REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH. Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang SKDI 2012 : LBP Tingkat kompetensi : 3A Lulusan dokter mampu : Membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan

Lebih terperinci

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN Modul 2 Bedah Urologi VASEKTOMI (No. ICOPIM: 5-636) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi, topografi, histologi, fisiologi

Lebih terperinci

Modul 2 (ICOPIM 8-835)

Modul 2 (ICOPIM 8-835) Modul 2 Bedah TKV VENA SEKSI (ICOPIM 8-835) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi pembuluh darah, dan patofisiologi syok

Lebih terperinci

Pendahuluan. Cedera kepala penyebab utama morbiditas dan mortalitas Adanya berbagai program pencegahan

Pendahuluan. Cedera kepala penyebab utama morbiditas dan mortalitas Adanya berbagai program pencegahan HEAD INJURY Pendahuluan Cedera kepala penyebab utama morbiditas dan mortalitas Adanya berbagai program pencegahan peralatan keselamatan sabuk pengaman, airbag, penggunaan helm batas kadar alkohol dalam

Lebih terperinci

LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor

LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor A. DEFINISI Jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit dan tulang serta organ tubuh bagian dalam. Yang tergolong jaringan lunak antara lain

Lebih terperinci

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN Modul 35 Bedah Digestif ADHESIOLISIS (No. ICOPIM: 5-544) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan Pembelajaran umum: Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi dan fisiologi dari isi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pada wanita dengan penyakit payudara. Insidensi benjolan payudara yang

I. PENDAHULUAN. pada wanita dengan penyakit payudara. Insidensi benjolan payudara yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Benjolan pada payudara merupakan keluhan yang paling sering ditemui pada wanita dengan penyakit payudara. Insidensi benjolan payudara yang bersifat jinak mengalami peningkatan

Lebih terperinci

PEOGRAM PENDIDIKAN NEUROONKOLOGI PPDS I DEPT-SMF ILMU BEDAH SARAF RS.Dr SOETOMO - FK UNAIR SURABAYA

PEOGRAM PENDIDIKAN NEUROONKOLOGI PPDS I DEPT-SMF ILMU BEDAH SARAF RS.Dr SOETOMO - FK UNAIR SURABAYA PEOGRAM PENDIDIKAN NEUROONKOLOGI PPDS I DEPT-SMF ILMU BEDAH SARAF RS.Dr SOETOMO - FK UNAIR SURABAYA I. Batasan Neuroonkologi adalah bagian dari Ilmu Bedah Saraf yang mempelajari tentang tumor atau neoplasma

Lebih terperinci

Modul 26 PENUTUPAN STOMA (TUTUP KOLOSTOMI / ILEOSTOMI) ( No. ICOPIM 5-465)

Modul 26 PENUTUPAN STOMA (TUTUP KOLOSTOMI / ILEOSTOMI) ( No. ICOPIM 5-465) Modul 26 Bedah Digestif PENUTUPAN STOMA (TUTUP KOLOSTOMI / ILEOSTOMI) ( No. ICOPIM 5-465) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan Pembelajaran umum: Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang

Lebih terperinci

PANDUAN SKRINING PASIEN RSU BUNDA JEMBRANA

PANDUAN SKRINING PASIEN RSU BUNDA JEMBRANA PANDUAN SKRINING PASIEN RSU BUNDA JEMBRANA 2015 BAB I DEFINISI Skrining merupakan pemeriksaan sekelompok orang untuk memisahkan orang yang sehat dari orang yang memiliki keadaan fatologis yang tidak terdiagnosis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Spondylitis tuberculosis atau yang juga dikenal sebagai Pott s disease

BAB I PENDAHULUAN. Spondylitis tuberculosis atau yang juga dikenal sebagai Pott s disease BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Spondylitis tuberculosis atau yang juga dikenal sebagai Pott s disease merupakan suatu penyakit yang banyak terjadi di seluruh dunia. Terhitung kurang lebih 3 juta

Lebih terperinci

Modul 23 ORCHIDOPEXI/ORCHIDOTOMI PADA UNDESCENSUS TESTIS (UDT) (No. ICOPIM: 5-624, 5-620)

Modul 23 ORCHIDOPEXI/ORCHIDOTOMI PADA UNDESCENSUS TESTIS (UDT) (No. ICOPIM: 5-624, 5-620) Modul 23 Bedah Anak ORCHIDOPEXI/ORCHIDOTOMI PADA UNDESCENSUS TESTIS (UDT) (No. ICOPIM: 5-624, 5-620) 1. TUJUAN: 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti

Lebih terperinci

BUKU AJAR SISTEM NEUROPSIKIATRI

BUKU AJAR SISTEM NEUROPSIKIATRI 1 BUKU AJAR SISTEM NEUROPSIKIATRI Judul mata Kuliah : Neuropsikiatri Standar Kompetensi : Area Kompetensi 5 : Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran Kompetensi dasar : Menerapkan ilmu Kedokteran klinik pada sistem

Lebih terperinci

BAB II PELAYANAN BEDAH OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

BAB II PELAYANAN BEDAH OBSTETRI DAN GINEKOLOGI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelayanan bedah atau tindakan di bidang obstetri dan ginekologi merupakan suatu tindakan kedokteran yang dibutuhkan untuk memungkinkan suatu tindakan operasi oleh dokter

