CAPAIAN RPJMD KABUPATEN AGAM

dokumen-dokumen yang mirip
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR 11 TAHUN 2015 T e n t a n g : RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH ( R K P D ) KABUPATEN AGAM TAHUN 2016

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL

PERATURAN BUPATI AGAM NOMOR 15 TAHUN 2013 T e n t a n g : RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH ( R K P D ) KABUPATEN AGAM TAHUN 2014

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RKPD DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN TAHUN 2012

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar

IV. GAMBARAN UMUM Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii

Rumusan Rencana Program dan Kegiatan SKPD Tahun 2014 dan Prakiraan Maju Tahun 2015 Kabupaten Agam

Rumusan Rencana Program dan Kegiatan SKPD Tahun 2014 dan Prakiraan Maju Tahun 2015 Kabupaten Agam

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

BAB IV GAMBARAN UMUM

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis

BAB 1 : PENDAHULUAN. alam seperti gempa bumi adalah bencana yang terjadi secara tiba-tiba, sedangkan

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN... 1

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

VI. GAMBARAN WILAYAH, KARAKTERISTIK PETERNAKAN SAPI POTONG DAN RESPONDEN PENELITIAN

KONDISI UMUM BANJARMASIN

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK

BAB IV GAMBARAN UMUM

Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1

DAFTAR ISI. A. Capaian Kinerja Pemerintah Kabupaten Tanggamus B. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja C. Realisasi anggaran...

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan. Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105.

KATA PENGANTAR. Meureudu, 28 Mei 2013 Bupati Pidie Jaya AIYUB ABBAS

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan....

4.1. Letak dan Luas Wilayah

MEWUJUDKAN PENGEMBANGAN DESA YANG BERKELANJUTAN MELALAUI PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN PERDESAAN YANG BERKELANJUTAN (P2KPB)

DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia

IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di

Tahun Penduduk menurut Kecamatan dan Agama Kabupaten Jeneponto

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan

Kata Pengantar Bupati Nagan Raya

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

RPJMD KABUPATEN LINGGA DAFTAR ISI. Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT.

Daftar Tabel Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD ) Kab. Jeneponto Tahun 2016

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO

Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Kuningan

V. GAMBARAN UMUM. Kota Bogor mempunyai luas wilayah km 2 atau 0.27 persen dari

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2015 I - 1

Transkripsi:

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN AGAM CAPAIAN RPJMD KABUPATEN AGAM 2010-2015 DATA DAN INFORMASI 2015 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2015

DAFTAR ISI Daftar Isi.... Daftar Tabel Daftar Grafik. GAMBARAN UMUM DAERAH DAN EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RPJM KABUPATEN AGAM TAHUN 2010-2015 1. Gambaran Umum Daerah... 1 1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi... 1 1.2. Letak dan Kondisi Geografis... 2 1.3. Topografi.... 2 1.4. Geologi.... 3 1.5. Hidrologi... 3 1.6. Klimatologi... 3 1.7. Penggunaan Lahan... 4 1.8. Potensi Pengembangan Wilayah... 4 1.8.1. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi... 5 1.8.2. Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan 5 dan Holtikultura... 1.8.3. Kawasan Peruntukan Peternakan... 5 1.8.4. Kawasan Peruntukan Perkebunan... 6 1.8.5. Kawasan Peruntukan Perikanan... 6 1.8.6. Kawasan Pertambangan... 7 1.8.7. Kawasan Peruntukan Industri... 8 1.8.8. Kawasan Pariwisata... 8 1.8.9. Kawasan Permukiman... 9 1.8.10. Kawasan Rawan Bencana... 10 1.9. Demografi... 13 1.9.1. Jumlah Penduduk... 13 1.9.2. Kepadatan Penduduk... 13 1.9.3. Struktur Penduduk... 17 1.9.4. Proyeksi Penduduk... 17 2. Capaian Kinerja Pembangunan Daerah... 20 i i ii iii

2.1. Capaian Kinerja Pembangunan Makro Ekonomi Daerah... 20 2.1.1. Pertumbuhan Ekonomi... 20 2.1.2. Struktur Ekonomi... 27 2.1.3. PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita. 28 2.1.4. Ketimpangan Wilayah... 32 2.1.5. Produktivitas Total Daerah... 33 2.1.6. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Perkapita... 33 2.1.7. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Makanan dan Non Makanan... 34 2.1.8. Nilai Tukar Petani... 35 2.1.9. Nilai Investasi... 37 2.1.10. Ketenagakerjaan... 38 2.1.11. Tingkat Kemiskinan... 41 2.1.12. Nilai Investasi Daerah... 44 2.2. Capaian Kinerja Sektor/Sub Sektor Ekonomi... 51 2.3. Capaian Kinerja Fokus Kesejahteraan Masyarakat... 66 2.3.1. Capaian Bidang Pendidikan... 66 2.3.2. Capaian Bidang Kesehatan... 76 2.3.3. Capaian Bidang Kependudukan dan Catatan Sipil... 85 2.3.4. Capaian Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera... 87 2.3.5. Capaian Bidang Keluarga Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I... 88 2.3.6. Capaian Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak... 88 2.3.7. Capaian Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa... 89 2.3.8. Capaian Bidang Sosial... 91 2.3.9. Capaian Bidang Infrastruktur... 91 2.3.10. Lingkungan Hidup... 95 2.3.11. Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah... 95 ii

DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1 Luas Kecamatan dan Jumlah Nagari per Kecamatan 1 2 Luas Hutan di Kabupaten Agam Tahun 2013 5 3 Sebaran Potensi Bencana Gerakan Tanah/Longsor 12 4 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin 13 5 Analisis Kategori Tingkat Kepadatan Penduduk Tahun 2013. 14 6 Jumlah dan Kepadatan Penduduk per Kecamatan Tahun 2010-2013 15 7 Struktur Penduduk Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Tahun 2013 17 8 Proyeksi Jumlah Penduduk Tahun 2015-2020. 18 8.a Struktur Penduduk Berdasarkan Usia Tahun 2014. 18 8.b Jumlah Penduduk Usia Kerja Tahun 2014 19 8.c Banyaknya Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Tahun 2014.. 20 9 Nilai PDRB Tahun 2010-2014 atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 21 10 Nilai PDRB per Sektor Tahun 2010-2014 atas Dasar Harga Berlaku 22 11 Laju Pertumbuhan Sektor, Sub Sektor PDRB Tahun 2010-2013. 23 12 Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2010 2014. 27 13 PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Tahun 2010 2013 Berdasarkan Harga Berlaku 29 14 Pertumbuhan Ekonomi (%), PDRB Per Kapita (Rp. Juta), Dan Koefisien Gini Kabupaten Agam Di Bandingkan Dengan Kabupaten/Kota Sumatera Barat tahun 2011-2013 31 15 Indeks Ketimpangan Wilayah di Kabupaten Agam tahun 2013 32 16 Produktivitas Sektor dan Produktivitas Total Daerah Tahun 2010 2013 33 17 Persentase Penduduk Menurut Golongan Pengeluaran Perkapita Perbulan 34 18 Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga untuk Makanan dan Non Makanan Tahun 2010 2013 35 19 Nilai Tukar Petani Tahun 2010-2013.. 36 20 Nilai Tukar Petani menurut Sub Sektor Tahun 2010-2013. 36 21 Perkembangan Nilai Investasi Perlapangan Usaha Tahun 2010-2014 37 22 Persentase Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kegiatan Utama Tahun 2010-2013. 39 iii

23 Rasio Ketergantungan Tahun 2010 sampai dengan 2013 40 24 Tenaga Kerja Menurut Jenjang Pendidikan Yang Ditamatkan Tahun 2010-2012... 40 25 Persentase Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010 2013 41 26 Garis Kemiskinan dan Jumlah Penduduk Miskin Tahun 2002 2013.. 42 27 Jumlah Rumah Tangga Sasaran PPLS 2011 Menurut Klasifikasi Kemiskinan dan Kecamatan di Kabupaten Agam... 43 28 Jumlah Proyek PMDN/PMA Tahun 2010-2013. 44 29 Nilai Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) Tahun 2003 2013... 45 30 Koefisien ICOR Tahun 2011-2013 Menurut Lapangan Usaha (Lag 0) Menggunakan Metode Akumulasi... 50 31 Luas Panen, Produksi dan Produktifitas Tanaman Pangan Tahun 2010 2013 53 32 Luas Panen, Produksi dan Produktifitas Hortikultura Tahun 2010 2013 54 33 Populasi dan Produksi Peternakan Tahun 2010-2013 56 34 Produksi dan Produktifitas Tanaman Perkebunan 58 35 Luas Hutan Kayu dan Hutan Non Kayu per Kecamatan.. 59 36 Potensi Perikanan dan Kelautan Tahun 2013 60 37 Produksi Perikanan dan Kelautan Tahun 2010 2013 61 38 Capaian Indikator Ketahanan Pangan Tahun 2010-2013.. 64 39 Produksi, Ketersediaan, Kebutuhan dan Surplus Bahan Pangan Utama Tahun 2011-2013. 65 40 Angka Melek Huruf Tahun 2010 2013.. 67 41 Angka Melek Huruf Menurut Kecamatan tahun 2013 67 42 Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni.. 69 43 Angka Partisipasi Sekolah Tahun 2010-2013. 70 44 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2010-2013 71 45 Rasio Murid Terhadap Jumlah Kelas per Jenjang Pendidikan Tahun 2010-2013 72 46 Rasio Jumlah Murid terhadap Jumlah Guru per Jenjang Pendidikan Tahun 2010-2013.. 73 47 Angka Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2010 2013 73 48 Angka Putus Sekolah Menurut Kecamatan Tahun 2013 74 49 Angka Kelulusan Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2010-2013.. 75 iv

50 Angka Melanjutkan Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2010-2013... 75 51 Perkembangan Kondisi Balita Tahun 2010 s/d 2013 77 52 Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk Menurut Kecamatan Tahun 2011 2013... 77 53 Jumlah Kematian Bayi Dan Balita menurut Kecamatan Tahun 2010 2013 79 54 Angka Kematian Ibu Melahirkan Tahun 2010 2013... 80 55 Jorong UCI Tahun 2010-2013... 81 56 Jumlah Posyandu dan Balita Tahun 2010-2013. 81 57 Jumlah Puskesmas dan Pustu Tahun 2010-2013. 82 58 Jumlah Dokter PuskesmasTahun 2010-2013.. 82 59 Cakupan Penemuan dan pengobatan penderita TBC/BTA Tahun 2010 2013 83 60 Penemuan dan Penanganan Penderita Demam Berdarah Tahun 2011 2013 83 61 Cakupan Kunjungan Bayi Tahun 2010 2013 84 62 Indikator Kinerja Rumah Sakit 84 63 Rasio Penduduk ber KTP per satuan penduduk... 86 64 Kepemilikan Akte Kelahiran per 1000 Penduduk Tahun 2010 2014... 86 65 Rasio Akseptor KB dan Cakupan Peserta KB aktif Tahun 2010 2013 87 66 Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I Tahun 2010 2013.. 88 67 Pemberdayaan Perempuan.. 88 68 Perlindungan Perempuan dan Anak 89 69 Cakupan Nagari Swasembada. 90 70 Indikator Pemberdayaan Masyarakat.. 90 71 Penanganan PMKS 91 72 Rasio Tempat Ibadah Tahun 2010 dan 2013 91 73 Jumlah Jembatan Berdasarkan Panjang Jembatan. 93 74 Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan... 94 v

Grafik DAFTAR GRAFIK Halaman 1 Laju Pertumbuhan Sektor PDRD 25 2 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Agam dari Tahun 2009-2013. 26 3 Pendapatan Regional Per-Kapita Atas Dasar Harga Berlaku. 29 4 Nilai Investasi Kabupaten Agam Persektor Tahun 2010-2013.. 38 5 Tingkat Kemiskinan Kabupaten Agam Tahun 2010-2013.. 43 6 Pertumbuhan Investasi ADHK Periode 2003-2013 46 7 Struktur Investasi Menurut Lapangan Usaha Kumulatif Tahun 2003-2013 47 8 Struktur Investasi Menurut Institusi Kumulatif Tahun 2003-2013 48 9 Koefisien ICOR Menurut Lapangan Usaha Metode Akumulasi 51 10 Perbandingan Indek Pembangunan Manusia (IPM) 66 11 Perkembangan Angka Rata-Rata Lama Sekolah Tahun 2010-2013 68 12 Angka Usia Harapan Hidup.. 78 13 Jenis Permukaan Jalan di Kabupaten Agam Tahun 2014. 92 14 Kondisi Jalan Kabupaten Agam Tahun 2014.. 92 15 Kondisi Jembatan di Kabupaten Agam Tahun 2012 93 vi

GAMBARAN UMUM DAERAH DAN EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RPJM KABUPATEN AGAM TAHUN 2010-2015 1. Gambaran Umum Daerah 1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi Kabupaten Agam mempunyai luas yaitu 2.232,30 Km² atau 5,29 persen dari luas wilayah Provinsi Sumatera Barat. Batas wilayah sebagai berikut : - sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat; - sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lima Puluh Kota; - sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Tanah Datar; dan - sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia. Wilayah administrasi pemerintahan meliputi 16 Kecamatan dan 82 Nagari, serta 467 Jorong. Luas masing-masing kecamatan dan jumlah nagari per kecamatan dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Luas Kecamatan dan Jumlah Nagari per Kecamatan. No Kecamatan Luas (Km 2 ) Persentase Jumlah Nagari 1. Tanjung Mutiara 250,13 9.22 3 2. Lubuk Basung 252,31 12.47 5 3. Ampek Nagari 286,39 12.04 4 4. Tanjung Raya 236,67 10.93 9 5. Matur 91,11 4.20 6 6. IV Koto 80,47 3.08 7 7. Malalak 99,12 4.68 4 8. Banuhampu 27,24 1.27 7 9. Sungai Pua 40,41 1.98 5 10. Ampek Angkek 31,91 1.37 7 11. Canduang 55,52 2.34 3 12. Baso 76,38 3.15 6 13. Tilatang Kamang 61,10 2.51 3 14. Kamang Magek 76,67 4.46 3 15. Palembayan 351,39 15.67 6 16. Palupuah 220,99 10.62 4 Jumlah 2.232,30 100 82 Sumber : Agam dalam Angka Tahun 2012/2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 1

1.2. Letak dan Kondisi Geografis Kabupaten Agam terletak pada posisi 00 0 01 34 00 0 28 43 Lintang Selatan dan 99 0 46 39 100 0 32 50 Bujur Timur. Letak daerah sangat strategis karena dilalui jalur Lintas Tengah Sumatera dan Jalur Lintas Barat Sumatera serta dilalui oleh Fider Road yaitu jalur yang menghubungkan Lintas Barat, Lintas Tengah dan Lintas Timur Sumatera. Kondisi lahan yang terdapat pada wilayah ini terdiri dari pegunungan dan perbukitan, lembah dan ngarai, daerah lereng, dataran dan pesisir. Dalam wilayah ini terdapat dua buah pulau yaitu Pulau Tangah seluas 1 Km2 dan Pulau Ujung seluas 1 Km2, dua buah gunung yaitu Gunung Marapi dengan ketinggian 2.891 meter dan Gunung Singgalang dengan ketinggian 2.877 meter, satu buah danau yaitu Danau Maninjau seluas 9.950 ha dan tiga sungai yaitu Batang Antokan, Batang Kalulutan dan Batang Agam serta mempunyai pantai sepanjang 43 Km. Berhubungan dengan kondisi tersebut diatas Kabupaten Agam juga merupakan daerah rawan bencana dengan potensi gempa bumi, bahaya abrasi, gerakan tanah/longsor, letusan gunung berapi, banjir dan tsunami. 1.3. Topografi Kondisi topografi cukup bervariasi, mulai dari dataran tinggi hingga dataran yang relatif rendah, dengan ketinggian berkisar antara 0 sampai 2.891 meter dari permukaan laut. Menurut kondisi fisiografinya, ketinggian atau elevasi wilayah Kabupaten Agam bervariasi antara 2 meter sampai 1.031 meter diatas permukaan laut. Adapun pengelompokan yang didasarkan atas ketinggian adalah sebagai berikut: 1. Ketinggian 0-500 meter diatas permukaan laut seluas 44,55 % sebagian besar berada di wilayah barat yaitu Kecamatan Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, Ampek Nagari dan sebagian Kecamatan Tanjung Raya. 2. Ketinggian 500-1000 meter diatas permukaan laut seluas 43,49 % berada pada wilayah Kecamatan Baso, Ampek Angkek, Canduang, Malalak, Tilatang Kamang, Palembayan, Palupuh, Banuhampu dan Sungai Pua. 3. Ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut seluas 11,96 % meliputi sebagian Kecamatan IV Koto, Kecamatan Matur, Canduang dan Sungai Pua. Kawasan sebelah barat merupakan daerah yang datar sampai landai ( 0 8 % ) mencapai luas 71.956 ha, bagian tengah dan timur merupakan daerah yang berombak dan berbukit sampai dengan lereng yang sangat terjal (> 45%) dengan luas kawasan 129.352 ha. Kawasan dengan kemiringan yang sangat terjal Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 2

(> 45%) berada pada jajaran Bukit Barisan dengan puncak Gunung Marapi dan Gunung Singgalang yang terletak di selatan dan tenggara Kabupaten Agam. 1.4. Geologi Formasi batuan yang dijumpai digolongkan kepada Pra Tersier, Tersier, dan Kuarter. Batuan ini terdiri dari endapan permukaan, sedimen, metamorfik, vulkanik dan intrusi. Batuan vulkanik terdapat di Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Danau Maninjau. Wilayah Kabupaten Agam ditutupi oleh tiga jenis batuan beku yaitu: 1. Ekstrusif dengan reaksi intermediet (andesit dari Gunung Marapi, Gunung Singgalang, Gunung Tandikek, Danau Maninjau, dan Gunung Talamau) seluas 68.555,10 ha ( 32,43 % ). 2. Batuan beku ekstrusif dengan reaksi masam (pumis tuff) seluas 55.867,90 ha ( 26,43 % ). 3. Batuan sedimen dengan jenis batu kapur seluas 80.011,80 ha (3,79%), endapan alluvium mencapai luas 48.189 ha ( 22,79 % ). Di Kecamatan Tanjung Raya terdapat lekukan besar Kawah Maninjau yang saat ini berisi air merupakan hasil dari ledakan besar erupsi gunung berapi. 1.5. Hidrologi Kondisi hidrologi Kabupaten Agam termasuk kedalam tiga Sistem Wilayah Sungai (SWS) yaitu : SWS Arau, Kuranji, Anai, Mangau, dan Antokan (AKUAMAN), SWS Masang Pasaman dan SWS Indragiri. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai (DAS) terdapat delapan Daerah Aliran Sungai yaitu; DAS Batang Tiku, DAS Andaman, DAS Mangau, DAS Antokan, DAS Masang Kiri, DAS Masang Kanan, DAS Batang Nareh dan DAS Kuantan. 1.6. Klimatologi Temperatur udara pada dataran rendah minimum 25 0 C dan maksimum 33 0 C, sedangkan di daratan tinggi temperatur minimum 20 0 C dan maksimum 29 0 C. Kelembaban udara rata-rata 88%, kecepatan angin antara 4-20 km/jam dan penyinaran matahari rata-rata 58%. Musim hujan terjadi antara bulan Januari sampai dengan bulan Mei dan pada bulan September sampai bulan Desember, sedangkan untuk musim kemarau berlangsung antara bulan Juni sampai dengan bulan Agustus. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 3

Berdasarkan peta iklim yang dibuat Oldeman (1979) serta data base hidroklimat yang diterbitkan Bakosurtanal (1987), pada wilayah Kabupaten Agam terdapat 4 kelas curah hujan, yaitu : 1. Curah hujan lebih dari 4500 mm/tahun tanpa bulan kering (daerah dengan iklim Tipe A), berada di sekitar lereng Gunung Marapi dan Singgalang meliputi sebagian wilayah Kecamatan IV Koto dan Sungai Pua. 2. Curah hujan 3500 sampai 4500 mm/tahun tanpa bulan kering (daerah dengan tipe A1) mencakup sebagian wilayah Kecamatan Tilatang Kamang, Baso dan Ampek Angkek. 3. Curah hujan 3500 sampai 4000 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2 bulan berturut-turut meliputi sebagian Kecamatan Palembayan, Palupuh, dan IV Koto. 4. Curah hujan 2500 sampai 3500 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2 bulan berturut- turut, meliputi sebagian wilayah Kecamatan Lubuk Basung dan Tanjung Raya. 1.7. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan di Kabupaten Agam dibagi atas : 1. Kawasan lindung, terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya (hutan lindung, kawasan resapan air), kawasan perlindungan setempat (sempadan sungai, kawasan sekitar danau dan mata air), dan kawasan suaka alam serta kawasan rawan bencana. 2. Kawasan budidaya, terdiri dari kawasan permukiman di perkotaan dan perdesaan, kawasan pertanian (lahan basah, lahan kering dengan tanaman tahunan, dan lahan kering dengan tanaman semusim, serta kawasan hutan produksi (tanaman tahunan). 1.8. Potensi Pengembangan Wilayah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan Rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Barat maka klasifikasi pemanfaatan ruang Kabupaten Agam adalah kawasan budidaya seluas ± 120.022 ha atau 53,7 % dari luas wilayah administrasi. Kawasan budidaya meliputi kawasan peruntukan : hutan produksi, perkebunan, pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perikanan, pertambangan, industri, pariwisata, permukiman dan kawasan peruntukan lainnya. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 4

1.8.1. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Secara umum kawasan hutan Kabupaten Agam termasuk hutan hujan tropik (tropical rain forest) Sumatera yang berada pada Kawasan Bukit Barisan yang membujur dari utara ke selatan. Secara horizontal terbagi dalam beberapa kelompok yaitu 1) Hutan Pantai, 2) Hutan Manggrove (Payau), 3) Hutan Hujan dengan kondisi banyak species, tajuk tinggi. Sementara secara vertikal terbagi dalam kelompok hutan Hujan Dataran 1000 m dpl dan hutan pergunungan 1400 2500 m dpl. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor KP.304/Menhut- II/2011 luas hutan berdasarkan fungsinya di Kabupaten Agam adalah sebagai berikut : Tabel 2. Luas Hutan di Kabupaten Agam Tahun 2013 No Jenis Luas (Ha) Persentase 1. Hutan PPA 26.513 38,4 2. Hutan Lindung 22.669 32,8 3. Hutan Produksi 3.133 5,54 4. Hutan Produksi Terbatas 7.698 11,15 5. Hutan Konversi 9.040 13,09 Jumlah 69.053 100 Sumber : Dinas Kehutanan & Perkebunan Kabupaten Agam 1.8.2. Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Pertanian merupakan basis ekonomi masyarakat, memberikan kontribusi terbesar terhadap pembangunan daerah. Potensi sumberdaya lahan pertanian terbesar adalah lahan sawah dengan luas lahan baku sawah yaitu ±.28,537 ha, lahan untuk pengembangan tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai yang luas lahannya mencapai ±.7.047 ha. Rencana pengembangan peruntukan budidaya pertanian diarahkan untuk pemanfaatan secara intensif lahan yang belum dimanfaatkan dan tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Agam. 1.8.3. Kawasan Peruntukan Peternakan Potensi pengembangan usaha peternakan adalah peternakan sapi potong, kambing, itik dan ayam buras. Potensinya sesuai dengan kondisi topografi pada Wilayah Timur dan Wilayah Barat. Wilayah Timur memiliki suhu udara sejuk, tanah yang subur, curah hujan cukup tinggi, hijauan sebagai pakan utama ternak mudah tumbuh dan berkembang. Banyak tersedia limbah pertanian sebagai pakan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 5

tambahan karena sebagian besar masyarakat berusaha dibidang pertanian terutama tanaman pangan dan hortikultura. Potensi pasar sangat baik karena dekat dengan kota Bukittinggi, ketersediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung, adanya Balai Penyidik Penyakit Veteriner (BPPV Baso) dan adanya kelompok-kelompok usaha peternakan yang sudah berkembang. Wilayah Barat memiliki suhu udara yang panas dengan curah hujan kurang. Limbah pertanian yang dapat dijadikan pakan ternak kurang tersedia, akan tetapi ketersediaan lahan untuk pengembangan usaha peternakan cukup luas. Kawasan ini berpotensi untuk dijadikan kawasan pengembangan dengan sistem integrasi ternak dengan tanaman perkebunan terutama coklat atau sawit. 1.8.4. Kawasan Peruntukan Perkebunan Komoditi tanaman yang dominan dan potensial untuk dikembangkan adalah kelapa sawit, kelapa dalam, kulit manis, karet, tebu, cengkeh, pala, kakao dan gambir. Pengembangan kawasan perkebunan diarahkan untuk pemanfaatan potensi lahan yang memiliki kesesuaian bagi perkebunan yang berada pada kawasan budidaya, dan menghindarkan timbulnya konflik pemanfaatan lahan dengan kawasan lindung, kawasan hutan produksi tetap dan produksi terbatas, kawasan industri, serta kawasan permukiman. Sebaran lokasi rencana peruntukan kawasan perkebunan yang ada di Kabupaten Agam meliputi : 1) Karet di Kecamatan Ampek Nagari dan Palembayan; 2) Kelapa di Kecamatan Tanjung Mutiara, Ampek Nagari dan Lubuk Basung; 3) Cengkeh di Kecamatan Tanjung Raya, Matur dan Malalak; 4) Kulit manis di Kecamatan Malalak, Matur dan Tanjung Raya; 5) Pala di Kecamatan Tanjung Raya; 6) Gambir di Kecamatan Palupuh; 7) Kakao tersebar di seluruh Kecamatan dan 8) Kelapa Sawit di Kecamatan Ampek Nagari, Palembayan, Tanjung Mutiara serta Lubuk Basung ; 8) Tebu di Kecamatan Matur, IV Koto, Candung dan Sungai Pua. 1.8.5. Kawasan Peruntukan Perikanan Potensi areal pengembangan perikanan dan kelautan diantaranya garis pantai sepanjang 43 km, laut seluas 313,04 km2, hutan mangroove 65 ha, terumbu karang 27,5 ha, danau 9.950 ha, sungai, telaga dan perairan umum lainnya seluas 568 ha. 1. Perikanan Tangkap Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1999 pasal 3, bahwa wilayah Provinsi/Kabupaten, sebagaimana yang dimaksud pasal 2 ayat 1, terdiri atas Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 6

wilayah darat dan wilayah laut sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan. Sesuai dengan undangundang tersebut maka batas wilayah laut termasuk kawasan perikanan tangkap yang pengelolaannya menjadi wewenang Kabupaten Agam adalah sejauh 4 mil. Rencana pengembangan kawasan perikanan tangkap dikembangkan di Kecamatan Tanjung Mutiara tepatnya di kawasan pesisir Tiku yang memiliki panjang pantai 43 Km. Adapun luas laut yang menjadi kewenangan Kabupaten Agam mencapai 313,04 km 2. Perikanan tangkap juga terdapat di kawasan Danau Maninjau. 2. Budi Daya Perikanan Sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep 32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, Kabupaten Agam termasuk salah satu pengembangan kawasan Minapolitan di Indonesia. Rencana pengembangan perikanan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Agam meliputi : a. Pusat Kawasan Minapolitan terdapat di Kawasan Maninjau b. Sentra pengembangan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Majalaya, Nila dan pengembangan budidaya mina padi di Kecamatan Tilatang Kamang dan Kamang Magek. c. Sentra budidaya ikan air tawar: Nila, Patin dan Majalaya serta pengembangan Keramba Jaring Apung (KJA) Ramah Lingkungan dan UPR Nila dan Majalaya di sekitar Kawasan Danau Maninjau. Untuk pengembangan budidaya di sekitar Danau Maninjau, harus mengacu pada Peraturan Bupati No.22 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Danau Maninjau (jarak KJA dari pantai 50-100 m dan 200 m dari objek wisata), dan adanya zonasi. d. Sentra budidaya ikan patin dan pengolahan lele di Kecamatan Palembayan. e. Sentra pengembangan nila, mas dan lele serta pengembangan UPR di Kecamatan Lubuk Basung. 3. Pengolahan Ikan Dengan potensi tangkapan ikan laut yang mencapai ± 5.722,78 ton dan potensi perikanan budidaya air tawar yang mencapai ± 55.670,35 ton, maka lokasi pengembangan kawasan pengolahan ikan, akan diarahkan di sekitar Kawasan Pesisir Tiku, dimana kedepannya akan dikembangkan Pelabuhan Perikanan Tiku. 1.8.6. Kawasan Pertambangan Potensi bahan galian tambang golongan B yang dimiliki daerah ini seperti biji besi di Kecamatan Matur, pasir besi di Kecamatan Tanjung Mutiara. Sedangkan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 7

potensi bahan galian golongan C seperti andesit, granit, dolomit, dan marmer terdapat di Kecamatan Tilatang Kamang, Kamang Magek, Kecamatan Palupuh, Kecamatan IV Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Matur, Kecamatan Baso dan Kecamatan Lubuk Basung. Tabel dibawah ini memperlihatkan potensi sumber daya mineral di Kabupaten Agam. 1.8.7. Kawasan Peruntukan Industri 1) Kawasan Peruntukan Industri Besar Peruntukan kawasan industri besar diarahkan di Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Ampek Nagari dan Palembayan. Industri besar yang berpotensi untuk dikembangkan adalah industri hasil tambang dan pengolahan hasil perkebunan. 2) Kawasan Peruntukan Industri Sedang Peruntukan kawasan industri sedang diarahkan di Kecamatan Baso, Kecamatan Ampek Angkek, Kecamatan Canduang dan Kamang Magek. Industri sedang yang dikembangkan adalah agro industri, batu kapur dan indutri pengolahan kayu. Dengan adanya pemusatan kawasan industri sedang (agro industri) diharapkan hasil pertanian dapat diolah dulu sebelum dipasarkan ke luar wilayah Agam, sehingga dapat memberikan nilai tambah yang menguntungkan bagi masyarakat maupun pemerintah setempat. 3) Kawasan Peruntukan Industri Rumah Tangga Peruntukan kawasan industri rumah tangga dipusatkan di wilayah Timur Agam, yang merupakan sentra industri kecil yang mayoritas merupakan penunjang kegiatan pariwisata dan memiliki karakteristik rendah polutan, seperti industri konveksi, bordir, sulaman, perak dan makanan kecil. Peruntukan lahan diarahkan di Kecamatan Ampek Angkek, IV Koto dan Kecamatan Canduang. 1.8.8. Kawasan Pariwisata. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pembangunan kepariwisataan dilakukan melalui pengembangan industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran dan kelembagaan pariwisata. Upaya pengembangan kepariwisataan juga tetap dikaitkan dengan daerah tujuan wisata (destinasi) Provinsi yaitu Kota Bukittinggi dan Kota Padang serta nasional; Jakarta, Yogjakarta, dan Bali sebagai satu kesatuan destinasi wisata nasional sekaligus untuk menarik minat pengunjung, ditujukan terhadap wisatawan nusantara maupun mancanegara. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 8

Untuk Propinsi Sumatera Barat, Kabupaten Agam masuk pada Destinasi Pengembangan Pariwisata I (DPP I) dimana DPP I ini meliputi koridor Bukittinggi, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Limapuluh Kota, dan Kota Payakumbuh. DPP ini didominasi atraksi Budaya, Belanja, Meeting Incentive Convention Exibition (MICE), kerajinan, kesenian, peninggalan sejarah, danau, pegunungan, serta flora dan fauna dengan pusat layanan di Kota Bukittinggi. Pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Agam secara umum dibagi dalam tiga wilayah dengan rincian sebagai berikut : 1) Wilayah Barat a. Kawasan Pesisir Tiku : sentra perikanan laut dan darat salah satu outlet komoditi unggulan perikanan Kabupaten Agam. b. Produk wisata alam dan budaya bahari (rekreasi pantai, pulau, diving/ snorkling, budaya, nelayan dll ) memanfaatkan potensi perikanan, sumber daya alam laut dan budaya bahari serta wisata kuliner sebagai pendukung. 2) Wilayah Tengah a. Kawasan pariwisata Danau Maninjau, memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan alam sekitarnya. b. Produk wisata alam (rekreasi gunung, danau) dan wisata budaya (sejarah dan event), agrotourism serta wisata kuliner sebagai pendukung. c. Objek wisata Danau Maninjau, Puncak Lawang, Embun Pagi, Rumah Kelahiran Buya Hamka, core event (paralayang) dan supporting events (seperti off road, pacu biduk dll). 3) Wilayah Timur a. Kawasan Agropolitan Ampek Angkek, Canduang dan Baso sebagai sentra pengembangan kegiatan pertanian (agrowisata) b. Produk wisata minat khusus: agrowisata dan wisata perdesaan c. Lahan pertanian padi, palawija, buah-buahan, perkebunan kakao. 1.8.9. Kawasan Permukiman Kawasan permukiman merupakan kawasan di luar kawasan lindung yang digunakan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian masyarakat yang berada di wilayah perkotaan dan perdesaan. Sebagian besar kawasan terbangun yang berupa permukiman di kelompok sebagai permukiman perkotaan, dan permukiman perdesaan. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 9

Permukiman perkotaan meliputi kawasan ibukota kecamatan dan kawasan strategis berbatasan yang meliputi 17 nagari disekitar Kota Bukittinggi yaitu : Gadut, Kapau, Biaro Gadang, Ampang Gadang, Balai Gurah, Pasie, Batu Taba, Bukit Batabuah, Kubang Putih, Taluak IV Suku, Padang Lua, Sungai Tanang, Guguak Tabek Sarojo, Koto Gadang, Sianok VI Suku dan Koto Panjang. Sedangkan pemukiman non perkotaan adalah seluruh kawasan non perkotaan yang ada di masing-masing wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Agam. Dengan ketentuan kawasan tersebut diluar dari kawasan lindung dan kawasan bencana serta peruntukan perkebunan, pertanian dan budidaya lainnya yang telah ditetapkan dalam rencana pola ruang. 1.8.10. Wilayah Rawan Bencana Kabupaten Agam merupakan daerah rawan bencana, baik bencana alam maupun bencana geologi. Sesuai dengan profil rawan bencana yang disusun pada Tahun 2008, jenis-jenis bencana sebagai berikut: 1) Bahaya Sesar Aktif Bahaya sesar aktif adalah bagian dari lempeng bumi yang mengalami patahan atau tersesarkan dan masih bergerak hingga saat ini. Sesar aktif ditunjukkan oleh bentuk kelurusan topografi dimana lokasi pusat gempa terjadi disekitarnya. Pada wilayah Kabupaten Agam, sesar aktif memotong 6 kecamatan yaitu Kecamatan Palupuh, Palembayan, Matur, IV Koto, Banuhampu dan Sungai Pua. 2) Bahaya Seismisitas Gempa Bahaya seismisitas gempa merupakan bencana yang terjadi disebabkan oleh terlepasnya energi tektonik kerak bumi. Di wilayah Kabupaten Agam zonasi kerusakan akibat terpaan gelombang seismik gempa berdasarkan Analisis Probabilitas Hazard 2 Persen (atas) dan 10 Persen (bawah) Berdasarkan Gempa Periode Ulang 50 Tahunan (Petersen M.D. dkk, 2004), kemungkinan zona kerusakan paling tinggi, warna merah, tersebar di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, kurang lebih daerah yang menghubungkan antara Danau Singkarak, Kota Bukittinggi sampai sekitar Bonjol di sebelah Barat Laut. Zona kerusakan lebih rendah diapit oleh dua sesar/patahan yang diperlihatkan oleh warna merah muda. 3) Bahaya Tsunami Daerah lepas pantai merupakan tempat dimana subduksi tektonik terjadi. Distribusi pusat gempa dilepas pantai berpotensi menyebabkan terjadinya Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 10

tsunami. Wilayah yang potensial dihempas hantaman tsunami adalah daerah sekitar Jorong Subang-Subang, Jorong Labuhan, Jorong Muaro Putuih, Jorong Masang, Nagari Tiku Selatan dan sebagian Nagari Bawan di Kecamatan Ampek Nagari. 4) Letusan Gunung Api Kabupaten Agam berada pada dua gunung aktif yaitu Gunung Marapi dan Gunung Tandikek. Sebaran produk letusan dari Gunung Marapi cenderung menuju ke arah tenggara sedangkan letusan dari Gunung Tandikek menuju ke arah selatan. Daerah-daerah yang perlu mendapat perhatian dari letusan gunung api antara lain: a. Letusan Gunung Marapi : aliran Batang Sarik, Limo Kampuang, Tabek, Kapalo Koto, Lukok Satu, Surau Baru, Padang Laweh, Lubuak dan Pulungan. b. Letusan Gunung Tandikek: letusan ini tidak terlalu membahayakan kecuali di sekitar daerah Toboh. 5) Bahaya Gerakan Tanah/Longsoran Gerakan tanah/longsoran adalah proses pemindahan/pergerakan massa tanah dan batuan karena pengaruh gaya gravitasi. Jenis gerakan tanah yang umum dijumpai adalah jatuhan (Debris falls), gelinciran (slides), nendatan (slumps), aliran (flows) dan rayapan (creeps). Gerakan tanah/longsoran terjadi akibat beberapa faktor seperti jenis dan sifat batuan/tanah, sudut kemiringan lereng, curah hujan, tutupan vegetasi, ulah manusia atau akibat pembangunan fisik dan keteknikan. Tabel 3. memperlihatkan sebaran potensi bencana gerakan tanah / longsor. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 11

Tabel 3. Sebaran Potensi Bencana Gerakan Tanah/Longsor No Keterangan Kecamatan Nagari 1. Jatuhan (Debris Falls) Tanjung Raya Tanjung- Sani Sungai Batang Maninjau Palembayan Baringin Ampek Koto Palembayan Tigo Koto Silungkang Lubuk Basung Lubuk Basung Ampek Nagari Batu Kambiang Matur Matua Hilia IV Koto Balingka Koto Gadang Malalak Malalak Timur 2. Gelinciran (Sliding) 3. Nendatan (Slumps) Palupuh Koto Rantang Pasia Laweh Pagadih Palembayan Baringin Ampek Koto Palembayan Tigo Koto Silungkang Lubuk Basung Lubuk Basung Ampek Nagari Batu Kambing Matur Matua Hilir Palupuh Koto Rantang Pasia Laweh Matur Tigo Balai Palembayan Baringin Sungai Pua IV Koto Balingka Malalak Malalak Utara Sumber : Rancangan RTRW Kabupaten Agam 2011-2030 6) Bahaya Banjir Banjir terjadi apabila ekses atau kelebihan air tidak dapat ditampung pada tempatnya sehingga melimpah keluar. Tempat penyimpanan air secara alamiah adalah sungai, rawa, danau atau bendungan. Daerah banjir terjadi sepanjang aliran sungai seperti Batang Tiku, Batang Pingai, Batang Kalulutan, Batang Dareh, Batang Bawan, Batang Sitanang, bagian hilir dari Batang Simpang Janiah dan Simpang Karuah serta Batang Layah. Banjir pada sungai sungai tersebut, pada umumnya terbatas pada morfologi dataran banjir (flood plain). Selain dari lokasi-lokasi tersebut banjir juga terjadi pada daerah rawa di sekitar dataran pantai, yang juga berhubungan dengan aliran sungai di bagian hilir. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 12

Wilayah yang berpotensi banjir adalah 1) Nagari Salareh Aia di Kecamatan Palembayan; 2) Nagari Lubuk Basung di Kecamatan Lubuk Basung; 3) Nagari Bawan, Batu Kambiang dan Sitalang di Kecamatan IV Nagari, 4) Nagari Tiku V Jorong di Kecamatan Tanjung Mutiara; 5) Nagari Balingka di Kecamatan IV Koto dan 6) Nagari Pasia Laweh di Kecamatan Palupuah. 7) Abrasi Abrasi merupakan salah satu bagian dari proses perubahan muka air laut setempat yang dalam istilah ilmiah disebut Relative Sea Level Change (RSLC). Abrasi atau erosi garis pantai mengubah garis pantai berpindah ke arah daratan. Lawan dari abrasi adalah akresi atau sedimentasi yang menyebabkan garis pantai maju ke arah laut. Wilayah yang berpotensi terkena abrasi adalah 1) Masang sepanjang 800 meter; 2) Ujung Masang sepanjang 1.100 meter; 3) Muaro Putuih sepanjang 300 meter; 4) Ujung Labung sepanjang 500 meter; 5) Pasia Paneh sepanjang 200 meter dan 6) Pelabuhan Tiku sepanjang 100 meter. 1.9. Demografi 1.9.1. Jumlah Penduduk Peningkatan jumlah penduduk selama periode 3 tahun adalah sebesar 15.873 jiwa, yaitu dari 455.484 jiwa pada Tahun 2010 menjadi 466.78 jiwa pada Tahun 2013. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin No Tahun Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan 1. 2009 451.264 221.473 229.791 2. 2010 455.484 223.544 231.940 3. 2011 459.155 225.187 233.968 4. 2012 463.719 227.417 236.305 5. 2013 466.978 229.186 237.792 Sumber : Badan Statistik Kabupaten Agam 2013 1.9.2. Kepadatan Penduduk Tingkat kepadatan penduduk masih rendah dengan rata-rata kepadatan 200 jiwa/km 2.. Beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi, tingkat kepadatan penduduk relatif tinggi yaitu Kecamatan Banuhampu dan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 13

Kecamatan Ampek Angkek. Tingkat kepadatan penduduk dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu kepadatan rendah, kepadatan sedang dan kepadatan tinggi. Hasil analisis kepadatan penduduk di Kabupaten Agam dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5. Analisis Katagori Tingkat Kepadatan Penduduk Tahun 2013. No Tingkat Kepadatan Penduduk Range Kecamatan 1. Kepadatan Rendah 0-447 jiwa/km 2 Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, Ampek Nagari, Tanjung Raya, Matur, IV Koto, Canduang, Kamang Magek, Palembayan, Baso, Malalak. 2. Kepadatan Sedang 447-835 jiwa/km 2 Sungai Pua, Tilatang Kamang. 3. Kepadatan Tinggi > 835 jiwa/km 2 Banuhampu, Ampek Angkek Sumber : Badan Pusat Statistik Tahun 2013 Jumlah dan kepadatan penduduk per kecamatan dapat dilihat pada Tabel 6. dibawah ini Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 14

Tabel 6. Jumlah dan Kepadatan Penduduk per Kecamatan Tahun 2010 2013 No Kecamatan 2010 2011 Laki-Laki Perempuan Jumlah Kepadatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Kepadatan 1. Tanjung Mutiara 14.312 13.999 28.311 137,61 14.485 14.117 28.602 139,03 2. Lubuk Basung 33.891 34.307 68.198 244,96 34.193 34.755 68.948 247,66 3. Ampek Nagari 11.546 11.024 22.570 84 11.807 11.169 22.976 85,51 4. Tanjung Raya 16.507 16.800 33.307 136,49 16.445 16.756 33.201 136,05 5. Matur 8.216 8.728 16.944 180,85 8.233 8.740 16.973 181,16 6. IV Koto 10.942 12.094 23.036 335,22 10.974 12.154 23.128 330,40 7. Malalak 4.536 4.763 9.299 88,99 4.498 4.719 9.217 89,29 8. Banuhampu 17.242 18.817 36.059 1.267,45 17.613 19.156 36.769 1.292,41 9. Sungai Pua 11.132 11.910 23.042 520,25 11.213 12.026 23.239 524,70 10. Ampek Angkek 21.293 22.054 43.347 1.413,80 21.479 22.505 43.984 1.434,57 11. Canduang 10.531 11.355 21.886 418,55 10.615 11.444 22.059 421,96 12. Baso 16.067 16.949 33.016 469,64 16.139 16.990 33.129 471,25 13. Tilatang Kamang 16.370 17.657 34.027 606,87 16.573 17.938 34.511 615,50 14. Kamang Magek 9.599 10.374 19.972 200,52 9.657 10.405 20.062 201,42 15. Palembayan 14.863 14.563 29.426 84,12 14.721 14.496 29.217 83,52 16. Palupuah 6.497 6.547 13.044 55,02 6.542 6.598 13.140 55,42 Jumlah 223.544 231.940 455.484 204,04 225.187 233.968 459.115 205,69 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 15

Lanjutan No Kecamatan 2012 2013 Laki-Laki Perempuan Jumlah Kepadatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Kepadatan 1. Tanjung Mutiara 14.715 14.344 29.059 141,25 14.831 14.437 29.208 142,26 2. Lubuk Basung 34.756 35.333 70.089 251,76 35.039 35.566 70.605 253,61 3. Ampek Nagari 12.125 11.471 23.596 87,82 12.232 11.554 23.786 88,53 4. Tanjung Raya 16.616 16.934 33.550 137,48 16.745 17.039 33.784 138,44 5. Matur 8.102 8.603 16.705 178,30 8.153 8.648 16.801 179,33 6. IV Koto 10.932 12.111 23.043 329,19 11.010 12.179 23.189 331,27 7. Malalak 4.423 4.642 9.065 87,83 4.452 4.667 9.119 88,35 8. Banuhampu 18.057 19.640 37.697 1325,09 18.210 19.780 37.990 1.335,33 9. Sungai Pua 11.336 12.159 23.495 530,48 11.425 12.236 23.661 534,23 10. Ampek Angkek 22.096 23.159 45.295 1476,03 22.290 23.325 45.615 1.487,77 11. Canduang 10.620 11.453 22.073 422,13 10.698 11.519 22.217 424,88 12. Baso 16.131 16.983 33.114 471,04 16.246 17.082 33.328 474,08 13. Tilatang Kamang 16.768 18.153 34.921 622,81 16.898 18.270 35.168 627,22 14. Kamang Magek 9.593 10.340 19.933 200,13 9.662 10.390 20.058 201,39 15. Palembayan 14.608 14.387 28.995 82,89 14.708 14.466 29.174 83,40 16. Palupuah 6.536 6.593 13.129 55,38 6.587 6.628 13.215 55,74 Jumlah 227.417 236.305 463.719 207,73 229.186 237.792 466.798 209,19 Sumber : Agam Dalam Angka 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 16

1.9.3. Struktur Penduduk. Selanjutnya komposisi penduduk Kabupaten Agam berdasarkan kelompok umur lak-laki dan perempuan dapat dilihat dilihat pada Tabel. 7 berikut : Tabel 7. Struktur Penduduk Berdasarkan Usia dan Jenis KelaminTahun 2013*) Nomor Struktur Usia Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase 1 0-4 23.566 23.131 46.697 9.99 2 5-9 24.019 23.316 47.335 10.12 3 10-14 24.656 23.504 48.160 10.30 4 15-19 23.201 23.037 46.238 9.89 5 20-24 18.105 19.120 37.225 7.96 6 25-29 16.651 17.719 34.370 7.35 7 30-34 17.103 17.720 34.823 7.45 8 35-39 16.283 16.696 32.979 7.05 9 40-44 14.465 15.110 29.575 6.33 10 45-49 12.736 13.616 26.352 5.64 11 50-54 11.463 12.590 24.053 5.14 12 55-59 9.826 10.633 20.459 4.38 13 60-64 6.823 7.181 14.004 3.00 14 65-69 4.093 4.851 8.944 1.91 15 70-74 3.001 4.289 7.290 1.56 16 75+ 3.275 5.785 9.060 1.94 Total 229.266 238.298 467.564 100 Sumber : BPS Kabupaten Agam Tahun 2013 Catatan :*) Angka sementara Dari tabel diatas terlihat bahwa struktur penduduk Kabupaten Agam sebagian besar berada pada kelompok umur dibawah 20 tahun dan terbesar berada pada kelompok umur 10-14 tahun. Hal ini akan berimplikasi pada arah kebijakan pembangunan ke depan baik dari segi pelayanan fasilitas sosial maupun kebijakan ekonomi. 1.9.4. Proyeksi Penduduk Proyeksi penduduk dilakukan guna memprediksi tingkat perkembangan penduduk untuk 5 tahun kedepan, sehingga diharapkan dari hasil proyeksi tersebut dapat diketahui kebutuhan-kebutuhan sarana dan prasarana dasar yang diperlukan, termasuk kebutuhan lahan yang harus disediakan. Hasil proyeksi yang dilakukan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 17

berdasarkan metode eksponensial, dapat diketahui bahwa pada Tahun 2020, diperkirakan penduduk Kabupaten Agam berjumlah 646.264 jiwa dengan asumsi data dasar yang digunakan adalah data jumlah penduduk yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Tabel 8 Proyeksi Jumlah Penduduk Tahun 2015-2020 No 1. 2. 3. 4. 5. Tahun 2016 2017 2018 2019 2020 Proyeksi Jumlah Penduduk (Jiwa) 574.281 591.620 608.959 627.349 646.264 Sumber : Data diolah menggunakan data dasar jumlah penduduk Dari Catatan Sipil dan Kependudukan. Struktur Penduduk Kabupaten Agam dapat dilihat pada tabel 8.a sebagai berikut: Tabel 8.a Stuktur Penduduk Berdasarkan Usia Tahun 2014 STRUKTUR USIA LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH 0-4 22,956 22,638 45,594 5-9 24,320 23,477 47,797 10-14 24,137 23,292 47,429 15-19 23,864 23,476 47,340 20-24 18,693 19,472 38,165 25-29 16,425 17,608 34,033 30-34 16,968 17,701 34,669 35-39 16,514 16,955 33,469 40-44 14,698 15,466 30,164 45-49 12,977 13,789 26,766 50-54 11,613 12,670 24,283 55-59 10,163 10,996 21,159 60-64 7,349 7,824 15,173 65-69 4,267 4,934 9,201 70-74 2,993 4,286 7,279 75+ 3,267 5,776 9,043 TOTAL 231,204 240,360 471,564 Sumber : BPS Kabupaten Agam Tahun 2014 Catatan : *) Angka sementara Dari data di atas, apabila dihitung jumlah penduduk yang berusia 15 tahun ke atas adalah 330.705 orang (umur 15 75+ tahun) atau 70,14 % merupakan Jumlah Penduduk usia kerja. Sedangan bukan usia kerja sebanyak 140.820 orang ( umur 0-14 tahun ) atau 29,86 %. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 18

TABEL 8.b. Jumlah Penduduk Usia Kerja Tahun 2014*) No. Jenis Kegiatan Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan A. Angkatan kerja 124.704 98.783 223..487 1. Bekerja 117.572 93.480 211.052 2. Tidak bekerja/pengangguran 7.132 5.303 12.435 B. Bukan Angkatan kerja 34.730 72.488 107.218 1. Sekolah 16.771 21.536 38.307 2. Mengurus Rumah Tangga 3.175 43.181 46.356 3. Lainnya 14.784 7.771 22.555 C. Penduduk Usia Kerja 159.434 171.271 330.705 D. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 78,22 57,68 67,58 E. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPAK) 5,72 5,37 5,56 Berdasarkan tabel diatas, terlihat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kabupaten Agam sebesar 67,58 persen, dimana TPAK laki-laki lebih tinggi yaitu sebesar 78,22 persen sedangkan TPAK perempuan hanya sebesar 57,68. Dari Jumlah penduduk angkatan kerja 223..487 orang sebanyak 211.052 orang berkerja atau sebesar 94,44% telah berkerja dan sebanyak 12.435 orang atau sebesar 5,56 % belum bekerja atau pengangguran terbuka. Persentase tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Agam dari tahun 2007 hingga tahun 2014 cukup berfluktuasi. Penurunan yang cukup tajam terjadi dari tahun 2007 hingga tahun 2009 yaitu dari 7,28 persen menjadi 3,78 persen. Namun dari tahun 2009 hingga tahun 2011 terjadi kembali peningkatan persentase pengangguran terbuka menjadi 6,16 persen di tahun 2011 dan kemudian menurun lagi pada tahun 2012 menjadi 3,71 persen, tahun 2013 naik lagi menjadi 5,46 persen dan tahun 2014 menjadi 5,56%. Sedangkan sebanyak 107.218 orang atau 32,42 persen merupakan bukan angkatan kerja, yang terdiri dari ibu rumahtangga, pensiunan dan penduduk dengan kebutuhan khusus. Selanjutnya banyaknya penduduk Kabupaten Agam yang bekerja menurut pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 8.c. dibawah ini : jenis Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 19