Lebih terperinci

OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT

OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT Tujuan 1. Tujuan Umum Setelah menyelesaikan modul ini peserta didik memahami dan mengerti tentang embriologi, anatomi dan topografi daerah abdomen, patogenesis omphalomesenterikus

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PRIMA HUSADA NOMOR : 224/RSPH/I-PER/DIR/VI/2017 TENTANG PEDOMAN REKAM MEDIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PRIMA HUSADA NOMOR : 224/RSPH/I-PER/DIR/VI/2017 TENTANG PEDOMAN REKAM MEDIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PRIMA HUSADA NOMOR : 224/RSPH/I-PER/DIR/VI/2017 TENTANG PEDOMAN REKAM MEDIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR RUMAH SAKIT PRIMA HUSADA, Menimbang Mengingat : a.

Lebih terperinci

NEUROIMAGING Fadel Muhammad Garishah Mahasiswa Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro RSUP Dr. Kariadi

NEUROIMAGING Fadel Muhammad Garishah Mahasiswa Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro RSUP Dr. Kariadi NEUROIMAGING Fadel Muhammad Garishah Mahasiswa Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro RSUP Dr. Kariadi Neuroimaging merupakan salah satu peranan radiodiagnostik di bidang ilmu penyakit saraf.

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS Program Studi Kode Blok Blok Bobot Semester Standar Kompetensi : Pendidikan Dokter : KBK403 : UROGENITAL : 4 SKS : IV : Mengidentifikasi dan menyusun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kompleks, mencakup faktor genetik, infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) dan

BAB I PENDAHULUAN. kompleks, mencakup faktor genetik, infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang cenderung didiagnosis pada stadium lanjut dan merupakan penyakit dengan angka kejadian tertinggi serta menjadi

Lebih terperinci

PANDUAN PENUNDAAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PUPUK KALTIM BONTANG

PANDUAN PENUNDAAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PUPUK KALTIM BONTANG PANDUAN PENUNDAAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PUPUK KALTIM BONTANG KATA PENGANTAR Assalamu alaikum Wr.Wb. Penundaan pelayanan kepada pasien terjadi apabila pasien harus menunggu terlayani dalam waktu yang

Lebih terperinci

Sosialisasi Kaidah Koding sesuai Permenkes 76 tahun RIRIS DIAN HARDIANI Tim Teknis Ina CBG Kementerian Kesehatan

Sosialisasi Kaidah Koding sesuai Permenkes 76 tahun RIRIS DIAN HARDIANI Tim Teknis Ina CBG Kementerian Kesehatan Sosialisasi Kaidah Koding sesuai Permenkes 76 tahun 2016 RIRIS DIAN HARDIANI Tim Teknis Ina CBG Kementerian Kesehatan PENULISAN DIAGNOSA DAN TINDAKAN LENGKAP DAN SPESIFIK KETEPATAN KODING INA-CBG YANG

Lebih terperinci

PELAPORAN HASIL KRITIS

PELAPORAN HASIL KRITIS PELAPORAN HASIL KRITIS Pengertian : 1. Proses penyampaian hasil kritis kepada dokter yang merawat pasien. 2. Nilai Hasil Kritis adalah hasil pemeriksaan diagnostic penunjang yang memerlukan penanganan

Lebih terperinci

(No. ICOPIM: 5-491, 5-884)

(No. ICOPIM: 5-491, 5-884) Modul 3 Bedah Digestif FISTULOTOMI DAN FISTULEKTOMI (No. ICOPIM: 5-491, 5-884) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi, topografi

Lebih terperinci

Modul 3. (No. ICOPIM: 5-530)

Modul 3. (No. ICOPIM: 5-530) Modul 3 Bedah Anak HERNIOTOMI (No. ICOPIM: 5-530) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi daerah inguinalis dan dinding depan

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. klinis cedera kepala akibat trauma adalah Glasgow Coma Scale (GCS), skala klinis yang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. klinis cedera kepala akibat trauma adalah Glasgow Coma Scale (GCS), skala klinis yang BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Cedera Kepala Akibat Trauma Cedera kepala umumnya diklasifikasikan atas satu dari tiga sistem utama, yaitu: keparahan klinis, tipe patoanatomi dan mekanisme fisik.

Lebih terperinci

PANDUAN HAK PASIEN DAN KELUARGA RS X TAHUN 2015 JL.

PANDUAN HAK PASIEN DAN KELUARGA RS X TAHUN 2015 JL. PANDUAN HAK PASIEN DAN KELUARGA RS X TAHUN 2015 JL. SURAT KEPUTUSAN No. : Tentang PANDUAN HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN DIREKTUR RS Menimbang : a. Bahwa untuk mengimplementasikan hak pasien dan keluarga di

Lebih terperinci

PANDUAN TEKNIS PESERTA DIDIK KEDOKTERAN DALAM PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN

PANDUAN TEKNIS PESERTA DIDIK KEDOKTERAN DALAM PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN PANDUAN TEKNIS PESERTA DIDIK KEDOKTERAN DALAM PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN KOMITE MEDIK RSUD DR. SAIFUL ANWAR KESALAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT BAKORDIK RSSA/FKUB MALANG 2015 BILA BERHADAPAN DENGAN PASIEN,

Lebih terperinci