TABEL 8.c. Banyaknya Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Tahun 2014*) JUMLAH BIDANG PEKERJAAN PERSENTASE JIWA Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 80645 38.2 Pertambangan dan Penggalian 773 0.4 Industri Pengolahan 20911 9.9 Listrik, Gas dan air Minum 243 0.1 Konstruksi/Bangunan 14663 6.9 Perdagangan, Hotel, restoran 48492 23.0 Pengakutan dan komunikasi 9574 4.5 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 1834 0.9 Jasa-jasa 33917 16.1 Total 211052 100.0 Sumber : BPS Kabupaten Agam Tahun 2014 Catatan :*) Angka sementara Dari tabel diatas, terlihat bahwa jenis pekerjaan yang paling banyak dilakukan masyarakat adalah dibidang Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan sebanyak 80.645 jiwa atau 38,2 persen disusul sektor perdagangan, perhotelan dan restoran sebanyak 48.492 jiwa atau 23 persen. 2. Capaian Kinerja Pembangunan Daerah. 2.1. Capaian Kinerja Pembangunan Makro Ekonomi Daerah. 2.1.1. Pertumbuhan Ekonomi. Perekonomian Kabupaten Agam dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang berfluktuasi. Pasca bencana gempa bumi pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan bahkan pada periode akhir tahun 2009 pertumbuhan ekonomi berada pada titik terendah yaitu 4,9 %. Seiring dilaksanakannya rehabilitasi dan rekontsruksi infrastruktur pasca bencana serta program-program inovatif seperti Agam Menyemai, Gerakan Pensejahteraan Petani, Gerakan Pensejahteraan Nelayan, Gerakan Pensejahteraan UMKM, kinerja ekonomi mulai bangkit lagi. Puncaknya pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi mencapai 6,79 %. Pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi sedikit melambat mencapai 6,36 %, hal ini seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat dan Indonesia. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 20

Perkembangan ekonomi suatu daerah tidak terlepas dari dinamika perkembangan ekonomi regional, nasional bahkan global. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Agam selama empat tahun terakhir diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Barat dan Nasional yaitu : Kabupaten Agam 6,26 persen, Sumatera Barat 6,19 persen dan Indonesia 6,2 persen. Pertumbuhan ekonomi setiap tahun merupakan agregat dari pertumbuhan sektor-sektor dan sub sektor ekonomi atau lapangan usaha. Untuk melihat kinerja masing-masing sektor atau sub sektor ekonomi dapat dilihat perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektoral. PDRB merupakan hasil penjumlahan dari seluruh nilai tambah (produk barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah tertentu dalam waktu tertentu). Perkembangan yang terjadi di masing-masing sektor ekonomi dapat lebih pesat atau lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan PDRB secara total. Artinya pertumbuhan nilai tambah masing-masing sektor atau sub sektor yang terjadi selama satu periode tertentu akan menunjang pertumbuhan ekonomi suatu wilayah secara keseluruhan pada periode tersebut. Untuk lebih jelasnya berikut diuraikan perkembangan PDRB Kabupaten Agam Tahun 2010-2013 baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan (Tabel II.9 dan Tabel II.10). PDRB atas dasar harga berlaku adalah PDRB yang menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada tahun bersangkutan ( harga yang terjadi setiap tahunnya ). PDRB atas dasar harga konstan adalah PDRB yang menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai tahun dasar. Penghitungan PDRB ini menggunakan Tahun 2000 sebagai tahun dasar. Tabel 9. Nilai PDRB Tahun 2010 2014 atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (Dalam Juta Rupiah). No Sektor 2010 2011 2012 2013 1 Pertanian 2 Pertambangan dan Penggalian 1.141.871,3 7 1.196.86,12 1.279.813,8 8 1.353.612,2 0 117.879,11 125.990,15 133.033,00 139.817,68 3 Industri Pengolahan 405.485,13 424.137,45 443.223,63 469.905,69 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 27.008,33 29.162,15 30.447,52 32.281,20 5 Bangunan 153.685,79 162.816,95 176.008,28 188.786,48 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran. 533.340,53 566.046,76 604.313,55 644.145,29 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 21

7 8 Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 139.707,40 150.469,43 163.937,74 177.151,65 104.610,56 110.640,60 116.092,99 125.153,38 9 Jasa-Jasa 472.586,50 513.795,25 555.975,82 594.687,43 PDRB 3.096.174,72 3.280.044,92 3.502.846,41 3.725.541,01 Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun 2010 2013 Tabel 10. Nilai PDRB per Sektor Tahun 2010 2014 atas Dasar Harga Berlaku (Dalam Juta Rupiah). No SEKTOR 2010 2011 2012 2013 1 Pertanian 2.684.119,78 2.981.350,38 3.328.798,78 3.777.862,13 2 Pertambangan dan Penggalian 268.485,57 300.371,65 338.480,89 550.412,02 3 Industri Pengolahan 682.347,62 755.116,00 855.017,87 991.283,65 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 54.330,25 58.986,71 63.085,38 69.852,24 5 Bangunan 404.662,56 463.330,55 555.312,32 636.545,88 6 7 8 Perdagangan, Hotel dan Restoran. Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 1.001.109,44 1.135.954,81 1.289.686,75 1.501.294,01 348.429,21 398.711,23 465.785,83 525.833,28 250.081,53 277.771,26 306.872,27 348.297,83 9 Jasa-Jasa 899.319,07 1.040.469,30 1.177.805,43 1.370.627,33 PDRB 6.592.885 7.412.061,863 8.381.132,69 9.772.008,38 Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun 2010 2013 Dari kedua tabel diatas terlihat bahwa PDRB Kabupaten Agam terus meningkat. Akan tetapi peningkatan PDRB ini saja belum mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara riil. Harus dilihat variabel-variabel lainnya yang akan dibahas lebih lanjut. Dari perkembangan nilai PDRB tersebut dapat dilihat laju pertumbuhan ekonomi daerah yang sesungguhnya merupakan angregat dari pertumbuhan sektor dan subsektor. Tabel 10 memperlihatkan tingkat pertumbuhan sektor dan sub sektor ekonomi tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Pertumbuhan ekonomi daerah sangat di pengaruhi oleh pertumbuhan sektor strategis yaitu sektor pertanian dan sub-sub sektornya, karena sektor tersebut memberikan kontribusi terbesar terhadap ekonomi daerah. Dapat dilihat bahwa pertumbuhan sektor pertanian yang terus meningkat dari 2010 sampai tahun 2012 mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang juga terus meningkat. Tahun 2012 ke tahun 2013 terjadi perlambatan pertumbuhan sektor pertanian yaitu dari 6,92 % Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 22

menjadi 5,77 %. Hal ini berdampak langsung sehingga pertumbuhan ekonomi juga melambat. Terdapat lima sub sektor yang membentuk nilai tambah sektor pertanian yaitu Sub sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura. Sub sektor ini terus mengalami percepatan pertumbuhan dari tahun 2010 sampai tahun 2012 yaitu : tahun 2010 tumbuh 3,16 %, tahun 2011 tumbuh sebesar 5,23 % dan tahun 2012 tumbuh sebesar 7,29 %. Sedangkan pada tahun 2013 melambat sehingga tumbuh hanya mencapai 5,69 %. Melambatnya pertumbuhan sektor ini dipicu oleh melambatnya tingkat produksi padi dan jagung. Produksi padi hanya meningkat 6.978,36 ton dari tahun 2012 ke tahun 2013 sedangkan dari tahun 2011 ke tahun 2012 meningkat meningkat sebesar 11.960,61 ton. Demikian juga halnya dengan jagung, dari tahun 2012 ke tahun 2013 produksi hanya meningkat 7.192,54 ton sedangkan dari tahun 2012 ke tahun 2013 produksi meningkat 9.899 ton. Sub sektor kedua yaitu tanaman perkebunan, sub sektor ini tumbuh berfluktuasi dari tahun 2010 sampai dengan 2013. Dari tahun 2010 ke tahun 2011 melambat signifikan yaitu dari 5,61 % menjadi 3,92 %, kemudian tumbuh lagi menjadi 6,51 % pada tahun 2012 dan sedikit melambat menjadi 6,10 pada tahun 2013. Melambatnya pertumbuhan sub sektor ini di picu oleh melambatnya pertumbuhan komoditi industri yaitu kelapa sawit dan kakao. Peningkatan produksi kelapa sawit dari tahun 2012 ke tahun 2013 sebesar 593,20 ton dan dari tahun 2011 ke tahun 2012 meningkat sebesar 4.130,67 ton. Demikian halnya dengan produksi kakao, dari tahun 2011 ke tahun 2012 meningkat sebesar 167,00 ton sedangkan dari tahun 2012 ke tahun 2013 meningkat hanya sebesar 159,70 ton. Tabel 11. Laju Pertumbuhan Sektor, Sub Sektor PDRB Tahun 2010 2013 (Persen). No SEKTOR 2010 2011 2012 2013 1 Pertanian 4.10 4.83 6.92 5.77 - Tanaman Pangan dan Hortikultura 3.16 5.23 7.29 5.69 - Tanaman Perkebunan 5.61 3.92 6.51 6.10 - Peternakan dan hasil-hasilnya 5.40 4.15 5.59 3.11 - Kehutanan 2.16 5.46 3.13 2.50 - Perikanan 3.09 7.43 8.94 9.40 2 Pertambangan dan Penggalian 7.16 6.88 5.59 5.10 - Pertambangn tanpa migas 0.0 0.0 0.0 0.0 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 23

- Penggalian 7.16 6.88 5.59 5.10 3 Industri Pengolahan 4.55 4.60 4.50 6.02 - Industri migas 0.0 0.0 0.0 0.0 - Industri Tanpa Migas 4.55 4.60 4.50 6.02 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 2.20 7.97 4.41 6.02 - Listrik 2.31 8.16 4.50 6.31 - Gas 0.0 0.0 0.0 0.0 - Air Bersih 0.42 4.86 2.82 1.01 5 Bangunan 17.64 5.94 8.10 7.26 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran. 5.06 6.13 6.76 6.59 - Perdagangan besar dan eceran 5.02 6.15 6.88 6.65 - Hotel 8.27 5.64 4.75 2.60 - Restoran 4.34 5.99 3.57 7.30 7 Pengangkutan dan Komunikasi 9.06 7.70 8.95 8.06 8 a. Angkutan. - Angkutan kereta api. - Angkutan jalan raya. - Angkutan laut, sungai, danau. - Angkutan udara 8.83 0.00 8.83 6.14 0.00 7.62 0.00 7.64 0.42 0.00 8.83 0.00 8.87 0.93 0.00 7.77 0.00 7.80 0.80 0.00 b. Komunikasi 11.02 8.39 9.96 10.41 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan - Bank - Lembaga Keuangan tanpa bank. - Sewa Bangunan - Jasa Perusahaan 4.30 5.76 4.93 7.80 7.15 4.64 3.11 4.55 7.45 5.22 5.20 5.12 5.61 5.69 4.47 4.91 10.58 7.13 9 Jasa-Jasa 6.83 8.72 8.21 6.96 - Pemerintahan Umum dan Pertanahan. - Swasta 6.65 7.97 6.80 5.40 PDRB 5.66 5.94 6.79 6.36 Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun 2010 2013 9.19 5.83 8.63 5.53 6.83 7.83 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 24

Grafik 1. Laju Pertumbuhan Sektor PDRB 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 2010 2011 2012 2013 Sub sektor ketiga yaitu peternakan dan hasil-hasilnya, sub sektor ini juga tumbuh berfluktuasi, tahun 2012 sub sektor ini tumbuh 5,59 % dan tahun 2013 pertumbuhannya melambat mencapai 3,11 %. Melambatnya pertumbuhan sub sektor ini di picu oleh penurunan pertumbuhan beberapa output ternak besar. Yang perlu mendapat perhatian adalah sub sektor perikanan yang tumbuh sangat signifikan. Tahun 2010 sub sektor ini tumbuh hanya 3,09 persen, terus meningkat sampai tahun 2013 tumbuh sebesar 9,04 persen yang didominasi oleh pertumbuhan perikanan budidaya yang didorong oleh adanya pengembangan kawasan minapolitan. Namun kedepan diharapakan dominasi perikanan budidaya akan berkurang karena berdampak pada penurunan kualitas lingkungan Danau Maninjau, sementara itu perikanan tangkap di kecamatan Tanjung Mutiara masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Selanjutnya yang menarik adalah perkembangan pertumbuhan sektor industri pengolahan. Sektor ini memang diharapkan tumbuh dengan baik terutama industri yang berbasis pengolahan hasil-hasil pertanian ( agroindustri ) karena sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan juga amanat Visi pembangunan dalam Peraturan Daerah Tentang Tata Ruang. Tahun 2010 tumbuh sebesar 4,5 persen meningkat mencapai 6,02 persen di tahun 2013. Sektor ini Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 25

diharapkan tumbuh terus karena mempunyai daya ungkit dan daya dorong untuk tumbuh dan berkembangnya sektor-sektor lainnya. Terdapat juga sektor ekonomi yang pertumbuhaannya melambat sangat signifikan yaitu sektor bangunan. Tahun 2010 sektor ini tumbuh 17,64 persen, terus melambat hingga tahun 2013 hanya tumbuh 7,26 persen. Pertumbuhan yang tinggi di tahun 2010 disebabkan oleh program Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca bencana gempa tanggal 30 September tahun 2009. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dari segi lapangan usaha pertumbuhan ekonomi di topang oleh sektor pengangkutan, jasa dan telekomunikasi, pertambangan dan perdagangan hotel dan restoran yang merupakan sektor tersier. Sektor bangunan memang mempunyai rata rata pertumbuhan yang tinggi namun dikontribusi oleh program rekonstruksi pasca gempa setelahnya cenderung melambat. Sektor pertanian yang berkontribusi terbesar terhadap pembentukan PBRB hanya tumbuh rata-rata sebesar 5,4 persen. Sementara sektor ini menyerap tenaga kerja terbanyak yaitu lebih dari 40 persen dari angkatan kerja. Disusul sektor perdagangan hotel dan restoran serta industri pengolahan yang didominasi oleh industri rumah tangga yaitu 17,4 persen dan 15,34 persen. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi tersebut sulit berkembang pesat cenderung stabil terkecuali adanya hal-hal yang ekstrim seperti bencana perubahan iklim. Pencapaian target pertumbuhan ekonomi dalam RPJM 2010-2015 sampai dengan tahun 2013 berfluktuasi, tahun 2010 dan tahun 2012 capaian pertumbuhan ekonomi dapat melebihi target, namun pada tahun 2011 dan 2013 capaian dibawah target yang ditetapkan, dapat dilihat pada grafik di bawah ini. Grafik 2. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Agam dari tahun 2009 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 26

2.1.2. Struktur Ekonomi Struktur perekonomian yang terjadi di suatu wilayah menunjukkan besar kecilnya pengaruh sektor perekonomian tertentu terhadap pembentukan PDRB di daerah tersebut. Sebagai daerah agraris struktur ekonomi Kabupaten Agam masih didominasi sektor pertanian dengan sub sektor terdiri dari tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan dan hasil-hasilnya serta perikanan. Namun kontribusi sektor ini sejak Tahun 2010 hingga Tahun 2013 memperlihatkan trend menurun. Tahun 2010 kontribusi sektor pertanian dalam membentuk PDRB adalah sebesar 40,71 %, tahun 2011 turun menjadi 40,22 % dan tahun 2012 menjadi 39,72 dan tahun 2013 turun lagi menjadi 38,66 %. Penurunan ini dipengaruhi oleh penurunan kontribusi semua sub sektor pembentuknya. Kondisi perlu mendapat perhatian khusus. Dengan struktur ekonomi yang didominasi oleh sektor pertanian, kondisi sumber daya lahan dan air serta iklim yang mendukung, Kabupaten Agam mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Berbagai jenis produk hasil pertanian dan perikanan sebagai bahan baku menjadi pendorong berkembangnya industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah produk dan menyerap tenaga kerja. Disamping itu meningkatkan produktifitas sektor pertanian juga masih sangat penting untuk menjadi perhatian, karena produktifitas pertanian di Kabupaten Agam masih relatif rendah. Masih banyak lahan-lahan terlantar yang tidak dimanfaatkan. Perlu juga dibentuk regulasi yang jelas untuk menekan alih fungsi lahan pertanian. NO 1 Tabel 12. Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2010 2014 (Dalam %). SEKTOR 2010 2011 2012 2013 ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK Pertanian 40,71 36,88 40,22 36,49 39,72 36,54 38,66 36,33 2 Pertambangan dan 4,07 3,81 4,05 3,84 4,04 3,80 5,63 3,75 Penggalian 3 Industri Pengolahan 10,35 13,10 10,19 12,93 10,20 12,65 10,14 12,61 4 Listrik, Gas dan Air 0,82 0,87 0,80 0,89 0,75 0,87 0,71 0,87 Bersih 5 Bangunan 6,14 4,96 6,25 4,96 6,63 5,02 6,51 5,07 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran. 15,18 17,23 15,33 17,26 15,39 17,25 15,36 17,29 7 Pengangkutan dan Komunikasi 5,28 4,51 5,38 4,59 5,56 4,68 5,38 4,76 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 3,79 3,38 3,75 3,37 3,66 3,31 3,56 3,36 9 Jasa-Jasa 13,64 15,26 14,04 15,66 14,05 15,87 14,03 15,96 PDRB 100 100 100 100 100 100 100 100 Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun 2010 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 27

Sektor kedua yang memberikan kontribusi terbesar dalam membentuk PDRB adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran. Kontribusi sektor ini dari tahun 2010 sampai tahun 2012 terus meningkat, namun tahun 2013 sedikit menurun. Sektor ini merupakan sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan. Tantangan berat pengembangan sektor ini adalah bagaimana membenahi objek wisata yang cukup banyak dan beragam menyebar hampir di seluruh wilayah. Sektor ketiga yang memberikan kontribusi terbesar dalam membentuk PDRB adalah sektor jasa-jasa, sama halnya dengan sektor perdagangan, hotel dan restoran, dari tahun 2010 kontribusinya terus meningkat sampai tahun 2012 tetapi di tahun 2013 sedikit menurun. Diantara sub sektor pembentuknya, hanya sub sektor jasa pemerintahan umum dan jasa penunjang yang kontribusinya terus meningkat. Sektor industri pengolahan merupakan sektor keempat yang kontribusinya cukup besar dalam pembentukan nilai tambah PDRB. Tahun 2010 kontibusinya 10,35 %, Tahun 2011 sebesar 10,19 %, Tahun 2012 sebesar 10,20 %, dan Tahun 2013 sebesar 10,14 %. Sektor ini didominasi sub sektor industri non migas. Sektor ini diharapkan dapat tumbuh lebih cepat dan memberikan kontribusi yang terus meningkat. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa selama empat tahun terdapat empat lapangan usaha yang memberikan rata-rata kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB yaitu pertanian dengan rata-rata kontribusi 39,83 persen, perdagangan hotel dan restoran 15,31 persen, jasa-jasa 13,94 dan industri pengolahan 10,22 persen. Ke-empat lapangan usaha ini memang mempunyai saling keterkaitan. 2.1.3. PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk digunakan indikator lain yaitu Produk Domestik Regional Bruto Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita. PDRB perkapita merupakan hasil bagi antara nilai nominal PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun pada masing-masing tahun yang sama. Pendapatan Regional Perkapita diperoleh setelah PDRB dikurangi penyusutan pajak tak langsung netto serta transfer netto kemudian dibagi jumlah penduduk pertengahan tahun. Terdapat 2 (dua) jenis penilaian produk domestik regional bruto (PDRB) yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. Penyajian PDRB atas dasar harga konstan mengalami perubahan mendasar sebagai konsekuensi logis berubahnya tahun dasar yang digunakan. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 28

Secara umum PDRB perkapita selalu mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh lebih tingginya peningkatan PDRB dibandingkan dengan peningkatan jumlah penduduk. Tabel 13 berikut memperlihatkan PDRB perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Kabupaten Agam Tahun 2010-2013 berdasarkan harga berlaku dan harga konstan. Tabel 13. PDRB Perkapita dan Pendapatan Regional Perkapita Tahun 2010 2013 Berdasarkan Harga Berlaku (ribu rupiah) Tahun PDRB Perkapita Perubahan ( % ) Pendapatan regional Perkapita Perubahan ( % ) 2010 14.494,540 12,18 14.089,737 12,18 2011 16.104,286 11,11 15.654,526 11,11 2012 18.073,112 11,22 17.568,367 11,22 2013 20.835,839 15,29 20.253,936 15,29 Sumber : PDRB Kabupaten Agam Tahun 2010-2013 Dari Tabel 13 diatas terlihat bahwa PDRB perkapita Tahun 2010 mencapai 14.494 juta rupiah. Nilai ini meningkat dari tahun sebelumnya. Pendapatan Regional Perkapita Tahun 2011 sebesar 15,65 juta rupiah meningkat dari Tahun yang nilainya hanya 14,09 juta rupiah. Grafik 3 Pendapatan Regional Perkapita Aras Harga Berlaku Tahun 2007-20013 Namun peningkatan PDRB perkapita saja belumlah cukup untuk menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena peningkatan PDRB Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 29

belum tentu dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, maka diperlukan indikator lain seperti Indeks Gini yang mengukur ketimpangan pendapatan yang terjadi di suatu wilayah. Indeks Gini adalah ukuran ketidak seimbangan atau ketimpangan yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Dari Tabel 13 diatas terlihat bahwa peningkatan pendapatan perkapita dari tahun 2011 ke tahun 2012 diikuti oleh meningkatnya Indeks Gini dari 0,277 menjadi 0,3139. Hal ini mengindikasikan bahwa kemerataan pendapatan di Kabupaten Agam semakin berkurang. Kalau dilihat kinerja ekonomi Kabupaten Agam dalam perspektif ekonomi Sumatera Barat tahun 2013 dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Agam termasuk daerah yang pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita cukup tinggi dengan ketimpangan pendapatan yang rendah. Dapat dilihat pada Tabel 14 di bawah ini. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 30

Nomor Kabupaten/Kota Tabel 14. Pertumbuhan Ekonomi ( %), PDRB Per Kapita (Rp. Juta), Dan Koefisien Gini Kabupaten Agam Di Bandingkan Dengan Kabupaten/Kota Sumatera Barat tahun 2011-2013. Pertumbuhan Ekonomi 2011 2012 2013 PDRB Perkapita Koefisien Gini Pertumbuhan Ekonomi PDRB Perkapita Koefisien Gini Pertumbuhan Ekonomi PDRB Perkapita Koefisien Gini Kabupaten 1 Kepulauan Mentawai 4.92 21,14 0.326 5.25 23,37 0.3361 5,51 25.30 0.326 2 Pesisir Selatan 5.48 12,05 0.264 5.66 13,33 0.2822 5,87 1.50 0.259 3 Solok 6.13 17,26 0.285 6.26 19,22 0.3568 6,29 21.82 0.283 4 Sijunjung 5.74 16,74 0.299 6.08 18,44 0.2982 6,13 20.32 0.287 5 Tanah Datar 5.84 17,77 0.345 5.71 19,79 0.3107 5,93 22.50 0.300 6 Padang Pariaman 5.50 17,64 0.314 6.03 19,67 0.3103 6,67 22.81 0.284 7 Agam 5.94 16,10 0.277 6.82 18,07 0.3139 6,36 20.81 0.265 8 Lima Puluh Kota 6.31 20,30 0.255 6.37 22,44 0.3138 6,27 25.52 0.234 9 Pasaman 6.15 14,60 0.291 6.16 16,47 0.2904 6,13 18.44 0.286 10 Solok Selatan 6.35 11,12 0.292 6.44 12,57 0.3079 6,36 13.95 0.317 11 Dharmasraya 6.54 15,84 0.369 6.62 17,36 0.4254 6,55 18.71 0.340 12 Pasaman Barat 6.42 19,54 0.268 6.47 21,91 0.2771 6,54 24.06 0.255 Kota 13 Padang 6.41 32,66 0.304 6.61 35,93 0.3276 6,45 40.90 0.365 14 Solok 6.07 20,41 0.345 6.33 22,37 0.3168 6,40 24.76 0.324 15 Sawah Lunto 5.86 22,14 0.336 5.98 24,55 0.3916 6,01 27.64 0.299 16 Padang Panjang 6.14 22,22 0.399 6.24 24,40 0.4477 6,14 27.23 0.291 17 Bukittinggi 6.23 21,72 0.329 6.39 23,69 0.3196 6,22 26.23 0.371 18 Payakumbuh 6.79 18,25 0.320 6.82 20,18 0.3642 6,72 22.27 0.398 19 Pariaman 5.98 22,29 0.349 6.02 25,09 0.3821 6,05 28.37 0.401 Sumatera Barat 6.25 20,18 0.329 6.35 22,21 0.3498 25.09 0.338 Sumber : Sumatera Barat Dalam Angka tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 31

2. 3. 2.1.4. Ketimpangan Wilayah Untuk mengetahui ketimpangan pembangunan antar kecamatan yang terjadi pada suatu wilayah dalam hal ini Kabupaten Agam, dapat dianalisis dengan mengunakan indeks ketimpangan regional (regional in equality) yang dinamakan indeks ketimpangan Williamson. Untuk mengetahui besarnya ketimpangan yang terjadi maka diperlukan tingkat ketimpangan antar wilayah dengan kriteria sebagai berikut: Indeks Ketimpangan >1 Sangat Tinggi 0,7-1 Tinggi 0,4-0,69 Menengah 0,39 Rendah Tabel 15. Indeks Ketimpangan Wilayah di Kabupaten Agam tahun 2013 Nomor Kecamatan Jumlah Penduduk PDRB Perkapita (Rp. Juta ) Indeks Ketimpangan 1 Tanjung Mutiara 29059 18.1 18.1 2 Lubuk Basung 70089 24.5 3 Ampek Nagari 23596 21.5 4 Tanjung Raya 33550 25.5 5 Matur 16705 20.1 6 IV Koto 23043 18.4 7 Malalak 9065 18.0 8 Banuhampu 37697 18.6 9 Sungai Pua 23495 18.2 10 Ampek Angkek 45255 18.4 11 Canduang 22073 15.7 12 Baso 33114 17.0 13 Tilatang Kamang 34921 17.8 14 Kamang Magek 19933 21.1 15 Palembayan 28995 28.0 16 Palupuh 13129 18.9 TOTAL 463719 20.6 0.169 Sumber : Kajian Ketimpangan Pembangunan Ekonomi Kabupaten Agam Tahun 2013. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 32

Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat disparitas regional atau tingkat ketimpangan pembangunan yang terjadi antar kecamatan di Kabupaten Agam pada tingkat ketimpangan menengah yaitu 0,169 yang artinya ketimpangan distribusi pendapatan antar kecamatan condong merata. Sedangkan kalau dilihat ketimpangan di tingkat kecamatan rata-rata berada pada ketimpangan yang rendah dengan indeks kecil dari 0,39. 2.1.5. Produktivitas Total Daerah Produktivitas total daerah dihitung untuk mengetahui tingkat produktivitas tiap sector/lapangan usaha per angkatan kerja yang menunjukkan seberapa produktif tiap angkatan kerja itu dalam mendorong ekonomi daerah per sektor. Produktivitas Total Daerah dapat di ketahui dengan menghitung produktivitas daerah per sektor di bagi dengan jumlah angkatan kerja dalam sektor yang bersangkutan. Tabel 16I. menunjukkan produktivitas total daerah yang dihitung berdasarkan lapangan usaha PDRB. Tabel 16. Produktivitas Sektor dan Produktivitas Total Daerah Tahun 2010 2013 ( Rp. Juta ) No Lapangan usaha 2010 2011 2012 2013 1 Pertanian 26,39 35,25 35,70 46,54 2 Industri Pengolahan 31,37 23,77 24,61 42,88 3 Perdagangan, hotel dan restoran. 26,38 31,83 32,11 35,55 4 Jasa-jasa 42,95 37,93 44,94 61,79 Produktivitas Total Daerah 31,77 32,195 34,34 46,69 Sumber : Data diolah. Dari tabel diatas terlihat bahwa dari Tahun 2010 produktivitas total daerah terus meningkat. Dari tahun 2012 ke tahun 2013 terdapat peningkatan produktifitas total daerah yang tinggi yang di dorong oleh meningkatnya produktifitas di sektor jasa-jasa. Sektor industri pengolahan juga memperlihatkan peningkatan produktifitas yang signifikan, disusul sektor pertanian. 2.1.6. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Perkapita. Pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita adalah rata-rata biaya yang di keluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga selama sebulan dibagi dengan banyaknya anggota rumah tangga. Pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita merupakan salah satu indikator penting dalam melihat tingkat Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 33

kesejahteraan penduduk, yaitu dengan mengelompokkan suatu daerah berdasarkan besarnya rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita. Apabila dari komposisi penduduk tersebut ternyata jumlah penduduk terbesar berada pada golongan pengeluaran yang tinggi, hal ini mencerminkan tingkat ekonomi penduduk yang baik. Sebalikknya apabila sebagian besar penduduk tersebut berada pada golongan pengeluaran nyang rendah mencerminkan tingkat ekonomi yang rendah pula. Tabel berikut memperlihatkan persentase penduduk Kabupaten Agam menurut golongan pengeluaran per kapita per bulan hasil Susenas Tahun 2007 dan 2009. Tabel 17. Persentase Penduduk Menurut Golongan Pengeluaran Perkapita Perbulan. Golongan Persentase Penduduk. No Pengeluaran ( Rupiah ) 2007 2009 2012 2013 1 Kurang dari 100.000 0.65 0.00 0 0 2 100.000-149.999 10.10 1,64 0 0 3 150.000-199.999 20.01 8,07 0,27 0,2 4 200.000-299.999 31.86 32.98 10,52 8,58 5 300.000-499.999 27.55 41.10 39,21 37,50 6 500.000 dan lebih. 9,83 16.22 50 53,00 Total 100 100 100 100 Sumber : BPS Provinsi Sumatera Barat. Dari tabel diatas terlihat bahwa komposisi penduduk Kabupaten Agam terbesar berada pada tingkat pengeluaran sedang sampai tinggi. Apabila dibandingkan hasil Susenas Tahun 2007, 2009 dengan tahun 2012 dan 2013 memperlihatkan bahwa terjadi pergeseran komposisi penduduk yang signifikan kearah yang lebih baik. Pada Tahun 2012 persentase penduduk pada golongan pengeluaran rendah jauh berkurang dan persentase penduduk dengan golongan pengeluaran sedang dan tinggi meningkat. Hal ini menunjukkan daya saing perekonomian Kabupaten Agam juga meningkat. 2.1.7. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Makanan dan Non Makanan. Pengeluaran rumah tangga dapat digolongkan menjadi dua yaitu pengeluaran konsumsi makanan dan pengeluaran konsumsi non makanan. Makanan mencakup seluruh jenis makanan termasuk makanan jadi, minuman, tembakau dan sirih. Non makanan mencakup perumahan, sandang, biaya kesehatan, biaya pendidikan dan sebagainya. Statistik pengeluaran rumah tangga di Kabupaten Agam menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga dari Tahun 2010 2013 memperlihatkan peningkatan namun masih terfokus untuk untuk memenuhi kebutuhan makanan. Hal Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 34

ini mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk masih kurang. Hanya sebagian kecil dari pengeluaran rumah tangga yang dialokasikan untuk kesehatan, pendidikan dan lain-lain apalagi untuk tabungan. Pada Tabel dibawah ini memperlihatkan perkembangan pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk pangan dan non pangan. Tahun Tabel 18. Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga untuk Makanan dan Non Makanan Tahun 2010 2013. Total Pengeluaran Rumah Tangga 2010 421.547 254.613 2011 512.200 318.489 2012 624.623 364.679 Konsumsi Makanan Konsumsi Non Makanan Rupiah/kapita Persentase Rupiah/kapita Persentase 60.40 62.18 58.38 166.934 193.711 259.944 39.60 37.82 41.62 2013 649.216 402.458 62.00 246.758 38.00 Sumber : Agam Dalam Angka Kabupaten Agam 2013. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa persentase pengeluaran makanan dari tahun 2011 ke tahun 2012 menurun signifikan namun masih didominasi oleh pengeluaran makanan. Dari tahun 2012 ke tahun 2013 pesentase pengeluaran untuk makanan kembali meningkat. Kondisi ini belum tentu memperlihatkan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk semakin berkurang, tetapi dapat disebabkan karena adanya program-program jaminan kesehatan dan pembebasan biaya pendidikan serta dampak inflasi. 2.1.8. Nilai Tukar Petani. Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani dengan mengukur kemampuan tukar produk (komoditas) yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi (usaha) maupun untuk konsumsi rumah tangga. Nilai Tukar Petani dapat dihitung dengan membandingkan faktor produksi dengan produk, yaitu perbandingan antara indeks yang diterima (It) petani dan yang dibayar (Ib) petani. Ada tiga tingkatan NTP, jika lebih besar dari 100 berari petani mengalami surplus, harga produksinya naik lebih besar dari harga konsumsinya, pendapatan petani lebih besar dari pengeluaranya. NTP = 100 bearti petani mengalami impas. Kenaikan atau penurunan harga barang produksinya sama dengan kenaikan atau penurunan barang konsumsinya dan jika NTP kecil dari seratus berarti petani Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 35

mengalami defisit, kenaikan harga barang yang diproduksinya lebih kecil dari kenaikan harga barang konsumsinya. Dari hasil perhitungan oleh BPS Propinsi Sumatera Barat yang melakukan survey di sebelas kabupaten setiap tahun memperlihatkan bahwa nilai tukar petani berfluktuasi, sangat dipengaruhi inflasi. Dapat dilihat pada Tabel 19 berikut : Tahun Tabel 19. Nilai Tukar Petani Tahun 2010-2013 (Persen) Indeks yang diterima Indeks yang dibayar Indeks konsumsi rumah tangga Indeks BPPBM NTP 2010 132,98 126,07 127,70 121,18 105,48 2011 141,05 132,75 135,42 124,55 106,25 2012 144,54 137,63 141,01 127,24 105,03 2013 150,29 144,23 148,68 130,42 104,21 Sumber : Nilai Tukar Petani, Publikasi BPS Sumatera Barat 2013. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa NTP dari tahun 2011 ke tahun 2013 cenderung menurun. Hal ini sangat dipengaruhi oleh relatif stabilnya rata-rata harga produk pertanian (dalam waktu yang sama ada produk yang harganya naik, tetapi ada pula produk yang harganya turun ) sementara harga faktor produksi cenderung menaik. Hal ini perlu mendapat perhatian oleh Pemerintah Daerah karena menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani tidak meningkat. NTP juga dihitung menurut sub sektor pertanian, dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 20. Nilai Tukar Petani menurut Sub Sektor Tahun 2010-2013 (Persen) Nomor Sub Sektor 2010 2011 2012 2013 1 Padi, palawija 98,11 97,82 95,29 93,07 2 Hortikultura 103,07 105,84 104,87 102,47 3 Perkebunan 125,68 129,02 130,06 132,63 4 Peternakan 99,58 100,39 100,29 97,94 5 Perikanan 112,34 110,75 110,38 113,32 Sumber : Nilai Tukar Petani, Publikasi BPS Sumatera Barat 2013. Dari tabel diatas terlihat bahwa NTP sub sektor padi/palawija ( tanaman Pangan ) masih berada di bawah 100 persen yang artinya petani tanaman pangan cenderung merugi bahkan NTP-nya cenderung turun. Hal ini sangat penting menjadi perhatian, karena akan mempengaruhi animo masyarakat petani untuk menanam Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 36

tanaman pangan dan juga berdampak terhadap laju pertumbuhan produksi tanaman pangan dan laju pertumbuhan ekonomi karena sub sektor tanaman pangan mempunyai kontribusi yang besar terhadap PDRB. 2.1.9. Nilai Investasi 1) Perkembangan Nilai Investasi. No Tabel 21. Perkembangan Nilai Investasi Perlapangan Usaha Tahun 2010-2014 Lapangan Usaha Nilai Investasi ( Rp. Juta) 2010 2011 2013 2014 1 Pertanian 166.680,26 146.670,34 245.699,63 612.690,75 2 Pertambangan dan Penggalian 35.440,77 51.333,99 46.891,91 42.437,80 3 Industri Pengolahan 261.226,42 273.027,84 298.927,82 400.564,32 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 9.748,81 31.665,22 17.751,06 25.575,76 5 Bangunan 131.761,64 104.845,67 158.001,65 142.300,79 6 Perdagangan, Hotel dan 175.010,47 247.036,48 315.032,59 321.282,54 Restoran. 7 Pengangkutan dan Komunikasi 109.603,14 128.178,62 157.215,15 131.401,58 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 38.096,73 45.525,55 44.769,10 119.457,92 9 Jasa-Jasa 219.850,44 458.573,44 486.325,40 292.506,17 Total nilai investasi 1.147.419 1.486.857,15 1.770.614,30 2.088.217,62 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 37

Grafik 4. Nilai Investasi Kabupaten Agam persektor Tahun 2010-2013 2.1.10. Ketenagakerjaan. 1). Tingkat Pengangguran Terbuka Seiring dengan perkembanngan jumlah penduduk maka jumlah penduduk usia kerja juga bertambah. Penduduk usia kerja dibedakan antara penduduk angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun lebih) yang berkerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka merupakan perbandingan antara pencari kerja dengan angkatan kerja. Tabel 22 memperlihatkan persentase angkatan kerja dan bukan angkatan kerja menurut kegiatan utamanya. Dari tabel tersebut dapat dilihat persentase tingkat pengangguran terbuka berfluktuasi. Dari tahun 2010 ke tahun 2011 terjadi peningkatan persentase pengangguran terbuka menjadi 6,16 persen, tahun 2012 munurun cukup signifikan menjadi 3,71 persen, namun pada tahun 2013 meningkat lagi menjadi 5,46 persen. Tingkat pengangguran ini lebih kecil dibandingkan tingkat Provinsi Sumatera Barat yaitu 6,33% dan tingkat nasional pengangguran sebesar 5,92%. Dalam RPJM 2010-2015 target tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2015 adalah 3,1 persen, maka hal ini menjadi tantangan serius bagi Pemerintah Daerah untuk mencapainya Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 38

karena dari tren perkembangan tingkat pengangguran terbuka selama empat tahun berfluktuasi. Tabel 22. Persentase Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kegiatan Utama Tahun 2010-2013. No. Jenis Kegiatan 2010 2011 2012 2013*) Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % A. Angkatan kerja 210.032 67,54 206.260 65,61 223.404 70,02 199.298 62,35 1. Bekerja 198.354 94,44 193.554 93,84 215.123 96,29 188.416 94,54 2. B. Tidak bekerja /pengangguran Bukan Angkatan Kerja 11.678 5,56 12.706 6,16 8.281 3,71 10.882 5,46 100.942 32,46 108.113 34,39 95.673 29,98 120.363 37,65 1. Sekolah 29.162 28,89 27.234 25,19 34.665 36,23 25.070 20,83 2. Mengurus Rumah Tangga 50.622 50,15 56.348 52,12 43.023 44,97 50.336 41,82 3. Lainnya 21.157 20,96 24.520 22,68 17.985 18,80 44.957 37,35 Total Penduduk usia 15 tahun lebih. 31.0974 314.373 319.077 319.661 Sumber Agam Dalam Angka 2010 2013. *) Angka sementara. 2) Angka Ketergantungan. Angka ketergantungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara penduduk usia tidak produktif ( dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun ) dengan jumlah penduduk usia produktif ( usia 15 sampai 64 tahun ) dikalikan seratus. Angka ini menunjukkan setiap penduduk usia produktif/kerja akan menanggung sejumlah penduduk usia tidak produktif. Tabel 23 memperlihatkan bahwa angka ketergantungan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 semakin menurun, maka hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk meningkat jika diringi dengan peningkatan kesempatan kerja. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 39

Tabel 23. Rasio Ketergantungan Tahun 2010 sampai dengan 2013. No Uraian 2010 2011 2012 2013 1. Jumlah Penduduk Usia < 15 tahun 144.509 144.782 147.268 142.192 2. Jumlah Penduduk usia > 64 tahun 37.542 37.737 37.864 25.294 3. Jumlah Penduduk Usia Tidak Produktif (1) & (2) 182.051 182.519 185.132 167.486 4. Jumlah Penduduk Usia 15-64 tahun 273.433 276.636 278.587 300.078 5. Rasio ketergantungan (3) / (4) 0,67 0,66 0,66 0,56 3) Kualitas Tenaga Kerja. Kualitas tenaga kerja dapat ditunjukkan oleh tingkat pendidikan yang ditamatkan. Semakin baik tingkat pendidikan yang ditamatkan maka kualitas tenaga akan semakin baik pula, dan semakin spesifik pendidikan yang NO 1. Tabel 24. Tenaga Kerja Menurut Jenjang Pendidikan Yang Ditamatkan Tahun 2010-2012 Uraian Jumlah Belum Pernah sekolah/tidak tamat SD Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Jiwa % Jiwa % Jiwa % 57.911 26.92 60.386 28.07 6.041 27,04 2. Jumlah lulusan SD 49,801 23.15 42,766 19.88 4.810 21,53 3. Julah lulusan SLTP 39,669 18.44 47,585 22.12 4.064 18,19 4. Jumlah lulusan SLTA 34,075 15.84 30,117 14.00 3.440 15,40 5. 6. Jumlah lulusan SLTA Kejuruan Jumlah lulusan Diploma I/II/III 17,296 8.04 19,598 9.11 2.171 9,72 6,518 3.03 6,066 2.82 643 2,88 7. Jumlah lulusan Universitas 9,853 4.58 8,605 4.00 1.170 5,24 Jumlah Angakatan Kerja Yang Berkerja 207,776 100 215,123 100 223,404 100 c) Persentase Penduduk Menurut Lapangan Usaha. Persentase penduduk menurut jenis pekerjaan dilihat jumlah angkatan kerja yang bekerja menurut lapangan usaha dikalikan seratus. Lapangan usaha dikelompokkan menjadi empat lapangan usaha utama yang berkontribusi besar terhadap PDRB. Kelompok Lainnya terdiri dari lapangan usaha pertambangan, listrik, gas, air minum, bangunan, angkutan, pergudangan, tanah dan jasa perusahaan. Perkembangan persentase penduduk menurut lapangan usaha dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 40

Tabel 25. Persentase Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010 2013*) Nomor Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 1 Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 48,43 41,0 41.74 42.07 2 Industri Pengolahan 10,29 15,4 15.55 11.24 3 Perdagangan, Hotel, restoran 18,07 17,3 17.98 3.60 4 Jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan. 13,24 13,0 11.73 21.18 5 Lainnya 9,97 13,3 13 0.86 Total 100 100 100 100 Sumber : BPS Kabupaten Agam Tahun 2013 Dari tabel diatas terlihat bahwa sebagian besar penduduk hidup dengan mata pencaharian bertani. 2.1.11. Tingkat Kemiskinan. Untuk mengukur kemiskinan, digunakan konsep kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidak mampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Metode yang digunakan adalah menetapkan Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penghitungan garis kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan Makanan merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kalori per kapita per hari. Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya. Garis Kemiskinana ditetapkan oleh Pemerintah setiap tahun, dapat dilihat pada Tabel 26. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 41

Tabel 26. Garis Kemiskinan dan Jumlah Penduduk Miskin Tahun 2002-2013. Tahun Garis Kemiskinan (Rp/kapita/bulan) Jumlah penduduk miskin (ribu) Persentase 2002 95.504 53.50 12.89 2003 123.800 57.90 13.61 2004 128.059 57.20 13.40 2005 131.255 56.00 13.36 2006 179.987 59.40 13.93 2007 155.561 51.10 12.59 2008 193.185 45.30 11.20 2009 201.074 39.68 9.86 2010 226.015 44.90 9.85 2011 241.355 43.28 9.39 2012 257.736 38.443 8.4 2013 270.035 35.488 7.6 Sumber BPS Kabupaten Agam. RPJM 2010-2015 menetapkan target penurunan tingkat kemiskinan 2,5 persen pertahun dari jumlah rumah tangga miskin yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati tahun 2010 sebanyak 18.868 rumah tangga. Grafik 5 di bawah ini menggambarkan perbandingan persentase tingkat kemiskinan Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat dan Indonesia. Selanjutnya berdasarkan hasil pendataan Program Perlindungan Sosial ( PPLS ) tahun 2011 yang mendata 30 % penduduk dengan pendapatan terendah, terdapat rumah tangga dengan jumlah berpendapatan terendah yaitu 37.894 rumah tangga. Sebanyak 7.237 rumah tangga diantaranya termasuk klasifikasi sangat miskin dan miskin, sisanya rentan miskin. Tabel II-23 di bawah ini memperlihatkan jumlah rumah tangga sasaran hasil pendataan PPLS 2011. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 42

Grafik 5. Tingkat Kemiskinan Kabupaten Agam Tahun 2010-2013 Tabel 27. Jumlah Rumah Tangga Sasaran PPLS 2011 Menurut Klasifikasi Kemiskinan dan Kecamatan di Kabupaten Agam. Nama Kecamatan Sangat Miskin Miskin Hampir Miskin Rentan Miskin lainnya Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Total % Tanjung Mutiara 380 10.68 291 7.91 544 5.53 708 3.40 1,923 5.07 Lubuk Basung 668 18.78 568 15.43 1,322 13.43 2,149 10.33 4,707 12.42 IV Nagari 321 9.02 274 7.45 574 5.83 680 3.27 1,849 4.88 Tanjung Raya 208 5.85 261 7.09 735 7.47 1,813 8.71 3,017 7.96 Matur 113 3.18 143 3.89 554 5.63 1,586 7.62 2,396 6.32 IV Koto 233 6.55 221 6.01 629 6.39 1,164 5.59 2,247 5.93 Malalak 74 2.08 113 3.07 372 3.78 818 3.93 1,377 3.63 Banuhampu 135 3.80 157 4.27 495 5.03 987 4.74 1,774 4.68 Sungai Pua 206 5.79 199 5.41 425 4.32 609 2.93 1,439 3.80 IV Angkek 93 2.61 128 3.48 407 4.13 1,309 6.29 1,937 5.11 Canduang 168 4.72 193 5.24 508 5.16 937 4.50 1,806 4.77 Baso 146 4.10 211 5.73 703 7.14 2,220 10.67 3,280 8.66 Tilatang Kamang 48 1.35 91 2.47 376 3.82 1,888 9.07 2,403 6.34 Kamang Magek 98 2.76 138 3.75 420 4.27 1,050 5.05 1,706 4.50 Palembayan 448 12.59 428 11.63 1,063 10.80 1,907 9.16 3,846 10.15 Palupuah 218 6.13 264 7.17 718 7.29 987 4.74 2,187 5.77 Total 3,557 100. 3,680 100. 9,845 100. 20,812 100. 37,894 100. Sumber : TKPK Kabupaten Agam. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 43

2.1.12. Nilai Investasi Daerah. 1). Jumlah Kegiatan Penanaman ModaI (PMDN / PMA) Investasi merupakan selisih antara stok capital pada tahun ke t dengan tahun sebelumnya ( t 1 ) sebelum dikurangi dengan penyusutan. Investasi dapat dirinci menurut institusi yang menanamkan modal yaitu : investasi pemerintah, investasi swasta dan investasi rumah tangga. Investasi Pemerintah merupakan investasi yang dilakukan oleh Pemerintah, BUMN dan BUMD. Investasi swasta dapat dibedakan atas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Sedangkan investasi rumah tangga meliputi investasi fisik, bangunan tempat tinggal, alat-alat produksi dan investasi finansial. Di Kabupaten Agam kegiatan investasi lebih didominasi oleh investasi rumah tangga dan investasi swasta berskala lokal yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. PMDN yang berskala nasional tidak terjadi penambahan selama Tahun 2010-2013. Realisasi jumlah kegiatan PMDN/PMA Tahun 2010 sampai dengan 2013 adalah sebagaimana tabel berikut: Tabel 28. Jumlah Proyek PMDN/PMA Tahun 2010-2013 Tahun Jumlah Kegiatan PMDN Jumlah Kegiatan PMA Total 2010 11 4 15 2011 89 3 92 2012 277 0 277 2013 267 0 267 Sumber : KPT Kabupaten Agam Tahun 2010-2013 Dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah kegiatan penanaman modal dalam negeri dari tahun 2010 sampai tahun 2012 meningkat sangat signifikan, baik yang mendapat fasilitas maupun yang non fasilitas. Namun dari tahun 2012 ke tahun 2013 jumlah kegiatan penanaman modal justru menurun. 2) Perkembangan Nilai Investasi. Keberhasilan pertumbuhan ekonomi suatu daerah tidak dapat dipisahkan dari terjadinya perkembangan investasi dari tahun ke tahun. Karena investasi dapat mendorong kenaikan output secara signifikan dan secara langsung juga meningkatkan permintaan terhadap input, meningkatkan serapan tenaga kerja dan ada gilirannya meningkatkan pendapatan masyarakat. Nilai investasi yang terbentuk di Kabupaten Agam dari tahun 2003 hingga 2013 terus mengalami perkembangan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 44

baik dilihat menurut harga berlaku maupun menurut harga konstan 2000. Jika dilihat menurut harga berlaku nilai investasi yang terbentuk pada tahun 2003 adalah sebesar 417,65 milliar rupiah. Pada tahun 2004 meningkat menjadi 454,88 milliar rupiah. Nilai ini terus mengalami peningkatan menjadi 2.008,22 milliar rupiah di tahun 2013. Tabel 29. Nilai Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) Tahun 2003-2013 Tahun Atas DasarHarga Berlaku (Rp. Milyar) Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Rp. Milyar) 2003 417.649 336.244 2004 454.879 346.138 2005 515.816 358.032 2006 575.442 371.119 2007 715.582 405.228 2008* 800.278 437.844 2009* 951.892 478.742 2010* 1.147.419 564.430 2011* 1.486.857 569.025 2012** 1.770.614 624.923 2013*** 2.088.218 717.019 Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara *** Angka sangat sementara Pertumbuhan investasi di Kabupaten Agam menurut harga konstan terus mengalami fluktuasi dari tahun 2004 hingga 2013. Puncak pertumbuhan investasi terjadi di tahun 2010, dimana pada tahun tersebut terdapat banyak aliran dana untuk rekonstruksi pasca gempa yang yang terjadi di tahun 2009. Kabupaten Agam merupakan wilayah yang cukup parah terkena dampak gempa, sehingga bantuan dari pemerintah, LSM, maupun dari masyarakat banyak yang mengalir untuk rekonstruksi bangunan. Kemudian di tahun 2011 pertumbuhan kembali melambat, dan ditahun 2012 hingga 2013 kembali meningkat tajam. Pada tahun 2013 pertumbuhan investasi di Kabupaten Agam mencapai 14,74 persen Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 45

Grafik 6. Pertumbuhan Investasi ADHK Periode 2003 2013(Persen) 3) Struktur Investasi Menurut Lapangan Usaha Dilihat dari struktur investasi secara lengkap menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku dari tahun 2003-2013. Secara total sektor jasa-jasa merupakan sektor yang menyerap investasi terbesar di Kabupaten Agam selama periode 2003-2013. Secara total selama periode 2003-2013 sektor tersebut menyerap sekitar 20,69 persen dari total investasi yang ada di Kabupaten Agam. Jika dilihat menurut tahun, distribusi penyerapan investasi pada sektor jasa-jasa cukup berfluktuasi. Distribusi tertinggi terjadi di tahun 2011 dengan persentase mencapai 30,84 persen. Pada tahun 2013 distribusi penyerapan investasi pada sektor jasa-jasa hanya sekitar 14,01 persen. Di urutan kedua adalah investasi di sektor industri. Secara total dari periode 2003-2013 sektor ini menyerap 20,21 persen dari total investasi yang terjadi di Kabupaten Agam. Jika dilihat menurut tahun, penyerapan investasi mencapai puncaknya terjadi di tahun 2009 dimana sektor ini mampu menyerap hingga 23,28 persen dari total investasi yang ada di tahun tersebut. Pada tahun 2013 distribusi investasi yang terserap pada sektor tersebut mencapai 19,18 persen. Yang ketiga adalah sektor pertanian. Secara total sektor pertanian selama periode 2002-2013 mampu menyerap investasi sebesar 17,05 persen dari total investasi yang terjadi selama periode tersebut. Dilihat menurut tahun, distribusi penyerapan investasi di sektor pertanian terus berfluktuasi, hingga mencapai puncaknya pada tahun 2013 dengan penyerapan investasi di sektor pertanian mencapai 29,34 persen. Sektor yang mampu menyerap investasi dengan distribusi yang juga cukup besar adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor ini secara total selama periode 2002-2013 telah menyerap sekitar 16,66 persen investasi, dari total investasi Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 46

yang tercipta di Kabupaten Agam selama periode 2003-2013. Penyerapan investasi pada sektor ini juga berfluktuasi setiap tahunnya. Puncak penyerapan investasi terjadi di tahun 2003 dan 2005 dengan penyerapan investasi mencapai 18,24 persen. Selain empat sektor diatas, distribusi penyerapan investasi pada lima sektor lainnya berada dibawah lima persen. Berikut adalah distribusi penyerapan investasi secara total bagi sektor-sektor tersebut selama periode 2003-3013. Distribusi investasi pada sektor pertambangan dan penggalian mencapai 3,04 persen, pada sektor listrik, gas, dan air bersih mencapai 1,90 persen. Grafik 7 Struktur Investasi Menurut Lapangan Usaha Kumulatif Tahun 2003-2013 (Persen) Keterangan : 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran Perikanan 2. Pertambangan dan Penggalian 7 Pengangkutan & Komunikasi 3. 4. Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Minum 5. Bangunan 9. Jasa-Jasa 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Distribusi penyerapan investasi pada sektor bangunan adalah sebesar 8,33 persen. Sektor pengangkutan dan komunikasi selama periode 2003-2013 mampu menyerap investasi sebesar 8,66 persen. Terakhir, distribusi persentase penyerapan investasi pada sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang mencapai 3,46 persen selama periode 2003-2013. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 47

4) Struktur Investasi Menurut Institusi Struktur investasi yang dirinci menurut institusi dikelompokkan menjadi 3 institusi yaitu Pemerintah Umum, BUMN/D dan Swasta, dan rumahtangga. Secara total pada periode 2003-2013 Institusi rumahtangga merupakan institusi yang paling dominan dalam pembentukan modal di Kabupaten Agam. Selama periode tersebut persentase investasi yang berasal dari rumah tangga adalah sebesar 46,90 persen. Institusi yang menyumbangkan investasi terbesar kedua adalah BUMN/D dan swasta. Secara akumulasi, nilainya sebesar 34,42 persen dari total investasi yang ditanamkan selama periode 2003-2013. Institusi pemerintahan umum dari tahun ke tahun menduduki urutan paling bawah dalam penyerapan investasi, dimana pada periode 2003-2013 nilai investasi yang berasal dari pemerintah hanya mencapai 18,67 persen. Grafik 8. Struktur Investasi Menurut Institusi Kumulatif Tahun 2003-2013 (Persen) Keterangan : 1. Pemerintahan Umum 3. Rumahtangga 2. BUMN/D dan Swasta 5) Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Untuk menghitung besaran ICOR, nilai investasi dan PDRB dibuat dalam harga konstan agar pengaruh fluktuasi harga dalam ukuran ICOR dapat dihilangkan (dalam hal ini akan digunakan harga konstan 2000). ICOR Kabupaten Agam selama 2011-2013 sebesar 3,04 yang berarti bahwa secara rata-rata untuk meningkatkan output (dalam hal ini PDRB) sebesar 1 unit moneter dibutuhkan investasi sekitar 3,04 unit moneter. Hal ini tentu saja dengan asumsi bahwa kapasitas modal yang ada saat ini sudah digunakan secara optimum. Jika dilihat menurut sektor ekonomi terjadi perbedaaan yang cukup mencolok, karena masing-masing sektor ekonomi memiliki Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 48

perilaku tersendiri dalam hal pengaruh investasi terhadap peningkatan output sektor bersangkutan. Tambahan output/nilai tambah suatu kegiatan tidak hanya disebabkan oleh investasi tahun sebelumnya yang belum mencapai kapasitas penuh.perilaku investasi juga tidak selamanya langsung menghasilkan pada tahun ketika investasi ditanamkan. Sebagai contoh tanaman kelapa sawit dan karet yang hanya bisa menghasilkan setelah umur tanaman sudah dewasa. Dengan kata lain, ada selang waktu (time lag) antara waktu penanaman investasi dengan output/nilai tambah yang dihasilkan. Penentuan alternatif mana yang dianggap tepat untuk suatu sector dapat diterapkan prinsip mayoritas (modus) dalam sektor tersebut. Misalnya sektor Industri pengolahan yang dianggap paling beragam jenis dan klasifikasi usahanya, begitu juga faktor lagnya. Dengan mengacu beberapa referensi di daerah Sumatera Barat, kita dapat saja menyepakati rumus ICOR dengan lag 1 tahun dianggap mewakili rata-rata. Artinya, secara rata-rata diasumsikan bahwa investasi baru akan menghasilkan output setelah satu tahun investasi ditanamkan. Atau untuk sektor pertanian dimana untuk Kabupaten Agam masih didominasi oleh pertanian tanaman pangan maka investasi dengan lag 0 tahun dianggap cukup mewakili, kecuali jika analisisnya dikususkan untuk sub sektor perkebunan yang bisa memberikan hasil setelah selang waktu lebih dari 5 tahun. Seperti terlihat pada Tabel 30 sektor Industri Pengolahan mencatat koefisien ICOR yang paling tinggi selama periode 2011-2013, yaitu sebesar 5,39. Sektor listrik, gas dan air bersih menempati urutan ke dua dengan koefisien ICOR sebesar 5,15. Sedangkan sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan mencatat koefisien ICOR yang terkecil, yaitu sebesar 1,67. Tabel 30 tersebut dapat disepakati sebagai koefisien ICOR sektoral untuk memperkirakan investasi di masa mendatang. Dengan asumsi pertama bahwa mayoritas investasi di setiap sektor selama periode tersebut mempunyai lag 0, artinya investasi yang ditanamkan pada tahun ke t akan memberikan tambahan output pada tahun ke-t itu juga. Asumsi kedua, koefisien ICOR di masa mendatang sama dengan koefisien ICOR selama periode 2011-2013. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 49

Tabel 30. Koefisien ICOR Tahun 2011-2013 Menurut Lapangan Usaha (Lag 0) Menggunakan Metode Akumulasi *) Nomor 1 Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan Koefisien ICOR 1,67 2 Pertambangan & Penggalian 2,31 3 Industri pengolahan 5,39 4 Listrik, gas dan air minum 5,15 5 Bangunan 4,12 6 Perdagangan, hotel & Restoran 2,85 7 Pengangkutan & Komunikasi 4,00 8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 3,61 9 Jasa-jasa 3,67 Kabupaten Agam 3,04 Pada dasarnya asumsi-asumsi di atas belum pernah diuji keberartiannya, karena perhitungan tersebut memerlukan waktu dan ketelitian yang tinggi. Untuk itu, hasil perhitungan koefisien ICOR ini masih bisa dikembangkan, tergantung kebutuhan perencanaan. Untuk dapat menganalisa koefisien ICOR pada masingmasing sektor ekonomi perlu diteliti lebih lanjut kapan investasi pada sektor tersebut mampu memberikan peningkatan nilai tambah. Jika investasi yang ditanamkan langsung berpengaruh terhadap peningkatan output pada suatu sektor maka koefisien ICOR yang tepat digunakan adalah koefisien ICOR dengan lag 0, sedangkan jika investasi tersebut berpengaruh pada satu tahun kemudian, maka koefisien ICOR yang lebih tepat digunakan adalah koefisien pada lag 1,dengan mengetahui karakteristik setiap sektor dengan baik maka analisis yang akan diambil juga akan semakin baik. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 50

Grafik 9. Koefisien ICOR Menurut Lapangan Usaha Metode Akumulasi (Lag 0) Lapangan Usaha Keterangan : 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & 6. Perdagangan, Hotel & Rest. Perikanan 2. Pertambangan dan Penggalian 7 Pengangkutan & Komunikasi 3. Industri Pengolahan 8. Keuangan, Persewaan dan 4. Listrik, Gas & Air Minum Jasa Perusahaan 5. Bangunan 9. Jasa-Jasa 2.2. Capaian kinerja sektor/sub sektor ekonomi. 1) Sub Sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura. Pembangunan disektor pertanian memegang peranan yang strategis dalam menentukan tingkat kesejahteraan dan kemajuan perekonomian masyarakat. Sektor ini memegang perananan penting karena merupakan penyedia kebutuhan pokok dan sumber mata pencaharian mayoritas masyarakat. Perkembangan produksi dan produktifitas tanaman pangan dan hortikultura dari tahun 2010 sampai tahun 2013 terus meningkat seiring dengan peningkatan pembangunan infrastruktur pendukungnya. Namun laju pertumbuhan produksi sub sektor ini cenderung menurun. Dalam RPJM 2010-2015 ditargetkan sub sektor tanaman pangan akan tumbuh sebesar 6,5 persen pada tahun 2015. Tahun 2012 capaian kinerja sub sektor ini sudah melebihi target tersebut yaitu 7,29 persen, namun pada tahun 2013 melambat signifikan mencapai 5,69 persen. Tabel 31. dibawah ini memperlihatkan perkembangan produksi tanaman pangan dan hortikultura dari tahun 2010 2013. Dari tersebut, dapat dilihat sub sektor pertanian tanaman pangan didominasi oleh usaha tanaman padi dan palawija. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 51

Dari tahun 2010 sampai tahun 2013 luas panen dan produksi terus meningkat. Produktifitas cenderung stabil pada kisaran 5,3 5,4 ton/ha. Kalau dihubungkan dengan penurunan luas lahan baku sawah yang terus terjadi, peningkatan produksi dicapai dengan mengoptimalkan lahan sawah yang ada, mengurangi sawah-sawah yang dibiarkan terlantar dan menyegerakan musim tanam. Kondisi ini dicapai dengan adanya peningkatan infrastuktur terutama irigasi sehingga mendukung kebutuhan air sepanjang tahun. Kalau dilihat dari sisi nilai tukar petani tanaman pangan dari tahun 2010 2013 selalu berada dibawah 100 dan cenderung menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan petani tanaman pangan sulit meningkat, dapat menyebabkan semakin berkurangnya animo masyarakat untuk menanam tanaman pangan. Sementara untuk tanaman hortikultra NTP nya lebih dari 100 dan berfluktuasi. Dan dilihat dari sisi laju pertumbuhan produksi tanaman pangan dan hortikultura dari tahun 2010 sampai tahun 2012 laju pertumbuhan produksi meningkat tetapi pada tahun 2013 kembali melambat. Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan bahwa rumah tangga yang berusaha pada sub sektor tanaman pangan didominasi pada usaha tanaman padi yaitu 40,95 ribu rumah tangga atau 92,12 persen dari keseluruhan rumah tangga yang berusaha di sub sektor tanaman pangan ( 44,45 ribu ). Tersebar di seluruh wilayah Kabupten Agam dan terbanyak berturut-turut yaitu di Kecamatan Lubuk Basung, Tanjung Raya, Palembayan, Baso dan Ampek Angkek. Termasuk dalam kelompok tanaman pangan yaitu palawija. Tanaman palawija terdiri dari kelompok biji-bijian, kacang-kacangan dan umbi-umbian. Dari 11 komoditi palawija yang diusahakan jagung merupakan komoditi terbanyak yang diusahakan dengan luas areal tanam 65,91 persen dari seluruh luas tanam tanaman palawija, diikuti oleh ubi jalar dan ubi kayu. Jagung terbanyak diusahakan pada sentra pengembangan yaitu Kecamatan Lubuk Basung, Tilatang Kamang dan IV Nagari. Produktifitas jagung terus meningkat dari tahun 2010 sampai tahun 2013, yaitu dari 4,37 menjadi 7,85. Yang perlu diantisipasi adalah alih fungsi lahan sawah produktif menjadi areal pertanaman jagung. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 52

Tabel 31. Luas Panen, Produksi dan Produktifitas Tanaman Pangan Tahun 2010-2013 NO Komoditi Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produkifitas (Ton/Ha) 2010 2011 2012 2013 2010 2011 2012 2013 2010 2011 2012 2013 1 Padi Sawah 54.677 55.329 56.989 58.144 296.088 298.051,39 310.022,00 317.000,36 5,41 5,39 5,44 5,45 2 Padi Ladang 203 164 106 82 108 699 452,62 352,20 5,32 4,26 4,27 4,26 3 Jagung 5.488 6.107 7.513 7.521 23.965 42.957,46 52.856,46 59.049 4,37 7,03 7,04 7,85 4 Ubi Kayu 751 759 984 1.008 13.387 13.602.57 17.672,80 18.134 17,83 17,92 17,96 17,99 5 Ubi Jalar 1.525 1.348 1.366 1.349 24.493 21.871,11 22.195,00 22.416,16 16,06 16,22 16,25 16,62 6 Kacang Tanah 1.065 1.192 1.258 1.173 2.123 2.563,01 2.780,00 2.585 1,99 2,15 2,21 2,2 7 Kacang Hijau 47 64 72 71 80,00 115,01 130,00 131 1,72 1,80 1,81 1,85 8 Kacang Kedele 91 106 171 141 160,00 190,80 810,00 249 1,76 1,80 1,81 1,77 Sumber : Agam Dalam Angka Tahun 2014. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 53

Tabel 32. Luas Panen, Produksi dan Produktifitas Hortikultura Tahun 2010-2013 NO Komoditi Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produkifitas (Ton/Ha) 2010 2011 2012 2013 2010 2011 2012 2013 2010 2011 2012 2013 1 Kentang 191 142 166 175 1.494 2.082 2.447 2.587 7,82 14,56 14,74 14,78 2 Kubis 342 374 488 505 2.536 4.780 7.026 7.498 7,42 12,78 14,40 14,85 3 Buncis 1.187 1.198 1.234 1.279 7.915 7.455 8.057 8.371 6,67 6,22 6,53 6,54 4 Sawi 261 349 390 404 2.815 3.962 5.090 5.278 10,78 11,35 13,05 13,06 5 Ketimun 121 139 141 151 1.329 2.340 2.376 2.550 10,98 16,83 16,85 16,89 6 Terung 1.651 1.478 1.510 1.530 8.106 7.981 8.180 10.811 4,91 5,40 5,42 7,07 7 Kacang Panjang 109 114 138 144 594 672 622 862 5,45 5,89 5,96 5,99 8 Cabe 2.011 2.455 2.551 2.679 6.969 9.518,30 10.161,00 11.154 3,47 3,88 3,93 4,16 9 Bawang Merah 119 122 137 188 651 695 797 1.141 5,47 5,70 5,82 5,84 10 Bawang Putih 78 27 24 0 204 160 132 0 2,62 5,93 5,50 0 11 Tomat 330 367 397 407 4.598 4.792 5.471 6.572 13,93 13,05 13,78 16,15 12 Temulawak 0,67 3,50 0,69 0,63 0,95 8,18 1,18 1,59 1,42 2,34 1,71 2,52 13 Jahe 4,19 7,89 8,26 8,41 14,79 29,33 32,49 33,24 3,53 3,73 3,93 3,95 14 Laos 2,08 3,24 3,38 3,50 8,03 10,01 10,87 11,27 3,86 3,09 3,22 3,22 15 Kunyit 5,69 5,97 6,08 6,23 17,63 19,35 20,34 20,96 3,10 3,24 3,35 3,37 16 Kejibeling 0,51 0,57 0,71 0,73 0,82 1,05 1,57 1,66 1,61 1,84 2,21 2,27 17 Kapulaga 1,60 5,22 6,35 6,43 2,18 5,88 8,93 9,39 1,36 1,13 1,41 1,46 18 Pisang 209.961 417.678 431.609 431.853 10.991 22.114 26.847 26.982 0,05 0,05 0,06 0,06 19 Jeruk 66.499 120.747 122.365 124.254 8.816 15.906 16.989 18.709 0,13 0,13 0,14 0,15 20 Pepaya 3.664 16.423 17.998 18.730 959 4.237 4.736 4.999 0,26 0,26 0,26 0,27 21 Rambutan 44.549 46.256 46.356 47.112 1.415,42 1.681,9 1.870,85 2.132,32 0,03 0,04 0,04 0,05 22 Nenas 3.467 5.532 5.699 5.661 93 117,4 151 176 0,03 0,02 0,03 0,03 23 Alpokat 115.397 111.891 113.198 112.948 3.286 4.750 4.750 4.740 0,03 0,04 0,04 0,04 24 Mangga 3.355 3.574 3.686 3.709 199 206 213 223 0,06 0,06 0,06 0,06 25 Duku 605 532 549 555 27 34 36 41 0,04 0,06 0,07 0,07 26 Durian 301.361 287.224 289.700 289.843 4.832 4.615 4.716 4.788 0,02 0,02 0,02 0,02 Sumber : Agam Dalam Angka Tahun 2014. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 54

Selanjutnya tanaman hortikultura (buah-buahan, sayur-sayuran, tanaman rempah/obat dan tanaman hias) yang diusahakan sangat beragam, hampir lima puluh jenis. Buah-buahan yang terbanyak diusahakan adalah pisang, alpukat, jeruk, durian dan rambutan. Sayur-sayuran yang terbanyak diusahakan adalah cabe besar, cabe rawit, buncis, kubis, kembang kol, sawi, bawang daun dan wortel. Tanaman rempah/obat yang terbanyak diusahakan adalah jahe, kunyit, lengkuas dan kapulaga. Tanaman hortikultura diusahakan hampir diseluruh wilayah Kabupaten Agam dan hampir sepanjang tahun. Perkembangan luas tanam dan produksi relatif stabil. Jeruk termasuk tanaman yang peningkatan luas tanam dan produksinya meningkat cukup besar. Komoditi hortikultura umunya dijual dalam bentuk segar, sifat komoditi yang mudah rusak dan tidak tahan lama sehingga menghendaki pemasaran yang cepat dan penanganan pasca panen yang baik. Pemasaran terbuka luas sampai ke propinsi tetangga. 8) Peternakan dan hasil-hasilnya. Pembangunan peternakan ditujukan untuk mendukung program swasembada daging baik nasional maupun regional, meningkatkan ketersedian bahan pangan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Perkembangan produksi peternakan dari tahun 2010-2013 dapat dilihat pada Tabel 33. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa populasi sapi dan kerbau dari tahun 2010 ke tahun 2011 menurun kemudian tahun 2012 dan 2013 meningkat kembali. Sedangkan populasi kambing dari tahun 2010 ke tahun 2013 terus menurun. Populasi unggas (ayam pedaging, ayam kampung dan itik ) dari tahun 2010 sampai tahun 2012 meningkat tetapi tahun 2013 menurun. Perkembangan jumlah usaha peternakan hasil sensus pertanian 2013 menunjukkan bahwa terdapat 26,05 ribu rumah tangga yang mengusahakan peternakan. Ternak yang diusahakan dikelompokkan menjadi empat kelompok yaitu ternak besar, ternak kecil, unggas dan ternak lainnya. Ternak besar dan kecil serta unggas diusahakan hampir di seluruh wilayah Kabupaten Agam. Ternak besar diusahakan terbanyak berturut-turut di Kecamatan Lubuk Basung, Palembayan, Tanjung Mutiara dan Tilatang Kamang. Dilihat dari nilai tukar petani peternakan dari tahun 2010 sampai tahun 2012 meningkat dari 99,58 menjadi 10,29 tetapi pada tahun 2013 kembali turun menjadi 97,94. Dalam RPJM tahun 2010 2015 ditargetkan peternakan dan hasil-hasilnya akan mencapai pertumbuhan 6,2 persen, sampai tahun 2013 pertumbuhan sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya hanya mencapai 3,11 persen, sedangkan tahun 2012 tumbuh sebesar 5,59 persen. Produksi hasil peternakan terdiri dari daging, susu dan telur serta hasil olahan seperti dendeng. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 55

Tabel 33. Populasi dan Produksi Peternakan Tahun 2010-2013 No Komoditi Populasi (Ekor) Produksi Daging (kg) Produksi Telur (kg) Pemotongan (Ekor) 2010 2011 2012 2013 2010 2011 2012 2013 2010 2011 2012 2013 2010 2011 2012 2013 1 Sapi Potong 33.816 28.057 30.836 33.831 1.646.350 1.814.858 2.561.458 2.267.405 0 0 0 0 7.396 8.153 0 0 2 Sapi Perah 58 39 60 115 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Kerbau 20.437 17.921 19.059 19.193 90.321 94.248 124.067 109.032 0 0 0 0 391 408 0 0 4 Kuda 188 188 201 204 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Kambing 14.374 11.820 13.059 12.631 66.780 88.620 95.640 59.520 0 0 0 0 1.113 1.477 0 0 6 Domba 33 22 25 0 188 188 625 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Unggas - --- - - -- - - - - - - - - - - - 8 9 10 11 - Ayam Pedaging 82.605 100.935 148.644 147.901 0 0 0 0 0 0 0 0 0 50.468 142.206 146.423 - Ayam Petelur 185.594 167.593 199.445 185.770 0 0 0 0 1.336.227 1.350.670 1.436.004 1.337.544 0 181.965 119.667 111.462 - Ayam Kampung 318.604 325.570 348.686 314.292 0 0 0 0 336.227 1.350.670 1.436.004 198.105 0 162.782 488.160 440.008 - Itik 109.574 151.389 151.763 100.452 0 0 0 0 617.997 853.834 855.943 566.547 0 75.694 91.058 60.270 Sumber : Agam Dalam Angka Tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 56

9) Perkebunan. Tanaman perkebunan yang dikembangkan di Kabupaten Agam cukup beragam, yang dominan adalah kelapa, kelapa sawit, kakao, karet, tebu, pinang dan beberapa jenis lainnya. Menyebar hampir di seluruh wilayah. Perkembangan produksi tanaman perkebunan dapat dilihat pada Tabel 34. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa untuk tanaman kelapa sawit dari tahun 2010 sampai 2013 luas tanam dan produksi meningkat. Kelapa luas tanam juga meningkat dari tahun 2010-2013 dengan adanya peremajaan yang dilaksanakan setiap tahun, namun produksi dari tahun 2010 ke tahun 2011 menurun sangat signifikan setelahnya baru meningkat lagi sampai tahun 2013. Sementara karet luas tanam terus meningkat, namun produksi dari tahun 2011 ke tahun 2012 produksi menurun drastis setelahnya ke tahun 2013 baru meningkat lagi. Hal ini dapat disebabkan karena banyakknya tanaman yang rusak dan sudah tua serta bibit yang digunakan merupakan bibit yang tidak bersertifiasi sehingga peningkatan produksi tidak optimal. Selanjutnya kakao dimana baik luas tanam maupun produksi dari tahun 2010 ke tahun 2013 terus meningkat. Kakao di Kabupaten Agam merupakan kebun rakyat sehingga untuk mencapai kualitas hasil yang baik memerlukan upaya yang konsisten. Untuk pengolahan komoditi perkebunan masih tradisional dimana belum banyak petani yang mengolah hasil kebun mereka dengan baik, dan mereka menjual hasil kebun dalam bentuk buah segar sehingga harga dipasaran relatif rendah. Dalam pemasaran hasil perkebunan dipasarkan ke Pulau Jawa, Sumatera Utara, Propinsi Riau dan Kabupaten/Kota se Sumatera Barat. Kalau dilihat dari segi nilai tukar petani perkebunan, sub sektor perkebunan mempunyai NTP diatas 100 dan dari tahun 2010 sampai tahun 2013 terjadi peningkatan. Tahun 2010 NTP sub sektor ini sebesar 125,68 sampai tahun 2013 sudah mencapai 132,63, hal ini menunjukkan bahwa usaha perkebunan lebih menguntungkan. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 57

NO Komoditi Tabel 34. Produksi dan Produktifitas Tanaman Perkebunan Luas Tanam (Ha) Produksi (Ton) Produktifitas ( Ton / Ha) 2010 2011 2012 2013 Rata-rata kenaikan /penurun an ( %) 2010 2011 2012 2013 Rata-rata kenaikan /penurun an ( %) 2010 2011 2012 2013 1 Kelapa 11630 11738 11768 11891 2,24 11212 13959 14724 16761 49,49 0,995 1,223 1,287 1,000 0,54 2 Kelapa sawit 15112 18334 18335 18971 25,54 94552 112415 128936 131308 38,87 7,258 7,509 8,227 8,280 14,09 3 Karet 1389 1677 1786 1827 36,45 970 984 1123 1451 49,59 0,708 0,722 0,820 1,055 49,11 4 Cengkeh 362 472 472 467 28,82 156 187 181 189 20,84 0,509 0,517 0,609 1,463 187,68 5 Kulit Manis 6702 6423 6423 5917 (11,71) 5180 5527 5340 5955 14,96 1,087 1,223 1,484 1,055 (2,97) 6 Kopi 1557 1730 1745 1580 1,5 1337 1242 1487 1269 (5,10) 1,103 0,887 1,104 1,190 7,92 7 Gardamunggu 184 190 201 192 3,78 81 66 76 78 (3,85) 0,474 0,436 0,538 0,945 99,54 8 Pinang 3302 3498 3517 3557 7,71 730 828 871 838 14,76 0,303 0,308 0,323 0,334 10,17 9 Kakao 4829 5273 5367 5454 12,95 3847 4685 4854 5014 30,31 1,281 1,330 1,355 0,517 (59,62) 10 Pala 555 577 665 703 26,67 103 105 184 303 195,32 0,220 0,222 0,404 0.678 208,60 11 Tebu 3533 3674 3681 3752 6,2 20315 22432 23835 18795 (7,48) 6,899 6,888 7,462 1,600 (76,81) 12 Tembakau 52 99 140 241 363,46 60 72 183 213 255 1,154 1,470 1,830 1,870 62,07 13 Gambir 1063 1063 1047 1046 (1,6) 156 156 158 150 (3,85) 0,551 0,551 0,551 1,232 123,49 14 Enau - - 92 98 6,52 - - - 69 - - - - 0,945 - Sumber : Agam Dalam Angka Tahun 2013 Rata-rata kenaikan /penurun an ( %) Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 58

10) Kehutanan. Hutan merupakan sumber daya alam yang berfungsi sebagai daya dukung lingkungan hidup juga memiliki banyak nilai ekonomi. Potensi ekonomi hasil sumber daya hutan dikelompokkan menjadi kayu dan non kayu. Beberapa jenis hasil hutan berupa kayu yang terdapat di Kabupaten Agam adalah mahoni, surian, bayua, medang, sengon dan jabon yang menyebar di 15 kecamatan. Hasil hutan non kayu diantaranya adalah jamur, sarang walet, rotan, manau, gaharu, lebah madu, aren, kemenyan dan kemiri. Pengelolaan sumber daya hutan oleh masyarakat dilihat pada Tabel 35 sebagai berikut : Nomor 1 Tabel 35. Luas Hutan Kayu dan Hutan Non Kayu per Kecamatan Kecamatan Tanjung Mutiara Luas hutan kayu rakyat 165 Hasil hutan non kayu Sarang walet, Gaharu (516 batang), Lebah madu (30 STUP) 2 Lubuk Basung 168 Jamur, lebah madu 3 IV Nagari 291 Sarang walet, Gaharu 4 Tanjung Raya 266 Rotan, Manau, gaharu 5 Matur 198 --- 6 IV Koto 210 --- 7 Malalak 126 Rotan, Manau 8 Banuhampu 114 ---- 9 Sungai Pua 120 --- 10 IV Angkek 0 --- 11 Canduang 108 --- 12 Baso 222 Sarang walet 13 14 Tilatang Kamang Kamang Magek 15 Palembayan 228 204 Aren, Kemenyan 246 Jamur, Rotan, Manau 16 Palupuah 159 Aren. Suber : Renstra Teknokratik Dinas HUTBUN. Sarang Walet, Rotan, Manau, Keterangan Terdapat 21 rumah walet Terdapat 3 kelompok budidaya jamur dapat Produk dalam bentuk gula aren, ijuk, kolang kaling, kemenyan belum di olah. Produk dalam bentuk gula aren, ijuk, kolang kaling Untuk pengamanan hutan dilaksanakan oleh Personil Polisi Hutan yang berjumlah 75 orang. Dibanding luas hutan yang ada jumlah ini dirasakan masih sangat kurang. Oleh karena itu pengawasan dibantu oleh masyarakat melalui program pengamanan hutan berbasis nagari. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 59

Sampai tahun 2013 telah dilaksanakan seluas 1.190 Ha atau 79,3 persen dari target RPJM tahun 2015, berlokasi di Kecamatan Ampek Nagari, IV Koto, Kamang Magek, Tilatang Kamang, Palembayan, Tanjung Raya, Matur dan Palupuah. Reboisasi sudah mencapai 2.110 ha, pemeliharaan hutan rakyat dan penanaman hutan mangrove di Kecamatan Tanjung Mutiara. Pembuatan bangunan konservasi, pengamanan hutan dan penatausahaan hasil hutan. 11) Perikanan dan Kelautan. Usaha perikanan di Kabupaten Agam terdiri dari perikanan budidaya dan tangkap, mempunyai potensi yang sangat besar yaitu laut, danau dan perairan umum lainnya, menebar hamir di seluruh wilayah. Tabel 36 di bawah ini menggambarkan potensi perikanan di Kabupaten Agam kondisi tahun 2013. Tabel 36. Potensi Perikanan dan Kelautan Tahun 2013 No Uraian Potensi 1. 2. 3. 4. Perairan Umum - Danau Maninjau - Sungai Kolam - Kolam air tenang - Kolam air deras - Keramba irigasi Keramba Jaring Apung produksi : 47.180 ton Mina Padi Mina Kebun Rakyat 9.737 ha. 217,2 ha 3.225 ha 479 unit 1000 unit Potensi yang sudah dimanfaatkan 621 ha, 307 unit 52 unit 14.341 petak 14.341 petak 1.675 ha 180 ha 5. Usaha Pembenihan Ikan Rakyat (UPR) : 150,56 Ha 6. Jumlah pembudidaya 15.454 KK 460 ha 2,8 ha 95, 61 Ha 177 unit 7. Kelautan : - Pantai - Laut 43 km 313,04 km 8. Jumlah Nelayan 2.229 orang Sumber Dinas Kelautan dan Perikanan Perkembangan produksi perikanan dan kelautan tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat dari Tabel 37 dibawah ini : Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 60

No 1. Tabel 37 Produksi Perikanan dan Kelautan Tahun 2010-2013 Uraian Perikanan tangkap ( ikan laut ) Jumlah Produksi ( ton ) 2010 2011 2012 2013 6.325,30 6.157,10 6.226,60 7.465,90 2. Perikanan budidaya 38.852,9 48.024,55 60.019,67 54.738,24 3. Perairan umum 182,50 185,25 226,60 239,60 Sumber Agam Dalam Angka, 2014. Dari tabel diatas terlihat bahwa produksi perikanan di dominasi oleh perikanan budidaya yang dikembangkan fokus di danau Maninjau sebagai pusat Kawasan Minapolitan. Dari tahun 2012 ke tahun 2013 produksi perikanan budidaya menurun signifikan karena eksploitasi pengembangan KJA di Danau Maninjau yang tidak mempedomani daya dukung danau sudah mendatangkan dampak penurunan kualitas air danau yang berakibat pada kematian ikan. Karena itu pengembangan budidaya di danau sudah harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2014. Di lain pihak potensi sumber daya perairan umum yang sangat luas belum dimanfaatkan secara optimal seperti kolam, sungai, mina padi dan mina kebun rakyat. Potensi ini terbesar terdapat di Kecamatan Lubuk Basung, Tilatang Kamang dan Kamang Magek. Untuk itu telah dilakukan revitalisasi kolam-kolam rakyat terlantar dan pencetakan kolam-kolam baru yang diiringi dengan penyediaan benih unggul baik yang didatangkan ataupun yang diproduksi sendiri melalui BBI dan UPR, yang didukung dengan pembangunan infrastruktur seperti irigasi, jalan produksi, fasilitas bongkar muat ikan di kawasan Minapolitan, peningkatan sarana prasarana BBI dan UPR. Demikian juga dengan potensi perikanan tangkap yang difokuskan di Kecamatan Tanjung Mutiara, meskipun produksinya dari tahun 2011 sampai tahun 2013 meningkat, namun masih jauh dibandingkan dengan potensi yang ada. Untuk itu telah dilakukan revitalisasi alat-alat tangkap yang lebih modern, bantuan motor untuk nelayan dayung, peningkatan pelayanan PPI dan pabrik es di Tiku serta bantuan sarana prasarana pemasaran. Sementara untuk meningkatkan kesejahteraan petani ikan dan nelayan melalui kepastian usaha telah dilakukan sertifikasi lahan milik nelayan sebanyak 150 unit. Disamping pembangunan dan bantuan sarana prasarana dilakukan juga pendampingan dan pembinaan budidaya dan pengolahan ikan yang baik dengan program PUMP budidaya, PUMP tangkap dan PUMP pengolahan. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 61

Dalam RPJM Kabupaten Agam tahun 2010-2015 ditargetkan pertumbuhan sub sektor perikanan mencapai 6,7 persen di tahun 2015. Dari tahun 2011 pertumbuhan sub sektor ini meningkat terus sampai tahun 2013 yaitu 7,43 persen tahun 2011, 8,94 persen di tahun 2012 dan 9,40 persen pada tahun 2013. 12) Produk Unggulan. Untuk lebih memfokuskan pengembangan komoditi yang sangat beragam dan untuk lebih meningkatkan daya saing produk telah ditetapkan produk unggulan daerah dengan Surat Keputusan Bupati Agam Nomor.. tahun 2014. Penetapan produk unggulan daerah memenuhi beberaa kriteria yaitu : a) Dimiliki dan dikuasai daerah, artinya bahwa produk yang dihasilkan sulit sekali untuk ditiru oleh competitor karena memiliki kekhasan dalam sumberdaya, baik berupa bahan baku yang digunakan dan dihasilkan sendiri, dan atau dimilikinya sumberdaya manusia terampil yang memproses produksi dengan kekhususan keterampilan yang mengakar turun temurun atau telah menjadi bagian dari budaya kehidupan masyarakat setempat. b) Memiliki nilai ekonomis, dalam hal ini produk yang dihasilkan merupakan hasil karya masyarakat setempat, sehingga apabila komunitas yang memiliki keahlian sejenis tersebut berkolaborasi dan bekerjasama dalam membangun entitas bisnisnya, maka akan dicapai suatu sekala ekonomis yang tinggi (volume produksi yang besar secara agregat equivalent cost leadership). c) Berdaya saing tinggi, produk hendaknya memiliki keunikan yang dapat membedakan dari produk sejenis atau produk subsitusinya atau memang benar benar berbeda dari produk yang ditawarkan kepada konsumen, antara lain dapat berupa; baik mutu, jenis, bentuk, rasa, biaya, atau lainnya, maka nilai keunikan tersebut memberikan makna differentiated, artinya produk yang dihasilkan masyarakat setempat atau local daerah memiliki perbedaan yang unik dibandingkan pesaing sejenisnya atau produk subsitusinya. d) Serapan Tenaga Kerja tinggi, keberadaan porduk unggulan daerah mampu memberi dan membuka lapangan pekerjaan, karena memiliki keunikan dan sesuai dengan need and wants pasar, maka keberlanjutan dan tumbuh kembang produk sangat dimungkinkan. e) Diproduksi dengan kelayakan tehnis (bahan baku dan pasar), jika sebuah produk ingin tetap eksis dipasar dunia, maka suka tidak suka, dan mau tidak mau harus mencari tahu dan mendapatkan masukkan penggunaan teknologi Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 62

yang lebih baik dan lebih efisien dari sebelumnya. Disinilah peran pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memainkan peran yang sangat strategis. f) Talenta dan kelembagaan masyarakat setempat (sumberdaya manusia, teknologi, dukungan infrastruktur, kondisi sosial budaya lokal), artinya manusia yang memproduksi produk berkembang kapasitas dan kapabilitasnya dengan memanfaatkan dan dikembangkan dengan bantuan teknologi. 13) Ketahanan Pangan Secara nasional target sasaran pembangunan ketahanan pangan adalah mencapai surplus beras 10 juta ton, mengurangi konsumsi beras 1,5 kg/kapita, produktifitas jagung 5,4 ton/hektar, produktifitas kedelai 1,5 ton/hektar dan konsumsi daging 7,6 kg/kapita/tahun pada tahun 2014. Untuk Kabupaten Agam sendiri dalam rangka mendukung pencapaian target nasional tersebut sesuai dengan RPJM ditargetkan produksi padi mencapai 282.450 ton pada tahun 2015, jagung 56.000 ton (produktifitas jagung sudah mencapai 7,6 ton/hektar). Terkait ketersediaan dan keragaman bahan pangan untuk kebutuhan daerah sendiri cukup tersedia, bahkan dari segi jumlah produksi terdapat surplus. Tetapi dalam konteks ketahanan pangan nasional dan regional daerah tetap dituntut untuk meningkatkan produksi bahan pangan. Dalam meningkatkan ketahanan dan kemandirian pangan dilaksanakan dengan sebelas agenda yaitu : 1) Agam Menyemai, 2) Sempurnakan pola konsumsi masyarakat, 3) Pemberdayaan rumah tangga petani melalui panca daya, 4) Diversifikasi dan sosialisasi, 5) Perkuat kelembagaan pembina petani, 6) Rasionalisasi target produksi, 7) Revitalisasi penyuluh, 8) Perkuat aksesibilitas dan stabilisasi harga, 9) Amankan dan jaga mutu pangan masyarakat, 10) Tingkatkan nilai tambah produk pertanian tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perikanan dan 11) Perkaya program kegiatan Nasional dan Regional. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur ketahanan pangan adalah : konsumsi beras perkapita per tahun, konsumsi daging perkapita pertahun, konsumsi ikan perkapita pertahun, skor PPH, kasus-kasus kekurangan gizi, dan kasus-kasus keracunan makanan. Tabel 47 berikut ini menunjukkan capaiam pembangunan bidang ketahanan pangan. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 63

Tabel 38. Capaian Indikator Ketahanan Pangan Tahun 2010-2013 No Indikator 2010 2011 2012 2013 Target 1. 2. 3. 4. 5. 6. Konsumsi beras perkapita pertahun. Konsumsi daging perkapita pertahun. Konsumsi ikan perkapita pertahun Skor Pola Pangan Haraan Kasus gizi kurang/gizi buruk Kasus keracunan makanan. 20 20 20 20 15 --- 4,2 4,4 3,75 19,75 22,25 25,25 30 75 76,5 77 78 -- -- 7,6 35 85 Dari tabel diatas terlihat bahwa program pengurangan konsumsi beras 1,5 kg/kapita/tahun yang dicanangkan secara nasional belum berhasil. Hal ini sangat terkait dengan kebiasaan orang Minang khususnya orang Agam yaitu belum kenyang kalau belum makan nasi. Disamping itu beras juga digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis makanan olahan. Terhadap konsumsi daging justru menurun namun diimbangi dengan peningkatan konsumsi ikan. Tabel 39 menggambarkan perkembangan produksi, ketersediaan dan kebutuhan bahan pangan tahun 2011-2013. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk ketersediaan bahan pangan utama untuk konsumsi cukup tersedia bahkan surplus, kecuali kacang hijau dan kedelai yang masih perlu diimpor. Daging ada tahun 2011 kita kekurangan, tetapi tahun 2012 dan 2013 terdapat surplus. Terhadap kasus-kasus keracunan makanan tidak tercatat adanya laporan, hal ini mengindikasikan bahwa pangan yang tersedia cukup aman walaupun masih ditemukan bahan pangan yang menggunakan bahan kimia yang dilarang tetapi belum sampai menyebabkan keracunan, namun perlu diwaspadai dampaknya dalam jangka panjang yang dapat menjadi pemicu bermacam penyakit. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 64

Tabel 39. Produiksi, Ketersediaan, Kebutuhan dan Surplus Bahan Pangan Utama Tahun 2011-2013 (Ton ) No Bahan Pangan Produksi Ketersedi aan 2011 2012 2013 Kebutuhan Surplus Produksi Keterse diaan Kebutuhan Surplus Produksi Ketersedi aan Kebutuhan Surplus 1 Padi 2 Jagung 42.957 34.366 2.195 32.171 52,856 42.285 2.195 40.090 56.408 45.126 2.235 42.891 3 Ubi kayu 13.603 11.154 5.702 5.452 17.673 14.492 5.702 8.790 18.134 14.870 5.507 9.063 4 Ubi jalar 21.871 19.246 2.37 16.909 22.195 19.532 2.337 17.195 22.203 19.539 2.380 17.159 5 Kacang tanah 2.563 2.255 1.800 455 2.780 2.446 1.800 646 2.585 2.275 1.833 442 6 Kacang hijau 115 105 230 (125) 130 118 230 (112) 131 119 234 (115) 7 Kedelai 191 160 230 (70) 310 260 230 30 249 209 234 (25) 8 Sayur-sayuran 46.995 37.596 26.450 11.146 50.899 40.719 26.450 14.269 56.782 45.426 26.936 18.490 9 Buah-buahan 53.662 42.930 20.669 22.261 60.313 48.250 20.669 27.581 62.544 50.035 21.050 28.985 10 Daging 1.998 1.958 2.296 (338) 2.782 2.726 2.296 430 2.808 2.752 2.338 414 11 Telur 2.409 2.361 2.286 75 2.512 2.462 2.286 176 2.930 2.871 2.328 542 12 Susu 183.823 161.764 4.274 157.490 226.060 198.933 4.274 194.659 317.703 279.579 4.353 275.226 Sumber : Sumatera Barat Dalam Angka tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 65

2.3. Capaian Kinerja Fokus Kesejahteraan Masyarakat. Analisis capaian kinerja atas fokus kesejahteraan masyarakat berhubungan dengan capaian Indek Pembangunan Manusia (IPM). Indikator penentuan IPM meliputi indikator bidang pendidikan yaitu angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka pendidikan yang ditamatkan, angka partisipasi murni dan bidang kesehatan yaitu angka kelangsungan hidup bayi serta angka usia harapan hidup. IPM Kabupaten Agam dari tahun 2007 sampai tahun 2013 terus meningkat berada diatas rata-rata Nasional, dibandingkan dengan kabupaten/kota di tingkat Provinsi Sumatera Barat berada pada posisi ke 9, sedangkan pada tingkat kabupaten se Sumatera Barat Kabupaten Agam berada pada posisi ke 2. Hal ini dapat terlihat pada Grafik II. 8 berikut : Grafik 10. Perbandingan Indek Pembangunan Manusia (IPM) 2.3.1. Capaian Bidang Pendidikan 1) Angka Melek Huruf Angka Melek huruf selama 4 tahun terakhir cenderung menunjukkan peningkatan. Pada Tahun 2010 sebesar 99.35% sampai Tahun 2013 telah mencapai 99,79%. Dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Barat dan Nasional angka melek huruf Kabupaten Agam cukup baik dimana tingkat Provinsi Sumatera Barat mencapai 96,67 dan angka nasional sebesar 93,25 pada tahun 2012. Perkembangan angka melek huruf Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2013 disajikan pada tabel, sebagai berikut Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 66

Tabel 40. Angka Melek Huruf Tahun 2010 2013 No Uraian 2010 2011 2012 2013 1 Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis 298,920 307.588 310.800 324.949 2 Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas 300,873 308.328 311.472 325.372 3 Angka Melek Huruf 99.53 99.76 99.79 99.85 Dari tabel diatas terlihat pada tahun 2013 masih terdapat 423 orang atau 0,15 persen penduduk berusia di atas 15 tahun yang belum dapat membaca dan menulis, dibanding Tahun 2012 terjadi penurunan dimana penduduk yang belum bisa membaca dan menulis sebanyak 672 orang atau 0,21 persen penduduk berusia di atas 15 tahun yang belum dapat membaca dan menulis. No. Tabel 41. Angka Melek Huruf Menurut Kecamatan tahun 2013. Kecamatan Penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa baca dan tulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka Melek Huruf 1 Tanjung Mutiara 18.905 18.975 99.63 2 Lubuk Basung 48.283 48.329 99.90 3 Ampek Nagari 15.091 15.169 99.49 4 Tanjung Raya 23.529 23.547 99.92 5 Matur 11.971 11.986 99.87 6 IV Koto 16.578 16.595 99.90 7 Malalak 6.695 6.707 99.82 8 Banuhampu 26.838 26.842 99.99 9 Sungai Pua 16.448 16.462 99.91 10 Ampek Angkek 32.170 32.174 99.99 11 Candung 16.036 16.058 99.86 12 Baso 24.090 24.098 99.97 13 Tilatang Kamang 25.195 25.215 99.92 14 Kamang Magek 14.653 14.650 99.92 15 Palembayan 19.354 19.414 9.69 16 Palupuh 9.064 9.136 99.21 Kabupaten Agam 324.900 325.372 99.85 Sumber : Profil Pendidikan Tahun 2013 Berdasarkan data perkecamatan, angka melek huruf yang sudah mencapai 100% yaitu Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Ampek Angkek dan Kecamatan Tilatang Kamang. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 67

Sedangkan kecamatan masih tinggi penduduk yang berusia di atas 15 tahun yang belum dapat membaca dan menulis adalah : Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Malalak dan Kecamatan Palupuh. 2) Angka Rata-Rata Lama Sekolah Rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Rata-rata lama sekolah mengindikasikan makin tingginya pendidikan formal yang dicapai oleh masyarakat suatu daerah. Semakin tinggi rata-rata lama sekolah berarti semakin tinggi jenjang pendidikan yang dijalani. Indikator ini dihitung dari variabel pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan tingkat pendidikan yang sedang diduduki. Perkembangan Angka Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Agam Tahun 2010 s/d 2013 terlihat pada grafik berikut : Grafik 11. Perkembangan Angka Rata-Rata Lama Sekolah Tahun 2010-2013 Berdasarkan grafik diatas terlihat angka rata-rata lama sekolah pada Tahun 2010 adalah sebesar 8,3 tahun. Pada tahun 2011, menunjukkan peningkatan menjadi 8,50 dan pada tahun 2012 telah mencapai 8.60 tahun dari target sebesar 8,58 tahun. Sedangkan pada tahun 2013 rata rata lama sekolah Kabupaten Agam mencapai 8,72 tahun dan ditargetkan pada tahun 2015 telah tercapai rata rata lama sekolah 9 tahun sebagaimana program yang dicanangkan yakni wajib belajar pendidian dasar 9 tahun atau hingga kelas 3 SLTP. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 68

Dari 16 kecamatan yang ada, belum satupun kecamatan yang sudah mencapai Angka rata-rata lama sekolah 9 Tahun. Beberapa kecamatan yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan dan Kecamatan Palupuah. 3) Angka Partisipasi Kasar ( APK ) dan Angka Partisipasi Murni (APM) APK didefinisikan sebagai proporsi anak sekolah pada suatu jenjang tertentu dalam kelompok usia yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut terhadap penduduk pada kelompok usia tertentu. Digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan bagi penduduk untuk mengenyam pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. APK yang tinggi menunjukkan tingginya tingkat partisipasi sekolah, tanpa memperhatikan ketepatan usia sekolah pada jenjang pendidikannya. Jika nilai APK mendekati atau lebih dari 100 persen menunjukkan bahwa menunjukkan ada penduduk yang sekolah belum mencukupi umur dan atau melebihi umur yang seharusnya. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa wilayah tersebut mampu menampung penduduk usia sekolah lebih daripada target yang sesungguhnya. Angka Partisipasi Murni didefinisikan sebagai proporsi anak sekolah pada satu kelompok usia tertentu yang bersekolah pada jenjang yang sesuai dengan kelompok usianya terhadap seluruh anak pada kelompok usia tersebut. Sejak tahun 2009, Pendidikan Non Formal (Paket A, Paket B dan Paket C) turut diperhitungkan. Manfaat pengukuran APM adalah untuk mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat pada waktunya. Tabel Tabel 43 memperlihatkan perkembangan APK dan APM Kabupaten Agam tahun 2010 2013. Tabel 42. Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni NO Tahun Tingkat SD/MI Tingkat SLTP/MTs Tingkat SMA/MA APK APM APK APM APK APM 1 2010 103,87 91,54 95 76,14 83,07 64,24 2 2011 103,92 91,37 96.30 78,52 84,20 71,98 3 2012 105,07 91,47 97,03 80,78 85,60 72,67 4 2013 105,87 92,71 98,04 81,05 87,43 73,03 Sumber : Data Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 69

4) Angka Partisipasi Sekolah (APS) APS menunjukkan besaran penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah. APS merupakan ukuran daya serap, pemerataan dan akses terhadap pendidikan khususnya penduduk usia sekolah. APS terdiri dari Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan, sedangkan APM menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan tertentu. Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap lembaga pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS merupakan indikator dasar yang digunakan untuk melihat akses penduduk pada fasilitas pendidikan khususnya bagi penduduk usia sekolah. Semakin tinggi Angka Partisipasi Sekolah semakin besar jumlah penduduk yang berkesempatan mengenyam pendidikan. Namun demikian meningkatnya APS tidak selalu dapat diartikan sebagai meningkatnya pemerataan kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Angka partisipasi sekolah Kabupaten Agam dari Tahun 2010 s.d 2013 menunjukan kecenderungan peningkatan, ini berarti semakin kecil prosentase penduduk yang tidak bersekolah. Selengkapnya data APS dapat disajikan sbb : Tabel 43. Angka Partisipasi Sekolah Tahun 2010-2013 Angka APS 2010 2011 2012 2013 Usia 7-12 95.98 96.09 97.03 98.02 Usia 13-15 95.35 97.84 98.12 99.20 Usia 16-18 73.08 73.10 74.74 79.69 Berdasarkan tabel diatas, pada Tahun 2013 masih ada 1.98 persen penduduk Kabupaten Agam berusia 7-12 yang tidak bersekolah, sedangkan penduduk usia 13-15 yang tidak bersekolah sebesar 0.8 persen dan penduduk usia 16-18 yang tidak bersekolah sebesar 20.31 persen. 5) Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah dan Rasio Murid Terhadap Jumlah Kelas Pembangunan pendidikan ditinjau dari ketersedian sekolah terlihat bahwa pada tingkat Sekolah Dasar/MI dari jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun pada Tahun 2013 sebanyak 58,004 orang dengan jumlah sekolah 454 unit, hal ini menunjukan bahwa ratarata satu SD menampung 128 murid. Rasio murid per kelas diketahui perbanding jumlah kelas dengan jumlah murid yaitu jumlah kelas sebanyak 3,132 sedang jumlah murid sebanyak 62,418 orang berarti satu kelas menampung rata-rata 20 murid, merupakan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 70

kondisi yang ideal, menunjukkan bahwa untuk tingkat SD tidak diperlukan lagi penambahan sarana pendidikan. Sementara untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama pada Tahun 2013 dari jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun sebanyak 27,224 orang dengan jumlah sekolah 120 unit, hal ini menunjukan satu sekolah menampung 227 siswa dengan rasio murid per kelas mencapai 24 orang. Selanjutnya untuk tingkat pendidikan Sekolah Menengah Tingkat Atas tidak jauh beda dengan kondisi Sekolah Menengah Pertama, dimana Rasio murid per kelas merupakan indikator yang menunjukkan banyaknya murid yang mengikuti pendidikan untuk setiap kelas mencapai 25 orang. Lebih jelasnya perkembangan rasio ketersedian sekolah dengan penduduk usia sekolah dan rasio murid dengan ketersedian jumlah kelas per jenjang pendidikan tahun 2010-2013 tergambar pada tabel berikut: Tabel 44. Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2010-2013 No Jenjang Pendidikan 2010 2011 2012 2013 1 SD/MI 1.1. Jumlah gedung sekolah 455 453 454 454 1.2. Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 60,767 59,174 59,400 58,004 1.3. Rasio 133.55 130.63 130.84 127.76 2 SMP/MTs 2.1. Jumlah gedung sekolah 120 118 119 120 2.2. Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 27,052 26,220 26,631 27,224 2.3. Rasio 225.43 222.20 223.79 226.87 3 SLTA 3.1 Jumlah gedung sekolah 61 64 65 67 3.2 Jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun 18,979 19,356 19,832 20,445 3.3 Rasio 311.13 302.44 305.11 305.15 Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 71

Tabel 45. Rasio Murid Terhadap Jumlah Kelas per Jenjang Pendidikan Tahun 2010-2013 No Jenjang Pendidikan 2010 2011 2012 2013 1 SD/MI 1.1. Kelas/Rombel 3,052 3,085 3,180 3,132 1.2. Jumlah Murid 62,932 62,176 62,418 61,410 1.3. Rasio 20.62 20.15 19.63 19.61 2 SMP/MTs 2.1. Kelas/Rombel 881 1,112 990 1,099 2.2. Jumlah Murid 25,132 25,100 25,805 26,571 2.3. Rasio 28.53 22.57 26.07 24.18 3 SLTA 3.1 Kelas/Rombel 566 594 670 700 3.2 Jumlah Murid 15,535 16,345 17,035 17,748 3.3 Rasio 27.45 27.52 25.43 25.35 Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2013 Dari Tabel 45 dan 46. diatas secara rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah dan rasio murid terhadap kelas telah terpenuhi, namun dari segi pemerataan dan keterjangkauan akses sarana pendidikan masih belum memadai, hal tersebut tercermin dari belum terpenuhinya standar SPM terkait jarak yakni 10 persen sarana pendidikan masih memiliki jarak lebih dari 3 Km untuk SD dan lebih dari 6 km untuk sekolah SLTP dari pemukiman permanen. Untuk itu perlu dipertimbangkan untuk penambahan sarana sekolah khususnya untuk daerah terpencil. 6) Rasio Guru/Murid Disamping faktor ketersediaan sarana gedung sekolah, faktor lain yang sangat menentukan dalam pembangunan bidang pendidikan adalah ketersediaan guru untuk masing-masing jenjang pendidikan. Rasio guru dengan murid untuk jenjang pendidikan SD/MI mengalami perkembangan yang berfluktuasi, pada Tahun 2013 rasionya 14,72. Sementara itu rasio guru terhadap murid untuk jenjang pendidikan SMP/MTs tahun 2013 rasionya mencapai 8.89, dan untuk jenjang pendidikan SLTA/MA rasionya 7,82. Secara keseluruhan kebutuhan guru dibandingkan dengan jumlah murid masih ideal namun demikian kebutuhan guru untuk bidang tertentu dirasakan masih kurang seperti guru bidang IPA, Bahasa Ingris, dan matematika. Untuk lebih mengetahui rasio guru dan murid untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 72

Tabel 46. Rasio Jumlah Murid terhadap Jumlah Guru per Jenjang Pendidikan Tahun 2010-2013 No Jenjang Pendidikan 2010 2011 2012 2013 1 SD/MI 1.1. Jumlah Guru 4,320 4,238 4,690 4,173 1.2. Jumlah Murid 62,932 62,176 62,418 61,410 1.3. Rasio 14.57 14.67 13.31 14.72 2 SMP/MTs 2.1. Jumlah Guru 2,973 2,933 3,084 2,988 2.2. Jumlah Murid 25,132 25,100 25,805 26,571 2.3. Rasio 8.45 8.56 8.37 8.89 3 SLTA/MA 3.1 Jumlah Guru 2,021 2,181 2,283 2,270 3.2 Jumlah Murid 15,535 16,345 17,035 17,748 3.3 Rasio 7.69 7.49 7.46 7.82 Sumber : Profil pendidikan Kabupaten Agam Tahun 2013 7) Angka Putus Sekolah ( APS ) Angka putus sekolah merupakan proporsi anak menurut kelompok usia sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang tidak menamatkan suatu jenjang pendidikan tertentu. APS dapat digunakan untuk mengukur kemajuan pembangunan di bidang pendidikan dan untuk melihat keterjangkauan pendidikan maupun pemerataan pendidikan pada masing-masing kelompok umur (7-12, 13-15 dan 16-18 tahun). Perkembangan angka putus sekolah Kab. Agam pada masing masing jenjang pendidikan dalam kurun waktu 2010-2013 dapat disajikan sbb : Tabel 47. Angka Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2010 2013. Jenjang Nomor 2010 2011 2012 2013 Pendidikan 1 SD/MI 0,17 0,12 0,10 0,11 2 SMP/MTs 1,21 0,11 0,11 0,09 3 SMA/SMK 1,04 0,63 0,63 0,24 Dari jumlah siswa SD/MI Tahun 2013 sebanyak 61.410 orang diantaranya 64 orang putus sekolah atau 0,11%. Angka ini dibandingkan Angka putus sekolah SD/MI pada Tahun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 73

2012 terdapat kenaikan sebesar 0,01%. Berdasarkan angka putus sekolah SD/MI perkecamatan angka putus sekolah terbanyak di Keamatan Malalak, Palembayan dan Ampek Nagari. Selengkapnya data putus sekolah perkecamatan pada tahun ajaran 2011-2012 dan 2012-2013 sebagimana disajikan pada Tabael di bawah ini : Tabel 48. Angka Putus Sekolah Menurut Kecamatan Tahun 2013. No. Kecamatan Jumlah anak putus sekolah tahun 2011/2012 Jumlah anak putus sekolah tahun 2012/2013 1 Tanjung Mutiara 3 4 2 Lubuk Basung 4 2 3 Ampek Nagari 1 3 4 Tanjung Raya 2 0 5 Matur 3 5 6 IV Koto 3 1 7 Malalak 66 11 8 Banuhampu 8 6 9 Sungai Pua 4 4 10 Ampek Angkek 3 2 11 Candung 4 2 12 Baso 0 5 13 Tilatang Kamang 1 2 14 Kamang Magek 1 1 15 Palembayan 13 10 16 Palupuh 4 12 Kabupaten Agam 65 70 Sumber : Profil Pendidikan Tahun 2013 Pada tingkat SLTP jumlah siswa tahun 2013 sebesar 2.988 orang dan sebanyak 22 orang putus sekolah atau sebesar 0,09%. Dibandingkan Tahun 2012 terdapat penurunan dimana jumlah siswa sebesar 25.100 orang, sebanyak 22-23 orang mengalami putus sekolah atau sekitar 0.11%. Angka Putus Sekolah tingkat SLTA pada Tahun 2013 juga mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012. Dimana Jumlah siswa SMA/SMK/MA pada Tahun 2013 sebanyak 17.748 orang yang putus sekolah sebanyak 43 orang atau 0,24%, sedangkan pada tahun 2012 dari siswa sebesar 16.345 orang sebanyak 103 orang mengalami putus sekolah atau sekitar 0,63%. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 74

8) Angka Kelulusan Angka kelulusan untuk jenjang pendidikan SD/MI dan SMA/SMK pada tahun 2013 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2012, tapi untuk jenjang pendidikan SMP/MTsN justru mengalami penurunan. Persentase siswa SD/MI yang lulus sebesar 99,97% meningkat dibandingkan dengan persentase kelulusan pada tahun 2012 sebesar 99,89%. Persentase siswa SMP/MTsN yang lulus pada tahun 2013 sebesar 99.06% mengalami penurunan dibanding capaian kelulusan pada tahun 2012 sebesar 99.55%. Sedangkan persentase siswa SMA/SMK yang lulus sebesar 99.82% meningkat dibanding kelulusan pada tahun 2012 sebesar 99.13%. Tabel 49. Angka Kelulusan Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2010-2013 Nomor Jenjang Pendidian 2010 2011 2012 2013 1 SD/MI 99,07 99,90 99,89 99,97 2 SMP/MTs 92,07 99,59 99,55 99,06 3 SMA/SMK 86,05 95,30 99,13 99,82 Sumber Profil Pendidikan tahun 2013. 9) Angka Melanjutkan Sekolah. Dari sebanyak 8.999 orang siswa yang menyelesaikan pendidikan pada tingkat SD/MI, maka sebanyak 9.254 orang atau sekitar 102.83 persen melanjutkan ke jenjang pendidikan setingkat SMP/MTs. Angka melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs melebihi 100 persen karena banyaknya anak lulusan SD/MI pada tahun sebelumnya yang baru melanjutkan pendidikan pada tingkat SMP/MTs pada tahun berikutnya dan banyaknya lulusan SD/MI di luar daerah yang melanjutkan sekolah di SMP/MTs di Kabupaten Agam sehingga terjadi peningkatan angka melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs. Selanjutnya dari sebanyak 7.511 orang siswa yang menyelesaikan pendidikan pada tingkat SMP/MTs, maka sebanyak 6.580 orang atau 87,60 persen melanjutkan ke jenjeng pendidikan setingkat SMA/SMK/MA Tabel 50. Angka Melanjutkan Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2010-2013. Indikator 2010 2011 2012 2013 Angka melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs 99,97 102,57 102,83 102,96 Angka melanjutkan dari SMP/MTs ke SMA/MA 80,03 86,20 87,60 87,74 Sumber: Dinas Kesehatan 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 75

10) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pendidikan anak usia 4-6 tahun telah dikembangkan melalui jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak dan tempat penitipan anak. Jumlah penduduk usia 4-6 tahun pada akhir tahun 2013 adalah sebesar 31.829 orang dan sebanyak 7.693 orang atau sekitar 24,17% telah mendapatkan dan mengikuti program Pendidikan Anak Usia Dini. Sesuai RPJM 2010-2015 ditargetkan 1 jorong 1 PAUD (467 unit). Kondisi sarana sekolah PAUD yang tersedia sampai dengan tahun 2013 masih sangat minim yakni sebanyak 265 buah, terdiri dari 3 unit lembaga PAUD Negeri dan 262 unit Swasta, dengan kriteria akreditasi A sebanyak 3 unit, akreditasi B sebanyak 42 unit dan akreditasi C sebanyak 35 buah, sedangkan sisanya sebanyak 185 unit belum terakreditasi. Dilihat dari sisi jumlah tenaga pendidik PAUD, pada tahun 2013 ini telah memadai bila dibandingkan siswa PAUD yang ada saat ini, sesuai Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 tentang standart PAUD, kondisi ideal pendidik PAUD untuk anak usia 4-6 tahun adalah 1 guru untuk maksimal 12 anak. Pada tahun 2013, guru PAUD di Kab. Agam berjumlah 802 orang terdiri dari PNS sebanyak 197 dan non PNS sebanyak 602 orang, sehingga rasio guru PAUD pada saat ini adalah 1: 10, namun demikian apabila dibanding dengan jumlah anak usia PAUD yang seharusnya mendapatkan pendidikan PAUD maka rasio pendidik PAUD masih sangat belum memadai yakni dengan perbandingan rasio 1 pendidik PAUD berbanding 40 anak usia PAUD. Dilihat dari segi kualifikasi pendidikan pendidik PAUD juga belum sesuai standart. Dari 802 pendidik PAUD yang ada memiliki latar belakang pendidikan bervariasi, yakni Sarjana (dengan berbagai jurusan non PAUD) sebanyak 274 orang, Diploma 159 orang, dan SMA sebanyak 369 orang. 142 orang tenaga pendidik PAUD tersebut telah bersertifikasi, sedangkan sisanya sebanyak 660 orang belum bersertifikasi. 2.3.2. Capaian Bidang Kesehatan 1) Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk Prevalensi gizi kurang dan gizi buruk di Kabupaten Agam dari tahun 2010 ke tahun 2013 cenderung menurun. Prevalensi gizi kurang turun dari 11,3 persen pada 2010 menjadi 7,12 persen pada tahun 2013. Dan prevalensi gizi buruk pada tahun 2010 sebesar 2.15 persen turun menjadi 0.70 persen pada tahun 2013. Namun perkembangan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk per tahunnya cukup flukfuatif. Hal ini disebabkan diantaranya karena adanya peningkatan status balita gizi buruk menjadi gizi kurang dan perubahan perilaku masyarakat tentang konsumsi gizi sebagai dampak dari penyuluhan tentang gizi yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan. Perkembangan prevalensi gizi kurang Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 76

2 dan gizi buruk di Kabupaten Agam selengkapnya dapat disajikan pada Tabel 52. sebagai berikut : Tabel 51. Perkembangan Kondisi Balita Tahun 2010 s/d 2013 No Indikator 2010 2011 2012 2013 Prevalensi Balita Gizi 1 Buruk Prevalensi Balita Gizi 2 Kurang Persentase Balita 3 Pendek Sumber: Dinas Kesehatan 2013 2,15 1,32 2,21 0,70 11,3 6,31 7,98 7,12 32,2 18,4 25,7 17,2 Apabila dilihat perkembangan kondisi balita perkecamatan dari tahun 2010 sampai tahun 2014 dapat dilihat pada Tabel 53. sebagai berikut : No Tabel 52 Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk Menurut Kecamatan Tahun 2011-2013 Kecamatan Jumlah balita gizi kurang Jumlah balita gizi buruk 2011 2012 2013 2011 2012 2013 1 Tanjung Mutiara 449 44 18 17 12 4 2 Lubuk Basung 741 37 20 77 17 3 3 Ampek Nagari 783 44 51 22 10 9 4 Tanjung Raya 1.043 23 28 21 5 1 5 Matur 111 9 28 2 1 3 6 IV Koto 84 15 15 0 6 0 7 Malalak 77 25 15 22 5 0 8 Banuhampu 329 25 14 1 4 1 9 Sungai Pua 199 24 9 3 11 1 10 Ampek Angkek 219 6 10 13 0 0 11 Candung 185 21 33 5 4 0 12 Baso 341 11 26 2 3 0 13 Tilatang Kamang 525 18 30 0 1 4 14 Kamang Magek 433 26 12 5 3 2 15 Palembayan 623 20 37 1 13 1 16 Palupuh 144 24 38 2 8 9 Jumlah 6.386 372 384 193 103 38 Persentase terhadap jumlah balita Sumber : Profil kesehatan Tahun 2013 Dari tabel diatas terdapat 13.37 7.98 7.12 1.32 2.21 0.70 beberapa kecamatan yang perlu diwaspadai terkait dengan tingginya persentase balita dengan gizi kurang dan gizi buruk i yaitu : Kecamatan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 77

Palembayan, Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Palupuh, Kecamatan Kamang Magek, Kecamatan Ampek Nagari, Kecamatan Tanjung Mutiara dan Kecamatan Malalak. 2) Angka Usia Harapan Hidup. Angka usia harapan hidup merupakan indikator makro keberhasilan pembangunan bidang kesehatan. Berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan setiap 10 tahun yang dimulai pada tahun 1970, angka usia harapan hidup masyarakat Kabupaten Agam cenderung meningkat. Pada sensus tahun 1970 angka harapan hidup sekitar 47,7 tahun, maka pada sensus tahun 1980 meningkat menjadi 52,2 tahun, sensus tahun 1990 meningkat lagi menjadi 59,8 tahun dan sensus tahun 2000 menjadi 65,5 tahun. Pada Tahun 2012 angka harapan hidup sudah mencapai angka 69,99 tahun.namun pada tahun 2013 terjadi penurunan angka harapan hidup menjadi 69,43. Perkembangan angka usia harapan hidup Kabupaten Agam pada tahun 2010 sampai 2012 terlihat pada Grafik berikut. Grafik 12. Angka Usia Harapan Hidup Pada tahun 2013, angka harapan hidup di Kabupaten Agam sebesar 69,99 tahun, sama dengan tahun 2012, sedangkan target tahun 2013 adalah 70,60 tahun, sehingga target RPJMD tahun 2013 tidak tercapai. 3) Angka Kematian Bayi ( AKB ) Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen. Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah kematian bayi perempuan lebih banyak dari bayi laki-laki ( 60 persen ). Tetapi pada balita perbandingan kematian balita laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan, yaitu 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat Tabel berikut ini: Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 78

No Tabel 53. Jumlah Kematian Bayi Dan Balita menurut Kecamatan Tahun 2010-2013 Kecamatan Jumlah Kematian Bayi Jumlah Kematian Balita 2010 2011 2012 2013 2010 2011 2012 2013 1 Baso 19 5 5 1 2 0 2 2 Ampek Angkek 19 5 7 0 0 0 2 3 Candung 8 2 2 1 0 0 0 4 Tilatang Kamang 10 6 8 0 0 0 0 5 Kamang Magek 28 4 0 2 0 0 0 6 Palupuah 19 3 3 2 0 0 0 7 Banuhampu 2 9 13 3 0 0 0 8 Sungai Pua 18 8 6 2 1 1 0 9 IV koto 5 2 1 0 0 0 0 10 Malalak 15 4 2 0 0 0 0 11 Matur 14 3 4 4 0 0 0 12 Palembayan 15 18 9 3 1 3 1 13 Tanjung raya 11 7 8 4 0 0 0 14 Lubuk basung 21 17 14 4 2 0 0 15 Ampek Nagari 18 7 6 4 0 1 0 16 Tanjung mutiara 23 6 5 2 1 1 0 Kab. Agam 245 106 93 31 7 6 5 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun 2010 s.d 2013 Angka Kematian Bayi (AKB) menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan AKB untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka programprogram untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus. Sedangkan angka kematian Post-Neo Natal dan angka kematian anak serta kematian balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 79

4) Angka Kematian Ibu (AKI) Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup dalam kurun 4 tahun terakhir (2010-2013) cenderung menurun yakni dari 150 pada tahun 2010 menjadi 74,8 pada 2013. Hal ini merupakan dampak dari upaya intensif untuk menurunkan angka kematian ibu, antara lain peningkatan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, kunjungan ibu hamil K1 K4 dan pelayanan ibu nifas. Perkembangan Angka kematian ibu dan faktor faktor yang mempengaruhinya dari kurun waktu 2010 sampai dengan 2013 sebagaimana tersaji pada tabel dibawah ini : Tabel 54. Angka Kematian Ibu Melahirkan Tahun 2010 2013 Uraian 2010 2011 2012 2013 Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup Cakupan Kelahiran yang ditolong nakes 150 125 98,4 74,8 72,5 % 78,4 % 81,1 % 82,5 % Kunjungan Ibu Hamil K-4 66,9 % 75,7 % 76,6 % 83,1 % Pelayanan Ibu Nifas 64,7 % 73,5 % 78,6 % 77,5 % Sumber : Data Dinas Kesehatan Kab. Agam Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa meskipun dalam kurun waktu tahun 2010 s.d tahun 2013 Angka kematian ibu cenderung menurun namun pada Tahun 2014 angka kematian ibu naik significant yakni mencapai 203.9 per 100.000 kelahiran hidup. Hal tersebut berbanding lurus dengan menurunnya cakupan kelahiran yang ditolong nakes dari 82.5 pada tahun 2013 menjadi 74.4 pada tahun 2014, demikian halnya dengan kunjungan ibu hamil K1 K4 menurun dari 83.1 di tahun 2013 menjadi 70.1 pada tahun 2014 dan Pelayanan ibu nifas juga menurun dari 77.5 di tahun 2013 menjadi 75.9 pada tahun 2014. 5) Cakupan Jorong Universal Child Immunization (UCI) Cakupan jorong dengan Universal Child Immunization (UCI) pada tahun 2013 sangat mengembirakan dimana telah mencapai 72,6 persen, sedangkan pada tahun 2010 baru mencapai 55,6 persen. Selengkapnya perkembangan Cakupan jorong Universal Child Immunization (UCI) sebagaimana tabel dibawah ini : Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 80

Tabel 55. Jorong UCI Tahun 2010-2013 Uraian 2010 2011 2012 2013 Jumlah Jorong 467 467 467 467 Jorong UCI 259 373 415 339 Persentase 55.6% 80% 89% 72.6%, Sumber : Data Dinas Kesehatan Kab. Agam 6) Cakupan Gizi Buruk Mendapat Perawatan Terkait dengan penanganan dan perawatan balita yang menderita gizi buruk, hingga saat ini dapat ditangani dengan baik. Hal ini terlihat dari cakupan penanganan dan perawatan balita penderita gizi buruk selama 5 tahun dimana semua balita yang menderita gizi buruk telah mendapat perawatan yang intensif (100% Balita Gizi Buruk perawatan setiap tahunnya). 7) Rasio Posyandu per Satuan Balita mendapat Pos pelayanan terpadu (Posyandu) merupakan ujung tombak pelayanan dan pemeriksaan kesehatan khususnya bagi ibu dan bayi yang dikelola oleh kader posyandu yang berasal dari kalangan masyarakat sendiri. Di Posyandu tersedia layanan pemeriksaan kehamilan, penimbangan bayi, imunisasi, pemberian makanan tambahan dan juga penyuluhan kesehatan. Sesuai standart kondisi ideal rasio posyandu per balita adalah 1 posyandu berbanding 100 balita. Berdasakan hal tersebut rasio posyandu di Kabupaten Agam adalah masih memadai sebagaimana tersaji dalam tabel di bawah ini: Tabel 56. Jumlah Posyandu dan Balita Tahun 2010-2013 No. Uraian 2010 2011 2012 2013 1 Jumlah Posyandu 828 833 842 847 2 Jumlah Balita 47,904 45,650 46,159 46,697 3 Rasio 17.28 18.25 18.24 18.14 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun 2013 8) Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Pustu per satuan Penduduk Berdasarkan rasio Puskesmas terhadap penduduk, jumlah Puskesmas di Kabupaten Agam sudah mencukupi. Artinya dengan jumlah penduduk sebanyak 467.564 jiwa dengan jumlah Puskesmas 22 unit, maka 1 Puskesmas akan melayani 21.253 jiwa penduduk, sedangkan standar nasional 1 Puskesmas idealnya melayani sebanyak 25.000 jiwa penduduk. Namun demikian masih perlu dipertimbangkan untuk membangun Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 81

Puskesmas pada daerah-daerah tertentu seperti daerah terisolir yang sulit diakses dengan transportasi umum, dan daerah perkebunan. Selanjutnya berdasarkan rasio jumlah Puskesmas Pembantu terhadap jumlah penduduk dapat disimpulkan bahwa jumlah Puskesmas Pembantu sudah mencukupi. Dengan jumlah Puskesmas Pembantu sebanyak 120 unit dan jumlah penduduk sebanyak 467.564 jiwa, maka 1 Puskesmas Pembantu melayani sebanyak 3.896 jiwa, sedangkan standar nasional 1 unit Puskesmas Pembantu idealnya melayani 5.000 jiwa. Sama halnya dengan Puskesmas, maka penambahan Puskesmas Pembantu dapat dilakukan untuk daerah yang sulit dan daerah pemukiman baru. Tabel 57. Jumlah Puskesmas dan Pustu Tahun 2010-2013 No Uraian 2010 2011 2012 2013 1 Jumlah Puskesmas 22 22 22 22 2 Jumlah Pustu 120 120 120 120 3 Jumlah Penduduk 455,484 459,155 463,719 467,564 4 Rasio Puskesmas per penduduk 0.048 0,048 0,047 0,047 5 Rasio Pustu per penduduk 0.26 0,26 0,26 0,256 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun 2013 9) Rasio Dokter per Satuan Penduduk. Perkembangan jumlah dokter selama 4 tahun terakhir cenderung menurun, pada Tahun 2010 jumlah dokter hanya sebanyak 66 orang, pada Tahun 2011 menjadi 59 orang, kemudian Tahun 2012 berkurang menjadi 47 orang. Kekurangan tersebut disebabkan 16 orang dokter melanjutkan pendidikan spesialisasi dan mengambil program S2. Pada tahun 2013 jumlah dokter meningkat Lagi menjadi 66 orang. Berdasarkan Standar Pelayanan Kesehatan Terpadu, idealnya 1 (satu) orang dokter melayani 2.500 jiwa penduduk. Berdasarkan kondisi tersebut maka dengan jumlah penduduk pada Tahun 2013 sebesar 467.564 jiwa seharusnya memiliki dokter sebanyak 187 orang. Tabel 58 menunjukkan data Jumlah Dokter Tahun 2010-2013 di Kabupaten Agam. Tabel 58. Jumlah Dokter PuskesmasTahun 2010-2013 No. Uraian 2010 2011 2012 2013 1. Dokter Spesialis 4 4 7 19 2. Dokter Umum 62 55 40 41 Jumlah 66 59 47 60 Jumlah Penduduk 455.484 459.155 463.719 467.564 Rasio/100.000 pddk 14.49 12.85 10.14 12.83 Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Agam Tahun 2013 Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 82

10) Cakupan Penemuan Dan Penanganan Penderita Penyakit TBC/BTA Jumlah penemuan kasus TBC/BTA dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2013 cenderung menurun, namun angka sukses pengobatan pada tahun 2012 sebesar 89.2 persen juga menurun menjadi 87.5 persen pada tahun 2013. Angka sukses pengobatan ini masih dibawah target MDG S sebesar 88 persen. Selengkapnya cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC/BTA (+) pada tahun 2011 sampai dengan 2013 sebagaimana tersaji dalam tabel di bawah ini : Tabel 59. Cakupan Penemuan dan pengobatan penderita TBC/BTA Tahun 2010 2013 Uraian 2010 2011 2012 2013 Proporsi penemuan TBC/BTA Angka sukses pengobatan (succes rate) 64.3 59.1 52.7 45.1 90% 87.2% 89.2% 87.5% Sumber ; Dinas Kesehatan Kab. Agam 11) Cakupan Penemuan Dan Penanganan Penderita Penyakit DBD Jumlah penemuan penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam kurun waktu 2011-2013 cenderung meningkat, bahkan pada tahun 2013 mencapai 225 kasus. Namun demikian CFR penanganan kasus demam berdarah di Kab. Agam sudah cukup bagus, hal ini tercermin dari angka CFR pada 2011 2012 yang mencapai angka 0 persen, Artinya semua penderita penyakit DBD dapat ditangani 100 persen setiap tahunnya. Sedangkan pada Tahun 2013 CFR naik menjadi 0.8 persen artinya dari 225 kasus yang ditemukan, terdapat 1 orang penderita meninggal dunia. Tabel 60. Penemuan dan Penanganan Penderita Demam Berdarah Tahun 2011-2013 Tahun Jumlah Kasus CFR ( % ) 2011 58 0 2012 95 0 2013 225 0,8 Sumber ; Dinas Kesehatan Kab. Agam Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 83

12) Cakupan Kunjungan Bayi Jumlah kunjungan bayi minimal 8 kali selama tahun 2013 adalah sebanyak 7.622 orang atau 82.7% dari jumlah bayi di tahun 2013 sebanyak 9.271 bayi. Cakupan ini mengalami peningkatan yang signifikan dibanding tahun 2012 yang hanya sebesar 69.1% dan telah berada diatas target capaian SPM sebesar 80% pada 2015. Tabel 61. Cakupan Kunjungan Bayi Tahun 2010 2013 Tahun Kunjungan Bayi ( % ) 2010 62.9 2011 53.1 2012 53.1 2013 53.1 Sumber ; Dinas Kesehatan Kab. Agam 13) Pelayanan Kesehatan Rujukan Pelayanan kesehatan rujukan di Kab. Agam diselenggarakan oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung. RSUD Lubuk Basung adalah rumah sakit milik pemerintah daerah kab. Agam dengan klasifikasi tipe C. Capaian kinerja RSUD dalam kurun waktu tahun 2010 sampai dengan 2013 dapat digambarkan dalam tabel di bawah ini : Indikator Kinerja Tabel 62. Indikator Kinerja Rumah Sakit 2010 2011 2012 2013 BOR (%) 36.73 40.47 42.93 44.99 ALOS (hari) 3 3.1 2.9 3 TOI (hari) 5.6 4.5 4.1 3.9 GDR (%) 24 23 22 22.3 NDR (%) 6 12 11 5.97 BTO (kali) 41.3 47.9 51.1 51 Sumber : RSUD Lubuk Basung Bed Occupancy Rate (BOR) adalah indikator tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur, sedangkan Turn Over Interval (TOI) adalah rata rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati/diisi lagi oleh pasien baru. Kedua indikator ini menggambarkan tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 84

RSUD. Dari tahun 2010 sampai dengan 2013 nilai BOR semakin meningkat yakni dari 36.73 persen pada tahun 2010 meningkat menjadi 44.99 persen pada 2013, hal tersebut selaras dengan semakin rendahnya nilai TOI yang berarti semakin kecilnya waktu tempat tidur kosong/tidak terisi pasien. Namun demikian capaian tersebut belum mencapai angka standart nasional yakni nilai ideal BOR adalah antara 60 80 persen, sedangkan standart TOI adalah antara kisaran 1-3 hari. Kemudian dari segi kecukupan sarana prasarana dapat digambarkan dari indikator bed turn over (BTO) yang menggambarkan frekwensi pemakaian tempat tidur pada satu periode (1 tahun), standart nasional BTO adalah 40-50 kali pemakaian dalam 1 tahun. Pada tahun 2013 BTO RSUD Lubuk basung mencapai 51 (diatas standart maksimal), ini artinya RSUD masih memerlukan penambahan sarana dan prasarana untuk lebih mengoptimalkan pelayanan. Dari segi mutu pelayanan RSUD dapat diukur dari indikator average length of stay (ALOS) yakni rata2 lama pasien dirawat, Net Death rate (NDR) atau angka kematian pasien setelah 48 jam dirawat untuk tiap 1000 pasien keluar dan gross Death rate (GDR) yakni angka kematian umum untuk 1000 pasien keluar dari RSUD. Angka capaian ketiga indikator mutu tersebut cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun sebagaimana tercantum dalam tabel diatas, namun hal tersebut masih dibawah batas maksimal standart nasional yang diperbolehkan atau dengan kata lain mutu pelayanan RSUD sudah cukup baik. Standart nasional ALOS adalah antara 6-9 hari sedangkan standart NDR yang masih dapat ditoleransi maksimal adalah kurang dari 25 pasien meninggal per 1000 pasien keluar dan standart nasional GDR adalah maksimal 45 orang per 1000 pasien keluar. 2.3.3. Capaian Bidang Kependudukan dan Catatan Sipil. Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Agam merupakan tantangan tersendiri di bidang layanan administrasi kependudukan. Pada kurun waktu 2010 sampai dengan 2013, layanan administrasi kependudukan memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan, perkembangan rasio penduduk ber KTP pada tahun 2010 yang hanya mencapai 46 persen naik tajam menjadi 84 persen pada tahun 2013. Hal tersebut mencerminkan kesadaran penduduk akan pentingnya memiliki dokumen kependudukan dan semakin tertibnya layanan administrasi kependudukan. Untuk mendukung tertib layanan kependudukan tersebut telah didukung dengan Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK) sehingga diharapkan akan dapat memperkecil kemungkinan kepemilikan KTP dan kartu keluarga ganda. Pada saat ini Kab. Agam telah membangun jaringan SIAK on line antara Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 85

Dinas Dukcapil di Lubuk Basung dengan Kantor Pusyanmas Jirek, serta operasional SIAK off line di 16 kecamatan. Selain itu kebijakan konsolidasi data secara nasional sudah di tindak lanjuti dengan pelaksanaan perekaman data KTP Elektronik (E-KTP) sejak tahun 2011 secara bertahap. Sampai dengan tahun 2012 cakupan penduduk dengan KTP Nasional berbasis NIK (E-KTP) di Kabupaten Agam telah mencapai 238.128 orang dan pada tahun 2013 secara bertahap telah diselesaikan perekaman data sebanyak 16.460 orang, sehingga sampai akhir tahun 2013 jumlah penduduk yang memiliki E-KTP telah mencapai 254.588 orang atau 69.4 persen dari jumlah penduduk wajib KTP. Tabel 63. Rasio Penduduk ber KTP per satuan penduduk No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 1. Jumlah Penduduk ber KTP 150.875 201245 276.149 292.062 308.522 2. 3. Jumlah Penduduk ber usia >17 Tahun / sudah menikah. Rasio Penduduk ber KTP per-satuan penduduk Wajib KTP 299.356 335.409 345.895 356.315 366.821 0.46 0.60 0.80 0.82 0.84 Sumber : Dinas Kependudukuan dan Catatan Sipil Kabupaten Agam Sedangkan cakupan penduduk yang memiliki dokumen akta kelahiran di Kabupaten Agam masih rendah yakni hanya 405 per 1000 penduduk pada tahun 2014. Untuk meningkatkan jumlah penduduk yang memiliki akta kelahiran maka Pemerintah Kabupaten Agam telah membebaskan biaya pengurusan akta kelahiran sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2006 tentang pelayanan akta gratis. Perkembangan penduduk yang memiliki akta kelahiran dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 64. Kepemilikan Akte Kelahiran per 1000 Penduduk Tahun 2010 2014 No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 1. Jumlah Penduduk memiliki Akte Kelahiran 133.645 160.090 177.722 200.864 215.603 2. Jumlah Penduduk 492.978 509.171 518.695 525.418 532.058 3. Rasio Kepemilikan Akte Kelahiran per Per 1000 penduduk 0.271 0.314 0.343 0.382 0.405 Dinas Kependudukuan dan Catatan Sipil Kabupaten Agam Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 86

2.3.4. Capaian Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera. Berdasarkan periode Sensus Penduduk tahun 2000-2010, Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Kabupaten Agam mencapai 0.91 persen/tahun. LPP ini masih dalam katagori rendah, namun demikian LPP ini lebih besar lima kali lipat dibandingkan periode sensus sebelumnya (1999-2000) yang hanya sebesar 0,18 persen per tahun. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, salah satu caranya adalah melalui program Keluarga Berencana ( KB ). Melalui Program KB dan Keluarga Sejahtera diupayakan untuk memotivasi Pasangan Usia Subur (PUS) sehingga mau menjadi peserta program KB. Besarnya partisipasi PUS untuk menjadi akseptor KB mengindikasikan terkendalinya laju pertumbuhan penduduk. Pada kurun waktu 2010 sampai dengan 2013, rasio akseptor KB per 1000 PUS justru mengalami penurunan yakni sebesar 0.845 pada tahun 2010 menjadi 0.680 pada tahun 2013. Perkembangan Rasio Akseptor KB dan cakupan peserta KB aktif selama tahun 2010 2013 sebagaimana disajikan dalam tabel di bawah ini: Tabel 65. Rasio Akseptor KB dan Cakupan Peserta KB aktif Tahun 2010-2013 No. Uraian 2010 2011 2012 2013 1 Jumlah Akseptor KB 53,539 42.290 42,697 43,376 2 Jumlah PUS 63,360 62.652 62,169 62,828 3 4 Rasio Akseptor KB/1000 PUS Cakupan peserta KB aktif 0.845 0.675 0.686 0.680 69% 67.53% 68.68% 68.86% Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Agam Penurunan rasio Akseptor KB dan Cakupan peserta KB aktif dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2013 disebabkan banyak faktor internal dan eksternal, diantaranya penambahan jumlah Pasangan Usia Subur yang kurang diimbangi dengan Sumber daya pendukung program KB dan juga faktor eksternal seperti pengaruh budaya lokal serta adanya beberapa kebijakan nasional yang secara tidak langsung memiliki dampak negatif terhadap program KB. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 87

2.3.5. Capaian Bidang Keluarga Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I Tabel 66. Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I Tahun 2010-2013 No. Uraian 2010 2011 2012 2013 1 Keluarga Pra Sejahtera dan KS I 24,405 26.351 24.285 24.579 2 Jumlah Keluarga (R.Tangga) 109,544 97.600 100.797 101.956 3 Cakupan Pra Sejahtera dan KS I 0.22 0.27 0.24 0.241 Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten. Agam 2.3.6. Capaian Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Kabupaten Agam mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan pada kurun waktu 2010-2013. Hal ini tercermin dari tingkat partisipasi perempuan di lembaga pemerintahan yang meningkat tajam dari 18.30 persen pada tahun 2010 menjadi 65 persen pada tahun 2013, hal ini juga mencerminkan semakin baiknya tingkat pendidikan perempuan. Demikian halnya dengan partisipasi angkatan kerja perempuan yang juga makin meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2013 angka partisipasi angkatan kerja perempuan telah mencapai 92.56, meningkat dibanding tahun 2011 sebesar 92.38, hal ini menunjukan semakin banyaknya perempuan yang bekerja/mandiri. Tabel 67. Pemberdayaan Perempuan Nomor Uraian 2010 2011 2012 2013 1 Rasio KDRT 0.007 0.006 0.02 0.02 2 Persentase Partisipasi perempuan di lembaga pemerintahan. Partisipasi angkatan kerja 3 perempuan Sumber : BPPKB Kab. Agam 18.30 48.62 65 65 92.38 92.57 92.56 Namun demikian seiring dengan meningkatnya kemandirian perempuan di ikuti dengan semakin naiknya ratio KDRT dan kasus pengaduan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, yakni rasio KDRT pada tahun 2011 sebesar 0.006 meningkat menjadi 0.02 pada tahun 2013 dan kasus pengaduan tindak kekerasan dari 5 kasus pada Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 88

2010 menjadi 24 kasus pada 2013. Meskipun demikian faktor kemandirian perempuan dan naiknya kasus KDRT tersebut tidak dapat diartikan sebagai hubungan sebab akibat, justru kenaikan ratio KDRT serta kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang didasarkan pada data laporan/pengaduan korban kepada P2TP2A tersebut mencerminkan semakin tingginya keberanian perempuan untuk melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya dan hal ini mengindikasikan semakin baiknya kesadaran pengarusutamaan gender di Kabupaten Agam. Meskipun demikian kenaikan kasus KDRT dan laporan tindak kekerasan tersebut tetap harus mendapatkan perhatian bersama untuk dilakukan upaya meminimalisirnya dan peningkatan perlindungan terhadap hak perempuan dan anak. Tabel 68. Perlindungan Perempuan dan Anak Nomor Uraian 2010 2011 2012 2013 1 Persentase jumlah tenaga kerja di bawah umur 2 Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan 5 kasus 13 kasus 33 kasus 24 kasus [[ [Sumber [ : BPPKB Kab. Agam 2.3.7. Capaian Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Sesuai dengan Permendagri Nomor 54 tahun 2010, indikator di bidang pemerintahan nagari adalah persentase nagari berstatus swasembada terhadap total jumlah nagari. Berdasarkan kriteria/status, dea/nagari diklasifikasikan menjadi tiga level perkembangan yakni nagari swadaya (nagari terbelakang), nagari swakarya ( berkembang ) dan nagari swasembada ( maju ). Nagari swasembada merupakan nagari yang memiliki kemandirian lebih tinggi dalam segala bidang terkait aspek sosial dan ekonomi. Nagari swasembada adalah nagari yang berkecukupan dalam hal suber daya manusia dan juga dalam hal dana modal sehingga sudah dapat memanfaatkan dan menggunakan segala potensi fisik dan non fisik nagari secara maksimal. Kehidupan nagari swasembada sudah mirip dengan kota dengan mata encaharian yang beraneka ragam serta sarana prasarana yang cukup lengkap untuk mendukung kehidupan masyarakat pedesaan yang maju. Berdasarkan instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 11 tahun 1972 ciri-ciri nagari swasembada adalah sebagai berikut : Mata pencaharian penduduk sebagian besar di sektor jasa/perdagangan/pertanian maju atau lebih dri 55 persen penduduk bekerja di sektor tersier. Produksi nagari tinggi dengan penghasilan diatas 100 juta/tahun. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 89

Kelembagaan formal dan informal telah berjalan sesuai dengan fungsinya dan telah ada 7 9 lembaga yang aktif. Keterampilan masyarakat dan pendidikannya pada tingkat 60 persen telah lulus SD, sekolah lanjutan dan bebrapa telah lulus perguruan tinggi. Fasilitas dan prasarana mulai lengkap dan baik. Penduduk sudah memiliki inisiatif sendiri melalui swadaya dan gotong royong dalam pembangunan nagari. Dalam upaya peningkatan daya saing daerah salah satu potensi yang perlu dikembangkan adalah melalui peningkatan dan percepatan pertumbuhan status nagari menjadi nagari swasembada. Cakupan nagari swasembada di Kabupaten Agam sebagimana tersaji dalam tabel di bawah ini : Tabel 69 Cakupan Nagari Swasembada Nomor Uraian 2010 2011 2012 2013 1 Jumlah Nagari 82 82 82 82 2 Cakupan Nagari Swasembada Sumber : BPMPN Kab. Agam 1 2 2 2 Berdasarkan data diatas sampai tahun 2013 cakupan nagari swasembada di Kabupaten Agam masih rendah yakni hanya 2 dari 82 nagari atau hanya 2,4 persen. Fakta ini merupakan tantangan berat pada masa mendatang untuk menggiatkan upaya pembinaan guna mendorong percepatan kemandirian nagar menuju level nagari swasembada. Tabel 70. Indikator Pemberdayaan Masyarakat Uraian 2010 2011 2012 2013 Rata-rata jumlah keluarga Binaan LPM Rata-rata jumlah keluarga Binaan PKK Jumlah LSM aktif 31,3 33,2 34 36,1 Jumlah LPM berprestasi - 1-1 Jumlah PKK Aktif 98 98 98 98 Jumlah Posyandu aktif 828 829 842 847 Sumber : BPMPN Kab. Agam Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 90

2.3.8. Capaian Bidang Sosial Tabel 71. Penangangan PMKS Uraian 2010 2011 2012 2013 Jumlah PMKS - - 11.967 11.929 Persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial Persentase penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial Jumlah sarana sosial (panti asuhan, jompo dan panti rehabilitasi) 1.09 0 1.09 26 8.64% 2.39% 5.25% 25% 21 21 21 21 Sumber : Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kab. Agam Tabel 72. Rasio Tempat Ibadah Tahun 2010 dan 2013 Tahun 2012 Tahun 2013 NO Bangunan tempat Ibadah Jumlah (unit) Jumlah pemeluk Rasio Jumlah (unit) Jumlah pemeluk Rasio 1. Mesjid, Musholla, langgar 1.637 448.025 3,92 1.673 443.092 3,73 2. Jumlah 1.637 448.025 3,92 1.673 443.092 3,73 Sumber : Bagian Kesra Sekretariat Daerah 2.3.9. Capaian Bidang Infrastruktur Kabupaten Agam merupakan wilayah rawan bencana sehingga perlu menjadi perhatian serius oleh pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak. Bencana ini membawa dampak yang besar karena mengakibatkan kerusakan berbagai prasarana fisik Jalan, Jembatan dan Sumber Daya Air. Seperti akibat bencana gempa tahun 2007, dan gempa 30 September 2009 yang berdampak terhadap rusaknya infrastruktur jaringan jalan, jaringan irigasi dan infrastruktur lainnya. Berdasarkan updating database dalam Tahun 2014 dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Agam Jumlah ruas jalan adalah 639 Ruas dengan total panjang keseluruhan adalah 1.668, 48 Km. Dari panjang tersebut 86,92 % sudah pernah ditangani dengan jenis Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 91

permukan berupa hotmix, lapen maupun cor. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini. Grafik 13 Jenis Permukaan Jalan di Kabupaten Agam Tahun 2014 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Tahun 2014. Dari 86,92 % jalan yang telah ditangani tersebut sebesar 77,53 % mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan, sedang dan berat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik berikut: Grafik 14 Kondisi Jalan Kabupaten Agam Tahun 2014 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Tahun 2014. Sesuai dengan Keputusan Bupati Agam Nomor : 473 Tahun 2012 tentang ruas jalan dan jembatan di Kabupaten Agam, Jumlah Jembatan adalah Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 92

319 Jembatan dengan total panjang keseluruhan adalah 2.843 Meter. Sebagian besar jembatan tersebut adalah jembatan bentang pendek. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut. Tabel 73 Jumlah Jembatan Berdasarkan Panjang Jembatan No Panjang Bentang Jumlah Persentase 1 Bentang 0 10 Meter 262 81.88% 2 Bentang 11 20 Meter 33 10.31% 3 Bentang 21 30 Meter 19 5.94% 4 Bentang 31 40 Meter 2 0.63% 5 Bentang > 40 Meter 4 1.25% Total 320 100.00 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Tahun 2014. Berdasarkan kondisi jembatan masih banyak jembatan yang perlu ditangani karena 73,35 % jembatan dalam kondisi rusak mulai rusak ringan, sedang sampai berat. Hal ini disebabkan oleh fakktor umur jembatan dan struktur jembatan yang sudah tua dan banyak dibangun dengan menggunakan lantai kayu dan rusak akibat bencana alam. Dari jumlah tersebut sudah banyak yang perlu dibenahi atau direhabilitasi dan sebagian perlu dibangun baru. Sampai Tahun 2015 ditargetkan pembangunan jembatan baru sebanyak 15 unit. Grafik 15 Kondisi Jembatan di Kabupaten Agam Tahun 2012 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Tahun 2012. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 93

a. Rasio Jaringan Irigasi Untuk meningkatkan produksi pertanian khususnya tanaman padi dimana pembangunan atau Rehabilitasi Jaringan irigasi sangat berperan sekali. Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan tergambar pada table berikut : Tabel 74 Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kecamatan NO Kecamatan Panjang Jaringan Irigasi Primer Sekunder Tersier Total Panjang Jaringan Irigasi Km Luas lahan budidaya (Ha) Rasio (1) (2) (3) (4) (5) (6=3+4+5) (7) (8=6/7) 1 Tanjung Mutiara 7.034 16.647 18.86 23,699.86 3,194.05 7.16 2 Lubuk Basung 63.431 58.756 1.500 123.687 5,955.01 6.67 3 Ampek Nagari 29.423 36.621 3.700 69.744 3,789.55 7.78 4 Tanjung Raya. 61.934 33.406 95.340 3,383.53 6.59 5 Matur. 62.494 33.008 95.502 2,598.55 5.47 6 IV.Koto 15.815 33.936 4.200 53.951 2,219.60 5.23 7 Malalak 41.001 57.298 4.200 102.499 2,165.46 4.72 8 Banuhampu 16.962 21.126 38.088 3,302.33 7.10 9 Sungai Pua 22.240 19.140 41.380 3,518.87 6.13 10 IV.Angkek 27.860 32.074 59.934 3,248.19 7.63 11 Candung 40.442 50.523 90.965 3,139.92 6.96 12 Baso 30.089 26.830 56.919 2,869.23 6.89 13 Tilatang Kamang 16.289 29.507 45.796 4,357.99 7.69 14 Kamang Magek 26.302 28.711 55.013 3,897.83 7.66 15 Palembayan 107.582 72.408 34.778 214.768 4,872.28 7.13 16 Palupuh 61.088 43.500 104.588 1,624.09 11.86 Jumlah 379,197.70 54,136.48 14,28 Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab.Agam Tahun 2014 Rasio Jaringan Irigasi adalah perbandingan panjang jaringan irigasi terhadap luas lahan budidaya. Panjang jaringan irigasi meliputi jaringan primer, sekunder, tersier. Hal ini mengindikasikan ketersediaan saluran irigasi untuk kebutuhan budidaya pertanian. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 94

Jumlah irigasi di Kabupaten Agam yaitu 885 buah. Luas areal irigasi yang merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Agam adalah 100 Ha sebanyak 154 DI (Daerah Irigasi). Kondisi Irigasi di Kabupaten Agam. dengan kondisi baik (50,60%), kondisi sedang (20,48%) dan kondisi rusak berat 28,92%). 2.3.10. Lingkungan Hidup Upaya pelestarian lingkungan hidup sangat dipengaruhi oleh perubahan prilaku masyarakat yang cenderung materialis dan individualis sebagai konsekwensi perkembangan pembangunan suatu wilayah. Hal ini akan memperbesar peluang timbulnya kerusakan dan pencemaran lingkungan ditambah lagi dengan issue global warning yang semakin mengancam. Untuk mengantisipasi hal tersebut pada tahun 2014 diterbitkan SPPL (Surat Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan) sebanyak 320 buah, sedangkan tahun 2013 diterbitkan 101 buah SPPL dan 1 buah izin PPLH. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup, dengan enam kegiatan diharapkan menghasilkan tingkat pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup turun dari tahun sebelumnya atau terkendali, dengan pencapaian hasil berupa dilakukannya pengawasan terhadap 30 usaha atau kegiatan dari target semula hanya 30 usaha, sejalan dengan itu peningkatan kualitas dan akses informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan dengan kegiatan pengembangan data dan informasi lingkungan hidup dalam bentuk laporan dan buku data status lingkungan hidup Kabupaten Agam. 2.3.11. Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Perkembangan koperasi usaha kecil dan menengah di Kabupaten Agam dapat menjadi pilar utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Hal ini dapat dilihat dari potensi sumber daya manusia yang dimiliki dan kesadaran masyarakat akan pentingnya arti civil society, yakni sebuah masyarakat yang mandiri, partisipatif serta menuju pada terciptanya kesadaran untuk mampu menolong dirinya sendiri. Tantangan ke depan adalah mewujudkan profesionalitas dan sikap business like; artinya mampu mengelola Koperasi dengan manajemen yang profesional sehingga koperasi tidak sematamata hanya menjadi alat sosial, namun yang lebih penting adalah agar mampu menjaga kelangsungan hidupnya (viability) di masa yang akan datang. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 95

Salah satu usaha industri yang menonjool di Kabupaten Agam adalah usaha industri rumah tangga seperti usaha pengolahan makanan ringan, kuliner, cendra mata, dan sulaman. Beberapa Usaha Kecil Menengah (UKM) maupun Industri Kecil Menengah (IKM) Kabupaten Agam mendapatkan prestasi dalam ajang kompetensi baik secara regional (propinsi) maupun secara nasional. Penghargaan yang diperoleh pada Tahun 2014 berupa UPAKARTI yang diterima oleh Bupati Agam dan penghargaan DEKRANAS AWARD Tahun 2014 yang diterima oleh Dekranasda Kabupaten Agam. Hasil yang dicapai pada tahun 2014 sebagai berikut: 1. Berdirinya 5 buah koperasi baru yang berasal dari kelompok masyarakat (POKMAS). 2. Aktifknya 10 koperasi dari 104 koperasi yang tidak aktif. 3. Pelatihan kewirausahaan bagi 30 orang UMKM. Terlaksananya promosi dan pameran UMKM keluar daerah yang bertujuan untuk meningkatkan permintaan dan pendapatan UMKM. Capaian RPJMD Kabupaten Agam Tahun 2010-2015 96